Category Archives: Shalat

sholat1

Khusyu Dalam Shalat

[ Khusyu’ dalam Sholat ]

Allah ta’ala berfirman, menceritakan tentang keadaan orang-orang yang beriman:

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka”

(Al Mu’minun : 1-2)

Syaikh As Sa’diy rahimahullahu menerangkan makna ‘khusyu’ di dalam sholat’, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan Allah, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah, yang dengan semua itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati setiap bacaan yang dibaca dalam sholatnya, dari awal takbir hingga akhir sholat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah.

(Lihat Tafsir Karimirrahman,Maktabah Ar Rusyd, hal. 547)

Oleh : Pusat Buku Sunnah

 

doadankajianislami-sujud

BOLEHKAN MENJADI MAKMUM DI BELAKANG MAKMUM MASBUK

Acara sholat khusyu:

 

BOLEHKAN MENJADI MAKMUM DI BELAKANG MAKMUM MASBUK“?

Syeikh Ibnu Taimiyah suatu saat ditanya mengenai, “Ada seseorang yang mendapati jama’ah tinggal satu raka’at.
Ketika imam salam, ia pun berdiri dan menyempurnakan kekurangan raka’atnya.
Ketika itu, datang jama’ah lainnya dan shalat bersamanya (menjadi makmum dengannya).
Apakah mengikuti makmum yang masbuk semacam ini dibolehkan?”
Jawaban beliau rahimahullah,

Mengenai shalat orang yang pertama tadi ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad dan selainnya.
Akan tetapi pendapat yang benar, perbuatan semacam ini dibolehkan. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan ulama.
Hal tadi dibolehkan dengan syarat orang yang diikuti merubah niatnya menjadi imam dan yang mengikutinya berniat sebagai makmum.
Namun jika orang yang mengikuti (yang telat datangnya tadi) berniat untuk mengikuti orang yang sudah shalat bersama imam sebelumnya (makmum masbuk), sedangkan yang diikuti tersebut tidak berniat menjadi imam, maka di sini ada dua pendapat mengenai kesahan shalatnya:
Pendapat pertama: Shalatnya sah sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Malik dan selainnya. Pendapat ini juga adalah salah salah pendapat dari Imam Ahmad.
Pendapat kedua: Shalatnya tidak sah. Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Alasan dari pendapat kedua ini, orang yang menjadi makmum pertama kali untuk imam pertama (makmum masbuk), setelah imam salam, maka ia statusnya shalat munfarid (sendirian).

Lalu mengenai makmum masbuk tadi yang menyelesaikan shalatnya, semula ia shalat munfarid, ia boleh merubah niat menjadi imam bagi yang lain sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjadi imam bagi Ibnu ‘Abbas tatkala sebelumnya beliau niat shalat munfarid. Seperti ini dibolehkan dalam shalat sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas tersebut. Hal ini pun menjadi pendapat Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Namun disebutkan dalam madzhab Imam Ahmad suatu pendapat yang menyatakan bahwa seperti ini dalam shalat sunnah tidak dibolehkan.
Sedangkan mengikuti shalat makmum masbuk dalam shalat fardhu, maka di sini terdapat perselisihan yang masyhur di kalangan para ulama.
Akan tetapi, yang benar adalah bolehnya hal ini dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah karena yang diikuti menjadi imam dan itu lebih banyak daripada kedaannya shalat munfarid.

Oleh karena itu, mengalihkan dari shalat sendirian menjadi imam, itu tidaklah terlarang sama sekali.
Berbeda halnya dengan pendapat pertama tadi (yang menyatakan tidak bolehnya).

Wallahu a’lam.

Demikian sajian singkat ini dari Majmu’ Al Fatawa

Keutamaan Khusyu Dalam Shalat

Dibawah ini Hadits yang menceritakan keutamaan khusyu dalam shalat, sekaligus hadits yang menuntun jalan untuk meraih shalat yang khusyu.

Selamat membaca dan mengamalkannya

Barangsiapa yang melonggarkan hatinya untuk Allah dalam shalatnya, maka dia akan terlepas dari dosa dan kesalahannya, yang keadaannya seperti hari ibunya baru saja melahirkannya, sebagaimana yang diceritakan dalam hadits ‘Amar bin ‘Abasah as Sulamiy yang sangat panjang.
Diceritakan bahwa Nabi Shallallhu’alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan wudhlu :

jika dia berdiri untuk melakukan shalat, memuji dan menyanjung Allah, mengagungkan-Nya dengan dzikir yang pantas (berhak) bagi-Nya, serta melonggarkan hatinya untuk Allah, melainkan dia akan terlepas dari (dosa) kesalahannya. Keadaannya seperti di hari ibunya baru saja melahirkannya . . .

(HR. Muslim, Kitab Shalah al Musafirin, Bab Islam Amr bin Abasah, NO. 832. Hadits ini terdapat banyak faedahnya. Hendaklah membacanya bagi orang yang mau). Amr bin  Abasah radliyallahuâanhu mengaku bahwa dirinya mendengar hadits ini dari Nabi Shallallhuâalaihi wa sallam lebih dari tujuh kali.

 

Sumber:

Khusyu dalam Shalat karya Dr. Saâid bin Ali Wahf Al Qahthani

penerjemah: Team Shalat Center Indonesia, hal.19

TEORI BUKA BRANKAS PADA DOA DI DALAM SHALAT

TEORI BUKA BRANKAS PADA DOA DI DALAM SHALAT
Kajian dari KH Abdullah Gymnastiar
Dalam Islam yang indah ini, Shalat merupakan tiang agama. Di dalam setiap bacaan shalat, terkandung banyak makna kehidupan manusia. Bagian-bagiannya ada yg merupakan pujian pada Allah, penghambaan manusia padaNya dan ada bagian yang bahkan berupa doa. Salah satu di antaranya yakni, doa diantara dua sujud.

Tak banyak yang mengetahui dahsyatnya doa di antara dua sujud. Terlebih dengan seringnya doa ini dibacakan oleh seorang Muslim, maka akan memberikan kemungkinan untuk dikabulkan doanya jauh lebih besar dibandingkan doa-doa lainnya yang hanya dibaca  satu kali sehari.

Berikut beberapa hal positif yang diberikan dengan membaca doa duduk di antara dua sujud :
1. Robighfirlii
Robighfirli bisa diartikan sebagai kita yang meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosa yang dimiliki. Dosa merupakan beban hidup yang bisa menjadi penghalang kita masuk ke dalam surga milik Allah SWT.

2. Warhamnii
Khasiat doa di antara dua sujud yang kedua yaitu, warhamnii bermakna meminta kasih sayang dari Allah SWT.

3. Wajburnii
Wajburnii menyatakan kita minta tolong kepada Allah SWT untuk menutup kekurangan yang kita miliki sebagai manusia.

4. Warfa’ni
Bagian ini adalah bagian kita yang meminta bantuan Allah SWT untuk meninggikan derajat kita agar tak ada manusia yang sanggup menghina.

5. Warzuqni
Ini adalah permintaan akan rezeki dari Allah SWT.

6. Wahdini
Ini adalah doa yang dipanjatkan ketika kita butuh petunjuk dan bimbingan mengenai hidup.

7. Wa’afinii
Adalah doa untuk memohon kesehatan.

8. Wa’fuannii
Bagian terakhir adalah bagian yang menyempurnakan segalanya. Di sini kita meminta seluruh catatan negatif kita dihapuskan.

Sungguh, betapa dahsyatnya doa di antara dua sujud.

Lakukan gerakan demi gerakan dengan tertib dan hayati bacaan2nya sehingga hati kita terfokus hanya pada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lakukan bagaikan kita membuka brankas dengan kode rahasia, satu persatu diputar dengan benar sampai terdengar bunyi klik untuk setiap kode yg diputar..sampai akhirnya terbukalah brankas itu.

Masya Allah indahnya…

Doa yang berarti bagi seorang yang bertauhid

 

SISIPAN UNTUK CATATAN PELATIHAN SHALAT KHUSYU

JANGAN TERLAMBAT SHALAT JUMAT

KTQS #945

JANGAN TERLAMBAT SHALAT JUMAT

 

> Terlambat datang rugi !

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Pada setiap hari Jumat para malaikat berdiri di depan pintu masjid menuliskan nama-nama orang secara berurutan.

Ketika Imam telah duduk (diatas mimbarnya setelah adzan berkumandang), mereka (malaikat) menutup buku catatannya dan duduk mendengarkan khutbahnya”. (HR. Bukhari)

 

> Datanglah lebih awal ! 

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah,

Kemudian datang di waktu yg pertama (mendatangi masjid untuk shalat jumat), ia seperti berkurban seekor unta.

Barangsiapa yg datang di waktu yg kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi.

Barangsiapa yg datang di waktu yg ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas.

Barangsiapa yg datang di waktu yg keempat, ia seperti berkurban seekor ayam.

Dan barangsiapa yg datang di waktu yg kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur.

Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah)”.

(HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850)

 

Hmmm…

Masih mau terlambat datang? Jadilah orang yang merugi !

 

Salam!

Copas dari KTQS

 

SHALAT JUMAT BAGI MUSAFIR

KTQS # 934

SHALAT JUMAT BAGI MUSAFIR

Shalat jumat adalah wajib ‘ain bagi orang muslim,

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Jumu’ah: 9).

Wajib kecuali empat orang, “Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim secara berjama’ah selain empat orang: budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit”. (HR. Abu Daud no. 1067)

Apakah shalat Jum’at itu wajib bagi musafir?

Bagi musafir tetap wajib melakukan shalat jumat jika hal itu memungkinkan, lakukan sebisa mungkin untuk dapat melaksanakan shalat jumat berjamaah, karena hadits yang membolehkan tidak shalat Jumat adalah lemah/sangat lemah/mursal sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Beberapa diantaranya :

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi saw bersabda, “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir”. (HR. Ad Daruquthni, namun sanadnya dho’if).

Dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amru, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir”. (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 5203, Hadits ini lemah karena mursal)

Hadits yang menguatkan bahwa siapapun wajib shalat jumat (kecuali empat orang),

Nabi saw bersabda : “Shalat Jum’at wajib bagi siapa saja yang mendengar adzan”. (Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1056)

“Shalat Jum’atlah dimana saja kalian berada”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/101).

Salam!

copas dari KTQS

MAYAT YANG TIDAK DISHALATKAN

KTQS # 914

MAYAT YANG TIDAK DISHALATKAN

1. ANAK KECIL BELUM BALIGH

Dari ‘Aisyah ra : “Ibrahim putra Rasulullah saw meninggal pada usia 18 bln dan Rasulullah saw tidak menshalatinya”. (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Tetapi boleh juga di shalatkan : “…dan anak kecil (dalam riwayat lain,’Yang diakibatkan karena keguguran’) hendaknya dishalati seraya mendoakan bagi kedua orang tuanya berupa ampunan dan rahmat”. (HR. Abu Dawud, Nasa’i)

 

2. ORANG MATI SYAHID 

Dari Anas bin Malik ra : “Sesungguhnya, para syuhada dalam Perang Uhud tidak ada yang dimandikan, dan mereka dikuburkan dengan lumuran darahnya serta tidak ada yang dishalati”. (HR. Abu Dawud, Hakim, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad)

 

3. ORANG YANG TERKENA BENCANA

“Mati syahid itu ada lima: mati karena tha’un (wabah), mati karena sakit perut, mati karena tenggelam, mati karena tertimbun reruntuhan bangunan, dan mati karena perang membela agama Allah”. (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

 

4. ORANG BUNUH DIRI

Dari Jabir bin Sanrah ra : “Ada seorang laki-laki yang tengah sakit dan diratapi keluarganya…orang sakit tersebut bunuh diri dengan menusukkan anak panah ke jantungnya…Beliau kemudian bersabda,’Kalau begitu aku tidak akan menshalatinya”. (HR. Abu Dawud, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, Baihaqi, Ath-Thayalusi)

 

5. ORANG KAFIR

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. (QS. At-Taubah:84)

 

6. ORANG MUNAFIK

“Janganlah sekali-kali kamu shalat atas seseorang dari mereka (orang munafik) yang meninggal dunia”. (HR. Bukhari)
Salam !

copas dari KTQS

Salat Jenazah Bayi

 

Salat Jenazah Bayi

 

Bagi jenazah bayi, tidak dishalatkan tidak apa-apa, namun jika ingin dishalatkan itu baik. (Baca kajian berikutnya)

Salat jenazah tidak dilakukan dengan ruku’, sujud maupun iqamah, melainkan dalam posisi berdiri sejak takbiratul ihram hingga salam,

urutannya:

1. Takbir pertama lalu membaca surat Al Fatihah

2. Takbir kedua lalu membaca shalawat atas Rasulullah SAW lengkap atau minimal :

“Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad”

artinya : “Yaa Allah berilah salawat atas nabi Muhammad”

Bacaannya sama dgn bacaan duduk tahiyat dalam shalat.

3. Takbir ketiga lalu membaca do’a untuk jenazah bayi yg panjang atau minimal (lihat KTQS #912) :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

“Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”.

Jika jenazah dewasa baca doa : “Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu”

artinya : “Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya”.

4. Takbir keempat lalu membaca do’a (bebas) minimal:

“Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinna ba’dahu waghfirlanaa walahu.”

artinya : “Yaa Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

5.Mengucapkan salam, menoleh kekiri dan kekanan dan tangan tetap sedekap.

Setelah dishalatkan segeralah dikuburkan dan Tidak ada tuntunan utk mengazani dan mengiqamahi jenazah yg akan dikubur. Tidak ada dalam Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Entah kalau syi’ah, nabinya ahmadiyah, nabinya baha’i atau nabi-nabi baru lainnya.

Entah juga jika jenazahnya komunis atau liberal akan diapakan, dikubur, dibakar, atau dibuang kelaut, karena di KTP mereka kolom agama ingin dihapus.
Salam!

copas dari KTQS

CARA SHALAT MALAM dan BACAAN SETELAH SHALAT WITIR

 

CARA SHALAT MALAM & BACAAN SETELAH SHALAT WITIR

CARA SHALAT MALAM

Dari Said bin al Musayyah, Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar menceritakan shalat witir masing masing di hadapan Rasulullah saw. Maka Abu Bakar berkata, “Adapun saya shalat witir terlebih dahulu, kemudian tidur, dan apabila bangun saya shalat yg genap sampai shubuh”, sedangkan Umar berkata, “Saya tidur setelah punya yg genap, kemudian bangun dan witir diakhir malam sebelum waktu sahur (shubuh)”. Maka Rasulullah bersabda ditujukan kepada Abu Bakar, “yang ini hati hati”, dan bersabda ditujukan kepada Umar, “adapun yg ini kuat”. (HR. At-Thahawi, Syarh Ma’anil Atsar I:342, Nailul Authar III:47)

Jadi, shalat malam (Tahajud) bisa dilakukan setelah bangun tidur sekaligus atau dgn cara mengikuti hadits diatas, Abu Bakar : witir sebelum tidur, shalat yg genap setelah bangun tidur. Umar bin Khatab : genap sebelum tidur, witir setelah bangun tidur

Jika mengikuti hadits dari Aisyah (lihat KTQS kemarin, HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738), shalat malam 11 rakaat, genap 8 rakaat (4 rakaat-4 rakaat), witir 3 rakaat. Keseluruhannya 4-4-3, masing-masing satu kali salam, tahiyat akhir saja tanpa tahiyat awal, setiap rakaat membaca al-fatihah dan surah pendek.

BACAAN SETELAH SHALAT WITIR

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

“Subhaanal malikil qudduusi 3x,

Maha suci dzat yg Merajai dan Mahasuci,

sedang yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang”. (HR. An-Nasai 1732)

Bisa ditambahkan dengan :

رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“RABBIL MALAAIKATI WAR-RUUH, Tuhan para malaikat dan ar-Ruh”

Disebutkan dalam riwayat ad-Daraquthni 1660 & Zaadul Maad I/323.

Salam !
Copas dari KTQS Bandung

TARAWIH ATAU TAHAJUD ?

 

TARAWIH ATAU TAHAJUD ?

Dinamakan shalat tarawih yang artinya istirahat/santai, karena dilakukan tidak terburu-buru.

Shalat tarawih termasuk shalat malam (qiyamul lail atau qiyam ramadhan) dan shalat tarawih adalah shalat malam yg dikhususkan di bulan Ramadhan.

[Lihat Al Jaami’ Li Ahkamish Sholah, 3/63 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9630]

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah ra, “Bagaimana shalat malam Rasulullah saw di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah saw tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya (dibulan lainnya) lebih dari 11 raka’at”. [HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738].

Hadits lanjutannya, “Beliau shalat empat rakaat dan jangan ditanya betapa bagusnya dan panjangnya. Kemudian Beliau shalat empat rakaat lagi dan jangan ditanya betapa bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat”.

Jadi menurut hadits tsb bahwa, shalat malam Nabi dalam satu malam adalah 11 rakaat dibulan Ramadhan atau diluar bulan Ramadhan, dgn demikian shalat Tarawih dan Shalat Tahajud adalah sama. Beda nama tapi shalatnya itu itu juga.

Bagi siapa yg sudah terbiasa Tahajud lanjutkan kebiasaan tsb dan tidak perlu melakukan shalat tarawih.

Bagi yg tidak terbiasa shalat tahajud lakukan shalat tarawih saja.

Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu (di bulan Ramadhan). Sedangkan shalat tahajud adalah shalat malam yang dilakukan setelah bangun tidur (dibulan apa saja). Jika tidak tidur dahulu maka disebut shalat malam (diluar bulan Ramadhan).

Semoga dgn membiasakan diri shalat malam (tarawih) saat ramadhan, Insya Allah selesai ramadhan akan melanjutkan shalat malamnya dgn shalat tahajud.

Salam !
Copas dari KTQS Bandung