Allāh Senantiasa Menolong Hamba (Bagian 4)

BimbinganIslam.com
Senin, 27 Syawwal 1437 H / 01 Agustus 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
Hadits ke-12 | Allāh Senantiasa Menolong Hamba (Bagian 4)
⬇ Download audio:  bit.ly/BiAS-FA-Bab02-12-4
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم الله الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
Kita masuk pada bagian terakhir (bagian yang ke-4) dari pembahasan sebelumnya, dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allāh menolong hamba, jika seorang hamba menolong saudaranya.”
Hadits ini sebenarnya kesimpulan dari pada lafadz-lafadz sebelumnya yang menjelaskan bahwasanya:
◆ Segala bentuk pertolongan seorang hamba kepada saudaranya, maka akan dibalas juga dengan pertolongan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
◆ Bahkan dibalas dengan lebih dari pada apa yang dia bantu kepada saudaranya.
Lafazh (hadits) yang terakhir ini umum, mencakup:
⑴ BANTUAN APAPUN
Mungkin seseorang membantu saudaranya dengan kata-katanya, tenaganya, hartanya, hatinya, do’anya.
Jika dengan kata-kata yang indah bisa membantu saudaranya, maka ini dianggap bantuan. Pokoknya bantuan dalam bentuk apapun, termasuk dalam hadits ini.
Kemudian juga umum mencakup,
⑵ APA YANG DIBANTU
✓ Kebutuhan saudaranya apapun, apakah saudaranya membutuhkan bantuan yang besar atau bantuan yang kecil.
✓ Bantuan dalam model apapun, diberikan dalam kebutuhan apapun.
Maka Allāh akan membantu hambaNya yang membantu saudaranya.
Oleh karenanya dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan:
لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد شهرا
“Saya menemani saudara saya dalam rangka memenuhi kebutuhannya lebih saya sukai dari pada i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.”
(HR Ath Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabīr, no. 13646, dihasankan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahādīts Ash Shahīhah no. 906.
Karena i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan, faidahnya berkaitan dengan seorang hamba itu sendiri. Tetapi menemani saudara, ikut berjalan bersamanya, ini berkaitan dengan membantu saudara.
Dan amalan yang muta’addi (yang faidahnya sampai kepada orang lain), lebih disukai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari pada amalan yang faidahnya terbatas pada pelakunya sendiri.
Dan disini isyarat dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :
مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allāh akan membantu seorang hamba selama hamba membantu saudaranya.”
Perhatikan !
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mengatakan “Selama hamba membantu saudaranya”. Artinya apa ?
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengatakan “selama dia membantu orang lain”, tetapi mengatakan “selama dia membantu saudaranya”.
⇒ Artinya, orang lain yang dia bantu tersebut adalah saudaranya.
Dan konsekuensi dari persaudaraan yaitu kita membantu. Namanya saudara, maka kita bantu. Kalau kita tidak bantu apa fungsinya dikatakan sebagai saudara sesama Muslim?
Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wasallam juga mengatakan:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ
“Dan Allāh akan membantu sang hamba.”
Disini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengatakan
وَاللَّهُ يُعِيْنِهُ
“Akan membantunya.”
⇒ Jadi, orang yang membantu saudaranya dikatakan sebagai hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini sebenarnya pujian secara khusus.
Oleh karenanya dalam sebagian ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan menyebut Nabi sebagai hambaNya.
Seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allāh yang telah memperjalankan hambaNya dari masjidil Harām ke masjidil Aqsha di malam hari yang diberkahi sekelilingnya”. (QS Al-Isrā :1)
⇒ Disini Allāh mengatakan hambaNya.
Oleh karenanya dalam hadits ini, orang yang membantu saudaranya adalah benar-benar hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Berarti dia beribadah dan yakin kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla bahwasanya Allāh akan membantu dia. Disini Allāh memberi sifat ‘ubudiyyah kepada orang yang membantu saudaranya.
Oleh karenanya para ikhwan dan akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
Kita ada waktu untuk beribadah, untuk menenangkan hati kita, ada waktu untuk membantu kerabat kita, ada waktu untuk membantu orang tua kita, ada waktu untuk mengurus anak dan istri kita…
Ada waktu juga kita sisihkan untuk membantu saudara-saudara kita.
Meskipun tidak ada hubungan kerabat dengan kita, meskipun dia tidak pernah membantu kita, tetapi kita membantunya karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ingat !
Barang siapa yang membantu saudaranya, maka Allāh akan membantunya.
Dan jika Allāh sudah membantu seorang hamba, maka pasti akan dimudahkan, karena “biyadihi al-amru kulluhu”, ditangan Allāh segala perkara/urusan.
Dan jika Allāh menghendaki sesuatu, tinggal mengatakan “kun fayakun”, jadi maka jadilah.
والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
______________________________
Allāh Senantiasa Menolong Hamba