Tag Archives: sunnah

SUNNAH

 

SUNNAH

Kemarin kita kaji yg ringan ringan soal Hadits shahih & palsu, hari ini ttg Sunnah (sebagai sumber hukum), Insya Allah bsk ttg Bid’ah.

Sering kita mendengar kata “SUNNAH”

” ini hukumnya sunnah”
” Ini sunnah Rasul”
” Kita harus mengamalkan sunnah”

Lantas apa sebenarnya SUNNAH itu?

Sunnah, yaitu ucapan dan perbuatan Rasulullah terkait sifat ibadah beliau yg berdasarkan hadits-hadits shahih.

1. Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah saw) adalah sunnah Rasulullah saw yg merupakan sebuah jalan yg ditempuh oleh Rasulullah saw.

Firman Allah :
“Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’: 80)

Sabda Rasulullah :
“Barangsiapa yg menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku”.

(H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

 

2. Sunnah sebagai lawan dari bid’ah.

Sabda Rasulullah saw dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yg tetap hidup (setelah kematianku), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dgn sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yg memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yg dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yg dibuat-buat (ibadah baru) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat !”.

(HR. Abu Daud [4607],  At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44])

Salam !
dari KTQS

PAKE HP BID’AH ?

(3 Syarat Disebut Bid’ah)

Sebagian org menganggap bahwa bid’ah adalah setiap perkara baru.

Sehingga wajar kalau mereka mengatakan,

“Kalau memang hal itu bid’ah, kamu tidak boleh pakai HP, pake blackberry, tidak boleh haji dengan naik pesawat, tidak boleh pakai komputer, dst karena semua itu baru dan bid’ah adalah suatu yang baru dan dibuat-buat”.

Padahal bukan itu yg dimaksud dalam Islam, karena bid’ah yg tercela dan sesat adalah bid’ah dalam masalah syariat agama, sedangkan hal-hal diatas adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa)

Ini muncul karena tdk memahami hakekat bid’ah yg terdapat dalam hadits ini :

“Hati-hatilah dgn perkara yg diada-adakan (yg baru) karena setiap perkara yg diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676)

Untuk lebih jelas dalam memahami bid’ah, kita harus memahami tiga syarat disebut bid’ah yg disimpulkan dari dalil berikut :

Rasulullah saw bersabda,

مَنْأَحْدَثَفِىأَمْرِنَاهَذَامَالَيْسَمِنْهُفَهُوَرَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yg tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam hadits Nabi saw diatas  menyebutkan,

فِىأَمْرِنَاهَذَا

“Dalam urusan agama kami”

Sehingga perkara dunia tidak termasuk dalam hal ini (seperti hal hal yg dicontohkan diatas, penggunaan hp dst).

Ibnu Hajar Al Hambali berkata,
“Yang dimaksud dgn bid’ah adalah sesuatu yg baru yg tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun selain itu, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 127)

Jadi kesimpulannya, bid’ah yg terlarang dalam agama, tercela, sesat dan tertolak, yaitu yg memenuhi 3 syarat :

1. Sesuatu yg baru (dibuat-buat).
2. Sesuatu yg baru dalam agama.
3. Dan yg tidak disandarkan pada dalil syar’i

Urutan bacaan DZIKIR dan DOA sesudah shalat sesuai Sunnah Rasulullah saw

***

Image

Setelah Salam,

1. Awali dengan membaca :

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ      Astaghfirullaah (3x)

Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

2. Lalu membaca :

اللَّهُمَ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Allaahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam (1x)

Ya Allah, Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Berkat Engkau ya Allah, yang memiliki kemegahan dan kemuliaan

3. Lalu membaca :

 اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thiya limaa mana ‘ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu (1x)

Ya Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi pemberian-Mu, dan tak ada pula sesuatu yang dapat memberi apa-apa yang Engkau larang, dan tak ada manfaat kekayaan bagi yang mempunyai, kebesaran bagi yang dimilikinya, kecuali kekayaan dan kebesaran yang datang bersama ridha-Mu

4. Lalu membaca tasbih, tahmid dan takbir :

Tasbih (سبحان الله), SubhaanallaaH   “Maha Suci Allah” (33x)

Tahmid (الحمد لله), AlhamdulillaaH   “Maha Terpuji Allah” (33x)

Takbir (الله أكبر), AllaaHu akbar   “Allah Maha Besar” (33x)

Lalu lengkapi dengan:

 لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
La ilaaha illallaahu wahdaahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syain qadiir (1x)
Tidak ada Tuhan selain Allah, sendiri-Nya; tiada sekutu bagi-Nya.

Milik-Nya lah kerajaan dan pujian.

Dia Maha Kuasa atas segala-galanya.

Setelah itu silahkan membaca doa apa saja sesuai kebutuhan kita.

Hapalkan & Amalkan

Kiriman Daarul Arqom-Bandung

SUNNAH

Sering kita mendengar kata “SUNNAH”

Lantas apa sebenarnya SUNNAH itu?

Sunnah, yaitu ucapan dan perbuatan Rasulullah terkait sifat ibadah beliau yang berdasarkan hadits-hadits shahih.

1. Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah saw) adalah sunnah Rasulullah saw yang merupakan sebuah jalan yg ditempuh oleh Rasulullah saw.

Firman Allah :
“Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’: 80)

Sabda Rasulullah :
“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku”. (H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

2. Sunnah sebagai lawan dari bid’ah.

Sabda Rasulullah saw dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat (ibadah baru) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat !”.

(HR. Abu Daud [4607],  At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44])

Salam !

Dari KTQS Darul Arqom