Beginilah Mereka Berbakti 3

Ustadz ‘Abdullāh Zaen, MA
Ceramah Singkat | Beginilah Mereka Berbakti
⬇️ Download Audio: https://goo.gl/zFLkQ7

Sumber:
http://yufid.tv/2904-beginilah-mereka-berbakti.html
➖➖➖➖➖➖➖

BEGINILAH MEREKA BERBAKTI (BAGIAN 3 DARI 3)

Kisah yang ketiga tentang seorang ulama yang bernama Haywah bin Suraih

Diceritakan bahwa Haywah adalah seorang ulama besar di zamannya.

Dia memiliki seorang ibu yang sudah renta dan sangat disayangkan ibunya agak kurang sehat akalnya (kurang waras).

Seperti biasa Haywah memberikan pengajian di depan jamaahnya di masjid yang dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan jamaah.

Ketika beliau sedang menyampaikan pengajian tadi, tiba-tiba sang ibu pergi ke masjid kemudian membuka jendela masjid, dari jendela itu ibunya melongok kemudian dia memanggil-manggil anaknya:

“Haywah… Haiywah….!”

Jamaah pada kaget:

“Siapa (wanita) ini (yang) memanggil gurunya dengan namanya sendiri?”

⇒ Biasanya orang kalau memanggil gurunya dengan ustadz, syaikh, tuan guru (di daerah Lombok), kyai (di Jawa).

Kira-kira apa yang Anda pikirkan? Apa yang di inginkan sang ibu?

(Seseorang) sedang mengisi pengajian besar kemudian di panggil-panggil. Meskinya ada sesuatu yang besar (misal rumahnya kecolongan, kebakaran, dll).

Ternyata apa?

Wanita itu berkata:

“Haywah, itu ayam-ayam di rumah belum kamu kasih makan, kenapa tidak kamu kasih makan dulu?! ”

Subhanallāh…..

Lagi tengah-tengah mengisi pengajian besar tahu-tahu dipanggil oleh ibunya yang kurang sehat Untuk memberi makan anak ayam yang ada dirumahnya.

Lalu Apa yang dilakukan Haywah? Apa dia merasa malu?

“Wah, masa seorang kyai ditengah-tengah pengajian nya diputus hanya untuk ngasih makan ayam?”

Lalu Haywah memandang kepada jama’ahnya dia sapu jama’ahnya tersebut, kemudian dia berkata:

“Wahai para jama’ahku, saya mengajar kalian hukumnya sunnah, adapun saya berbakti kepada ibu saya hukumnya wajib, maka maaf saya mau melakukan yang wajib dulu.”

Kemudian ditutup kitabnya dan dia keluar menggandeng tangan ibunya dengan penuh tunduk.

Lalu dia kasih ayam itu makan. Setelah selesai memberi makan ayam, dia kembali ke masjid untuk memulai pelajarannya lagi.

Haywah mempraktekan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Dan merendahlah diri kalian dihadapan orang tua kalian karena kasih sayang.”
(QS Al Isrā: 24)

Banyak diantara kita tidak merendahkan dirinya di hadapan orangtuanya.

Merasa sarjana sedangkan ibunya tamat SD saja tidak…

Merasa dia sudah menjadi pejabat sedangkan ibunya adalah orang yang biasa…

Merasa bahwa dirinya telah memiliki kedudukan yang tinggi sedangkan ibunya adalah manusia yang biasa-biasa saja…

Kemudian dia merasa lebih tinggi dari ibunya, merasa ini dan itu, bahkan merasa malu untuk berjalan beserta ibunya.

Apakah ini praktek dari berbakti kepada orang tua?

Kita masih perlu untuk terus menggali kisah-kisah para ulama kita, dalam berbakti kepada orang tua, agar kita bisa meneladani mereka.

Beginilah mereka berbakti kepada orang tua…

Semoga kita bisa mempraktekan ini semua dalam kehidupan kita.

والله تعالى أعلى و أعلم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه أجمعين
____________________