Tag Archives: Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 09 Muharam 1439 H / 29 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-3
~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwāt, kita masih melanjutkan hadits yang ke-6 bagian ke-3.

Kita melanjutkan sifat-sifat nifaq ‘amali (nifaq kecil) dan kita masuk pada sifat yang ke-2.
?Yang kedua | Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

“Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.”

Penyelisihan janji ada 3 model:

– Pertama, dia berjanji dan dalam niatnya dia tidak akan menepati janji tersebut.

Dan inilah yang merupakan sifat munafiq, kenapa?

Karena zhahirnya menyelisihi batinnya.

Dia berjanji akan melakukan demikian tapi di dalam hatinya, “Saya tidak akan melakukan.”

Ini jelas merupakan kemunafikan, ini adalah perbuatan yang sangat buruk.

– Adapun yang kedua, yaitu dia berjanji kemudian di dalam hatinya dia akan memenuhi janji, namun qodarallāh, setelah itu dia tidak jadi (menyelisihi janji) karena ada udzur.

Maka ini sama sekali bukan sifat kemunafikan dan orang ini sama sekali tidak berdosa, kenapa?

Karena:
1. Dia sudah berniat untuk memenuhi janji.
2. Dia menyelisihi janji tersebut karena ada udzur.

– Ada lagi yang ketiga, seseorang berjanji dan dalam niatnya akan memenuhi janji tersebut, kemudian akhirnya dia tidak memenuhi janji tersebut namun tanpa udzur.

Apakah orang ini berdosa dan termasuk dalam sifat-sifat orang munafik?

Jawabannya, Wallāhu A’lam bish Shawwab, ini tidak termasuk sifat orang munāfik, karena tadi kita katakan bahwa: “Seluruh sifat-sifat nifaq ‘amali kembali kepada peneyelisihan zhahir dan batin.”

Dan ini zhahir dan batinnya sudah benar, dia berjanji dan dalam hatinya juga akan memenuhi, akan tetapi setelah itu tiba-tiba dia menyelisihi.

Dia tidak memenuhi janjinya tanpa ada uzdur sama sekali.

Apakah dia berdosa atau tidak maka ada khilaf di kalangan para ulama.

Jumhur ulama seperti madzhab 3 imam, yaitu Abu Hanifa, Syafi’i dan Imam Ahmad, bahwasannya orang ini tidak berdosa karena telah datang dalam suatu hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا وَعَدَ الرَّجُلُ أَخَاهُ – وَمِنْ نِيَّتِهِ أَنْ يَفِيَ لَهُ – فَلَمْ يَفِ وَلَمْ يَجِئْ لِلْمِيعَادِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

“Kalau seseorang sudah berjanji kepada saudaranya, kemudian dia berniat untuk memenuhi janjinya, kemudian dia tidak memenuhi, maka dia tidak berdosa.”

(Hadits dha’if riwayat Abu Daud)

Ini adalah dalil jumhur bahwasannya orang ini tidak berdosa, namun hadits ini adalah hadits yang lemah (dha’if).

Oleh karenanya, kita katakan bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat sebagian ulama dan pendapat sebagian salaf seperti: ‘Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri dan Ishaq bin Rahuyah dan juga pendapat Zhahiriyyah, yaitu orang ini berdosa, kenapa?

Karena dia sudah berjanji dan kewajiban bagi dia adalah memenuhi janji.

Dia tidak berdosa kalau ada udzur tetapi kalau tidak ada udzur maka tidak boleh.

Dan dia bertasyabuh dengan orang-orang munafiq. Meskipun tidak kita katakan itu adalah sifat munafik, namun ada kemiripan dengan sifat orang munafik yang kalau berjanji diniatkan sejak awal untuk menyelisihinya.

Bedanya, niatnya adalah untuk memenuhi namun pada prakteknya dia tidak memenuhi. Maka ada kemiripan dengan orang munafik.

Maka hukumnya haram meskipun tidak sampai pada derajat kemunafikan.
?Yang ketiga | Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.”

Yaitu jika dia besengketa atau masuk dalam persidangan dengan saudaranya maka dia melakukan kefajiran (keluar dari jalan kebenaran), misalnya dengan mendatangkan bukti-bukti yang batil (tidak benar).

Ini adalah sifat kemunafikan.

Dia tahu bahwa bukti-bukti itu tidak benar. Atau melakukan pengakuan yang tidak benar.

Intinya, kalau dia bersengketa dia berusaha bagaimana lawan sengketanya itu kalah bahkan dengan perkara-perka yang dusta, yang tidak benar.

Maka inilah sifat orang munafik.
?Yang keempat | Kalau membuat kesepakatan maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا آحَدَّ غَدر

“Kalau dia sudah membuat kesepakatan bersama maka dia menyelisihi kesepakatan tersebut.”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan agar kita memenuhi kesepakatan kita. Allāh berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Penuhilah kesepakatan (janji) karena sesúngguhnya kesepakatan (perjanjian) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS Al Isrā’: 34)

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firman yang lain:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا

“Penuhilah janji kepada Allāh kalau kalian sudah berjanji, dan janganlah kalian membatalkan janji setelah kalian menekankan janji tersebut.”

(QS An Nahl: 91)

Oleh karenanya dalam Shahihain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنٍ

“Setiap orang yang berkhianat (menyelisihi kesepakatan) akan diberikan bendera baginya pada hari kiamat untuk dipermalukan (dikenal) sehingga orang-orang akan mengenali (melihat bendera tersebut), maka dikakatakan, ‘Inilah pengkhianatan Si Fulan yang tidak menjalankan perjajian’.”

(HR Muslim 1736, Bukhari 6966)

Tentu bisa kita bayangakan, kalau terjadi perjajian antara seorang muslim dengan seorang kafir, kemudian dia mengkhianati perjajian tersebut, kemudia dia bunuh orang kafir tersebut.

=> Sebagaimana misalnya: ada negeri muslim dengan negeri kafir mengadakan perjanjian bahwasannya mereka gencatan senjata, tahu-tahu ada muslim yang menyelisihi perjajian ini, kemudian dia bunuh seorang kafir, maka muslim ini tidak akan mencium bau surga.

Dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad (yaitu orang kafir yang antara negeri muslim dan kafir tersebut ada perjanjian gencatan senjata/ perjanjian damai, ternyata ada seorang muslim membunuh seorang kafir dari negara tersebut), maka orang muslim ini tidak akan mencium bau surga.”

(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah nomor 2686)

Padahal ini kesepakatan seorang muslim dengan kafir, bagaimana lagi kalau kesepakatan seorang muslim dengan muslim yang lainnya?
?Yang kelima | Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان

“Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.”

Yaitu, seseorang diberi amanah (titipan) misalnya kemudian dia tidak mengembalikan titipan (amanah) tersebut.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allāh telah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut.”

(QS An Nisā’: 58)

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Sampaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu (yaitu mengembalikan amanah tersebut) dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.”

(Hadits shahih riwayat Imam Abu Daud nomor 3534)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dari sifat-sifat munafiq ini sejauh-jauhnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب
________

munafik3

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Muharam 1439 H / 28 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-2
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNĀFIQ (BAGIAN 2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt, kita masih melanjutkan hadīts yang ke-6.

Pada pertemuan yang lalu telah kita jelaskan tentang nifāq akbar atau disebut juga dengan nifāq I’tiqadi, yaitu nifāq yang berkaitan dengan keyakinan dengan menyembunyikan kekufuran dan menampakkan ke-Islaman.

Adapun bagian ke-2 yang akan bahas adalah:

▪Nifāq kecil/nifāq ashghar

Yaitu nifāq kecil (Nifāq al ‘amali) yaitu nifāq yang berkaitan dengan amal.

Artinya, hatinya beriman hanya saja amalannya menyelesihi batinnya, namun tidak berada pada derajat kekufuran.

Inilah yang disebutkan dalam hadīts yang sedang kita bahas, nifāq ‘amali.

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. وإِذَا احَدَّ غَدر

Tanda-tanda Munāfiq ada 3, yaitu:

① kalau berbicara berdusta
② kalau dia berjanji menyelisihi
③ kalau diberi amanah dia berkhianat.

Ada tambahan dalam riwayat yang lain:

④ kalau sudah melakukan kesepakatan dengan orang lain maka dia menyelisihi (menkhianati) kesepakatan tersebut.
⑤ kalau dia bersengketa maka dia melakukan fujur yaitu keluar dari jalan kebenaran.

Inilah 5 ciri nifāq al ashghar, nifāq ‘amali.

Dan kalau kita perhatikan, 5 ciri tersebut seluruhnya kembali kepada satu muara yaitu penyelisihan zhahir dengan batin, inilah yang disebut dengan nifāq ‘amali.

Semakin banyak sifat tersebut pada seseorang maka semakin tinggi kualitas kemunāfikannya.

Pertanyaannya, apabila kita dapati 5 ciri tersebut ada pada dirinya, apakah kita katakan dia telah Munāfiq dengan nifāq akbar?

Kalau ngomong selalu berdusta, kalau berjanji selalu menyelisihi, kalau diberi amanah selalu berkhianat, kalau membuat kesepakatan selalu menyelisihi dan kalau bersengketa selalu melakukan kefujuran.

Apabila 5 ciri tersebut ada pada dia, Apakah dikatakan dia telah kāfir ?

Jawabannya: Tidak

Tetap dikatakan dia telah Munāfiq ‘amali (nifaq kecil) selama imannya ada dalam hatinya. Tetap dia melakukan nifāq kecil bukan nifāq akbar.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perhatikan, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendatangan kalimat: “Idza” (kalau)
√ kalau dia berbicara dia berdusta
√ Kalau di janji menyelisihi
Ini menunjukkan sifat yang SELALU dia lakukan.

Maka apabila ada seorang mukmin yang TERKADANG berdusta maka tidak dikatakan dia seorang munāfiq (Nifaq ‘amali).

Karena seorang mukmin terjerumus dalam kemaksiatan,
√ Terkadang dia berdusta,
√ Terkadang menyelisihi janji,
√ Terkadang melakukan kefujuran,
√ Terkadang dia mengkhianati amanah.
Ini tidak dikatakan dia munāfiq dan tetap dikatakan dia seorang mukmin nanum dia telah melakukan maksiat.

Berbeda dengan orang yang “selalu”, inilah yang disebut dengan orang munāfiq dengan nifāq ‘amali.

Jadi, dibedakan antara seseorang mukmin yang bersalah dengan seseorang yang munāfiq.

Kita bahas tentang 5 sifat tersebut.

?Yang pertama | Kalau dia berbicara dia berdusta

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Kalau dia berbicara dia berdusta.”

Ini adalah kegiatan dia.

Kenapa dikatakan sifat munāfiq ?

⇒ Karena dia mengetahui bahwasanya apa yang dia sampaikan itu dusta tetapi dia sampaikan juga dalam bentuk kebenaran (Jadi zhahirnya menyelisihi batinnya).

Batinnya tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikan secara zhahir sekan-akan kebenaran. Inilah yang merupakan sifat munāfiq.

Adapun dusta yang tidak sengaja di lakukan, misalnya :

? Seseorang menyampaikan kabar ternyata dia tidak tahu bahwa kabar tersebut dusta (belum sampai informasi kepada dia, telah terjadi perubahan bahwa yang dia sampaikan ternyata salah)

Maka orang ini tidak dikatakan mempunyai sifat munāfiq , kenapa?

Karena dustanya tidak disengaja.

Dan ini bisa terjadi pada seorang mukmin. Dia ditanya dengan suatu pertanyaan kemudian dijawab dengan tanpa berfikir sebelumnya ternyata jawabnya keliru.

?Misalnya dia ditanya:

“Apakah engkau telah menyampaikan salamku kepadanya?”

Kemudian dia langsung menjawab: “Sudah.”

Dia lupa, ternyata belum, ternyata yang sudah disampaikan adalah salamnya orang lain bukan salam orang tadi. Ini contoh dusta tidak disengaja dan bukan sifat munāfiq.

?Sifat munāfiq adalah penyelisihan antara zhahir dan batin (yaitu) sengaja berdusta.

Dia tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikannya secara zhahir dalam bentuk kebenaran.

Kita lanjutkan pembahasan sifat berikutnya pada pertemuan selanjutnya, In syā Allāh.

وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

munafik1

Riyā’ (Bagian 5)

? BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Muharam 1439 H / 26 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riyā’ (Bagian 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H05-5
~~~~~~~~

R I Y A ‘ (BAGIAN 5)
بِسْمِ اللَّهِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Pada pambahasan kali ini, kita akan membahas bagaimana kiat-kiat agar terlindung dari penyakit riya’.

Yaitu:

▪1. Yang paling penting adalah berdoa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan tulus dan serius minta kepada Allāh agar Allāh menjauhkan kita dari penyakit riya’.

Diantaranya adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allāh, aku berlindung kepada Engkau dari kesyirikan yang aku sadari dan aku berlindung kepada Engkau dari kesyirikan yang aku tidak sadari.”

(HR Bukhari)

Ini adalah doa agar terlindung dari riya’, kenapa?

Karena pintu-pintu riya’ sangatlah samar.

Betapa banyak pintu-pintu riya’ yang dialami seseorang dan dia masuk ke dalam pintu tersebut dan dia tidak sadar.

Dan syaithan memiliki berbagai macam metode (langkah-langkah) untuk menjerumuskan orang kedalam riya’.

Jadi kita harus berdoa kepada Allāh agar dijauhkan dari riya’.
▪2. Kiat yang kedua adalah berusaha untuk menyembunyikan amal shalih.

Kalau kita mempunyai amal shalih jangan kita ceritakan kecuali jika ada maslahatnya
Jadi, pada asalnya adalah kita sembunyikan.

Ingat, bahwasannya amal shalih yang dikerjakan dengan diam-diam pahalanya lebih besar daripada yang dikerjakan dengan kelihatan.

Dua-duanya kalau ikhlas akan dapat pahala, akan tetapi yang tersembunyi lebih baik.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Jika kalian menampakkan sedekah maka itu baik, namun jika kalian sembunyikan sedekah kalian dan kalian berikan kepada orang fakir maka itu lebih baik bagi kalian.”

(QS Al-Baqarah: 271)

Ini menunjukkan bahwa amal itu ada 2 derajat, yaitu:

– Amal yang ikhlas dengan dilihat oleh orang lain.

– Dan berikutnya adalah amal yang ikhlas (dan ini derajatnya lebih tinggi) yang disembunyikan atau tidak dilihat oleh orang lain.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam memuji bahwa diantara 7 orang yang dinaungi oleh Allāh pada hari kiamat, salah satu diantaranya adalah:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Seseorang yang dia berinfaq dengan diam-diam sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.”

(HR Bukhari 1423 dan Muslim 1031, dari Abu Hurairah)

Padahal tangan kiri adalah teman dekat tangan kanan. Dimana ada tangan kanan, tangan kiri selalu bersama dan bekerja sama. Namun untuk urusan amal shalih, tatkala tangan kanan bersedekah maka disembunyikan sampai-sampai sahabat dekatnya, teman sejawatnya yaitu tangan kiri tidak mengetahui.

Ini menunjukkan bahwa orang ini berusaha untuk menyembunyikan amal shalihnya.

Adalah perkara yang menyedihkan dijaman sekarang, kalau jaman dahulu, para salaf, mereka benar-benar berusaha menyembunyikan amal mereka. Adapun jaman sekarang, kita dapati orang-orang berusaha dengan berbagai macan metode dan uslub (gaya) untuk mengumbar, men-share, mem-publish amalan shalih mereka.

Dengan melalui Facebook, whatsapp dengan menjadikan sebagai DP (dispaly picture) pada Whatsapp dan macam-macamnya.

Dengan bergaya mengangkat kedua tangan sambil berdoa di depan Ka’bah kemudian difoto, “luar biasa”.

Dia tidak berdoa kepada Allāh, hanya bergaya berdoa dihadapan Allāh kemudian difoto. Kedua tangannya yang diangkat tersebut bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bukan ikhlas berdoa kepada Allāh, akan tetapi untuk riya’, agar difoto dan disebarkan ke teman-temannya.

Oleh karenanya seseorang harus berusaha untuk menyembunyikan amal shalihnya.

Kalau bisa, ketika dia umrah tidak ada yang tahu, berhaji tidak ada yang tahu, berjalan ke Masjid Nabawi tidak ada yang mengetahui.

Ini adalah sarana yang paling kuat agar kita terhindar dari riya’.

Seseorang hendaknya melatih diri agar qona’ah, merasa puas, jika yang tahu hanyalah Allāh. Kalau Allāh sudah tahu dia sudah merasa puas, sehingga dia tidak punya syahwat agar orang lain tahu amalan dia, cukup dia tahu bahwa Allāh sudah tahu.

Makanya sebagian orang “luar biasa”, semua kebaikkan yang dia lakukan dia share.

Dia berbakti kepada orang tuanya, dia share. Padahal amalan ini adalah amalan yang luar biasa, tidak usah di-share, tidak usah digembar-gemborkan.

Dia baik sama istrinya, dia share, ini tidak perlu.

Seseorang hendaknya berusaha menjaga privasi dia, cukup Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang tahu. Dia boleh men-share, boleh menyampaikan kalau ada maslahatnya.

Akan tetapi kelau sekedar untuk memamerkan, agar orang lain tahu, maka ini adalah pintu besar yang dapat menjerumuskan orang kedalam riya’.

Oleh karenanya, menyembunyikan ibadah merupakan sarana yang kuat agar terhindar dari penyakit riya’.
▪3. Kemudian yang terakhir agar terhindar dari penyakit riya’, yaitu kita mengingat akan bahaya riya’ dan bahagianya orang ikhlas.

Bahaya riya’ sangat besar.

Orang yang riya’ di dunia tidak akan pernah puas. Dia ingin dikomentari dan ingin dipuji. Tidak selamanya orang memuji kita, kadang-kadang mencela kita. Mungkin sekarang memuji kita dengan pujian yang habis habisan, akan tetapi kalau lagi bermasalah sama kita maka dia akan mencaci-maki dengan berlebih-lebihan.

Oleh karenanya, kalau hanya megharapkan pujian manusia maka ini adalah cita-cita yang tidak akan pernah tercapai.

Kalau ada yang memuji kita pasti juga ada yang mecela kita. Kalaupun dia memuji kita, tidak selamanya memuji kita.

Adapun mengharapkan semua orang memuji kita, maka ini hanya menimbulkan kekecewaan dan kesedihan. Orang yang seperti ini adalah orang yang gelisah karena yang dicari adalah pujian sehingga kalau tidak dia dapatkan diapun bersedih.

Adapun akibat riya’ di akhirat, sebagaimana telah dijelaskan, 3 orang yang pertama kali diadzab di neraka Jahannam adalah orang-orang yang riya’ semuanya.

Yang berjihad karena riya’, yang belajar dan mengajarkan ilmu (berdakwah) karena riya’ dan yang bersedekah karena riya’.

Maka hendaknya kita merenungkan akibat riya’ di dunia dan di akhirat, ini akan menjauhkan dari penyakit riya’.

Kemudian, kita juga merenungkan tentang kebahagiaan orang yang ikhlas.

Orang yang ikhlas adalah orang berbahagia. Dia tahu bahwa Allāh mengetahui amalan dia. Dia berbahagia meskipun orang lain tidak mengetahui amalan dia.
Dia tentram, kenapa?

Karena dia tahu bahwa:

– Penciptanya, Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang akan memberi ganjaran telah mengetahui dia beramal shalih.

– Penciptanya, Allāh Subhānahu wa Ta’āla, telah tahu dia berbuat baik kepada orang tuanya.

– Tahu bahwa ia telah baik kepada istrinya.

Maka ini mendatangkan kebahagiaan dalam dirinya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang paling berbahagia, dia tidak peduli dengan komentar orang. Yang dia pedulikan adalah komentar Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perlu saya ingatkan. Kita berusaha ikhlas namun Allāh berfiman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allāh tidak membani seseorang diluar kemampuannya.”
(QS Al-Baqarah: 286)

Jika kita sudah berusaha ikhlas dengan semaksimal mungkin, lantas mungkin kita tejerumus ke dalam riya’ dalam sedikit kesalahan, mungkin kadang niat kita tidak beres, kita segera bertaubat kepada Allāh. Mudah-mudahan Allāh mengampuni dosa-dosa kita tersebut, karena Allāh mengetahui bahwa kita telah berusaha.

Tidak ada yang menjamin kita selalu ikhlas, akan tetapi kalau kita berusaha maka Allāh megetahui usaha kita dan (insya Allāh) Allāh akan memaafkan kekurangan kita yang di luar dari kemampuan kita.

والله تعال أعلمُ بالصواب
وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

riya5

Riyā’ (Bagian 4)

? BimbinganIslam.com
Senin, 05 Muharam 1439 H / 25 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riyā’ (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H5-4
~~~~~~~~

R I Y Ā ‘ (BAGIAN 4)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Diantara hal yang menjadikan Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam sangat mengkhawatirkan Riyā’ menimpa kaum muslimin diantaranya adalah karena pintu-pintu Riyā’ (hal-hal yang menimbulkan riyā’) sangatlah banyak.

Oleh karenanya riyā’ bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Namun perlu saya ingatkan kepada para Ikhwān dan Akhwāt, tatkala kita ingin menjelaskan bentuk-bentuk riyā’ bukan bertujuan untuk menuduh orang riyā’.

Kita tidak boleh menuduh orang lain riyā’, karena riyā’ adalah masalah hati dan hati adalah urusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kita tidak boleh menerka-nerka, kita tidak mengetahui isi hati manusia.

Namun Kita membicarakan bentuk-bentuk riyā’ adalah untuk memperingatkan diri kita sendiri agar jangan sampai terjerumus ke dalam bentuk-bentuk riyā’.

Diantara yang disebutkan oleh para ulamā, diantara bentuk-bentuk riyā’ adalah :

√ Riyā’ yang jelas
√ Riyā’ tersembunyi

▪ Riyā’ yang nampak jelas,

Contohnya:

↝ Menampakkan badan dalam kondisi lemas dipagi hari agar orang tahu bahwa dia semalam telah shalāt malam.
↝Atau sengaja menampakkan bibir dalam kondisi kering untuk menunjukkan bahwa dia sedang berpuasa sunnah.

Sekali lagi saya ingatkan, kita tidak sedang menuduh orang, tapi kita ingatkan diri kita jangan sampai melakukan demikian.

Adapun orang lain, mungkin ada yang benar-benar dalam kondisi lemas di pagi hari, dia bukan karena riyā’ tetapi karena kondisinya seperti itu.

Atau bibirnya kering bukan untuk menunjukkan dirinya berpuasa, tetapi memang kondisinya seperti itu, sehingga dia tidak bermaksud menunjukan tetapi memang waktu dia puasa bibirnya dalam kondisi kering.

Namun pembicaraan kita adalah agar kita tidak melakukannya karena riyā’.

Contoh lain:

↝Seseorang yang sengaja menunjukkan ibadahnya dengan kondisi tubuhnya, misalnya sengaja menghitamkan jidatnya supaya orang tahu bahwa dia banyak sujud dan lain sebagainya.
↝Atau dia sengaja misalnya membawa tasbih dengan selalu berdzikir supaya orang tahu bahwasannya dia suka berdzikir.
↝Atau dia menggerakkan lisannya di hadapan banyak orang supaya orang tahu bahwa dia rajin berdzikir.

Ingat ! Kembali lagi saya ingatkan bahwa ini semua berkaitan dengan diri kita, dan kita tidak boleh menuduh orang lain. Karena orang lain melakukannya bisa jadi ikhlas karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Diantaranya juga misalnya,

↝ Tatkala melihat kemungkaran maka (dia) menunjukkan kemarahan agar orang tahu bahwasanya dia benci dengan kemungkaran akan tapi dia lakukan karena riyā’.

Ini semua adalah riyā’ yang nampak jelas.

▪Ada riyā’ yang juga berbahaya yaitu riyā’ yang tersembunyi.

Ini adalah cara halus dari syaithān untuk menjerumuskan seseorang ke dalam riyā’.

Contohya seperti:

↝Seseorang menceritakan keburukan orang lain (misalnya) orang lain itu pelit atau malas shalāt malam, malas nuntut ilmu sehingga pendengar (orang yang diajak berbicara) tahu bahwasannya dia tidak seperti orang yang sedang dia bicarakan (cela) tersebut.

Dia mengatakan bahwa orang itu malas shalāt malam, tidak pernah shalāt berjama’ah, setiap shalāt subuh saya tidak pernah lihat dia. Tetapi maksud dia berbicara seperti itu untuk riyā’ untuk menunjukkan:

√ Kalau saya shalāt subuh berjama’ah
√ Kalau saya rajin shalāt malam
√ Kalau saya rajin menuntut ilmu

Orang yang mencela saudaranya seperti ini dalam rangka riyā’ maka dia terjerumus ke dalam 2 kesalahan:

① Dia mengghībah saudaranya. Saudaranya menjadi korban dalam rangka untuk mengangkat dirinya.

② Pendengar akan memahami bahwa orang ini tidak seperti orang yang dia cela dan ini namanya riyā’ terselubung.

Riyā’ terselubung lainnya adalah:

↝ Menceritakan kenikmatan dunia yang banyak dan berlebih-lebihan yang dia dapat.

Seperti,

Dia mengatakan, “Alhamdulillāh, saya dimudahkan oleh Allāh.”

Kita bersyukur kepada Allāh bagus, akan tetapi, kalau kita menceritakan kenikmatan, dimudahkannya dan macam-macam karena ingin menunjukkan seakan-akan kita orang shalih, sekan-akan kita wali Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga dimudahkan, ini juga adalah riyā’

Kalau niatnya karena benar-benar bersyukur tidak mengapa, tetapi jika ada udang dibalik batu, niatnya menceritakan semua ini agar orang tahu bahwa dia wali, dia dimuliakan oleh Subhānahu wa Ta’āla, ingin mengangkat derajatnya, ini juga adalah riyā’.

· Contoh riya’ terselubung lainnya adalah:

↝ Seseorang memuji gurunya setinggi langit dengan mengatakan bahwa gurunya orang shalih, alim dan macam-macam dengan maksud agar dia mendapat imbasnya yaitu mengangkat derajat dirinya.

“Itu guru saya, saya muridnya.”

Dia mengangkat derajat gurunya setinggi langit agar dia sebagai murid juga terangkat. Ini juga riyā’ secara terselubung.

↝ Atau sebaliknya, seseorang merendahkan diri dengan mengatakan, “Saya ini begini dan begitu,” terkadang menyebutkan sebagian kekurangannya. Tujuannya agar dia dikatakan sebagai orang yang tawadhu.

↝Seseorang menyampaikan bahwa dia berhasil berdakwah dan yang menghadiri dakwah banyak.

Sebenarnya, kalau kita senang tatkala berdakwah yang mendengar dakwah kita banyak ini tidak apa-apa karena ini merupakan kenikmatan dari Allāh. Akan tetapi terkadang ada niat buruk dalam diri kita, (yaitu) ingin menyampaikan bahwa saya pandai dalam menyampaikan, banyak yang datang itu karena sayanya, bukan karena Allāh.

Ini juga riyā’ yang terselubung dan banyak lagi bentuk-bentuk riyā’ terselubung.

Oleh karenanya kita berdo’a kepada Allāh, semoga kita dijauhkan dari segala pintu-pintu riyā’ karena Syaithān membuka pintu-pintu riyā’ sangatlah banyak.

Itulah kenapa Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhawatirkan orang-orang shalih terjerumus kedalam riyā’.

Hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bisa menjauhkan kita dari penyakit riyā’.

Wallāhu Ta’ala A’lam bish shawab

 

riya4

Riya’ (Bagian 3)

 

? BimbinganIslam.com
Sabtu, 04 Dzulhijjah 1438 H / 26 Agustus 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riya’ (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H5-3
~~~~~~~~

R I Y A ‘ (BAGIAN 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwat, kita lanjutkan pembahasan kita pada hadīts yang ke-5, tentang sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ

“Bahwasanya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil yaitu riya’.”

Disini nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil (riya’)

Kenapa, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan demikian?

Karena, riya’ adalah penyakit yang menimpa orang-orang yang shalih.

Kalau para pelaku maksiat, apa yang mau mereka riya’kan ?

Seperti ↝ tukang minum khamr, tukang narkoba, orang yang meninggalkan shalāt, orang yang memutuskan silaturahmi.

Apa yang mau mereka banggakan? Apa yang mau mereka riya’kan?

Justru penyakit riya’ ini, penyakit yang menimpa orang-orang yang shalih, oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ

Ini khitat (pembicaraan Nabi) ditujukan kepada para shahābat karena para shahābat adalah orang-orang yang shalih.

Oleh karenanya riya’adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang yang shalih yang banyak ibadahnya.

Dalam suatu hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian, wahai para shahābatku tentang yang lebih aku khawatirkan kepada kalian daripada fitnahnya alMasihi adDajjāl?”

Para shahābat berkata, “Tentu ya Rasulullāh, apakah itu?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Syirku khafiy (syirik yang samar).”

Kemudian Rasulullāh mencontohkan:
“Seseorang berdiri kemudian dia shalāt dan dia baguskan shalātnya, karena dia tahu ada orang yang melihatnya.”

(HR Ibnu Mājah no. 4204, dari hadīts Abū Sa’id al Khudri. Hadīts ini hasan-Shahīh at Targhib wat Tarhib no. 30)

Ini dia riya’, dia shalāt kemudian dia baguskan shalātnya

Kenapa?

Karena ada orang yang memperhatikan dia sedang shalāt sehingga dia ingin mencari perhatian orang tersebut.

Karenanya ini lebih ditakutkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam daripada fitnah Dajjāl.

Padahal kita tahu fitnah Dajjāl adalah fitnah yang paling berbahaya namun meskipun dia fitnah yang sangat berbahaya,

⑴ Dia hanya muncul di akhir jaman dan cuma sekali.
⑵ Orang yang mengikuti Dajjāl adalah bukan orang-orang yang shalih.

⇒ Pengikut Dajjāl seperti pelaku maksiat, atau orang-orang kāfir, Munāfiq atau Yahudi atau orang-orang yang imannya lemah.

Oleh karenanya fitnah riya’ lebih ditakuti oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam daripada fitnah Dajjāl, kenapa ? Karena fitnah Dajjāl hanya terjadi akhir zaman sedangkan fitnah riya’ terjadi setiap saat, selama hidup seorang muslim maka dia terus berjuang untuk melawan riya’-riya’ ini.

Dari sinilah kita mengerti kenapa Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah riya’.”

Dari sini kita tahu bahwasanya kita sebagai seorang muslim harus takut dengan penyakit ini karena Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Aku takut.”

Maka jangan kita meremehkan masalah riya’.

Oleh karenanya kita dapati orang-orang yang paling takut dengan riya’ adalah orang-orang yang paling shalih yang selalu mengecek niat mereka, selalu memperhatikan niat mereka.

Mereka tidak “PD” bahwa mereka ikhlas dan selalu memperhatikan khawatir mereka terjerumus kedalam riya’.

Kenapa?

Karena kalau riya’ maka selesai sudah, ibadahnya tidak diterima.

Syaithān tidak peduli dengan seorang yang rajin ibadah, rajin bersedekah, berjihad dan macam- macamnya, tetapi syaithān cukup menggelitik hatinya agar dia riya’.

Dimasukkan ke dalam hatinya niat yang busuk, yaitu agar dihormati oleh masyarakat, agar dia diakui.

Maka tatkala itu hancurlah ibadahnya. Padahal dia sudah berkorban begitu banyak.

Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah menjelaskan bahwasannya:

“Sesunguhnya orang yang riya’ dalam ibadah tidak hanya rugi bahwa ibadahnya batal tidak diterima oleh Allāh tanpa ada dampak yang buruk, kalau seandainya riya’ itu ujung-ujung hanya dapat nol tidak ada dampak buruk (hilang pahalanya, pent) itu masih mendingan, akan tapi riya’, dan itu adalah itu syirik kecil.”

Jadi seorang yang sudah beribadah dia bukan cuma dapat nol tapi dapat minus bahkan minusnya besar, kenapa? karena riya’ adalah syirik ashgar yang termasuk dosa besar sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan yang lalu.

Dari sini kita mengerti, kenapa Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam khawatir para shahābatnya dan juga orang-orang shalih terkena penyakit riya’.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dari penyakit riya’.
وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

 

riya3

Riya’ (Bagian 2)

 

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 03 Dzulhijjah 1438 H / 25 Agustus 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riya’ (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H05-2
~~~~~~~~

R I Y A ‘ (BAGIAN 2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

 

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Kita melanjutkan pembahasan kita tentang Akhlaq yang buruk yang diantaranya adalah riya’.

Telah kita sebutkan bahwasanya riya’ adalah dosa besar.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa riya’ adalah dosa besar adalah banyak namun diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu.

Beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَي اسْتُشْهِدَ

Aku mendengar Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Orang-orang yang pertama kali akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla (diberi hukuman kepadanya) adalah :

▪ YANG PERTAMA | SEORANG YANG MATI SYAHID

فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا

“Orang yang mati syahīd inipun dihadirkan di hadapan Allāh kemudian Allāh mengingatkan dia tentang nikmat-nikmat yang pernah Allāh berikan kepada dia. Maka diapun ingat akan nikmat-nikmat tersebut.”

↝Seperti misalnya: hebat dalam bertempur, tubuh yang kuat, keberanian, pandai (lihai) dalam menggunakan senjata, ini semua nikmat bagi seorang mujahid.

Kemudian Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

(Karena nikmat-nikmat itu perlu disyukuri/wajib di syukuri dengan digunakan untuk perkara-perkara yang bermanfaat. Misalnya, keberanian, kejantanan, kehebatan, kekuatan tubuh ini harus di salurkan kepada perkara yang baik untuk bersyukur kepada Allāh).

Maka Allāh bertanya tentang nikmat tersebut, “فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ?” / “Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat yang aku berikan kepadamu ?”

Ia menjawab:

قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ

“(Yā Allāh) aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahīd.”

Allāh berkata:

كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ

“Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan telah dikatakan itu.”

Perhatikan disini!
Orang ini berperang untuk dikatakan bahwa dia adalah pemberani (pahlawan) dan tujuan dia terpenuhi, Allāh kabulkan.

Oleh karenanya, tatkala seseorang itu tersohor bukan berarti amal dia diridhai oleh Allāh, bisa jadi itu adalah istidraj.

Lihatlah orang ini, dia berperang supaya dikatakan pemberani dan Allāh kabulkan.

Orang yang melakukan amal shalih karena riya’, tujuannya ingin tersohor terkadang dikabulkan terkadang tidak dikabulkan.

Allāh telah mengatakan dalam Al Qurān :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

“Barangsiapa yang melakukan amal shalih karena mengharapkan dunia dan perhiasannya maka Kami akan berikan tujuan tersebut, dan mereka tidak akan dikurangi.”

(QS Hud :15)

Jadi Allāh mengatakan, barangsiapa beramal shalih mengharapkan dunia dan perhiasannya, maka kami akan penuhi ganjarannya di dunia apa yang mereka inginkan tersebut, dan mereka tidak ada dirugikan.

Lihatlah orang ini tatkala dia berjihad niatnya agar dikatakan sebagai pemberani dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini semua menunjukkan bahwasanya riya’ adalah perkara yang berbahaya, ketenaran adalah perkara yang berbahaya.

Bayangkan, orang ini rela mengorbankan perkara yang paling mahal dalam dirinya yaitu nyawanya, sekedar untuk diakui, dikatakan sebagai pahlawan.

Ini juga menunjukkan bahwa tatkala orang ingin dipuji ini adalah syahwat, sebagaimana yang Ibnu Taimiyyah katakan:

“Ketenaran itu adalah syahwat (syahwat khafiyah) yaitu syahwat yang tersembunyi.”

Sebagaimana seseorang mempunyai syahwat untuk makan, seorang lelaki punya syahwat terhadap wanita, demikian juga dengan riya’ (ingin terkenal) juga termasuk syahwat.

Sehingga orang rela untuk mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk memenuhi syahwatnya supaya dikenal sebagai pahlawan.

Padahal diapun akan terkenal setelah dia meninggal mungkin sebelum meninggal dia dikenal juga.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.”

▪YANG KEDUA | SESEORANG YANG BELAJAR ILMU AGAMA

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ

“Seseorang yang belajar ilmu (maksudnya ilmu agama) kemudian dia mengajarkan ilmu tersebut dan dia (juga) membaca Al Qurān.”

↝Yang kedua ini adalah seorang ustadz, orang yang berilmu, ini adalah amalan-amalan yang rawan untuk riya’

Seorang ustadz juga sangat mudah untuk terkena riya’, apalagi jika pandai membaca Al Qurān, cerdas, pandai berbicara (berorasi), suaranya bagus dan mungkin hapalannya kuat.

فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا,

“Maka Allāh hadirkan dia kemudian Allāh ingatkan dengan nikmat-nikmat yang Allāh berikan kepadanya tersebut dan dia pun ingat.”

Allāh bertanya:
فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟
“Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut.”
قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ,

Ia mengatakan:

“Aku belajar ilmu, akupun mangajarkannya, aku membaca Al Qurān, semua aku lakukan karena Engkau, Yā Allāh.”

Dia akui semua nikmat tersebut dan mengatakan, “Saya ceramah, saya mengajarkan ilmu, semua kerena Engkau, Yā Allāh.

قَال :َكَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ،
Maka Allāh berkata:

“Engkau dusta, engkau belajar ilmu supaya engkau dikenal sebagai orang alim dan engkau belajar Al Qurān supaya dikenal sebagai seorang qāri dan telah dikatakan itu.”

Ini berbahaya, ternyata seorang ustadz juga bisa masuk neraka Jahannam, bahkan yang pertama kali masuk.

Kenapa?

Karena niatnya tidak beres, dan seorang penuntut ilmu rawan atau mudah untuk sombong dan angkuh, mudah untuk riya’, mudah untuk bangga akan dirinya, untuk dikenal, maka ini menyebabkan dia masuk kedalam neraka.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.”

▪YANG KETIGA | SEORANG YANG ALLĀH BERI KELAPANGAN HARTA

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا,

“Seorang yang Allāh beri kelapangan harta. Allāh berikan kepada dia segala jenis harta mungkin rumah mewah, mobil mewah, kebun luas, sawah ladang, istana dan emas perak. Lalu orang ini dihadirkan lantas Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengingatkan tentang nikmat-nikmat tersebut, kemudian dia pun ingat.”

Pertanyaan berikutnya

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

“Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut.”

Kita ingat ! Seluruh kenikmatan yang kita miliki akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian dapatkan”

(QS At Takasur : 08)

Dia menjawab:

قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ

“Yā Allah, tidak ada satu jalan kebaikan pun yang Engkau suka agar aku berinfaq di dalamnya kecuali aku infaq-kan kerena Engkau”.

Artinya jika ada orang yang membangun mesjid dia bantu, sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin, ada orang bikin pondok dia bantu seluruhnya, dan dia katakan semua ini karena Allāh.

قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ,

“Engkau dusta, engkau melakukan semua ini supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang dermawan, dan telah dikatakan itu (engkau sudah dikenal sebagai seorang yang dermawan).”

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِِ

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) dan dilemparkam ke neraka Jahannam.”

(Hadīts riwayat Muslim no 1905)

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Hadīts ini sangat mengerikan, yaitu memberikan peringatan kepada orang-orang yang riya’, orang yang riya’ adalah orang yang akan sengsara di akhirat kelak.

Dan ini menunjukkan bahwa riya’ merupakan dosa besar karena bisa menyebabkan seseorang diseret ke dalam neraka Jahannam.

Demikian Ikhwān dan akhwat, kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.
والله أعلمُ بالصواب

 

riya2

Riya’ (Bagian 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 02 Dzulhijjah 1438 H / 24 Agustus 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 05| Riya’ (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H5-1
~~~~~~~~

R I Y A ‘ (BAGIAN 1)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat, kita lanjutkan pembahasan kita pada hadits yang ke-5.

وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ.” أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

Dari sahabat Mahmud bin Labid radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil yaitu riya’.”

(HR Ahmad dengan sanad hasan)

Hadits ini adalah hadits yang sangat penting yang menjelaskan akan salah satu akhlak yang buruk yaitu melakukan amal shalih karena riya’ (ingin dilihat oleh orang lain).

Masalah riya’ berkaitan tentang akhlak yang buruk kepada Allāh, bukan kepada manusia.

Kenapa?

Karena orang yang riya’ terkadang justru orang yang sangat baik akhlaknya kepada orang lain karena dia ingin mencari pujian dari manusia.

Bagaimana dia bisa dipuji kalau dia berakhlak buruk kepada manusia.

Dia akan menunjukkan akhlak mulianya mungkin dengan shalat, murah senyum dan mudah bersedekah. Akan tapi semuanya dilakukan bukan karena Allāh melainkan karena ingin dipuji oleh manusia.

Dikatakan syirik, kenapa?
Karena dia beribadah dengan mangambil tandingan terhadap Allāh.

Tujuan dia beribadah bukan karena Allāh tetapi karena makhluk, ingin dipuji oleh manusia, ingin disanjung, ingin dilihat, ingin dihormati dan diakui. Dari sisi inilah maka dikatakan bahwasannya riya’ adalah syirik kecil.

Ikhwan dam akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Dari hadits ini juga bisa mengambil kesimpulan bahwasannya syirik itu terbagi menjadi 2, yaitu syirik akbar (besar) dan syirik ashgar (kecil).

Perbedaannya adalah, kalau syirik akbar mengeluarkan seseorang dari Islam.

Barang siapa yang terjerumus ke dalam syirik besar maka amalannya akan terhapus seluruhnya, dia keluar dari Islam dan tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jadi orang yang syirik akbar akan terkena 3 musibah.

▪MUSIBAH YANG PERTAMA: amalannya akan gugur seluruhnya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Telah diwahyukan kepada engkau dan juga nabi-nabi sebelum engkau. Kalau engkau berbuat syirik (syirik akbar) maka akan gugur seluruh amalanmu, dan engkau sunguh-sungguh akan menjadi orang yang merugi (di neraka Jahannam.)”
(QS Az-Zumar: 65)

Berarti ini berlaku kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga nabi-nabi yang sebelumnya.

Demikian juga dalam ayat yang lain setelah menyebutkan para nabi Allāh mengatakan:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Kalau seandainya mereka berbuat kesyirikan maka akan gugur seluruh amalan yang telah mereka lakukan.”
(QS Al An’am: 88)

Ayat ini disampaikan kepada para nabi dan mereka tentunya tidak melakukan kesyirikan karena dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tetapi seandainya (maksudnya Allāh memberikan gambaran) Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, manusia yang paling mulia yang surga tidak akan terbuka kecuali diketuk oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, melakukan kesyirikan maka amalannya akan gugur apa lagi orang-orang yang kedudukannya di bawah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Seorang hambah, misalnya selama 60 tahun melakukan amal shalih, kemudian sebelum meninggal dunia dia melakukan syirik akbar, maka amalannya selama 60 tahun itu, baik dia haji, bersedekah, infaq dan berbakti kepada orang tua, seluruh amalannya tersebut akan gugur.

Kenapa?
Karena dia tutup amalannya dengan berbuat syirik akbar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

▪MUSIBAH YANG KEDUA: adalah dosanya tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa lainnya bagi siapa yang Ia kehendaki.”

(QS an-Nisā 48)

Kalau seseorang meninggal dunia dalam kondisi bermaksiat, misalkan dalam kondisi berzinah atau bunuh diri atau merampok kemudian meninggal dalam kondisi ditembak polisi, dia telah melakukan dosa besar dan sangat terancam dengan neraka Jahannam, akan tetapi masih ada kemungkinan Allāh akan mengampuninya.

Berbeda dengan tatkala meninggal dalam keadaan berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (syirik akbar), maka mustahil akan diampuni.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari ayat-ayat Allāh (mendustakan ayat-ayat Allāh) maka tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta bisa dimasukkan ke dalam lubang jarum.”

(QS Al-A’rāf: 40)

Ini adalah perkara yang mustahil, orang musyrik tidak mungkin akan masuk surga kecuali kalau onta bisa dimasukkan ke dalam lubang jarum.

▪MUSIBAH YANG KETIGA: akan kekal dalam neraka Jahannam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang melakukan kesyirikan kepada Allāh maka telah Allāh haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka Jahannam dan tidak ada penolong baginya.”

(QS Al-Maidah: 72)

Tiga musibah ini berkaitan, yaitu orang yang melakukan syirik akbar:
~ akan gugur seluruh amalnya
~ tidak akan diampuni oleh Allāh
~ maka menyebabkan dia kekal di neraka.

Sedangkan syirik kecil, yang gugur adalah amalan shalih yang berkaitan dengan syirik ashghar tersebut saja.

Misalnya seseorang bersedekah sebanyak 3 kali, yang pertama ikhlas, yang kedua riya’ kemudian yang ketiga ikhlas lagi, maka yang gugur hanya sedekah yang kedua saja, sedangkan yang pertama dan ketiga tidak gugur.

Akan tetapi meskipun demikian, syirik kecil juga merupakan dosa besar karena berkaitan dengan hak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya datang ancaman tentang orang yang riya’, sebagaimana hadits yang ada di Shahih Muslim dan yang lain yang menyebutkan bahwa ada 3 kelompok orang yang pertama yang akan diazab Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yaitu:
~ orang yang mujahid di jalan Allāh,
~ orang yang ‘alim dan
~ orang yang rajin bersedekah

akan tetapi amal shalihnya bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka mereka dimasukan ke dalam neraka jahannam.

Ini juga menunjukkan bahwa syirik kecil juga merupakan dosa besar meskipun dia disifati dengan syirik asghar (kecil), namun hakekatnya adalah dosa besar.

Demikin para Ikhwan dam akhwat.

Kita lanjutkan insya Allāh pada pembahasan berikutnya.

والله أعلمُ بالصواب
________

riya1