Tag Archives: shalat berjamaah

Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3

 

? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 53 | Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H053
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke-53 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-3
قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ويجوز أن يأتم الحر بالعبد))

“Dan boleh bagi seorang yang merdeka mengikuti (menjadi makmum) dari seorang hamba sahaya (budak)”

Hal ini berdasarkan hadīts tentang ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri 1/140:

وَكَانَتْ عَائِشَةُ: «يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ المُصْحَفِ»

“Dan ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau diimami oleh hamba sahayanya (Dzakwan) dengan membaca mushaf”

⇛Dzakwan adalah budak ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((والبالغ بالمراهق))

“Dan begitu pula boleh bagi seorang yang bāligh menjadi makmum bagi anak kecil”

Disini adalah madzhab dari Syāfi’iyah dan kita lihat bagaimana hukum anak kecil yang menjadi imam.

Pendapat pertama

⇛ Bahwasanya tidak sah seorang Imām yang belum bāligh didalam shalāt yang wajib (Tidak sah hukumnya seorang anak kecil menjadi Imām dalam shalāt yang wajib)

Namun dia diperbolehkan dalam shalāt sunnah dengan syarat telah mencapai umur mumayyaz.

Umur Mumayyaz adalah umur seorang anak kecil yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat (berbahaya)

⇛Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulamā dari kalangan :

√ Hanafiyyah
√ Mālikiyyah
√ Hanābilah

Adapun hanafiyah, mereka tidak membolehkan secara mutlak baik dalam shalāt wajib maupun shalāt sunnah.

⇛Diantara alasannya adalah bahwasanya posisi Imām adalah posisi kesempurnaan, dan anak kecil yang belum bāligh maka dia tidaklah sempurna.

Pendapat Kedua:

⇛Bolehnya seorang anak kecil yang mumayyaz (yang sudah tamyiz) menjadi Imām bagi orang yang bāligh baik fardhu maupun sunnnah, namun yang lebih utama adalah seorang yang bāligh yang menjadi Imām.

⇛Ini adalah pendapat Syāfi’iyah karena mereka tidak mensyaratkan syarat bāligh untuk seorang Imām.

Dalīl mereka diantaranya adalah hadīts Amr bin salamah,” bahwasanya beliau mengimami kaumnya dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau masih berumur enam atau tujuh tahun”.

Dan pendapat ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat).

Syaikh bin Bāz, beliau menjawab pertanyaan dalam masalah ini:

لا بأس بإمامة الصبي إذا كان قد أكمل سبع سنين أو أكثر وهو يحسن الصلاة؛ لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك ولكن الأفضل أن يختار الأقرأ من الجماعة

“Tidak mengapa kata beliau, Imām nya seorang anak kecil apabila dia telah menyempurnakan umurnya tujuh tahun atau lebih dan dia bagus dalam shalātnya, kata beliau bahwasanya hal itu ada dalīlnya dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan tentang bolehnya hal tersebut, akan tetapi yang paling afdhal adalah memilih yang paling baik bacaannya dari jama’ah atau dari kalangan orang-orang yang besar atau bāligh.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((ولا تصح قدوة رجل بامرأة))

“Dan tidak sah shalāt laki-laki yang mengikuti wanita”

Bagaimana hukum Imamah wanita atau hukum wanita menjadi Imām di dalam shalāt

Ada 2 (dua) keadaan :

⑴ Apabila wanita tersebut menjadi Imām bagi para wanita yang lainnya,
maka hal ini boleh dan sah.

Berdasarkan dalīl-dalīl yang ada dan juga berdasarkan atsar bahwasanya ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau menjadi Imām dari kalangan shahābiat yang lainnya.

⑵ Wanita menjadi Imām bagi jama’ah laki-laki atau jama’ah campuran yang disana ada laki-lakinya atau jama’ah laki-laki yang masih kanak-kanak. Maka ini hukumnya tidak sah.

Menurut pendapat seluruh ulamā baik dari kalangan terdahulu maupun yang terkini, atau yang sekarang ini, baik ulama besar maupun yang kecil.

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh

((ولا قارئ بأمي))

“Dan tidak sah seorang qāri’ yang mengikuti shalāt seorang yang ummi”
√ Qāri’ disini (maksudnya) adalah orang yang baik dalam membaca surat Al Fātihah, karena Al Fātihah adalah termasuk rukun didalam shalāt.

√ Ummi disini (maksudnya) adalah orang yang jelek bacaan Al Fātihahnya, baik dalam makhrajnya, panjang pendeknya, tasydidnya dll, yang dapat merubah makna kalimat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ

“Hendaklah yang menjadi Imām bagi sekelompok kaum, adalah orang yang paling bagus bacaan Al Qurānnya”

(Hadīts Riwayat Imām Muslim 1/465)

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Waakhiru dakwah ana walhamdulillah
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
__________

 

shalat berjamaah 3

Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 24 Dzulhijjah 1438 H / 15 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 52 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H052
〰〰〰〰〰〰〰

SHALAT BERJAMA’AH (BAGIAN 2)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqoh yang ke 52 dan kita masuk pada fasal tentang Shalāt Berjama’ah Bagian ke-2

قال المصنف:

Berkata penulis rahimahullāh :

((وَعَلَى المَأْمُوْمِ أَنْ يَنُوْيَ الجَمَاعَة دُوْنَ الإِمَام))

“Dan wajib bagi ma’mum untuk berniat shalāt berjama’ah, berbeda dengan imam (Imam tidak wajib).”

Disyaratkan bagi seorang makmum, sebelum shalāt untuk melaksanakan shalāt berjama’ah dan mengikuti imam, untuk meniatkan bahwasanya dia ingin shalāt berjama’ah atau ingin mengikuti imam.

Dan tidak perlu kemudian diucapkan (dilafadzkan) cukup di dalam hati tatkala ada niat untuk shalāt berjama’ah, maka itu sudah cukup.

Adapun bagi imam maka tidak disyaratkan niat untuk shalāt berjama’ah, namun apabila mengetahui lebih utama apabila seorang imam berniat shalāt berjama’ah agar mendapatkan keutamaannya.

Adapun untuk shalāt jum’at dan shalāt Eid’, maka disyaratkan bagi seorang imam untuk niat shalāt berjama’ah.

Contoh misalnya, tatkala seorang sedang shalāt kemudian tiba-tiba dibelakangnya ada ma’mum yang shalāt mengikuti orang tersebut, sementara orang tersebut tidak menyadarinya bahwasanya ada yang mengikuti shalāt nya, maka shalāt mereka adalah sah karena ma’mum disyaratkan untuk niat shalāt berjama’ah sementara imam tidak disyaratkan.

Artinya tatkala Imām tidak mengetahui dia menjadi Imām atau tidak ada niat untuk menjadi Imām akan tetapi kemudian posisi dia ternyata sebagai Imām maka ini hukumnya sah.

Ada beberapa poin penting

Hukum niat ma’mum yang berbeda dengan niat Imām

Apa hukum niat ma’mum yang berbeda niat dengan Imām ?

⇛Masalah ini dijawab secara ringkas oleh Syaikh Bin Bāz.

Kata beliau :

الصواب أنها صحيحة؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- صلى في الخوف ببعض المسلمين ركعتين صلاة الخوف، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، فصارت الأولى له فريضة، والثانية له نافلة وهم لهم فريضة، وكان معاذ -رضي الله عنه- يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في العشاء صلاة الفريضة، ثم يرجع ويصلي بقومه صلاة العشاء نافلةً له وهي لهم فرض، فدل ذلك على أنه لا حرج في اختلاف النية، وهكذا لو أن إنسان جاء إلى المسجد وصلى العصر, وهو لم يصلي الظهر, فإنه يصلي معهم العصر بنية الظهر ولا حرج عليه في أصح قولي العلماء, ثم يصلي العصر بعد ذلك. جزاكم الله خيراً

” Yang benar yang shahīh dalam masalah ini bahwasanya shalāt tersebut (berbeda niat antara Imām dan ma’mum) adalah sah.”

Beliau berdalīl dengan shalāt khauf dan kisah shalātnya Mu’ādz bin Jabbal, manakala beliau (Mu’ādz bin Jabbal) shalāt Isya’fardhu bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau pulang untuk mengimami kaumnya dan posisi shalāt beliau adalah posisi shalāt sunnah sementara kaumnya posisinya shalāt fardhu.

Maka berbeda niat ini diperbolehkan

Ada beberapa pembahasan seputar niat Imām dan niat ma’mum, yang secara ringkasnya sebagai berikut:

· Yang Pertama | Terkait dengan jenis shalāt

Secara ringkas ada beberapa keadaan:

1. Ma’mum shalāt wajib dibelakang Imām shalāt wajib maka hukumnya boleh.
2. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt sunnah maka hukumnya boleh.
3. Ma’mum shalāt sunnah dibelakang Imām yang shalāt wajib, maka hukumnya boleh.
4. Ma’mum shalāt wajib dan Imām shalāt sunnah, disini para ulama berbeda pendapat apakah sah ataukah tidak sah?

⇛Yang shahīh dan rājih sebagaiamana yang disampaikan Syaikh Utsaimin, maka boleh tidak mengapa dan sah shalātnya.

Dalīlnya berdasarkan kisah Mu’ādz bin Jabbal yang shalāt wajib bersama Rasūlullāh,kemudian beliau pulang lalu shalāt sunnah dan beliau mengimami kaumnya.

· Yang Kedua | Terkait dengan bilangan shalāt

Ringkasan keadaannya sebagai berikut :

⑴ Apabila ma’mum shalāt dengan Imām yang bilangan raka’atnya lebih sedikit.

⇛ Misalnya : Seorang ma’mum shalāt ashar (karena qadha’ atau tertidur atau lupa atau sebab lainnya) sedangkan Imām shalāt maghrib, maka ma’mum harus 4 (empat) raka’at , Imām 3 (tiga) raka’at (Imām lebih sedikit), maka tatkala Imām selesai salam, maka ma’mum harus menyempurnakan shalāt menjadi 4 (empat) raka’at setelah Imām selesai.

⑵ Apabila ma’mum shalāt dengan raka’at yang sama dengan Imām, maka (jelas) ma’mum menyempurnakan shalātnya.

⇛ Misalnya : Ma’mum shalāt dhuhur dan Imām shalāt ashar (sama-sama 4 raka’at)

⑶ Apabila ma’mum shalāt dengan bilangan raka’at yang lebih sedikit dari Imām.

⇛Misalnya : Ma’mum shalāt maghrib 3 raka’at dan Imām shalāt isya’ 4 raka’at .

Dan disebutkan oleh Syaikh Utsaimin beberapa keadaan:

√ Apabila Imām berada di raka’at ke-3 (tiga) dan ma’mum mulai shalāt raka’at ke-3 (tiga) dan ke-4 (empat) bersama Imām, artinya ma’mum masbuk pada raka’at ke-3 (tiga), maka tatkala Imām salam, dia (ma’mum) tinggal menyempurnakan raka’at yang kurang (masih kurang 1 (satu) raka’at lagi).

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at ke-2 (dua), maka ma’mum ikut salam bersama Imām, tatkala Imām salam maka ma’mum pun salam (karena dia sudah selesai yaitu Maghrib 3 (tiga) raka’at dan Imām sudah selesai 4 (empat) raka’at dan selesai bersama-sama.

√ Apabila ma’mum masuk bersama Imām di raka’at pertama, maka pada raka’at yang ke-3 (tiga), apa yang dilakukan ?

Disebutkan ma’mum duduk tasyahud dan menunggu Imām yang bangkit ke raka’at ke-4 (empat) dan tatkala Imām sudah sampai di raka’at ke-4 dan kemudian tasyahud maka ma’mum pun salam bersama Imām.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa lebih baik ma’mum ini menunggu dalam keadaan sujud, artinya dia sujud sampai Imām sujud, kemudian mengikuti gerakan Imām sampai salamnya (salam bersama Imām)

Menurut Syaikh Utsaimin ini adalah pendapat yang rājih dalam masalah ini, sebagaimana yang beliau nukilkan dari pendapat Syaikhul Islām Ibnu Taymiyyah rahimahullāh.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

shalat berjamaah 2

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 23 Dzulhijjah 1438 H / 14 September 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 51 | Shalāt Berjama’ah (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H051
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT BERJAMA’AH (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Para shahābat BiAS yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan halaqah yang ke-51, dan kita masuk pada fasal tentang “Shalāt Berjama’ah”

قال المصنف :

Berkata penulis rahimahullāh

((وصلاة الجماعة سنة مؤكدة))

“Dan shalāt berjamaah hukumnya adalah sunnah mu’akkadah”

⇛Disini pendapat dari sebagian Syāfi’iyah tentang shalāt berjama’ah bahwasanya hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Dan kita lihat bahwasanya para ulamā telah ijma’ bahwa shalāt berjama’ah hukumnya adalah disyariatkan dan memiliki keutamaan yang besar.

Namun para ulamā berselisih pendapat mengenai hukumnya.

⇛Imām An-Nawawi menyembutkan dalam Kitāb Al Majmu’ bahwa para ulamā mahzhab Syāfi’iyah sendiri mereka berselisih pendapat tentang hukum shalāt berjama’ah bagi bagi seorang laki-laki.

· Pendapat pertama | Fardhu Kifayah
(Hukumnya wajib, namun apabila sebagian telah melaksanakan maka gugurlah kewajiban bagi yang lain).

Dalīl nya adalah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

سنن النسائي (2/ 106)
»ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا قد استحوذ عليهم الشيطان، فعليكم بالجماعة؛ فإنما يأكل الذئب القاصية

“Apabila dalam sebuah kampung atau pedalaman ada tiga orang namun tidak menegakkan shalāt berjama’ah maka mereka telah dikuasai syaithān, Maka wajib bagi kalian untuk berjama’ah, karena sesungguhnya serigala hanyalah memangsa kambing yang sendirian.”

(Hadīts riwayat Imām Nasāi’, Abū Dāwūd dan Hakim)

⇛Dan kata beliau (Imām Nawawi) yang shahīh (Rājih) bahwasanya yang shahīh didalam mahzhab Syāfi’ī dan menjadi rujukan dalam Madzhab Syāfi’ī, adalah pendapat bahwa shalāt berjama’ah hukumnya fardhu kifayah.

·Pendapat Kedua | Sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan)

Dan ini juga disebutkan oleh sebagian para ulamā Syāfi’iyah.

Berdasarkan dalīl hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu,

المجموع شرح المهذب (4/ 182)
لما روى أبو هريرة رضي الله عنه إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : صلاة الجماعة افضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة

“Bahwasanya shalāt berjama’ah utama dua puluh lima derajat daripada shalāt kalian sendirian”

Mereka mengatakan tatkala dibandingkan dengan sesuatu yang Sunnah maka hukum shalāt berjama’ah adalah sunnah.

⇛Ini pendapat sebagian Syāfi’iyah dan juga diantaranya pendapat penulis bahwa sunnah

· Pendapat ketiga | Fardhu ‘ain
(Wajib bagi setiap muslim laki-laki)

Ini juga adalah pendapat kalangan ulamā Syāfi’iyah dan Hanābilah dan sebagian Hanafiyyah.

Dan juga dari para ulamā dari kalangan salaf dan pendapat ini dipilih oleh Imām Bukhāri, Imām Ibnu Taimiyyah, begitu juga Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin.

Dan ini adalah pendapat yang Wallāhu a’lam lebih kuat dari sisi pendalīlannya dan juga lebih hati-hati.

Diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

“Dan apabila kamu (Muhammad) berada ditengah-tengah mereka, maka tegakkan lah bersama mereka shalāt (berjamaah), dan hendaknya sebagian kelompok yang shalāt bersama engkau..”

(QS An Nisā’ : 102)

Ayat diatas bercerita tentang tata cara shalāt berjama’ah dalam kondisi perang atau kondisi takut.

⇛Jika dalam kondisi perang saja, diwajibkan untuk shalāt, maka tentunya dalam kondisi aman dan tenang maka lebih utama untuk diwajibkan hukumnya.

Kemudian dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata,

عن أبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه، قال: )) أتَى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ رجلٌ أعمى، فقال: يا رسولَ الله، إنَّه ليس لي قائدٌ يقودني إلى المسجِدِ، فسألَ رسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ أن يرخِّصَ له، فيُصلِّيَ في بيتِه، فرخَّص له، فلمَّا ولَّى دعاه، فقال: هلْ تَسمعُ النِّداءَ بالصَّلاةِ؟ قال: نعَم، قال: فأجِبْ (( رواه مسلم

“Ada seorang yang buta, yang datang kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian dia berkata, ” Wahai Rasūlullāh, saya tidak punya seorang yang bisa menuntun saya masjid”, maka diapun meminta kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar memberikan rukhsah (keringanan) kepadanya sehingga dia bisa shalāt dirumahnya. Kemudian Nabipun memberikan keringanan kepadanya (orang buta tersebut) tatkal orang tersebut beranjak pergi, maka kemudian Nabi pun memanggilnya dan bersabda ” Apakah kamu mendengar adzan untuk shalāt ?” Orang buta itu pun menjawab : “Ya”, maka Rasūlullāh pun bersabda: ” Maka jawablah atau datangilah (itu hukumnya wajib)”

(Hadīts riwayat Imām Muslim)

Dalīl diatas menunjukkan bahwa hukum shalāt berjama’ah dimasjid adalah wajib, bahkan bagi orang yang buta yang dia mendengar adzan.

Maka tentunya bagi selainnya orang buta tersebut (orang yang sehat) maka hukumnya lebih wajib.

Demikian, semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________

Shalat Berjamaah

 

POSISI IMAM dan MAKMUM dalam SHALAT BERJAMAAH

1.Dua Orang Laki-laki

Hadits Ibnu Abbas:
Aku shalat bersama Nabi SAW di suatu malam, aku berdiri di samping kirinya, lalu Nabi memegang bagian belakang kepalaku dan menempatkan aku di sebelah kanannya (HR Bukhari )
Posisi antara imam dan makmum adalah sejajar, makmum bukan lebih belakang dari imam.

2. Dua Orang Laki-laki atau Lebih

Hadits Jabir:
Nabi SAW berdiri shalat maghrib, lalu aku datang dan berdiri di samping kirinya. Maka beliau SAW menarik diriku dan dijadikan di samping kanannya. Tiba-tiba sahabatku datang (untuk shalat), lalu kami berbaris di belakang beliau dan shalat bersama Rasulullah SAW. (HR Ahmad)

3. Dua Laki-laki dan Satu Wanita

Hadits Anas:
Bahwa beliau shalat di blkg Rasulullah SAW bersama seorang yatim sedangkan Ummu Sulaim berada di blkg mereka. (HR Bukhari dan Muslim)
Perpaduan antara hadits Ibnu Abbas:
“.. dan menempatkan aku di sebelah kanannya”
dan hadits Anas bin Malik:
“Sedangkan Ummu Sulaim berada di belakgan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)
Makmum laki-laki berada disebelah kanan Imam, wanita di belakang nya.

4. Tiga Orang Wanita atau Lebih

Hadits Aisya RA:
Bahwa Aisyah shalat menjadi imam bagi kaum wanita dan beliau berdiri di tengah shaf. (HR Bukhari, Hakim, Daruquthni)

5. Beberapa Laki-laki dan Wanita

Hadits Abu Hurairah: Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yg paling pertama, dan seburuk-buruknya adalah yg terakhir. Dan sebaik-baiknya shaf wanita adalah yg paling terakhir, dan seburuk-buruknya adalah yg paling pertama. (HR Muslim)

6. Bila ada Anak-anak

Hadits Abu Malik Al-Asy’ari: Bahwa Nabi SAW menjadikan (shaf) laki-laki di depan anak-anak, anak-anak di belakang mereka sedangkan kaum wanita di belakang anak-anak. (HR Ahmad)

7. Makmum banci (bencong/melambai) tdk diakui dan kalau ikut shalat berjama’ah harus mengikuti jenis kelamin awal.

 

 

 

 

ADAB SHALAT BERJAMAAH

1. Kerapihan Shaf

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yg paling depan, sedangkan shaf yg paling buruk adalah yg paling akhir. Sedangkan shaf yg terbaik bagi wanita adalah paling belakang dan yg paling buruk adalah yg paling depan.” (HR. Muslim)

2. Meluruskan shaf

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat”. (HR. Bukhari Muslim)

3. Merapatkan Barisan shaf

“Dan aku melihat semua laki-laki yg shalat saling mendekatkan antara pundak dgn pundak lainnya dan mata kaki dgn mata kaki lainnya”. (HR Bukhari)

4. Tidak Mendahului Maupun Membarengi Gerakan Imam

“Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya mendahului imam merasa takut kalau Allah merubah kepalanya menjadi kepala keledai”. (HR. Bukhari, Muslim)

Dari Barra’ bin Azib berkata: “Kami shalat bersama Nabi saw. Maka diwaktu beliau membaca ‘sami’allaahu liman hamidah’ tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan punggungnya sebelum Nabi saw meletakkan dahinya ke lantai. (Jama’ah)

“Sesungguhnya ubun-ubun orang yang merunduk dan mengangkat kepalanya mendahului imam berada di dalam genggaman setan.” (HR. Thabrani)

5. Mengikuti gerakan imam

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika imam telah ruku’ maka ruku’-lah kalian dan jika imam bangkit maka bangkitlah kalian.” (HR. Al Bukhari)

6. Sibuk Dengan Berbagai Macam Doa Sebelum Takbiratul Ihram

Sibuk melafalkan doa atau membaca surat An Naas dan bacaan lainnya dengan dalih untuk menghilangkan was-was setan.

Hendaklah kaum muslimin segera meninggalkan segala macam tatacara ibadah yang tidak bersumber dari beliau.

Rasulullah Bersabda, “Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak”. (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

7. Sibuk Dengan Shalat Sunat

“Apabila iqamah sudah dikumandangkan, maka tdk ada shalat kecuali shalat wajib.” (HR. Muslim)

 

BACAAN MAKMUM adalah BACAAN IMAM ?

 

Dibenak kita sering timbul satu pertanyaan “Apakah Makmum Ikut Membaca Pada Shalat Berjamaah?”

Berikut ada beberapa dalil yang menerangkan hal tsb :

☑ Orang yang menjadi makmum dalam shalat jamaah, diwajibkan untuk mengikuti imam dalam setiap gerakannya.

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti. Jika dia rukuk maka ikutlah rukuk, dan jika dia bangkit maka ikutlah bangkit”. (Muttafaq ‘alaihi)

Karena itu, dalam posisi sebagai makmum, apapun keadaannya, seseorang harus mengikuti semua gerakan imam.

Dari Jabir dari Rasulullah SAW berkata,”Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya adalah bacaan imam”. (HR. Ad-Daruquthuny dan Ibnu Abi Syaibah)

Juga hadits yang senada berikut ini, “Apabila imam membaca maka diamlah”. (HR. Ahmad)

☑ Dari Malik dari Abi Hurairah ra, Rasulullah Saw selesai shalat yg beliau mengeraskan bacaannya.

Lalu beliau bertanya, “Adakah di antara kamu yang ikut membaca juga tadi?”.

Seorang menjawab, “Ya, saya, ya Rasulullah”.

Beliau menjawab, “Aku berkata, mengapa aku harus melawan Al-Quran?”.

Maka orang-orang berhenti dari membaca bacaan shalat bila Rasulullah Saw mengeraskan bacaan shalatnya (shalat jahriyah)”. (HR. Tirmizi).

Imam Hanafi mengatakan, makmum tidak perlu membaca apa-apa bila shalat di belakang imam pada shalat jahriyah (suara imam dikeraskan) berdasarkan hadits:

“Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya adalah bacaan imam.” (HR. Ad-Daruquthuny dan Ibnu Abi Syaibah).

☑ Kesimpulannya adalah, bahwa pada shalat jahriyah (suara imam dikeraskan) yaitu, Maghrib, Isya` Subuh, Jumat, Ied, dll, makmum tidak perlu membaca bacaan shalat.
Sedangkan pada shalat yg sirr (suara imam tidak dikeraskan) yaitu shalat zhuhur dan Ashar makmum harus membaca bacaan shalat.

Namun bila pada shalat jahriyah (suara imam dikeraskan) itu makmum tdk dapat mendengar suara bacaan imam dgn jelas, maka makmum wajib membaca bacaan shalat.

 

PERLUKAH MAKMUM MEMBACA AL-FATIHAH LAGI ?

 

Membaca al Fatihah adalah termasuk rukun shalat, shalat fardhu, sunnah, shalat jahriyah (dikeraskan suaranya) maupun sirriyah (dipelankan suaranya).

Dalam Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, bhw Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)”.

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang bacaan al Fatihah bagi makmum.

Para ulama Maliki, Hanafi dan Hambali mewajibkan membaca Al Fatihah bagi imam dan orang yang shalat sendirian tapi tidak bagi makmum.

Markaz al Fatwa didalam fatwanya No. 1740 menyebutkan, makmum tidak perlu membaca al Fatihah dan membaca yang lainnya (surat) di belakang imam didalam shalat jahriyah apabila dia mendengar bacaan imam, dasarnya adalah :

1. Firman Allah swt :
Artinya : “Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al A’raf : 204)

Maksud dari ayat itu adalah mendengarkan bacaan yang dibaca imam.

2. Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, ”Sesungguhnya imam dijadikan utk diikuti. Apabila dia bertakbir maka bertakbirlah kalian dan apabila dia membaca maka dengarkanlah”. (HR. Muslim)

3. Yang lebih tegas lagi dari Malik dari Abi Hurairah r.a., Rasulullah Saw selesai shalat yg beliau mengeraskan bacaannya. Lalu beliau bertanya, “Adakah di antara kamu yg ikut membaca juga tadi?”. Seorang menjawab, “Ya, saya, ya Rasulullah”. Beliau menjawab, “Mengapa aku harus melawan Al-Quran?”. Maka orang-orang berhenti dari membaca bacaan shalat bila Rasulullah Saw mengeraskan bacaan shalatnya (shalat jahriyah)”. (HR.Tirmizi)

☑ Kesimpulannya, tidak perlu membaca al-Fatihah lagi saat berjamaah bagi makmum, apabila Imam mengeraskan suaranya dan terdengar oleh makmum karena sudah cukup diwakili oleh Imam.

“Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya (bacaan makmum) adalah bacaan imam”. (HR. Ad-Daruquthuny)

FADHILAH SHALAT BERJAMAAH

1. Berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian.
“Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat fadz-sendirian-sebanyak dua puluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari Muslim)

2. Setiap langkah diangkat kedudukannya satu derajat, dihapuskan satu dosa serta senantiasa dido’akan oleh para malaikat.
“Shalat seseorang dengan berjama’ah itu melebihi shalatnya di rumah atau di pasar sebanyak 25 kali lipat, karena bila seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian pergi ke masjid, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa.
Dan apabila dia mengerjakan shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon: “Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.’ Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat”. (HR. Bukhari Muslim)

3. Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.
“Berikanlah kabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid (bahwa mereka akan mendapatkan) cahaya yang sempurna di hari kiamat”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi)

4. Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin serta sabar.
“Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian, jika ia membaca ‘Sami’allaahu liman hamidah’ maka bacalah ‘Allahumma rabbana lakal Hamdu’, Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk pula!”. (HR. Bukhari Muslim)