Category Archives: Kajian

silsilah 4 mahazi adalah SYARAT-SYARAT WAJIB HAJI

Halaqah yang ke empat dari silsilah manasik haji adalah SYARAT-SYARAT WAJIB HAJI

Syarat-syarat wajib haji adalah perkara-perkara yang apabila terpenuhi pada diri seseorang maka ia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji. Jumlahnya ada 5 :

1.    Islam. Orang yang kafir tidak diperintahkan berhaji hingga ia masuk Islam. Seandainya ia berhaji sebelum masuk Islam, maka hajinya tidak diterima.

Allah berfirman :

Wa qodimna ilama amilu min amalin fa ja’alnahu habaa’an mantsuura

“Dan kami akan mendatangi apa yang mereka amalkan berupa amalan, kemudian Kami jadikan amalan tersebut debu yang berterbangan” Qs Al Furqon 23

2.    Berakal.

Orang yang gila tidak diwajibakan untuk berhaji. Seandainya ia berhaji dalam keadaaan tidak berakal, maka hajinya tidak sah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

Rufialqolamu an tsalatsahanin naimi hatta  yastaidzirah wa an shobiyi hatta yahtalima wa anil majnuuni hatta ya’qila

“Diangkat pena  dari orang dari 3 orang, yaitu dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dari orang gila sampai ia berakal”

shahih, HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ali ibni Abi Thalib rhadiyallahu anhu.

3.    Baligh / dewasa. Seorang yang belum baligh maka tidak diwajibkan melakukan haji. Seandainya ia berhaji ketika masih kecil maka hajinya sah, dan orang yang menghajikan (orang tua misalnya) mendapatkan pahala, tapi haji ini belum menggugurkan kewajiban Haji. Apabila ia dewasa dan memenuhi syarat Haji yang lain maka ia diwajibkan melakukan ibadah Haji.

Pada hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma disebutkan bahwa seorang wanita mengangkat anaknya dan bertanya pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

 ‘Wahai Rasulullah, apakah anak ini boleh berhaji ?’ Rasulullah menjawab “Iya boleh, dan kamu mendapatkan pahala”

HR Muslim.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

Wa ayyuma shobiyyin hajja bihi ahluhu shobiyyan tsuma adzroka fa alaihi hajjatu rojul

“Anak kecil mana saja yang dihajikan keluarganya dalam keadaan masih anak kecil kemudian dewasa maka wajib baginya melakukan haji orang dewasa”

HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma.

4.    Merdeka. Seorang budak / hamba sahaya tidak wajib melakukan ibadah Haji. Seandainya ia berhaji ketika masih sebagai budak maka hajinya sah tetapi belum menggugurkan kewajiban. Apabila kelak merdeka dan memenuhi syarat haji yang lain maka ia diwajibkan melakukan kewajiban haji.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda

Ayyuma abdin hajja bihi ahluhu tsuma uthiqo fa alaihil hajju

“Hamba sahaya mana saja yang dihajikan oleh keluarganya kemudian dimerdekakan, maka wajib baginya berhaji”

HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih.

5.    Memiliki kemampuan badan dan harta sekaligus. Orang yang mampu fisiknya dan tidak mampu hartanya maka tidak diwajibkan berhaji, demikian pula sebaliknya, orang yang mampu hartanya tapi tidak mampu fisiknya maka tidak diwajibkan untuk berhaji sampai mampu keduanya.

Allah berfirman :

Walillahi alannasi hijjul baitu manistathoo’a ilaihi sabila

“Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana”

Qs Al Imron 97.

Apabila seseorang mampu hartanya tapi tidak mampufisiknya secara terus menerus misal karena sudah tua renta atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya menurut dokter yang terpercaya maka dia mewakilkan hajinya kepada orang lain.

Dari Abu Rozin al muqoili  rhadiyallahu anhu beliau datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata

‘Ya Rasulullah sesungguhnya Bapakku sudah tua, tidak bisa haji, tidak bisa umroh, tidak bisa bepergian’

maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

Hujja am anbika wa tamish

“Berhajilah untuk bapakmu dan umrohlah untuk bapakmu”

shahih, HR Abu Dawud, at-Tirmidzi,  an Nasai dan Ibnu Majah

Apabila kelima syarat ini terpenuhi pada diri seseorang maka dia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji dan bersegera untuk melakukannya, namun apabila salah satu atau lebih dari syarat-syarat wajib haji diatas tidak ada pada diri seseorang maka dia tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah haji.

Islam, berakal, baligh, merdeka, mampu

Silsilah 3 MAHAZI adalah PENGERTIAN dan CIRI serta KEUTAMAAN HAJI MABRUR DAN CARA MENDAPATKANNYA

Silsilah 3 MAHAZI

Halaqah yg ketiga dari silsilah manasik haji adalah PENGERTIAN, CIRI, KEUTAMAAN HAJI MABRUR DAN CARA MENDAPATKANNYA

Tidak semua orang yang melakukan ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur.

Haji yang mabrur adalah haji yang seseorang mendapatkan pahala yang besar didalamnya.

Dan ciri haji yang mabrur = haji tersebut membawa perubahan pada dirinya kepada yang lebih baik.

Diantara keutamaan haji yang mabrur :

1.    Balasan surga bagi orang yang mendapatkannya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

Wal hajul mabruru lailasahu jazaun ilal jannah

 “Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga”

HR al-Bukhari dan Muslim

2.    Diampuni dosa-dosanya.

Didalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan

Man hajja lillahi falam yarfuth walam yaksuf raja’a kayaumin wala datsu ummuh

“Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian ia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.”

HR al-Bukhari dan Muslim

3.    Haji yang mabrur termasuk amalan yang paling afdhol.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling afdhol, beliau berkata :

–       beriman pada Allah dan RasulNya, kemudian apa?

–       jihad di jalan Allah, kemudian apa?

–       haji yang mabrur

HR Bukhari dan Muslim

CARA MENDAPATKAN HAJI YANG MABRUR DIANTARANYA  :

1. Ikhlas, yaitu mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla.

Allah berfirman  wa atimul hajja wal umrata lillah

“Dan hendaklah kalian menyempurnakan haji dan umroh karena Allah”

 Qs Al Baqarah 196.

Dalam Hadits Qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :

Ana aznadsurokahi anisyirkhi man amila amalan asyroqa fi’i ma’i ghayri tharoktuhu wa syirkah

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan dia menyekutukan Aku didalam amalan tersebut, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya

HR Muslim.

Maksud Allah meninggalkan dia dan sekutunya adalah Allah tidak memberikan pahala kepadanya.

Oleh karena itu seorang calon jamaah haji hendaknya memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk ikhlas dalam beramal, menjauhi riya (ingin dipuji) dan sum’ah (ingin didengar) atau ingin lebih dihormati oleh masyarakatnya atau ingin dipanggil pak haji dan bu haji, karena ini semua bisa menjadi sebab ketidak mabruran haji seseorang

2.    Mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam didalam ibadah hajinya

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam  bersabda :

Lita’khudu manasikakum faini la’adri la ali la ahujju ba’da hajjati hadhihi

“Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak haji lagi setelah hajiku ini”

HR Muslim.

Oleh karena itu calon jemaah haji hendaknya bersungguh-sungguh dalam mempelajari tatacara haji Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang berdasarkan dalil yang shohih dan pemahaman yang benar dan mengamalkannya supaya mendapatkan haji yang mabrur.

3.    Tidak melakukan kemaksiatan dan pelanggaran.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda

“Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya”

HR Bukhari dan Muslim.

Yang dimaksud denga rofats disini adalah jima’ (mendatangi istri) atau pembukaan dari jima’ ketika dalam keadaan  ihrom. Dan yang dimaksud kefasikan adalah kemaksiatan.

Oleh karena itu hendaknya jemaah haji menjaga hati, lisan dan anggota badannya dari perbuatan maksiat. Takut kepada Allah dimanapun dia berada, dan apabila dia melakukan kemaksiatan maka hendaknya bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha dan menjaga larangan-larangan ketika ihram.

4.    Berakhlak yang baik kepada orang lain

diantaranya memberi makan kepada orang lain, menyebarkan salam, memperbaiki tutur katanya, dan lain lain.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya oleh para Sahabat tentang haji yang mabrur

Id’amutoami wa isfausalami  === “memberi makan, dan menyebarkan salam”.

Didalam riwayat yang lain beliau mengatakan  

id amutoami wa tiibul kalami=======“memberi makan dan ucapan yang baik”

HR Ahmad dalam musnadnya dan Al Hakim dalam Al Mustadrok dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah.

5.    Menggunakan harta yang halal.

Wajib bagi seorang muslim menggunakan harta yang halal supaya menjadi haji yang mabrur. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

 ayyuhannas innallaha thoyibun la yaqbalu ina thoyiban

 “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik”

HR Muslim.

6.    Memperbanyak mengingat Allah dalam rangkaian ibadah hajinya.

Hendaknya seorang jemaah haji memperbanyak mengingat Allah dengan hatinya, lisannya, mengingat keagunganNya, keEsaanNya, kekuasaanNYA dan tidak menyia-nyiakan masa ibadah haji yang sebentar ini dengan pekerjaan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan Bapak dan Ibu untuk mendapat haji yang mabrur.

Aamiin.

silsilah 2 mahazi – KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

SILSILAH 2 MAHAZI (MANASIK-HAJI-ZIARAH)

Halaqah yg kedua dari silsilah manasik haji (mahazi) adalah KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

Haji diwajibkan sekali seumur hidup atas setiap muslim yang memenuhi syarat wajib haji.

Allah berfirman :

Walinnasi hijjulbaiti manistahoo’a ilaihi sabiilan wa man kafaro fa  innallaha ghaniyyun anil alamiin

”Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana. Dan barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam” (Qs Al Imran 97)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya malaikat Jibril tentang Islam :

Antasada lailahailallah wa ana muhammadan rasulullah watuqimashalata wa tu’tiya zakata, wa tashuma ramadhana wa tahudzjal baita inis ta’thota ilaihi sabiilan

“Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di Bulan Romadhon, dan engkau berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu kesana”

HR Muslim dari Umar Ibn Khoththob rhadiyallahu anhu

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah berkhutbah dan berkata :

“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian maka berhajilah. Maka berkata seorang laki-laki ‘Apakah setiap tahun ya Rasulullah ?’ beliau diam sampai ditanya 3 kali lalu kemudian beliau berkata ‘kalau aku berkata iya maka niscaya haji akan menjadi wajib setiap tahun, dan kalau demikian maka kalian tidak akan mampu melakukannya’.”

HR Muslim

Dan kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya Haji bagi yang mampu sebagaimana dinukil ijma ini dari Imam An-Nawawi rahimahullah.

Dan pendapat mayoritas ulama bahwa kewajiban Haji harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda sebagaimana sebuah hadits, Rasulullah bersabda :

Taadzlu ilal hajji fa ina ahadakum la yadri ma yadrilulahum

Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian bersegera melakukan Haji karena salah seorang diantara kalian tidak tau apa yang menimpanya”

HR Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam musnadnya, hadits hasan.

Sebagian kaum ulama berpendapat bahwa haji diwajibkan atas kaum muslimin ditahun ke-9 Hijriyah. Diantara alasannya krn ayat tentang kewajiban haji ada pada surat Al Imron dan awal surat Al Imron diturunkan pada tahun datangnya para utusan kabilah-kabilah kepada Rasulullah pada tahun ke-9 H.

Inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Amin al Syinthiqi rahimahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah, dan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam baru menunaikan ibadah Haji pada tahun ke-10 H, diantara sebabnya karena kesibukan beliau menyambut para utusan dan menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

I’TIKĀF BAGIAN 03 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H | 23 Januari 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb I’tikāf
🔊 Kajian 109 | I’tikāf Bagian 03
⬇ Download audio: bit.ly/MatanAbuSyuja-K109
➖➖➖➖➖➖➖

I’TIKĀF, BAGIAN 03 DARI 03

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh Subhānahu wa Ta’āla masih memberikan taufīq kepada kita untuk terus mempelajari ilmu agama. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita istiqāmah sampai kita bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Para sahabat sekalian, pada halaqah kali ini, kita akan membahas satu malam yaitu malam yang sangat mulia sehingga kita disyari’atkan i’tikāf. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berusaha bersungguh-sungguh ber i’tikāf, sampai akhir hayatnya (beliau tidak pernah meninggalkan syari’at i’tikāf dalam rangka mencari satu malam yang mulia/lailatul qadr).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۞ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’ān ) pada malam kemuliaan⑴. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?⑵. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan⑶. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibrīl ) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan⑷. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar ⑸.”

(QS Al Qadr: 1-5)

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Di dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan yang besar tentang malam lailatul qadr.

⑴ Pada malam tersebut diturunkan Al Qur’ān, ini adalah satu mu’zijāt yang besar bagi kaum muslimin.

⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan satu uslub yang menunjukkan bahwa malam ini adalah malam yang agung, dengan cara bertanya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengajak orang-orang yang membaca ayat ini untuk berpikir: “Tahukah kalian malam kemuliaan itu?”

⑶ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan ibadah yang ada pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik daripada 83 tahun. Satu malam disetarakan bahkan lebih baik dari ibadah selama 83 tahun (Subhānallāh).

Ini adalah keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga umur mereka walaupun sedikit (60 sampai 70 tahun), akan tetapi Allāh panjangkan umurnya dengan amalan yang sedikit tersebut yaitu pahalanya lebih banyak daripada orang yang memiliki umur yang panjang pada umat-umat sebelumnya.

⑷ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan malāikat dan Jibrīl, ini menunjukkan satu keutamaan yang luar biasa, dimana Allāh tidak menurunkan pada malam-malam lainnya.

⑸ Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan malam tersebut malam yang penuh dengan kesejahteraan.

⑹ Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni orang-orang yang beribadah penuh dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada malam tersebut.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhān atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allāh, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 38 dan Muslim nomor 760)

Dan Allāh khususkan satu malam yang mulia:

مَن قام ليلةَ القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه

“Barangsiapa yang beribadah (shalāt) pada malam lailatul qadr dengan penuh iman dan berharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Kapan malam lailatul qadr?

Malam lailatul qadr adalah malam di antara malam-malam bulan Ramadhān, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’ān.”

(QS Al Baqarah: 185)

Artinya pada malam-malam di antara malam bulan Ramadhān ada di sana malam yang diturunkannya Al Qur’ān yaitu malam lailatul qadr.

Kapan waktunya?

Di sana para ulamā sebagaimana disebutkan oleh Imām Al hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, para ulamā berselisih sampai 40 pendapat kapan waktunya lailatul qadr.

Dan jumhur, kebanyakan mereka, menyebutkan malam lailatul qadr adalah pada sepuluh hari yang terakhir berdasarkan hadīts Abī Saīd Al Khudriy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda:

فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Maka carilah malam tersebut pada sepuluh hari yang terakhir.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2018)

Dan kebanyakan mereka juga menyebutkan bahwasanya malam kemulian (lailatul qadr) berada pada waktu-waktu yang ganjil (malam-malam ganjil) di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts di mana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhān.”

Oleh karena itu Ikhwān Fīddīn A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Seorang yang bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir paling tidaknya dan apabila mungkin di bulan Ramadhān secara keseluruhannya maka, in syā Allāh, dia akan mendapatkan malam lailatul qadar dengan sebaik-baik keadaan. Karena pada hakikatnya setiap orang akan melalui dan akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Setiap orang akan melewati malam lailatul qadar. Akan tetapi pertanyaannya, pada saat malam tersebut apa yang kita lakukan?

Sebagian orang (wal iyaadzu billāhi) ada yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sebagian orang ada yang menyibukkan dengan perkara-perkara yang sia-sia, mengunjing sana sini (berghibah) dan lain sebagainya.

Bahkan dia menonton tontonan yang tidak diperbolehkan di dalam Islām. Dan sebagian ada yang melewati waktu-waktunya dengan tidur.

Dan sebagian yang Allāh beri taufīq, ia melewatkan waktu malam lailatul qadar ini dengan penuh beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh dengan membaca Al Qur’ān, berdzikir, shalāt malam, shalāt tarawih bersama imam dan ia bermuhasabah pada malam tersebut. Ini adalah orang-orang yang diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, disyariatkan i’tikāf dalam rangka kita mendapatkan malam yang mulia ini. Ini adalah kesempatan yang sangat rugi sekali apabila seorang melewatkannya.

Orang yang tidak diberikan taufīq untuk mendapatkannya sesungguhnya dia adalah orang yang tercegah dari kebaikan, orang yang merugi.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau adalah orang yang terbaik, beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik yang terdahulu maupuan yang akan datang, beliau bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam ini.

Dalam sebuah hadīts disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān lebih daripada malam-malam yang lainnya.”

Bahkan dalam hadīts lain:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān beliau mengencangkan sarungnya dan menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

⇒ Ini menunjukkan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak bersenang-senang (mendekati istrinya), tetapi beliau bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu hendaknya kita bersungguh-sungguh menjadikan sunnah i’tikāf sebagai sunnah yang kita berusaha untuk mewujudkannya. Kita singkirkan kesibukan-kesibukan dunia yang selama ini melalaikan diri kita.

Minimal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān kita bermuhasabah, kita bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh membaca Al Qur’ān, banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita untuk bisa melaksanakan sunnah Nabi kita (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk beri’tikāf.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita agar kita mendapatkan malam yang mulia, memberikan hidayah kepada kita agar hati kita senantiasa senang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang bisa disampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 19

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Rabi’ul Akhir 1440 H / 02 Januari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 18 | Hadits 19
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-18
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 19
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita masih diberi kesempatan untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts nomor 19 yang merupakan potongan dari hadīts ke-7 yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-7).

Dan telah kita sampaikan pada pertemuan tersebut bahwa hadīts ini adalah hadīts yang dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrazāq dan Syaikh Al Albāniy rahimahullāh.

Adapun hadīts tersebut adalah:

Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حدّثنا أَحمَدُ بْنُ عَبدَةَ الضَّبِّيُّ وَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ وَغَيرُوا حِدٍ، قَالُوا: حدّثنا عِيسى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللّه، مَولَى غُفْرَةَ. قَالَ حَدَّثَنِي إبراهيمُ بن مُحَمَّدٍ مِن وَلَدِ عَلِيِّ بن أبي طالِبٍ رضى الله عنه، قَالَ كَانَ عَلِيِّ إذَا وَصَفَ رَسُول اللّه ﷺ فَذَكَرَ الحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: بَينَ كَتِفَيهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ و هو خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

Imām At Tirmidzī rahimahullāh, pada hadīts ini kembali membawakan potongan hadīts nomor 7 sesuai dengan sanad yang Beliau miliki, bahwa dahulu shahābat Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu jika sedang bercerita tentang sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts tersebut beliau sebutkan dengan panjang lebar.

Dan salah satu sifat yang beliau sebutkan adalah:

“Di antara pundak Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ada cap kenabian yang mana Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) adalah penutup para nabi.”

Tujuan imām At Tirmidzī menyebutkan hadīts ini adalah untuk membawakan hadīts yang sesuai dengan bab yang beliau buat, yaitu bab tentang cap kenabian.

Bahwa cap kenabian itu benar adanya dan berada diantara dua pundak Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan telah berlalu penjelasannya bahwa cap itu tidak ditengah-tengah akan tetapi lebih dekat dengan pundak kiri Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Walaupun hadīts ini dhaif akan tetapi didukung oleh banyak hadīts shahīh yang menyatakan bahwa ada cap kenabian di antara kedua pundak Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Kemudian Imām At Tirmidzī rahimahullāh kembali menyebutkan sebuah hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang menjelaskan bahwa salah satu cirinya adalah cap kenabian tersebut ada pada rambutnya.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh ta’āla berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّار، قال حَدَّثَنَا أَبُو عَصِمٍ، قَالَ حدَّثَنَا عَزْرَةُ بن ثَابِتٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بن أَحْمَر قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ عَمْرُو بن أَخْطَبَ الأَنْصَارِي رضي اللّه عنه قالَ لِي رسو اللّه ﷺ يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟ قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ

Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ini lengkap dengan sanad yang beliau miliki hingga Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab Al Anshāry radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau bercerita:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berkata kepadaku, “Wahai Abū Zaid, mendekatlah. Coba kamu usap punggungku.”

Akupun mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan secara tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian.

(Al ‘Ilbā’ perawi dari Abū Zaid berkata,) “Apa itu cap kenabian?”

Abū Zaid menjawab, “Kumpulan rambut-rambut.”

Syaikh Albāniy rahimahullāh mengatakan bahwa sanad hadīts ini shahīh sebagaimana syarat Imām Muslim.

Kemudian kita akan membahas sedikit demi sedikit lafazh-lafazh dan kalimat-kalimat yang terdapat pada hadīts ini.

(( يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي))

“Wahai Abū Zaid mendekatlah, coba kamu usap punggungku.”

Pada kalimat ini kita mengetahui akan adab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau tidak memanggil shahābatnya dengan namanya langsung, akan tetapi Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memanggil dengan kunyahnya.

Dan sebagian ulamā mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kesantunan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābatnya.

Kemudian saat Abū Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu diperintahkan untuk mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam), ia mungkin beranggapan bahwa ada sesuatu di punggung Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang membuatnya tidak nyaman dan ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan hal tersebut hanya ingin memuliakan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dengan memegang jasad beliau yang mulia.

Bahkan memegang cap kenabian yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) miliki. Dan ini semua menunjukkan akan kedekatan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Atau menunjukkan tentang kedekatan Abū Zaid ‘Amr ibnu Akhthab dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(( فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ))

“Aku pun mengusap punggung Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa shahābat Abū Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu melaksanakan apa yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam perintahkan dengan segera. Dan saat melaksanakan apa yang diperintah oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam Abū Zaid secara tidak sengaja menyentuh cap kenabian yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam miliki.

(( قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟))

“Aku bertanya, apa itu cap kenabian?”

Yang bertanya adalah murid atau rawi dari Abū Zaid yang bernama ‘Ilbā’.

Pada penggalan hadīts ini kita ambil pelajaran, di antaranya:

⑴ Hendaknya seorang murid bertanya kepada guru, apa yang belum mereka pahami.

⑵ Hendaknya seorang murid juga bersemangat untuk mendapatkan faedah-faedah serta pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dari guru-gurunya.

(( قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ))

Ia menjawab, “Kumpulan rambut-rambut.”

Maksudnya adalah rambut yang berkumpul pada satu tempat mungkin disekeliling cap atau di atasnya (Wallāhu A’lam).

Jangan disalah artikan bahwa cap kenabian tersebut hanya berupa rambut-rambut yang berkumpul pada satu tempat, akan tetapi hadīts ini adalah hadīts yang menyebutkan sifat tambahan bagi pelajaran yang telah lalu yang menyatakan bahwa cap kenabian adalah sebuah kelenjar atau potongan daging yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.

Sehingga hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts-hadīts yang lainnya atau yang telah lalu.

Wallāhu Ta’āla Bishawāb.

Semoga bermanfaat.
🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islām Yogyakarta

 

 

 

________
🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

______

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 15 sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Rabi’ul Awwal 1440 H / 04 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 14 | Hadits 15
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-14
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 15
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak terasa kita telah memasuki pertemuan yang ke-14, dari kitāb yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts terakhir (hadīts nomor 15) dari pembahasan tentang sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadīts kelima belas ini akan menyampaikan kepada kita bagaimana sifat gigi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mulia serta keindahan yang bisa dinikmati oleh seorang yang melihatnya, saat Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbicara.

Beliau (rahimahullāh) berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ الزُّهْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ابْنُ أَخِي مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ كُرَيْبٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَجَ الثَّنِيَّتَيْنِ، إِذَا تَكَلَّمَ رُئِيَ كَالنُّورِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ ثَنَايَاهُ»

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam hadīts ini membawakan riwayat dari Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā lengkap dengan sanad yang beliau miliki, ketika mensifati gigi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَجَ الثَّنِيَّتَيْنِ

“Gigi seri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam أفلج (memiliki jarak).”

Maksudnya, pada gigi seri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam baik atas maupun bawah yang semuanya berjumlah delapan, memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain ada celah di antara gigi-gigi seri Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇒ Dan ini menunjukan keindahan pada gigi yang Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam miliki.

Kemudian Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā juga menyampaikan keindahan yang bisa terlihat dari keduanya saat Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbicara :

إِذَا تَكَلَّمَ رُئِيَ كَالنُّورِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ ثَنَايَاهُ

“Jika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam sedang berbicara seakan-akan ada cahaya (nūr) yang yang terlihat dari gigi seri Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Kedudukan Hadīts:

Hadīts ini merupakan hadīts yang dhaif, Imām At Tirmidzī pun tidak mengeluarkannya dalam kitāb Sunnan beliau.

Namun hadīts ini selain tercantum dalam kitāb Syamāil, Al Imām Ath Thabarani juga mencantumkannya dalam Al mu’jam Al Kabīr dengan nomor 12181 dan Al Mu’jam Al Ausath dengan nomor 767.

Apa sebab hadīts ini didhaifkan?

⇒ Kedhaifan hadīts ini disebabkan karena Abdul Azīz ibnu Abī Tsābit Al Juhriy, dia adalah seorang rawi yang matrūk (ditinggalkan hadītsnya).

Dan beliau berubah menjadi dhaif (lemah) karena kitāb-kitāb yang beliau miliki terbakar.
Setelah kitāb-kitāb beliau terbakar, beliau memberikan hadīts dari hafalannya, sehingga banyak sekali kesalahan yang beliau timbulkan.

(Hal ini bisa dilihat dalam kitāb Taqrib At Tahdzib dengan nomor 4114)

Jika hadīts ini dhaif apa yang bisa kita simpulkan ?

Jika hadīts ini dhaif, maka saat kita mengambil pelajaran hadītsnya, kita cukup memahaminya, tanpa harus memastikan kebenaran isi hadītsnya.

Dengan kata lain, kita hanya bisa mengatakan “mungkin atau bisa jadi”, gigi seri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya.

Dan kita pun tidak bisa memastikan bahwa gigi seri Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya.

Apalagi jika dalam hadīts dhaif tersebut, masih didukung hadīts-hadits yang lain.

Dan dahulu para ulamā hadīts semisal Imām Ahmad dan Abdurrahman bin Mahdi rahimahumāllāh mengatakan :

إذا روينا في الثواب والعقاب وفضائل الأعمال تساهلنا في الأسانيد والرجال، وإذا روينا في الحلال والحرام والأحكام تشددنا في الرجال

“Saat kami meriwayatkan hadīts yang berkaitan dengan pahala, hukuman dan fadhail a’mal (keutamaan amalan) kami mempermudah syarat rawinya. Namun jika kami meriwayatkan pada permasalahan halal dan haram serta hukum-hukum agama, kami memberikan kriteria dan syarat-syarat yang ketat terhadap para perawi hadītsnya.”

Dan untuk memahami kaidah ini dengan baik, dan tidak terjadi salah faham, maka anda bisa memperlajari ilmu hadīts lebih dalam lagi.

Catatan :

Ketika dikatakan ada cahaya yang bisa terlihat melalui celah gigi seri Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam ataupun wajah Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti bulan.

Sebagian orang meyakini bahwa cahaya tersebut adalah cahaya asli, cahaya yang bisa menerangi sekelilingnya, ini merupakan keyakinan yang keliru.

Bahkan yang lebih parah lagi, ada orang yang berkeyakinan bahwa Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki bayangan, dikarenakan cahaya-cahaya tersebut.

Sekali lagi ini merupakan keyakinan yang keliru.

Coba kita simak kisah Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā berikut ini:

Suatu malam aku pernah kehilangan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari ranjangku, ku coba untuk mencari Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan akhirnya aku bisa menemukan kedua telapak kaki Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam sedang tegak (karena sujud).

Saat itu Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَبِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Yā Allāh…. Aku berlindung dengan keridhāan Mu dari kemurkaan Mu, aku juga berlindung dengan sifat pengampun Mu dari hukuman Mu, Aku pun berlindung kepada Mu dari Mu, aku tidak mampu untuk menghitung pujian yang harus aku berikan kepada Mu, Engkau terpuji, sebagaimana pujian Mu atas diri Mu.”

Dari hadīts ini kita faham, bahwa sekeliling Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam saat itu tidak terang, sehingga Ibunda Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā harus berjalan meraba-raba.

Seandainya apa yang sebagian orang yakini itu benar, bahwasanya cahaya yang terdapat dalam hadīts-hadīts tersebut merupakan cahaya asli, tentu Ibunda Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā tidak perlu susah-susah meraba-raba untuk menemukan Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(Kisah ini shahīh diriwayatkan oleh Imām Muslim dalam hadīts nomor 486)

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu A’lam Bishawāb
🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 14

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 25 Rabi’ul Awwal 1440 H / 03 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 13 | Hadits 14
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-13
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 14
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-13 ini, kita akan membaca hadīts ke-14 yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau berkata :

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، الْمَعْنَى وَاحِدٌ، قَالَا: أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الطُّفَيْلِ يَقُولُ: «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا بَقِيَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ رَآهُ غَيْرِي» ، قُلْتُ: صِفْهُ لِي، قَالَ: «كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحًا مُقَصَّدًا»

Imām At Tirmidzī rahimahullāh membawakan hadīts keempatbelas dari shahābat Abū Thufail radhiyallāhu ta’āla ‘anhu (shahābat yang paling terakhir meninggal) lengkap dengan sanad periwayatannya.

Abū Thufail radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

“Aku adalah seorang yang berkesempatan melihat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Di atas muka bumi ini, tidak ada lagi orang yang pernah melihat Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang masih hidup kecuali aku saja.”

Said Al Jurairi bertanya kepada Abū Thufail:

“Tolong gambarkan sosok Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada ku!”

Abū Thufail radhiyallāhu ta’āla ‘anhu menjawab :

“Beliau adalah seorang yang berkulit putih, tampan, dan ideal.”

(Hadīts shahīh riwayatkan Imām Muslim nomor 2340)

Pembahasan lafazh hadīts:

⑴ Beliau adalah seorang yang berkulit putih.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa Nabi kita, Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki kulit yang putih, akan tetapi ada sedikit warna merah pada kulit Beliau. Sebagian ulamā mengibaratkan dalam bahasa arab: بياض مشرب بالحمرة (putih yang ada warna merahnya).

⑵ Tampan.

Kata “malīhan” (مليحا) dalam hadīts ini saya artikan tampan, karena Syaikh Abdurrazāq ketika menerangkan lafazh ini beliau mengatakan:

الجمال والحسن في هيئته وصفته وبشرته

“Tampan dan indah baik dari penampilan, sifat sampai kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

⑶ Ideal.

Kata “muqashadan” (مقصدا) saya artikan dengan ideal, karena makna kata tersebut lebih dekat kepada makna ideal.

Jika dilihat dari sisi ketinggian, maka ketinggian Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) merupakan ketinggian yang ideal, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, namun pertengahan, di antara keduanya. Dan lebih dekat kepada ketinggian.

Kemudian dari sisi warna kulitnya, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga ideal, tidak putih murni juga tidak hitam atau coklat, akan tetapi kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwarna putih yang bercampur dengan sedikit warna merah.

Kemudian dari sisi rambut, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berambut ideal, tidak keriting dan juga tidak lurus 100%, akan tetapi rambut Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam lurus dengan sedikit bergelombang.

Dari sisi bentuk badan, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun ideal, tidak kurus juga tidak gemuk. (Wallāhu A’lam)

Kemudian ada sedikit pelajaran tentang perkataan Abū Thufail radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

“Tidak ada lagi shahābat yang pernah melihat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang saat ini masih hidup, kecuali aku saja.”

Perkataan beliau ini, merupakan isyarat bahwa tidak ada orang yang pernah melihat Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan hidup sekarang kecuali beliau sendiri.

Dan ini membantah beberapa orang yang mengatakan bahwa Nabi Khidir ‘alayhissallām masih hidup, bahkan ada sebagian pendapat yang mengatakan, bahwa orang yang akan dibunuh oleh Dajjāl dengan digergaji kemudian dihidupkan lagi adalah Nabi Khidir ‘alayhissallām.

Padahal Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda :

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةٍ، لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ اليَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ أَحَدٌ

“Apa pendapat kalian tentang malam ini ? nanti seratus tahun lagi, orang-orang yang sekarang hidup, tidak akan tersisa lagi (semuanya akan mati).”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 601 dan Muslim nomor 2537)

⇒ Maksudnya adalah orang-orang yang hidup di saat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan itu, akan mati maksimal seratus tahun lagi.

Adapun orang-orang yang terlahir setelah beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan itu, tidak termasuk dalam hadīts ini.

Demikian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat, dan bisa diambil pelajaran.

Wallāhu A’lam.

🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 13

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Shafar 1440 H / 07 November 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 12 | Hadits 13
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-12
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 13
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-12 ini, kita akan membaca hadīts ke-13 yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Kitāb ini akan menerangkan tentang kemiripan yang ada pada diri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tentang kemiripan yang ada pada diri para nabi dengan umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau rahimahullāh berkata :

13 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «عُرِضَ عَلَيَّ الْأَنْبِيَاءُ، فَإِذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ضَرْبٌ مِنَ الرِّجَالِ، كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ، وَرَأَيْتُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ، وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا صَاحِبُكُمْ، يَعْنِي نَفْسَهُ، وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا دِحْيَةُ»

Al Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ini lengkap dengan jalur periwayatannya, hingga shahābat Jābir bin Abdillāh radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā.

Bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bercerita :

“Para nabi pernah ditampakan kepadaku, ternyata Nabi Mūsā alayhissallām merupakan seorang nabi yang memiliki fisik pertengahan dari kaum lelaki, fisik beliau seperti seorang yang berasal dari qabilah Syanūah.

Aku juga melihat Īsā Ibnu Maryam alayhissallām, jika dilihat kemiripannya dengan orang yang pernah aku lihat, maka beliau alayhissallām seperti ‘Urwah Bin Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Aku juga melihat Nabi Ibrāhīm alayhissallām dan ternyata orang yang paling mirip dengan beliau adalah shahābat kalian sendiri (Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memaksudkan dirinya sendiri).

Dan aku juga melihat Jibrīl alayhissallām dan orang yang kulihat mirip dengan Jibrīl adalah Dihyah.”

Lafalzh hadīts:

“Para nabi pernah ditampakan kepadaku.”

Perkataan Beliau ini memiliki dua kemungkinan, yaitu:

⑴ Ditampakan dalam mimpi Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑵ Ditampakan kepada Beliau saat Isrā’ dan Mi’rāj.

Lafazh selanjutnya:

“Ternyata Nabi Mūsā alayhissallām merupakan seorang nabi yang memiliki fisik pertengahan di antara kaum laki-laki.”

⇒ Maksudnya pertengahan adalah baik tingginya atau bentuk badannya, semoga keselamatan atas beliau alayhissallām.

Lafazh selanjutnya:

“Fisik beliau alayhissallām seperti sorang yang berasal dari qabilah Syanūah.”

⇒ Maksudnya nabi Mūsā alayhissallām seakan-akan seorang yang berasal dari qabilah Syanūah.

Qabilah Syanūah merupakan sebuah qabilah yang dikenal pada masa itu berasal dari negeri Yaman. Dan orang-orang yang berasal dari qabilah tersebut terkenal dengan kekuatan, tubuh yang ideal dan badan yang tegap.

Lafazh selanjutnya:

“Aku juga melihat Īsā Ibnu Maryam alayhissallām, jika dilihat kemiripannya dengan orang yang pernah aku lihat, maka beliau alayhissallām seperti ‘Urwah Bin Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.”

⇒ Maksudnya jika kemiripan Nabi Īsā alayhissallām dibandingkan dengan salah seorang shahābatnya maka ia seperti ‘Urwah bin Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Lafazh selanjutnya:

“Aku juga melihat nabi Ibrāhīm alayhissallām, dan ternyata orang yang paling mirip dengan beliau adalah shahābat kalian sendiri (Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memaksudkan dirinya sendiri).”

⇒ Maksudnya adalah Nabi Ibrāhīm alayhissallām merupakan seorang nabi yang mirip dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Lafazh selanjutnya:

“Dan aku juga melihat Jibrīl alayhissallām dan orang yang kulihat mirip dengan Jibrīl alayhissallām adalah Dihyah.”

⇒ Maksudnya Dihyah Al Kalbi, dan pada masa itu Dihyah Al Kalbi sangat terkenal dengan ketampanannya.

Dahulu jika Jibrīl mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam bentuk manusia, ia datang dalam bentuk Dihyah Al Kalbi radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Derajat hadīts:

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh karena Imām Muslim juga meriwayatkan hadīts yang sama dengan nomor 167 dan Imām At Tirmidzī juga mencantumkan hadīts ini dalam kitāb Sunnan atau Jāmi’ beliau dengan nomor 3649 dengan jalur yang sama dengan salah satu jalur yang dimilillki oleh Imām Muslim.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari hadīts ini?

⑴ Pada hadīts ini, kita bisa menyimpulkan, bahwa di antara manusia, ada yang diciptakan mirip antara satu dan yang lainnya. Dan hal itu merupakan sesuatu yang diketahui oleh banyak orang.

Bahkan pada masa ini, cukup banyak orang-orang yang memiliki kemiripan antara satu dengan yang lainnya.

⑵ Hadīts ini juga memberikan pelajaran, bahwa Nabi Ibrāhīm alayhissallām merupakan seorang nabi yang mirip dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Sehingga jika kita memahami dan mengerti ciri-ciri dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, seakan-akan kita juga memahami ciri-ciri Nabi Ibrāhīm alayhissallām.

Demikian pembahasan hadīts ke-13 kali ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawāb.
🖋 Akhukum Fillāh, Ratno

Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 12

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Shafar 1440 H / 06 November 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 11 | Hadits 12
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-11
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 12
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang semoga selalu dalam rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-11 ini, kita akan membaca hadīts ke-12 yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau (rahimahullāh) berkata :

12 – حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْمَصَاحِفِيُّ سُلَيْمَانُ بْنُ سَلْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ، عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي الْأَخْضَرِ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أنه قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ كَأَنَّمَا صِيغَ مِنْ فِضَّةٍ، رَجِلَ الشَّعْرِ»

Imām At Tirmidzī rahimahullāh membawakan hadīts ini lengkap dengan sanadnya hingga Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata :

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki kulit yang berwarna putih, seakan-akan tercipta dari perak, dengan rambut bergelombang.”

Lafazh hadīts,

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki kulit yang berwarna putih.”

⇒ Maksudnya, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kulitnya berwarna putih, akan tetapi sebagaimana telah kita ketahui bersama dalam telah berlalu penjelasannya (pada hadīts-hadīts yang lalu) bahwasanya warna kulit yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) miliki adalah putih dengan sedikit warna merah.

Kemudian lafazh:

“Seakan-akan tercipta dari perak.”

⇒ Maksudnya, seakan-akan wajah dan kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memancarkan cahaya dan kilauan sebagaimana perak.

Lafazh selanjutnya:

“Dengan rambut bergelombang.”

⇒ Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa rambut Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam pertengahan diantara lurus dan keriting, namun lurus lebih dominan, sehingga sering kita artikan dengan bergelombang.

Pelajaran pada hadīts ke-12 ini adalah tentang keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu saat dipandang, terpancarkan dari wajah dan kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam cahaya dan gemerlap, seperti perak.

Dalam hadīts ini juga, kita diingatkan tentang jenis rambut beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang mana rambut beliau adalah rambut yang pertengahan dan dalam bahasa kita bisa disebut bergelombang.

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh, Syaikh Albāniy memasukannya dalam kitāb Silsilah Al Ahādits Ash Shahīhah dengan nomor 2053.

Walaupun dalam sanad hadīts ini adalah seorang rawi yang bernama Shālih bin Abi Al Akhdzar, yang dikatakan oleh Al Hafīzh dalam taqrib At Tahdzib dengan nomor 2844 bahwa hadīts ini dhaif, namun riwayatnya masih dianggap dan bisa dikuatkan dengan riwayat-riwayat lainnya.

Itulah penjelasan hadīts ke-12 ini. Semoga bermanfaat dan semoga kita semakin bisa menggambarkan bagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam benak kita. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Beliau.

Wallāhu A’lam bishawāb.
Akhukum Fillāh, Ratno

Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 10 DAN 11

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Shafar 1440 H / 05 November 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 10 | Hadits 10
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-10
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 10 DAN 11
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-10 ini, kita akan membaca hadīts kesepuluh dan kesebelas yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau (Imām At Tirmidzī) rahimahullāh berkata :

10 – حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْثَرُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ أَشْعَثَ، يَعْنِي ابْنَ سَوَّارٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أنه قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ إِضْحِيَانٍ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَمَرِ، فَلَهُوَ عِنْدِي أَحْسَنُ مِنَ الْقَمَرِ»

Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts kesepuluh ini lengkap dengan sanadnya. Di antara Imām At Tirmidzī hingga shahābat Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ada empat orang.

Jābir Bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah bercerita tentang keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, saat itu beliau membandingkan antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan bulan, ternyata keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa mengalahkan keindahan bulan.

Beliau radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā berkata :

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam bulan purnama, saat itu Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sedang memakai baju merah, aku perhatikan keindahan wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan keindahan bulan. (Setelah aku bandingkan keindahan keduanya), ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”

Mari kita bahas lafadz hadīts ini,

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada saat bulan purnama.”

Dalam hadīts disebutkan dengan: ليلة اضحيان.

Dijelaskan oleh para ulamā, bahwa maknanya adalah: ليلة مقمرة , yaitu malam yang terhiasi dengan bulan, baik bulan tersebut masih tipis atau sudah besar.

Ada juga sebagian yang mengatakan bahwa: ليلة اضحيان, merupakan hari kedelapan bulan-bulan hijriyah.

Namun Syaikh Abdurrazāq menjelaskan, bahwa kata tersebut diartikan dengan bulan purnama dalam keadaan bulan saat itu telah sempurna.

Lafadz selanjutnya adalah:

“Saat itu Beliau sedang memakai hullah hamra’ (baju yang berwarna merah).”

Sebagaimana telah kita bahas pada pertemuan yang terdahulu, bahwa hukum menggunakan pakaian berwarna merah ada khilāf di antara ulamā. Dan Syaikh Abdurrazāq dalam syarah beliau terhadap kitāb As Syamāil, (kitāb yang kita pelajari ini), beliau mengatakan:

“Yang terlarang adalah baju yang berwarna merah polos, adapun kalau ada garis putih atau hitam atau yang lainnya dalam baju tersebut maka diperbolehkan memakainya.”

Lafadz selanjutnya adalah:

“Ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”

Maksudnya adalah setelah dibandingkan oleh Jābir bin Samurah, antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sedang memakai baju merah dengan bulan yang saat itu sedang sempurna (purnama) ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah untuk dipandang dari pada rembulan yang sedang purnama.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts ini adalah:

⑴ Tentang wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang mana wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah untuk dipandang dan dinikmati dari pada keindahan bulan purnama.

Hadīts ini merupakan hadīts yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Sunnan beliau dengan nomor 2811, Akan tetapi hadīts ini ada kelemahan di dalamnya, karena di dalamnya ada seorang rawi yang bernama Asy’asy ibnu Sawwār ( أَشْعَثَ ابْنَ سَوَّارٍ), dhaif.

Ibnu Hajar berkata :

“Beliau (Asy’asy ibnu Sawwār) adalah seorang hakim di kota Ahwaz, dalam ilmu hadīts beliau dhaif.”

Sehingga hadīts ini dhaif, akan tetapi datang hadīts yang mendukungnya, sebagaimana dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dengan nomor 11, tepat setelah hadīts ini.

Dan hadīts tersebut juga diriwayatkan oleh Imām Al Bukhāri dengan nomor 3552, sehingga hadīts nomor 10 (hadīts yang sedang kita bahas ini) derajatnya menguat.

Dan kita bisa memahami dan meyakini bahwasanya wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah dari pada bulan saat purnama.

Adapun hadīts kesebelas yang menguatkan makna hadīts kesepuluh ini adalah sebagai berikut:

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb As Syamāil berkata :

11 – حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤَاسِيُّ، عَنْ زُهَيْرٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ: أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ السَّيْفِ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِثْلَ الْقَمَرِ»

Seorang laki-laki pernah bertaya kepada Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā:

“Apakah wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti pedang?”

Maksud penanya ada dua kemungkina:

(1) Seperti pedang dalam keindahan dan kilauannya atau

(2) Seperti pedang dalam dalam panjangnya.

Beliau (Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā) menjawab :

“Tidak, Beliau seperti bulan (dalam pancaran sinar dan bentuknya).”

⇒ Maksudnya bahwa pancaran sinar wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak seperti pedang, namun seperti bulan dan bentuk wajah Beliau juga bukan memanjang seperti pedang akan tetapi seperti bulan. Namun sebagaimana kata para ulamā, tidak bundar seratus persen.

Semoga pertemuan kali ini membawa manfaat dan bisa membuat kita semakin terbayang dengan wajah yang lebih indah dari pada bulan saat purnama dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat dan bisa berkumpul bersama Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) di akhirat kelak. Āmīn

Wallāhu A’lam bishawāb.

🖋 Akhukum Fīllāh, Ratno

Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta
_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda.