Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 01

 

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 01 | Muqoddimah #01 Biografi Nama, Gelar, Nasab, Guru, Murid, dan Madzhab Penulis Kitab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.

Nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani.

Kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.

Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakobnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.

Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.

Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.

Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.

Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.

Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.

Diantara guru-guru beliau (disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi),

bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah

*Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah.

*Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada

*Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.

Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.

Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.

Kemudian Madzhab Beliau, Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah ini adalah seorang Hanbali, beliau tumbuh sebagai seorang Hanbali yaitu bermadzhab dengan madzhabnya imam Ahmad bin Hanbal, tapi apa yang dimaksud dengan Hanbali disini, apakah yang dimaksud beliau adalah orang yang fanatik sehingga tidak mengambil pendapat kecuali dari madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, jawabannya tidak, dinamakan dengan Hanbali karena beliau mengawali menuntut ilmu fiqihnya dengan mazhab Hanbali dan inilah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka menambahkan atau menisbahkan diri mereka kepada Syafi’i, Hanafi, Maliki, bukan berarti mereka ta’asub dan fanatik terhadap madzhab tersebut. Awal mereka menuntut ilmu adalah dengan mempelajari kitab-kitab Hanbali atau Syafi’i atau yang lain, cuma setelahnya ketika mereka sudah sampai pada marhalah tertentu, sampai pada tingkatan tertentu di situ mereka tidak melihat lagi ini madzhab fulan atau madzhab fulan tapi mereka melihat dalil, kalau pendapat tersebut itulah yang sesuai dengan dalil itulah yang mereka ambil.

Berkata adz-Dzahabi rahimahullāh “wa lahul āna ‘iddatussinīn lā yu’ti bimadzhabin mu’ayyan bal bima qāmaddalīlu alaihi ‘indah”, ini menceritakan tentang gurunya dan beliau yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah sekarang, ini Imam adz-Dzahabi berbicara tentang apa yang ada di masanya sudah beberapa tahun terakhir ini beliau tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tapi dengan pendapat yang sesuai dengan dalil menurut beliau, jadi bukan berfatwa berdasarkan madzhab Hanbali atau madzhab Syafi’i tapi berfatwa menjawab sesuai dengan apa yang menurut beliau lebih dekat dengan dalil. Sungguh beliau telah menolong sunnah secara murni dan menolong tharīqah salafīyyah yaitu menyebarkan manhaj salaf dan berhujah untuk menolong sunnah ini dan menolong manhaj salaf ini dengan berbagai bukti, berbagai muqaddimah, dengan berbagai perkara yang bukti-bukti tersebut atau alasan-alasan tersebut mungkin sebelum beliau belum ada yang menyebutkan atau menampakkan.

Ini menunjukkan tentang bagaimana manhaj Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, jadi memang beliau bertumbuh dan berkembang dan mungkin di sekitar beliau, lingkungan beliau rata-rata adalah bermazhab Hanbali cuma beliau bukan seorang yang ta’asub atau fanatik terhadap madzhab beliau, ta’asub dengan dalil. Adapun aqidah maka jelas aqidah beliau adalah aqidah para salafush sholeh dan ini kita lihat dari karangan-karangan beliau termasuk diantaranya adalah kitab yang insyaAllāh akan kita pelajari bersama yaitu Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, di situ kita akan melihat bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang Asma’ dan juga Sifat Allāh ﷻ, bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang sahaba dan InsyaAllāh nanti akan kita sebutkan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya yaitu tentang muqaddimah yang berkaitan dengan kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.

Karangan-karangan beliau, disebutkan oleh Adz-Dzahabi bahwasanya beliau pernah mencoba untuk mengumpulkan karangan-karangan gurunya Syaikhul Islām Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh, kemudian beliau menyebutkan mendapatkan seribu mushonnaf yaitu seribu karangan, tulisan dan ternyata setelah beliau mengumpulkan tulisan-tulisan Syaikhul Islām beliau setelah itu melihat karangan-karangan yang lain, menunjukkan begitu banyaknya tulisan-tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, beliau rahimahullāh termasuk orang yang banyak dibukakan oleh Allāh ﷻ pintu-pintu, pintu menulis, beliau orang yang kuat didalam menulis, pintu berdakwah, berjihad dengan tangannya dengan lisannya maka ini adalah Fadlullāh, keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki dan tidak semua dari kita dibukakan oleh Allāh ﷻ untuk banyak menulis.

Cuma yang perlu kita ingat kan disini menulis ini adalah perkara yang penting karena kalau kita menulis dan memiliki kitab, memiliki buku maka itu akan insyaAllāh lebih lama meskipun kita sudah meninggal dunia, namanya buku masih bisa di baca dan dibacakan dipelajari oleh orang lain. Adapun seseorang hanya berbicara saja apalagi tidak ada di sana rekaman maka ketika dia meninggal dunia hilang begitu saja, maka penting seseorang di sini menulis. Dan yang perlu diketahui di sini hendaklah seseorang menulis apa yang memang dibutuhkan oleh manusia artinya bukan hanya sekedar menulis dan punya buku tapi dia menulis sesuatu yang memang dibutuhkan.

Dan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak di dalam tulisan-tulisan termasuk di antaranya adalah aqidah wasithiyah ini, kenapa beliau menulis karena ada sebabnya dan nanti akan kita sebutkan sejarah bagaimana beliau menulis kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, permintaan dari seseorang yang dia tidak mau kecuali tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimmiyah padahal di sana banyak kitab-kitab aqidah sebelum masa Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Cuma orang yang tanya tadi tidak mau kecuali yang ditulis oleh Syaikhul Islam, akhirnya beliau pun mengabulkan permintaan tersebut.

Dan tulisan-tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikenal dengan bagusnya dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh syaikhul Islam adalah ungkapan-ungkapan yang baik dan susunannya juga sangat rapi kemudian juga dikenal beliau ini dengan taksimatnya yaitu dalam pembagian-pembagian ini luar biasa sehingga banyak para ulama para thulabul ‘ilm yang mereka bisa mengambil faedah dan banyak mengambil faedah dari pembagian pembagiannya. Dengan adanya pembagian sebuah masalah ternyata dia terbagi menjadi beberapa bagian, seseorang lebih jelas dan lebih praktis lebih paham sehingga dia tidak menyamakan sesuatu yang beda dan tidak membedakan sesuatu yang sama.

Dan ada yang mengatakan bahwasanya beliau bisa berbahasa Abriah, bahasa abriah ini adalah bahasa orang-orang Yahud dan juga bisa bahasa Latiniyyah ini dipahami dari sebagian ungkapan beliau yang di mana beliau menyatakan bahwasanya bahasa Abria ini dekat dengan bahasa Arab, ini sebagian memahami bahwasanya beliau berarti paham tentang lughah tentang bahasa Abriah.


Tentang sifat beliau syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari sisi akhlak beliau adalah seorang ulama yang pemurah, karīm, dan itu semua kemurahan tadi bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh beliau tapi sepertinya adalah sesuatu yang memang bawaan dari sejak kecil dan beliau adalah seorang pemberani bukan seorang pengecut, dan beliau adalah seorang yang zuhud di dalam dunia, tidak tergantung hatinya dengan sedikit pun dari dunia bahkan disebutkan bahwasanya beliau banyak meninggalkan perkara yang mubah, banyak meninggalkan perkara yang sebenarnya boleh karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan, dan tentunya ini semua menunjukkan tentang buah dari ilmu yaitu zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat dan bagaimana beliau meninggalkan perkara yang mubah karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.

Beliau Rahimahullāh semasa hidupnya berjihad dijalan Allāh ﷻ baik dengan lisannya, yaitu dengan berdakwah dengan lisannya dan juga dengan tulisannya, banyak menulis bagaimana jumlah tulisan-tulisan beliau dan beliau memerangi tentara Tartar dan mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan bahkan dalam peperangan-peperangan beliau senantiasa berada di shaf yang awwal. Ini menunjukkan bagaimana beliau sebagai seorang ulama bukan hanya sekedar bisa menulis, bisa memberikan pengarahan kepada manusia, tetapi beliau menjadi orang yang menjadi contoh bagi yang lain di dalam jihad fī sabīlillāh dan mendorong manusia untuk jihad memerangi orang-orang kuffar dan jihad yang dimaksud disini tentunya adalah jihad yang syar’i bukan jihad yang dipahami oleh sebagian orang-orang yang tersesat dari jalan Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost