Adab Berziarah Kubur

KAJIAN TENTANG ADAB BERZIARAH KUBUR

Syariat Islam yang indah ini sudah sangat lengkap / syumul, ia tidak membutuhkan kreatifitas kita karena ia akan membimbing kita kepada hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari kesia-siaan.

 

[1] Meluruskan Tujuan Ziarah Kubur

Tujuan ziarah ialah mengingatkan penziarah kpd kematian. Sekali lagi, tujuan ziarah ialah supaya memberi manfaat kpd penziarah dan bukan yg diziarahi. Rasulullah saw bersabda :

“Dahulu aku melarang kalian berziarahi kubur, skrg berziarahlah krn sesungguhnya ia dpt melembutkan hati, menitiskan air mata dan mengingatkan kpd Hari Akhirat”. (HR.al-Hakim no:1342)

[2] Kita dibolehkan menziarahi kubur orang bukan Islam namun dilarang mendoakannya.

Abu Hurairah ra berkata:

“Nabi saw pernah ziarah ke kubur ibunya (belum masuk islam) lalu menangis dan org-org di sekeliling turut menangis. Maka Nabi bersabda: “Aku pernah meminta izin Tuhanku utk meminta ampun kpdNya namun aku tdk diizinkan. Aku pernah meminta izin kpdNya utk ziarah kuburnya dan aku diizinkan. Maka ziarahlah kubur krn sesungguhnya ia mengingatkan kalian kpd kematian”.(HR. Muslim no:976)

[3] Mengucapkan Salam.

Apabila memasuki perkuburan Muslim, ucapkanlah salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ.

“Salam sejahtera ke atas kalian wahai penduduk negeri kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami insya-Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kpd Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. (HR.Muslim no:975)

Kuburan hanya benda mati yg didalamnya terbujur kaku mayat yg tdk dpt memberikan manfaat dan mudharat. Ia tdk bisa mengabulkan doa atau meneruskan doa kpd Allah. Ia tdk bisa menolong dirinya sendiri apalagi menolong org lain.

“Allah mengutuk org-org Yahudi & Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)”. (HR. Bukhari Muslim)

Berziarah adalah kebiasaan masyarakat kita. Manakala ditanya, apa yg dilakukan di sana? Ada yg ingin shalat, berdoa untuk kenaikan jabatan, kelancaran rezeki atau agar dikaruniai keturunan dll.

Kepada siapa meminta? Ada yg terang-terangan meminta kpd mbah/kyai ini dan itu. Namun, ada pula yg mengatakan bhw ia tetap meminta kpd Allah Swt, tapi supaya cepat dikabulkan mereka sengaja memilih makam org-org shaleh.

[4] SHALAT DI KUBURAN

Shalat di kuburan hukumnya haram, bahkan sebagian ulama mengategorikannya dosa besar.
Praktik ini bisa mengantarkan kpd perbuatan syirik

Sabda Nabi saw, “Laksanakanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian dan jgnlah kalian menjadikannya kuburan”. (HR. Bukhâri I/528-529 no. 432)

Hadits ini menerangkan agar rumah jgn dikosongkan dari shalat, sebab rumah yg tdk dipakai utk shalat, terutama shalat sunnah, bagaikan kuburan yg memang bukan tempat utk shalat.

Sabda Rasulullah saw, “Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi”. (HR. Ahmad XVIII/312 no. 11788)

Ibnu Hajar al-‘Asqalany menyimpulkan lebih luas lagi. “Kuburan bukanlah tempat utk beribadah”

Perhatikan doa Rasulullah sepeninggalnya kelak, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yg disembah”. (HR. Malik dalam al-Muwattha’ II/72 no. 452)

Ini adalah larangan bagi kita utk tdk mengagungkan kuburan terutama kubur org org yg dianggap shaleh dan sakti. Ini adalah perbuatan syirik, krn bertentangan dgn tauhid.

Serupa dgn kaum musyrikin di zaman Nabi Nuh yg mengagungkan Wadd, Shuwa, Yaghuts, Ya’uq, Nashr dan org org shaleh mrk.

Kuburan hanya benda mati yg didalamnya terbujur kaku mayat yg tdk dpt memberikan manfaat dan mudharat. Ia tdk bisa mengabulkan doa atau meneruskan doa kpd Allah. Ia tdk bisa menolong dirinya sendiri apalagi menolong org lain.

Hindarilah beribadah dikubur krn itu perbuatan syirik yg tak diampuni Allah..Na’udzubillah!

Imam Syafi’i mengatakan, ‘Aku membenci tindakan pengagungan makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid (tempat ibadah)”.(Syarh Shahih Muslim VII/42)

Imam Ibnu Abdil Barr menerangkan, “org arab biasanya, jk nabi mrk wafat, mrk akan berdiam di sekeliling kuburannya. Maka, Nabi saw bersabda, “Ya Allah, jgnlah Engkau jadikan kuburanku berhala yg disembah”. (HR. Malik dlm al-Muwattha’ II/72 no.452)

As-Suyuthy menjelaskan, “Jk seorg insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa utk dirinya sendiri, dgn tujuan mendapat berkah dgnnya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ; mk itu adalah penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Menyimpang dari agama dan syariatnya”. (Al-Amr bi al-Ittiba’ hal. 139)

Allah Swt sangat murka atas org yg melakukan hal itu.

Rasulullah saw saja sebagai manusia yg paling tinggi derajatnya tdk bs berbuat apa-apa. Lalu bgmn dgn kita yg hanya manusia biasa?

Allah berfirman: “katakanlah (wahai Muhammad) aku tdk kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tdk pula menolak kemudharatan kecuali yg dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yg ghaib tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tdk akan ditimpa kemudharatan. Aku tdk lain HANYALAH pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi org org yg beriman”. (QS. Al-‘Araf:188)

Sekali lagi, kuburan hanya benda mati yg tdk bs memberi manfaat dan mudharat. Tp sayang sekali banyak manusia yg tergiur melalui ritual ritual yg tdk pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya, bahkan bertentangan dgn Ruh Tauhid yg dibawa oleh semua Nabi dan Rasul.

Nabi Muhammad saw memperingatkan para sahabat dan umatnya agar tdk terjerumus kpd perilaku buruk kaum terdahulu. Sebagaimana praktik para pemuja berhala terhadap berhala mrk. Ini merupakan Syirik Akbar ! “. (At-Tamhid V/45)


Nama besar (Tokoh) bukan tolak ukur kebenaran

Apabila mereka menjadi tolak ukur kebenaran maka kita telah menyembah mereka dan kubur-kuburnya menjadi ramai dikunjungi orang untuk mendapatkan berkah dan dimintai pertolongan dan pada akhirnya kubur mereka menjadi tempat ibadah.

Allah Swt berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
[At-Taubah: 31]

Dari ‘Adi bin Hatim dikisahkan bahwa tatkala dia mendengar Nabi saw membaca ayat,

“Mereka (ahlul kitab) menjadikan para ulama (pendeta) dan rahib-rahib (ahli ibadah) mereka sebagai tuhan sesembahan selain Allah.” (QS. At Taubah [9]: 31)

Maka Adi bin Hatim pun berkomentar kepada Nabi, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.”

Maka Nabi mengatakan, “Bukankah mereka sudah mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya?

Dan bukankah mereka juga menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah kemudian kalian pun ikut menghalalkannya?”

Adi bin Hatim menjawab, “Memang demikian”

Maka Nabi pun bersabda, “Itulah wujud peribadahan kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Salam !
Copas dari KTQS

Leave a Reply