8 Syarat Baiti Jannati

Dari Ust Tatan Santana – Mesjid Nurul Falah

 
8 Syarat Baiti Jannati
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan Baiti Jannati adalah rumah kita di dunia, yang dengan isinya (karena memenuhi prasyarat2 tertentu) maka rumah itu akan jadi washilah kita untuk memperoleh surga.

Ahli ilmu keluarga (parenting) mengatakan ada 8 syarat untuk disebut BAITI JANNATI :
1. Memiliki Karakter Al Mushola
Artinya dijadikan tempat untuk sholat, untuk mengabdi kpd Allah Swt.
Kenapa shalat? Karena shalat adalah jenis ibadah yang pertama kali dihishab.
Dalam Al Quran, Allah meminta Nabi Ibrahim untuk berdoa, yang tentunya akan dikabulkan. Dan Nabi Ibrahim meminta agar anak2 dan keturunannya termasuk orang-orang yang mendirikan Sholat
QS Ibrahim 40 :
ﺭَﺏِّ ٱﺟْﻌَﻠْﻨِﻰ ﻣُﻘِﻴﻢَ ٱﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓِ ﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻰ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎٓءِ
Rabbi aj’alnii muqodima shalata wa min dzuriyati Rabbana wa taqbal du’aa
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
(Ibrahim – 14:40)
Tapi walaupun begitu persyaratan Baiti Jannati, tetap saja sholat untuk laki-laki utamanya adalah di mesjid, sedangkan untuk wanita keutamaannya adalah shalat di rumah.
2. Memiliki Karakter Al Madrosah (Sekolah)
Yang bertindak sebagai para guru adalah Ayah dan Ibu.
Pada sosok Ibu, terletak sekolah utama bagi anak-anaknya.
Menurut Rasul, hendaknya Ibu pandai menambah-nambah pendidikan supaya melahirkan anak-anak yang berakhlaq mulia.
Maka bila Anda seorang Ibu, perbaiki terus akhlaq Anda sebagai Ibu.
3. Jadikan rumah sebagai AL JUNNAH (perisai/benteng)
Jadikanlah rumah sebagai perisai bagi kokohnya akidah anak2 kita.
Perilakunya harus dibentengi dari hal-hal yg bisa jahat, seperti  free sex, narkoba, hubungan sejenis, dsb. Juga dari hal2 yang berdampak buruk dari social media, dan dunia maya lainnya.
Bagaimana caranya? Hadirkan Allah di hatinya selalu.
4. Jadikan rumah sebagai AL MASKANAH (satu akar kata dengan SAKINAH).
Rumah menjadi pelepas lelah fisik dan mental, di dalamnya ditemukan ketenangan.
Tugas pokok untuk poin ini lagi-lagi bertitik berat pada sosok wanita : sebagai Istri dan Ibu.
Bila hal ini tidak didapatkan di rumah, suami atau anak biasanya mencari di tempat lain, misalnya di kantor, di pos satpam, dan lebih banyak lagi tempat2 yang beresiko.
5. Jadikan rumah sebagai AL MAULUD
Artinya sebagai tempat memperbanyak keturunan yang soleh yang menjadi pengikut Rasul.
Sebagai catatan, layaknya muslim yang baik, tentu tidak mengartikan  banyak itu secara jumlah/kwantitas  saja tapi maksudnya  secara kualitas.
Ada kisah yang berkaitan dengan poin AL MAULUD ini : Dahulu Rasul pernah bertanya kepada para sahabat, tentang arti “mandul”. Jawaban dari sahabat mengartikan sebagai “Orang yang tidak punya anak.”
Rasul mengoreksi jawaban itu, dengan mengatakan bahwa arti mandul itu adalah (juga) untuk mereka yang punya anak tapi tidak soleh, akhlaqnya buruk, dsb. Termasuk tentunya tidak menjadi pengikut Rasul yg baik.
Pengikut Rasul yg baik? Yang seperti apakah itu?
a) Suka dan cinta untuk ruku dan sujud ( gemar shalat)
b) Tegas terhadap yang kufur
c) Di wajahnya terlihat tanda bekas sholat
Catatan penting untuk hal yang satu ini, “bekas” di sini maksudnya adalah bekas sholat/sujud itu terlihat dalam pola kehidupannya, bukan berbekas hitam di dahi)
 
6. Jadika rumah sebagai AL MARKAZ (markas).
Jadikan rumah tempat untuk menggembleng anak-anak yang siap berjihad di jalan Allah dengan harta/jiwa/pikiran mereka.
Dalam QS As Saff disebutkan :
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻫَﻞْ ﺃَﺩُﻟُّﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰٰ ﺗِﺠَٰﺮَﺓٍ ﺗُﻨﺠِﻴﻜُﻢ ﻣِّﻦْ ﻋَﺬَاﺏٍ ﺃَﻟِﻴﻢٍ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (As-Saff – 61:10)

ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﭑﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِۦ ﻭَﺗُﺠَٰﻬِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ٱﻟﻠَّﻪِ ﺑِﺄَﻣْﻮَٰﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧﻔُﺴِﻜُﻢْ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَّﻜُﻢْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (As-Saff – 61:11)

Jihad paling rendah adalah dengan harta.
Contoh:
kita lihat masjid kotor, mana lebih mudah? Menyuruh tukang bersih2 untuk melakukannya lalu kita membayar ongkosnya, atau kita ngepel sendiri?
Jihad dengan harta tentu dengan ukuran sesuai kemampuan.
Jihad dengan jiwa itu bukan hanya dengan nyawa namun dengan pikiran dsb.
Apa yang Anda pikir bila melihat sekelompok orang datang ke tempat bersejarah atau ke tempat bencana untuk sekedar mencoret-coretkan namanya sendiri atau groupie, dengan hashtag-hashtagnya…???
Tentu itu sangan memprihatinkan. Bagaimana orang-orang seperti itu menghayati konsep jihad?
 
7. Jadikan rumah sebagai AL MAHYA AS SUNNAH ( al mahya us sunnah)
Pastikan rumah kita sebagai tempat untuk melaksanakan sunnah-sunnah Rasul. Dari hal-hal terkecil seperti : jangan makan sambil berdiri, makan dengan tangan kanan, masuk toilet dahulukan kaki kiri, masuk rumah dahulukan kaki kanan, dsb
Lalu, Naik level : biasakan shalat sunat rawatib. Naik level : biasakan tahajud. Naik level : saum senin-kamis, dst.
 
8. Jadikan rumah sebagai AL MARHAM (ramah atau kasih sayang) untuk membangun silaturahmi (jalinan cinta kasih).
Dalam Rumah Tangga harus ada rasa cinta kasih
Antara suami-istri, antara anak-orang tua, antara anak-anak, dst.
Lambat laun kasih sayang di dalam rumah berkembang menjadi silaturahmi antar rumah, antar RT, antar RW dst.