Tag Archives: mahazi – ust abdullah roy

Mahazi 50 adalah Doa dan Dzikir di Arafah dan Tempat-Tempat Yang Lain

[Halaqah 50] Doa dan Dzikir di Arafah dan Tempat-Tempat Yang Lain

Ada beberapa tempat untuk berdoa yang mustajab disana diantaranya : ketika diatas Shafa dalam keadaan Sai, diatas Marwa dalam Sai, ketika Wukuf di Arafah,  ketika di Muzdalifah setelah shalat subuh sampai menjelang matahari terbit, setelah melempar Jumroh Shughro dan setelah melempar Jumroh Wustho.

Seorang yang melakukan Ibadah Haji melakukan doa sesuai kemampuan, namun seseorang berusaha mengambil doa yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, karena apa yang ada didalamnya termasuk Jawami’ul Kalim (yaitu ucapan yang sedikit lafadznya dan dalam maknanya).  Juga karena yang datang didalam Al-Quran dan As-Sunnah lebih selamat dari kesalahan.

Boleh seseorang berdoa dengan doa yang ada didalam Al-Quran didalam sujudnya dan sebelum salam, karena keumuman hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam : “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud maka hendaklah kalian memperbanyak doa” (HR Muslim).

Dan didalam sebuah hadits ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan sifat tasyahud beliau berkata : “Kemudian hendaklah dia memilih diantara doa-doa yang paling dia cintai kemudian berdoa dengannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam : “Ketahuilah sesunggguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika dalam keadaan ruku atau sujud” (HR Muslim).

Maka makna hadits ini : maka larangan membaca Al-Quran didalam ruku/sujud yang ada didalam hadits ini adalah bagi orang yang membaca doa tersebut didalam sujudnya dengan niat membaca Al-Quran. Adapun yang niatnya adalah membaca doa maka hal ini tidak masalah.  Guru kami Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al Abad al Badr hafidzahullah telah menyebutkan didalam kitab beliau Tafsir Naasik bi Ahkamin Munasik… beberapa doa dan dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa digunakan untuk berdoa di Arafah dan selain Arafah. Beliau mengumpulkan 74 dzikir dan doa

Akhirnya semoga Allah memudahkan Ibadah Haji kaum Muslimin, dan menjadikan Haji mereka Haji yang Mabrur, dan mengampuni dosa-dosa kita dan dosa mereka, dan ini adalah halaqah terakhir dari Silsilah Haji, dan sampai bertemu pada silsilah selanjutnya, yaitu Silsilah Ziarah ke Kota Madinah. Alhamdulilah aladzi bini’matihi tatimush shalihaat. Wa shalallahu alaa Nabiyyinna Muhammad, wa ala aliihi wa shohbihi ajma’in.

Mahazi 46 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Thawaf Wada

[Halaqah 46] Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Thawaf Wada

Thawaf Wada adalah Thawaf yang dilakukan oleh Jamaah Haji ketika akan meninggalkan Mekkah setelah menyelesaikan hajinya.

Hukumnya adalah wajib, dan tidak diberikah rukshoh / keringanan untuk meninggalkannya kecuali wanita yang haid dan nifas.

Dianjurkan bagi orang yang umroh melakukan Thawaf Wada sebelum meninggalkan kota Mekkah dan tidak wajib menurut mayoritas Ulama.

Barangsiapa yang Thawaf Wada sebelum melempar jumroh pada tanggal 12 maka Thawafnya tidak sah. Harus diulang thawafnya dan kalau tidak maka dia harus membayar dam.

Orang yang diwakili dalam melempar jumroh pada tanggal 12 tidak boleh dia thawaf Wada kecuali jika yang mewakili sudah melempar Jumroh untuknya.

Apabila jamaah haji mengakhirkan Thawaf Ifadhah ketika akan meninggalkan Mekkah kemudian safar setelahnya, maka itu sudah mencukupi dari Thawaf Wada, yaitu tidak perlu lagi melakukan thawaf Wada meskipun setelah thawaf Ifadhah dia melakukan Sa’i haji.

Bila selesai Thawaf Wada maka dia berjalan kedepan seperti berjalan biasa, tanpa berjalan mundur kebelakang seperti yang dilakukan oleh sebagian.

Setelah Thawaf Wada maka seseorang tidak tinggal di Mekkah kecuali karena keperluan mendadak, seperti karena sudah adzan/iqomah atau keperluan yang berkaitan dengan safar seperti membeli bekal safar, oleh-oleh, atau menunggu teman yang belum datang.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 45 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 3

Halaqah 45 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 3

20Orang yang berhaji boleh melempar Jamarot dari arah mana saja.

21Dianjurkan ketika melempar Jumroh Aqobah, menjadikan Mina di sebelah kanan dan Mekah di sebelah kiri.

Dari Abdurrahman Bin Yazid bahwasanya beliau berhaji bersama Abdullah Ibnu Mas’ud. Maka Abdurrahman melihat Abdullah Ibnu Mas’ud melempar Jumroh Aqobah dengan 7 kerikil, menjadikan Ka’bah di sebelah kirinya dan Mina sebelah kanannya.

Kemudian berkata : “Ini adalah tempat orang yang diturunkan kepadanya surat Al Baqaroh (yaitu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam).

(HR al-Bukhari dan Muslim)

22Anak kecil yang tidak mampu melempar, maka walinya mewakili dia didalam melempar, demikian pula semua orang yang lemah seperti karena sakit, tua, atau hamil, karena melempar waktunya terbatas, dan tidak boleh melempar apabila sudah selesai waktunya.

Dan melempar Jumroh adalah satu-satunya amalan Haji yang bisa diwakili orang lain apabila seseorang dalam keadaan lemah.

23 Orang yang ingin melemparkan untuk orang lain maka disetiap Jumroh dia melempar untuk diri sendiri dahulu, baru untuk orang yang diwakili Inilah yang dikuatkan oleh sebagian ulama, dan apabila dia ingin melempar terlebih dahulu 3 Jumroh untuk dirinya sendiri kemudian kembali lagi dan melempar 3 Jumroh untuk orang lain maka yang demikian adalah pendapat yang lebih berhati-hati.

24 Orang yang mewakili dalam melempar adalah orang yang sedang berhaji. Adapun orang yang bukan jemaah haji maka tidak melempar untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

25 Melempar jumroh meskipun asalnya adalah kisah setan yang berusaha untuk menghalangi Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah, kemudian dilempar oleh Nabi Ibrohim dengan 7 kerikil disetiap Jumroh sebagaimana didalam Hadits shahih yang diriwayatkan Al-Hakim, tetapi kita melemparnya adalah dalam rangka meneladani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, bukan karena niat melempar setan.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 44 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 2

Halaqah 44 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 2

15

Waktu melempar 3 Jumroh pada hari-hari Tasyrik dimulai setelah tergelincirnya matahari / datang waktu shalat dzuhur, dan tidak boleh sebelumnya karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melempar pada 3 hari tersebut setelah tergelincirnya matahari, sedangkan Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam telah berkata : 

“Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian” (HR Muslim).

Dan berkata Jabir Ibnu Abdillah : “ Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah melempar Jumroh pada hari Kurban di waktu Dhuha, adapun yang setelahnya maka beliau melemparnya setelah tergelincir matahari” (HR Muslim) .  

Dan didalam shahih Bukhari dari Abdullah Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma, beliau berkata : “Kami dahulu menunggu, maka apabila tergelincir matahari kamipun melempar”.

Al Imamum Malik didalam kitab beliau Al Muwatho, dari Nafi’ bahwasanya Abdullah Ibnu Umar -beliau mengatakan : 

“Jumroh tidak boleh dilempar pada 3 hari tersebut sampai tergelincir matahari”

Berkata at-Tirmidzi setelah mengeluarkan hadits Jabir didalam Sunan-nya : 

“Dan pengamalan hadits ini menurut sebagian besar ulama, bahwa setelah Hari Raya Jumroh tidak dilempar kecuali setelah tergelincirnya matahari”

16

Orang yang tidak sempat melempar sebelum tenggelam matahari, maka dia melempar Jumroh di malam hari, dan selesai waktunya bila datang waktu Subuh hari berikutnya, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah memberikan keringanan kepada para penggembala untuk melempar di malam hari (HR al-Baihaqi dengan sanad yang hasan dari Abdullah Bin Umar).

17

Waktu melempar pada tanggal 13 Dzulhijjah selesai setelah tenggelam matahari, dan tidak boleh melempar setelah tenggelam matahari.

18

 Jemaah Haji melempar 3 Jumroh berurutan dimulai dengan Shugro, kemudian Wustho, kemudian Kubro / Aqobah, dan tidak boleh dibalik.

19

Setelah selesai melempar Jumroh Shugro dan Wustho maka berdiri lama menghadap Kiblat dan berdoa disertai mengangkat kedua tangan. Adapun setelah Jumroh Kubro maka tidak berdiri dan tidak berdoa sebagaimana hal ini diterangkan didalam Hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari rahimahullah.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 43 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 1

Halaqah 43 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Melempar Jumroh di Hari-Hari Tasyrik bag 1

1 Melempar Jumroh Aqobah di hari Kurban dan 3 Jumroh Shughro, Wustho dan Kubro di hari2 tasyrik adalah termasuk KEWAJIBAN HAJI sebagaimana sudah berlalu.

2 Tidak ada tempat yang khusus untuk mengambil kerikil. Boleh seseorang mengambilnya di Musdalifah / Mina / Mekkah.

3 Dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dicarikan kerikil untuk beliau di Mina, dan beliau dalam perjalanan dari Musdalifah ke Jumroh Aqobah.  

4 Didalam shahih Muslim, dari Fadl Ibnu Abbas (semoga Allah meridhoi keduanya) beliau berkata : “Sehingga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam memasuki Muhassir”

Dan Muhassir adalah termasuk Mina. Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata :

“Hendaklah kalian mengambil kerikil al-khodf yang digunakan untuk melempar Jumroh”.

Jumlah Jumroh yang diambil 49 bagi orang yang melakukan Naffar Awal dan 70 bagi orang yang melakukan Nafar Tsani.

5 Boleh seseorang mencari sendiri kerikilnya atau dicarikan oleh orang lain, dan boleh baginya untuk membeli dari orang lain.

6 Boleh mencari kerikil sekali untuk beberapa hari, atau mencari kerikil setiap hari sesuai dengan yang jumlah dibutuhkan pada hari tersebut.

7 Ukuran kerikil untuk melempar Jumroh adalah sebesar kerikil Khodf, yaitu kurang lebih sebesar biji jagung.  Adapun yang lebih besar dari itu, itu termasuk BERLEBIHAN.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata : “Dengan yang semisal mereka. (maksudnya hendaklah kalian melempar dengan yang semisal kerikil-kerikil ini) dan hati-hatilah kalian dengan berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang menghacurkan kalian adalah yang berlebih-lebihan dalam agama” (HR An Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah)

8 Tidak boleh melempar dengan selain kerikil, seperti kayu, besi, tulang, dll

9 Tidak disyariatkan mencuci kerikil-kerikil tersebut.

10 Boleh mengambil kerikil yang berserakan disekitar Jamarot.

11 Jemaah Haji harus yakin / memperkirakan bahwa kerikilnya jatuh ke Telaga.

12 Disunnahkan mengucapkan TAKBIR pada setiap lemparan. Berkata Jabin bin Abdillah al Anshory : “Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melempar Jumroh Aqobah 7 kerikil. Beliau bertakbir bersama setiap kerikil yang beliau lemparkan”.(HR Muslim)

13 Tidak sah melempar kerikil sekaligus.

14 Tidak sah hanya meletakkan kerikil dan hanya melemparkannya.

Mahazi 41 adalah Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah bag 3

Halaqah 41 dari silsilah manasik haji

Beberapa Perkara dan Hukum yang Berkenaan dengan Amalan yang Dilakukan di Hari Kurban atau tanggal 10 Dzulhijjah Bag 3

10. Hadyu harus disembelih di Mina dan Mekkah berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam : “Mina semuanya adalah tempat menyembelih, dan setiap jalan yang ada di Mekah adalah jalan dan tempat menyembelih” (HR Ibnu Majjah dan lainnya, shahih).  

11.  Orang yang melakukan Haji Qiran dan Tamattu’ dan tidak menemukan Hadyu maka berpuasa

3 hari ketika Haji dan

 7 hari ketika pulang ke keluarganya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ”Maka barang siapa yang ber-tammatu’ dengan umroh ke haji maka hendaklah ia menyembelih dengan apa yang dimudahkan berupa Hadyu.  Maka barangsiapa yang tidak menemukan hendaklah dia berpuasa 3 hari ketika Haji dan 7 hari ketika dia kembali“

(Qs Al Baqarah 196)

3 hari dan 7 hari disini bisa dilakukan berurutan atau berpisah-pisah, dan yang lebih utama dilakukan puasa 3 hari menjelang haji sebelum hari Arafah dan yang belum melakukannya di hari Arafah bisa dilakukan di hari-hari Tasyrik.

Berkata Aisyah dan Abdullah Ibnu Umar (semoga Allah meridhoi semuanya) : “Tidaklah diberikan keringanan untuk orang-orang yang berpuasa di hari-hari tasyrik kecuali bagi orang yang tidak menemukan hadyu

(HR Bukhari). 

12. Dianjurkan bagi orang yang menyembelih memakan sebagian daging hadyu dan bersodaqoh untuk orang yang membutuhkan, dan boleh baginya memberi hadiah kepada orang lain meskipun dia adalah orang yang kaya.

Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla : “Maka hendaknya kalian makan darinya dan memberi makan kepada orang fakir”

(Qs Al Hajj 28).

Dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah memakan dari sebagian daging hadyu beliau dan meminum dari kuahnya. Sebagaimana riwayat Jabbir HR muslim, dimana Jabir mengatakan : “Kemudian Nabi pergi ketempat penyembelihan dan menyembelih 63 ekor onta dengan tangan beliau kemudian memberikannya kepada Ali maka Ali menyembelih sisa hadyu beliau dan menjadikan Ali ikut menyembelih hadyu beliau Shalallahu Alaihi Wassalam. Kemudian beliau memerintahkan mengambil sepotong daging dari setiap hadyu dan dijadikan didalam panci kemudian dimasak, maka keduanya (yaitu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan Ali bin Abi Thalib) memakan dari dagingnya dan meminum dari kuahnya. 

13. Hukum memakan sebagian daging hadyu adalah TIDAK WAJIB karena diantara 100 onta yang disembelih oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam ketika Haji Wada ada yang Nabi sama sekali tidak memakannya, dan tidak wajibnya memakan sebagian daging hadyu adalah dengan kesepakatan para ulama.

14. Amalan yang ke-3 dihari Raya Kurban bagi jamaah Haji adalah menggundul kepala atau memendekkan rambut

15. Amalan yang ke-4 adalah Thawaf Ifadhah. Bisa dilakukan di hari Kurban dan ini yang afdhol atau di hari-hari tasyrik atau setelahnya. Dan apabila seseorang melakukan Haji Qiron atau Ifrod dan belum Sa’i setelah Thawaf Qudum, maka ia harus melakukan sa’i setelah Thawaf. Demikian pula orang yang Tammatu’ melakukan sa’i setelah Thawaf Ifadhah.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 38 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Mabit atau Bermalam di Muzdalifah

Halaqah 38 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Mabit atau Bermalam di Muzdalifah

Setelah tenggelam matahari pada Hari Arafah, Jemaah Haji berangkat meninggalkan Arafah menuju Musdalifah dengan tenang, tanpa menyakiti orang lain.

Apabila sudah sampai Musdalifah, hendaklah dia meyakinkan dirinya bahwa dia sudah berada di Musdalifah dan didalam batas-batasnya. Karena apabila sampai dia bermalam di luar Musdalifah berarti dia meninggalkan salah satu diantara kewajiban haji.

Batas-batas Musdalifah dilihat dari papan-papan besar yang tertulis awal Musdalifah dan akhir Musdalifah, dan juga dilihat dari lampu-lampu yang terang yang berada di Musdalifah.

Yang pertama dilakukan ketika seseorang sampai Musdalifah adalah shalat maghrib dan shalat Isya dijama’ qoshor dengan 1 adzan dan 2 iqomah, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sama saja apakah dilakukan shalat maghrib dan isya tersebut ketika waktu shalat maghrib atau ketika waktu shalat isya. Dan tidak ada disana shalat apapun diantara shalat maghrib dan isya.

Apabila takut baru sampai Musdalifah setelah pertengahan malam maka shalat di perjalanan, dan tidak boleh dia mengakhirkan shalat sampai setelah pertengahan malam.

Termasuk kesalahan seorang jamaah ketika sampai Musdalifah dia langsung mencari kerikil. Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak dicarikan kerikil kecuali ketika beliau Shalallahu Alaihi Wassalam akan meninggalkan Musdalifah di pagi hari.

Tidak boleh melakukan thawaf ifadhah dan melempar jumroh aqobah sebelum pertengahan malam.

Orang yang meninggalkan Musdalifah sebelum pertengahan malam maka diharuskan membayar dam.

Setelah shalat isya, seseorang beristirahat sampai subuh dan tidak mengisi malam tersebut dengan ceramah atau mencari kerikil.

Malam tersebut tidak ada ibadah yang khusus kecuali shalat witir yang biasa dilakukan oleh seseorang di malam yang lain, maka boleh dia melakukan shalat witir karena tidak ada dalil yang melarang, dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tidak meninggalkan shalat witir baik ketika safar maupun ketika mukim.

Setelah terbit fajar maka dia shalat subuh diawal waktu, kemudian menyibukkan diri dengan dzikir dan doa sampai langit menguning sekali.

Ketika berdoa di Musdalifah disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 35 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Amalan Pada Tanggal 8 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah

Halaqah 35 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Amalan Pada Tanggal 8 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah

Beberapa perkara dan hukum yang berkaitan amalan pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) dari Mekkah dan perjalanan menuju ke Mina :

1.     Penduduk Mekkah dan jamaah Haji selain orang-orang Mekkah yang sudah berada di Mekkah, mereka melakukan ihram haji pada tanggal 8 Dzulhijjah dari tempat tinggal mereka masing-masing diwaktu Dhuha kemudian menuju ke Mina, karena inilah yang dilakukan oleh para Sahabat rhadiyallahu anhum.

2.     Dinamakan hari tersebut dengan hari tarwiyyah dari kata rowwa-yurowwi tarwiyatan, yaitu memberi minum. Karena pada hari itu mereka mempersiapkan minum untuk para jemaah haji yang akan melakukan amalan-amalan haji di Mina maupun di Arafah.

3.     Boleh seseorang mengakhirkan ihrom pada tanggal 9 Dzulhijjah.

4.     Apabila datang waktu Dhuha tangal 8 Dzulhijjah berarti sudah selesai waktu untuk Tamattu’. Artinya orang yang memasuki Kota Mekkah tanggal 8 waktu Dhuha berarti sudah tidak bisa Tamattu’. Dan kewajiban dia apabila sebelumnya sudah terlanjur niat untuk Tammatu’ adalah merubah niat dari Tamattu’ menjadi Haji Qiran.

5.     Orang yang sudah berada di Mina sebelum tanggal 8 maka dia berihrom di Mina dan tidak usah pergi ke Mekkah untuk ber ihrom di sana.

6.     Orang Mekkah tidak diharuskan pergi ke Ka’bah untuk Thawaf Wada sebelum Haji atau untuk ihrom dari sana karena para sahabat tidak melakukan demikian.

7.     Disunnahkan untuk mandi kemudian melakukan seperti ketika ihram umroh kemudian mengatakan labbaika hajjan.

8.     Memperbanyak membaca talbiyyah menuju ke Mina dan mengeraskannya bagi laki-laki.

9.     Sesampainya di Mina jamaah haji melakukan shalat dzuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh, di qashar untuk yang 4 rakaat dan tidak dijama’. Artinya dikerjakan di waktu masing-masing, karena inilah yang dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabatnya.

10. Jamaah Haji baik penduduk Mekkah maupun selain mereka ketika berada di Mina meng-qashar shalat karena Nabi tidak menyuruh para Sahabat dari penduduk Mekkah untuk menyempurnakan shalatnya. Umar Bin Khathab dahulu mengimami penduduk Mekkah shalat 2 rakaat (yaitu mengqashar) kemudian ketika selesai beliau mengatakan : “Wahai Penduduk Mekkah sempurnakanlah shalat kalian, sesungguhnya kami sedang safar”. Kemudian ketika beliau shalat 2 rakaat di Mina tidak sampai kabar kepada kami bahwa beliau mengatakan yang demikian. Maksudnya ketika shalat 2 rakaat di Mina beliau (Umar bin Khathab) tidak memerintah orang Mekkah yang sedang melakukan Ibadah Haji untuk menyempurnakan shalat sebagaimana ketika beliau di Mekkah.

11. Jamaah haji dari Mekkah meng-qashar shalat bukan karena safar, tetapi karena ini adalah Nusuq, yaitu memang karena cara ibadahnya demikian.

12. Orang Mekkah yang berada di Mina tetapi tidak Haji maka tidak boleh meng-qashar shalat.

13. Bermalam di Mina tanggal 9 (malam Arafah) hukumnya mustahab / dianjurkan. Ibnu Mundzir menyebutkan ijma’ para Ulama bahwa orang yang tidak melakukannya (tidak bermalam di Mina pada malam Arafah) dia tidak terkena hukuman.

Ust Abdullah Roy

Mahazi 33 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Sa’i

Halaqah 33 Mahazi Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Sa’i

1.     Orang yang Ifrad dan Qiran boleh melakukan Sa’i setelah Thawaf Qudum atau Thawaf Kedatangan atau mengakhirkan Sa’i sampai setelah Thawaf Ifadhah. Dahulu Nabi Shalallalu Alaihi Wassalam berhaji Qiran dan  melakukan Sa’i antara shafa dan Marwa setelah melakukan thawaf qudum, sebagaimana Hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah

(note :

–  Haji Ifrod, yaitu seseorang yang berihrom dari Miqot untuk Haji saja.

– Haji Qiron adalah seseorang berihrom dengan haji dan umroh sekaligus dari Miqot)

2.     Sa’i dilakukan 7 kali putaran, dimulai dari Shafa dan diakhiri dengan Marwah. Dari Shafa ke Marwah dihitung 1, dan dari Marwah ke Shafa dihitung 1.

3.     Tidak ada disana doa yang khusus ketika Sa’i. Seseorang ketika Sa’i membaca doa dan dzikir yang mudah baginya

4.     Tidak disyariatkan suci ketika Sa’i karena tidak ada dalil yang menunjukkan demikian. Berkata Ibnu Mundzir rahimahullah didalam kitab beliau : “Dan mereka ber-ijma bahwasanya seandainya seseorang melakukan Sa’i antara Shafa dan Marwa maka yang demikian sudah mencukupi.

5.    Asal ibadah Sa’i adalah apa yang dilakukan Hajar Ibu Ismail sebagaimana datang kisahnya dalan shahih al-Bukhari. Berkata Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam “Maka yang demikian adalah asal Sai manusia antara Shafa dan Marwah.”

6.     Ibadah Sa’i tidak dilakukan kecuali ketika Haji dan Umroh. Sa’i adalah rangkaian ibadah haji dan umroh, bahkan merupakan RUKUN didalam ibadah haji dan umroh, dan tidak boleh dilakukan secara tersendiri. Tidak ada disana Sa’i sunnah, dan ini termasuk yang membedakan antara Sa’i dan Thawaf.

7.     Yang lebih utama adalah berturut-turut antara Thawaf dengan Sa’i. Artinya seseorang setelah melakukan Thawaf hendaknya langsung melakukan Sa’i dan tidak mengakhirkannya.

Ust Abdullah Roy

Silsilah 30 Mahazi adalah Beberapa Perkara dan Hukum Yang Berkaitan Dengan Thawaf bag 1

Halaqah 30 Beberapa Perkara dan Hukum Yang Berkaitan Dengan Thawaf bag 1

Diantara beberapa perkara dan hukum yang berkaitan dengan tahwaf :

1.    Thawaf adalah ibadah yang tidak dilakukan kecuali di Ka’bah dan tidak boleh dilakukan thawaf di kuburan atau tempat lain selain di Ka’bah

2.    Thawaf ada diantaranya yang merupakan rukun seperti thawaf Ifadhah dan ada diantaranya yang sifatnya wajib seperti thawaf Wada, dan ada diantaranya yang sifatnya sunnah seperti thawaf-thawaf sunnah.

3.    Keutamaan thawaf sebagaimana diucapkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam : “Barangsiapa yang thawaf dirumah Allah dan shalat 2 rakaat maka dia seperti seseorang yang membebaskan seorang budak” (HR Ibnu Majjah, shahih)”.

4.    Disunnahkan bagi seseorang ketika thawaf mengusap rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani. Seorang laki-laki pernah berkata kepada Abdullah Ibnu Umar : “Wahai Abu Abdurrahman, aku tidak melihatmu mengusap kecuali 2 rukun ini. Maka Abdullah Ibnu Umar beliau mengatakan : Aku mendengar Rasullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

 sesungguhnya mengusap keduanya menggugurkan dosa-dosa’ (HR An-Nasa’i. hasan)

5.    Thawaf dilakukan 7 putaran. Dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad. Tidak boleh kurang dari 7 putaran, dilakukan dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun dari hadats besar, dan dilakukan dengan menjadikan Ka’bah disebelah kiri seseorang.