Menjawab Celotehan Anak Durhaka

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Menjawab Celotehan Anak durhaka

Pernah ada yang menyampaikan pertanyaan tentang celotehan sebagian anak durhaka, yang mereka tidak mau taat dan merasa tidak harus berbakti kepada orang tuanya dengan alasan: “Toh aku ngga pernah minta dilahirkan dan dirawat oleh mereka (orang tuanya)”.

Kita jawab:

Pertama, engga gitu konsepnya brader…! Engga ada bayi yang lahir dimintain izin dulu, “Dek, boleh ngga saya lahirin kamu?”. Kalau bayinya OK baru dilahirkan. Ini jelas ngawurnya. Hubungan orang tua dan anak bukan seperti akad kerjasama yang harus deal dulu, baru setelah itu ada timbal balik. Jadi, opini seperti ini ngga mungkin jadi argumen orang yang berakal.

Kedua, Justru di situ letak kemuliaan orang tua anda dan besarnya jasa orang tua anda. Tanpa diminta oleh sang anak, mereka mempertaruhkan nyawa melahirkan anda, merawat anda, membersihkan air kencing anda, menceboki anda, memastikan anda tercukupi makan dan minumnya, membanting tulang memenuhi kebutuhan anda, memberikan pendidikan, keamanan, kasih sayang sampai anda menjadi manusia sekarang.

Jika mereka tidak berbesar hati lakukan itu, tentu anda sekarang mungkin hanya seonggok bangkai janin yang terkubur di dalam tanah atau anak tidak jelas yang ditemukan di tong sampah ketika bayi.

Ketiga, ini sejatinya bentuk protes kepada Allah, “koq saya dilahirkan dari rahim A sih, kenapa tidak dari rahim si B?”. Ini sama juga dengan yang mengatakan, “kenapa koq saya dilahirkan sebagai perempuan, kenapa tidak laki-laki?”, “kenapa koq saya berkulit hitam, kenapa tidak berkulit putih?”, dan semisalnya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, justru manusia yang akan ditanya (oleh Allah) kelak” (QS. Al Anbiya: 23).

Brader, jangan kau tambah durhakamu kepada orang tua dengan kedurhakaan kepada Allah ta’ala!

Keempat, jasa orang tua kepada anaknya itu terlalu besar, sehingga tidak mungkin bisa terbalaskan. Sehingga sudah semestinya seorang anak berbakti dan taat kepada orang tuanya. Andai seumur hidup seorang anak berbakti kepada orang tuanya, itu pun belum impas membalas jasa orang tua.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَجْزِي ولَدٌ والِدًا، إلَّا أنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya. Kecuali jika anak tersebut mendapati orang tuanya menjadi hamba sahaya, lalu ia merdekakan” (HR. Muslim no. 1510).

Ibnu Hubairah rahimahullah menjelaskan :

أن جزاء الولد للوالد بقدر استحقاقه غير متصور… وإنما صور النبي – صلى الله عليه وسلم – صورة نادرة الوقوع

“Balas jasa seorang anak kepada orang tuanya sampai impas adalah perkara yang tidak tergambar dalam benak … Adapun apa yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah kasus yang sangat jarang terjadi” (Al Ifshah ‘an Ma’anis Sihhah, 8/112).

Kelima, andaikan poin 1 sampai 4 anda abaikan, tapi poin kelima ini tidak boleh diabaikan. Berbakti kepada orang tua itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Dari Abud Darda’ radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وأطِعْ والدَيْكَ ، وإنْ أمراكَ أنْ تخرجَ مِن دُنياكَ

“Taatilah kedua orang tuamu, walaupun mereka memerintahkanmu untuk keluar dari (kenikmatan) duniamu” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad [14]).

Silakan anda menganggap orang tua anda tidak berjasa sama sekali kepada anda, namun tetap saja perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbakti dan taat kepada orang tua, wajib untuk ditaati.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

@fawaid_kangaswad