Tag Archives: Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 23 Muharam 1439 H / 13 Oktober 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 58 | Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H058
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 2)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan pelajaran kita dan  masih tentang shalāt jama’ yang diperbolehkan.

Beberapa Jenis Jama’ yang diperbolehkan adalah:

6⃣ Jama’ karena rasa takut

Berdasarkan hadīts yang disebutkan sebelumnya,

عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: جمَعَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بين الظُّهرِ والعَصرِ والمغربِ والعِشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مَطرٍ. فقيل لابن عَبَّاسٍ: ما أرادَ إلى ذلك؟ قال: أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه((رواه مسلم))

Dari Ibnu ‘Abbās Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Dhuhur, Ashar dan juga antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā di Madīnah, tidak disebabkan karena rasa takut, juga tidak disebabkan karena hujan”

Maka ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbās, apa yang diinginkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan hal itu?

Maka beliaupun mengatakan: “beliau ingin agar umatnya tidak kesulitan”.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dan ini adalah pendapat Hanābilah yang dipilih oleh Syaikhul Islām Taimiyyah, Syaikh Binbaz dan Syaikh Utsaimin.

Adapun pendapat Syāfi’iyah dan juga Hanafiyyah dalam masalah ini adalah tidak diperbolehkan jama’ disebabkan rasa takut, berdalīl dengan keumuman ayat manakala Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan orang yang berperang tetap shalāt pada waktunya.

 

7⃣ Jama’ karena Menyusui

Diperbolehkan bagi seorang yang menyusui untuk menjama’ shalātnya, apabila memang hal itu membuat kesulitan atau seorang yang menyusui merasa sulit karena harus mengganti dan mencuci pakaiannya setiap waktu shalāt, maka diperbolehkan baginya untuk menjama’ shalāt, karena disana ada masyaqah (kesulitan)

⇒ Pendapat ini disebutkan juga oleh para fuqahā Hanābilah dan dipilih oleh Syaikh Islām Ibnu Taimiyyah dan Syaikhul Utsaimin sebagai pendapat yang lebih kuat atau paling rājih.

 

8⃣Jama’untuk mengatasi kesulitan

Jama’ untuk mengatasi kesulitan atau apabila disana ada masyaqah.

Hal ini berdasarkan hadīts Ibnu ‘Abbās yang sudah berlalu, maka bagi seseorang yang hādir (tidak dalam keadaan safar) diperbolehkan untuk shalāt jama’ apabila ada kesulitan.

⇒ Pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok fuqahā ahli hadīts, dan dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dan Syaikhul Utsaimin.

Dimana disisi pendalīlannya, beliau mengatakan:

أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه

“Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin tidak menyusahkan ummatnya”.

⇒ Artinya jika ummatnya menghadapi kesusahan dan kesulitan maka diperbolehkan untuk melakukan jama’.

?Namun ada catatan dalam masalah terakhir ini yaitu:

⇒ Bahwasanya pendapat Jumhūr ulamā dalam masalah ini, bahwa hadīts Ibnu’Abbās dibawakan pada kemungkinan jama’ suri (jama’ secara bentuknya saja) artinya Shalāt tetap dilakukan pada waktunya namun terkesan jama’ seperti yang disebutkan pada awal yaitu shalāt Dhuhur dijadikan akhir waktu dan Shalāt Ashar dijadikan diawal waktu. Ini yang disebut dengan jama’suri.

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menggampangkan dalam masalah ini, namun jika ada kesulitan yang membutuhkan untuk menjama’ maka tidak mengapa, walaupun tidak disebabkan karena safar atau tidak disebabkan karena turun hujan atau rasa takut.

Selama disana ada kesulitan dan kita membutuhkan dengan syarat tidak menggampangkan (memudahkan) untuk menjama’ maka diperbolehkan untuk kita menjama’ shalāt.

?Kemudian ada permasalahan yang sering ditanyakan bolehkah dijama’ antara shalāt Jum’at dan Ashar?

Disana ada dua pendapat dari para ulamā didalam masalah ini:

· Pendapat pertama | Pendapat pertama adalah pendapat Hanābilah dimana tidak diperbolehkan menjama’ shalāt Jum’at dengan shalāt Ashar.

Inti dalīl mereka adalah bahwa haiah atau bentuk shalāt Jum’at berbeda dengan shalāt Dhuhur, oleh karena itu tidak bisa diterapkan hukum jama’ pada shalāt Jum’at karena dia berbeda dengan shalāt Dhuhur.

·Pendapat kedua | Pendapat kedua adalah pendapat Syāfi’iyah, dimana mereka mengatakan bolehnya menjama’ antara shalāt Jum’at dengan shalāt Ashar karena shalāt Jum’at adalah pengganti shalāt Dhuhur sehingga tatkala dia mengganti shalāt Dhuhur maka hukumnya pun sama dengan hukum shalāt Dhuhur.

⇒ Pendapat kedua ini adalah pendapat yang rājih (lebih kuat) dan dipilih oleh mayoritas Jumhūr para ulamā.

Demikian yang bisa kita sampaikan.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
__________

shalat jama yg diperbolehkan 2

Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 1)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 22 Muharam 1439 H / 12 Oktober 2017 M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitāb Shalāt
? Kajian 57 | Shalāt Jama’ Yang Diperbolehkan (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H057
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT JAMA’ YANG DIPERBOLEHKAN (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan masih tentang shalat yaitu tentang shalāt jama’ yang diperbolehkan.

قال المؤلف رحمه الله:
((ويجوز للحاضر في المطر أن يجمع بينهما في وقت الأولى منهما))

Dan diperbolehkan bagi orang yang hādir (maksudnya) orang yang tidak bepergian atau tidak safar, untuk menjama’ shalāt disebabkan turunnya hujan, dan dilakukan di waktu yang lebih dulu dari keduanya yaitu jama’ taqdim.

Beberapa Jenis Jama’ yang diperbolehkan adalah:

1⃣ Jama’ antara Maghrib dan ‘Isyā di Muzdalifah, bagi jama’ah haji.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadīts:

حتى أتى المزدلفةَ، فصلَّى بها المغربَ والعِشاءَ بأذانٍ واحدٍ وإقامتين رواه مسلم

Manakala sampai beliau datang di Muzdalifah, beliau (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) shalāt Maghrib dan ‘Isyā dengan satu adzān dan dua iqāmah.

(Hadīts riwayat Muslim)

 

2⃣ Jama’ didalam Safar

Dalam sebuah hadīts disebutkan:

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَجمَعُ بين المغرب والعشاء إذا جَدَّ به السَّيرُ (رواه البخاري و مسلم)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā apabila beliau sudah mulai perjalanan.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

3⃣ Jama’ dalam keadaan sakit

Jama’ dalam keadaan sakit termasuk rukhsah, namun keadaan sakit perlu diperinci, dimana kondisi sakit yang menyulitkan (menyusahkan) maka diperbolehkan untuk menjama’ shalāt.

Adapun sakit yang ringan (misalnya) Flu ringan dan lain sebagainya, maka tidak diperbolehkan untuk menjama’ karena tidak membuat kesulitan bagi orangnya.

4⃣ Jama’ bagi yang terkena darah mustahādhah (darah karena penyakit)

Darah mustahādhah adalah darah yang disebabkan karena penyakit dan terjadi pada wanita, dan hal ini diperbolehkan berdasarkan pendapat ulamā Hanābilah dan dipilih Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dan juga para ulamā lainnya.

Berdasarkan hadīts dari Hamnah binti Jahsy Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada beliau:

فإنْ قَويتِ على أنْ تُؤخِّري الظُّهرَ، وتُعجِّلي العَصرَ، فتَغتسلينَ وتَجمعينَ بين الصَّلاتينِ، فافعلي(( رواه ابو دود والترمذي))

Apabila kamu mampu untuk mengakhirkan shalāt Dhuhur (menjadikan shalāt Dhuhur diakhir waktunya) dan mempercepat shalāt Ashar (menjadikan shalāt Ashar diawal waktunya) kemudian kamu mandi dan menjama’ kedua shalāt tersebut, maka lakukanlah.

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi)

Jadi seorang wanita yang keluar darah mustahādhah atau darah penyakit atau darah selain darah Hāidh dan selain darah karena melahirkan, apabila dia mampu menggabungkan shalāt dengan cara mengakhirkan shalāt Dhuhur diakhir waktu dan mengawalkan shalāt Ashar diawal waktu ini yang disebut dengan jama’ suri, maka diperbolehkan.

5⃣ Jama’ karena Hujan

Sebagai mana yang disebutkan oleh penulis matan diperbolehkan untuk jama’ disebabkan turunnya hujan, dan ini adalah pendapat Syāfi’iyah dan juga pendapat jumhur para ulamā.

Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadīts:

عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: جمَعَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بين الظُّهرِ والعَصرِ والمغربِ والعِشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مَطرٍ. فقيل لابن عَبَّاسٍ: ما أرادَ إلى ذلك؟ قال: أرادَ أنْ لا يُحرِجَ أُمَّتَه((رواه مسلم))

Dari Ibnu ‘Abbās Radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjama’ antara shalāt Dhuhur, Ashar dan juga antara shalāt Maghrib dan ‘Isyā di Madīnah, tidak disebabkan karena rasa takut, juga tidak disebabkan karena hujan”

Maka ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbās, apa yang diinginkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan hal itu?

Maka beliaupun mengatakan: “beliau ingin agar umatnya tidak kesulitan”.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari hadīts diatas ada isyarat bahwa di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt di jama’ diantaranya disebabkan karena rasa takut dan karena hujan.

⇒ Kesimpulan bahwasanya shalāt jama’disebabkan karena hujan adalah hal yang biasa dizaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Demikian yang bisa kita sampaikan.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
__________

shalat jama yg diperbolehkan 1