Tag Archives: KITAB SYAMAIL MUHAMMADIYAH

Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam-Hadis 33

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Dzulqa’dah 1440 H / 10 Juli 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 33 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemirn Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-33
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYEMIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ada banyak nikmat yang perlu kita syukuri di antara nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat menuntut ilmu.

Dan pada kesempatan kali ini (pertemuan ke-33) in syā Allāh, kita melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan hadīts yang berkaitan tentang, “Apakah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambut atau kah tidak”.

Yang mana hal tersebut diperselisihkan para ulamā bahkan juga diperselisihkan oleh para syahādat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di antara hadīts yang membahas hal ini adalah hadīts Jahdamah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

Tentang hadīts ini, Imām At Tirmidzī berkata,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَارُونَ قَالَ: أَنْبَأَنَا النَّضْرُ بْنُ زُرَارَةَ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ، عَنْ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ، عَنِ الْجَهْدَمَةِ، امْرَأَةِ بِشْرِ ابْنِ الْخَصَاصِيَّةِ، قَالَتْ: «أَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ يَنْفُضُ رَأْسَهُ وَقَدِ اغْتَسَلَ، وَبِرَأْسِهِ رَدْعٌ مِنْ حِنَّاءٍ» أَوْ قَالَ: «رَدْغٌ» شَكَّ فِي هَذَا الشَّيْخُ

Memberikan hadīts kepadaku Ibrāhīm ibnu Hārun, Ibrāhīm ibnu Hārun berkata: memberikan hadīts kepadaku An Nadhr ibnu Zurārah dari Abū Janāb dari Iyād bin Laqīth dari Al Jahdamah istri dari Bisyr bin Al Khashāshiyyah.

Al Jahdamah berkata:

“Aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam keluar dari rumahnya dengan mengusap air sisa mandi dari kepalanya. Saat itu ada sisa-sisa bahan semir di kepala Beliau.

Pada hadits tersebut ada kata رَدْعٌ dan رَدْغٌ kita artikan dengan sisa-sisa bahan semir di kepala Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Namun jika kita artikan secara detail, رَدْعٌ adalah semir dari bahan za’faran dan wars.

Apa itu za’faran dan wars?

Za’faran dan wars keduanya adalah jenis tumbuhan, yang bisa memberikan warna kuning, mungkin kalau di Indonesia seperti kunir dan sejenisnya, Wallāhu A’lam.

Adapun رَدْغٌ adalah sisa-sisa henna.

Apa itu henna ?

Henna adalah sejenis tumbuhan, bahasa ilmiyahnya adalah Lawsonia inermis atau bahasa kita adalah pacar kuku.

Dari dua definisi tersebut kita artikan bahwa Jahdamah melihat di atas kepala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada bahan yang biasa dipakai oleh orang arab untuk mewarnai rambut mereka.

Hadīts ini dikatakan oleh Syaikh Albāniy sebagai hadīts yang dhaif (lemah) karena dua rawi yang bermasalah.

Yaitu:

⑴ Nadhr ibnu Zurārah, beliau dianggap mastur.

Mastur dalam istilah hadīts memiliki arti bahwa rawi tersebut (belum diketahui keadaannya secara pasti baik berkaitan dengan kekuatan hafalan atau kejujuran atau faktor lainnya.

⑵ Abū Janāb yang bernama Yahyā bin Abī Hayyah, beliau adalah mudallis.

Mudallis dalam ilmu hadīts adalah seorang yang suka menggunakan kata-kata yang terkadang mengecoh pendengar baik yang berkaitan dengan nama guru, nama tempat, bahkan terkadang seorang mudallis bisa menghilangkan guru aslinya dari sanad, karena guru tersebut lemah hafalannya, agar hadīts yang disampaikan tidak ditinggalkan oleh pendengarnya.

Ini salah satu ciri-ciri mudallis (ini dipelajari dalam musthalah hadīts, tidak bisa diterangkan di sini)

Dari dua sebab itulah, Syaikh Albāniy mendhaif-kan hadīts ini (ini terkait derajat hadītsnya).

Jika hadīts ini dianggap shahīh maka tidak mengharuskan bahwa Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya, karena kita ingat bahwa uban Beliau sangat sedikit sekali, hanya sekitar dua puluh helai saja, bahkan ada yang mengatakan kurang.

Sehingga Syaikh Abdurrazaq mengatakan yang maknanya, “Bisa jadi Beliau meletakan bahan semir seperti za’faran atau henna atau yang lainnya dalam rangka pengobatan atau pendinginan kepala atau semisalnya, bukan dalam rangka menyemir.”

Kesimpulannya adalah:

“Hadīts ini dhaif dan andai saja hadīts ini shahīh masih mengandung kemungkinan-kemungkinan.”

Itulah kesimpulan yang bisa kita ambil dari pembahasan hadīts tersebut.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد


Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 32

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Dzulqa’dah 1440 H / 09 Juli 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 32 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyemir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-32
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYEMIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ada banyak nikmat yang perlu kita syukuri di antara nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat menuntut ilmu.

Dan pada kesempatan kali ini (pertemuan ke-32) in syā Allāh, kita melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Kali ini kita akan membahas tentang biografi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan pada kesempatan kali ini kita meneruskan pembacaan hadīts yang berkaitan tentang, apakah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambut ataukah tidak.

Yang mana hal tersebut diperselisihkan oleh para ulamā bahkan para shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

In syā Allāh ini adalah hadīts nomor 46 dari kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, yang ditulis oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāhu.

Imām At Tirmidzī berkata :

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي

“Sufyān bin Wakī’ memberikan hadīts kepadaku, dia mengatakan ayahku memberikan hadīts.”

Ibnu Hajar berkata tentang Wakī’ bin Al Jarrah ini (ayah dari Sufyān bin wakī’):

“Beliau terpercaya, penghafal hadīts (hafidz) dan seorang ahli ibadah.”

Imām Ahmad berkata :

“Wakī’ adalah imam kaum muslimin pada masanya.”

Marwan bin Muhammad Ath Thathari berkata :

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih khusyu’ dari Wakī’. Dan biasanya ketika ada seorang yang diceritakan kepadaku, pasti ku dapati orang tersebut lebih buruk dari pada ceritanya, kecuali Wakī’. Aku melihatnya ia lebih baik dari pada cerita-cerita yang sampai kepadaku.”

Kemudian Imām Wakī’ juga pernah mengatakan :

“Seorang tidak akan sempurna, sampai ia mau belajar dengan orang yang lebih utama, dengan orang yang sama, dan dengan orang yang lebih rendah darinya.”

Imām Wakī’, berkata:

عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَوْهَبٍ قَالَ: سُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ

Dari Syarīk, dari Utsmān bin Mauhab, dia berkata Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah ditanya,

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu adalah seorang shahābat yang paling banyak meriwayatkan hadīts, beliau meriwayatkan sekitar 5374 hadīts. Walaupun beliau adalah seorang yang tidak begitu lama kebersamaannya bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Karena beliau masuk Islām sekitar tahun 7 Hijriyyah dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam meningal tahun 11 Hijriyyah hanya. Sekitar 3 atau 4 tahun saja kebersamaannya bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Lalu kenapa beliau bisa meriwayatkan hadīts sebanyak itu, padahal shahābat yang lain tidak bisa meriwayatkan hadīts sebanyak itu ?

Setidaknya ada tiga jawaban, yaitu:

⑴ Beliau adalah orang yang semangat untuk belajar kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Imām Al Bukhāri pernah meriwayatkan sebuah hadīts dari shahābat Abū Hurairah ketika beliau bertanya tentang, “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafā’atmu wahai Rasūlullāh?”

Sebelum Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan dari Abī Hurairah, Beliau mengatakan, “Wahai Abū Hurairah, aku sudah menyangka bahwa tidak akan ada orang yang mendahuluimu bertanya tetang hal ini, karena aku melihat engkau sangat semangat untuk belajar hadīts.”

Lalu Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam baru menjawab pertanyaan Abī Hurairah terkait siapakah orang yang paling bahagia dengan syafā’at Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 99 dan nomor 6570)

⑵ Karena beliau (Abī Hurairah) mendapatkan do’a dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar kuat hafalannya.

Beliau pernah mengatakan:

Aku pernah mengadu:

“Wahai Rasūlullāh, aku mendengar banyak hadīts dari mu, hanya saja aku lupa.”

Maka Beliaupun (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) meminta agar Abū Hurairah membentangkan kain baju atasnya. Setelah dibentangkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam seakan-akan menuangkan sesuatu pada kain tersebut. Lalu Beliau memerintahkan Abū Hurairah untuk mendekap kain itu.

Setelah itu Abū Hurairah berkata:

“Setelah kejadian tersebut, aku tidak lupa satu hadīts pun dari Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3648 dan Muslim nomor 2493)

⑶ Karena beliau (Abū Hurairah) selalu bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan hanya makan sebatas kenyang saja, beliau tidak sibuk dengan dunia tetapi fokus dengan belajar.

Dikatakan dalam sebuah hadīts:

“Abū Hurairah memiliki hadīts yang banyak, karena dia adalah seorang yang selalu membersamai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan mencukupkan diri untuk makan secukupnya saja dan selalu menghadiri apa yang tidak dihadiri shahābat yang lain dan menghafal apa yang tidak dihafal shahābat yang lain.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 118)

Inilah alasan kenapa beliau menjadi istimewa dan bisa meriwayatkan banyak hadīts, bahkan menjadi shahābat yang paling banyak meriwayatkan hadīts (sekitar 5374 hadīts).

Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah ditanya :

هَلْ خَضَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: «نَعَمْ»
قَالَ أَبُو عِيسَى: ” وَرَوَى أَبُو عَوَانَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ، فَقَالَ: عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ “

“Apakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya?” Beliau menjawab, “Iya.”

Berkata Abū Īsā (At Tirmidzī):

Abū ‘Awānah meriwayatkan hadīts ini dari Utsmān bin Abdillāh bin Mauhab, beliau mengatakan dari Ummi Salamah.

Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dan hadīts ini menunjukkan bahwa Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu termasuk shahābat yang berpendapat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya.

Dan Imām At Tirmidzī mengisyaratkan ada riwayat lain yang mendukung hal ini, yaitu riwayat dari Ummu Salamah istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan sebagian ulamā berpendapat dengan pendapat yang lain, ketika Imām At Tirmidzī mengatakan bahwa Abū ‘Awānah meriwayatkan hadīts ini dari Utsmān bin Abdillāh bin Mauhab dan beliau mengatakan dari Ummu Salamah, maka Imām At Tirmidzī mengisyaratkan bahwa Ummu Salamah yang meriwayatkan hadīts Abū Hurairah tadi bukan Abū Hurairah.

Ini sebagian pendapat.

Di antara yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Utsmān bin Mauhab pernah masuk menemui Ummu Salamah, lalu beliau (Ummu Salamah) menunjukan salah satu rambut Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah disemir.

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5897)

Dari hadīts di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada sebagian shahābat yang berpendapat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memang menyemir rambutnya, baik hadīts yang kita sebutkan tadi diriwayatkan oleh dari Abū Hurairah atau yang benar dari Ummu Salamah.

Pelajaran yang kita dapat ada shahābat yang menyatakan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu menyemir rambutnya.

Inilah pelajaran kita kali ini tentang hadīts di atas. Dan semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد


Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 30

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Sya’ban 1440 H / 01 Mei 2019 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 30 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-30
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN UBAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-30) kita masih melanjutkan pembahasan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Hadīts no 43-44)

Yang mana telah kita simpulkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki banyak uban. Uban Beliau sekitar 14 hingga 20 helai saja. Sehingga apabila Beliau meminyaki rambutnya uban-uban tersebut seakan-akan tidak ada.

Dan yang perlu dicatat bahwa uban-uban Beliau muncul bukan karena memikirkan urusan dunia, akan tetapi karena ayat-ayat Al Qurān yang menggambarkan akan kengerian hari kiamat yang Beliau dengar dan tadabburi.

Dan Imām At Tirmidzī membawakan hadīts yang ke-43.

Beliau berkata :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ [من أشهر الشيوخ في خرسان ت 244 هـ] قَالَ: أَنْبَأَنَا شُعَيْبُ بْنُ صَفْوَانَ [كاتب القاضي ببغداد]، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ [قَالَ البُخَارِيُّ: كَانَ عَبْدُ المَلِكِ بنُ عُمَيْرٍ مِنْ أَفصَحِ النَّاسِ]، عَنِ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ الْعِجْلِيِّ [قال الذهبي : من علماء التابعين]، عَنْ أَبِي رِمْثَةَ التَّيْمِيِّ [اختلف في إسمه]، تَيْمِ الرَّبَابِ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعِي ابْنٌ لِي، قَالَ: فَأَرَيْتُهُ، فَقُلْتُ لَمَّا رَأَيْتُهُ: «هَذَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ، وَلَهُ شَعْرٌ قَدْ عَلَاهُ الشَّيْبُ، وَشَيْبُهُ أَحْمَرُ» [صححه الألباني 36]

Berkata Āli Ibnu Hujr, beliau adalah seorang ulamā yang terkenal di Khurasān dan beliau meninggal pada tahun 244 H.

Beliau mengatakan:

Syu’aib Ibnu Shafwān (beliau adalah sekretaris khatib Al Qadhi di Baghdad) memberikan kabar kepadaku, dari Abdul Mālik bin Umair (Imām Al Bukhāri mengatakan beliau ini termasuk seorang yang sangat fasih dalam berbicara).

Dari Iyād Ibnu Laqīd Al ‘Ijliy (Imām Adh Dhahabi mengatakan beliau adalah salah satu ulamā dari kalangan tābi’in).

Dari Abū Rimtsah At Taimiy (beliau ini diperselisihkan namanya, jadi di sini langsung disebutkan kunyahnya dan Imām At Tirmidzī membawakan kota asalnya yaitu dari Taim Ar Rabāb)

Beliau berkata :

Aku mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersama dengan anakku, maka aku pun melihat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Ketika aku melihatnya, aku berkata:

“Ini adalah Nabi Allāh.”

Dan ketika itu Beliau memakai dua pakaian yang hijau, dan rambut Beliau sudah ada ubannya, dan uban itu berwarna merah.

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

• Faedah pertama | Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak lebat.

Karena lafazh: وَلَهُ شَعْرٌ قَدْ عَلَاهُ الشَّيْبُ , kita artikan: “Rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sudah ada ubannya (sudah muncul ubannya),” bukan: “Dan rambut Beliau telah banyak beruban.”

Karena jika kita mengartikan: “Dan rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sudah ada ubannya,” atau: “Sudah muncul ubannya,” itu lebih mencocoki hadīts-hadīts yang lainnya, yang menyatakan bahwa uban beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu sedikit.

• Faedah kedua | Bahwa uban beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) pada hadīts ini, saat shahābat Abū Rimtsah At Taimiy menghadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah merah.

Dan hal tersebut mungkin disebabkan oleh minyak yang beliau kenakan pada rambut beliau, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdurrazzaq dalam Syarh beliau dalam kitāb Asy Syamāil.

• Faedah ketiga | Walaupun pada hadīts ini, disebutkan bahwa beliau memakai baju hijau, bukan berarti memakai baju hijau ini sunnah, namun (kata para ulamā) hukum maksimal memakai baju hijau adalah boleh (mubah).

Kemudian hadīts terakhir dalam bab ini, adalah hadīts nomor 44.

Al Imām At Tirmidzī berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ
[قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ مَهْدِيٍّ: لَوْ قِيْلَ لِحَمَّادِ بنِ سَلَمَةَ: إِنَّكَ تَمُوْتُ غَداً، مَا قَدِرَ أَنَّ يَزِيْدَ فِي العَمَلِ شَيْئاً.

قُلْتُ (الذهبي): كَانَتْ أَوْقَاتُهُ مَعْمُوْرَةً بِالتَّعَبُّدِ وَالأَوْرَادِ.
وَقَالَ عَفَّانُ: قَدْ رَأَيتُ مَنْ هُوَ أَعبَدُ مِنْ حَمَّادِ بنِ سَلَمَةَ، لَكِنْ مَا رَأَيتُ أَشدَّ مُوَاظِبَةً عَلَى الخَيْرِ، وَقِرَاءةِ القُرْآنِ، وَالعَمَلِ للهِ -تَعَالَى- مِنْهُ.

قَالَ مُوْسَى بنُ إِسْمَاعِيْلَ التَّبُوْذَكِيُّ: لَوْ قُلْتُ لَكُم: إِنِّيْ مَا رَأَيتُ حَمَّادَ بنَ سَلَمَةَ ضَاحِكاً، لَصَدَقْتُ، كَانَ مَشْغُوْلاً، إِمَّا أَنْ يُحَدِّثَ، أَوْ يَقْرَأَ، أَوْ يُسبِّحَ، أَوْ يُصَلِّيَ، قَدْ قَسَّمَ النَّهَارَ عَلَى ذَلِكَ. قَالَ يُوْنُسُ بنُ مُحَمَّدٍ المُؤَدِّبُ: مَاتَ حَمَّادُ بنُ سَلَمَةَ فِي الصَّلاَةِ فِي المَسْجِدِ

سَمِعْتُ بَعْضَ أَصْحَابِنَا يَقُوْلُ: عَادَ حَمَّادُ بنُ سَلَمَةَ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، فَقَالَ سُفْيَانُ: يَا أَبَا سَلَمَةَ! أَتُرَى الله يَغْفِرُ لِمِثْلِي؟

فَقَالَ حَمَّادٌ: وَاللهِ لَوْ خُيِّرْتُ بَيْنَ مُحَاسَبَةِ اللهِ إِيَّاي، وَبَيْنَ مُحَاسَبَةِ أَبَوَيَّ، لاَخْتَرْتُ مُحَاسَبَةَ اللهِ، وَذَلِكَ لأَنَّ اللهَ أَرحَمُ بِي مِنْ أَبَوَيَّ.ت : 167 هـ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ[ت 123 هـ
أَدْرَكْتُ ثَمَانِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَكَانَ قَدْ ذَهَبَ بَصَرِي، فَدعوتُ اللهَ -تَعَالَى- فَرَدَّ عَلَيَّ بَصَرِي.

قَالَ: قِيلَ لِجَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ: أَكَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْبٌ؟ قَالَ: «لَمْ يَكُنْ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْبٌ إِلَّا شَعَرَاتٌ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ، إِذَا ادَّهَنَ وَارَاهُنَّ الدُّهْنُ» [صححه الألباني 32]

Berkata Ahmad Ibnu Manī’.

Beliau adalah seorang ulamā yang menjadi guru dari Ashab Kutub As Sittah kecuali Bukhāri, seperti Imām Muslim, Abū Dāwūd, An Nassā’i, Ibnu Mājah, At Tirmidzī semuanya meriwayatkan dari Ahmad bin Manī’ ini secara langsung (mendengar dari beliau).

Sedangkan Imām Bukhāri meriwayatkan dari Ahmad Ibnu Manī’ ini melalui perantara (beliau tidak bertemu langsung atau meriwayatkan secara langsung dari beliau).

Ahmad Ibnu Manī’ adalah seorang penulis kitāb Musnad sebagaimana Imām Ahmad mempunyai musnad Ahmad, maka Ahmad bin Manī’ memiliki musnad hanya saja kitāb musnad yang beliau tulis termasuk kitāb-kitāb yang hilang (tidak sampai kepada kita).

Berkata Suraij Ibnu An Nu’mān (meninggal pada hari raya ‘Iedul Adhā tahun 217) berkata Hammād ibnu Salamah (beliau ini sangat istimewa), Abdurrahmān bin Mahdī mengatakan:

“Andai saja dikatakan kepada Hammād bin Salamah, engkau akan mati besok, pasti Hammād bin Salamah tidak akan mampu menambah jumlah amalannya karena beliau telah memaksimalkan waktunya untuk beramal.”

Dan Imām Adh Dhahabi juga mengatakan:

“Waktunya Hammād bin Salamah itu selalu terpenuhi dengan beribadah.”

Dan Yūnus bin Muhammad Al Mu’adzib mengatakan:

“Bahwasanya Hammād bin Salamah meninggal dalam keadaan shalāt dimasjid”

Karena Hammād bin Salamah adalah seorang ahli ibadah, pernah dicerikan bahwasanya Sufyān Ats Tsauri (seorang ahli hadīts) ketika Hammād bin Salamah mengunjunginya bertanya:

“Wahai Abū Salamah, Apakah engkau menyangka bahwasanya Allāh itu mengampuni seorang sepertiku?”

⇒ Ini bukan keraguan, bahwasanya Allāh tidak mampu mengampuni orang seperti beliau (Sufyān Ats Tsauri) ini merupakan kerendahan hati dari beliau.

Kemudian di antara kata-kata emas yang diucapkan oleh Hammād bin Salamah adalah:

“Demi Allāh, andai saja aku diberikan pilihan siapa yang akan menghisabku, apakah Allāh ataukah kedua orangtuaku, pasti aku akan memilih dihisab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari pada dihisab oleh kedua orang tuaku, karena Allāh lebih penyayang kepadaku daripada kedua orang tuaku.”

Itulah Hammād bin Salamah seorang ahli hadīts yang paling tsiqah dalam hadītsnya.

Berkata Tsabit Al Bunani (meninggal pad tahun 167 Hijriyyah beliau adalah seorang yang gemar beribadah) beliau meriwayatkan dari Simāk Ibni Harb (meninggal pada tahu 123 Hijriyyah) beliau mengatakan:

“Aku bertemu 80 shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan dahulu aku tidak bisa melihat kemudian aku berdo’a kepada Allāh sehingga akhirnya aku bisa melihat.”

⇒ Ini salah satu keutamaan Simāk Ibnu Harb.

Kemudian beliau mengatakan (Dikatakan kepada Jābir bin Samurah):

“Apakah dikepala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada uban ?”

Beliau (Jābir bin Samurah) mengatakan:

“Di kepala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak ada uban, kecuali beberapa helai saja ditengah kepala Beliau, jika Beliau meminyaki kepalanya, beberapa uban tersebutpun tersembunyikan.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy dalam Mukhtashar Asy Syamāil nomor 32)

Dan hadīts ini menunjukkan bahwa uban yang hanya berada pada kepala Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) hanyalah sedikit, dan rambut beliau ketika diminyaki, uban-uban tersebut seakan-akan tersembunyikan.

Inilah pembahasan kita pada pertemuan ke-30 ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وصلى الله على نبينا محمد


Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 29

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Sya’ban 1440 H / 30 April 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 29 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-29
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN UBAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-29) kita masih melanjutkan pembahasan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Hadīts no 41-42)

Yang mana telah kita simpulkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki banyak uban. Uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) hanya sekitar 14 hingga 20 helai saja (sebagaimana riwayat-riwayat yang telah berlalu), sehingga apabila Beliau meminyaki rambutnya uban-uban tersebut seakan-akan tidak ada.

Dan perlu dicatat bahwa uban-uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) muncul bukan karena memikirkan urusan dunia, akan tetapi karena ayat-ayat Al Qurān yang menggambarkan akan kengerian hari kiamat yang Beliau dengar dan tadabburi.

Al Imām At Tirmidzī berkata dalam hadīts nomor 41:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ [161 هـ – 248 هـ وهو من أحد الشيوخ الذي أخذ منه أصحاب كتب الستة] قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عِكْرِمَةَ [مولى ابن عباس، من كبار التالعين، وكان يفتي الناس، وقبل ذلك قد تعلم العلم أربعين سنة، وكان يفتي بالباب وابن عباس يفي في الدار]، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ [بحر الأمة] قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ، قَالَ: «شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ» [صححه الألباني 34]

Abū Kurayb Muhammad Ibnu Al ‘Alā’ (beliau lahir pada tahun 161 Hijriyyah dan meninggal pada tahun 248 Hijriyyah), beliau adalah guru dari ulamā yang meriwayatkan enam kitāb.

( Yaitu:
⑴ Imām Bukhāri
⑵ Imām Muslim
⑶ Imām Abī Dāwūd
⑷ Imām An Nassā’i
⑸ Imām Ibnu Mājah
⑹ Imām At Tirmidzī )

Beliau mengatakan dari Abī Ishāq, dari ‘Ikrimah (maula/budaknya Ibnu Abbās) dan Ikrimah termasuk kibar at tābi’in, dan Imām Adz Dzahabi menyebutkan bahwa beliau ini adalah seorang yang memberikan fatwa di pintu.

(Jadi ada rumah di situ ada pintunya dan di dalam ada Ibnu Abbās, dan ‘Ikrimah ini adalah seorang yang berfatwa di pintu sedangkan Ibnu Abbās berfatwa di dalam rumah, (maksudnya) adalah jika ada seorang yang datang ke rumah Ibnu Abbās maka yang pertama kali ditanya adalah ‘Ikrimah dan jika ‘Ikrimah bisa menjawab maka tidak perlu bertanya kepada Ibnu Abbās dan ketika ‘Ikrimah tidak bisa menjawab maka bertanya kepada Ibnu Abbās.

Dan dikatakan dalam riwayat beliau bahwasanya beliau belajar selama 40 tahun dan beliau disini meriwayatkan dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā seorang shahābat yang mendapatkan do’a dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar difaqihkan dalam agama dan diberikan ilmu tafsir Al Qurān).

Shahābat Ibnu Abbās bercerita, bahwa Abū Bakar Ash-Shiddīq pernah berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, engkau telah beruban.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun menjawab:

“Telah membuatku beruban surah Hūd, Al Wāqi’ah, Al Mursalāt, (عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ) An Nabā’ dan (إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ) At-Takwīr, surat-surat itulah yang telah membuatku beruban.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Kemudian Imām At Tirmidzī membawakan hadīts yang semakna, yaitu hadīts nomor 42, yang merupakan hadīts keenam dalam bab ini.

Beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ [قال الذهبي : الحافظ بن الحافظ، لكن ابتلي بوراق سوء، وأفسد حديثه] قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَاكَ قَدْ شِبْتَ، قَالَ: «قَدْ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا»

Sufyān Ibnu Wakī’ adalah anak dari Wakī’ Ibnu Zārah seorang ulamā (ahli hadīts), Imām Adz Dzahabi mengatakan Al Hāfizh Ibnu Hāfidz (anak yang hāfizh dari seorang yang hāfizz) hanya saja Sufyān Ibnu Wakī’ ini memiliki seorang sekretaris (bahasa kita) yang menulis hadīts-hadītsnya tidak amanah, sehingga orang tersebut merusak keabsahan hadītsnya.

Sufyān Ibnu Wakī’ mengatakan, dari Abī Ishāq dari Abī Juhaifah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu. Beliau mengatakan:

Bahwasanya dahulu shahābat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah menyampaikan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, kami melihat engkau telah mulai beruban.”

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjawab:

“Yang telah membuatku beruban adalah surah Hūd dan teman-temannya.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy radhiyallāhu ta’āla ‘anhu di dalam Mukhtshar Asy Syamāil dengan nomor 35)

Dan maksud dari saudara-saudara surah Hūd adalah surat-surat yang menceritakan tentang kengerian hari kiamat, sebagaimana dikatakan oleh Al Manawiy dalam kitāb Faidhul Qadīr.

Dan Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullāh, ketika ditanya surat apa saja yang termasuk saudara-saudara Hūd?

Maka beliau menyebutkan beberapa surat dengan membawakan dalīl dan perkataan ulamā tentangnya.

Di antara yang beliau sebutkan, dalam kitāb beliau yang bernama Al Fatāwa Al Hadītsiyyah adalah :

⑴ Surat 56 (Al Wāqi’ah)
⑵ Surat 77 (Al Mursalāt)
⑶ Surat 78 (An Nabā’)
⑷ Surat 81 (At Takwīr)
⑸ Surat 69 (Al Hāqqah)
⑹ Surat 88 (Al Ghāsyiyah)
⑺ Surat 101 (Al Qāri’ah)
⑻ Surat 70 (Al Ma’ārij)
⑼ Surat 54 (Al Qamar)

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadīts-hadīts di atas, adalah :

√ Bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban bukan karena urusan dunia.

√ Yang membuat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban adalah kabar tentang kengerian dan kesusahan pada hari kiamat yang Beliau renungkan dari surat-surat Al Qurān (semisal) surat Hūd, surat An Nabā’, surat Al Wāqi’ah dan yang semisalnya.

Dan yang perlu dipahami, bahwa isi surat-surat tadilah yang membuat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban, bukan berarti orang yang membaca surat tersebut akan beruban, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban karena mentadaburi isi surat-surat tersebut. Karena kengerian yang ada dalam surat tersebut, bukan hanya sekedar membaca saja tanpa tadabur dan penghayatan.

√ Bahwa Al Qurān itu memberikan efek yang sangat besar sekali bagi seorang bisa yang mentadabur inya, bisamemahami maknanya, bisa mengetahui maksud-maksudnya.

Seorang yang bisa seperti itu, maka Al Qurān akan memberikan efek yang sangat besar bagi kebaikan, keshālihan, kesucian jiwa, dan kebahagian di dunia maupun di ākhirat.

Inilah pembahasan kita pada pertemuan ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 28

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Sya’ban 1440 H / 29 April 2019 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 28 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-28
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN UBAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-28) kita masih dalam pembahasan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Yang mana Imām At Tirmidzī dalam bab ini membawakan sekitar 8 hadīts, yang kesimpulannya adalah:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hanya memiliki sedikit uban (tidak banyak), hanya sekitar 14 atau 20 helai saja. Sehingga Beliau tidak perlu menyemir rambutnya.

Uban-uban itu tidak terlihat saat Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) meminyaki rambutnya.

Dan perlu diketahui bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beruban, bukan karena memikirkan perkara dunia, akan tetapi Beliau beruban dikarenakan kabar-kabar ākhirat, kengerian-kengerian hari kiamat yang Beliau dengar dan yang beliau tadaburi dari ayat-ayat Al Qurān.”

Hadīts yang akan kita baca pada pertemuan kali ini, adalah hadīts nomor 38.

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَيَحْيَى بْنُ مُوسَى، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: «مَا عَدَدْتُ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا أَرْبَعَ عَ‍شْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ»

Shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, pernah berkata:

“Aku menghitung uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang berada di kepala dan jenggot Beliau dan tidak ku temukan, kecuali 14 helai saja yang berwarna putih.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dalam Mukhtashar Asy Syamāil dengan nomor 31)

Adapun faedah hadītsnya adalah:

“Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidaklah banyak, dan dalam hadīts ini disebutkan hanya sekitar 14 helai saja pada dua tempat, yaitu jenggot dan rambut kepala.”

Kemudian Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ke-3 dalam bab ini, yang bernomor 39.

Beliau rahimahullāh berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ، وَقَدْ سُئِلَ عَنْ شَيْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «كَانَ إِذَا دَهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ شَيْبٌ، وَإِذَا لَمْ يَدْهِنْ رُئِيَ مِنْهُ»

Simāk bin Harb bercerita, bahwa beliau pernah mendengar seorang shahābat yang bernama Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ditanya tentang uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau pun menjawab:

“Jika Beliau meminyaki rambutnya, ubannya menjadi tidak terlihat. Namun jika rambut Beliau tidak diminyaki maka ubanya terlihat.”

(Hadīts shahīh dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dalam Mukhtshar Syamāil nomor 32)

Dan kesimpulan dari hadīts ini adalah:

“Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu hanya sedikit saja, sehingga hanya dengan meminyakinya saja, uban Beliau menjadi tidak terlihat karena kilauan yang dihasilkan dari minyak yang Beliau gunakan.”

Dan pada hadīts ke-40 (hadīts ke-4 dalam bab ini, Imām At Tirmidzī membawakan hadīts tentang jumlah uban Beliau lagi.

Beliau rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْوَلِيدِ الْكِنْدِيُّ الْكُوفِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: «إِنَّمَا كَانَ شَيْبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوًا مِنْ عِشْرِينَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ»

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā, beliau berkata:

“Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu hanya berjumlah sekitar 20 helai saja.”

(Hadīts ini shahīh, dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Dari tiga hadīts yang kita baca ini, kesimpulannya adalah:

“Uban yang berada pada rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu hanyalah sedikit, tidak banyak, kurang lebihnya hanya 14 atau 20 helai saja.”

Sehingga jika ada seorang yang bermimpi melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan rambut yang putih, jenggot putih, maka perlu diragukan, bahwa itu bukan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Jika ada seorang yang melihat sosok manusia dalam mimpinya, dengan sifat yang tidak sesuai dengan hadīts-hadīts, kita ragukan bahwa ia telah memimpikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, apalagi seorang yang bermimpi melihat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam namun bukan dalam bentuk manusia (misalkan) dalam bentuk cahaya, maka kita harus meragukan ini.

Dan inilah pelajaran kita kali ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد



Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Larangan Menyisir Rambut Terlalu Sering – Hadis 26

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 19 Rajab 1440 H / 26 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 26 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Larangan Menyisir Rambut Terlalu Sering

⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-26
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN LARANGAN MENYISIR RAMBUT TERLALU SERING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita masih diberikan keistiqāmah untuk tetap belajar hadīts-hadīts yang disusun oleh Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-26) kita akan membaca hadīts nomor 35 dan nomor 36, tentang larangan menyisir rambut terlalu sering.

Imām At Tirmidzī rahimahullāhu berkata dalam hadīts nomor 35.

Beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عنِ التَّرَجُّلِ، إِلا غِبًّا.

Dari Abdullāh bin Mughabbal, dia berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang bersisir kecuali dilakukan secara ghibban.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

√ Ghibban (غِبًّا) artinya sehari dilakukan sehari ditinggalkan, sebagaimana kata Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Dalam syair Arab dikatakan:

زُرْ غِبّاً تَزْدَدْ حُبّاً 

“Berkunjunglah jarang-jarang niscaya rasa cinta akan bertambah.”

Jika kita berkunjung setiap hari, maka orang yang kita kunjungi akan merasa biasa saja atau bahkan akan bosan. Tapi jika kita berkunjung setiap bulan sekali atau setahun sekali pasti rasa rindu itu akan menambah indahnya pertemuan.

Sehingga makna hadīts ini adalah untuk menyisir, membersihkan dan merapihkan rambut jarang-jarang, tidak setiap hari, tidak setiap waktu.

Kemudian Imām At Tirmidzī berkata dalam hadīts nomor 36.

Beliau berkata:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلامِ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ أَبِي الْعَلاءِ الأَوْدِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، كَانَ يَتَرَجَّلُ غِبًّا.

Dari salah seorang shahābat bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu menyisir rambut dan atau merawatnya secara ghibban.

Dan telah berlalu arti kata ghibban yaitu sehari merawat dengan menyisir atau meminyakinya dan hari yang lain beliau meninggalkannya.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak merawat rambut Beliau setiap hari.

Hadīts di atas merupakan hadīts yang didhaifkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dalam Mukhtashar Syamāil hadīts nomor 29.

Namun kata Syaikh Abdur Razzaq Al Badr, hadīts tersebut hasan karena adanya berbagai pendukung (Wallāhu A’lam).

Para ulamā berbeda pendapat tentang larangan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ini.

√ Ada yang mengatakan makruh bagi yang menyisir setiap hari.

√ Ada yang membolehkan setiap ada kebutuhan.

Syaikh Abdullāh Al Fauzan, setelah menjelaskan pendapat para ulamā tentang masalah menyisir rambut dalam Kitāb Raudhatul Afham.

Beliau berkata:

“Dan yang tampaknya benar, Wallāhu A’lam, tidak adanya pewaktuan dalam menyisir rambut ini, bahkan ketika seseorang itu butuh maka ia boleh melakukannya.”

Namun jika seorang ingin mengikuti sunnah maka menyisir sehari dan meninggalkan sehari (Itulah sunnahnya).

Dan selalu menyisir rambut setiap saat itu juga tidak baik, sebagaimana pandangan sebagian masyarakat.

Sebagian masyarakat memandang ketika ada seseorang yang selalu membawa sisir kemana-mana (misalnya) ketika melepas helmnya menyisir rambut, setiap berwudhū’ juga menyisir rambutnya, sebagian orang mengatakan itu suatu hal yang tidak baik.

Jadi apabila bisa menyisir sehari kemudian ditinggalkan sehari maka itu adalah sunnah dan jika masih harus menyisir (harus menyisir setiap hari atau harus merapihkan setiap saat) maka bisa (cukup) dengan tangannya.

Namun jika ia memang sangat butuh untuk menyisir rambutnya karena (misalnya) rambutnya berantakan dan tidak bisa menggunakan tangan maka ia boleh menyisir rambutnya dengan sisir sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdullāh Al Fauzan dalam kitāb beliau yang berjudul Raudhatul Afham jilid I hal 213).

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Kitab Syamāil Muhammadiyah-Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 25

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Rajab 1440 H / 25 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 25 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-25
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN UBAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-25), in syā Allāh kita akan masuk dalam pembahasan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Imām At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla menamai bab ini dengan “Bābu Mā jā’a Fī Syaibi Rasūlillāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bab tentang hadīts-hadīts yang berkaitan dengan uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam)”.

Pada bab ini Imām At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla membawakan sekitar 8 (delapan) hadīts yang kesimpulannya adalah:

“Bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hanya memiliki sedikit uban (tidak banyak) hanya sekitar 14 (empat belas) atau 20 (duapuluh) helai saja.”

Dan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) beruban bukan karena memikirkan perkara dunia, akan tetapi Beliau beruban dikarenakan kabar-kabar akhirat yang Beliau dengar atau kengerian hari kiamat yang Beliau tadabburi dari ayat-ayat Al Qurān.

Berikut ini adalah hadīts-hadīts yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Beliau (Imām At Tirmidzī) berkata dalam hadīts nomor 37:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: هَلْ خَضَبَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَبْلُغْ ذَلِكَ، إِنَّمَا كَانَ شَيْبًا فِي صُدْغَيْهِ وَلَكِنْ أَبُو بَكْرٍ، خَضَبَ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ.

Shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah ditanya oleh salah seorang murid beliau yang bernama Qatādah.

Beliau berkata:

“Apakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu menyemir rambut Beliau?”

Anas bin Mālik Radhiyallāhu ‘anhu menjawab:

“Keadaan rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak sampai pada keadaan yang harus disemir karena uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) hanya di kedua pelipis saja.”

Setelah shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu menyebutkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyemir rambutnya, kemudian beliau memberikan kabar. Beliau mengatakan:

“Akan tetapi Abū Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhu menyemir rambutnya dengan dengan hinnā dan katam.”

(Hadīts ini di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dengan nomor 30)

√ Hinnā’ (الْحِنَّاءِ) adalah sejenis tumbuhan yang membuat rambut menjadi merah.

√ Katam (الْكَتَمِ) adalah sejenis tumbuhan yang bisa membuat uban menjadi berwarna hitam.

Jika kedua jenis tumbuhan ini digabungkan maka akan tercipta warna lain (yaitu) sebuah warna antara warna merah dan hitam sehingga tidak masuk dalam larangan menyemir rambut dengan warna hitam.

Adapun pelajaran yang bisa kita ambil, adalah:

⑴ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyemir rambutnya.

Dalam permasalahan ini ada perbedaan pendapat, apakah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyemir rambutnya ataukah tidak.

Namun dalam hadīts ini disebutkan oleh shahābat Anas bin Mālik bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyemir rambutnya, karena uban Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sedikit sehingga tidak perlu disemir.

⑵ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki banyak uban (uban Beliau sedikit).

Pada hadīts ini digambarkan bahwa uban Beliau hanya di kedua pelipis.

Namun perlu dicatat bahwa hadīts lain menyatakan bahwasanya, “Uban Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berada di beberapa bagian rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bukan hanya dikedua pelipis saja.”

Sebagaimana dalam hadīts riwayat Muslim nomor 2341 dari shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Beliau mengatakan:

وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِي عَنْفَقَتِهِ وَفِي الصُّدْغَيْنِ وَفِي الرَّأْسِ نَبْذٌ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyemir rambut, uban Beliau hanya di rambut bawah bibir (bagian atas jengot), di kedua pelipis dan beberapa helai di kepala.”

Demikianlah pembahasan kita kali ini, dan in syā Allāh pada pertemuan selanjutnya akan disebutkan berapa banyak uban yang berada pada rambut Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Kitab Syamāil Muhammadiyah – Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyisir Dan Merapikan Rambut – Hadis 24

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 22 Jumādā AtsTsānī 1440 H / 27 Februari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 24 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Menyisir Dan Merapikan Rambut
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-24
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYISIR DAN MERAPIHKAN RAMBUT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-24) In syā Allāh, kita akan membahas tentang hadīts-hadīts yang berkaitan dengan menyisir dan merapihkan rambut.

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh memberikan judul pada bab ini dengan “Bābu mā jā’a fī tarajjuli Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bab yang menyebutkan tentang hadīts-hadīts yang berkaitan tarajjul-nya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Apa maksud: ترجّل (tarajjul)?

⑴ Pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani

Dalam Fathu Barī’ Syarah Shahīh Al Bukhāri, Ibnu Hajar Al Asqalani menukilkan dari Ibnu Bathal bahwa tarajjul adalah:

“Menyisir rambut kepala dan jenggot dengan meminyakinya sekaligus.”

⑵ Pendapat Syaikh ‘Utsaimin

Dalam syarah beliau terhadap Shahih Muslim pada kaset nomor 974 A menit ke-21, detik ke-40, mendefinisikan tarajjul dengan mengatakan:

“Kata tarajjul artinya meminyaki rambut kemudian menyisir dan memperbaikinya.”

⇒ Inilah arti tarajjul yaitu menata rambut, menyisir dan meminyakinya.

⑶ Pendapat Syaik Abdurrazaq

Syaikh Abdurrazaq ketika mendefinisikannya mengatakan:

“Tarajjul adalah menyisir rambut, membersihkan dan memberikan perhatian khusus padanya (mungkin zaman sekarang dinamakan perawatan rambut, Wallāhu A’lam).”

Bab ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan perhatian kepada rambut Beliau, tidak membiarkannya berantakan. Bahkan Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

“Siapa yang memiliki rambut hendaknya memuliakannya.”

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 3632, Syaikh Albāniy rahimahullāh mengatakan hasan shahīh)

Akan tetapi perlu dicatat bahwa sering-sering menyisir rambut juga dilarang.

Hadīts-hadīts selanjutnya adalah sebagai berikut.

Al Imām At Tirmidzī berkata dalam hadīts nomor 32:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَامَعْنُ بْنُ عِيسَى قَالَ : حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ ، عَنْهِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا حَائِضٌ

Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā berkata:

“Aku pernah menyisir atau menata rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika aku hāidh.”

(Hadīts shahīh diriwayatkan juga oleh Imām Bukhāri nomor 295 dan 5925 dan Imām Muslim nomor 297 dengan banyak riwayat yang semakna dengan hadīts di atas)

Dan salah satu riwayatnya dengan lafazh:

“Aku pernah mencuci rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam saat aku hāidh.”

Hadīts ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan perhatian kepada kebersihan rambut dan kepalanya dengan dicuci atau diminyaki sehingga tidak menyebabkan bau yang tidak sedap atau banyak kutu.

Dan pada hadīts ini ditunjukkan bahwa Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā mencuci rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) walau beliau sedang hāidh.

Hadīts ini juga menunjukkan bahwa wanita yang sedang hāidh tidak najis, baik badan maupun keringatnya (tetap suci) bahkan wanita yang sedang hāidh boleh melakukan segala hal bersama suaminya kecuali hubungan suami istri saja.

Dan ini merupakan perbedaan antara Islām dan ahli kitāb. Dahulu pada zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, orang-orang ahli kitāb, mereka tidak mau makan bersama istri mereka saat istri mereka hāidh, bahkan mereka mengisolasi istri-istri mereka saat hāidh dan tidak tinggal serumah dengan mereka.

Ketika mengetahui hal tersebut para shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hingga Allāh pun menurunkan ayatnya:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًۭى فَٱعْتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ

Mereka bertanya kepadamu tentang hāidh Katakanlah: “Hāidh itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu hāidh.”

(QS Al Baqarah: 222)

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bersabda, ketika itu:

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukan hal apapun yang kalian suka dengan istri kalian saat hāidh kecuali hubungan suami istri.”

(Hadīts shahīh riwayat Imām Muslim nomor 302)

Ini adalah faedah yang kedua bahwa wanita hāidh tidaklah najis, dan masih boleh melakukan hal apapun bersama suaminya kecuali hubungan suami istri.

Sahabat BiAS, hanya ini yang bisa disampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Kitab Syamāil Muhammadiyah Hadits Yang Berkaitan Dengan Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bagian 02) – Hadis 23

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 21 Jumādā AtsTsānī 1440 H / 26 Februari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 23 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-23
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-23) In syā Allāh, kita akan membaca hadīts yang menyatakan bahwa saat rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) panjang, Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengepangnya menjadi empat kepangan.

• Hadīts Pertama | Hadīts nomor 28

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْمُجَاهِدٍ ، عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ ، قَالَتْ : قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ قَدْمَةً وَلَهُ أَرْبَعُ غَدَائِرَ

Ummu Hāniy bintu Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhā berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah datang ke Mekkah dan saat itu rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dikepang empat.”

(Hadīts ini dinyatakan shahīh oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

• Hadīts Kedua | Hadīts nomor 31

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَافِعٍ الْمَكِّيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أُمِّ هَانِئٍ ، قَالَتْ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَا ضَفَائِرَ أَرْبَعٍ

Ummu Hāniy radhiyallāhu ta’āla ‘anhā berkata:

“Aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memiliki empat kepangan rambut.”

⇒ Hadīts ini dinyatakan shahīh oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Dari dua hadīts ini bisa kita simpulkan bahwa saat rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam panjang Beliau menjadikan empat kepangan.

Ibnu Hajar rahimahullāh dalam Fathu Barī’ menyimpulkan:

“Bahwa perbuatan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ini dilakukan saat Beliau sedang melakukan safar atau dalam keadaan sibuk lainnya, sehingga Beliau tidak memiliki waktu untuk memotong rambutnya, sehingga beliau mengepangnya menjadi empat kepangan.”

(Fathu Barī’ Juz 10 Hal 360)

• Hadīts Ketiga | Hadīts nomor 30

Dan hadīts lain yang akan kita bahas adalah hadīts yang berkaitan dengan cara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menata rambutnya.

√ Apakah beliau membiarkan rambutnya?
√ Apakah beliau membelahnya ke kanan atau ke kiri?

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ : حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَيُسْدِلُ شَعْرَهُ ، وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرِقُونَ رُءُوسَهُمْ ، وَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يُسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ ، وَكَانَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ ، ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ

Ibnu Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhumā bercerita:

“Dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (melakukan) mengumpulkan rambutnya ke belakang, karena kaum musyrikin saat itu membelah rambut mereka kesamping. Adapun ahli kitāb melakukan sadl pada rambutnya (mengumpulkan kebelakang) dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam senang untuk mencocoki ahli kitāb selama belum datang perintah dari Allāh. Kemudian pada akhirnya beliau memilih membelah rambutnya.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaik Albāniy rahimahullāh dalam kitāb Mukhtashar Asy Syamāil).

Dari hadīts ini bisa kita simpulkan bahwa sikap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang paling akhir adalah membagi atau membelah rambutnya ke samping tidak men-sadl rambutnya.

Adapun kenapa pada awalnya Beliau lebih memilih ahli kitāb adalah?

Karena ahli kitāb memiliki kitāb yang diturunkan Allāh dari langit dan bisa jadi cara mereka menata rambut mencocoki kitāb tersebut sehingga Beliau lebih memilih cara ahli kitāb di dalam masalah ini daripada cara orang-orang musyrikin.

Dan Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma’ad Juz 1 Hal 168 memberikan gambaran bagaimana maksud sadl.

Maksud dari sadl adalah:

“Untuk mengumpulkan rambutnya kebelakang dan tidak membelahnya menjadi dua belahan.”

Kemudian Ibnu Hajjar berkata juga:

“Sikap terakhir yang dipilih Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam terhadap rambutnya adalah membelah atau membaginya.”

Demikian pembahasan kita dari bab ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Kitab Syamāil Muhammadiyah HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN 1) – Hadis 22

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 20 Jumādā AtsTsānī 1440 H / 25 Februari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 22 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-22
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-22) kita akan membaca hadīts-hadīts yang berkaitan dengan rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh memberikan judul pada bab ini dengan “Bābu mā jā’a fī sya’ri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bab tentang rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam)”.

Bab ini memiliki sekitar delapan hadīts dan pada pertemuan ini kita akan membaca lima hadīts dari delapan hadīts tersebut, yaitu: Hadīts ke-24, hadits ke-25, hadits ke-26, hadīts ke-27 dan hadīts ke- 29.

Karena kelima hadīts ini memiliki tema yang sama (yaitu) tentang panjang rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadīts ke-28 (in syā Allāh) akan kita bahas pada kesempatan yang lain,

Sebelum kita membaca hadits-hadīts yang berkaitan tentang penyebutan sifat rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kita simpulkan terlebih dahulu bahwa rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

√ Terkadang panjangnya mencapai pertengah telinga Beliau.
√ Terkadang panjangnya mencapai daun telinga Beliau.
√ Terkadang panjangnya menyentuh kedua pundak Beliau.
√ Terkadang panjangnya di antara keduanya.

Ini adalah empat keadaan rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan rambut Beliau tidak pernah melebihi kedua pundak Neliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam), sebagaimana di nukilkan oleh Al Manawi dari Abū Syamah dalam Faidhul Qadir Juz 5 halaman 74.

Dan semuanya memberikan gambaran bahwa rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) suatu waktu panjang, dan pada waktu yang lainnya tidak terlalu panjang atau agak pendek.

Dan ini merupakan kesimpulan yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Razaq Al Badr dalam bukunya Syarah Asy Syamāil dan di sana juga ada beberapa pendapat yang lainnya.

Hadīts Pertama | Hadīts nomor 24:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ : أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ شَعْرُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ

Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu menggambarkan bahwasanya:

“Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam terkadang panjangnya hingga setengah telinga.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh),

Hadīts ini menunjukkan bahwasanya terkadang rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencapai pertengahan telinga.

Hadīts Kedua | Hadīts nomor 25:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، وَكَانَ لَهُ شَعَرٌ فَوْقَ الْجُمَّةِ، وَدُونَ الْوَفْرَةِ.

Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā pernah bercerita:

“Aku pernah mandi bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari satu wadah dan ternyata rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) melebihi daun telinga namun tidak sampai pundak.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh).

Kesimpulannya:

Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih dari daun telinga akan tetapi tidak sampai pundak.

Hadīts Ketiga | Hadīts nomor 26:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو قَطَنٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمِنْكَبَيْنِ، وَكَانَتْ جُمَّتُهُ تَضْرِبُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ.

Al Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

“Tinggi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ideal. Dada Beliau bidang dan panjang rambut Beliau mencapai daun telinga.”

⇒ Hadīts shahīh diriwayat juga oleh Imām Bukhāri nomor 3551 dan Imām Muslim nomor 2337, yang mana isinya:

“Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam saat itu mencapai daun telinga.”

Hadīts Keempat | Hadīts nomor 27:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسٍ: كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ بِالْجَعْدِ، وَلا بِالسَّبْطِ، كَانَ يَبْلُغُ شَعَرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ.

Qatādah (salah seorang murid dari Anas bin Mālik) bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu:

“Bagaimana sifat rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?”

Beliau menjawab:

“Rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak keriting namun juga tidak lurus dan panjang rambut Beliau hingga daun telinga.”

⇒ Hadīts shahīh ini di riwayatkan juga oleh Imām Bukhāri nomor 5905 dan Imām Muslim nomor 2338.

Adapun isinya sama dengan sebelumnya, yaitu:

“Rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mencapai daun telinga.”

Hadīts Kelima | Hadīts nomor 29:

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، عَنْ مَعْمَرٍ ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ ، عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ شَعْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ

Anas radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

“Panjang rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam terkadang sampai ditengah telinga Beliau.”

⇒ Hadīts shahīh ini diriwayatkan juga oleh Imām Muslim nomor 2339.

Itulah hadīts-hadīts yang berkaitan dengan panjang rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan hadīts-hadits tersebut tidak saling bertentangan dan kita nyatakan bahwa rambut Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam):

√ Terkadang panjangnya hingga kedua pundak.
√ Terkadang hanya sampai telinga,
√ Bisa juga sampai pertengahan telinga,
√ Dan terkadang diantara keduanya.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/