Tag Archives: berdoa dan berziarah kubur dan orangtua non muslim

Bedah Al Quran 44 : Obrolan Rahasia / Najwa

BEDAH AL QURAN No 44
NAJWA / OBROLAN RAHASIA
 
[1] Ngobrol bertiga, Allah yang keempat. Ngobrol berlima, Allah yang keenam. Allah selalu menyertai setiap obrolan rahasia (Qs.58/Al Mujadalah:7)
ﺃَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﺃَﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ٱﻟﺴَّﻤَٰﻮَٰﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻰ ٱﻷَْﺭْﺽِ ۖ ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣِﻦ ﻧَّﺠْﻮَﻯٰ ﺛَﻠَٰﺜَﺔٍ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﺭَاﺑِﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻻَ ﺧَﻤْﺴَﺔٍ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﺳَﺎﺩِﺳُﻬُﻢْ ﻭَﻻَٓ ﺃَﺩْﻧَﻰٰ ﻣِﻦ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻻَٓ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮا۟ ۖ ﺛُﻢَّ ﻳُﻨَﺒِّﺌُﻬُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﻋَﻤِﻠُﻮا۟ ﻳَﻮْﻡَ ٱﻟْﻘِﻴَٰﻤَﺔِ ۚ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْءٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌTidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Al-Mujadalah – 58:7)
[2] Di akhirat, Allah akan memberitahukan kembali semua obrolan rahasia  itu (Qs.58:7)
[3] Jika ngobrol rahasia, jangan mengandung dosa (Qs.58:9)
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮٓا۟ ﺇِﺫَا ﺗَﻨَٰﺠَﻴْﺘُﻢْ ﻓَﻼَ ﺗَﺘَﻨَٰﺠَﻮْا۟ ﺑِﭑﻹِْﺛْﻢِ ﻭَٱﻟْﻌُﺪْﻭَٰﻥِ ﻭَﻣَﻌْﺼِﻴَﺖِ ٱﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻭَﺗَﻨَٰﺠَﻮْا۟ ﺑِﭑﻟْﺒِﺮِّ ﻭَٱﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ۖ ﻭَٱﺗَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ٱﻟَّﺬِﻯٓ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭﻥَHai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.

(Al-Mujadalah – 58:9)
*Contoh obrolan dosa ialah membicarakan keburukan orang lain
[4] Dan jangan mengandung permusuhan (Qs.58:9)
*Contohnya, rapat tertutup untuk mencelakakan orang lain
[5] Juga jangan mengandung kedurhakaan kepada Rasul (Qs.58:9)
*Karena Rasul sudah tidak ada, maka bisa berarti segala obrolan rahasia yang intinya mendurhakai agama Islam.
┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈
Copas dari Ust Muhammad Nur Muttaqien
Bandung
LIHAT SELENGKAPNYA DI www.nurmuttaqien.wordpress.com

SETELAH KEMATIAN

MLP (Multi Level Pahala)

Salah satu diantara rahmat yang Allah berikan kepada orang yang beriman adalah mereka bisa saling memberikan kebaikan, sekalipun harus berpisah di kehidupan dunia. Karena ikatan iman, Allah abadikan, sekalipun mereka sudah meninggal.

1. Doa mukmin yang hidup kepada mukmin yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai doa yang mustajab. Doa anak soleh kepada orang tuanya yang beriman, yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai paket pahala yang tetap mengalir.

2. Ilmu yang diajarkan oleh seorang guru muslim kepada masyarakat, akan menjadi paket pahala yang terus mengalir, selama ilmu ini diamalkan.

3. Sedekah Jariyah selama hidup yang diniatkan karena Allah juga menjadi paket pahala yang terus mengalir.

Ketiga amal ini adalah Multi Level Pahala (MLP) yg terus mengalir dan membesar karena efek pahalanya yang memberikan rahmat bagi sekelilingnya dan juga double efek pahalanya karena diikuti oleh banyak orang secara estafet.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda tentang ketiga MLP ini, “Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya”.

(HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya)


Bahkan ikatan iman ini tetap Allah abadikan hingga hari kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah kumpulkan kembali mereka bersama keluarganya di hari kiamat.

“Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka”.

(QS. At-Thur: 21)

Sahabat kajian yang beriman, orang tua beriman, anak cucu beriman, berbahagialah, karena insyaaAllah akan Allah kumpulkan kembali di surga.

Cara Berbakti kepada Orang Tua yang sudah meninggal dunia ==========

Setelah orang tua meninggal, ada banyak cara bagi si anak untuk tetap bisa berbakti kepada orang tuanya. Mereka tetap bisa memberikan kebaikan bagi orang tuanya yang telah meninggal, berupa aliran pahala. Dengan syarat, selama mereka memiliki ikatan iman.
Rasulullah saw menganjurkan kepada salah seorang sahabat untuk melakukan beberapa amal, agar mereka tetap bisa berbakti kepada orang tuanya.

Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi ra, beliau menceritakan, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orang tuaku setelah mereka meninggal?’ Jawab Nabi saw, “Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka meninggal, memuliakan rekan mereka, dan menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka”.

(HR. Ahmad 16059, Abu Daud 5142, Ibn Majah 3664, dishahihkan oleh al-Hakim 7260 dan disetujui adz-Dzahabi)

Pertama :

Mendo’akannya.

Mendo’akan agar mereka diampuni, dirahmati, diberi kemuliaan di sisi-Nya, dan dilapangkan di alam kuburnya.

Diantara doa yang Allah perintahkan dalam Al-Quran adalah doa memohonkan ampunan untuk kedua orang tua kita,

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Berdoalah, Ya Allah, berilah rahmat kepada mereka (kedua orang tua), sebagaimana mereka merawatku ketika kecil.”

(QS. Al-Isra: 24)

*Berdoa, berziarah kubur & Orangtua non muslim

Do’a ini bisa kita panjatkan kapan dan di mana saja kita mau. Mendo’akan orang tua yang telah wafat tidak dibatasi dengan ziarah kubur, karena tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan akhirat (mati) bagi si peziarah bukan bagi orang yg diziarahi (simati).

Nabi saw bersabda: “fazuuruha fainnaha tudzakkirul aakhirah”.  Artinya, ziarahi kubur, karena dapat mengingatkan kepada akhirat. (HR. Tirmidzi)

Tapi sayang, banyak yang beranggapan tujuan ziarah kubur untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal, tidak salah namun tidak tepat.

Pernyataan ini tidak bermaksud menafikan do’a kepada almarhum saat ziarah, yang ingin di tegaskan bahwa berdo’a untuk orang tua yang telah wafat bukan saat ziarah saja, tapi kapan dan di mana pun kita dianjurkan untuk selalu mendo’akannya.

Berdo’a bisa menggunakan bahasa arab (dikutip dari Qur’an atau hadits) ataupun dengan bahasa apa saja yang bisa kita fahami.

Satu hal yang perlu diingat, apabila orang tua yang telah wafat itu berbeda agama (non-muslim), kita dilarang mendo’akannya sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam”. (At-Taubah 9: 113)

Namun kalau orang tua yang berbeda agama itu masih hidup, kita diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mendo’akannya agar diberi hidayah oleh Allah swt untuk masuk Islam.

Rasulullah saw. pernah mendo’akan agar pamannya, Abu Thalib masuk Islam, ini bukti bahwa kita boleh mendo’akan non muslim agar masuk Islam.

Kedua :

Menunaikan janjinya.

Apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu.

 Ketiga :

Pentingnya Menjaga Silaturahmi Sepeninggal Orang Tua

Silaturrahmi Sebagai makhluk sosial, orang tua kita tentu mempunyai sejumlah sahabat, wujud bakti kepada mereka adalah menyambungkan silaturahmi dengan orang-orang yang biasa bersilaturahmi dengannya.

Diantara fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat, ada beberapa anak yang memiliki hubungan dekat dengan kerabat atau teman dekat orang tuanya. Namun ketika orang tuanya meninggal, kedekatan ini menjadi pudar, bahkan terkadang terjadi permusuhan.

Karena itu, salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang tingkatannya sangat tinggi adalah menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua.

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya, setelah ayahnya meninggal”. (HR. Muslim no. 2552)

BIBI PENGGANTI IBU   ================================

Kedudukan Bibi = Ibu

Dari al-Barra’ bin Azib ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bibi saudara ibu, kedudukannya seperti ibu”. (HR. Bukhari 2699, Abu Daud 2280, dan yang lainnya)

Dalam riwayat lain, dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw bersabda, “Bibi saudara ibu, itu seperti ibu”. (HR. Ahmad 770)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa ketika ibu meninggal, kedekatan kerabat yang penting untuk kita jaga adalah kedekatan kepada bibi. Karena itu, Imam an-Nawai dalam kitabnya Riyadhus Sholihin memasukkan hadis ini di bab: Berbakti kepada orang tua dan menyambung silaturahim.

Bagi yang ingin maksimal berbakti kepada ibu yang telah meninggal, bisa membaktikan diri kepada bibi saudara ibu.

Kesimpulannya, di antara amal shaleh yang sangat dicintai Allah adalah berbakti pada orang tua baik ketika masih hidup ataupun setelah mereka wafat. Ada tiga cara bakti kepada orang tua yang telah wafat : Mendo’akannya, Mewujudkan niat baiknya, dan Bersilaturahmi kepada sahabat-sahabatnya.

copas dari KTQS (Kajian Tematis Quran dan Sunnah ) – Daarul Arqom-Bandung