Tag Archives: Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 32

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Dzulqa’dah 1440 H / 09 Juli 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 32 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-32
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYEMIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ada banyak nikmat yang perlu kita syukuri di antara nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat menuntut ilmu.

Dan pada kesempatan kali ini (pertemuan ke-32) in syā Allāh, kita melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Kali ini kita akan membahas tentang biografi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan pada kesempatan kali ini kita meneruskan pembacaan hadīts yang berkaitan tentang, apakah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambut ataukah tidak.

Yang mana hal tersebut diperselisihkan oleh para ulamā bahkan para shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

In syā Allāh ini adalah hadīts nomor 46 dari kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, yang ditulis oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāhu.

Imām At Tirmidzī berkata :

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي

“Sufyān bin Wakī’ memberikan hadīts kepadaku, dia mengatakan ayahku memberikan hadīts.”

Ibnu Hajar berkata tentang Wakī’ bin Al Jarrah ini (ayah dari Sufyān bin wakī’):

“Beliau terpercaya, penghafal hadīts (hafidz) dan seorang ahli ibadah.”

Imām Ahmad berkata :

“Wakī’ adalah imam kaum muslimin pada masanya.”

Marwan bin Muhammad Ath Thathari berkata :

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih khusyu’ dari Wakī’. Dan biasanya ketika ada seorang yang diceritakan kepadaku, pasti ku dapati orang tersebut lebih buruk dari pada ceritanya, kecuali Wakī’. Aku melihatnya ia lebih baik dari pada cerita-cerita yang sampai kepadaku.”

Kemudian Imām Wakī’ juga pernah mengatakan :

“Seorang tidak akan sempurna, sampai ia mau belajar dengan orang yang lebih utama, dengan orang yang sama, dan dengan orang yang lebih rendah darinya.”

Imām Wakī’, berkata:

عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَوْهَبٍ قَالَ: سُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ

Dari Syarīk, dari Utsmān bin Mauhab, dia berkata Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah ditanya,

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu adalah seorang shahābat yang paling banyak meriwayatkan hadīts, beliau meriwayatkan sekitar 5374 hadīts. Walaupun beliau adalah seorang yang tidak begitu lama kebersamaannya bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Karena beliau masuk Islām sekitar tahun 7 Hijriyyah dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam meningal tahun 11 Hijriyyah hanya. Sekitar 3 atau 4 tahun saja kebersamaannya bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Lalu kenapa beliau bisa meriwayatkan hadīts sebanyak itu, padahal shahābat yang lain tidak bisa meriwayatkan hadīts sebanyak itu ?

Setidaknya ada tiga jawaban, yaitu:

⑴ Beliau adalah orang yang semangat untuk belajar kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Imām Al Bukhāri pernah meriwayatkan sebuah hadīts dari shahābat Abū Hurairah ketika beliau bertanya tentang, “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafā’atmu wahai Rasūlullāh?”

Sebelum Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan dari Abī Hurairah, Beliau mengatakan, “Wahai Abū Hurairah, aku sudah menyangka bahwa tidak akan ada orang yang mendahuluimu bertanya tetang hal ini, karena aku melihat engkau sangat semangat untuk belajar hadīts.”

Lalu Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam baru menjawab pertanyaan Abī Hurairah terkait siapakah orang yang paling bahagia dengan syafā’at Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 99 dan nomor 6570)

⑵ Karena beliau (Abī Hurairah) mendapatkan do’a dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar kuat hafalannya.

Beliau pernah mengatakan:

Aku pernah mengadu:

“Wahai Rasūlullāh, aku mendengar banyak hadīts dari mu, hanya saja aku lupa.”

Maka Beliaupun (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) meminta agar Abū Hurairah membentangkan kain baju atasnya. Setelah dibentangkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam seakan-akan menuangkan sesuatu pada kain tersebut. Lalu Beliau memerintahkan Abū Hurairah untuk mendekap kain itu.

Setelah itu Abū Hurairah berkata:

“Setelah kejadian tersebut, aku tidak lupa satu hadīts pun dari Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3648 dan Muslim nomor 2493)

⑶ Karena beliau (Abū Hurairah) selalu bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan hanya makan sebatas kenyang saja, beliau tidak sibuk dengan dunia tetapi fokus dengan belajar.

Dikatakan dalam sebuah hadīts:

“Abū Hurairah memiliki hadīts yang banyak, karena dia adalah seorang yang selalu membersamai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan mencukupkan diri untuk makan secukupnya saja dan selalu menghadiri apa yang tidak dihadiri shahābat yang lain dan menghafal apa yang tidak dihafal shahābat yang lain.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 118)

Inilah alasan kenapa beliau menjadi istimewa dan bisa meriwayatkan banyak hadīts, bahkan menjadi shahābat yang paling banyak meriwayatkan hadīts (sekitar 5374 hadīts).

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah ditanya :

هَلْ خَضَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: «نَعَمْ»
قَالَ أَبُو عِيسَى: ” وَرَوَى أَبُو عَوَانَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ، فَقَالَ: عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ “

“Apakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya?” Beliau menjawab, “Iya.”

Berkata Abū Īsā (At Tirmidzī):

Abū ‘Awānah meriwayatkan hadīts ini dari Utsmān bin Abdillāh bin Mauhab, beliau mengatakan dari Ummi Salamah.

Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dan hadīts ini menunjukkan bahwa Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu termasuk shahābat yang berpendapat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya.

Dan Imām At Tirmidzī mengisyaratkan ada riwayat lain yang mendukung hal ini, yaitu riwayat dari Ummu Salamah istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan sebagian ulamā berpendapat dengan pendapat yang lain, ketika Imām At Tirmidzī mengatakan bahwa Abū ‘Awānah meriwayatkan hadīts ini dari Utsmān bin Abdillāh bin Mauhab dan beliau mengatakan dari Ummu Salamah, maka Imām At Tirmidzī mengisyaratkan bahwa Ummu Salamah yang meriwayatkan hadīts Abū Hurairah tadi bukan Abū Hurairah.

Ini sebagian pendapat.

Di antara yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Utsmān bin Mauhab pernah masuk menemui Ummu Salamah, lalu beliau (Ummu Salamah) menunjukan salah satu rambut Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah disemir.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5897)

Dari hadīts di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada sebagian shahābat yang berpendapat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memang menyemir rambutnya, baik hadīts yang kita sebutkan tadi diriwayatkan oleh dari Abū Hurairah atau yang benar dari Ummu Salamah.

Pelajaran yang kita dapat ada shahābat yang menyatakan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu menyemir rambutnya.

Inilah pelajaran kita kali ini tentang hadīts di atas. Dan semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد


Kitab Syamāil Muhammadiyah-Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam-Halaqah 31

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 05 Dzulqa’dah 1440 H / 08 Juli 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 31 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-31
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN MENYEMIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ada banyak nikmat yang perlu kita syukuri. Diantara nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat menuntut ilmu.

Dan pada kesempatan kali ini (pertemuan ke-31), in syā Allāh kita melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Beliau rahimahullāh berkata:

بَابُ مَا جَاءَ فِي خِضَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bab tentang hadīts-hadīts yang berkaitan dengan: خِضَابِ (menyemir rambut) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Syaikh Abdurrazzaq berkata :

“Imam At Tirmidzī membawakan bab ini dengan maksud ingin menjelaskan, apakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambut beliau atau tidak.”

Beliau juga menjelaskan bahwa hal ini diperselisihkan oleh para ulamā, bahkan diperselisihkan oleh para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum.

Menurut pendapat shahābat;

√ Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu mengatakan, “Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak menyemir rambutnya.”

√ Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu mengatakan, “Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menyemir rambutnya.”

Imām Nawawi mengatakan :

“Bahwa Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya sesekali dan hal tersebut tersirat pada hadīts Ibnu Umar dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim. Namun, seringnya Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak menyemir rambutnya. Dan semua shahābat mengabarkan sesuai dengan ilmunya, benar serta jujur dalam pengabarannya, Wallāhu a’lam.”

(Ini pendapat Imām An Nawawi, yang dinukil Syaikh Albāniy dalam Mukhtashar Syamāil)

Dan ada juga yang mengatakan bahwa Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyemir rambutnya sama sekali dan rambut Beliau berubah warna bukan karena semir, akan tetapi karena Beliau sering memakai parfum atau minyak wangi pada rambutnya.

Berikut hadīts-hadīts yang diriwayatkan oleh Imām At Tirmidzī pada bab ini.

Imam At Tirmidzī rahimahullāh dalam hadīts nomor 45.

Beliau berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ

“Telah memberikan hadits kepadaku, Ahmad bin Mani’, beliau berkata: Telah memberikan hadits kepadaku, Husyaim.

Beliau adalah Husyaim bin Basyir, seorang yang pernah dilarang oleh ayahnya untuk menuntut ilmu. Sampai saat Husyaim sakit, ada seorang qadhi (hakim kota) tersebut menjenguknya. Sejak saat itulah Husyaim bin Basyir diperbolehkan oleh ayahnya untuk menuntut ilmu.

Ketika Husyaim telah menjadi guru, beliau sangat berwibawa.

Imām Ahmad pernah bercerita:

“Aku menuntut ilmu kepada Husyaim selama 4 atau 5 tahun, aku tidak pernah bertanya kepadanya suatu masalah kecuali 2x saja, dan hal tersebut dikarenakan kewibawaan yang beliau miliki.”

Tentang kekuatan hafalannya, Ibnul Mubarak berkata:

“Kalau orang-orang melemah hafalan ketika umur bertambah, maka itu tidak terjadi pada Husyaim.”

Tentang keshālihannya, Abū Hatim berkata :

“Masalah kejujuran, sikap amanah dan keshālihan, maka Husyaim tidak usah diragukan lagi.”

Selain unggul dalam bidang hadīts, beliau juga luar biasa dalam hal ibadah.

Diceritakan oleh Imām Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala juz 8 hal 290,

“Bahwa sejak 20 tahun sebelum beliau meninggal, beliau selalu shalāt shubuh dengan wudhū’nya ketika shalāt isya.”

Maksudnya adalah beliau tidak batal dan tidak tidur antara dua waktu tersebut, karena kita tahu bahwa tidur itu membatalkan wudhū’.

(Keterangan ini bisa dilihat dalam Siyar A’lam An Nubala juz 8 halaman 290, tentang biografi Husyaim bin Basyir)

Husyaim bin Basyir berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ

“Memberikan hadīts kepadaku, Abdul Mālik bin ‘Umayr (seorang hakim di kota kufah).”

عَنِ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو رِمْثَةَ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ ابْنٍ لِي

Dari Iyād bin Laqīth, dia berkata: Abū Rimtsah berkata:

“Aku mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersama anakku.”

Syaikh Abdurrazaq pernah membawakan beberapa pelajaran pada kalimat ini, beliau menyatakan bahwa pada kalimat ini menunjukan, “Anjuran untuk membawa anak-anak hadir di majelis para ulamā, agar mereka mencintai ulamā, mencintai majelis ilmu dan agar mereka terjaga dari segala hal yang membuat lalai dari agama.”

Apalagi pada masa-masa kita ini, banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan seorang terlalaikan dari majelis ilmu.

فَقَالَ: «ابْنُكَ هَذَا؟» فَقُلْتُ: نَعَمْ أَشْهَدُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَجْنِي عَلَيْكَ، وَلَا تَجْنِي عَلَيْهِ»

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada Abū Rimtsah, “Apakah ini anakmu?”

Abū Rimtsah pun menjawab, “Iya, aku bersaksi bahwasanya dia adalah anakku.”

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ketika anakmu berbuat dosa maka engkau tidak menanggungnya dan ketika engkau berbuat dosa anakmu tidak menanggungnya.”

Pada kalimat ini ada isyarat tentang firman Allāh Ta’āla,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.”

(QS. Al Isrā’: 15)

قَالَ: وَرَأَيْتُ الشَّيْبَ أَحْمَرَ

“Kemudian Abū Rimtsah mengatakan: “Dan dan aku melihat uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwarna merah.”

Kalimat inilah yang menjadi isyarat penting pada pembahasan kita ini bahwa Abū Rimtsah mengatakan bahwa uban Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwarna merah.

Dan dari sini pula, para ulamā berbeda pendapat, apakah warna merah itu karena semir atau karena seringnya Beliau memakai minyak wangi pada rambutnya.

Dan itu diperselisihkan oleh para ulamā.

قَالَ أَبُو عِيسَى: “هَذَا أَحْسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ، وَأَفْسَرُ؛ لِأَنَّ الرُّوَايَاتِ الصَّحِيحَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَبْلُغِ الشَّيْبَ.

Berkata Abu Īsā (Imām At Tirmidzī): “Hadīts ini adalah hadīts terbaik dalam bab ini (Syaikh Albāniy menshahīhkan hadīts ini) dan yang paling jelas, karena riwayat-riwayat yang shahīh, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak membutuhkan semir rambut (karena kita tahu bahwa jumlah uban beliau sedikit antara 12 hingga 20 helai saja).”

Perkataan Imām At Tirmidzī ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak menyemir rambutnya.

وَأَبُو رِمْثَةَ اسْمُهُ: رِفَاعَةُ بْنُ يَثْرِبِيٍّ التَّيْمِيُّ

Dan Abū Rimtsah namanya adalah Rifā’ah ibnu Yatsribiy At Taimiy.

Dan di sana ada pendapat lain tentang nama beliau ini.

Jadi kesimpulan dari hadīts ini adalah:

“Kita tahu bahwa di sana ada perbedaan pendapat di kalangan para ulamā tentang permasalahan apakah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya ataukah tidak? Namun secara hukum fiqih seorang boleh saja menyemir rambutnya, asalkan tidak dengan warna hitam atau dengan warna lain yang dianggap buruk oleh masyarakat.”

Itulah kesimpulan kita semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد