Siroh Nabawiyah – Halaqah 55 – Saling Menyaudarakan

■ Siroh Nabawiyah
■ Halaqah 55 | Saling Menyaudarakan
 _link audio_
goo.gl/GWYdXr
•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Di dalam Islām semua orang yang beriman adalah bersaudara, sebagaimana ayat yang ke-10 Al Hujarat.

Bersaudara yang diantara konsekwensinya saling tolong menolong, ada yg mengatakan bahwa berdasarkan beberapa riwayat, dahulu Nabi ﷺ mempersaudarakan antara kaum muslimin di kota Mekkah sebelum hijrah nya mereka ke kota Madinah, beliau mempersaudarakan

antara Hamzah dengan Zaid bin Haritsah,

antara Abu Bakar & Umar,

antara Utsman bin Affan & Abdurahman bin Auf,

antara Zubair Ibn Awwam dan Abdullah bin Mas’ud dll.

Seandainya riwayat ini adalah riwayat yang benar maka persaudaraan disini hanyalah sebatas saling membantu tidak sampai saling mewarisi.

Adapun di kota Madinah maka Rasulullãh ﷺ telah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin & Anshor karena kaum Muhajirin ketika mereka berhijrah ke Madinah menghadapi banyak persoalan baik ekonomi, kesehatan maupun sosial, mereka meninggalkan keluarga & harta mereka & keahlian mereka adalah berdagang bukan bertani atau keterampilan yang merupakan mata pencarian sebagian besar penduduk Madinah.

Sementara kalau mereka mau berdagang mereka tidak memiliki modal ditambah banyak diantara mereka yang tertimpa demam kota Madinah, namun para Anshor radiallahu anhum tidak pelit, bahkan mereka berkorban untuk saudara mereka dari Muhajirin & mendahulukan mereka meskipun mereka sendiri butuh.

Nabi ﷺ meminta orang-orang Anshor untuk membagi hasil kebun kurma mereka & tetap meminta mereka untuk mengelola kebun kurma mereka karena mereka lebih berpengalaman, sedangkan kaum Muhajirin maka lebih dipersiapkan oleh Nabi ﷺ untuk berdakwah & berjihad, ada yg mengatakan bahwa syariat persaudaraan ini terjadi 5 bulan setelah hijrah disaudarkan antara seorang Muhajirin & seorang Anshor & saat itu yang disaudarakan adalah 45 orang dari kalangan Muhajirin & 45 orang dari kalangan Anshor.

Syariat persaudaraan ini mengharuskan saling tolong menolong diantara mereka dalam segala perkara, saling menasihati, saling menziarahi, saling mencintai satu dengan yang lain, bahkan saling mewarisi satu dengan yang lain.

Ketika kaum Muhajirin sudah terbiasa dengan cuaca kota Madinah & mereka mulai tau pintu² rezeki dan mereka sudah mendapatkan rampasan perang di perang Badr, maka dihapuskanlah saling mewarisi antara seorang Muhajir & seorang Anshor.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

… ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ
[QS Al-Anfal 75]

_dan keluarga sebagian mereka lebih dekat kepada sebagian yang lain didalam kitabullah_

Adapun kewajiban saling tolong menolong diantara mereka maka terus ada.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 54 – Pengaruh Islam terhadap Tatanan Masyarakat Kota Madinah

■ Siroh Nabawiyah
■ Halaqah 54 | Pengaruh Islam Terhadap Tatanan Masyarakat Kota Madinah
_link audio_
goo.gl/cGNdMh
•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Orang-orang Yahudi terus mengobarkan api peperangan antara Aus & Khodroj, puncaknya adalah di perang Bu’as terjadi 5 tahun sebelum hijrahnya Rasulullãh ﷺ, dimana Aus saat itu bisa mengalahkan Khodroj padahal sebelumnya Khodroj lah yang sering mengalahkan Aus, sehingga pada akhirnya Aus bersekutu dengan Bani Nadzir & Bani Quraidoh kemudian mengalahkan Khodroj di perang Bu’as.

Setelah itu sadarlah orang-orang Aus & Khodroj bahwa peperangan mereka selama ini menguntungkan orang-orang Yahudi dalam usaha mereka menguasai kota Madinah, oleh karena itu merekapun berusaha untuk berdamai bahkan mereka bersepakat untuk mengangkat Abdullah bin Ubai bin Salul (seorang pembesar Khodroj) untuk menjadi Raja Yastrib.

Ini menunjukkan bagaimana Aus & khodroj mereka masih menjaga kekuatannya setelah perang Bu’as.

Peperangan yang berkepanjangan antara dua suku ini melahirkan keinginan yang kuat untuk berdamai & hidup tenang & hal ini bersamaan waktunya dengan masuknya Islām ke kota Madinah yang mengajak kepada persaudaraan & perdamaian.

Ketika Aus & Khodroj masuk Islām & berdatangan orang-orang Muhajirin maka hal ini sangat mempengaruhi tatanan kota Madinah, yang sebelumnya persatuan berdasarkan kabilah sekarang menjadi persatuan yang berdasarkan aqidah.

Penduduk Madinah yang sebelumnya terdiri dari orang-orang Yahudi & orang-orang musyrikin sekarang terbagi menjadi 3.

①. Orang-orang yang beriman.

Terdiri dari sebagian besar orang Aus & khodroj yang masuk Islām, orang-orang Quraisy berhijrah & beberapa orang dari kabilah² Arab yang berhijrah.

②. Orang-orang Yahudi yang terdiri dari 3 suku.

③. Orang-orang munafikin.

Mereka adalah sebagian kecil dari orang-orang Aus & Khodroj yang dahulunya mereka adalah musyrikin, kemudian menampakkan keislaman dan menyembunyikan ke kafiran.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 53 – Masyarakat Madinah sebelum Hijrah

HSI 10 – Kajian 53 – Masyarakat Madinah sebelum Hijrah

■ *Siroh Nabawiyah*
■ *Halaqah 53 | Masyarakat Madinah Sebelum Hijrah*
 _link audio_
goo.gl/KQqiBr
•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Yatsrib adalah nama Lama dari kota Madinah, daerah yang subur & banyak air dikelilingi oleh Al Harroh dari 4 arah mata angin.
Al Harroh adalah daerah yang berbatu hitam seperti terbakar.

Al Harroh disebelah Barat Madinah dinamakan Al Wabiroh.

Al Harroh disebelah Timur dinamakan Waqim.

Gunung Uhud disebelah Utara kota Madinah & disebelah Barat daya nya bukit ‘air.

Yatsrib ini adalah kota nama diantara yang sudah lama tinggal disana adalah orang-orang yahudi & orang-orang Arab dari suku aus & khodroj

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 52- Tinggalnya Rasulullah di Rumah Abu Ayyub

HSI 10 – Kajian 52 – Tinggalnya Rasulullah di Rumah Abu Ayyub

■ Siroh Nabawiyah
■ Halaqah 52 | Tinggalnya Rasulullãh ﷺ Di Rumah Abu Ayyub al-Anshari Radhiallahu’anhu
 _link audio_
goo.gl/T5tZB3
•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Setelah masuk ke kota Madinah, beliau ﷺ berjalan menaiki unta nya setiap kali melewati rumah seorang pembesar Anshor, maka pembesar meminta tersebut kepada Nabi ﷺ untuk bertamu dirumahnya.

Beliau ﷺ berkata :

”biarkan unta ini berjalan karena dia diperintahkan”

Ternyata Unta tadi menderung didepan rumah Abu Ayyub al-Anshari, maka tinggallah beliau dirumah Abu Ayyub al-Anshari.

Dan didalam riwayat Ibnu Sa’ad didalam beliau kitab Ath Thobaqot disebutkan, bahwa Nabi ﷺ tinggal disana selama 7 bulan.

Dan rumah Abu Ayyub ada 2 tingkat, Abu Ayyub meminta kepada Nabi ﷺ supaya berkenan tinggal diatas, karena Abu Ayyub & Ummu Ayyub tidak nyaman berada di atas Nabi ﷺ. Namun beliau ﷺ menolak & mengatakan bahwa dibawah lebih nyaman bagi beliau & bagi yang bertamu kepada beliau.

Orang² Anshor sangat mencintai orang-orang muhajirin, mereka memberikan kepada kaum muhajirin harta & tempat tinggal & mendahulukan kepentingan Muhajirin daripada kepentingan mereka sendiri.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
[Surat Al-Hasyr 9]

dan orang-orang yang tinggal di Madinah dan mereka sudah beriman sebelumnya, mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka & tidak menemukan didalam jiwa mereka rasa hasad terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin & mereka mendahulukan orang-orang Muhajirin diatas diri² mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan butuh & barangsiapa yang dijaga dari kebahilan dirinya sendiri, maka merekalah orang-orang yang beruntung

Rasulullãh ﷺ didalam Shahih Al Bukhari, beliau memuji orang-orang Anshor & mengatakan:

لولا الهجرة لكنت امرأ من الأنصارة

kalau bukan karena hijrah niscaya aku adalah termasuk orang-orang Anshor

Hijrah adalah suatu ujian tersendiri bagi kaum Muhajirin, mereka berpindah ke kota Madinah sebuah daerah yang baru yang berbeda iklim & cuaca nya dari kota Mekkah.

Madinah adalah daerah perkebunan kurma kelembapan kota Madinah lebih tinggi daripada kota Mekkah. Sebagian Muhajirin ketika mereka berhijrah ditimpa oleh demam, diantaranya adalah Abu Bakar & Bilal.

Nabi ﷺ bersabda :

”Ya Allāh jadikanlah kecintaan kami kepada Madinah sama dengan kecintaan kami kepada kota Mekkah atau lebih & jadikanlah dia sehat & berkahilah untuk kami di dalam sho & mut nya & pindahkanlah demam nya ke Al Juhfah”
(Hadits riwayat Al Bukhori)

Selain itu tempat tinggal yang seadanya makanan yang seadanya, meninggalkan harta & keluarganya yang mereka cintai di Mekkah, ini adalah ujian tersendiri bagi mereka, namun kaum Muhajirin berusaha mengalahkan itu semua untuk menyelamatkan akidah & agama mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

_*Abdullāh Roy*_
Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 51 | Sampai Ke Kota Madinah

HSI 10 – Kajian 51 – Sampai Ke Kota Madinah

Description: 🌐

■ Siroh Nabawiyah
■ Halaqah 51 | Sampai Ke Kota Madinah
 _link audio_
goo.gl/L5nES1
•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Setelah melewati perjalanan yang panjang & menegangkan, maka pada tanggal 12 Rabiul Awwal (hari senin menjelang siang) sampailah Nabi & Abu Bakar di Quba sebuah daerah 5 km di sebelah selatan kota Madinah. Tinggal di daerah ini Bani Amr bin Auf.

Didalam shahih Bukhori di sebutkan bahwa beliau ﷺ tinggal di Quba selama 14 hari & membangun disana pondasi masjid Quba.

Ketika beliau berazam & berkehendak untuk memasuki kekota Madinah maka beliau mengirim utusan ke Bani An Naja’ & kaum Muslimin di kota Madinah sebelumnya telah mendengar keluarnya Nabi ﷺ dari Mekkah, setiap pagi mereka menunggu Nabi ﷺ dipinggiran kota Madinah & apabila telah terasa panasnya matahari maka mereka pun pulang kerumah nya.

Demikianlah setiap hari sehingga ketika dihari Nabi ﷺ datang, mereka menunggu sampai pertengahan hari, kemudian pulang, datang lah Nabi ﷺ, sementara mereka sudah masuk kedalam rumah² mereka.

Seorang Yahudi melihat Nabi, kemudian dia pun memanggil kaum muslimin, keluarlah mereka & menyambut Nabi ﷺ & bergembira dengan kegembiraan yang luar biasa. Telah menyambut beliau saat itu 500 orang Anshor, mereka mengelilingi Nabi & Abu bakar kemudian berjalan lah mereka semuanya memasuki ke kota Madinah.

Mereka berkata

”datang Nabiullah, datang Nabiullah”

Sebagaimana disebutkan didalam shahih Al Bukhari.

Laki-laki & juga wanita mereka naik keatas-atas rumah mereka untuk melihat Rasulullãh ﷺ orang yang sangat mereka tunggu. Anak² kecil berpencar dijalan seraya mengatakan

”Ya Muhammad, Ya Rasulullãh, Ya Muhammad, Ya Rasulullãh”

Sebagaimana disebutkan didalam shahih Muslim.

Berkata Al Bara Ibnu Aji

”aku tidak melihat penduduk Madinah bergembira lebih dari kegembiraan mereka dengan kedatangan Rasulullãh ﷺ”

Sebagaimana hal ini disebutkan didalam shahih Bukhori.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa mereka menyambut Nabi ﷺ dengan Tholaal badru alaina Maka tidak ada disana riwayat yang shahih.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

_*Abdullāh Roy*_
Di kota Jember

Siapa yang diberi hidayah tentang 6 hal, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan 6 hal

 

Abu Hurairah radliallahu anhu berkata:

Siapa yang  diberi hidayah tentang 6 hal, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan 6 hal :

1. Siapa yang di beri hidayah untuk bisa BERSYUKUR, maka dia tidak terhalangi dari mendapatkan TAMBAHAN kenikmatan. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

(QS. Ibrahim : 7)

 

2. Siapa yang di beri hidayah untuk SABAR, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapat BESARNYA PAHALA dari Allah.SWT.

Katakanlah “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

(QS. Az-Zumar : 10)

 

3.Siapa yang di beri hidayah untuk BERTAUBAT, Maka tidak ada penghalang untuk DITERIMA taubatnya oleh Allah.SWT. Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Ash-Shura : 25)

 

4. Siapa yang di beri hidayah untuk BERISTIGHFAR, maka dia tidak terhalangi dari mendapatkan MAGHFIRAH atau ampunan Allah.SWT. Maka aku katakan kepada mereka:

‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhNya adalah Maha Pengampun “

(QS. Nuh : 10)

 

5. Siapa yang diberi hidayah untuk BERDOA, maka dia tidak terhalangi dari mendapat IJABAH/ dikabulkan doanya oleh Allah.SWT. Dan Tuhanmu berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. 

(QS. Ghafir : 60)

 

6. Siapa yang diberi hidayah untuk dapat BERINFAK, maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan PENGGANTINYA dari Allah SWT. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara  hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yg kamu  nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yg sebaik baiknya.

(QS. Saba: 39)

 

Semoga kita menjadi lebih baik & bermanfaat. Robbana Taqobbal Minna. Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami), آمِيْنَ…آمِينَ ياَرَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Dzulqa’dah 1440 H / 30 Juli 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 23 | Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-23
~~~~

MEMBERI KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL DAN MEMANGGILNYA DENGAN “ANAKKU”

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصَحابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بَعْدُ

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-23, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi ini kita membahas satu sub judul yaitu:

▪ MEMBERIKAN KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL

Kun-yah adalah sebutan atau gelar nama. Jika anak laki-laki maka diawali dengan Abū, (misalnya) Abū Fulān dan bila anak wanita diawali dengan Ummu (misalnya) Ummu Fulān.

Tidak mengapa seorang anak laki-laki ataupun wanita dipanggil dengan kun-yahnya meskipun mereka masih kecil.

Misalnya:

√ Anak laki-laki, kita panggil, “Yā, Aba Fulān!”

√ Anak wanita, kita panggil, “Yā, Umma Fulān! “

Ini telah dipraktekan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau pernah memanggil saudara Annas bin Mālik yang saat itu usianya masih kecil (baru disapih ibunya).

Beliau bersabda:

يَا أَبَا عُنَيرِ مَا فَعَلَ النُّغَيرُ

“Wahai Abū ‘Umair ! Apakah yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga pernah berkata kepada seorang anak perempuan yang masih kecil.

Beliau bersabda:

يَا أُمَّ خَالِدِ هذا سنه

“Wahai Ummu Khālid, ini adalah pakaian yang bagus.”

Ini menunjukkan memanggil anak-anak dengan kun-yah tidak masalah jika hal ini membuat anak-anak kita senang (dalam bab becanda dengan mereka).

Kemudian sub judul berikutnya adalah:

▪ SESEORANG BOLEH MENGATAKAN, “WAHAI ANAKKU” KEPADA SELAIN ANAKNYA

Seseorang boleh mengatakan, “Wahai anakku,” kepada selain anaknya. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Muslim dari Annas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu) berkata:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memanggilku dengan sebutan, “Wahai anakku!”

Dan ini bukan berarti penisbatan diri secara nasab kepada kita yang memanggilnya, akan tetapi ini merupakan panggilan kasih sayang kepada anak tersebut.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 26 Dzulqa’dah 1440 H / 29 Juli 2019 M

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc

📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath Athibbāi

🔊 Halaqah 22 | Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-22

~~~~

HENDAKNYA KITA MEMILIH NAMA YANG BAIK UNTUK ANAK KITA

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-22, dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya, yaitu: HENDAKNYA MEMILIH NAMA YANG BAIK BAGI ANAK.

Ini adalah hak seorang anak yang wajib kita penuhi. Kita harus memberi mereka nama yang baik, jangan memberinya nama yang jelek (bermakna tidak baik) sehingga orang-orang akan mengejek atau mencemoohkan mereka (karena sebab kita selaku orang tua memberi mereka nama-nama yang tidak baik). 

Berilah anak-anak kita nama yang baik yang mengandung makna yang baik atau indah. Berilah mereka nama-nama orang shālih, nama-nama nabi. Bahkan di antara ulamā ada yang membolehkan memberikan nama anak-anak kita dengan nama malāikat.

Karena nama para nabi, nama orang shālih dan nama hamba-hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bertakwa mengandung makna yang baik, (in syā Allāh) menjadi makna yang optimis dan baik juga.

Bahkan disebutkan dalam kitāb, bahwa:

والاسم الطيب له مدلول طيب حتى في الرؤيا

“Nama yang baik akan mengandung arti dan makna yang baik, bahkan dalam mimpi sekalipun.”

Disebutkan dalam satu hadīts riwayat Muslim, Abū Dāwūd dan yang lainnya, dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّا فِي دَارِ عُقْبَةَ بْنِ رَافِعٍ فَأُتِينَا بِرُطَبٍ مِنْ رُطَبِ ابْنِ طَابٍ فَأَوَّلْتُ الرِّفْعَةَ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْعَاقِبَةَ فِي الآخِرَةِ وَأَنَّ دِينَنَا قَدْ طَابَ

“Pada suatu malam aku melihat sesuatu yang biasa dilihat oleh seseorang yang sedang tidur (bermimpi), seakan-akan kami berada di dalam rumah ‘Uqbah bin Rāfi’, lalu dibawakan kepada kami kurma Ibnu Thāb. Selanjutnya kami menafsirkan mimpi tersebut dengan kedudukan yang tinggi di dunia, tempat yang baik di akhirat dan sesungguhnya agama kami telah sempurna.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim no 2270 dan Abū Dāwūd nomor 5025)

⇒ Kurma Ibnu Thāb adalah jenis kurma yang bagus, terkenal dikalangan penduduk Madīnah. Jenis kurma yang dinisbatkan kepada Ibnu Thāb.

Dalam riwayat lain, hadīts dari Al Bukhāri dari jalur Sa’id bin Al Musayyib dari bapaknya:

Sesungguhnya bapak beliau datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, lalu beliau bertanya:

“Siapa namamu?”

“Hazan (sulit, sedih),” jawabnya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Namamu adalah Sahl (mudah).”

Dia berkata:

“Aku tidak akan pernah merubah nama yang telah diberikan oleh bapak kami.”

Ibnul Musayyib berkata:

“Senantiasa kesulitan menimpa kami setelah itu.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6190)

⇒ Dengan sebab nama akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam banyak merubah nama para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum. Yang semula namanya bermakna buruk, Beliau rubah menjadi makna yang baik.

Diriwayatkan di dalam Shahīh Al Bukhāri dengan sanad yang mursal, dari jalan ‘Ikrimah, beliau berkata:

Ketika Suhail bin ‘Amr datang, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Semoga urusan kalian menjadi mudah.”

Jadi berilah anak-anak kita nama yang baik, dari nama-nama orang-orang shālih yang memiliki keutamaan. Dan hindari memberi mereka nama-nama orang kāfir dan para pelaku maksiat karena akan memberi pengaruh buruk pada kehidupan mereka.

Di antara nama-nama yang baik adalah,  Muhammad (nama Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Maryam puteri ‘Imrān dan saudaranya Hārun. Demikian pula dengan Mūsā saudaranya Hārun. Akan tetapi Maryam bukan saudara perempuan Mūsā, karena keduanya terpisah dalam kurun waktu yang lama (Nabi Mūsā berada sebelum Nabi Īsā).

Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang hal ini, Beliau menjawab:

إِنّّهُم كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِم و الصّالِحِينَ قَبْلَهُم

“Sesungguhnya mereka menamakan anak-anak mereka dengan nama para nabi dan orang-orang shālih sebelum mereka.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2135, hadīts dari Al Mughirah bin Syu’bah).

Kemudian dari hadīts Abdullāh bin ‘Umar, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ أَحَبَّ أَسمَائكم إلَى الله عبد الله و عبد الرّحمن

“Sesudahnya nama yang paling Allāh cintai adalah ‘Abdullāh dan ‘Abdurrahmān.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2132)

√ ‘Abdullāh mengandung makna hamba Allāh.

√ ‘Abdurrahmān mengandung makna hamba Allāh yang maha penyayang.

Kemudian dari hadīts Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara marfu’, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَسَمُّوا بِاسْمِي ولا تَكْتَنُوا بِكُنيَتِي

“Berilah nama dengan namaku dan janganlah memberi kun-yah dengan kun-yahku (Abu Qasim).”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6187,Muslim nomor 2133)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menganjurkan kita memberi nama anak-anak laki-laki kita dengan nama (seperti) Muhammad. Kebanyakan orang Indonesia selalu menambah banyak nama pada anak-anak mereka, padahal nama itu bukan nama ayahnya atau kakeknya.

⇒ Nama yang syari’ cukup dengan satu suku kata saja (Muhammad, misalnya)

Bahkan putera Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau beri nama Ibrāhīm. Namun putera beliau tidak sampai dewasa, ketika bayi meninggal dunia (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu).

Diriwayatkan di dalam Shahīhain, dari hadīts Abū Mūsā radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata:

“Aku dikaruniai seorang anak, kemudian aku mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau menamakan anak itu dengan nama Ibrāhīm.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6198 dab Muslim nomor 2145)

Oleh karena itu perhatikan masalah ini.

Ada nasehat dalam satu kitāb “Tasmiyatul Maulūd” yang ditulis oleh Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, beliau menasehati tentang pentingnya memberi nama yang baik pada anak-anak dan menghindarkan nama-nama yang buruk untuk mereka.

Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, berkata: 

إن الاسم عنوان المسمى فإذا كان الكتاب يقرأ من عنوانه فإن المولود يعرف من اسمه

“Sesungguhnya sebuah nama adalah judul atau ciri seseorang, sebagaimana sebuah buku dilihat dari judulnya. Demikian pula seseorang diketahui keyakinan dan sudut pandang pemikirannya dari namanya.”

Bahkan keyakinan orang yang memilih baginya sebuah nama bisa diketahui dari nama yang ia berikan.

Oleh karena itu perhatikan, ketika memberi nama untuk anak-anak kita!

Berilah anak-anak kita nama orang-orang shālih yang jelas telah Allāh puji di dalam Al Qurān maupun sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Mentahnik Dan Mendoakan Anak Dengan Keberkahan

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 22 Syawwal 1440 H / 26 Juni 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 21 | Mentahnik Dan Mendoakan Anak Dengan Keberkahan
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-21
~~~~

MENTAHNIK DAN MENDOAKAN ANAK DENGAN KEBERKAHAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-21, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatil Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya yaitu:

Mentahnik anak yang baru lahir dan mendo’akannya dengan keberkahan.

Mentahnik adalah mengunyah kurma, lalu mengoleskannya di langit-langit mulut bayi kemudian mendo’akan si bayi agar diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada beberapa hadīts yang menjelaskan mengenai ini.

Di antaranya adalah:

⑴ Hadīts Muslim yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, dimana beliau mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ

“Bahwasanya beberapa bayi dibawa menghadap kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mentahnik mereka.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2147)

⑵ Hadīts Bukhāri dan Muslim yang dari ‘Asmā’ binti Abī Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhuma, saat itu dia sedang mengandung ‘Abdullāh bin Az Zubair.

‘Asmā’ berkata :

فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ، فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ، فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ، فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ، ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ، فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَىْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الإِسْلاَمِ

“Aku hijrah dalam keadaan hampir melahirkan, lalu aku datang ke Madīnah. Aku berhenti di Qubā’ dan di sanalah aku melahirkan. Selanjutnya aku mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau meletakkan anak itu di pangkuan Beliau. Kemudian Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menyuruh untuk mengambil kurma dan Beliau mengunyahnya.

Setelah itu Beliau meludah di mulut sang anak, maka yang pertama kali masuk ke dalam kerongkongan sang anak adalah ludah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian Beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akannya dengan keberkahan, dialah anak yang pertama kali lahir di dalam Islām.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3909 dan Muslim nomor 2146)

⇒ Abdullāh bin Az Zubair radhiyallāhu ta’āla ‘anhu adalah anak yang pertama kali dilahirkan ketika hijrah ke Madīnah.

⑶ Hadīts Bukhāri dan Muslim yang dari oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

كَانَ ابْنٌ لأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ، فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ. فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِيَّ. فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ ” أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ “. قَالَ نَعَمْ. قَالَ ” اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا “. فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ، فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” أَمَعَهُ شَىْءٌ “. قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ. فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَمَضَغَهَا، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ، وَحَنَّكَهُ بِهِ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ

Adalah anak Abū Thalhah dalam keadaan sakit, lalu Abū Thalhah pergi dan anak itu meninggal dunia.

Setelah kembali, dia bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?”

Ummu Sulaim berkata, “Dia lebih tenang dari sebelumnya.”

Kemudian Ummu Sulaim membawakan makan malam untuknya dan setelah itu Abū Thalhah menggaulinya.

Setelah selesai Ummu Sulaim berkata,”Kuburkanlah anak itu!”

Di pagi harinya Abū Thalhah datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan menceritakannya.

Rasūlullāh bertanya,”Apakah semalam engkau mengauli istrimu?”

Abū Thalhah menjawab, “Benar, wahai Rasūlullāh.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Yā Allāh, berikanlah keberkahan kepada mereka berdua!”

Setelah itu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, Abū Thalhah berkata kepadaku (Anas bin Mālik), “Bawalah anak ini kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Anak itupun aku bawa kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dibekali beberapa butir kurma.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam seraya berkata,”Apakah ada sesuatu bersamanya?”

Merekapun berkata,”Ya, beberapa butir kurma.”

Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengambil kurma tersebut dan mengunyahnya, kemudian mengambil dari mulut Beliau dan mengoleskanya ke mulut anak itu, kemudian Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mentahnik. Beliau menamakan anak itu ‘Abdullāh.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5470)

⇒ Abū Thalhah adalah ayah tiri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

⇒ Hadīts ini pun menunjukkan bagaimana shālihah Ummu Sulaim, ketika anaknya meninggal beliaupun sabar.

⑷ Hadīts Muslim, yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

ذَهَبْتُ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الأَنْصَارِيِّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ وُلِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي عَبَاءَةٍ يَهْنَأُ بَعِيرًا لَهُ فَقَالَ ” هَلْ مَعَكَ تَمْرٌ ” . فَقُلْتُ نَعَمْ . فَنَاوَلْتُهُ تَمَرَاتٍ فَأَلْقَاهُنَّ فِي فِيهِ فَلاَكَهُنَّ ثُمَّ فَغَرَ فَا الصَّبِيِّ فَمَجَّهُ فِي فِيهِ فَجَعَلَ الصَّبِيُّ يَتَلَمَّظُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” حُبُّ الأَنْصَارِ التَّمْرَ ” . وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Saya pergi bersama Abdullah Bin Abu Thalhah Al Anshari menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika dia baru dilahirkan. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang ketika itu Beliau sedang di ‘ab’ah (kandang unta) memberi minum untanya. Maka (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bertanya padaku:

“Apakah kamu membawa kurma?”

Saya menjawab: “Ya.”

Beliau kemudian mengambil beberapa kurma lalu dimasukkan ke dalam mulut Beliau dan melembutkannya. Setelah itu Beliau membuka mulut bayi dan disuapkan padanya. Bayi itu mulai menjilatinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kesukaan orang Anshar adalah kurma.”

Kemudian (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memberinya nama Abdullah.

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2144)

⑸ Hadīts Bukhāri dan Muslim, yang diriwayatkan oleh Abū Mūsā radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau berkata:

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

Aku dikaruniai seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau memberikan nama Ibrāhīm untuk anak itu, kemudian mentahniknya.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 6198 dan Muslim nomor 2145)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Jangan Membenci Anak Karena Wajahnya – Hadis 20

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 21 Syawwal 1440 H / 25 Juni 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 20 | Jangan Membenci Anak Karena Wajahnya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-20
~~~~

JANGAN MEMBENCI ANAK KARENA WAJAHNYA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأنبياء الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-20, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatil Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya yaitu:

▪ Janganlah Anda membenci terhadap anak karena wajahnya yang kurang cantik atau kurang tampan.

Seorang anak tidak memiliki kuasa di dalam menentukan cantik (tampan) atau jelek, baik atau buruk, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan mereka seperti itu, ini sudah ketetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bisa jadi seorang anak memiliki wajah yang kurang menarik akan tetapi dia memiliki kedudukan di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla kelak.

Mungkin saja dia anak shālih, anak yang bertaqwa, anak yang takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya rupa tidak menjadi standar baik buruknya seseorang.

Baik buruk seseorang dilihat dari bagaimana agama dan kadar ketaqwaan serta keimanannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

…وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ ….

“Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu.…”

… وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ …

‘Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu….. “

(QS Al Baqarah: 221)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga menjelaskan keadaan orang-orang munāfiq. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ…….

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum….. “

(QS Al Munāfiqun: 4)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ

“Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allāh dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kāfir.”

(QS At Tawbah: 55)

Ini menunjukkan tidak bermanfaatnya harta dan anak jika tidak diiringi dengan ketaqwaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sesungguhnya Allāh yang Maha menciptakan dan membentuk manusia, sesuai dengan apa yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla kehendaki. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ……

“Dialah Allāh Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa….”

(QS Al Hasyr: 24)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Dialah (Allāh Subhānahu wa Ta’āla) yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

(QS Āli Imrān: 6)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

مِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥ۞ مِن نُّطۡفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ

“Dari apakah Dia (Allāh) menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.”

(QS ‘Abasa: 18-19)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَفَرَءَيۡتُم مَّا تُمۡنُونَ ۞ ءَأَنتُمۡ تَخۡلُقُونَهُۥٓ أَمۡ نَحۡنُ ٱلۡخَٰلِقُونَ

“Maka adakah kalian perhatikan, tentang (benih manusia) yang kalian pancarkan. Apakah kalian yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?”

(QS Al Wāqi’ah: 58-59)

Maka fahamilah ini wahai hamba Allāh !

Janganlah Anda tertipu dengan ketampanan atau kecantikan salah seorang di antara anak-anak Anda, sehingga membuat Anda melakukan kezhāliman kepada yang lain.

Sungguh, orang yang paling mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah adalah orang-orang yang paling bertaqwa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allāh ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS Al Hujurāt: 13)

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak melihat bentuk dan harta yang kalian miliki, akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan yang kalian lakukan.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2564)

Dalam riwayat yang lain:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak melihat badan dan bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat hati-hati kalian”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2564)

Demikian, semoga bermanfaat.

بارك الله فيكم
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته