Asmaul Husna : Al ALIIM

Allah SWT mempunyai nama AL ALIIM

AL ALIIM artinya adalah hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan akan terjadi, serta bagaimana dan akan seperti apa kejadiannya.

IlmuNya meliputi segala sesuatu, yang tampak maupun yang tidak, yang kecil maupun yang besar.

Ilmu Allah terhadap sesuatu yang belum ada adalah rahasia Allah atas makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh para malakikat yang terdekat sekalipun, juga tidak diketahui para Rasul yang diutus.

Inilah ilmu tentang takdir , kunci tentang apa yang akan terjadi  sampai datngnya hari pembalasan. Segala sesuatu yang gaib telah Allah tetapkan semenjak dahulu. Kuncinya hanya ada di sisiNya, dan tidak pernah akan hilang.

Demikian pula ilmu-Nya terhadap sesuatu yang ada telah tercatat dalam lauh mahfudzh. Allah Swt telah mencatatkan segala sesuatu dengan ukurannya dalam Lauh Madfudz, 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan nya.  Ilmu-Nya mencakup segala yang ada, bagaimana terjadinya,  waktu kejadiannya dan ajal  yang telah ditentukan.
Dialah Yang Mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan dalam rahimnya. Dia pulalah Yang Maha Mengetahui  apa yang sedang berlaku di muka bumi  dan apa yang akan keluar darinya, apa yang akan turun dari langit dan apa yang akan naik ke sana, sehingga tidak ada satupun hal kecil maupun yang besar-kecuali Allah akan memeliharanya dari atas ‘Arsy-Nya.
Ilmu Allah Swt terhadap sesuatu yang telah ada dan diciptakan ada dalam ruang lingkup perbuatan-Nya. Semuanya akan terjadi berdasar kepada kandungan hikmahNya.
Seorang muslim  yang mengesakan Allah dengan nama ini harus mau berkorban meninggalkan apa yang menjadi pendapat dan ijtihad yang berasal dari hawa nafsunya, untuk menuju jalan Allah. Termasuk berkorban dengan meninggalkan berhukum kepada selain hukum Allah.

Hamba yang berakal akan mengetahui, bahwa kaidah-kaidah hukum yang bersumber dari rancangan undang-undang yg diterapkan di dalam persidangan  -betapapun sempurnanya-tidak akan pernah menyamai kesempurnaan Syariat Islam. Itu sebuah kepastian.

Betapapun tingginya ilmu manusia dalam kaidah hukum konvensional, ketika diletakan menjadi sebuah undang-undang atau sebuah hukum, tetap tidak akan mencakup kemaslahatan dunia secara sempurna, dan tidak akan mencakup kemaslahatan dunia secara sempurna, dan tidak akan pernah peduli akan kejadian di hari kebangkitan. Ketika kaidah-kaidah  itu dijadikan sebuah hukum, ia tidak akan memperhatikan masalah balasan kenikmatan yang abadi ataupun balasan siksaan yang kekal di akhirat. Ketika undang-undang itu disahkan, ia sarat dengan kekurangan karena kurangnya pemahaman ilmu dan terbatasnya akal pikiran.
Adapun hukum-hukum yang dikandung dalam al Quran dan hadits-hadits nabi, sudah bisa dipastikan bersumber dari Yang Maha Mengetahui, Yang  Esa dalam nama dan sifatNya,  mencakup segala sesuatu. Dialah yang mampu menghitung segala sesuatu, sehingga tidak ada satupun  di muka bumi ini dan juga di langit yang tersembunyi.

Bentuk lain peng-Esaan Allah dengan nama AL ALIIM ini, adalah ketika seorang hamba mampu memilih manhaj Allah sebagai manhaj hidupnya, mengedampingkan hukum yang dibuat manusia yang bertentangan dengan Syariat Allah atau hukum selain yang Allah turunkan.

Seorang muslim yang meng-Esakan Allah dengan nama AL ALIIM ini juga hendaknya mampu merendahlan hati dan dirinya di hadapan Allah, dirinya merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan ilmuNya. Betapapun luas ilmu dan pengetahuan seorang hamba, namun ketahuilah, bahwa di atas setiap yang berilmu ada Yang Mahaluas ilmuNya. Karena itu rendahkanlan dan hinakanlah diri di hadapan Allah, sampaikan ilmu dan jangan mendustakannya ketika diminta, sehingga dengan ilmunya Anda akan semakin dekat kepada Allah.

 

( Dr. Mahmud Abdurrazak Ar-Ridwani, Ad-Dua’u b’il  Asma’il Husna, 2005:60)

dari Al Qur’an Qordoba The Amazing

gambar dari 4shared

Leave a Reply