BATASAN BID’AH – Apakah Memakai HP itu BID’AH ?

Ada 3 Syarat Disebut Bid’ah

Sebagian orang menganggap bahwa bid’ah adalah setiap perkara baru.

Sehingga wajar kalau mereka mengatakan,

“Kalau memang hal itu bid’ah, kamu tidak boleh pakai HP, pake blackberry, tidak boleh haji dengan naik pesawat, tidak boleh pakai komputer, dst karena semua itu baru dan bid’ah adalah suatu yang baru dan dibuat-buat”.

Padahal bukan itu yg dimaksud dalam Islam, karena bid’ah yg tercela dan sesat adalah bid’ah dalam masalah syariat agama, sedangkan hal-hal diatas adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa)

Ini muncul karena tidak memahami hakekat bid’ah yang terdapat dalam hadits ini :

“Hati-hatilah denagn perkara yang diada-adakan (yang baru) karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676)

Untuk lebih jelas dalam memahami bid’ah, kita harus memahami tiga syarat disebut bid’ah yang disimpulkan dari dalil berikut :

Rasulullah saw bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam hadits Nabi saw diatas  menyebutkan,


فِى أَمْرِنَا هَذَا

“Dalam urusan agama kami”

Sehingga perkara dunia tidak termasuk dalam hal ini (seperti hal hal yg dicontohkan diatas, penggunaan hp dst).

Ibnu Hajar Al Hambali berkata,

“Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun selain itu, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 127)

Jadi kesimpulannya, bid’ah yang terlarang dalam agama, tercela, sesat dan tertolak, yaitu yang memenuhi 3 syarat :

1. Sesuatu yang baru (dibuat-buat).

2. Sesuatu yang baru dalam agama.

3. Dan yang tidak disandarkan pada dalil syar’i

Dari  KTQS Darul Arqom – Bandung

Leave a Reply