Tag Archives: sabar

Sabar

Sabar

mosque 31

Saat seseorang sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit, para penjenguknya biasanya akan berbasa-basi bertanya, “Sudah berapa lama sakit, Pak?” Atau, “Sejak kapan sakit dan dirawat di sini, Bu?
Kontan, orang sakit biasanya akan menjawab:
tiga hari, lima hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dst. Ia akan begitu hapal masa-masa
sakitnya. Ia akan berusaha menghitung hari-hari sakitnya. Bukan apa-apa. Masa-masa sakit
adalah masa-masa penderitaan yang seolah dianggap ‘penting’ untuk dihitung dan diingat-ingat.

Namun, cobalah sesekali kita bertanya kepada orang sakit tersebut, termasuk bertanya kepada
diri sendiri yang sekian lama hidup sehat, “Sudah berapa lama merasakan sehat?” Pasti, kebanyakan dari kita tak akan mampu menjawab secara pasti. Mengapa? Karena bagi kebanyakan
kita, sehat adalah perkara biasa. Sehat adalah perkara yang tidak penting apalagi istimewa.
Sehat baru dianggap penting dan istimewa justru saat kita sakit.

Begitulah manusia. Tak pandai menghitung nikmat. Hanya pandai menghitung musibah dan bencana yang menimpa dirinya. Karena itu saat dikarunia banyak nikmat—di antaranya nikmat sehat—kebanyakan manusia tak bersyukur.
Sebaliknya, ia akan mudah berkeluh-kesah saat ditimpa musibah, seperti sakit. Padahal, jika ditafakuri, kebanyakan manusia jauh lebih sering sehatnya daripada sakitnya. Sakitnya hanya
sesekali, kadang-kadang tak terlalu lama, tentu jika dibandingkan dengan masa-masa sehatnya
yang amat panjang, sepanjang usia
kehidupannya di dunia. Coba saja renungkan, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia, berapa kali kita sakit dan dirawat di rumah sakit? Pasti dengan mudah bisa kita hitung.
Tentu, karena kebanyakan orang jarang sekali yang keluar-masuk rumah sakit selama hidupnya.

—————————————————-
copas dari #YukNgaji

Bedah Al Quran 21 : Sabar

 

[1] Orang beriman disuruh bersabar dan meningkatkan kesabaran
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ٱﺻْﺒِﺮُﻭا۟ ﻭَﺻَﺎﺑِﺮُﻭا۟ ﻭَﺭَاﺑِﻂُﻮا۟ ﻭَٱﺗَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَHai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

(Ali Imran – 3:200)
[2] Sabar baru bernilai kalau dilakukan karena mengharap ridlo Allah
ﻭَٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺻَﺒَﺮُﻭا۟ ٱﺑْﺘِﻐَﺎٓءَ ﻭَﺟْﻪِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻗَﺎﻣُﻮا۟ ٱﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓَ ﻭَﺃَﻧﻔَﻘُﻮا۟ ﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَٰﻬُﻢْ ﺳِﺮًّا ﻭَﻋَﻼَﻧِﻴَﺔً ﻭَﻳَﺪْﺭَءُﻭﻥَ ﺑِﭑﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ٱﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﺃُﻭ۟ﻟَٰٓﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋُﻘْﺒَﻰ ٱﻟﺪَّاﺭِDan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

(Ar-Ra’d – 13:22)
[3] Menjadikan sabar sebagai pegangan dalam menghadapi ujian hidup
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ٱﺳْﺘَﻌِﻴﻨُﻮا۟ ﺑِﭑﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻭَٱﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓِ ۚ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ٱﻟﺼَّٰﺒِﺮِﻳﻦَHai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Al-Baqarah – 2:153)
[4] Meyakini bahwa Allah senantiasa menyertai orang yang sabar (Qs.2:153)
[5] Berdoa kepada Allah agar mencurahkan kesabaran
ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻨﻘِﻢُ ﻣِﻨَّﺎٓ ﺇِﻻَّٓ ﺃَﻥْ ءَاﻣَﻨَّﺎ ﺑِـَٔﺎﻳَٰﺖِ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻟَﻤَّﺎ ﺟَﺎٓءَﺗْﻨَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎٓ ﺃَﻓْﺮِﻍْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺻَﺒْﺮًا ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨَﺎ ﻣُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَDan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Al-A’raf – 7:126)

—————————————————–
Kiriman Ust Muh Nur Muttaqien

Sabar

 

Saat seseorang sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit, para penjenguknya biasanya akan berbasa-basi bertanya, “Sudah berapa lama sakit, Pak?” Atau, “Sejak kapan sakit dan dirawat di sini, Bu?
Kontan, orang sakit biasanya akan menjawab:
tiga hari, lima hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dst. Ia akan begitu hapal masa-masa
sakitnya. Ia akan berusaha menghitung hari-hari sakitnya. Bukan apa-apa. Masa-masa sakit
adalah masa-masa penderitaan yang seolah dianggap ‘penting’ untuk dihitung dan diingat-ingat.

Namun, cobalah sesekali kita bertanya kepada orang sakit tersebut, termasuk bertanya kepada
diri sendiri yang sekian lama hidup sehat, “Sudah berapa lama merasakan sehat?” Pasti, kebanyakan dari kita tak akan mampu menjawab secara pasti. Mengapa? Karena bagi kebanyakan
kita, sehat adalah perkara biasa. Sehat adalah perkara yang tidak penting apalagi istimewa.
Sehat baru dianggap penting dan istimewa justru saat kita sakit.

Begitulah manusia. Tak pandai menghitung nikmat. Hanya pandai menghitung musibah dan bencana yang menimpa dirinya. Karena itu saat dikarunia banyak nikmat—di antaranya nikmat sehat—kebanyakan manusia tak bersyukur.
Sebaliknya, ia akan mudah berkeluh-kesah saat ditimpa musibah, seperti sakit. Padahal, jika ditafakuri, kebanyakan manusia jauh lebih sering sehatnya daripada sakitnya. Sakitnya hanya
sesekali, kadang-kadang tak terlalu lama, tentu jika dibandingkan dengan masa-masa sehatnya
yang amat panjang, sepanjang usia
kehidupannya di dunia. Coba saja renungkan, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia, berapa kali kita sakit dan dirawat di rumah sakit? Pasti dengan mudah bisa kita hitung.
Tentu, karena kebanyakan orang jarang sekali yang keluar-masuk rumah sakit selama hidupnya.

 

Dari Yuk Ngaji

Ibarat Menggenggam Bara Api

Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda:

“Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Hr. at-Tirmidzi)

Dengan redaksi yang berbeda, Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda:

“Celakalah orang-orang Arab, yaitu keburukan yang benar-benar telah dekat; fitnah ibarat sepenggal malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman, sorenya telah berubah menjadi Kafir. Kaum yang menjual agama mereka dengan tawaran dunia yang tidak seberapa. Maka, orang yang berpegang teguh pada agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (Ibn Hajar al-Haitsami, Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, juz VII, hal. 552)

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh para sahabat, “Wahai Rasulullah, apakah (kita) termasuk mereka?”Beliau menjawab: “Justru, mereka seperti kalian.”

‘Umar bin al-Khatthab menjelaskan takwil surat Ali ‘Imran: 110 dengan menyatakan,

“Siapa saja yang mengerjakan amal sebagaimana yang kalian kerjakan, maka dia pun sama kedudukannya seperti kalian..”

(Lihat, al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz IV, hal. 170)

Imam al-Auza’i pernah ditanya, “Kapankah zaman tersebut?” Beliau menjawab, “Kalau bukan zaman kita sekarang ini, saya tidak tahu, kapankah zaman tersebut? ”

(Lihat, Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasqa, juz XXXVII, hal. 97).

Kalau pada zaman al-Auza’i sudah sedemikian parah, padahal hukum syara’ masih diterapkan oleh negara dan para penguasanya, lalu bagaimana dengan zaman kita?

 

SABAR

 

SABAR

Jika kamu berkeluh kesah maka takdir Allah akan tetap berjalan kepada mu, sedangkan kamu mendapatkan dosa.

Jika kamu bersabar maka takdir Allah akan berjalan kepada mu, sedangkan kamu mendapatkan pahala.

Imam Ath Thabrani : “barangsiapa ditimpa ujian (cobaan,kesulitan) dan ia menyembunyikannya dari orang banyak & tidak suka mengeluh kepada orang banyak, maka Allah akan mengampuni & merahmati orang tsb”

 

SABAR ADALAH IBADAH
Jika seseorang telah tahu bahwa sabar itu ibadah. Bahkan hal itu merupakan KEWAJIBAN…

SABAR DISEMUA KONDISI
Dijelaskan para ulama sabar ada tiga: “sabar dalam meninggalkan maksiat (lalai), sabar dalam mengerjakan ketaatan (khususnya amalan yg wajib), serta sabar dalam menghadapi musibah.”

CARA BERSABAR
Dengan melatih diri kita agar bisa bersabar.

Rasulullah bersabda:

وَمَنْيَتَصَبَّرْيُصَبِّرْهُاللَّهُ
“dan barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran”. (HR Bukhari)

WAKTU BERSABAR
Rasulullah bersabda:

إِنَّمَاالصَّبْرُعِنْدَالصَّدْمَةِالأُولَى

”Sesungguhnya sabar itu adalah ketika pertama kali ditimpa ujian”. (HR. Bukhari)

LAMANYA BERSABAR
Sebagaimana ibadah, sabar itu sampai ajal menjemput kita; karena setiap perbuatan kita, baik itu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu, membutuhkan sabar

KEUTAMAAN BERSABAR
Allah berfirman:

إِنَّمَايُوَفَّىالصَّابِرُونَأَجْرَهُمْبِغَيْرِحِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az Zumar:10)

Maka bersabarlah, untuk beribadah kepada Rabbmu, untuk menunaikan kewajiban yang diwajibkan-Nya atasmu, dan juga untuk meraih segala keutamaan dibaliknya yang dapat engkau petik di dunia maupun di akhirat.

Salam !
———-

dari KTQS

Doa Mohon Rizki Rohani / Batin

Ya Allah rizkikanlah kepadaku
agar aku:

 

Sabar dalam ketaatan padaMu
Sabar dalam menjauhi apa yang Engkau murkai
Sabar dalam menjaga apa yang Engkau cintai
Sabar dalam menghadapi yang aku benci
Sabar menghadapi urusan yang berat

آمِيّنْ… آمِيّنْ…. آمِيّنْ.. يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ
•˚Âmıĭn..amiin..amiin ÿaá râbbāĺ aläamiп˚•

dari Pak Dr H.Aam Amiruddin

KEHIDUPAN

Image
HIDUP adalah perjuangan, di dalam perjuangan pasti perlu pengorbanan, kalau tidak  mau berkorban ya jangan berjuang, kalau tidak mau berjuang ya berhenti hidup.”Sesungguhnya setiap kita pasti akan diuji”. (QS Al-Baqarah:214 & QS Al-Ankabut:2)Ujian bagi manusia diberikan untuk menguatkan jiwanya & membersihkan dosanya.
Maka ujian bagi seorang mukmin seharusnya akan selalu meningkatkan ketinggian & kemuliaannya di sisi Allah dan menguji kebenaran keimanannya.Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Allah menyenangi hambaNYA maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya/kerendahan dirinya”. (HR. Al-Baihaqi)Ujian hidup adalah bagian dari kasih sayang Allah kepada kita, agar semakin bersih dari dosa, agar semakin akrab denganNYA dan dengannya seorang mukmin menjadi semakin matang, kuat serta bertawakal & semakin berserah diri kepada Allah SWT agar kita tidak sombong dan sadar.Karena kebahagiaan adalah ketika kita semakin bersih dan semakin dekat denganNYA.Maka bersabarlah, insya Allah bila kita bersabar Allah akan meringankan & pada saatnya memberikan sesuatu yg disukaiNYA & kita juga menyukainya. Pada akhirnya semua akan indah.

Manisnya hidup bisa dirasakan setelah mampu melewati pahitnya ujian kehidupan.

“Iman terbagi dua, separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur”. (HR. Al-Baihaqi)

“Ketika Tuhan Mengambil Sesuatu Dari Genggamanmu, Dia Tak Menghukummu, Namun Hanya Membuka Tanganmu Untuk Menerima Yang Lebih Baik”

Sebagaimana firman Allah,

“Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu & supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (QS Al-Hadid:23)
⁠Lantunkan doa ini dikala beban hidup terasa berat,
“Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazana/huzna idza syi’ta sahla”
(Ya Allah, tidak ada kesulitan bila Engkau menjadikannya mudah, dan Engkau yg merubah kesulitan/kesedihan menjadi kemudahan)
Salam !
KTQS