Tag Archives: kajian

Isra’ Mi’raj


Isra’ Mi’raj


( Jadikan ibroh/ pelajaran peristiwa ini turunnya perintah shalat 5 waktu bukan membuat perayaan ).

Perayaan dalam Islam hanya Idul fitri dan Idul adha.

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya. Namun apakah benar dalam ajaran Islam.

Bahkan sebagian merayakan hingga larut malam, dan shalat subuh kesiangan… inikah yang nabi ajarkan?? Dan masih banyak yang ikut tapi kesehariannya jarang shalat hanya ingin dapat besek, seandainya ibadah yang diada-adakan tidak ada iming-iming materi, makanan niscaya tidak akan ada yang hadir. semoga Allah berikan hidayahNya.

Perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan?

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,

”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Biasakanlah melakukan hal yang benar, bukan membenarkan apa yang biasa dilakukan.

Hanya Allah yang memberikan taufik.

Abu Adlan Nizam

silsilah 1 mahazi – PENGERTIAN dan KEUTAMAAN serta BEBERAPA HIKMAH HAJI

MAHAZI 1

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halaqah pertama dari silsilah manasik haji adalah PENGERTIAN, KEUTAMAAN DAN BEBERAPA HIKMAH HAJI

Al Hajju = Al Qosdu (maksud)

HAJI secara istilah = bermaksud ke Baitullah dengan melakukan

amalan-amalan khusus (seperti niat, thawaf, sa’i, wukuf, dll)

di waktu-waktu yang khusus (yaitu di bulan-bulan Haji : syawal, dzulqo’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)

Haji adalah salah satu rukun Islam

HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : 

Buniyal islamu ala tamsin sahadati ala ilaha ilallah wa ana muhammadan wa rasulullah wa iqomi shalati wa ida idz zakati  wa hajji washaumi ramadhan

“Islam dibangun diatas 5 perkara. Syahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang  berhak disembah kecuali Allah, bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, ibadah haji dan puasa bulan Ramadhan. Haji yang mabrur adalah termasuk sebaik-baik amalan”

HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairoh :

Rasulullah ditanya tentang amalan yg paling afdhol =

•             beriman pada Allah dan RasulNya, kemudian apa?

•             berjihad di jalan Allah, kemudian apa?

•             Haji yang mabrur

Hikmah-hikmah yang banyak dari haji :

1.            Haji adalah musim untuk mendapatkan pahala yang besar dan ampunan dosa.

2.            Perwujudan Ukhuwah Islamiyah dan usaha untuk mengenal satu sama lain, kaum muslimin yang bermacam-macam asal, warna kulit, dan suku bangsa yg berbeda , datang untuk menyembah Tuhan yang satu.

3.            Madrasah iman dan beramal shaleh; karena seorang jamaah Haji dalam musim Haji akan terbiasa melakukan amalan sholeh : bersabar, mengingat hari akhir ketika manusia dikumpulkan, dan mengingat bahwa dunia hanya sementara.

4.            Haji juga merupakan musim untuk mendapat rejeki dunia bagi banyak orang.

5.            Kesempatan menimba ilmu dan mengajarkan ilmu dan berbuat baik pada sesama.

6.            Dan ada  hikmah-hikmah serta manfaat-manfaat yang lainnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Wa adzin finnasi bil hajji yaktukarijalan wa ala kuli dhomirin yaktina min kulifadzin amiik lishadu manafialahum

“Hendaklah engkau seru manusia untuk melakukan haji maka mereka akan berdatangan dengan berjalan kaki dan naik onta dari tempat yang jauh supaya mereka merasakan manfaat-manfaat bagi mereka”

(Qs Al Hajj 27-28)

I’TIKĀF BAGIAN 03 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H | 23 Januari 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb I’tikāf
🔊 Kajian 109 | I’tikāf Bagian 03
⬇ Download audio: bit.ly/MatanAbuSyuja-K109
➖➖➖➖➖➖➖

I’TIKĀF, BAGIAN 03 DARI 03

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh Subhānahu wa Ta’āla masih memberikan taufīq kepada kita untuk terus mempelajari ilmu agama. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita istiqāmah sampai kita bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Para sahabat sekalian, pada halaqah kali ini, kita akan membahas satu malam yaitu malam yang sangat mulia sehingga kita disyari’atkan i’tikāf. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berusaha bersungguh-sungguh ber i’tikāf, sampai akhir hayatnya (beliau tidak pernah meninggalkan syari’at i’tikāf dalam rangka mencari satu malam yang mulia/lailatul qadr).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۞ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’ān ) pada malam kemuliaan⑴. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?⑵. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan⑶. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibrīl ) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan⑷. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar ⑸.”

(QS Al Qadr: 1-5)

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Di dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan yang besar tentang malam lailatul qadr.

⑴ Pada malam tersebut diturunkan Al Qur’ān, ini adalah satu mu’zijāt yang besar bagi kaum muslimin.

⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan satu uslub yang menunjukkan bahwa malam ini adalah malam yang agung, dengan cara bertanya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengajak orang-orang yang membaca ayat ini untuk berpikir: “Tahukah kalian malam kemuliaan itu?”

⑶ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan ibadah yang ada pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, lebih baik daripada 83 tahun. Satu malam disetarakan bahkan lebih baik dari ibadah selama 83 tahun (Subhānallāh).

Ini adalah keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga umur mereka walaupun sedikit (60 sampai 70 tahun), akan tetapi Allāh panjangkan umurnya dengan amalan yang sedikit tersebut yaitu pahalanya lebih banyak daripada orang yang memiliki umur yang panjang pada umat-umat sebelumnya.

⑷ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan malāikat dan Jibrīl, ini menunjukkan satu keutamaan yang luar biasa, dimana Allāh tidak menurunkan pada malam-malam lainnya.

⑸ Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan malam tersebut malam yang penuh dengan kesejahteraan.

⑹ Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni orang-orang yang beribadah penuh dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada malam tersebut.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhān atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allāh, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 38 dan Muslim nomor 760)

Dan Allāh khususkan satu malam yang mulia:

مَن قام ليلةَ القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه

“Barangsiapa yang beribadah (shalāt) pada malam lailatul qadr dengan penuh iman dan berharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Ikhwāh Fīddīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Kapan malam lailatul qadr?

Malam lailatul qadr adalah malam di antara malam-malam bulan Ramadhān, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’ān.”

(QS Al Baqarah: 185)

Artinya pada malam-malam di antara malam bulan Ramadhān ada di sana malam yang diturunkannya Al Qur’ān yaitu malam lailatul qadr.

Kapan waktunya?

Di sana para ulamā sebagaimana disebutkan oleh Imām Al hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, para ulamā berselisih sampai 40 pendapat kapan waktunya lailatul qadr.

Dan jumhur, kebanyakan mereka, menyebutkan malam lailatul qadr adalah pada sepuluh hari yang terakhir berdasarkan hadīts Abī Saīd Al Khudriy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda:

فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Maka carilah malam tersebut pada sepuluh hari yang terakhir.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2018)

Dan kebanyakan mereka juga menyebutkan bahwasanya malam kemulian (lailatul qadr) berada pada waktu-waktu yang ganjil (malam-malam ganjil) di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts di mana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhān.”

Oleh karena itu Ikhwān Fīddīn A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Seorang yang bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir paling tidaknya dan apabila mungkin di bulan Ramadhān secara keseluruhannya maka, in syā Allāh, dia akan mendapatkan malam lailatul qadar dengan sebaik-baik keadaan. Karena pada hakikatnya setiap orang akan melalui dan akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Setiap orang akan melewati malam lailatul qadar. Akan tetapi pertanyaannya, pada saat malam tersebut apa yang kita lakukan?

Sebagian orang (wal iyaadzu billāhi) ada yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sebagian orang ada yang menyibukkan dengan perkara-perkara yang sia-sia, mengunjing sana sini (berghibah) dan lain sebagainya.

Bahkan dia menonton tontonan yang tidak diperbolehkan di dalam Islām. Dan sebagian ada yang melewati waktu-waktunya dengan tidur.

Dan sebagian yang Allāh beri taufīq, ia melewatkan waktu malam lailatul qadar ini dengan penuh beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh dengan membaca Al Qur’ān, berdzikir, shalāt malam, shalāt tarawih bersama imam dan ia bermuhasabah pada malam tersebut. Ini adalah orang-orang yang diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, disyariatkan i’tikāf dalam rangka kita mendapatkan malam yang mulia ini. Ini adalah kesempatan yang sangat rugi sekali apabila seorang melewatkannya.

Orang yang tidak diberikan taufīq untuk mendapatkannya sesungguhnya dia adalah orang yang tercegah dari kebaikan, orang yang merugi.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau adalah orang yang terbaik, beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik yang terdahulu maupuan yang akan datang, beliau bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam ini.

Dalam sebuah hadīts disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersungguh-sungguh disepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān lebih daripada malam-malam yang lainnya.”

Bahkan dalam hadīts lain:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān beliau mengencangkan sarungnya dan menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

⇒ Ini menunjukkan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak bersenang-senang (mendekati istrinya), tetapi beliau bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu hendaknya kita bersungguh-sungguh menjadikan sunnah i’tikāf sebagai sunnah yang kita berusaha untuk mewujudkannya. Kita singkirkan kesibukan-kesibukan dunia yang selama ini melalaikan diri kita.

Minimal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān kita bermuhasabah, kita bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bersungguh-sungguh membaca Al Qur’ān, banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita untuk bisa melaksanakan sunnah Nabi kita (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk beri’tikāf.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufīq kepada kita agar kita mendapatkan malam yang mulia, memberikan hidayah kepada kita agar hati kita senantiasa senang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang bisa disampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 10 DAN 11

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Shafar 1440 H / 05 November 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 10 | Hadits 10
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-10
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 10 DAN 11
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan ke-10 ini, kita akan membaca hadīts kesepuluh dan kesebelas yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau (Imām At Tirmidzī) rahimahullāh berkata :

10 – حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْثَرُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ أَشْعَثَ، يَعْنِي ابْنَ سَوَّارٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أنه قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ إِضْحِيَانٍ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَمَرِ، فَلَهُوَ عِنْدِي أَحْسَنُ مِنَ الْقَمَرِ»

Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts kesepuluh ini lengkap dengan sanadnya. Di antara Imām At Tirmidzī hingga shahābat Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ada empat orang.

Jābir Bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah bercerita tentang keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, saat itu beliau membandingkan antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan bulan, ternyata keindahan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa mengalahkan keindahan bulan.

Beliau radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā berkata :

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam bulan purnama, saat itu Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sedang memakai baju merah, aku perhatikan keindahan wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan keindahan bulan. (Setelah aku bandingkan keindahan keduanya), ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”

Mari kita bahas lafadz hadīts ini,

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada saat bulan purnama.”

Dalam hadīts disebutkan dengan: ليلة اضحيان.

Dijelaskan oleh para ulamā, bahwa maknanya adalah: ليلة مقمرة , yaitu malam yang terhiasi dengan bulan, baik bulan tersebut masih tipis atau sudah besar.

Ada juga sebagian yang mengatakan bahwa: ليلة اضحيان, merupakan hari kedelapan bulan-bulan hijriyah.

Namun Syaikh Abdurrazāq menjelaskan, bahwa kata tersebut diartikan dengan bulan purnama dalam keadaan bulan saat itu telah sempurna.

Lafadz selanjutnya adalah:

“Saat itu Beliau sedang memakai hullah hamra’ (baju yang berwarna merah).”

Sebagaimana telah kita bahas pada pertemuan yang terdahulu, bahwa hukum menggunakan pakaian berwarna merah ada khilāf di antara ulamā. Dan Syaikh Abdurrazāq dalam syarah beliau terhadap kitāb As Syamāil, (kitāb yang kita pelajari ini), beliau mengatakan:

“Yang terlarang adalah baju yang berwarna merah polos, adapun kalau ada garis putih atau hitam atau yang lainnya dalam baju tersebut maka diperbolehkan memakainya.”

Lafadz selanjutnya adalah:

“Ternyata wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah dari pada bulan.”

Maksudnya adalah setelah dibandingkan oleh Jābir bin Samurah, antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sedang memakai baju merah dengan bulan yang saat itu sedang sempurna (purnama) ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah untuk dipandang dari pada rembulan yang sedang purnama.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts ini adalah:

⑴ Tentang wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang mana wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) lebih indah untuk dipandang dan dinikmati dari pada keindahan bulan purnama.

Hadīts ini merupakan hadīts yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitāb Sunnan beliau dengan nomor 2811, Akan tetapi hadīts ini ada kelemahan di dalamnya, karena di dalamnya ada seorang rawi yang bernama Asy’asy ibnu Sawwār ( أَشْعَثَ ابْنَ سَوَّارٍ), dhaif.

Ibnu Hajar berkata :

“Beliau (Asy’asy ibnu Sawwār) adalah seorang hakim di kota Ahwaz, dalam ilmu hadīts beliau dhaif.”

Sehingga hadīts ini dhaif, akan tetapi datang hadīts yang mendukungnya, sebagaimana dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dengan nomor 11, tepat setelah hadīts ini.

Dan hadīts tersebut juga diriwayatkan oleh Imām Al Bukhāri dengan nomor 3552, sehingga hadīts nomor 10 (hadīts yang sedang kita bahas ini) derajatnya menguat.

Dan kita bisa memahami dan meyakini bahwasanya wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih indah dari pada bulan saat purnama.

Adapun hadīts kesebelas yang menguatkan makna hadīts kesepuluh ini adalah sebagai berikut:

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb As Syamāil berkata :

11 – حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤَاسِيُّ، عَنْ زُهَيْرٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ: أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ السَّيْفِ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِثْلَ الْقَمَرِ»

Seorang laki-laki pernah bertaya kepada Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā:

“Apakah wajah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti pedang?”

Maksud penanya ada dua kemungkina:

(1) Seperti pedang dalam keindahan dan kilauannya atau

(2) Seperti pedang dalam dalam panjangnya.

Beliau (Al Bara’ bin Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā) menjawab :

“Tidak, Beliau seperti bulan (dalam pancaran sinar dan bentuknya).”

⇒ Maksudnya bahwa pancaran sinar wajah Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak seperti pedang, namun seperti bulan dan bentuk wajah Beliau juga bukan memanjang seperti pedang akan tetapi seperti bulan. Namun sebagaimana kata para ulamā, tidak bundar seratus persen.

Semoga pertemuan kali ini membawa manfaat dan bisa membuat kita semakin terbayang dengan wajah yang lebih indah dari pada bulan saat purnama dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat dan bisa berkumpul bersama Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) di akhirat kelak. Āmīn

Wallāhu A’lam bishawāb.

🖋 Akhukum Fīllāh, Ratno

Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta
_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda.

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH HADĪTS 09

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 01 Shafar 1440 H / 10 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 09 | Hadits 9
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-09
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 09
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dalam bimbingan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan kesembilan ini, kita akan membaca hadīts kesembilan yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī dalam kitab Asy Syamāil Al Muhammadiyyah yang berisi tentang sifat-sifat dan akhlaq-akhlaq yang dimiliki oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Beliau (Imām At Tirmidzī) berkata :

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَلِيعَ الْفَمِ، أَشْكَلَ الْعَيْنِ، مَنْهُوسَ الْعَقِبِ». قَالَ شُعْبَةُ: قُلْتُ لِسِمَاكٍ: مَا ضَلِيعُ الْفَمِ؟ قَالَ: عَظِيمُ الْفَمِ، قُلْتُ: مَا أَشْكَلُ الْعَيْنِ؟ قَالَ: طَوِيلُ شِقِّ الْعَيْنِ، قُلْتُ: مَا مَنْهُوسُ الْعَقِبِ؟ قَالَ: قَلِيلُ لَحْمِ الْعَقِبِ

(Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts ini lengkap dengan jalur periwayatannya, hingga shahābat Jābir Bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu (saat mensifati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) beliau berkata :

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah sosok yang memiliki bentuk mulut, relatif besar lagi lebar (maksudnya mulut Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak sempit dan juga tidak kecil).

Pada putih mata Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ada sedikit warna merahnya (dan kata Syaikh Abdurrazāq, sedikit warna merah pada putih mata merupakan sifat yang bagus lagi terpuji), dan daging yang berada pada tumit Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) hanya sedikit dan tidak banyak.

Kemudian Su’bah bertanya kepada Simāk tentang arti kata-kata asing dalam hadīts ini, dan makna serta isi percakapan tersebut telah kami tuangkan dalam terjemahan hadīts yang telah lalu penyebutannya.

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh diriwayatkan oleh Imām Muslim dalam shahīh beliau nomor 2339 dan Imām At Tirmidzī dalam kitāb Jami’ atau Sunnan beliau dengan nomor 3646.

Dan Imām Tirmidzī mengatakan :

“هذا حديث حسن صحيح”

“Hadīts ini merupakan hadīts hasan shahīh.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts ini adalah :

⑴ Tentang bagaimana sifat mulut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan dalam hadīts disebutkan bahwa mulut Beliau yang mulia, cenderung besar, tidak kecil apalagi sempit.

⇒ Dan mulut yang besar lagi lebar merupakan tanda akan kafasihan seseorang dalam berbicara.

⑵ Tentang bola mata beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dalam hadīts disebutkan bahwa pada putih bola mata Beliau ada sedikit warna merah, (dikalangan Arab, mata yang seperti itu merupakan mata yang bagus lagi dipuji)

⑶ Tentang tumit Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dalam hadīts disebutkan bahwa tumit Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak banyak dagingnya, dan itu menunjukan bahwa Beliau tidak gemuk.

Itulah beberapa faedah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu A’lam bishshawāb
🖋 Al Faqīr Ilallāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islam Yogyakarta
_______
🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…

KITAB SYAMAIL MUHAMMADIYAH HADITS 2

🌏 BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Dzulhijjah 1439 H / 29 Agustus 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamail Muhammadiyah
🔊 Halaqah 03| Hadits 2
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-03
〰〰〰〰〰〰〰

KITAB SYAMAIL MUHAMMADIYAH, HADITS 2
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat Bimbingan islam yang semoga selalu dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada pertemuan ketiga ini, kita akan membaca hadits kedua yang dibawakan oleh Imam At Tirmidzi rahimahullāh dalam kitab Asy Syamail Al Muhammadiyyah. Beliau berkata :

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ الْبَصْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبْعَةً، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ، حَسَنَ الْجِسْمِ، وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلَا سَبْطٍ أَسْمَرَ اللَّوْنِ، إِذَا مَشَى يَتَكَفَّأُ»

(Imam At Tirmidzi membawakan hadist ini lengkap dengan jalur periwayatannya hingga Anas bin malik radhiyallāhu ‘anhu)

Anas bin malik radhiyallāhu ‘anhu berkata :

“Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah seorang yang memiliki tinggi ideal, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek, memiliki tubuh yang optimal. Rambut Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak keriting juga tidak lurus. Kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwarna coklat [putih kemerah-merahan] Jika berjalan relatif condong kedepan karena langkah kaki yang lebar.”

Hadist ini diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dalam Kitab Jami’ beliau dengan nomor 1754, dan Syaikh Al Albani menshahihkan hadist ini.

Dalam hadist ini, ada beberapa faedah yang telah lalu penyebutannya, diantaranya tentang tinggi, rambut, warna kulit beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hanya saja pada hadist ini kulit beliau diibaratkan dengan kata “أسمر” yaitu coklat, namun sebagian ulama mengatakan bahwa kata Asmar juga memiliki arti putih kemerah-merahan.

Adapun pelajaran baru yang bisa kita petik kali ini adalah :

1. Tinggi rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah ideal tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek sebagaimana hadist yang telah lalu,

2. Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah seorang yang memiliki tubuh yang ideal.

3. Rambut Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak lurus dan tidak keriting, pertengahan diantara keduanya.

4. Kulit Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwarna putih kemerahan, karena kata: أسمر juga dipakai untuk mengibaratkan makna tersebut.

5. Cara berjalan beliau relatif cepat, dengan badan agak condong kedepan, dengan langkah kaki yang cukup lebar.

Demikian pembahasan hadist kedua kali ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Akhukum fillah,
Ratno
Dikantor Bimbingan Islam Yogyakarta

_______
🏦 Donasi Dakwah BIAS dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke ; 0878-8145-8000

SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda…
_______

Pengagungan Terhadap Ilmu

 

Pengagungan Terhadap Ilmu 

Sebuah kajian dari HSI – Halaqah Silsilah Ilmiyyah – Abdullah Roy

Sumber : Kitab  “Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi” karya  Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah bin Hamd Al- ‘Ushoimiy  hafizhahullah

——————————————————————–

 

Telah berkata Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah bin Hamd Al- ‘Ushoimiy  hafizhahullah di dalam Muqaddimah kitab  “Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi” bahwa banyak sedikitnya ilmu seseorang adalah sesuai dengan pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri. Barang siapa yang hatinya penuh dengan pengagungan terhadap ilmu maka hati tersebut pantas menjadi tempat bagi ilmu tersebut, sebaliknya barang siapa yang berkurang pengagungannya terhadap ilmu maka akan semakin berkurang bagiannya.

Kemudian beliau menyebutkan 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu:

  1. Membersihkan tempat ilmu (yaitu hati)

Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah membersihkan tempat ilmu. Apabila hati kita bersih, maka ilmu akan berkenan masuk, dan semakin bersih maka semakin mudah menerima ilmu tersebut. Dan hal yang mengotori hati dan menjadikan ilmu sulit masuk adalah kotoran syahwat dan kotoran syubhaat.

 

  1. Mengikhlaskan niat

Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah mengikhlaskan niat karena Allah didalam menuntutnya.

Sesuai dengan keikhlasan seseorang dia akan mendapatkan ilmu dan niat yang ikhlas didalam mencari ilmu adalah apabila niatnya:

1) Mengangkat kebodohan dari diri sendiri

2) Mengangkat kebodohan dari orang lain

3) Menghidupkan ilmu dan menjaganya supaya tidak punah

4) Mengamalkan ilmu

 

  1. Mengumpulkan tekad untuk menuntutnya, meminta petolongan kepada Allah, dan tidak merasa lemah.

 

Sebagaimana dalam hadits: ا

حرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز

Hendaklah engkau semangat melakukan apa yang bermanfaat untuk dirimu dan memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah.

(HR. Muslim)

 

Dahulu Imam Ahmad bin Hambal terkadang ingin keluar dari rumahnya untuk menghadiri majelis ilmu gurunya sebelum datang waktu subuh dan sebagian mereka membaca shahih al-bukhari kepada gurunya dalam tiga majelis atau tiga pertemuan. Ini semua menunjukkan bagaimana semangat dan tekad para pendahulu kita didalam menuntut ilmu.

 

  1. Memusatkan semangat untuk mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadits, karena inilah asal dari ilmu itu sendiri

 

  1. Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu agama.

Orang yang salah cara dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan keinginannya, atau mendapatkan sedikit disertai rasa lelah yang sangat.

Dan cara yang benar didalam mempelajari satu cabang ilmu:

  • Menghafal sebuah matan kitab yang menyeluruh dan dia
  • mengumpulkan perkara-perkara yang raajih atau yang dikuatkan menurut para ulama dibidang tersebut.
  • Mempelajari ilmu tersebut dari seorang yang ahli yang bisa dijadikan teladan dan dia mampu mengajar

 

  1. Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Dan ilmu yang paling penting adalah ilmu yang berkaitan dengan ibadah seseorang kepada Allah. Yang berkaitan dengan ‘ubudiyah seseorang kepada Allah ‘azza wajalla, seperti: ilmu ‘aqidah, tata cara wudhu, tata cara shalat dan lain-lain.

 

  1. Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang emas untuk mempelajari ilmu agama.

Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah:

العلم في الصغر كالنَقْش في الحجر

Artinya: “Menuntut ilmu diwaktu kecil seperti mengukir di batu“.

Adapun apabila sudah tua maka kebanyakan manusia akan memiliki banyak kesibukan, pikiran dan memiliki banyak koneksi. Kalau dia bisa mengatasi itu semua maka in sya Allah dia mendapatkan ilmu. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mempelajari agama dan mereka sudah berumur.

 

  1. Pelan-pelan didalam menuntut ilmu, karena menuntut ilmu tidak bisa dilakukan serta merta sekali jalan, tetapi diambil ilmu secara pelan-pelan dengan memulai kitab-kitab yang ringkas, menghafal dan memahami maknanya dan jangan kita memulai menuntut ilmu dengan membaca kitab-kitab yang panjang.

     

 

      9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu.

  • Menghafal membutuhkan kesabaran,
  • memahami membutuhkan kesabaran,
  • menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran, demikian pula •menjaga haq seorang guru membutuhkan kesabaran.

Berkata Yahya ibnu Abi Katsiirin:

لا يُسْتَطَاعُ العلمَ بِرَاحَةِ الجِسْم

“Tidak didapatkan ilmu dengan badan yang berleha-leha.”

Demikian pula

  • menyampaikan dan mengajarkan perlu kesabaran,
  • duduk bersama para penuntut ilmu perlu kesabaran,
  • memahamkan mereka perlu kesabaran, demikian pula
  • menghadapi kesalahan-kesalahan mereka perlu kesabaran.

 

     10. Memperhatikan adab-adab ilmu.

Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. Dan adab disini mencakup

  • adab terhadap diri didalam pelajaran,
  • adab terhadap guru dan teman dan lain-lain.

Orang yang beradab didalam ilmu berarti dia mengagungkan ilmu, maka dia dipandang sebagai seorang yang berhaq untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Adapun orang yang tidak beradab maka dikhawatirkan ilmu akan sia-sia bila disampaikan kepadanya.

Berkata Ibnu Siirin:

كانوا يتعلمون الهَدْيَ كما يتعلمون العلم

“Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” Bahkan sebagian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu dan banyak diantara penuntut ilmu yang tidak mendapatkan ilmu karena dia menyia-nyiakan adab.

 

     11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya

Hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga wibawanya, karena apabila dia melakukan sesuatu yang merusak wibawanya sebagai seorang penuntut ilmu berarti dia telah merendahkan ilmu. Seperti

  • terlalu banyak menoleh dijalan,
  • berteman akrab dengan orang-orang faasik dan lain-lain.

 

     12. Memilih teman yang shaalih

Seorang penuntut ilmu perlu teman yang membantu untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh. Teman yang tidak baik akan memberi pengaruh yang tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل ”

Seseorang berada diatas agama teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman akrab.”

(Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud, dan At-Tirmizi)

 

      13. Berusaha keras dalam menghafal ilmu, bermudzakarah dan bertanya.

Belajar dari seorang guru tidak banyak manfa’atnya jika tidak menghafal, bermudzakarah dan bertanya. Menghafal berkaitan dengan diri sendiri, bermudzakarah adalah mengulang kembali bersama teman, dan bertanya maksudnya adalah bertanya kepada sang guru.

Berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah :

حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا ”

Kami menghafal sedikit dan membaca banyak, maka kami mengambil manfa’at dari yang kami hafal lebih banyak daripada apa yang kami baca.”

Dan dengan mudzakarah akan hidup ilmu di dalam jiwa dan dengan bertanya akan terbuka pembendaharaan ilmu.

 

  1. Menghormati ahli ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ليس من أمتي من لم يجلّ كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه ”

Bukan termasuk ummat ku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan mengetahui haq bagi seorang ‘aalim.”

(Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnad beliau)

Maka seorang murid harus

  • memiliki rasa tawaadhu’ kepada gurunya,
  • menghadap beliau dan tidak menoleh,
  • menjaga adab berbicara,
  • tidak berlebih-lebihan didalam memuji beliau,
  • mendo’akan beliau,
  • mengucapkan terima kasih kepada beliau atas pengajaran beliau,
  • menampakkan rasa butuhnya terhadap ilmu beliau,
  • tidak menyakiti beliau dengan ucapan dan perbuatan, serta
  • berlemah lembut ketika mengingatkan kesalahan beliau.

 

Disana ada 6 perkara yang harus dia jaga apabila melihat kesalahan seorang guru:

  • Meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut keluar dari seorang guru.
  • Meneliti apakah itu memang sebuah kesalahan (dan ini tugas ahlul ‘ilmi).
  • Tidak boleh mengikuti kesalahan tersebut.
  • Memberikan ‘udzur kepada sang guru dengan alasan yang benar.
  • Memberikan nasehat dengan lembut dan rahasia.
  • Menjaga kehormatan seorang guru dihadapan kaum muslimin yang lain.

 

 

  1. Mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahlinya.

Orang yang mengagungkan ilmu mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahli ilmu dan tidak memaksakan dirinya atas sesuatu yang dia tidak mampu, karena dikhawatirkan takut berbicara tanpa ilmu khususnya peristiwa-peristiwa yang besar yang terjadi yang berkaitan dengan urusan ummat dan orang banyak. Mereka para ulama memiliki ilmu dan pengalaman, maka hendaklah kita husnudzan kepada mereka. Dan apabila ulama berselisih, maka lebih hati-hatinya seseorang mengambil ucapan mayoritas mereka.

 

  1. Menghormati majelis ilmu dan kitab.

Hendaklah beradab ketika bermajelis,

  • melihat kepada gurunya dan tidak menoleh tanpa keperluan,
  • tidak banyak bergerak dan memainkan tangan dan kakinya,
  • tidak bersandar dihadapan seorang guru, tidak bersandar dengan tangannya,
  • tidak berbicara dengan orang yang ada di sampingnya, dan
  • apabila bersin berusaha untuk merendahkan suaranya,
  • apabila menguap berusaha untuk meredamnya atau menutup dengan mulutnya.

Dan hendaknya juga

  • menjaga kitab dan memuliakanya,
  • tidak menjadikan kitab sebagai tempat simpanan barang-barang,
  • tidak bersandar di atas kitab,
  • tidak meletakkan kitab di kakinya, dan
  • apabila dia membaca kitab dihadapan seorang guru hendaklah dia mengangkat kitab tersebut, dan tidak meletakkan kitab tersebut di tanah.

 

  1. Membela ilmu dan membelanya.

Ilmu memiliki kehormatan yang mengharuskan penuntutnya dan ahlinya untuk membela dan menolongnya bila ada yang berusaha merusaknya. Oleh karena itu para ulama membantah orang yang menyimpang bila jelas penyimpangannya dari syari’at, siapapun dia. Yang demikian untuk menjaga agama dan menasehati kaum muslimin. Mereka memboikot seorang mubtadi’ yaitu orang yang membuat bid’ah dalam agama, tidak mengambil ilmu dari mereka kecuali dalam keadaan terpaksa, dan lain-lain. Semuanya dilakukan untuk menjaga ilmu dan membelanya.

 

  1. Berhati-hati dalam bertanya kepada para ulama.

Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan 4 perkara didalam bertanya:

  • Bertanya untuk belajar, bukan ingin mengeyel. Karena orang yang niatnya tidak baik didalam bertanya akan dijauhkan dari berkah ilmu itu sendiri.
  • Bertanya tentang sesuatu yang bermanfa’at.
  • Melihat keadaan gurunya, tidak bertanya kepada sang guru apabila guru dalam keadaan tidak kondusif untuk menjawab pertanyaan.
  • Memperbaiki cara bertanya, seperti menggunakan kata-kata yang baik, mendo’akan untuk sang guru sebelum bertanya, menggunakan panggilan penghormatan, dan lain-lain.

 

  1. Cinta yang sangat kepada ilmu.

Tidak mungkin seseorang mencapai derajat ilmu, kecuali apabila kelezatan dia yang paling besar ada di dalam ilmu.

Dan kelezatan ilmu bisa didapatkan dengan 3 perkara:

  • Mengeluarkan segenap tenaganya dan kesungguhannya untuk belajar.
  • Kejujuran didalam belajar.
  • Keikhlasan niat.

 

  1. Menjaga waktu didalam ilmu.

Seorang penuntut ilmu tidak menyia-nyiakan waktunya sedikitpun, menggunakan waktu untuk ibadah, dan mendahulukan yang afdhal diantara amalan-amalan. Sebagian salaf dahulu ada yang muridnya membaca kitab kepada beliau sedangkan beliau dalam keadaan makan, yang demikian adalah untuk menjaga waktunya jangan sampai tersia-sia dari menuntut ilmu.

 

 

Selesai.

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN

SUDAH NGAJI TAUHID TAPI BERGELIMANG KESYIRIKAN
Taushiyah Mufidah :
▪🗓 Selasa
| 18 Syawwal 1439 H
| 2 Juli 2018 M
| Oleh : Ustadz Dr. Arifin Badri, MA

Walau sudah ngaji tauhid bisa jadi anda sehari-hari masih bergelimang dalam kesyirikan.

Menurut anda apakah orang berikut ini mencerminkan tauhid atau syirik?

Berwudu hanya agar mukanya menjadi bersih.

Berzakat hanya agar dikenal sebagai orang dermawan.

Berjihad hanya agar bisa melampiaskan dendam kepada musuh yang telah mengganggu keluarganya.

Berhaji hanya agar bisa rekreasi ke Madinah dan Mekah.

Apakah yang seperti di atas amalan tauhid atau syirik?

Bagaimana dengan orang yang berdo’a hanya agar kebutuhannya terpenuhi atau dikabulkan sehingga ia bisa menjadi kaya raya, atau naik pangkat, atau dagangannya laris, atau sembuh dari penyakitnya?

Dalam pikiran dan niatnya saat berdoa sama sekali tidak terbatik niatan sedang beribadah.

Anda pasti pernah membaca sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الدعاء هو العبادة

Doa itu adalah ibadah
(At Tirmizy dan lainnya)

Sobat! Coba bandingkan orang yang berdoa seperti di atas dengan orang yang berwudlu namun yang ada di benaknya hanya sejuknya air, dan bersihnya wajahnya.

Atau bersedakah, namun yang selalu terbayang di pikirannya hanyalah sanjungan orang lain.

Imam Ibnu Taimiyyah mengomentari praktek doa yang seperti ini, yaitu hanya fokus pada terpenuhinya kebutuhan dirinya dengan berkata:

‏ومعلوم أن الافعال التي على هذا الوجه لا تكون عبادة ولا طالعة ولا قربة

Dan telah diketahui bersama bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan cara ini, tidak bisa menjadi ibadah, tidak pula amal ketaatan tidak pula amalan yang mendekatkan diri kapada Allah.
(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 10/715)

Yuk, ngaji tauhid lagi, bukan sekedar teorinya namun juga hingga pada tahap aplikasinya dalam kehidupan nyata.

Sumber : http://www.salamdakwah.com/artikel/4856-sudah-ngaji-tauhid-tapi-bergelimang-kesyirikan
Dishare ulang :
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
~~~~~~~~

ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA

ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA…

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa.

 

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنبن

“ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININ” [QS. Ibrohim: 41]

(Ya Rabb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin).

 

PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

 

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.
.
.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى .
.
.
Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/11487

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

4 Amalan Besar Penghapus Dosa

✏Ustadz Dr. Khalid Basalamah MA

 

1⃣ Masuk Islam

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا

dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba masuk Islam lalu memperbaiki keIslamannya maka Allah akan menuliskan untuknya setiap kebaikan yang dia lakukan, dan dihapus setiap keburukan yang dia lakukan kemudian setelah itu (setiap) kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuhratus kali lipat, sedangkan keburukan akan dibalas dengan semisalnya kecuali jika Allah Azza wa jalla memaafkannya.” (HR. An Nasai)

Para ulama menjelaskan maksud dari bagus islamnya adalah bagus tauhidnya, tidak mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

 

2⃣ Bertaqwa kepada Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.
Surat Al-Anfal, Ayat 29
Dan taqwa adalah: menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang.

 

 

3⃣ Mengikuti nabi Muhammad
Dengan selalu berusaha mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, meneladaninya, maka Allah janjikan cinta dan ampunannya. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Surat Ali ‘Imran, Ayat 31

 

4 Berjihad di jalan Allah.

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ🔅يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.🔅
niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.
-Surat Ash-Shaf, Ayat 11-12

 

Dan ingat! Jihad adalah syariat Allah, punya rambu-rambu dari Allah, aturan dan syarat-syarat nya jelas. Jangan sampai kerena kebodohan kita, malah syariat yang Agung ini menjadi alasan untuk membuat kerusakan dan keganduhan.
Nas,alullaha attaufiq wassadaad.

Catatan Faedah dari Tabligh Akbar tanggal 7 Dzulhijjah 1439 H di Kota Makassar

Diringkas oleh Admin Dirosah Ilmiyah.

Silahkan follow akun resmi Ustadz Khalid Basalamah di:

🆔Youtube: Khalid Basalamah Official

🆔Instagram dan Telegram: @khalidbasalamahofficial

🆔FP Facebook: Ustad Khalid Z.A Basalamah

➖➖➖🌸➖➖➖