Memasukkan Orang ke Grup Whatsapp / Medsos Tanpa Izin

Memasukkan orang ke grup whatsapp/Medsos tanpa izin

Memasukan orang ke dalam grup whatsapp atau semisalnya tanpa izin adalah perbuatan yang kurang beradab. Karena bisa jadi orang yang dimasukkan itu tidak ridha dan merasa terganggu.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَن سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِن لِسانِهِ ويَدِهِ

“Seorang Muslim yang sejati adalah yang kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisannya dan tangannya”

(HR. Bukhari no.6484, Muslim no. 41).

Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

(HR. Ibnu Majah no. 3934, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 549).

Maka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain merasa terganggu. Termasuk di dalamnya, memasukkan orang ke grup tanpa izin. Ini adalah akhlak yang buruk. Kecuali ada prasangka kuat bahwa ia akan ridha jika dimasukkan tanpa izin.

Demikian juga tidak boleh melakukan hal seperti ini walaupun alasannya untuk dakwah. Ingatlah kaidah:

الغاية لا تبرر الوسيلة

“Tujuan baik tidak menghalalkan segala cara”.

Ingat juga hadist Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam:

إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإحْسَانَ علَى كُلِّ شيءٍ

“Sesungguhnya Allah ta’ala mewajibkan ihsan (cara yang baik) dalam segala sesuatu”

(HR. Muslim no. 1955, dari sahabat Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu).

Maka andaikan ingin memasukkan orang ke grup, hendaknya dengan cara yang baik.

Selain itu, jika ingin mendakwahkan orang lain dan menyebarkan ilmu, jangan lupa adab! Jangan sampai niat ingin berdakwah namun tidak punya adab.

Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”

(Adabul Imla’ wal Istimla’ [hal. 2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [hal. 10]).

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

*

Join channel telegram @fawaid_kangaswad

SIAP DIUJI ALLAH KETIKA HIJRAH

SIAP DIUJI ALLAH KETIKA HIJRAH

Hijrah disini artinya meninggalkan kehidupan yang jauh dari agama menuju kehidupan baru dan berusaha serius menerapkan ajaran agama.
Mungkin banyak dengar cerita saudara-saudara kita yang hijrah, meninggalkan riba, meninggalkan musik, meninggalkan pekerjaan haram, meninggalkan bid’ah, meninggalkan maksiat, kemudian mereka diberi kemudahan-kemudahan setelah hijrah, rezeki lancar, dan hidup makmur.
Namun itu hanya sebagian dari kisah-kisah hijrah. Disamping kisah-kisah gemerlap itu, ada kisah-kisah lain.
Ada yang setelah hijrah kemudian berseloroh: “Mengapa hidup Saya lebih susah ketika sudah hijrah?”.
Ada yang diuji dengan seretnya rezeki.
Ada yang harus mengalami konflik rumah-tangga.
Ada yang diuji dengan gangguan dari keluarganya atau teman-temannya.
Saya katakan, memang begitulah sunnatullah, yang siap hijrah akan diuji!

 Allah Ta’ala berfirman:


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al Ankabut: 2)
Yang setelah hijrah diberi nikmat dan mudahnya rezeki itu pun ujian, apakah ia bisa tetap istiqomah dengan nikmat tersebut, ataukah menjadikannya luntur dan futur?
Yang jelas, setelah hijrah, siap diuji oleh Allah. Harus siap, harus berani, demi menggapai ridha-Nya dan jannah-Nya.
Surga itu butuh diperjuangkan.
Harus bersabar. Tujuan akhir kita adalah akhirat, dunia itu sebentar, akhirat itu abadi.
Dunia itu hina, kemenangan di akhirat itu kemuliaan!
Semoga Allah memberi taufiq. Aamiin.

✒️

Ustadz Yulian Purnama, S. Kom. حفظه الله تعالى.

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 75 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah Bag 03

Halaqah 75 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-75 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Yang perlu kita perhatikan disini tulisan Khawarij yang disebutkan oleh beliau jangan kita kiaskan kemudian setiap orang yang melakukan kebidahan karena bidah ini lebih dahsyat daripada kemaksiatan kemudian dihalalkan darah orang yang melakukan kebidahan (Tidak) tapi disini beliau ﷺ sedang berbicara tentang aliran tertentu yaitu al Khawarij

أينما لقيتموهم فاقتلوهم

Maksudnya adalah orang² khawarij

لئن لقيتموهم لأقتلنهم قتل عاد

Ini juga tentang orang² khawarij para ulama menjelasakan bahwasanya Nabi ﷺ tidak menyebutkan ancaman² lebih dahsyat daripada ancaman² terhadap orang² khawarij diantaranya adalah

أينما لقيتموهم فاقتلوهم

Bahkan beliau sendiri meniatkan bertemu dengan mereka beliau akan membunuh mereka & bukan hanya sekedar dibunuh sebagian tapi seperti terbunuhnya orang² Ad (kaumnya Nabi Hud) yang mereka dibinasakan oleh Allāh secara keseluruhan tidak ada diantara mereka yang tersisa.

Didalam Hadits yang lain beliau ﷺ mengatakan bahwasanya mereka ini adalah

شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ

Sejelek² orang yang terbunuh dibawah langit.

Diantara orang² yang terbunuh sejelek² orang yang terbunuh adalah mereka ini, Allāhualam disini adalah min sarry Qotla diantara sejelek² orang yang terbunuh, sebagaimana sabda Nabi ﷺ

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا

Sarralumur maksudnya min sarril umur (diantara sejelek² perkara) karena sejelek² perkara adalah syirik

مِن شَرَّ الأُمُورِ

Maksudnya adalah sebagian-diantara yang paling jelek adalah bidah. Ini diucapkan oleh Nabi, bahwasanya Qotla yang paling Sar diantara yang paling jelek adalah Qotlanya orang² khawarij.

Kemudian beliau mengatakan

خيرُ قتلى مَن قتَلوه

Sebaik² orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka

شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه

Bahkan sebelumnya beliau mengatakan – كِلَابُ النَّارِ – Anjing² Neraka.

Ini sifat yang disifatkan oleh Nabi ﷺ kepada orang² khawarij bahwasanya mereka adalah Kilabunnar, Allahualam maksudnya mereka diancam dengan Neraka kelak azab mereka adalah pedih sehingga mereka berteriak seperti teriakan anjing², yang jelas ini adalah sifat yang jelek bagi orang² khawarij, mereka adalah Kilabunnar & sejelek² orang yang terbunuh adalah mereka ini & orang yang paling baik adalah yang dibunuh oleh mereka.

Kemudian disini disebutkan kisah Abu Umamah & saat itu Abu Umamah melihat kepala² yang dipajang di tangga masjid Damakus kemudian Abu Umamah & ini adalah kepala² orang² khawarij beliau mengatakan

كِلَابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه

Kemudian membaca firman Allāh

۞ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

[آل عمران: 106]

Hari dimana wajah² akan memutih, akan putih & gelap wajah² yang lain

Sudah kita sampaikan sebelumnya, yang dimaksud dengan wajah² yang memutih ahlu sunnah, wajah yang hitam ahli Bidah.

Abu Umamah seorang Shahabat Nabi ﷺ membaca ayat ini ketika melihat mayat² orang² khawarij, ini menguatkan bahwasanya maksud & ini yang disampaikan oleh Abdullah ibn Abbas bahwasanya wajah² yang menghitam tadi adalah ahlu Bida

إلى آخرِ الآيةِ ، قلتُ لأبي أمامةَ

Aku berkata kepada Abu Umamah (Abu Gholib)

أَنتَ سمعتَهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ؟

Engkau mendangar ini dari Rasulullah ﷺ?

قالَ : لَو لَم أسمَعهُ إلَّا مرَّةً أو مرَّتينِ أو ثلاثًا أو أربعًا- حتَّى عدَّ سَبعًا- ما حدَّثتُكُموهُ

Abu Umamah menguatkan seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi ﷺ kecuali satu/dua atau tiga atau empat sampai beliau menyebutkan 7kali niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.

Maksudnya adalah seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi tentunya aku tidak akan berani seperti ini, karena ini adalah perkara yang ghoib

كلابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السَّماءِ خيرُ قَتلى من قتلوهُ

Ini adalah perkara yang ghoib seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.

Oleh karenanya para ulama menjelasakan tidak ada disana ancaman² yang mengerikan lebih dari ancaman yang datang untuk aliran ini yaitu aliran Khawarij , mereka sudah ada sejak zaman dahulu & dari masa ke masa masih ada orang² yang membawa pemikiran khawarij sampai di zaman kita sekarang ini, oleh karena itu hati² dengan pemikiran mereka & diantara cara nya adalah membentengi diri kita dengan aqidah yang benar & jangan tertipu dengan rajinnya mereka (membaca alQuran, atau juga mereka memakai pakaian seperti pakaian kita atau dhohirnya seperti seorang salafy, tapi ternyata pemikiran mereka adalah pemikiran khawarij.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 74 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah Bag 02

Halaqah 74 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-74 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Nabi ﷺ, beliau mengatakan jangan kalian memerangi mereka

لا ماصلوا

Selama mereka masih shalat

Maksudnya adalah selama mereka masih muslim, selama mereka ini masih muslim tidak keluar dari agama Islām karena kedholiman yang mereka lakukan tidak mengeluarkan mereka dari Islām, kefasikan & dosa besar yang mereka lakukan tidak mengeluarkan mereka dari Islām.

Selama mereka ini masih muslim maka – لاتقاتلهم – jangan memerangi mereka, dan ulul amri yang kita diperintahkan untuk mentaati mereka, adalah yang muslimun

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

[Qs An Nisa 59]

Minkum : muslimin
Selama mereka adalah muslimin maka mereka adalah ulul amr kita, muslimin mencakup laki² maupun perempuan, seandainya disana Qadarullah ada seorang pemimpin/penguasa wanita & dia adalah seorang muslimah maka dia adalah termasuk ulul Amr yang kita diwajibakan untuk taat kepadanya & mendengar kepadanya.

Karena ukurannya disini adalah Islām dalam keadaan tertentu, yang menjadi pemimpin tidak memenuhi syarat, syaratnya kalau dalam keadaan tenang dalam keadaan ikhtiar dalam keadaan normal maka yang menjadi pemimpin adalah laki² yang sehat & dia mengetahui tentang bagaimana cara mengatur negara bagaimana mengurus urusan perang & dia adalah seorang yang merdeka itu diantara syarat seorang pemimpin apabila dalam keadaan normal kemudian dia dari Quraish & termasuk keturunan Quraish ini jika dalam keadaan Normal, tapi dalam keadaan yang tidak normal mungkin salah satu dari syarat tadi kurang, seandainya muncul & diangkat seorang yang masih kurang diantara syarat² tadi maka ini tidak membatalkan kepemimpinan beliau, dalil nya banyak.
misalnya

…وإن تأمَّرَ عليكم عبدٌ حبشِيٌّ

Dia adalah seorang budak, dalam keadaan normal disyaratkan merdeka, tapi seandainya ada seorang budak yang menjadi seorang pemimpin wajib bagi kita mendengar & Taat, dalam sebuah hadits

وإن كان عبداً مجدع الأطراف

[HR Muslim]

Meskipun dia adalah seorang budak yang terpotong ujung² jarinya.

Kita tau bahwasanya orang yang terpotong ujung jarinya dia tidak bisa melakukan banyak perkara tangan , banyak perkara² yang bisa kita gunakan dengan tangan & tangan bisa kita gunakan diantaranya dengan sebab jari² yang Allāh ciptakan pada tangan tersebut, seandainya hanya ada tangan saja tanah ada jari maka banyak perkara yang tidak bisa kita kerjakan.

Budak tadi – مجدع الأطراف – dia adalah seorang budak yang putus jari jemarinya kalau dia berperang tidak bisa berperang, bagaimana dia membawa tombak, bagaimana dia membawa anak panah, bagaimana dia senjata, pedang, jika dia berperang dengan orang lain kalah, dia tidak punya kekuatan padahal jika dalam keadaan normal disyaratkan seorang pemimpin yang sehat dia memiliki badan yang sehat, sempurna demikian pula disyaratkan untuk seorang laki² karena Nabi ﷺ mengatakan

ما أفلح قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً

Tidak akan beruntung sebuah kaum yang mereka menjadikan urusan mereka ini diserahkan kepada seorang wanita.

Ini jika dalam keadaan normal, tapi dalam keadaan tertentu seorang wanita menjadi pemimpin selama dia adalah seorang muslim maka sah kepemimpinannya, bukan berarti boleh memberontak kepada pemimpin wanita (Tidak boleh) selama dia Islām & di sini Nabi ﷺ mengatakan – ما صلوا – selama mereka ini masih shalat & ini juga menjadi dalil yang digunakan sebagian ulama tentang kafir nya orang yang meninggalkan shalat.

Karena Nabi ﷺ disini menjadikan ukuran Islām & tidaknya seseorang dari shalatnya. Selama mereka masih shalat (Muslim) jika sudah tidak shalat (Bukan Muslim).

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

[HR Muslim]

Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat maka sungguh dia telah keluar dari agama Islām.

Hadits ini diriwayatkan oleh al Imam Muslim. Kenapa beliau mendatangkan hadits ini, kita lihat ketika Nabi ﷺ berbicara tentang khawarij dan mereka adalah ahlu Bida maka beliau ﷺ memerintahkan untuk memerangi mereka & membunuh mereka.

Adapun ketika beliau mengabarkan tentang adanya pemimpin² yang dholim ternyata ketika ditanya
Ya Rasulullah apakah kita memerangi mereka?
Beliau mengatakan – لا تقاتلهم – jangan kalian memerangi mereka.

Khawarij perangi, pemimpin yang dholim jangan perangi. Khawarij kenapa disuruh diperangi mereka adalah ahlu bida yang mudhorot mereka / yang mereka hasilkan ini banyak – besar sekali. Adapun yang dilakukan oleh umaro maka itu sebatas kemaksiatan tidak sampai kepada kebidahan, jauh kedholiman yang mereka lakukan ini kepada kebidahan. Menunjukkan bahwasanya

البدعة أشد من الكبائر

Karena ketika beliau ﷺ menyebutkan tentang para pemimpin yang dholim beliau melarang kita untuk memerangi mereka.

Berarti sesuatu yang disuruh untuk diperangi itu lebih dahsyat daripada sesuatu yang tidak disuruh diperangi. Berarti disini ada hubungan yang erat antara hadits yang kemarin

أينما لقيتموهم فاقتلوهم

Dengan hadits yang sekarang, oleh karenanya digadengkan oleh beliau, supaya kita memahami supaya kita bisa langsung membandingkan antara yang pertama (bidahnya orang² Khawarij) dengan kedholiman yang dilakukan oleh umaro² yang dholim.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 73 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah

Halaqah 73 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu Salamah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-73 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Sampai kita pada

باب ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

Beliau mengatakan

وفيه أيضا

Fiihi disini adalah didalam hadits yang shahih, ternyata yang meriwayatkan bukan Bukhari & Muslim, tapi dia diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, dari Umum Salamah, beliau menyatakan

«سَتَكُونُ أُمَرَاء فَتَعْرِفُونَ وتُنْكِرون»

Akan ada pemimpin² (amir²) maka engkau mengenal & kalian mengingkari.
Ta’ rifun – تَعْرِفُونَ – maksudnya kalian tau bahwasanya mereka melakukan sesuatu yang ma’ruf dikenal didalam syariat (sesuatu yang ma’ruf) bukan sesuatu yang mungkar, وتُنْكِرون dan kalian mengingkari.

Ada sebagian yang kita kenal amalan tersebut adalah maruf/boleh didalam syariat /disyariatkan ada diantaranya yang merupakan amalan yang mungkar.

Menunjukkan bahwasanya umara tadi makhluk yang masih tercampur amalannya antara yang baik & juga yang jelek

فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ

Barangsiapa yang mengenal sungguh dia telah berlepas diri.

Ini Adalah mengenal & dia mengingkari dalam hatinya maka sungguh dia telah berlepas diri

وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ

Barangsiapa yang mengingkari maka dia selamat,

Artinya bukan hanya sekedar mengingkari dengan hati (seperti yang pertama) tapi dia dengan lisannya, berani dan ini tidak mengharuskan mengingkari dengan Jahr

وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ

Barang siapa yang mengingkari dengan lisannya (misalnya) maka dia telah selamat, jangan diartikan mengingkari dengan lisan itu maksudnya adalah jahr atau demo, seperti yang dipahami oleh sebagian, ketika mereka memahmi

كلمة باطل عند سلطان جائر

Kalimat yang benar yang disampaikan di depan pemimpin yang dholim, kemudian membayangkan seperti yang dilakukan oleh sebagian dengan cara demo, dengan cara membeberkan kesalahan² dia depan orang banyak (bukan itu maksudnya), tidak ada kelaziman mengingkari dengan lisan kemudian demo & juga dibeberkan didepan orang lain, seandainya seseorang berduaan dengan pemimpin tersebut kemudian dia mengingkari dengan lisannya & mengatakan wahai Amir bertaqwalah kepada Allah, ini termasuk juga mengingkari dengan lisannya & tidak harus dia lakukan itu dihadapan orang banyak & ini pun di namakan dengan inkaru Mungkar

وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ

Barang siapa yang mengingkari maka dia selamat

وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

Yang celaka adalah orang yang ridho tidak ada pengingkaran didalam hatinya, beda dengan yang pertama tadi dia (Arof/dia tau & mengingkari) adapun yang ini dia maka ridho dengan kemungkaran tersebut – وَتَابَعَ – ditambah lagi dia mengikuti kemungkaran, ridha & dia mengikuti kemungkaran. Maka ini adalah orang yang celaka

قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ

Mereka (para shahabat) mengatakan ketika diberi tahu tentang kedatangan & akan datangnya umaro/pemimpin² yang mereka memiliki sifat tadi melakukan yang maruf & juga melakukan yang mungkar menunjukkan bahwasanya mereka ini mungkin melakukan kefasikan karena kefasikan merupakan perkara yang mungkar atau mereka melakukan kedholiman & ini juga masuk kemungkaran.

Jadi Mungkar masuk didalamnya al Fisk (kefasikan) juga kedholiman

قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ

Apakah kita memerangi mereka.

Mereka menjadi pemimpin diberikan (dijadikan) amanah namun melakukan kemungkaran baik mendholimi rakyatnya atau melakukan kefasikan, kefasikan ini untuk dirinya sendiri tidak sampai dia mendholimi orang lain tapi kalau kedholiman ada pengaruhnya juga kepada orang lain

قَالَ لَا مَا صَلَّوْا

Maka Nabi ﷺ mengatakan Tidak,

Tidak maksudnya adalah – نُقَاتِلُهُمْ – janganlah kalian memerangi mereka, karena kalau memerangi mereka akan terjadi mudhorot yang lebih besar.

Benar bahwasanya kedholiman mereka ini mudhorot, kefasikan mereka ini mudhorot tapi memerangi mereka & keluar kamudian memberontak kepada mereka ini kemudhorotannya lebih besar

Dan syariat kita adalah syariat yang:

❶ Mungkin dia adalah tujuannya syariat tersebut menghilangkan ke mudhorotan

❷ Meringankan kemudhorotan

Kalau tidak menghilangkan kemudhorotan secara keseluruhan maka dia mengurangi kemudhorotan tersebut, ini kaidah didalam syariat.

Kalau sesepuh dengan khurujnya dia / dengan dia memerangi pemimpin² yang dholim tadi justru terjadi kemungkaran yang lebih besar & ini gholib nya demikian maka tentunya keluar & memberontak kepada mereka ini bukan sesuatu yang syariat kan karena nanti terjadi mudhorot yang lebih besar & ini yang waqi (terjadi), tidak ada disebuah pemberontakan disebuah negara /disebuah daérah kepada pemimpin yang syari kecuali setelah nya kehancuran & juga kebinasaan, sebuah kota yang sebelumnya hidup dengan manusianya tidak lama setengah – satu bulan setelah itu sudah menjadi kota yang mati yang tidak dihuni oleh manusia.

Seandainya mereka mau bersabar kehilangan 1 rumah (misalnya) & mereka mau bersabar niscaya ribuan rumah akan terselamatkan tapi kalau gara² 1 rumah kemudian dibesarkan oleh mereka, kemudian mereka mengatakan ini adalah kedholiman-kedholiman kemudian memberontak kepada penguasa maka yang akan terjadi ribuan atau puluh ribuan akan hancur & juga binasa. Kalau mau mereka bersabar ada satu orang yang mungkin dibunuh – dipenjara secara dholim niscaya akan selamat ribuan manusia tapi ketika mereka tidak mau bersabar terluka sebagian tokoh mereka atau dipenjara sebagian tanpa hak kemudian mereka melakukan pemberontakan kemudian terjadi peperangan dengan sebab mereka tidak bersabar karena 1 orang terbunuh akibatnya menjadi ribuan atau puluhan ribu manusia mereka terbunuh bukan demikian tujuan syariat Islām Inkarul Mungkar.

Di dalam Islām ada dhowabit, Allāh Subhanahu wa Taāla mensyariatkan bagi kita semuanya untuk mendengar & taat kepada penguasa & bersabar atas kedholiman mereka & kefasikan kedholiman mereka tidak menghalalkan sesepuh memberontak kepada penguasa & ini semua Allāh syariatkan adalah untuk mashlahat bagi kita sendiri jangan kita menyangka ini disyariatkan adalah untuk enaknya penguasa & juga pemimpin, jangan kita mengira ini adalah untuk supaya pemimpin² tersebut & supaya penguasa² tersebut merasakan enaknya-nikmatnya (Tidak).

Syariat ini yaitu – السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ – ini adalah untuk kepentingan diri kita sendirinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 72 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 04

Halaqah 72 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 04

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم

Karena sesungguhnya membunuh mereka ini ada pahala bagi orang² yang membunuh mereka di hari Kiamat.

Jadi orang² yang memerangi orang² khawarij dengan cara yang benar dibimbing oleh pemerintah seperti yang dilakukan oleh Ali bin Abu Thalib & juga pasukannya ketika mereka membunuh orang² khawarij maka mereka mendapatkan pahala kenapa demikian, karena orang² khawarij ini mendatangkan mudhorat yang sangat besar bagi kaum muslimin. Mereka meninggalkan penyembah² kuburan tapi mereka perangi orang² Islām ini melakukan dosa besar dibunuh & ingin mengacaukan keadaan negara & negara yang kacau tidak mungkin bisa berdakwah disitu dengan baik, tidak mungkin mereka bisa mengembangkan lagi & berjihad mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama Islām akibat kekacauan yang ada didalam negeri, oleh karenanya di zaman Ali bin Abi Tholib tidak seperti di zaman Umar banyak negeri² yang sebelumnya negeri kufur masuk kedalam agama Islām.

Tetapi di zaman Ali meskipun 5-4 tahun tapi sangat sedikit sekali disana tambahan negeri yang masuk ke dalam agama Islām karena beliau sibuk mengurusi orang² khawarij, oleh karenanya bahaya mereka ini besar dengan sebab orang² khawarij ini banyak maslahat dunia & juga maslahat agama ini menjadi terabaikan menjadi tersingkirkan/hilang, karena pemerintah sibuk dengan orang² khawarij berperang dst didalam negara & jika situasi negara kacau bagaimana mereka bisa memutar kegiatan² masyarakat didalam kehidupan sehari-hari, tidak mungkin disana ada pasar yang berjalan baik, tidak ada orang yang berani membuka warungnya tidak ada anak² yang berani melakukan perjalanan sekolah, tidak ada Dai yang berani untuk ceramah, tidak ada orang yang berani datang ke Masjid untuk shalat, akhirnya semuanya baik urusan dunia maupun urusan agama menjadi kacau terhambat gara² orang² khawarij ini.

Ini menunjukan tentang pahala orang yang membunuh orang² khawarij dengan cara yang syar’i.

Ini adalah haditsnya Ali bin Abi Tholib yang diriwayatkan oleh Bukhori & juga Muslim.

Kemudian beliau menyebutkan disini

لئن في تهم لأقتلنهم قتل عاد

Disini adalah haditsnya Abu Said al Khudri.

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Haditsnya Abu Said al Khudri. Ini juga diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim, Allāhualam disini adalah penggabungan antara 2 hadits yaitu haditsnya Ali bin Abi Tholib Abu Said Al Khudri.

Didalam hadits Abu Said Al Khudri

لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Seandainya aku bertemu dengan mereka niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana terbunuhnya kaum Ad, bagaimana terbunuhnya kaum Ad terbunuh secara keseluruhan artinya Nabi ﷺ berniat seandainya bertemu mereka akan beliau habisi semuanya tidak akan disisakan oleh beliau sebagaimana kaum Ad mereka terbunuh semuanya tidak disisakan oleh Allāh.

Ini menunjukan tentang ancaman Nabi ﷺ terhadap orang² khawarij sampai beliau berniat untuk membunuh mereka secara keseluruhan tidak ada yang disisakan oleh beliau, apakah ucapan ini pernah beliau ucapkan kepada orang yang melakukan dosa besar? (tidak pernah)

…لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Apakah beliau pernah ucapkan ini kepada pelaku dosa besar (Tidak pernah) berarti menunjukan dahsyatnya & besarnya dosa Bidah yaitu Dosa bidah khawarij khususnya sampai Nabi ﷺ mengancam mereka dengan ancaman seperti ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 71 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 03

Halaqah 71 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-71 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

فأينما لقيتموهم فاقتلوهم

Kemudian Nabi ﷺ telah mensifati orang² khawarij ini disifati oleh beliau pemuda & kebanyakan orang² khawarij kita lihat rata² pemuda (20, 18, 25 tahun) adapun yang sudah tua jarang,

شفهاء الأحلام،

Dan orang² yang sangat dangkal akal mereka,

Kurang ilmu, kurang akal, akhirnya terkena subhat mudah sekali mereka terkena subhat, meskipun demikian lihat bagaimana Nabi ﷺ mengancam orang² tersebut,

فأينما لقيتموهم فاقتلوهم

Dimana saja kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka.

Dimana saja kalian bertemu dengan mereka kalian bunuh mereka dan maksud beliau – فاقتلوهم – hendaklah kalian bunuh mereka , disini adalah imam kaum muslimin bersama kaum muslimin yang lainnya, hendaklah kalian bunuh mereka maksudnya wahai imamnya kaum muslimin/pemimpinnya kaum muslimin dengan pasukannya oleh karenanya Ali bin Abi Tholib melaksanakan hadits Nabi ﷺ ini, karena keluar kaum khawarij ini dizaman beliau, kaum Khawarij ini mengkafirkan Ali bin Abi Tholib, mengkafirkan Muawiyyah dengan alasan bahwasanya Ali bin Abi Thalib & Muawiyyah tidak berhukum dengan hukum Allāh, berhukum dengan hukum manusia karena mereka mewakilkan didalam musyawarah orang lain, ini mewakilkan A & yang lain mewakilkan B, orang2 khawarij menganggap ini adalah bagian dari berhukum dengan selain hukum Allāh kemudian mereka membacakan ayat,

۞ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

[QS Al Maidah 44]

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allāh maka dia adalah orang² yang kafir.

Sehingga tidak ragu mereka mengkafirkan Ali & juga mengkafirkan Muawiyyah bin Abi Sufyan & setiap orang yang setuju dengan musyawarah tadi maka dia keluar dari agama Islām itu menurut orang² khawarij.

Maka kalian wahai imam kaum muslimin/pemerintah kaum muslimin kalau mendapatkan unsur golongan ini ditengah² kalian maka bunuhlah mereka, ini perintah Nabi kepada pemerintah kaum muslimin & juga kaum muslimin.

Ini menunjukkan bahwasanya peperangan tadi bukan secara sendiri² bukan secara individu tetapi yang melakukan Ini adalah pemerintah & juga penguasa & orang² mereka perintahkan.

Seandainya didekat rumah² kita ada orang khawarij maka tidak boleh Kita membunuhnya secara pribadi dengan alasan dia adalah orang khawarij & Nabi mengatakan dimanapun kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka (Tidak), ini maksudnya adalah yang melakukan pemerintah & juga penguasa karena kalau tidak demikian akan terjadi kekacauan, mungkin saja orang membunuh dengan alasan orang khawarij (ingin memberontak kepada penguasa) padahal yang terjadi urusan pribadi kemudian dikatakan Ini adalah urusan karena dia adalah khawarij.

Oleh karenanya yang berhak membunuh adalah pemerintah & penguasa atau kita diperintahkan oleh penguasa dalam peperangan & diperintahkan memerangi mereka/membunuh mereka maka tidak mengapa hal yang demikian.

Shahidnya disini Nabi ﷺ sampai menyuruh kita untuk membunuh orang2 khawarij adakah ini pada orang yang melakukan riba? Jika kamu bertemu orang yang melakukan riba bunuh? (Tidak ada haditsnya), kalau engkau bertemu dengan orang yang berdusta bunuh dia? (Tidak). Tapi disini ketika beliau berbicara tentang orang² khawarij sampai beliau menyuruh kita untuk membunuh mereka yaitu bersama pemerintah & juga penguasa kaum muslimin, maka ini menunjukan bahaya bidah, bahaya bidah khawarij khususnya disini sampai Nabi ﷺ menyuruh kita untuk membunuh mereka padahal dalam maksiat biasa & dosa² besar yang biasa tidak sampai kepada kita diperintah untuk membunuh mereka, menunjukan bahwasanya bidah ini lebih dahsyat daripada dosa² besar karena Nabi ﷺ sampai menyuruh kita untuk membunuh orang² khawarij.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampaibertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

KEBAHAGIAAN YANG SESUNGGUHNYA

Syaih Sulaiman Ar-Ruhaily – Sumber : Shahih Fiqih

Seluruh manusia menginginkan kebahagiaan.

Dan cara mereka mencari kebahagiaan sangatlah beragam.

Sebagian manusia ada yang membayangkan bahwa kebahagiaan itu diraih dengan berkelana dan melancong ke berbagai negara.

Sehingga dia terus berkelana dari satu tempat ke tempat lain dari satu negeri ke negeri yang lain.

Keberadaan istri dan anak-anaknya belum cukup membuatnya bahagia.

Namun nyatanya, dia belum juga menemukan kebahagiaan.

Sebagiannya lagi ada yang mengira bahwa kebahagiaan ada pada harta yang melimpah & anak yang banyak,

Sehingga dia pun terus berjuang memperbanyak keduanya,

Namun nyatanya, hal tersebut malah melalaikannya dari perintah Allah,

Dia pun tidak menemukan kebahagiaan, justru keadaannya seperti yang  telah Allah firmankan,


Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur ”.

( QS At-Takasur 1- 2 )

Dan sebagian lagi berkeyakinan bahwa kebahagiaan ada pada praktek kemaksiatan & kelezatan duniawi,

Dan memberikan setiap apa yang dihasratkan jiwa dan diinginkan hawa nafsu,

Lalu dia pun masuk ke dalam kemaksiatan, kemudian dia dapati ternyata hatinya terasa sempit,

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

( QS Thoha : 124 )

Kemudian dia tetap melakukan kemaksiatan lainnya, namun kenyataannya, dia belum juga menemukan kebahagiaan.

Sebagiannya lagi ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan yang dicari selama ini tidaklah ada,

Dan tidak mungkin ada kebahagiaan di dunia,

Dan keadaan mereka semua sungguh memprihatinkan !,

Mereka tidak tahu cara mendapatkan kebahagiaan. Sungguh kebahagiaaan itu benar adanya !,

Demi Allah kebahagiaan benar adanya !

Sungguh kebahagiaan tersebut adalah surga dunia, dialah surga yang telah dikenal oleh para salaf,

Sesungguhnya kebahagiaan diraih dengan MEREALISASIKAN TAUHID,

Merealisasikan tauhid adalah sebab ketenteraman hati,

Karena seorang hamba menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, sehingga hatinya pun tentram.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezholiman, Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan rasa aman dan mereka mendapatkan petunjuk “.

( QS Al-An’am : 82 )

Karena kesyirikan adalah kezholiman.

Siapa yang menjamin keamanan untuk mereka ? Allah !

Dan yang Allah telah berikan rasa aman , siapa yang bisa membuatnya takut ?!

Hati akan tenang, jiwa akan tentram, nyaman dan bahagia dengan merealisakan tauhid,

Seorang hamba tidak akan merasa bahagia, seperti kebahagiaan yang  didapat dengan bertauhid !

Sesungguhnya kebahagiaan  diraih dengan AMAL SHOLIH & KEMURNIAN TAUHID.

Barangsiapa mengerjakan amal sholih atau kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dgn pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

( QS An-Nahl : 97 )

“ Barang siapa mengerjakan amal solih “,

Dan amal sholih harus terpenuhi padanya 2 syarat,

1.Ikhlas karena Allah, amalan tersebut bukan untuk tujuan dunia, bukan untuk riya atau sum’ah,

2.Mengikuti petunjuk Rasulullah, bukan bid’ah.

“ Barangsiapa mengerjakan amal sholih “ , Apakah khusus bagi kaum lelaki ? Tidak ! “ Bagi laki-laki maupun perempuan”.

Namun syaratnya “ Dalam keadaan beriman “., maksudnya bertauhid,

Maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”.

( QS An-Nahl : 97 )

Allah membalasnya dengan kehidupan yang baik.

Dan orang yang telah Allah perbaiki kehidupannya, Siapa yg mampu mengacaukannya ?!

Siapa yang bisa mengacaukan kehidupan yang telah Allah perbaiki ?!

Sesungguhnya kebahagiaan diraih dengan  BERTAQWA KPD ALLAH

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,

& Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

( QS Ath-Thalaq: 2-3 )

Org yang bertaqwa akan menemukan jalan keluar dari kesempitan hidup.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Abbas ra,

“ Dari setiap kesempitan di dunia ini, dia menemukan jalan keluarnya,

“ Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.

Rezeki yang baik akan mendatanginya, sehingga diapun merasakan kebahagiaan dan ketentraman hati.

Inilah kebahagiaan yang sebenarnya ! Inilah surga dunia!

Inilah manisnya dunia! Inilah kelezatan dunia! Dirasakan bagi siapa yang bisa menerapkan point2 diatas.

Allahu Akbar, Wahai saudaraku!

Perhatikan sabda agung yang pernah diucapkan olah Nabi ﷺ

Barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya , maka Allah akan cerai beraikan urusannya & Allah terus jadikan kefakirannya berada tepat di depan matanya”,

Dan dunia tidak juga mendatanginya kecuali yang telah Allah tetapkan saja”,

Dan barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi prioritas utamanya maka Allah akan menyatukan seluruh urusannya”,

Dan Allah akan memberikankecukan dalam hatinya & dunia tetap akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

( HR Tirmidzi 2565 )

Allahu Akbar !!!

Hamba yang merealisasikan tauhid serta beramal sholih & menjadikan akhirat sebagai prioritas utamanya,

Allah akan satukan seluruh urusannya sehingga hatinya tenang di dunia ini,

Dan Allah berikan kecukupan di dalam hatinya sehingga dia akan terus menerus kaya & tentram,

Dan dunia tetap akan mendatanginya dalam keadaan hina,

Dia tidak akan dihalangi dari dunia karena memang rezeki sudah ditetapkan,   setiap orang rezeki tidak akan berkurang atau bertambah,

Namun keberkahan rezeki akan terus menyertainya dengan adanya ketaatan dan perbuatan baik.

Adapun mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya dan fokusnya hanya kehidupan dunia dan seluruh kelezatannya saja,

Tidak merasa dalam pengawasan Allah Aja Wa’ jala

Maka Allah akan cerai beraikan urusannya sehingga hatinya menjadi kacau balau,

Ketika hendak beranjak tidur, dia tidak bisa tidur karena Allah cerai beraikan isi hatinya,

Menghadap ke kanan & kiri tidak kunjung tidur,

Kemudian Allah jadikan kefakiran tepat di depan matanya, setiap kali melihat dia merasa dirinya masih saja fakir,

Dia terus mengejar dunia,

Maka yang terjadi dirinya semakin merasa fakir, semakin lelah dan semakin pedih, karena yang dia lihat hanyalah kefakiran.

Bersama dengan seluruh rasa lelahnya, Ternyata dunia tidak juga mendatanginya kecuali yang sudah Allah tetapkan saja, rezekinya tidak bertambah dengan sebab ini.

Intinya, yang namanya kebahagiaan , kebaikan & ketentraman diraih dengan menggantungkan hati kita kepada Allah,

Dan bersemangat dalam mengerjakan ketaatan , menjadi orang yang bertauhid,

Menjadi orang yang  ikhlas, menjadi orang yang sholih, menjadi orang yang bertaqwa.

Kita melakukan ketaatan di atas cahaya Allah, dengan mengharapkan pahala dari Allah,

Kita juga meningglkan kemaksiatan di atas cahaya Allah, disertai rasa takut akan adzab Allah.

Wahai saudara dan saudariku ! Demi Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

Sungguh aku mencintai kebaikan untuk kalian sebagaimana aku mencintai kebaikan untuk diriku sendiri.

Dan sungguh aku sangat berharap kita semua di dunia ini menjadi orang yang berbahagia,

Dan di akhirat kelak menjadi penduduk surga firdaus yang tertinggi.

Maka aku wasiatkan untuk diriku sendiri dan saudaraku sekalian, mari kita berpegang pada point2 yang tadi telah kami sebutkan,

Serta bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya ! Dan apabila kita bisa menerapkan itu semua, niscaya kita akan mendapatkan kebaikan dan keberkahan di dunia ini,

Dan kelak kita juga akan mendapati balasan yang paling sempurna, paling indah,dan paling tinggi nilainya disisi Allah,

Aku memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi,

Agar menetapkan untuk-ku & untukkalian, apa yang kita semua sukai & inginkan berapa kebaikan,

Dan memberikan kemulian-Nya & mengisi hati-hati dan rumah- rumah kita dengan kebahagiaan , kebaikan dan keberkahan,

Dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang bertauhid dan menerapkan sunnah serta beramal sholih,

Dan menjadikan kita di akhirat kelak sebagai penduduk surga firdaus yang tertinggi

Wallahu ta’ala a’laa wa a’lam.

Semoga shalawat & salam tersampaikan kepada nabi kita Muhammad shalallahu alayhi wasallam

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 70 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 02

Halaqah 70 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-70 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu meskipun beliau diperangi & dikafirkan oleh orang² Khawarij maka tidak menjadikan pengkafiran mereka ini kemudian membalas dengan pengkafiran juga & ini adalah inshafnya Ahli Sunnah jamaah maka orang yang mengkafirkan mereka tapi mereka tidak dengan mudah mengkafirkan orang lain, sangat berhati² sama dengan masalah Tasfir, tasfi, tabdi’ ini adalah masalah hukum syar’i bukan masalah balas membalas, kalau dia mengkafirkan kita berarti kita mengkafirkan dia Tidak, ini kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allāh atas hukum yang telah kita terapkan.

Ucapan beliau tadi,

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية

Apa maksudnya kalau itu bukan pengkafiran, maksudnya adalah menjauh dari tuntunan Islām. Tuntunan Islām tidak boleh kita mengkafirkan pelaku dosa besar.

Tuntunan Islām tidak boleh seseorang memberontak kepada pemerintah & juga penguasanya, tapi apa yang dijelaskan orang² Khawarij mereka justru mengkafirkan pelaku dosa besar mereka justru memberontak kepada pemerintah yang sah, sehingga berarti mereka menjauhi tuntunan islām itu sendiri, bahkan sangat jauh dari tuntunan Islām,

كما يمرق السهم من الرمية

Sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya

Kalau ini adalah sasaran (seekor rusa misalnya) kemudian dia dipanah oleh seseorang kemudian keluar dari arah yang berbeda masuk dari perut bagian kiri keluar perut bagian kanan itu adalah permisalan bagi orang yang meninggalkan ajaran Islām. Bagaimana anak panah yang masuk dari perut bagian kiri & bisa keluar dari bagian kanan karena saking cepatnya / kerasnya dia adalah anak pajah yang tajam dilepaskan oleh yang memiliki dengan tepat kemudian bisa cepat sehingga dia bisa keluar dari perut bagian kanan ini menunjukan tentang cepatnya dia meninggalkan buruannya atau sasaran tadi.

Oleh karenanya sifat orang² Khawarij cepat nya mereka meninggalkan ajaran Islām aqidah yang mereka miliki memberontak kepada pemerintah yang sah kemudian mereka juga mengkafirkan pelaku dosa besar,

Dengan dua bidah ini mereka menjauh dari agama Islām menjauh dari ajaran Islām dengan kecepatan yang sangat cepat sebagaimana cepatnya anak panah tadi yang saking cepatnya dia bisa menembus perut sasaran, berbeda dengan anak panah yang pelan² maka dia menancap saja atau seandainya dia tembus ke bagian kanan tetapi dia diperut tersebut tidak sampai keluar dari perutnya, namun yang perlu kita sampaikan ada ulama yang sampai mengkafirkan mereka ini menunjukan tentang bahayanya bidah orang² Khawarij & orang² Khawarij adalah orang² yang terkumpul didalemnya ushul/pokok² mereka,

pokok-pook itu adalah:
❶ Mengkafirkan pelaku Dosa Besar.
❷ Memberontak kepada penguasa yang sah.

Ini diantara ciri orang² khawarij, kalau sampai terkumpul didalam dirinya dua ini maka dikhawatirkan dia termasuk seorang Khawarij.

~Kalau hanya sekedar mengkafirkan , apakah bisa dinamakan dia seorang Khawarij, ada orang yang mengkafirkan kita (misalnya) apakah dengan demikian dia adalah seorang Khawarij? Belum tentu karena mungkin dia mengkafirkan kita dari sisi yang lain bukan mengkafirkan kita dengan sebab kita melakukan dosa besar, mengkafirkan karena tidak membaiat Imamnya (misalnya) apakah kemudian kita katakan dia khawarij? Tidak, karena sebagian menyangka setiap orang yang mengkafirkan berarti dia khawarij, kalau Faedahnya demikian semua aliran adalah Khawarij karena rata² mereka adalah mengkafirkan orang yang bersebrangan dengan dirinya, Qodariah mengkafirkan Jabriah, Jabriah mengkafirkan Qodariah, Murjiah mengkafirkan Khawarij, Khawarij mengkafirkan Murjiah rata² demikian sehingga tidak bisa kita katakan bahwa setiap orang yang mengkafirkan berarti dia khawarij kemudian menamakan jamaah tadi jamaah khawarij (hati²) jangan sembarangan kita mengungkapkan atau mengatakan ini bahwasannya orang² khawarij.

Kemudian kita lihat sebab dia mengkafirkan .

~Kemudian yang kedua dia memberontak kepada penguasa, kalau hanya sekedar dia mengkafirkan saja tetapi tidak memberontak kepada penguasa maka ini tidak bisa dinamakan juga sebagai orang yang khawarij. Harus terkumpul didalamnya 2 makna ini, jika dia mengkafirkan pelaku dosa besar & dia tidak memberontak kepada penguasa maka tidak bisa kita namakan sebagai orang khawarij, tetapi kalau ditambah dia mengkafirkan penguasanya ketika dia melihat penguasa kita tahu bahwasanya terkadang orang yang memiliki jabatan mudah sekali dia melakukan dosa besar sehingga ketika orang khawarij melihat pemerintah & juga penguasa melakukan dosa besar akhirnya sesuai dengan kaidah dia mengkafirkan pemerintah tadi. Kalau dia kafir maka diperbolehkan untuk memberontak kepada beliau.

Ini hubungan antara pengkafiran terhadap pelaku dosa besar dengan memberontak kepada penguasa, kenapa mereka memberontak kepada penguasa, menganggap penguasanya dosa besar, jika penguasa melakukan dosa besar (berzina, Riba dst) maka dia telah keluar dari agama Islām kalau keluar dari agama Islām maka harus diganti dengan orang Islām & harus memberontak kepadanya ini adalah pemikiran orang² Khawarij.

Kalau tidak demikian maka jangan jangan mudah mengatakan itu adalah orang khawarij.

Dia memberontak kepada penguasa tapi niat memberontaknya bukan karena mengkafirkan penguasa tadi dia memberontak karena ingin mendapatkan uangnya, kalau ditanya apakah raja yang sebelumnya itu sebelumnya muslim – muslim, tapi dia memberontak untuk mendapatkan jabatan-kekuasaan dst apakah dia dinamakan Khawarij, Tidak dinamakan sebagai khawarij, tapi dia melakukan dosa karena memberontak kepada penguasa yang sah.

Oleh karenanya tidak dikatakan setiap yang memberontak kemudian dikatakan khawarij, apa sebab dia memberontak adalah meyakinkan penguasa nya melakukan dosa besar & orang yang melakukan dosa besar berarti dia telah keluar dari agama Islām barulah ini merupakan ciri² orang Khawarij.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8- Halaqah 69 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib

Halaqah 69 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-69 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Belia mendatangkan sabda Nabi ﷺ

وفي الصحيح

Didalam sebuah hadits yang shahih & dia adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari & juga Muslim

أنه ﷺ قال في الخوارج:

Nabi ﷺ mengatakan tentang orang² khawarij.

Beliau sedang mensifati orang² khawarij didalam sebuah hadits yang shahih, apa yang beliau sampaikan didalam hadits tersebut

“أينما لقيتموهم فاقتلوهم

Dimana saja kalian bertemu dengan orang² Khawarij tadi maka hendaklah kalian bunuh mereka, hadits Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu

يأتي في آخِر الزمان قوم حُدثاء الأسنان، سُفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية،

Akan datang di akhir zaman sebuah kaum yang mereka masih muda tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang,

Ada yang mengatakan

Bahwa ucapan sebaik² manusia disini adalah ucapan Rasulullāh ﷺ & ada yang mengatakan al Quran karena disebutkan didalam sejarah bahwasanya orang² khawarij mereka ini adalah orang² yang sangat kencang ibadahnya malam mereka shalat malam & siang mereka membaca al Quran

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرَّميَّة،

Ternyata Nabi ﷺ menyebutkan kabar yang sangat mencengangkan/mengagetkan ternyata orang² tadi adalah

– يمرقون من الإسلام –

mereka akan Yamruq (keluar menjauh) dari agama Islām, mereka akan keluar menjauh dari agama Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran,

sebagaimana melesatnya anak panah dari sasarannya, yang dimaksud dengan ramiyat adalah sasaran

يمرقون من الإسلام

Maksudnya adalah menjauh dari ajaran agama Islām, jadi bukan maksudnya adalah kemudian dia kafir keluar dari agama Islām & memang sebagian ulama ada yang berdalil dengan hadits ini, bahwasanya orang² khawarij ini keluar dari agama Islām berdalil dengan beberapa hadits diantaranya adalah ucapan Nabi ﷺ

يمرقون من الإسلام

Mereka keluar dari Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya & Allāhualam meskipun ini adalah pendapat sebagian ulama namun pendapat yang lebih shahih bahwasanya mereka ini tidak keluar dari agama Islām, jadi orang² Khawarij mereka adalah muslimun tidak keluar dari agama Islām, oleh karena itu Ali bin Abi Thalib & beliau yang meriwayatkan hadits ini ketika beliau ditanya, apakah mereka adalah orang² yang kafir,

Ini Ali bin Abi Thalib beliau yang meriwayatkan hadits ini & beliau yang memerangi orang² Khawarij sendiri & bersama orang² beliau & beliau meriwayatkan hadits tentang – لقيتموهم فاقتلوهم –

Kemudian yang ketiga beliau dikafirkan oleh orang² khawarij meskipun di kafirkan bahkan di halalkan darahnya bahkan terakhir beliau dibunuh orang² Khawarij tapi beliau mengatakan – من الكفر فروا –

Kekufuran mereka ini lari disebutkan didalam Musanaf Abdul Razaq & juga didalam Musanaf Ibnu Saibah

Ketika Ali bin abi thalib memerangi dan membunuh orang-orang Haruriyah
haruriyyah adalah nama lain dari Khawarij, dinamakan dengan Harutiyyah karena mereka kumpul disebuah daerah namanya Haruri,

Ketika beliau membunuh orang² Haruriyyah dalam peperangan Nahrawan peperangan yang besar terbunuh disana orang² khawarij dalam jumlah yang banyak, beliau ditanya siapakah orang orang ini wahai amirul mukminin, apakah mereka adalah orang² yang Kafir?

قال؛ من الكفر فروا

Mereka ini adalah orang yang sedang lari dari kekafiran.

Artinya mereka bukan orang yang kafir tapi justru mereka adalah orang yang takut dengan kekafiran sehingga mereka lari kencang meninggalkan kekafiran tadi tapi kebablasan sampai mereka menganggap sesuatu yang tidak mengkafirkan dianggap itu adalah mengkafirkan yaitu orang yang melakukan dosa besar berarti dia Keluar dari agama Islām, itu ucapan orang² khawarij.

Jadi mereka secara niat ingin keluar & ingin berjauh dari kekufuran. Jadi Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu dengan jawaban ini

من الكفر فروا

Ingin memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya beliau tidak menghukumi orang² Khawarij tersebut sebagai orang yang kafir, beliau membunuh/memerangi mereka tapi bukan karena mereka kafir karena menjalankan sabda Nabi ﷺ (yang disebutkan hadits tadi)

Kemudian ada yang mengatakan apakah mereka adalah orang Munafik, kalau bukan orang yang kafir, apakah mereka adalah orang² Munafiq?

Ali Mengatakan sesungguhnya orang² munafiq tidak mengingat Allāh kecuali sedikit.
Sedangkan mereka ini (orang² Khawarij) yang dibunuh/diperangi mereka ini banyak mengingat Allāh, tasbih, tahlil, tasmid membaca al Quran dst. Berarti dinamakan Munafiq juga bukan dinamakan kafir juga bukan, berarti mereka muslimun / mereka adalah orang² Islām

Lalu kenapa mereka demikian?
Mereka ini adalah sebuah kaum yang tertimpa fitnah subhat yang menjadikan mereka buta/tuli.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته