Category Archives: KTQS

IMSAK YANG MENYESATKAN UMAT

KTQS # 1046 (Ramadhan 5)

IMSAK YANG MENYESATKAN UMAT

Imsak, tidak dikenal dalam ajaran Islam yang sempurna ini. Bahkan menyelisihi banyak sunnah Nabi saw !
Imsak berasal dari perkataan Arab yg dimaksud adalah  menahan diri dari makan, minum dan bersenggama sejak terbit fajar hingga maghrib.
Firman Allah dalam al-Qur’an jelas disebutkan, “Makan dan minumlah kamu sehingga nyata benang putih (fajar shadiq permulaan waktu subuh) daripada benang hitam (penghujung waktu malam) yaitu fajar”. (Al-Baqarah:187)
Jadi Imsak dimulai saat adzan shubuh s.d. adzan maghrib.
Didalam hadits shahih lain bahkan jelas sekali disebutkan bahwa, saat adzan shubuh masih terdengar pun kita masih bisa makan dan minum apabila makanan dan minuman sudah dimulut atau sedang ditangan sampai dgn adzan shubuh selesai.
“Jika salah seorang kamu mendengar adzan sedangkan ia masih memegang makanan, maka janganlah ia meletakkannya sehingga ia menyelesaikan hajatnya (menyelesaikan makannya)”.
(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Jarir, Hakim dan Baihaqi)
Dengan demikian sudah sangat jelas kapan batas awal imsak.
Jadi sahabatku, batas santap saur adalah adzan subuh, bukan IMSAK.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah”. (Al Hasyr : 7)
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa dengan kesesatan yang telah ia kuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali”. (An Nisa : 115)
Salam !
copas dari KTQS

FIDYAH dan QODHO

Kajian Tematis Al-Qur’an & as-Sunnah #1045 / #871 /#420

(SERI RAMADHAN 14)

FIDYAH & QODHO

A. Hukum FIDYAH adalah wajib, berdasar ayat :

” Dan wajib bagi orang yg berat menjalankannya (puasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Baqarah:184)

Bagi yg meninggalkan puasa, karena alasan syar’i dan harus membayar fidyah :

1. Perempuan yg hamil dan menyusui.

2. Seseorang yg kondisi fisiknya memang tidak memungkinkan lagi berpuasa, seperti kakek-nenek yg sudah tua renta.

3. Orang sakit yg tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.

Adapun mengenai kadar atau takaran fidyah itu adalah 1 mud / 1 sho’ / 1,5 kg  makanan pokok setempat untuk satu hari yg mencukupi dua kali makan satu orang (sahur dan buka).

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yg ditinggalkan”. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/21)

Boleh juga dibayarkan berupa uang, dihargai sesuai harga pasar setempat lengkap dgn lauk-pauk,

Misalnya sekali makan Rp. 15 rb x 2 kali makan x  30 hari, maka fidyahnya Rp. 900 rb.

Uang fidyah tsb bisa dititipkan ke Lembaga Amil/Panti Asuhan yg nantinya akan di berikan langsung kepada org miskin dalam bentuk nasi beserta lauk pauknya.

Waktu pendistribusian makanannya adalah setiap hari saat tdk berpuasa atau diakhirkan, apabila dititipkan utk dimasakkan itu bisa dibayarkan sebelumnya namun saat bulan Ramadhan (Lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dan Syarhul Mumthi’, 2/22), ini masalah tekhnis saja.

B. Bagi yg meninggalkan puasa dan harus meng-QODHO puasanya di bulan lain, yaitu :

1. Wanita Haid
2. Orang yg safar
3. Sakit biasa

Allah berfirman : “Barangsiapa diantara kalian yg mendapati bulan (Ramadhan) maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa yg sakit atau berpergian (lalu ia tidak berpuasa) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yg ditinggalkannya di hari yg lain”. (Al Baqarah : 185)

Salam !

copas dari KTQS

BUKAN PEMBATAL SHAUM

KTQS # 1044 (Ramadhan 3)

BUKAN PEMBATAL SHAUM

1. Menggosok gigi

Amir rabi’ah ra mengatakan, “Aku melihat Rasulullah Saw menggosok gigi padahal beliau sedang shaum”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

2. Muntah dan Mimpi basah

“Tidak batal orang yg muntah, yg mimpi berhubungan seks, dan berbekam (Diambil darah)”. (HR. Abu Daud)

3. Mencium istri

Istri Rasulullah Saw Ummu Salamah ra mengatakan, “Nabi Saw menciumku padahal beliau sedang shaum”. (HR. Tirmidzi)

4. Mandi / berenang pada siang hari

“Aku melihat Rasulullah Saw menuangkan air dikepalanya ketika shaum karena cuaca panas”. (HR. Ahmad)

5. Berkumur-kumur

“Umar ra berkata, suatu hari aku merasa gembira kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang shaum, lalu aku mendatangi Nabi Saw kataku, ‘Hari ini saya melakukan kesalahan besar, saya mencium istri padahal sedang shaum’, Rasulullah bersabda, ‘Apa pendapatmu jika engkau berkumur-kumur dengan air, padahal engkau sedang shaum?’, Aku menjawab, ‘Tidak apa-apa’, Nabi bersabda , ‘lalu mengapa?’”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

5. Diambil darah

Diambil darah saat shaum, untuk cek laboratorium, donor darah.

Rasulullah pernah berbekam (diambil darahnya) saat shaum. Ibnu Abbas ra mengatakan, “Nabi Saw berbekam (diambil darah) ketika beliau shaum”. (HR. Bukhari)

6. Berhubungan suami istri tidak sempat Mandi Junub setelah masuk adzan Shubuh.

“Dari Ummu Salamah, bahwasannya Rasulullah Saw pernah mendapatkan waktu fajar saat beliau sedang junub di rumah keluarga beliau. Maka kemudian beliau mandi dan shaum”. (HR. Bukhari)

Salam !

copas dari KTQS

NIAT PUASA RAMADHAN

KTQS # 1043 (Ramadhan 2)

NIAT PUASA RAMADHAN

Malam ini jika ingin meniatkan puasa 1 bulan maka itu sah sah saja.
Namun jika tiap malam kita niat untuk puasa Ramadhan besokpun itu tak apa.
Niat ada didalam hati.
Tidak perlu diucapkan.
Karena niat adalah amalan hati.
Kita seharusnya bisa memahami apa itu amalan lisan dan apa itu amalan hati.
Niat yang didalam hati inilah yg akan menentukan ikhlas dan tidaknya suatu amalan karena itu niat merupakan ibadah yang diterima Allah atau ditolak lantaran niat yg salah.
FUNGSI NIAT itu adalah :
1. Membedakan antara adat kebiasaan dan ibadah.
Contoh; beda antara puasa untuk tujuan operasi (kata dokter) Dan puasa ibadah
2. Membedakan antara amalan ibadah satu dan lainnya. Misal: puasa sunnah pada hari senin dan puasa qodho’ yg bertepatan dihari senin. Perbedaannya cuma dalam niat.
Tidak ada lafadz/bacaan niat yang dicontohkan nabi Saw, seperti halnya lafadz niat untuk shalat. Hadits palsupun tidak ada, apalagi yang shahih di kitab manapun tidak akan kita temui bacaan niat puasa atau shalat.
Yang biasa dilakukan oleh sebagian ummat adalah buatan orang bukan berasal dari Nabi saw,
seperti bacaan niat puasa ini :
Nawaitu Shauma Ghadin An Ada’i Fardhi Sahri Ramadhana Hadzihis Sanati Lillahi Ta’Ala :
Niat Saya Puasa Utk Esok Hari Di bulan Ramadhan Fardu Karena Allah Ta’ala.
Ini tidak ada syariatnya jadi tidak usah diamalkan.
Cukup niatkan didalam hati bahwa besok kita akan puasa Ramadhan, BUKAN puasa senin kamis, puasa daud, puasa nadzar, puasa qodho atau puasa mau cek darah di laboratorium.
Salam !
____________
copas dari KTQS

SHALAT TARAWIH, DOA WITIR, DOA BUKA PUASA

KTQS # 1042 (Ramadhan 1)

SHALAT TARAWIH, DOA WITIR, DOA BUKA PUASA

 

1. SHALAT MALAM 11 RAKAAT
Di bulan Ramadhan apabila sudah mengerjakan shalat Tarawih, tidak perlu  mengerjakan shalat Tahajud lagi atau sebaliknya, karena itu adalah shalat yg sama hanya berbeda nama.
‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah saw tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan diluar bulan Ramadhan lebih dari 11 raka’at”. (HR. Bukhari 1147, Muslim 738)
2. DOA SETELAH SHOLAT WITIR
“Kemudian setelah salam beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga” (HR. Abu Daud dan An Nasa-i)
atau,
“Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik wa a’udzu bi mu’afaatika min ‘uqubatik, (wa a’udzu bika minka) laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik”
Ya Allah, aku berlindung dgn keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dgn kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yg Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri. (Lihat HR. Abu Daud 1427, Tirmidzi 3566, An Nasa-i I/252 dan Ibnu Majah 1179)
3. DOA BERBUKA PUASA
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa dari Rasulullah saw,
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“DZAHABAZH ZHOMA’U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH”
Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki
(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud 2/306, no. 2357, lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)
Urutannya :
1. Membaca doa makan / minum : Bismillah
2. Membatalkan puasa dgn kurma atau minum.
3. Berdoa dgn doa diatas.
Salam !
copas dari KTQS

BERMAAFAN JELANG RAMADHAN

KTQS # 1041

BERMAAFAN JELANG RAMADHAN

Saling meminta maaf menjelang Ramadhan sangat marak dilakukan oleh sebagian orang, baik itu terhadap yg kenal ataupun tidak kenal, bahkan tidak pernah bertemu dan tidak pernah berinteraksi sekalipun, baik secara langsung, ataupun tidak langsung, via SMS, BBM, dan via medsos lainnya. Benarkah ini? mari kita kaji ya…
> Allah itu Pemaaf, memaafkan itu akhlak yang mulia.
 
“… Barang siapa yg memaafkan & mengadakan perdamaian maka pahalanya atas tanggungan Allah”.(QS.42\Asy Syuro:40)
> Meminta maaf karena ADA SEBAB itu wajib hukumnya :
 
“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi”. (HR. Bukhari no.2449)
> Meminta maaf TIDAK ADA SEBAB itu lebay namanya :
 
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4)
Masya Allah, begitu sayangnya Allah sama kita. Allah telah memaafkan kesalahan yg tidak disadari umatnya secara langsung.
Jadi saling meminta maaf saat ada kesalahan wajib dan sangat dianjurkan oleh Allah, namun saling meminta maaf kepada semua orang tanpa ada kesalahan adalah Ghuluw atau berlebihan dalam beragama dan tidak mempercayai Maha Pemaaf nya Allah.
Ya Allah ampuni hambamu ini yg hampir tidak mempercayai Mu…
Salam !
copas dari KTQS

 

ZIARAH KUBUR DAN KERAMASAN JELANG RAMADHAN

KTQS # 1040

ZIARAH KUBUR DAN KERAMASAN JELANG RAMADHAN

 

Banyak kebiasaan masyarakat kita yg dilakukan menjelang Ramadhan, bahkan sampai sulit membedakan mana yang betul-betul ibadah yang diatur oleh syariat, mana yang hanya sekedar budaya namun dianggap ibadah.

Karena semangat yang terlampau berlebihan dalam ibadah sampai yang tidak pernah dilakukan Rasul pun diamalkan. Contoh, Ziarah Kubur (Nyekar/Nyadran), Keramas (kuramasan/padusan). Adakah Tuntunannya Dalam Islam? Mari kita tinjau bersama-sama :

– Ziarah Kubur (Nyekar/Nyadran)

Ziarah kubur yang disangkut pautkan dengan Ramadhan dan Lebaran sungguh tidak ada dalil perintah dan contoh dari Nab Saw. Maka itu jatuh pada hukum haram. Kenapa? Karena ziarah kubur yang umum disangkut pautkan dengan ibadah Ramadhan baik sebelumnya atau sesudahnya itu tidak boleh. Karena seakan itu menjadi satu kesatuan dengan hukum dan tatacara Ramadhan. Padahal Rasul tidak syariatkan hal tersebut. serta merujuk pada dalil ushul fiqh, bahwa, haram mengkhususkan yang umum.

Ziarah kubur yang umum kapan saja kemudian dikhususkan dan dilazimkan pada saat menjelang dan susudah Ramdhan. Maka di sini letak ketidak bolehannya. Begitu juga jika dikhususkan pada bulan lain atau tanggal tertentu. Ini pun sama jatuh pada hukum haram.

– Keramas, Padusan atau Kuramasan.

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi saw. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini dilakukan bersama-sama antara pria dan wanita (yang dikenal dengan “padusan”).

Bagaimana mungkin menyambut Ramadhan yg suci melakukan hal yg mengotori dan melanggar syariat serta mengerjakan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

Salam !

copas dari KTQS

Masih bolehkan berpuasa sunat mendekati bulan Ramadhan?

KTQS # 1039

Masih bolehkan berpuasa sunat mendekati bulan Ramadhan?

Berdasarkan hadits yg ada di Sunan At Tirmidzi (738), Abu Daud (2337), Musnad Ahmad (9414) dari jalan Thariq bin Al ‘Ala bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda :
“Jika Sya’ban sudah sampai pertengahan, janganlah kalian berpuasa hingga datang Ramadhan”
Hadits ini di-dhaif-kan oleh para ulama hadits seperti Imam Ahmad, Ibnu Mahdi, Abu Zur’ah. Adapun Jumhur ulama tidak mengamalkan hadits ini karena bertentangan dengan hadits-hadits shahih lain yang menunjukkan disyariatkannya puasa.
Haditsnya :
Rasulullah Saw bersabda:
“Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu-dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memang sudah biasa berpuasa (sunnah) maka silakan berpuasa”. (Bukhari 1914 dan Muslim 1082)
Juga hadits, Nabi Saw :
“Biasanya beliau berpuasa di bulan Sya’ban hampir di seluruh harinya, kecuali hanya beberapa hari saja beliau tidak berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bolehnya puasa pada hari-hari di bulan Sya’ban, baik di awal, pertengahan atau akhir.
Dan hadits yg lebih panjang dan jelas, Aisyah ra mengatakan :
“Aku tidak pernah sekali pun melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali (pada) bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau (banyak berpuasa -ed) dalam suatu bulan kecuali bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada kebanyakan hari di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari: 1868 dan HR. Muslim: 782)
Kesimpulan, bulan sya’ban adalah bulan di syariatkan utk banyak berpuasa sunat yg sesuai sunnah Nabi saw, Senin Kamis, Daud, Yaumil Bidh atau membayar hutang puasa Ramadhan yg lalu.
Salam !
copas dari KTQS

SABAR TANPA BATAS

KTQS # 1038

SABAR TANPA BATAS

 

Jika kamu berkeluh kesah maka takdir Allah akan tetap berjalan kepada mu, sedangkan kamu mendapatkan dosa.

Jika kamu bersabar maka takdir Allah akan berjalan kepada mu, sedangkan kamu mendapatkan pahala.

Tidak tahukah kita bahwa sabar adalah IBADAH?!

Jika seseorang telah tahu bahwa sabar itu ibadah. Bahkan hal itu merupakan KEWAJIBAN.

Apakah ia hendak meninggalkan kewajiban yang Allah wajibkan atasnya?

Tidakkah ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendekatkan diri kepadaNya?

Tidakkah ia ingin meraih segala keutamaan dibaliknya?

Ataukah ia malah mendahulukan hawa nafsunya tanpa bepikir panjang akan konsekuensi yang akan ia peroleh?

> Tahukah kita kondisi yang mewajibkan kita untuk sabar?

Dijelaskan para ulama sabar ada empat :

“Sabar dalam meninggalkan maksiat (lalai), sabar dalam mengerjakan ketaatan (khususnya amalan yg wajiB-), sabar dalam berdakwah, serta sabar dalam menghadapi musibah”

> Bagaimana agar bisa bersabar?

Dengan melatih diri kita agar bisa bersabar.

Rasulullah bersabda:

“Dan barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran”. (HR Bukhari)

> Tahukah kita kapan waktu bersabar?

Rasulullah bersabda:

”Sesungguhnya sabar itu adalah ketika pertama kali ditimpa ujian”. (HR. Bukhari)

> Sampai kapan bersabar?

Sebagaimana ibadah, sabar itu sampai ajal menjemput kita; karena setiap perbuatan kita (baik itu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu, membutuhkan sabar)

> Apa keutamaan sabar?

Allah berfirman:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yg bersabarlah yg dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

(Az Zumar:10)

Maka bersabarlah, untuk beribadah kepada Rabbmu, untuk menunaikan kewajiban yg diwajibkanNya atasmu, Sabar dalam berdakwah dan juga untuk meraih segala keutamaan dibaliknya yg dapat engkau petik di dunia maupun di akhirat.

Salam !

copas dari KTQS

FUTUR

KTQS # 1037

FUTUR

 

Futur, kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara – Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah, malas.
Orang yg futur mengalami penurunan kuantitas dan kualitas amal shalih/ibadah, ia mengalami kemerosotan atau kemalasan, sehingga menyebabkan penurunan stamina ruhiyah yang dapat menjadikannya jauh dari kebaikan dan anjlok produktivitas amal shalihnya.

Dalam konteks amal dakwah, Futur adalah satu penyakit yg menimpa aktivis dakwah dalam bentuk rasa malas, menunda-nunda dan yg paling buruk ialah berhenti dari melakukan amal dakwah. Sedangkan sebelumnya ia adalah seorang yg aktif dan beriltizam (rajin).

Ciri-cirinya :
– Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yg ada di pundaknya. Ia tidak mau memikul beban dakwah, cuek dgn kondisi ummat, kehilangan jati diri, dan jauh dari Allah swt.

– Perhatian yg besar terhadap dunia, sibuk dgn urusan-urusan duniawi dgn jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dgn Allah swt.

Yang pada akhirnya berhenti dijalan dakwah, gugur dalam kebajikan yg mulia yaitu jihad.

Aktifis Dakwah seharusnya berprinsip, Anjing menggonggong kafilah berlalu, tetaplah berjuang dan iqomatuddin di medan dakwah dan medan juang. Karena dia sangat paham hanya mengharapkan upah dari Allah bukan dari manusia. Hingga membuatnya tetap ikhlas dan istiqomah walau badai, ujian, hinaan dan makian menghampirinya.

Jamaah dakwah bukanlah jamaah malaikat, sehingga kekecewaan yg terjadi dan yang dialami jgn sampai membuat hilang semangat, futur dan loyo dalam berdakwah, apatah lagi mencari alasan ini dan itu, menyalahi orang lain dan menyalahkan sistem, sehingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dakwah Islam yg mulia ini.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit lemah dan malas…” (HR. Bukhari)

Salam !

copas dari KTQS