Tag Archives: kajian Islami

Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Dzulqa’dah 1440 H / 30 Juli 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 23 | Memberi Kun-yah Kepada Anak Kecil Dan Memanggilnya Dengan “Anakku”
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-23
~~~~

MEMBERI KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL DAN MEMANGGILNYA DENGAN “ANAKKU”

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصَحابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بَعْدُ

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-23, dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi ini kita membahas satu sub judul yaitu:

▪ MEMBERIKAN KUN-YAH KEPADA ANAK KECIL

Kun-yah adalah sebutan atau gelar nama. Jika anak laki-laki maka diawali dengan Abū, (misalnya) Abū Fulān dan bila anak wanita diawali dengan Ummu (misalnya) Ummu Fulān.

Tidak mengapa seorang anak laki-laki ataupun wanita dipanggil dengan kun-yahnya meskipun mereka masih kecil.

Misalnya:

√ Anak laki-laki, kita panggil, “Yā, Aba Fulān!”

√ Anak wanita, kita panggil, “Yā, Umma Fulān! “

Ini telah dipraktekan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau pernah memanggil saudara Annas bin Mālik yang saat itu usianya masih kecil (baru disapih ibunya).

Beliau bersabda:

يَا أَبَا عُنَيرِ مَا فَعَلَ النُّغَيرُ

“Wahai Abū ‘Umair ! Apakah yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga pernah berkata kepada seorang anak perempuan yang masih kecil.

Beliau bersabda:

يَا أُمَّ خَالِدِ هذا سنه

“Wahai Ummu Khālid, ini adalah pakaian yang bagus.”

Ini menunjukkan memanggil anak-anak dengan kun-yah tidak masalah jika hal ini membuat anak-anak kita senang (dalam bab becanda dengan mereka).

Kemudian sub judul berikutnya adalah:

▪ SESEORANG BOLEH MENGATAKAN, “WAHAI ANAKKU” KEPADA SELAIN ANAKNYA

Seseorang boleh mengatakan, “Wahai anakku,” kepada selain anaknya. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Muslim dari Annas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu) berkata:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memanggilku dengan sebutan, “Wahai anakku!”

Dan ini bukan berarti penisbatan diri secara nasab kepada kita yang memanggilnya, akan tetapi ini merupakan panggilan kasih sayang kepada anak tersebut.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 26 Dzulqa’dah 1440 H / 29 Juli 2019 M

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc

📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath Athibbāi

🔊 Halaqah 22 | Hendaknya Kita Memilih Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-22

~~~~

HENDAKNYA KITA MEMILIH NAMA YANG BAIK UNTUK ANAK KITA

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma’āsyiral mustami’in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-22, dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan sub judul berikutnya, yaitu: HENDAKNYA MEMILIH NAMA YANG BAIK BAGI ANAK.

Ini adalah hak seorang anak yang wajib kita penuhi. Kita harus memberi mereka nama yang baik, jangan memberinya nama yang jelek (bermakna tidak baik) sehingga orang-orang akan mengejek atau mencemoohkan mereka (karena sebab kita selaku orang tua memberi mereka nama-nama yang tidak baik). 

Berilah anak-anak kita nama yang baik yang mengandung makna yang baik atau indah. Berilah mereka nama-nama orang shālih, nama-nama nabi. Bahkan di antara ulamā ada yang membolehkan memberikan nama anak-anak kita dengan nama malāikat.

Karena nama para nabi, nama orang shālih dan nama hamba-hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bertakwa mengandung makna yang baik, (in syā Allāh) menjadi makna yang optimis dan baik juga.

Bahkan disebutkan dalam kitāb, bahwa:

والاسم الطيب له مدلول طيب حتى في الرؤيا

“Nama yang baik akan mengandung arti dan makna yang baik, bahkan dalam mimpi sekalipun.”

Disebutkan dalam satu hadīts riwayat Muslim, Abū Dāwūd dan yang lainnya, dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّا فِي دَارِ عُقْبَةَ بْنِ رَافِعٍ فَأُتِينَا بِرُطَبٍ مِنْ رُطَبِ ابْنِ طَابٍ فَأَوَّلْتُ الرِّفْعَةَ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْعَاقِبَةَ فِي الآخِرَةِ وَأَنَّ دِينَنَا قَدْ طَابَ

“Pada suatu malam aku melihat sesuatu yang biasa dilihat oleh seseorang yang sedang tidur (bermimpi), seakan-akan kami berada di dalam rumah ‘Uqbah bin Rāfi’, lalu dibawakan kepada kami kurma Ibnu Thāb. Selanjutnya kami menafsirkan mimpi tersebut dengan kedudukan yang tinggi di dunia, tempat yang baik di akhirat dan sesungguhnya agama kami telah sempurna.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim no 2270 dan Abū Dāwūd nomor 5025)

⇒ Kurma Ibnu Thāb adalah jenis kurma yang bagus, terkenal dikalangan penduduk Madīnah. Jenis kurma yang dinisbatkan kepada Ibnu Thāb.

Dalam riwayat lain, hadīts dari Al Bukhāri dari jalur Sa’id bin Al Musayyib dari bapaknya:

Sesungguhnya bapak beliau datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, lalu beliau bertanya:

“Siapa namamu?”

“Hazan (sulit, sedih),” jawabnya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Namamu adalah Sahl (mudah).”

Dia berkata:

“Aku tidak akan pernah merubah nama yang telah diberikan oleh bapak kami.”

Ibnul Musayyib berkata:

“Senantiasa kesulitan menimpa kami setelah itu.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6190)

⇒ Dengan sebab nama akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam banyak merubah nama para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum. Yang semula namanya bermakna buruk, Beliau rubah menjadi makna yang baik.

Diriwayatkan di dalam Shahīh Al Bukhāri dengan sanad yang mursal, dari jalan ‘Ikrimah, beliau berkata:

Ketika Suhail bin ‘Amr datang, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Semoga urusan kalian menjadi mudah.”

Jadi berilah anak-anak kita nama yang baik, dari nama-nama orang-orang shālih yang memiliki keutamaan. Dan hindari memberi mereka nama-nama orang kāfir dan para pelaku maksiat karena akan memberi pengaruh buruk pada kehidupan mereka.

Di antara nama-nama yang baik adalah,  Muhammad (nama Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Maryam puteri ‘Imrān dan saudaranya Hārun. Demikian pula dengan Mūsā saudaranya Hārun. Akan tetapi Maryam bukan saudara perempuan Mūsā, karena keduanya terpisah dalam kurun waktu yang lama (Nabi Mūsā berada sebelum Nabi Īsā).

Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang hal ini, Beliau menjawab:

إِنّّهُم كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِم و الصّالِحِينَ قَبْلَهُم

“Sesungguhnya mereka menamakan anak-anak mereka dengan nama para nabi dan orang-orang shālih sebelum mereka.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2135, hadīts dari Al Mughirah bin Syu’bah).

Kemudian dari hadīts Abdullāh bin ‘Umar, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ أَحَبَّ أَسمَائكم إلَى الله عبد الله و عبد الرّحمن

“Sesudahnya nama yang paling Allāh cintai adalah ‘Abdullāh dan ‘Abdurrahmān.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2132)

√ ‘Abdullāh mengandung makna hamba Allāh.

√ ‘Abdurrahmān mengandung makna hamba Allāh yang maha penyayang.

Kemudian dari hadīts Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara marfu’, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَسَمُّوا بِاسْمِي ولا تَكْتَنُوا بِكُنيَتِي

“Berilah nama dengan namaku dan janganlah memberi kun-yah dengan kun-yahku (Abu Qasim).”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6187,Muslim nomor 2133)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menganjurkan kita memberi nama anak-anak laki-laki kita dengan nama (seperti) Muhammad. Kebanyakan orang Indonesia selalu menambah banyak nama pada anak-anak mereka, padahal nama itu bukan nama ayahnya atau kakeknya.

⇒ Nama yang syari’ cukup dengan satu suku kata saja (Muhammad, misalnya)

Bahkan putera Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau beri nama Ibrāhīm. Namun putera beliau tidak sampai dewasa, ketika bayi meninggal dunia (radhiyallāhu ta’āla ‘anhu).

Diriwayatkan di dalam Shahīhain, dari hadīts Abū Mūsā radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata:

“Aku dikaruniai seorang anak, kemudian aku mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau menamakan anak itu dengan nama Ibrāhīm.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6198 dab Muslim nomor 2145)

Oleh karena itu perhatikan masalah ini.

Ada nasehat dalam satu kitāb “Tasmiyatul Maulūd” yang ditulis oleh Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, beliau menasehati tentang pentingnya memberi nama yang baik pada anak-anak dan menghindarkan nama-nama yang buruk untuk mereka.

Syaikh Bakar bin Abdillāh Abū Zaid, berkata: 

إن الاسم عنوان المسمى فإذا كان الكتاب يقرأ من عنوانه فإن المولود يعرف من اسمه

“Sesungguhnya sebuah nama adalah judul atau ciri seseorang, sebagaimana sebuah buku dilihat dari judulnya. Demikian pula seseorang diketahui keyakinan dan sudut pandang pemikirannya dari namanya.”

Bahkan keyakinan orang yang memilih baginya sebuah nama bisa diketahui dari nama yang ia berikan.

Oleh karena itu perhatikan, ketika memberi nama untuk anak-anak kita!

Berilah anak-anak kita nama orang-orang shālih yang jelas telah Allāh puji di dalam Al Qurān maupun sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Sya’ban 1440 H / 23 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 17 | Apa Yang Dilakukan Ketika Bayi Lahir ?
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-17
~~~~

APA YANG DILAKUKAN KETIKA BAYI LAHIR ?

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-17 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: “Apa yang dilakukan ketika bayi baru lahir?”

Jadilah kita orang yang ridhā (sebagai hamba Allāh) atas segala karunia yang Allāh berikan kepada kita, baik anak yang dilahirkan itu laki-laki atau perempuan, karena semua yang memberikan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh lah Yang Maha Memberi Karunia.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ۞ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ قَدِيرٞ۞

“Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

(QS. Asy Syūrā: 49-50)

Kita tidak tahu mana yang baik untuk kita?

Apakah yang baik adalah anak laki-laki atau anak perempuan, atau anak laki-laki dan perempuan atau bahkan Allāh belum mengkaruniakan keturunan untuk kita.

Kita tidak tahu, hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha Mengetahui.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعٗاۚ

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu.”

(QS. An Nissā’: 11)

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Betapa banyak anak perempuan yang menjadi sebab kebahagiaan kedua orang tuanya dan semua kerabatnya di dunia dan akhirat, dan betapa banyak anak laki-laki yang menjadi sebab kesengsaraan kedua orang tuanya, (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Kita lihat contoh!

√ Maryam (ibunda Nabi Īsā alayhissallām) dilahirkan dari keluarga Imrān.

√ Fāthimah (puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Lihatlah!

√ Maryam ‘alayhāssallām melahirkan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang shālih.

√ Fāthimah setelah dewasa dan menikah dengan Āli bin Abī Thālib, beliau melahirkan dua orang anak yang menjadi pemimpin para pemuda penghuni Surga.

Pantaskah jika Maryam dan Fāthimah dibandingkan dengan putera Nūh alayhissallām, seorang anak laki-laki yang terus menerus berada di dalam kekāfiran hingga dia mati dalam keadaan kāfir?

Tentu tidak bisa dibandingkan.

Fāthimah puteri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih baik daripada putera nabi Nūh alayhissallām, Fāthimah dan Maryam adalah wanita penghuni Surga.

Sedangkan putera Nabi Nūh alayhissallām, ketika diajak oleh bapaknya (Nabi Nūh alayhissallām) untuk beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla di tetap bertahan di atas kekufurannya dan akhirnya mati (tenggelam) dalam keadaan kufur (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Inilah seorang anak yang jika ia hidup, niscaya akan mendorong kedua orang tuanya menjadi sesat lagi kāfir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا

“Dan adapun anak muda (kāfir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekāfiran.”

(QS. Al Kahfi: 80)

Jadi, tidak selalu anak laki-laki pasti baik dan sebaliknya tidak selalu anak perempuan pasti buruk.

Sungguh, di dalam mendidik dan berbuat baik kepada anak perempuan terdapat pahala yang sangat besar.

Sebagaimana hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّا

Seorang ibu bersama kedua puterinya datang kepadaku, ia meminta sesuatu kepadaku akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa di sisiku kecuali satu butir kurma, kemudian aku memberikannya dan dia pun mengambilnya dariku, lalu membaginya kepada kedua puterinya sedangkan dia sama sekali tidak makan. Setelah itu dia berdiri dan keluar bersama puterinya. Lalu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang dan aku menceritakan. peristiwa tersebut. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diberi cobaan dengan anak-anak perempuan, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, maka anak perempuan itu menjadi tameng /tirai yang menghalangi dirinya dari Neraka.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2629)

Ini keutamaan anak perempuan yang terkadang dimasyarakat, khususnya zaman dulu masyarakat jāhilīyyah, mereka sangat benci jika memiliki anak perempuan dan bangga jika memilik anak laki-laki.

Di dalam riwayat Muslim hadīts dari Āisyah radhiyallāhā ta’āla ‘anhu, dia berkata:

جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang ibu miskin datang kepadaku bersama kedua anak perempuannya, lalu aku memberikannya tiga butir kurma. Sang ibu memberikan satu butir untuk masing-masing anaknya, lalu dia mengangkat satu butir kurma kemulutnya, tiba-tiba saja kedua anaknya meminta lagi, kemudian sang ibu membelah kurma yang akan dia makan menjadi dua bagian untuk keduanya. Kejadian ini sangat menakjubkanku sehingga aku menceritakan apa yang ia perbuat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allāh telah menetapkan Surga baginya karena apa yang telah ia perbuat atau Dia memerdekakannya dari siksa Neraka.”

(Hārits shahīh riwayat Muslim nomor 2630)

Di dalam Shahīh Muslim pula dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ia berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ, وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Siapa saja yang mengurus dua anak perempuan sampai keduanya bāligh, maka dia akan datang pada hari kiamat bersamaku (seperti ini).” Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menggabungkan jari jemarinya.

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2631)

Ini barangkali yang bisa disampaikan untuk pertemuan ke-17 ini, in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya masih berkaitan dengan masalah ini.

Allahu A’lam Bishawāb

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor


Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya

BimbinganIslam.com
Senin, 16 Sya’ban 1440 H / 22 April 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 16 | Melindungi Anak Sebelum Kelahirannya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-16
~~~~

MELINDUNGI ANAK SEBELUM KELAHIRANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-16 kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Melindungi anak sebelum kelahirannya”

Disyari’atkan, disunnah dan dianjurkan untuk membaca do’a-do’a untuk melindungi buah hati sebelum kedatangannya.

Ketika pertama kali seorang suami bersama dengan sang isteri, disunnahkan bagi seorang suami untuk memegang ubun-ubun isterinya dan membaca do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَ

Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaknya dia mendo’akan, “Yā Allāh, sesungguhnya aku mohon kebaikannya kepada-Mu dan kebaikan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabi’at yang Engkau tetapkan atasnya”.

(Hadīts hasan riwayat Abū Dāwūd nomor 2160)

Sedangkan di waktu hendak berjimā’ dianjurkan bagi seorang suami untuk membaca do’a:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Hal ini sebagaimana diriwayatkan di dalam sebuah hadīts shahīh dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُولُ حِينَ يَأْتِي أَهْلَهُ بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi isterinya dan membaca,’Dengan menyebut Nama Allāh, Yā Allāh jauhkanlah kami dari gangguan syaithān dan jauhkanlah syaithān dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami’, kemudian Allāh menetapkan atau mentakdirkan seorang anak di antara keduanya, maka anak tersebut tidak akan dapat dicelakakan oleh syaithān selamanya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5165)

Begitulah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada seorang suami agar mendo’akan isterinya dan berdo’a sebelum mereka berjimā’

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🍃 Sambut Bulan Ramadhān Sejak Sekarang, Dukung Program Ramadhān Bersama Cinta Sedekah melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode : (451)
| No. Rek : 7814 5000 41
| A/N : Cinta Sedekah SOSIAL

Cantumkan Kode Unik (444)
Contoh: #Ramadhān #Abdullah #500.444

📱Konfirmasi Transfer :
• wa.me/628125000170
• wa.me/6282123458145
• wa.me/6281299898145

🔗 http://cintasedekah.org/ifthor

Memilih Istri Yang Shālihah

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Rajab 1440 H / 20 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 15 | Memilih Istri Yang Shālihah
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-15
~~~~

MEMILIH ISTERI YANG SHĀLIHAH

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral mustami’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-15 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul “Memilih istri yang shālihah”.

Wajib bagi seorang laki-laki yang ingin menikah untuk memilih isteri yang shālihah yang memiliki agama yang baik, karena dia (wanita) adalah calon ibu dari anak-anaknya.

Dari ibunya, seorang anak akan belajar untuk pertama kali dan darinya pula seorang anak akan mengambil (mengkonsumsi) air susu, sehingga terbentuklah akhlaq dan perilakunya.

Ayah pun berperan, akan tetapi yang pertama kali membentuk karakter anak-anak adalah seorang ibu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ…..

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu….. “

(QS Al Baqarah: 221)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga memerintahkan laki-laki yang akan menikah untuk memilih calon isteri yang shālihah.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ؛ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Maka pilihlah seorang wanita yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5090, Muslim nomor 1466)

Selain dia seorang wanita shālihah dan berakhlaq baik, hendaknya pula dia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik dan shālih (artinya kedua orangnya, saudaranya, kerabatnya dikenal sebagai orang yang baik).

Lihat surat Maryam ayat 28.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

“Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam) ! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

(QS. Maryam: 28)

Maksudnya adalah, ‘Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam), sesungguhnya bapakmu adalah orang mulia lagi shālih, tidak diketahui pernah melakukan perbuatan kejelekan dan tidak pernah melakukan perbuatan keji.”

“Begitu pula ibumu, dia adalah wanita shālihah, sama sekali bukan pezina.”

“Maka bagaimana bisa engkau membawa bayi ini (tanpa suami tanpa menikah) dan darimana dia datang kepadamu?”

Sekali lagi, anak sangat dipengaruh oleh ibunya. Anak pertama kali belajar dari ibunya, oleh karena itu ibu yang shālihah sangat berpengaruh positif pada anak-anaknya.

Jika ibunya shālihah:

√ Ibunya bisa mengajarkan Al Qurān.
√ Ibunya bisa mengajarkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Ibunya yang mengajarkan akhlaq-akhlaq yang mulia.
√ Ibunya yang mengajarkan mana yang halal mana yang haram.
√ Ibunya yang mengajarkan (menceritakan) sirah para Nabi ‘alayhimusallam dan orang-orang shālih.

Jika keshālihan agama ini diiringi dengan keutamaan rupa yang baik misalnya wanita itu cantik, maka ini merupakan kebaikan di atas kebaikan. Dan ini berpengaruh baik juga pada keturunan.

Tidakkah anda melihat bahwa Fāthimah putri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang kepada Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, jalannya bagaikan jalan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan perilakunya pun seperti perilaku Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan sifatnya seperti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim dari Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā).

Dan Nabi Yūsuf alayhissallām yang diberi setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia adalah cucu Sarah. Sarah adalah istri Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām dan beliau termasuk wanita paling cantik.

Di samping mempertimbangkan agama dan kecantikan, mempertimbangkan harta juga tidak dilarang dalam memilih calon isteri, karena harta tersebut biasanya akan kembali kepada anak-anak mereka.

Dan tidak mengapa jika kedudukan menjadi bahan pertimbangan bagi calon ibu karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikan dan agamanya, maka pilihlah agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts ini disebutkan empat hal, yang pertama adalah harta, keturunan, kecantikan dan agama. Jadi jika seorang laki-laki mendapatkan isteri shālihah, lalu cantik, kaya dan berasal dari keluarga yang baik maka ini adalah kebaikan di atas kebaikan (Māsyā Allāh).

Seandainya seorang laki-laki mendapatakan seorang wanita Quraisy yang shālihah, maka sungguh mereka adalah wanita-wanita terbaik. Mereka biasanya memiliki kasih sayang kepada anak dan tanggung jawab kepada para suami yang tidak dimiliki oleh wanita lain.

Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ـ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ  

“Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang shālihah. Dia adalah wanita yang paling besar kasih sayangnya kepada anak di waktu kecil dan paling bertanggung jawab kepada suaminya.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5082 dan Muslim nomor 2527)

Demikian pula seorang wanita hendaknya memilih calon bapak untuk anak-anaknya dari laki-laki yang shālih dengan sifat-sifat yang sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Kita harus ingat bahwa pasangan adalah teman seumur hidup, maka jadikanlah pasangan kita orang-orang yang betul-betul shālih atau shālihah, karena pasangan yang baik akan membuat hidup kita menjadi baik di dunia maupun diakhirat.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 01 Jumādâ Ats-Tsānī 1440 H / 06 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 12 | Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-12
~~~~

DI ANTARA DAMPAK BAIK AMAL SHĀLIH YANG DILAKUKAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK-ANAK ADALAH BAHWA MEREKA MENIRU PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN ORANG TUA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-12 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Mendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: “Di antara dampak baik amal shālih yang dilakukan orang tua terhadap pendidikan anak-anak adalah bahwa mereka mengikuti perbuatan baik yang dilakukan orang tua”.

Seorang anak yang keseharian melihat orang ayahnya selalu berdzikir, bertahlil, bertahmid dan bertasbih maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan:

لاإله إلا الله، سبحان الله، الله اكبر

Akan berdampak positif bagi anak yang melihat tersebut.

Begitu pula seorang anak yang disuruh orang tuanya misalnya untuk memberikan sedekah kepada faqīr miskin pada malam hari secara rahasia, ini akan memberikan dampak positif. Berbeda dengan anak yang disuruh oleh ayahnya misalnya untuk membeli rokok.

Demikian pula seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa Senin Kamis, ikut serta dalam shalāt berjama’ah di masjid, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang melihat ayahnya berada di tempat maksiat (misalnya) perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan lainnya.

Anak yang selalu mendengarkan suara adzan ia akan mengulang-ulang lantunan adzan. Dan anak yang terbiasa mendengarkan lantunan muratal dia akan terbiasa membaca lantunan Al Qurān tersebut bahkan dia akan hapal sejak kecil.

Tapi sebaliknya, na’ūdzubillāhi min dzālik, anak yang terbiasa mendengarkan ayahnya bernyanyi (misalnya) atau memutar lagu lagu, maka anak tersebut akan pintar bernyanyi dan bermain musik kelak.

Jadi lihatlah, dampak dari perbuatan ayah tersebut.

Perbuatan baik maka akan ditiru baik oleh anaknya. Perbuatan kedua orang tua yang buruk maka akan ditiru buruk pula oleh anak-anaknya kelak.

Disebutkan dalam sebuah kitāb yang maknanya, “Apabila seorang ayah senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohonkan ampunan kepada Allāh bagi keduanya, selalu memperhatikan keduanya, memastikan ketenangan untuk keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya. Maka si anak pun kelak akan demikian.”

Si anak akan mendo’akan kedua orang tuanya dengan mengucapkan:

رَبِّ ارحَمهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Yā Allāh, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.”

Berbakti kepada kedua orang tuanya ketika kedua orang tuanya masih hidup. Kelak ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dia akan berziarah ke makam kedua orang tuanya. Karena anak akan meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

إن خيراً فخير وإن شراً فشر

“Jika yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik maka yang ditirunya juga baik dan jika yang dilakukan kedua orang tuanya buruk maka yang ditiru anaknya juga buruk.”

Anak yang dididik shalāt oleh kedua orang tuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, mendengarkan musik atau menonton sepak bola.

Jika seorang anak melihat kedua orang tuanya melakukan shalāt malam, menangis karena takut kepada Allāh dan membaca Al Qurān niscaya dia akan berfikir kenapa ayahku menangis ? Kenapa ayahku melakukan shalāt ? Kenapa ayahku bangun pada sepertiga malam terakhir lalu mengambil air wudhū’ ?

Kenapa ayahku meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?

Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain. Dia telah dihiasi dengan rasa malu dengan sikap menjaga kehormatan.

Jika ibunya demikian, niscaya anaknya akan belajar menanamkan rasa malu juga, menjaga kehormatan, kebersihan diri dan kesucian jiwa dari ibunya. In syā Allāh kelak si anak akan menjadi wanita shālihah.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Bertaqwalah kalian kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan contohkanlah amal-amal shālih yang kita lakukan lillāh (karena Allāh).

Ingatlah dampak positif lainnya. Anak-anak kita akan meniru kita. Jika amal kita shālih maka mereka akan meniru kita. Sebaliknya jika kita beramal buruk maka mereka akan meniru juga.

Oleh karena itu jadilah kita sebagai suri tauladan bagi mereka dengan perangai yang baik dan tabi’at yang mulia.

Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama dan rasa cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan juga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 05 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 11 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-11
~~~~

PENGARUH KEBAIKAN DAN PERBUATAN BAIK (KESHĀLIHAN) KEDUA ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK (BAGIAN KEDUA)

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral musta’mi’in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan ke-11 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Pendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan kita masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang: Pengaruh kebaikan dan perbuatan baik (keshālihan) kedua orang tua terhadap anak.

Kemudian Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh membawakan satu ayat dalam surat An Nissā ayat 9, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allāh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allāh, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

(QS An Nissā’: 9)

Ayat ini menjelaskan hubungan antara perkataan yang benar (dalam perkara anak-anak yatim) dengan pengaruh ucapan tersebut terhadap keturunan seseorang.

Oleh karena itu kita selaku orang tua (ayah atau ibu), jika kita meninggal lalu khawatir anak keturunan kita tidak ada yang mengurus maka sejak saat ini kita harus beramal shālih, harus bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, harus berkata jujur.

Kesimpulannya, kita harus beramal shālih, menjadi orang yang takut dan bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, supaya kelak anak keturunan kita ketika kita tinggalkan mereka hidup dalam kondisi baik dan dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perbaikilah makanan, minuman dan pakaian kita, artinya darimana itu semua kita dapatkan?

Perbaiki, cari dengan cara yang halal, dari mata pencaharian yang syari’ (yang halal). Agar ketika kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika kita meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita betul-betul mengangkat kedua tangan kita dengan tangan dan jiwa yang bersih lagi suci.

Dan ini akan berdampak positif kepada anak-anak kita kelak, sehingga Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memperbaiki dan menjaga mereka kelak (jika kita beramal shālih).

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Mā’idah ayat 27.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allāh hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

Seseorang melakukan perjalanan, rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya kelangit seraya berdo’a, “Yā Rabb! Yā Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia tumbuh dengan barang yang haram, maka bagaimana mungkin permohonanya dikabulkan ?”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1015) 

Kita perhatikan! Orang tersebut melakukan empat sebab dikabulkannya do’a:

⑴ Orang tersebut melakukan perjalanan panjang (jauh).

Dalam sebuah hadīts, orang yang safar adalah orang yang mengalami kondisi yang sulit sehingga apabila dia berdo’a maka do’anya mustajab (makbul).

⑵ Orang tersebut dalam kondisi lusuh, kondisi kusut.

Ini juga, sebagaimana dalam Shahīh Muslim, merupakan salah satu sebab dikabulkannya do’a.

⑶ Orang ini menengadahkan kedua tangannya ketika berdo’a.

Mengangkat tangan ketika berdo’a merupakan adab yang dengannya bisa diharapkan dikabulkan do’a tersebut.

⑷ Orang ini memanggil Allāh dengan berkata, “Yā Rabb! Yā Rabb!”

Dan Rabb adalah salah satu nama dari nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita perhatikan! Empat sebab dikabulkanya do’a yang dilakukan oleh orang tersebut tidak bermanfaat sama sekali, tidak membuat do’anya dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kenapa?

Karena makanan, minuman, pakaian dan orang tersebut tumbuh (berasal) dengan yang haram, maka bagaimana mungkin do’a tersebut dikabulkan?

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perhatikan darimana makan, minum, pakaian anda ?

Keseharian anda dipenuhi dari mana ?

Jika perbuatan kita, na’ūdzubillāhi min dzālik, dari yang haram, hasil dari menzhālimi (kita sering menghibahi orang, mencaci maki orang), lalu kita berdo’a, apakah mungkin bisa dikabulkan do’a kita sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah jelaskan?

Bagaimana mungkin do’a kita dikabulkan oleh Allāh jika kita mendapatkan semuanya dari yang haram?

Ingat, semua itu berdampak kepada anak-anak kita. Jika amalan kita baik, amalan kita shālih maka semua itu akan berdampak positif bagi anak keturunan kita.

Sebaliknya jika kita menjadi orang yang bermaksiat ini pun akan berdampak negatif terhadap anak-anak kita.

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwasanya mereka berkata kepada anak-anak mereka, “Wahai anakku, sungguh aku akan menambahkan shalāt (sunnah) yang aku lakukan untuk kebaikanmu.”

Sebagian ulamā menjelaskan, “Maknanya adalah aku akan memperbanyak melakukan shalāt dan memperbanyak berdo’a untukmu di dalam shalāt tersebut.”

Demikian pula berbuatan shālih lainnya, misalnya orang tua yang senantiasa membaca Al Qurān atau membaca surat-surat yang khusus seperti surat Al Baqarah, surat Al Mu’awidzatain (An Nās dan Al Falaq) dan yang semisal, maka in syā Allāh para malāikat akan turun kepadanya untuk mendengarkan Al Qurān.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim:

“Apabila suatu kaum berkumpul di satu rumah dari rumah-rumah Allāh (masjid) lalu mereka membaca Al Qurān dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Dan kasih sayang Allāh akan menyelimuti mereka, para malāikat akan menaungi mereka dan Allāhpun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di dekat-Nya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2699)

Turun malāikat berarti turun rahmat, turun sakinah. Dan ini sangat berdampak positif bagi anak-anak kita.

Berbeda dengan rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qurān di dalamnya, tidak pernah berdzikir kepada Allāh. Maka yang turun adalah syaithān, yang turun adalah keburukan-keburukan.

Sebagian bahkan ada orang tua yang memutar musik, memajang gambar-gambar makhluk bernyawa yang diharamkan, maka ini akan memberikan dampak yang buruk kepada anak-anak mereka.

Itulah lanjutan dari halaqah yang ke-10, in syā Allāh nanti kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.

Demikian atas kekurangannya mohon maaf.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Contoh Doa Nabi Shallallāhu alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 08 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 08| Contoh Doa Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-08
~~~~

BEBERAPA CONTOH DO’A-DO’A NABI SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM UNTUK KETURUNAN BELIAU DAN SELAIN MEREKA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-8 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dipertemuan yang lalu, telah kita bahas masalah: Hendaknya kita memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla , memintanya kepada-Nya agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla karuniakan kepada kita anak-anak (keturunan) yang shālih.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan kita orang tua yang baik. Dan anak-anak kita pun Allāh berikan taufīq agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dan shālihat.

Pada pertemuan ini penulis memberikan judul, “Beberapa contoh do’a-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan selain mereka.”

Di sini bisa kita lihat bagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan cucunya (Al Hasan dan Al Husain).

Dalam hadīts shahīh Bukhāri dan Muslim Beliau mendo’akan Al Hasan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

“Yā Allāh, sungguh aku mencintai dia, maka cintailah dia yā Allāh.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3749 dan Muslim nomor 2422)

Nabi meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencintai Al Hasan bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Artinya jika Allāh mencintai seseorang berarti:

√ Allāh meridhāi orang tersebut.
√ Allāh memberikan kebaikan (keshālihan).
√ Allāh luruskan hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim dari hadīts Usamah bin Zaid, disebutkan di sana bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggendong Al Hasan bin Āli dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

“Yā Allāh, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua.”

Do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada keturunan Beliau dan kepada anak-anak yang lain dari para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula do’a kepada Al Husain bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, disebutkan dalam hadīts cukup panjang, namun di situ Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a sampai tiga kali yang berbunyi:

اللَّهُمَّ أَهْلي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

“Yā Allāh hilangkanlah dari mereka semua kenajisan (kotoran) sucikan mereka dengan sebenar-benar kesucian.”

(Hadīts riwayat Ahmad, dinyatakan hasan atau shahīh oleh pentahqiqnya)

Juga do’a untuk Usamah bin Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara khusus.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga berdo’a sebagaimana dalam Musnad Imām Ahmad dengan do’a yang mirip dengan yang sebelumnya disebutkan riwayat Bukhāri dan Muslim.

Demikian pula kepada Abdullāh bin Ja’far (sepupu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ ، وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

“Yā Allāh, tinggalkanlah untuk Ja’far kebaikan untuk keluarganya dan berkahilah untuk anaknya (Abdullāh bin Ja’far) dalam usahanya.”

Ini adalah do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan seorang anak kecil (wanita) sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Ummu Khālid binti Khālid bin Saīd radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

Beliau membawakan putrinya itu lalu mengatakan, “Ini baju yang bagus, baju yang baik.”

Setelah itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan anak kecil ini dengan berkata:

أَبلِي وَأَخْلِقِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِفِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِقِي

“Pakailah pakaian ini sampai betul-betul usang (hilang).”

Artinya menurut Al Hafīzh Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam syarah Shahīh Bukhāri yaitu Kitab Fathul Barī.

“Kalau ada do’a (perkataan) seperti itu, maksud do’a tersebut adalah agar orang yang dido’akan panjang umur dan diberkahi hidupnya”

Ini adalah do’a yang baik dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada anak kecil tersebut agar anak tersebut panjang umur dan hidup dalam keberkahan.

Kemudian do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada shahābat yang mulia Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu yang merupakan shahābat Anshār yang cukup lama berkhidmah mendampingi dan melayani keluarga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan Anas bin Mālik:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

Yā Allāh, perbanyaklah hartanya, anaknya dan berkahilah dia di dalamnya.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2481)

Anas bin Mālik betul-betul mendapatkan keberkahan yang luar biasa, sampai-sampai beliau mengatakan bahwasanya beliau adalah orang yang paling banyak harta dan keturunannya dari kalangan Anshār.

Itulah doa-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn, keturunan Beliau maupun anak-anak shahābat yang lainnya.

Kita harus mencontoh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendo’akan putra putri kita secara khusus dan secara umum anak-anak kaum muslimin, agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian, semoga yang ringkas ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 01 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 07 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 07 | Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-07
~~~~

DO’A ORANG-ORANG SHĀLIH DAN KETURUNANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-7 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi hafīdzahullāh.

Di pertemuan yang lalu, kita telah membahas satu pembahasan bahwasanya para nabi dan rasūl sekalipun tidak memiliki hidayatul taufīq.

Kita sudah jelaskan, hidayah itu ada dua macam, yaitu:

⑴ Hidayah Al Irsyād

Hidayah ini hanya sekedar memberikan bimbingan dan petunjuk, hidayah ini dimiliki oleh kita (manusia dan orang-orang yang menginginkan orang lain mendapatkan hidayah Allāh).

Hidayah al irsyād ini dimiliki juga oleh para nabi, rasūl, orang-orang shālih, ulamā yang berdakwah di jalan Allāh untuk memberikan bimbingan dan petunjuk kepada orang lain.

⑵ Hidayah Al Taufīq

Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (maksudnya) hati seseorang diberikan hidayah al taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Hidayah al taufīq tidak dimiliki oleh siapapun dari makhluknya, baik para nabi dan rasūl sekalipun.

Dan ini telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sekalipun tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abū Thālib.

Abū Thālib sangat membela Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika Beliau berdakwah, sampai Beliau diangkat menjadi seorang rasūl.

Kemudian turunlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Qashshah: 56.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allāh memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Demikian pula Nabi Nūh ‘alayhissallām, beliau tidak bisa memberikan hidayah taufīq kepada putranya, agar putranya beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (putranya menolak dan membangkang seruan ayahnya).

Demikian pula Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām, beliau juga mendakwahi ayahnya.

Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām dengan ucapan sangat lembut mendakwahi ayahnya dengan pangilan, “Yā abatiy….. yā abatiy….. yā abatiy, (hingga tiga kali).” Sebagaimana disebutkan di dalam surat Maryam ayat 42 sampai 45,.

Namun ayahnya tidak mengubris Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām. Dan ini tidak membuat ayahnya mendapatkan hidayah taufīq dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebaliknya Nabi Yūsuf ‘alayhissallām, beliau kecil tanpa mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari siapa pun, baik dari orang tuanya, saudaranya.

Nabi Yūsuf sudah di usir sejak kecil bahkan dibuang kedalam sumur yang dalam kemudian beliau dipunggut dan dibeli oleh keluarga kerajaan, namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah taufīq kepadanya. Sampai akhirnya beliau menjadi seorang nabi dan rasūl.

Demikian pula Nabi Mūsā ‘alayhissallām, tanpa pendidikan dari keluarganya. Karena dari bayi nabi Mūsā ‘alayhissallām telah dipelihara oleh keluarga Fir’aun. Fir’aun adalah orang yang sangat membangkang kepada Allāh, keluarga yang dikenal suka membunuh.

Namun beliau tumbuh berkembang menjadi seorang nabi dan rasūl ditengah-tengah keluarga Fir’aun. Tentunya yang memberikan hidayah ini adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini yang pernah kita bahas pada pertemuan lalu.

Adapun pasa pertemuan yang sekarang kita akan membahas sub judul yang diberikan oleh penulis yaitu:

“Hendaknya kita banyak-banyak berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar diberikan keturunan yang shālih.”

Maka anda,
Wahai Muslim,
Wahai Ayah,
Wahai Ibu.

Apabila anda sudah mengetahui dan meyakini bahwasanya yang memberikan hidayah taufīq hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka sudah selayaknya dan seharusnya kita memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar kita diberikan keturunan yang shālih. Dan apabila kita telah diberikan keturunan yang shālih, maka kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memperbaiki keturunan kita.

Agar Allāh menjadikan keturunan kita semua keturunan yang shālih dan menjaga mereka dari syaithān, jinn maupun manusia.

Dan inilah contoh sebagian do’a yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla hikayatkan di dalam Al Qur’ān. Do’a-do’a orang-orang shālih, baik itu do’a-do’a hamba-hamba Allāh yang shālih secara umum maupun do’a para nabi dan rasūl secara khusus.

⑴ Do’a hamba-hamba Allāh yang shālih.

Do’a hamba-hamba Allāh yang shālih, bisa kita lihat di dalam surat Al Furqān: 74.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Yā Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

⑵ Do’a Nabi Zakariyyā ‘alayhissallām.

Nabi Zakariyyā ‘alayhissallām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana disebutkan didalam surat Maryam: 5-6.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا۞ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Yā Allāh, anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qūb dan jadikanlah dia, yā Tuhanku, seorang yang diridhāi.”

Demikian pula disebutkan di dalam surat Āli Imrān: 38.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Yā Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

⑶ Do’a Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām

Nabi Ibrāhīm alayhissallām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tentunya do’a nabi dan rasūl dikabulkan.

Nabi dan rasūl (in syā Allāh) mereka adalah orang-orang shālih namun mereka tetap berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk memberikan contoh kepada kita umatnya.

Nabi Ibrāhīm berdo’a:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

“Yā Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu.”

(QS Al Baqarah: 128)

Demikian pula do’a beliau dalam surat Ash shaffat: 100.

Beliau berdo’a:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Yā Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shālih.”

Dan beliau juga berdo’a di dalam surat Ibrāhīm: 40:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Yā Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalāt, Yā Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Beliau juga berdo’a di dalam Ibrāhīm: 35:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

⑷ Do’a orang yang sudah mencapai usia 40 tahun.

Demikian pula do’a orang yang sudah mencapai usia 40 tahun, sebagaimana disebutkan di dalam surat Al Ahqaf: 15.

Mereka berdo’a:

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhāi, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang muslim.”

Jadi perbanyaklah do’a !

√ Wahai hamba Allāh.
√ Wahai orang yang menghendaki kebaikan untuk dirinya, keluarganya dan keturunannya.
√ Wahai orang yang ingin keluarganya dijadikan oleh Allāh keluarga orang-orang yang shālih.

Perbanyaklah berdo’a kepada Allāh agar Allāh memberikan kebaikan, karunia, keshālihan kepada kita semua yang benar-benar berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian untuk pertemuan ini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rabi’uts Tsani 1440 H / 12 Desember 2018 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 06| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-06
~~~~

PARA NABI TIDAK MEMILIKI HIDAYAH TAUFĪQ (BAGIAN 04)

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi yang keenam ini kita masih melanjutkan tentang pembahasan yang artinya bahwa para nabi sekalipun mereka tidak memiliki hidayah taufīq bagi seorangpun.

Kita sudah bahas beberapa kisah para nabi dan pembahasan kemarin kita membahas kisah Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām.

Kemudian yang berikutnya adalah kisah Nabi Yūsuf ‘alayhissallām.

Nabi Yūsuf ‘alayhissallām adalah nabi yang dikenal sangat tampan rupawan, dengan ketampanan yang sangat luar biasa. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yūsuf ‘alayhissallām adalah setampan-tampan dan seindah-indah makhluk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beliau diberikan separuh keindahan sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam Shahīh Muslim dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أُعْطِيَ يُوسُفُ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Yūsuf diberi setengah ketampanan.”

(Hadīts riwayat Ahmad nomor 14050 dan dishahīhkan Syu’aib Al Arnauth)

Bagaimana masa kecil beliau (alayhissallām) yang penuh dengan kesulitan, dimana saudara-saudaranya memiliki hati yang hasad kepada beliau (alayhissallām) di karenakan ayahnya terlalu menyayangi Nabi Yūsuf ‘alayhissallām, sampai akhirnya saudara-saudaranya sepakat untuk melempar Nabi Yūsuf ‘alayhissallām kedalam sumur.

Kemudian Nabi Yūsuf ‘alayhissallām dipungut (diambil) oleh orang-orang yang lewat sumur tersebut untuk mengambil air, lalu Nabi Yūsuf dijual dipasar budak (hamba sahaya) sampai akhirnya diambillah Nabi Yūsuf ‘alayhissallām oleh raja mesir pada saat itu.

Tidak sampai disitu ujian Nabi Yūsuf ‘alayhissallām. Ujian Nabi Yūsuf alayhissallām dari kecil bahkan hingga dia tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda.

Ketika beliau menjadi pemuda yang sangat tampan terjadilah fitnah lagi. Istri raja telah menggodanya, akan tetapi Nabi Yūsuf ‘alayhissallām di jaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga Nabi Yūsuf tidak tergoda wanita itu.

Kemudian beliau (alayhissallām) dipenjara selama beberapa tahun ditengah-tengah para pemabuk, pencuri, pelaku kriminal lainnya.

Hidup Nabi Yūsuf dari kecil sampai dewasa penuh dengan ujian, namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla selalu menjaga dan melindunginya dari segala keburukan dan kemaksiatan.

Nabi Yūsuf tumbuh dengan kelemahlembutan dan keindahan dan beliau juga pandai dalam menafsirkan mimpi.

Siapa yang membuat semua ini?

Nabi Yūsuf ‘alayhissallām sendiri sejak kecil, diasingkan, terusir, hidup tanpa ayah dan ibu, tanpa saudara laki-laki maupun perempuan, tanpa paman, tanpa kakek tanpa kerabat ditengah-tengah lingkungan yang asing

√ Siapa yang mengajarkan ilmu padanya?

√ Siapa yang mensucikannya?

√ Siapa yang mendidik dan membimbingnya?

√ Siapa yang melakukan semua itu?

Yang melakukan itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana firman-Nya:

فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Allāh adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

(QS Yūsuf: 64)

Kemudian kita lihat Nabi Mūsā ‘alayhissallām.

Sejak bayi Nabi Mūsā ‘alayhissallām dihanyutkan oleh ibunya, karena beliau (ibunda Nabi Mūsā) ingin menjaga Nabi Mūsā ‘alayhissallām.

Nabi Mūsā kecil diletakkan di dalam sebuah kotak lalu dihanyutkan ke sungai, kemudian akhirnya Mūsā kecil diambil oleh orang-orang kerajaan yang zhālim yang suka membunuh, yaitu keluarga Fir’aun.

Tentunya secara zhāhir ini adalah musibah, karena anak-anak laki-laki di zaman Fir’aun semuanya dibunuh tapi justru inilah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh kembalikan lagi Mūsā kecil kepada ibunya untuk disusui kembali oleh ibunya agar ibunya tidak sedih.

√ Siapa yang menjaga dari keburukan?

√ Siapa yang menjaga Nabi Mūsā alayhissallām dari musibah ini, sehinga Nabi Mūsā tidak dibunuh oleh orang-orang Fir’aun?

Itu semua karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Siapa yang membuat Nabi Mūsā alayhissallām tumbuh kemudian menjadi seorang nabi ditengah-tengah keluarga Fir’aun yang sangat sesat, yang dia mengaku sebagai Tuhan?

Itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian pula kisah anak muda yang disebutkan di dalam surat Al Kahfi ayat 80-81,
dimana kedua orang tua mereka adalah mukmin tetapi anak muda ini Allāh taqdirkan kāfir.

√ Bagaimana Nabi Khidir membunuhnya.

√ Bagaimana pula Nabi Mūsā mengingkari perbuatan Nabi Khidir alayhissallām.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla jelaskan kisahnya dalam surat Al Kahfi 74-75:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Mūsā) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

(QS Al Kahfi : 74)

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

(QS Al Kahfi : 75)

Kisahnya dijelaskan di dalam Al Kahfi ayat 80 sampai 81.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak muda (kāfir ) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekāfiran.”

(QS Al Kahfi: 80)

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

(QS Al Kahfi: 81)

Lihat disini! Kedua orang tua anak ini seorang mukmin akan tetapi dia (anak tersebut) kāfir.

Dan kita lihat kisah Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau adalah sebaik-baik nabi dan sebaik-baik manusia, Beliau tumbuh dalam keadaan yatim dan tumbuh dalam kondisi faqīr, sampai-sampai tidak ada yang mau memeliharanya, sampai akhirnya Beliau dipelihara pamannya (Abū Thālib) yang tidak mau masuk Islām.

√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan iman kepada Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan mu’zijāt Al Qur’ān.

Itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha memberikan hidayah kepada siapapun yang Allāh kehendaki.

Demikian, semoga yang singkat ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Donasi Dakwah BiAS dapat disalurkan melalui :

• Bank Mandiri Syariah (Kode : 451)
• No. Rek : 710-3000-507
• A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Konfirmasi donasi ke : 0878-8145-8000

▪ Format Donasi : DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda…