Category Archives: Kajian

RAHMAT ALLAH BAGI KITA PELAKU DOSA

RAHMAT ALLAH BAGI KITA PELAKU DOSA…!!!!!

 

 

Allah masih sayang kepada kita, tatkala kita bermaksiat…

1. Allah masih menutup aib kita…,seandainya Allah membongkar satu saja dosa/aib kita maka betapa malunya kita..

2. Allah tdk langsng mengadzab kita…, seandainya Allah langsng mengadzab setiap dosa yang kita lakukan tentu kita tidak akan bisa hidup diatas muka bumi ini..tentu kita akan segera binasa sebelum sempet bertaubat.

3. Bahkan Allah masih terus memberikan rezki kepada kita…bahkan terkadang ditambah rizki kita, apakah kita tdk malu..? Bermaksiat tp terus dibaiki oleh Allah…??

4. Allah selalu memberi kesempatan bertaubat bagi kita…bahkan hingga nafas terakhir kita.

5. Bahkan Allah sangat gembira pada hambanya yg bertaubat…(padahal baru saja sang hamba tenggelam dalam kemaksiatan).

6. Allah juga memberi ganjaran besar bagi kita yg bertaubat… lantas…kenapa kita masih menunda taubat?,
knp masih beristigfar tapi dgn hati lalai? Apakah kita terus demikian hingga Allah cabut rahmatNya sehingga kita meninggal dalam berlumuran dosa… 💦

t.me/ustadzfirandaandirja

〰〰🌺〰〰

ALLAH TA’ALA MAHA TAHU ATAS SEGALA SESUATU

ALLAH TA’ALA MAHA TAHU ATAS SEGALA SESUATU
.
.
⚉ Banyak orang bertanya: mengapa terjadi gempa di Lombok, padahal di sana banyak orang-orang baik, salih, dan agamis ?
.
Jawaban paling logisnya adalah karena banyaknya kemaksiatan yang dibiarkan di sana .. terutama di pinggir-pinggir pantainya yang katanya di sepanjang pantainya ada “sumur-sumur” yang siap di minum.
.
Ini mengingatkan kita tentang hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya: “apakah kita akan binasa, padahal ada orang-orang saleh di tengah-tengah kita ?!“, Beliau menjawab: “iya, jika keburukan sudah banyak !“
.
⚉ Mungkin ada yang bertanya: bukankah di negara kafir lebih parah keadaannya, kenapa mereka tidak ditimpa gempa ?!
.
Jawabannya:
.
a. Tidak benar di sana tidak ada gempa, ada juga gempa di negara-negara kafir.
.
b. Adzab Allah tidak hanya berupa gempa, tapi ada juga adzab Allah yang lainnya yang Allah timpakan kepada mereka, seperti angin topan, banjir, tanah longsor, bumi yang tiba-tiba “ndelesep” ke bawah, jiwa yang gersang, hati yang mati dan terkunci, dll.
.
c. Jangan samakan antara kasih sayang Allah kepada kaum muslimin dengan kasih sayang Allah kepada orang-orang kafir.
.
Allah menyayangi kaum muslimin dengan memberikan peringatan kepada mereka, agar mereka segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar .. sehingga siksa di akhirat ringan, atau bahkan bebas dari siksaan.
.
Adapun orang-orang kafir, maka bisa saja Allah membiarkan mereka dalam keburukannya hingga ajal menjemput mereka, sehingga nantinya mereka akan menerima azab yang jauh lebih berat .. dan ini tanda TIDAK sayangnya Allah kepada mereka.
.
⚉ Mungkin ada juga yang bertanya: bukankah sebab gempa itu proses alami dari bergesernya lempengan-lempengan tektonik ?!
.
Jawabannya: memang itu proses alam .. tapi kita harus tahu bahwa proses alam itu tidak berjalan sendiri .. ada yang mengaturnya, Dialah Sang Pencipta alam semesta ini .. dan Dia telah berkehendak, bahwa peringatan-Nya akan didatangkan kepada hamba-Nya yang pantas menerimanya .. dan diantara peringatan itu adalah gempa bumi.
.
Jika demikian adanya, maka harusnya kita ingatkan diri akan pentingnya syiar “amar ma’ruf nahi mungkar” .. mari kita GENCARKAN kembali syiar ini .. terutama orang-orang yang sudah diberi kekuasaan .. tujuannya agar kita selamat semuanya .. agar kita terhindar dari peringatan Allah ta’ala sebelum Allah menimpakannya .. atau mengangkatnya setelah kedatangannya.
.
Allah ta’ala berfirman:
.
لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
.
[Surat Yunus 98]
.
“Ketika kaum Yunus itu beriman, Kami hilangkan dari mereka AZAB yang menghinakan dalam kehidupan DUNIA, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu“
.
Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..
.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.
.
.
ref : http://bbg-alilmu.com/archives/38996

____🍃🌹

DZIKIR BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP

DZIKIR BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP

 

==================================
Puncak kebanggaan adalah ketika menjadi kebanggaan Allah ﷻ Berikut adalah cara menjadi kebanggaan Allah ﷻ

🔅Adalah kehormatan besar bisa menjadi kebanggaan orang lain. Makin terpandang, makin besar kehormatan. Seorang anak tersanjung dan bahagia tatkala dibanggakan orangtuanya. Lebih tersanjung dan lebih bahagia ketika menjadi kebanggaan bangsa dan negaranya. Dan lebih tersanjung lagi saat dibanggakan kaum muslimin di seluruh dunia. Setelah menjadi kebanggaan dunia, masihkah ada kebanggaan lebih tinggi? Masih. Yakni menjadi kebanggaan Allahﷻ

📃 Bagaimana caranya? Simak kisah Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu.

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ menghampiri sejumlah sahabatnya yang sedang duduk melingkar.

“Sedang apa, kalian❓” tanya Rasulullahﷺ

“Kami bermajelis dalam rangka mengingat Allahﷻ dan bersyukur kepada-Nya karena telah menunjukkan kami kepada Islam,” jawab mereka.

“Sumpah demi Allah, apa hanya karena itu kalian bermajelis❓” tanya Rasulullahﷺ

“✋Sumpah demi Allah
hanya karena itu kami bermajelis,” jawab mereka.

“Sebenarnya aku menyumpah kalian bukan karena menyangsikan kejujuran kalian, namun barusan Jibril mengabarkan bahwa Allahﷺ membanggakan kalian di hadapan para malaikat,” kata Rasulullah ﷺ
📃 (HR. Muslim).

💫Luar biasa! Sehebat itukah pengaruh dzikrullah dan syukur nikmat❓

Ya. Sebab dengan membayangkan besarnya nikmat dan karunia Allahﷻ lalu membandingkan semua itu dengan banyaknya aib pada diri dan amal kita, muncullah rasa “utang budi” yang luar biasa kepada Allahﷻ Rasa malu akan menyelimuti hati kita, mengingat betapa banyak nikmat Allahﷻ yang belum kita syukuri. Kita merasa tak memiliki persembahan apa-apa untuk menghadap Allahﷻ kelak. Semua kenikmatan berasal dari-Nya. Dia pula yang menyadarkan kita atas segala kenikmatan tadi, lalu menggerakkan kita untuk bersyukur kepada-Nya. Semua kebaikan bermula dari-Nya dan berakhir pada-Nya.

🥀Ketika seseorang benar-benar merasa fakir di hadapan Allahﷻdan sadar bahwa dirinya tak berjasa apa pun kepada-Nya, namun di saat yang sama demikian berhajat kepada-Nya, ketika itulah pintu ‘ubudiyyah (beribadah kepada Allahﷻ) terbuka lebar-lebar baginya. Tak ada jalan pintas yang menghantarkan seseorang kepada Allahﷻ melebihi ‘ubudiyyah.

Bermajelis dalam rangka mengingat Allah ﷻ dan mensyukuri nikmat-Nya bukan berarti mengadakan majelis dzikir jama’i seperti yang marak kita saksikan di televisi. Majelis dzikir yang sesungguhnya ketika masing-masing merenungi betapa indahnya nikmat tauhid dan iman yang Allahﷻ anugerahkan kepadanya. Mengingat bahwa Allah ﷻ telah menyelamatkannya dari jurang kemusyrikan dan kekafiran. Ketika berjuta-juta manusia terjerumus ke dalamnya. Mengingat bahwa ia hanya sujud kepada Allahﷻ Sang Pencipta dan Penguasa jagad raya, sedangkan berjuta manusia lainnya sujud kepada selain-Nya, atau bahkan bersujud kepada makhluk yang lebih nista daripada mereka.

Apa kelebihan kita daripada mereka❓ Apa yang menjadikan kita lebih berhak mendapat hidayah daripada mereka❓ Tidak ada. Semuanya murni karena rahmat Allahﷻ

🔅Allahﷻ berfirman, yang artinya,
“Andai Allahﷻ menghendaki, niscaya Ia menjadikan kalian umat yang satu (muslim semua). Akan tetapi Dia menyesatkan siapa yang dikehendakiNya, dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan kalian pasti akan ditanya tentangsemua yang kalian lakukan.”
📖 (QS. An-Nahl: 93).

Dengan menyadari hakikat ini, lisan pun akan tergerak untuk mengatakan subhaanallaah, alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar, dan astaghfirullah dengan khusyu dan tulus.Tak perlu komando dari ustad. Tak perlu liputan kamera televisi.Tak perlu ratusan orang berkumpul di lapangan terbuka. Dua orang pun bisa melakukannya.
✍ Ustad DR. Sufyan Fuad Baswedan, M.A

❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁❁

💻 https://bimbingansyariah.com

📮https://t.me/moslemlearning

https://t.me/bimbingansyariah
____🍃🌹

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN
Taushiyah Mufidah :
▪🗓 Selasa
| 18 Syawwal 1439 H
| 2 Juli 2018 M
| Oleh : Ustadz Dr. Arifin Badri, MA

Walau sudah ngaji tauhid bisa jadi anda sehari-hari masih bergelimang dalam kesyirikan.

Menurut anda apakah orang berikut ini mencerminkan tauhid atau syirik?

Berwudu hanya agar mukanya menjadi bersih.

Berzakat hanya agar dikenal sebagai orang dermawan.

Berjihad hanya agar bisa melampiaskan dendam kepada musuh yang telah mengganggu keluarganya.

Berhaji hanya agar bisa rekreasi ke Madinah dan Mekah.

Apakah yang seperti di atas amalan tauhid atau syirik?

Bagaimana dengan orang yang berdo’a hanya agar kebutuhannya terpenuhi atau dikabulkan sehingga ia bisa menjadi kaya raya, atau naik pangkat, atau dagangannya laris, atau sembuh dari penyakitnya?

Dalam pikiran dan niatnya saat berdoa sama sekali tidak terbatik niatan sedang beribadah.

Anda pasti pernah membaca sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الدعاء هو العبادة

Doa itu adalah ibadah
(At Tirmizy dan lainnya)

Sobat! Coba bandingkan orang yang berdoa seperti di atas dengan orang yang berwudlu namun yang ada di benaknya hanya sejuknya air, dan bersihnya wajahnya.

Atau bersedakah, namun yang selalu terbayang di pikirannya hanyalah sanjungan orang lain.

Imam Ibnu Taimiyyah mengomentari praktek doa yang seperti ini, yaitu hanya fokus pada terpenuhinya kebutuhan dirinya dengan berkata:

‏ومعلوم أن الافعال التي على هذا الوجه لا تكون عبادة ولا طالعة ولا قربة

Dan telah diketahui bersama bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan cara ini, tidak bisa menjadi ibadah, tidak pula amal ketaatan tidak pula amalan yang mendekatkan diri kapada Allah.
(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 10/715)

Yuk, ngaji tauhid lagi, bukan sekedar teorinya namun juga hingga pada tahap aplikasinya dalam kehidupan nyata.

Sumber : http://www.salamdakwah.com/artikel/4856-sudah-ngaji-tauhid-tapi-bergelimang-kesyirikan
Dishare ulang :
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
~~~~~~~~

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

✏Ustadz Dr. Khalid Basalamah MA

 

1⃣ Masuk Islam

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا

dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba masuk Islam lalu memperbaiki keIslamannya maka Allah akan menuliskan untuknya setiap kebaikan yang dia lakukan, dan dihapus setiap keburukan yang dia lakukan kemudian setelah itu (setiap) kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuhratus kali lipat, sedangkan keburukan akan dibalas dengan semisalnya kecuali jika Allah Azza wa jalla memaafkannya.” (HR. An Nasai)

Para ulama menjelaskan maksud dari bagus islamnya adalah bagus tauhidnya, tidak mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

 

2⃣ Bertaqwa kepada Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.
Surat Al-Anfal, Ayat 29
Dan taqwa adalah: menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang.

 

 

3⃣ Mengikuti nabi Muhammad
Dengan selalu berusaha mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, meneladaninya, maka Allah janjikan cinta dan ampunannya. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Surat Ali ‘Imran, Ayat 31

 

4 Berjihad di jalan Allah.

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ🔅يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.🔅
niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.
-Surat Ash-Shaf, Ayat 11-12

 

Dan ingat! Jihad adalah syariat Allah, punya rambu-rambu dari Allah, aturan dan syarat-syarat nya jelas. Jangan sampai kerena kebodohan kita, malah syariat yang Agung ini menjadi alasan untuk membuat kerusakan dan keganduhan.
Nas,alullaha attaufiq wassadaad.

Catatan Faedah dari Tabligh Akbar tanggal 7 Dzulhijjah 1439 H di Kota Makassar

Diringkas oleh Admin Dirosah Ilmiyah.

Silahkan follow akun resmi Ustadz Khalid Basalamah di:

🆔Youtube: Khalid Basalamah Official

🆔Instagram dan Telegram: @khalidbasalamahofficial

🆔FP Facebook: Ustad Khalid Z.A Basalamah

➖➖➖🌸➖➖➖

Ilmu Anda Bermanfaat ?

📚 Ilmu Anda Bermanfaat ?

▪Ilmu yg bermanfaat, adalah:
Ilmu yg diamalkan oleh pemiliknya, sehingga keadaannya berubah menjadi lebih baik. Semakin banyak ilmunya yg diamalkan, semakin banyak pula ilmunya yg bermanfaat.

Sehingga bukanlah syarat bermanfaatnya ilmu seseorang, dia harus diikuti oleh banyak orang Oleh karenanya, ada seorang nabi yang tanpa pengikut sama sekali, dan itu bukan berarti ilmu nabi tersebut tidak bermanfaat.

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka ada seorang nabi dan yang ikut bersamanya satu kelompok kecil, ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya (hanya) satu dua orang, dan ada juga seorang nabi (tapi) tidak bersamanya seorang pengikutpun”.

[HR. Bukhori: 5752, dan Muslim: 374]

Intinya: Janganlah risau jika hanya ada sedikit orang yg mendengar Anda, tetaplah berpegang-teguh dengan kebenaran dan terapkanlah dalam hidup Anda.

Dari sini kita juga bisa memahami, bahwa manfaatnya Ilmu seseorang bisa untuk dirinya sendiri, dan bisa juga untuk orang lain. wallohu a’lam.

Dengan begitu Ilmu Anda menjadi bermanfaat.

>>>>>>>🌺🌺<<<<<<<

🖊 Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny Lc, MA
Dewan Pembina RisalahIslam.or.id

Oleh: Mutiara Risalah Islam

___🍃🌹

Aqidah Al-Wāsithiyyah Halaqah 005 Muqaddimah Penulis Kitab (Bagian 02)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 05 Rajab 1439 H / 23 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 005| Muqaddimah – Muqaddimah Penulis Kitab (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H005
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB (BAGIAN 2)*

 

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita telah sampai di halaqah yang ke-5 dari kitāb “Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah” (العقيدة الواسطية), kita telah sampai pada muqaddimah yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitābnya.

Pada halaqah sebelumnya beliau membuka kitāb ini dengan: بسم اللّه الرحمن الرحيم, maka pada halaqah ini kita lanjutkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah di dalam pembukaan kitāb ini (العقيدة الواسطية).

Beliau rahimahullāh berkata:

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا

_”Segala puji bagi Allāh, yang telah mengirim rasūl-Nya, dengan ilmu dan agama atau dengan amal shālih untuk mengangkat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mengangkatnya di atas seluruh agama-agama yang ada dan cukuplah Allāh sebagai saksi.”_

Di sini Ibnu Taimiyyah memulai setelah mengucapkan basmallāh beliau melanjutkan dengan hamdallāh.

Alhamdulilāh artinya Segala puji bagi Allāh ‘Azza wa Jalla.

Setiap perkataan atau perbuatan yang berkenaan dengan pujian, maka ketika kita mengucapkan alhamdulilāh maka seluruhnya dihaturkan kepada Allāh ‘Azza wa Jalla.

Jadi cukup kita mengucapkan “Alhamdulilāh” maka segala pujian yang ada di dunia ini bagaimanapun bentuknya, perkataannya, maka itu dihaturkan (sudah dicakup) dengan alhamdulilāh.

Membuka sebuah kitāb atau ceramah dengan alhamdulilāh, memiliki dasar hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كل أمرٍ ذي بال لا يبدأ فيه: بالحمد لله فهو أقطع

_”Segala urusan yang tidak dimulai dengan alhamdulilāh maka dia terputus.”_

(Hadīts hasan riwayat Abū Dāwūd nomor 1394 dan yang lainnya)

Apa maksud terputus?

Maksudnya tidak ada berkahnya atau berkahnya hilang (terputus) dan sebagainya. Maka sunnah untuk memulai tulisan, ceramah dan lainnya selain dengan “Basmallāh” yaitu dengan “Alhamdulilāh”.

Kita mengatakan Alhamdulilāh memuji Allāh karena sifat-sifat dan nama-nama-Nya dan juga karena nikmat yang Allāh berikan kepada kita.

Dan salah satu nikmat yang Allāh berikan sebagaimana yang diucapkan oleh (ditulis) oleh Ibnu Taimiyyah disini adalah:

الذي أرسل رسوله بالهدى

_”Segala puji bagi Allāh yang telah mengutus rasūlnya dengan ilmu.”_

Maksud بالهدى adalah hidayah atau ilmu-ilmu yang bermanfaat, (seperti) hadīts atau khabar Nabi tentang hari kiamat atau bagaimana Nabi mengajarkan kita shalāt. Ini semua adalah Hudā (هدى).

Jadi, Allāh mengutus Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak cukup dengan ilmu saja tetapi dengan ilmu yang bermanfaat dan juga dengan amal shālih (دين الحق).

ليظهره على الدين كله

_Allāh mengangkat (meninggikan) Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari segala agama._

Jadi tidak ada lagi agama yang lebih tinggi dari agama yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Semua agama sudah dihapus dan semua orang wajib untuk beragama Islām (wajib untuk mengimāni Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

وكفى بالله شهيدا

_Dan cukuplah Allāh sebagai saksi (bagi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam)._

Inilah pembukaan setelah Basmallāh yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah, in syā Allāh pembukaan berikutnya beliau akan memulai dengan syahadat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan juga kepada Rasūl Nya.

In syā Allāh akan kita lanjutkan dihalaqah berikutnya.

Demikian.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________

Aqidah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 004| Muqaddimah – Muqaddimah Penulis Kitab

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 04 Rajab 1439 H / 22 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 004| Muqaddimah – Muqaddimah Penulis Kitab
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H004
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB (BAGIAN 1)*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita kembali lagi pada kajian kitāb “Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah” (العقيدة الواسطية) yang sekarang memasuki halaqah ke-4.

Pada halaqah yang lalu telah disampaikan garis besar bahasan kitāb Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah yang dikarang oleh Imām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan masuk pembahasan apa yang dibahas oleh Imām Ibnu Taimiyyah.

Sahabat BiAS sekalian,

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di awal bukunya berujar:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Syaikhul Islām Ibnu dalam pembukaannya memulai dengan:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Sebelum kita melangkah lebih lanjut membaca muqaddimah yang akan disampaikan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh maka pada halaqah kali ini kita sempatkan dahulu untuk membahas arti dari:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

_Bismillāhirrahmānirrahīm_

Sebagaimana yang sudah tidak asing lagi bagi kita, sering kita baca atau dengar dengan artian, “Dengan menyebut nama Allāh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Itu adalah tafsiran atau terjemahan secara umum. Kita sedikit mendalami tafsiran ini, kita mulai dari “Bismillāh”.

“Bismillāh” dalam artian “Dengan nama Allāh”, tentu kalau kita mengartikan dengan nama Allāh, maka kalimatnya tidak sempurna, harus ada yang menyempurnakannya.

Misalnya:

Orang mengatakan, “Dengan sendok.”

Kita tidak paham apa yang dia maksud “dengan sendok”. Kita akan paham ketika kalimatnya menjadi, “Saya makan dengan sendok,” atau, “Dengan perantara sendok,” dan sebagainya.

Begitu pula dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”, yang kalau kita artikan secara harfiah (leterlex) maka artinya adalah “Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm”.

Maksud dari “dengan nama Allāh” disini adalah “dengan nama Allāh saya memulai aktifitas saya”.

Maka ketika Ibnu Taimiyyah meletakkan “Bismillāhirrahmānirrahīm” di dalam muqaddimah kitāb ini, berarti: “Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm, maka saya memulai kitāb ini.”

Dengan demikian Ibnu Taimiyyah meminta pertolongan Allāh ‘Azza wa Jalla dalam menulis kitāb ini, karena manusia satu detikpun dia tidak bisa lepas dari taufīq dan bantuan Allāh ‘Azza wa Jalla.

Tindakan Ibnu Taimiyyah memulai kitābnya dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm” merupakan (mencontoh) dari Al Qur’ānul Karīm yang dimulai dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”.

Begitu pula dengan mencontoh surat-surat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang dikirimkan kepada raja-raja yang dimulai dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”.

Selanjutnya arti lafadz Jalallāh (“Allāh” Subhānahu wa Ta’āla).

Artinya adalah dzat yang memiliki hak (patut) untuk diibadahi. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Selanjutnya Ar Rahmān Ar Rahīm.

Sering kita dapati yang diartikan “Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.

Namun sejatinya, kalau kita membaca (membuka) buku-buku tafsir para ulamā, maka Ar Rahmān Ar-Rahīm ini, diartikan dengan lebih dalam di dalam buku-buku tersebut.

Ulamā mengartikan Ar Rahmān Ar Rahīm ini sejatinya sama. Dia adalah nama Allāh yang menunjukkan Allāh memiliki sifat Rahmān (kasih sayang).

Namun apa yang membedakannya?

Ar Rahmān dipakai untuk menunjukkan bahwa Allāh memiliki sifat rahmāh, Allāh Maha Penyayang, Allāh memiliki sifat kasih sayang.

Ar Rahīm dipakai di dalam redaksi (kalimat-kalimat) yang menunjukkan perbuatan Allāh atau menunjukkan rahmat Allāh terhadap makhluknya.

Jadi seakan-akan: kalau Ar Rahmān itu secara Dzat, Allāh Maha Pengasih. Sedangkan Ar Rahīm, Allāh melakukan kasih sayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Kalau kita lihat di Al Qur’ān ketika menyebutkan bahwa Allāh mengasihi makhluknya maka menggunakan kata Rahīm bukan Rahmān.

Misalnya:

Firman Allāh ‘Azza wa Jalla:

وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا

_”Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang berimān.”_

(QS Al Ahzāb: 43)

⇒ Artinya Allāh mengasihi mereka, Allāh menggunakan “Rahīm” bukan “Rahmān”.

Dalam ayat yang lain, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌۭ رَّحِيم

_”Sesungguhnya Allāh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”_

(QS Al Baqarah: 143 dan QS Al Hajj: 65)

Itulah perbedaan Rahmān dan Rahim.

Yang tentunya kenapa diartikan menjadi Maha Pengasih dan Maha Penyayang, (Wallāhu A’lam) jika diartikan secara mendalam maka akan panjang dan sulit dipahami apalagi bagi kita yang mungkin tidak terlalu paham dengan bahasa Arab.

Maka untuk memudahkan, ulamā-ulamā kita hanya mencukupkan menafsirkan Ar Rahmān Ar Rahīm dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf, in syā Allāh kita lanjutkan dihalaqah berikutnya.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________

 

Bismillah
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________

Aqidah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rajab 1439 H / 21 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum Continue reading

Aqidah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 002| Muqaddimah – Sekilas Biografi Penulis Kitab

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Rajab 1439 H / 20 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 002| Muqaddimah – Sekilas Biografi Penulis Kitab
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H002
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH – SEKILAS BIOGRAFI PENULIS KITAB*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليك ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين
Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Sahabat BiAS sekalian, di halaqah yang ke-2 ini dalam kajian kitāb “Al ‘Aqidah Al Wāsithiyyah” (العقيدة الواسطية), kita akan membahas tentang sosok di balik Al ‘Aqidah Al Wāsithiyyah.

Al ‘Aqidah Al Wāsithiyyah ini dikarang dalam rentang waktu yang cukup singkat yaitu antara waktu dhuhur dan ashar. Tentu ini akan memancing rasa ingin tahu kita akan siapa sosok dibalik Al ‘Aqidah Al Wāsithiyyah.

Kenapa ?

Karena, bagaimana kitāb yang memuat pokok-pokok aqidah ahlussunnah waljamā’ah yang disertai dalīl, hadīts dan dihapal oleh ulamā di zaman kekinian atau zaman sebelumnya dan dijelaskan maksudnya, (termasuk di negara kita) hanya dikarang dalam rentang waktu sedikit. Tentu ini membuat kita ingin tahu siapa sosok penulis kitāb tersebut.

Sahabat BiAS sekalian,

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Al ‘Aqidah Al Wāsithiyyah ini dikarang oleh Imām Ibnu Taimiyyah (Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah).

Syaikhul Islām adalah gelar yang diberikan kepada beliau dan juga gelar yang diberikan kepada ulamā-ulamā sebelum beliau yang pantas menerima gelar ini. Bahkan Abū Bakar dan ‘Umar juga mendapatkan gelar Syaikhul Islām.

Ibnu Taimiyyah bukanlah nama asli beliau, nama asli beliau adalah Ahmad dan ayah beliau adalah Abdul Halim. Taimiyyah ini mungkin adalah nenek beliau yang mungkin dari jalur agak jauh dari beliau, karena ayah dan kakek beliaupun dinisbatkan kepada Taimiyyah (keluarga beliau disebut keluarga Taimiyyah)

Keluarga Taimiyyah ini adalah keluarga ulamā, kakek beliau Ahmad Ibnu Abdul Halim adalah ulamā, beliau mengarang kitāb Muntaqa Al Akhbar, yang sekarang ada ulamā yang mencoba menjelaskan hadīts-hadīts.

Jadi kitab Muntaqal Al Akhbar adalah kitāb kumpulan hadīts dan hadīts-hadīts yang dikumpulkan oleh kakek Ibnu Taimiyyah ini dijelaskan arti hadīts (maknanya) oleh Imām Syaukani dan diberi nama Nailul Authar.

Jadi penjelasan hadīts-hadīts tersebut, kitābnya diberi nama Nailul Authar. Tentu beberapa dari kita tidak asing dengan nama Nailul Authar ini.

Ayah beliau pun adalah ulamā, maka tidak heran di keluarga Taimiyyah ini lahir seorang Syaikhul Islām yaitu Ibnu Taimiyyah.

Keluasan ilmu-ilmu Ibnu Taimiyyah sudah tidak dipungkiri lagi, ini juga bisa terlihat dari murid-murid yang ditelurkan oleh beliau.

Kalau kita bicara tentang tafsir tentu banyak nama yang akan berputar di kepala kita, salah satu nama yang mungkin akan kita ingat ketika kita mendengar kata tafsir adalah tafsir Ibnu Katsīr.

Ibnu Katsīr adalah murid dari Ibnu Taimiyyah, meskipun secara fiqih beliau banyak berpandangan dengan madzhab syāfi’i, berbeda dengan Ibnu Taimiyyah yang lebih dekat atau lebih banyak mengambil madzhab Imām Ahmad atau Imām Hambali.

Kalau kita berbicara tentang tazkiyatun nufus atau kesucian jiwa dan sebagainya banyak nama juga, salah satunya yang mungkin kita ingat adalah Imām Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Beliau adalah murid Ibnu Taimiyyah bahkan murid setianya.

Atau misalnya dalam sejarah atau dalam biografi ulamā, yang menyusun biografi ulamā atau mungkin sahālabat BiAS pernah membaca artikel (buku) lalu ada di situ disebutkan sekilas biografi ulamā lalu dicatatan kaki disebutkan bahwa biografi tersebut diambil dari kitāb Syiar A’lamin Nubala.

Kitāb Syiar A’lamin Nubala ini adalah karangan Imām Adz-Dzahabi dan beliau (Imām Adz Dzahabi) adalah murid dari Ibnu Taimiyyah. Dan masih banyak murid Ibnu Taimiyyah yang lain yang menunjukkan luasnya ilmu sang guru.

Keluasan ilmu, selain dilihat dari muridnya juga dilihat dari karya-karyanya. Beliau banyak memiliki karya, terlebih karya-karya yang itu menjelaskan tentang ‘aqidah dan bantahan terhadap ‘aqidah-‘aqidah menyimpang.

Mungkin karena beliau sangat intens menjaga kaum muslimin dari ‘aqidah yang rusak sehingga ada beberapa orang yang kurang suka dengan beliau. Sehingga mungkin bila sahabat BiAS pernah menemukan misalnya orang yang menulis sesuatu yang jelek tentang Ibnu Taimiyyah atau menuliskan beberapa sejarah-sejarah tentang Ibnu Taimiyyah maka kita harus kroscek, apakah benar atau tidak ?

Karena bisa jadi tulisan-tulisan tersebut dibangun atas subyektifitas semata atau tidak adil dalam memandang permasalahan atau diambil dari informasi yang salah dan sebagainya. Maka kita perlu berhati-hati, kita perlu cerdas dalam memilah-milah informasi.

Selain karya-karya beliau juga keseharian beliau. Beliau merupakan ahli ibadah, ahli dzikir. Oleh karena itu Ibnu Qayyim pernah berujar:

“Ibnu Taimiyyah bisa mengarang karya dalam waktu singkat yang mungkin kalau kami yang mengarang akan memerlukan waktu yang panjang.”

Karena luar biasa ilmu beliau dan ibadah juga dzikir beliau, bahkan beliau (Ibnu Taimiyyah) pernah mengatakan bahwa, “Dzikir bagi beliau seperti asupan (nutrisi).”

Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulamā yang memiliki pemahaman yang dalam akan syari’at ini, akan ayat Allāh, akan dzikir, akan hikmah-hikmah. Salah satunya ketika beliau ditanya tentang maksud do’a istiftah.

Kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika membaca do’a istiftah mengunakan redaksi (yaitu) meminta dibersihkan dengan air, es dan juga embun.

Ketika itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لى بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Kenapa tidak memakai air panas?

Air panas kan lebih cepat dalam menghilangkan kotoran?

Ketika itu Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan dari Ibnul Qayyim, karena menurut beliau (Ibnu Taimiyyah) bahwa tubuh ketika berbuat dosa itu panas, maka memerlukan sesuatu yang meredakannya. Dan tubuh setelah melakukan maksiat atau dosa dia akan lemas (loyo) sehingga memerlukan sesuatu yang menyegarkannya.

Sehingga menurut beliau (Ibnu Taimiyyah), itulah hikmah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggunakan redaksi memilih disucikan dengan air dingin dan sebagainya.

Tentu ini hikmah dalam artian bukan sebab kenapa hal itu disyari’atkan, tentu hanya Allāh yang tahu.

Ibnu Taimiyyah mencoba mencari apa sih hikmahnya minta dibersihkan dengan air, es dan juga embunn?

Ini menunjukkan dalamnya beliau memahami syari’at ini.

Masih banyak hal tentunya, tetapi bisa digali sendiri oleh sahabat BiAS sekalian. Selain tentunya kita membaca biografi atau sejarah kekasih kita Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kita juga perlu membaca (melihat) sejarah dari Imām Ibnu Taimiyyah ini.

Ibnu Taimiyyah wafat tahun 728 Hijriyyah, di Syiria, ketika itu banyak sekali yang hadir dipemakaman beliau. Ini menunjukkan betapa manusia kala itu sangat mencintai beliau.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________

Doadankajianislami
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________