Category Archives: Haji / Umroh

Mahazi 50 adalah Doa dan Dzikir di Arafah dan Tempat-Tempat Yang Lain

[Halaqah 50] Doa dan Dzikir di Arafah dan Tempat-Tempat Yang Lain

Ada beberapa tempat untuk berdoa yang mustajab disana diantaranya : ketika diatas Shafa dalam keadaan Sai, diatas Marwa dalam Sai, ketika Wukuf di Arafah,  ketika di Muzdalifah setelah shalat subuh sampai menjelang matahari terbit, setelah melempar Jumroh Shughro dan setelah melempar Jumroh Wustho.

Seorang yang melakukan Ibadah Haji melakukan doa sesuai kemampuan, namun seseorang berusaha mengambil doa yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, karena apa yang ada didalamnya termasuk Jawami’ul Kalim (yaitu ucapan yang sedikit lafadznya dan dalam maknanya).  Juga karena yang datang didalam Al-Quran dan As-Sunnah lebih selamat dari kesalahan.

Boleh seseorang berdoa dengan doa yang ada didalam Al-Quran didalam sujudnya dan sebelum salam, karena keumuman hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam : “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud maka hendaklah kalian memperbanyak doa” (HR Muslim).

Dan didalam sebuah hadits ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan sifat tasyahud beliau berkata : “Kemudian hendaklah dia memilih diantara doa-doa yang paling dia cintai kemudian berdoa dengannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam : “Ketahuilah sesunggguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika dalam keadaan ruku atau sujud” (HR Muslim).

Maka makna hadits ini : maka larangan membaca Al-Quran didalam ruku/sujud yang ada didalam hadits ini adalah bagi orang yang membaca doa tersebut didalam sujudnya dengan niat membaca Al-Quran. Adapun yang niatnya adalah membaca doa maka hal ini tidak masalah.  Guru kami Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al Abad al Badr hafidzahullah telah menyebutkan didalam kitab beliau Tafsir Naasik bi Ahkamin Munasik… beberapa doa dan dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa digunakan untuk berdoa di Arafah dan selain Arafah. Beliau mengumpulkan 74 dzikir dan doa

Akhirnya semoga Allah memudahkan Ibadah Haji kaum Muslimin, dan menjadikan Haji mereka Haji yang Mabrur, dan mengampuni dosa-dosa kita dan dosa mereka, dan ini adalah halaqah terakhir dari Silsilah Haji, dan sampai bertemu pada silsilah selanjutnya, yaitu Silsilah Ziarah ke Kota Madinah. Alhamdulilah aladzi bini’matihi tatimush shalihaat. Wa shalallahu alaa Nabiyyinna Muhammad, wa ala aliihi wa shohbihi ajma’in.

Mahazi 49 adalah Masalah Menyembelih Hadyu Tammatu dan Melempar 3 Jumroh serta Sholat Jumat juga Sholat Hari Raya Bagi Para Jama’ah Haji

[Halaqah 49] Masalah Menyembelih Hadyu Tammatu, Melempar 3 Jumroh, Sholat Jumat dan Sholat Hari Raya Bagi Para Jama’ah Haji

Hukum menyembelih Hadyu Tammattu’ sebelum tanggal 10 Dzulhijah , para ulama berselisih pendapat tentang ini dan mayoritas Ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hambaliah mereka mengatakan tidak boleh menyembelih hadyu tammatu sebelum datangnya subuh tanggal 10 Dzulhijjah. Berbeda pendapat tentang menyembelih setelah selesai umroh sebelum melakukan ihrom Haji boleh didalam madzhab Syafi’i .

Pendapat yang lebih kuat wallahu ta’ala a’lam adalah pendapat mayoritas ulama karena :

1. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tidak menyembelih hadyu beliau sebelum tanggal 10, dan beliau telah memerintahkan kita mengikuti beliau didalam manasik haji.

2. Para khulafa ur-Rasyidin tidak menyembelih hadyu mereka sebelum tanggal 10 dan Nabi telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para Khulafa ur-Rasyidin.

3. Kias kepada hewan kurban yang tidak boleh disembelih sebelum tanggal 10.

Hukum melempar 3 jumroh sebelum tergelincir matahari pada tanggal 11, 12 dan 13

Telah berlalu dalil-dalil bahwa melempar jumroh pada hari-hari tasyrik adalah setelah tergelincirnya matahari atau datangnya waktu dzuhur, dan ini adalah pendapat 4 Imam : Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan juga Ahmad Ibnu Hambal. 

Berkata al-Imam al-Mawardi dan beliau termasuk ulama didalam madzhab Asy-Syafi’i, meninggal pada tahun 450H : “Dan waktu melempar pada 3 hari ini adalah setelah tergelincirnya matahari. Apabila ia melempar sebelumnya adalah tidak mencukupi” (Kitab al-Hawwi al-Kabir jilid ke-4 halaman 194).

Dan berkata al-Imam an-Nawawi seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’I yang meninggal pada tahun 676H : “Dan tidak boleh melempar pada 3 hari ini kecuali setelah tergelincirnya matahari” (Kitab al Majmu Syarhul Muhadzhab jilid ke-8 halaman 225).

Hukum shalat Jumat dan shalat Hari Raya pada Jamaah Haji

Jama’ah Haji tidak diwajibkan shalat Jumat dan shalat Hari Raya Idul Adha. Namun barangsiapa diantara mereka yang sholat bersama kaum Muslimin yang disyariatkan melakukan shalat Jumat dan shalat Hari Raya seperti penduduk Mekkah, maka shalat Jumat dan shalat Hari Raya mereka adalah SAH.

Mahazi 48 adalah Beberapa Hukum Berkaitan dengan Safar dan Miqot Jeddah

[Halaqah 48] Beberapa Hukum Berkaitan dengan Safar dan Miqot Jeddah

Hendaklah seseorang yang melakukan Ibadah Haji memperhatikan adab-adab safar dan mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan safar seperti : doa-doa yang dibaca ketika akan safar, naik kendaraan, memasuki daerah baru, dan beberapa hukum yang berkaitan dengan Jamak Qoshor dll

Pendapat mayoritas ulama bahwa Musáfir yang singgah disebuah tempat lebih dari 4 hari atau lebih dari 20x shalat fardhu dan mengetahui jadwal meninggalkan daerah tersebut maka dia mengambil hukum orang yang Mukim : ia tetap menyempurnakan shalatnya dan tidak menqoshor, melakukan puasa Ramadhan, mengerjakan shalat pada waktunya dan tidak menjamak kecuali ada keperluan, melaksanakan shalat rawatib, dll, seperti orang yang singgah di Mekah dan Madinah dan ia mengetahui kapan meninggalkan Mekah dan Madinah

Pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat yang ada : apabila seorang Musafir shalat Jumat maka tidak boleh menjamaknya dengan shalat Ashar, karena terdapat perbedaan yang banyak antara shalat dzuhur dengan shalat Jumat seperti : shalat dzuhur sirriyyah (bacaan dilirihkan) dan shalat Jumat di jahrkan, shalat dzuhur 4 rakaat vs shalat Jumat 2 rakaat, shalat Jumat didahului dengan 2 khotbah sedangkan shalat Dzuhur tidak ada khotbahnya.

Tentang Miqot Jeddah : apakah Jeddah apakah Miqot bagi orang yang ihrom Umroh dan Haji ? Kita katakan : Kota Mekkah dikelilingi oleh Miqot-miqot. Tidak ada orang yang ke Mekkah kecuali akan melewati Miqot-miqot tersebut atau tempat yang sejajar dengan miqot-miqot tersebut; dan Jeddah posisinya dibawah Miqot, maksudnya antara kota Mekah dan Miqot  atau yang sejajar dengannya sehingga orang yang turun di Jedah berarti dia pasti melewati Miqot atau yang sejajar dengannya. Mungkin dia melewati Yalamlam (miqot penduduk Yaman) atau yang sejajar dengannya, atau dia melewati al-Juhfah (miqot penduduk Syam) atau yang sejajar dengannya, sebelum dia turun ke Jedah. Sehingga orang yang demikian harus berihrom atau niat dari Miqot tersebut dan dia diatas pesawat.  Jika tidak, berarti dia telah melewati Miqot tanpa ihrom, dan orang yang melewati Miqot tanpa ihrom berarti dia meninggalkan kewajiban dan diharuskan membayar dam = menyembelih seekor kambing di tanah haram kota Mekkah, dibagikan dagingnya untuk orang miskin di kota Mekkah dan tidak boleh sedikitpun dia mengambil dari dagingnya.

 Jeddah adalah miqot bagi penduduknya dan (bagi) orang yang mampir ke Jeddah kemudian baru timbul niat haji dan umrohnya di Jeddah.

Mahazi 47 adalah Ziarah Masjid Nabawi / Masjid Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

[Halaqah 47] Ziarah Masjid Nabawi / Masjid Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

Disunnahkan bagi seorang Muslim ziarah ke Masjid Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam :

La tusadurhan ila…

Tidak boleh berpayah-payah bepergian ke sebuah tempat kecuali ke-3 masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan Masjidil Aqsa

(HR Bukhari dan Muslim).

Demikian juga hadits Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam :

Shalatun fii masjidin…

“Shalat sekali di masjidku ini lebih baik 1000x daripada shalat yang dilakukan di selainnya, kecuali Masjidil Haram”

(HR Bukhari dan Muslim).

Setelah seseorang melakukan shalat di masjid Rasulullah maka dia melakukan yang disyariatkan untuk diziarahi di Kota Madinah yaitu : Masjid Kuba, Kuburan Nabi Shalallahu dan 2 orang Sahabatnya (Abu Bakar dan Umar rhadiyallahu anha) kemudian Kuburan Baqi’ dan Kuburan Syuhada Uhud.

Di kota Madinah tidak ada Masjid yang memiliki keutamaan khusus selain Masjid Nabawi dan Masjid Quba.

Ketika berziarah kubur maka hendaknya melakukan ziarah yang disyariatkan, yaitu ziarah yang dilakukan untuk mengingat kematian dan mendoakan kebaikan bagi orang yang dikuburkan.

Nabi bersabda :

Qodzuru…

“Hendaklah kalian berziarah kubur karena ziarah kubur mengingatkan kalian kepada kematian”

 (HR Muslim).

Dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berziarah ke kuburan Baqi’ dan mendoakan penghuninya. Dan diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika berziarah kubur adalah :

“Assalamu’alaikum ahlad diyaar minnal mu’ minina wal muslimin, wa inna insya Allahu bikum lalaahikun. As’alullaha lana walakumul ‘afiyah

(semoga keselamatan atas kalian wahai penduduk negri dari kalangan orang yang beriman dan orang yang Islam, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Allah untuk kami dan juga untuk kalian al a’afiyah/keselamatan)”

(HR Muslim)

Mahazi 46 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Thawaf Wada

[Halaqah 46] Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Thawaf Wada

Thawaf Wada adalah Thawaf yang dilakukan oleh Jamaah Haji ketika akan meninggalkan Mekkah setelah menyelesaikan hajinya.

Hukumnya adalah wajib, dan tidak diberikah rukshoh / keringanan untuk meninggalkannya kecuali wanita yang haid dan nifas.

Dianjurkan bagi orang yang umroh melakukan Thawaf Wada sebelum meninggalkan kota Mekkah dan tidak wajib menurut mayoritas Ulama.

Barangsiapa yang Thawaf Wada sebelum melempar jumroh pada tanggal 12 maka Thawafnya tidak sah. Harus diulang thawafnya dan kalau tidak maka dia harus membayar dam.

Orang yang diwakili dalam melempar jumroh pada tanggal 12 tidak boleh dia thawaf Wada kecuali jika yang mewakili sudah melempar Jumroh untuknya.

Apabila jamaah haji mengakhirkan Thawaf Ifadhah ketika akan meninggalkan Mekkah kemudian safar setelahnya, maka itu sudah mencukupi dari Thawaf Wada, yaitu tidak perlu lagi melakukan thawaf Wada meskipun setelah thawaf Ifadhah dia melakukan Sa’i haji.

Bila selesai Thawaf Wada maka dia berjalan kedepan seperti berjalan biasa, tanpa berjalan mundur kebelakang seperti yang dilakukan oleh sebagian.

Setelah Thawaf Wada maka seseorang tidak tinggal di Mekkah kecuali karena keperluan mendadak, seperti karena sudah adzan/iqomah atau keperluan yang berkaitan dengan safar seperti membeli bekal safar, oleh-oleh, atau menunggu teman yang belum datang.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 45 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 3

Halaqah 45 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 3

20Orang yang berhaji boleh melempar Jamarot dari arah mana saja.

21Dianjurkan ketika melempar Jumroh Aqobah, menjadikan Mina di sebelah kanan dan Mekah di sebelah kiri.

Dari Abdurrahman Bin Yazid bahwasanya beliau berhaji bersama Abdullah Ibnu Mas’ud. Maka Abdurrahman melihat Abdullah Ibnu Mas’ud melempar Jumroh Aqobah dengan 7 kerikil, menjadikan Ka’bah di sebelah kirinya dan Mina sebelah kanannya.

Kemudian berkata : “Ini adalah tempat orang yang diturunkan kepadanya surat Al Baqaroh (yaitu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam).

(HR al-Bukhari dan Muslim)

22Anak kecil yang tidak mampu melempar, maka walinya mewakili dia didalam melempar, demikian pula semua orang yang lemah seperti karena sakit, tua, atau hamil, karena melempar waktunya terbatas, dan tidak boleh melempar apabila sudah selesai waktunya.

Dan melempar Jumroh adalah satu-satunya amalan Haji yang bisa diwakili orang lain apabila seseorang dalam keadaan lemah.

23 Orang yang ingin melemparkan untuk orang lain maka disetiap Jumroh dia melempar untuk diri sendiri dahulu, baru untuk orang yang diwakili Inilah yang dikuatkan oleh sebagian ulama, dan apabila dia ingin melempar terlebih dahulu 3 Jumroh untuk dirinya sendiri kemudian kembali lagi dan melempar 3 Jumroh untuk orang lain maka yang demikian adalah pendapat yang lebih berhati-hati.

24 Orang yang mewakili dalam melempar adalah orang yang sedang berhaji. Adapun orang yang bukan jemaah haji maka tidak melempar untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

25 Melempar jumroh meskipun asalnya adalah kisah setan yang berusaha untuk menghalangi Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah, kemudian dilempar oleh Nabi Ibrohim dengan 7 kerikil disetiap Jumroh sebagaimana didalam Hadits shahih yang diriwayatkan Al-Hakim, tetapi kita melemparnya adalah dalam rangka meneladani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, bukan karena niat melempar setan.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 43 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 1

Halaqah 43 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 1

1 Melempar Jumroh Aqobah di hari Kurban dan 3 Jumroh Shughro, Wustho dan Kubro di hari2 tasyrik adalah termasuk KEWAJIBAN HAJI sebagaimana sudah berlalu.

2 Tidak ada tempat yang khusus untuk mengambil kerikil. Boleh seseorang mengambilnya di Musdalifah / Mina / Mekkah.

3 Dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dicarikan kerikil untuk beliau di Mina, dan beliau dalam perjalanan dari Musdalifah ke Jumroh Aqobah.  

4 Didalam shahih Muslim, dari Fadl Ibnu Abbas (semoga Allah meridhoi keduanya) beliau berkata : “Sehingga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam memasuki Muhassir”

Dan Muhassir adalah termasuk Mina. Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata :

“Hendaklah kalian mengambil kerikil al-khodf yang digunakan untuk melempar Jumroh”.

Jumlah Jumroh yang diambil 49 bagi orang yang melakukan Naffar Awal dan 70 bagi orang yang melakukan Nafar Tsani.

5 Boleh seseorang mencari sendiri kerikilnya atau dicarikan oleh orang lain, dan boleh baginya untuk membeli dari orang lain.

6 Boleh mencari kerikil sekali untuk beberapa hari, atau mencari kerikil setiap hari sesuai dengan yang jumlah dibutuhkan pada hari tersebut.

7 Ukuran kerikil untuk melempar Jumroh adalah sebesar kerikil Khodf, yaitu kurang lebih sebesar biji jagung.  Adapun yang lebih besar dari itu, itu termasuk BERLEBIHAN.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata : “Dengan yang semisal mereka. (maksudnya hendaklah kalian melempar dengan yang semisal kerikil-kerikil ini) dan hati-hatilah kalian dengan berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang menghacurkan kalian adalah yang berlebih-lebihan dalam agama” (HR An Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah)

8 Tidak boleh melempar dengan selain kerikil, seperti kayu, besi, tulang, dll

9 Tidak disyariatkan mencuci kerikil-kerikil tersebut.

10 Boleh mengambil kerikil yang berserakan disekitar Jamarot.

11 Jemaah Haji harus yakin / memperkirakan bahwa kerikilnya jatuh ke Telaga.

12 Disunnahkan mengucapkan TAKBIR pada setiap lemparan. Berkata Jabin bin Abdillah al Anshory : “Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melempar Jumroh Aqobah 7 kerikil. Beliau bertakbir bersama setiap kerikil yang beliau lemparkan”.(HR Muslim)

13 Tidak sah melempar kerikil sekaligus.

14 Tidak sah hanya meletakkan kerikil dan hanya melemparkannya.

Mahazi 42 adalah Bermalam di Mina Pada Hari-hari Tasyrik

Halaqah 42 Bermalam di Mina pada Hari2 Tasyrik

1 Semua jamaah haji bermalam di Mina pada tanggal 11 dan malam tanggal 12.

2 Barangsiapa yang ingin bersegera atau melakukan Naffar Awal maka dia harus keluar dari Mina pada tanggal 12 sebelum tenggelam matahari dan melempar Jumroh Sughro, Wustha dan Kubra setelah tergelincirnya  matahari

3 Barangsiapa yang ingin menunda atau melakukan Nafar Tsani maka dia bermalam sekali lagi pada malam tanggal 13 dan meninggalkan Mina pada tanggal 13 setelah melempar 3 jumroh.

Allah Subhahanu Wa Ta’ala berfirman : “Dan hendaklah kalian mengingat Allah pada hari-hari yang terhitung.  Maka barangsiapa yang bersegera pada 2 hari maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa yang mengakhirkan maka tidak ada dosa baginya, bagi orang yang bertakwa”.

 (Qs Al Baqarah : 203).

Orang yang bersegera maksudnya adalah yang melakukan Naffar Awwal dan orang yang mengakhirkan maksudnya adalah yang melakukan Nafar Tsaani.

4 Seseorang dinamakan bermalam di Mina jika dia berada di Mina pada sebagian besar malam, atau lebih dari separuh malam, baik dia bermalam di awal malam atau akhir malam, atau pertengahan. Dan sama saja apakah dia dalam keadaan tidur atau bangun.

5 Dianggap bermalam sebagian besar malam bila bermalam lebih dari separuh malam. Dan malam dimulai dari tenggelam matahari atau dtgnya waktu maghrib, dan diakhiri dengan terbitnya fajar kedua atau datangnya waktu subuh. Dihitung berapa jam waktu antara maghrib dan subuh kemudian dibagi menjadi 2. Misal  satu malam 10 jam, barangsiapa yang bermalam di Mina lebih dari 5 jam maka dianggap dia telah bermalam di Mina.

6 Apabila seseorang ingin ke Mekkah maka lebih hati-hatinya hendaknya dia ke Mekkah pada akhir malam, karena apabila dia pergi di awal malam khawatir dia akan ketinggalan bermalam di Mina yang merupakan salah satu diantara kewajiban Haji.

7 Naffar Tsani lebih afdhol daripada Nafar Awal karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melakukan Nafar Tsani. Dan orang yang melakukan Nafar Tsani lebih banyak amalannya, berupa bermalam di Mina dan melempar Jumroh. Demikian juga orang yang melakukan Nafar Tsani insya Allah lebih selamat daripada berdesak-desakannya orang yang melakukan Nafar Awal.

Orang yang ingin Nafar Awal dan masih berada di Mina ketika matahari tenggelam tanpa ada usaha untuk meninggalkan Mina maka dia diharuskan untuk bermalam di Mina pada tanggal 13.

Berkata Abdullah Ibnu Umar : “Barangsiapa yang tenggelam matahari di tengah-tengah hari tasyrik yaitu tanggal 12 sedangkan dia berada di Mina, maka jangan dia meninggalkan Mina sampai melempar Jumroh besok” (HR Imam Malik dalam al-Muwatho’).

Orang yang ingin Nafar Awal dan berusaha meninggalkan Mina namun masih ada di Mina ketika matahari tenggelam karena sebab macet misalnya, maka dia tidak diharuskan bermalam di Mina pada tanggal 13.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 41 adalah Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah bag 3

Halaqah 41 dari silsilah manasik haji

Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah Bag 3

10. Hadyu harus disembelih di Mina dan Mekkah berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam : “Mina semuanya adalah tempat menyembelih, dan setiap jalan yang ada di Mekah adalah jalan dan tempat menyembelih” (HR Ibnu Majjah dan lainnya, shahih).  

11.  Orang yang melakukan Haji Qiran dan Tamattu’ dan tidak menemukan Hadyu maka berpuasa

3 hari ketika Haji dan

 7 hari ketika pulang ke keluarganya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ”Maka barang siapa yang ber-tammatu’ dengan umroh ke haji maka hendaklah ia menyembelih dengan apa yang dimudahkan berupa Hadyu.  Maka barangsiapa yang tidak menemukan hendaklah dia berpuasa 3 hari ketika Haji dan 7 hari ketika dia kembali“

(Qs Al Baqarah 196)

3 hari dan 7 hari disini bisa dilakukan berurutan atau berpisah-pisah, dan yang lebih utama dilakukan puasa 3 hari menjelang haji sebelum hari Arafah dan yang belum melakukannya di hari Arafah bisa dilakukan di hari-hari Tasyrik.

Berkata Aisyah dan Abdullah Ibnu Umar (semoga Allah meridhoi semuanya) : “Tidaklah diberikan keringanan untuk orang-orang yang berpuasa di hari-hari tasyrik kecuali bagi orang yang tidak menemukan hadyu

(HR Bukhari). 

12. Dianjurkan bagi orang yang menyembelih memakan sebagian daging hadyu dan bersodaqoh untuk orang yang membutuhkan, dan boleh baginya memberi hadiah kepada orang lain meskipun dia adalah orang yang kaya.

Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla : “Maka hendaknya kalian makan darinya dan memberi makan kepada orang fakir”

(Qs Al Hajj 28).

Dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah memakan dari sebagian daging hadyu beliau dan meminum dari kuahnya. Sebagaimana riwayat Jabbir HR muslim, dimana Jabir mengatakan : “Kemudian Nabi pergi ketempat penyembelihan dan menyembelih 63 ekor onta dengan tangan beliau kemudian memberikannya kepada Ali maka Ali menyembelih sisa hadyu beliau dan menjadikan Ali ikut menyembelih hadyu beliau Shalallahu Alaihi Wassalam. Kemudian beliau memerintahkan mengambil sepotong daging dari setiap hadyu dan dijadikan didalam panci kemudian dimasak, maka keduanya (yaitu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan Ali bin Abi Thalib) memakan dari dagingnya dan meminum dari kuahnya. 

13. Hukum memakan sebagian daging hadyu adalah TIDAK WAJIB karena diantara 100 onta yang disembelih oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam ketika Haji Wada ada yang Nabi sama sekali tidak memakannya, dan tidak wajibnya memakan sebagian daging hadyu adalah dengan kesepakatan para ulama.

14. Amalan yang ke-3 dihari Raya Kurban bagi jamaah Haji adalah menggundul kepala atau memendekkan rambut

15. Amalan yang ke-4 adalah Thawaf Ifadhah. Bisa dilakukan di hari Kurban dan ini yang afdhol atau di hari-hari tasyrik atau setelahnya. Dan apabila seseorang melakukan Haji Qiron atau Ifrod dan belum Sa’i setelah Thawaf Qudum, maka ia harus melakukan sa’i setelah Thawaf. Demikian pula orang yang Tammatu’ melakukan sa’i setelah Thawaf Ifadhah.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 40 adalah Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah

Halaqah 40 dari silsilah mahazi – Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah bag 2

5.     Nabi meninggalkan Musdalifah pada tanggal 10 sebelum terbit matahari terbit ketika warna langit di sebelah timur menguning sekali

6.     Didalam perjalanan menuju Mina, Al Fadl Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mencarikan 7 kerikil bagi Nabi shalallahu alaihi wassalam untuk digunakan melempar Jumroh Aqobah di waktu Dhuha.

7.     Hari raya Idul Adha semuanya adalah waktu untuk melempar Jumroh Aqobah, dan yang afdhal adalah setelah terbit matahari, dan boleh dilakukan sebelum matahari terbit.

Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah : “Dan mereka bersepakat bahwasanya seseorang apabila melempar Jumroh Aqobah pada Hari Raya setelah datangnya waktu subuh dan sebelum terbitnya matahari, maka yang demikian sudah mencukupi.”

8.     Orang yang meninggalkan Musdalifah sebelum subuh diperbolehkan langsung melempar Jumroh Aqobah. Berkata Aisyah : “Aku berangan-angan seandainya aku minta ijin Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam seperti Saudah meminta ijin kepada beliau, maka aku melakukan shalat subuh di Mina dan melempar jumroh sebelum datang manusia” (HR Muslim)

9.   Menyembelih Hadyu bisa berupa onta / sapi / kambing, dilakukan di Hari raya Kurban dan Hari-hari Tasyrik, malam atau siang, baik Hadyunya wajib seperti Hadyu Tammatu dan Qiron atau nadzar atau  Hadyu yang sunnah, dan harus disembelih di Mina atau Mekkah.

Ust Abdullah Roy