Tag Archives: doa dan kajian islami

DOA-DOA KITA DARI AL QUR’AN dan HADITS

 

DOA-DOA KITA DARI AL QUR’AN dan HADITS
📝 Muhammad Nur Muttaqien

 

🎀DOA-DOA KITA DARI AL QUR’AN dan HADITS

 

1| DOA MINTA KETURUNAN YANG BAIK
Qs. Ali Imran (3): 38

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Ya Tuhanku! Anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu anak cucu yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa

 

2| DOA AMPUNAN DAN RAHMAT UNTUK SAUDARA
Qs. Al A’rof (7): 151

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Ya Tuhanku! Ampunilah aku dan saudaraku dan masukkan kami ke dalam rahmat-Mu. Engkau adalah Yang paling penyayang di antara yang penyayang.

 

3| BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI MEMINTA SESUATU YANG TIDAK BENAR
Qs. Hud (11): 47

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari meminta sesuatu yang aku tidak memiliki ilmunya. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati aku, tentu aku termasuk orang yang merugi.

 

4| DOA AGAR DIBERI KETURUNAN YANG SELALU MELAKSANAKAN SHALAT
Qs. Ibrahim (14): 40

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku! Jadikanlah aku penegak shalat, demikian pula keturunanku. Ya Tuhan kami! Kabulkanlah permohonanku.

 

5| DOA UNTUK ORANG TUA
Qs. Al Isro (17): 24

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Ya Tuhanku! Sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua menyayangi aku di waktu aku kecil

 

6| DOA AGAR KELUAR MASUK DENGAN CARA YANG BENAR DAN PUNYA KEKUASAAN YANG MENOLONG 
Qs. Al Isro (17): 80

رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Ya Tuhanku! Masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar dan jadikanlah untukku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong

 

7| DOA MINTA KELAPANGAN HATI, KEMUDAHAN URUSAN, KEFASIHAN BICARA
Qs. Toha (20): 25 – 28

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Ya Tuhanku! Lapangkan untukku hatiku ini, mudahkanlah untukku urusanku ini, dan lepaskanlah kekeluan pada lidahku, agar mereka mengerti apa yang aku katakan

 

8| DOA AGAR ILMU BERTAMBAH
Qs. Toha (20): 114

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Ya Tuhanku! Tambahkanlah ilmu pengetahuan untukku

 

9| DOA MINTA KETURUNAN
Qs. Al Anbiya (21): 89

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, karena Engkau adalah Waris yang paling baik

 

10| DOA MINTA KEPUTUSAN YANG ADIL
Qs. Al Anbiya (21): 112

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Ya Tuhanku! Berikanlah keputusan dengan adil. Dan Tuhanku adalah Yang Maha Pengasih Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian katakan.

 

11| DOA MEMINTA TEMPAT YANG DIBERKAHI
Qs. Al Mukminun (23): 29

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Ya Tuhanku! Tempatkanlah aku di tempat yang diberkahi, karena Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat

 

12| DOA AGAR TIDAK DIGABUNGKAN BERSAMA ORANG-ORANG ZOLIM
Qs. Al Mukminun (23): 94

رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Ya Tuhanku! Maka janganlah Engkau jadikan aku bersama orang-orang yang zalim

 

13| BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI BISIKAN DAN KEHADIRAN SETAN
Qs. Al Mukminun (23): 97 – 98

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ  وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Ya Tuhanku! Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan-setan dan aku berlindung kepada-Mu dari kehadiran mereka

 

14| DOA MEMOHON AMPUNAN DAN RAHMAT ALLAH
Qs. Al Mukminun (23): 118

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Ya Tuhanku! Berilah ampunan dan rahmat, karena Engkau adalah sebaik-baik yang Menyayangi

 

15| DOA MEMOHON HIKMAH DAN BERGABUNG BERSAMA ORANG-ORANG SOLEH
Qs. Al Syu’aro (26): 83

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ …

Ya Tuhanku! Berikanlah hikmah kepadaku dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang soleh

 

16| DOA AGAR DI KALA KITA MENINGGAL, YANG DIBICARAKAN ORANG IALAH YANG BAIK-BAIK
Qs. Al Syu’aro (26): 84

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآَخِرِينَ …

dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian

 

17| DOA AGAR DIJADIKAN PEWARIS SURGA
Qs. Al Syu’aro (26): 85

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ …

dan jadikanlah aku termasuk pewaris surga yang penuh dengan kenikmatan

 

18| DOA AGAR TIDAK DIHINAKAN DI HARI AKHIRAT NANTI
Qs. Al Syu’aro (26): 87

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ

dan janganlah Engkau hinakan aku di hari mereka dibangkitkan

 

19| DOA AGAR TIDAK TERBAWA ARUS NEGATIF DARI MASYARAKAT SEKITAR
Qs. Al Syu’aro (26): 169

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

Ya Tuhanku! Selamatkan aku dan keluargaku dari apa yang mereka kerjakan

 

20| DOA AGAR DIBERI KEKUATAN UNTUK BERSYUKUR
Qs. Al Naml (27): 19

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ …

Ya Tuhanku! Ilhamkanlah kepadaku agar aku dapat mensyukuri ni’mat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku

 

21| DOA AGAR DIBERI KEKUATAN UNTUK BERAMAL SOLEH DAN DIGABUNGKAN DENGAN ORANG-ORANG SHOLEH
Qs. Al Naml (27): 19

وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

dan ilhamkanlah kepadaku untuk melakukan amal soleh yang Engkau ridloi dan masukkanlah dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh

 

22| DOA MINTA AMPUNAN SETELAH MENZALIMI ORANG
Qs. Al Qoshosh (28): 16

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, oleh karena itu ampunilah aku

 

23| DOA MINTA DISELAMATKAN DARI ORANG-ORANG YANG ZALIM
Qs. Al Qoshosh (28): 21

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim

 

24| DOA MINTA KEBAIKAN DARI ALLAH
Qs. Al Qoshosh (28): 24

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Ya Tuhanku, sesungguhnya sangat membutuhkan terhadap kebaikan yang akan Engkau turunkan kepadaku

 

25| DOA MINTA DISELAMATKAN DARI PARA PERUSAK
Qs. Al Ankabut (29): 30

رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Ya Tuhanku, tolonglah aku terhadap kaum yang melakukan kerusakan

 

26| DOA MINTA KETURUNAN YANG SOLEH
Qs. Al Shoffat (37): 100

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang soleh.

 

27| DOA MINTA TAUFIQ UNTUK MENSYUKURI NI’MAT ALLAH
Qs. Al Ahqof (46): 15

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ …

Ya Tuhanku! Ilhamkanlah kepadaku agar aku dapat mensyukuri ni’mat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku

 

28| DOA MINTA TAUFIQ UNTUK BERAMAL SOLEH, AGAR DIPERBAIKI KETURUNAN, TOBAT DAN BERSERAH DIRI
Qs. Al Ahqof (46): 15

وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

dan ilhamkanlah kepadaku untuk melakukan amal soleh yang Engkau ridloi, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.

 

29| DOA MINTA DIBANGUNKAN RUMAH DI SURGA
Qs. Al Tahrim (66): 11

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Ya Tuhanku! Bangunkanlah untukku sebuah rumah di dalam surga

 

30| DOA MINTA AMPUNAN UNTUK DIRI SENDIRI, ORANG TUA DAN SEISI RUMAH
Qs. Nuh (70): 28

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Ya Tuhanku! Ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan siapa saja yang masuk rumahku dalam keadaan beriman, baik laki-laki maupun wanita.

 

31| DOA AGAR AMAL KITA DITERIMA OLEH ALLAH
Qs. Al Baqarah (2): 127

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 

32| DOA AGAR MENDAPATKAN KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT DAN TERHINDAR DARI API NERAKA 
Qs. Al Baqarah (2): 201

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

 

33| DOA KETIKA BERHADAPAN DENGAN MUSUH DI MEDAN PERANG
Qs. Al Baqarah (2): 250

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.

 

34| DOA JANGAN DIHUKUM BILA LUPA ATAU TERSALAH
Qs. Al Baqarah (2): 286

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

 

35| DOA AGAR TIDAK DIBERI BEBAN YANG SAMA DENGAN UMAT SEBELUM KITA
Qs. Al Baqarah (2): 286

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

 

36| DOA AGAR TIDAK DIBERI BEBAN YANG BERAT, DIMAAFKAN, DIAMPUNI DAN DISAYANGI
Qs. Al Baqarah (2): 286

وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

 

37| DOA AGAR HATI SENANTIASA ISTIQOMAH DALAM KEBENARAN
Qs. Ali Imran (3): 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

38| DOA PENGINGAT AKAN HARI BERKUMPUL DI AKHIRAT NANTI
Qs. Ali Imran (3): 9

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

 

39| DOA MINTA AMPUNAN DAN TERHINDAR DARI API NERAKA
Qs. Ali Imran (3): 16

رَبَّنَا إِنَّنَا آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”

 

40| DOA MINTA DICATAT SEBAGAI SAKSI KEBENARAN NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM
Qs. Ali Imran (3): 53

رَبَّنَا آَمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.

 

41| DOA PARA MUJAHIDIN
Qs. Ali Imran (3): 147

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

 

42| DOA MELIHAT HEBATNYA CIPTAAN ALLAH
Qs. Ali Imran (3): 191

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka

 

43| DOA PERNYATAAN BAHWA MASUK NERAKA ITULAH ORANG YANG HINA
Qs. Ali Imran (3): 192

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

 

44| DOA PERNYATAAN KEIMANAN
Qs. Ali Imran (3): 193

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman.

 

45| DOA MINTA AMPUNAN DOSA, DIHAPUS KESALAHAN, DIWAFATKAN BERSAMA ORANG BERBAKTI
Qs. Ali Imran (3): 193

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

 

46| DOA MINTA ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA KEPADA KITA DAN AGAR ALLAH JANGAN HINAKAN KITA
Qs. Ali Imran (3): 194

رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.

47| DOA SAAT TERZALIMI OLEH ORANG KAFIR
Qs. Al Nisa (4): 75

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

 

48| DOA MINTA DICATAT SEBAGAI SAKSI KEBENARAN NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM
Qs. Al Maidah (5): 83

رَبَّنَا آَمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).

 

49| DOA TOBAT
Qs. Al A’raf (7): 23

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

 

50| DOA MINTA KEPUTUSAN YANG BENAR TERHADAP ORANG KAFIR
Qs. Al A’rof (7): 89

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

 

51| DOA MINTA SABAR DAN WAFAT SEBAGAI MUSLIM
Qs. Al A’rof (7): 126

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.

 

52| DOA AGAR TIDAK MENJADI SASARAN FITNAH ORANG ZALIM DAN SELAMAT DARI ORANG KAFIR
Qs. Yunus (10): 85 – 86

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ‪.‬ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir”.

 

53| DOA PERNYATAAN BAHWA ALLAH TAHU SEGALANYA
Qs. Ibrahim (14): 38

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

 

54| DOA AMPUNAN UNTUK DIRI DAN KEDUA ORANG TUA DAN ORANG-ORANG BERIMAN
Qs. Ibrahim (14): 41

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

 

55| DOA MINTA AMPUNAN DAN RAHMAT ALLAH
Qs. Al Mu’minun (23): 109

رَبَّنَا آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.

 

56| DOA MINTA DIHINDARKAN DARI API NERAKA JAHANNAM
Qs. Al Furqon (25): 65 – 66

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ‪.‬ إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

 

57| DOA MINTA ISTERI (PASANGAN) DAN ANAK YANG MENYENANGKAN HATI
Qs. Al Furqon (25): 74

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

 

58| DOA AMPUNAN UNTUK DIRI DAN SAUDARA SESAMA MUSLIM
Qs. Al Hasyer (59): 10

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

 

59| DOA TAWAKKAL DAN TOBAT
Qs. Al Mumtahanah (60): 4

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”.

 

60| DOA MINTA AMPUNAN DAN JANGAN DIJADIKAN SASARAN FITNAH ORANG KAFIR
Qs. Al Mumtahanah (60): 5

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

61| MEMOHON AGAR SENANTIASA BERBUAT BAIK, MENINGGALKAN PERBUATAN BURUK DAN MENCINTAI ORANG MISKIN
HR. Tirmidzi No: 3157, dari Ibnu Abbas r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar aku selalu melakukan kebaikan, meninggalkan kemunkaran dan mencintai orang miskin.

 

62| MEMOHON SUPAYA DIWAFATKAN DALAM KEADAAN TIDAK TERKENA FITNAH
HR. Tirmidzi No: 3157, dari Ibnu Abbas r.a.

وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

Dan apabila Engkau hendak memberikan fitnah kepada hamba-hamba-Mu, maka cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak terkena fitnah.

 

63| MEMOHON AGAR SENANTIASA BERZIKIR, BERSYUKUR DAN BERIBADAH SEMAKIN BAGUS
HR. Abu Daud No: 1301, dari Mu’adz bin Jabal r.a.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah saya untuk senantiasa berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadahku kepada-Mu

 

64| BERLINDUNG DARI AZAB JAHANNAM, AZAB KUBUR, FITNAH HIDUP DAN MATI DAN FITNAH DAJJAL
HR. Muslim No: 924, dari Abu Hurairah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam dan dari azab kubur, dan dari fitnah hidup dan mati dan dari kejahatan fitnah al Masih Dajjal

 

65| MEMOHON KELUASAN RIZKI DI PENGHUJUNG HIDUP
HR. Hakim No: 1987, dari Aisyah r.a.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّي وَانْقِطَاعِ عُمْرِي

Ya Allah, jadikanlah rizkiku terluas adalah di saat usiaku tua dan berakhirnya usiaku

 

66| DOA MEMOHON CAHAYA – 1
HR. Bukhori No; 5841, dari Ibnu Abbas r.a.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا

Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di mataku, cahaya di telingaku, cahaya di sebelah kananku dan cahaya di sebelah kiriku

 

67| DOA MEMOHON CAHAYA – 2
HR. Bukhori No; 5841, dari Ibnu Abbas r.a.

وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

Cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan jadikanlah cahaya untukku

 

68| MEMOHON DIJAGA KEISLAMAN DAN DILINDUNGI DARI BAHAN TERTAWAAN MUSUH
HR. Hakim No: 1924, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.

اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ قَائِمًا، وَاحْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ قَاعِدًا، وَاحْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ رَاقِدًا، وَلَا تُشْمِتْ بِي عَدُوًّا حَاسِدًا،

Ya Allah, jagalah aku dengan Islam di saat berdiri, jagalah aku dengan Islam di saat duduk, dan jagalah aku dengan Islam di saat berbaring, dan janganlah aku dijadikan bahan tertawaan musuh yang dengki

 

69| MEMOHON SEGALA KEBAIKAN DAN BERLINDUNG DARI SEGALA KEBURUKAN
HR. Hakim No: 1924, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.

وَاللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ

Dan Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang perbendarahaannya ada di tangan-Mu.. dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang perbendaraannya ada di tangan-Mu.

 

70| MEMOHON AGAR AIB TERTUTUP, AMAN DARI RASA TAKUT DAN HUTANG LUNAS
HR. Tabrani No: 3710, dari Khobbab al Khuza’iy r.a.

اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِي، وَآمِنْ رَوْعَتِي، وَاقْضِ عَنِّي دَيْنِي

Ya Allah, tutuplah aibku, berilah rasa aman dari ketakutanku, dan lunasilah hutangku

 

71| MEMOHON PERBAIKAN UNTUK AGAMA, DUNIA DAN AKHIRAT
HR. Muslim No: 4897, dari Abu Hurairah r.a.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي

Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan pegangan hidupku, dan perbaikilah duniaku yang di sana aku hidup, dan perbaikilah akhiratku yang ke sana aku akan kembali.

 

72| MEMOHON AGAR TAMBAHAN UMUR ATAU KEMATIAN BERUJUNG DENGAN KEBAIKAN
HR. Muslim No: 4897, dari Abu Hurairah r.a.

وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Dan jadikanlah hidupku sebagai tambahan segala kebaikan untukku dan jadikanlah matiku istirahat bagiku dari segala macam keburukan.

 

73| MOHON AMPUNAN LENGKAP – 1
Hr. Bukhori No: 6398, dari Abu Musa Al Asy’ari r.a.

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي

Ya Tuhanku, ampunilah bagiku ketersalahanku dan kebodohanku dan berlebihan aku dalam segala urusanku, dan apa yang Engkau lebih tahu dari aku

 

74| MOHON AMPUNAN LENGKAP – 2
Hr. Bukhori No: 6398, dari Abu Musa Al Asy’ari r.a.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ، وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي

Ya Allah, berikanlah bagiku ampunan atas kesalahan-kesalahanku, kesengajaanku, kebodohanku dan candaku. Dan semua itu dari aku.

 

75| MOHON AMPUNAN LENGKAP – 3
Hr. Bukhori No: 6398, dari Abu Musa Al Asy’ari r.a.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ‪ ‬أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ya Allah, berilah bagiku ampunan atas apa yang telah aku lakukan dan apa yang aku abaikan, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku nyatakan … Engkau Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

76| MOHON AMPUNAN, RUMAH YANG LUAS, RIZKI YANG BERKAH
Hr. Tirmidzi No: 3500, dari Abu Hurairah r.a.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي

Ya Allah, berilah bagiku ampunan untuk dosaku, luaskanlah untukku rumahku dan berikanlah keberkahan bagiku pada apa yang Engkau rizkikan kepadaku

 

77| MOHON AMPUNAN DAN AKHLAK YANG BAIK – 1
Hr. Tabrani No: 4442, dari Abu Ayyub r.a.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَذُنُوبِي كُلِّهَا، اَللَّهُمَّ وَانْعَشْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَالْأَخْلَاقِ

Ya Allah, berilah ampunan bagiku untuk kesalahan-kesalahanku dan dosa-dosaku semuanya… Ya Allah, dan berilah aku semangat, tutupilah aku dan tunjukilah aku kepada amal yang soleh dan akhlak yang soleh.

 

78| MOHON AMPUNAN DAN AKHLAK YANG BAIK – 2
Hr. Tabrani No: 4442, dari Abu Ayyub r.a.

إِنَّهُ لَا يَهْدِي لِصَالِحِهَا وَلَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Sesungguhnya tidak ada yang sanggup menunjuki kepada amal dan akhlak yang baik, dan tidak pula memalingkan dari amal dan akhlak yang buruk, kecuali Engkau.

 

79| MOHON RASA TAKUT DAN KEPATUHAN KEPADA ALLAH
Hr. Tirmidzi No: 3502, dari Ibnu Umar r.a.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ

Ya Allah, berilah bagian untuk kami berupa rasa takut kepada-Mu yang dapat menjadi penghalang antara kami dan antara berbuat durhaka kepada-Mu .. dan berilah bagian untuk kami berupa kepatuhan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami memasuki surga-Mu

 

80| MOHON KEYAKINAN DAN KESENANGAN FISIK
Hr. Tirmidzi No: 3502, dari Ibnu Umar r.a.

وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا

dan bagian berupa keyakinan yang membuat kami merasa ringan menghadapi musibah-musibah dunia .. dan senangkanlah kami dengan apa yang kami dengar, apa yang kita lihat, dan kekuatan yang ada pada diri kami .. dan jadikanlah dia sebagai pewaris dari kami ..

 

81| MOHON PEMBALASAN DAN BANTUAN MENGHADAPI ORANG ZALIM
Hr. Tirmidzi No: 3502, dari Ibnu Umar r.a.

وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا

dan jadikanlah tuntut balas kami terhadap orang yang berbuat zalim kepada kami dan bantulah kami menghadapi orang yang berbuat aniaya kepada kami

 

82| MOHON DIHINDARI DARI MUSIBAH AGAMA, DIHINDARI DARI GODAAN DUNIA, DAN DIHINDARI DARI PEMIMPIN YANG ZOLIM
Hr. Tirmidzi No: 3502, dari Ibnu Umar r.a.

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai keinginan terbesar kami dan puncak ilmu pengetahuan kami, dan janganlah Engkau tunjuk untuk kami pemimpin yang tidak sayang kepada kami

 

83| MOHON PETUNJUK, KETAKWAAN, KEBERSIHAN DAN KEKAYAAN
Hr. Muslim No: 4898, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kebersihan dan kekayaan

 

84| MOHON KEBAIKAN DAN BERLINDUNG DARI KEBURUKAN – 1
Hr. Ibnu Majah No: 3836, dari Aisyah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan, semuanya, baik yang cepat ataupun yang lambat, yang aku tahu ataupun yang aku tidak tahu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan semuanya, baik yang cepat ataupun yang lambat, yang aku tahu dan yang aku tidak tahu

 

85| MOHON KEBAIKAN DAN BERLINDUNG DARI KEBURUKAN – 2
Hr. Ibnu Majah No: 3836, dari Aisyah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan yang dipintakan oleh hamba dan Nabi-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang berlindung daripadanya hamba dan Nabi-Mu.

 

86| MOHON SURGA DAN BERLINDUNG DARI APA NERAKA
Hr. Ibnu Majah No: 3836, dari Aisyah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan apa saja yang dapat mendekatkan ke sana, baik berupa ucapan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan apa pun yang mendekatkan ke sana, baik berupa ucapan ataupun perubatan.

 

87| MOHON SEGALA TAQDIR ALLAH BERUJUNG DENGAN KEBAIKAN
Hr. Ibnu Majah No: 3836, dari Aisyah r.a.

وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Dan aku mohon kepada-Mu segala keputusan yang telah Engkau tetapkan untuk-ku selalu mengandung kebaikan.

 

88| MOHON KARUNIA DAN RAHMAT ALLAH
Hr. Tabrani No: 10401, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ؛ فَإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karunia dan rahmat-Mu, karena sesungguhnya tidak ada yang memiliki keduanya, kecuali Engkau.

 

89| BERLINDUNG KECELAKAAN YANG BURUK DAN MASA TUA BANGKA
Hr. Abu Daud No: 1328, dari Abul Yasar r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa retuntuhan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari ketinggian. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam, terbakar dan masa tua bangka.

 

90| BERLINDUNG DARI KEMATIAN YANG BURUK
Hr. Abu Daud No: 1328, dari Abul Yasar r.a.

وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

Dan aku berlindung kepada-Mu dari dikuasai setan di saat kematian .. dan aku berlindung kepada-Mu dari kematianku berpaling dari jalan-Mu .. dan aku berlindung kepada-Mu dari kematian karena tesengat binatang buas

 

91| BERLINDUNG DARI BERBAGAI PENYAKIT BURUK
Hr. Abu Daud No: 1329, dari Anas bin Malik r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, lepra, dan segala macam penyakit yang buruk.

 

92| BERLINDUNG DARI LAPAR DAN KHIANAT
Hr. Abu Daud No: 1323, dari Abu Hurairah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena dia adalah teman tidur yang paling buruk, dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat, karena dia adalah teman dekat yang paling buruk.

 

93| BERLINDUNG DARI LEMAH, MALAS, PENGECUT, TUA BANGKA, FITNAH HIDUP DAN MATI, DAN AZAB KUBUR
Hr. Bukhori No: 2611, dari Anas bin Malik r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut dan tua bangka. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati. Dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.

 

94| BERLINDUNG DARI:
LEMAH, MALAS, PENGECUT, KIKIR, TUA BANGKA, KERAS HATI, LALAI, KEMELARATAN, KEHINAAN DAN KESENGSARAAN
Hr. Hakim No: 1944, dari Anas bin Malik r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ وَالْقَسْوَةِ، وَالْغَفْلَةِ، وَالْعِيلَةَ وَالذِّلَّةَ وَالْمَسْكَنَةَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran, tua bangka, hati yang keras, hati yang lalai, kemelaratan, kehinaan dan kesengsaraan.

 

95| BERLINDUNG DARI:
KEFAKIRAN, KEKUFURAN, KEFASIKAN, PERPECAHAN, KEMUNAFIKAN, SUM’AH DAN RIYA
Hr. Hakim No: 1944, dari Anas bin Malik r.a.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالْفُسُوقِ، وَالشِّقَاقِ، وَالنِّفَاقِ وَالسُّمْعَةِ، وَالرِّيَاءِ

Dan aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, perpecahan, kemunafikan, sum’ah dan riya.

 

96| BERLINDUNG DARI:
TULI, BISU, GILA, LEPRA, SOPAK DAN PENYAKIT-PENYAKIT BURUK LAINNYA
Hr. Hakim No: 1944, dari Anas bin Malik r.a.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ وَالْبَكَمِ وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَالْبَرَصِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Dan aku berlindung kepada-Mu dari tuli, bisu, gila, lepra, sopak dan penyakit-penyakit buruk lainnya.

 

97| BERLINDUNG DARI:
KELEMAHAN, KEMALASAN, KETAKUTAN, KEKIKIRAN, MASA TUA YANG HINA DAN AZAB KUBUR

Hr. Muslim: 4899, dari Zaid bin Arqom r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, masa tua yang hina dan azab kubur.

 

98| MEMOHON AGAR:
DIBERI HATI YANG TAKWA DAN SUCI
Hr. Muslim: 4899, dari Zaid bin Arqom r.a.

اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Ya Allah berikanlah ke dalam jiwaku ketakwaannya. Dan sucikanlah dia. Engkau adalah yang terbaik yang mensucikan jiwa. Engkau adalah penolong dan pelindungnya.

 

99| BERLINDUNG DARI:
ILMU YANG TIDAK BERGUNA, HATI YANG TIDAK KHUSYU’, NAFSU YANG TIDAK KENYANG DAN DOA YANG TIDAK DIKABULKAN
Hr. Muslim: 4899, dari Zaid bin Arqom r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.

 

100| BERLINDUNG DARI:
KEFAKIRAN, KEMISKINAN, KEHINAAN, MENZALIMI DAN DIZALIMI
 
Hr. Abu Daud: 1320, dari Abu Hurairah r.a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kemiskinan dan kehinaan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari menzalimi orang lain atau dizalimi orang lain.

 

 

 

🌑Alhamdulillah… Telah terbit…!!!

📚 Buku DOA-DOA KITA jilid 1

Memuat 100 doa dari Al Qur’an dan Al Hadis. Tebal 121 halaman. Teks Arab besar. Disertai rujukan doa, penulisan latin, terjemah, sedikit keterangan, dan kamus doa. Infaq 1 buku Rp.30.000.

Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3

 

? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 53 | Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H053
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke-53 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ويجوز أن يأتم الحر بالعبد))

“Dan boleh bagi seorang yang merdeka mengikuti (menjadi makmum) dari seorang hamba sahaya (budak)”

Hal ini berdasarkan hadīts tentang ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri 1/140:

وَكَانَتْ عَائِشَةُ: «يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ المُصْحَفِ»

“Dan ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau diimami oleh hamba sahayanya (Dzakwan) dengan membaca mushaf”

⇛Dzakwan adalah budak ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((والبالغ بالمراهق))

“Dan begitu pula boleh bagi seorang yang bāligh menjadi makmum bagi anak kecil”

Disini adalah madzhab dari Syāfi’iyah dan kita lihat bagaimana hukum anak kecil yang menjadi imam.

Pendapat pertama

⇛ Bahwasanya tidak sah seorang Imām yang belum bāligh didalam shalāt yang wajib (Tidak sah hukumnya seorang anak kecil menjadi Imām dalam shalāt yang wajib)

Namun dia diperbolehkan dalam shalāt sunnah dengan syarat telah mencapai umur mumayyaz.

Umur Mumayyaz adalah umur seorang anak kecil yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat (berbahaya)

⇛Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulamā dari kalangan :

√ Hanafiyyah
√ Mālikiyyah
√ Hanābilah

Adapun hanafiyah, mereka tidak membolehkan secara mutlak baik dalam shalāt wajib maupun shalāt sunnah.

⇛Diantara alasannya adalah bahwasanya posisi Imām adalah posisi kesempurnaan, dan anak kecil yang belum bāligh maka dia tidaklah sempurna.

Pendapat Kedua:

⇛Bolehnya seorang anak kecil yang mumayyaz (yang sudah tamyiz) menjadi Imām bagi orang yang bāligh baik fardhu maupun sunnnah, namun yang lebih utama adalah seorang yang bāligh yang menjadi Imām.

⇛Ini adalah pendapat Syāfi’iyah karena mereka tidak mensyaratkan syarat bāligh untuk seorang Imām.

Dalīl mereka diantaranya adalah hadīts Amr bin salamah,” bahwasanya beliau mengimami kaumnya dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau masih berumur enam atau tujuh tahun”.

Dan pendapat ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat).

Syaikh bin Bāz, beliau menjawab pertanyaan dalam masalah ini:

لا بأس بإمامة الصبي إذا كان قد أكمل سبع سنين أو أكثر وهو يحسن الصلاة؛ لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ولكن الأفضل أن يختار الأقرأ من الجماعة

“Tidak mengapa kata beliau, Imām nya seorang anak kecil apabila dia telah menyempurnakan umurnya tujuh tahun atau lebih dan dia bagus dalam shalātnya, kata beliau bahwasanya hal itu ada dalīlnya dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan tentang bolehnya hal tersebut, akan tetapi yang paling afdhal adalah memilih yang paling baik bacaannya dari jama’ah atau dari kalangan orang-orang yang besar atau bāligh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((ولا تصح قدوة رجل بامرأة))

“Dan tidak sah shalāt laki-laki yang mengikuti wanita”

Bagaimana hukum Imamah wanita atau hukum wanita menjadi Imām di dalam shalāt

Ada 2 (dua) keadaan :

⑴ Apabila wanita tersebut menjadi Imām bagi para wanita yang lainnya,
maka hal ini boleh dan sah.

Berdasarkan dalīl-dalīl yang ada dan juga berdasarkan atsar bahwasanya ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau menjadi Imām dari kalangan shahābiat yang lainnya.

⑵ Wanita menjadi Imām bagi jama’ah laki-laki atau jama’ah campuran yang disana ada laki-lakinya atau jama’ah laki-laki yang masih kanak-kanak. Maka ini hukumnya tidak sah.

Menurut pendapat seluruh ulamā baik dari kalangan terdahulu maupun yang terkini, atau yang sekarang ini, baik ulama besar maupun yang kecil.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ولا قارئ بأمي))

“Dan tidak sah seorang qāri’ yang mengikuti shalāt seorang yang ummi”
√ Qāri’ disini (maksudnya) adalah orang yang baik dalam membaca surat Al Fātihah, karena Al Fātihah adalah termasuk rukun didalam shalāt.

√ Ummi disini (maksudnya) adalah orang yang jelek bacaan Al Fātihahnya, baik dalam makhrajnya, panjang pendeknya, tasydidnya dll, yang dapat merubah makna kalimat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Hendaklah yang menjadi Imām bagi sekelompok kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Al Qurānnya”

(Hadīts Riwayat Imām Muslim 1/465)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Waakhiru dakwah ana walhamdulillah
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
__________

 

shalat berjamaah 3

Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 24 Dzulhijjah 1438 H / 15 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 52 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H052
〰〰〰〰〰〰〰

SHALAT BERJAMA’AH (BAGIAN 2)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke 52 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-2

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وَعَلَى المَأْمُوْمِ أَنْ يَنُوْيَ الجَمَاعَة دُوْنَ الإِمَام))

“Dan wajib bagi ma’mum untuk berniat shalāt berjama’ah, berbeda dengan imam (Imam tidak wajib).”

Disyaratkan bagi seorang makmum, sebelum shalāt untuk melaksanakan shalāt berjama’ah dan mengikuti imam, untuk meniatkan bahwasanya dia ingin shalāt berjama’ah atau ingin mengikuti imam.

Dan tidak perlu kemudian diucapkan (dilafadzkan) cukup di dalam hati tatkala ada niat untuk shalāt berjama’ah, maka itu sudah cukup.

Adapun bagi imam maka tidak disyaratkan niat untuk shalāt berjama’ah, namun apabila mengetahui lebih utama apabila seorang imam berniat shalāt berjama’ah agar mendapatkan keutamaannya.

Adapun untuk shalāt jum’at dan shalāt Eid’, maka disyaratkan bagi seorang imam untuk niat shalāt berjama’ah.

Contoh misalnya, tatkala seorang sedang shalāt kemudian tiba-tiba dibelakangnya ada ma’mum yang shalāt mengikuti orang tersebut, sementara orang tersebut tidak menyadarinya bahwasanya ada yang mengikuti shalāt nya, maka shalāt mereka adalah sah karena ma’mum disyaratkan untuk niat shalāt berjama’ah sementara imam tidak disyaratkan.

Artinya tatkala Imām tidak mengetahui dia menjadi Imām atau tidak ada niat untuk menjadi Imām akan tetapi kemudian posisi dia ternyata sebagai Imām maka ini hukumnya sah.

Ada beberapa poin penting

Hukum niat ma’mum yang berbeda dengan niat Imām

Apa hukum niat ma’mum yang berbeda niat dengan Imām ?

⇛Masalah ini dijawab secara ringkas oleh Syaikh Bin Bāz.

Kata beliau :

الصواب أنها صحيحة؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- صلى في الخوف ببعض المسلمين ركعتين صلاة الخوف، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، فصارت الأولى له فريضة، والثانية له نافلة وهم لهم فريضة، وكان معاذ -رضي الله عنه- يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في العشاء صلاة الفريضة، ثم يرجع ويصلي بقومه صلاة العشاء نافلةً له وهي لهم فرض، فدل ذلك على أنه لا حرج في اختلاف النية، وهكذا لو أن إنسان جاء إلى المسجد وصلى العصر, وهو لم يصلي الظهر, فإنه يصلي معهم العصر بنية الظهر ولا حرج عليه في أصح قولي العلماء, ثم يصلي العصر بعد ذلك. جزاكم الله خيراً

” Yang benar yang shahīh dalam masalah ini bahwasanya shalāt tersebut (berbeda niat antara Imām dan ma’mum) adalah sah.”

Beliau berdalīl dengan shalāt khauf dan kisah shalātnya Mu’ādz bin Jabbal, manakala beliau (Mu’ādz bin Jabbal) shalāt Isya’fardhu bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau pulang untuk mengimami kaumnya dan posisi shalāt beliau adalah posisi shalāt sunnah sementara kaumnya posisinya shalāt fardhu.

Maka berbeda niat ini diperbolehkan

Ada beberapa pembahasan seputar niat Imām dan niat ma’mum, yang secara ringkasnya sebagai berikut:

· Yang Pertama | Terkait dengan jenis shalāt

Secara ringkas ada beberapa keadaan:

1. Ma’mum shalāt wajib dibelakang Imām shalāt wajib maka hukumnya boleh.
2. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt sunnah maka hukumnya boleh.
3. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt wajib, maka hukumnya boleh.
4. Ma’mum shalāt wajib dan Imām shalāt sunnah, disini para ulama berbeda pendapat apakah sah ataukah tidak sah?

⇛Yang shahīh dan rājih sebagaiamana yang disampaikan Syaikh Utsaimin, maka boleh tidak mengapa dan sah shalātnya.

Dalīlnya berdasarkan kisah Mu’ādz bin Jabbal yang shalāt wajib bersama Rasūlullāh,kemudian beliau pulang lalu shalāt sunnah dan beliau mengimami kaumnya.

· Yang Kedua | Terkait dengan bilangan shalāt

Ringkasan keadaannya sebagai berikut :

⑴ Apabila ma’mum shalāt dengan Imām yang bilangan raka’atnya lebih sedikit.

⇛ Misalnya : Seorang ma’mum shalāt ashar (karena qadha’ atau tertidur atau lupa atau sebab lainnya) sedangkan Imām shalāt maghrib, maka ma’mum harus 4 (empat) raka’at , Imām 3 (tiga) raka’at (Imām lebih sedikit), maka tatkala Imām selesai salam, maka ma’mum harus menyempurnakan shalāt menjadi 4 (empat) raka’at setelah Imām selesai.

⑵ Apabila ma’mum shalāt dengan raka’at yang sama dengan Imām, maka (jelas) ma’mum menyempurnakan shalātnya.

⇛ Misalnya : Ma’mum shalāt dhuhur dan Imām shalāt ashar (sama-sama 4 raka’at)

⑶ Apabila ma’mum shalāt dengan bilangan raka’at yang lebih sedikit dari Imām.

⇛Misalnya : Ma’mum shalāt maghrib 3 raka’at dan Imām shalāt isya’ 4 raka’at .

Dan disebutkan oleh Syaikh Utsaimin beberapa keadaan:

√ Apabila Imām berada di raka’at ke-3 (tiga) dan ma’mum mulai shalāt raka’at ke-3 (tiga) dan ke-4 (empat) bersama Imām, artinya ma’mum masbuk pada raka’at ke-3 (tiga), maka tatkala Imām salam, dia (ma’mum) tinggal menyempurnakan raka’at yang kurang (masih kurang 1 (satu) raka’at lagi).

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at ke-2 (dua), maka ma’mum ikut salam bersama Imām, tatkala Imām salam maka ma’mum pun salam (karena dia sudah selesai yaitu Maghrib 3 (tiga) raka’at dan Imām sudah selesai 4 (empat) raka’at dan selesai bersama-sama.

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at pertama, maka pada raka’at yang ke-3 (tiga), apa yang dilakukan ?

Disebutkan ma’mum duduk tasyahud dan menunggu Imām yang bangkit ke raka’at ke-4 (empat) dan tatkala Imām sudah sampai di raka’at ke-4 dan kemudian tasyahud maka ma’mum pun salam bersama Imām.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa lebih baik ma’mum ini menunggu dalam keadaan sujud, artinya dia sujud sampai Imām sujud, kemudian mengikuti gerakan Imām sampai salamnya (salam bersama Imām)

Menurut Syaikh Utsaimin ini adalah pendapat yang rājih dalam masalah ini, sebagaimana yang beliau nukilkan dari pendapat Syaikhul Islām Ibnu Taymiyyah rahimahullāh.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

shalat berjamaah 2

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 23 Dzulhijjah 1438 H / 14 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 51 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H051
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan halaqah yang ke-51, dan kita masuk pada fasal tentang “Shalāt Berjama’ah”

قال المصنف :

Berkata penulis rahimahullāh

((وصلاة الجماعة سنة مؤكدة))

“Dan shalāt berjamaah hukumnya adalah sunnah mu’akkadah”

⇛Disini pendapat dari sebagian Syāfi’iyah tentang shalāt berjama’ah bahwasanya hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Dan kita lihat bahwasanya para ulamā telah ijma’ bahwa shalāt berjama’ah hukumnya adalah disyariatkan dan memiliki keutamaan yang besar.

Namun para ulamā berselisih pendapat mengenai hukumnya.

⇛Imām An-Nawawi menyembutkan dalam Kitāb Al Majmu’ bahwa para ulamā mahzhab Syāfi’iyah sendiri mereka berselisih pendapat tentang hukum shalāt berjama’ah bagi bagi seorang laki-laki.

· Pendapat pertama | Fardhu Kifayah
(Hukumnya wajib, namun apabila sebagian telah melaksanakan maka gugurlah kewajiban bagi yang lain).

Dalīl nya adalah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

سنن النسائي (2/ 106)
»ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا قد استحوذ عليهم الشيطان، فعليكم بالجماعة؛ فإنما يأكل الذئب القاصية

“Apabila dalam sebuah kampung atau pedalaman ada tiga orang namun tidak menegakkan shalāt berjama’ah maka mereka telah dikuasai syaithān, Maka wajib bagi kalian untuk berjama’ah, karena sesungguhnya serigala hanyalah memangsa kambing yang sendirian.”

(Hadīts riwayat Imām Nasāi’, Abū Dāwūd dan Hakim)

⇛Dan kata beliau (Imām Nawawi) yang shahīh (Rājih) bahwasanya yang shahīh didalam mahzhab Syāfi’ī dan menjadi rujukan dalam Madzhab Syāfi’ī, adalah pendapat bahwa shalāt berjama’ah hukumnya fardhu kifayah.

·Pendapat Kedua | Sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan)

Dan ini juga disebutkan oleh sebagian para ulamā Syāfi’iyah.

Berdasarkan dalīl hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu,

المجموع شرح المهذب (4/ 182)
لما روى أبو هريرة رضي الله عنه إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : صلاة الجماعة افضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة

“Bahwasanya shalāt berjama’ah utama dua puluh lima derajat daripada shalāt kalian sendirian”

Mereka mengatakan tatkala dibandingkan dengan sesuatu yang Sunnah maka hukum shalāt berjama’ah adalah sunnah.

⇛Ini pendapat sebagian Syāfi’iyah dan juga diantaranya pendapat penulis bahwa sunnah

· Pendapat ketiga | Fardhu ‘ain
(Wajib bagi setiap muslim laki-laki)

Ini juga adalah pendapat kalangan ulamā Syāfi’iyah dan Hanābilah dan sebagian Hanafiyyah.

Dan juga dari para ulamā dari kalangan salaf dan pendapat ini dipilih oleh Imām Bukhāri, Imām Ibnu Taimiyyah, begitu juga Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

Dan ini adalah pendapat yang Wallāhu a’lam lebih kuat dari sisi pendalīlannya dan juga lebih hati-hati.

Diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

“Dan apabila kamu (Muhammad) berada ditengah-tengah mereka, maka tegakkan lah bersama mereka shalāt (berjamaah), dan hendaknya sebagian kelompok yang shalāt bersama engkau..”

(QS An Nisā’ : 102)

Ayat diatas bercerita tentang tata cara shalāt berjama’ah dalam kondisi perang atau kondisi takut.

⇛Jika dalam kondisi perang saja, diwajibkan untuk shalāt, maka tentunya dalam kondisi aman dan tenang maka lebih utama untuk diwajibkan hukumnya.

Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata,

عن أبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه، قال: )) أتَى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ رجلٌ أعمى، فقال: يا رسولَ الله، إنَّه ليس لي قائدٌ يقودني إلى المسجِدِ، فسألَ رسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ أن يرخِّصَ له، فيُصلِّيَ في بيتِه، فرخَّص له، فلمَّا ولَّى دعاه، فقال: هلْ تَسمعُ النِّداءَ بالصَّلاةِ؟ قال: نعَم، قال: فأجِبْ (( رواه مسلم

“Ada seorang yang buta, yang datang kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian dia berkata, ” Wahai Rasūlullāh, saya tidak punya seorang yang bisa menuntun saya masjid”, maka diapun meminta kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar memberikan rukhsah (keringanan) kepadanya sehingga dia bisa shalāt dirumahnya. Kemudian Nabipun memberikan keringanan kepadanya (orang buta tersebut) tatkal orang tersebut beranjak pergi, maka kemudian Nabi pun memanggilnya dan bersabda ” Apakah kamu mendengar adzan untuk shalāt ?” Orang buta itu pun menjawab : “Ya”, maka Rasūlullāh pun bersabda: ” Maka jawablah atau datangilah (itu hukumnya wajib)”

(Hadīts riwayat Imām Muslim)

Dalīl diatas menunjukkan bahwa hukum shalāt berjama’ah dimasjid adalah wajib, bahkan bagi orang yang buta yang dia mendengar adzan.

Maka tentunya bagi selainnya orang buta tersebut (orang yang sehat) maka hukumnya lebih wajib.

Demikian, semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 09 Muharam 1439 H / 29 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-3
~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwāt, kita masih melanjutkan hadits yang ke-6 bagian ke-3.

Kita melanjutkan sifat-sifat nifaq ‘amali (nifaq kecil) dan kita masuk pada sifat yang ke-2.
?Yang kedua | Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

“Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.”

Penyelisihan janji ada 3 model:

– Pertama, dia berjanji dan dalam niatnya dia tidak akan menepati janji tersebut.

Dan inilah yang merupakan sifat munafiq, kenapa?

Karena zhahirnya menyelisihi batinnya.

Dia berjanji akan melakukan demikian tapi di dalam hatinya, “Saya tidak akan melakukan.”

Ini jelas merupakan kemunafikan, ini adalah perbuatan yang sangat buruk.

– Adapun yang kedua, yaitu dia berjanji kemudian di dalam hatinya dia akan memenuhi janji, namun qodarallāh, setelah itu dia tidak jadi (menyelisihi janji) karena ada udzur.

Maka ini sama sekali bukan sifat kemunafikan dan orang ini sama sekali tidak berdosa, kenapa?

Karena:
1. Dia sudah berniat untuk memenuhi janji.
2. Dia menyelisihi janji tersebut karena ada udzur.

– Ada lagi yang ketiga, seseorang berjanji dan dalam niatnya akan memenuhi janji tersebut, kemudian akhirnya dia tidak memenuhi janji tersebut namun tanpa udzur.

Apakah orang ini berdosa dan termasuk dalam sifat-sifat orang munafik?

Jawabannya, Wallāhu A’lam bish Shawwab, ini tidak termasuk sifat orang munāfik, karena tadi kita katakan bahwa: “Seluruh sifat-sifat nifaq ‘amali kembali kepada peneyelisihan zhahir dan batin.”

Dan ini zhahir dan batinnya sudah benar, dia berjanji dan dalam hatinya juga akan memenuhi, akan tetapi setelah itu tiba-tiba dia menyelisihi.

Dia tidak memenuhi janjinya tanpa ada uzdur sama sekali.

Apakah dia berdosa atau tidak maka ada khilaf di kalangan para ulama.

Jumhur ulama seperti madzhab 3 imam, yaitu Abu Hanifa, Syafi’i dan Imam Ahmad, bahwasannya orang ini tidak berdosa karena telah datang dalam suatu hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا وَعَدَ الرَّجُلُ أَخَاهُ – وَمِنْ نِيَّتِهِ أَنْ يَفِيَ لَهُ – فَلَمْ يَفِ وَلَمْ يَجِئْ لِلْمِيعَادِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

“Kalau seseorang sudah berjanji kepada saudaranya, kemudian dia berniat untuk memenuhi janjinya, kemudian dia tidak memenuhi, maka dia tidak berdosa.”

(Hadits dha’if riwayat Abu Daud)

Ini adalah dalil jumhur bahwasannya orang ini tidak berdosa, namun hadits ini adalah hadits yang lemah (dha’if).

Oleh karenanya, kita katakan bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat sebagian ulama dan pendapat sebagian salaf seperti: ‘Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri dan Ishaq bin Rahuyah dan juga pendapat Zhahiriyyah, yaitu orang ini berdosa, kenapa?

Karena dia sudah berjanji dan kewajiban bagi dia adalah memenuhi janji.

Dia tidak berdosa kalau ada udzur tetapi kalau tidak ada udzur maka tidak boleh.

Dan dia bertasyabuh dengan orang-orang munafiq. Meskipun tidak kita katakan itu adalah sifat munafik, namun ada kemiripan dengan sifat orang munafik yang kalau berjanji diniatkan sejak awal untuk menyelisihinya.

Bedanya, niatnya adalah untuk memenuhi namun pada prakteknya dia tidak memenuhi. Maka ada kemiripan dengan orang munafik.

Maka hukumnya haram meskipun tidak sampai pada derajat kemunafikan.
?Yang ketiga | Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.”

Yaitu jika dia besengketa atau masuk dalam persidangan dengan saudaranya maka dia melakukan kefajiran (keluar dari jalan kebenaran), misalnya dengan mendatangkan bukti-bukti yang batil (tidak benar).

Ini adalah sifat kemunafikan.

Dia tahu bahwa bukti-bukti itu tidak benar. Atau melakukan pengakuan yang tidak benar.

Intinya, kalau dia bersengketa dia berusaha bagaimana lawan sengketanya itu kalah bahkan dengan perkara-perka yang dusta, yang tidak benar.

Maka inilah sifat orang munafik.
?Yang keempat | Kalau membuat kesepakatan maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا آحَدَّ غَدر

“Kalau dia sudah membuat kesepakatan bersama maka dia menyelisihi kesepakatan tersebut.”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan agar kita memenuhi kesepakatan kita. Allāh berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Penuhilah kesepakatan (janji) karena sesúngguhnya kesepakatan (perjanjian) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS Al Isrā’: 34)

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firman yang lain:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا

“Penuhilah janji kepada Allāh kalau kalian sudah berjanji, dan janganlah kalian membatalkan janji setelah kalian menekankan janji tersebut.”

(QS An Nahl: 91)

Oleh karenanya dalam Shahihain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنٍ

“Setiap orang yang berkhianat (menyelisihi kesepakatan) akan diberikan bendera baginya pada hari kiamat untuk dipermalukan (dikenal) sehingga orang-orang akan mengenali (melihat bendera tersebut), maka dikakatakan, ‘Inilah pengkhianatan Si Fulan yang tidak menjalankan perjajian’.”

(HR Muslim 1736, Bukhari 6966)

Tentu bisa kita bayangakan, kalau terjadi perjajian antara seorang muslim dengan seorang kafir, kemudian dia mengkhianati perjajian tersebut, kemudia dia bunuh orang kafir tersebut.

=> Sebagaimana misalnya: ada negeri muslim dengan negeri kafir mengadakan perjanjian bahwasannya mereka gencatan senjata, tahu-tahu ada muslim yang menyelisihi perjajian ini, kemudian dia bunuh seorang kafir, maka muslim ini tidak akan mencium bau surga.

Dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad (yaitu orang kafir yang antara negeri muslim dan kafir tersebut ada perjanjian gencatan senjata/ perjanjian damai, ternyata ada seorang muslim membunuh seorang kafir dari negara tersebut), maka orang muslim ini tidak akan mencium bau surga.”

(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah nomor 2686)

Padahal ini kesepakatan seorang muslim dengan kafir, bagaimana lagi kalau kesepakatan seorang muslim dengan muslim yang lainnya?
?Yang kelima | Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان

“Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.”

Yaitu, seseorang diberi amanah (titipan) misalnya kemudian dia tidak mengembalikan titipan (amanah) tersebut.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allāh telah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut.”

(QS An Nisā’: 58)

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Sampaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu (yaitu mengembalikan amanah tersebut) dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.”

(Hadits shahih riwayat Imam Abu Daud nomor 3534)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dari sifat-sifat munafiq ini sejauh-jauhnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب
________

munafik3

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Muharam 1439 H / 28 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-2
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNĀFIQ (BAGIAN 2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt, kita masih melanjutkan hadīts yang ke-6.

Pada pertemuan yang lalu telah kita jelaskan tentang nifāq akbar atau disebut juga dengan nifāq I’tiqadi, yaitu nifāq yang berkaitan dengan keyakinan dengan menyembunyikan kekufuran dan menampakkan ke-Islaman.

Adapun bagian ke-2 yang akan bahas adalah:

▪Nifāq kecil/nifāq ashghar

Yaitu nifāq kecil (Nifāq al ‘amali) yaitu nifāq yang berkaitan dengan amal.

Artinya, hatinya beriman hanya saja amalannya menyelesihi batinnya, namun tidak berada pada derajat kekufuran.

Inilah yang disebutkan dalam hadīts yang sedang kita bahas, nifāq ‘amali.

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. وإِذَا احَدَّ غَدر

Tanda-tanda Munāfiq ada 3, yaitu:

① kalau berbicara berdusta
② kalau dia berjanji menyelisihi
③ kalau diberi amanah dia berkhianat.

Ada tambahan dalam riwayat yang lain:

④ kalau sudah melakukan kesepakatan dengan orang lain maka dia menyelisihi (menkhianati) kesepakatan tersebut.
⑤ kalau dia bersengketa maka dia melakukan fujur yaitu keluar dari jalan kebenaran.

Inilah 5 ciri nifāq al ashghar, nifāq ‘amali.

Dan kalau kita perhatikan, 5 ciri tersebut seluruhnya kembali kepada satu muara yaitu penyelisihan zhahir dengan batin, inilah yang disebut dengan nifāq ‘amali.

Semakin banyak sifat tersebut pada seseorang maka semakin tinggi kualitas kemunāfikannya.

Pertanyaannya, apabila kita dapati 5 ciri tersebut ada pada dirinya, apakah kita katakan dia telah Munāfiq dengan nifāq akbar?

Kalau ngomong selalu berdusta, kalau berjanji selalu menyelisihi, kalau diberi amanah selalu berkhianat, kalau membuat kesepakatan selalu menyelisihi dan kalau bersengketa selalu melakukan kefujuran.

Apabila 5 ciri tersebut ada pada dia, Apakah dikatakan dia telah kāfir ?

Jawabannya: Tidak

Tetap dikatakan dia telah Munāfiq ‘amali (nifaq kecil) selama imannya ada dalam hatinya. Tetap dia melakukan nifāq kecil bukan nifāq akbar.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perhatikan, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendatangan kalimat: “Idza” (kalau)
√ kalau dia berbicara dia berdusta
√ Kalau di janji menyelisihi
Ini menunjukkan sifat yang SELALU dia lakukan.

Maka apabila ada seorang mukmin yang TERKADANG berdusta maka tidak dikatakan dia seorang munāfiq (Nifaq ‘amali).

Karena seorang mukmin terjerumus dalam kemaksiatan,
√ Terkadang dia berdusta,
√ Terkadang menyelisihi janji,
√ Terkadang melakukan kefujuran,
√ Terkadang dia mengkhianati amanah.
Ini tidak dikatakan dia munāfiq dan tetap dikatakan dia seorang mukmin nanum dia telah melakukan maksiat.

Berbeda dengan orang yang “selalu”, inilah yang disebut dengan orang munāfiq dengan nifāq ‘amali.

Jadi, dibedakan antara seseorang mukmin yang bersalah dengan seseorang yang munāfiq.

Kita bahas tentang 5 sifat tersebut.

?Yang pertama | Kalau dia berbicara dia berdusta

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Kalau dia berbicara dia berdusta.”

Ini adalah kegiatan dia.

Kenapa dikatakan sifat munāfiq ?

⇒ Karena dia mengetahui bahwasanya apa yang dia sampaikan itu dusta tetapi dia sampaikan juga dalam bentuk kebenaran (Jadi zhahirnya menyelisihi batinnya).

Batinnya tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikan secara zhahir sekan-akan kebenaran. Inilah yang merupakan sifat munāfiq.

Adapun dusta yang tidak sengaja di lakukan, misalnya :

? Seseorang menyampaikan kabar ternyata dia tidak tahu bahwa kabar tersebut dusta (belum sampai informasi kepada dia, telah terjadi perubahan bahwa yang dia sampaikan ternyata salah)

Maka orang ini tidak dikatakan mempunyai sifat munāfiq , kenapa?

Karena dustanya tidak disengaja.

Dan ini bisa terjadi pada seorang mukmin. Dia ditanya dengan suatu pertanyaan kemudian dijawab dengan tanpa berfikir sebelumnya ternyata jawabnya keliru.

?Misalnya dia ditanya:

“Apakah engkau telah menyampaikan salamku kepadanya?”

Kemudian dia langsung menjawab: “Sudah.”

Dia lupa, ternyata belum, ternyata yang sudah disampaikan adalah salamnya orang lain bukan salam orang tadi. Ini contoh dusta tidak disengaja dan bukan sifat munāfiq.

?Sifat munāfiq adalah penyelisihan antara zhahir dan batin (yaitu) sengaja berdusta.

Dia tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikannya secara zhahir dalam bentuk kebenaran.

Kita lanjutkan pembahasan sifat berikutnya pada pertemuan selanjutnya, In syā Allāh.

وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

munafik1

Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)

? BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Muharam 1439 H / 27 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-1
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 1)

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masih dalam bab tentang “Peringatan tentang Akhlaq yang Buruk”, kita masuk pada hadīts yang ke-6.

Dari shahābat Abū Hurairah beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.”

Tanda-tanda orang Munāfiq ada tiga:

⑴ kalau dia berbicara dia berdusta ⑵ kalau dia berjanji dia menyelisihi ⑶ kalau diberi amanah (diberi kepecayaan) dia berkhianat.

(Diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim)

Dan diriwayatkan juga dalam Shahīh Bukhāri dan Shahīh Muslim dari hadīts Abdullāh bin Umar dalam hadīts yang lain dengan tambahan:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bermusuhan/bersengketa maka dia berbuat kefajiran (yaitu) keluar dari jalan kebenaran”.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemunāfiqan ada 2 (dua), yaitu :

⑴ Nifaq besar
⑵ Nifaq kecil

Perbedaan nya,

Nifaq besar/Nifaq Al Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam (yaitu) dia sebenarnya kufur dalam arti batinnya kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, namun dia menampakkan keislamannya secara zhahir.

Dan inilah kemunāfikannya orang-orang Munāfiq di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang Allāh hukum mereka.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang Munāfiq berada di dasar neraka Jahannam.”

(QS An-Nisā’ : 145)

Mereka inilah yang Allāh sifati dengan firman-Nya:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menipu (melakukan makar/ melakukan penipuan) Allāh dan orang-orang yang beriman, namun sebenarnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri dan mereka dalam kondisi tidak sadar.”

(QS Al Baqarah : 9)

Dan orang Munāfiq lebih parah dari orang kāfir yang asli, kenapa bisa demikian? Karena,

√ Orang kāfir asli dia menampakkan kekufurannya.
√ Orang Munāfiq dia melakukan dua kesalahan :

① pertama dia kufur
② kedua dia menipu Allāh (padahal Allāh maha mengetahui isi hati mereka)

Oleh karenanya, pantas jika mereka dimasukkan (فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ) di paling dasar bawah dari neraka Jahannam, karena apa yang mereka lakukan lebih parah.

Dan dari sini kita tahu bahwa hidayah itu di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena kalau Allāh tidak memberi hidayah kepada kita maka kita tidak akan dapat hidayah, sebagaimana telah berkata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَوْلا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا

“Kalau bukan karena Allāh, maka kita tidak tidak dapat hidayah, kita tidak bisa sedekah, kita tidak shalāt.”

(HR Bukhari 4104)

Semuanya dari Allah Subhānahu wa Ta’āla”

Lihat orang-orang Munāfiq!

Sebab-sebab hidayah datang kepada mereka sudah terkumpulkan.

√ Mereka pandai bahasa arab mereka
√ Mereka mengerti isi Al Qurān
√ Mereka di zaman Nabi mendengarkan langsung wejangan-wejangan Nabi.
√ Mereka tahu ayat-ayat Al Qurān turun
√ Mereka lihat langsung mukjizat-mukjizat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam
√ Mereka mendengarkan ceramah-ceramah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam (karena orang Munāfiq zaman dahulu juga shalāt)

Oleh karenanya, dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ

“Shalāt yang paling berat bagi orang Munāfiq yaitu shalāt Fajar dan shalāt Isya.”

√ Ini menunjukkan orang Munāfiq di zaman Nabi shalāt berjama’ah
√ Kalau shalāt Zhuhur mereka datang
√ Kalau shalāt Ashar mereka datang
√ Kalau shalāt Maghrib mereka datang.

Kenapa?

⇒ Karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka Islam. Kalau mereka tidak shalāt tentu akan ketahuan.
⇒ Berbeda tatkala Shubuh dan Isya (gelap) sehingga kalau mereka tidak datang maka tidak ketahuan.

Oleh karenanya, sangat berat bagi mereka untuk shalāt Shubuh dan shalāt Isya, selain karena mereka mendahulukan kenikmatan dunia (tidur) kalaupun mereka tidak datang pun tidak ketahuan.

Oleh karenanya Allāh menyebutkan sifat orang-orang Munāfiq ketika shalāt,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalau mereka shalāt, shalāt dengan bermalas-malasan, mereka hanya riya’, ingin agar amalan mereka dilihat oleh manusia dan mereka tidak mengingat Allāh kecuali hanya sedikit.”

(QS An-nissā’ : 142)

Ini menunjukkan bahwa orang Munāfiq juga shalāt , bahkan shalāt berjama’ah, mereka juga berdzikir kepada Allāh. Tetapi semuanya mereka lakukan hanya sekedar penipuan, batin mereka berisi dengan kekufuran, ini kemunāfikan akbar.

Dan mereka sudah dibukakan di hadapan mereka sebab-sebab hidayah, namun mereka tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan semisal mereka (orang Munāfiq zaman dahulu) adalah orang Munāfiq zaman sekarang.

Kita dapati sebagian orang Munāfiq dalam diri kemunāfikan (nifaq akbar) dia benci kepada syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak beriman dengan syari’at Allāh Subhānahu wa Ta’āla, benci dengan syari’at islam, bahkan tidak mau kalau syari’at Islam tegak.

Mengejek orang-orang yang beragama, kemudian mengejek syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla,

Mengejek hadīts-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Namun katanya mereka Islam.

Ada juga orang seperti ini di zaman kita, KTP mereka Islam, terkadang memiliki gelar dalam bidang agama, tapi benci terhadap syari’at Islam, bahkan menghalalkan perkara-perkara yang harām (jelas), menghalalkan homoseksual misalnya, ini sebenarnya adalah orang Munāfiq , hati mereka benci dengan Islam tetapi KTP-nya Islam.

Ini adalah kemunāfikan yang pertama, kemunāfikan (nifaq) akbar.

In syā Allāh kita akan melanjutkan bagian yang kedua yaitu nifaq ashgar, pada kajian berikutnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب

________

 

 

munafik2

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 23 Muharam 1439 H / 13 Oktober 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 58 | Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H058
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 2)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan pelajaran kita dan  masih tentang shalāt jama’ yang diperbolehkan.

Beberapa Jenis Jama’ yang diperbolehkan adalah:

6⃣ Jama’ karena rasa takut

Berdasarkan hadīts yang disebutkan sebelumnya,

عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: جمَعَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بين الظُّهرِ والعَصرِ والمغربِ والعِشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مَطرٍ. فقيل لابن عَبَّاسٍ: ما أرادَ إلى ذلك؟ قال: أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه((رواه مسلم))

Dari Ibnu ‘Abbās Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Dhuhur, Ashar dan juga antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā di Madīnah, tidak disebabkan karena rasa takut, juga tidak disebabkan karena hujan”

Maka ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbās, apa yang diinginkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan hal itu?

Maka beliaupun mengatakan: “beliau ingin agar umatnya tidak kesulitan”.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dan ini adalah pendapat Hanābilah yang dipilih oleh Syaikhul Islām Taimiyyah, Syaikh Binbaz dan Syaikh Utsaimin.

Adapun pendapat Syāfi’iyah dan juga Hanafiyyah dalam masalah ini adalah tidak diperbolehkan jama’ disebabkan rasa takut, berdalīl dengan keumuman ayat manakala Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan orang yang berperang tetap shalāt pada waktunya.

 

7⃣ Jama’ karena Menyusui

Diperbolehkan bagi seorang yang menyusui untuk menjama’ shalātnya, apabila memang hal itu membuat kesulitan atau seorang yang menyusui merasa sulit karena harus mengganti dan mencuci pakaiannya setiap waktu shalāt, maka diperbolehkan baginya untuk menjama’ shalāt, karena disana ada masyaqah (kesulitan)

⇒ Pendapat ini disebutkan juga oleh para fuqahā Hanābilah dan dipilih oleh Syaikh Islām Ibnu Taimiyyah dan Syaikhul Utsaimin sebagai pendapat yang lebih kuat atau paling rājih.

 

8⃣Jama’untuk mengatasi kesulitan

Jama’ untuk mengatasi kesulitan atau apabila disana ada masyaqah.

Hal ini berdasarkan hadīts Ibnu ‘Abbās yang sudah berlalu, maka bagi seseorang yang hādir (tidak dalam keadaan safar) diperbolehkan untuk shalāt jama’ apabila ada kesulitan.

⇒ Pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok fuqahā ahli hadīts, dan dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dan Syaikhul Utsaimin.

Dimana disisi pendalīlannya, beliau mengatakan:

أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه

“Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin tidak menyusahkan ummatnya”.

⇒ Artinya jika ummatnya menghadapi kesusahan dan kesulitan maka diperbolehkan untuk melakukan jama’.

?Namun ada catatan dalam masalah terakhir ini yaitu:

⇒ Bahwasanya pendapat Jumhūr ulamā dalam masalah ini, bahwa hadīts Ibnu’Abbās dibawakan pada kemungkinan jama’ suri (jama’ secara bentuknya saja) artinya Shalāt tetap dilakukan pada waktunya namun terkesan jama’ seperti yang disebutkan pada awal yaitu shalāt Dhuhur dijadikan akhir waktu dan Shalāt Ashar dijadikan diawal waktu. Ini yang disebut dengan jama’suri.

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menggampangkan dalam masalah ini, namun jika ada kesulitan yang membutuhkan untuk menjama’ maka tidak mengapa, walaupun tidak disebabkan karena safar atau tidak disebabkan karena turun hujan atau rasa takut.

Selama disana ada kesulitan dan kita membutuhkan dengan syarat tidak menggampangkan (memudahkan) untuk menjama’ maka diperbolehkan untuk kita menjama’ shalāt.

?Kemudian ada permasalahan yang sering ditanyakan bolehkah dijama’ antara shalāt Jum’at dan Ashar?

Disana ada dua pendapat dari para ulamā didalam masalah ini:

· Pendapat pertama | Pendapat pertama adalah pendapat Hanābilah dimana tidak diperbolehkan menjama’ shalāt Jum’at dengan shalāt Ashar.

Inti dalīl mereka adalah bahwa haiah atau bentuk shalāt Jum’at berbeda dengan shalāt Dhuhur, oleh karena itu tidak bisa diterapkan hukum jama’ pada shalāt Jum’at karena dia berbeda dengan shalāt Dhuhur.

·Pendapat kedua | Pendapat kedua adalah pendapat Syāfi’iyah, dimana mereka mengatakan bolehnya menjama’ antara shalāt Jum’at dengan shalāt Ashar karena shalāt Jum’at adalah pengganti shalāt Dhuhur sehingga tatkala dia mengganti shalāt Dhuhur maka hukumnya pun sama dengan hukum shalāt Dhuhur.

⇒ Pendapat kedua ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat) dan dipilih oleh mayoritas Jumhūr para ulamā.

Demikian yang bisa kita sampaikan.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
__________

shalat jama yg diperbolehkan 2

Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 22 Muharam 1439 H / 12 Oktober 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 57 | Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H057
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan masih tentang shalat yaitu tentang shalāt jama’ yang diperbolehkan.

قال المؤلف رحمه الله:
((ويجوز للحاضر في المطر أن يجمع بينهما في وقت الأولى منهما))

Dan diperbolehkan bagi orang yang hādir (maksudnya) orang yang tidak bepergian atau tidak safar, untuk menjama’ shalāt disebabkan turunnya hujan, dan dilakukan di waktu yang lebih dulu dari keduanya yaitu jama’ taqdim.

Beberapa Jenis Jama’ yang diperbolehkan adalah:

1⃣ Jama’ antara Maghrib dan ‘Isyā di Muzdalifah, bagi jama’ah haji.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadīts:

حتى أتى المزدلفةَ، فصلَّى بها المغربَ والعِشاءَ بأذانٍ واحدٍ وإقامتين رواه مسلم

Manakala sampai beliau datang di Muzdalifah, beliau (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) shalāt Maghrib dan ‘Isyā dengan satu adzān dan dua iqāmah.

(Hadīts riwayat Muslim)

 

2⃣ Jama’ didalam Safar

Dalam sebuah hadīts disebutkan:

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَجمَعُ بين المغرب والعشاء إذا جَدَّ به السَّيرُ (رواه البخاري و مسلم)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā apabila beliau sudah mulai perjalanan.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

3⃣ Jama’ dalam keadaan sakit

Jama’ dalam keadaan sakit termasuk rukhsah, namun keadaan sakit perlu diperinci, dimana kondisi sakit yang menyulitkan (menyusahkan) maka diperbolehkan untuk menjama’ shalāt.

Adapun sakit yang ringan (misalnya) Flu ringan dan lain sebagainya, maka tidak diperbolehkan untuk menjama’ karena tidak membuat kesulitan bagi orangnya.

4⃣ Jama’ bagi yang terkena darah mustahādhah (darah karena penyakit)

Darah mustahādhah adalah darah yang disebabkan karena penyakit dan terjadi pada wanita, dan hal ini diperbolehkan berdasarkan pendapat ulamā Hanābilah dan dipilih Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dan juga para ulamā lainnya.

Berdasarkan hadīts dari Hamnah binti Jahsy Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada beliau:

فإنْ قَويتِ على أنْ تُؤخِّري الظُّهرَ، وتُعجِّلي العَصرَ، فتَغتسلينَ وتَجمعينَ بين الصَّلاتينِ، فافعلي(( رواه ابو دود والترمذي))

Apabila kamu mampu untuk mengakhirkan shalāt Dhuhur (menjadikan shalāt Dhuhur diakhir waktunya) dan mempercepat shalāt Ashar (menjadikan shalāt Ashar diawal waktunya) kemudian kamu mandi dan menjama’ kedua shalāt tersebut, maka lakukanlah.

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi)

Jadi seorang wanita yang keluar darah mustahādhah atau darah penyakit atau darah selain darah Hāidh dan selain darah karena melahirkan, apabila dia mampu menggabungkan shalāt dengan cara mengakhirkan shalāt Dhuhur diakhir waktu dan mengawalkan shalāt Ashar diawal waktu ini yang disebut dengan jama’ suri, maka diperbolehkan.

5⃣ Jama’ karena Hujan

Sebagai mana yang disebutkan oleh penulis matan diperbolehkan untuk jama’ disebabkan turunnya hujan, dan ini adalah pendapat Syāfi’iyah dan juga pendapat jumhur para ulamā.

Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadīts:

عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: جمَعَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بين الظُّهرِ والعَصرِ والمغربِ والعِشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مَطرٍ. فقيل لابن عَبَّاسٍ: ما أرادَ إلى ذلك؟ قال: أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه((رواه مسلم))

Dari Ibnu ‘Abbās Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Dhuhur, Ashar dan juga antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā di Madīnah, tidak disebabkan karena rasa takut, juga tidak disebabkan karena hujan”

Maka ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbās, apa yang diinginkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan hal itu?

Maka beliaupun mengatakan: “beliau ingin agar umatnya tidak kesulitan”.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari hadīts diatas ada isyarat bahwa di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt di jama’ diantaranya disebabkan karena rasa takut dan karena hujan.

⇒ Kesimpulan bahwasanya shalāt jama’disebabkan karena hujan adalah hal yang biasa dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian yang bisa kita sampaikan.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
__________

shalat jama yg diperbolehkan 1

Riyā’ (Bagian 5)

? BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Muharam 1439 H / 26 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riyā’ (Bagian 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H05-5
~~~~~~~~

R I Y A ‘ (BAGIAN 5)
بِسْمِ اللَّهِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Pada pambahasan kali ini, kita akan membahas bagaimana kiat-kiat agar terlindung dari penyakit riya’.

Yaitu:

▪1. Yang paling penting adalah berdoa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan tulus dan serius minta kepada Allāh agar Allāh menjauhkan kita dari penyakit riya’.

Diantaranya adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allāh, aku berlindung kepada Engkau dari kesyirikan yang aku sadari dan aku berlindung kepada Engkau dari kesyirikan yang aku tidak sadari.”

(HR Bukhari)

Ini adalah doa agar terlindung dari riya’, kenapa?

Karena pintu-pintu riya’ sangatlah samar.

Betapa banyak pintu-pintu riya’ yang dialami seseorang dan dia masuk ke dalam pintu tersebut dan dia tidak sadar.

Dan syaithan memiliki berbagai macam metode (langkah-langkah) untuk menjerumuskan orang kedalam riya’.

Jadi kita harus berdoa kepada Allāh agar dijauhkan dari riya’.
▪2. Kiat yang kedua adalah berusaha untuk menyembunyikan amal shalih.

Kalau kita mempunyai amal shalih jangan kita ceritakan kecuali jika ada maslahatnya
Jadi, pada asalnya adalah kita sembunyikan.

Ingat, bahwasannya amal shalih yang dikerjakan dengan diam-diam pahalanya lebih besar daripada yang dikerjakan dengan kelihatan.

Dua-duanya kalau ikhlas akan dapat pahala, akan tetapi yang tersembunyi lebih baik.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Jika kalian menampakkan sedekah maka itu baik, namun jika kalian sembunyikan sedekah kalian dan kalian berikan kepada orang fakir maka itu lebih baik bagi kalian.”

(QS Al-Baqarah: 271)

Ini menunjukkan bahwa amal itu ada 2 derajat, yaitu:

– Amal yang ikhlas dengan dilihat oleh orang lain.

– Dan berikutnya adalah amal yang ikhlas (dan ini derajatnya lebih tinggi) yang disembunyikan atau tidak dilihat oleh orang lain.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam memuji bahwa diantara 7 orang yang dinaungi oleh Allāh pada hari kiamat, salah satu diantaranya adalah:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Seseorang yang dia berinfaq dengan diam-diam sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.”

(HR Bukhari 1423 dan Muslim 1031, dari Abu Hurairah)

Padahal tangan kiri adalah teman dekat tangan kanan. Dimana ada tangan kanan, tangan kiri selalu bersama dan bekerja sama. Namun untuk urusan amal shalih, tatkala tangan kanan bersedekah maka disembunyikan sampai-sampai sahabat dekatnya, teman sejawatnya yaitu tangan kiri tidak mengetahui.

Ini menunjukkan bahwa orang ini berusaha untuk menyembunyikan amal shalihnya.

Adalah perkara yang menyedihkan dijaman sekarang, kalau jaman dahulu, para salaf, mereka benar-benar berusaha menyembunyikan amal mereka. Adapun jaman sekarang, kita dapati orang-orang berusaha dengan berbagai macan metode dan uslub (gaya) untuk mengumbar, men-share, mem-publish amalan shalih mereka.

Dengan melalui Facebook, whatsapp dengan menjadikan sebagai DP (dispaly picture) pada Whatsapp dan macam-macamnya.

Dengan bergaya mengangkat kedua tangan sambil berdoa di depan Ka’bah kemudian difoto, “luar biasa”.

Dia tidak berdoa kepada Allāh, hanya bergaya berdoa dihadapan Allāh kemudian difoto. Kedua tangannya yang diangkat tersebut bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bukan ikhlas berdoa kepada Allāh, akan tetapi untuk riya’, agar difoto dan disebarkan ke teman-temannya.

Oleh karenanya seseorang harus berusaha untuk menyembunyikan amal shalihnya.

Kalau bisa, ketika dia umrah tidak ada yang tahu, berhaji tidak ada yang tahu, berjalan ke Masjid Nabawi tidak ada yang mengetahui.

Ini adalah sarana yang paling kuat agar kita terhindar dari riya’.

Seseorang hendaknya melatih diri agar qona’ah, merasa puas, jika yang tahu hanyalah Allāh. Kalau Allāh sudah tahu dia sudah merasa puas, sehingga dia tidak punya syahwat agar orang lain tahu amalan dia, cukup dia tahu bahwa Allāh sudah tahu.

Makanya sebagian orang “luar biasa”, semua kebaikkan yang dia lakukan dia share.

Dia berbakti kepada orang tuanya, dia share. Padahal amalan ini adalah amalan yang luar biasa, tidak usah di-share, tidak usah digembar-gemborkan.

Dia baik sama istrinya, dia share, ini tidak perlu.

Seseorang hendaknya berusaha menjaga privasi dia, cukup Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang tahu. Dia boleh men-share, boleh menyampaikan kalau ada maslahatnya.

Akan tetapi kelau sekedar untuk memamerkan, agar orang lain tahu, maka ini adalah pintu besar yang dapat menjerumuskan orang kedalam riya’.

Oleh karenanya, menyembunyikan ibadah merupakan sarana yang kuat agar terhindar dari penyakit riya’.
▪3. Kemudian yang terakhir agar terhindar dari penyakit riya’, yaitu kita mengingat akan bahaya riya’ dan bahagianya orang ikhlas.

Bahaya riya’ sangat besar.

Orang yang riya’ di dunia tidak akan pernah puas. Dia ingin dikomentari dan ingin dipuji. Tidak selamanya orang memuji kita, kadang-kadang mencela kita. Mungkin sekarang memuji kita dengan pujian yang habis habisan, akan tetapi kalau lagi bermasalah sama kita maka dia akan mencaci-maki dengan berlebih-lebihan.

Oleh karenanya, kalau hanya megharapkan pujian manusia maka ini adalah cita-cita yang tidak akan pernah tercapai.

Kalau ada yang memuji kita pasti juga ada yang mecela kita. Kalaupun dia memuji kita, tidak selamanya memuji kita.

Adapun mengharapkan semua orang memuji kita, maka ini hanya menimbulkan kekecewaan dan kesedihan. Orang yang seperti ini adalah orang yang gelisah karena yang dicari adalah pujian sehingga kalau tidak dia dapatkan diapun bersedih.

Adapun akibat riya’ di akhirat, sebagaimana telah dijelaskan, 3 orang yang pertama kali diadzab di neraka Jahannam adalah orang-orang yang riya’ semuanya.

Yang berjihad karena riya’, yang belajar dan mengajarkan ilmu (berdakwah) karena riya’ dan yang bersedekah karena riya’.

Maka hendaknya kita merenungkan akibat riya’ di dunia dan di akhirat, ini akan menjauhkan dari penyakit riya’.

Kemudian, kita juga merenungkan tentang kebahagiaan orang yang ikhlas.

Orang yang ikhlas adalah orang berbahagia. Dia tahu bahwa Allāh mengetahui amalan dia. Dia berbahagia meskipun orang lain tidak mengetahui amalan dia.
Dia tentram, kenapa?

Karena dia tahu bahwa:

– Penciptanya, Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang akan memberi ganjaran telah mengetahui dia beramal shalih.

– Penciptanya, Allāh Subhānahu wa Ta’āla, telah tahu dia berbuat baik kepada orang tuanya.

– Tahu bahwa ia telah baik kepada istrinya.

Maka ini mendatangkan kebahagiaan dalam dirinya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang paling berbahagia, dia tidak peduli dengan komentar orang. Yang dia pedulikan adalah komentar Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perlu saya ingatkan. Kita berusaha ikhlas namun Allāh berfiman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allāh tidak membani seseorang diluar kemampuannya.”
(QS Al-Baqarah: 286)

Jika kita sudah berusaha ikhlas dengan semaksimal mungkin, lantas mungkin kita tejerumus ke dalam riya’ dalam sedikit kesalahan, mungkin kadang niat kita tidak beres, kita segera bertaubat kepada Allāh. Mudah-mudahan Allāh mengampuni dosa-dosa kita tersebut, karena Allāh mengetahui bahwa kita telah berusaha.

Tidak ada yang menjamin kita selalu ikhlas, akan tetapi kalau kita berusaha maka Allāh megetahui usaha kita dan (insya Allāh) Allāh akan memaafkan kekurangan kita yang di luar dari kemampuan kita.

والله تعال أعلمُ بالصواب
وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

riya5