Category Archives: Cinta Quran

haji-bagian-16

HAJI (Bagian 16) perkara yang disunnahkan saat haji dan umrah

BimbinganIslam.com
Kamis, 06 Dzulhijjah 1437 H / 08 September 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Materi Tematik | HAJI (Bagian 16)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Haji-16
———————————–
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwān dan Akhwāt, kita telah selesai membahas dari rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban haji.
Sekarang kita akan membahas tentang perkara-perkara yang disunnahkan tatkala haji dan umrah.
_Al mustahabah_ atau perkara-perkara yang dianjurkan atau di sunnahkan hendaknya diperhatikan oleh jama’ah haji atau jama’ah umrah.
√ Jika dikerjakan dia akan mendapat pahala yang besar juga untuk menyempurnakan haji atau umrahnya.
√ Jika dia meninggalkannya meskipun dengan sengaja maka tidak ada dosa dan tidak harus membayar _dam_.
Kecuali jika dia meninggalkannya karena benci, karena jika seseorang membenci sunnah Nabi (meninggalkan) meskipun sunnah maka dia berdosa.
Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
 فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
_”Barangsiapa benci dengan sunnah ku maka bukan dariku._
(HR Bukhāri nomor 4675 versi Fathul Bari nomor 5063 dan Muslim nomor 2487 versi Syarh Muslim nomor 1401)
Perkara-perkara yang dianjurkan (disunnahkan) dalam haji dan umrah banyak, diantaranya:
*1. _Ramlu_ dan _Idhthiba’_*
↝Ramlu adalah berjalan di tiga putaran pertama ketika thawāf dengan langkah kaki yang pendek dengan jalan yang cepat.
Kata para ulamā tidak sampai pada derajat loncat, bukan berlari-lari kecil tapi berjalan dengan cepat dengan langkah kaki yang pendek yang menunjukan semanggat dan gerakan cepat.
↝Idhthiba’ adalah menampakan bahu kanan.
⇛Dan ini hanya disunnahkan tatkala thawāf pertama kali (pertama kali masuk Mekkah).
Bagi orang yang umrah pertama kali dia datang maka dia thawāf dengan melakukan ramlu dan idhthiba’.
√ Ramlu dan idhthiba’ ini sunnahnya selalu bergandengan (bersamaan).
√ Kalau disunnahkan maka dua-duanya disunahkan, begitu juga sebaliknya bila tidak disunnahkan maka dua-duanya tidak disunnahkan.
⇛Ramlu dan idhthiba’ bagi orang yang haji Qiran dan Ifrad maka dikerjakan tatkala thawāf qudūm.
Adapun tatkala thawāf ifadhah ataupun thawāf-thawāf sunnah (yang setelah itu memakai baju biasa) maka ramlu dan idhthiba’ ini tidak dianjurkan dan tidak disunnahkan.
Imām Abū Dāwūd meriwayatkan dalam Sunnahnya dari Ibnu Abbās, beliau berkata:
 أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَرْمُلْ فِي السَّبْعِ الَّذِي أَفَاضَ فِيهِ
_”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidaklah melakukan ramlu di tujuh thawāf waktu dia melakukan thawāf Ifadhah yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah.”_
(HR Abu Daud nomor 1710 versi Baitul Alkar Ad Daulah nomor 2001, hadits ini dishahīhkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh)
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika melaksanakan thawāf Ifadhah tidak melakukan ramlu tetapi berjalan biasa.
Oleh karenanya, diantara kesalahan jama’ah haji adalah sebagian mereka tatkala memakai baju ihram selalu Idhthiba’ (membuka bahu kanan) dari awal sampai akhir, baik dipadang Arafah ataupun ditempat lainnya.
Padahal sunnah Idhthiba’ dan ramlu itu dilakukan tatkala thawāf qudūm (thawāf pertama kali ke Mekkah) selain itu tidak di sunnahkan.
Kemudian Ikhwāni Fīllāh,
Diantaranya sunnah yang lain adalah
*_2. Thawāf Qudūm_*
Thawāf qudūm adalah bagi haji Qiran dan haji Ifrad.
Thawāf qudūm bagi orang yang umrah adalah wajib, bahkan thawāf qudūm merupakan rukun umrah akan tetapi bagi orang yang haji Qiran dan haji Ifrad maka thawāf qudūm hukumnya adalah sunnah, jika mereka tidak mengerjakan tidak apa-apa.
*_3. Mencium Hajar Aswad_*
Mencium hajar Aswad tatkala sedang thawāf atau dengan menyentuhnya atau memberi isyarat dengannya.
Kemudian, sunnah tatkala mencium atau menyentuh hajar Aswad adalah dengan bertakbir.
*_4. Menyusap rukun Yamani_*
*_5. Shalāt dua raka’at setelah thawāf_*
Shalāt dua raka’at setelah thawāf ini dikerjakan pada seluruh thawāf.
Kata para ulamā :
لكل طواف ركعتين
_”Setiap kali selesai thawāf disunnahkan shalāt dua raka’at.”_
Dan ini hukumnya sunnah, baik itu thawaf Ifadhah (yang merupakan rukun haji) atau thawāf umrah, thawāf qudūm atau thawāf sunnah.
Seluruh thawāf diakhiri dengan shalāt dua raka’at.
*_6. Naik di atas Jabal Shafa dan Marwah_*
Naik di atas jabal Shafa dan Marwah adalah sunnah.
Kita telah jelaskan bahwasanya yang wajib tidak harus sampai naik ke atas gunung.
Barangsiapa yang sudah melewati pagar tempat para penyandang kursi roda (tatkala mereka sedang sa’i) atau dia sudah melewati pagar tersebut maka dia berarti sudah sampai pada awal gunung Shafa dan Marwah.
Yang penting seseorang sudah sampai gunung Shafa dan Marwah berarti sa’i-nya sudah sah.
Dianjurkan dia naik keatas tetapi tidak sampai derajat wajib, apabila sampai dilereng gunungpun sudah sah.
*_7. Berdzikir dan Berdo’a menghadap Ka’bah_*
Disunnahkan berdzikir dan berdo’a menghadap Ka’bah tatkala di Shafa dan Marwah.
*_8. Berlari cepat diantara lampu hijau tatkala sedang sa’i_*
*_9. Mabit di Mina pada tanggal 08 Dzulhijjah yang disebut juga hari tarwiyyah_*
*_10. Berdo’a setelah melempar Jumrah  Ula dan Tsani_*
*_11. Bertakbir tatkala melempar Jumrah_*
Dan masih banyak lagi sunnah-sunnah haji dan umrah dan In syā Allāh akan kita sebutkan tatkala kita membahas secara terperinci tentang pelaksanaan umrah dan haji.

haji-bagian-16

Murotal Al Qur’an Per Juz dari Syeikh Mishary Rasyid al-Afasy

Download MP3 Al Qur’an Per Juz… dari Syeikh Mishary Rasyid al-Afasy.

Juz 1   =  http://bit.ly/1RqIGw4
Juz 2  =  http://bit.ly/1RqIGMm
Juz 3  =  http://bit.ly/1J0Ctol
Juz 4  =  http://bit.ly/1J0Cton
Juz 5   = http://bit.ly/1RqIIE5
Juz 6  =  http://bit.ly/1RqIGvZ
Juz 7  =  http://bit.ly/1RqIGvY
Juz 8  =  http://bit.ly/1RqIInF
Juz 9  =  http://bit.ly/1J0CuIZ
Juz 10  = http://bit.ly/1J0Ct85
Juz 11  =  http://bit.ly/1J0CuJ1
Juz 12  =  http://bit.ly/1RqIIDZ
Juz 13 =  http://bit.ly/1RqIGw1
Juz 14  =  http://bit.ly/1RqIInB
Juz 15  =  http://bit.ly/1J0Ctor
Juz 16 = http://bit.ly/1RqIGw7
Juz 17 = http://bit.ly/1RqIInz
Juz 18 =  http://bit.ly/1J0CuIW
Juz 19 = http://bit.ly/1J0Ct86
Juz 20 =  http://bit.ly/1RqIGw6
Juz 21  = http://bit.ly/1RqIIE0
Juz 22 = http://bit.ly/1RqIInD
Juz 23  = http://bit.ly/1RqIInJ
Juz 24  = http://bit.ly/1RqIIE3
Juz 25 = http://bit.ly/1J0Ctop
Juz 26  = http://bit.ly/1J0CuIV
Juz 27 =  http://bit.ly/1RqIGMo
Juz 28 =  http://bit.ly/1J0CuJ0
Juz 29  = http://bit.ly/1RqIGMp
Juz 30 =  http://bit.ly/1RqIInH

Silahkan di rebroadcast, InSyaaAllah jadi amal Jariyah bagi yang membantu menyebarkannya

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasalam, bersabda: Barang siapa saja yang mengajak kepada kebenaran/kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakan tanpa dikurangi sedikitpun.

(HR Muslim)

Sensasi Satu Januari

Sensasi Satu Januari

Asssalamu’alaikum Sahabat CintaQuran.

Sensasi satu Januari tak sekedar merengkuh kebersamaan, tapi sudah menjadi bagian dari ritual keagamaan dan kepercayaan. Orang-orang Brazil pada ke pantai untuk menaburkan bunga di laut atau mengubur mangga di pasirnya sebagai tanda penghormatan terhadap dewa laut Lemanja. Dan bagi orang kristen tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus yang mereka jadikan sebagai salah satu hari suci agama Nashrani. Jika sudah jelas perayaan tahun baru masehi budaya kufur, apa alasa Muslim ikut merayakannya atau berbahagian karenanya?

“Sungguh diantara kalian akan mengikuti apa-apa yang dilakukan bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka”. Diantara para sahabat ada yang bertanya “Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah pemeluk agama Yahudi dan Nashrani ?” Rasulullah menjawab “Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Bukhari)

Merayakan tahun baru tidak hanya kebiasaan, tapi sudah menyangkut masalah keyakinan. Iman dan Islam yang jadi taruhan. Tahun baruan juga bukan persoalan biasa, karena aktifitasnya penuh dengan kemaksiatan bergelimang dosa. Tidak bisa juga dianggap masalah kecil, karena menjadikan akidah kita kerdil. Seorang muslim tidak akan gegabah dalam perkara kidah. Dia akan selalu berhati-hati dan mencari tahu, sebelum mengerjakan segala sesuatu.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[QS. al Isra:36]

Cukuplah kita menganggap akhir tahun sebagai acara pergantian kalender secara massal. Silahkan evaluasi diri tanpa harus ikut tradisi. Tak pantas juga seorang muslim mengucapkan selamat untuk tahun baru masehi yang kufur dan penuh maksiat. Semoga Allah menguatkan diri kita dari godaan setan dan perilaku maksiat. Aamiin.

Membacalah!

Membacalah!

Assalamu’alaikum Sahabat CintaQuran.

Seorang bocah terlihat sendiri tengah duduk dalam gubuk pinggir lapangan. Sementara teman-teman sebayanya asyik bermain sepakbola penuh tawa dan canda. Selesai bermain, anak-anak berkumpul di gubuk. Lalu sang bocah pun bercerita dengan detail tentang tokoh-tokoh dunia dan tempat menarik di belahan dunia lain. Teman-temannya hanya bisa ternganga dan berdecak kagum akan keluasan wawasan bocah itu. Dia memang tak bisa bermain bola, tapi senang membaca sehingga pandai bercerita dan berbagi ilmu berharga. Dia dapat ilmu dengan bersepeda dari desanya ke kota sejauh puluhan kilo meter demi membeli buku di tukang loak. Bocah itu seorang penulis best seller yang di kenal sebagai Muhammad Fauzhil Adhim.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemura. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. Al-Alaq: 1-5)

Dengan membaca, banyak ilmu yang bisa kita dapat. Sayangnya, era digital banyak menggerus budaya baca di antara kita. Media audio visual lebih diminati untuk belajar dibanding membaca. SMS, BBM, Chatting, atau dengerin musik jadi pilihan utama diwaktu senggang daripada membaca . Padahal membaca membantu menggerakkan nalar. Melatih ketajaman berpikir dan memancing rasa ingin tahu yang menggiring pada pendalaman belajar. Sang proklamator, Soekarno-Hatta, dikenal sebagai maniak baca semasa mudanya. Sehingga mengantarkan Soekarno sebagai politikus ulung dan Hatta sebagai ahli ekonomi. Era digital sejatinya meningkatkan minat baca karena kemudahan akses e-book atau e-magazine. Bukan malah melahirkan generasi pembaca headline yang gampang jenuh kalo baca artikel panjang atau buku. Mari kita budayakan membaca untuk kita, keluarga, tetangga, atau di sekolah. Agar keilmuan kian terasah dan masa depan kian cerah.

Membacalah!

Jadilah Manusia Pembelajar!

Jadilah Manusia Pembelajar!

Assalamu’alaikum sahabat CintaQuran.

Manusia yang hidup tak lepas dari masalah. Bahkan masalah hidup yang kita hadapi akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Usia bertambah, masalah juga bertambah. Masuk lingkungan baru, bertemu masalah baru. Ketika menjadi orangtua, masalah pun akan terus menyapa kita. Kita pasti menyadari, bahwa untuk atasi permasalahan hidup tak semuanya diajarkan pendidikan formal. Karena itu, kita harus menambah kapasitas diri dan memiliki mental Manusia pembelajar untuk mencari solusi. Agar masalah bisa kita atasi, bukan malah di hindari.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra:36)

Manusia pembelajar tak kenal lelah dalam berburu ilmu. Dimana saja, kapan saja, dgn siapa saja, mendapat ilmu baru yg dia tuju. Manusia pembelajar menyadari hanya ilmu yang akan membuatnya mulia. Dihadapan Allah swt juga dihadapan manusia. Manusia pembelajar pantang menghambur waktu untuk kegiatan yg melenakan. Baginya waktu adalah ilmu, yang harus dijaga & dipelihara. Manusia pembelajar membuka diri dari kritik dan masukan. Tak paranoid dengan perubahan untuk memperbaiki kekurangan.

Manusia pembelajar mencoret kata “Tapi” dan “Jika” dlm berburu ilmu . Karena alasan hanya membuatnya semakin tenggelam dlm kebodohan.

Manusia pembelajar mengutamakan sikap LEARN (apa ilmu yg didapat) dlm bekerja. Bukan sikap EARN (brp bnyak materi yg didapat).  Manusia pembelajar tak pernah merasa cukup dengan titel sarjana . Karena sekolah kehidupan memaksanya terus belajar hingga ajal tiba.  Manusia pembelajar berburu ilmu untuk menebar manfaat, agar ibadah bertambah taat, dgn Allah semakin dekat & menjauhi maksiat.

Selamat menjadi manusia pembelajar..!

RIYA

RIYA

 

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’,

kelak di hari kiamat ketika amalan manusia diberi balasan, Allah swt akan mengatakan kepada mereka (yang berbuat riya’)

“Pergilah kepada orang yang kamu harapkan pujiannya sewaktu di dunia & lihatlah apakah kamu mendapati pahala dari mereka?” (HR. Ahmad)

Tanpa disadari terkadang kita beramal karena mengharapkan respon dari manusia | Meski dilisan karena Allah, tapi di hati ingin dipuji

Ketika bersama-sama, semangat ibadah begitu membara | Ketika dalam kesendirian, ghiroh takwa mendadak hilang entah kemana.

Haruskah kita kehilangan mata agar tidak melihat tepuk tangan manusia saat kita mengerjakan amal mulia?

Barangsiapa berlaku riya, Allah akan memperlihatkan keburukannya. Barangsiapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan aibnya. (HR. Ahmad)

Riya’ berasal dari kata ru’yah, yang artinya melihat. Pelakunya menginginkan agar orang lain melihat apa yang dilakukannya.

Kata sum’ah berasal dari kata samma’a (memperdengarkan). Pelakunya membicarakan amal sholehnya agar didengarkan orang lain.

Hati-hati jika kita senang terhadap pujian & sanjungan, selalu menghindari celaan & mengharap kedudukan di hati orang.

Karena dari sanalah penyakit riya dan sum’ah mulai bersemi, mengotori hati, dan menjauhkan kita dari ridho illahi.

Sesungguhnya orang pertama yang dihisab pada hari qiyamat adalah orang yang syahid, ia didatangkan,lalu dijelaskan nikmatnya & ia pun mengenalinya.

Dia (Allah) berfirman: apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu? ia menjawab: aku berperang di jalan-Mu sehingga aku syahid.

Dia berfirman: kamu dusta, kamu berperang agar kamu disebut pahlawan, dan sesungguh kamu telah mendapatkannya.

Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan kedalam neraka.

 

Kemudian orang yang belajar ilmu & mengajarkannya, juga membaca Alqur-an, ia didatangkan lalu dijelaskan nikmat2-nya & ia pun mengenalinya,

Dia berfirman: apa yg kamu kerjakan dengan nikmat? ia menjawab: aku belajar ilmu & mengajarkannya,juga membaca Alqur-an demi Engkau,

Dia berfirman: kamu dusta,kamu belajar ilmu agar disebut ilmuwan & membaca Alqur-an agar disebut qori & kamu telah mendapatkannya.

Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke neraka.

 

Kemudian orang yang diberi keluasan oleh Allah & diberi semua jenis harta. Ia didatangkan,lalu dijelaskan nikmat2-nya & ia pun mengenalinya.

Dia berfirman: apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu? ia menjawab: aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diberikan infaq padanya kecuali ku berinfaq padanya demi Engkau,

Dia berfirman : kamu dusta, kamu berbuat seperti itu agar disebut dermawan dan sungguh kamu telah mendapatkannya.

Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke neraka

(HR : Muslim. 1905. Dari Abi Hurairoh)

 

Agar hati kita tidak dijadikan tempat bersemayam penyakit riya, berikut terapinya:

 

 

  1.  Biasakan diri untuk menyembunyikan amal kebaikan. Kerjakan lalu lupakan,cukup diri kita,malaikat raqib-atid & Allah saja yang tahu.

“Sembunyikanlah kebaikan2-mu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan2-mu.” (Abu Hazim Salamah bin Dinar)

 

  1. Mengetahui dan mengingat bahaya riya’. Apalah artinya sebuah pujian dan sanjungan apabila Allah tidak ridha.

“Wahai sekalian manusia,takutlah kalian dr syirik ini (riya’),karena sesungguhnya dia lebih tersembunyi dari langkahnya semut.” [HR. Ahmad]

“Dan (juga) orang2 yg menginfakkan hartanya karena riya’, dan orang2 yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.

Barangsiapa menjadikan syaithan sebagai temannya, maka ketahuilah dia teman yang sangat jahat.” [An-Nisa: 38]

 

  1. Berdoa kepada Allah ta’ala

 

| اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

 

“Allahumma inna na’udzubika min an nusyrika bika syai’a na’lamuhu, wa nastaghfiruka lima laa na’lam”

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatupun sedangkan kami mengetahuinya.

Dan kami memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami tidak mengetahuinya.”

[HR. Ahmad]

 

Alangkah indahnya perkataan Imam Al-Fudhail bin Iyadh dalam menjelaskan riya’ :

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

 

Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya`

seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri.

Seharusnya adalah dia tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.

Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama

 

Assalamu’alaikum Sahabat CintaQuran.

 

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang wanita  yang cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Dialah Ummu Sulaim yang bersuamikan Maalik bin Dinar. Setelah menjanda, Ummu Sulaim dilamar Abu Thalhah, seorang hartawan non muslim di masanya. Namun dengan tegas, Ummu Sulaim menolaknya.  “Tidak pantas orang yang sepertimu akan ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku seorang Muslimah yang tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu.” Ummu Sulaim, tidak terpesona oleh mahar yang ditawarkan Abu Thalhah berupa harta yang tak terhingga. Tak ada kebahagiaan yang diinginkan Ummu Sulaim dari pernikahan keduanya selain dua kalimat syahadat dari lisan Abu Thalhah. Wanita mulia dengan mahar super istimewa.

“Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka (muslimah). ” (QS. al-Mumtahanah :  10)

Cinta pada sesama manusia memang punya kekuatan tak terhingga. Namun jangan sampai menghalalkan segala cara lalu menerobos aturan agama. Dalam Islam, cinta pada manusia adalah bagian dari cinta pada Allah dan Rasul-nya. Sehingga ekspresi cinta dalam Islam menjadi halal dan berkah dalam bingkai pernikahan. Demi menjaga bangungan keluarga sakinah, Islam mengatur pernikahan lintas agama. Ummu Sulaim menunjukkan pada kita bahwa Islam mengharamkan muslimah menikah dengan orang kafir baik musyikin maupun ahli kitab kecuali mereka bersyahadat seperti Abu Thalhah. Sementara seorang Muslim dilarang menikahi wanita musyrik dan boleh dengan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani).   Patut dicatat, hukum mubah itu bukan berarti harus dikerjakan. Sebab, dalam memilih istri, Rasulullah saw, telah mendorong pria Muslim untuk lebih memperhatikan aspek agamanya. Karena istri adalah Ibu yang akan menjadi madrasah dari anak-anak kelak. Cinta lintas agama harus sesuai hukum syara.

 

ummu-sulaim-doadankajianislami

 

Haramnya Bekerja di Bank

Haramnya Bekerja di Bank

Assalamu’alaykum Sahabat CintaQuran,

 

Jasa bantuan keuangan makin menjamur seiring bertambah beratnya beban hdup yang ditanggung masyarakat. Kebutuhan mendesak untuk biaya anak sekolah, renovasi rumah atau modal usaha menggiring konsumen untuk menggadaikan BPKB atau surat berharganya. Dalam hitungan jam, dana yang diminta sdh dalam genggaman. Dengan syarat, cicilan pengembalian setiap bulan plus ‘sedikit’ tambahan. Kelihatannya bantuan mulia, padahal jebakan riba.

Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka mengatakan, bahwasanya jual beli itu adalah seperti riba. Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah datang padanya peringatan dari Allah SWT kemudian ia berhenti dari memakan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah keapda Allah. Namun barang siapa yang kembali memakan riba, maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (QS. Al-Baqarah: 275)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

Rentenir berbulu domba kian merajalela. Mulai dari perbankan yang membidik pengusaha hingga bank keliling yang memangsa ibu rumah tangga. Masalah keuangan bukan alasan untuk menjerumuskan anak istri dalam kubangan dosa riba atau membalut usaha halal dengan pinjaman berbunga. Kita pasti bisa jadi pengusaha atau kepala keluarga tanpa riba. Masih banyak jalan halal penuh berkah. Asal kita mau berusaha dan yakin Allah Maha Pemurah akan menunjukkan jalan keluar yang mudah dan penuh berkah. Jauhi riba, sayangi keluarga…

Muslim Normal, Tak Percaya Paranormal

Muslim Normal, Tak Percaya Paranormal

Assalamu’alaykum Sahabat CintaQuran.

 

Sudah sunatullah jika kehidupan kita penuh dengan ketidakpastian. Kondisi ini yang mendorong kita untuk selalu berusaha dan bertawakkal. Namun bagi sebagian orang, ketidakpastian menjadi hal yang menjemukkan. Sehingga mereka berusaha mencari tahu tabir ghaib dibalik ketidakpastian dengan mendatangi paranormal. Ini perilaku abnormal untuk seorang muslim. Karena Islam dengan tegas melarang kita mendatangi dukun dan sejenisnya. Apalagi mempercayai perkataannya yang berkaitan dengan  ghaib.

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam).”[HR. Ahmad]

“Barangsiapa mendatangi paranormal kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” [HR. Muslim]

Di era sekuler kapitalis, ketidakpastian dijadikan lahan bisnis. Krisis spiritual yang menjangkiti masyarakat,turut mensukseskan kenaikan omzet jasa paranormal. Tanpa sungkan, masyarakat mendatangi paranormal untuk bertanya tentang masa depan karir, jodoh, usaha, cinta, keluarga, atau kematian. Untuk mendapatkan kabar pasti atau sekedar menanamkan sugesti. Mereka percaya dengan ramalan zodiak, kartu tarot, garis tangan, meski itu semua hanya permainan. Pada masa rasul, paranormal dihinakan karena menggiring muslim menjadi musyrik. Sementara saat ini, mereka justru dimuliakan oleh media.Sehingga masyarakat kian terbawa gaya hidup sekuler yang menduakan Sang Pencipta. Muslim normal, tak percaya paranormal

Utang

Utang, Telat Bayar, Denda Mengincar

Assalamu’alaykum Sahabat CintaQuran.

 

Hutang piutang dalam kehidupan memang wajar. Tapi kalo hutangnya nggak dibayar, itu namanya kurang ajar. Karena Rasul sendiri tidak mau menshalatkan jenazah sahabat yang masih berhutang sebelum ada yang mau menanggung hutangnya untuk dibayar. Bagi yang berhutang, diperbolehkan menunda pembayaran jika belum ada dan yang meminjamkan dianjurkan untuk bersabar. Namun ketika yang berhutang sering menunda pembayaran, benteng kesabaran bisa bubar. Makanya ada yang mensiasati dengan denda jika terlambat bayar. Sepertinya wajar, padahal termasuk dosa riba yang membuat keimanan kita tercemar.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

”Tindakan menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.” (HR Bukhari)

Pada masa Rasul dan para shahabat, tidak ada denda penalti bagi yang menunda pembayaran. Mereka hanya ditahan sesuai kebijakan pemerintah Islam saat itu.  Karena pemberi utang hanya berhak atas sejumlah uang yang dipinjamkannya, tidak lebih. Baik ia mendapatkannya tepat pada waktunya atau setelah terjadi penundaan. Tambahan berapa pun yang diambilnya sebagai kompensasi dari penundaan pembayaran tiada lain adalah riba yang diharamkan (riba nasi’ah).  Bagi yang berhutang, segeralah melunasi agar tidak tertahan di akhirat kelak. Dan bagi pemberi hutang, jangan tergoda memberlakukan denda karena keterlambatan pembayaran. Semoga  اللَّهُ melidungi kita dari kesusahan dan kesedihan; dari kelemahan dan kemalasan; dari kepengecutan dan kekikiran; dan  dari lilitan hutang dan paksaan orang-orang.