Tag Archives: Tanda-Tanda Orang Munafik

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 09 Muharam 1439 H / 29 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-3
~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwāt, kita masih melanjutkan hadits yang ke-6 bagian ke-3.

Kita melanjutkan sifat-sifat nifaq ‘amali (nifaq kecil) dan kita masuk pada sifat yang ke-2.
?Yang kedua | Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

“Kalau dia berjanji maka dia menyelisihi.”

Penyelisihan janji ada 3 model:

– Pertama, dia berjanji dan dalam niatnya dia tidak akan menepati janji tersebut.

Dan inilah yang merupakan sifat munafiq, kenapa?

Karena zhahirnya menyelisihi batinnya.

Dia berjanji akan melakukan demikian tapi di dalam hatinya, “Saya tidak akan melakukan.”

Ini jelas merupakan kemunafikan, ini adalah perbuatan yang sangat buruk.

– Adapun yang kedua, yaitu dia berjanji kemudian di dalam hatinya dia akan memenuhi janji, namun qodarallāh, setelah itu dia tidak jadi (menyelisihi janji) karena ada udzur.

Maka ini sama sekali bukan sifat kemunafikan dan orang ini sama sekali tidak berdosa, kenapa?

Karena:
1. Dia sudah berniat untuk memenuhi janji.
2. Dia menyelisihi janji tersebut karena ada udzur.

– Ada lagi yang ketiga, seseorang berjanji dan dalam niatnya akan memenuhi janji tersebut, kemudian akhirnya dia tidak memenuhi janji tersebut namun tanpa udzur.

Apakah orang ini berdosa dan termasuk dalam sifat-sifat orang munafik?

Jawabannya, Wallāhu A’lam bish Shawwab, ini tidak termasuk sifat orang munāfik, karena tadi kita katakan bahwa: “Seluruh sifat-sifat nifaq ‘amali kembali kepada peneyelisihan zhahir dan batin.”

Dan ini zhahir dan batinnya sudah benar, dia berjanji dan dalam hatinya juga akan memenuhi, akan tetapi setelah itu tiba-tiba dia menyelisihi.

Dia tidak memenuhi janjinya tanpa ada uzdur sama sekali.

Apakah dia berdosa atau tidak maka ada khilaf di kalangan para ulama.

Jumhur ulama seperti madzhab 3 imam, yaitu Abu Hanifa, Syafi’i dan Imam Ahmad, bahwasannya orang ini tidak berdosa karena telah datang dalam suatu hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا وَعَدَ الرَّجُلُ أَخَاهُ – وَمِنْ نِيَّتِهِ أَنْ يَفِيَ لَهُ – فَلَمْ يَفِ وَلَمْ يَجِئْ لِلْمِيعَادِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

“Kalau seseorang sudah berjanji kepada saudaranya, kemudian dia berniat untuk memenuhi janjinya, kemudian dia tidak memenuhi, maka dia tidak berdosa.”

(Hadits dha’if riwayat Abu Daud)

Ini adalah dalil jumhur bahwasannya orang ini tidak berdosa, namun hadits ini adalah hadits yang lemah (dha’if).

Oleh karenanya, kita katakan bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat sebagian ulama dan pendapat sebagian salaf seperti: ‘Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri dan Ishaq bin Rahuyah dan juga pendapat Zhahiriyyah, yaitu orang ini berdosa, kenapa?

Karena dia sudah berjanji dan kewajiban bagi dia adalah memenuhi janji.

Dia tidak berdosa kalau ada udzur tetapi kalau tidak ada udzur maka tidak boleh.

Dan dia bertasyabuh dengan orang-orang munafiq. Meskipun tidak kita katakan itu adalah sifat munafik, namun ada kemiripan dengan sifat orang munafik yang kalau berjanji diniatkan sejak awal untuk menyelisihinya.

Bedanya, niatnya adalah untuk memenuhi namun pada prakteknya dia tidak memenuhi. Maka ada kemiripan dengan orang munafik.

Maka hukumnya haram meskipun tidak sampai pada derajat kemunafikan.
?Yang ketiga | Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bersengketa maka dia berbuat kefajiran.”

Yaitu jika dia besengketa atau masuk dalam persidangan dengan saudaranya maka dia melakukan kefajiran (keluar dari jalan kebenaran), misalnya dengan mendatangkan bukti-bukti yang batil (tidak benar).

Ini adalah sifat kemunafikan.

Dia tahu bahwa bukti-bukti itu tidak benar. Atau melakukan pengakuan yang tidak benar.

Intinya, kalau dia bersengketa dia berusaha bagaimana lawan sengketanya itu kalah bahkan dengan perkara-perka yang dusta, yang tidak benar.

Maka inilah sifat orang munafik.
?Yang keempat | Kalau membuat kesepakatan maka dia menyelisihi.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِذَا آحَدَّ غَدر

“Kalau dia sudah membuat kesepakatan bersama maka dia menyelisihi kesepakatan tersebut.”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan agar kita memenuhi kesepakatan kita. Allāh berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Penuhilah kesepakatan (janji) karena sesúngguhnya kesepakatan (perjanjian) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS Al Isrā’: 34)

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firman yang lain:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا

“Penuhilah janji kepada Allāh kalau kalian sudah berjanji, dan janganlah kalian membatalkan janji setelah kalian menekankan janji tersebut.”

(QS An Nahl: 91)

Oleh karenanya dalam Shahihain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنٍ

“Setiap orang yang berkhianat (menyelisihi kesepakatan) akan diberikan bendera baginya pada hari kiamat untuk dipermalukan (dikenal) sehingga orang-orang akan mengenali (melihat bendera tersebut), maka dikakatakan, ‘Inilah pengkhianatan Si Fulan yang tidak menjalankan perjajian’.”

(HR Muslim 1736, Bukhari 6966)

Tentu bisa kita bayangakan, kalau terjadi perjajian antara seorang muslim dengan seorang kafir, kemudian dia mengkhianati perjajian tersebut, kemudia dia bunuh orang kafir tersebut.

=> Sebagaimana misalnya: ada negeri muslim dengan negeri kafir mengadakan perjanjian bahwasannya mereka gencatan senjata, tahu-tahu ada muslim yang menyelisihi perjajian ini, kemudian dia bunuh seorang kafir, maka muslim ini tidak akan mencium bau surga.

Dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad (yaitu orang kafir yang antara negeri muslim dan kafir tersebut ada perjanjian gencatan senjata/ perjanjian damai, ternyata ada seorang muslim membunuh seorang kafir dari negara tersebut), maka orang muslim ini tidak akan mencium bau surga.”

(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah nomor 2686)

Padahal ini kesepakatan seorang muslim dengan kafir, bagaimana lagi kalau kesepakatan seorang muslim dengan muslim yang lainnya?
?Yang kelima | Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان

“Kalau diberi amanah maka dia berkhianat.”

Yaitu, seseorang diberi amanah (titipan) misalnya kemudian dia tidak mengembalikan titipan (amanah) tersebut.

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allāh telah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut.”

(QS An Nisā’: 58)

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Sampaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu (yaitu mengembalikan amanah tersebut) dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.”

(Hadits shahih riwayat Imam Abu Daud nomor 3534)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dari sifat-sifat munafiq ini sejauh-jauhnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب
________

munafik3

Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Muharam 1439 H / 28 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munāfik (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-2
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNĀFIQ (BAGIAN 2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt, kita masih melanjutkan hadīts yang ke-6.

Pada pertemuan yang lalu telah kita jelaskan tentang nifāq akbar atau disebut juga dengan nifāq I’tiqadi, yaitu nifāq yang berkaitan dengan keyakinan dengan menyembunyikan kekufuran dan menampakkan ke-Islaman.

Adapun bagian ke-2 yang akan bahas adalah:

▪Nifāq kecil/nifāq ashghar

Yaitu nifāq kecil (Nifāq al ‘amali) yaitu nifāq yang berkaitan dengan amal.

Artinya, hatinya beriman hanya saja amalannya menyelesihi batinnya, namun tidak berada pada derajat kekufuran.

Inilah yang disebutkan dalam hadīts yang sedang kita bahas, nifāq ‘amali.

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. وإِذَا احَدَّ غَدر

Tanda-tanda Munāfiq ada 3, yaitu:

① kalau berbicara berdusta
② kalau dia berjanji menyelisihi
③ kalau diberi amanah dia berkhianat.

Ada tambahan dalam riwayat yang lain:

④ kalau sudah melakukan kesepakatan dengan orang lain maka dia menyelisihi (menkhianati) kesepakatan tersebut.
⑤ kalau dia bersengketa maka dia melakukan fujur yaitu keluar dari jalan kebenaran.

Inilah 5 ciri nifāq al ashghar, nifāq ‘amali.

Dan kalau kita perhatikan, 5 ciri tersebut seluruhnya kembali kepada satu muara yaitu penyelisihan zhahir dengan batin, inilah yang disebut dengan nifāq ‘amali.

Semakin banyak sifat tersebut pada seseorang maka semakin tinggi kualitas kemunāfikannya.

Pertanyaannya, apabila kita dapati 5 ciri tersebut ada pada dirinya, apakah kita katakan dia telah Munāfiq dengan nifāq akbar?

Kalau ngomong selalu berdusta, kalau berjanji selalu menyelisihi, kalau diberi amanah selalu berkhianat, kalau membuat kesepakatan selalu menyelisihi dan kalau bersengketa selalu melakukan kefujuran.

Apabila 5 ciri tersebut ada pada dia, Apakah dikatakan dia telah kāfir ?

Jawabannya: Tidak

Tetap dikatakan dia telah Munāfiq ‘amali (nifaq kecil) selama imannya ada dalam hatinya. Tetap dia melakukan nifāq kecil bukan nifāq akbar.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Perhatikan, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendatangan kalimat: “Idza” (kalau)
√ kalau dia berbicara dia berdusta
√ Kalau di janji menyelisihi
Ini menunjukkan sifat yang SELALU dia lakukan.

Maka apabila ada seorang mukmin yang TERKADANG berdusta maka tidak dikatakan dia seorang munāfiq (Nifaq ‘amali).

Karena seorang mukmin terjerumus dalam kemaksiatan,
√ Terkadang dia berdusta,
√ Terkadang menyelisihi janji,
√ Terkadang melakukan kefujuran,
√ Terkadang dia mengkhianati amanah.
Ini tidak dikatakan dia munāfiq dan tetap dikatakan dia seorang mukmin nanum dia telah melakukan maksiat.

Berbeda dengan orang yang “selalu”, inilah yang disebut dengan orang munāfiq dengan nifāq ‘amali.

Jadi, dibedakan antara seseorang mukmin yang bersalah dengan seseorang yang munāfiq.

Kita bahas tentang 5 sifat tersebut.

?Yang pertama | Kalau dia berbicara dia berdusta

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Kalau dia berbicara dia berdusta.”

Ini adalah kegiatan dia.

Kenapa dikatakan sifat munāfiq ?

⇒ Karena dia mengetahui bahwasanya apa yang dia sampaikan itu dusta tetapi dia sampaikan juga dalam bentuk kebenaran (Jadi zhahirnya menyelisihi batinnya).

Batinnya tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikan secara zhahir sekan-akan kebenaran. Inilah yang merupakan sifat munāfiq.

Adapun dusta yang tidak sengaja di lakukan, misalnya :

? Seseorang menyampaikan kabar ternyata dia tidak tahu bahwa kabar tersebut dusta (belum sampai informasi kepada dia, telah terjadi perubahan bahwa yang dia sampaikan ternyata salah)

Maka orang ini tidak dikatakan mempunyai sifat munāfiq , kenapa?

Karena dustanya tidak disengaja.

Dan ini bisa terjadi pada seorang mukmin. Dia ditanya dengan suatu pertanyaan kemudian dijawab dengan tanpa berfikir sebelumnya ternyata jawabnya keliru.

?Misalnya dia ditanya:

“Apakah engkau telah menyampaikan salamku kepadanya?”

Kemudian dia langsung menjawab: “Sudah.”

Dia lupa, ternyata belum, ternyata yang sudah disampaikan adalah salamnya orang lain bukan salam orang tadi. Ini contoh dusta tidak disengaja dan bukan sifat munāfiq.

?Sifat munāfiq adalah penyelisihan antara zhahir dan batin (yaitu) sengaja berdusta.

Dia tahu itu dusta namun dia tetap menyampaikannya secara zhahir dalam bentuk kebenaran.

Kita lanjutkan pembahasan sifat berikutnya pada pertemuan selanjutnya, In syā Allāh.

وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________

munafik1

Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)

? BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Muharam 1439 H / 27 September 2017 M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
? Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-1
~~~~~~~~

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK (BAGIAN 1)

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masih dalam bab tentang “Peringatan tentang Akhlaq yang Buruk”, kita masuk pada hadīts yang ke-6.

Dari shahābat Abū Hurairah beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.”

Tanda-tanda orang Munāfiq ada tiga:

⑴ kalau dia berbicara dia berdusta ⑵ kalau dia berjanji dia menyelisihi ⑶ kalau diberi amanah (diberi kepecayaan) dia berkhianat.

(Diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim)

Dan diriwayatkan juga dalam Shahīh Bukhāri dan Shahīh Muslim dari hadīts Abdullāh bin Umar dalam hadīts yang lain dengan tambahan:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bermusuhan/bersengketa maka dia berbuat kefajiran (yaitu) keluar dari jalan kebenaran”.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemunāfiqan ada 2 (dua), yaitu :

⑴ Nifaq besar
⑵ Nifaq kecil

Perbedaan nya,

Nifaq besar/Nifaq Al Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam (yaitu) dia sebenarnya kufur dalam arti batinnya kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, namun dia menampakkan keislamannya secara zhahir.

Dan inilah kemunāfikannya orang-orang Munāfiq di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang Allāh hukum mereka.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang Munāfiq berada di dasar neraka Jahannam.”

(QS An-Nisā’ : 145)

Mereka inilah yang Allāh sifati dengan firman-Nya:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menipu (melakukan makar/ melakukan penipuan) Allāh dan orang-orang yang beriman, namun sebenarnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri dan mereka dalam kondisi tidak sadar.”

(QS Al Baqarah : 9)

Dan orang Munāfiq lebih parah dari orang kāfir yang asli, kenapa bisa demikian? Karena,

√ Orang kāfir asli dia menampakkan kekufurannya.
√ Orang Munāfiq dia melakukan dua kesalahan :

① pertama dia kufur
② kedua dia menipu Allāh (padahal Allāh maha mengetahui isi hati mereka)

Oleh karenanya, pantas jika mereka dimasukkan (فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ) di paling dasar bawah dari neraka Jahannam, karena apa yang mereka lakukan lebih parah.

Dan dari sini kita tahu bahwa hidayah itu di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena kalau Allāh tidak memberi hidayah kepada kita maka kita tidak akan dapat hidayah, sebagaimana telah berkata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَوْلا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا

“Kalau bukan karena Allāh, maka kita tidak tidak dapat hidayah, kita tidak bisa sedekah, kita tidak shalāt.”

(HR Bukhari 4104)

Semuanya dari Allah Subhānahu wa Ta’āla”

Lihat orang-orang Munāfiq!

Sebab-sebab hidayah datang kepada mereka sudah terkumpulkan.

√ Mereka pandai bahasa arab mereka
√ Mereka mengerti isi Al Qurān
√ Mereka di zaman Nabi mendengarkan langsung wejangan-wejangan Nabi.
√ Mereka tahu ayat-ayat Al Qurān turun
√ Mereka lihat langsung mukjizat-mukjizat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam
√ Mereka mendengarkan ceramah-ceramah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam (karena orang Munāfiq zaman dahulu juga shalāt)

Oleh karenanya, dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ

“Shalāt yang paling berat bagi orang Munāfiq yaitu shalāt Fajar dan shalāt Isya.”

√ Ini menunjukkan orang Munāfiq di zaman Nabi shalāt berjama’ah
√ Kalau shalāt Zhuhur mereka datang
√ Kalau shalāt Ashar mereka datang
√ Kalau shalāt Maghrib mereka datang.

Kenapa?

⇒ Karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka Islam. Kalau mereka tidak shalāt tentu akan ketahuan.
⇒ Berbeda tatkala Shubuh dan Isya (gelap) sehingga kalau mereka tidak datang maka tidak ketahuan.

Oleh karenanya, sangat berat bagi mereka untuk shalāt Shubuh dan shalāt Isya, selain karena mereka mendahulukan kenikmatan dunia (tidur) kalaupun mereka tidak datang pun tidak ketahuan.

Oleh karenanya Allāh menyebutkan sifat orang-orang Munāfiq ketika shalāt,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalau mereka shalāt, shalāt dengan bermalas-malasan, mereka hanya riya’, ingin agar amalan mereka dilihat oleh manusia dan mereka tidak mengingat Allāh kecuali hanya sedikit.”

(QS An-nissā’ : 142)

Ini menunjukkan bahwa orang Munāfiq juga shalāt , bahkan shalāt berjama’ah, mereka juga berdzikir kepada Allāh. Tetapi semuanya mereka lakukan hanya sekedar penipuan, batin mereka berisi dengan kekufuran, ini kemunāfikan akbar.

Dan mereka sudah dibukakan di hadapan mereka sebab-sebab hidayah, namun mereka tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan semisal mereka (orang Munāfiq zaman dahulu) adalah orang Munāfiq zaman sekarang.

Kita dapati sebagian orang Munāfiq dalam diri kemunāfikan (nifaq akbar) dia benci kepada syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak beriman dengan syari’at Allāh Subhānahu wa Ta’āla, benci dengan syari’at islam, bahkan tidak mau kalau syari’at Islam tegak.

Mengejek orang-orang yang beragama, kemudian mengejek syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla,

Mengejek hadīts-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Namun katanya mereka Islam.

Ada juga orang seperti ini di zaman kita, KTP mereka Islam, terkadang memiliki gelar dalam bidang agama, tapi benci terhadap syari’at Islam, bahkan menghalalkan perkara-perkara yang harām (jelas), menghalalkan homoseksual misalnya, ini sebenarnya adalah orang Munāfiq , hati mereka benci dengan Islam tetapi KTP-nya Islam.

Ini adalah kemunāfikan yang pertama, kemunāfikan (nifaq) akbar.

In syā Allāh kita akan melanjutkan bagian yang kedua yaitu nifaq ashgar, pada kajian berikutnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب

________

 

 

munafik2