Silsilah 24 Mahazi : Larangan-larangan Ihram III

MAHAZI 24 :  LARANGAN2 IHRAM BAG 3

6.     MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA.

Dalil :

Ø  Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan ihram (Al Maidah 95)

Ø  Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat, selama kalian ihrom (Al Maidah 96)

Ø  HR Bukhari dan Muslim :

Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat, dalam keadaan para Sahabat sedang ihrom dan Abu Qotadah tidak ihrom.

Mereka melihat seekor keledai liar,  maka  Abu Qotadah membunuhnya dan mereka memakannya. Kemudian mereka bertanya

“Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihrom ?”.

Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?”

Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.

Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat 95 Surat Al Maidah :

a.     Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau

b.     Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5kg beras, atau

c.      Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin

7.     MENGADAKAN AKAD NIKAH  (BAIK SEBAGAI SUAMI ATAU WALI)  dan MELAMAR

Dalil :

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar.

HR Muslim

8.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN

9.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA, BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL        

Dalil :

Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji.

Qs AL BAQARAH :197

Masuk dalam makna rofats :

a.     Berjima’ dengan kemaluan

b.     Memeluk

c.      Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok

Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal :

1)   Hajinya rusak

2)   Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut

3)   Diwajibkan untuk berhaji tahun depan

4)   Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah

Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allah meridhai semuanya.

Adapun  apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.

Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka :

1)   rusak umrohnya

2)   diharuskan menyempurnakan umrohnya yang rusak

3)   diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama

4)   diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah

Jika dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.