Tag Archives: HAJI

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 30 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Sabtu, 20 Dzulqa’dah 1438H / 12 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 30 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-30
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 30 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan ketika pelaksanaan amal ibadah haji.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika wuqūf

⑵ Keluar dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah sebelum terbenam matahari.

Yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah beliau berwuqūf ‘Arafāh dari mulai zhuhur sampai terbenam matahari, menunjukkan masuk waktu Maghrib. Lalu beliau bertolak dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah.

Kalau ada orang bertolak dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah sebelum terbenam matahari maka ini sebuah kesalahan.

Nanti terjadi perbedaan pendapat antara para ulamā, apakah dinyatakan dia sebagai orang yang berwuqūf?

Kita katakan, “Iya,” sah hajinya tetapi apakah dia dikaatakan orang yang sudah mengerjakan kewajiban?

Karena salah satu kewajiban haji berwuqūf di ‘Arafāh sampai terbenam matahari.

Pendapat yang benar adalah bahwasanya orang yang pergi sebelum terbenam matahari dari ‘Arafāh ke Muzdalifah berarti dia telah meninggalkan ‘Arafāh (telah meninggalkan kewajiban haji) berarti dia harus bayar sanksi dengan menyembelih kambing.

⑶ Menghadap ke jabal rahmah

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau wuqūf, beliau menjadikan jabal rahmah diantara beliau dengan Ka’bah (di antara arah Ka’bah).

Ada orang yang berwuqūf di depan jabal rahmah, dia menghadap jabal rahmah dan membelakangi Ka’bah, ini keliru, karena salah satu adab dalam berdo’a adalah menghadap kiblat.

Kemudian keyakinan harus menaiki jabal rahmah, ini tidak benar.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika melempar jamarah

⑴ Keyakinan harus mengambil batu di Muzdalifah pada malam hari.

Ingat! Kita bermalam di Muzdalifah tanggal 9 malam 10 Dzulhijjah sampai di Muzdalifah kita mengerjakan shalāt Maghrib dan ‘Isyā kemudian istirahat.

⑵. Keyakinan pada waktu melempar adalah melempar syaithān

Ini tidak benar!

Yang pertama kali mencontohkan melempar adalah Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, ketika beliau mau menyembelih putranya Ismāil diganggu oleh syaithān dan beliau melempar syaithān itu dengan batu.

Kita melempar itu karena mengikuti ajaran beliau, bukan karena melempar syaithān.

⑶ Melempar dengan batu yang terlalu besar atau selain batu.

⑷ Tidak berdo’a setelah melempar jumrah As Shugra atau jumrah wusthā.

Ini keliru.

Karena termasuk waktu yang mustajab kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah setelah melempar jumrah Al ‘Ulā dan Al Wusthā kemudian beliau berdo’a.

Adapun kebalikannya, sebagian orang malah berdo’a setelah jumrah ‘Aqabah. Ini keliru.

Baik ketika hari nahr atau hari tasyriq tidak ada prosesi berdo’a setelah melempar jumratul ‘Aqabah.

⑸ Melempar 7 butir batu secara bersamaan (sekaligus) dalam satu kali lemparan.

Yang benar adalah dilempar dan setiap lemparan adalah satu batu kerikil dan mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” atau, “Allāhu Akbar.”

⑹ Mengkhususkan do’a yang tidak ada contohnya ketika melempar.

Tiap satu lemparan ada do’anya, ini salah. Yang benar setiap satu lemparan kita mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” atau, “Allāhu Akbar.”
⑺ Mewakilkan kepada orang lain padahal dia mampu.

Yang diperbolehkan mewakilkan orang lain adalah orang yang tidak mampu adapun jika mampu hanya karena malas saja maka tidak diperlukan untuk mewakilkan kepada orang lain.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf wadā

⑴ Thawāf wadā sebelum melempar jamarat pada hari terakhir lalu kembali lagi ke Minā untuk melempar.

Apa maksudnya?

Perhatikan!

Seseorang pada hari ke-13 (13 Dzulhijjah) tidak ingin sibuk. Lalu dia pagi-pagi pergi ke Mekkah untuk thawāf wadā, selesai thawāf wadā pulang ke Minā lalu melempar jamarat (jamratul ‘Ulā, Wusthā dan ‘Aqabah), ini tidak boleh!

Kenapa?

Karena thawāf wadā adalah pekerjaan terakhir yang harus dilaksanakan oleh jama’ah haji. Jadi thawāf wadā itu diakhirkan.

⑵ Berdiam di Mekkah setelah thawāf wadā

Seseorang ingin berdiam diri di Mekkah tetapi dia melakukan thawāf Wadā dulu. Ini tidak benar.

Thawāf Wadā adalah pekerjaan terakhir bagi jama’ah haji.

⑶ Keluar dari masjidil harām dengan jalan mundur

Karena thawāf Wadā adalah thawāf terakhir maka seseorang berjalan mundur (misalnya). Ini tidak benar tidak ada contohnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑷ Memberikan isyarat di pintu masjidil harām setelah selesai thawāf Wadā dan ingin keluar.

Ini tidak benar.
Ini semua adalah kekeliruan ketika menunaikan ibadah haji.

Alhamdulillāh selesai kajian intensif tentang manasik haji dan umrah. Mudah-mudahan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan kita ikhlās di dalam melaksanakan ini.

Semua kemulyaan dan kemudahan hanya berasal dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla sampai kita menyelesaikan kajian ini.

Apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan apa yang buruk itu dari saya pribadi dan dari syaithān. Saya mohon ampun kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

 

30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 29 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 19 Dzulqa’dah 1438H / 11 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 29 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-29
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 29 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan ketika melaksanakan amal ibadah haji.

◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf

⑻ Melakukan thawāf dipimpin oleh satu orang dan mengucapkan do’a secara bersama-sama dengan suara yang keras

Ini menganggu orang lain ketika thawāf.

Kenapa?

Karena di dalam thawāf kita berdo’a, berdzikir, bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berhaji dan berumrah bersama beberapa ribu shahābatnya dan tidak ada riwayatnya beliau memimpin berdo’a para shahābatnya ketika berthawāf.

Jadi yang paling benar adalah pemimpin jama’ah haji (baik itu pemimpin kloter, pemimpin grup, panitia haji pemimpin KBIH) dia mengajarkan do’a yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian dibaca sendiri-sendiri nantinya.

⑼ Shalāt dua raka’at setelah selesai thawāf dan harus dekat dengan maqām Ibrāhīm.

Kata-kata “harus” tolong diperhatikan, tidak mesti harus di dekat maqām Ibrāhīm, di mana saja di masjidil harām silahkan kita shalāt. Jangan sampai kita menganggu orang lain yang sedang thawāf.

⑽ Shalāt lebih dari dua raka’at setelah thawāf

Setelah thawāf apa yang kita kerjakan?

Setelah thawāf Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakan shalāt di belakang maqām Ibrāhīm sebanyak dua raka’at.

Setelah itupun tidak berdo’a langsung menuju air zamzam (minum air zamzam), kemudian kembali lagi ke Hajar Aswad lalu langsung ke Shafā untuk mengerjakan sa’i.

Hendaklah kita mencukupkan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Para ulamā seperti Abdullāh bin Mas’ud para shahābat Nabi radhiyallāhu ‘anhum mengatakan:

لاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الاجْتِهَادِ فِي بِدْعَةٍ

“Amalan yang sederhana tetapi sesuai dengan sunnah lebih baik daripada terlalu berlebihan tetapi perbuatan bid’ah.”

Jadi ini adalah kesalahan-kesalahan ketika thawāf.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika sa’i

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam setelah thawāf, kemudian shalāt dua raka’at lalu minum air zamzam lalu kembali ke hajar Aswad lalu beliau menuju tempat sa’i.

Pada saat sa’i beliau mengucapkan:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Kemudian mengucapakan:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

Setelah itu beliau melakukan takbir tiga kali, lalu kalimat tauhīd, lalu berdo’a. Dan beliau ulangi hingga 3 kali seperti itu.

Itu adalah pekerjaan di Shafā, lalu beliau berjalan dari Shafā menuju Marwah. Di tengah perjalanan beliau lari di antara dua lampu hijau dan ini disebut satu putaran.

Sa’i adalah perjalanan dimulai dari Shafā dan berakhir di Marwah sebanyak 7 putaran.

Kesalahan-kesalahannya adalah:

⑴ Jika naik ke atas bukit Shafā atau Marwah yang ada, sebagian orang kalau sudah naik ke atas bukit Shafā atau Marwah mengucapkan “Allāhu Akbar” mengangkat kedua tangannya 3 kali.

Ini keliru!

Cukup dia mengangkat kedua tangan mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)

Kemudian dia mengucapkan kalimat tauhīd

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Kemudian berdo’a.

Sebagian orang tidak sampai kepada do’a tersebut, biasanya hanya mengucapkan, “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar,” lalu berlari (karena ingin cepet).

Ini tidak benar ! Tanpa do’a tanpa kalimat tauhīd.

⑵ Ketika Sa’i selalu berlari

Padahal yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah berlari ketika dari lampu hijau pertama ke lampu hijau kedua.

⑶ Setiap kali naik, baik naik ke Shafā atau ke Marwah membaca إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Bacaan ini dibaca hanya satu kali pertama kali kita naik saja, adapun ketika kita sampai ke Shafā dan Marwah pada putaran-putaran sa’i tidak perlu.

⇒Pertama kali kita naik ke bukit Shafā saja kita membacanya.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika wuqūf

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam wuqūf di Arafāh dan beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Saya telah berwuquf di sini (‘Arafah) dan ‘Arafah semuanya adalah tempat wuquf.”

(HR Ahmad nomor 13918)

Ada sebagian orang yang tidak memperhatikan dia berada di dalam Arafāh kah atau di luar Arafāh.

Seperti yang di dalam masjid Namirah, bagian depan masjid Namirah kalau kita garis miring itu bukan merupakan bagian dari “Arafāh tetapi itu bagian dari luar ‘Arafāh.

Jangan sampai kita berwuqūf di sana.

Ini adalah kesalah pertama ketika wuqūf di ‘Arafāh.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 30, In syā Allāh

 

29 sa'i

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 28 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Kamis, 18 Dzulqa’dah 1438H / 10 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 28 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-28
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 28 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan pelaksanaan amal ibadah haji dari mulai ihrām sampai thawāf wadā.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika berihrām

Kita ketahui dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim ‘Abdullāh bin ‘Abbās bercerita bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan miqāt untuk beberapa kota.

√ Miqāt kota Madīnah adalah Dzulhulaifah.

√ Miqāt penduduk Syām adalah Al Julfah.

√ Miqāt penduduk Najed adalah Al Qarnul Manazil.

√ Miqāt penduduk Yaman adalah Yalamlam.

√ Miqāt penduduk Irāq adalah Dzatu’Irq.

Miqāt-miqāt ini sudah ditentukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah:

“Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji dan ‘umrah maka dia melewati miqāt dalam keadaan berihrām, baik dia dari penduduk miqāt-miqāt tersebut atau orang-orang yang melewati miqāt tersebut selama dia masih ingin melaksanakan ibadah haji dan ‘umrah maka dia berihrām ketika melewati miqāt tersebut.”

Kesalahannya adalah:

⑴ Berihrām di airport Jeddah.

Ingat!

Ihrām itu sebuah keadaan bukan sebuah kain, berihrām di Jeddah adalah sebuah kesalahan karena Jeddah sudah di dalam miqāt, bagi penduduk Indonesia yang ingin langsung ke Mekkah maka dia berihrām di atas pesawat.

Kalau seandainya dia sudah sampai ke Jeddah maka dia sudah masuk ke dalam area miqāt, dan Jeddah bukan miqāt yang ditentukan oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berarti jika ada jama’ah haji dari Indonesia langsung pergi ke Mekkah, dia bertolak dari airport Jakarta (daerah-daerah lain) menuju airport Jeddah, dia diwajibkan untuk berihrām di pesawat ketika posisi pesawat sejajar dengan Yalamlam (miqāt penduduk Yaman) karena miqāt itu yang dilewati.

⇒ Adapun apabila berihrām di Jeddah maka ini tidak benar dan merupakan kesalahan.

Dan siapa yang melakukannya berarti melanggar sebuah kewajiban dan harus membayar sanksi dengan menyembelih kambing.

⑵ Berkeyakinan bahwa berihrām harus dalam keadaan suci

Ini tidak mesti, karena ‘Asma binti Umais radhiyallāhu ‘anhā beliau berihrām dalam keadaan nifas.

⑶ Berkeyakinan berihrām harus di atas tanah tidak boleh di udara.

Sehingga mereka tidak mau berihrām di pesawat. Ini salah!
◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf

Kita ketahui yang telah tetap dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau mulai thawāf sebelumnya beliau beridhtibā’, yaitu menyelendangkan kain ihrāmnya dibawah ketiak kanannya dan membiarkan pundak kanannya terbuka.

Lalu beliau memulai thawāfnya dari hajar aswad mengucapkan, “Allāhu Akbar,” dan memberikan salah satu dari 4 hal yang ketika kita membicarakan hajar aswad sudah kita sebutkan.

Kemudian beliau jalan mengelilingi Ka’bah sampai rukun Yamani beliau mengusap rukun Yamani tersebut kemudian berjalan menuju hajar Aswad sambil membaca do’a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Itu disebut satu putaran.

Dan setiap putaran mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

 

Kesalahan-kesalahan ketika thawāf di antaranya:

⑴ Memulai thawāf sebelum hajar Aswad.

Ini terjadi ketika berjama’ah dan yang depan sudah sejajar dengan hajar Aswad tetapi yang dibelakang belum sejajar dengan hajar Aswad tapi sudah mengangkat tangan dan mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

⑵ Melakukan raml (berlari-lari dengan mendekatkan kaki) di setiap putaran.

Padahal raml itu dilakukan hanya 3 putaran pertama dan itupun hanya pada thawāf umrah dan qudūm.

⑶ Berdesak-desakan sambil menyakiti orang lain hanya untuk mencium hajar aswad.

Bukan kita meremehkan penciuman hajar aswad akan tetapi mencium hajar aswad adalah sunnah hukumnya bukan wajib.

Sah orang yang menunaikan umrah atau haji tanpa mencium hajar Aswad.

Tetapi untuk mencium hajar Aswad kemudian menyakiti dan menzhālimi orang lain bahkan di tanah suci dan di depan Ka’bah maka ini tidak diperbolehkan.

Terkadang ada penyewaan ojek hajar Aswad, ini tidak diperbolehkan.

Kita mencium hajar Aswad karena mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mengharap pahala, sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa mengusap hajar aswad atau rukun Yamani akan menghapuskan dosa.

Bukan karena hajar aswad itu berkah atau bisa menyembuhkan penyakit, bisa memberikan manfaat atau menghalang mudarat. Tidak!

⑷ Berkeyakinan bahwa hajar Aswad memberikan manfaat dan mudharat.

Ini keliru dan salah karena hajar aswad seperti hajar biasa sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu:

لَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

“Kalau seandainya aku tidak melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencium engkau wahai hajar aswad maka aku tidak akan menciummu, sesungguhnya aku sangat mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan tidak menahan mudharat.”

(HR Bukhari nomor 1610)

Jadi kita mencium hajar Aswad karena meniru Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑸ Mengusap seluruh pojokan Ka’bah.

Yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah hanya dua pojok Ka’bah yaitu rukun hajar aswad dan rukun Yamani.

Adapun rukun hijir tidak perlu diusap apalagi sampai mengusap seluruh Ka’bah.

Mengusap rukun hajar aswad dan rukun Yamani adalah proses thawāf artinya di luar thawāf tidak disyariatkan untuk mengusapnya.

⑹ Mengkhususkan do’a di setiap putaran thawāf.

Ini tidak benar!

Kekeliruan yang terjadi dan ini adalah koreksi bagi para panitia jama’ah haji yang membagikan buku-buku, yang di dalam buku tersebut disebutkan do’a untuk putaran pertama thawāf.

Pengkhususan do’a seperti do’a putaran pertama atau do’a putaran kedua tidak ada contohnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Silahkan berdo’a apa saja, silahkan membaca do’a apa saja termasuk yang dianjurkan di dalam syari’at Islām.

Seperti; membaca Al Qurān, shalawat, istighfār, tasbih, takbir, bahkan silahkan membaca bacaan putaran pertama, putaran kedua dan seterusnya (saya sudah cek do’a-do’a tersebut bagus) tapi jangan ada pengkhususan.

Kekeliruan lagi di sini disebutkan,

⑺ Membawa buku do’a yang berbahasa Arab, dia membaca tapi tidak paham.

Berdoalah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla harus dengan yakin, khusyuk.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 29, In syā Allāh

 

28 ihram

 

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 27 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Dzulqa’dah 1438H / 09 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 27 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-27
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 27 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah (hari Tasyriq).

Kenapa disebut hari tasyriq?

Karena dahulu di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam orang-orang ini menjemur daging-daging hadyu mereka. Makanya di sebut Tasyriq.

 

Apa yang kita kerjakan pada hari-hari tasyriq ini?
⑴ Banyak berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Baqarah 203:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ

“Dan sebutlah nama Allāh pada hari-hari yang berbilang.”

Kemudian Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bermalam, pada malam-malam hari Tasyriq di Minā dan hukumnya menurut para ulamā adalah wajib.

Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam-malam Tasyriq bermalam di Minā dan karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberi izin kepada para pengembala kambing.

Dari ini kita bisa pahami bahwa selain mereka yang tidak punya udzur tidak boleh untuk keluar dari Minā dan bermalam di luar Minā.

⑵ Pada hari ke-11 kita melempar jamarāt yang tiga dari mulai jamratul Ulā, Wusthā dan ‘Aqabah.

Melempar jamratul Ulā, Wusthā, ‘Aqabah adalah tanggal 11,12 dan 13 bagi yang mengambil waktu yang akhir pada pelaksanaan ibadah haji.

◆ Waktu bolehnya melempar tiga jamarat ini pada tanggal 11,12 dan 13

⇒ Waktiu bolehnya adalah setelah tergelincir matahari dari atas kepala kita yang menunjukkan waktu shalāt zhuhur.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu:

رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melempar jamrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) di waktu Dhuha dan beliau melempar jamrah setelah itu (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah) pada ba’da zawal, setelah tergelincirnya matahari dari atas kepala kita.”

(HR Muslim nomor 2290, versi Syarh Muslim nomor 1299)

Dan ini yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalīl yang lain yang menunjukkan bahwasanya melempar jamratul ba’da zhuhur adalah hadīts riwayat Imām Baihaqi bahwasanya ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu berkata:

لا تُرمى الجمرة حتى يميل النهار

“Tidak boleh jumrah dilempar sampai tergelincir matahari dari atas kepala kita.”

Hadīts riwayat Imām Mālik dalam kitābnya Al Muwathā, ‘Abdullāh bin ‘Umar berkata:

لا تُرمى الجمار في الأيام الثلاثة حتى تزول الشمس

“Tidak boleh melempar jamrah pada tiga hari ini (11,12 dan 13 Dzulhijjah) sampai tergelincir matahari.”

Ini semua dalīl yang sangat jelas sekali, sehingga tidak boleh melempar jamrah pada hari Tasyriq ini sebelum waktu zhuhur.

 

◆ Sifat melempar jamarāt

Sifat melempar yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

√ Kita mulai dari jamratul ‘Ulā (jamrah yang paling jauh dari kota Mekkah tetapi dekat dengan kota Minā disamping masjidil khāif).

Kita mengambil batu kerikil di Minā dan sekitarnya sebanyak yang akan kita lempar misalnya kita memerlukan 7 butir kerikil berarti dikali 3 menjadi 21 butir kerikil. Ini untuk hari pertama.

Lalu kita datang ke jamratul ‘Ulā. Kita lempar (di hadapan jamarah) posisi kita agak ke kanan sedikit (bila kita membelakangi Minā).

Setiap lemparannya kita mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” sebanyak 7 butir lemparan.

Lalu kita bergeser ke kanan menghadap kiblat dan berdo’a (berdo’a dalam waktu yang lama).

Setelah berdo’a kita menuju jumratul Wusthā.

Kita lempar bila kita membelakangi Minā agak ke kiri sedikit, kemudian setelah itu kita bergeser sedikit ke kiri menghadap kiblat kemudian berdo’a.

Setelah itu kita menuju jamratul ‘Aqabah.

Cara melempar jamratul ‘Aqabah seperti melempar pada pada hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) bagian kanan dari tubuh kita ke arah Minā bagian kiri dari tubuh kita ke arah Mekkah.

Ini adalah tata cara yang disunnahkan oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, jika penuh atau tidak mampu seperti ini (misalnya) tidak mengapa, dari arah mana saja kita lempar tetapi jangan lupa berdo’a nya karena ini waktu-waktu yang mustajab dalam haji.

◆ Akhir pelemparan jamrah

Tanggal 11 Dzulhijjah kita boleh melempar awalnya setelah shalāt zhuhur, akhirnya sebelum fajar tanggal 12 Dzulhijjah.

Yang keliru adalah melempar jamarat pada hari Tasyriq sebelum zhuhur, ini dikhawatirkan, (pendapat yang lebih kuat) pelemparan jamarat yang hukumnya wajib tidak sah kalau seandainya dilempar sebelum waktunya.

Kalau tidak sah berarti dia meninggalkan sebuah kewajiban, kalau meninggalkan sebuah kewajiban maka dia kena sanksi (menyembelih kambing).

Bagi orang tua yang sakit, anak kecil, wanita hamil dan semisalnya maka boleh untuk mewakilkan dengan yang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat At Thaghābun ayat 16.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allāh sesuai dengan kemampuan kalian.”

Hari ke-12 juga seperti itu, bagi yang ingin mengambil nafar awwal, maka dia melempar jamarah yang tiga ini sebelum Maghrib dan harus keluar dari Minā sebelum Maghrib. Kalau tidak maka dia harus bermalam sampai besok harinya lagi.

Bagi yang mengambil nafar tsani (dua-duanya diperbolehkan) dan yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah nafar tsani. Maka dia melempar jamarah ini pada hari ke-13 di waktunya. Dan jangan melemparnya setelah Maghrib (sebelum Maghrib sudah selesai).

Setelah pekerjaan di Minā selesai 11,12 dan 13 Dzulhijjah (setiap malam wajib bermalam) setelah itu dia boleh pergi ke Mekkah untuk mengerjakan yang disebut dengan thawāf Wadā.

Untuk thawāf Wadā ini hukumnya wajib, dalīl yang menunjukkan akan hak ini adalah hadīts riwayat Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

“Salah satu dari kalian tidak boleh pergi (dari Mekkah) sampai pekerjaan yang paling terakhir dari amalan hajinya adalah thawāf di baitullāh.”

(HR Muslim nomor 1327)

Tetapi bagi wanita yang hāidh dan wanita yang nifas maka dia diperbolehkan untuk tidak thawāf Wadā, sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim juga dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā.

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ، آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

“Manusia diperintahkan untuk menjadikan pekerjaan paling terakhir mereka pada ibadah hajinya adalah mengelilingi Ka’bah (thawāf di baitullāh) kecuali diringankan bagi wanita yang hāidh (dan nifas).”

(HR Muslim nomor 1328)

Ada beberapa pertanyaan di sini.

⑴ Bolehkah mengakhirkan (menggabung) thawāf Ifadhah dengan thawāf Wadā karena satu dan lain hal?

Jawabannya:

⇒Boleh, dengan catatan ketika kita thawāf niatkan itu thawāf Ifadhah dan sudah mencukupi itu sebagai thawāf Wadā.

Karena yang dimaksud dengan thawāf Wadā adalah kita mengakhiri ibadah haji kita dengan thawāf.

Jadi kalau seseorang mengerjakan thawāf Ifadhah dan dia niatkan thawāf Ifadhah sebelum dia meninggalkan Mekkah (keluar dari Mekkah) maka itu disebut dengan thawāf Wadā pada saat yang bersamaan.

⑵ Wanita yang sedang hāidh dan sebelumnya belum mengerjakan thawāf Ifadhah, sedangkan jadwal pulang ke Indonesia sudah dekat maka bagaimana caranya?

Jawabannya:

⇒Jika tidak memungkinkan dia tinggal menunggu sampai hāidhnya bersih maka dia diperbolehkan untuk thawāf Ifadhah dan pada saat yang bersamaan thawāf Wadā dengan menggunakan pembalut (ini difatwakan oleh Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah rahimahullāh) karena kondisinya dalam keadaan sangat darurat untuk melakukan itu.

Karena kalau dia tidak thawāf Ifadhah berarti hajinya belum selesai, karena thawāf Ifadhah hukumnya adalah rukun haji.

Selesailah perkerjaan amal ibadah haji, mudah-mudahan bermanfaat. Apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla apa yang buruk itu dari kami pribadi.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 28, In syā Allāh

 

 

 

27 hari tasyriq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 26 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Selasa, 16 Dzulqa’dah 1438H / 08 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 26 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-26
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 26 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Setelah melempar jamrah ‘Aqabah, yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah menyembelih hadyu.
◆ Menyembelih hadyu
Menyembelih hadyu, kalau kita sudah kolektif mengumpulkan dengan panitia haji, maka selesai kita, tidak ada urusan lagi dengan hadyu. Kecuali orang yang ingin menyembelih hadyu sendiri.

√ Haji Tammattu’ dan Qirān diwajibkan menyembelih hadyu.

√ Haji Ifrad tidak diwajibkan menyembelih hadyu.

Tetapi jika dia tidak mampu menyembelih hadyu maka dia boleh untuk berpuasa 3 hari selama di tanah suci dan 7 hari setelah pulang ke tempat asalnya, hal ini berdasarkan dalīl surat Al Baqarah ayat 196:

فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Barangsiapa siapa yang menunaikan haji Tammattu’ dengan berumrah kemudian berhaji maka dia menyembelih apa yang mudah baginya dari hewan hadyu, jika dia tidak mendapati hewan yang disembelih sebagai hewan hadyu maka dia berpuasa 3 hari pada waktu haji dan 7 hari jika dia pulang dan itu adalah 10 hari yang sempurna.

Yang itu apabila dia bukan penduduk kota Mekkah. Jika penduduk kota Mekkah ingin mengerjakan haji Tammattu’ maka tidak ada kewajiban hadyu.”

⇒ Hadyu diperuntukkan untuk orang-orang selain penduduk kota Mekkah.

Setelah hadyu, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan pencukuran rambut.

Pencukuran rambut yang diperbolehkan dalam rangka tahallul ada 2 macam.

Diantaranya:

⑴ Memendekkan seluruh rambut kepala.

⑵ Menggundul habis rambut kepala.

Untuk yang lebih utama adalah menggundul habis rambutnya, dalīl nya adalah sebuah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim, ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā bercerita, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

” رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ ” ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ” رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ ” ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ ” رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ ” ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ” وَالْمُقَصِّرِينَ ”

“Allāh merahmati orang-orang yang menggundul habis rambut kepalanya.”

Kemudian para shahābat bertanya:

“Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya , wahai Rasūlullāh?”

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Allāh merahmati orang-orang yang menggundul rambut kepalanya.”

Kemudian para shahābat bertanya untuk kedua kalinya:

“Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya, wahai Rasūlullāh?”

Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda sambil berdo’a:

“Allāh merahmati orang-orang yang menggundul rambut kepalanya.”

Kemudian para shahābat bertanya untuk ketiga kalinya:

“Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya, wahai Rasūlullāh?”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab”

“Dan orang-orang yang memendekkan rambut kepalanya.”

(HR Muslim nomor 1301)

Dari sini kita bisa ambil pelajaran bahwa yang paling utama jika kita ingin tahallul haji yaitu dengan menggundul habis rambut kepala dan ini hanya untuk laki-laki.

Sedangkan untuk wanita, dia bisa mengambil ujung rambutnya seujung ruas jari lalu dia potong.

Jika dia sudah melempar jumrah ‘Aqabah, kemudian dia memotong rambut, maka dia dikatakan tahallul awal.

Ketika ada orang yang menunaikan ibadah haji, sebelum tahallul awal dia berjima’ maka dia mendapatkan sanksi yang berat yaitu menyembelih unta atau sapi dan dibagi-bagikan kepada faqīr miskin di kota Mekkah tanpa dia ambil sedikitpun.

Setelah itu Nabi Muhammad bertahallul, artinya lepas dari ihrām. Lepas dari ihrām maksudnya larangan-larangan berihrām tidak berlaku lagi bagi orang tersebut.

Beliau kemudian mandi, beliau memakai minyak wangi, dan memakai pakaian biasa (sesudah tahallul awal). Dan dianjurkan untuk memakai pakaian yang paling bagus.

Setelah kita bertahallul lalu kita pergi ke Mekkah untuk melaksanakan thawāf Ifadhah.

Saat kita thawāf Ifadhah kita berihrām dengan menggunakan pakaian biasa, dalīl yang menunjukkan tentang thawāf Ifadhah (rukun haji), artinya tidak bisa ditinggalkan harus dikerjakan.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah surat Al Hajj ayat 29, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Kemudian selesaikan pekerjaan pekerjaan haji mereka kemudian tunaikan nadzar-nadzar mereka kemudian thawāflah.”

⇒ Thawāf Ifadhah adalah thawāf haji dan merupakan rukun haji.

Tata cara thawāf Ifadhah sama dengan thawāf biasa dimulai dari hajar Aswad kemudian sampai ke rukun Yamani. Dari rukun Yamani menuju rukun hajar Aswad membaca do’a :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ini dihitung satu putaran.

⇒ Thawāf dilakukan dari mulai hajar Aswad ke hajar Aswad sebanyak 7 putaran.

Setelah thawāf Ifadhah, maka bagi yang mengerjakan haji Tammattu’ diwajibkan sa’i yang dinamakan sa’i haji.

Adapun yang mengerjakan haji Ifrad dan Qirān, kalau dia diawal sudah mengerjakan sa’i (setelah thawāf Qudum) maka dia tidak perlu lagi mengerjakan sa’i setelah thawāf Ifadhah.

Setelah menyelesaikan sa’i maka kembali lagi ke Minā. Jangan sampai dia bermalam di Mekkah karena bermalam pada hari-hari tasyrik di Minā termasuk amalan-amalan wajib. Yang apabila ditinggalkan tanpa ada udzur maka bisa menyebabkan kita kena sanksi yaitu menyembelih kambing.

Setelah thawāf kita mengerjakan shalāt dua raka’at.

Ketahuilah bahwa setiap thawāf 7 putaran baik thawāf umrah, thawaf qudum, atau thawāf haji selalu ada shalāt dua raka’at setelahnya.

Di dalam riwayat disebutkan:

تصلى بعد كل سبعة أشواط

“Di setiap thawāf 7 putaran ada dua raka’at.”

Kalau sudah mengerjakan thawaf Ifadhah maka disebut tahallul tsani (tahallul akbar).

Bedanya dengan tahallul awal apa?

Tahallul awal seluruh larangan-larangan ihrām boleh dia kerjakan kecuali berjima’ adapun bila sudah tahallul tsani maka halal segala sesuatu baginya termasuk berjima’.

Permasalahan.

Kalau kita lihat tadi tanggal 10 Dzulhijjah ada berapa pekerjaan?

Jawabannya:

⇒ Ada 4 pekerjaan.

⑴ Melempar jamratul ‘Aqabah.
⑵ Menyembelih Hadyu.
⑶ Tahallul.
⑷ Thawāf Ifadhah.

4 perkara ini boleh diputar putar atau dibolak balik.

Misalkan:

⑴ Orang dari Muzdalifah langsung menuju Mekkah (ini yang sering dikerjakan oleh sebagian jama’ah haji) untuk thawāf Ifadhah. Setelah thawāf Ifadhah mencukur rambut (bertahallul) lalu melempar jamratul ‘Aqabah. Bolehkah kita melaksanakan seperti ini? Boleh.

⑵ Orang dari Muzdalifah pagi sampai Minā langsung mencukur rambutnya baru melempar jamratul ‘Aqabah, ini juga boleh dilakukan.

⑶ Orang melaksanakan hadyu dulu lalu melempar jamratul ‘Aqabah lalu bertahallul baru thawāf Ifadhah. Ini juga boleh.

Dalīlnya adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Ada seseorang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tanggal 10 Dzulhijjah, kemudian orang itu berkata:

لَمْ أَشْعُرْ فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَنْحَرَ فَقَالَ اذْبَحْ وَلَا حَرَجَ ثُمَّ جَاءَهُ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَشْعُرْ فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ فَقَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ

“Wahai Rasūlullāh, aku tidak sengaja aku mencukur dahulu rambutku sebelum aku menyembelih hadyu.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Silahkan sembelih tidak mengapa.”

Kemudian datang lagi seseorang dan berkata:

“Wahai Rasūlullāh, aku menyembelih hadyu dulu sebelum aku melempar jamratul ‘Aqabah?”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Lempar, tidak mengapa.”

(HR Muslim nomor 2301, versi Syarh Muslim nomor 1306)

Padahal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melempar dahulu, baru hadyu lalu bertahallul setelah itu thawāf Ifadhah.

Ada lagi yang bertanya:

حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ فَقَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ وَأَتَاهُ آخَرُ فَقَالَ إِنِّي ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ وَأَتَاهُ آخَرُ فَقَالَ إِنِّي أَفَضْتُ إِلَى الْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ

“Wahai Rasūlullāh, aku mencukur dulu rambutku sebelum aku melempar jamratul ‘Aqabah?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Lempar sekarang tidak mengapa bagimu.”

Ada lagi yang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, aku menyembelih dulu sebelum melempar jamratul ‘Aqabah?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Lempar sekarang tidak mengapa bagimu.”

Ada lagi yang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, aku thawāf Ifadhah dulu sebelum melempar jamratul ‘Aqabah?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Lempar sekarang tidak mengapa bagimu.”

(HR Muslim nomor 2305, versi Syarh Muslim nomor 1306)

رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ فَقَالَ لَا حَرَجَ

Ada lagi yang bertanya:

“Wahai Rasūlullāh, aku melempar jamratul ‘Aqabah setelah masuk waktu sore (waktu malam)?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Tidak mengapa tidak ada dosa bagimu.”

سَعَيْتُ قَبْلَ أَنْ أَطُوفَ أَوْ قَدَّمْتُ شَيْئًا أَوْ أَخَّرْتُ شَيْئًا فَكَانَ يَقُولُ لَا حَرَجَ

“Aku sa’i dulu sebelum thawāf?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Tidak mengapa.”

(Hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd nomor 1723).

⇒ Jadi amalan tanggal 10 Dzulhijjah ini boleh tidak berurutan atau di bolak balik, mana yang lebih mudah bagi kita maka kita kerjakan dahulu.

⇒Thawāf Ifadhah juga boleh diakhirkan, bisa di hari ke-11,hari ke-12 atau hari ke-13.

 

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 27, In syā Allāh

 

 

 

26 haji selfie

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 25 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Senin, 15 Dzulqa’dah 1438H / 07 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 25 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-25
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 25 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada lanjutan ini kita ingin membicarakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya.

Perhatikan, sebuah hadīts riwayat Imām Muslim dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu bercerita:

ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ – حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ – بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ

“Pada malam di Muzdalifah, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidur sampai terbit fajar (masuk waktu shalāt shubuh), kemudian beliau shalāt shubuh dengan satu ādzān dan satu iqāmah.”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

Ini yang dikerjakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam setelah beliau bermalam di Muzdalifah.

Kemudian setelah shalāt, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdiri di Masy’arul harām (sekarang menjadi masjid yang ada di Muzdalifah).

Kemudian beliau menghadap kiblat berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengucapkan takbir, tahlil, tahmid dan memperbanyak do’a, sebagaimana yang disebutkan Jābir radhiyallāhu ‘anhu dalam riwayat Imām Muslim.

Di manapun kita boleh untuk berdiam di Muzdalifah, pada pagi tanggal 10 Dzulhijjah, sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Muslim:

وَوَقَفْتُ هَا هُنَا وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku berwuqūf di Muzdalifah (pada waktu pagi tanggal 10 Dzulhijjah) dan seluruh Muzdalifah adalah tempat wuqūf (tempat berdo’a).”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

⇒Jadi dalam haji itu tanggal 10 Dzulhijjah kita berwuqūf berdiam diri untuk berdo’a di Muzdalifah mulai dari setelah shalāt shubuh kemudian sampai terbit matahari atau sampai menguning matahari.

Ini berdasarkan sebuah hadīts dari Ammar bin Maemun rahimahullāh Ta’āla, beliau bercerita:

شَهِدْتُ عُمَرَ ـ رضى الله عنه ـ صَلَّى بِجَمْعٍ الصُّبْحَ، ثُمَّ وَقَفَ فَقَالَ إِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا لاَ يُفِيضُونَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَيَقُولُونَ أَشْرِقْ ثَبِيرُ. وَأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم خَالَفَهُمْ، ثُمَّ أَفَاضَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ.

Aku pernah menyaksikan ‘Ummar bin Khaththāb di Muzdalifah pada waktu shalāt shubuh, lalu beliau berdiam di Muzdalifah.

Lalu beliau berkata:

“Sesungguhnya orang-orang musyrik, mereka tidak menuju Minā sampai terbit matahari, lalu mereka mengatakan: Terbitlah shaghir. Dan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyelisihi orang-orang musyrik, beliau pergi dari Muzdalifah pada pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah sebelum terbit matahari.”

(HR Bukhari nomor 1684)
◆ Kapan kita mengambil batu untuk melempar batu untuk jamratul ‘Aqabah?

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika berjalan dari Muzdalifah menuju Minā di tengah-tengah perjalanan itu beliau mengambil kerikil-kerikil batu untuk melempar jumrah ‘Aqabah.

Perhatikan!

Termasuk kekeliruan adalah ketika malam Muzdalifah (9 Dzulhijjah malam) setelah shalāt ‘Isyā kita menyibukan diri dengan mengambil kerikil-kerikil. Ini tidak benar!

Yang benar setelah shalāt maghrib 3 raka’at, kemudian ‘Isyā dua raka’at maka kita dianjurkan untuk tidur sampai waktu dhubuh. Kalau kita termasuk orang yang wajib bermalam di Muzdalifah.

Adapun pengambilan batu kerikil untuk melempar jamratul ‘Aqabah adalah dalam perjalanan dari Muzdalifah menuju Minā pada tanggal 10 Dzulhijjah.
◆ Kerikil yang diambil untuk melempar jamrah sebesar apa?

Kerikil yang diambil adalah kerikil yang sebesar kuku. Hal ini berdasarkan sebuah hadīts ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bercerita:

قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقُطْ لِي حَصًى فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِي كَفِّهِ وَيَقُولُ أَمْثَالَ هَؤُلَاءِ فَارْمُوا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda di pagi hari jumrah Aqabah saat beliau berada di atas untanya:

“Tolong ambilkan aku kerikil.”

Maka aku ambilkan untuk beliau tujuh kerikil, semuanya sebesar kerikil ketapel.

Beliau mengebutkan (membersihkan debunya) di telapak tangan, seraya besabda:

“Dengan kerikil-kerikil seperti inilah hendaknya kalian melempar.”

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai manusia, jauhkanlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang-orang sebelum kalian telah binasa sebab mereka berlebih-lebihan dalam agama.”

(HR Ibnu Majah nomor 3020)
–> Batu al khadzfu adalah batu yang seseorang bisa melemparnya dengan dua jari jemarinya.

Kemudian terus berjalan sampai Minā. Selama perjalanan di Minā banyak-banyaklah membaca talbiyyah.

Setelah tiba di Minā, maka kita langsung menuju jamratul ‘Aqabah.

⇒Jamratul ‘Aqabah adalah lubang jamrah yang paling dekat dengan arah kota Mekkah dan paling terakhir dari kota Minā.

Sebelum melempar jamrah ‘Aqabah kita putuskan talbiyyah kita. Jadi kita berhenti bertalbiyyah sebelum melempar jamratul ‘Aqabah.

Berarti kita mulai bertalbiyyah dari tanggal 8 Dzulhijjah (1 hari) tanggal 9 Dzulhijjah (1 hari) kemudian tanggal 10 Dzulhijjah (1/2 hari).

Jadi kita bertalbiyyah selama kurang lebih 2 1/2 hari.

Hal ini berdasarkan sebuah dalīl hadīts dari Imām Bukhāri dan Muslim yang riwayat oleh ‘Abdullāh bin ‘Abbās:

لَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُلَبِّي حَتَّى رَمَى الْجَمْرَةَ . وَزَادَ فِي حَدِيثِهِ وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُشِيرُ بِيَدِهِ كَمَا يَخْذِفُ الإِنْسَانُ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih saja bertalbiyyah sampai beliau melempar jamratul ‘Aqabah. Ketika beliau melempar jamratul ‘Aqabah, beliau menjadikan bagian kanan dari badannya kearah Minā dan bagian kiri badannya mengarah Ka’bah.”

(HR Muslim nomor 1218)

Sesudah itu kita melempar jamratul ‘Aqabah sebanyak 7 (tujuh) buah batu kerikil, setiap lemparannya kita membaca, “Allāhu Akbar.”
◆ Kapan pertama kali kita melempar jamratul ‘Aqabah?

Ini khususnya untuk ibu-ibu, para wanita, anak kecil, orang tua, karena mereka duluan menuju Minā, sebelum shubuh mereka sudah menuju Minā.

Bolehkah ibu-ibu, para wanita, anak kecil, orang tua, yang sampai Minā sebelum shubuh melempar Jumrah ‘Aqabah?

Jawabannya:

⇒ Boleh.

Sebagaimana hadīts riwayat Abū Dāwūd:

أَرْسَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِأُمِّ سَلَمَةَ لَيْلَةَ النَّحْرِ فَرَمَتِ الْجَمْرَةَ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ مَضَتْ فَأَفَاضَتْ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus Ummu Salamah (pergi duluan) pada malam Muzdalifah (malam tanggal 10 Dzulhijjah), kemudian sesampainya di Minā beliau melempar jamarat (sebelum shubuh) kemudian beliau pergi ke Mekkah untuk melaksanakan thawāf Ifadhah.”

(HR Abu Daud nomor 1492)

Permasalahan.

Seandainya ibu-ibu, para wanita, anak kecil, orang tua pergi dulu dari Muzdalifah menuju Minā dan waktunya sebelum shubuh maka tidak perlu menunggu setelah shubuh, tetapi langsung melempar Jamratul ‘Aqabah sebelum shubuh.

Ada sebuah hadīts riwayat Imām Ahmad dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās:

لَا تَرْمُوا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“Janganlah kalian melempar jamratul ‘Aqabah sampai terbit matahari.”

(HR Ahmad nomor 3034)

Ini bertentangan dengan hadīts sebelumnya, Ummu Salamah dibiarkan oleh Rasūlullāh dhallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk melempar jamratul ‘Aqabah sebelum shubuh.

Adapun hadīts ‘Abdullāh bin ‘Abbās adalah langsung perkataan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Jangan kalian melempar jamratul ‘Aqabah sampai terbit matahari.”

Maka kita jawab.

Untuk menggabungkan keduanya, hadīts yang larangan tidak boleh melempar sebelum terbit matahari adalah untuk orang-orang yang kuat-kuat adapun orang-orang yang lemah kapan sampainya mereka di Minā, maka mereka boleh melempar jamratul ‘Aqabah.

Kalau kita ingin tahu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melempar jamratul ‘Aqabahnya kapan?

⇒ Lihat hadīts riwayat Muslim dari Jābir radhiyallāhu ‘anhum beliau bercerita:

رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melempar jamratul ‘Aqabah pada hari tanggal 10 Dzulhijjah (hari Nahr) pada waktu dhuha, adapun hari-hari setelahnya beliau melempar setelah tergelincir matahari menunjukkan waktu zhuhur.”

(HR Muslim nomor 1299)

Akhir pelemparan jamratul ‘Aqabah kapan?

⇒Ada perbedaan pendapat di antara para ulamā, yang jelas diperbolehkan melempar jamratul ‘Aqabah sebelum terbit fajar tanggal 11 Dzulhijjah.

Berdasarkan hadīts riwayat Bukhāri dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās, ada orang bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ فَقَالَ لَا حَرَجَ قَالَ حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَنْحَرَ قَالَ لَا حَرَجَ

“Aku melempar jumrah setelah sore.”

Beliau bersabda:

“Tidak dosa.”

(HR bukhari nomor 1608, versi Fathul Bari nomor 1723)

Menunjukan bahwasanya melempar jamratul ‘Aqabah diperbolehkan setelah masuk waktu sore dan sebagian berpendapat masuk waktu sore adalah malam hari, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Al Amin Ash Shinqhiti rahimahullāh ta’āla.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 26, In syā Allāh

 

 

25 haji mabrur

 

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 24 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Sabtu, 13 Dzulqa’dah 1438H / 05 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 24 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-24
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 24 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji tanggal 9 Dzulhijjah (hari ‘Arafāh)

Setelah terbenam matahari tanggal 9 Dzulhijjah kita bertolak dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah dengan tenang.

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts riwayat Muslim:

أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ

“Wahai manusia hendaklah kalian tenang-tenang.”

(HR Muslim nomor 1218)

Dalam riwayat yang lain:

أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ بِالإِيضَاعِ

“Wahai manusia hendaklah kalian tenang, sesungguhnya kebaikan bukan dengan cara mengerjakan sesuatu yang melalaikan (yaitu) menyakiti orang.”

(HR Bukhari nomor 1671)

Ada perkataan dari (kalau tidak salah) ‘Ummar bin Abdul Aziz, bahwasanya haji yang benar itu bukan kita bersegera sampai duluan di Muzdalifah, tetapi haji yang benar adalah kita diampuni atau tidak pada hari itu.

Kemudian perlu diketahui, wuqūf di ‘Arafāh adalah amalan inti ibadah haji, siapa yang berhaji tapi tidak wuqūf di ‘Arafāh maka tidak sah hajinya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

.الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ لَيْلَةَ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ

“Inti amalan haji adalah berwuqūf di ‘Arafāh. Barangsiapa yang datang ke ‘Arafāh sebelum shalāt shubuh pada malam Muzdalifah maka dia sudah sempurna hajinya.”

(HR Ibnu Majah nomor 3015 diriwayatkan oleh imam Nasā’i dengan lafazh yang berbeda)

Artinya, waktu wuqūf di Arafāh dari mulai tanggal 9 Dzulhijjah pagi (terbitnya matahari sampai terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah).

Permasalahan.

Bila ada orang terlambat datang ke ‘Arafāh, (misalnya) datangnya malam hari dan orang-orang sudah berangkat ke Muzdalifah semua, pada waktu itu dia sampai di sana lalu berhenti sejenak baru dia bertolak ke Muzdalifah, maka hajinya tetap sah berdasarkan hadīts ini.

Kita sekarang berbicara tanggal 9 Dzulhijjah malam 10 Dzulhijjah, apabila terbenam matahari kita bertolak dari ‘Arafāh ke Muzdalifah.

Kata bertolak ini menunjukkan bahwanya shalāt Maghribnya tidak di ‘Arafāh tetapi di Muzdalifah.

 

◆ Muzdalifah

Jika seorang yang menunaikan ibadah haji sudah sampai ke Muzdalifah maka di sana dia shalāt Maghrib (tiga raka’at) kemudian digabung dengan shalāt ‘Isyā (dua raka’at) otomatis ini dikerjakan pada waktu ‘Isyā. Jadi bukan dikerjakan di ‘Arafāh.

Pertanyaan:

Pertanyaan yang sering ditanyakan, kalau kita di ‘Arafāhnya gara-gara menunggu bis atau bisnya terlambat jadi di ‘Arafāh sampai sebelum pertengahan malam.

Jawabannya:

Shalātlah Maghrib dan ‘Isyā di “Arafāh, karena waktu terakhir mengerjakan shalāt ‘Isyā adalah pertengahan malam. Daripada kita nanti terlambat maka kita kerjakan di ‘Arafāh.

Ini kejadiannya kalau bisnya terlambat tapi bagi yang berjalan kaki maka silahkan dia berjalan dari ‘Arafāh kemudian sampai di Muzdalifah shalāt Maghrib dan ‘Isyā disana.

Shalāt Maghrib 3 rakat disambung dengan shalāt ‘Isyā 2 raka’at.

√ Satu kali ādzān
√ Dua kali iqāmah

Hal ini berdasarkan dari hadīts ‘Usamah ibnu Zaid radhiyallāhu ‘anhu ketika itu beliau bercerita:

رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ عَرَفَاتٍ فَلَمَّا بَلَغَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الشِّعْبَ الأَيْسَرَ الَّذِي دُونَ الْمُزْدَلِفَةِ أَنَاخَ، فَبَالَ
ثُمَّ جَاءَ فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ الْوَضُوءَ، فَتَوَضَّأَ وُضُوءًا خَفِيفًا. فَقُلْتُ الصَّلاَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ ” الصَّلاَةُ أَمَامَكَ “. فَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ، فَصَلَّى ثُمَّ رَدِفَ الْفَضْلُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ جَمْعٍ. قَالَ كُرَيْبٌ فَأَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ الْفَضْلِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى بَلَغَ الْجَمْرَةَ

Aku berboncengan dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari ‘Arafāh ketika beliau sampai ke sebuah tempat sebelum Muzdalifah beliau menambatkan untanya dan beliau kencing.

Kemudian beliau datang dan akupun menuangkan air untuk beliau berwudhu, kemudian beliau berwudhu dengan ringan lalu aku berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Apakah kita sekarang ingin mengerjakan shalāt, wahai Rasūlullāh?”

Kemudian kata beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam):

“Shalāt itu didepanmu (maksudnya di Muzdalifah)”.

(Hadīts riwayat Imām Bukhāri nomor 1669, 1670)

–> Berwudhu ringan artinya karena airnya terbatas maka wudhunya dengan ringan tetapi disempurnakan.

Dalam riwayat Muslim:

..فَلَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيرَهُ فِي مَنْزِلِهِ ثُمَّ أُقِيمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلاَّهَا وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا.

“Ketika beliau sampai ke Muzdalifah, beliau turun (dari untanya) kemudian beliau berwudhu dengan sempurna, kemudian di iqāmahkan shalāt lalu beliau shalāt Maghrib setelah itu seluruh orang menambatkan untanya kemudian setelah itu di iqāmahkan shalāt ‘Isyā kemudian beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) shalāt ‘Isyā, baru beliau tidak mengerjakan shalāt apapun dan pekerjaan apapun di antara dua shalāt tersebut.”

(HR Muslim nomor 1280)

⇒ Jadi tidak benar ada dzikir-dzikir di antara 2 shalāt tersebut atau setelah dua shalāt tersebut.

√ Yang benar sampai Muzdalifah kita mengerjakan ādzān kemudian iqāmah shalāt Maghrib, lalu shalāt Maghrib 3 raka’at.
√ Kemudian iqāmah untuk shalāt ‘Isyā, lalu shalāt ‘Isyā dua raka’at.

Semuanya dikerjakan secara berjama’ah meskipun kelompoknya sedikit misalnya 10 orang, 20 orang.

Setelah selesai shalāt kemudian tidur (istirahat) karena besok banyak pekerjaan berat dan ini yang dikerjakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

 

◆ Tinggal di Muzdalifah

Untuk tinggal di Muzdalifah ada permasalahan, karena ada perbedaan.

⇒ Bachelor (bujang) atau tidak membawa keluarga, dia mabit (bermalam) di Muzdalifah sampai shalāt Shubuh.

⇒ Berkeluarga (ibu-ibu, saudari-saudari, orang tua, anak-anak) atau yang menemani mereka dari para lelaki, diperbolehkan mereka singgah sebentar di Muzdalifah menunggu pertengahan malam.

Sebelum pertengahan malam mereka pergi dari Muzdalifah ke Minā dan dianjurkan untuk mengambil keringanan ini, karena menunggu waktu Shubuh dikhawatirkan orang akan penuh dan tidak cocok untuk para wanita.

Sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā, ‘Āisyah bercerita:

فَاسْتَأْذَنَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَوْدَةُ أَنْ تَدْفَعَ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ، وَكَانَتِ امْرَأَةً بَطِيئَةً، فَأَذِنَ لَهَا

“Saudah istri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam minta izin kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam Muzdalifah untuk pergi ke Minā sebelum orang-orang bertolak kesana (yaitu pada waktu malam) dan beliau adalah wanita yang sudah tua, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengizinkannya.”

(HR Bukhari nomor 1681)

Adapun ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā beliau tetap tinggal bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan dalam sebuah hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim, ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bercerita:

أَنَا مِمَّنْ، قَدَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ الْمُزْدَلِفَةِ فِي ضَعَفَةِ أَهْلِهِ.

“Aku termasuk orang yang diperintahkan oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendahului beliau pada malam Muzdalifah dalam orang-orang lemah dari keluarga Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya sampai yang menemani orang-orang yang lemah tersebut diperbolehkan mereka bertolak setelah pertengahan malam dari Muzdalifah ke Minā.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 25, In syā Allāh

 

 

 

24 mudzdalifah

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 23 DARI 30

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 12 Dzulqa’dah 1438H / 04 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 23 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-23
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 23 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji (bagian ke-2).
◆ Amalan haji tanggal 9 Dzulhijjah (Hari ‘Arafāh).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berangkat menuju ‘Arafāh’ dari Minā pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Setelah selesai shalāt Subuh beliau menunggu matahari terbit, sampai terbit matahari baru beliau pergi ke Minā menuju ‘Arafāh.

Perhatikan!

Sampai terbit matahari (saya tekankan), karena ada perbedaan antara dari Mudzalifah menuju Minā (waktunya pagi juga).

Dari Minā menuju ‘Arafāh (tanggal 9 Dzulhijjah) ketika sudah terbit matahari baru bertolak dari Minā ke ‘Arafāh.

Permasalahan:

Kalau seandainya ada orang pergi sebelum matahari terbit, boleh tidak?

Jawabannya:

Boleh.

Misalkan habis Shubuh langsung menuju ‘Arafāh atau seperti travel-travel sekarang, karena khawatir penuh dan macet maka mereka jam 02:00 pagi sebelum Shubuh sudah berangkat menuju ‘Arafāh.

Nantinya para jama’ah itu shalāt Shubuh di ‘Arafāh atau di tengah jalan. Ini diperbolehkan tidak mengapa.

Tetapi yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah kita bermalam sampai shalāt Shubuh. Setelah shalāt Shubuh menunggu sampai terbit matahari kemudian setelah itu pergi menuju ‘Arafāh. 

Di zaman sekarang sudah mudah sekali dengan adanya kereta (alhamdulillāh). Kita sampai Shubuh di tenda kemudian setelah shalāt Shubuh kita menunggu matahari terbit setelah itu kita naik kereta sampai ‘Arafāh (sebelum zhuhur In Syā Allāh  sudah sampai ‘Arafāh)

 

◆ Wadi ‘Uranah (lembah ‘Uranah).

Di sini terdapat masjid yang bernama masjid Namirah, masjid ini sebagiannya adalah ‘Arafāh, dan sebagian yang lain bukan ‘Arafāh.

Hati-hati, yang nanti berwuqūf di masjid Namirah bagian depan masjid sebagiannya bukan ‘Arafāh. 

Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampai sebelum zhuhur, beliau turun di masjid Namirah sebelum masuk menuju ‘Arafāh. Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) membuat tenda di sana.

Setelah masuk zhuhur beliau masuk menuju ‘Arafāh (ini yang disunnahkan di dalam pelaksanaan ibadah haji).

Akan tetapi jika kita sudah ikut bis dan sampai ke tenda bukan di tempat ini (masjid Namirah), maka jangan memaksakan, nanti dikhawatirkan tidak bisa kembali lagi menuju tenda, karena haji orangnya sangat banyak.

Saya ingatkan, tanggal 8 Dzulhijjah dan tanggal 9 Dzulhijjah kita harus menjaga kondisi tubuh karena Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ.

“Haji itu ibadah (wuqūf) di ‘Arafāh.”

(Hadīts shahīh riwayat Ibnu Mājah (no. 2441)], Sunan At Tirmidzi (II/188, no. 890), Sunan An Nasa-i (V/264), Sunan Ibnu Mājah (II/1003, no. 3015), Sunan Abū Dāwūd (V/425, no. 1933).

⇒Jangan sampai ketika wuqūf kondisi kita tidak sehat sehingga kita tidak bisa berdo’a. Gunakan waktu sebaik-baiknya pada tanggal ini.

⇒Ketika kita tiba di ‘Arafāh jika disediakan tenda (Alhamdulillāh) jika tidak maka carilah tempat yang benar-benar kita bisa khusyuk ibadah di sana.

⇒ Perjalanan dari Minā menuju ‘Arafāh, kita dianjurkan mengulang-ulang talbiyyah, karena ini adalah waktu untuk banyak bertalbiyyah.

⇒Jika sudah masuk waktu shalāt zhuhur maka akan ada imām yang melakukan khutbah kemudian setelah khutbah dilanjutkan dengan shalāt zhuhur dan ‘Ashar berjama’ah.

Shalāt zhuhur dan ‘Ashar dikerjakan dengan qashar. 

Baik penduduk Mekkah, ‘Arafāh atau Minā mengerjakan shalāt zhuhur dan ‘Ashar secara qashar dan dijama’ dan dilakukan pada waktu zhuhur.

√ 2 raka’at zhuhur
√ 2 raka’at ‘ashar

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan ini.

Setelah beliau khutbah dan melaksanakan shalāt zhuhur kemudian menuju ke kaki gunung ‘Arafāh (bukan yang sekarang ada tugunya), kemudian beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menghadap kiblat dengan menjadikan gunung ‘Arafāh antara beliau dengan ka’bah.

Kemudian beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا بِعَرَفَةَ ، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ،

“Aku berwuqūf di sini dan ‘Arafāh seluruhnya adalah tempat wuqūf.”

وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ

“Dan naiklah dari tengah ‘Uranah.”

 

Kalau berdoa jangan menghadap ke gunung, tetapi menghadap ke ka’bah.

Ketika sedang wuqūf di ‘Arafāh kita dianjurkan banyak-banyak berdo’a, terutama do’a yang diucapkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafāh dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan nabi-nabi sebelum ku mengucapkannya adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada yang berhak disembah selain Allāh yang satu saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kekuasaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzi dari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallāhu’anhumā, Shahihut Targhib: 1536)

Ini kita baca sebanyak-banyaknya ketika kita berada di ‘Arafāh (wuqūf di ‘Arafāh).

Kalau bosan dengan bacaan itu kita bisa membaca bacaan lain, yang paling bagus adalah membaca do’a yang berbahasa Arab dan kita pahami. Jika tidak, kita bisa berdo’a dengan menggunakan bahasa sendiri.

Perlu diperhatikan!

Dimakruhkan pada hari ‘Arafāh untuk yang menunaikan ibadah haji berpuasa, lebih baik dia berbuka agar semanggat berdo’a.

Ada sebuah hadīts yang sangat luar biasa (antum harus berbangga untuk orang-orang menunaikan ibadah haji, mudah-mudahan kita diberi umur sampai penunaian ibadah haji. Āmīn).

Hadīts ini hadīts riwayat Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada hari yang paling banyak Allāh di dalamnya memerdekakan hamba-hamba-Nya dari neraka dari pada hari ‘Arafāh, sesungguhnya Allāh mendekat kepada hamba-hamba Nya, kemudian Allāh membanggakan hamba-hamba yang berwuqūf di ‘Arafāh tersebut di hadapan para malāikat-Nya.”

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

“Wahai para malāikatku, lihat apa yang mereka inginkan?”

(HR muslim nomor 1348)

→ Artinya silahkan minta apa saja.

Dalam riwayat yang lain:

“Wahai hamba-hamba ku, silahkan kalian bertolak dari ‘Arafāh menuju Minā dalam keadaan kalian diampuni dan bagi orang-orang yang kalian do’akan.”

Sekali lagi, nasehat kepada seluruh jama’ah haji, pagi tanggal 9 Dzulhijjah jaga kondisi stamina tubuh kita.

Kemudian yang kita berwuqūf lakukan sampai terbenam matahari.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 24, In syā Allāh

 

 

 

 

 

23 doa arafah

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 22 DARI 30

 

BimbinganIslam.com
Kamis, 11 Dzulqa’dah 1438H / 03 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 22 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-22
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 22 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji.

Haji itu sebenarnya hanya 6 (enam) hari, yaitu tanggal 8 sampai tanggal 13 Dzulhijjah.

6 hari itu kita perjuangkan. Apakah kita termasuk hamba-hamba Allāh yang mendapatkan ampunan sebagaimana yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla firmankan di dalam hadīts qudsi.

يا عبادي أفيضوا مغفورا لكم

“Wahai hamba-hambaku, bertolaklah kalian dari ‘Arafāh menuju Minā dalam keadaan kalian sudah diampuni ataukah kita termasuk orang-orang yang hanya mendapatkan capai dan kehabisan tenaga serta kehabisan harta.”

Kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semoga seluruh jama’ah haji yang mengerjakan ibadah haji dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mudah-mudahan amal ibadah kita diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mendapatkan haji yang mabrūr dan kembali kerumahnya masing-masing dalam keadaan seperti keluar dari rahīm ibunya. (Āmīn)
⑴ Amalan haji yang pertama tanggal 8 Dzulhijjah.

Disebut juga dengan hari Tarwiyyah.

Kenapa hari Tarwiyyah?

Apa arti:

رَوَى – يَرْوِيْ

Artinya: haus.

Orang Arab biasanya pada tanggal 8 Dzulhijjah mengumpulkan air minum untuk persiapan besok (dulu tidak seperti sekarang), sehingga tanggal 8 Dzulhijjah disebut dengan hari Tarwiyyah.

• Bagi yang berhaji Tamattu’ maka berihrām kembali tetapi ditempat tinggalnya masing-masing.

√ Jika dia sudah tinggal di Minā maka dia berihrām.
√ Jika dia tinggalnya masih di Mekkah maka dia berihrām di tempat tinggalnya.

Dan tidak ada kewajiban untuk pergi ke masjidil Harām, hal ini berdasarkan sebuah hadīts riwayat Imām Muslim, bahwa Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita:

أَمَرَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا أَحْلَلْنَا أَنْ نُحْرِمَ إِذَا تَوَجَّهْنَا إِلَى مِنًى . قَالَ فَأَهْلَلْنَا مِنَ الأَبْطَحِ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah memerintahkan kami, ketika kami selesai bertahallul dan kami ingin bertolak ke Minā kami berihrām di mana di tempat tinggal kami, maka kamipun berihrām di Abthah (sebuah tempat dekat kota Mekkah).”

(HR Muslim nomor 1214)

Ini menunjukkan bahwa berihrām di tempat masing-masing.

• Bagi yang berhaji Qirān dan Ifrad, mereka sudah dalam keadaan ihrām pada tanggal 8 Dzulhijjah dan sebelumnya. Mereka tetap dalam keadaan berihrām karena setelah mereka melakukan thawāf qudūm.

Bila mereka ingin menunaikan sa-i haji, mereka tetap dalam keadaan ihrām dan tidak keluar dari ihrām.

• Hal-hal yang dilakukan sebelum berihrām

Seperti:

⑴ Membersihkan tubuh sebagaimana yang telah kita sebutkan ketika kita membicarakan ihrām (memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak, dll) ini bagi yang berhaji Tamattu’ dan bagi yang tidak berkurban.

⑵ Bagi yang berkurban maka jangan melakukan itu, karena meskipun dia berhaji tetapi dia juga ingin berkurban tidak boleh dia mengambil sesuatu dari rambut dan tubuhnya sedikitpun.

Dari hadīts ummu Salamah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah satu dari kalian ingin berkurban maka tidak boleh dia mengambil rambutnya atau sesuatu apapun dari tubuhnya.”

(HR Muslim 1977)

⑶ Berihrām dengan mengucapkan siar masuk ke dalam haji.

Bagi yang berhaji Tamattu’ (“Labbaika hajjan”), adapun bagi yang melaksanakan haji Ifrad atau Qirān tidak perlu lagi dia mengucapkan itu.

Mulai saat itu dia dianjurkan dengan sangat untuk membaca talbiyyah dan dia bertolak pergi ke Minā sebelum tergelincir matahari tepat di atas kepala kita (sebelum zhuhur).

Kita ambil kesimpulan, dianjurkan ihrāmnya sebelum zhuhur.

• Permasalahan.

Bolehkan ihrām setelah zhuhur?

Jawabannya:

Boleh, kemudian dia bertolak ke Minā (jika dia belum berada di Minā).

Adapun yang tendanya sudah di Minā, berihrām-nya di Minā dan dianjurkan memperbanyak talbiyyah.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts riwayat Muslim dari Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, dia bercerita:

فلمافَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلًا حَتَّى طَلَعَتْ الشَّمْسُ

“Ketika hari Tarwiyyah maka mereka menuju Minā, lalu mereka berihrām haji kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaiki untanya dan sampai di Minā beliau shalāt zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isyā, Subuh. Kemudian beliau berdiam sejenak sampai terbit matahari.”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

⇒Ini menunjukkan bahwa tanggal 8 Dzulhijjah dianjurkan shalāt zhuhur di Minā dan dianjurkan sebelum zhuhur bertolak menuju Minā.

• Permasalahan.

Jika anda mendapati tempat anda di Muzdalifah (tenda jenis ‌Ha dan Wau) maka tetap saja anda berada disitu tidak usah anda pergi ke Minā, ini sudah mencukupi.

Juga ‘Abdullāh ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bercerita:

“‘Abdullāh bin ‘Umar senantiasa shalāt lima waktu ketika di Minā dan memberitahukan kepada para shahābatnya bahwa Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakan seperti itu.”

Kalau sudah seperti itu, dianjurkan bagi jama’ah haji untuk bermalam di Minā pada malam hari ‘Arafāh tanggal 8 malam 9 Dzulhijjah. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam selama ini memperbanyak talbiyyah.

Jadi mulai kita berihrām tanggal 8 Dzulhijjah (bila haji Tamattu’) atau haji Ifrad dan Qirān (yang tidak bertahallul), terus bertalbiyyah tidak terputus talbiyyahnya. Dan boleh juga bertakbir karena ini adalah waktu-waktu takbir.

Perhatikan!

Bagi yang tinggal di pemondokan-pemondokan (Aziziyyah misalnya) bahwanya bermalam pada malam hari ‘Arafāh hukumnya sunnah (tidak wajib).

Bagi siapa yang ingin mengerjakan kesempurnaan maka itulah yang seharusnya dikerjakan.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 23, In syā Allāh

 

 

 

22 tarwiyah

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 21 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Rabu, 10 Dzulqa’dah 1438H / 02 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 21 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-21
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 21 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sekarang kita membicarakan tentang sa-i.

Pengertian sa-i adalah perjalanan dari Shafā ke Marwah sebanyak 7 (tujuh) putaran, dimulai dari Shafā dan berakhir di Marwah.

⇒ Shafā adalah kaki gunung Abū Khubaizh atau kaki jabal Abū Khubaizh di mana Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām  mengumandangkan:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (الحج: ٢٧)

⇒ Marwah adalah kaki gunung Khu’ay.

◆ Syarat sahnya sa-i, di antaranya:

⑴ Niat.
⑵ Dimulai dari Shafā dan diakhiri di Marwah.
⑶ Sa-i dilakukan setelah thawāf.

Permasalahan:

Bagi wanita yang sedang hāidh bagaimana?

Bukankah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Kerjakan apa yang dikerjakan oleh jama’ah haji kecuali thawāf di Ka’bah sampai engkau suci.”

(HR Bukhari 294, versi Fathul Bari nomor 305)

Seandainya orang yang sedang hāidh dan dalam keadaan berihrām kemudian mengerjakan sa-i dahulu (thawāfnya nanti bila sudah suci) bolehkah?

Jawabannya:

Allāhu A’lam, pendapat yang lebih kuat, bahwasanya lebih baik kerjakan sesuai yang disunnahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu jangan kita memulai sa-i kecuali setelah thawāf.

⑷ Sa-i, 7 (tujuh) putaran dengan hitungan;

⇒ Dari Shafā menuju Marwah 1 putaran.
⇒ Dari Marwah ke Shafā 1 putaran (putaran yang kedua).

⑸ Ketika kita melakukan sa-i harus sempurna sampai ke Shafā dan Marwah.

⑹ Sa-i dilakukan di tempat sa-i tidak boleh ditempat lain.

 

◆ Sifat-sifat sa-i.

Setelah shalāt dua raka’at di maqām Ibrāhīm atau di belakang maqām Ibrāhīm setelah itu dianjurkan untuk kembali ke hajar aswad dan sebelumnya kita dianjurkan untuk minum air zam-zam.

Setelah minum air zam-zam kita kembali ke hajar aswad (melakukan salah satu dari empat yang sudah kita sebutkan), kalaupun tidak dilakukan tidak mengapa.

Kalau tidak dilakukan langsung menuju Shafā.

Ketika naik kebukit Shafā membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ

Kemudian melakukan beberapa hal di Shafā:

√ Mengangkat tangan.
√ Menghadap Ka’bah
√ Bertakbir tiga kali.
√ Mengucapkan kalimat tauhīd:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

√ Berdo’a (proses ini diulangi untuk kedua kalinya). Kemudian untuk ketiga kalinya baru kita berjalan menuju Marwah.

Di tengah perjalanan nanti kita akan mendapati lampu hijau yang pertama.

⇒ Bagi laki-laki yang tidak membawa keluarga wanita, anak kecil atau orang tua maka disunnahkan untuk berlari sampai lampu hijau kedua, setelah itu berjalan seperti biasa sampai ke Marwah.

⇒ Bagi wanita, dia berjalan seperti biasa ditemani keluarganya yang laki-laki (mahrāmnya).

Itu disebut dengan satu putaran, perjalanan dari Shafā menuju Marwah.

Di Marwah apa yang kita lakukan?

Di Marwah kita melakukan persis seperti yang kita lakukan di Shafā, baru setelah itu kita berjalan dari Marwah menuju Shafā.

Di tengah perjalan nanti kita akan temui lampu hijau (sama seperti yang kita lakukan tadi bagi laki-laki berlari dari lampu hijau pertama hingga kedua dan bagi wanita berjalan, lalu berjalan menuju ke Shafā)

Ini disebut dengan putaran yang kedua. Dan seterusnya seperti itu dihitung putaran ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, ke-7 berhentinya di Marwah.

Selama melakukan sa-i perjalanan yang panjang silahkan baca apa saja, boleh kita mencontoh bacaan shahābat Nabi yang berbunyi:

رب اغفر وارحم وأنت الأعز الأكرم

Setelah selesai di Marwah kita melakukan tahallul, bagi yang melaksanakan umrah maka dia bertahallul.

Tahallulnya dengan cara mencukur rambutnya.

◆ Mencukur rambut ada dua cara:

⑴ Menggundul habis rambutnya.
⑵ Memendekkan seluruh rambutnya.

Bagi yang haji Tamattu’ maka dilihat waktunya, jika waktunya masih panjang sekitar satu minggu, dua minggu dan kira-kira rambutnya tumbuh dengan cepat maka silahkan dia menggundulnya (lebih utama) dan diperbolehkan dia hanya memendekan rambutnya saja.

Jika waktunya pendek, misalnya 2 hari lagi tanggal 08 Dzulhijjah (dimulai waktu haji) sedangkan dia baru datang tanggal 06 Dzulhijjah jika dia menggundul habis rambutnya maka saat tahallul haji dia tidak memiliki rambut, maka cukup dia dengan memendekkan rambutnya saja.

Kalau dia haji Ifrad atau Qirān maka setelah dia melakukan sa’i (kalau dia ingin dan ini adalah sa’i haji baginya) maka dia berdiam diri di Mekkah dalam keadaan ihrām sampai tanggal 08 Dzulhijjah dia melaksanakan aktifitas ibadah haji.

Tidak ada bagi yang mengerjakan haji Ifrad atau Qirān untuk bertahallul.

Untuk wanita seperti itu pula, kalau dia berumrah maka dia bertahallul dengan cara memotong rambutnya.

Wanita memotong rambutnya dengan cara mengumpulkan ujung-ujung rambut dan dipotong seujung ruas jari tangan, jika dia umrah atau haji Tamattu’.

Untuk haji Ifrad dan Qirān bagi wanita maka dia tetap dalam keadaan ihrām sampai tanggal 08 Dzulhijjah.

Alhamdulillāh mudah-mudahan berkah dan bermanfaat dan ikhlās kita karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 22, In syā Allāh

 

 

 

21 sa'i 1