Tag Archives: kajian

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN
Taushiyah Mufidah :
▪🗓 Selasa
| 18 Syawwal 1439 H
| 2 Juli 2018 M
| Oleh : Ustadz Dr. Arifin Badri, MA

Walau sudah ngaji tauhid bisa jadi anda sehari-hari masih bergelimang dalam kesyirikan.

Menurut anda apakah orang berikut ini mencerminkan tauhid atau syirik?

Berwudu hanya agar mukanya menjadi bersih.

Berzakat hanya agar dikenal sebagai orang dermawan.

Berjihad hanya agar bisa melampiaskan dendam kepada musuh yang telah mengganggu keluarganya.

Berhaji hanya agar bisa rekreasi ke Madinah dan Mekah.

Apakah yang seperti di atas amalan tauhid atau syirik?

Bagaimana dengan orang yang berdo’a hanya agar kebutuhannya terpenuhi atau dikabulkan sehingga ia bisa menjadi kaya raya, atau naik pangkat, atau dagangannya laris, atau sembuh dari penyakitnya?

Dalam pikiran dan niatnya saat berdoa sama sekali tidak terbatik niatan sedang beribadah.

Anda pasti pernah membaca sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الدعاء هو العبادة

Doa itu adalah ibadah
(At Tirmizy dan lainnya)

Sobat! Coba bandingkan orang yang berdoa seperti di atas dengan orang yang berwudlu namun yang ada di benaknya hanya sejuknya air, dan bersihnya wajahnya.

Atau bersedakah, namun yang selalu terbayang di pikirannya hanyalah sanjungan orang lain.

Imam Ibnu Taimiyyah mengomentari praktek doa yang seperti ini, yaitu hanya fokus pada terpenuhinya kebutuhan dirinya dengan berkata:

‏ومعلوم أن الافعال التي على هذا الوجه لا تكون عبادة ولا طالعة ولا قربة

Dan telah diketahui bersama bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan cara ini, tidak bisa menjadi ibadah, tidak pula amal ketaatan tidak pula amalan yang mendekatkan diri kapada Allah.
(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 10/715)

Yuk, ngaji tauhid lagi, bukan sekedar teorinya namun juga hingga pada tahap aplikasinya dalam kehidupan nyata.

Sumber : http://www.salamdakwah.com/artikel/4856-sudah-ngaji-tauhid-tapi-bergelimang-kesyirikan
Dishare ulang :
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
~~~~~~~~

ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA

ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA…

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa.

 

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنبن

“ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININ” [QS. Ibrohim: 41]

(Ya Rabb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin).

 

PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

 

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.
.
.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى .
.
.
Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/11487

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

✏Ustadz Dr. Khalid Basalamah MA

 

1⃣ Masuk Islam

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا

dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba masuk Islam lalu memperbaiki keIslamannya maka Allah akan menuliskan untuknya setiap kebaikan yang dia lakukan, dan dihapus setiap keburukan yang dia lakukan kemudian setelah itu (setiap) kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuhratus kali lipat, sedangkan keburukan akan dibalas dengan semisalnya kecuali jika Allah Azza wa jalla memaafkannya.” (HR. An Nasai)

Para ulama menjelaskan maksud dari bagus islamnya adalah bagus tauhidnya, tidak mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

 

2⃣ Bertaqwa kepada Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.
Surat Al-Anfal, Ayat 29
Dan taqwa adalah: menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang.

 

 

3⃣ Mengikuti nabi Muhammad
Dengan selalu berusaha mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, meneladaninya, maka Allah janjikan cinta dan ampunannya. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Surat Ali ‘Imran, Ayat 31

 

4 Berjihad di jalan Allah.

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ🔅يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.🔅
niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.
-Surat Ash-Shaf, Ayat 11-12

 

Dan ingat! Jihad adalah syariat Allah, punya rambu-rambu dari Allah, aturan dan syarat-syarat nya jelas. Jangan sampai kerena kebodohan kita, malah syariat yang Agung ini menjadi alasan untuk membuat kerusakan dan keganduhan.
Nas,alullaha attaufiq wassadaad.

Catatan Faedah dari Tabligh Akbar tanggal 7 Dzulhijjah 1439 H di Kota Makassar

Diringkas oleh Admin Dirosah Ilmiyah.

Silahkan follow akun resmi Ustadz Khalid Basalamah di:

🆔Youtube: Khalid Basalamah Official

🆔Instagram dan Telegram: @khalidbasalamahofficial

🆔FP Facebook: Ustad Khalid Z.A Basalamah

➖➖➖🌸➖➖➖

Aqidah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 004| Muqaddimah – Muqaddimah Penulis Kitab

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 04 Rajab 1439 H / 22 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 004| Muqaddimah – Muqaddimah Penulis Kitab
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H004
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB (BAGIAN 1)*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita kembali lagi pada kajian kitāb “Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah” (العقيدة الواسطية) yang sekarang memasuki halaqah ke-4.

Pada halaqah yang lalu telah disampaikan garis besar bahasan kitāb Al ‘Aqidah Al Wāsithiyah yang dikarang oleh Imām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan masuk pembahasan apa yang dibahas oleh Imām Ibnu Taimiyyah.

Sahabat BiAS sekalian,

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di awal bukunya berujar:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Syaikhul Islām Ibnu dalam pembukaannya memulai dengan:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Sebelum kita melangkah lebih lanjut membaca muqaddimah yang akan disampaikan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh maka pada halaqah kali ini kita sempatkan dahulu untuk membahas arti dari:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

_Bismillāhirrahmānirrahīm_

Sebagaimana yang sudah tidak asing lagi bagi kita, sering kita baca atau dengar dengan artian, “Dengan menyebut nama Allāh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Itu adalah tafsiran atau terjemahan secara umum. Kita sedikit mendalami tafsiran ini, kita mulai dari “Bismillāh”.

“Bismillāh” dalam artian “Dengan nama Allāh”, tentu kalau kita mengartikan dengan nama Allāh, maka kalimatnya tidak sempurna, harus ada yang menyempurnakannya.

Misalnya:

Orang mengatakan, “Dengan sendok.”

Kita tidak paham apa yang dia maksud “dengan sendok”. Kita akan paham ketika kalimatnya menjadi, “Saya makan dengan sendok,” atau, “Dengan perantara sendok,” dan sebagainya.

Begitu pula dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”, yang kalau kita artikan secara harfiah (leterlex) maka artinya adalah “Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm”.

Maksud dari “dengan nama Allāh” disini adalah “dengan nama Allāh saya memulai aktifitas saya”.

Maka ketika Ibnu Taimiyyah meletakkan “Bismillāhirrahmānirrahīm” di dalam muqaddimah kitāb ini, berarti: “Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm, maka saya memulai kitāb ini.”

Dengan demikian Ibnu Taimiyyah meminta pertolongan Allāh ‘Azza wa Jalla dalam menulis kitāb ini, karena manusia satu detikpun dia tidak bisa lepas dari taufīq dan bantuan Allāh ‘Azza wa Jalla.

Tindakan Ibnu Taimiyyah memulai kitābnya dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm” merupakan (mencontoh) dari Al Qur’ānul Karīm yang dimulai dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”.

Begitu pula dengan mencontoh surat-surat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang dikirimkan kepada raja-raja yang dimulai dengan “Bismillāhirrahmānirrahīm”.

Selanjutnya arti lafadz Jalallāh (“Allāh” Subhānahu wa Ta’āla).

Artinya adalah dzat yang memiliki hak (patut) untuk diibadahi. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Selanjutnya Ar Rahmān Ar Rahīm.

Sering kita dapati yang diartikan “Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.

Namun sejatinya, kalau kita membaca (membuka) buku-buku tafsir para ulamā, maka Ar Rahmān Ar-Rahīm ini, diartikan dengan lebih dalam di dalam buku-buku tersebut.

Ulamā mengartikan Ar Rahmān Ar Rahīm ini sejatinya sama. Dia adalah nama Allāh yang menunjukkan Allāh memiliki sifat Rahmān (kasih sayang).

Namun apa yang membedakannya?

Ar Rahmān dipakai untuk menunjukkan bahwa Allāh memiliki sifat rahmāh, Allāh Maha Penyayang, Allāh memiliki sifat kasih sayang.

Ar Rahīm dipakai di dalam redaksi (kalimat-kalimat) yang menunjukkan perbuatan Allāh atau menunjukkan rahmat Allāh terhadap makhluknya.

Jadi seakan-akan: kalau Ar Rahmān itu secara Dzat, Allāh Maha Pengasih. Sedangkan Ar Rahīm, Allāh melakukan kasih sayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Kalau kita lihat di Al Qur’ān ketika menyebutkan bahwa Allāh mengasihi makhluknya maka menggunakan kata Rahīm bukan Rahmān.

Misalnya:

Firman Allāh ‘Azza wa Jalla:

وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا

_”Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang berimān.”_

(QS Al Ahzāb: 43)

⇒ Artinya Allāh mengasihi mereka, Allāh menggunakan “Rahīm” bukan “Rahmān”.

Dalam ayat yang lain, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌۭ رَّحِيم

_”Sesungguhnya Allāh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”_

(QS Al Baqarah: 143 dan QS Al Hajj: 65)

Itulah perbedaan Rahmān dan Rahim.

Yang tentunya kenapa diartikan menjadi Maha Pengasih dan Maha Penyayang, (Wallāhu A’lam) jika diartikan secara mendalam maka akan panjang dan sulit dipahami apalagi bagi kita yang mungkin tidak terlalu paham dengan bahasa Arab.

Maka untuk memudahkan, ulamā-ulamā kita hanya mencukupkan menafsirkan Ar Rahmān Ar Rahīm dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf, in syā Allāh kita lanjutkan dihalaqah berikutnya.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________

 

Bismillah
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________

Aqidah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rajab 1439 H / 21 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 003| Muqaddimah – Gambaran Isi Kitab Secara Umum Continue reading

Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3

 

? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 53 | Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H053
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke-53 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ويجوز أن يأتم الحر بالعبد))

“Dan boleh bagi seorang yang merdeka mengikuti (menjadi makmum) dari seorang hamba sahaya (budak)”

Hal ini berdasarkan hadīts tentang ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri 1/140:

وَكَانَتْ عَائِشَةُ: «يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ المُصْحَفِ»

“Dan ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau diimami oleh hamba sahayanya (Dzakwan) dengan membaca mushaf”

⇛Dzakwan adalah budak ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((والبالغ بالمراهق))

“Dan begitu pula boleh bagi seorang yang bāligh menjadi makmum bagi anak kecil”

Disini adalah madzhab dari Syāfi’iyah dan kita lihat bagaimana hukum anak kecil yang menjadi imam.

Pendapat pertama

⇛ Bahwasanya tidak sah seorang Imām yang belum bāligh didalam shalāt yang wajib (Tidak sah hukumnya seorang anak kecil menjadi Imām dalam shalāt yang wajib)

Namun dia diperbolehkan dalam shalāt sunnah dengan syarat telah mencapai umur mumayyaz.

Umur Mumayyaz adalah umur seorang anak kecil yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat (berbahaya)

⇛Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulamā dari kalangan :

√ Hanafiyyah
√ Mālikiyyah
√ Hanābilah

Adapun hanafiyah, mereka tidak membolehkan secara mutlak baik dalam shalāt wajib maupun shalāt sunnah.

⇛Diantara alasannya adalah bahwasanya posisi Imām adalah posisi kesempurnaan, dan anak kecil yang belum bāligh maka dia tidaklah sempurna.

Pendapat Kedua:

⇛Bolehnya seorang anak kecil yang mumayyaz (yang sudah tamyiz) menjadi Imām bagi orang yang bāligh baik fardhu maupun sunnnah, namun yang lebih utama adalah seorang yang bāligh yang menjadi Imām.

⇛Ini adalah pendapat Syāfi’iyah karena mereka tidak mensyaratkan syarat bāligh untuk seorang Imām.

Dalīl mereka diantaranya adalah hadīts Amr bin salamah,” bahwasanya beliau mengimami kaumnya dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau masih berumur enam atau tujuh tahun”.

Dan pendapat ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat).

Syaikh bin Bāz, beliau menjawab pertanyaan dalam masalah ini:

لا بأس بإمامة الصبي إذا كان قد أكمل سبع سنين أو أكثر وهو يحسن الصلاة؛ لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ولكن الأفضل أن يختار الأقرأ من الجماعة

“Tidak mengapa kata beliau, Imām nya seorang anak kecil apabila dia telah menyempurnakan umurnya tujuh tahun atau lebih dan dia bagus dalam shalātnya, kata beliau bahwasanya hal itu ada dalīlnya dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan tentang bolehnya hal tersebut, akan tetapi yang paling afdhal adalah memilih yang paling baik bacaannya dari jama’ah atau dari kalangan orang-orang yang besar atau bāligh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((ولا تصح قدوة رجل بامرأة))

“Dan tidak sah shalāt laki-laki yang mengikuti wanita”

Bagaimana hukum Imamah wanita atau hukum wanita menjadi Imām di dalam shalāt

Ada 2 (dua) keadaan :

⑴ Apabila wanita tersebut menjadi Imām bagi para wanita yang lainnya,
maka hal ini boleh dan sah.

Berdasarkan dalīl-dalīl yang ada dan juga berdasarkan atsar bahwasanya ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau menjadi Imām dari kalangan shahābiat yang lainnya.

⑵ Wanita menjadi Imām bagi jama’ah laki-laki atau jama’ah campuran yang disana ada laki-lakinya atau jama’ah laki-laki yang masih kanak-kanak. Maka ini hukumnya tidak sah.

Menurut pendapat seluruh ulamā baik dari kalangan terdahulu maupun yang terkini, atau yang sekarang ini, baik ulama besar maupun yang kecil.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ولا قارئ بأمي))

“Dan tidak sah seorang qāri’ yang mengikuti shalāt seorang yang ummi”
√ Qāri’ disini (maksudnya) adalah orang yang baik dalam membaca surat Al Fātihah, karena Al Fātihah adalah termasuk rukun didalam shalāt.

√ Ummi disini (maksudnya) adalah orang yang jelek bacaan Al Fātihahnya, baik dalam makhrajnya, panjang pendeknya, tasydidnya dll, yang dapat merubah makna kalimat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Hendaklah yang menjadi Imām bagi sekelompok kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Al Qurānnya”

(Hadīts Riwayat Imām Muslim 1/465)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Waakhiru dakwah ana walhamdulillah
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
__________

 

shalat berjamaah 3

Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 24 Dzulhijjah 1438 H / 15 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 52 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H052
〰〰〰〰〰〰〰

SHALAT BERJAMA’AH (BAGIAN 2)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke 52 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-2

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وَعَلَى المَأْمُوْمِ أَنْ يَنُوْيَ الجَمَاعَة دُوْنَ الإِمَام))

“Dan wajib bagi ma’mum untuk berniat shalāt berjama’ah, berbeda dengan imam (Imam tidak wajib).”

Disyaratkan bagi seorang makmum, sebelum shalāt untuk melaksanakan shalāt berjama’ah dan mengikuti imam, untuk meniatkan bahwasanya dia ingin shalāt berjama’ah atau ingin mengikuti imam.

Dan tidak perlu kemudian diucapkan (dilafadzkan) cukup di dalam hati tatkala ada niat untuk shalāt berjama’ah, maka itu sudah cukup.

Adapun bagi imam maka tidak disyaratkan niat untuk shalāt berjama’ah, namun apabila mengetahui lebih utama apabila seorang imam berniat shalāt berjama’ah agar mendapatkan keutamaannya.

Adapun untuk shalāt jum’at dan shalāt Eid’, maka disyaratkan bagi seorang imam untuk niat shalāt berjama’ah.

Contoh misalnya, tatkala seorang sedang shalāt kemudian tiba-tiba dibelakangnya ada ma’mum yang shalāt mengikuti orang tersebut, sementara orang tersebut tidak menyadarinya bahwasanya ada yang mengikuti shalāt nya, maka shalāt mereka adalah sah karena ma’mum disyaratkan untuk niat shalāt berjama’ah sementara imam tidak disyaratkan.

Artinya tatkala Imām tidak mengetahui dia menjadi Imām atau tidak ada niat untuk menjadi Imām akan tetapi kemudian posisi dia ternyata sebagai Imām maka ini hukumnya sah.

Ada beberapa poin penting

Hukum niat ma’mum yang berbeda dengan niat Imām

Apa hukum niat ma’mum yang berbeda niat dengan Imām ?

⇛Masalah ini dijawab secara ringkas oleh Syaikh Bin Bāz.

Kata beliau :

الصواب أنها صحيحة؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- صلى في الخوف ببعض المسلمين ركعتين صلاة الخوف، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، فصارت الأولى له فريضة، والثانية له نافلة وهم لهم فريضة، وكان معاذ -رضي الله عنه- يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في العشاء صلاة الفريضة، ثم يرجع ويصلي بقومه صلاة العشاء نافلةً له وهي لهم فرض، فدل ذلك على أنه لا حرج في اختلاف النية، وهكذا لو أن إنسان جاء إلى المسجد وصلى العصر, وهو لم يصلي الظهر, فإنه يصلي معهم العصر بنية الظهر ولا حرج عليه في أصح قولي العلماء, ثم يصلي العصر بعد ذلك. جزاكم الله خيراً

” Yang benar yang shahīh dalam masalah ini bahwasanya shalāt tersebut (berbeda niat antara Imām dan ma’mum) adalah sah.”

Beliau berdalīl dengan shalāt khauf dan kisah shalātnya Mu’ādz bin Jabbal, manakala beliau (Mu’ādz bin Jabbal) shalāt Isya’fardhu bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau pulang untuk mengimami kaumnya dan posisi shalāt beliau adalah posisi shalāt sunnah sementara kaumnya posisinya shalāt fardhu.

Maka berbeda niat ini diperbolehkan

Ada beberapa pembahasan seputar niat Imām dan niat ma’mum, yang secara ringkasnya sebagai berikut:

· Yang Pertama | Terkait dengan jenis shalāt

Secara ringkas ada beberapa keadaan:

1. Ma’mum shalāt wajib dibelakang Imām shalāt wajib maka hukumnya boleh.
2. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt sunnah maka hukumnya boleh.
3. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt wajib, maka hukumnya boleh.
4. Ma’mum shalāt wajib dan Imām shalāt sunnah, disini para ulama berbeda pendapat apakah sah ataukah tidak sah?

⇛Yang shahīh dan rājih sebagaiamana yang disampaikan Syaikh Utsaimin, maka boleh tidak mengapa dan sah shalātnya.

Dalīlnya berdasarkan kisah Mu’ādz bin Jabbal yang shalāt wajib bersama Rasūlullāh,kemudian beliau pulang lalu shalāt sunnah dan beliau mengimami kaumnya.

· Yang Kedua | Terkait dengan bilangan shalāt

Ringkasan keadaannya sebagai berikut :

⑴ Apabila ma’mum shalāt dengan Imām yang bilangan raka’atnya lebih sedikit.

⇛ Misalnya : Seorang ma’mum shalāt ashar (karena qadha’ atau tertidur atau lupa atau sebab lainnya) sedangkan Imām shalāt maghrib, maka ma’mum harus 4 (empat) raka’at , Imām 3 (tiga) raka’at (Imām lebih sedikit), maka tatkala Imām selesai salam, maka ma’mum harus menyempurnakan shalāt menjadi 4 (empat) raka’at setelah Imām selesai.

⑵ Apabila ma’mum shalāt dengan raka’at yang sama dengan Imām, maka (jelas) ma’mum menyempurnakan shalātnya.

⇛ Misalnya : Ma’mum shalāt dhuhur dan Imām shalāt ashar (sama-sama 4 raka’at)

⑶ Apabila ma’mum shalāt dengan bilangan raka’at yang lebih sedikit dari Imām.

⇛Misalnya : Ma’mum shalāt maghrib 3 raka’at dan Imām shalāt isya’ 4 raka’at .

Dan disebutkan oleh Syaikh Utsaimin beberapa keadaan:

√ Apabila Imām berada di raka’at ke-3 (tiga) dan ma’mum mulai shalāt raka’at ke-3 (tiga) dan ke-4 (empat) bersama Imām, artinya ma’mum masbuk pada raka’at ke-3 (tiga), maka tatkala Imām salam, dia (ma’mum) tinggal menyempurnakan raka’at yang kurang (masih kurang 1 (satu) raka’at lagi).

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at ke-2 (dua), maka ma’mum ikut salam bersama Imām, tatkala Imām salam maka ma’mum pun salam (karena dia sudah selesai yaitu Maghrib 3 (tiga) raka’at dan Imām sudah selesai 4 (empat) raka’at dan selesai bersama-sama.

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at pertama, maka pada raka’at yang ke-3 (tiga), apa yang dilakukan ?

Disebutkan ma’mum duduk tasyahud dan menunggu Imām yang bangkit ke raka’at ke-4 (empat) dan tatkala Imām sudah sampai di raka’at ke-4 dan kemudian tasyahud maka ma’mum pun salam bersama Imām.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa lebih baik ma’mum ini menunggu dalam keadaan sujud, artinya dia sujud sampai Imām sujud, kemudian mengikuti gerakan Imām sampai salamnya (salam bersama Imām)

Menurut Syaikh Utsaimin ini adalah pendapat yang rājih dalam masalah ini, sebagaimana yang beliau nukilkan dari pendapat Syaikhul Islām Ibnu Taymiyyah rahimahullāh.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

shalat berjamaah 2

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 23 Dzulhijjah 1438 H / 14 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 51 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H051
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan halaqah yang ke-51, dan kita masuk pada fasal tentang “Shalāt Berjama’ah”

قال المصنف :

Berkata penulis rahimahullāh

((وصلاة الجماعة سنة مؤكدة))

“Dan shalāt berjamaah hukumnya adalah sunnah mu’akkadah”

⇛Disini pendapat dari sebagian Syāfi’iyah tentang shalāt berjama’ah bahwasanya hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Dan kita lihat bahwasanya para ulamā telah ijma’ bahwa shalāt berjama’ah hukumnya adalah disyariatkan dan memiliki keutamaan yang besar.

Namun para ulamā berselisih pendapat mengenai hukumnya.

⇛Imām An-Nawawi menyembutkan dalam Kitāb Al Majmu’ bahwa para ulamā mahzhab Syāfi’iyah sendiri mereka berselisih pendapat tentang hukum shalāt berjama’ah bagi bagi seorang laki-laki.

· Pendapat pertama | Fardhu Kifayah
(Hukumnya wajib, namun apabila sebagian telah melaksanakan maka gugurlah kewajiban bagi yang lain).

Dalīl nya adalah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

سنن النسائي (2/ 106)
»ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا قد استحوذ عليهم الشيطان، فعليكم بالجماعة؛ فإنما يأكل الذئب القاصية

“Apabila dalam sebuah kampung atau pedalaman ada tiga orang namun tidak menegakkan shalāt berjama’ah maka mereka telah dikuasai syaithān, Maka wajib bagi kalian untuk berjama’ah, karena sesungguhnya serigala hanyalah memangsa kambing yang sendirian.”

(Hadīts riwayat Imām Nasāi’, Abū Dāwūd dan Hakim)

⇛Dan kata beliau (Imām Nawawi) yang shahīh (Rājih) bahwasanya yang shahīh didalam mahzhab Syāfi’ī dan menjadi rujukan dalam Madzhab Syāfi’ī, adalah pendapat bahwa shalāt berjama’ah hukumnya fardhu kifayah.

·Pendapat Kedua | Sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan)

Dan ini juga disebutkan oleh sebagian para ulamā Syāfi’iyah.

Berdasarkan dalīl hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu,

المجموع شرح المهذب (4/ 182)
لما روى أبو هريرة رضي الله عنه إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : صلاة الجماعة افضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة

“Bahwasanya shalāt berjama’ah utama dua puluh lima derajat daripada shalāt kalian sendirian”

Mereka mengatakan tatkala dibandingkan dengan sesuatu yang Sunnah maka hukum shalāt berjama’ah adalah sunnah.

⇛Ini pendapat sebagian Syāfi’iyah dan juga diantaranya pendapat penulis bahwa sunnah

· Pendapat ketiga | Fardhu ‘ain
(Wajib bagi setiap muslim laki-laki)

Ini juga adalah pendapat kalangan ulamā Syāfi’iyah dan Hanābilah dan sebagian Hanafiyyah.

Dan juga dari para ulamā dari kalangan salaf dan pendapat ini dipilih oleh Imām Bukhāri, Imām Ibnu Taimiyyah, begitu juga Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

Dan ini adalah pendapat yang Wallāhu a’lam lebih kuat dari sisi pendalīlannya dan juga lebih hati-hati.

Diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

“Dan apabila kamu (Muhammad) berada ditengah-tengah mereka, maka tegakkan lah bersama mereka shalāt (berjamaah), dan hendaknya sebagian kelompok yang shalāt bersama engkau..”

(QS An Nisā’ : 102)

Ayat diatas bercerita tentang tata cara shalāt berjama’ah dalam kondisi perang atau kondisi takut.

⇛Jika dalam kondisi perang saja, diwajibkan untuk shalāt, maka tentunya dalam kondisi aman dan tenang maka lebih utama untuk diwajibkan hukumnya.

Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata,

عن أبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه، قال: )) أتَى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ رجلٌ أعمى، فقال: يا رسولَ الله، إنَّه ليس لي قائدٌ يقودني إلى المسجِدِ، فسألَ رسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ أن يرخِّصَ له، فيُصلِّيَ في بيتِه، فرخَّص له، فلمَّا ولَّى دعاه، فقال: هلْ تَسمعُ النِّداءَ بالصَّلاةِ؟ قال: نعَم، قال: فأجِبْ (( رواه مسلم

“Ada seorang yang buta, yang datang kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian dia berkata, ” Wahai Rasūlullāh, saya tidak punya seorang yang bisa menuntun saya masjid”, maka diapun meminta kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar memberikan rukhsah (keringanan) kepadanya sehingga dia bisa shalāt dirumahnya. Kemudian Nabipun memberikan keringanan kepadanya (orang buta tersebut) tatkal orang tersebut beranjak pergi, maka kemudian Nabi pun memanggilnya dan bersabda ” Apakah kamu mendengar adzan untuk shalāt ?” Orang buta itu pun menjawab : “Ya”, maka Rasūlullāh pun bersabda: ” Maka jawablah atau datangilah (itu hukumnya wajib)”

(Hadīts riwayat Imām Muslim)

Dalīl diatas menunjukkan bahwa hukum shalāt berjama’ah dimasjid adalah wajib, bahkan bagi orang yang buta yang dia mendengar adzan.

Maka tentunya bagi selainnya orang buta tersebut (orang yang sehat) maka hukumnya lebih wajib.

Demikian, semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 09 Muharam 1439 H / 29 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-3
~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwāt, kita masih melanjutkan hadits yang ke-6 bagian ke-3.

Kita melanjutkan sifat-sifat nifaq ‘amali (nifaq kecil) dan kita masuk pada sifat yang ke-2.
?Yang kedua | Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

“Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.”

Penyelisihan janji ada 3 model:

– Pertama, dia berjanji dan dalam niatnya dia tidak akan menepati janji tersebut.

Dan inilah yang merupakan sifat munafiq, kenapa?

Karena zhahirnya menyelisihi batinnya.

Dia berjanji akan melakukan demikian tapi di dalam hatinya, “Saya tidak akan melakukan.”

Ini jelas merupakan kemunafikan, ini adalah perbuatan yang sangat buruk.

– Adapun yang kedua, yaitu dia berjanji kemudian di dalam hatinya dia akan memenuhi janji, namun qodarallāh, setelah itu dia tidak jadi (menyelisihi janji) karena ada udzur.

Maka ini sama sekali bukan sifat kemunafikan dan orang ini sama sekali tidak berdosa, kenapa?

Karena:
1. Dia sudah berniat untuk memenuhi janji.
2. Dia menyelisihi janji tersebut karena ada udzur.

– Ada lagi yang ketiga, seseorang berjanji dan dalam niatnya akan memenuhi janji tersebut, kemudian akhirnya dia tidak memenuhi janji tersebut namun tanpa udzur.

Apakah orang ini berdosa dan termasuk dalam sifat-sifat orang munafik?

Jawabannya, Wallāhu A’lam bish Shawwab, ini tidak termasuk sifat orang munāfik, karena tadi kita katakan bahwa: “Seluruh sifat-sifat nifaq ‘amali kembali kepada peneyelisihan zhahir dan batin.”

Dan ini zhahir dan batinnya sudah benar, dia berjanji dan dalam hatinya juga akan memenuhi, akan tetapi setelah itu tiba-tiba dia menyelisihi.

Dia tidak memenuhi janjinya tanpa ada uzdur sama sekali.

Apakah dia berdosa atau tidak maka ada khilaf di kalangan para ulama.

Jumhur ulama seperti madzhab 3 imam, yaitu Abu Hanifa, Syafi’i dan Imam Ahmad, bahwasannya orang ini tidak berdosa karena telah datang dalam suatu hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا وَعَدَ الرَّجُلُ أَخَاهُ – وَمِنْ نِيَّتِهِ أَنْ يَفِيَ لَهُ – فَلَمْ يَفِ وَلَمْ يَجِئْ لِلْمِيعَادِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

“Kalau seseorang sudah berjanji kepada saudaranya, kemudian dia berniat untuk memenuhi janjinya, kemudian dia tidak memenuhi, maka dia tidak berdosa.”

(Hadits dha’if riwayat Abu Daud)

Ini adalah dalil jumhur bahwasannya orang ini tidak berdosa, namun hadits ini adalah hadits yang lemah (dha’if).

Oleh karenanya, kita katakan bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat sebagian ulama dan pendapat sebagian salaf seperti: ‘Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri dan Ishaq bin Rahuyah dan juga pendapat Zhahiriyyah, yaitu orang ini berdosa, kenapa?

Karena dia sudah berjanji dan kewajiban bagi dia adalah memenuhi janji.

Dia tidak berdosa kalau ada udzur tetapi kalau tidak ada udzur maka tidak boleh.

Dan dia bertasyabuh dengan orang-orang munafiq. Meskipun tidak kita katakan itu adalah sifat munafik, namun ada kemiripan dengan sifat orang munafik yang kalau berjanji diniatkan sejak awal untuk menyelisihinya.

Bedanya, niatnya adalah untuk memenuhi namun pada prakteknya dia tidak memenuhi. Maka ada kemiripan dengan orang munafik.

Maka hukumnya haram meskipun tidak sampai pada derajat kemunafikan.
?Yang ketiga | Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.”

Yaitu jika dia besengketa atau masuk dalam persidangan dengan saudaranya maka dia melakukan kefajiran (keluar dari jalan kebenaran), misalnya dengan mendatangkan bukti-bukti yang batil (tidak benar).

Ini adalah sifat kemunafikan.

Dia tahu bahwa bukti-bukti itu tidak benar. Atau melakukan pengakuan yang tidak benar.

Intinya, kalau dia bersengketa dia berusaha bagaimana lawan sengketanya itu kalah bahkan dengan perkara-perka yang dusta, yang tidak benar.

Maka inilah sifat orang munafik.
?Yang keempat | Kalau membuat kesepakatan maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا آحَدَّ غَدر

“Kalau dia sudah membuat kesepakatan bersama maka dia menyelisihi kesepakatan tersebut.”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan agar kita memenuhi kesepakatan kita. Allāh berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Penuhilah kesepakatan (janji) karena sesúngguhnya kesepakatan (perjanjian) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS Al Isrā’: 34)

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firman yang lain:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا

“Penuhilah janji kepada Allāh kalau kalian sudah berjanji, dan janganlah kalian membatalkan janji setelah kalian menekankan janji tersebut.”

(QS An Nahl: 91)

Oleh karenanya dalam Shahihain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنٍ

“Setiap orang yang berkhianat (menyelisihi kesepakatan) akan diberikan bendera baginya pada hari kiamat untuk dipermalukan (dikenal) sehingga orang-orang akan mengenali (melihat bendera tersebut), maka dikakatakan, ‘Inilah pengkhianatan Si Fulan yang tidak menjalankan perjajian’.”

(HR Muslim 1736, Bukhari 6966)

Tentu bisa kita bayangakan, kalau terjadi perjajian antara seorang muslim dengan seorang kafir, kemudian dia mengkhianati perjajian tersebut, kemudia dia bunuh orang kafir tersebut.

=> Sebagaimana misalnya: ada negeri muslim dengan negeri kafir mengadakan perjanjian bahwasannya mereka gencatan senjata, tahu-tahu ada muslim yang menyelisihi perjajian ini, kemudian dia bunuh seorang kafir, maka muslim ini tidak akan mencium bau surga.

Dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad (yaitu orang kafir yang antara negeri muslim dan kafir tersebut ada perjanjian gencatan senjata/ perjanjian damai, ternyata ada seorang muslim membunuh seorang kafir dari negara tersebut), maka orang muslim ini tidak akan mencium bau surga.”

(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah nomor 2686)

Padahal ini kesepakatan seorang muslim dengan kafir, bagaimana lagi kalau kesepakatan seorang muslim dengan muslim yang lainnya?
?Yang kelima | Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان

“Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.”

Yaitu, seseorang diberi amanah (titipan) misalnya kemudian dia tidak mengembalikan titipan (amanah) tersebut.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allāh telah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut.”

(QS An Nisā’: 58)

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Sampaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu (yaitu mengembalikan amanah tersebut) dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.”

(Hadits shahih riwayat Imam Abu Daud nomor 3534)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dari sifat-sifat munafiq ini sejauh-jauhnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب
________

munafik3

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Muharam 1439 H / 28 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-2
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNĀFIQ (BAGIAN 2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt, kita masih melanjutkan hadīts yang ke-6.

Pada pertemuan yang lalu telah kita jelaskan tentang nifāq akbar atau disebut juga dengan nifāq I’tiqadi, yaitu nifāq yang berkaitan dengan keyakinan dengan menyembunyikan kekufuran dan menampakkan ke-Islaman.

Adapun bagian ke-2 yang akan bahas adalah:

▪Nifāq kecil/nifāq ashghar

Yaitu nifāq kecil (Nifāq al ‘amali) yaitu nifāq yang berkaitan dengan amal.

Artinya, hatinya beriman hanya saja amalannya menyelesihi batinnya, namun tidak berada pada derajat kekufuran.

Inilah yang disebutkan dalam hadīts yang sedang kita bahas, nifāq ‘amali.

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. وإِذَا احَدَّ غَدر

Tanda-tanda Munāfiq ada 3, yaitu:

① kalau berbicara berdusta
② kalau dia berjanji menyelisihi
③ kalau diberi amanah dia berkhianat.

Ada tambahan dalam riwayat yang lain:

④ kalau sudah melakukan kesepakatan dengan orang lain maka dia menyelisihi (menkhianati) kesepakatan tersebut.
⑤ kalau dia bersengketa maka dia melakukan fujur yaitu keluar dari jalan kebenaran.

Inilah 5 ciri nifāq al ashghar, nifāq ‘amali.

Dan kalau kita perhatikan, 5 ciri tersebut seluruhnya kembali kepada satu muara yaitu penyelisihan zhahir dengan batin, inilah yang disebut dengan nifāq ‘amali.

Semakin banyak sifat tersebut pada seseorang maka semakin tinggi kualitas kemunāfikannya.

Pertanyaannya, apabila kita dapati 5 ciri tersebut ada pada dirinya, apakah kita katakan dia telah Munāfiq dengan nifāq akbar?

Kalau ngomong selalu berdusta, kalau berjanji selalu menyelisihi, kalau diberi amanah selalu berkhianat, kalau membuat kesepakatan selalu menyelisihi dan kalau bersengketa selalu melakukan kefujuran.

Apabila 5 ciri tersebut ada pada dia, Apakah dikatakan dia telah kāfir ?

Jawabannya: Tidak

Tetap dikatakan dia telah Munāfiq ‘amali (nifaq kecil) selama imannya ada dalam hatinya. Tetap dia melakukan nifāq kecil bukan nifāq akbar.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perhatikan, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendatangan kalimat: “Idza” (kalau)
√ kalau dia berbicara dia berdusta
√ Kalau di janji menyelisihi
Ini menunjukkan sifat yang SELALU dia lakukan.

Maka apabila ada seorang mukmin yang TERKADANG berdusta maka tidak dikatakan dia seorang munāfiq (Nifaq ‘amali).

Karena seorang mukmin terjerumus dalam kemaksiatan,
√ Terkadang dia berdusta,
√ Terkadang menyelisihi janji,
√ Terkadang melakukan kefujuran,
√ Terkadang dia mengkhianati amanah.
Ini tidak dikatakan dia munāfiq dan tetap dikatakan dia seorang mukmin nanum dia telah melakukan maksiat.

Berbeda dengan orang yang “selalu”, inilah yang disebut dengan orang munāfiq dengan nifāq ‘amali.

Jadi, dibedakan antara seseorang mukmin yang bersalah dengan seseorang yang munāfiq.

Kita bahas tentang 5 sifat tersebut.

?Yang pertama | Kalau dia berbicara dia berdusta

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Kalau dia berbicara dia berdusta.”

Ini adalah kegiatan dia.

Kenapa dikatakan sifat munāfiq ?

⇒ Karena dia mengetahui bahwasanya apa yang dia sampaikan itu dusta tetapi dia sampaikan juga dalam bentuk kebenaran (Jadi zhahirnya menyelisihi batinnya).

Batinnya tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikan secara zhahir sekan-akan kebenaran. Inilah yang merupakan sifat munāfiq.

Adapun dusta yang tidak sengaja di lakukan, misalnya :

? Seseorang menyampaikan kabar ternyata dia tidak tahu bahwa kabar tersebut dusta (belum sampai informasi kepada dia, telah terjadi perubahan bahwa yang dia sampaikan ternyata salah)

Maka orang ini tidak dikatakan mempunyai sifat munāfiq , kenapa?

Karena dustanya tidak disengaja.

Dan ini bisa terjadi pada seorang mukmin. Dia ditanya dengan suatu pertanyaan kemudian dijawab dengan tanpa berfikir sebelumnya ternyata jawabnya keliru.

?Misalnya dia ditanya:

“Apakah engkau telah menyampaikan salamku kepadanya?”

Kemudian dia langsung menjawab: “Sudah.”

Dia lupa, ternyata belum, ternyata yang sudah disampaikan adalah salamnya orang lain bukan salam orang tadi. Ini contoh dusta tidak disengaja dan bukan sifat munāfiq.

?Sifat munāfiq adalah penyelisihan antara zhahir dan batin (yaitu) sengaja berdusta.

Dia tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikannya secara zhahir dalam bentuk kebenaran.

Kita lanjutkan pembahasan sifat berikutnya pada pertemuan selanjutnya, In syā Allāh.

وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

munafik1