Author Archives: admin

Siapa yang diberi hidayah tentang 6 hal, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan 6 hal

 

 

Abu Hurairah radliallahu anhu berkata: Siapa yang beri hidayah tentang 6 hal, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan 6 hal :

1. Siapa yang di beri hidayah untuk bisa BERSYUKUR, maka dia tidak terhalangi dari mendapatkan TAMBAHAN kenikmatan. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

(QS. Ibrahim : 7)

 

2. Siapa yang di beri hidayah untuk SABAR, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapat BESARNYA PAHALA dari Allah.SWT.

Katakanlah “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

(QS. Az-Zumar : 10)

 

3.Siapa yang di beri hidayah untuk BERTAUBAT, Maka tidak ada penghalang untuk DITERIMA taubatnya oleh Allah.SWT. Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Ash-Shura : 25)

 

4. Siapa yang di beri hidayah untuk BERISTIGHFAR, maka dia tidak terhalangi dari mendapatkan MAGHFIRAH atau ampunan Allah.SWT. Maka aku katakan kepada mereka:

‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhNya adalah Maha Pengampun “

(QS. Nuh : 10)

 

5. Siapa yang diberi hidayah untuk BERDOA, maka dia tidak terhalangi dari mendapat IJABAH/ dikabulkan doanya oleh Allah.SWT. Dan Tuhanmu berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. 

(QS. Ghafir : 60)

 

6. Siapa yang diberi hidayah untuk dapat BERINFAK, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan PENGGANTINYA dari Allah SWT. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara  hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yg kamu  nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yg sebaik baiknya.

(QS. Saba: 39)

 

Semoga kita menjadi lebih baik & bermanfaat. Robbana Taqobbal Minna. Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami), آمِيْنَ…آمِينَ ياَرَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Dzulqa’dah 1440 H / 30 Juli 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 23 | Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-23
~~~~

MEMBERI KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL DAN MEMANGGILNYA DENGAN “ANAKKU”

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصَحابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بَعْدُ

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-23, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi ini kita membahas satu sub judul yaitu:

▪ MEMBERIKAN KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL

Kun-yah adalah sebutan atau gelar nama. Jika anak laki-laki maka diawali dengan Abū, (misalnya) Abū Fulān dan bila anak wanita diawali dengan Ummu (misalnya) Ummu Fulān.

Tidak mengapa seorang anak laki-laki ataupun wanita dipanggil dengan kun-yahnya meskipun mereka masih kecil.

Misalnya:

√ Anak laki-laki, kita panggil, “Yā, Aba Fulān!”

√ Anak wanita, kita panggil, “Yā, Umma Fulān! “

Ini telah dipraktekan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau pernah memanggil saudara Annas bin Mālik yang saat itu usianya masih kecil (baru disapih ibunya).

Beliau bersabda:

يَا أَبَا عُنَيرِ مَا فَعَلَ النُّغَيرُ

“Wahai Abū ‘Umair ! Apakah yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga pernah berkata kepada seorang anak perempuan yang masih kecil.

Beliau bersabda:

يَا أُمَّ خَالِدِ هذا سنه

“Wahai Ummu Khālid, ini adalah pakaian yang bagus.”

Ini menunjukkan memanggil anak-anak dengan kun-yah tidak masalah jika hal ini membuat anak-anak kita senang (dalam bab becanda dengan mereka).

Kemudian sub judul berikutnya adalah:

▪ SESEORANG BOLEH MENGATAKAN, “WAHAI ANAKKU” KEPADA SELAIN ANAKNYA

Seseorang boleh mengatakan, “Wahai anakku,” kepada selain anaknya. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Muslim dari Annas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu) berkata:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memanggilku dengan sebutan, “Wahai anakku!”

Dan ini bukan berarti penisbatan diri secara nasab kepada kita yang memanggilnya, akan tetapi ini merupakan panggilan kasih sayang kepada anak tersebut.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 26 Dzulqa’dah 1440 H / 29 Juli 2019 M

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc

📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath Athibbāi

🔊 Halaqah 22 | Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-22

~~~~

HENDAKNYA KITA MEMILIH NAMA YANG BAIK UNTUK ANAK KITA

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-22, dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya, yaitu: HENDAKNYA MEMILIH NAMA YANG BAIK BAGI ANAK.

Ini adalah hak seorang anak yang wajib kita penuhi. Kita harus memberi mereka nama yang baik, jangan memberinya nama yang jelek (bermakna tidak baik) sehingga orang-orang akan mengejek atau mencemoohkan mereka (karena sebab kita selaku orang tua memberi mereka nama-nama yang tidak baik). 

Berilah anak-anak kita nama yang baik yang mengandung makna yang baik atau indah. Berilah mereka nama-nama orang shālih, nama-nama nabi. Bahkan di antara ulamā ada yang membolehkan memberikan nama anak-anak kita dengan nama malāikat.

Karena nama para nabi, nama orang shālih dan nama hamba-hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bertakwa mengandung makna yang baik, (in syā Allāh) menjadi makna yang optimis dan baik juga.

Bahkan disebutkan dalam kitāb, bahwa:

والاسم الطيب له مدلول طيب حتى في الرؤيا

“Nama yang baik akan mengandung arti dan makna yang baik, bahkan dalam mimpi sekalipun.”

Disebutkan dalam satu hadīts riwayat Muslim, Abū Dāwūd dan yang lainnya, dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّا فِي دَارِ عُقْبَةَ بْنِ رَافِعٍ فَأُتِينَا بِرُطَبٍ مِنْ رُطَبِ ابْنِ طَابٍ فَأَوَّلْتُ الرِّفْعَةَ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْعَاقِبَةَ فِي الآخِرَةِ وَأَنَّ دِينَنَا قَدْ طَابَ

“Pada suatu malam aku melihat sesuatu yang biasa dilihat oleh seseorang yang sedang tidur (bermimpi), seakan-akan kami berada di dalam rumah ‘Uqbah bin Rāfi’, lalu dibawakan kepada kami kurma Ibnu Thāb. Selanjutnya kami menafsirkan mimpi tersebut dengan kedudukan yang tinggi di dunia, tempat yang baik di akhirat dan sesungguhnya agama kami telah sempurna.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim no 2270 dan Abū Dāwūd nomor 5025)

⇒ Kurma Ibnu Thāb adalah jenis kurma yang bagus, terkenal dikalangan penduduk Madīnah. Jenis kurma yang dinisbatkan kepada Ibnu Thāb.

Dalam riwayat lain, hadīts dari Al Bukhāri dari jalur Sa’id bin Al Musayyib dari bapaknya:

Sesungguhnya bapak beliau datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, lalu beliau bertanya:

“Siapa namamu?”

“Hazan (sulit, sedih),” jawabnya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Namamu adalah Sahl (mudah).”

Dia berkata:

“Aku tidak akan pernah merubah nama yang telah diberikan oleh bapak kami.”

Ibnul Musayyib berkata:

“Senantiasa kesulitan menimpa kami setelah itu.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6190)

⇒ Dengan sebab nama akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam banyak merubah nama para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum. Yang semula namanya bermakna buruk, Beliau rubah menjadi makna yang baik.

Diriwayatkan di dalam Shahīh Al Bukhāri dengan sanad yang mursal, dari jalan ‘Ikrimah, beliau berkata:

Ketika Suhail bin ‘Amr datang, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Semoga urusan kalian menjadi mudah.”

Jadi berilah anak-anak kita nama yang baik, dari nama-nama orang-orang shālih yang memiliki keutamaan. Dan hindari memberi mereka nama-nama orang kāfir dan para pelaku maksiat karena akan memberi pengaruh buruk pada kehidupan mereka.

Di antara nama-nama yang baik adalah,  Muhammad (nama Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Maryam puteri ‘Imrān dan saudaranya Hārun. Demikian pula dengan Mūsā saudaranya Hārun. Akan tetapi Maryam bukan saudara perempuan Mūsā, karena keduanya terpisah dalam kurun waktu yang lama (Nabi Mūsā berada sebelum Nabi Īsā).

Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang hal ini, Beliau menjawab:

إِنّّهُم كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِم و الصّالِحِينَ قَبْلَهُم

“Sesungguhnya mereka menamakan anak-anak mereka dengan nama para nabi dan orang-orang shālih sebelum mereka.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2135, hadīts dari Al Mughirah bin Syu’bah).

Kemudian dari hadīts Abdullāh bin ‘Umar, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ أَحَبَّ أَسمَائكم إلَى الله عبد الله و عبد الرّحمن

“Sesudahnya nama yang paling Allāh cintai adalah ‘Abdullāh dan ‘Abdurrahmān.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2132)

√ ‘Abdullāh mengandung makna hamba Allāh.

√ ‘Abdurrahmān mengandung makna hamba Allāh yang maha penyayang.

Kemudian dari hadīts Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara marfu’, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَسَمُّوا بِاسْمِي ولا تَكْتَنُوا بِكُنيَتِي

“Berilah nama dengan namaku dan janganlah memberi kun-yah dengan kun-yahku (Abu Qasim).”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6187,Muslim nomor 2133)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menganjurkan kita memberi nama anak-anak laki-laki kita dengan nama (seperti) Muhammad. Kebanyakan orang Indonesia selalu menambah banyak nama pada anak-anak mereka, padahal nama itu bukan nama ayahnya atau kakeknya.

⇒ Nama yang syari’ cukup dengan satu suku kata saja (Muhammad, misalnya)

Bahkan putera Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau beri nama Ibrāhīm. Namun putera beliau tidak sampai dewasa, ketika bayi meninggal dunia (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu).

Diriwayatkan di dalam Shahīhain, dari hadīts Abū Mūsā radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata:

“Aku dikaruniai seorang anak, kemudian aku mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau menamakan anak itu dengan nama Ibrāhīm.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6198 dab Muslim nomor 2145)

Oleh karena itu perhatikan masalah ini.

Ada nasehat dalam satu kitāb “Tasmiyatul Maulūd” yang ditulis oleh Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, beliau menasehati tentang pentingnya memberi nama yang baik pada anak-anak dan menghindarkan nama-nama yang buruk untuk mereka.

Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, berkata: 

إن الاسم عنوان المسمى فإذا كان الكتاب يقرأ من عنوانه فإن المولود يعرف من اسمه

“Sesungguhnya sebuah nama adalah judul atau ciri seseorang, sebagaimana sebuah buku dilihat dari judulnya. Demikian pula seseorang diketahui keyakinan dan sudut pandang pemikirannya dari namanya.”

Bahkan keyakinan orang yang memilih baginya sebuah nama bisa diketahui dari nama yang ia berikan.

Oleh karena itu perhatikan, ketika memberi nama untuk anak-anak kita!

Berilah anak-anak kita nama orang-orang shālih yang jelas telah Allāh puji di dalam Al Qurān maupun sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Mentahnik Dan Mendoakan Anak Dengan Keberkahan

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 22 Syawwal 1440 H / 26 Juni 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 21 | Mentahnik Dan Mendoakan Anak Dengan Keberkahan
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-21
~~~~

MENTAHNIK DAN MENDOAKAN ANAK DENGAN KEBERKAHAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-21, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatil Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya yaitu:

Mentahnik anak yang baru lahir dan mendo’akannya dengan keberkahan.

Mentahnik adalah mengunyah kurma, lalu mengoleskannya di langit-langit mulut bayi kemudian mendo’akan si bayi agar diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada beberapa hadīts yang menjelaskan mengenai ini.

Di antaranya adalah:

⑴ Hadīts Muslim yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, dimana beliau mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ

“Bahwasanya beberapa bayi dibawa menghadap kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mentahnik mereka.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2147)

⑵ Hadīts Bukhāri dan Muslim yang dari ‘Asmā’ binti Abī Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhuma, saat itu dia sedang mengandung ‘Abdullāh bin Az Zubair.

‘Asmā’ berkata :

فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ، فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ، فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ، فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ، ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ، فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَىْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الإِسْلاَمِ

“Aku hijrah dalam keadaan hampir melahirkan, lalu aku datang ke Madīnah. Aku berhenti di Qubā’ dan di sanalah aku melahirkan. Selanjutnya aku mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau meletakkan anak itu di pangkuan Beliau. Kemudian Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menyuruh untuk mengambil kurma dan Beliau mengunyahnya.

Setelah itu Beliau meludah di mulut sang anak, maka yang pertama kali masuk ke dalam kerongkongan sang anak adalah ludah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian Beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akannya dengan keberkahan, dialah anak yang pertama kali lahir di dalam Islām.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3909 dan Muslim nomor 2146)

⇒ Abdullāh bin Az Zubair radhiyallāhu ta’āla ‘anhu adalah anak yang pertama kali dilahirkan ketika hijrah ke Madīnah.

⑶ Hadīts Bukhāri dan Muslim yang dari oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

كَانَ ابْنٌ لأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ، فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ. فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِيَّ. فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ ” أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ “. قَالَ نَعَمْ. قَالَ ” اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا “. فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ، فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” أَمَعَهُ شَىْءٌ “. قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ. فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَمَضَغَهَا، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ، وَحَنَّكَهُ بِهِ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ

Adalah anak Abū Thalhah dalam keadaan sakit, lalu Abū Thalhah pergi dan anak itu meninggal dunia.

Setelah kembali, dia bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?”

Ummu Sulaim berkata, “Dia lebih tenang dari sebelumnya.”

Kemudian Ummu Sulaim membawakan makan malam untuknya dan setelah itu Abū Thalhah menggaulinya.

Setelah selesai Ummu Sulaim berkata,”Kuburkanlah anak itu!”

Di pagi harinya Abū Thalhah datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan menceritakannya.

Rasūlullāh bertanya,”Apakah semalam engkau mengauli istrimu?”

Abū Thalhah menjawab, “Benar, wahai Rasūlullāh.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Yā Allāh, berikanlah keberkahan kepada mereka berdua!”

Setelah itu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, Abū Thalhah berkata kepadaku (Anas bin Mālik), “Bawalah anak ini kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Anak itupun aku bawa kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dibekali beberapa butir kurma.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam seraya berkata,”Apakah ada sesuatu bersamanya?”

Merekapun berkata,”Ya, beberapa butir kurma.”

Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengambil kurma tersebut dan mengunyahnya, kemudian mengambil dari mulut Beliau dan mengoleskanya ke mulut anak itu, kemudian Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mentahnik. Beliau menamakan anak itu ‘Abdullāh.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5470)

⇒ Abū Thalhah adalah ayah tiri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

⇒ Hadīts ini pun menunjukkan bagaimana shālihah Ummu Sulaim, ketika anaknya meninggal beliaupun sabar.

⑷ Hadīts Muslim, yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

ذَهَبْتُ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الأَنْصَارِيِّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ وُلِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي عَبَاءَةٍ يَهْنَأُ بَعِيرًا لَهُ فَقَالَ ” هَلْ مَعَكَ تَمْرٌ ” . فَقُلْتُ نَعَمْ . فَنَاوَلْتُهُ تَمَرَاتٍ فَأَلْقَاهُنَّ فِي فِيهِ فَلاَكَهُنَّ ثُمَّ فَغَرَ فَا الصَّبِيِّ فَمَجَّهُ فِي فِيهِ فَجَعَلَ الصَّبِيُّ يَتَلَمَّظُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” حُبُّ الأَنْصَارِ التَّمْرَ ” . وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Saya pergi bersama Abdullah Bin Abu Thalhah Al Anshari menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika dia baru dilahirkan. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang ketika itu Beliau sedang di ‘ab’ah (kandang unta) memberi minum untanya. Maka (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bertanya padaku:

“Apakah kamu membawa kurma?”

Saya menjawab: “Ya.”

Beliau kemudian mengambil beberapa kurma lalu dimasukkan ke dalam mulut Beliau dan melembutkannya. Setelah itu Beliau membuka mulut bayi dan disuapkan padanya. Bayi itu mulai menjilatinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kesukaan orang Anshar adalah kurma.”

Kemudian (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memberinya nama Abdullah.

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2144)

⑸ Hadīts Bukhāri dan Muslim, yang diriwayatkan oleh Abū Mūsā radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

Aku dikaruniai seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau memberikan nama Ibrāhīm untuk anak itu, kemudian mentahniknya.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 6198 dan Muslim nomor 2145)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Jangan Membenci Anak Karena Wajahnya – Hadis 20

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 21 Syawwal 1440 H / 25 Juni 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 20 | Jangan Membenci Anak Karena Wajahnya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-20
~~~~

JANGAN MEMBENCI ANAK KARENA WAJAHNYA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأنبياء الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-20, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatil Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya yaitu:

▪ Janganlah Anda membenci terhadap anak karena wajahnya yang kurang cantik atau kurang tampan.

Seorang anak tidak memiliki kuasa di dalam menentukan cantik (tampan) atau jelek, baik atau buruk, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan mereka seperti itu, ini sudah ketetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bisa jadi seorang anak memiliki wajah yang kurang menarik akan tetapi dia memiliki kedudukan di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla kelak.

Mungkin saja dia anak shālih, anak yang bertaqwa, anak yang takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya rupa tidak menjadi standar baik buruknya seseorang.

Baik buruk seseorang dilihat dari bagaimana agama dan kadar ketaqwaan serta keimanannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

…وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ ….

“Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu.…”

… وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ …

‘Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu….. “

(QS Al Baqarah: 221)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga menjelaskan keadaan orang-orang munāfiq. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ…….

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum….. “

(QS Al Munāfiqun: 4)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ

“Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allāh dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kāfir.”

(QS At Tawbah: 55)

Ini menunjukkan tidak bermanfaatnya harta dan anak jika tidak diiringi dengan ketaqwaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sesungguhnya Allāh yang Maha menciptakan dan membentuk manusia, sesuai dengan apa yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla kehendaki. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ……

“Dialah Allāh Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa….”

(QS Al Hasyr: 24)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Dialah (Allāh Subhānahu wa Ta’āla) yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

(QS Āli Imrān: 6)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

مِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥ۞ مِن نُّطۡفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ

“Dari apakah Dia (Allāh) menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.”

(QS ‘Abasa: 18-19)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَفَرَءَيۡتُم مَّا تُمۡنُونَ ۞ ءَأَنتُمۡ تَخۡلُقُونَهُۥٓ أَمۡ نَحۡنُ ٱلۡخَٰلِقُونَ

“Maka adakah kalian perhatikan, tentang (benih manusia) yang kalian pancarkan. Apakah kalian yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?”

(QS Al Wāqi’ah: 58-59)

Maka fahamilah ini wahai hamba Allāh !

Janganlah Anda tertipu dengan ketampanan atau kecantikan salah seorang di antara anak-anak Anda, sehingga membuat Anda melakukan kezhāliman kepada yang lain.

Sungguh, orang yang paling mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah adalah orang-orang yang paling bertaqwa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allāh ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS Al Hujurāt: 13)

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak melihat bentuk dan harta yang kalian miliki, akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan yang kalian lakukan.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2564)

Dalam riwayat yang lain:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak melihat badan dan bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat hati-hati kalian”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2564)

Demikian, semoga bermanfaat.

بارك الله فيكم
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Memohon Perlindungan Kepada Allāh Ketika Anak Dilahirkan

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 20 Syawwal 1440 H / 24 Juni 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 19 | Memohon Perlindungan Kepada Allāh Ketika Anak Dilahirkan
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-19
~~~~

MEMOHON PERLINDUNGAN ALLĀH KETIKA ANAK DILAHIRKAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-19, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatil Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya yaitu:

▪ Hendaknya kita membaca do’a perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika anak kita dilahirkan.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Āli Imrān: 36.

فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Isteri ‘Imrān ketika melahirkan Maryam berkata:

“Yā Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.”

Padahal Allāh lebih tahu apa yang dia lahirkan dan laki-laki tidak sama dengan perempuan.

”Dan aku memberinya nama Maryam dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

(QS Āli Imrān: 36)

⇒ Ini adalah syar’iat kita, melindungi anak-anak dan keturunan kita dari godaan syaithān yang terkutuk.

Kemudian sub judul berikutnya adalah:

‘Ain (pandangan mata yang jahat) itu benar adanya, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Terkadang seorang anak terkena ‘ain yang disebabkan oleh mata orang yang dengki (mungkin karena wajah anak tersebut yang cantik, tampan atau lucu sehingga orang yang melihatnya ada yang hasad kepadanya).

Anda telah berusaha membawa anak tersebut kepada dokter dan telah diperiksa dokter dan telah diberi (resep) obat untuk kesembuhan anak tersebut tetapi tidak berpengaruh.

Karena anak tersebut terkena penyakit yang lain yaitu penyakit ‘ain. Dan penyakit ‘ain obatnya dengan ruqyah (jampi dengan ayat Al Qurān atau do’a dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Pada suatu ketika, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang ke rumah Ja’far dan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) melihat anak-anak Ja’far dalam keadaan lemah, dengan badan yang kurus. Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada istri Ja’far.

Istri Ja’far berkata, “Mereka terkena ‘Ain, wahai Rasūlullāh.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Ruqyahlah mereka!”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Jadi ‘ain adalah haq (benar, nyata) dan banyak sekali menimpa anak-anak, sehingga anak-anak perlu dimintakan perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari penyakit ‘ain atau gangguan syaithān.

Salah satu do’a yang diajarkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk melindungi anak-anak kita adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Dimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memohon perlindungan untuk Al Hasan dan Al Husain radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā, Beliau berkata:

“Sesungguhnya bapak (nenek moyang) kalian berdua, Ibrāhīm memohon perlindungan (kepada Allāh) untuk kedua anaknya, Ismā’il dan Ishāq.”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkata:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku berlindung dengan kalimat Allāh yang sempurna dari setiap gangguan syaithān, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 3371)

Di dalam riwayat lain (Ash Shahīhain) dari hadīts Ummu Salamah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى فِي بَيْتِهَا جَارِيَةً فِي وَجْهِهَا سَفْعَةٌ فَقَالَ  ” اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ “.

Sesungguhnya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat warna hitam pada wajah seorang budak wanita milik Ummu Salamah, kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepadanya (Ummu Salamah):

“Ruqyahlah budak wanita itu, karena dia terkena ‘ain.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 5739 dan Muslim nomor 2197)

An nadhrah (النظرة) adalah ‘ain

Ada juga ulamā yang menafsirka an Nlnadhrah (النظرة) adalah gangguan syaithān.

Jadi kita harus meminta perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk anak-anak kita agar mereka terhindar dari gangguan syaithān.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Apa Sikap Kita Ketika Kita Diberikan Keturunan Oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Sya’ban 1440 H / 24 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 18 | Apa Sikap Kita Ketika Kita Diberikan Keturunan Oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-18
~~~~

APA SIKAP KITA KETIKA KITA DIBERIKAN KETURUNAN OLEH ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Apa sikap kita ketika kita diberikan keturunan oleh Allāh

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-18 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita masih melanjutkan pembahasan tentang sub judul “Apa sikap kita ketika kita diberikan keturunan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Sikap kita ketika diberi rejeki berupa keturunan oleh Allāh kita harus bersyukur.

Dan tidak selalu anak laki-laki menguntungkan dan tidak selalu anak laki-laki adalah kebanggaan bagi orang tuannya, sebagaimana tidak selalu anak perempuan merupakan kesialan dan kehinaan sebagaimana keyakinan orang-orang jāhilīyyah.

Kita lihat nabi Ibrāhīm alayhissallām, nabi Ibrāhīm alayhissallām adalah seorang nabi yang dikaruniai anak laki-laki dan tidak diriwayatkan bahwa beliau memiliki anak perempuan, sedangkan nabi Lūth alayhissallām adalah seorang nabi yang dikaruniai anak perempuan dan sama sekali tidak memiliki anak laki-laki.

Bahkan beliau berkata:

يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ

“Wahai kaumku! Inilah putri-putriku mereka lebih suci bagimu.”

(QS. Hūd: 78)

Ini menunjukkan nabi Lūth alayhissallām semua anaknya adalah perempuan.

Lihat juga nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau memiliki anak laki-laki yang meninggal sejak kecil, sedangkan yang hidup sampai dewasa hanyalah anak-anak perempuan.

Ini menunjukkan bahwasanya tidak selalu anak laki-laki pasti dan sebaliknya tidak selalu anak perempuan pasti buruk.

Selanjutnya penulis menuturkan sebuah hadīts yang diriwayatkan Bukhāri dan Muslim dari hadīts Abū Hurairah.

Bahwasanya beliau mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَم يَتَكَلَّم فِي المهدِ إلَّا ثَلَاثَةٌ

“Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih dalam buaian, kecuali tiga bayi saja.”

Di dalam hadīts tersebut diungkapkan:

وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَ هَذَا . فَتَرَكَ الثَّدْىَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ . قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ فَجَعَلَ يَمُصُّهَا . قَالَ وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ . وَهِيَ تَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ . فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا . فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا . فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ فَقَالَتْ حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهُ . فَقُلْتَ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . وَمَرُّوا بِهَذِهِ الأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ . فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا . فَقُلْتَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا قَالَ إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ . وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا

“Ketika seorang bayi menyusu dari ibunya, seorang laki-laki dengan memgendarai tunggangan yang kuat dan pakaian yang indah melewatinya, sang ibu berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah anakku seperti orang itu’. Lalu anak tersebut berhenti menyusu untuk melihat orang tersebut. Bayi tersebut berkata,’Yā Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti orang itu’, lalu dia kembali menyusu.

Aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan tentang bagaimana sang bayi itu menyusup, sambil menggambarkannya dengan jari telunjuk beliau di mulut, lalu memghisapnya. Beliau bersabda, ‘Lalu seorang budak wanita lewat di depan ibu, orang-orang memukulinya dengan berkata, ‘Engkau telah berzina, engkau telah mencuri’, Budak wanita itu berkata, ‘Cukuplah Allāh menjadi penolong bagiku dan Dia sebaik-baik pelindung’.

Sang ibu berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu’. Lalu bayi itu berhenti dari menyusu dan melihat kepada budak wanita tersebut, lalu sang bayi berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah aku seperti orang itu’. Ketika itulah dia berbicara dengan bayi kecilnya, sang ibu berkta keheranan, ‘Aduhai, sungguh celaka! Ketika seorang laki-laki lewat dengan penampilannya yang bagus aku berkata, ‘Yā Allāh, jadikanlah anakku seperti orang itu’ engkau malah berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikanlah aku seperti orang itu’.

Kemudian ketika orang-orang membawa budak wanita sambil memukulinya seraya berkata, ‘Engkau telah berzina, engkau telah mencuri! Dan aku berkata, ‘Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan anakku seperti orang itu.

Sang bayipun menjawab keheranan ibunya dia berkata, ‘Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang sombong sehingga aku berkata, ‘Yā Allāh janganlah Engkau jadikan aku seperti orang itu’, sedangkan seorang budak wanita, orang-orang berkata kepadanya, ‘Engkau telah berzina padahal dia tidak melakukannya, mereka mengatakan, ‘Engkau telah mencuri, padahal dia sama sekali tidak mencuri, karena itu aku berkata, ‘Yā Allāh jadikan aku seperti orang itu’.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2550)

Maka lihatlah selalu orang yang lebih rendah dari kita janganlah kita melihat orang yang lebih tinggi dalam kehidupan dunia.

Kisah ini menjelaskan terkadang apa yang kita lihat tidak seperti kenyataannya, terkadang apa yang kita inginkan tidak seperti apa yang kita harapkan.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah orang yang ada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang ada di atas kalian, karena hal itu lebih baik agar kalian tidak menyepelekan nikmat Allāh”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2963)

Penulis mengatakan:

Lihatlah nabi Sulaimān alayhissallām dikaruniai anak dengan wujud setengah manusia!

Maha suci Allāh, nabi Sulaimān seorang raja yang dikaruniai Allāh sebuah kerajaan yang tidak akan pernah Dia karuniakan kepada siapapun setelahnya, akan tetapi dia dikaruniai anak dengan wujud setengah manusia!

Lihat nabi Sulaimān!

Jinn dan syaithān ditundukkan untuk nabi Sulaimān, angin yang bertiup keras dan angin yang sepoi-sepoi ditundukkan untuknya sehingga ia bertiup sesuai dengan keinginannya.

Di dalam shahīh Muslim juga disebutkan bahwa isteri beliau berjumlah 90 orang dan beliau sempat bertekad:

“Sungguh, aku akan menggilir 90 isteriku pada malam ini dan masing-masing akan melahirkan satu orang pejuang yang akan berjuang di jalan Allāh.”

Lalu shahābatnya berkata, ‘Ucapkanlah In syā Allāh!’ tetapi beliau tidak mengucapkannya, akhirnya dia menggauli semua isterinya, dan tidak satu orang pun dari mereka yang hamil kecuali satu isteri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia.

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, seandainya dia mengucapkan, ‘In syā Allāh’, niscaya mereka semua akan melahirkan para pejuang yang berjuang di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Oleh karena itu bersyukurlah terhadap rejeki berupa keturunan, yang Allāh berikan kepada kita baik itu laki-laki maupun perempuan.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor


Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Sya’ban 1440 H / 23 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 17 | Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-17
~~~~

APA YANG DILAKUKAN KETIKA BAYI LAHIR ?

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-17 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: “Apa yang dilakukan ketika bayi baru lahir?”

Jadilah kita orang yang ridhā (sebagai hamba Allāh) atas segala karunia yang Allāh berikan kepada kita, baik anak yang dilahirkan itu laki-laki atau perempuan, karena semua yang memberikan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh lah Yang Maha Memberi Karunia.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ۞ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ قَدِيرٞ۞

“Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

(QS. Asy Syūrā: 49-50)

Kita tidak tahu mana yang baik untuk kita?

Apakah yang baik adalah anak laki-laki atau anak perempuan, atau anak laki-laki dan perempuan atau bahkan Allāh belum mengkaruniakan keturunan untuk kita.

Kita tidak tahu, hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha Mengetahui.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعٗاۚ

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu.”

(QS. An Nissā’: 11)

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Betapa banyak anak perempuan yang menjadi sebab kebahagiaan kedua orang tuanya dan semua kerabatnya di dunia dan akhirat, dan betapa banyak anak laki-laki yang menjadi sebab kesengsaraan kedua orang tuanya, (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Kita lihat contoh!

√ Maryam (ibunda Nabi Īsā alayhissallām) dilahirkan dari keluarga Imrān.

√ Fāthimah (puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Lihatlah!

√ Maryam ‘alayhāssallām melahirkan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang shālih.

√ Fāthimah setelah dewasa dan menikah dengan Āli bin Abī Thālib, beliau melahirkan dua orang anak yang menjadi pemimpin para pemuda penghuni Surga.

Pantaskah jika Maryam dan Fāthimah dibandingkan dengan putera Nūh alayhissallām, seorang anak laki-laki yang terus menerus berada di dalam kekāfiran hingga dia mati dalam keadaan kāfir?

Tentu tidak bisa dibandingkan.

Fāthimah puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih baik daripada putera nabi Nūh alayhissallām, Fāthimah dan Maryam adalah wanita penghuni Surga.

Sedangkan putera Nabi Nūh alayhissallām, ketika diajak oleh bapaknya (Nabi Nūh alayhissallām) untuk beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla di tetap bertahan di atas kekufurannya dan akhirnya mati (tenggelam) dalam keadaan kufur (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Inilah seorang anak yang jika ia hidup, niscaya akan mendorong kedua orang tuanya menjadi sesat lagi kāfir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا

“Dan adapun anak muda (kāfir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekāfiran.”

(QS. Al Kahfi: 80)

Jadi, tidak selalu anak laki-laki pasti baik dan sebaliknya tidak selalu anak perempuan pasti buruk.

Sungguh, di dalam mendidik dan berbuat baik kepada anak perempuan terdapat pahala yang sangat besar.

Sebagaimana hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّا

Seorang ibu bersama kedua puterinya datang kepadaku, ia meminta sesuatu kepadaku akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa di sisiku kecuali satu butir kurma, kemudian aku memberikannya dan dia pun mengambilnya dariku, lalu membaginya kepada kedua puterinya sedangkan dia sama sekali tidak makan. Setelah itu dia berdiri dan keluar bersama puterinya. Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang dan aku menceritakan. peristiwa tersebut. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diberi cobaan dengan anak-anak perempuan, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, maka anak perempuan itu menjadi tameng /tirai yang menghalangi dirinya dari Neraka.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2629)

Ini keutamaan anak perempuan yang terkadang dimasyarakat, khususnya zaman dulu masyarakat jāhilīyyah, mereka sangat benci jika memiliki anak perempuan dan bangga jika memilik anak laki-laki.

Di dalam riwayat Muslim hadīts dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu, dia berkata:

جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang ibu miskin datang kepadaku bersama kedua anak perempuannya, lalu aku memberikannya tiga butir kurma. Sang ibu memberikan satu butir untuk masing-masing anaknya, lalu dia mengangkat satu butir kurma kemulutnya, tiba-tiba saja kedua anaknya meminta lagi, kemudian sang ibu membelah kurma yang akan dia makan menjadi dua bagian untuk keduanya. Kejadian ini sangat menakjubkanku sehingga aku menceritakan apa yang ia perbuat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allāh telah menetapkan Surga baginya karena apa yang telah ia perbuat atau Dia memerdekakannya dari siksa Neraka.”

(Hārits shahīh riwayat Muslim nomor 2630)

Di dalam Shahīh Muslim pula dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ia berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ, وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Siapa saja yang mengurus dua anak perempuan sampai keduanya bāligh, maka dia akan datang pada hari kiamat bersamaku (seperti ini).” Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menggabungkan jari jemarinya.

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2631)

Ini barangkali yang bisa disampaikan untuk pertemuan ke-17 ini, in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya masih berkaitan dengan masalah ini.

Allahu A’lam Bishawāb

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor


Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya

BimbinganIslam.com
Senin, 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 16 | Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-16
~~~~

MELINDUNGI ANAK SEBELUM KELAHIRANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-16 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Melindungi anak sebelum kelahirannya”

Disyari’atkan, disunnah dan dianjurkan untuk membaca do’a-do’a untuk melindungi buah hati sebelum kedatangannya.

Ketika pertama kali seorang suami bersama dengan sang isteri, disunnahkan bagi seorang suami untuk memegang ubun-ubun isterinya dan membaca do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَ

Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaknya dia mendo’akan, “Yā Allāh, sesungguhnya aku mohon kebaikannya kepada-Mu dan kebaikan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya”.

(Hadīts hasan riwayat Abū Dāwūd nomor 2160)

Sedangkan di waktu hendak berjimā’ dianjurkan bagi seorang suami untuk membaca do’a:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Hal ini sebagaimana diriwayatkan di dalam sebuah hadīts shahīh dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُولُ حِينَ يَأْتِي أَهْلَهُ بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi isterinya dan membaca,’Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami’, kemudian Allāh menetapkan atau mentakdirkan seorang anak di antara keduanya, maka anak tersebut tidak akan dapat dicelakakan oleh syaithān selamanya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5165)

Begitulah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada seorang suami agar mendo’akan isterinya dan berdo’a sebelum mereka berjimā’

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor

Memilih Istri Yang Shālihah

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Rajab 1440 H / 20 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 15 | Memilih Istri Yang Shālihah
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-15
~~~~

MEMILIH ISTERI YANG SHĀLIHAH

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral mustami’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-15 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Memilih istri yang shālihah”.

Wajib bagi seorang laki-laki yang ingin menikah untuk memilih isteri yang shālihah yang memiliki agama yang baik, karena dia (wanita) adalah calon ibu dari anak-anaknya.

Dari ibunya, seorang anak akan belajar untuk pertama kali dan darinya pula seorang anak akan mengambil (mengkonsumsi) air susu, sehingga terbentuklah akhlaq dan perilakunya.

Ayah pun berperan, akan tetapi yang pertama kali membentuk karakter anak-anak adalah seorang ibu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ…..

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu….. “

(QS Al Baqarah: 221)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga memerintahkan laki-laki yang akan menikah untuk memilih calon isteri yang shālihah.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ؛ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Maka pilihlah seorang wanita yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5090, Muslim nomor 1466)

Selain dia seorang wanita shālihah dan berakhlaq baik, hendaknya pula dia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik dan shālih (artinya kedua orangnya, saudaranya, kerabatnya dikenal sebagai orang yang baik).

Lihat surat Maryam ayat 28.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

“Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam) ! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

(QS. Maryam: 28)

Maksudnya adalah, ‘Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam), sesungguhnya bapakmu adalah orang mulia lagi shālih, tidak diketahui pernah melakukan perbuatan kejelekan dan tidak pernah melakukan perbuatan keji.”

“Begitu pula ibumu, dia adalah wanita shālihah, sama sekali bukan pezina.”

“Maka bagaimana bisa engkau membawa bayi ini (tanpa suami tanpa menikah) dan darimana dia datang kepadamu?”

Sekali lagi, anak sangat dipengaruh oleh ibunya. Anak pertama kali belajar dari ibunya, oleh karena itu ibu yang shālihah sangat berpengaruh positif pada anak-anaknya.

Jika ibunya shālihah:

√ Ibunya bisa mengajarkan Al Qurān.
√ Ibunya bisa mengajarkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Ibunya yang mengajarkan akhlaq-akhlaq yang mulia.
√ Ibunya yang mengajarkan mana yang halal mana yang haram.
√ Ibunya yang mengajarkan (menceritakan) sirah para Nabi ‘alayhimusallam dan orang-orang shālih.

Jika keshālihan agama ini diiringi dengan keutamaan rupa yang baik misalnya wanita itu cantik, maka ini merupakan kebaikan di atas kebaikan. Dan ini berpengaruh baik juga pada keturunan.

Tidakkah anda melihat bahwa Fāthimah putri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang kepada Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, jalannya bagaikan jalan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan perilakunya pun seperti perilaku Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan sifatnya seperti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim dari Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā).

Dan Nabi Yūsuf alayhissallām yang diberi setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia adalah cucu Sarah. Sarah adalah istri Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām dan beliau termasuk wanita paling cantik.

Di samping mempertimbangkan agama dan kecantikan, mempertimbangkan harta juga tidak dilarang dalam memilih calon isteri, karena harta tersebut biasanya akan kembali kepada anak-anak mereka.

Dan tidak mengapa jika kedudukan menjadi bahan pertimbangan bagi calon ibu karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikan dan agamanya, maka pilihlah agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts ini disebutkan empat hal, yang pertama adalah harta, keturunan, kecantikan dan agama. Jadi jika seorang laki-laki mendapatkan isteri shālihah, lalu cantik, kaya dan berasal dari keluarga yang baik maka ini adalah kebaikan di atas kebaikan (Māsyā Allāh).

Seandainya seorang laki-laki mendapatakan seorang wanita Quraisy yang shālihah, maka sungguh mereka adalah wanita-wanita terbaik. Mereka biasanya memiliki kasih sayang kepada anak dan tanggung jawab kepada para suami yang tidak dimiliki oleh wanita lain.

Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ـ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ  

“Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang shālihah. Dia adalah wanita yang paling besar kasih sayangnya kepada anak di waktu kecil dan paling bertanggung jawab kepada suaminya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5082 dan Muslim nomor 2527)

Demikian pula seorang wanita hendaknya memilih calon bapak untuk anak-anaknya dari laki-laki yang shālih dengan sifat-sifat yang sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Kita harus ingat bahwa pasangan adalah teman seumur hidup, maka jadikanlah pasangan kita orang-orang yang betul-betul shālih atau shālihah, karena pasangan yang baik akan membuat hidup kita menjadi baik di dunia maupun diakhirat.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/