10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الخلق و سيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. اما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita akan membahas salah satu kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafīzhahullāh Ta’āla yang berjudul “10 Wasiat Perlindungan Diri dari Wabah”.

Kitāb kecil ini beliau tulis ketika ada pendemi wabah corona yang sudah mendunia, sehingga beliau ingin mewasiatkan beberapa wasiat yang semoga wasiat ini bisa bermanfaat untuk kaum muslimin sebagai jalan untuk menjaga diri dari sisi rohani dan juga fisik.

Wasiat yang beliau sampaikan adalah:

• Wasiat Pertama | Berdo’a sebelum terjangkiti wabah

Wasiat ini beliau sebutkan berdasarkan sebuah hadīts dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau mengatakan:

“Barangsiapa membaca do’a ini tiga kali di waktu sore, maka dia akan dijaga ia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu pagi. Dan apabila dia membaca do’a ini tiga kali di waktu pagi maka dia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu sore.”

Do’anya adalah:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Allāh yang bila disebut nama-Nya, tidak akan ada sesuatu apapun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 5088)

Dahulu, salah seorang tābi’in yaitu Abān bin Utsman, beliau adalah anak dari khalifah ke-3 (Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhu), meriwayatkan hadīts ini dari ayahnya Utsman bin Affan dan Utsman bin Affan meriwayatkan hadīts ini dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Setahun sebelum beliau (Abān bin Utsman) meninggal dunia, beliau menderita penyakit Hemiplegia atau lumpuh di sebagian badannya.

Hemiplegia bisa lumpuh sebagian anggota geraknya, bisa tangannya, bisa kakinya bahkan bisa lumpuh sebagian wajahnya, yang mana hal ini membuat seseorang tidak bisa berdiri (kurang keseimbangan) dan bisa mengakibatkan seseorang buta.

Salah seorang, mungkin orang-orang di sekitar Abān bin Utsman, melihat Abān bin Utsman seakan-akan mengatakan:

“Ini ada seorang tābi’in yang meriwayatkan hadīts dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwa kalau dia membaca do’a ini 3 kali di waktu pagi tidak akan terbahayakan sampai masuk waktu sore, dan jika membaca di waktu sore sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa bala yang datang secara tiba-tiba di waktu pagi, tapi kenapa beliau tiba-tiba sakit terkena penyakit ini (Hemiplegia).”

Seakan-akan orang tersebut mengatakan hal ini.

Maka Abān bin Utsman mengatakan, “Demi Allāh, saya tidak berbohong atas nama ayah saya. Ayah saya pun tidak berbohong atas nama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Abān bin Utsman mengatakan:

“Hadīts ini adalah benar, hanya saja hari ini saya tertimpa musibah ini, karena saya lupa tidak membaca do’a ini.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Saat itu beliau marah, sehingga lupa dengan do’a ini.”

Dan hal itu ditakdirkan oleh Allāh agar Allāh bisa menjalankan ketetapan-Nya, sehingga saya sakit seperti ini.

Sehingga, sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh, merupakan satu hal yang sangat penting untuk kita ingat dan perhatikan bersama bahwasanya do’a ini sangat penting sekali dan jangan sampai lupa membaca do’a ini tiga kali di waktu pagi dan sore hari.

• Wasiat Kedua | Memperbanyak do’a nabi Yunus alayhissalām

Allāh Ta’āla menyebutkan kisah nabi Yunus ini di dalam surat Al-Anbiyyā ayat 87 sampai 88. Dimana ketika Nabi Yunus alayhissalām berada di dalam perut ikan paus, di tengah kegelapan malam, di tengah kegelapan samudera, di tengah kegelapan perut ikan yang tidak akan ada yang bisa menyelamatkan beliau. Nabi Yunus berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan do’a yang ringkas tetapi sangat bermakna:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhālim.” (QS Al-Anbiyyā:87)

Dengan do’a ini beliau diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan di akhir ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiyyā’ :88)

Terkait tafsir ayat وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”.

Al-Hafizh Ibnu Katsīr mengatakan maksud dari ayat ini adalah:

“Ketika orang-orang yang beriman tertimpa musibah mereka berdo’a dengan do’a ini seraya inabah, kembali bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas segala kekurangannya.”

Ibnu Katsīr rahimahullāh mengatakan do’a ini semakin kuat efeknya ketika musibah telah datang menghampirinya.

Dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a ini dalam suatu hajat melainkan Allāh pasti akan mengubahnya”.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzī)

Ibnul Qayyim rahimahullāh ketika menjelaskan rahasia do’a ini beliau mengatakan:

“Tidak ada yang melebihi tauhīd dalam menolak berbagai kesulitan dunia, atas dasar inilah do’a untuk menghilangkan kesusahan sering kali menggunakan tauhīd”.

Misalnya Do’a nabi Yunus, dalam kebuntuan beliau dibukakan jalan oleh Allāh sebab do’a tersebut, dimana do’a tersebut berisi tauhīd. Kesyirikanlah yang menjerumuskan seseorang ke dalam kesusahan dan tauhīd lah yang menyelamatkan mereka dari kesusahan tersebut.

Sehingga tauhīd merupakan amalan yang digunakan oleh seorang hamba untuk berlindung, bernaung, bertameng dan memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalimat tauhīd dari do’a nabi Yunus:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ

“Tidak ada ilāh yang berhak untuk disembah kecuali Engkau.” Itu kalimat tauhīd nya.

Jadi kita memperbanyak do’a ini:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

• Wasiat Ketiga | Memperbanyak do’a berlindung dari cobaan yang berat

Do’a nya:

اللهمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

“Yā Allāh, Aku berlindung kepada-MU dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.”

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

Abū Hurairah mengatakan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu sering berlindung kepada Allāh dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.

Dalam riwayat lain :

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda :

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

“Berlindunglah kalian kepada Allāh dari bala yang berat, sebab-sebab kesengsaraan, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 6616)

• Wasiat Keempat | Senantiasa membaca do’a keluar rumah

Do’a nya :

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Dengan menyebut nama Allāh, aku bertawakal hanya kepada Allāh, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allāh semata.”

Apabila seseorang membaca do’a ini maka akan dikatakan kepadanya,”Engkau telah mendapatkan petunjuk, diberikan kecukupan dan penjagaan.” Syaitan-syaithan pun menjauhinya. Syaithan yang lain berkata kepada mereka,”Bagaimana bisa engkau menyesatkan orang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?”

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd)

• Wasiat Kelima | Mohon keselamatan kepada Allāh di pagi dan sore hari

Do’anya :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Yā Allāh, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Yā Allāh, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku.“

Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan do’a ini di waktu pagi dan sore hari, sebagaimana dalam hadīts Abdullah Ibnu Umar ibnu Khaththāb radhiyallāhu ‘anhumā sebagaimana disebutkan di dalam hadīts riwayat Ahmad dan Abū Dāwūd.

• Wasiat Keenam | Memperbanyak do’a

Memperbanyak do’a, apapun, baik itu do’a untuk keselamatan diri sendiri, keselamatan keluarga, keselamatan bangsa dan negara dan siapa pun. Saudara seislam dan seiman bisa masuk dalam do’a-do’a tersebut.

Wasiat ini berdasarkan hadīts dari Ibnu Umar, ia berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ

“Barangsiapa yang telah dibukakan baginya pintu do’a, maka ia telah dibukakan pintu rahmat. Dan tidaklah Allāh dimintai sesuatu yakni yang lebih Dia cintai daripada dimintai keselamatan.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

“Sesungguhnya do’a dapat memberikan manfaat dari sesuatu yang telah terjadi dan dari sesuatu yang belum terjadi, maka itu wahai hamba-hamba Allāh hendaklah kalian berdo’a.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Itulah dasar Syaikh Abdurrazaq mewasiatkan kita untuk memperbanyak do’a.

• Wasiat Ketujuh | Menghindari Tempat-tempat tersebarnya wabah

Orang-orang yang berada di daerah wabah tidak boleh keluar dan orang-orang yang berada di luar daerah wabah tidak boleh masuk ke dalamnya.

Sebagaimana hadīts dari Abdullāh bin Amir radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu pernah bepergian menuju Syām. Ketika beliau sampai di daerah Sargh datang kabar kepada beliau bahwa telah tersebar wabah tha’un di Syām.

Kemudian Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan kepada beliau bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu negeri maka janganlah kalian mendatanginya, dan apabila wabah tersebut berada di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5730)

Ini adalah bimbingan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar kita tidak mendatangi tempat wabah dan orang-orang yang berada di tempat wabah tidak keluar dari tempat atau daerah tersebut.

Hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Jangan kalian campurkan unta yang sakit dengan unta yang sehat.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

• Wasiat Kedelapan | Senantiasa berbuat kebaikan

Wasiat ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Perbuatan-perbuatan yang baik itu akan menghindarkan pelakunya dari kematian yang buruk, begitu juga bisa menghindarkan dari berbagai penyakit dan bencana.”

Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata:

“Di antara obat paling mujarab dalam memberantas penyakit adalah dengan berbuat kebaikan, berdzikir, berdo’a, permohonan bersungguh-sungguh sepenuh hati kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bertaubat.”

Kemudian beliau memberikan faedahnya:

Beberapa amalan ini memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menolak berbagai penyakit dan mendatangkan kesembuhan daripada berbagai obat alami.

Namun manfaatnya atau pengaruhnya tergantung kepada kesiapan jiwa, penerimaan dan keyakinannya terhadap hal ini. (Kitāb Zadul Ma’ad)

• Wasiat Kesembilan | Mengerjakan shalāt malam

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

“Kerjakanlah shalāt malam, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang shālih sebelum kalian. Sesungguhnya shalāt malam dapat mendekatkan diri kepada Allāh, mencegah dari perbuatan dosa, menggugurkan keburukan-keburukan dan mengusir penyakit dari tubuh manusia.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3549)

Sebagian dokter mengatakan shalāt malam itu bisa membangkitkan enzim-enzim yang bisa memperkuat imun dan daya tahan tubuh kita.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan shalāt malam bisa menolak penyakit dari tubuh manusia dan secara ilmiyyah shalāt malam bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh manusia.

• Wasiat Kesepuluh | Menutup tempat makanan dan minuman

Ini juga merupakan wasiat yang sangat penting sekali. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullāh mengatakan banyak ilmu kedokteran yang terlewatkan dari ilmu yang ada dalam hadīts ini.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

“Tutuplah wadah makanan dan rapatkanlah bejana minuman, karena sesungguhnya dalam setahun ada satu malam dimana wabah akan turun padanya. Tidaklah wabah itu melewati wadah makanan yang tidak ditutup dan bejana minuman yang tidak dirapatkan melainkan ia akan masuk ke dalamnya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2014)

Maka kita perlu untuk menutup tempat makanan dan minuman kita sehingga kita bisa mengamalkan hadīts nabi ini.

Kita hidup di dunia ini tentu sudah tahu bahwa dunia adalah medan ujian kita. Dimana kita akan diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, entah dengan kelapangan entah dengan kesusahan.

Semua itu akan menjadi kebaikan bagi seorang yang beriman. Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sudah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2999)

Di dalam penutup ini, Syaikh Abdurrazaq mengatakan bahwa ketika musibah menimpa seseorang hendaknya seorang muslim itu bersungguh-sungguh menerimanya dengan kesabaran dan mengharapkan pahala, karena Allāh telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

(QS Az Zumar: 10)

Dahulu Āisyah radhiyallāhu ‘anhā pernah bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang wabah tha’un, lalu Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Sesungguhnya tha’un itu dahulunya merupakan adzab yang Allāh kirim kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Kemudian Allāh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka itu, tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang tersebar padanya wabah tha’un, lalu ia tetap menetap di sana dengan penuh kesabaran, ia yakin bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allāh tetapkan baginya, melainkan baginya pahala seperti orang yang mati syahid.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5734)

Kalau 4 hal ini terpenuhi pada seorang muslim yaitu:

⑴ Tetap tinggal di daerah tersebut.
⑵ Bersabar.
⑶ Mengharap pahala dari Allāh.
⑷ Dia yakin dan tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Ibnu Hajar rahimahullāh menyatakan berkaitan dengan orang yang memenuhi empat syarat di atas, dia akan diberikan pahala mati syahid,

اقتضى منطوقه أن من يتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد و إن لم يمت

“Sesuai dengan apa yang terucap dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sesuai mantuqnya, siapa yang bersifat dengan sifat-sifat yang disebutkan maka dia memperoleh pahala syahid walaupun dia tidak meninggal dunia.”

Walaupun dia tidak meninggal dunia gara-gara wabah ini, jika dia memenuhi empat syarat ; tetap tinggal di daerah tersebut, bersabar, kemudian mengharap pahala dari Allāh, dia yakin dan tahu bahwa itu sudah merupakan ketetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Apapun yang menimpa kita, kita harus mengembalikan urusan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan selalu memilih jalan yang terbaik untuk kita bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Kita raih pahala pada setiap apa yang menimpa diri kita, baik itu kebaikan maupun keburukan. Baik itu kelapangan atau kesempitan. Baik itu kekayaan atau kemiskinan. Semuanya akan mendatangkan kebaikan bagi seorang mukmin.

Semoga pembahasan kitāb 10 wasiat perlindungan diri dari wabah ini bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


BimbinganIslam.com
Sya’ban 1441H / April 2020M
Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah