Tag Archives: I’TIKAF BAGIAN 03 DARI 03

I’TIKĀF BAGIAN 03 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H | 23 Januari 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb I’tikāf
🔊 Kajian 109 | I’tikāf Bagian 03
⬇ Download audio: bit.ly/MatanAbuSyuja-K109
➖➖➖➖➖➖➖

I’TIKĀF, BAGIAN 03 DARI 03

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh Subhānahu wa Ta’āla masih memberikan taufīq kepada kita untuk terus mempelajari ilmu agama. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita istiqāmah sampai kita bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Para sahabat sekalian, pada halaqah kali ini, kita akan membahas satu malam yaitu malam yang sangat mulia sehingga kita disyari’atkan i’tikāf. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berusaha bersungguh-sungguh ber i’tikāf, sampai akhir hayatnya (beliau tidak pernah meninggalkan syari’at i’tikāf dalam rangka mencari satu malam yang mulia/lailatul qadr).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۞ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’ān ) pada malam kemuliaan⑴. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?⑵. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan⑶. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibrīl ) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan⑷. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar ⑸.”

(QS Al Qadr: 1-5)

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Di dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan yang besar tentang malam lailatul qadr.

⑴ Pada malam tersebut diturunkan Al Qur’ān, ini adalah satu mu’zijāt yang besar bagi kaum muslimin.

⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan satu uslub yang menunjukkan bahwa malam ini adalah malam yang agung, dengan cara bertanya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengajak orang-orang yang membaca ayat ini untuk berpikir: “Tahukah kalian malam kemuliaan itu?”

⑶ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan ibadah yang ada pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik daripada 83 tahun. Satu malam disetarakan bahkan lebih baik dari ibadah selama 83 tahun (Subhānallāh).

Ini adalah keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga umur mereka walaupun sedikit (60 sampai 70 tahun), akan tetapi Allāh panjangkan umurnya dengan amalan yang sedikit tersebut yaitu pahalanya lebih banyak daripada orang yang memiliki umur yang panjang pada umat-umat sebelumnya.

⑷ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan malāikat dan Jibrīl, ini menunjukkan satu keutamaan yang luar biasa, dimana Allāh tidak menurunkan pada malam-malam lainnya.

⑸ Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan malam tersebut malam yang penuh dengan kesejahteraan.

⑹ Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni orang-orang yang beribadah penuh dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada malam tersebut.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhān atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allāh, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 38 dan Muslim nomor 760)

Dan Allāh khususkan satu malam yang mulia:

مَن قام ليلةَ القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه

“Barangsiapa yang beribadah (shalāt) pada malam lailatul qadr dengan penuh iman dan berharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Kapan malam lailatul qadr?

Malam lailatul qadr adalah malam di antara malam-malam bulan Ramadhān, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’ān.”

(QS Al Baqarah: 185)

Artinya pada malam-malam di antara malam bulan Ramadhān ada di sana malam yang diturunkannya Al Qur’ān yaitu malam lailatul qadr.

Kapan waktunya?

Di sana para ulamā sebagaimana disebutkan oleh Imām Al hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, para ulamā berselisih sampai 40 pendapat kapan waktunya lailatul qadr.

Dan jumhur, kebanyakan mereka, menyebutkan malam lailatul qadr adalah pada sepuluh hari yang terakhir berdasarkan hadīts Abī Saīd Al Khudriy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda:

فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Maka carilah malam tersebut pada sepuluh hari yang terakhir.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2018)

Dan kebanyakan mereka juga menyebutkan bahwasanya malam kemulian (lailatul qadr) berada pada waktu-waktu yang ganjil (malam-malam ganjil) di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts di mana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhān.”

Oleh karena itu Ikhwān Fīddīn A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Seorang yang bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir paling tidaknya dan apabila mungkin di bulan Ramadhān secara keseluruhannya maka, in syā Allāh, dia akan mendapatkan malam lailatul qadar dengan sebaik-baik keadaan. Karena pada hakikatnya setiap orang akan melalui dan akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Setiap orang akan melewati malam lailatul qadar. Akan tetapi pertanyaannya, pada saat malam tersebut apa yang kita lakukan?

Sebagian orang (wal iyaadzu billāhi) ada yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sebagian orang ada yang menyibukkan dengan perkara-perkara yang sia-sia, mengunjing sana sini (berghibah) dan lain sebagainya.

Bahkan dia menonton tontonan yang tidak diperbolehkan di dalam Islām. Dan sebagian ada yang melewati waktu-waktunya dengan tidur.

Dan sebagian yang Allāh beri taufīq, ia melewatkan waktu malam lailatul qadar ini dengan penuh beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh dengan membaca Al Qur’ān, berdzikir, shalāt malam, shalāt tarawih bersama imam dan ia bermuhasabah pada malam tersebut. Ini adalah orang-orang yang diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, disyariatkan i’tikāf dalam rangka kita mendapatkan malam yang mulia ini. Ini adalah kesempatan yang sangat rugi sekali apabila seorang melewatkannya.

Orang yang tidak diberikan taufīq untuk mendapatkannya sesungguhnya dia adalah orang yang tercegah dari kebaikan, orang yang merugi.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau adalah orang yang terbaik, beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik yang terdahulu maupuan yang akan datang, beliau bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam ini.

Dalam sebuah hadīts disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān lebih daripada malam-malam yang lainnya.”

Bahkan dalam hadīts lain:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān beliau mengencangkan sarungnya dan menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

⇒ Ini menunjukkan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak bersenang-senang (mendekati istrinya), tetapi beliau bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu hendaknya kita bersungguh-sungguh menjadikan sunnah i’tikāf sebagai sunnah yang kita berusaha untuk mewujudkannya. Kita singkirkan kesibukan-kesibukan dunia yang selama ini melalaikan diri kita.

Minimal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān kita bermuhasabah, kita bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh membaca Al Qur’ān, banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita untuk bisa melaksanakan sunnah Nabi kita (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk beri’tikāf.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita agar kita mendapatkan malam yang mulia, memberikan hidayah kepada kita agar hati kita senantiasa senang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang bisa disampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal