Tag Archives: Rajab

Isra’ Mi’raj (lagi)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 07 Rajab 1440 H / 14 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Isra’ Mi’raj
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H04
~~~~

ISRĀ’ DAN Mi’RĀJ

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Isrā’ dan Mi’rāj merupakan perjalanan malam yang dilakukan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari kota Mekkah menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Kemudian dari Baitul Maqdis naik hingga Sidratul Muntahā guna menerima perintah shalāt dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di Indonesia, sebagian kaum muslimin merayakan kejadian ini dan ada libur nasionalnya yang jatuh pada tangga 27 Rajab.

Pendapat ini merupakan pendapat Imām An Nawawi dalam kitāb Ar Raudhah. Namun sebenarnya permasalahan ini adalah permasalahan yang diperdebatkan dikalangan ulamā. Mereka berselisih pendapat tentang tahun kejadian Isrāi dan Mi’rāj maupun bulan terjadi Isrā’ dan Mi’rāj.

Dalam Fathul Barī, Ibnu Hajar, menyebutkan perbedaan pendapat ini.

Ada yang menyebutkan bahwa Isrāil dan mi’rāj terjadi pada bulan:

⑴ Rabiul Awwal (bulan ke-3) penanggalan Islām.

⑵ Rabiul Akhir (bulan ke-4) penanggalan Islām.

⑶ Bulan Ramadhān (bulan ke-9) penanggalan Islām.

⑷ Bulan Syawwāl (bulan ke-10) penanggalan Islām.

⑸ Bulan Rajab (bulan ke-7) penanggalan Islām.

Karena perbedaan yang sangat banyak ini, kemudian Syaikul Islām mengatakan yang maknanya :

وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ مَعْلُومٌ لَا عَلَى شَهْرِهَا وَلَا عَلَى عَشْرِهَا وَلَا عَلَى عَيْنِهَا، بَلِ النُّقُولُ فِي ذَلِكَ مُنْقَطِعَةٌ مُخْتَلِفَةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يُقْطَعُ بِهِ

“Dan tidak ada dalīl yang kuat yang mengabarkan tentang bulan dan tanggalnya terjadi Isrā’ Mi’rāj. Bahkan kabar-kabar tentang hal tersebut terputus dan berbeda-beda, sehingga tentang kapan terjadinya tidak bisa dipastikan.”

(Zadul Ma’ad 1/58)

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ibnu Rajab dalam Lathaif Al Ma’arif (1/121) juga mengatakan:

“Bahwa pada bulan Rajab ini ada riwayat yang menyatakan adanya kejadian besar Isrā’ Mi’rāj dan tidak ada hadīts shahīh yang berkaitan dengan hal tersebut.”

Kesimpulannya:

√ Kita mengimani Isrā’ Mi’rāj, namun tidak memastikan kapannya.

Kemudian pada Isrā’ dan Mi’raj ini ada pelajaran penting bagi kita:

⑴ Bahwa dalam ‘aqidah, ahlus sunnah wal jama’ah mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla berada di atas, dan beristiwā’ di atas ‘Arsy Nya, dan hal ini diselisihi oleh beberapa orang terkenal di indonesia ini.

⑵ Dan dalam Isrā’ dan Mi’rāj ini ada dalīl yang kuat untuk menyatakan hal tersebut.

Bahwa Allāh berada di atas, karena arti Mi’rāj secara istilah adalah perjalanan naik ke atas dari Baitul Maqdis hingga langit ketujuh atau Sidratul Muntahā.

Ini menjadi dalīl kuat bagi pendapat yang menyatakan Allāh berada di atas. Karena jika Allāh berada dimana-mana sebagaimana ‘aqidah sebagian orang, tentu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu Isrā’ dan Mi’rāj.

Beliau tidak perlu susah susah menaiki burāq kemudian naik kelangit.

Sehingga kita mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla berada di atas, bukan dimana-mana. Dan Allāh beristiwā di atas ‘Arsy Nya, dan hanya Allāh yang tahu hakikatnya.
Kita hanya diberi kabar dalam Al Qurān dan hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Maka kewajiban kita adalah mengimani, walaupun kita tidak tahu bagaimananya, karena jika diterangkan pun, mungkin akal kita tidak bisa membayangkannya, karena kita hanyalah makhluk Allāh yang sangat kecil lagi lemah.

Wallāhu A’lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Rajab 1440 H / 13 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H03
~~~~

Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Dalam sebuah artikel disebutkan:

“Sesungguhnya di Surga ada suatu sungai bernama Rajab, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab, maka akan diberi minum oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari sungai itu.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Begitu kata salah satu artikel yang menyebarkan keutamaan amalan ini, dengan menisbatkan hadītsnya kepada Imām Al Bukhāri dan Imām Muslim.

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Padahal tidak satupun hadīts dalam shahīh Bukhāri atau shahīh Muslim yang berbunyi seperti itu.

Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan:

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada hadīts yang menyebutkan tentang keutamaan amalan pada bulan Rajab, tidak pada puasanya, tidak pula pada puasa khususnya, begitu juga pada shalāt malam yang dilakukan secara khusus pada bulan tersebut, tidak ada satupun hadīts shahīh yang bisa dipakai untuk sandaran hukum.”

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Sehingga sudah sepantasnya seorang muslim, tidak perlu melakukan shalāt malam khusus pada bulan Rajab.

Semisal shalāt malam pada tanggal 27 Rajab, yang dianggap sebagian orang sebagai malam Isrā’ dan Mi’rāj.

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullāh pernah ditanya tentang puasa dan shalāt malam khusus pada tanggal 27 Rajab.

Maka beliau menjawab dengan mengatakan:

“Mengkhususkan tanggal 27 Rajab dengan puasa dan shalāt adalah kebid’ahan dan semua kebid’ahan adalah kesesatan.”

(Majmu’ fatawā Ibnu ‘Utsaimin juz 20/440)

Namun jangan disalahpahami bahwa tanggal 27 Rajab tidak boleh shalāt malam atau tidak boleh puasa.

Bukan seperti itu maksudnya, yang tidak diperbolehkan adalah mengkhususkannya.

√ Seperti orang yang tidak pernah shalāt malam, lalu pada tanggal tersebut ia melakukan shalāt malam.
√ Orang yang tidak punya kebiasaan puasa, lalu ia puasa pada tanggal tersebut.

==> yang seperti ini yang dilarang.

Adapun orang-orang yang sudah memiliki kebiasaan untuk shalāt malam atau puasa senin kamis, puasa Dāwūd, puasa 3 hari setiap bulan, maka boleh-boleh saja berpuasa pada tanggal 27 Rajab, yang tidak diperbolehkan adalah mengkhususkannya.

Dalam hadīts Ibnu Abbās disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُف

“Dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berpuasa pada bulan Rajab sampai kita katakan, ‘Beliau berpuasa terus’. Dan di lain waktu beliau tidak berpuasa, hingga kami katakan, ‘Beliau sama sekali tidak berpuasa pada bulan tersebut’.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1157)

Sehingga bagi siapapun yang ingin berpuasa pada bulan Rajab, diperbolehkan.

Namun jika meyakini keutamaan khusus maka hal tersebut bisa terjatuh pada amalan bid’ah yang tertolak.

Kemudian kita tutup pertemuan kali ini dengan perkataan Ibnu Hajar rahimahullāh dalam bukunya “Tabyinul Ajab”, buku yang beliau tulis untuk menerangkan hadīts-hadīts yang tidak bisa dipakai menjadi sandaran hukum berkaitan dengan bulan Rajab.

Pada kitāb tersebut beliau (rahimahullāh) berkata :

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada hadīts yang shahīh berkaitan keutamaan bulan Rajab, bahkan tenang puasa, shalāt malam khusus pada bulan Rajab, juga tidak ada satupun hadīts shahīh yang bisa dipakai sebagai sandaran hukum.”

(Kitāb Tabyinul Ajab hal 23)

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


BULAN RAJAB BULAN MULIA

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 04 Rajab 1440 H / 11 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Bulan Rajab Bulan Mulia
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H01
~~~~

BULAN RAJAB BULAN MULIA

بسم الله
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد وإمام المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد

Sahabat BIAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram.

Allāh berfirman dalam ayat-Nya :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allāh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allāh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

(QS At Tawbah: 36)

Dan empat bulan haram yang disebutkan dalam ayat di atas adalah:

⑴ Dzulqa’dah
⑵ Dzulhijjah
⑶ Muharram
⑷ Rajab

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts, bersabda :

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan (yaitu) Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram serta Rajab yang diagungkan oleh qabilah Mudhar yang terletak antara Jumādā dan Sya’bān.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 3197, 4406, 4662, 5550, 7447 dan Muslim 1679)

Bulan-bulan tersebut dinamakan bulan haram karena:

⑴ Seorang haram berperang pada bulan tersebut kecuali jika musuh memulai terlebih dahulu.

⑵ Bulan tersebut dinamakan bulan haram, karena larangan atas perbuatan dosa dan maksiat pada bulan haram lebih ditekankan lagi dari pada bulan lainnya.

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Adapun beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengagungkan bulan ini adalah dengan berusaha untuk meminimalisir atau mempersedikit dosa.

Memang tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari dosa, namun kita berusaha pada bulan ini untuk mengurangi kesengajaan kita berbuat dosa.

Karena Allāh berfirman dalam ayat di atas :

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu.”

⇒ Dan bulan ini (bulan Rajab) adalah salah satu dari bulan empat tersebut.

Imām Ibnu Katsīr dalam tafsirnya membawakan perkataan Qatādah, ketika beliau mengatakan:

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا, مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهَا, وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيمًا, وَلَكِنَّ اللَّهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ

“Kezhāliman yang dilakukan pada bulan haram, nilai kesalahannya dan dosanya lebih besar. Dari pada kezhāliman yang dilakukan diluar bulan tersebut. Walaupun semua yang bernama kezhāliman tetap besar kapanpun itu. Akan tetapi, Allāh menganggap besar beberapa urusan, sesuai kehendak-Nya.”

Kesimpulan yang bisa kita ambil, adalah:

Kita harus berusaha untuk mengagungkan bulan Rajab dengan berusaha untuk mengurangi atau mengerem perbuatan dosa yang mungkin untuk dilakukan, sehingga kita bisa mengagungkan bulan Rajab ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A’lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


Isra’ Mi’raj


Isra’ Mi’raj


( Jadikan ibroh/ pelajaran peristiwa ini turunnya perintah shalat 5 waktu bukan membuat perayaan ).

Perayaan dalam Islam hanya Idul fitri dan Idul adha.

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya. Namun apakah benar dalam ajaran Islam.

Bahkan sebagian merayakan hingga larut malam, dan shalat subuh kesiangan… inikah yang nabi ajarkan?? Dan masih banyak yang ikut tapi kesehariannya jarang shalat hanya ingin dapat besek, seandainya ibadah yang diada-adakan tidak ada iming-iming materi, makanan niscaya tidak akan ada yang hadir. semoga Allah berikan hidayahNya.

Perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan?

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,

”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Biasakanlah melakukan hal yang benar, bukan membenarkan apa yang biasa dilakukan.

Hanya Allah yang memberikan taufik.

Abu Adlan Nizam

RAJAB

 

STOPPRES !!!!

R A J A B

Pernah dapat Broadcast BBM seperti ini?
>> Sebentar lagi kita akan memasuki bulan rajab, dari sahabat nabi,
“Barang siapa puasa 2 hari di awal rajab seakan ibadah 2 thn dan
Barang siapa melaksanakan dan mengingatkan org lain ttg hal ini seakan ibadah 80 thn” <<

Mari kita kaji tentang hadits-hadits bulan Rajab :

☑Beberapa Hadits Palsu
Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab, Sya’ban

1).“Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Swt akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya”.
(Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu’)
Keterangan:
HADITS MAUDHU’ (PALSU)

2). “Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba”.
(Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.”
Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky)
Keterangan:
HADITS MAUDHU’ PALSU)

☑ KESIMPULAN :
Sangat banyak hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab.

Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, SELURUHNYA PALSU & LEMAH.

Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “TIDAK ADA YANG SHAHIH dari Nabi Muhammad Saw satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.”

Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab

 

Puasa Khusus di Bulan Rajab Berdasarkan Hadits Palsu

Ibnu Taimiyah berkata:
”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, makaTIDAK ADA TUNTUNANNYA DARI NABI SAW dan para sahabat mengenai hal ini. Semua hadits yang menyebutkan keistimewaan BERPUASA PADA BULAN RAJAB ADALAH DHOIF/LEMAH, bahkan MAUDHU’/PALSU. Tidak ada satupun hadits yang bisa dijadikan sandaran bagi para ulama untuk diamalkan”. (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Dari Kharsyah bin al-Harr, dia berkata : “Aku pernah melihat Umar ra memukul telapak tangan orang2 yang berpuasa Rajab, hingga mereka pun meletakkan tangan di atas makanan. Umar pun berseru “Makanlah! HANYA ORANG-ORANG JAHILIYAH YANG MENGAGUNGKAN BULAN RAJAB”. (HR. Ibnu Abi Syaibah di dlm al-Mushannaf, hadits ini shahih)”

Tiga imam Hadits:Imam An Nawawi, Imam As Suyuti & Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Mereka berkata: “Hadits Hadits yg berkaitan dgn Keutamaan & Amalan amalan Bulan Rajab & Sya’ban, Jangankan Shahih, Dha’ifpun Tidak Ada, ARTINYA SEMUANYA MAUDHU'(PALSU)”

WASPADALAH TERHADAP PARA PENDUSTA ATAS NAMA NABI DGN HADITS HADITS PALSU.

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari dua pendusta”. (HR. Ahmad (V/20), Muslim (I/7) dan Ibnu Majah (no. 39))

Rasulullah Bersabda, “Barang siapa yang BERAMAL BUKAN diatas PETUNJUK kami (RASULULLAH), maka amalan tsb TERTOLAK”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Orang yg mau mendengarkan nasehat yg baik, dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk amalan yg tidak sesuai Sunnah Rasulullah Saw.

Jadi, TIDAK ADA PUASA APAPUN yg khusus dibulan Rajab dan Sya’ban, kecuali puasa2 sunnah yg shahih, Senin Kamis, Daud, 3 hari ditengah bulan hijriyah.

Sahabatku, kembalilah pada hukum Allah yang benar agar amalanmu di terima…

 

 

SEJARAH RITUAL MALAM NISHFU SYA’BAN

apakah Anda pernah mendapat BM/pesan seperti ini ?

>assalamu’alaikum,,
mw ngingetin kalau malam minggu ini nifsyu sya’ban (tutupnya buku amal).
Sebelum terlambat sya mw mnta maaf sma smuanya klau sya punya salah, baik sengaja atw tdak..
NABI MUHAMAD SAW b’sabda: brang siapa yg m’ingatkn kdatangn bulan ini, HARAM API NERAKA bagi nya.<

☑ MARI KITA KAJI :
Orang yg pertama kali menghidupkan shalat Alfiyah ini pada malam Nishfu Sya’ban adalah Babin Abul Hamroo’, tinggal di Baitul Maqdis thn 448 H.

Suatu saat di malam Nishfu Sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho. Kemudian jama’ahnya bertambah banyak. Lalu amalan yg dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di rumah-rumah kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi sunnah Nabi. (Al Bida’ Al Hawliyah, 299)
Shalat ini dinamakan shalat Alfiyah (artinya 1000). Jumlah 100 raka’at dan setiap raka’at membaca surat Al Ikhlas 10 kali. Jadi total surat Al Ikhlas yg dibaca adalah 1000 kali.

☑ KESIMPULAN :
1).Ritual Nishfu Sya’ban terjadi hampir 5 abad setelah Nabi Wafat. Maka jelas BUKAN SUNNAH Nabi saw.

2).Yg pertama kali mengadakan Ritual Nishfu Sya’ban org yg bernama : Babin Abul Hamro ini, BUKAN SEORANG ULAMA MU’TABAR (yg dikenal, diakui dan diikuti) keilmuannya.

3).Ulama Ulama yg Mu’tabar :
Imam ibnu Jauzi, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dll telah MENGINGKARI Ritual Nishfu Sya’ban.

4). Jadi menghidupkan malam nisfu sya’ban dgn ibadah ( do’a, membaca yaasin, kumpul-kumpul dgn do’a barokah untuk air, shaum dsb.) BUKAN SUNNAH Nabi Saw.

5). Meminta maaf di malam Nisfu Sya’ban adalah perbuatan yg berlebihan dan mengada-ada. (Lebay / alay) dan BUKAN SUNNAH Nabi Saw.

6). Jauhi Ibadah khusus di bulan Rajab dan Sya’ban karena semua haditsnya adalah PALSU.

 

DOA BULAN RAJAB

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari ZAIDAH bin Abi ar-Raaqod, dari ZIYAD an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Nabi saw apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ;

“ALLAHUMMA BARIKLANA FI RAJAB WA SYA’BAN WA BALLIGHNA RAMADHAN”

Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.

Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan. (Musnad Imam Ahmad 1/259)

Kita sering mendengar do’a yg tsb saat mendekatnya bulan suci Ramadhan.

Namun yg menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rasulullah (haditsnya shahih)?

Hadits tersebut memiliki 2 cacat di sanadnya :

1. Rawi bernama : ZIYAD bin Abdullah An-Numairy
Berkata Yahya bin Ma’in, Abu Daud, Ibnu Hajr : Haditsnya Dhaif

2. Rawi bernama : ZAIDAH bin Abi Ar-Raaqod
– Berkata Bukhari, Baihaqi : Haditsnya Mungkar.
– Abu Daud, An-Nasa’i : Aku tidak mengenalnya
– Adz-Dzahaby berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah
– An-Nawawi : Terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

Jadi doa itu bukan berasal dari Rasulullah Saw.
———-
RENUNGAN :
Menurut Dr Yusuf al-Qardhawi: Di dalam kaidah syara’, TIDAK DIBOLEHKAN MENENTUKAN sesuatu hari khusus utk berpuasa atau sesuatu malam yg tertentu utk dihidupkan dgn ibadah TANPA BERSANDARKAN KEPADA NASH SYARA’ (hadits shahih) karena sesungguhnya urusan ibadah ini bukanlah urusan kita, tetapi ia adalah HAK ALLAH SEMATA-MATA.(Fatawa al-Muasarah, 2/343)
Begitu banyak orang yg TERSESAT dgn amalan yg tidak ada rujukannya dari Rasulullah saw, sehingga mereka MENGIRA telah MENDAPATKAN KEBAIKAN dari ibadah tersebut, padahal TIDAK DAPAT APA-APA.
Rasulullah Saw bersabda,
“Betapa banyak org yg menginginkan kebaikan (dari ibadah yg dilakukannya), namun tidak mendapatkannya”. (HR. Ad-Darimi 204 dari Abdullah bin Mas’ud)

Na’udzubillah.

 

 

copas dari KTQS

RAJAB (4)

RAJAB (4) : DOA BULAN RAJAB

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari ZAIDAH bin Abi ar-Raaqod, dari ZIYAD an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Nabi saw apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ;

“ALLAHUMMA BARIKLANA FI RAJAB WA SYA’BAN WA BALLIGHNA RAMADHAN”

Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.

Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan. (Musnad Imam Ahmad 1/259)

Kita sering mendengar do’a yg tsb saat mendekatnya bulan suci Ramadhan.

Namun yg menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rasulullah (haditsnya shahih)?

Hadits tersebut memiliki 2 cacat di sanadnya :

1. Rawi bernama : ZIYAD bin Abdullah An-Numairy

Berkata Yahya bin Ma’in, Abu Daud, Ibnu Hajr : Haditsnya Dhaif

2. Rawi bernama : ZAIDAH bin Abi Ar-Raaqod

– Berkata Bukhari, Baihaqi : Haditsnya Mungkar.

– Abu Daud, An-Nasa’i : Aku tidak mengenalnya

– Adz-Dzahaby berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah

– An-Nawawi : Terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

Jadi doa itu bukan berasal dari Rasulullah Saw.

———-

RENUNGAN :

Menurut Dr Yusuf al-Qardhawi: Di dalam kaidah syara’, TIDAK DIBOLEHKAN MENENTUKAN sesuatu hari khusus utk berpuasa atau sesuatu malam yg tertentu utk dihidupkan dgn ibadah TANPA BERSANDARKAN KEPADA NASH SYARA’ (hadits shahih) karena sesungguhnya urusan ibadah ini bukanlah urusan kita, tetapi ia adalah HAK ALLAH SEMATA-MATA.(Fatawa al-Muasarah, 2/343)

Begitu banyak orang yg TERSESAT dgn amalan yg tidak ada rujukannya dari Rasulullah saw, sehingga mereka MENGIRA  telah MENDAPATKAN KEBAIKAN dari ibadah tersebut, padahal TIDAK DAPAT APA-APA.

Rasulullah Saw bersabda,

“Betapa banyak org yg menginginkan kebaikan (dari ibadah yg dilakukannya), namun tidak mendapatkannya”. (HR. Ad-Darimi 204 dari Abdullah bin Mas’ud)

Na’udzubillah.

 (dari  KTQS-Bandung)

RAJAB (3)

RAJAB (3) : SEJARAH RITUAL MALAM NISHFU  SYA’BAN

apakah Anda pernah mendapat BM/pesan seperti ini ?

>assalamu’alaikum,,

mw ngingetin kalau malam minggu ini nifsyu sya’ban (tutupnya buku amal).

Sblum tlmbat sya mw mnta maaf sma smuanya klau sya punya salah, baik sengaja atw tdak..

NABI MUHAMAD SAW b’sabda: brang siapa yg m’ingatkn kdatangn bulan ini, HARAM API NERAKA bagi nya.<

☑ MARI KITA KAJI :

Orang yg pertama kali menghidupkan shalat Alfiyah ini pada malam Nishfu Sya’ban adalah Babin Abul Hamroo’,  tinggal di Baitul Maqdis thn 448 H.

Suatu saat di malam Nishfu Sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho. Kemudian jama’ahnya bertambah banyak. Lalu amalan yg dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di rumah-rumah kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi sunnah Nabi. (Al Bida’ Al Hawliyah, 299)

Shalat ini dinamakan shalat Alfiyah (artinya 1000). Jumlah 100 raka’at dan setiap raka’at membaca surat Al Ikhlas 10 kali. Jadi total surat Al Ikhlas yg dibaca adalah 1000 kali.

☑ KESIMPULAN :

1).Ritual Nishfu Sya’ban terjadi hampir 5 abad setelah Nabi Wafat. Maka jelas BUKAN SUNNAH Nabi saw.

2).Yg pertama kali mengadakan Ritual Nishfu Sya’ban org yg bernama : Babin Abul Hamro ini, BUKAN SEORANG ULAMA MU’TABAR (yg dikenal, diakui dan diikuti) keilmuannya.

3).Ulama Ulama yg Mu’tabar :

Imam ibnu Jauzi, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dll telah MENGINGKARI Ritual Nishfu Sya’ban.

4). Jadi menghidupkan malam nisfu sya’ban dgn ibadah ( do’a, membaca yaasin, kumpul-kumpul dgn do’a barokah untuk air, shaum dsb.) BUKAN SUNNAH Nabi Saw.

5). Meminta maaf di malam Nisfu Sya’ban adalah perbuatan yg berlebihan dan mengada-ada. (Lebay / alay) dan BUKAN SUNNAH Nabi Saw.

6). Jauhi Ibadah khusus di bulan Rajab dan Sya’ban karena semua haditsnya adalah PALSU.

dari KTQS Bandung

RAJAB (2)

RAJAB (2) : Puasa Khusus di Bulan Rajab Berdasarkan Hadits Palsu

Ibnu Taimiyah berkata:

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban utk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka TIDAK ADA TUNTUNANNYA DARI NABI SAW  dan para sahabat mengenai hal ini. Semua hadits yg menyebutkan keistimewaan BERPUASA PADA BULAN RAJAB ADALAH DHOIF/LEMAH, bahkan MAUDHU’/PALSU. Tdk ada satupun hadits yg bisa dijadikan sandaran bg para ulama utk diamalkan”. (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Dari Kharsyah bin al-Harr, dia berkata : “Aku pernah melihat Umar ra memukul telapak tangan org2 yg berpuasa Rajab, hingga mereka pun meletakkan tangan di atas makanan. Umar pun berseru “Makanlah! HANYA ORANG-ORANG JAHILIYAH YG MENGAGUNGKAN BULAN RAJAB”. (HR. Ibnu Abi Syaibah di dlm al-Mushannaf, hadits ini shahih)”

Tiga imam Hadits:Imam An Nawawi, Imam As Suyuti & Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Mereka berkata: “Hadits Hadits yg berkaitan dgn Keutamaan & Amalan amalan Bulan Rajab & Sya’ban, Jangankan Shahih, Dha’ifpun Tidak Ada, ARTINYA SEMUANYA MAUDHU'(PALSU)”

WASPADALAH TERHADAP PARA PENDUSTA ATAS NAMA NABI DGN HADITS HADITS PALSU.

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Saw bersabda: “Brgsiapa yg menceritakan satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari dua pendusta”. (HR. Ahmad (V/20), Muslim (I/7) dan Ibnu Majah (no. 39))

Rasulullah Bersabda, “Brg siapa yg BERAMAL BUKAN diatas PETUNJUK kami (RASULULLAH), maka amalan tsb TERTOLAK”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Orang yg mau mendengarkan nasehat yg baik, dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk amalan yg tdk sesuai Sunnah Rasulullah Saw.

Jadi, TIDAK ADA PUASA APAPUN yg khusus dibulan Rajab dan Sya’ban, kecuali puasa2 sunnah yg shahih, Senin Kamis, Daud, 3 hari ditengah bulan hijriyah.

Sahabatku, kembalilah pada hukum Allah yg benar agar amalanmu di terima…

copas dari KTQS – Bandung

RAJAB (1)

STOPPRES !!!!

R A J A B

Pernah dapat Broadcast BBM seperti ini?

>> Sebentar lagi kita akan memasuki bln rajab, dari sahabat nabi,

“Barang siapa puasa 2 hari d awal rajab seakan ibadah 2 thn dan

Barang siapa melaksanakan dan mengingatkan org lain ttg hal ini seakan ibadah 80 thn” <<

Mari kita kaji tentang hadits-hadits bulan Rajab :

☑ Beberapa Hadits Palsu

Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab, Sya’ban

1). “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Swt akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya”.

(Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu’)

Keterangan:

HADITS MAUDHU’ (PALSU)

2). “Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba”.

(Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.”

Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky)

Keterangan:

HADITS MAUDHU’ PALSU)

☑ KESIMPULAN :

Sangat banyak hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab.

Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, SELURUHNYA PALSU & LEMAH.

Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “TIDAK ADA YANG SHAHIH dari Nabi Muhammad Saw satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.”

Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab

copas dari KTQS-Bandung