Beginilah Mereka Berbakti

Ustadz ‘Abdullāh Zaen, MA
Ceramah Singkat | Beginilah Mereka Berbakti
⬇️ Download Audio: https://goo.gl/zFLkQ7

Sumber:
http://yufid.tv/2904-beginilah-mereka-berbakti.html
➖➖➖➖➖➖➖

BEGINILAH MEREKA BERBAKTI (BAGIAN 1 DARI 3)

الحمدلله ربّ العالمين
والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أم بعد

Sebuah kisah tentang seorang yang bernama Khālid bin Yahya Al Burmuki.

Diceritakan oleh Imam Ibnu Qutaibah dalam ‘Uyūnul Akhbār bahwa di zaman Khalid bin Yahya Al Burmuki, penguasanya saat itu sangat memusuhi orang-orang Burmuk (orang-orang yang berasal dari daerahnya Khalid bin Yahya)

Penguasa yang lalim tersebut, mereka membunuhi orang-orang yang berasal dari Burmuk dan merampas harta mereka.

Adapun yang selamat maka dipenjarakan.

Diantara yang dijebloskan ke dalam penjara adalah Khālid bin Yahya dan juga bapaknya yaitu Yahya.

Keduanya dimasukan ke dalam penjara yang gelap, dingin dan pengap sebagai bentuk penyiksaan terhadap mereka berdua.

⇒ Kebetulan bapaknya (yaitu Yahya) adalah seorang yang rajin beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla; rajin untuk menunaikan shalat, puasa dan sekian ibadah-ibadah yang lainya.

Karena dia adalah orang yang rajin shalat (termasuk bangun malam), maka tentunya dia membutuhkan air untuk berwudhū’

Padahal yang tersedia di dalam penjara hanyalah seember air yang begitu dingin sedangkan bapaknya adalah seorang yang sudah lanjut usia, sehingga manakala dia menyentuh air yang dingin itu bisa jadi dia akan jatuh sakit.

Maka Khālid pun berpikir; bagaimana caranya supaya saya bisa membuat air yang dingin ini menjadi hangat?

Ketika bapaknya sudah tidur di malam hari, Khālid memeras otaknya.

Kemudian dia berbaring sambil berpikir mencari ide bagaimana caranya supaya air yang ada di dalam ember ini menjadi air yang hangat.

Ketika dia sedang berbaring, dia melihat ke langit-langit penjara, ternyata di situ ada penerangan (lampu).

Kata dia: “Nah, ini idenya !”

⇒ Bagaimana caranya supaya cahaya lampu dan hawa hangat yang ada di langit-langit bisa berpindah ke ember ini.

Setelah bapaknya tidur terlelap, maka Khālid pun mengambil ember tadi, kemudian dia dekatkan ember tersebut dengan tangan kanannya, dia dekatkan menuju ke lampu tadi.

Berapa menit kira-kira?

Ember, bukan gelas (dan) bukan pula mangkok, tapi ember yang berat diangkat dengan tangan kanannya, semenit, dua menit paling lima menit tangannya sudah kesemutan.

Akhirnya diganti ke tangan yang kiri, dia angkat dengan tangan kirinya.

Kemudian setelah capek dia angkat lagi diganti dengan tangan kanannya, begitu dia ganti tangan kanan ke kiri, kanan ke kiri sampai ayam jantan berkokok.

Ketika ayam jantan berkokok dia bangunkan bapaknya.

“Pak, silahkan air hangat sudah siap.”

Bapaknya tidak tahu bahwa air hangat yang ada dihadapan dia merupakan hasil kerja Khālid semalam suntuk.

Malam kedua, Khālid melakukan hal yang serupa dan malam ketiga pun melakukan hal yang serupa.

Sampai ketahuan oleh penjaga-penjaga, dan itu dianggap sebuah pelanggaran.

Apa hukumannya?

Hukuman nya lampu tadi dicabut.

Khālid tambah binggung:

“Bagaimana caranya supaya saya bisa menghangatkan air ini, padahal saya ingin berbakti kepada bapak saya.”

Yang dilakukan Khalid ketika bapaknya sudah terlelap tidur (adalah) dia berpikir lagi memeras otaknya mencari cara bagaimana caranya supaya air ini menjadi hangat.

Sampai terbetiklah sebuah ide yang barangkali menurut sebagian orang ide ini adalah ide gila.

Apa ide tersebut?

Dia pikir yang namanya tubuh kita (manusia) memiliki hawa hangat, bagaimana caranya supaya hawa hangat yang ada di dalam tubuh kita ini bisa dipindahkan ke air yang ada didalam ember tadi.

Dia berpikir….

“Oh, ada caranya !”

Ketika bapaknya sudah tertidur lelap, Khālid melepas kaosnya kemudian merunduk, perutnya ditempelkan ke air yang ada di dalam ember tadi, dengan harapan hawa hangat yang ada di dalam tubuhnya bisa ditransfer (berpindah) ke dalam air.

Sedikit demi sedikit hawa hangat yang ada di dalam tubuhnya diserap oleh air dingin itu dan Khalid mengigil kedinginan karena hawa hangat yang ada didalam tubuhnya diserap masuk habis ke dalam air tadi.

Semalam suntuk dia merunduk kedinginan, sampai adzan subuh dikumandangkan.

Ketika adzan subuh dikumandangkan, air sudah agak hangat (kemudian) dia bangunkan sang ayah dan berkata:

“Silahkan Bapak, air hangat sudah siap.”

Siapa kiranya, diantara anak-anak di zaman kita ini yang berbakti kepada orang tuanya sedemikian rupa?

Apa yang diharapkan oleh Khalid dari bapaknya?

Apakah dia melakukan itu semua untuk mendapatkan harta warisan orang tuanya?

Ataukah dia punya keinginan duniawi yang lain?

Apa yang bisa diwariskan oleh bapaknya yang sangat miskin tadi?

Dia melakukan itu semua karena dia meyakini betul bahwa keridhan orang tua adalah merupakan kunci dari keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebaliknya kemurkaan orangtua merupakan penyebab utama kemurkaan nya Allāh Aza wa Jalla.

رضاء الله في رضاء الوالدين وسخط الله في سخط الوالدين

“Keridhaan Allāh itu tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allāh itu tergantung kepada kemurkaan orang tua.”

(HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, dari shahābat Abdullāh bin Amr bin Al ‘Ash)

Beginilah para ulama kita memberikan contoh untuk berbakti kepada orang tua.

__________________