Category Archives: Bimbingan Islam

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1442 H/09 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 05: Definisi kurban dan hukumnya

〰〰〰〰〰〰〰

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan yang ke-5 ini, kita akan bersama-sama belajar tentang :

▪︎ Definisi Kurban dan Hukumnya

Para ulama kita (rahimakumullāh) telah menuliskan banyak sekali definisi tentang kurban ini. Tetapi makna dari definisi tersebut berdekatan dan tidak saling bertentangan satu sama lain.

Di antaranya disebutkan التضْحِيَة kurban itu adalah syātun (شاة) domba atau hewan kurban dalam definisi lain disebutkan hayawānun (الْحَيَوَان).

مَخْصُوْص

Hewan yang khusus (dengan kriteria khusus).

تذبح بعد صلاة العيد

Yang disembelih setelah shalat Iedul Adha.

تقربا الى الله

Dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

التضْحِيَة :شاة خُصُوْصِيّ تذبح بعد صلاة العيد تقربا الى الله

“Kurban adalah menyembelih domba atau hewan khusus setelah shalat Iedul Adha dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Ibadah kurban merupakan syiar islam yang disyari’atkan di dalam al-Kitab (Al-Qurān) dan di dalam Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, serta ijma’ para ulama kaum muslimin.

Di antara ayat Al-Qurān yang menegaskan pensyariatan kurban adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kenikmatan yang banyak (besar) maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah.”

(QS. Al-Kautsar:1-2)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS. Al-An’ām:162-163)

Kata an-nusuk (النسك) adalah penyembelihan sebagaimana dikatakan oleh Said bin Zubair. Adapula yang mengatakan an-nusuk (النسك) adalah semua ibadah termasuk sembelihan. Pendapat kedua ini lebih luas cakupannya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku seluruhnya” termasuk di dalamnya penyembelihan (menurut pendapat yang kedua) hanya aku peruntukkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu (masih berkaitan dengan pensyariatan kurban) dia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih hewan kurban berupa dua ekor domba dengan warna putih garam (warna putih seperti warna garam) sebagian riwayat ditambahkan أَقْرَنَيْنِ (yang bertanduk). Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih kurbannya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم لله ….الله أكبر) dan beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping kedua hewan kurban tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5565)

Maksud pada sisi samping yaitu badan samping bagian dada di atas leher sedikit domba tersebut.

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dia berkata:

أَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي ‏ ‏

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tinggal di Madīnah selama sepuluh tahun dalam keadaan senantiasa beliau berkurban setiap tahunnya.” (tidak pernah absen).

(Hadīts hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 1507)

Ini adalah beberapa dalīl yang menjelaskan kepada kita tentang pensyariatan ibadah kurban.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa kurban ini hukumnya sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan), sunnah tetapi sangat dianjurkan, sunnah tetapi sangat diwasiatkan untuk dilakukan. Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban semasa beliau hidup di Madīnah selama sepuluh tahun.

Ini adalah madzhab Asy-Syafī’i, Mālik, Ahmad dan pendapat yang masyhur dari keduanya.

Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa ia wajib. Kelompok ulama yang kedua mengatakan kurban itu hukumnya wajib tidak sunnah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad.

Dan pendapat wajibnya kurban ini, dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu ta’āla, beliau berkata:

“Ia adalah salah satu pendapat dari dua pendapat dalam madzhab Mālik atau dhahir dari madzhab Mālik.”

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’azzakumullāh.

Disebagian kitab beliau Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di antaranya dalam Majmu’ Fatawa mengatakan, bahwa dalīl terkuat yang dipakai oleh ulama untuk mengatakan kurban itu hukumnya sunnah berarti dalīlnya banyak, tetapi menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang terkuat adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, janganlah ia memotong rambutnya dan memotong kukunya.”

(Hadīts shahīh Muslim nomor 1977)

Para ulama yang menyatakan kurban itu sunnah:

الوجوب لا يعلق بالإرادة

“Satu kewajiban itu tidak dikaitkan dengan keinginan.”

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Jika telah masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban”. Artinya kurban itu hanya berlaku bagi orang yang ingin, jika tidak ingin maka tidak berkurban, tidak apa-apa.

Ini merupakan dalīl yang dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai ‘ūdah (عوْدَة) dan beliau membantahnya.

Yang benar,

الوجوب قد يعلق بالإرادة بشرط

“Satu kewajiban itu kadang dikaitkan dengan keinginan tetapi bersyarat”

Seperti sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إذا أراد أحدكم أن يصلي فليتوضأ

“Jika salah seorang dari kalian ingin shalat, hendaknya dia berwudhu”

Sedangkan shalat lima waktu adalah wajib.

Apakah kita akan mengatakan shalat itu berlaku bagi orang yang ingin, sedangkan yang tidak ingin (tidak shalat) tidak apa-apa?

Tidak demikian, maka wallāhu ta’āla a’lam bishawab. Pendapat yang benar dalam masalah ini, “Kurban itu hukumnya wajib”.

Ditambah lagi dengan ancaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi orang yang tidak berkurban.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam satu hadīts shahīh.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa memiliki kelongaran rezeki namun ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tanah lapang untuk shalat hari raya.”

(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 3123)

Di dalam kitab Ahkamul Idain Fīsunnatil Muthaharah syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari rahimahullāhu ta’āla, tatkala menyebutkan hadīts ini, beliau mengatakan seolah-olah tidak ada manfaatnya orang yang memiliki kelonggaran rezeki kemudian dia tidak berkurban dan dia ikut shalat.

“Seolah-olah shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya ketika ia meninggalkan kewajiban tersebut (berkurban).”

Tadi di atas disebutkan;

Ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban. Ada ancaman bagi orang yang memiliki kelebihan rezeki tetapi ia tidak berkurban maka ia tidak boleh mendekat ke tanah lapang untuk shalat.

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’adzakumullāh yang senantiasa dirahmati oleh Allāh.

Kemudian ada riwayat juga, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Wajib bagi setiap satu rumah pada setiap tahunnya untuk melakukan kurban di bulan Dzulhijjah yang disebut udhhiyyah (أُضْحِيَّةً) dan kurban di bulan Rajab yang disebut ‘atirah (عَتِيرَةً).

Apakah kalian tahu apa itu ‘atirah ((عَتِيرَةً)?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

Dia adalah kurban yang dilakukan di bulan Rajab.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī, Abu Dawud , An-Nassā’i, Ibnu Mājah. At-Tirmidzī mengatakan hadīts ini gharībun dhaīf dan Abu Dawud mengatakan pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) telah dihapus. Syaikh Al-Albāniy menghukumi hadīts ini dhaif)

Dan Imam Nawawi rahimahullāhu mengatakan الْعَتِيرَة مَنْسُوخَة pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) Ini
telah dihapus, sedangkan pensyariatan (kewajiban) kurban masih tetap berlaku.

Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Rabu, 26 Dzulqa’dah 1442 H/07 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 03: Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

〰〰〰〰〰〰〰

SEBAB-SEBAB MENDAPATKAN PEMBEBASAN DAN AMPUNAN PADA HARI ARAFAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

Ketika kita memaparkan pada pertemuan yang lalu bahwa sebagian ulama. Sebagian ulama ulul Islām menyatakan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Maka di dalamnya kita teramat sangat dianjurkan sekali untuk memperbanyak ibadah, untuk memperbanyak berdoa dan berdzikir di hari tersebut (sebanyak-banyaknya).

ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

“Ingatlah kepada Allāh, dengan mengingat nama-Nya sebanyak-banyaknya.”

(QS. Al-Ahzāb: 41)

Dan di hari tersebut sebagaimana sudah kita bacakan dalīlnya, di hari itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla paling banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.

Tidak ada hari lain yang melebihi banyaknya pembebasan dari neraka (dari sisi jumlah hamba-hamba Allāh yang dibebaskan).

Kalau di hari lain Allāh memberikan ampunan, maka di hari Arafah Allāh lebih banyak lagi memberikan ampunan dan Allāh lebih banyak lagi membebaskan manusia dari neraka.

Maka pada kesempatan kali ini kita akan sampaikan sebab atau sarana yang bisa menjadikan kita mendapatkan pembebasan dan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari Arafah.

Barangsiapa berantusias tinggi meraih pembebasan dan perlindungan dari api neraka serta pengampunan dosa-dosanya pada hari Arafah hendaknya ia menjaga sebab-sebab dan meraih pembebasan serta ampunan. Tidak cukup seseorang bercita-cita untuk mendapatkan ampunan, tidak cukup seseorang bercita-cita untuk dibebaskan dari neraka kalau dia tidak menempuh sebab-sebabnya.

Kata pepatah disebutkan:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لَا تجرى على اليبس

“Engkau mengharapkan keselamatan, namun engkau tidak menempuh jalan-jalan yang bisa mengantarkan engkau kepada keselamatan. Karena sesungguhnya perahu dan kapal, sampan dan kano tidak akan mampu berjalan atau berlayar di atas daratan yang kering kerontang.”

Maka keinginan kita untuk diampuni oleh Allāh, terbebas dari neraka Allāh harus disertai usaha:

⑴ Berpuasa pada hari Arafah bagi orang-orang yang tidak berhaji.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim dari Abu Qatadah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَومِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتي بَعْدَهُ

“Puasa yang dilakukan pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Aku harapkan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang.”

(Hadits riwayat Muslim no. 1162)

Adapun dosa-dosa yang diampunkan di sini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa yang besar tidak akan terhapus dan dia hanya bisa terhapus dengan taubatan nasuha.

Beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian berjanji tidak akan mengulangi dan meninggalkan sebab-sebab yang bisa mengantarkan dia kepada perbuatan dosa besar tersebut.

Para ulama mengatakan:

لَا صَغائر مع الإستمرار و ما كبائر مَعَ اِسْتِغْفَارٍ

“Tidak ada dosa-dosa kecil jika dosa itu dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar ketika dia diikuti dengan taubatan nasuha.”

⑵ Menjaga…
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

🔰 EVALUASI HARIAN TELAH DIBUKA

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Silahkan mengikuti Evaluasi Harian WAG BiAS via telegram…

📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 #Halaqah 03:
( Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah)

Jumlah Soal : 2 buah
Link : https://t.me/QuisWAGBIAS

Baarokallahu fiikum…

🖋️

BIAS CENTER
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: ▪️▪️▪️▪️▪️
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

🏦 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Indonesia (ex. BSM)
| Kode Bank (451)
| Nomor Rekening : 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi klik cintasedekah.org/donasi
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Hari Raya Umat Islām

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Selasa, 25 Dzulqa’dah 1442 H/06 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 02: Hari Raya Umat Islām

〰〰〰〰〰〰〰

HARI-HARI RAYA UMAT ISLĀM

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث رحمة للعالمين و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Hari-Hari Raya Umat Islām

Ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiba di Madīnah yaitu pada peristiwa hijrah. Orang-orang Madīnah memiliki dua hari di mana mereka biasa bermain-main pada kedua hari tersebut, yaitu mereka memiliki hari raya.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَانِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Sesungguhnya Allāh telah mengganti untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari daripada hari raya kalian sebelum ini yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nassā’i)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengganti untuk umat ini dari dua hari bermain-main dan bersenda-gurau menjadi dua hari raya yang berisi dzikir, syukur, ampunan dan pemberian maaf.

Di dalam kitab Al-Bida’ wa Al-Akhtha’ Tata’ alaqu Bil Ayyam Was Syuhur disebutkan bahwa pada hari raya kita diperbolehkan untuk saling berkunjung satu sama lain, menyambung silaturahim, kemudian memakan makanan yang lezat yang mungkin tidak biasa kita makan, menghidangkan minuman yang istimewa, kemudian saling memberikan hadiah, memberikan hadiah pula kepada anak-anak dengan hadiah yang mereka sukai.

Di samping tentunya pada dua hari tersebut, yang lebih utama kita memperbanyak dzikir, syukur, istighfar serta memaafkan orang lain.

Di samping dua hari raya tersebut, ada hari raya yang berulang pada setiap pekannya, dan ini yang menyebabkan kesempurnaan shalat-shalat wajib. Dan di dalam aktifitas menghadiri shalat Jum’at terdapat kemiripan dengan ibadah haji.

Hari raya yang terulang setiap pekannya adalah hari raya hari Jum’at. Adapun dua hari raya yang lain tidak berulang pada setiap tahunnya. Dia hanya terjadi satu tahun sekali, Idul Fithri sekali kemudian Idul Adha sekali.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika hari raya penyembelihan atau Idul Adha, merupakan hari raya yang paling besar dan paling utama di antara kedua hari raya tersebut.

Kenapa demikian?

Karena di Idul Adha terkumpul padanya keutamaan tempat dan keutamaan waktu, bagi orang yang menunaikan ibadah haji. Mereka memiliki hari-hari raya lain sebelum dan sesudahnya yaitu hari Arafah sebelum Idul Adha kemudian hari-hari Tasyrik setelah Idul Adha.

Jadi bagi orang yang menunaikan ibadah haji sebelum tibanya hari raya Idul Adha, mereka memiliki hari raya yang lain yaitu hari Arafah kemudian setelah Idul Adha mereka memiliki hari Tasyrik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadīts ‘Utbah bin Amir dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari penyembelihan dan hari-hari tasyrik merupakan hari raya kita orang Islām dan ia merupakan hari untuk makan dan minum.”

(Hadīts ini diriwayat oleh para penulis kitab As-Sunnan dan dishahīh oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullāhu ta’āla)

Maka dari itu tidak disyari’atkan bagi orang yang menunaikan ibadah haji untuk berpuasa di hari Arafah. Puasa Arafah disyariatkan bagi umat Islām yang tidak (sedang) menunaikan ibadah haji.

Diriwayatkan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

أنه صلى الله عليه وسلم ما نهى يوم عرفة بعرفة

“Bahwasanya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang puasa pada hari Arafah di Arafah.”

Melarang puasa pada hari Arafah di Arafah. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan ìbadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.

Beberapa keutamaan hari Arafah:

⑴ Hari Arafah merupakan hari disempurnakannya agama dan nikmat.

⑵ Diriwayatkan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban di dalam shahīhnya yang bersumber dari hadīts Jabīr radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengatakan:

أفضل الأيام يوم عرفة

“Hari yang paling utama adalah hari Arafah”

Namun sebagian ulama (yang lainnya) menyatakan bahwa hari yang paling utama adalah hari penyembelihan yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan hari Arafah merupakan hari haji akbar menurut sekelompok ulama Salaf di antaranya adalah Umar radhiyallāhu ‘anhu dan yang lainnya.

Namun ini ditentang oleh sekelompok ulama Salaf yang lain, dan mereka mengatakan, “Haji akbar adalah hari penyembelihan” yaitu tanggal 10 Dzulhijjah pada saat hari raya Idul Adha.

⑶ Berpuasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun.

Kenapa koq puasa Asyura hanya menghapuskan dosa satu tahun, sedangkan puasa di hari Arafah bisa menghapuskan dosa dua tahun (yang telah berlalu dan yang akan datang)?

Di antara jawabannya adalah Asyura itu adalah harinya Musa sedangkan Arafah adalah harinya Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah افضل الأنبياء و رسول (Nabi dan Rasul yang paling utama dibandingkan nabi dan rasul yang lainnya). Maka hari Arafah memiliki keutamaan yang besar.

Bagi orang yang tidak berhaji disunnahkan berpuasa di hari Arafah.

Puasa hari Arafah akan mendapatkan pengampunan dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang.

⑷ Hari Arafah merupakan hari pengampunan dan pemaafan dosa-dosa, pembebasan dari api neraka dan hari dibanggakannya orang-orang yang sedang melakukan wuquf di padang Arafah.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan kaum muslimin yang berhaji dan berkumpul di Arafah pada hari tersebut, sebagaimana disebutkan di dalam shahīh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada satu hari di mana Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibandingkan hari Arafah. Sesungguhnya Allāh benar-benar mendekat, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat. Kemudian Allāh berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka?’.”

(Hadīts shahīh riwayat Imam Muslim nomor 3354)

Itu adalah beberapa paparan tentang hari raya umat Islām dan beberapa keutamaan hari Arafah.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Senin, 24 Dzulqa’dah 1442 H/05 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 01: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

〰〰〰〰〰〰〰

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ahlan wa Sahlan, kepada antum dan antunna semua.

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan sama-sama mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan keutamaan bulan Dzulhijjah dan apa saja yang berkaitan dengannya, demikian pula ibadah qurban.

▪︎ Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts dari Ibnu Abbās dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ

“Tidaklah ada hari-hari

الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها

Di mana amal shalih di dalamnya

أَحَبُّ إِلَى اللَّه

Lebih dicintai oleh Allāh

مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Dibandingkan dari hari-hari ini

يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ

Yaitu hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

“Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allāh daripada amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

قال:

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Wahai Rasūlullāh, amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu lebih dicintai oleh Allāh daripada jihad fīsabilillāh?”

قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Nabi mengatakan, “Meskipun jihad fīsabilillāh, tidak bisa menandingi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ

Kecuali seorang laki-laki yang dia keluar berjihad dengan membawa jiwanya dan hartanya

فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dan dia tidak kembali dengan membawa jiwa dan hartanya”

Maknanya dia berjihad kemudian meninggal dunia (mati syahid) fīsabilillāh.

Maknanya adalah amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu adalah amalan yang tidak bisa ditandingi dengan amal lain yang dilakukan di luar sepuluh hari tersebut.

Kecuali ditandingi dengan orang yang berjihad fīsabilillāh dengan harta dan jiwanya kemudian dia (mati syahid) fīsabilillāh.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang lain Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَفضل مِنْ أَيَّامَ الْعَشْرِ.

“Tidaklah ada hari-hari الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها di mana amal shalih di dalamnya افضل من ايام العشر lebih utama di bandingkan, apa? Amal yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”.

Bulan Dzulhijjah lebih utama dan lebih dicintai oleh Allāh di sepuluh hari pertamanya, dibandingkan amal-amal yang dilakukan pada hari-hari yang lain dalam setahun.

Maka amal pada waktu tersebut (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah) walaupun pada asalnya tidak utama menjadi lebih utama, daripada amal yang dilakukan pada waktu-waktu yang lainnya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam hadīts yang tadi kita baca, baru keutamaan amal shalih di bulan Dzulhijjah, di sepuluh hari pertamanya itu bisa ditandingi tatkala seorang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali.

Ini dikuatkan pula oleh sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala beliau ditanya. “Apakah jihad yang paling utama?”

Beliau menjawab:

مَنْ عُقِرَ جَوادُه، وأُرِيقَ دَمُه

“Seorang mujahid yang kudanya disembelih oleh musuh dan darah mujahid tersebut ditumpahkan sehingga dia gugur (mati syahid fīsabilillāh).”

Ada beberapa amal shalih yang bisa kita lakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di samping amal-amal yang umum di sana ada beberapa amal-amalan khusus:

⑴ Puasa

Disebutkan di dalam Musnad dan Sunnan dari Hafshah radhiyallāhu ‘anhā.

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام عاشوراء، والعشر، وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Adalah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak meninggalkan puasa di hari Asyura yaitu di bulan Muharram, dan puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan puasa tiga hari di setiap bulannya.”

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam riwayat yang lain, diriwayatkan dari salah seorang istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, disebutkan di sana:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام تسع ذي الحجة

“Bahwasanya Nabi tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Kenapa koq sembilan?

Karena tanggal sepuluh adalah hari raya Idul Adha dan para ulama kita ijma’ (sepakat) haram melakukan puasa di hari raya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun puasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah yang pertama, itu diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakan boleh, sebagian mengatakan yang disyari’atkan hanya puasa di tanggal 09 Dzulhijjah saja yang disebut dengan puasa Arafah.

Puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sebelum Idul Adha, karena apa?

Karena di sana ada riwayat lain dari ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kecuali puasa Arafah bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dan hukumnya sunnah.

Namun diriwayat yang lain, dari istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang lain, menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan puasa تسع (puasa sembilan) di bulan Dzulhijjah.

Para syurah (para pensyarah) Sunnan Abī Dawud mereka memberikan alasan lain yang dimaksud dengan تسع (puasa sembilan) adalah bukan berpuasa sembilan hari, tetapi berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah yang disebut dengan puasa Arafah.

Syaikh Masyhur Hasan Ali Salman menyatakan, “Ini adalah masalah khilafiyyah العمر وَسِعَ (perkaranya luas), silahkan bagi yang ingin berpuasa sembilan hari, dan silahkan pula yang hanya ingin puasa di tanggal 9 Dzulhijjah”.

Syaikh Abdul Azīz bin Abdillah bin Baz menyatakan, “Salah satu bentuk penggabungan dua riwayat adalah bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ‘Sesekali beliau berpuasa sembilan hari dan sesekali beliau tidak melakukan puasa sebanyak sembilan hari’ “.

Ketika beliau melakukan puasa sembilan diketahui oleh sebagian istri beliau, kemudian istri beliau meriwayatkannya. Ketika beliau tidak sedang puasa diketahui oleh sebagian istri beliau dan sebagian istri menyatakan beliau tidak berpuasa.

Jadi yang di fatwakan oleh Imam Abdul Azīz bin Baz yang dilakukan oleh Nabi adalah beliau sesekali puasa sembilan hari, namun sesekali beliau tidak berpuasa sembilan hari (wallāhu ta’āla a’lam bishawab).

⑵ Memperbanyak Dzikir

Yaitu ditunjukkan oleh firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْلُومَـٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut asma-asma Allāh pada hari-hari yang telah ditentukan.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut jumhur (mayoritas para ulama) pembahasan tersebut dibahas oleh para ulama dengan pembahasan yang panjang lebar.

Kemudian diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ ولا أَحَبَّ إلَيهِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ.

“Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allāh

ولا أَحَبَّ إلَيهِ

Dan tidak dicintai amal di dalamnya

فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ

Dibandingkan hari-hari pertama di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah

فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ

Maka perbanyaklah oleh kalian di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah membaca kalimat tahlil (Lā ilāha illallāh لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) membaca takbir, dan membaca tahmīd.”

Di dalam kondisi biasa saja, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لأنْ أقولَ : سُبحانَ اللهِ والحمدُ للهِ ولا إلهَ إلَّا اللهُ واللهُ أكبَرُ

“Aku membaca Subhānallāh, Walhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, Allāhu akbar

أحَبُّ إليَّ ممَّا طلَعَتْ عليه الشَّمسُ

Lebih aku cintai daripada dunia dengan seluruh isinya.”

Itu di hari biasa, bagaimana di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah? Tentu akan lebih besar lagi pahalanya.

Dan para ulama kita mengatakan:

“Sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhān, malamnya lebih utama, dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tapi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah siangnya lebih utama dibandingkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān.”

√ Siangnya lebih utama bulan Dzulhijjah.
√ Malamnya lebih utama bulan Ramadhān.

Jadi kita bisa membayangkan betapa besar keutamaan yang dimiliki oleh sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada kita semua untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab

〰〰〰〰〰〰〰

〰〰〰〰〰〰〰

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 50 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlu Bid’ah

Halaqah 50 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlu Bid’ah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat perbedaan nama² Ahlus Sunnah dengan nama² Ahlu Bida, kita lihat nama² Ahlu Bida ada diantara mereka yang bernama al Khowarij, Jahmiah, Asyairoh, al Manturidiah, al Kullabiah kemudian al Murjiah, ar Rofidhoh az Zaidiyah, Qodariah, Jabriah. Kita lihat nama² aliran tadi tidak kembali kepada Islām tapi kemungkinan yang pertama kembali kepada muasisnya bukan kembali kepada Islām tapi kembali kepada Muasisnya karena muasis ini membawa sesuatu yang baru yang tidak ada didalam Islām akhirnya bukan dinisbahkan kepada Islām tapi dinisbahkan kepada Muasisnya, diantaranya Jahmiah Ibnu Sofwan, al Qulabiyah dinisbahkan kepada Abdullah Ibnu Qullab, Ahmadiyyah dinisbahkan kepada Mirza Ghulam Ahmad dst.

Ini sudah penamaan yang salah, kenapa menisbahkan diri kepada orang nya kepada Muasisnya, berarti dia membawa sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ.

Atau terkadang nama tersebut diambil dari isi dari Bid’ahnya, contoh al Murjiah diambil dari kata al Irja yang maknanya adalah takhir/mengakhirkan atau diambil dari kata roja, kalau diambil dari kata Al Irja yang maknanya adalah takhir sebagaimana Firman Allāh – أَرْجِهْ وَأَخَاهُ – Akhirkan/ditunda maksudnya adalah mereka mengakhirkan amalan, menjadikan amalan itu bukan termasuk Iman. Karena orang² Murjiah mengatakan bahwasanya amalan bukan termasuk Iman.

Atau dari kata Roja artinya mereka terlalu memberikan Roja kepada pelaku dosa besar, kemudian mengatakan tidak masalah melakukan dosa besar ini tidak memudhoroti karena ini bukan termasuk Iman. Berarti diambil nama mereka dari inti bidah mereka.

Atau Rofidhoh diambil dari kata Roqob yang artinya adalah menolak karena mereka menolak ke khalifahan Abu Bakar & juga Umar Oleh sebab itu mereka dinamakan Rofidhoh.

Atau Orang² Khowarij diambil dari kata khuruj karena mereka mengeluarkan pelaku dosa besar dari Islām, atau khuruj yang berarti mereka memberontak kepada pemerintah & juga penguasa yang sah, karena keluar memberontak kepada mereka juga dinamakan dengan khuruj, sehingga mereka dinamakan dengan Khowarij, dilihat dari Inti bidah mereka.

Atau diambil/aliran tadi namanya tempat dia keluar/sejarah dia keluar seperti Mu’tazilah dinamakan Mu’tazilah karena wafin saat itu dia meninggalkan majlisnya Hasan Al Basri karena dia I’tazala meninggalkan majlisnya Hasan Al Basri maka dinamakan dia & orang² yang mengikutinya dinamakan Al Mu’tazilah.

kita lihat disini perbedaan Antara nama² Ahlus Sunnah dengan nama² aliran tersebut. Aliran² tadi tidak kembali kepada Islām adapun nama² Ahlus Sunnah maka kembali kepada Islām.

Bagi yang mencermati nama² tersebut dia akan melihat bahwasanya nama² tersebut kembali kepada Islām, belum lagi ciri² yang lain & juga perbedaan yang lain nama² yang ada didalam Ahli Sunnah ini tidak menyebabkan wala & Baro selain kepada Islām berbeda dengan nama² tadi, adapun nama² tadi maka disitu ada wala & Baro nya bukan kepada Islām bukan atas nama Islām tetapi atas nama yang lain.

Jika Islām Jamaah, kenapa dinamakan Islām Jamaah karena Intinya pada jamaahnya karena itu memang yang dikonsentrasikan tentang masalah Jamaah, berkaitan dengan Jamaah, yang namanya Jamaah harus ada Imam nya yang namanya Imam harus di baiat

لا إسلام إلا بجماعة

Kita ini harus (Islām)nya Harus Jamaah, Oleh sebab itu dinamakan Islām Jamaah.

Terkadang namanya benar tapi isi nya yang tidak benar

Yang dituntut dari kita nama & juga isinya, Isinya sudah disebutkan tentang keharusan untuk berpegang teguh dengan Islām, sekarang disebutkan tentang keharusan untuk bernama dengan nama yang Islām, Jadi namanya harus syarii & Isinya juga harus Islāmi tidak cukup dengan penamaan atau gelar saja yang Islāmi tetapi isinya jauh dari Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 49 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Bag 02

Halaqah 49 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-49 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat Nama² Ahlus Sunnah wal Jamaah maka semuanya kembali kepada Islām.

Contoh misalnya Ahlus Sunnah wal Jamaah atau ahlul Al Jamaah atau Al Firqotun Najiah atau Ahlul Atsar atau Hadits atau As Salafiun atau nama mereka Athoifatul Manshuro golongan yang ditolong, ditolong karena berpegang teguh dengan agama Islām sebagaimana didalam Hadits

ولَنْ تَزَالَ هَذِه الأُمَّةُ قائِمَةً عَلَى أمْر الله لاَ يضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفُمْ حَتَّى يأتِي أمْرُ الله

Amrullah yang pertama ini adalah Al Islām, dia tetap tegak diatas Amrullah yaitu Amrullah Syar’i,

adapun Amrullah yang kedua adalah Amrullah al Kauni.

Amrullah Syarii ini adalah Islām syariat Islām adapun Amrullah al Kauni adalah hidupnya atau dikirimnya angin & barangsiapa yang menghirup angin tadi & didalam dirinya ada iman meskipun hanya kecil keimanannya maka dia akan meninggal dunia.

قائِمَةً عَلَى أمْر الله

Dia tetap tegak diatas agama Islām.

Amrullah disini adalah Dien Syarii

لاَ يضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفُمْ

Tidak akan memudhoroti mereka orang yang menyelisi mereka

Kita lihat lafadz yang lain

ولَا تَزَالَ هَذِه الأمة ظاهرين على من خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون

Apa makna – ظاهرون – maksudnya adalah منتصرين mereka senantiasa tertolong.

ظافرين على عدوهم الذي يخالفهم في العقيدة والمنهج

Mereka nampak & mereka ditolong oleh Allāh diatas musuh² mereka

Didalam sebuah lafadz

لاتزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق

Mereka nampak tetap diatas al Haq yaitu diatas agama Islām yang murni

لايضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذالك

Didalam lafadz ath Tirmidzi

لا تزال طائفة من أمتي منصورين لايضره من خذلهم حتى الساعة

Dalam sunan ibnu Majjah

لا تزال طائفة من أمتي منصورين

Dari sini kita mengetahui asal usul dari penamaan athoifa al Mansyuro golongan yang ditolong oleh Allāh, kalau kita melihat hadits² tadi & kita kumpulkan, kenapa mereka – ظاهرين – kenapa mereka – منصورين – karena mereka

قائمة على أمر الله
قائمة على حق

Sebagian lafadz tadi disebutkan mustaqiman mereka istiqomah diatas kebenaran & ini seperti firman Allāh ﷺ

كتب الله لأغلبن أنا ورسلي

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ ٱلْأَشْهَٰدُ

Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul² Kami & juga orang² yang beriman

Dan tentunya yang dimaksud orang yang beriman disini adalah orang yang benar² beriman & mewujudkan keimanan, berpegang teguh dengan Islām yang murni sehingga mereka menamakan dirinya dengan athoifa Al Mansyuro, Mansyuro karena berpegang teguh dengan Islām.

Berarti kembali nama mereka ini kepada Islām.

As Salafiun menisbahkan diri mereka kepada salaf, siapa Salaf? Generasi pertama, kedua & ketiga. As Salafusholeh mereka adalah para pendahulu kita yang shaleh. Salafy adalah orang yang menisbahkan diri mereka kepada para salaf, apa yang dilakukan oleh para Salaf perpegang teguh dengan Islām

من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابه

Mereka adalah orang yang berada diatas jalanku & jalan para Shahabatku.

Maka Salafiyun adalah orang² yang menisbahkan diri mereka kepada para salaf yaitu para Shahabat, para Tabiin & juga para Tabiut Tabiin yang mereka berada diatas Islām yang murni. Berarti salafiun nama yang syarii karena ia kembali kepada Islām.

Maka seluruh Nama² yang kembali kepada Islām maka ini nama² yang syarii.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 48 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Halaqah 48 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-48 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat nama² Ahlus Sunnah wal Jamaah, atau ahlul Jamaah atau ahlul atsar atau ahlul Hadits atau as salafiun atau athoifa Al Mansyuroh, Al Firqotun Najiyah maka semuanya kembali kepada Islām. Terkadang nama² tadi ada secara nash didalam dalil & terkadang tidak ada secara nash hanya kalau kita perhatikan dia kembali kepada Islām itu sendiri.

Dan ini adalah perbedaan antara nama² Ahlus Sunnah gelar² Ahlus Sunnah dibandingkan dengan nama² dimiliki aliran², contoh misalnya Ahlus Sunnah orang² yang berpegang teguh dengan sunnah.

Apa yang dimaksud dengan Sunnah, yang dimaksud dengan Sunnah adalah jalan , yaitu jalannya Rasulullāh ﷺ, dan jalannya Rasulullāh ﷺ adalah Islām itu sendiri, berarti Ahlus Sunnah adalah orang² yang mereka konsekwen/komitmen dengan ajaran Islām. Lihat kembali nama mereka kepada Islām bukan kepada yang lain.

Atau dinamakan dengan Ahlul Jamaah & jamaah asal katanya makna jamaah adalah Istima dia adalah masdar, akhirnya menjadi nama kumpulan manusia, asalnya dia adalah Al Istima jadi kalau kita mengatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Al Jamaah disini maknanya Istima) jangan diartikan orangnya, Ahlus Sunnah wal Jamaah maksudnya adalah Ahlus Sunnah wal Istima oleh sebab itu lawannya Ahlul Bida’ wal furqah, karena Ahlul Bida’ adalah lawan dari Ahlus Sunnah kemudian disebutkan wal furqah & furqah adalah lawan dari Al Istima.

Jadi kalau dikatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka Al Jamaah disini maksudnya adalah Al Istima mereka adalah orang yang ahli dalam bersatu.

Kenapa dinamakan ahlul jamaah atau ahlul Istima karena mereka tidak mau memisahkan diri mereka dari jamaahnya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabat, bagaimanapun mereka dicela, disakiti, dihadang maka mereka tidak mau meninggalkan jalan ini, ingin terus bersatu diatas kebenaran oleh sebab itu mereka dinamakan ahlul jamaah & seringnya digabungkan antara sunnah dengan jamaah & dikatakan Ahlus Sunnati wal jamaah, mereka adalah orang yang berpegang teguh dengan sunnah & mereka yang menjaga & terus berpegang dengan jamaahnya Rasulullah ﷺ untuk menjaga persatuan.

Kalau kita lihat ahlu Istima ini kembali kepada Islām juga, karena maksud Istima disini adalah Istima diatas Islām

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

Seluruhnya, disuruh untuk berpegang teguh dengan – بِحَبْلِ اللَّهِ – dengan tali Allah/Al Quran .

Berarti Ahlul Istima mereka adalah ahli didalam persatuan maksudnya adalah persatuan diatas Islām, berarti kembali kepada Islām itu sendiri.

Atau nama mereka adalah Ahlul atsar, mereka adalah orang yang ahli didalam atsar, yang dimaksud dengan atsar mungkin atsar Rasulullah ﷺ atau nama lain dari Hadits atau maksudnya atsar para Shahabat & juga para tabiin, berpegang teguh dengan atsar mereka, apa atsar para Shahabat & juga para tabiin? Islām. Karena mereka kembali kepada Islām yang murni mereka tidak memisahkan diri dari jamaahnya Nabi ﷺ

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Dipuji oleh Nabi ﷺ karena berpegangnya mereka dengan kuat terhadap Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Berarti Ketika mereka menamakan dirinya dengan Ahlul Atsar nama ini kembali kepada Islām juga.

Atau nama mereka adalah al Firqotun Najiah mereka adalah kelompok yang selamat diambil dari Hadits Nabi ﷺ, dimana beliau mengabarkan tentang iftiroqul umma (perpecahan umat) & mengabarkan bahwasanya umat ini terpecah menjadi 73 golongan

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ

Semuanya masuk kedalam Neraka

إِلَّا وَاحِدَةً

Kecuali 1 golongan, kemudian beliau mengatakan

من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Mereka adalah orang yang berada diatas jalanku juga jalan para Shahabatku.

Inilah golongan yang selamat tadi, golongan yang satu tadi, dinamakan dengan golongan yang selamat karena pertama mereka selamat dari perpecahan yang lainnya berpecah belah, adapun golongan ini maka mereka selamat dari perpecahan, tetap mereka berada diatas jalannya Nabi ﷺ, sehingga mereka dinamakan golongan yang selamat yaitu selamat dari perpecahan karena perpecahan ini musibah adapun mereka, mereka tidak berpecah tetap mereka bersatu diatas Islām yang murni.

Atau yang kedua selamat disini adalah selamat dari Neraka karena nabi mengatakan

كلهم في النار

Semuanya masuk kedalam Neraka kecuali satu.

Kedua makna ini benar, baik dikatakan selamat dari Neraka atau selamat dari perpecahan ini benar karena perpecahan itu membawa mereka kepada Neraka. Perpecahan tadi yaitu memisahkan diri/memecahkan diri dari jalannya Nabi ﷺ ini adalah sebab masuknya mereka kedalam Neraka.

Berarti golongan yang selamat tadi yaitu yang selamat dari perpecahan karena selamat dari perpecahan berarti tetap berpegang teguh dengan Islām tidak mau memecahkan diri. Berarti disini kembali kepada makna Islām, Al Firqotun Najiah firqoh yang Selamat yaitu selamat dari perpecahan karena dia tidak memisahkan dirinya dari jamaahnya Nabi ﷺ yang berada diatas Islām yang murni. Berarti Al Firqotun Najiah kembali kepada Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 47 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nukilan Dari Majmu Fatawa Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Jilid 28 Halaman 328

Halaqah 47 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nukilan Dari Majmu Fatawa Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Jilid 28 Halaman 328

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-47 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

قال أبو العباس كل ما خرج عن دعوى الإسلام والقرآن من نسب أو بلد أو جنس أو مذهب أو طريقة فهو من عزاء الجاهلية.

Berkata Abul Abbas

Ini adalah kunyah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, terkadang beliau memakainya ketika di dalam kitabut Tauhid.

setiap orang yang keluar dari nama Islām & juga Al-Quran, fanatiknya bukan karena Islām bukan karena Al Quran,

من نسب berupa nasab, wala & baro nya karena nasab, misalnya kalau dia ahlul bait wala kalau bukan ahlul bait baro,

أو بلد atau berupa negeri, kalau satu negara yang sama wala kalau diluar negaranya baro,

أو جنس atau berupa suku / jenis, jika satu suku maka dia wala kalau diluar sukunya dia baro ,

أو مذهب atau madzhab, kalau sama² syafii dia wala kalau diluar Syafii maka dia baro,

أو طريقة atau berbeda jalan / cara

فهو من عزاء الجاهلية

_Maka ini semua termasuk jalan Jahiliyyah_

Kalau misalnya wala dan baro’ seseorang diukur dari semuanya itu, bukan diukur oleh keislaman seseorang, bukan diukur sesuai dengan Al Quran atau tidak apa yang dia lakukan, tapi diukur dari nasab, negeri, suku, madzhab.

Kemudian beliau mendatangkan dalil

بل لما اختصم مُهاجري وأنصاري

Bahkan ketika saling berseteru antara seorang Muhajirin & seorang Anshor

فَقَالَ المُهَاجِرِيُّ : يَا لَلْمُهَاجِرِينَ

Berkata orang Muhajirin tersebut – يَا لَلْمُهَاجِرِينَ – memanggil orang² Muhajirin

وَقَالَ الأَنْصَارِيُّ : يَا لَلْأَنْصَارِ

Dan berkata orang Anshor – يَا لَلْأَنْصَارِ –

قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Maka Nabi ﷺ mengatakan _apakah dengan panggilan jahiliyyah_ karena panggilan يَا لَلْمُهَاجِرِينَ , يَا لَلْأَنْصَارِ adalah panggilan jahiliyyah dia bukan berdasarkan Islām, tapi berdasarkan golongan, berdasarkan orangnya, padahal kita tahu bagaimana kedudukan Muhajirin & juga kedudukan Anshor disisi Allah ﷻ. Kalau ta’asub dengan sesuatu selain Islām, karena sama² hijrah karena sama² orang Mekah atau yang satunya karena sama² orang Madinah padahal mereka adalah Muhajirin & Anshor yang memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah ﷻ, tidak boleh kita taasub dengan orang²nya, bukan kepada Islām, lalu bagaimana dengan orang yang ta’asub dengan golongan yang lebih rendah daripada Muhajirin & Anshor, tentu nya Ini lebih diharamkan & lebih tidak diperbolehkan.

Ta’asub dengan orang² Muhajirin & Anshor tapi kalau tidak didasarkan oleh Islām maka ini tidak boleh, lalu bagaimana dengan ta’asub dengan yg selain Muhajirin & Anshor yang tentunya kedudukannya lebih rendah dari keduanya.

وغضب لذلك غضبًا شديدًا.

Dan Nabi ﷺ marah dengan sebab ini semua, dengan kemarahan yang sangat besar.

انتهى كلامه.

Selesai ucapan beliau.

Dan ini adalah nukilan, kalau kita kembali kepada kitab asalnya maka ini yang diucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah didalam Majmu’ Fatawa

و كل ما خرج عن دعوى الإسلام والقرآن من نسبٍ أو بلدٍ أو جنسٍ أو مذهبٍ أو طريقةٍ فهو من عزاء الجاهلية.
بل لما اختصم رجلان من المهاجرين و الأنصاري فقال المهاجري: يا للمهاجرين! وقال الأنصاري: يا للأنصار
قال ﷺ: أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟ وغضب لذلك غضبا شديدا
.

Ini disebutkan oleh beliau di dalam jilid ke-28 halaman 328.

Dengan demikian kita mengetahui tentang bagaimana keharusan untuk menisbatkan diri kepada Islām bukan kepada selain Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفيه: أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Dan didalamnya (mungkin kembali kepada Hadits yang shahih) atau maksudnya adalah didalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori & juga Muslim .

أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Ini Hadits yang lain, jika Hadits yang sebelumnya

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

Ini adalah haditsnya Abdullah Ibnu Abbas, adapun hadits yang dimaksud oleh beliau disini – أبدعوى الجاهلية – maka yang dimaksud adalah haditsnya Jabir Ibnu Abdillah, dari mana kita tahu ini hadits yang dimaksud oleh pengarang di sini, pertama beliau mengatakan – وفيه – maksudnya adalah didalam hadits yang shahih yang tadi kita sebutkan bisa didalam Hadits yang shahih atau didalam Hadits yang juga diriwayatkan oleh Bukhori dan juga Muslim.

Kemudian kita melihat penjelasan dari Ibnu Taimiyyah yang dinukil oleh beliau disini karena beliau setelah mendatangkan hadits Ini, beliau mendatangkan ucapan Ibnu Taimiyyah & disini beliau menyebutkan sebuah hadits yaitu adanya kasus yang hampir menjadikan disana perseteruan antara muhajirin & anshor.

Haditsnya

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami berperang bersama Rasulullah ﷺ

وَقَدْ ثَابَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ حَتَّى كَثُرُوا وَكَانَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلٌ لَعَّابٌ فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Dan telah pergi bersama beliau beberapa orang dari kalangan Muhajirin sehingga mereka banyak (banyak berkumpul orang² Muhajirin), diantara orang² Muhajirin tersebut ada seorang laki² yang la’ab (suka bermain)

فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Maka dia memukul dubur dari orang Anshor tadi (mungkin mencolek) & dia adalah rajulun yang la’ab (suka bercanda) -al Kasa – mungkin memukul dengan tangannya atau dengan kakinya (ditendang pantatnya dengan kaki atau dipukul dengan tangannya) – – ada yang mengatakan dia adalah memukul makna nya sama pantat – bil kodam – dengan kakinya
Apa yang terjadi

فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ غَضَبًا شَدِيدًا

Maka orang Anshor tadi marah dengan marah yang sangat – حَتَّى تَدَاعَوْا – sampai akhirnya mereka saling memanggil satu dengan yang lain

وَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ

Berkata orang Anshor Ini – yaitu memanggil orang² Anshor _wahai orang² Anshor_
Berkata orang Muhajirin tadi – – _wahai orang² Muhajirin_

Jadi orang Anshor tadi memanggil kawan²nya dari golongan Anshor & orang Muhajirin memanggil kawan²nya Muhajirin,

فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

Maka Nabi ﷺ keluar (mungkin keluar dari kemah nya) kemudian beliau mengatakan

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

kenapa kalian mengajak ajakan orang² ahli jahiliyyah karena mereka dahulu taasubnya bukan kepada agama Islām tapi taasubnya adalah kepada qobilah ya quraisy, ya fulan, qobilah fulan bin fulan yang mereka seru adalah bukan kepada Islām tapi taasub terhadap golongan-kesukuan

maka Nabi ﷺ ketika mendengar

يَا لَلْمُهَاجِرِينَ … يَا لَلْأَنْصَارِ

Beliau keluar & mengatakan kenapa kalian masih menyeru kepada seruan ahlu jahiliyyah, wala dan baro nya bukan kepada Islām

ثُمَّ قَالَ مَا شَأْنُهُمْ

Kemudian beliau menyebutkan tentang apa yang terjadi diantara mereka

فَأُخْبِرَ بِكَسْعَةِ الْمُهَاجِرِيِّ الْأَنْصَارِيَّ

Kemudian beliau dikabarkan tentang apa yang terjadi
(ada seorang Muhajirin dia memukul/menendang pantatnya seorang Anshor)

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan tinggalkan ini karena sesungguhnya adalah jelek (busuk). Maksudnya adalah ta’asub dengan selain Islām meskipun itu ta’asub terhadap Muhajirin & Anshor yang mereka adalah laqob² ini ada didalam Al Quran tapi kalau menggunakan laqob² tersebut Muhajirin & juga Anshor & menjadikan dia ta’asub bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, kalau ta’asubnya terhadap Islām orang Anshor juga Islām orang Muhajirin juga Islām, kenapa dia memanggil Ya Ahlal Anshor/Muhajirin, berarti disini ta’asubnya bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, karena sama² Muhajirin karena ta’asubnya dengan Muhajirin.

Kalau Taasubnya adalah benar yaitu Ta’asubnya adalah kepada Islām maka dia memandang juga Anshor karena Anshor juga Muslimin & juga sebaliknya. Maka dakwah seperti ini dakwah kepada selain Islām tapi kepada golongan kepada orang per orang selain Nabi ﷺ maka ini adalah dakwah jahiliyyah disifati oleh Nabi ﷺ

فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Ini adalah perkara yang jelek/busuk.

Didalam shahih Muslim

كن مع النبي صلى الله عليه وسلم في غزات

Ini adalah didalam sebuah peperangan

فكسع رجل من المهاجرين رجل من الأنصاري فقال الأنصاري يا للأنصار فقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فقال رسول الله ﷺ ما بال دعوى الجاهلية

Kalau tadi

ما بال دعوى أهل الجاهلية
قالوا يا رسول الله كسع رجل من الْمُهَاجِرِين رجلا من الأنصار فقال دعوها فإنها منتنة فسمع بذلك عبد الله بن أبي فقال فعلوها أما والله لئن رجعنا إلى المدينته ليخرجن الأعز منها الأذل..

Itu adalah kisah yang sebenernya sebagaimana kisah ini diisyaratkan didalam nukilan syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Setelahnya.

Jadi lafadz (shahih Muslim)

ما بال دعوى الجاهلية

Di dalam shahih Bukhori

ما بال دعوى أهل الجاهلية

Tidak ada kalimat – وأنا بين أظهركم – mungkin disini beliau karena menukil dari ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan – أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟ – akhirnya beliau mengikuti & khusnudzon terhadap syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang lafadz Ini, dan ini pentingnya kita (jika sebagai thulabul ilmu) maka jika Kita masih bisa kembali kepada nukilan yang ada didalam kitab asalnya itu lebih baik, karena disana terkadang pengarang menukil dengan makna mungkin benar mungkin salah.

Jadi kalau kita bisa kembali kepada asalnya maka ini lebih baik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation