Category Archives: Bimbingan Islam

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 33 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Pembahasan Hadits Dari Sahabat Abu Hurairah Riwayat Imam Ahmad Bag 02

Halaqah 33 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Pembahasan Hadits Dari Sahabat Abu Hurairah Riwayat Imam Ahmad Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-33 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau berkata

وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله ﷺ

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘Anhu beliau berkata Rasulullāh ﷺ bersabda,

ثم يجيء الإسلام،

Kemudian datanglah Al Islam.

Allāh ﷻ mampu untuk menjadikan Islām yang maknawi yang berisi tentang amalan yang bathin amalan yang dzhohir, Islām di dalam masalah akidah, Islām di dalam masalah Ibadah, Islām di dalam masalah akhlak, datang kemudian dia juga mengatakan, يا ربي, wahai Rabb ku,

Menunjukkan bahwasanya apa yang ada di dalam hati kita berupa Islām, apa yang ada di dalam akhlak kita berupa Islām, di dalam ibadah kita berupa Islām, itu semua juga Allāh ﷻ yang menciptakan-Nya, dia mengatakan يا ربي (wahai Rabb ku). Dan Islām sebagaimana kita tahu dia adalah minal Ibadah, sudah berlalu di dalam Ushul atsTsalasah bahwasanya Ibadah secara umum terbagi menjadi 3, Islām, Imān & Ikhsān,

Masing² dari Islām, maupun Imān maupun Ikhsān membawa nya, Islām dibawahnya ada amalan² yang dzhohir, Iman ada amalan² yang bathin, Ikhsan adalah puncak di dalam Islam dan juga Iman.

Itu adalah pembagian ibadah secara global, ada 3 hal tersebut & semuanya adalah ibadah yang diciptakan oleh Allāh ﷻ.

Maka dia mengatakan

يا ربي! أنت السلام

Dia mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain, adapun yang lain mengatakan

– رب! أنا …

(kemudian dia menyebutkan dirinya).
Adapun Al Islām maka dia mengatakan

يا ربي! أنت السلام، وأنا الإسلام

Engkau wahai Rabb ku adalah as Salam, Engkaulah yang memberikan keselamatan, ada yang mengartikan Allāh ﷻ itu adalah as Salam maksudnya adalah memberikan keselamatan kepada makhluk-Nya, & ada yang mengatakan as Salam disini adalah selamat dari berbagai kekurangan atau maksud nya adalah yang memberikan keselamatan kepada yang lain dan dua²nya benar, Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat² kesempurnaan tidak memiliki sifat kekurangan sedikit pun.

Dan Dia lah Allāh ﷻ yang memberikan keselamatan kepada makhluk-Nya

يا ربي! أنت السلام

Wahai Rabb ku Engkau lah Rabb ku yang memberikan keselamatan.

Sebagaimana di dalam hadits jangan kalian mengatakan

لا تقولوا: السلام على الله، فإن الله هو السلام.

Jangan kalian mengatakan, karena sebelumnya para shahabat ketika membaca tahiyat mereka mengatakan

السلام على الله،

Maka Nabi ﷺ mengatakan _jangan kalian mengatakan yang demikian_

فإن الله هو السلام

Karena sesungguhnya Dialah Allāh ﷻ yang memberikan keselamatan. Karena orang yang mengatakan

السلام على الله،

Berarti mendoakan untuk Allāh ﷻ, semoga Allāh ﷻ selamat??

Ini jelas salah, karena

فإن الله هو السلام

Karena Allāh ﷻ itu justru Dia-lah yang memberikan keselamatan kepada kita.

يا ربي! أنت السلام،

Engkau adalah yang memberikan keselamatan

وأنا الإسلام، .

Dan aku adalah Islām (Al Islām)

Yaitu Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ,

فيقول: إنك على خير،

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan

Sebagaimana Al Islām tadi mengatakan

أنت السلام، وأنا الإسلام

Berbeda dengan ucapan amalan² sebelumnya as Syiam, as Shodaqoh. Maka Allāh ﷻ pun ketika menjawab kepada Al Islām ini berbeda juga dengan jawaban Allāh ﷻ terhadap amalan² yang lain

فيقول: إنك على خير،

Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan

بك اليوم آخذ وبك أُعطي،

Dengan mu wahai Islām hari ini aku mengambil, menerima sebuah amalan, dengan apa Allāh ﷻ mengukur nya, bagaimana Allāh ﷻ mengambilnya – بك – yaitu dengan Islām.

Orang yang beragama diatasmu yaitu beragama denganmu memeluk mu wahai Islām maka Aku akan mengambilnya/menerimanya, barangsiapa yang beragama dengan mu wahai Islām yaitu Islām yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ maka Aku akan mengambilnya/menerimanya, kalau tidak maka akan ditolak oleh Allāh ﷻ, dan syahidnya disini

بك اليوم آخذ

Menunjukkan bahwasanya syarat amal kita diterima dan diambil oleh Allāh ﷻ adalah keharusan kita untuk memeluk agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, kalau tidak maka akan ditolak amalan seseorang.

وبك أُعطي

Dan denganmu wahai Islām Aku memberi,

Dengan sebab Islām inilah maka Allāh ﷻ memberikan pahala, ganjaran kepada orang yang melakukannya, jadi diterima di ambil oleh Allāh ﷻ dan diberikan ganjaran kepada orang tersebut dengan sebab dia memeluk agama Islām.

Dan ini menunjukkan tentang keutamaan agama Islām dan juga wajibnya memeluk agama Islām karena Islām adalah sebab Allāh ﷻ mengambil menerima sebuah amalan dan sebab Allāh ﷻ memberikan pahala kepada orang yang mengamalkan.

قال الله تعالى في كتابه:

Allāh ﷻ berfirman di dalam kitab Nya

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islām sebuah agama maka tidak diterima darinya.

Disinilah kenapa beliau mendatangkan ayat ini karena kesesuaian tadi

بك اليوم آخذ وبك أُعطي

Dengan

فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Bika – بك – maksudnya adalah Islām tadi, dengan Islām hari ini aku mengambil dan denganmu wahai Islām Aku memberikan, maka ini semakna dengan firman Allāh ﷻ

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islām maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi. Karena tidak diterima oleh Allāh ﷻ, tidak diambil oleh Allāh ﷻ & tidak diberikan pahala, padahal dia sudah capek di dunia menghabiskan waktunya kesana kemari, beribadah pagi & sore tapi ternyata ibadah² tersebut tidak diterima oleh Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ dihari tersebut (dihari Kiamat) hanya menerima dengan Islām & hanya memberi dengan Islām.

Harits ini diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, Syaikh Al Albani mengatakan isnadnya dhoif
Berkata Abu Abdurrahman (Imam an Nasaii) Abbad Ibnu Rosid  tsiqotun. Tapi dari al-Hasan

 لم يسمع أبو هريرة

Disini الحسن mengatakan

 حدثنا أبو هريرة

Padahal Al Hasan belum pernah mendengar dari Abu Hurairah, berarti hadits ini inqitho (terputus) sanadnya, berkata syuaib al-arnauth isnadnya dhoif.

Dia adalah hadits yang dhoif tetapi makna tentang bahwasanya tidak diterima sebuah amalan kecuali dengan Islām maka ini adalah maknanya yang benar, sesuai dengan firman Allāh ﷻ

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 32 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Pembahasan Hadits Dari Sahabat Abu Hurairah Riwayat Imam Ahmad Bag 01

Halaqah 32 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Pembahasan Hadits Dari Sahabat Abu Hurairah Riwayat Imam Ahmad Bag 01

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Kitab Fadhul Islam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-32 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau berkata,

 وعن أبي هريرة رضي الله عنه

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘Anhu

 قال: قال رسول الله ﷺ

beliau berkata Rasulullāh ﷺ bersabda,

تجيء الأعمال يوم القيامة

Akan datang amalan² dihari Kiamat

فتجيء الصلاة، فتقول:

Maka berkata ash Sholah, maka datanglah Sholat
(dan jangan ada yang mengatakan bagaimana shalat ko bisa datang padahal dia adalah sesuatu yang bukan jasad)

اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Allāh ﷻ bisa menjadikan perkara² yang maknawi diwujudkan oleh Allāh ﷻ menjadi perkara² yang hisbi, sebagaimana Allāh ﷻ menjadikan kematian itu dalam bentuk kambing yang disembelih di hari kiamat, sebagaimana amalan di alam kubur akan berupa amal Sholeh menjadi seseorang yang indah yang menemani seseorang di dalam kuburannya & amal jeleknya menjadi makhluk yang menyeramkan yang akan menemani di dalam kuburannya, seseorang yang beriman bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu maka tidak ada yang mustahil bagi Allāh ﷻ, sebagaimana Allāh ﷻ akan menimbang amalan, bagaimana amalan ko bisa ditimbang padahal itu adalah sesuatu yang maknawi.

فتجيء الصلاة

Diperinci disini karena sebelumnya disebutkan – الأعمال – secara umum, akan datang amalan² didatangkan oleh Allāh ﷻ kemudian datanglah Sholat, dan ini menunjukkan tentang keutamaan shalat, disebutkan oleh Allāh ﷻ dan dia datang Allāhua’lam sebelum yang lain disini, kemudian

فتقول: يا رب! أنا الصلاة،

Maka berkatalah ash shalat, Ya Rabbiy, aku adalah shalat

فيقول : إنك على خير،

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan sesungguhnya engkau (الصلاة) berada di atas kebaikan,

ثم تجيء الصدقة،

Kemudian datanglah ash Shodaqoh,

Allāhua’lam adapun ash sholah maka bisa disini yang dimaksud adalah shalat 5 waktu, kemudian disebutkan shodaqoh setelahnya & yang dimaksud ash Shodaqoh disini adalah AZ Zakat, dan Al pada الصلاة adalah Al yang fungsinya adalah al ahdiyah maksudnya adalah sholat yang kita kenal yaitu sholat 5 waktu

ثم تجيء الصدقة،

Ash Shodaqoh disini adalah az Zakat

فتقول: يا رب! أنا الصدقة،

Kemudian dia mengatakan wahai Rabb ku aku adalah Shodaqoh.

Dan ini menunjukkan bahwasanya amalan yang dilakukan oleh manusia (sholat, shodaqoh dan yang lain) maka, Allāh ﷻ yang mencipta menciptakan amalan tersebut.
Allāh ﷻ mengatakan,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allāh ﷻ yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.

Apa yang kalian kerjakan ? Sholat – shodaqoh – puasa kalian itu yang menciptakan adalah Allāh ﷻ

Maka dia mengatakan Ya Rabb (wahai Rabb ku) shalat mengatakan wahai Rabb ku. Shodaqoh juga mengatakan wahai Rabb ku karena Allāh ﷻ yang menciptakan amalan² tersebut dan ini adalah Rabb dan juga bantahan orang² Qodariyyah yang mereka mengatakan bahwasanya merekalah yang menciptakan amalan mereka sendiri, disini Ash Sholat mengatakan Ya Rabb, berarti yang menciptakan dia bukan musholly nya, yang menciptakan shodaqoh bukan muzakky nya atau mutashaddiq nya, tapi yang menciptakan adalah Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan kepada Sholat

إنك على خير

_Engkau berada di atas kebaikan_

Dan Allāh ﷻ mengatakan kepada shodaqoh

إنك على خير

Karena dia termasuk amal Sholeh, maka jelas bahwasanya amal² Sholeh tersebut yang diciptakan oleh Allāh ﷻ adalah diatas kebaikan.

Adapun Al Maashi, Ar Riba, syurbul khomr, zina, Al Qotl, maka ini adalah ‘ala syarht bikhilafi berbeda dengan amal Sholeh yang disebutkan di sini.

ثم يجيء الصيام،

Kemudian datanglah – الصيام – yaitu puasa Ramadhan, Allāhuta’ala a’lam. Al disini adalah ahdiyah yang dimaksud adalah Ramadhan

فيقول: يا رب! أنا الصيام

Kemudian dia mengatakan wahai Rabb ku aku adalah puasa.

فيقول: إنك على خير،

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan sesungguhnya engkau adalah diatas kebaikan.

Karena dia termasuk amal Sholeh.

ثم تجيء الأعمال على ذلك،

Kemudian datanglah amalan² setelahnya seperti itu.

Maksudnya adalah masing² dari mereka akan mengatakan – يا ربي! أنا كان – menunjukkan bahwasanya seluruh amalan tadi Allāh ﷻ yang telah menciptakan mereka, tidak ada diantara amalan² tadi diciptakan oleh manusia itu sendiri

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan di dalam sebuah hadits, Rasulullāh ﷺ mengatakan,

إنَّ الله صَانِعُ كُلِّ صَانعٍ وصَنْعَتِه”

_Allāh ﷻ yang telah menciptakan segala sesuatu yang melakukan dan apa yang dia lakukan_

صَانِعُ yang melakukan kita ini, وصَنْعَتِه dan perbuatan dia.

ثم تجيء الأعمال على ذلك

Kemudian berdatanganlah amalan² seperti itu

فيقول: إنك على خير،

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan _sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan_.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 31 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Penjelasan Umum Bab

Halaqah 31 | Bab 04 Firman Allah ﷻ QS Aali Imran 85 – Penjelasan Umum Bab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
Kitab Fadhul Islam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-31 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Setelah beliau (rahimahullah) membawakan bab keutamaan Islām kemudian membawakan kewajiban mengikuti Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, kemudian beliau mendatangkan bab tentang Tafsirul Islām & bahwasanya Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ mengharuskan seseorang untuk menyerahkan diri baik dari sisi akidah, ibadah maupun dari sisi akhlaknya.

Inilah Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ , bukan hanya sekedar akidah saja tanpa akhlak tanpa ibadah, bukan hanya ibadah saja tanpa akidah tanpa akhlak, bukan hanya akhlak saja dan tidak memiliki perhatian tentang masalah akidah & ibadah. Islām adalah agama yang tsamid/menyeluruh, mengatur seluruh perkara.

Setelah beliau membawakan 3 bab tadi maka beliau membawakan bab yang selanjutnya yaitu

باب قول الله تعالى:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

[آل عمران:85].

Bab tentang firman Allāh ﷻ dan barangsiapa yang mencari selain agama Islām maka tidak diterima darinya

Kalau kita perhatikan bab ini maka sangat erat hubungannya dengan bab yang pertama maupun kedua, yaitu tentang keutamaan Islām dan bahwasanya Islām inilah agama yang Maqbul disisi Allāh ﷻ, dan dia menunjukkan tentang kewajiban masuk kedalam agama Islām, karena orang yang tidak memeluk agama Islām setelah datangnya Rasulullāh ﷺ maka dia tidak akan diterima.

Jelas bahwasanya ayat ini memiliki hubungan yang erat dengan bab yang pertama maupun bab yang kedua, mungkin ini adalah sebab kenapa beliau tidak menulis di sana judul bab secara khusus, seperti bab² sebelumnya karena isi dari bab ini seperti melanjutkan apa yang disebutkan oleh beliau pada bab yang kedua, yang berisi tentang kewajiban memeluk agama Islām & tidak diterimanya amalan seseorang yang masih menjadikan agama selain agama Islām sebagai agamanya.

Sehingga langsung beliau mengatakan

باب قول الله تعالى

Bab tentang firman Allāh ﷻ, karena ini masih ada hubungan yang erat dengan bab yang kedua & AIlāhua’lam disini ingin menguatkan kembali, setelah berbicara tentang keutamaan kemudian berbicara tentang wajibnya , kemudian menafsirkan setelah itu ingin menguatkan kembali bahwasanya Islām dengan makna yang syamil seperti ini hukumnya adalah wajib, kalau tidak maka tidak akan diterima darinya amalan.

Maka beliau ingin menguatkan kembali dengan membawakan bab ini

باب قول الله تعالى

Bab tentang firman Allāh ﷻ

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Bab tentang firman Allāh ﷻ
dan barangsiapa yang mencari selain agama Islām maksud nya adalah selain agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ,
sebagai dienan
sebagai agama selain agama Islām yang dibawa Nabi ﷺ ini ada 2 macam

Yang pertama agama yang memang bertentangan dengan isi agama Islām, contohnya majusi, dinamisme & lainnya. Memang dia adalah isinya bertentangan dengan agama Islām menyembah selain Allāh ﷻ atau dia menyembah berhala/pohon.

Yang kedua adalah agama para Nabi setelah diutus Nabi Muhammad ﷺ, jadi selain agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ

غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا

Jadi selain Islam yang dibawa Nabi ﷺ ini ada 2 , agama yang memang bertentangan dengan isi agama Islām jelas orang yang memeluknya majusi, dinamisme atau agama² yang lain, orang² Jawa juga ada agama, agama kejawen itupun banyak aliran. Jelas itu adalah -.لا يُقْبَلَ مِنْهُ – orang yang memeluk agama tersebut maka tidak akan diterima darinya.

Demikian pula agama para Nabi selain Nabi Muhammad ﷺ, setelah diutusnya nabi Muhammad ﷺ maka agama tersebut barangsiapa yang memeluknya dia juga tidak akan diterima darinya meskipun itu asalnya agama seorang Nabi, agama Islām yang dibawa oleh Nabi Nuh-Musa-Sulaiman dan seterusnya, maka setelah kedatangan Nabi Muhammad ﷺ barangsiapa yang memeluknya agama Islām maka masuk di dalam – غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا – berarti bukan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ .

Sama akhirnya

-.فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ –

Tidak akan diterima darinya.

Ini menunjukkan tentang kebatilan agama² selain agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ setelah datangnya beliau, kalimat setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ maka ini penting sekali, karena sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, maka umat yang dia beriman dengan Nabi yang diutusnya kepadanya benar.

Islām yang dia peluk yang dibawa oleh Nabi yang diutus kepadanya maka ini adalah benar dan diterima amalannya, ini sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Misalnya di seluruh dunia ini banyak kaum dan masing² diutus kepadanya seorang Nabi

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ maka benar apa yang mereka peluk/ ikuti masing² mengikuti Nabi yang diutus kepada kaumnya, Bani Israel mengikuti Musa, Taurat & Nabi² yang lain maka mereka memiliki syariat , apabila kaumnya mengikuti dia mengikuti Islām yang dia bawa maka ini Shahih, itu sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.

Tapi setelah diutusnya Nabi ﷺ kalau mereka masih ngotot-nekat dan terus memeluk agama tersebut sementara mereka yasma’-mendengar, mendengar kedatangan Rasulullah ﷺ maka tidak akan diterima darinya.

Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ ini poin yang penting jangan sampai kita salah faham kemudian mengatakan bahwasanya agama Islāmnya Nabi Nuh salah, agama Islām Musa ini salah dan seterusnya, salah kapan & tidak diterimanya kapan? Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ .

Maka ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa tentang kebatilan agama selain agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ & ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dan menunjukkan tentang keutamaan Islām itu sendiri.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 30 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Abu Qilabah

Halaqah 30 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Abu Qilabah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-30 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي قلابة عن رجل من أهل الشام عن أبيه:

Dari Abu Kilabah dari seseorang ahlu Syam, beliau adalah Amr Abasa Ibnu Amr Ibnu Kholi, beliau adalah seorang Sahabat, berarti seorang Sahabat meriwayatkan dari ahli Syam & Ahli Syam ini meriwayatkan dari bapaknya. Kalau di dalam Nukshoh di dalam Musnad Abd Ibnu Khumaid

عن أبي قلابة عن عامر ابن عباس قال قال رجل يا رسول الله

Berarti disini Amr Ibnu Abasa langsung kepada rajulun yang dia bertanya kepada Rasulullāh (ada kemungkinan demikian)

عن عامر ابن عباس قال قال رجل يا رسول الله من الإسلام

Dan Ucapan beliau Qola belum tentu beliau melihat langsung laki² tadi bertanya, mungkin disana ada perantara antara Amr Ibnu Abasa dengan rojulun tadi, kalau yang ada di dalam Musnad Abd Ibnu Khumaid disini dari Amr Ibnu Abasa قال قال رجل. Baik hadits ini adalah hadits yang dhoif atau yang Shahih Kita lihat

عن أبي

Dari bapaknya

أنه سأل رسول الله ﷺ

Bahwasanya beliau bertanya kepada Rasulullāh ﷺ,

ما الإسلام؟

Apa yang dimaksud dengan Islām?

Dan ini sesuai dengan bab ini karena bab pengertian Islām, beliau membawakan seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang Islām, tentunya jawaban Nabi ﷺ adalah jawaban yang paling baik yang menunjukkan tentang hakikat Islām itu sendiri, beliau mengatakan:

قال: أن تسلم قلبك لله،

engkau menyerahkan hatimu kepada Allāh ﷻ.

Sama dengan lafadz yang sebelumnya, berarti bathin kita harus diserahkan kepada Allāh ﷻ, harus Ikhlas/menjauhi Riya, menjauhi sum’ah, hasad, dendam, tidak ada perasaan yang tidak baik kepada saudaranya seislām. Itu yang pertama.

Yang kedua

ويسلم المسلمون من لسانك ويدك

Yang kedua ini juga sudah disebutkan di dalam hadits yang Shahih, jadi yang pertama ini sudah disebutkan pada hadits yang sebelumnya & Hadits yang sebelumnya Isnadnya Hasan.

Adapun

ويسلم المسلمون من لسانك ويدك

Maka ini ada yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim
Seandainya hadits ini dhoif, memudhorotkan tidak? Tidak, karena lafadz² yang ada di dalamnya maknanya sudah ada di dalam hadits yang lain yang Shahih atau hadits tersebut Hasan, jadi seandainya hadits yang dhoif, _la yadhuru_, seandainya dia Hadits yang Shahih atau Hasan maka ini jelas menguatkan.

قال: أي الإسلام أفضل؟

Penanya ini menanyakan Islām apa yang paling Afdhol?

قال: الإيمان

Islām yang paling Afdhol adalah beriman kepada Allāh ﷻ.
Berarti Iman kepada Allāh ﷻ adalah bagian dari Islām, bahkan dia adalah Islām yang paling afdhol.

Jadi tunduknya seseorang kepada Allāh ﷻ & iman dia kepada Allāh ﷻ ini bagian dari Islāmnya dia kepada Allāh ﷻ.

الاستسلام لله بالتوحيد،

Menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ dengan Tauhid adalah bagian dari keimanan kepada Allāh ﷻ.

Ketika kita berbicara tentang Imam kepada Allāh ﷻ, ada 4 perkara yang harus ada pada Iman kepada Allāh ﷻ, meyakini bahwasanya Allāh ﷻ itu ada, kemudian meyakini tentang rububiyyah, Uluhiyyah Allāh ﷻ, Nama & juga sifat Allāh ﷻ, berarti Iman kepada Allāh ﷻ berarti intinya kepada Tauhid.

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyyah membawa kepada kita Tauhid Uluhiyyah. Inilah yang paling Afdhol, di dalam Islām yang paling Afdhol adalah beriman kepada Allāh ﷻ berarti Islām mencakup di dalamnya selain akhlak yang harus ditundukkan, hati yang harus ditundukkan maka perlu Kita diketahui bahwasanya apa yang ada di dalam hati seseorang berupa akidah tentang Allāh ﷻ maka itu bagian dari Islām yang paling Afdhol,

قال: وما الإيمان؟

Dia mengatakan lagi apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allāh ﷻ,

قال: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر والبعث بعد الموت.

Yang dimaksud dengan beriman kepada Allāh ﷻ adalah engkau beriman kepada Allāh ﷻ & Malaikat²Nya, Kitab²Nya, Rasul²Nya dan juga hari Akhir dan engkau beriman dengan – البعث بعد الموت -beriman dengan Al Ba’ats setelah kematian.

Berarti beriman kepada Allāh ﷻ kalau ditafsirkan seperti ini menunjukkan bahwasanya yang namanya Iman kepada Allāh ﷻ konsekuensi nya Al Iman kepada Allāh ﷻ itu mengharuskan iman kepada rukun Iman yang lain.

Jika kita sudah beriman kepada Allāh ﷻ, percaya kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki Malaikat, Allāh ﷻ memiliki Malaikat yang mengamalkan ini, Allāh ﷻ memiliki Malaikat sifat ini, jika sudah beriman kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengabarkan adanya Malaikat Kita harus beriman dengan Malaikat, Allāh ﷻ mengabarkan bahwasanya Malaikat memiliki amalan demikian, sifat demikian maka kita harus meyakini bahwasanya Malaikat memiliki amalan/sifat demikian, berarti beriman kepada Malaikat adalah konsekuensi dari beriman kepada Allāh ﷻ.

Beriman dengan kutub juga demikian. Kalau memang kita sudah beriman kepada Allāh ﷻ, kemudian Allāh ﷻ mengabarkan bahwasanya Allāh ﷻ menurunkan kitab kepada Nabi Muhammad ﷺ, berarti konsekuensi dari keimanan Kita kepada Allāh ﷻ harus beriman dengan Kitab, kalau kita beriman kepada Allāh ﷻ, maka ketika Allāh ﷻ mengabarkan, Allāh ﷻ mengutus Rasul dan menyuruh untuk beriman dengan Rasul tadi maka kita harus beriman dengan Rasul tadi, inilah konsekuensi Iman kita kepada AlIāh ﷻ.

Beriman dengan hari akhir juga demikian, karena Allāh ﷻ mengabarkan tentang terjadinya Hari Akhir, kemudian disebutkan

والبعث بعد الموت.

Dan ini adalah penyebutan yang khusus setelah yang umum, karena Al Yaumil Akhir lebih umum dari – والبعث بعد الموت.- disebutkan karena dia termasuk unsur yang paling penting di dalam beriman dengan Hari Akhir , sudah kita sebutkan bahwasanya,

البعث بعد الموت

Ini termasuk Al Qodr al mujzi fil iman bil Yaumil Akhir, termasuk kadar minimal dengan hari akhir adalah beriman dengan Al Ba’ats, kemudian beriman dengan Al Jazaa’, dan jaza disini mencakup surga dan neraka.

Orang yang mengingkari Al Ba’ats mengingkari kadar minimal di dalam beriman dengan Hari Akhir, jelas karena hari akhir terjadi setelah Ba’ats

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي ..

QS At Taghobun 7

Menunjukkan bahwasanya orang yang mengingkari Al Ba’ats maka dia telah keluar dari agama Islām dan ini adalah sifatnya orang² Kafir mengingkari Al Ba’ats

Dimana disebutkan beriman dengan Al Qodar, disebutkan dalam hadits yang lain & hadits saling melengkapi satu dan yang lain, maka jangan ada yang mengatakan disini ada pertentangan/kontradiktif, jangan bermudah²an kita mengatakan demikian, pertama seorang muslim ketika mendapatkan demikian, amantu billah, aku beriman kepada Allāh ﷻ, kalau memang ini Shahih maka aku beriman dengan apa yang datang dari Allāh ﷻ semuanya

كل من عند ربي

Semuanya berasal dari Allāh ﷻ.

Kemudian kita berusaha memahami, hadits itu saling melengkapi satu dengan yang lain, saling membenarkan satu dengan yang lain, mungkin disini disebutkan khusus, disana disebutkan umum nya, atau jika kita tidak tahu kita Kita yakin bahwasanya ulama mereka mempunyai penjelasan yang tentang masalah ini, oleh sebab itu sebagian Ulama karena kedalaman ilmu mereka & besar nya dan luas nya pengalaman mereka sampai berani untuk mengatakan dan menantang barangsiapa yang menemukan seperti ada ta’aruf diantara dalil² maka datanglah kesini maka aku akan menjama’nya & ini tidak diucapkan kecuali seorang ulama yang rosikh di dalam ilmu nya.

Syahidnya disini bahwasanya beriman kepada Allāh ﷻ ini adalah bagian dari Islām, bahkan dia adalah afdholul Islām & disini Kita memahami sabda Nabi ﷺ kepada seorang Sahabat ketika minta diwasiati oleh Nabi ﷺ

فو الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ غَيْرَك؛

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan,

: قُلْ: آمَنْت بِاَللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ” . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

_katakanlah aku beriman kepada Allāh ﷻ kemudian Istiqomahlah_,
Dimana disini Iman kepada Malaikat, Iman kepada Rasul, Iman kepada Kitab, Takdir, itu semua adalah konsekuensi dari beriman kepada Allāh ﷻ.

Karena dia minta yang ringkas. Maka seorang Muslim memahami

قُلْ: آمَنْت بِاَللَّهِ

Kalau memang kita beriman kepada Allāh ﷻ berarti harus beriman kepada Malaikat, Rasul, Kutub.

ثُمَّ اسْتَقِمْ

Dan hendaklah engkau Istiqomah.

Yaitu Istiqomah diatas Iman kepada Allāh ﷻ, dan konsekuensi². Kalimat yang ringkas tapi bagi orang yang memahami maknanya, ini adalah perkara yang besar, berarti kita harus Istiqomah diatas agama ini seluruhnya, karena kalau mendalami kembali tentang Iman kepada Malaikat, Hari Akhir, Iman dengan Hari Akhir juga ada konsekuensi²nya, bertaubat, beramal shaleh, meninggalkan kemaksiatan ini adalah bagian dari beriman kepada Hari Akhir, beriman kepada Malaikat juga demikian, tahu kalau disana ada Malaikat yang menulis – mengawasi dan seterusnya.

Maka disini kalau memang Hadits adalah hadits yang tetap dari Nabi ﷺ , menunjukkan bahwasanya Islām mencakup baik akhlak kita demikian pula aqidah kita, al-imanu billah juga bagian dari Islām demikian pula amalan² hati khauf, Roja, mahabbah dan seterusnya semuanya harus kita serahkan kepada Allāh ﷻ dan ini adalah bagian dari Islām.

Secara ringkas kesimpulan dari bab ini Tafsirul Islām bahwasanya Islām ini mencakup penyerahan diri di dalam masalah aqidah dan juga masalah ibadah dan juga di dalam masalah akhlak, penyerahan diri di dalam masalah aqidah maka kita harus mengesakan -mentauhidkan Allāh ﷻ , di dalam masalah Ibadah maka seseorang tunduk kepada syari’at Allāh ﷻ tidak beribadah kecuali dengan syariat Allāh ﷻ.

Demikian pula dalam akhlak Allāh ﷻ kita menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ menundukan akhlak kita kepada Allāh ﷻ sehingga menjadi akhlak yang mulia diridhai Allāh ﷻ, kalau kita mengamalkan itu semuanya inilah muslim yang hakiki, muslim yang sebenarnya, muslim yang memiliki keutamaan yang besar, benar² dia mewujudkan makna Islām itu sendiri.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 29 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Dari Bahz bin Hakim

Halaqah 29 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Dari Bahz bin Hakim

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-29 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وعن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده:

Dari Bahz bin Hakim dari Bapaknya, dari Kakeknya

أنه سأل رسول الله ﷺ عن الإسلام؟

Bahwasanya kakeknya ini (bapak nya) ini adalah Hakim bin Mu’awiyah, adapun kakeknya adalah Mu’awiyah Ibnu Haidah.

Disini beliau mengatakan riwayatkan oleh Al Imam Ahmad Hadits, isnad nya Hasan.

Kalau kita kembali kepada Musnad Al Imam Ahmad tidak menemukan tetapi di dalam Shahih Ibnu Hibban kita baru menemukan

أن تسلم قلبك لله، وأن تولي وجهك إلى الله، وأن تصلي الصلاة المكتوبة، وتؤدي الزكاة المفروضة

Kalau kita lihat lafadznya, lafadz seperti – أن تسلم قلبك لله، – tidak ada di dalam riwayat Ahmad, kalau memang beliau ingin mendatangkan riwayat Bahz Ibnu Hakim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berarti ini tadi

أسلَمْتُ وجهيَ للهِ وتخلَّيْتُ، وتُقِيمَ الصَّلاةَ، وتُؤتِيَ الزَّكاةَ،..

Ini kalau memang mau mendatangkan riwayat nya Al Imam Ahmad dari Bahz Ibnu Hakim

عن أبيه عن جده: أنه سأل رسول الله ﷺ أسلَمْتُ وجهيَ للهِ وتخلَّيْتُ، وتُقِيمَ الصَّلاةَ، وتُؤتِيَ الزَّكاةَ،

Kalau memang kita ingin mendatangkan riwayat dari Al Imam Ahmad, dan Isnadnya Hasan.

Tetapi jika kita ingin mendatangkan lafadz yang ada di dalam Ibnu Hibban maka sebagaimana yang dalam dinukil beliau disini,

أن تسلم قلبك لله،وأن تولي وجهك إلى الله،

Tayyib,

أنه سأل رسول الله ﷺ عن الإسلام

Bahwasanya beliau (Muawiyah Ibnu Haidah) ini bertanya kepada Rasulullāh ﷺ tentang apa itu Islām, berarti disini tepat berkaitan dengan bab nya, karena bab nya tentang Tafsirul Al Islām, penjelasan tentang Islām. Ada seorang Sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ apa itu Islām, maka kita harus harus mengambil faedah dari jawaban Nabi ﷺ ini dan dengannya kita mengetahui tentang tafsir Islām, hakikat dari Islām

فقال ،أن تسلم قلبك لله،

Islām adalah engkau (yang pertama) menyerahkan hatimu kepada Allāh ﷻ,

berarti ini berkaitan dengan apa yang ada di dalam hati kita, Islām hakikatnya penyerahan hati kepada Allāh ﷻ

الاستسلام لله بالتوحيد،

Mencakup hati seseorang harus menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ,

Kemudian yang kedua

وأن تولي وجهك إلى الله،

Dan hendaklah engkau memalingkan wajah mu kepada Allāh ﷻ.
Sudah kita sebutkan penyerahan wajah kepada Allāh ﷻ, kalau yang paling kita hormati yang paling kita mulia kan sudah kita serahkan kepada Allāh ﷻ, berarti sisanya yang lain dan dia adalah pengikut, juga mengikuti menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ.

Kalau kita lihat konsekuensi² dari memalingkan wajahnya kepada Allāh ﷻ berarti dia lebih umum, jika digabungkan seperti ini karena sudah disebutkan Islāmul Qolb sebelumnya berarti menyerahkan wajah kepada Allāh ﷻ ini lebih dekat kepada perkara² yang dzhohir, karena bathin sudah diwakili dengan Islāmul Qolbi lillah.

Karena disini disebutkan Islāmul Qolbi terlebih dahulu maka memalingkan wajah kepada Allāh ﷻ perkara² yang dzhohir, kalau wajahnya saja sudah diserahkan kepada Allāh ﷻ maka yang dzhohir yang lain (tangan, kaki semuanya) juga menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ, berarti Islām sampai disini kita mengetahui mencakup Islāmnya dzhohir dan bathin kita, ini pengertian langsung dari Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan Islāmnya dzhohir dan bathin.

Kemudian setelah itu beliau menyebutkan perinciannya

وأن تصلي الصلاة المكتوبة،

Ini adalah bagian dari Islām, diantara bagian dari Islām engkau tundukan dirimu sehingga engkau melakukan shalat bahkan dia adalah termasuk rukun Islām, dia adalah tiang agama ini, syiar yang besar yang menunjukkan tunduknya kita adalah dengan melakukan shalat 5 waktu yaitu syiar yang besar yang menunjukkan tunduknya kita kepada Allāh ﷻ.

Kemudian yang kedua

وتؤدي الزكاة المفروضة

Dan engkau menunaikan Zakat yang diwajibkan.

Ini juga termasuk diantara syiar yang dzhohir yang kelihatan yang menunjukkan tentang Islāmnya Kita, kalau kita memiliki harta yang sudah mencapai nisab dan sudah sampai haulnya maka diantara syiar yang kuat amalan yang dzhohir yang menunjukkan tentang penyerahan diri kita kepada AlIāh adalah ketika dia membayar zakat, disini disebutkan perincian dari

أن تسلم قلبك لله، وأن تولي وجهك إلى الله

Disebutkan disebutkan contohnya diantaranya adalah 2 syiar yang paling besar di dalam agama ini satu berkaitan dengan Ibadah badaniah dan satu yang berkaitan dengan maaliyah.

Berarti Islām bukan hanya sekedar penyerahan diri anggota badan juga harta yang kita miliki juga harus kita serahkan kepada Allāh ﷻ.

Sampai disini Kita lihat bagaimana penulis rahimahullah mendatangkan makna Islām yang sebenarnya.

Dari sini kita memahami Tafsirul Islām, Islām bukan hanya amalan yang bathin, Islām bukan hanya amalan yang dzhohir tetapi mencakup dua²nya, bukan hanya anggota badan kita yang kita tundukan bahkan termasuk diantaranya harta yang kita miliki juga harus tunduk pada Allāh ﷻ.

Allāh ﷻ mengatakan

أخرج

Keluarkan zakat

Maka Kita harus mengeluarkan zakat kita.

Allāh ﷻ mengatakan atau syariat menyuruh kita untuk tersenyum maka kita harus tersenyum, menyuruh kita untuk berijtihad dalam thulabul ilm maka kita berijtihad .

Itulah makna Islam yang sebenarnya tunduk semua nya kepada Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 28 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Ketiga Hadits Dari Sahabat Abdullah Bin Amr

Halaqah 28 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Ketiga Hadits Dari Sahabat Abdullah Bin Amr 

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-28 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.
Beliau mengatakan

وفيه عن أبي هريرة

Kalau yang diucapkan beliau ada dua kemungkinan.

Kemungkinan yang pertama – وفيه – dhomir kepada hadits yang Shahih, di dalam hadits yang Shahih dari Abu Hurairah, atau maksudnya adalah di dalam hadits yang mutafaqun ‘alaih, & benar bahwasanya Hadits Abu Hurairah ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim,

وفيه عن أبي هريرة

Dan di dalamnya dari hadits Abu Hurairah, Allāhua’lam disini tidak ada disebutkan bahwasanya hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah, tapi Hadits Abdullah Ibnu Amr diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim tapi di dalam riwayat Bukhari ini lebih lengkap,

والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه

ini diriwayatkan oleh imam Bukhori, berarti lafadz nya disini

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه

Ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdullah Ibnu Amr, lafadz dari Bukhari,

والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه

Ini adalah tambahan dari Shahih Bukhori.

Beliau mengatakan marfu’an, berarti diangkat sampai Nabi ﷺ .

المسلم

Siapa seorang Muslim yang sebenarnya, dia adalah

من سلم المسلمون من لسانه ويده

Seorang yang orang Islām yang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Dan ini adalah syahid di dalam hadits ini, beliau ingin menunjukkan kepada kita tentang orang Islām yang sebenarnya itu bagaimana, apakah dia hanya sekedar i’tiqod nya benar, bertauhid kepada Allāh ﷻ kemudian secara dzhohir dia melakukan ibadah² yang dzhohir (shalat, puasa, Zakat haji) apakah terbatas hanya itu,tidak.

Ternyata seorang Muslim yang sebenarnya karena dia sudah tunduk semua nya, dzhohir dan bathin nya semua nya tunduk termasuk diantaranya adalah lisan dan tangannya, karena dia sudah tunduk pasrah kepada Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ menyuruh dia untuk menjaga lisan

وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم

Karena dia sudah tunduk kepada Allāh ﷻ sebelumnya kemudian Allāh ﷻ mengatakan,

وقولوا قولا سديدا

Kalau ucapan mu lurus, engkau menjaga ucapan mu maka Allāh ﷻ akan memperbaiki amalanmu, ini menunjukkan hubungan yang erat antara menjaga lisan dengan Istiqomahnya amalan seseorang, kadang seseorang mengetahui Istiqomahnya seseorang diluar sana dilihat dari ucapannya, karena

قولوا قولا سديدا

Ketika kita menjaga lisan kita maka Allāh ﷻ akan memperbaiki amalan kita.

Tapi kalau seseorang tidak menjaga lisan nya maka ini alamat bahwasanya tidak ada keistiqomahan di dalam amalan nya, sangat erat hubungannya antara lisan dengan amalan anggota badan.

يصلح لكم أعمالكم

Kapan kita menjaga lisan kita, Maka dia tunduk, Ya Allāh ﷻ Engkau telah memerintahkan aku untuk menjaga lisan maka aku tundukan lisan ini dan tidak akan berbicara dengan ucapan yang menyakiti persaudaraan, benar² tunduk baik dari sisi aqidahnya maupun di dalam ibadah² dzhohir nya maupun ucapan dia kepada saudara yang lain, dia mengucapkan sesuatu selalu ingat bahwa sudah Islam/sudah menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ maka aku tundukan lisan ini aku serahkan lisan ini kepada Allāh ﷻ, tidak berbicara kecuali dalam apa yang di ridhoi oleh Allāh ﷻ,

ويده

Demikian pula tangannya.

Dia tundukan tangannya sehingga, orang Islām yg lain selamat dari apa yang dilakukan oleh tangannya , bagaimana tangan ini tidak bergerak kecuali dalam ke ridhoan Allāh ﷻ, tidak digunakan memukul tanpa hak, ketika akan memukul orang lain atau anaknya dia sadar bahwa aku tunduk kepada Allāh ﷻ/bahwa aku sudah Islam, maka tangan ini tidak boleh digerakkan kecuali dalam apa yang diridhai oleh Allāh ﷻ. Ketika akan bergerak ditahan, kita semua sudah islam, lisan, tangan hati kita sudah Islām semua nya maka jangan melakukan sesuatu dengan yang bertentangan dengan pasrah nya kita kepada Allāh ﷻ.

Berarti Islām yang dimaksud oleh beliau disini mencakup di dalam nya, Islām di dalam masalah akhlak, akhlak seorang Muslim adalah akhlak yang tercermin dari pasrah nya dia kepada Allāh ﷻ, kalau dia sudah pasrah total kepada Allāh ﷻ maka akhlak nya juga mengikuti apa yang diridhai Allāh ﷻ.

Jangan dia bermuamalah dengan yang lain mengikuti hawa nafsunya, mencela, memukul dengan tangannya & sebagian Ulama menjelaskan bahwasanya

من لسانه

Bukan hanya sekedar ucapan yang diucapkan seseorang tapi juga selamat orang lain dari gerakan mulut nya yang mencerminkan kebencian atau celaan , terkadang seseorang tidak berbicara tetapi dia gerakkan mulut nya sehingga dari gerakan mulut nya diketahui bahwasanya dia menghinakan orang lain, digerakkan mulutnya dengan maksud ingin mencela/merendahkan orang lain.

Demikian pula masuk di dalam

ويده

Bukan hanya sekedar memukul atau menggerakkan senjata untuk membunuh tetapi masuk di dalamnya adalah tulisan, hasil karya tangan ini juga bisa menjadikan muslim lain celaka, dengan tulisan bisa menyakiti hati orang lain bisa menimbulkan fitnah diantara dua orang diantara satu suku dengan suku yang lain. Maka seorang Muslim adalah orang Islam yang lain selamat dari perilaku lisan dan maupun perilaku tangannya, semuanya dia tundukan, tidak ingin menjadikan tangan dan lisan nya ini menjadi orang Islām yang lain terluka, menjadi orang Islām yang lain tidak selamat dari kejelekan dia.

Maka disini kita memahami beliau ingin memberi isyarat kepada kita bahwasanya Islām yang sebenarnya mencakup semua nya, baik dari sisi aqidah kita pasrahkan dan kita yakini, kita pasrah kepada Allāh ﷻ dengan tauhid kemudian secara ibadah kita pasrahkan dzhohir dan bathin kita hanya kepada Allāh ﷻ dengan shalat, zakat dan seluruh ibadah yang lain, kemudian kita pasrah kepada Allāh ﷻ juga kita dari sisi akhlak kita, kita tundukan hanya kepada Allāh ﷻ bukan mengikuti hawa nafsu di dalam bermuamalah dengan manusia,

Inilah Islām yang sebenarnya yang disebutkan keutamaan di dalam bab pertama dan disebutkan wajibnya di dalam bab kedua, jangan dibayangkan Islām hanya perkara yang dzhohir saja masalah shalat, zakat, puasa saja atau Islām hanya di dalam masalah Tauhid saja tapi dia menyepelekan tentang masalah shalat, Islām bukan masalah akhlak saja yang penting akhlaknya baik kemudian dia meninggalkan shalat, puasa, yang penting habluminannas, tidak, Islām mencakup semua nya itu.

Kemudian beliau mengatakan,

والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه

Dan orang yang berhijrah yang sebenarnya adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allāh ﷻ.

Bukan hanya hijrah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain tapi amalan nya tetap seperti itu , meninggalkan teman ke teman yang lain tetapi amalannya tetap seperti itu. Berhijrah yang sebenarnya adalah amalan, berhijrah dari amalan yang jelek menuju amalan yang baik, kenapa kita berhijrah dari negeri satu ke negeri yang lain maksud nya karena ingin berubah amalannya, kenapa kita berhijrah meninggalkan teman yang jelek menuju teman yang baik karena ingin berubah amalan, jadi intinya pada amalan. Jangan hanya sekedar hijrah secara dzhohir saja berbondong² berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain tapi ternyata sampai ke negeri yang sana amalan tetap seperti itu, bukan itu yang dimaksud, berhijrah ke negeri yang lebih baik maksudnya adalah supaya berubah amalan nya dari yang jelek menuju yang baik.

Berhijrah dari teman yang jelek ke teman yang baik maksudnya bukan hanya sekedar berpindah teman saja tapi supaya semakin baik amalan kita ketika memiliki teman yang baik, tetapi ketika kita memiliki teman yang baik ternyata amalan kita sama saja maka ini belum paham apa yang dimaksud dengan hijrah.

Hijrah yang sebenarnya adalah kalau kita meninggalkan apa yang dilarang oleh Allāh ﷻ, Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Amr dan lafadz nya disini

والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه

Tambahan yang ada di dalam Shahih Bukhori.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 27 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Kedua Hadits Shohih Riwayat Umar Bin Khattab Radhiyallohu ‘Anhu

Halaqah 27 | Bab 03 Tafsirul Islam – Pembahasan Dalil Kedua Hadits Shohih Riwayat Umar Bin Khattab Radhiyallohu ‘Anhu

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-27 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.
Hadits yang pertama – وفي الصحيح – di dalam Shahih, beliau mengatakan,

عن بْنِ عمر رضي الله عنهما
أن رسول الله ﷺ قال:

Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

الإسلام: أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً.

Islām adalah engkau bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh ﷻ & bahwasanya Muhammad adalah Rasulullāh, engkau mendirikan shalat, membayar Zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke baitullah apabila engkau mampu menuju ke sana

Lafadz ini disini beliau mengatakan ‘an Ibnu Umar, padahal Haditsnya Ibnu Umar bukan demikian bunyi nya, bunyinya (bunial Islām alkhomsi).

Hadits nya Ibnu Umar yang meriwayatkan Bukhari dan Muslim, adapun hadits nya Umar yang meriwayatkan adalah Al Imam Muslim. Haditsnya Umar bin Khattab Radhiyallāhu Anhu diriwayatkan dari anaknya (Abdullah bin Umar) , ada kisahnya ketika Abdullah bin Umar didatangkan oleh dua orang, Yahya ibn ya’mar dan juga Khumaidi bin Abdurrahman Al Himyati ketika ketika terjadi fitnah Al Qodariyah di Ba’shroh yang dibawa dan diusung oleh Ma’bad Al Juhani, Maka keduanya niat jika bertemu dengan salah seorang dari sahabat Nabi ﷺ mereka ingin bertanya, karena tentunya para sahabat mereka lebih tahu dan mereka yang bertemu dengan Nabi ﷺ.

Dalam keadaan mereka berhaji/Umroh,

فَقُلْنَا

kami mengatakan

لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ،

Kalau ada salah seorang Sahabat Rasulullāh ﷺ yang bertemu dengan kita maka kita akan bertanya kepada beliau tentang apa yang diucapkan oleh Al Qodariyyah,

فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ

Maka kami bertemu dengan Abdullah Ibn Umar Ibn Khotob

دَاخِلًا الْمَسْجِدَ،

di dalam Masjidil Harom

فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي، أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ، وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ،

Maka kamipun mengerumuni (Abdullah Ibnu Umar) satu orang disebelah kanan & satu orang disebelah kiri beliau (ini adalah termasuk adab)

فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ،

Maka aku menyangka bahwasanya temanku (Humaid Ibnu Abdurrahman) beliau akan menyerahkan pertanyaannya kepadaku sehingga beliau berbicara (mungkin melihat gerak-gerik dari Humaid Ibnu Abdurrahman) dari sana dia faham bahwasanya dia ingin menyerahkan yang mewakili pertanyaannya adalah Yahya bin Ya’mar, terkadang kita melihat dari wajahnya, gerak-gerik nya kita tahu maksud dari teman, kita harus memahami keadaan.

Maka aku berkata

فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ،

Wahai Abu Abdurrahman telah muncul dari arah kami (Ba’shroh) orang² yang mereka membaca Al-Quran (orang² Qodariyyah juga membaca Al-Quran)

وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ،

Seakan² mereka juga membawa Ilmu

وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ.

Kemudian diceritakan tentang mereka dan bahwasanya mereka menyangka bahwasanya tidak ada takdir dan bahwasanya seluruh perkara ini terjadi dengan begitu saja, tidak disertai atau tidak didahului dengan penulisan Takdir, kemudian disini Abdullah bin Umar (ringkas cerita nya) Beliau mengabarkan kepada mereka,

فَقَالَ: إِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي،

_kalau kalian bertemu mereka, kabarkan bahwasanya aku yaitu Abdullah bin Umar berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dari aku_

Artinya apa yang mereka lakukan bukan aqidahnya Abdullah bin Umar, seorang Sahabat Rasulullāh ﷺ yang langsung bertemu dengan Nabi ﷺ,

وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ.

Dan Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya kalau seandainya salah seorang diantara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud emas kemudian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud tadi, maka Allāh ﷻ tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan Takdir,

ثُمَّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ،

Kemudian beliau mengatakan – حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ – telah menceritakan kepadaku bapak ku Umar bin Khattab,

قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

Baik disini Abdullah bin Umar meriwayatkan dari dari Umar bin Khattab, seandainya seperti di dalam hadits ini, – حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ – kemudian beliau mengatakan

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

Kalau ini dimasukkan ke dalam Musnad (Musnad Imam Ahmad misalnya) yang disusun berdasarkan Nama sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut, kira² dia masuk ke Musnad nya siapa? Kita lihat siapa yang menceritakan disini, Umar bin Khattab. Yang melihat langsung kejadian Jibril datang dan seterusnya siapa, Umar bin Khattab. Berarti ini Hadits nya Umar bin Khattab, oleh sebab itu dalam Arbain An Nawawiyah

عن أمير المؤمنين أبي حفص

Jadi Lafadz disini yang disebutkan lafadz nya Umar bin Khattab, ini lafadz nya yang datang dari hadits Jibril, Hadits Jibril adalah hadits nya Umar bin Khattab, adapun haditsnya Abdullah bin Umar maka bunyi nya

بني الإسلام على خمس

Dan kalau haditsnya Umar maka diriwayatkan oleh Imam Muslim, Adapun hadits nya Abdullah Ibnu Umar diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Berarti fi Shahih benar, baik diriwayatkan oleh Bukhori Muslim atau Muslim saja maka ini tidak masalah.

Sekarang jika dia adalah hadits nya Ibnu Umar maka maka harusnya lafadz

بني الإسلام على خمس

Kita anggap ini adalah Hadits nya Umar bin Khattab

أن رسول الله ﷺ قال: الإسلام: أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً.

Hadits ini kalau kita sudah belajar Ushul atsTsalasah ini adalah berbicara tentang Islām yang paling khusus yaitu satu tingkatan diatas agama Islām, tingkatan yang paling bawah yaitu tingkatan Al Islām yang memiliki 5 rukun. Kenapa beliau mendatangkan hadits ini, ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya Islām ini juga mencakup amalan² yang dzhohir, karena ini adalah bagian atau tingkatan diantara marotib yang ada di dalam Islām, jadi hakikat Islām bukan hanya perkara² yang bathin saja tetapi dia juga mencakup perkara² yang dzhohir, dia bukan hanya

الاستسلام لله بالتوحيد،

Bukan hanya sekedar meyakini Hari Akhir saja, bukan hanya meyakini kebenaran Nabi, bukan hanya meyakini sekedar rububiyah Allāh ﷻ, tapi Islām juga di dalamnya ada amalan² yang dzhohir, inilah kurang lebih yang ingin beliau sampaikan kepada kita, bahwasanya Islām bukan hanya

الاستسلام لله بالتوحيد،

Tapi juga ada konsekuensi² yang lain.

Setelah dua kalimat syahadat ada

وتقيم الصلاة،

kerjakanlah Sholat, bukan hanya mengucapkan

لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله،

Tapi ada konsekuensi amalan dzhohir dan dia adalah amalan dzhohir termasuk yang paling besar,

وتؤتي الزكاة،

Dan harus dia membayar zakat, kalau memang dia termasuk wajib membayar zakat,

وتصوم رمضان،

Dan harus Berpuasa di bulan Ramadhan, kalau dia termasuk yang wajib berpuasa di bulan Ramadhan

وتحج البيت

Engkau Haji ke baitullah, apabila engkau mampu menuju ke sana.

Inilah Islām, Islām memiliki rukun² dan yang paling besar adalah syahadat dan bukan hanya itu saja tapi mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji ke baitullah ini juga termasuk konsekuensi dari keIslāman seseorang.

Oleh karena itu Syaikh mengatakan

والانقياد له بالطاعة،

Dan harus tunduk Kepada Allāh ﷻ dengan ketaatan, diantara ketaatan adalah mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, Haji adalah bagian dalam ketaatan. Jangan ada yang menyangka bahwasanya Islām hanya sekedar dua kalimat syahadat saja, setelah itu dia tidak melakukan amalan apapun, disamping harus tunduk hati kita kepada Allāh ﷻ dengan tauhid, kita juga harus menundukkan seluruh anggota badan kita untuk Allāh ﷻ, badan dan harta kita harus ditundukkan kepada Allāh ﷻ, keluarkan dari nya zakat, tundukan badan kita dengan berpuasa di bulan Ramadhan, tundukan badan kita dengan berhaji untuk Allāh ﷻ, itulah hakikat dari Islām, bukan hanya sekedar dua kalimat syahadat, kemudian setelah itu sama sekali dia tidak melakukan syari’at dan bukan hanya sekedar keyakinan yang ada di dalam hati kemudian dia tidak mengamalkan apapun.

Berarti disini beliau ingin memberikan kepada kita pengertian Islām yang sebenarnya mencakup amalan yang dzhohir juga, tampakkan ketundukan kita kepada Allāh ﷻ.

Kalau ayat,

أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ

Islām nya wajah berarti mengharuskan Islāmnya seluruh anggota badan yang lain, baik yang kelihatan maupun yang ada di dalam hati kita, dzhohir dan bathin ini bagian dari Islām, ini adalah tafsir Islām.

Adapun dari hadits ini maka ini beliau ingin mengingatkan kepada kita bahwasanya Islām masuk di dalamnya adalah amalan² yang dzhohir.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islam -Halaqah 26 | Bab 03 Tafsirul Islam – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 20

Halaqah 26 | Bab 03 Tafsirul Islam – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 20

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-26 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.
Beliau mengatakan

باب تفسير الإسلام

Bab tentang tafsir penjelasan hakikat Islām.

Setelah sebelumnya bab yang pertama beliau menjelaskan tentang keutamaan Islām, dibuat pembaca itu semangat untuk mengetahui apa itu Islām, dibuat pembaca semangat untuk mengamalkan Islam. Disebutkan dalil dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah dan juga ucapan para Salaf, sehingga diharapkan setelah membaca bab tentang fadhlul Islām maka timbul di dalam dirinya semangat yang membara untuk mengilmui dan juga mengamalkan Islām.

Kemudian setelah itu beliau menyebutkan bab yang kedua tentang wajibnya Islām & bahwasanya keutamaan yang ada di dalam Islām, yang disebutkan pada bab yang pertama itu bukan istihbab antum mau Islām Alhamdulillah kalau tidak maka tidak masalah.

Beliau datangkan bab yang kedua mengingatkan bahwasanya keutamaan² tadi wajib harus kita dapatkan, keutamaan bukan hanya kepada sesuatu yang Sunnah bahkan sesuatu yang wajib sekalipun juga memiliki keutamaan yang sudah kita sebutkan contoh²nya, dengan adanya bab yang kedua semakin pembaca dibuat penasaran untuk mengetahui tentang apa itu Islām, mengapa sedemikian besarnya keutamaannya, bahkan dia adalah sesuatu yang wajib atas muslim dan juga muslimah.

Maka ini tentunya bagi orang yang memiliki khoir di dalam hatinya, benar² dia ingin mengikuti dan mengamalkan/mengetahui kebenaran maka akan timbul di dalam hatinya ingin tahu apa itu Islām, ingin mendapatkan keutamaan yang besar & ingin melakukan kewajiban karena ternyata dia diwajibkan atasnya dan selain dia, oleh sebab itu sangat tepat disini muallif mendatangkan bab yang ketiga – باب تفسير الإسلا – karena sebelumnya sudah menjadikan qori itu ingin tahu tentang apa itu Islām dengan menyebutkan keutamaannya dan juga tentang kewajiban Islām.

Yang seperti ini kalau bukan taufiq dari Allāh ﷻ maka tentu tidak akan bisa didapatkan, oleh sebab itu penting sekali dari awal disebutkan orang yang ingin menulis sebuah kitab memohon pertolongan dari Allāh ﷻ supaya diberkahi dan dimudahkan di dalam menulis kitab yaitu dengan memulai kitabnya dengan basmalah. Ini diantara berkahnya, ini diantara buah yang bisa kita ambil karena adanya taufiq dari Allāh ﷻ dan juga pertolongan dari Allāh ﷻ dimudahkan seseorang untuk bisa menyusun kitab dengan kerangka pikiran yang bisa dipahami oleh pembaca.

باب تفسير الإسلام

Yaitu bab tentang penjelasan tentang Islām itu sendiri, apa itu sebenarnya hakikat dari Islām, beliau mendatangkan satu ayat kemudian 4 hadits yang dengannya beliau berharap bisa menjelaskan kepada kita tentang apa sebenarnya makna Islām. Apakah Islām hanya sekedar amalan yang ada di dalam hati ataukah Islām hanya sekedar amalan dzhohir ataukah Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ mencakup amalan yang dzhohir & bathin.

Disinilah beliau akan mendatangkan dalilnya & kita melihat bagaimana dan apa yang beliau bawakan diantara dalil-dalil tersebut.

وقول الله تعالى: فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

[QS Ali Imran 20]

_Maka apabila mereka menghujatmu tidak menerima dakwah mu_

فَقُلْ أَسْلَمْتُ

_maka katakanlah_

وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

_aku telah menghadapkan wajahku kepada Allāh ﷻ dan orang² yang mengikuti diriku_

Yaitu orang² yang mengikuti diriku juga menghadapkan wajahnya kepada Allāh ﷻ.

Ini adalah ayat yang sebelumnya Allāh ﷻ mengatakan

۞ شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ

[Surat Ali ‘Imran 18]

_Allāh ﷻ bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia & para Malaikat dan juga orang² yang berilmu tegak dengan keadilan tidak ada sesembahan selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana_

Berbicara tentang masalah Tauhid yang sudah kita sampaikan penjelasan tentang ayat ini ketika membahas tentang Al-Ushul atsTsalasah.

۞ ان الدين عند الله الاسلام

_sesungguhnya agama disisi Allāh ﷻ adalah Islām_

Yaitu agama yang diridhai disisi Allāh ﷻ adalah Islām.

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ

_dan tidaklah orang² yang diberikan Al Kitab (yaitu orang² Yahudi dan Nasrani) berselisih kecuali setelah datang kepada mereka Ilmu_

Saling mendholimi diantara mereka

وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

QS Ali Imran 19

_dan barangsiapa yang kufur dengan ayat² Allāh ﷻ, maka sesungguhnya Allāh ﷻ adalah Dzat yang sangat cepat hisab-Nya_

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

۞ فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ

_Maka seandainya mereka membantahmu/menghujatmu_
Artinya mereka tidak mau menerima Islām yang dibawa olehmu, membantahmu-membangkangmu, tidak mau menerima Islām yang dibawa oleh dirimu wahai Muhammad,

فَقُلْ

katakanlah kepada mereka,

أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

Aku telah menyerahkan wajah ku kepada Allāh ﷻ.

Dan sesuatu yang paling mulia/ terhormat di dalam diri kita adalah wajah, kalau kita sudah serahkan wajah kita kepada Allāh ﷻ dan dia adalah sesuatu yang paling terhormat yang kita miliki, tentunya anggota badan yang lain juga mengikuti, wajah, badan, tangannya juga menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ tidak menyentuh kecuali yang diperbolehkan oleh Allāh ﷻ, lisannya juga menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ, tidak berbicara kecuali yang diridhai oleh Allāh ﷻ, matanya juga menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ, tidak melihat kecuali yang diperbolehkan oleh Allāh ﷻ, telinganya juga demikian, hatinya juga tidak melakukan kecuali yang diridhai oleh Allāh ﷻ, dipenuhi hatinya oleh keikhlasan, mahabbah, rasa takut kepada Allāh ﷻ.

Adapun riya dan juga sum’ah, hasad, dendam yang disitu ada mengikuti hawa nafsu, dan disitu ada jenis dari pembangkangan terhadap Allāh ﷻ, karena orang yang dendam/hasad ini mengikuti hawa nafsunya, disingkirkan itu semuanya, di tundukan hatinya sebagaimana wajah nya diserahkan kepada Allāh ﷻ maka hatinya juga diserahkan kepada Allāh ﷻ.

Dan ini mencakup anggota badan kita maupun apa yang ada di dalam hati kita,

Berarti

أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

Penyebutan wajah disini bukan berarti pembatasan tapi dia adalah isyarat bahwasanya seluruh apa yang dia miliki baik yang dzhohir maupun bathin semuanya menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ .

Berarti Islām tafsirnya bukan hanya sesuatu yang dzhohir saja atau sesuatu yang bathin saja, tetapi Islām penyerahan diri secara total baik dzhohir nya maupun bathin nya.

Ini adalah Tafsirul Islām, bahwasanya Tafsirul Islām adalah penyerahan diri secara total baik dzhohir maupun bathin.

Inilah yang ada di dalam Fadhlul Islām bab yang pertama adanya penyerahan total dzhohir maupun bathin maka dia akan mendapatkan keutamaan yang besar yang disebutkan di dalam bab yang pertama. Dan ini yang dimaksud dengan Wujubul Islām , yang wajib untuk Islām bukan hanya dzhohir saja bukan hanya bathin saja tetapi kedua²nya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 25 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalīl Kedelapan Atsar Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallohu ‘Anhu

Halaqah 25 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalīl Kedelapan Atsar Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallohu ‘Anhu

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وقال أنبأنا ابن عيينة

Dan berkata Muhammad Ibnu Wodha di dalam kitab al Bida wa nahyi anha

أنبأنا ابن عيينة عن مجالد عن الشعبي عن مسروق قال: قال عبد الله يعني ابن مسعود

Dengan sanad ini berkata Abdullāh (yakni Ibnu Mas’ud)

لَيْسَ عامٌ إلاّ والَّذي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، لا أَقُول عامٌ أَمْطَرُ مِنْ عَامٍ، ولا عَامٌ أَخْصَبُ مِنْ عَامٍ، ولا أَمِيرٌ خَيْرٌ مِنْ أميرٍ، ولكن ذَهَابُ عُلَمائِكُم وخِيَارِكُم ثُمَّ يَحْدُثُ أَقْوَامٌ يَقِيسُونَ الأُمُورَ بآرَائِهِم فَيُهْدَمُ الإسْلامُ وَيُثْلَمُ. .

Tidak ada tahun kecuali yang setelahnya itu lebih jelek daripada tahun tersebut; semakin kesana itu zaman (keadaan) semakin parah.

Dan ucapan Abdullāh Ibnu Mas’ud ini berdasarkan apa yang beliau dengar dari Nabi ﷺ, karena di dalam sebuah hadits juga pernah diucapkan oleh Nabi ﷺ yang demikian (HR Imam Ath Tirmidzi)

ما من عام إلاّ الَّذي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ،

Dan ini adalah perkara yang ghoib & tidak mungkin perkara yang ghaib diketahui oleh Abdullāh bin Mas’ud, pasti beliau mendengarnya dari Nabi ﷺ.

Kemudian yang setelahnya beliau menjelaskan disini,

لا أقول عام أمطر من عام

Aku tidak mengatakan bahwasanya tahun ini lebih subur daripada tahun depan

ولا أمير خير من أمير

Dan bukan maksudku Amir (pemimpin) sekarang lebih baik daripada pemimpin yang akan datang.

Ini bukan masalah dunia yang disebutkan – شَرٌّ – disini mungkin secara duniawi tahun depan lebih baik dari tahun sekarang, tahun depan lebih maju tekhnologinya daripada tahun ini, bukan itu yang beliau inginkan bukan masalah pemimpin bukan masalah kesuburan tanah mungkin masalah kesuburan tanah tahun depan lebih subur atau pemimpin tahun depan lebih baik daripada tahun ini (bukan itu yang beliau maksudkan) maksud beliau adalah dari sisi agama

لكن ذهاب علمائكم وخياركم،

Bagaimana semakin jelek, karena ulama akan segera pergi, satu persatu ulama dengan ilmu yang dimiliki dia akan meninggal dunia – وخياركم –dan orang² yang menjadi pilihan diantara kalian orang² baik diantara kalian juga akan meninggal dunia. Inilah yang menjadikan tahun setelahnya lebih jelek, tahun sebelumnya ketika masih ada syaikh Fulan, Ulama fulan, perasaan indah dunia terasa bercahaya terang benderang, ketika kita tidak tahu kita bertanya tapi ketika beliau sudah meninggal dunia maka perkaranya lain, terasa lebih gelap.

Demikian pula – خيار – yaitu orang² yang sholeh ini juga menjadi perhiasan dunia. Jadi perhiasan dunia adalah para ulama dan juga orang² sholeh, para ulama & ahli ibadah sebagaimana perhiasan langit adalah bintang² & juga bulan, Nabi ﷺ mengatakan

فَضْل العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Alim dan juga abid ini adalah perhiasan dunia, Qomar dan Sairul kawakib ini juga perhiasan langit.

Kemudian,

ثم يحدث أقوام

Kalau mereka sudah meninggal dunia (orang yang shaleh, para Ulama meninggal dunia) maka datanglah kaum² yang mereka mengqiyaskan perkara² dengan ro’yu mereka, jadi tidak kembali kepada ulama(karena sudah meninggal) tapi mereka berbicara mengqiyaskan perkara dengan ra’yu² mereka, dengan hanya sekedar pendapat² mereka, tidak berdasarkan ilmu karena mereka bukan ulama,

فيهدم الإسلام ويثلم

Sehingga Islām menjadi hancur – ويثلم –dan dia menjadi bocor, Yutslam artinya ada kholalnya/kebocorannya disebabkan oleh orang² ini yaitu orang² yang mengqiyaskan perkara² dengan ro’yu² mereka yaitu Ulama Usu (yang mereka diulamakan oleh sebagian orang kemudian ditanya kemudian menjawab tanpa ilmu sehingga mereka sesat,dan juga menyesatkan orang lain).

Ini yang menjadikan Islām mundur dan menjadi Islām ini ada kholalnya/kebocorannya. Bagaimana kita menanggulangi ini semua, caranya masing² dari kita harus berpegang teguh dengan Islām, kalau masing² dari kita meskipun para Ulama kita meninggal dunia & bermunculan orang² yang diulamakan kemudian mereka berbicara dengan hawa nafsunya kalau kita masing² kokoh dengan keIslāman kita, menuntut Ilmu, mengamalkan ilmu, mengamalkan Islām, maka ini diharapkan menjadi sebuah cara untuk menanggulangi dan menghadapi orang² yang Yaqisun al Umuro, ini maksud beliau, oleh karena itu ucapan Abdullah bin Masud ini juga menjadi dorongan bagi kita untuk berpegang teguh dengan Islām karena setiap tahun itu akan datang tahun yang lebih jelek dari sisi agamanya maka cara kita untuk menanggulanginya, menghadapi orang² yang berfatwa tanpa Ilmu, orang² yang merusak agama ini dengan fatwa² mereka dan juga ra’yu² adalah dengan cara kita kembali kpd Islām yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan ini menunjukan tentang kewajiban kembali kepada Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ sehingga dimaksudkan ucapan Abdullāh ibn Masud ini di dalam Bab Wujubi al Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 24 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Ketujuh Atsar Dari Hudzaifah

Halaqah 24 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Ketujuh Atsar Dari Hudzaifah 
Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan, :

Dari Hudzaifah semoga Allāh ﷻ meridhoinya, beliau mengatakan

“يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سُبِقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالاً لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا”

Wahai (semuanya) – القراء – jama dari Qori (orang² yang mengilmui Al-Quran /menyibukan dirinya dengan Al-Quran/mengamalkan Isinya (ini perngertian – القراء – di zaman dahulu)).

Adapun dizaman sekarang maka setiap orang yang dzhohirnya menyibukan diri dengan Al-Quran, kemahiran di dalam Al-Quran meskipun dia tidak mengamalkan atau jauh amalannya dari Al-Quran maka maka dinamakan dengan Qori, dilihat adalah fasihnya dia di dalam membaca Al-Quran meskipun jauh antara amalannya dengan sunnah Nabi ﷺ maka dinamakan dengan – القراء -.

Berarti disini (Qura) orang² yang shaleh, orang² yang benar² mengamalkan Islam mengilmui dan dia mengamalkan Islām itulah (Qura).

Hudzaifah ingin menasehati mereka dengan mengatakan – استقيموا – hendaklah kalian terus istiqomah (lurus) di dalam jalan kalian ini, kalian sebagai seorang Qura mengilmui & juga mengamalkan terus istiqomalah dalam keadaan seperti itu terus menuntut ilmu & terus mengamalkan apa yang kalian ilmui, artinya istiqomahlah diatas Islām karena Qura adalah orang² yang melaksanakan Islām & juga mengilmui Islām, istiqomalah diatas Islām ini.

فَقَدْ سُبِقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا

Apabila kalian istiqomah maka sungguh kalian telah mendahului dengan pendahuluan yang sangat jauh.

Jika kalian (para Qura’) mereka terus istiqomah berjalan diatas Ilmu dan diatas amalan maka mereka akan terus melesat kedepan – سَبْقًا بَعِيدًا – dengan pendahuluan yang sangat jauh, terus mereka lurus diatas jalan yang lurus ini maka mereka terus akan berada didepan dan orang² akan berada dibelakang, jika mereka istiqomah terus diatas jalan yang lurus ini sehingga nanti mereka yang cepat sampai kepada tujuan.

Tapi kalau orang² yang istiqomah tadi

فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالاً

Kalau dia lebih memilih kekanan atau dia lebih memilih kekiri

لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Maka sungguh kalian akan tersesat dengan kesesatan yang nyata

Kalau dia sesatnya memilihnya memilih jalan yang lain, padahal dia diatas jalan Ilmu, sudah tahu ilmunya (seorang Qori sudah tau ilmunya sudah tahu kebenaran) tapi dia memilih kekanan dan juga kekiri , maka ini tersesatnya yang sangat jauh.

Berbeda orang yang menyimpang dan dia diatas kebodohan dia, dengan dia yang sudah tahu kemudian dia menyimpang maka ini sangat jauh penyimpangannya. Kalau misalnya orang² yang istiqomah tadi melenceng dari jalan lurus ini maka mereka akan tersesat dengan sesat yang jauh dan orang² yang dibelakang mereka akan segera menyusul, ini kalau mereka melenceng tapi kalau dia lurus istiqomah maka dia akan melesat kedepan dengan jarak yang sangat jauh.

Berarti Istiqomah disini (ucapan Hudzaifah) adalah istiqomah diatas Islām karena Qura adalah orang yang mengilmui Al-Quran dan mengamalkan Al-Quran, & Al-Quran adalah sumber Islām.

Mengilmui Al-Quran & juga mengamalkannya berarti dia istiqomah diatas Islām itu sendiri.

Apa akibatnya?
Akibatnya adalah akan terus maju kedepan dan dia akan melesat kedepan dengan sebab dia istiqomah tapi kalau sampai dia menyimpang yaitu keluar dari Islām /jalan yang lurus, maka sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan yang jauh & tentunya menghindarkan diri dari sebuah kesesatan adalah sebuah kewajiban, berarti berpegang teguh dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ adalah sebuah kewajiban karena dialah yang dengan sebabnya terhindar kita dari kesesatan dengan kita terus berpegang teguh dengan Islām ini maka kita akan terhindar dari kesesatan.

Menunjukan bahwasanya masuk Islām & berpegang teguh dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah sebuah kewajiban sehingga didatangkan disini ucapan Hudzaifah yang diriwayatkan oleh al Imam Bukhori di dalam bab Wujubul Islām.

Beliau mengatakan,

وعن محمد بن وضاح أنه كان يدخل المسجد، فيقف على الحلق فيقول: فذكره،

Beliau maksudnya (عن محمد) kalau di dalam shahih Bukhori tadi langsung disebutkan ucapan Hudzaifah tapi di dalam kitab Muhammad bin Wadho yang berjudul al Bida wan Nahyu anha disitu juga disebutkan oleh Muhammad bin Wadho dengan sanadnya tapi ada tambahan

قال كان خذيفة يدخل المسجد، فيقف على الحلق

Disebutkan dalam riwayat Ibn Wadho disini bahwasanya Hudzaifah dimana beliau mengucapkan – يا معشر القراء – beliau masuk kedalam masjid kemudian beliau berdiri didepan khilaq (jama dari khalaqo) jadi disana ada Qura yang sedang mempelajari Quran di dalam halaqoh². Dinamakan Khilaq karena mereka melingkar.

فيقول يا معشر القراء

Kemudian beliau menasehati mereka dan mengatakan – يا معشر القراء – ini tentang menunjukan – حرص – /semangat para shahabat yang diantaranya adalah Hudzaifah untuk menasehati mereka para Tholabul Ilm. Masuk ketika melihat ada thulabul Ilm mereka sedang mempelajari Al-Quran beliau nasehati, yakin kalian dalam kebaikan kalau kalian terus seperti ini sungguh kalian akan melesat kedepan, tapi jika kalian menyimpang karena mereka (penuntut Ilmu) orang² yang menisbatkan kepada ilmu dilihat oleh orang, maka beliau mewanti² mereka jangan sampai kalian menyimpang dari jalan yang lurus, jika sampai menyimpang & kalian menyimpang diatas ilmu ini perkara nya besar dibelakang kalian ada orang² yang melihat kalian & mengikuti setiap apa yang kalian lakukan, ucapan/prilaku kalian diperhatikan jadi kalau sampai kita menyimpang maka ketahuilah dibelakang banyak orang yang mereka akan mencontoh.

Kemudian – فيقول: فذكره – maksudnya mengatakan – يا معشر القراء.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته