Tag Archives: doa dan kajian islami

Silsilah 25 Mahazi adalah Tatacara Haji dan Umroh Secara Global

HALAQAH KE 25 DARI SILSILAH MANASIK HAJI ADALAH

Tatacara Haji dan Umroh Secara Global

Cara melakukan Umroh secara global adalah :

1.     Seseorang Ihrom dari miqot.

2.     Thawaf

3.     Sa’i  antara Shafa dan Marwah

4.     Menggundul rambut atau memendekkan

Orang Mekkah yang akan melakukan umroh maka ia ihrom dari luar Tanah Haram.

Cara melakukan Haji secara global adalah :

1.     Seseorang yang datang dari luar miqot maka ia berihrom dari Miqot; sedangkan penduduk Mekah dan selain penduduk Mekah yang berada di Tanah Haram maka ia berihrom dari tempat ia berada.

2.    Orang yang melakukan Haji Qiran dan Ifrad melakukan Thawaf Qudum dan Sa’i dan boleh mengakhirkan Sa’i dan melakukannya setelah Thawaf Ifadhah.

3.     Jamaah Haji berada di Mina tanggal 8 dan malam tanggal 9

4.     Wukuf di Arafah

5.     Bermalam di Musdalifah

6.     Melempar Jumroh Aqobah pada tanggal 10

7.     Menyembelih hadyu bila ada kewajiban membayar hadyu seperti orang yang melakukan Haji Tamattu’ dan Qiran

8.     Mencukur habis atau memendekkan

9.    Thawaf Ifadhah dan Sa’i jika ia Haji Tamattu; dan jika ia melakukan Haji Qiran dan Ifrad dan belum sa’I setelah thawaf Qudum maka dia melakukan sai setelah thawaf ifadhah

10. Bermalam di Mina pada hari-hari tasyrik dan melempar 3 jumroh setiap hari setelah tergelincirnya matahari

11. Melakukan thawaf Wada ketika akan meninggalkan Mekkah

Silsilah 24 Mahazi : Larangan-larangan Ihram III

MAHAZI 24 :  LARANGAN2 IHRAM BAG 3

6.     MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA.

Dalil :

Ø  Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan ihram (Al Maidah 95)

Ø  Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat, selama kalian ihrom (Al Maidah 96)

Ø  HR Bukhari dan Muslim :

Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat, dalam keadaan para Sahabat sedang ihrom dan Abu Qotadah tidak ihrom.

Mereka melihat seekor keledai liar,  maka  Abu Qotadah membunuhnya dan mereka memakannya. Kemudian mereka bertanya

“Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihrom ?”.

Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?”

Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.

Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat 95 Surat Al Maidah :

a.     Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau

b.     Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5kg beras, atau

c.      Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin

7.     MENGADAKAN AKAD NIKAH  (BAIK SEBAGAI SUAMI ATAU WALI)  dan MELAMAR

Dalil :

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar.

HR Muslim

8.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN

9.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA, BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL        

Dalil :

Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji.

Qs AL BAQARAH :197

Masuk dalam makna rofats :

a.     Berjima’ dengan kemaluan

b.     Memeluk

c.      Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok

Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal :

1)   Hajinya rusak

2)   Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut

3)   Diwajibkan untuk berhaji tahun depan

4)   Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah

Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allah meridhai semuanya.

Adapun  apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.

Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka :

1)   rusak umrohnya

2)   diharuskan menyempurnakan umrohnya yang rusak

3)   diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama

4)   diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah

Jika dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.

Silsilah 23 Mahazi adalah Larangan-larangan Ihram II

Mahazi 23 – Larangan Ihram bag II

4.     MENUTUP KEPALA DAN WAJAH DENGAN SESUATU YANG MENEMPEL.

Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar rhadoyallahu anhuma ketiak ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang Muhrim, maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Dia tidak memakai gamis dan tidak memakai sorban” HR al-Bukhari dan Muslim.

Didalam hadits ini beliau melarang untuk memakai sorban, masuk didalamnya setiap yang menutupi kepala seperti peci, topi, kopiah dll.

Didalam hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Sahabat yang mengurus seorang laki-laki yang meninggal ketika ihrom :

“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan 2 kainnya yaitu kain ihrom dan jangan tutupi kepala dan wajahnya karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”. HR Muslim.

Beliau melarang untuk ditutupi kepala wdan wajah karena dia meninggal dalam keadaan ihrom, adapun menutupi kepala dengan sesuatu yang tidak menempel seperti berteduh dibawah payung, atap mobil, kain, kemah, maka yang demikian tidak masalah karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam  berteduh dibawah kain ketika melempar Jumroh Aqobah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.

5.     MEMAKAI PAKAIAN YANG MEMBENTUK BADAN

Bagi laki-laki yang sedang ihrom dilarang  memakai pakaian yang membentuk badan, baik seluruh badannya, atau sebagian badannya. Membentuk seluruh badan seperti memakai gamis, dan membentuk sebagian badan seperti celana panjang, sepatu boot, kaos kaki, kaos, dll.

Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar ketika ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang yang muhrim, maka Nabi berkata “Dia tidak memakai gamis, sorban, celana panjang, baronis, sepatu boot, kecuali jika seseorang  tidak menemukan 2 sandal maka hendaklah ia memakai sepatu boot dan memotongnya dibawah mata kaki”

HR Bukhari  dan Muslim.

Tidak masalah seorang muhrim memakai sabuk, kacamata, jam, cincin, dan sandal yang berjahit maupun tidak berjahit.

Adapun wanita maka memakai pakaian syar’ie yang biasa dia pakai dan dilarang memakai kaos tangan dan niqoob.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan seorang wanita yang ihrom tidak memakai niqoob dan tidak memakai  2 kaos tangan

HR Bukhari dan Muslim.

Yang dimaksud dengan niqob adalah kain cadar, tetapi kalau melewati laki-laki asing maka ia menutup wajah dan tangannya dengan kain kerudungnya sebagaimana ucapan Aisyah rhadiyallahu anha “Dahulu rombongan melewati kami dan kami bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam keadaan ihrom. Maka apabila rombongan tersebut mendekati kami, salah seorang wanita diantara kami menjulurkan jilbabnya diatas wajahnya, dan apabila mereka sudah lewat, kamipun membuka wajah-wajah kami

HR Abu Dawud, dan sanadnya lemah tetapi ada syahid yang shahih dikeluarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho : Dari Fathimah Ibnu Mundzir beliau berkata

“Kami dahulu menutupi wajah-wajah kami dengan kerudung sedang kami dalam keadaan ihrom bersama Asma binti Abi Bakar”

S e l e s a i

Silsilah 22 Mahazi adalah Larangan-larangan Ihrom I

Mahazi 22 – Larangan-Larangan di dalam Ihrom bag 1

Telah berlalu bahwa Niat adalah termasuk rukun haji. Seseorang apabila sudah ihrom atau niat masuk didalam ibadah umroh atau haji maka diharamkan atasnya beberapa hal yang sebelumnya dihalalkan, yang dikenal dengan larangan-larangan ketika ihrom.

Jumlahnya ada 9 :

1.     Mengambil rambut dari tubuh

2.     Memotong kuku

3.     Memakai minyak wangi

4.     Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel

5.     Memakai pakaian yang membentuk badan

6.     Membunuh hewan buruan

7.     Melakukan pernikahan

8.     Bersenang-senang dengan istri dengan melakukan jima’

9.     Bersenang-senang dengan istri dengan selain jima’, baik dengan dengan ucapan atau dengan perbuatan seperti memeluk, mencium dll

1.     MENGAMBIL RAMBUT, BAIK DARI KEPALA, KUMIS, KETIAK, KEMALUAN, DLL

Dalil :

Firman Allah Azza wa Jalla

Wa la tahliku ruhusakum hajja yabluwul hadyu mahilah

“Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya” Qs 2 : 196

2.     MEMOTONG KUKU.

Berkata Ibnu Mundzir  rahimahullah :

Wa ajma’u ala a’lal  muhrima….

“Dan mereka bersepakat bahwa seorang yang muhrim (yg sedang berihrom) dilarang untuk mengambil kukunya”

3.     MEMAKAI MINYAK WANGI

Dilarang seorang muhrim memakai minyak wangi, baik didalam badannya maupun didalam pakaiannya. Yang demikian berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Umar tentang pakaian-pakaian yang dilarang dipakai oleh seorang muhrim, dan di dalam hadits tersebut Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda

“Dan janganlah kalian memakai pakaian-pakaian yang terkena za’faron atau warsh”

HR Bukhari dan Muslim.

Ket: Za’faron dan Warsh adalah nama minyak wangi.

Dan didalam hadits Ya’la Ibnu Umaiyah bahwa seorang Arab Badwi datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di Ju’ronah dan dia memakai jubah yang terkena minyak wangi, maka dia berkata ,

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang ihram untuk umroh dengan memakai jubah yang sudah terkena minyak wangi?”

Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab “Adapun minyak wangi yang ada pada badanmu maka cucilah 3x ,, sedangkan jubah maka lepaskanlah kemudian lakukanlah didalam umrohmu apa yang engkau lakukan didalam hajimu”.

HR Bukhari dan Muslim

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ada seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan ihrom

“Hendaklah kalian memandikan laki-laki tersebut dengan air dan daun bidara dan kafanilah dia dengan 2 kainnya dan janganlah kalian menyentuhkan ia dengan minyak wangi dan jangan menutup kepalanya, sesungguhnya ia akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan bertalbiyah” 

HR Bukhari dan Muslim

S e l e s a i

Silsilah 21 Mahazi adalah tentang Miqot

HALAQAH KE 21 DARI SILSILAH MANASIK HAJI ADALAH  tentang MIQOT

MIQOT

Miqot haji dan umroh terbagi dua:

1.    MIQOT TEMPAT

tempat-tempat dimana orang yang melewatinya dalam keadaan dalam keadaan ingin (akan) melakukan haji / umroh diharuskan berihram dari sana.

Abdullah bin Abbas rhadiyallahu anhuma berkata :

WAQOTA Rasulullah shalallahu alaihi wasallam li ahlil madinati lal khalifa, wa lil syami al zuhfah…

 “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzulhulaifah (Bir Ali) untuk penduduk Madinah, dan Juhfah untuk penduduk Syam, Qornun Manazil untuk penduduk Najed dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Tempat-tempat tersebut adalah bagi penduduknya dan orang-orang yang melewatinya dalam rangka ingin melakukan haji dan umroh, dan dia bukan penduduk setempat. Dan barangsiapa berada dibawah miqot, maka berihrom dari tempat dia berada sampai penduduk Mekkah ihrom dari Mekkah”

HR  Bukhari dan Muslim.

Dalam Hadits Aisyah rhadiyallahu anha disebutkan :

anna rasulullah shalallahu aalaihi wasallam  waqota li ahlil iraqi jata irqin

“Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzaatu Irqin sebagai miqot bagi penduduk Iraq

shahih, HR Abu Dawud.

Barangsiapa yang melewati miqot-miqot ini maka harus berihrom ketika melewati daerah yang sejajar dengan miqot-miqot ini, baik di darat, laut, maupun udara.

Orang yang naik pesawat dan turun di Jedah dengan tujuan langsung haji atau umroh maka diharuskan ber-ihrom di pesawat  karena dia pasti melewati daerah yang sejajar dengan Miqot. Adapun orang yang turun di Jedah dengan tujuan Madinah terlebih dahulu maka tidak masalah dia mengakhirkan ihromnya sampai di Madinah nanti.

2.    MIQOT WAKTU

Miqot waktu untuk haji adalah bulan-bulan yang digunakan untuk melakukan ihrom haji yaitu Syawal, Dzulqodah dan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Bulan Syawal diawali dari Maghrib malam hari raya Idul Fitri. Dan yang dimaksud dengan 10 hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah adalah yang diakhiri dengan datangnya waktu subuh hari raya Idul Adha.  Barangsiapa yang melakukan ihrom haji pada waktu tersebut maka sah hajinya. Dan kalau ia melakukan ihrom haji sebelum Syawal atau setelah subuh tanggal 10 Dzulhijjah maka sah ihromnya dan diubah menjadi Umroh, dan tidak dianggap melakukan Ibadah Haji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  “Haji itu di bulan-bulan yang diketahui. Maka barangsiapa yang mewajibkan dirinya untuk berhaji pada bulan-bulan tersebut maka tidak boleh dia melakukan rofats, kefasikan, dan berdebat ketika haji

Qs 2 : 197

Miqot waktu untuk ibadah Umroh adalah sepanjang tahun.

S e l e s a i

Silsilah 20 Mahazi : Sunnah-sunnah Haji Bag VII

Mahazi 20 Sunah2 Haji bagian ke 7

31.Langsung istirahat setelah shalat maghrib dan isya di Musdalifah sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.

32.Menyibukkan diri dengan dzikir dan doa setelah shalat subuh di Musdalifah sampai langit berwarna kuning sekali menjelang terbit matahari.

33.Meninggalkan Musdalifah ketika langit berwarna kuning sekali menjelang terbit matahari, 

HR Muslim :

Jabir Ibnu Abdillah mengatakan “Maka beliau Shalallahu Alaihi Wassalam mendatangi Al Musdalifah, kemudian shalat disana maghrib dan isya dengan 1 adzan dan 2 iqomah, dan beliau tidak melakukan shalat diantara keduanya, kemudian beliau berbaring sampai datang waktu subuh, kemudian shalat subuh ketika sudah jelas bagi beliau waktu subuh dengan adzan dan iqomah, kemudian beliau mengendarai unta beliau – Qoswa – sampai datang ke Masy’aril Harom kemudian menghadap kiblat berdoa kepada Allah, mengucapkan takbir, mengucapkan tahlil dan mengesakan Allah, dan senantiasa beliau disana dalam keadaan berdiri sampai langit berwarna kuning sekali, kemudian beliau meninggalkan Musdalifah sebelum terbit matahari.

34.Berdoa dan mengangkat tangan setelah melempar jumroh Shugra dan Wustho.

35.Mengucapkan takbir ketika melempar setiap kerikil. 

HR Bukhori, Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma mengatakan

 “Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam apabila melempar jumroh yang paling dekat dengan Masjid Mina (maksudnya : Jumroh Sughro) beliau Shalallahu Alaihi Wassalam melemparnya dengan 7 kerikil. Mengucapkan takbir setiap melepar 1 kerikil, kemudian beliau maju kedepan dan berdiri menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan beliau berdoa dan beliau memanjangkan berdiri disana, kemudian setelah itu beliau mendatangi jumroh yang kedua, melemparnya dengan 7 kerikil, mengucapkan takbir setiap melempar 1 kerikil. Kemudian beliau turun ke arah kiri yang paling dekat lembah kemudian beliau berdiri menghadap kiblat kemudian mengangkat tangan berdoa, kemudian mendatangi jumroh yang berada di Aqobah, melemparnya dengan 7 kerikil. Mengucap takbir setiap melempar 1 kerikil. Kemudian beliau meninggalkan jumroh Aqobah dan tidak berdiri disana.

S e l e s a i

Silsilah 19 Mahazi : Sunnah-sunnah Haji VI

Mahazi 19 Sunah2 Haji bagian 6

Di antara  sunnah2  haji  adalah

21.SA’I DALAM KEADAAN SUCI  (lihat halaqah 18) dan BERDZIKIR serta BERDOA DISAAT PERJALANAN ANTARA SHAFA DAN MARWAH

23.MELAKUKAN IHROM DI WAKTU DHUHA PADA TANGGAL 8 DZULHIJJAH

Karena inilah yang dilakukan oleh Para Sahabat yang melakukan Haji Tamattu’ dan juga penduduk Mekkah yang haji bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

Beliau Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda dalam sebuah hadits Riwayat Bukhari dan Muslim :

Hatta idza kana yaumut tarwiyati fa ahilu bilhajji

“Sehingga apabila datang hari Tarwiyyah maka hendaklah kalian berniat haji.”

24.TINGGAL  DI MINA

PADA HARI TARWIYYAH DAN MALAM TANGGAL ARAFAH DAN MALAM HARI ARAFAH sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

HR Muslim

25.MENINGGALKAN MINA

PADA HARI ARAFAH SETELAH TERBIT MATAHARI  sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

HR Muslim

26. MENGUCAPKAN TAKBIR DAN TALBIYAH  KETIKA MENUJU ARAFAH

Abdullah ibn Umar

GHADAUNA MA’A RASULILLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM, MIN MINAN ILA ARAFATS MINA ALA MULABI WA MINLA AL MUKABIR

“Kami pergi bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari Mina menuju Arafah. Ada diantara kami yang mengucapkan talbiyah, dan ada diantara kami yang mengucapkan Takbir.”

(HR Muslim).

27. MENGHADAP KE ARAH KIBLAT DAN JABAL RAHMAH

KETIKA WUKUF DI ARAFAH, APABILA DIMUDAHKAN, SEBAGAIMANA DILAKUKAN OLEH Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam hadis Jabir  yg diriwayatkan oleh imam Muslim.

Kalau tidak dimudahkan maka cukup menghadap kiblat.

28.TIDAK BERPUASA DI HARI ARAFAH BAGI ORANG YANG SEDANG HAJI

Dalam Shahih Bukhari Muslim dari Ummul Fadl bintu Haarits bahwa Beberapa orang berselisih di sisi beliau tentang puasanya Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebagian berkata beliau puasa, sedangkan sebagian lainnya mengatakan tidak puasa.

Maka akupun mengutus kepada beliau segelas susu dan beliau dalam keadaan wukuf diatas kendaraan unta, dan beliau meminumnya. Ini menunjukan bahwa pada hari Arafah, beliau terputus.

Diantara hikmahnya agar kuat dalam melakukan doa dan dzikir pada hari tersebut.

Hikmah lainnya adalah agar kuat berdzikir di malam itu

29.MEMPERBANYAK MEMBACA TAHLIL, TALBIYAH, ISTIGHFAR, DZIKIR DAN JUGA DOA KETIKA WUKUF DI ARAFAH.

30.MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDOA DI ARAFAH.

 Berkata Usamah Ibnu Zaid rhadiyallahu anhuma  : Aku membonceng Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di arafah maka beliau mengangkat keduan tangannya ketika berdoa.

S e l e s a i

Silsilah 18 Mahazi : Sunnah-sunnah Haji bagian V

Mahazi 18 Sunnah2 Haji bagian 5

13.DZIKIR DAN DOA KETIKA THAWAF

Disunnahkan bagi orang yang sedang thawaf untuk berdzikir dan doa sesuai dengan yang dimudahkan, tidak ada dzikir dan doa yang khusus pada setiap putaran dlm thawaf, dan sebaiknya seseorang berdzikir dan berdoa dengan dzikir dan doa yang datang dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad maka disunnahkan membaca

“Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qiina adzabannaar”.

 HR Imam Ahmad dalam musnadnya.

14.SHALAT SUNNAH THAWAF

Disunnahkan shalat sunnah thawaf 2 rakaat setelah thawaf, dilakukan di belakang MAQAM IBRAHIM.

Rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah membaca  Al kafirun, rakaat kedua  membaca Al Ikhlas sebagaimana hadits  Jabir Ibnu Abdillah al-Anshory diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullah. 

Allah berfirman

Watakhidu mim maqomim ibrohimamushola

“Dan jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim tempat Shalat.” Qs Al Baqarah : 125

Berkata Abdullah Ibnu Umar :

“Datang Nabi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian beliau thawaf 7x dan shalat dibelakang maqam Ibrahim, 2 rakaat kemudian keluar menuju Shafa.

HR Bukhari Muslim

15.Apabila seseorang ingin mendekati bukit Shafa maka membaca firman Allah :

 INNA SHOFA WAL MARWATA MIN SYA’AIRILLAH

(Sesungguhnya  Shofa dan Marwa adalah termasuk syiar-syiar Allah)

Qs 2: 158.

Kemudian dia mengatakan : Abda’u bima bada’Allahu bih (Aku memulai dengan apa yang Allah mulai)

16.Ketika berada di Shafa berusaha melihat Rumah Allah (menghadap ke Ka’bah) kemudian membaca dzikir yang dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ,

yaitu :

Allahu Akbar 3x

Laa Ilaha ilalah wahdahu la syarikallah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumiit wahuwa alaa kulli  syaiin qodir.

Laa ilaha ilallahu wahdah, anjaza wa’dah, wa nashoro abdah wa hazamal ahzaba wahdah….

kemudian berdoa sesuai yang diinginkan,

kemudian megulangi kembali dzikir tadi , kemudian doa kembali,

kemudian mengulangi kembali dzikir lagi, dan setelah itu tidak berdoa.

Melakukan semua itu dengan mengangkat kedua tangan. 

Sehingga seseorang apabila diatas shafa dia telah takbir 9, tahlil 6x, doa 2x

17.Berlari dengan kencang diantara 2 tanda berwarna hijau.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

Tidak melewati al-ab’thoh kecuali dalam keadaan lari kencang.

Shahih HR An-Nasa’i.

berlari diantara 2 tanda hijau hanya disyariatkan hanya untuk laki2

18.Melakukan diatas  bukit Marwah apa yang sudah dia lakukan seperti diatas Shafa

sepeti mengahdap kibat, membaca takbir, tahlil dan doa kecuali membaca ayat inna sfoha wal marwata min sya’airillah hanya disyariatkan ketika pertama kali menaiki bukit shafa

19.Disunnahkan ketika sai memperbanyak dzikir dan doa sebagaimana yang dia lakukan ketika thawaf

20.Melakukan Sa’i dalam keadaan bersuci, baik dari hadats kecil dan besar.

Jika sa’i dalam keadaan tidak suci, maka sainya sah

S e l e s a i

Silsilah 17 Mahazi : Sunnah-sunnah Haji IV

Mahazi 17 Sunnah-sunnah Haji bagian 4

Diantara sunnah 2 haji adalah

10   MENGUSAP RUKUN YAMANI.

Disunnahkan mengusap rukun Yamani dengan tangannya setiap melewatinya apabila dimudahkan, dan tidak disyariatkan mencium rukun Yamani atau mencium tangan setelah mengusap rukun Yamani atau memberikan  isyarat.

Selain Rukun Hajar Aswad dan Rukun Yamani tidak disyariatkan untuk diusap.

Berkata Abdullah Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma :

“Aku tidak melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengusap dari rumah Allah kecuali dari 2 rukun Yamani.

Muttafaqun alaih.

Yang dimaksud 2 rukun Yamani adalah Hajar Aswad dan Rukun Yamani.

11. AL IDHTHTIBAA’.

Disunnahkan bagi laki-laki ketika thawaf umrah dan thawaf qudum bagi orang yang haji qiron dan ifrod untuk melakukan Ittibaa’ yaitu menjadikan kain atas dibawah ketiak kanan, dan meletakkan ujung kain atas diatas bahu kiri.

Dari Abdullah Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabatnya melakukan umroh dari Ju’ronah, mereka melakukan romman ketika thawaf dan menjadikan pakaian atas mereka dibawah ketiak dan melemparkannya diatas bahu kiri.

HR Abu Dawud dengan isnad yang shahih.

Selain thawaf  Umroh dan Thowaf Qudum bagi orang yang Haji Qiran dan Haji Ifrod dan juga keadaan-keadaan yang lain maka tidak disunnahkan Ittibaa’

12.AR ROMMAN. 

Disunnahkan bagi laki-laki sebagaimana dalam hadits diatas untuk melakukan Ar Roman pada 3 putaran thowaf yang pertama. Yang dimaksud dengan Ar Romman adalah lari kecil dengan mempercepat langkah dan memperpendek.  Dari Abdullah Ibn Umar rhadiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  jika thowaf dalam ibadah haji dan umroh yaitu thawaf ketika pertama masuk Mekkah maka beliau melakukan Romman pada 3 putaran dan berjalan biasa pada 4 putaran.

HR al-Bukhari dan Muslim. 

Dan wanita tidak disunnahkan untuk melakukan Romman. Berkata Ibnu Mundzir rahimahullah

“Dan mereka bersepakat bahwa wanita tidak melakukan romman ketika thawaf di Baitullah dan ketika Sa’i antara Shofa dan Marwah.”

Kitab Al-Ijma halaman 61.

S e l e s a i

Silsilah 16 Mahazi : Sunnah-sunnah Haji bag III yaitu mengucapkan Talbiyah setelah Niat

Mahazi 16  : Sunnah –sunnah Haji bagian 3

Diantara sunnah haji adalah mengucapan talbiyah  setelah niat.

8.    MENGUCAPKAN TALBIYAH SETELAH NIAT.

Tabiyah / ucapan labaik Allhumma Labbaik, Labbaik Ala syarikala kalabbaik inalhamda wani’mata laka walmulk la syarikalak .

Membaca talbiyah ketika umroh dimulai semenjak niat sampai menjelang thawaf.

Adapun membaca talbiyah ketika haji dimulai semenjak niat sampai menyelesaikan jumroh aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah.

Untuk laki-laki disunnahkan mengeraskan suaranya, adapun wanita melirihkan suaranya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : 

Datang kepadaku Jibril kemudian berkata kepadaku : “Wahai Muhammad perintahkanlah para sahabatmu untuk mengeraskan suara mereka dengan talbiyah.”

(Shahih, HR An-Nasa’i).

Berkata at Tirmidzi  rahimahullah: Dan dibenci baginya (yaitu bagi wanita) untuk mengeraskan suara dengan talbiyah dan disunnahkan untuk membaca talbiyah ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, bagi dalam keadaan berdiri, duduk, turun dari bus, naik bus, dll

9.    MENCIUM HAJAR ASWAD KETIKA THAWAF / MENGUSAPNYA DENGAN TANGAN / MEMBERIKAN ISYARAT

Barangsiapa yang melewati Hajar Aswad dalam thawafnya maka disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad, atau kalau tidak mampu maka mengusapnya dengan tangan kanannya dan mencium tangannya, atau kalau tidak mampu maka ia memberikan isyarat dengan tangan kanannya

Didalam shahih Bukhari dan Muslim datang Umar Ibnu Khathab rhadiyallahu anhu ke arah Hajar Aswad kemudian menciumnya, dan beliau berkata : Sungguh aku mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak memberikan manfaat. Seandainya aku dahulu tidak melihat Rasulullah menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.

Dan didalam shahih alBukhari dari Al Zubair Ibnu Aroby beliau berkata seorang laki2 bertanya pada Ibnu Umar tentang mengusap Hajar Aswad maka Abdullah Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma berkata Aku melihat Rasulullah dahulu mengusapnya dan menciumnya.

Dari Nafi’ beliau berkata : Aku melihat Abdullah Ibn Umar mengusap Hajar Aswad dengan tangannya kemudia mencium tangannya, dan ia berkata : Aku tidak meninggalkan amalan ini semenjak aku melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  melakukannya.

HR Muslim.

Dalam hadits Abi Tufail rhadiyallahu anhu beliau berkata aku melihat Rasulullah thawaf disekitar Baitullah dan beliau mengusap rukun Hajar Aswad dengan tongkat yang bersama beliau dan akhirnya beliau mencium tongkat tersebut.

HR Muslim.

Dalil bahwa Rasul memberi isyarat ke Hajar Aswad adalah hadits Ibnu Abbas, beliau berkata :

Nabi melakukan  thawaf diatas unta beliau dan setiap beliau melewati hajar Aswad beliau memberi isyarat pada Hajar Aswad.  Dan apabila sampainya seseorang ke Hajar Aswad untuk menciumnya atau mengusapnya tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengganggu orang lain maka hendaklah ia meninggalkan amalan ini dan melanjutkan thawafnya, karena mengusap Hajar Aswad adalah mustahab, adapun mengganggu manusia maka hukumnya HARAM.

Sebagian mengatakan apabila seseorang mengusap Hajar Aswad dan menciumnya maka ia mengatakan Bismillahi Allahu Akbar, dan apabila memberikan isyarat maka cukup mengatakan Allahu Akbar.

Berkata Abdullah Ibn Abbas, Rasulullah melaksanakan thawaf diatas unta beliau, setiap beliau melewati rukun hajar aswad beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang ada di sekitar beliau dan beliau bertakbir.

HR bukhari.

Telah shahih dari Abdullah bin Umar bahwa beliau menggabungkan Bismillah dan Allahu Akbar ketika mengusap Hajar Aswad.  Atsar ini dikeluarkan oleh al Baihaqi dengan sanad yang shahih.

S e l e s a i

Abdullah Roy di kota Al Madinah