Tag Archives: Hadits

RAHASIA 40 HARI TAKBIR PERTAMA SHALAT BERJAMAAH

RAHASIA 40 HARI TAKBIR PERTAMA SHALAT BERJAMAAH

Barangsiapa yang menjaga shalat berjama’ah hingga tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram imam selama 40 hari, maka ia akan mendapat penjagaan Allah dari kemunafikan sehingga di akhirat akan terbebas dari api neraka.

Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.”
(HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami)

Di dalam hadits ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan keutamaan dan janji di atas:

– Melaksanakan shalat dengan ikhlash untuk Allah.
– Shalat tersebut dilaksanakan dengan berjama’ah.
– Menjaga jama’ah selama 40 hari (sehari semalam).
– Mendapatkan takbiratul ihramnya imam secara berturut-turut.

( Rutin tanpa terputus )

Dzahir hadits menunjukkan syarat untuk terus-menerus selama 40 hari, tanpa diselang dengan absen dari jama’ah atau terlambat.
Kata “Muwadhabah” menuntut dilakukan berturut-turut dan tidak diselang dengan absen dari berjama’ah atau masbuq (terlambat) sehingga tidak mendapatkan takbiratul ihram imam.

Doa agar mati mendapatkan cara dan tempatnya yang baik

“Bagaimana kita hidup, begitulah kita akan mati,” kata Imam Al Ghazali.

Bagaimana cara hidup kita, demikianlah cara mati kita. Orang yang selalu berbuat baik, insya Allah dia akan mati dalam kondisi berbuat baik. Orang yang selalu berbuat jahat, dia pun akan mati dalam kondisi berbuat jahat.

Bagaimana cara hidup kita, demikianlah cara mati kita. Orang yang jarang ke masjid, jangan berharap meninggal dalam kondisi beribadah di masjid. Sebagaimana orang yang biasa mendatangi tempat maksiat, besar kemungkinannya ia akan mati di tempat maksiat.

Bersiaplah untuk mati dgn cara & tempat sesuai kebiasaan yg biasa dilakukan saat hidup !

Karenanya agar mati mendapatkan cara & tempatnya yg baik, mari kita berdoa .

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii”

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.

(HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719)

Aamiin ya Rabbal ‘alamin

HADITS (LINDUNGILAH DAN BIMBINGLAH KAMI YA RABB…)

KTQS # 599

LINDUNGILAH DAN BIMBINGLAH KAMI YA RABB…

Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata:

إِنَّ لِلْحَدِيثِ ضَوْءًا كَضَوْءِ النَّهَارِ يُعْرَفُ، وَظُلْمَةً كَظُلْمَةِ اللَّيلِ تُنْكَرُ

“Sungguh, hadits (shahih) itu memiliki cahaya sebagaimana cahaya siang yang dikenal, dan (hadits palsu memiliki) kegelapan sebagaimana gelapnya malam yang diingkari”.
(Al-Fasawi meriwayatkan dalam Al-Ma’rifah wat-Tarikh 2/564, juga disebutkan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah Fi ‘ilmir Riwayah hal. 431)

Ya Allah, bimbinglah hati-hati kami hingga mampu membedakan hadits-hadits Rasulullah saw yang shahih yang tampak jelas cahayanya, dengan hadits-hadits yang tidak shahih yang tampak kegelapannya.

Ya Allah, Dekatkanlah kami kepada orang-orang pembela Sunnah Nabi-Mu yg suci agar kami bisa mengikutinya menuju jalan cahaya yg terang benderang.

Dan jauhkanlah kami dari orang- orang jahil yg menuntun kami kepada jalan gelap tak tentu arah, yg menipu kami dengan hadits hadits palsu hingga kami tersesat.

Sepintas perkataan mereka terasa manis dan indah. Tapi ucapan itu adalah racun yang akan membinasakan kami kelak diakhirat.

Mereka melakukannya dgn akalnya bukan dgn dalil Nabi-Mu, dgn perkataan “ini baik”, “ini bagus”, serasa benar, padahal itu menyesatkan dan akan menjauhkan kami dari tuntunan Nabi-Mu yg agung.

Ya Allah, lindungilah & bimbinglah kami kejalan yg lurus, jalan yg bersinar dan terang benderang dgn cahaya Sunnah.

Salam!

Copas dari KTQS

Ibarat Menggenggam Bara Api

Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda:

“Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Hr. at-Tirmidzi)

Dengan redaksi yang berbeda, Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda:

“Celakalah orang-orang Arab, yaitu keburukan yang benar-benar telah dekat; fitnah ibarat sepenggal malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman, sorenya telah berubah menjadi Kafir. Kaum yang menjual agama mereka dengan tawaran dunia yang tidak seberapa. Maka, orang yang berpegang teguh pada agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Ibn Hajar al-Haitsami, Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, juz VII, hal. 552)

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh para sahabat, “Wahai Rasulullah, apakah (kita) termasuk mereka?”Beliau menjawab: “Justru, mereka seperti kalian.”

‘Umar bin al-Khatthab menjelaskan takwil surat Ali ‘Imran: 110 dengan menyatakan,

“Siapa saja yang mengerjakan amal sebagaimana yang kalian kerjakan, maka dia pun sama kedudukannya seperti kalian..”

(Lihat, al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz IV, hal. 170)

Imam al-Auza’i pernah ditanya, “Kapankah zaman tersebut?” Beliau menjawab, “Kalau bukan zaman kita sekarang ini, saya tidak tahu, kapankah zaman tersebut? ”

(Lihat, Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasqa, juz XXXVII, hal. 97).

Kalau pada zaman al-Auza’i sudah sedemikian parah, padahal hukum syara’ masih diterapkan oleh negara dan para penguasanya, lalu bagaimana dengan zaman kita?

 

Mutiara Hadis: hak-hak jalan

Abu Sa’id Al Khudri r.a mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Hati-hati ! Jangan duduk-duduk (nongkrong) di jalanan.”
Orang-orang berkata, “Kami tidak bisa meninggalkannya karena itulah tempat kami duduk dan berbincang-bincang.”

Nabi Muhammad bersabda,
“Jika kalian duduk-duduk di sana, berikanlah hak-hak jalan.”
Mereka bertanya,” Apakah hak-hak jalan itu?”

Nabi Muhammad Saw bersabda, ” Menjaga pandanganmu (jangan jelalatan), tidak menghina atau merendahkan orang lain, membalas salam, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar.”

(HR Bukhari)

Dikutip dari Al Quran terjemah Al Muasir / Kontemporer
Yang disusun oleh Dr H Aam Amiruddin

Mutiara Hadis : Salat Lima Waktu

Ubaidah bin Shamit r.a.berkata,
“Aku bersaksi bahwa aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku atas izin Allah swt. Lalu berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu,
“Sungguh telah Aku wajibkan salat lima waktu. Barangsiapa menunaikannya dengan WUDHU yang sempurna, WAKTU yang tepat, dan SUJUD yang benar, maka dengan shalat itu Aku tetapkan janjiKu bahwa Aku akan memasukkannya ke surga. Tetapi barangsiapa menemui-Ku dengan mengurangi salat itu, maka tidak ada perjanjian-Ku baginya. Jika Aku menghendaki, Aku akan menyiksanya atau Aku akan mengampuninya.”
(HR Abu Daud)

Copas dari AL QUR’ANULKARIM terjemah kontemporer AL MUASIR

penyusun: Dr. Aam Amirrudin

hadist dhoif seputar puasa

HADIST DHOIF SEPUTAR RAMADHAN

1. TIDUR ITU IBADAH

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ.
“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Hadits ini sering kali kita dengar, tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja, padahal hadits ini adalah DHA’IF (lemah).

Hadits tsb disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam kitabnya “al-Jami’ ash-Shaghir”, riwayat ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas.

Menurut Imam al-Manawy, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’afa, ‘Ibnu ‘Ady berkata, ‘(dia) termasuk orang yang suka memalsukan hadits”.

2. 10 HARI AWAL RAMADHAN ITU RAHMAT, 10 HARI PERTENGAHAN ITU AMPUNAN, 10 HARI AKHIR ITU BEBAS DARI NERAKA

… وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَ آخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ …

“…dialah bulan yang awalnya itu RAHMAT, pertengahannya itu maghfirah/AMPUNAN, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/BEBAS DARI NERAKA…”

Ibnu Sa’ad : “hadits tersebut ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya”, Imam Ahmad bin Hanbal : “Tidak kuat”. Ibnu Ma’I : “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah : “Lemah di segala segi”, (Tahdzibut Tahdzib 7/322-323).

Jadi pada setiap hari di bulan Ramadhan itu terdapat banyak sekali kebaikan-kebaikan didalamnya, tidak dipisah-pisah per-sepuluh hari seperti itu, apalagi dipisah-pisah setiap harinya, hari kesatu dapat ini, hari kedua dapat itu, dst.

Juga beredar, doa Ramadhan malam pertama, malam kedua, dst.

Itu semua bukan berasal dari Rasulullah Saw.

Berhati-hatilah dengan hadist atau menyerupai hadits yang beredar disekitar kita.

 

 

Salam !

Copas dari KTQS-Daarul Arqom Bandung

selalu ada sesuatu untuk sedekah

 

Abu Zar r.a.berkata bahwa seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya itu bisa memborong pahala;
mereka mengerjakan salat sebagaimana kami salat,
mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa,
dan mereka mampu bersedekah dengan kelebihan harta mereka. “

Nabi Saw bersabda ,”Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah?

Sesungguhnya, tiap tasbih adalah sedekah, tiap tahmid adalah sedekah, tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bercampur dengan istrinya adalah sedekah.”

Mereka bertanya,”Ya Rasulullah, apakah seseorang yang memenuhi syahwatnya mendapat pahala?”
Rasulullah Saw menjawab, ” Apa pendapat kamu jika orang tersebut memenuhi syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Maka demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.”

(HR Muslim)

Copas dari Al Qur’anulkarim
Terjemah Kontemporer hal 595

Kewajiban Salat Lima Waktu

 

Ubaidah bin Shamit r.a.berkata, “Aku bersaksi bahwa aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku atas izin Allah swt. Lalu berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu,
“Sungguh telah Aku wajibkan salat lima waktu. Barangsiapa menunaikannya dengan WUDHU yang sempurna, WAKTU yang tepat, dan SUJUD yang benar, maka dengan shalat itu Aku tetapkan janjiKu bahwa Aku akan memasukkannya ke surga.
Tetapi barangsiapa menemui-Ku dengan mengurangi salat itu, maka tidak ada perjanjian-Ku baginya. Jika Aku menghendaki, Aku akan menyiksanya atau Aku akan mengampuninya.”

(HR Abu Daud)

Copas dari AL QUR’ANULKARIM

terjemah  kontemporer AL MUASIR

penyusun: Dr. Aam Amirrudin