Category Archives: Kajian

Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Sya’ban 1440 H / 23 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 17 | Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-17
~~~~

APA YANG DILAKUKAN KETIKA BAYI LAHIR ?

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-17 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: “Apa yang dilakukan ketika bayi baru lahir?”

Jadilah kita orang yang ridhā (sebagai hamba Allāh) atas segala karunia yang Allāh berikan kepada kita, baik anak yang dilahirkan itu laki-laki atau perempuan, karena semua yang memberikan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh lah Yang Maha Memberi Karunia.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ۞ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ قَدِيرٞ۞

“Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

(QS. Asy Syūrā: 49-50)

Kita tidak tahu mana yang baik untuk kita?

Apakah yang baik adalah anak laki-laki atau anak perempuan, atau anak laki-laki dan perempuan atau bahkan Allāh belum mengkaruniakan keturunan untuk kita.

Kita tidak tahu, hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha Mengetahui.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعٗاۚ

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu.”

(QS. An Nissā’: 11)

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Betapa banyak anak perempuan yang menjadi sebab kebahagiaan kedua orang tuanya dan semua kerabatnya di dunia dan akhirat, dan betapa banyak anak laki-laki yang menjadi sebab kesengsaraan kedua orang tuanya, (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Kita lihat contoh!

√ Maryam (ibunda Nabi Īsā alayhissallām) dilahirkan dari keluarga Imrān.

√ Fāthimah (puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Lihatlah!

√ Maryam ‘alayhāssallām melahirkan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang shālih.

√ Fāthimah setelah dewasa dan menikah dengan Āli bin Abī Thālib, beliau melahirkan dua orang anak yang menjadi pemimpin para pemuda penghuni Surga.

Pantaskah jika Maryam dan Fāthimah dibandingkan dengan putera Nūh alayhissallām, seorang anak laki-laki yang terus menerus berada di dalam kekāfiran hingga dia mati dalam keadaan kāfir?

Tentu tidak bisa dibandingkan.

Fāthimah puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih baik daripada putera nabi Nūh alayhissallām, Fāthimah dan Maryam adalah wanita penghuni Surga.

Sedangkan putera Nabi Nūh alayhissallām, ketika diajak oleh bapaknya (Nabi Nūh alayhissallām) untuk beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla di tetap bertahan di atas kekufurannya dan akhirnya mati (tenggelam) dalam keadaan kufur (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Inilah seorang anak yang jika ia hidup, niscaya akan mendorong kedua orang tuanya menjadi sesat lagi kāfir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا

“Dan adapun anak muda (kāfir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekāfiran.”

(QS. Al Kahfi: 80)

Jadi, tidak selalu anak laki-laki pasti baik dan sebaliknya tidak selalu anak perempuan pasti buruk.

Sungguh, di dalam mendidik dan berbuat baik kepada anak perempuan terdapat pahala yang sangat besar.

Sebagaimana hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّا

Seorang ibu bersama kedua puterinya datang kepadaku, ia meminta sesuatu kepadaku akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa di sisiku kecuali satu butir kurma, kemudian aku memberikannya dan dia pun mengambilnya dariku, lalu membaginya kepada kedua puterinya sedangkan dia sama sekali tidak makan. Setelah itu dia berdiri dan keluar bersama puterinya. Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang dan aku menceritakan. peristiwa tersebut. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diberi cobaan dengan anak-anak perempuan, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, maka anak perempuan itu menjadi tameng /tirai yang menghalangi dirinya dari Neraka.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2629)

Ini keutamaan anak perempuan yang terkadang dimasyarakat, khususnya zaman dulu masyarakat jāhilīyyah, mereka sangat benci jika memiliki anak perempuan dan bangga jika memilik anak laki-laki.

Di dalam riwayat Muslim hadīts dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu, dia berkata:

جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang ibu miskin datang kepadaku bersama kedua anak perempuannya, lalu aku memberikannya tiga butir kurma. Sang ibu memberikan satu butir untuk masing-masing anaknya, lalu dia mengangkat satu butir kurma kemulutnya, tiba-tiba saja kedua anaknya meminta lagi, kemudian sang ibu membelah kurma yang akan dia makan menjadi dua bagian untuk keduanya. Kejadian ini sangat menakjubkanku sehingga aku menceritakan apa yang ia perbuat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allāh telah menetapkan Surga baginya karena apa yang telah ia perbuat atau Dia memerdekakannya dari siksa Neraka.”

(Hārits shahīh riwayat Muslim nomor 2630)

Di dalam Shahīh Muslim pula dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ia berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ, وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Siapa saja yang mengurus dua anak perempuan sampai keduanya bāligh, maka dia akan datang pada hari kiamat bersamaku (seperti ini).” Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menggabungkan jari jemarinya.

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2631)

Ini barangkali yang bisa disampaikan untuk pertemuan ke-17 ini, in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya masih berkaitan dengan masalah ini.

Allahu A’lam Bishawāb

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor


Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya

BimbinganIslam.com
Senin, 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 16 | Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-16
~~~~

MELINDUNGI ANAK SEBELUM KELAHIRANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-16 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Melindungi anak sebelum kelahirannya”

Disyari’atkan, disunnah dan dianjurkan untuk membaca do’a-do’a untuk melindungi buah hati sebelum kedatangannya.

Ketika pertama kali seorang suami bersama dengan sang isteri, disunnahkan bagi seorang suami untuk memegang ubun-ubun isterinya dan membaca do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَ

Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaknya dia mendo’akan, “Yā Allāh, sesungguhnya aku mohon kebaikannya kepada-Mu dan kebaikan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya”.

(Hadīts hasan riwayat Abū Dāwūd nomor 2160)

Sedangkan di waktu hendak berjimā’ dianjurkan bagi seorang suami untuk membaca do’a:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Hal ini sebagaimana diriwayatkan di dalam sebuah hadīts shahīh dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُولُ حِينَ يَأْتِي أَهْلَهُ بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi isterinya dan membaca,’Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami’, kemudian Allāh menetapkan atau mentakdirkan seorang anak di antara keduanya, maka anak tersebut tidak akan dapat dicelakakan oleh syaithān selamanya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5165)

Begitulah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada seorang suami agar mendo’akan isterinya dan berdo’a sebelum mereka berjimā’

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor

Memilih Istri Yang Shālihah

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Rajab 1440 H / 20 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 15 | Memilih Istri Yang Shālihah
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-15
~~~~

MEMILIH ISTERI YANG SHĀLIHAH

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral mustami’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-15 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Memilih istri yang shālihah”.

Wajib bagi seorang laki-laki yang ingin menikah untuk memilih isteri yang shālihah yang memiliki agama yang baik, karena dia (wanita) adalah calon ibu dari anak-anaknya.

Dari ibunya, seorang anak akan belajar untuk pertama kali dan darinya pula seorang anak akan mengambil (mengkonsumsi) air susu, sehingga terbentuklah akhlaq dan perilakunya.

Ayah pun berperan, akan tetapi yang pertama kali membentuk karakter anak-anak adalah seorang ibu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ…..

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu….. “

(QS Al Baqarah: 221)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga memerintahkan laki-laki yang akan menikah untuk memilih calon isteri yang shālihah.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ؛ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Maka pilihlah seorang wanita yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5090, Muslim nomor 1466)

Selain dia seorang wanita shālihah dan berakhlaq baik, hendaknya pula dia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik dan shālih (artinya kedua orangnya, saudaranya, kerabatnya dikenal sebagai orang yang baik).

Lihat surat Maryam ayat 28.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

“Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam) ! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

(QS. Maryam: 28)

Maksudnya adalah, ‘Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam), sesungguhnya bapakmu adalah orang mulia lagi shālih, tidak diketahui pernah melakukan perbuatan kejelekan dan tidak pernah melakukan perbuatan keji.”

“Begitu pula ibumu, dia adalah wanita shālihah, sama sekali bukan pezina.”

“Maka bagaimana bisa engkau membawa bayi ini (tanpa suami tanpa menikah) dan darimana dia datang kepadamu?”

Sekali lagi, anak sangat dipengaruh oleh ibunya. Anak pertama kali belajar dari ibunya, oleh karena itu ibu yang shālihah sangat berpengaruh positif pada anak-anaknya.

Jika ibunya shālihah:

√ Ibunya bisa mengajarkan Al Qurān.
√ Ibunya bisa mengajarkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Ibunya yang mengajarkan akhlaq-akhlaq yang mulia.
√ Ibunya yang mengajarkan mana yang halal mana yang haram.
√ Ibunya yang mengajarkan (menceritakan) sirah para Nabi ‘alayhimusallam dan orang-orang shālih.

Jika keshālihan agama ini diiringi dengan keutamaan rupa yang baik misalnya wanita itu cantik, maka ini merupakan kebaikan di atas kebaikan. Dan ini berpengaruh baik juga pada keturunan.

Tidakkah anda melihat bahwa Fāthimah putri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang kepada Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, jalannya bagaikan jalan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan perilakunya pun seperti perilaku Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan sifatnya seperti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim dari Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā).

Dan Nabi Yūsuf alayhissallām yang diberi setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia adalah cucu Sarah. Sarah adalah istri Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām dan beliau termasuk wanita paling cantik.

Di samping mempertimbangkan agama dan kecantikan, mempertimbangkan harta juga tidak dilarang dalam memilih calon isteri, karena harta tersebut biasanya akan kembali kepada anak-anak mereka.

Dan tidak mengapa jika kedudukan menjadi bahan pertimbangan bagi calon ibu karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikan dan agamanya, maka pilihlah agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts ini disebutkan empat hal, yang pertama adalah harta, keturunan, kecantikan dan agama. Jadi jika seorang laki-laki mendapatkan isteri shālihah, lalu cantik, kaya dan berasal dari keluarga yang baik maka ini adalah kebaikan di atas kebaikan (Māsyā Allāh).

Seandainya seorang laki-laki mendapatakan seorang wanita Quraisy yang shālihah, maka sungguh mereka adalah wanita-wanita terbaik. Mereka biasanya memiliki kasih sayang kepada anak dan tanggung jawab kepada para suami yang tidak dimiliki oleh wanita lain.

Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ـ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ  

“Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang shālihah. Dia adalah wanita yang paling besar kasih sayangnya kepada anak di waktu kecil dan paling bertanggung jawab kepada suaminya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5082 dan Muslim nomor 2527)

Demikian pula seorang wanita hendaknya memilih calon bapak untuk anak-anaknya dari laki-laki yang shālih dengan sifat-sifat yang sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Kita harus ingat bahwa pasangan adalah teman seumur hidup, maka jadikanlah pasangan kita orang-orang yang betul-betul shālih atau shālihah, karena pasangan yang baik akan membuat hidup kita menjadi baik di dunia maupun diakhirat.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Pujian Orang Lain Kepada Anak-Anak Karena Kebaikan Yang Dilakukan Orang Tuanya

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 12 Rajab 1440 H / 19 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 14 | Pujian Orang Lain Kepada Anak-Anak Karena Kebaikan Yang Dilakukan Orang Tuanya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-14
~~~~

PUJIAN ORANG LAIN KEPADA ANAK-ANAK KARENA KEBAIKAN YANG DILAKUKAN ORANG TUANYA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral mustami’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-14 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Pujian orang lain kepada anak-anak karena kebaikan yang dilakukan orang tuanya”.

Amal shālih yang dilakukan kedua orang tua mendatangkan pujian yang baik bagi anak-anak tersebut. Sebaliknya, perbuatan amal buruk yang dilakukan kedua orang tua akan mendatangkan celaan, penghinaan bagi anak-anak tersebut.

Dan semua ini berpengaruh kepada emosional dan perasaan anak-anak.

Maka, wahai ayah, wahai ibu.

Janganlah menjadi penyebab timbulnya penghinaan orang lain terhadap anak-anak anda, karena sebab anda melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Apakah anda ridhā (wahai ayah, wahai ibu) jika orang lain berkata kepada anak-anak anda, “Hai anak maling, bapakmu adalah seorang maling,” atau, “Bapakmu seorang pezina,” atau, “Ibumu gampang sekali menerima tamu laki-laki,” atau, “Ibumu mudah sekali ngobrol dengan laki-laki asing.”

Tentu ucapan seperti ini, akan menghancurkan perasaan dan emosional Si Anak.

Beda halnya kalau anak tersebut dipuji orang-orang (masyarakat).

Misalnya, orang-orang mengatakan:

“Māsyā Allāh, bapak mu itu orang shālih.”

“Subhānallāh, bapak mu itu orang yang suka mendamaikan perselisihan.”

“Māsyā Allāh, bapak mu adalah tokoh yang baik.”

Jika anak sering mendapatkan pujian atau kata-kata yang baik dari orang-orang disekelilingnya, tentunya perasaannya akan baik. Kesadaran, akhlaq baiknya akan muncul.
Demikian pula keinginan untuk berbuat baik juga semakin bertambah.

Sebaliknya jika anak sering dicela karena perbuatan buruk bapak ibunya, maka dia akan merasa hina dan hatinya akan hancur, anak ini tidak akan memiliki kepercayaan diri.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjelaskan, bahwa orang tua berpengaruh sekali kepada anak-anak. Jika orang tua beramal shālih pengaruh positifnya akan dirasakan oleh anak-anak demikian pula sebaliknya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Nūh alayhissallām di dalam surat Al Isrā’ ayat 3.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

“(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nūh. Sesungguhnya dia (Nūh) adalah hamba (Allāh ) yang banyak bersyukur.”

(QS. Al Isrā’: 3)

Maksudnya ayat di atas adalah:

“Wahai keturunan orang-orang beriman yang dibawa oleh kapal bersama Nūh! Kalian bisa naik kapal itu karena bapak-bapak kalian dahulu adalah orang-orang yang beriman.”

Karena tidak mungkin dibawa oleh Nabi Nūh alayhissallām kecuali orang-orang yang beriman yang mengikuti ajaran Nabi Nūh alayhissallām.

Oleh karena itu bersyukurlah kalian semua, karena sesungguhnya Nabi Nūh alayhissallām adalah seorang hamba Allāh yang bersyukur dan jadilah kalian seperti bapak-bapak kalian yang shālih juga bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (beriman).

Di dalam surat lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ…..۞

“Wahai Banī Isrāil!…….”

(QS. Al Baqarah: 47)

Maksudnya adalah Wahai anak-anak Isrāil (keturunan Nabi Ya’qub alayhissallām).

Di dalam ayat ini Allāh memberikan peringatan bagi keturunan seorang ayah yang shālih sekaligus kakek yang shālih (nenek moyang) di antaranya adalah Nabi Ya’qub alayhissallām.

Hal ini agar mendorong keturunan beliau bersemangat melakukan amalan shālih sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyang mereka (bapak dan kakek mereka).

Kemudian perhatikan juga firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Maryam, dimana orang-orang telah menuduh Maryam berbuat zina, karena Maryam telah melahirkan seorang anak (nabi Īsā alayhissallām) tanpa ayah.

Mereka mengatakan:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

“Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

(QS. Maryam: 28)

Maksudnya, kenapa Maryam, kamu sampai memiliki putra tanpa memiliki suami?

Kisahnya ada di dalam surat Maryam mulai ayat 28 dan seterusnya.

Ini semua menunjukkan bahwa pujian manusia kepada anak-anak karena keshālihan orang tua, sebagaimana sebaliknya celaan atau hinaan orang-orang kepada anak-anak karena perbuatan maksiat dan kejelekan orang tua.

Sebagaimana anak yang shālih akan mendapatkan manfaat dengan sebab keshālihan kedua orang tua.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

(QS. Ath Thūr: 21)

Māsyā Allāh.

Anak menjadi baik dengan sebab orang tua yang baik dan sebaliknya anak menjadi buruk (artinya terkena dampak buruk) jika orang tuanya juga buruk.

Demikian halaqah yang ke-14 ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Jangan Anda Melarang Sebuah Perbuatan Sedang Anda Sendiri Melakukannya.

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Rajab 1440 H / 18 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 13 | Jangan Anda Melarang Sebuah Perbuatan, Sedang Anda Sendiri Melakukannya.
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-13
~~~~

JANGAN ANDA MELARANG SEBUAH PERBUATAN, SEDANG ANDA SENDIRI MELAKUKANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَأصحابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-13 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Janganlah anda melarang sebuah perbuatan, sedangkan anda sendiri melakunya”.

Sungguh ini merupakan aib yang sangat besar, jika anda, wahai ayah, wahai ibu, melarang anak-anak anda melakukan perbuatan buruk sementara anda sendiri melakukannya.

√ Anda ingin anak-anak anda berkata jujur.
√ Anda ingin anak-anak anda hidup dalam kejujuran.

Tapi anda sendiri berbohong. Misalnya, kita sering mendapati orang tua yang mengajari anak kecilnya ketika ada tamu datang (mungkin mau menagih hutang atau apa) lalu orang tua itu berpesan kepada anaknya dengan mengatakan:

“Nak, katakan kepada tamu itu kalau ayah dan ibu tidak ada di rumah.”

Jika anak diajari berbohong sejak kecil, bagaimana anak tumbuh menjadi anak yang jujur?

Sementara orang tuanya sendiri berbohong dan mengajarkan kebohongan kepada anak-anaknya.

Ingat!

Jangan sampai anda melarang anak-anak anda berakhlaq buruk (bermaksiat), sementara anda sendiri berakhlaq buruk (bermaksiat).

Bagaimana anda melarang anak-anak agar tidak mengeraskan suara dan berkata kasar dan mengajarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

(QS Luqman: 19)

Kemudian ketika anda memarahi anak-anak anda di rumah dengan suara keras (teriak-teriak), bahkan anda caci maki anak-anak, bahkan anda mencaci isteri anda di depan anak-anak anda sendiri.

Ini sangatlah tidak pantas!

Bagaimana anda melarang anak-anak anda untuk tidak merokok sementara anda sendiri merokok?

Bagaimana anda menyuruh anak laki-laki anda shalāt berjamā’ah di masjid, sementara anda santai di rumah menonton televisi?

Tentu anak-anak anda akan bertanya-tanya, ada apa dengan ayah saya?

“Kenapa ayah melarang kami merokok sedang ayah sendiri merokok?”

Atau dia akan mengatakan:

“Mengapa ayah menyuruh kami shalāt berjamā’ah di masjid sedang ayah asyik menonton televisi?”

Akhirnya, tidak ada suri tauladan yang bisa ditiru oleh anak-anak anda.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ۞ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allāh jika kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.”

(QS Shaff: 2-3)

Nabi Syu’aib alayhissallām memberikan contoh kepada kita (orang tua), beliau berkata:

وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ

“Aku tidak bermaksud menyalahi kalian terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup.”

(QS Hūd: 88)

⇒ Itu perkataan Nabi Syu’aib kepada kaumnya.

Juga ada satu hadīts dalam Shahīh Bukhāri yang diriwayatkan oleh shahābat Usamāh bin Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ “. رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنِ الأَعْمَشِ.

Pada hari kiamat akan di datangkan seseorang, lalu ia dilempar ke dalam Neraka, semua ususnya terburai dan dia berputar bagaikan keledai yang mengitari penggilingan, kemudian semua penghuni Neraka berkumpul kepadanya seraya berkata:

“Wahai fulān, apa yang terjadi denganmu ? Bukankah engkau yang telah memerintahkan kebaikan kepada kami dan melarang kemungkaran dari kami ?”

Orang itu menjawab:

“Dahulu aku memerintahkan kalian untuk melakukan yang ma’ruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya dan aku melarang kalian dari yang munkar, tetapi aku sendiri melakukannya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3267)

Itulah ancaman yang keras dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang orang yang memerintahkan seseorang agar tidak melakukan berbuatan buruk akan tetapi dia sendiri melakukannya.

Jangan sampai kita (na’ūdzu billāhi) wahai orang tua!

√ Kita ingin anak-anak kita baik,
√ Kita ingin anak-anak kita shālih,
√ Kita larang mereka dari berbuat buruk (berbuat maksiat),

Sementara kita sendiri adalah orang yang pertama kali melakukannya di rumah.

Atau,

√ Kita perintahkan mereka untuk shalāt
√ Kita perintahkan mereka untuk taat,
√ Kita perintahkan mereka untuk baik,

Sementara kita sendiri tidak pernah melakukannya.

Jangan sampai kita demikian!

Karena jika kita melakukanya kita akan terancam dengan hadīts di atas dan ini juga akan mendatangkan murka dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mudah-mudahan yang ringkas ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 01 Jumādâ Ats-Tsānī 1440 H / 06 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 12 | Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-12
~~~~

DI ANTARA DAMPAK BAIK AMAL SHĀLIH YANG DILAKUKAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK-ANAK ADALAH BAHWA MEREKA MENIRU PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN ORANG TUA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-12 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Mendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: “Di antara dampak baik amal shālih yang dilakukan orang tua terhadap pendidikan anak-anak adalah bahwa mereka mengikuti perbuatan baik yang dilakukan orang tua”.

Seorang anak yang keseharian melihat orang ayahnya selalu berdzikir, bertahlil, bertahmid dan bertasbih maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan:

لاإله إلا الله، سبحان الله، الله اكبر

Akan berdampak positif bagi anak yang melihat tersebut.

Begitu pula seorang anak yang disuruh orang tuanya misalnya untuk memberikan sedekah kepada faqīr miskin pada malam hari secara rahasia, ini akan memberikan dampak positif. Berbeda dengan anak yang disuruh oleh ayahnya misalnya untuk membeli rokok.

Demikian pula seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa Senin Kamis, ikut serta dalam shalāt berjama’ah di masjid, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang melihat ayahnya berada di tempat maksiat (misalnya) perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan lainnya.

Anak yang selalu mendengarkan suara adzan ia akan mengulang-ulang lantunan adzan. Dan anak yang terbiasa mendengarkan lantunan muratal dia akan terbiasa membaca lantunan Al Qurān tersebut bahkan dia akan hapal sejak kecil.

Tapi sebaliknya, na’ūdzubillāhi min dzālik, anak yang terbiasa mendengarkan ayahnya bernyanyi (misalnya) atau memutar lagu lagu, maka anak tersebut akan pintar bernyanyi dan bermain musik kelak.

Jadi lihatlah, dampak dari perbuatan ayah tersebut.

Perbuatan baik maka akan ditiru baik oleh anaknya. Perbuatan kedua orang tua yang buruk maka akan ditiru buruk pula oleh anak-anaknya kelak.

Disebutkan dalam sebuah kitāb yang maknanya, “Apabila seorang ayah senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohonkan ampunan kepada Allāh bagi keduanya, selalu memperhatikan keduanya, memastikan ketenangan untuk keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya. Maka si anak pun kelak akan demikian.”

Si anak akan mendo’akan kedua orang tuanya dengan mengucapkan:

رَبِّ ارحَمهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Yā Allāh, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.”

Berbakti kepada kedua orang tuanya ketika kedua orang tuanya masih hidup. Kelak ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dia akan berziarah ke makam kedua orang tuanya. Karena anak akan meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

إن خيراً فخير وإن شراً فشر

“Jika yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik maka yang ditirunya juga baik dan jika yang dilakukan kedua orang tuanya buruk maka yang ditiru anaknya juga buruk.”

Anak yang dididik shalāt oleh kedua orang tuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, mendengarkan musik atau menonton sepak bola.

Jika seorang anak melihat kedua orang tuanya melakukan shalāt malam, menangis karena takut kepada Allāh dan membaca Al Qurān niscaya dia akan berfikir kenapa ayahku menangis ? Kenapa ayahku melakukan shalāt ? Kenapa ayahku bangun pada sepertiga malam terakhir lalu mengambil air wudhū’ ?

Kenapa ayahku meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?

Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain. Dia telah dihiasi dengan rasa malu dengan sikap menjaga kehormatan.

Jika ibunya demikian, niscaya anaknya akan belajar menanamkan rasa malu juga, menjaga kehormatan, kebersihan diri dan kesucian jiwa dari ibunya. In syā Allāh kelak si anak akan menjadi wanita shālihah.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Bertaqwalah kalian kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan contohkanlah amal-amal shālih yang kita lakukan lillāh (karena Allāh).

Ingatlah dampak positif lainnya. Anak-anak kita akan meniru kita. Jika amal kita shālih maka mereka akan meniru kita. Sebaliknya jika kita beramal buruk maka mereka akan meniru juga.

Oleh karena itu jadilah kita sebagai suri tauladan bagi mereka dengan perangai yang baik dan tabi’at yang mulia.

Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama dan rasa cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan juga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 05 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 11 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-11
~~~~

PENGARUH KEBAIKAN DAN PERBUATAN BAIK (KESHĀLIHAN) KEDUA ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK (BAGIAN KEDUA)

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan ke-11 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Pendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan kita masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang: Pengaruh kebaikan dan perbuatan baik (keshālihan) kedua orang tua terhadap anak.

Kemudian Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh membawakan satu ayat dalam surat An Nissā ayat 9, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allāh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allāh, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

(QS An Nissā’: 9)

Ayat ini menjelaskan hubungan antara perkataan yang benar (dalam perkara anak-anak yatim) dengan pengaruh ucapan tersebut terhadap keturunan seseorang.

Oleh karena itu kita selaku orang tua (ayah atau ibu), jika kita meninggal lalu khawatir anak keturunan kita tidak ada yang mengurus maka sejak saat ini kita harus beramal shālih, harus bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, harus berkata jujur.

Kesimpulannya, kita harus beramal shālih, menjadi orang yang takut dan bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, supaya kelak anak keturunan kita ketika kita tinggalkan mereka hidup dalam kondisi baik dan dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perbaikilah makanan, minuman dan pakaian kita, artinya darimana itu semua kita dapatkan?

Perbaiki, cari dengan cara yang halal, dari mata pencaharian yang syari’ (yang halal). Agar ketika kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika kita meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita betul-betul mengangkat kedua tangan kita dengan tangan dan jiwa yang bersih lagi suci.

Dan ini akan berdampak positif kepada anak-anak kita kelak, sehingga Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memperbaiki dan menjaga mereka kelak (jika kita beramal shālih).

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Mā’idah ayat 27.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allāh hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

Seseorang melakukan perjalanan, rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya kelangit seraya berdo’a, “Yā Rabb! Yā Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia tumbuh dengan barang yang haram, maka bagaimana mungkin permohonanya dikabulkan ?”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1015) 

Kita perhatikan! Orang tersebut melakukan empat sebab dikabulkannya do’a:

⑴ Orang tersebut melakukan perjalanan panjang (jauh).

Dalam sebuah hadīts, orang yang safar adalah orang yang mengalami kondisi yang sulit sehingga apabila dia berdo’a maka do’anya mustajab (makbul).

⑵ Orang tersebut dalam kondisi lusuh, kondisi kusut.

Ini juga, sebagaimana dalam Shahīh Muslim, merupakan salah satu sebab dikabulkannya do’a.

⑶ Orang ini menengadahkan kedua tangannya ketika berdo’a.

Mengangkat tangan ketika berdo’a merupakan adab yang dengannya bisa diharapkan dikabulkan do’a tersebut.

⑷ Orang ini memanggil Allāh dengan berkata, “Yā Rabb! Yā Rabb!”

Dan Rabb adalah salah satu nama dari nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita perhatikan! Empat sebab dikabulkanya do’a yang dilakukan oleh orang tersebut tidak bermanfaat sama sekali, tidak membuat do’anya dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kenapa?

Karena makanan, minuman, pakaian dan orang tersebut tumbuh (berasal) dengan yang haram, maka bagaimana mungkin do’a tersebut dikabulkan?

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perhatikan darimana makan, minum, pakaian anda ?

Keseharian anda dipenuhi dari mana ?

Jika perbuatan kita, na’ūdzubillāhi min dzālik, dari yang haram, hasil dari menzhālimi (kita sering menghibahi orang, mencaci maki orang), lalu kita berdo’a, apakah mungkin bisa dikabulkan do’a kita sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah jelaskan?

Bagaimana mungkin do’a kita dikabulkan oleh Allāh jika kita mendapatkan semuanya dari yang haram?

Ingat, semua itu berdampak kepada anak-anak kita. Jika amalan kita baik, amalan kita shālih maka semua itu akan berdampak positif bagi anak keturunan kita.

Sebaliknya jika kita menjadi orang yang bermaksiat ini pun akan berdampak negatif terhadap anak-anak kita.

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwasanya mereka berkata kepada anak-anak mereka, “Wahai anakku, sungguh aku akan menambahkan shalāt (sunnah) yang aku lakukan untuk kebaikanmu.”

Sebagian ulamā menjelaskan, “Maknanya adalah aku akan memperbanyak melakukan shalāt dan memperbanyak berdo’a untukmu di dalam shalāt tersebut.”

Demikian pula berbuatan shālih lainnya, misalnya orang tua yang senantiasa membaca Al Qurān atau membaca surat-surat yang khusus seperti surat Al Baqarah, surat Al Mu’awidzatain (An Nās dan Al Falaq) dan yang semisal, maka in syā Allāh para malāikat akan turun kepadanya untuk mendengarkan Al Qurān.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim:

“Apabila suatu kaum berkumpul di satu rumah dari rumah-rumah Allāh (masjid) lalu mereka membaca Al Qurān dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Dan kasih sayang Allāh akan menyelimuti mereka, para malāikat akan menaungi mereka dan Allāhpun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di dekat-Nya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2699)

Turun malāikat berarti turun rahmat, turun sakinah. Dan ini sangat berdampak positif bagi anak-anak kita.

Berbeda dengan rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qurān di dalamnya, tidak pernah berdzikir kepada Allāh. Maka yang turun adalah syaithān, yang turun adalah keburukan-keburukan.

Sebagian bahkan ada orang tua yang memutar musik, memajang gambar-gambar makhluk bernyawa yang diharamkan, maka ini akan memberikan dampak yang buruk kepada anak-anak mereka.

Itulah lanjutan dari halaqah yang ke-10, in syā Allāh nanti kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.

Demikian atas kekurangannya mohon maaf.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 01)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 04 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 10 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-10
~~~~

PENGARUH KEBAIKAN DAN PERBUATAN BAIK (KESHĀLIHAN) KEDUA ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK BAGIAN PERTAMA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-10 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pertemuan yang lalu telah kita membahas tentang larangan mendo’akan buruk atau jelek kepada anak-anak kita dan ini telah kita jelaskan pada pertemuan yang lalu.

Pada pertemuan kali ini, kita akan membawakan pembahasan penulis yaitu Pengaruh baik keshālihan kedua orang tua dan amalan shālih mereka terhadap pendidikan anak-anak.

Pendengar rahīmakumullāh.

Keshālihan orang tua dan amal shālih mereka berdua memiliki dampak (pengaruh) yang sangat besar terhadap keshālihan anak-anak dan sangat berpengaruh terhadap manfaat kehidupan anak-anak kelak di dunia ketika mereka dewasa bahkan ketika mereka sudah meninggal di akhirat kelak (in syā Allāh).

Sebaliknya para pendengar rahīmakumullāh. Amalan-amalan buruk orang tua (dosa-dosa orang tua atau maksiat yang dilakukan orang tua) memiliki dampak yang sangat buruk (negatif) terhadap pendidikan anak.

Dan tentunya dampak ini muncul (baik dampak positif) akibat dari perbuatan shālih kedua orang tua akan membuat anak menjadi shālih juga, sebaliknya dampak negatif (akibat maksiat orang tua) berdampak buruk pula pada anak.

Ini bisa kita lihat karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyukai dan memberkahi amal-amal shālih dan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla membalas amal shālih dengan balasan yang baik sebagaimana amalan-amalan buruk (maksiat) Allāh tidak menyukainya dan Allāh akan membalasnya dengan balasan yang buruk juga.

Oleh karena itu jelas dampak atau pengaruh perbuatan orang tua jika itu baik maka akan berakibat baik untuk anak-anaknya. Jika perbuatan orang tua buruk (selalu bermaksiat) maka akan berpengaruh buruk terhadap anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua perbanyaklah amal-amal shālih, maka in syā Allāh dampak positifnya akan dirasakan, akan Allāh berikan kepada anak-anak kita.

Dampak positif bagi anak-anak yang in syā Allāh orang tuanya shālih bisa berupa (misalnya);

√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menjaganya.
√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menjamin rejeki anak-anak tersebut dimasa depannya.
√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan membuat mereka senantiasa sehat wal’afiat.

Begitu pun dampak negatif akibat berbuatan orang tua yang suka bermaksiat bisa dirasakan oleh anak-anak mereka (misalnya);

√ Anak menjadi anak yang durhaka.
√ Rejeki anak tersebut susah.
√ Banyak musibah yang akan menimpa anak-anaknya.
√ Banyak penyakit yang akan diderita oleh anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua, wahai ayah, wahai ibu.

Perbanyaklah beramal shālih, in syā Allāh akan kita rasakan jika kita selaku orang tua beramal shālih, maka dampak positifnya akan kita rasakan.

Dan ini bisa kita lihat dalīlnya di dalam surat Al Kahfi ayat 82. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shālih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

(QS Al Kahfi: 82)

⇒ Yang perlu digaris bawahi وَكَانَ أَبُوهُمَا bahwanya kedua orang tua mereka adalah orang tua yang shālih.

Dan ini merupakan kisah antara nabi Mūsā dan nabi Khidir ‘alay (kisahnya bisa dilihat dalam surat Al Kahfi mulai kurang lebih ayat ke-70 sampai ayat ke-82) di situ di antara percakapan antara nabi Mūsā dan nabi Khidir ‘alayhumassallām.

Mereka berdua melewati satu perkampungan (negeri) lalu mereka berdua meminta kepada penduduk daerah tersebut jamuan sebagaimana layaknya seorang tamu kepada penduduk negeri tersebut, akan tetapi mereka menolaknya.

Kemudian mereka berdua berjalan dan mereka mendapati dikampung (negeri) tersebut rumah yang hampir roboh temboknya kemudian nabi Khidir ‘alayhissallām menegakkan kembali rumah tersebut

Kemudian nabi Mūsā alayhissallām bertanya, “Untuk apa engkau memperbaiki (menegakkan) rumah yang sudah hampir roboh ini ?”

Lalu nabi Khidir menjawab:

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shālih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu

Maka perhatikanlah, para pendengar rahīmakumullāh.

Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga harta anak yatim dan perbendaharaan harta mereka dengan sebab keshalehan kedua orang tua mereka (padahal rumah tersebut sudah hancur akan tetapi harta mereka tetap tersimpan).

Sehingga tidak mungkin kita berprasangka atau mengira bahwasanya bapak mereka orang yang tukang maksiat, karena Allāh menjaga harta dari orang yang shālih (orang yang baik) sehingga dampak positif dari keshālihan orang tua baik bapak atau ibu dirasakan oleh anak-anak mereka.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla terus jaga hartanya sampai anak tersebut dewasa dan menemukan kembali peninggalan harta orang tuanya.

Ini dalīl yang sangat jelas bahwa keshālihan orang tua berdampak positif terhadap anak-anak mereka.

Demikian halaqah yang ke-10 ini, mudah-mudahan bermanfaat, in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya yang masih menjelaskan masalah ini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Larangan Mendo’akan Keburukan Untuk Anak Keturunan Kita

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 09 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 09| Larangan Mendo’akan Keburukan Untuk Anak Keturunan Kita
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-09
~~~~

LARANGAN MENDO’AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK KETURUNAN KITA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-9 dari pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pertemuan yang lalu telah kita sampaikan contoh-contoh do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada keturunan-keturunan beliau (Al Hasan dan Al Husain) dan anak-anak shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ajma’īn.

Kita dianjurkan mencontoh Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk memperbanyak mendo’akan untuk putra putri agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah taufīq dan menjadikan anak-anak kita shālih dan shālihat.

Pada kesempatan kali ini, penulis memberikan judul “Larangan mendo’akan keburukan kepada anak keturunan kita”.

Kita dilarang mendo’akan keburukan untuk anak keturunan kita atau siapapun karena:

√ Dikhawatirkan do’a buruk tersebut dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Di khawatirkan ketika kita berdo’a yang buruk bertepatan dengan waktu di ijabah do’a (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Dan ini tidak diharapkan tentunya, karena akan mengakibatkan penyesalan dan kita akan mendapatkan hasil yang buruk karena kesalahan kita sendiri (mendo’akan kejelekan untuk anak keturunan kita).

Dan di dalam Shahīh Muslim dari hadīts Jābir radhiyallāhu ta’āla ‘anhu (hadīts ini cukup panjang) namun penulis meringkas hadīts ini. Disebutkan ada seorang shahābat berkata kepada untanya.

Dia berkata:

شَأْ ! لَعَنَكَ اللَّهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ هَذَا اللاعِنُ بَعِيرَهُ ؟ ” قَالَ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ” انْزِلْ عَنْهُ ، فَلا تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ ، لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لا تُوَافِقُوا مِنَ السَّاعَةِ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

“Wahai unta terlaknatlah kamu!”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Siapakah yang telah melaknat untanya?”

Kemudian shahābat tadi mengatakan, “Saya, wahai Rasūlullāh.”

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Kalau begitu turunlah kamu dari untamu itu, jangan kamu mengikuti kami (bersama kami) dengan sesuatu yang telah terlaknat.”

Inilah adalah larangan yang keras dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kita tidak diperbolehkan berdo’a sembarangan atau berkata buruk, apalagi dengan sengaja mendo’akan keburukan.

Ketika shahābat ini melaknat untanya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat khawatir, dan Nabi pun telah melarang mendo’akan keburukan untuk diri sendiri, anak-anak, harta kita.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Jangan sampai kalian meminta sesuatu atau berdo’a sesuatu yang jelek di saat waktu-waktu diijabah do’a oleh Allāh (waktu Allāh Subhānahu wa Ta’āla kabulkan do’a tersebut).”

Jadi berbahaya jika kita berkata-kata buruk kepada apapun dan siapapun, terutama kepada anak-anak kita.

Sering kita dapati orang tua ketika dibuat marah atau saat dia emosi kepada anak-anaknya, dia berkata dengan kata-kata yang kurang baik, bahkan mengatakan dengan kata-kata kotor (keji). Dan dia akan menyesali perkataannya ketika dia sudah tidak dalam kondisi marah.

Bagaimana bila saat itu Allāh kabulkan do’a tersebut?

Bagaimana bila do’a jelek itu, melekat pada anak tersebut?

Tentu penyesalan tidak ada gunanya.

Oleh karena itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kita mendo’akan buruk kepada diri sendiri, anak-anak dan harta kita, karena bisa jadi yang kita ucapkan (do’akan) bertepatan dengan waktu do’a diijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang ringkas ini, semoga bermanfaat, dan memberikan pelajaran kepada kita.

Hendaknya kita menjaga lisan kita dari kata-kata kotor atau do’a-do’a tidak baik yang akan menjadi penyesalan buat kita nanti.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


Contoh Doa Nabi Shallallāhu alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 08 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 08| Contoh Doa Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-08
~~~~

BEBERAPA CONTOH DO’A-DO’A NABI SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM UNTUK KETURUNAN BELIAU DAN SELAIN MEREKA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-8 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dipertemuan yang lalu, telah kita bahas masalah: Hendaknya kita memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla , memintanya kepada-Nya agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla karuniakan kepada kita anak-anak (keturunan) yang shālih.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan kita orang tua yang baik. Dan anak-anak kita pun Allāh berikan taufīq agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dan shālihat.

Pada pertemuan ini penulis memberikan judul, “Beberapa contoh do’a-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan selain mereka.”

Di sini bisa kita lihat bagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan cucunya (Al Hasan dan Al Husain).

Dalam hadīts shahīh Bukhāri dan Muslim Beliau mendo’akan Al Hasan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

“Yā Allāh, sungguh aku mencintai dia, maka cintailah dia yā Allāh.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3749 dan Muslim nomor 2422)

Nabi meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencintai Al Hasan bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Artinya jika Allāh mencintai seseorang berarti:

√ Allāh meridhāi orang tersebut.
√ Allāh memberikan kebaikan (keshālihan).
√ Allāh luruskan hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim dari hadīts Usamah bin Zaid, disebutkan di sana bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggendong Al Hasan bin Āli dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

“Yā Allāh, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua.”

Do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada keturunan Beliau dan kepada anak-anak yang lain dari para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula do’a kepada Al Husain bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, disebutkan dalam hadīts cukup panjang, namun di situ Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a sampai tiga kali yang berbunyi:

اللَّهُمَّ أَهْلي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

“Yā Allāh hilangkanlah dari mereka semua kenajisan (kotoran) sucikan mereka dengan sebenar-benar kesucian.”

(Hadīts riwayat Ahmad, dinyatakan hasan atau shahīh oleh pentahqiqnya)

Juga do’a untuk Usamah bin Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara khusus.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga berdo’a sebagaimana dalam Musnad Imām Ahmad dengan do’a yang mirip dengan yang sebelumnya disebutkan riwayat Bukhāri dan Muslim.

Demikian pula kepada Abdullāh bin Ja’far (sepupu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ ، وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

“Yā Allāh, tinggalkanlah untuk Ja’far kebaikan untuk keluarganya dan berkahilah untuk anaknya (Abdullāh bin Ja’far) dalam usahanya.”

Ini adalah do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan seorang anak kecil (wanita) sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Ummu Khālid binti Khālid bin Saīd radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

Beliau membawakan putrinya itu lalu mengatakan, “Ini baju yang bagus, baju yang baik.”

Setelah itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan anak kecil ini dengan berkata:

أَبلِي وَأَخْلِقِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِفِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِقِي

“Pakailah pakaian ini sampai betul-betul usang (hilang).”

Artinya menurut Al Hafīzh Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam syarah Shahīh Bukhāri yaitu Kitab Fathul Barī.

“Kalau ada do’a (perkataan) seperti itu, maksud do’a tersebut adalah agar orang yang dido’akan panjang umur dan diberkahi hidupnya”

Ini adalah do’a yang baik dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada anak kecil tersebut agar anak tersebut panjang umur dan hidup dalam keberkahan.

Kemudian do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada shahābat yang mulia Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu yang merupakan shahābat Anshār yang cukup lama berkhidmah mendampingi dan melayani keluarga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan Anas bin Mālik:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

Yā Allāh, perbanyaklah hartanya, anaknya dan berkahilah dia di dalamnya.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2481)

Anas bin Mālik betul-betul mendapatkan keberkahan yang luar biasa, sampai-sampai beliau mengatakan bahwasanya beliau adalah orang yang paling banyak harta dan keturunannya dari kalangan Anshār.

Itulah doa-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn, keturunan Beliau maupun anak-anak shahābat yang lainnya.

Kita harus mencontoh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendo’akan putra putri kita secara khusus dan secara umum anak-anak kaum muslimin, agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian, semoga yang ringkas ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal