Tag Archives: Isra’ Mi’raj

Hadīts tentang Isra’ Mi’raj

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 08 Rajab 1440 H / 15 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Hadīts tentang Isra’ Mi’raj
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H05
💾 Unduh Seriah Lengkap Bulan Rajab 1440H: drive.google.com/open?id=1CFUWNO2FVLJ8VLvK1B_6BNc7irH5KXwP
~~~~

Hadīts tentang isrā’ dan mi’rāj

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, kita akan Mencoba membawakan hadīts tentang kisah Isrā’ dan Mi’rāj.

Kisah Isrā’ dan Mi’rāj ini Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dibawakan oleh Imām Al Bukhāri dan Imām Muslim dalam shahīhnya.

Berikut kisah beliau dari shahīh Muslim nomor hadīts 164:

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Ketika aku berada di samping Baitullāh dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba aku mendengar pembicaraan dari salah seorang dari tiga lelaki yang berada di tengah-tengah. Lalu mereka menghampiriku dan membawaku ke suatu tempat.

Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air zamzam. Setelah itu dadaku dibedah dari sini dan sini.

Qatādah berkata:

“Aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku ketika itu, “Apakah yang beliau (Anas bin Mālik) maksudkan?”

Dia menjawab: “Hingga ke bawah perut beliau”.

Beliau melanjutkan sabdanya:

“Jantungku dikeluarkan dan dibersihkan dengan air zamzam, kemudian diletakkan kembali di tempat asal.

Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah,
lalu didatangkan kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang disebut Burāq.

Ia lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bighal. Panjang langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas punggungnya.

Kemudian kami pun memulai perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibrīl meminta agar dibukakan pintunya, ditanyakan kepadanya, ‘Siapa? ‘ Jawabnya, ‘Jibrīl’.

Kemudian ditanya lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam“, jawab jibril.

Lalu ditanya lagi, “Apakah dia orang yang telah diutus ?”

Jawabnya, “Ya”.

Lalu malāikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata, “Selamat datang, sungguh tamu mulia telah tiba”.

Lalu kami mengunjungi Nabi Ādam.”

Dalam riwayat Al Bukhāri nomor 349 disebutkan bahwa disamping kanan nabi Ādam ada ruh anak keturunannya penghuni surga dan disamping kiri juga ada ruh anak keturunannya yang menghuni neraka. Ketika beliau melihat ke kanan beliau tertawa dan jika melihat kekiri beliau menangis.

Ketika itu beliau mengucapkan: “Selamat datang nabi yang shālih, anak yang shālih”

Lalu perawi membawakan hadīts tersebut dengan kisahnya, dia menceritakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan nabi Īsā dan nabi Yahyā di langit kedua.

Dan pada langit ketiga beliau berjumpa dengan nabi Yūsuf.

Lalu di langit keempat bertemu dengan nabi Idrīs.

Setelah sampai di langit kelima beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bertemu dengan nabi Hārun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian bersabda:

“Kemudian kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui nabi Mūsā dan memberi salam kepadanya”.

Dia segera menjawab, “Selamat datang wahai saudaraku dan nabi yang shālih”.

Ketika aku meningalkannya, beliau menangis. Lalu dia ditanya, “Apakah yang menyebabkan kamu menangis?”

Dia menjawab, “Wahai Tuhanku! Engkau mengutus pemuda ini setelahku, tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku”.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kami meneruskan lagi perjalanan sehingga sampai di langit ketujuh, lalu aku mengunjungi nabi Ibrāhīm”.

Dalam hadīts tersebut “Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan bahwa dia melihat empat sungai yang keluar dari sumbernya dua sungai yang jelas kelihatan dan dua sungai yang samar-samar.

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya, “Wahai Jibrīl! Sungai-sungai apakah ini?” Jibrīl menjawab, “Dua sungai yang samar-samar itu merupakan sungai Surga, sedangkan sungai yang jelas kelihatan adalah sungai Nil dan Euphrat”.

Lalu aku dibawa naik ke Baitul Makmur, lalu aku bertanya, “Wahai Jibrīl, apakah ini?”

Lalu Jibrīl menjawab, “Ini adalah Baitul Makmur yang mana dalam setiap hari, tujuh puluh ribu malāikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya lagi”.

Kemudian dibawakan dua wadah kepadaku, yang satunya berisi arak dan satu lagi berisi susu.

Keduanya ditawarkan kepadaku, lalu aku memilih susu.

Maka dikatakan kepadaku, “Kamu membuat pilihan yang tepat!”.

Allāh menghendakimu dan umatmu dalam keadaan fitrah (kebaikan dan keutamaan).

Kemudian difardukan pula kepadaku shalāt lima puluh waktu pada setiap hari.’

Dalam hadīts Al Bukhāri nomor 349 disebutkan:

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian Allāh ‘Azza wa Jalla mewajibkan kepada ummatku shalāt sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan nabi Mūsā, lalu ia bertanya, “Apa yang Allāh perintahkan buat umatmu?”

Aku jawab, “Shalat lima puluh kali”

Lalu dia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup”.

Maka aku kembali dan Allāh mengurangi setengahnya.

Aku kemudian kembali menemui nabi Mūsā dan aku katakan bahwa Allāh telah mengurangi setengahnya.

Tapi ia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup”.

Aku lalu kembali menemui Allāh dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.

Kemudian aku kembali menemui nabi Mūsā, ia lalu berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup”

Maka aku kembali menemui Allāh Ta’āla , Allāh lalu berfirman:

“Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku!”

Maka aku kembali menemui nabi Mūsā dan ia kembali berkata, “Kembailah kepada Rabb-Mu!”

Aku katakan, “Aku malu kepada Rabb-ku”

Jibrīl lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntahā yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu.

Kemudian aku dimasukkan ke dalam Surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”

Semoga cerita hadīts dalam riwayat Imām Bukhāri dan Imām Muslim ini menambah iman kita dan membuat kita semakin giat untuk beramal dengan benar.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Isra’ Mi’raj (lagi)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 07 Rajab 1440 H / 14 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Isra’ Mi’raj
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H04
~~~~

ISRĀ’ DAN Mi’RĀJ

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Isrā’ dan Mi’rāj merupakan perjalanan malam yang dilakukan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari kota Mekkah menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Kemudian dari Baitul Maqdis naik hingga Sidratul Muntahā guna menerima perintah shalāt dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di Indonesia, sebagian kaum muslimin merayakan kejadian ini dan ada libur nasionalnya yang jatuh pada tangga 27 Rajab.

Pendapat ini merupakan pendapat Imām An Nawawi dalam kitāb Ar Raudhah. Namun sebenarnya permasalahan ini adalah permasalahan yang diperdebatkan dikalangan ulamā. Mereka berselisih pendapat tentang tahun kejadian Isrāi dan Mi’rāj maupun bulan terjadi Isrā’ dan Mi’rāj.

Dalam Fathul Barī, Ibnu Hajar, menyebutkan perbedaan pendapat ini.

Ada yang menyebutkan bahwa Isrāil dan mi’rāj terjadi pada bulan:

⑴ Rabiul Awwal (bulan ke-3) penanggalan Islām.

⑵ Rabiul Akhir (bulan ke-4) penanggalan Islām.

⑶ Bulan Ramadhān (bulan ke-9) penanggalan Islām.

⑷ Bulan Syawwāl (bulan ke-10) penanggalan Islām.

⑸ Bulan Rajab (bulan ke-7) penanggalan Islām.

Karena perbedaan yang sangat banyak ini, kemudian Syaikul Islām mengatakan yang maknanya :

وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ مَعْلُومٌ لَا عَلَى شَهْرِهَا وَلَا عَلَى عَشْرِهَا وَلَا عَلَى عَيْنِهَا، بَلِ النُّقُولُ فِي ذَلِكَ مُنْقَطِعَةٌ مُخْتَلِفَةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يُقْطَعُ بِهِ

“Dan tidak ada dalīl yang kuat yang mengabarkan tentang bulan dan tanggalnya terjadi Isrā’ Mi’rāj. Bahkan kabar-kabar tentang hal tersebut terputus dan berbeda-beda, sehingga tentang kapan terjadinya tidak bisa dipastikan.”

(Zadul Ma’ad 1/58)

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ibnu Rajab dalam Lathaif Al Ma’arif (1/121) juga mengatakan:

“Bahwa pada bulan Rajab ini ada riwayat yang menyatakan adanya kejadian besar Isrā’ Mi’rāj dan tidak ada hadīts shahīh yang berkaitan dengan hal tersebut.”

Kesimpulannya:

√ Kita mengimani Isrā’ Mi’rāj, namun tidak memastikan kapannya.

Kemudian pada Isrā’ dan Mi’raj ini ada pelajaran penting bagi kita:

⑴ Bahwa dalam ‘aqidah, ahlus sunnah wal jama’ah mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla berada di atas, dan beristiwā’ di atas ‘Arsy Nya, dan hal ini diselisihi oleh beberapa orang terkenal di indonesia ini.

⑵ Dan dalam Isrā’ dan Mi’rāj ini ada dalīl yang kuat untuk menyatakan hal tersebut.

Bahwa Allāh berada di atas, karena arti Mi’rāj secara istilah adalah perjalanan naik ke atas dari Baitul Maqdis hingga langit ketujuh atau Sidratul Muntahā.

Ini menjadi dalīl kuat bagi pendapat yang menyatakan Allāh berada di atas. Karena jika Allāh berada dimana-mana sebagaimana ‘aqidah sebagian orang, tentu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu Isrā’ dan Mi’rāj.

Beliau tidak perlu susah susah menaiki burāq kemudian naik kelangit.

Sehingga kita mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla berada di atas, bukan dimana-mana. Dan Allāh beristiwā di atas ‘Arsy Nya, dan hanya Allāh yang tahu hakikatnya.
Kita hanya diberi kabar dalam Al Qurān dan hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Maka kewajiban kita adalah mengimani, walaupun kita tidak tahu bagaimananya, karena jika diterangkan pun, mungkin akal kita tidak bisa membayangkannya, karena kita hanyalah makhluk Allāh yang sangat kecil lagi lemah.

Wallāhu A’lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Isra’ Mi’raj


Isra’ Mi’raj


( Jadikan ibroh/ pelajaran peristiwa ini turunnya perintah shalat 5 waktu bukan membuat perayaan ).

Perayaan dalam Islam hanya Idul fitri dan Idul adha.

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya. Namun apakah benar dalam ajaran Islam.

Bahkan sebagian merayakan hingga larut malam, dan shalat subuh kesiangan… inikah yang nabi ajarkan?? Dan masih banyak yang ikut tapi kesehariannya jarang shalat hanya ingin dapat besek, seandainya ibadah yang diada-adakan tidak ada iming-iming materi, makanan niscaya tidak akan ada yang hadir. semoga Allah berikan hidayahNya.

Perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan?

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,

”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Biasakanlah melakukan hal yang benar, bukan membenarkan apa yang biasa dilakukan.

Hanya Allah yang memberikan taufik.

Abu Adlan Nizam