Category Archives: HSI ABDULLAH ROY

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 100 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud Bag 02 (Selesai)

Halaqah 100 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud Bag 02 (Selesai)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-100 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud

حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الحِلَقِ

Sampai beliau Abdullah bin Mas’ud mendatangi satu halaqah diantara halaqah-halaqah tadi, karena mungkin halaqahnya banyak, besar mesjidnya, kalau berbicara dengan semuanya mungkin tidak akan sampai, akhirnya didatangi satu halaqah saja

فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟

Apa ini yang sedang aku lihat kalian melakukannya, beliau ingin tahu apa yang menjadi sebab mereka melakukan perkara ini, tidak langsung menghukumi

قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ!

Mereka mengatakan wahai Abu Abdurrahman

حصًا

Ini adalah kerikil-kerikil, karena mereka bawa kerikil dalam masjid. Mereka mengatakan ini adalah kerikil kerikil yang kami menghitung dengannya

نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ

kami menghitung dengannya takbir tahlil dan juga tasbih, itu saja tidak ada yang lain

قَالَ

maka beliau mengatakan, barulah di sini beliau lebih yakin dengan apa yang dikatakan oleh Abu Musa Al Asy’ari, benar seperti yang diucapkan oleh Abu Musa, mereka menghitung takbir tahlil dan tasbih dengan kerikil kerikil tadi

قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ! فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ

maka hendaklah kalian menghitung kejelekan-kejelekan kalian saja, maka aku menjamin bahwasanya tidak akan hilang dari kebaikan kebaikan kalian sedikitpun. Apa yang tadi diucapkan kepada Abu Musa Al Asy’ari, beliau mengatakan kenapa engkau tidak mengucapkan, beliau langsung praktekkan, kalau memang tadi tidak sempat diucapkan oleh Abu Musa Al Asy’ari sekarang beliau praktekkan sendiri, beliau mengatakan kepada mereka

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ

Beliau yang mendorong dan beliau juga yang mengamalkan apa yang didakwahkan, hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, muhasabahlah kalian, dan jangan kalian menghitung kebaikan-kebaikan seperti ini, menghitung tahlil menghitung takbir menghitung tasbih karena aku menjamin bahwasanya kebaikan-kebaikan tersebut tidak akan sia-sia di sisi Allāh ﷻ, Allāh ﷻ akan menghitungnya, kalian tidak menghitung Allāh ﷻ yang menghitung, Allāh yang menghitungnya Allāh ﷻ yang mengumpulkannya dan mereka sudah melupakan yang demikian

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Ini beliau berbicara tentang perkara-perkara yang di luar syariat, adapun yang disyariatkan seperti 33 kali setelah shalat, takbir kemudian tasbih tahmid maka ini kita hitung karena memang disyariatkan adapun ini maka ini bukan perkara yang disyariatkan, seseorang menghitung-hitung takbirnya tasbihnya tahlilnya, zaman sekarang ada seperti alat untuk katanya tasbih digital menghitung berapa kali, ana takutnya masuk dalam perkara ini, lebih baik kita menghitung memuhasabah kesalahan kita daripada menghitung Hasanah tersebut dan yakinlah bahwasanya Hasanah tersebut tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ

Kemudian beliau memberikan nasehat, karena beliau tahu ini adalah perbuatan bid’ah

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Celaka kalian wahai umatnya Muhammad

مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ

Sungguh cepat kehancuran kalian, kemudian beliau menyebutkan bagaimana cepatnya

هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ

mereka para sahabatnya Muhammad ﷺ di antara kalian mutawāfirūn mereka masih banyak sekali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al Asy’ari dan juga para sahabat yang lain, mutawāfirūn ada di sekitar kalian yang kalian tahu bahwasanya mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ, harusnya tergerak hati kalian untuk bertanya kepada mereka karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Nabi ﷺ

وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ

dan ini pakaian-pakaian beliau belum rusak, pakaian Nabi Muhammad ﷺ belum rusak menunjukkan waktu yang sangat sebentar antara kematian Nabi ﷺ dengan kejadian saat itu, para sahabat belum pada meninggal mutawāfirūn masih banyak, berarti jarak antara kejadian tadi dengan meninggalnya Nabi ﷺ adalah jarak yang sebentar

وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ

dan bejana bejana beliau, gelas beliau atau yang digunakan untuk masak belum pecah, masih pada utuh, ini menunjukkan tentang masih pendeknya jarak antara kematian Nabi ﷺ dengan kejadian saat itu, kok sudah terjadi bid’ah, ini sangat keterlaluan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

Kemudian beliau memberikan nasehat kepada mereka, dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

Ini adalah dakwah beliau ingin mengingatkan mereka, dan lihat bagaimana pemahaman Abdullah bin Mas’ud dan bagaimana beliau membuat kata-kata yang tidak akan bisa mereka menjawabnya, seandainya mereka berusaha menjawabnya pasti di sana ada jawaban yang lain dari Abdullah bin Mas’ud yang intinya bahwasanya mereka salah, dan yang seperti ini adalah hibah dari Allāh ﷻ, membuat sebuah pertanyaan dan konsekuensi dari dua pertanyaan ini baik jawaban yang pertama maupun jawaban yang kedua menunjukkan tentang kesalahan dia

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kalian ini berada di sebuah cara sebuah millah yang lebih benar, lebih mendapatkan petunjuk daripada millahnya Muhammad, itu pilihan yang pertama, karena yang kalian lakukan ini belum pernah kami lihat, yaitu kami para sahabat belum pernah melihat ini dilakukan oleh Nabi ﷺ, sekarang kami mengikuti Beliau ﷺ. Apakah kalian ini di atas cara yang lebih baik daripada caranya Muhammad ﷺ, itu yang pertama, atau yang kedua

مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

atau kalian ini sedang membuka pintu kesesatan, disuruh memilih antara dua ini, atau sedang membuka pintu kesesatan, karena Nabi ﷺ apa yang belia bawa ini adalah petunjuk bagi manusia, kalau mereka menjawab jawaban yang pertama tidak mungkin, kalau sampai mereka mengatakan iya petunjuk kami lebih baik daripada petunjuknya Muhammad ﷺ maka tidak mungkin itu diucapkan oleh mereka. Berarti tidak tersisa kecuali pilihan yang kedua dan ini tidak mungkin mereka mengucapkan juga, akhirnya mereka tidak bisa mengucapkan kecuali mengatakan, kan niat kami baik

قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! مَا أَرَدْنَا إِلَّا الخَيْرَ

Akhirnya mengatakan demi Allāh ﷻ wahai Abu Abdurrahman niat kami baik, tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan saja, itu saja yang kita inginkan, kita hanya ingin menunjukkan cinta kami kepada Nabi ﷺ, kami ingin memperbanyak dzikir kepada Allāh ﷻ, kan niat kami baik, tidak mungkin mereka menjawab salah satu diantara pilihan tadi, apa yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud dengan pemahaman beliau

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Dan berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, dia tidak mendapatkan kebaikan, kita masing-masing punya keinginan tapi tidak semua keinginan baik yang kita inginkan kita dapatkan. Ada orang ingin mendapatkan jabatan tertentu, dia ingin, punya keinginan tapi belum tentu dia kesampaian, ada orang ingin menjadi ulama tapi belum tentu dia kesampaian, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi dia tidak mendapatkan kebaikan tersebut, ini kalimat yang mereka pun juga memahami, iya betul tidak semua orang yang menginginkan sesuatu kemudian dia mendapatkan sesuatu tersebut, berarti kaidah ini ingin beliau sampaikan kepada mereka, kalian menginginkan kebaikan tapi kalian tidak mendapatkan kebaikan tersebut, kalian ingin mendapatkan pahala tapi kalian tidak mendapatkan pahala tersebut, karena cara yang kalian lakukan tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Ini adalah kata-kata yang sangat halus dari Abdullah bin Mas’ud, dengan kata-kata ini orang yang berakal maka dia akan memahami, dan ini menunjukkan bahwasanya niat yang baik itu tidak cukup, sebagaimana telah berlalu

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Ada a’malnya, tidak cukup dengan hanya memiliki niat yang baik saja, Allāh ﷻ melihat niat yang baik dan juga dzhahirnya

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا: أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ

Di saat itu beliau ingat apa yang pernah diceritakan oleh Nabi ﷺ, Beliau ﷺ pernah cerita kepada kami bahwasanya ada sebuah kaum, yaitu kelak akan datang sebuah kaum yang mereka membaca Al-Quran dan tidak sampai bacaan Quran tadi ke tenggorokan mereka, sudah kita sebutkan hadit- haditsnya.

Abdullah bin Masud dan para sahabat Nabi ﷺ secara umum, kalau Nabi ﷺ mengabarkan sesuatu yakin bahwasanya itu akan terjadi, mereka ingat-ingat terus, pas kejadian ini mereka langsung ingat apa yang mereka dengar dari Nabi ﷺ, jangan-jangan ini, jangan-jangan yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ itu adalah ini, orang yang membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, yaitu tidak dipahami dengan hatinya tapi mereka hanya memperbanyak tilawahnya secara lisannya saja

، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي

Demi Allāh ﷻ aku tidak tahu, karena beliau tidak bisa meyakinkan yang demikian, mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, yaitu sebagian besar yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ tadi, membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, itu adalah dari kalian. Ini adalah firasat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau juga tidak menjazm, beliau tidak memastikan, beliau mengatakan lā adri aku tidak tahu mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, karena beliau melihat, ini ada Abdullah bin Mas’ud, ada Abu Musa Al Asy’ari dan ada para sahabat yang lain kok berani-beraninya melakukan bid’ah, melakukan amalan yang tidak pernah di lakukan oleh Nabi ﷺ

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkan mereka, beliau hanya sebagai seorang ulama kewajiban beliau hanya sekedar menyampaikan adapun menta’zir, menghukum maka ini adalah haknya Abu Musa Al Asy’ari, kalau memang beliau mau menta’zir.

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Akhirnya beliau meninggalkan mereka

فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ

Berkata ‘Amr ibn Salamah, ini adalah yang mengikuti kejadian tadi, muridnya dari Abdullah bin Mas’ud

رَأَيْت عَامَّةَ أُولَئِكَ الحِلَقِ

Aku melihat seluruhnya orang-orang yang menghadiri majelis tadi, yang menghadiri halaqah-halaqah tadi menunjukkan ‘Amr ibn Salamah beliu juga mungkin orang kufah, sehingga beliau juga mengenal orang-orang tadi, mungkin ada diantara mereka yang tetangganya atau yang pernah membeli di sana dan seterusnya, beliau melihat siapa-siapa yang datang saat itu, beliau menceritakan aku melihat semua mereka ini ternyata mereka ini

يُطَاعِنُونَا

ternyata mereka memerangi kami dengan senjata mereka, melukai kami berusaha untuk membunuh kami

يَوْمَ النَّهْرَوَانِ

di hari nahrawan, ini adalah peperangan besar antara Ali bin Abi Thalib dengan orang-orang khawarij, itu dinamakan dengan nahrawan

مَعَ الخَوَارِج

ternyata mereka memerangi kami bersama orang-orang khawarij, adapun ‘Amr ibn Salamah maka beliau bersama Ali bin Abi Tholib dan juga tentaranya memerangi orang-orang khawarij tadi.

Dari sini diambil pelajaran, ternyata bid’ah yang kecil awalnya hanya sekedar bid’ah amaliah, lama-kelamaan, apa lagi di situ keadaan seperti yang tadi kita sebutkan belum lama, para sahabat masih banyak dan mereka tidak mau bertanya menunjukkan tentang khubutsnya mereka, buruknya hati mereka, betapa parahnya penyakit yang ada di dalam hati mereka, tidak ada penghormatan terhadap para sahabat, akhirnya terus mereka melakukan bid’ah amaliah tadi sampai akhirnya membawa mereka kepada bid’ah I’tiqadiah, bersama orang-orang khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Tholib.

Awalnya meremehkan sahabat, akhirnya mengkafirkan seorang sahabat dan mengkafirkan orang-orang yang bersama Ali bin Abi Tholib, sehingga mereka bersama orang-orang khawarij, dan ini menunjukkan dari bid’ah yang kecil tadi akhirnya menghalalkan darah orang lain. Dan demikian syaithan, diajak untuk melakukan bid’ah lama-kelamaan di berikan wahyu diberikan was-was, bahwasanya orang yang tidak melakukan seperti yang anda melakukan berarti dia keluar dari agama Islam, kalau dia keluar dari agama Islam maka halal darahnya.

Dan demikian ahlul bid’ah awalnya adalah dari bid’ah yang kecil kemudian merembet dan berkembang menjadi bid’ah yang yang besar. Ini tentunya tahdzir dari bid’ah itu sendiri, jangan kita meremehkan, ah kan cuma mengikuti tahlilan saja tidak masalah, kan cuma menghadiri maulid Nabi ﷺ saja, tidak bisa kita meremehkan yang demikian, dari bid’ah yang kecil itulah dikawatirkan nanti akan berkembang menjadi bid’ah yang besar.

Disini beliau mengatakan Wallāhu a’lam bishshawab shallallahu ala muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam tasliman katsiran ilā yaumiddīn, dan Allāh-lah yang lebih mengetahui tentang kebenaran dan semoga shalawat atas Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya dan para sahabatnya dan juga keselamatan dengan keselamatan yang banyak sampai hari kiamat.

Dengan demikian kita menyelesaikan kitab yang sangat bermanfaat ini yaitu Fadhlul Islam, semoga Allāh ﷻ memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan membalas Mu’allif Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dengan balasan yang lebih baik. Wallāhu ta’ala a’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud

وَقَالَ الدَّارِمِيُّ

Berkata ad-Darimiy yaitu didalam sunannya

أَخْبَرَنَا الحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ، أَنبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ

Berkata ad-Darimiy, telah mengabarkan kepada kami Al-Hakam ibnul mubarok, telah mengabarkan kepada kami ‘Amr ibn Yahya, beliau mengatakan aku mendengar bapakku menceritakan dari bapaknya, berarti kakek dari ‘Amr ibn Yahya. Ini adalah lafadz yang disebutkan oleh ad-Darimiy.

Kemudian beliau mengatakan

قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ

Beliau menceritakan kami sedang duduk

عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kami sedang duduk di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud, berati bukan hanya sendiri saat itu, dia dan juga para thullabul ‘ilm yang lain duduk bersama di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud

قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ

yaitu sebelum datangnya waktu shalat subuh, sebelum shalat subuh mereka sudah menunggu di depan rumahnya Abdullah bin Mas’ud ingin mengambil faedah dari perjalanan beliau dari rumahnya menuju ke masjid

فَإِذَا خَرَجَ؛ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى المَسْجِدِ

Apabila beliau keluar maka kami biasanya berjalan bersama beliu menuju ke masjid, tentunya dengan dhawabit yang disebutkan Syaikh Sholeh al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala, jangan sampai kita mentaḥrij beliau sehingga justru malah menyusahkan beliu dalam berjalan, seharusnya bisa berjalan lancar dengan cepat justru karena saling berdesak-desakan malah justru bukan menghormati beliau tapi menghinakan ‘alim tersebut, sendalnya copot misalnya, sampai jatuh, kesandung-sandung, ini bukan ihtirām tapi justru ihana kepada ‘alim tersebut

فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kemudian ketika kami dalam keadaan seperti itu datanglah Abu Musa Al Asy’ari, dan Abu Musa Al Asy’ari saat itu adalah sebagai Hakim, beliau sebagai Amir dan Abdullah bin Mas’ud sebagai ‘ālimnya, muftinya, dua-duanya adalah dua sahabat Nabi ﷺ, di kufah maka Abu Musa sebagai amirnya dan Abdullah bin Mas’ud di sini sebagai Muftinya.

Datang amir ini, gubernurnya datang sebelum subuh ke rumah Abdullah bin Mas’ud kemudian dia bertanya

فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟

Apakah Abu ‘Abdurrahmān sudah keluar kepada kalian, berarti Abu Musa Al Asy’ari tahu kebiasaan murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud di waktu tersebut, yaitu menunggu keluarnya Abdullah bin Mas’ud dan ini menunjukkan bahwasanya Amir tadi juga bangun sebelum subuh, ini zaman yang penuh dengan kebaikan saat itu, baik hukkamnya mahkumnya semuanya di atas ketakwaan kepada Allāh ﷻ

قُلْنَا: لَا

kami mengatakan belum keluar

فَجَلَسَ مَعَنَا

maka Abu Musa Al Asy’ari ikut duduk bersama kami, bukan terus misalnya gedor pintu karena beliau adalah gubernur kemudian semaunya saja membangunkan orang atau menyuruh orang lain keluar, tidak. Tawadhu’nya beliau, beliau juga ikut menunggu bersama murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud

فَجَلَسَ مَعَنَا

beliau pun duduk bersama kami menunjukkan keutamaan Abu Musa Al Asy’ari

فَلَمَّا خَرَجَ؛ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا

maka ketika beliau keluar akhirnya kami menyambut beliau semuanya, قُمْنَا إِلَيْهِ maksudnya berdiri kepada beliau, berarti berjalan menuju beliau, ini tidak masalah, yang dilarang kalau sampai alqiyāmu lahu, berdiri karena beliau.

Misalnya ada orang berjalan, dianggap dia adalah orang yang terhormat, sebelumnya kita duduk kemudian kita berdiri lahu ini tidak boleh, tapi kalau alqiyamu ilaihi, bangun ilaihi maksudnya menyambut beliau tidak masalah, kita sedang duduk di rumah kalau ada tamu kita berdiri menyambut beliau di pintu tidak masalah.

Mereka akhirnya berdiri ilaihi, yaitu bangun menuju kepada Abdullah bin Mas’ud

فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى

maka berkata kepadanya Abu Musa

يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! إِنِّي رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ

Wahai Abu Abdurrahman, kunyah dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid, berarti sebelumnya Abu Musa Al Asy’ari seorang gubernur di waktu tersebut berada di dalam masjid, aku melihat di sana ada sebuah perkara yang aku ingkari, maksudnya adalah tidak pernah aku melihatnya baik bersama Rasulullāh ﷺ, bersama kalian wahai para sahabat, أَنْكَرْتُهُ aku tidak pernah melihat yang demikian

وَلَمْ أَرَ – وَالحَمْدُ لِلَّهِ – إِلَّا خَيْرًا

dan Alhamdulillah aku tidak melihat kecuali kebaikan, Abu Musa Al Asy’ari tidak ada melihat di sana orang yang main musik atau orang yang minum-minuman keras di waktu sebelum subuh tadi tapi mereka di dalam mesdjid dalam keadaan beribadah, ini menunjukkan bagaimana kesungguhan diwaktu seperti itu mungkin jam 2, jam 1, mereka dalam keadaan berkumpul di mesjid melakukan ibadah tadi

قَالَ: فَمَا هُوَ؟

Abdullah bin Mas’ud mengatakan فَمَا هُوَ apa yang engkau lihat tadi

فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ

Abu Musa mengatakan kalau engkau masih hidup niscaya engkau akan melihat yang demikian, ini menunjukkan bagaimana ketergantungan para sahabat Nabi ﷺ sampai perjalanan dari rumah menuju mesjid tidak yakin kalau itu mereka masih bisa hidup sampai sana, sehingga mengatakan إِنْ عِشْتَ kalau engkau masih hidup engkau akan melihatnya. Bagaimana mereka terus memikirkan al-maut sehingga tidak yakin bahwa dia akan masih dalam keadaan hidup meskipun hanya jaraknya dekat antara rumah dengan masjid.

قَالَ: رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Maksud ucapan beliau ini إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ maksudnya engkau akan melihat sendiri bagaimana hakikatnya, hakikat dari apa yang aku lihat tadi, kemudian beliau menceritakan gambaran, inilah yang aku lihat tadi

رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Aku melihat di dalam mesjid sebuah kaum yang mereka membuat halaqah-halaqah, lingkaran-lingkaran جُلُوسًا mereka membuat lingkaran dalam keadaan mereka duduk, bukan dalam keadaan berdiri tapi dalam keadaan duduk dan melingkar dan itu ada beberapa halaqah

يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ

mereka dalam keadaan menunggu shalat (subuh)

فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُل

di dalam setiap halaqah tadi ada seseorang laki-laki, dianggap dia adalah sebagai pemimpinya

وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا

dan di dalam tangan-tangan mereka ada kerikil-kerikil

فَيَقُولُ

kemudian laki-laki yang ada di dalam setiap halaqah tadi yang di jadikan pemimpin dia mengatakan

كَبِّرُوا مِائَةً

Hendaklah kalian bertakbir 100 kali

فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً

akhirnya yang lain yang ada di halaqah tadi mengucapkan takbir 100 kali sesuai dengan aba-aba yang diucapkan oleh laki-laki tadi dan mereka menghitungnya dengan kerikil-kerikil tadi, Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar dan seterusnya masing-masing sudah punya hitungan sendiri-sendiri

فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan هَلِّلُوا مِائَةً hendaklah kalian bertahlil 100 kali

فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً

kemudian mereka mengucapkan lāilāhaillallāh 100 kali

وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan hendaklah kalian bertasbih 100 kali

فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً

kemudian mereka bertasbih 100 kali

قَالَ: «فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Ketika mendengar kisah ini maka Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa, karena beliau yang melihat dan beliau sebagai Amir kūfah

فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Apa yang engkau ucapkan kepada mereka, sebagai seorang Amir sebagai seorang pemimpin

قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ

Aku tidak mengucapkan bagi mereka sesuatu apapun karena menunggu pendapatmu, ini menunjukkan kehati-hatian Abu Musa Al Asy’ari, karena beliau melihat di situ tahlil takbir tasbih, mereka bukan main musik di masjid bukan minum minuman keras tapi mereka melakukan ibadah maka beliau menunggu pendapat dari Abdullah bin Mas’ud.

Yang menjadi sesuatu yang sangat disayangkan di sini, lihat bagaimana meremehkannya mereka terhadap sahabat Nabi ﷺ, di situ ada Abu Musa Al Asy’ari, orang yang pernah bertemu dengan Rasulullāh ﷺ, ada di masjid tersebut dan mereka berani untuk membuat bid’ah di dalam agama, kenapa mereka tidak bertanya kepada Abu Musa apakah demikian dulu Nabi ﷺ, apakah demikian dulu para sahabat Nabi ﷺ, ini menunjukkan di dalam hati mereka ada marādh (penyakit), menganggap remeh para sahabat Nabi ﷺ, nanti akan sampai bagaimana akibat dari bid’ah yang kecil ini

قَالَ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ

Apakah engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kejelekan-kejelekan mereka, daripada mereka melakukan amalan-amalan tadi menghitung tasbih 100 kali takbir 100 kali tahlil 100 kali kenapa tidak ditunjukkan kepada sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, yaitu muhasabah diri mereka, menghitung kejelekan-kejelekan mereka, menghitung dosa-dosa

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

Dan engkau menjamin bagi mereka bahwasanya tidak akan hilang kebaikan mereka sekecil apapun. Seandainya antum tidak menghitung shalat fardu yang selama ini antum lakukan dari semenjak baligh sampai sekarang, antum lupa berapa kali antum shalat fardhu, seandainya antum lupa berapa kali antum mengucapkan lailahaillallāh sejak pertama kali antum mengucapkan sampai sekarang, hilang tidak pahalanya, tidak.

Kalau kita tidak menghitung kebaikan-kebaikan tersebut jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ tidak akan dihilangkan oleh Allāh ﷻ, makanya di sini disebutkan

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

seandainya kita tidak menghitung 100, 1000 atau berapa kali kita melakukan amal shaleh tersebut jangan khawatir, Allāh ﷻ tidak akan menghilangkan, tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh tersebut. Ini lebih bermanfaat, jadi yang lebih bermanfaat seseorang adalah memuhasabah, menghitung kejelekan-kejelekan yang sudah dia lakukan, berapa kali ana melakukan dosa ini sehingga dengan dia mengingat dosanya dan semakin banyak dia mengingat dosanya semakin dia merasa takut, semakin dia memperbanyak istighfar, ini yang bermanfaat bagi seseorang, bukan dengan menghitung kebaikan-kebaikan tadi.

Ini menunjukkan fiqh dari Abdullah bin Mas’ud, yang lebih bermanfaat bagi mereka yaitu memuhasabah diri menghitung dosa-dosanya, adapun kebaikan-kebaikan tadi maka jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ

ثُمَّ مَضَى

akhirnya beliau berjalan menuju ke masjid

وَمَضَيْنَا مَعَهُ

Dan kamipun berjalan bersama beliau, ingin tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan oleh ālim kūfah kepada orang-orang tadi, ini diantara faedah melazimi seorang ālim, dia tahu apa yang terjadi, coba seandainya dia tidur di rumahnya tidak tahu apa yang terjadi, dan dia bisa mengambil faedah apa yang terjadi pada Abu Musa Al Asy’ari, tawadhu’nya beliau dan apa ucapan atau percakapan antara Abu Musa Al Asy’ari dengan Abdullah bin Mas’ud dan apa yang terjadi sebelum subuh, ini menunjukkan berkahnya waktu tersebut sehingga bisa disampaikan kisah ini kepada kita, seandainya Amr bin Salamah dan juga yang lain ini mereka dalam keadaan terlelap dengan selimutnya maka mungkin kisah ini tidak akan sampai kepada kita, tapi mereka adalah kaum yang memang Allāh ﷻ berikan kepada mereka keutamaan yang besar dan keutamaan yang banyak.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 98 | Pembahasan Dalil Kedua Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman

Halaqah 98 | Pembahasan Dalil Kedua Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-98 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَعَنْ حُذَيفَةَ، قَالَ: «كُلُّ عِبَادَةٍ

Dan dari Hudzaifah semoga Allāh ﷻ meridhai beliau, beliau mengatakan setiap ibadah

لَا يَتَعَبَّدَهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا

setiap ibadah yang tidak pernah melakukan ibadah tadi para sahabat Rasulullāh ﷺ,

فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا

maka janganlah kalian beribadah dengan ibadah tersebut, bercerminlah kepada para sahabat radhiallāhu anhu, jangan kita hanya mengandalkan dalil-dalil yang umum yang bisa dibawa ke sini, ke sana, tapi kita harus kembali kepada apakah ibadah ini pernah dilakukan oleh para sahabat. Kalau memang pernah mereka lakukan, ihmadullāh, berarti boleh kita melakukan ibadah tadi karena inilah yang dipahami oleh para sahabat Nabi ﷺ, kalau tidak فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا kalau tidak maka jangan kalian sekali-kali melakukan ibadah tadi.

Maulud Nabi ﷺ misalnya, mungkin sebagian orang mendatangkan banyak dalil

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِ

Atau dalil-dalil umum yang lain yang ingin menjelaskan kepada kita tentang pentingnya mencintai Nabi ﷺ. Langsung kita kembali kepada zaman para sahabat radhiallāhu ta’ala anhum, dan kita semuanya sepakat tidak ada yang lebih mencintai Nabi ﷺ dari pada para sahabat, cinta mereka sangat mendalam ditunjukkan oleh bagaimana pengorbanan mereka dan kisah-kisah mereka yang sangat menyentuh dan mengharukan dalam memperjuangkan dan membela Nabi ﷺ.

Ternyata tidak ada diantara mereka yang merayakan kelahiran Rasulullāh ﷺ, maka setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat jangan kita beribadah dengan ibadah tersebut

فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخَرِ مَقَالًا

karena sesungguhnya yang pertama, maksudnya adalah para sahabat Nabi ﷺ, mereka tidak meninggalkan untuk yang terakhir, yaitu untuk orang-orang yang datang setelahnya, مَقَالًا yaitu kesempatan untuk membuat ibadah yang baru, kurang lebih demikian.
Kalau memang itu disyariatkan, yakin sudah dilakukan oleh para sahabat. Mereka ini orang-orang pilihan, dipilih oleh Allāh ﷻ untuk menimba agama ini, menyampaikan kepada orang-orang yang datang setelah mereka dan dipilih oleh Allāh ﷻ untuk mengamalkan apa yang datang dari Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang yang getol di dalam beramal, meskipun mereka mungkin memiliki ilmu yang sedikit tapi mereka mengamalkan yang sedikit tadi.

Semakin banyak ilmunya semakin mereka beramal, dan apa yang disebutkan oleh Abu Abdurrahman as-Sulami

حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزها حتى يَتعلمُوا مَا فِيهَا مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَال فَتعَلمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جميعا

Telah mengabarkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kami Al-Qur’an diantara para sahabat Nabi ﷺ, seperti Utsman, Ubay, Abdullah ibn Mas’ud, mereka mengabarkan kepada kami bagaimana cara mereka dahulu menuntut ilmu. Dahulu mereka apabila mempelajari 10 ayat dari Nabi ﷺ, 10 ayat saja, maka mereka tidak melewati 10 ayat tadi sampai mereka mempelajari maknanya dan juga mengamalkan isinya, mereka tanya kalau memang ini mereka tidak tahu maknanya, sampai mereka benar-benar paham kemudian mereka amalkan, kalau sudah baru berpindah meminta kembali sepuluh ayat yang lain.

Itulah kaum tersebut yaitu para sahabat Nabi ﷺ, sehingga kalau demikian jangan kita mengira mereka meninggalkan kepada kita kesempatan untuk membuat bid’ah yang yang baru, semua sudah mereka terangkan semua sudah mereka amalkan. Tinggal kita bercermin saja, kalau diamalkan oleh para sahabat Nabi ﷺ, amalkan, tidak masalah, kalau tidak pernah diamalkan oleh mereka maka jangan kita beribadah dengan amalan tersebut.

Maka tentunya ini adalah tahdzir dari bid’ah, ucapan Hudzaifah ini adalah tahdzir dari membuat bid’ah di dalam agama

فَاتَّقُوْا اللَّهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءَ!

Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ wahai orang-orang yang qurrā’, dan yang dimaksud dengan qurrā’ di sini bukan istilah qurrā’ yang ada di zaman kita. Qurrā’ di zaman para sahabat radhiallāhu ta’ala anhum mereka adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan Al-Quran dan mengamalkan isinya, itulah qurrā’ dan mereka adalah ulama, ulama yang ‘āmilīn. Adapun qurrā’ di zaman sekarang maka ini adalah istilah bagi orang yang suaranya bagus atau mereka memiliki qiro’at, maka dikatakan dia sebagai seorang qari’ atau seorang qurrā’.

وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

Dan hendaklah kalian mengambil jalan orang-orang sebelum kalian, maksudnya adalah para sahabat Rasulullāh ﷺ, jangan kalian mengambil jalan yang lain

خُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

ambillah jalan orang-orang sebelum kalian. Ini nasihat beliau khusus kepada para qurrā’ dan maksudnya disini bukan berarti yang harus untuk mengikuti jalan para sahabat adalah qurrā’ saja.

Kenapa di sini beliau berbicara kepada qurrā’, karena mereka dicontoh oleh manusia. Kalau mereka Istiqomah di atas ilmu, di atas amal maka mereka akan melesat jauh ke depan karena mereka berilmu dan beramal dan orang yang berilmu dimudahkan oleh Allāh ﷻ jalan-jalan kebaikan

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

akan dimudahkan jalan menuju surga

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

kalau kalian Istiqomah maka kalian akan mendahului mereka dan melesat dengan jarak yang sangat jauh, tapi kalau sampai kalian tersesat menyimpang dari jalan yang lurus maka sungguh kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Makanya beliau memberikan nasehat ini kepada qurrā’ bukan berarti ini khusus bagi mereka tapi kedudukan mereka yang dicontoh dan diteladani oleh manusia, kalau sampai mereka menyimpang ini di belakang mereka banyak orang yang meniru mereka akhirnya mereka ikut menyimpang

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً؛ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ إلى يوم القيامة، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Beliau mengatakan disini

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Diriwayatkan atsar ini oleh Abu Dawud, tapi kalau kita kembali ke kitab Sunan Abi Dawud kita tidak menemukan yang demikian. Allāhu a’lam dan kita sudah berusaha untuk mencari, tidak kita dapatkan, apakah itu adalah sahwun dari muallif dan juga yang lain atau memang di sana ada nuskhah sunnan Abi Dawud yang di situ ada penyebutan atsar ini, tapi maknanya shahih (benar) tidak bertentangan dengan pondasi di dalam agama kita.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13-Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-97 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian setelah itu Beliau ﷺ mengatakan

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

maka sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang ilmu yang ghaib, menunjukkan tentang tanda kenabian Beliau ﷺ, akan terjadi perselisihan, tafarruq, perpecahan umat, dan perpecahan di sini bukan perpecahan yang qalīlan tapi disifati oleh Beliau ﷺ dengan ikhtilāfan katsīran, banyak sekali perselisihan yang membingungkan manusia, semakin banyak perselisihan semakin membuat mereka bingung.

Yang ini mengajak, yang itu menyuruh, yang ini mengiming-imingi, di kelompok ini ada si fulan dan mereka adalah orang-orang yang dikenal dan dia tahu, dalam keadaan dia bingung, tidak tahu mana yang harus dipilih dan apa yang harus dilakukan, tapi Nabi ﷺ memberikan petunjuk, bagaimanapun banyak perselisihan tadi tenang, karena Beliau ﷺ memberikan petunjuknya dan itu adalah jalan keselamatan yang kita yakini dengan seyakin-yakinnya.

Beliau ﷺ mengatakan

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku, ini adalah jalan keluar, kalau terjadi perselisihan yang banyak maka tidak usah kita ke mana-mana jalan keluarnya adalah dengan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ, dan sunnah Beliau ﷺ maksudnya adalah agama Beliau ﷺ yaitu berpegang teguh dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Maka inilah jalan keluar, bukan jalan keluarnya seperti dilakukan oleh sebagian mengatakan bahwasanya semua jalan-jalan tadi adalah benar, silakan antum mau mengambil yang ini atau yang itu semuanya adalah benar, atau jalan keluarnya kita saling memberikan udzur satu dengan yang lain di dalam apa yang kita perselisihkan, tidak usah mengatakan bahwasanya itu adalah aliran sesat, tidak usah mengingatkan manusia bahwasanya ini adalah aliran yang tidak benar, sudahlah kita saling memberikan unsur satu dengan yang lain, dengan demikian kita akan bersatu. Ini seakan-akan adalah solusi banyak orang yang tertipu dengan kalimat persaudaraan, tertipu dengan kalimat persamaan, dan itu ternyata bukan bukan solusi.

Kalau demikian caranya, termasuk diantaranya adalah presidensial kita antara muwahhidin dengan musyrikin, antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah, dibiarkan dan didiamkan, maka ini yang pertama kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan tentunya ini adalah menyelisihi apa yang diperintahkan di dalam Al-Quran maupun di dalam as-sunnah. Kalau kita diam membiarkan kesyirikan, membiarkan kebid’ahan maka berarti kita meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allāh ﷻ dan Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Dan dengan amar ma’ruf nahi mungkar kita menjadi umat yang terbaik,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

dan dengannya kita selamat

إِلَّا قَلِيلٗا مِّمَّنۡ أَنجَيۡنَا مِنۡهُمۡۗ

dan dengannya seseorang mendapatkan al-falah di dunia maupun di akhirat

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

[Aali Imrān: 104]

Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Dan ini adalah sifat orang-orang yang beriman sebagaimana dalam Al-Quran

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

[ At Taubah التوبة:71]

Ketika didiamkan kebid’ahan tadi, kesyirikan tadi berarti dia memadamkan syiar amar ma’ruf nahi mungkar, dan ini adalah sebab turunnya laknat Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ
بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ

[Al-Maidah 78-79]

Mereka dahulu tidak saling melarang dari kemungkaran.

Bukan itu cara penyelesaiannya dan bukan itu cara menyatukan umat. Caranya adalah dengan yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ di sini, kalau memang terjadi perselisihan ayo kita

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Tidak usah berselisih, kita semuanya kembali kepada sunnah Rasulullāh ﷺ, berpegang dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Beliau ﷺ. Inilah cara untuk mengatasi perselisihan tadi, kita kembali kepada jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi ﷺ. Yang melenceng ke kanan kembali ke tengah, yang melenceng ke kiri kembali ke tengah, dengan demikian kita akan berkumpul dan bersatu di tengah, di jalan Nabi ﷺ kemudian kita jalan bareng, itulah cara bersatu yang benar.

Ada pun membiarkan mereka diatas subul (jalannya) masing-masing maka ini membiarkan mereka di atas kesesatan, mendiamkan kemungkaran yang ada pada diri mereka. Ini bukan penyelesaian, bahkan dengan sebab ini mereka akan mendapatkan kehinaan, musuh akan menganggap remeh mereka.

Disebutkan dalam hadits, apabila kalian sudah saling berjual beli dengan ‘inah, salah satu jenis jual beli riba, dan kalian mulai memegang ekor-ekor sapi, maksudnya adalah sibuk dengan dunia kalian, dan kalian meninggalkan jihad fīsabilillāh, termasuk diantara jihad adalah jihad bil ‘ilm (dengan cara dakwah), maka ini adalah sebab Allāh ﷻ akan menjadikan, menguasakan kepada kalian dzullan, yaitu kehinaan, karena tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar.

Maka kita akan diliputi oleh kehinaan, kerendahan, dan Allāh ﷻ tidak akan mengangkat kerendahan dan kehinaan tadi sampai kalian kembali kepada agama kalian, kembali setelah sebelumnya kalian menjauh dari jalan yang lurus yang ditempuh oleh Nabi ﷺ, kembali kepada jalan yang lurus, kembali kepada Islam yang murni, itulah cara bersatu

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku

وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ

sunnah para khulafā’ yang mereka disifati, yang pertama rāsyidīn maksudnya adalah orang yang berilmu lurus dengan sebab ilmu yang mereka miliki, kemudian al-mahdiyyīn mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Ilmu yang mereka miliki mengantarkan mereka untuk mengamalkan, oleh karena itu khulafā’ ar rāsyidīn al-mahdiyyīn terkumpul di dalam diri mereka ilmu dan juga amalan dan ini adalah sesuatu yang jarang. Jarang seorang pemimpin dia sekaligus sebagai seorang yang ‘alim dan sekaligus dia adalah seorang yang ‘āmil ini adalah perkara yang jarang, biasanya seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, tidak memiliki ilmu atau memiliki ilmu sedikit, mengamalkan juga seadanya, sibuk dengan urusan dunianya.

Tapi kalau seorang pemimpin sampai terkumpul di dalamnya ilmu yang luar biasa dan juga mereka adalah orang yang sangat mengamalkan ilmunya maka inilah orang-orang yang pilihan, dan demikian sifat para khulafā’ur rāsyidīn al-mahdiyyīn, mereka adalah Abu bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali. Kalau kita kembali kepada sirah mereka kita, dapatkan tentang ilmu mereka yang dalam di dalam masalah agama dan amal juga demikian.

Maka kita disuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka, sunnah mereka adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ. Itulah jalan hidup para khulafā’ur rāsyidīn, jalan hidup mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ. Jangan dipahami bahwasanya mereka punya sunnah sendiri selain dari sunnah Nabi ﷺ, bahkan sunnah mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ.

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan sama aku lihat lah

تَمَسَّكُوا بِهَا

Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya, تَمَسَّك yaitu dengan tangan kalian

وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

dan gigitlah sunnahku tadi dengan gigi geraham kalian. تَمَسَّكُوا kita disuruh untuk memegang, tidak melepaskannya, ditambah lagi lebih menguatkan bukan hanya sekedar dipegang tapi juga digigit dan digigitnya bukan dengan sembarang giginya tapi dengan gigi geraham.

Maka ini adalah penguatan setelah penguatan, disuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ dan ini adalah bisa kita pahami dari perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah, peringatan dari melakukan bid’ah. Kita harus pegang, kita harus gigit jangan sampai kita berpaling kemudian kita lepaskan dan lebih kita memilih melakukan bid’ah di dalam agama, kita harus kuat didalam memegang sunnah ini.

Kemudian yang kedua

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, dan kalimat wa iyyākum maknanya adalah tahdzir, hati-hati, menunjukkan bahwasanya perkara yang setelahnya adalah perkara yang jelek yang bisa membahayakan kita, sehingga Nabi ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati kalian, waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, yaitu perkara yang baru, tidak ada di dalam sunnah Nabi ﷺ itu namanya مُحْدَثَات

Disana ada agama Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, disana ada perkara yang baru yang datang setelah agama Islam tadi, dinamakan dengan مُحْدَثَات الأُمُور. Beliau ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati, ini adalah segi yang kedua menunjukkan tentang tahdzir dari bid’ah, peringatan dari bid’ah itu sendiri.

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Karena sesungguhnya setiap sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, tidak dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah, segala sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ dan juga para sahabatnya khususnya para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

dan setiap bid’ah maka itu adalah sesat dan di dalam riwayat yang lain wa kulla dholālatin finnār dan setiap yang sesat itu tempat kembalinya di neraka, tentunya ini adalah juga tahdzir dari bid’ah.

Segi yang ketiga karena Nabi ﷺ mensifati bid’ah ini adalah sebuah kesesatan, berarti dari tiga sisi, minimal pertama dari sabda Beliau ﷺ

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

kemudian yang kedua adalah dari ucapan Beliau ﷺ

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

kemudian dari ucapan Beliau ﷺ

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

semuanya adalah ta’kid diatas ta’kid, penguatan dan penguatan selanjutnya tentang peringatan dari bid’ah, dan mungkin saja bisa dimasukkan di dalam kalimat

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ, masuk di dalamnya adalah menjauhi bid’ah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dan di sana ada imam-imam yang lain juga yang meriwayatkan hadits ini, dan termasuk diantaranya adalah Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan (Rahimahullahu Ta’ala)

بَابُ التَّحْذِيرِ مِنَ البِدَعِ

Bab tahdzir, peringatan, dari bid’ah-bid’ah.

Kembali beliau disini membuat sebuah bab yang mengingatkan kita tentang bahayanya bid’ah dan bahwasanya Nabi ﷺ dahulu beliau memperingatkan umat dari bid’ah, demikian pula para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, manhaj mereka sama, memperingatkan manusia dari bid’ah.

Dan pada bab-bab yang sebelumnya beliau rahimahullah telah membuat bab yang isinya juga peringatan dari bid’ah, menyebutkan tentang bahaya bid’ah, bahwasanya bid’ah lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar, maka ini adalah termasuk diantara peringatan, peringatan dengan menyebutkan bahaya dari dosa bid’ah tadi sehingga dia lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.
Demikian pula beliau membuat bab bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi pintu taubat dari shahibul bid’ah dan ini telah berlalu ketika beliau menyebutkan tentang bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi taubat bagi orang yang melakukan bid’ah, tentunya ini di dalamnya ada peringatan dari perbuatan bid’ah itu sendiri.

Maka di akhir kitab ini beliau ingin menguatkan kembali, yang sudah kita sampaikan di awal bahwasanya di dalam kitab ini syaikh ingin memprioritaskan, mengkonsentrasikan tentang masalah syahadat anna muhammadan rasulullāh dan bahwasanya konsekuensinya adalah seseorang berpegang teguh dengan sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Berbicara tentang Islam diawal, ingin sampai kepada keyakinan bahwasanya diantara Islam adalah menyerahkan diri didalam masalah tata cara ibadah sehingga diakhir kitab ini beliau ingin membawakan sebagian dalil yang isinya adalah peringatan dari bid’ah, dan beliau di sini sebutkan sedikit saja karena ini hanyalah sebagai penguat sedangkan dalil-dalil yang sebelumnya itu sudah banyak disebutkan oleh beliau tentang bahaya bid’ah itu sendiri.

Beliau mengatakan

عَنِ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ

Dari ‘Irbād ibn Sāriyah radhiallahu anhu

قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً

‘Irbād ibn Sāriyah mengatakan telah memberikan مَوْعِظَة kepada kami, telah memberikan nasihat kepada kami Rasulullāh ﷺ dengan sebuah nasehat yang sangat dalam, yang langsung mengena hati para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, dan Allāh ﷻ dialah yang menyuruh Nabi-Nya ﷺ untuk memberikan مَوْعِظَة, dan hendaklah engkau Muhammad memberikan مَوْعِظَة kepada mereka, dan disifati مَوْعِظَة Rasulullāh ﷺ saat itu adalah مَوْعِظَة yang بَلِيغَة yaitu مَوْعِظَة yang sangat dalam dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati manusia dan tentunya diiringi dengan keikhlasan kepada Allāh ﷻ karena ini adalah perintah dari Allāh ﷻ, Dia-lah yang memerintahkan beliau untuk memberikan مَوْعِظَة kepada orang-orang yang beriman.

وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ

Dengan sebab مَوْعِظَة yang dalam tadi akhirnya مَوْعِظَة yang ikhlas dengan kata-kata yang penuh dengan makna sampai kepada hati mereka sehingga menggetarkan hati mereka

وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُونُ

Disamping itu مَوْعِظَة yang dalam tadi juga memberikan pengaruh terhadap mata mereka sehingga bercucuranlah air mata para sahabat radhiallahu a’ala nhum yang mendengar مَوْعِظَة dari Nabi ﷺ saat itu. Ini menunjukkan tentang bagaimana مَوْعِظَة yang dalam yang diberikan oleh Nabi ﷺ saat itu kepada para sahabat radhiallahu anhu

قلنا يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka mengatakan wahai Rasulullāh ﷺ

كَأَنَّها مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ

Sepertinya ini adalah nasehat, arahan, مَوْعِظَة, peringatan dari orang yang akan berpisah, مُوَدِّع artinya adalah orang yang akan berpisah, orang yang akan meninggalkan kita. Orang yang akan meninggalkan maka dia akan berpesan dengan pesan yang menurut dia adalah pesan yang paling penting, mereka mencerna dari ucapan-ucapan Nabi ﷺ di sini bahwasanya beliau akan segera meninggalkan mereka, akan meninggal, akan meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum.

Inilah yang mereka pahami dari مَوْعِظَة nya Nabi ﷺ, karena Beliau ﷺ mereka merasakannya adalah orang yang akan berpisah dan berpisahnya adalah selama-lamanya, dan mereka mengenal bagaimana Nabi ﷺ memberikan selama ini cahaya, memberikan petunjuk, memberikan pengarahan, tentunya para sahabat radhiyallahu ta’ala anhum merasa takut dan khawatir ditinggal oleh Nabi ﷺ, hanya saja itu harus terjadi, sunnatullāh azza wa jall

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ

[ الـرحـمـن:26] Ar Rahman 26


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

[ آل عمران:185] Ali Imran `185

dan itu disadari oleh para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, bagaimanapun kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ pasti di sana ada waktu di mana mereka akan berpisah.

Maka mereka pun, dan ini adalah fiqihnya para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, pemahaman mereka Nabi ﷺ bagaimanapun kecintaan kita Beliau ﷺ akan pergi dan yang mereka butuhkan disini adalah petunjuk dan wasiat Beliau ﷺ.

Ketika Beliau ﷺ meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum apa sebenarnya wasiat dan pesan beliau untuk para sahabat radhiallahu ta’ala anhum saat itu. Inilah yang sangat mereka butuhkan, karena selama ini tentunya mereka para sahabat radhiallahu ta’ala anhum mendapatkan manfaat yang banyak, keluar dari kegelapan jahiliyah kemudian masuk ke dalam alam yang terang benderang, merasakan hidup yang sangat nikmat di dalam Islam maka mereka pun meminta kepada Nabi ﷺ untuk memberikan wasiat, yang wasiat itu akan mereka pegang sampai mereka meninggal dunia.

Mereka pun mengatakan fa’aushīnā, maka berikanlah wasiat kepada kami dan yang dimaksud dengan wasiat adalah pesan yang dikuatkan, itulah yang dimaksud dengan wasiat, bukan pesan biasa tapi dialah pesan yang dikuatkan, fa’aushīnā maka berikanlah wasiat kepada kami. Tentunya Nabi ﷺ yang disifati oleh Allāh ﷻ

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(QS. At Taubah: 128)

yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya.

Maka Beliau ﷺ memberikan wasiat kepada mereka dan tentunya wasiat disini bukan wasiat sembarang wasiat, ini adalah wasiat dari Nabi ﷺ maka itu adalah sebuah keistimewaan, kemudian yang kedua disampaikan oleh Nabi ﷺ di hari-hari yang mendekati kematian Beliau ﷺ dan tentunya orang yang demikian memberikan nasehat yang paling penting. Antum misalnya ingin meninggalkan orang yang antum kenal atau keluarga antum dan antum memberikan wasiat kepada mereka tentunya isi wasiat tadi adalah wasiat-wasiat yang menurut antum itu adalah hal yang paling penting, antum tidak akan berwasiat kepada mereka dalam perkara-perkara yang remeh apa yang menurut antum itu adalah penting itulah yang antum sampaikan.

Maka Nabi ﷺ memberikan wasiat, kemudian Beliau ﷺ mengatakan

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian dengan taqwa kepada Allāh ﷻ, sebelum wasiat-wasiat yang lain maka Beliau ﷺ berwasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ dan ini adalah wasiat Allāh ﷻ untuk orang-orang yang terdahulu dan untuk kita. Allāh ﷻ mengatakan

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

(QS. An-Nissā: 131)

Dan sungguh Kami telah wasiatkan kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian supaya kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ.

Oleh karena itu Nabi ﷺ mendahulukan wasiat taqwa ini sebelum yang lain

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, dan takwa kepada Allāh ﷻ ini adalah kalimat yang jāmi’, kalimat yang menyeluruh, orang yang memberikan wasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ berarti dia telah memberikan wasiat untuk melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan berbagai larangan, sebagai ganti dia menyebutkan satu persatu. Hendaklah engkau sholat, hendaklah engkau zakat, hendaklah engkau shalat tahajud, hendaklah engkau shodaqoh dan seterusnya, janganlah engkau riba, janganlah engkau minum minuman keras, janganlah engkau lalai dari dzikrullāh, semua itu bisa digantikan dengan kalimat taqwa, karena taqwallāh artinya adalah menjadikan antara diri kita dengan Allāh ﷻ (dengan azab Allāh ﷻ) wiqāyah, yaitu penjagaan.
Demikian disampaikan oleh sebagian ulama, yang dimaksud dengan taqwa kepada Allāh ﷻ engkau menjadikan antara dirimu dengan azab Allāh ﷻ penghalang, berupa menjalankan perintah dan menjauhi larangan, kalau kita tidak menjalankan perintah berarti tidak ada penghalangnya nanti, kalau kita tidak menjauhi larangan maka nanti tidak ada penghalang sehingga seseorang akhirnya diazab, tapi dengan dia menjalankan perintah menjauhi larangan Allāh ﷻ maka ini adalah sebab dia terhindar dari azab Allāh ﷻ.

Oleh karena itu sebagian yang lain yaitu Talq bin Habib, beliau mengatakan

أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله

Engkau melaksanakan amalan itu, menjalankan perintah, diatas cahaya dari Allāh ﷻ, jadi bukan hanya sekedar mengamalkan tapi harus mengamalkan diatas cahaya, yang dimaksud cahaya dari Allāh ﷻ adalah ilmu dari Allāh ﷻ yang ada di dalam Al-Quran dan juga didalam Hadits, itu adalah cahaya petunjuk dari Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya menjalankan perintah harus berdasarkan dalil. Kemudian

ترجو ثواب الله

Engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, harus ada mengharap pahala berarti di sini ada dua syarat diterimanya amal, pertama adalah ittiba’ yang ada di dalam على نور من الله di atas cahaya dari Allāh ﷻ, maka ini adalah isyarat kepada ittiba’ adapun keikhlasan maka diisyaratkan di dalam ucapan beliau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, jadi sejak dahulu sudah di isyaratkan tentang dua syarat diterimanya amal.

Kemudian

وأن تترك معصية الله

Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allāh ﷻ

على نور من الله

Diatas cahaya dari Allāh ﷻ

تخافو عذاب الله

Engkau takut dari azab Allāh ﷻ. Ini juga sama di dalam meninggalkan larangan juga harus berdasarkan dalil, jangan sampai seseorang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allāh ﷻ. Kemudian juga harus ikhlas meninggalkan larangan tadi bukan karena ingin mendapatkan dunia tapi tujuannya adalah karena dia takut dengan azab Allāh ﷻ, ini juga ikhlas didalam menjauhi larangan, karena ada sebagian menjauhi larangan mungkin karena kepentingan dunia saja. Ana kalau berzina takut nanti kena penyakit ini berarti bukan karena Allāh ﷻ tapi karena dunia, suatu dunia yang dia inginkan bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ, ana kalau minum minuman keras takut gula ana tambah naik, maka ini bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ tapi karena urusan dunia saja .

Kapan dinamakan taqwa kalau takutnya adalah karena Allāh ﷻ, oleh karena itu kalimat تَقْوَى اللَّه di sini adalah jami’, dia adalah wasiat dengan seluruh kebaikan, menyuruh kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan wasiat meninggalkan seluruh larangan, maka wasiat yang paling baik yang paling menyeluruh adalah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ telah mewasiatkan dengan taqwa ini nabi-Nya, ittaqillah kata Allāh ﷻ kepada nabi-Nya ﷺ dan menyuruh orang-orang beriman untuk bertaqwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa…”

(QS. Ali-Imran[3]: 102)

Dan menyuruh manusia secara keseluruhan untuk bertaqwa

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ

[An-Nisa’ : 1]

dan kalau kita diminta orang lain untuk memberikan wasiat jadikanlah wasiat yang pertama adalah wasiat untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, sebab banyak manusia yang mereka tidak memahami tentang taqwa ini padahal sering disampaikan oleh khatib.

Inilah yang dipilih oleh Nabi ﷺ di dalam wasiat ini, kemudian yang kedua wasiat Beliau ﷺ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Dan mendengar dan taat

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Mendengar dan taat maksudnya adalah kepada penguasa, apabila antum menemukan isma’ wa aṭhi – tasma’u wa tuṭhi’ maka maksudnya adalah mendengar dan taat kepada penguasa

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

meskipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak dan ini menguatkan apa yang kita sebutkan baru saja bahwasanya maksud mendengar dan taat disini adalah kepada penguasa karena disebutkan setelahnya meskipun yang memerintahkan kalian, yang menguasai kalian adalah seorang budak.

Coba antum ta’ammul, ketika Nabi ﷺ diminta untuk memberikan wasiat, dan sudah kita katakan tentunya Beliau ﷺ akan memberikan wasiat yang paling penting menurut Beliau ﷺ, ternyata Beliau ﷺ memulai dengan taqwallah dan yang kedua ternyata Beliau ﷺ memberikan wasiat supaya kita mendengar dan taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang ahammiyah dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa ini di dalam agama Islam.

Oleh karena itu para ulama yang menulis tentang masalah aqidah tidak lupa mereka senantiasa menyebutkan perkara ini dalam kitab-kitab aqidah mereka, silahkan antum membuka

aqidah thahawiyah,

al-aqidah al-wasithiyah, l

um’atul i’tiqad,

syarah ushul i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah,

syarhus sunnah al-barbahari, dan seterusnya

antum akan dapatkan pembahasan ini yaitu tentang mendengar dan taat kepada penguasa, karena dia adalah pondasi diantara pondasi-pondasi aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang membedakan antara mereka dengan aliran aliran yang sesat dan Nabi ﷺ tidak heran kalau Beliau ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua.

Umar bin Khattab radhiallāhu anhu ketika beliau menyebutkan tentang Islam dan juga tentang pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa beliau mengatakan lā islāma illā bi jama’ah, tidak ada Islam kecuali dengan ijtima, kecuali kita berkumpul, karena sebagian besar syariat demikian, tidak bisa kalau kita tegakkan kecuali dengan adanya ta’awun, kerjasama di antara kita, adanya ijtima’ kalimah

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ

Dan tidak ada ijtima’, tidak mungkin ada perkumpulan kecuali kalau di sana ada kekuasaan, di mana-mana namanya perkumpulan kalau ingin perkumpulan tadi langgeng maka harus ada orang yang diangkat menjadi pemimpin. Sebuah rumah kalau tidak ada pemimpinnya kemudian masing-masing menganggap dirinya berkuasa, masing-masing berjalan sendiri, tidak mau diatur oleh orang lain maka akan kacau rumah tadi, sebuah sekolah kalau di sana tidak ada kepala sekolah dan masing-masing merasa berkuasa merasa berhak untuk memerintah membuat peraturan maka juga akan kacau

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

Tidak ada kekuasaan kecuali harus ada yang mendengarkan dan mentaati, kalau misalnya ada pemimpin tapi rakyatnya tidak mau mendengar dan taat maka tidak ada faedahnya dan tidak ada manfaatnya adanya kekuasaan, karena maksud adanya pemimpin adalah untuk di taati dan juga didengarkan, kalau misalnya tidak ada yang mau mentaati beliau, tidak ada yang mau mendengarkan beliau apa gunanya diangkat pemimpin tersebut lihat awalnya tadi beliau mengatakan

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ

Disebutkan Islam dan diakhir beliau mengatakan

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

As-sam’u waththā’ah ujungnya dan ujung yang disana adalah Islam. Menunjukkan tentang bagaimana hubungan yang erat antara mendengar dan taat nya kita kepada pemimpin dengan tegaknya Islam, sangat erat hubungannya. Seandainya kita mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa melihat kesungguhan kita di dalam mendengar dan taat akhirnya negara menjadi tenang jadi tenteram, orang mau melakukan kegiatan ekonomi, berbisnis, bekerja, belajar berkunjung, berdakwah, perkara dunia, ataupun dia melakukan perkara-perkara yang berkaitan dengan agamanya, menuntut ilmu agama, berdakwah, bermulazamah, menulis, kalau negara dalam keadaan tenang maka semuanya itu insya Allāh biidznillāh akan lancar dan mudah untuk dilakukan.

Akan tegak shalat berjamaah, akan lancar kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren, yang ada di sekolah, yang ada di sekolah tinggi, dengan mudah antum kapan-kapan sewaktu-waktu untuk melakukan umrah, melakukan haji, berdakwah di mesjid-mesjid, kapan itu terjadi, ketika rakyat mengetahui tentang kewajibannya mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa mereka mengetahui tentang kewajiban mereka menegakkan Islam, menegakkan keadilan.

Namun sebaliknya ketika rakyat tidak melakukan kewajibannya, tidak mendengar dan taat, bahkan menarik kembali baiatnya kepada penguasa, memberontak, mengangkat senjata kepada penguasa nya akhirnya penguasa pun tidak tinggal diam, berusaha untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan yang terjadi sehingga terkadang orang yang tidak ikut-ikutan pun juga terkena korbannya, yang ini dicurigai, yang itu dianggap sedang membuat rencana dan seterusnya akhirnya terjadi fitnah yang besar, kekacauan.

Dan di tengah kekacauan tadi ada sebagian orang yang mungkin tidak bertanggung jawab berusaha untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, menjarah, memperkosa, mengambil sesuatu yang bukan haknya, karena itu mereka lakukan ketika terjadi kekacauan, sudah tidak ada tentara misalnya, sekolah ini ditinggalkan oleh murid-muridnya, oleh gurunya, dan seterusnya yang ada adalah barang-barang berharga diambil oleh orang, karena mereka lari dalam keadaan ketakutan, antum bisa bayangkan apa yang terjadi ketika terjadi kekacauan tadi.

Maka jangan berharap ketika dalam keadaan kacau tadi, jangan berharap antum bisa ke mesjid dalam keadaan tenang, jangan berharap kita bisa bisnis membuka warung, membuka toko dalam keadaan kita tenang, sampai yang online pun kalau dalam keadaan kacau internet tidak jalan, pihak pengiriman juga tidak jalan, mungkin dari pihak pesawat terbang juga tidak beroperasi dan seterusnya, semua kegiatan baik yang berkaitan dengan ekonomi maupun dunia maupun agama bisa terhambat dengan sebab kekacauan ini.

Oleh karena itu tidak heran apabila Nabi ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua setelah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan taat, dan wasiat mendengar dan taat pada asalnya masuk di dalam wasiat bertaqwa. Tadi kita sebutkan bahwasanya taqwa ini kalimat yang jami’ah mencakup didalamnya seluruh kebaikan, termasuk diantaranya mendengar dan taat kepada penguasa ini masuk di dalam wasiat bertaqwa kepada Allāh ﷻ. Ketika Beliau ﷺ menyendirikan dan dikeluarkan secara tersendiri dan dikhususkan penyebutannya menunjukkan tentang pentingnya wasiat tadi.

Kita misalnya mengatakan kepada anak kita ketika kita mau pergi, tolong adik-adiknya dijaga, dijaga si fulan, padahal si fulan tadi masuk di dalam kalimat adik-adiknya tapi dia ulangi lagi untuk menegaskan supaya memiliki perhatian yang lebih kepada si fulan, karena dia sakit atau dia lumpuh dan seterusnya maka Nabi ﷺ mengulang kembali dan menjadikan wasiat tersendiri menunjukkan tentang kedudukan dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa di dalam agama kita, ditambah lagi Beliau ﷺ kuatkan

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak, ini menunjukkan tentang penguatan lagi, meskipun, meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak. Orang Arab sebagaimana kita tahu bahasanya yang namanya budak ini memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada orang-orang yang merdeka, mereka yang disuruh, mereka yang diperintahkan, mereka yang dijual, mereka yang dibeli, mereka yang dibentak, itu adalah keadaan seorang budak. Tentunya apabila budak yang sebenarnya keadaannya adalah diperintahkan suatu saat dia menjadi yang memerintahkan kita, ini adalah perkara yang berat bukan perkara yang ringan, dia menyuruh kita, biasanya kita yang menyuruh kok dia yang menyuruh, seandainya itu terjadi padahal itu adalah perkara yang berat maka nasehat Beliau ﷺ dan wasiat Beliau ﷺ adalah

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Kalian tetap diwajibkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun berat hati kita, mungkin benci hati kita tapi harus mendengar dan taat sesuai dengan wasiat Nabi ﷺ, maka kita ingat bahwasanya ini adalah wasiat Nabi ﷺ kalau memang kita cinta kepada Beliau ﷺ maka laksanakanlah wasiat Beliau ﷺ, kita harus dahulukan ucapan dan wasiat Beliau ﷺ di atas hawa nafsu kita, di atas ucapan seluruh manusia

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semua manusia, meskipun si fulan tidak mendengar dan taat kepada penguasa, si fulan memberontak kepada penguasa, kita jangan dahulukan ucapan mereka dan perilaku mereka di atas wasiat Nabi ﷺ. Untuk kepentingan kita sendiri, mendengar dan taatnya kita kepada penguasa bukan untuk memberikan kenikmatan kepada penguasa, bukan, maksudnya adalah untuk maslahat kita sendiri, kita yang akan menuai hasil dari mendengar dan taat kita kepada penguasa.

Terkadang di hari-hari biasa mungkin kaidah-kaidah seperti ini mudah untuk di sampaikan tapi belum tentu ketika terjadi fitnah yang disitu akan kelihatan siapa yang shādiq diantara kita dan siapa yang kādzib. Banyak orang di dalam hari-hari biasa dia bisa menyebutkan kaidah-kaidah seperti ini namun menjadi hilang separuh dari akalnya atau bahkan seluruh akalnya ketika dia sendiri yang terdzholimi, ketika dia sendiri yang mungkin melihat orang tuanya melihat keluarganya terdzholimi, kemudian panas hatinya dan dendam kemudian lupa dengan dalil-dalil yang mengharuskan dia untuk mendengar dan taat kepada penguasa, al-muwaffaq man wafaqahullāh, orang yang diberikan taufik adalah orang yang diberikan taufik oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-95 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah makna hadits ini, yaitu makna hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi diatas, Syaikh al-Albani menyebutkan hadits ini didalam silsilah hadits ash-shahihah.

Disini disebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah berarti ashabus sunan kecuali an-Nasa’i meriwayatkan hadits ini, dan dihukumi oleh Syaikh al-Albani bahwasanya hadits ini adalah hadits yang dhoif, maksudnya lafadz yang diawal tadi, adapun fakrah ayyamusshobr maka ini adalah hadits yang tsābitah

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

maka ini adalah hadits yang shahih. Adapun ayat tadi maka pemahamannya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, ini jangan diartikan ego atau yang lain bahkan kita katakan termasuk perhatian kita terhadap diri sendiri adalah ketika kita memperhatikan orang lain, karena nanti akan ditanya oleh Allāh ﷻ

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Dan orang yang meninggalkan kemungkaran, tidak saling melarang dari kemungkaran sebagaimana firman Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

[ Al Maidah المائدة:78-79]

Kemudian didalam surah Al-A’raf 164 kenapa mereka mengingkari kemungkaran mereka mengatakan مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ. Ketika ada sebagian kelompok, kenapa kalian memberikan nasihat kepada orang yang Allāh ﷻ sudah akan menghancurkan mereka, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ mereka hancur, akan hancur, kenapa kalian memberikan nasihat kepada mereka

قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ

[ الأعراف:164 ]

Kami ingin meminta uzur kepada Allāh ﷻ, karena kami nanti akan di tanya, yang penting kami beramar ma’ruf nahi mungkar, masalah mereka mendapatkan hidayah atau tidak mendapatkan hidayah itu Allāh ﷻ yang menentukan, kami hanya melaksanakan yang diperintahkan.

Ketika kita beramar ma’ruf nahi mungkar berarti kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri, illa qolīlan min man anjaina min hum, siapa yang diselamatkan, orang yang sedikit tadi yang mereka yanhauna anil fasādi fil ardh, mereka melarang dari kerusakan, kita tidak ingin hancur bersama mereka,

لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

[Al Anfal:25]

Tidak menimpa fitnah tersebut kepada orang-orang yang dzalim saja tapi juga mengenai yang lain, jadi orang yang beramal ma’ruf nahi mungkar berarti dia telah memperhatikan dirinya sendiri, ketika Allāh ﷻ mengatakan

عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

hendaklah kalian perhatian dengan diri kalian, maksudnya adalah disuruh kita beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kita disuruh untuk tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kalimat عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ perintah bagi kita untuk apa beramar ma’ruf nahi mungkar

لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat, yaitu setelah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar ada orang yang sesat itu tidak akan memudhororti kalian, Allāh ﷻ yang menentukan hidayah, selama kalian beramar ma’ruf nahi mungkar dan berpegang dengan agama kalian, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat setelah itu, itu maksud ayat ini.

Jadi hadits ini lafadz yang awalnya dhaif tapi lafadz yang setelahnya adalah lafadz yang yang shahih. Lafadz yang shahih disebutkan dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah hadits ash-shahihah dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

إن من ورائكم أيام الصبر للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليـه أجر خمسين منكم قالوا: يا نبي الله أو منهم؟ قال: بل منكم

Ini dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَلَفْظُهُ: «إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ أَيَّامًا الصَّابِرُ فِيهَا المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ؛ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari haditsnya Abdullah bin Umar, haditsnya Abdullah bin Umar وَلَفْظُهُ dan lafadznya adalah

إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ

setelah kalian ada hari-hari di mana orang yang bersabar di dalamnya, orang yang bertamassuk

بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

berpegangan dengan seperti dengan apa yang kalian wahai para sahabat di atasnya hari ini, seperti yang kalian amalkan hari ini, seperti yang kalian pahami hari ini, di hari-hari itu dia berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang hari ini

لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Maka dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang diantara kalian.

Kenapa di sini di sebutkan riwayat ini, karena di sini ada lafadz

المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

Jadi lafadz, meskipun lafadz yang dhoif tadi ‘alā dīnihi, di atas agamanya maksudnya adalah agama Islam yang dipahami oleh para sahabat, mereka adalah salafiyyun, orang-orang yang berpegang teguh dengan apa yang dipahami oleh para sahabat, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ.

Dan mungkin ini rahasia kenapa disebutkan lima puluh orang sahabat diantaranya adalah karena mereka berpegang teguh dengan sunnahnya para sahabat Nabi ﷺ, mereka berusaha untuk mengikuti para sahabat di tengah-tengah rusaknya manusia maka mereka pun mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ

ثُمَّ قَالَ

kemudian berkata, yaitu Ibnu Wadhdhah

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: أَنْبَأَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَسْلَمَ البَصْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ أَخِي الحَسَنِ يَرْفَعُهُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibn Sa’id, telah mengabarkan kepada kami Asad, beliau mengatakan telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin uyainah dari Aslam Al Bashri dari Sa’id Akhil Hasan, saudara dari Hasan Al bashri, yarfa’uhu, mengangkatnya kepada Rasulullah ﷺ, berarti di sini haditsnya adalah hadits yang mursal, dan hadits yang mursal termasuk hadits yang dhoif

قَالَ: «إِنَّكُمُ اليَوْمَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ، تَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ، وَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ، وَتُجَاهِدُونَ فِي اللَّهِ، وَلَمْ تَظْهَرْ فِيكُمُ السَّكْرَتَانِ: سَكْرَةُ الجَهْلِ، وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ، وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ، فَالمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ» قِيلَ: مِنْهُمْ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِنْكُمْ

Sesungguhnya kalian wahai para sahabat hari ini berada di atas sesuatu yang jelas dari Robb kalian, tidak ada bid’ah, ada Nabi ﷺ, kalian beramar ma’ruf, melarang dari yang mungkar dan kalian berjihad fī sabīlillah dan belum muncul di tengah-tengah kalian dua mabuk, السَّكْرَتَان maksudnya adalah mabuk, mabuk yang pertama adalah

سَكْرَةُ الجَهْلِ

sehingga dengan kebodohannya seseorang tidak menyadari

وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ

dan orang yang sedang mabuk dengan dunia, mabuk dengan kebodohan dan yang kedua adalah mabuk dengan dunianya.
Seseorang membiarkan dirinya dalam kebodohan, tidak mau belajar dan sebagian orang mabuk dengan dunianya, sibuk dengan dunianya, kemudian kalian akan dipindah dari yang demikian

وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ

kalian akan berpindah keadaan kalian dari keadaan sekarang ini, maka orang-orang yang berpegang teguh dihari tersebut

بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang

قِيلَ: مِنْهُمْ؟

Apakah dari mereka ya Rasulullah ﷺ, Beliau ﷺ mengatakan bahkan dari kalian.

Di sini ada lafadz بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ berarti ini menjelaskan lagi bahwasanya keadaan orang-orang yang sabar saat itu mereka berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum

وَلَهُ بِإِسْنَادٍ: عَنِ المَعَافِرِيِّ

Dan beliau Ibnu Wadhdhah dengan isnadnya dari al-Ma’āfirī (juga tabi’in), قَالَ dia mengatakan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, berarti ini mursal juga dan ini adalah termasuk yang dhoif

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، الَّذِينَ يُمْسِكُونَ بِكِتَابِ اللَّهِ حِينَ يُتْرَكُ، وَيَعمَلُونَ بِالسُّنَّةِ حِينَ تُطْفَأُ

Tūbā bagi orang-orang yang asing, siapa orang- orang yang asing, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Quran ketika al-Quran ditinggalkan oleh manusia dan mereka mengamalkan sunnah Nabi ﷺ ketika di padamkan, artinya banyak orang yang tidak mengamalkan sunnah Nabi ﷺ dan dia terus mengamalkan sunnah tersebut.

Ini adalah hadits yang Mursal juga dan ini adalah hadits yang dhaif dan cukuplah apa yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih sebelumnya menunjukkan tentang wajibnya kita untuk bersabar diatas sunnah Rasulullah ﷺ, meskipun kita asing di tengah-tengah manusia.

Dan ini bukan berarti seseorang tidak bermuamalah dengan manusia, jadi asingnya mereka bukan karena mereka tidak bergaul dan tidak bermuamalah dengan manusia, tetap mereka bergaul seperti biasa dengan manusia, dengan masyarakat, cuma mereka mutamayyiz, mereka memiliki keistimewaan tidak ikut-ikutan dengan perkara-perkara yang tidak disyariatkan di dalam agamanya, ini kelebihan mereka.

Muamalah mereka terus jalan, membeli, berjualan, tersenyum, bertetangga, tapi ketika sudah berkaitan dengan perkara yang menyelisihi agama maka mereka dengan tegas ia tidak melaksanakan perkara tersebut karena memegang Al-Quran dan juga Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 94 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah Bag 02

Halaqah 94 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah Bag 02

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-94 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Nabi ﷺ mengatakan

لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

Orang yang mengamalkan amalan di hari-hari tersebut, yaitu di hari-hari kesabaran dia masih berusaha untuk mengamalkan apa yang ada di dalam agama Islam, yang sudah mati di antara manusia atau di antara masyarakat, dia amalkan, banyak orang yang tidak shalat malam dia bangun shalat malam, banyak orang yang tidak memakai hijab dia memakai hijab, dan sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang lain

مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang laki-laki

يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

lima puluh orang laki-laki yang dia beramal seperti amalan kalian, ini Nabi ﷺ berbicara di hadapan para sahabat. Beliau ﷺ mengabarkan tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang dan keutamaan orang yang bersabar dan menjelaskan tentang pahala orang-orang yang bersahabar di hari-hari tersebut, pahalanya besar, dia mengamalkan sebuah amalan maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengamalkan amalan tersebut مِثْلَ عَمَلِكم seperti amalan kalian.

Ketika Nabi ﷺ mengatakan مِثْلَ عَمَلِكم maka para sahabat radhiyallāhu ta’ala’anhum bertanya, yang diajak bicara di sini adalah para sahabat, كم disini yang dimaksud oleh Nabi ﷺ كم kita yang ada di depan beliau atau كم di masa tersebut, kok besar sekali lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ yang mengamalkan amalan ini.

قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ؟

Mereka bertanya ya Rasulullah ﷺ maksudnya adalah kami, yaitu para sahabatmu atau مِنْهُمْ, atau orang-orang yang ada di zaman kesabaran tadi di hari-hari kesabaran tadi,

قَالَ: «أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Nabi ﷺ mengatakan tidak atau bahkan adalah diantara kalian, maksudnya adalah para sahabat Nabi ﷺ. Kenapa di sini para sahabat radhiyallāhu ta’ala’anhum sampai bertanya demikian, karena kalau dibandingkan dengan amalan sahabat ini pahala yang sangat-sangat besar, kita tahu hadits Nabi ﷺ

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela para sahabatku karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, seandainya gunung uhud yang panjang yang ada di sebelah utara kota Madinah, seandainya ini semua adalah berupa emas, kalau ada salah seorang diantara kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, bermiliar-miliar, banyak ton, seandainya orang berinfak dengan satu kilogram emas saja itu sudah banyak, kita tidak bisa membayangkan berapa dia berinfak emas sebesar gunung uhud.

Dengan banyaknya, maksud dari hadits ini adalah berinfak dengan ikhlas, kalau riya meskipun satu gunung uhud juga tidak diterima, maksudnya adalah berinfak dengan jumlah sebanyak itu disertai dengan apa keikhlasan di dalam berinfak, pahalanya besar, kuantitasnya luar biasa, kualitasnya juga luar biasa, ikhlas dan banyak infaknya, tergabung di dalamnya dua keutamaan, menunjukkan pahala yang besar yang dimiliki oleh orang ini. Tapi kalau dibandingkan dengan satu mud, kalau ada seorang sahabat yang dia berinfak dengan satu mud makanan, kurma misalnya atau nasi kalau memang ada nasi, kemudian diinfakkan dia sedekahkan kepada orang miskin ternyata Nabi ﷺ mengatakan

مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ

Pahala yang ada di sini tadi tidak akan sampai pada satu mud yang dikeluarkan oleh seorang sahabat, padahal satu gunung emas tadi dengan ikhlas itu pahalanya sudah banyak sekali, belum lagi Allāh ﷻ melipatgandakan pahala shodaqoh tadi, tapi dibandingkan dengan satu mud yang dikeluarkan oleh sahabat maka pahala yang dibawa dan diterima oleh sahabat tadi meskipun hanya satu mud itu lebih besar pahalanya.

Dari sisi karena mereka lebih dalam keimanannya, lebih shodiq, lebih ikhlas dan keutamaan-keutamaan amalan hati yang lain, dari sisi yakinnya, dari sisi shidqnya, dari sisi keikhlasan mereka jauh lebih dalam dari pada orang-orang setelah mereka, abarruha qulūban, mereka adalah orang yang paling bersih hatinya, orang yang paling yakin dengan hari akhir sehingga dengan itulah mereka mendahului orang-orang yang datang setelahnya. Tidak mendahului kalian Abu Bakar as Shiddiq dengan banyaknya puasa, dengan banyaknya Shalat tapi ma waqara fi qalbihi wassoddaqot hu al a’mal, dengan sebab apa yang tertancap di dalam hati dia dan di ikuti dengan amalan.

Bahkan Nabi ﷺ mengatakan setelahnya

وَلَا نَصِيفَهُ

bahkan tidak separuhnya, satu mud saja kita sudah terheran-heran melihatnya, seandainya mereka berinfak dengan setengah mud, satu telapak tangan saja mereka infakkan itu masih jauh lebih besar pahala yang mereka dapatkan dari pada salah seorang diantara kita berinfak dengan emas sebesar gunung uhud.

Syahidnya di sini menunjukkan tentang besarnya pahala para sahabat Nabi ﷺ sehingga لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي jangan kalian mencela para sahabat, bagaimana kita mencela orang-orang yang memiliki kedudukan demikian, mengamalkan amalan sedikit saja pahalanya luar biasa yang Allāh ﷻ lipat gandakan kepada para sahabat Nabi ﷺ.

Makanya para sahabat bertanya di sini minha aw minhum, ternyata Nabi ﷺ mengatakan bal minkum, menunjukkan tentang besarnya pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang asing di hari-hari tersebut dan dia bersabar dan dia terus mengamalkan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ

أَجر خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

Bukan hanya satu orang sahabat bahkan lima puluh, seandainya dia mendapatkan pahala satu orang sahabat saja itu sudah pahala yang sangat besar apalagi lima puluh orang sahabat. Dia sabar dicela dan kucilkan oleh orang bahkan mungkin diancam atau ditayangkan di televisi dan seterusnya tapi dia terus bersabar, bersabar tidak meninggalkan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ di tengah-tengah manusia, di pasarnya, di kantornya, di sekolahnya dia terus berpegangan teguh dengan sunnah ini maka mereka mendapatkan

مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكم

Tentunya ini adalah dorongan bagi orang-orang di hari-hari tersebut untuk terus bersabar dan itu hanya sebentar, terus bersabar dan dia mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat, dan ketahuilah bahwasanya

إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا

Setelah kesusahan pasti di sana ada kemudahan, jangan kita lewatkan pahala yang sangat besar ini, lima puluh orang sahabat.
Dan jangan dipahami seperti yang dipahami oleh sebagian bahwasanya kita lebih baik daripada sahabat, karena ada yang memahami hadits ini dan mengatakan jamaah kita ini lebih baik daripada sahabat karena kita berpegang teguh dengan sunnah sehingga mereka meremehkan para sahabat Nabi ﷺ sampai hampir-hampir tidak terdengar mereka mengucapkan radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat Nabi ﷺ, di sebutkan nama-nama beliau dan berlalu mereka dengar tapi jarang mereka mengatakan radhiallahu ‘anhu, bahkan tidak sebutkan keutamaan-keutamaan para sahabat di dalam majelis-majelis mereka kecuali atsar sahabat yang kira-kira mendukung tentang bid’ah-bid’ah mereka seperti misalnya

إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ

Baru di situ sebutkan keutamaan Umar Bin Khattab, bahwasanya beliau adalah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ iktadu bi ladaini min ba’di, berarti kita harus mengikuti ucapan beliau dan beliau mengatakan لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ. Kalau memang pas berkaitan dengan yang mendukung bid’ahnya baru dipuji-puji para sahabat Nabi ﷺ adapun di sisi yang lain maka tidak disebutkan pujian mereka kepada para sahabat Nabi ﷺ.
Apakah pemahaman ini benar? Salah. Bukan berarti hadits ini menunjukkan keutamaan kita dibandingkan para sahabat Nabi ﷺ, kalau misalnya seorang sahabat meriwayatkan tentang sebuah amalan, namanya amalan A misalnya, mengamalkan sebuah amalan kemudian diikuti oleh orang-orang di hari-hari yang penuh dengan kesabaran. Ada seorang muslim yang mengikuti, dalam keadaan hari-hari yang sulit dia masih mengamalkan amalan ini, sebagaimana dalam hadits tadi dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat, dilipat gandakan pahalanya oleh Allāh ﷻ sehingga dia mendapatkan pahala 50 orang sahabat, kemudian sahabat yang pertama kali menyampaikan tadi, menyampaikan amalan A ini kepada tabi’in kemudian tabi’in menyampaikan kepada tabi’ tabi’in kemudian seterusnya sampai kepada orang ini, berarti dia mengetahui amal sholeh A ini asalnya dari seorang sahabat Nabi ﷺ dan sudah berlalu

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Ketika dia mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat tadi otomatis pahala yang dilipat gandakan sampai lima puluh orang sahabat tadi akan masuk ke kebaikan sahabat yang pertama tadi, berarti kira-kira bisa tidak kita menyaingi pahala para sahabat, tidak mungkin. Karena ketika pahala kita dilipat gandakan otomatis sahabat yang meriwayatkan hadits tadi juga dilipat gandakan, apalagi yang mengamalkan hadits tadi bukan kita saja, di sana ada orang lain, tidak mungkin kita bisa menyaingi pahalanya para sahabat radhiallahu ta’ala’anhu.

Semoga Allāh ﷻ meridhai mereka yaitu para sahabat radhiallahu ta’ala anhum dan hadits ini jelas menunjukkan kepada kita tentang keutamaan orang yang bersabar di hari-hari tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 93 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah

Halaqah 93 | Pembahasan Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-93 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَعَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيَّ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ، كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الآيَةِ

Dari Abu Umayyah, beliau mengatakan aku bertanya kepada Abā Tsa’labah, Asy-Sya’bānī, kemudian aku berkata, wahai Abā Tsa’labah bagaimana pendapatmu tentang firman Allāh ﷻ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

[Al Ma”idah:105]

Wahai orang-orang yang beriman عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ, hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan hidayah, hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri tidak akan menyesatkan kalian orang yang tersesat apabila kalian mendapatkan hidayah, kalau kita yang memahami atau orang yang semisal dengan kita, seakan-akan hidup sendiri tidak perlu memperhatikan orang lain.

عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ

Hendaklah kalian perhatian terhadap diri kalian sendiri, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan petunjuk. Seakan-akan sendiri-sendiri, egoisme, ana mendapatkan hidayah, ana kenal sunnah, ya sudah aku memperhatikan diriku sendiri dan keluarga ana, adapun orang lain tersesat, mau masuk neraka itu urusannya. Ada sebagian orang yang memahami demikian, mungkin bukan kita saja, bahkan sebagian orang, sebagian salaf ada yang memahami demikian tapi ternyata pemahaman yang benar bukan seperti itu

قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا

Kemudian Abu Tsa’labah mengatakan, ketahuilah demi Allāh ﷻ sungguh engkau, Abu Umayyah, telah bertanya orang yang pengalaman, artinya kamu tidak salah alamat, bertanya tentang ayat ini kepada saya itu bukan salah alamat, engkau bertanya kepada orang yang memang tahu, dan ini bukan sombong, bukan memamerkan dirinya tapi ini termasuk

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ

Dan menunjukkan bahwasanya kalau kita ingin bertanya, bertanyalah kepada orang yang memang antum memperkirakan dia tahu ilmunya, sesuai dengan qara’in, takhususnya apa misalnya, antum lihat bertanya kepada orang yang memang pas untuk ditanya, kalau tidak maka kita akan menyesal sendirian.

وَاللَّهِ, demi Allāh ﷻ engkau telah bertanya tentang ayat ini kepada orang yang pengalaman, orang yang punya ilmu tentang masalah ayat ini, karena makna khobir artinya adalah ālim (mengetahui) dan maknanya lebih dalam karena khobir berarti dia mengetahui perkara-perkara yang dalam, dia adalah ilm wa ziyadah (ilmu dan ada tambahannya) yaitu mengetahui perkara-perkara yang dalam, artinya beliau yaitu Abu Tsa’labah mengetahui tentang makna ayat ini secara mendalam

سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini, ini sebabnya, kenapa beliau mengatakan سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا karena beliau telah mendengar ilmunya dari Rasulullah ﷺ, dan Beliau ﷺ memang diutus oleh Allāh ﷻ untuk menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ

dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Quran supaya engkau menjelaskan kepada manusia

مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ

[An Nahl:44]

Apa yang diturunkan kepada mereka, yaitu Al-Quran. Makanya Abu Tsa’labah tadi bertanya langsung kepada Nabi ﷺ apa makna ayat ini, maksudnya adalah kok sepertinya maknanya adalah sendiri-sendiri, ternyata apa kata Nabi ﷺ

فَقَالَ: «بَلِ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ، وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ

Beliau menjelaskan, bahkan hendaklah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar, karena seakan-akan ayat tadi tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, Nabi ﷺ mengatakan بَل bahkan hendaklah kalian terus beramar ma’ruf nahi mungkar, karena keumuman ayat

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

Terus hendaklah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar seperti

يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ

memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia, bersabar kita, mereka merusak, kita perbaiki. Inilah keanehan ahlussunnah, mereka terus memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia dan mereka sabar dan mengharap pahala dari Allāh ﷻ dalam melakukan itu semua.

Hendaklah kalian menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran

حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا

Sampai ketika kalian melihat ada kebakhilan yang sangat yang diikuti oleh manusia, banyak orang yang bakhil, sudah tidak melihat orang-orang yang senang bersedekah, rata-rata kebakhilan yang sangat dan kebakhilan tersebut diikuti, menunjukkan bahwasanya terkadang kalau misalnya seseorang menemukan kebakhilan di dalam dirinya tetapi tidak dia ikuti maka itu adalah bukan perbuatan yang tercela, kadang fitrah kita ada di dalam dirinya kebakhilan terhadap uang yang dia miliki, harta yang dia miliki, ada.

Tapi kita berusaha untuk memeranginya, kita keluarkan, kita paksa untuk mengeluarkan maka ini tidak tercela yang demikian. Seseorang tidak berdosa kalau memang dia berusaha untuk apa melawan tapi kalau sudah kebatilan tadi diikuti akhirnya seseorang menahan dirinya dari infaq, sama sekali dia tidak berinfak, bersedekah maka inilah yang tercela.

Sampai ketika kalian melihat kebakhilan-kebakhilan tadi diikuti oleh manusia dan ditaati oleh manusia, banyak orang yang tidak bersedekah

وَهَوًى مُتَّبَعًا

Dan engkau melihat banyak hawa nafsu yang diikuti, tersebar orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, hawa perutnya, hawa kemaluannya, hawa matanya, hawa telinganya, hawa mulutnya, banyak diantara manusia mengikuti hawa nafsunya, jarang diantara mereka yang bisa menahan diri dari hawa nafsunya

وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً

Dan engkau melihat dunia mulai didahulukan daripada akhirat

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا

[ الأعـلى: Al ‘Ala 16]

Akan tapi kalian mendahulukan kehidupan dunia. Banyak orang yang lalai dengan kehidupan akhiratnya, tidak memperhatikan keselamatan dia di akhirat yang penting dia kenyang di dunia, yang penting dia bisa mendapatkan ini di dunia

وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ

Dan engkau melihat banyaknya orang yang ta’ajub dengan pendapatnya, setiap orang yang memiliki pendapat dia ta’ajub dengan pendapatnya, banyak sekali yang demikian di hari-hari seperti ini, setiap orang bisa membuat akun, bisa mengeluarkan pendapat, dengan bebasnya dia menyampaikan pendapatnya dan masing-masing merasa kagum dengan apa yang dia sampaikan, apa yang dia miliki

Kalau melihatnya demikian

فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ

Maka hendaklah engkau berpegang dengan dirimu sendiri, dalam keadaan seperti ini artinya kapan kita فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ setelah kita berusaha beramar ma’ruf nahi mungkar, kemudian setelah terjadi kerusakan yang banyak dengan keadaan-keadaan yang tadi disebutkan, kebakhilan yang diikuti, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang mulai di dahulukan daripada akhirat, ta’ajubnya setiap orang yang punya pendapat dengan pendapatnya فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ, maka hendaklah engkau memperhatikan dirimu

وَدَعْ عَنْكَ العَوَامَّ

Dan hendaklah engkau tinggalkan orang-orang awam

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

Karena sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, maksudnya adalah hari-hari yang sangat parah, yang sangat dahsyat yang membutuhkan kesabaran yang ekstra dari kalian. Sampai disebutkan di sini syiddahnya dan sangat pedih nya dan sangat parahnya hari-hari tersebut

الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ

Orang yang berpegang dengan agamanya di hari-hari tersebut, bukan hanya satu hari tapi berhari-hari, orang yang berpegang dengan agamanya yaitu menjalankan Islam yang murni, bertauhid, mengikuti sunnah, berdakwah kepada sunnah di hari-hari tersebut itu diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.

Bagaimana orang yang menggenggam bara api dia akan merasakan panasnya, kulit ini adalah yang paling merasakan ketika terjadi panas atau terjadi dingin, dialah yang pertama kali akan merasakan. Orang yang berpegang teguh dengan agama di saat itu seperti orang yang memegang bara api yaitu sangat pedih, sangat panas, sangat berat.

Dikucilkan, dikatakan demikian dan demikian, berat hidup di hari-hari tersebut diibaratkan seperti orang yang memegang bara api. Kalau dia pegang maka terus dia akan merasakan panasnya tapi kalau dia lepas bara api tadi dia akan merasa enak sementara dianggap oleh orang lain, itu sementara saja, akhirnya belum tentu dia akan terus-menerus dianggap oleh orang lain karena Allāh ﷻ Dia-lah yang membolak-balikkan hati manusia. Dan disebutkan dalam hadits, orang yang melakukan sesuatu untuk mendapatkan ridho manusia dengan membuat marah Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan marah kepadanya.

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ

Barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan kemarahan dari Allāh ﷻ, dia sudah merasa kepanasan, dia lepas, ingin mendapatkan ridho manusia, legah sebentar tapi belum tentu dia akan terus diridhoi oleh manusia, karena hati manusia di tangan Allāh ﷻ

Barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan cara membuat Allāh ﷻ murka maka Allāh ﷻ

سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Allāh ﷻ akan murka kepada orang tersebut, bukan hanya itu

وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

dan akan menjadikan manusia tadi membenci kepada orang tersebut.

Diberikan sesuatu yang berlawanan dari keinginannya, berarti dia rugi dua kali atau lebih. Pertama dia tinggalkan al-haq kemudian yang kedua mendapatkan kemarahan dari Allāh ﷻ kemudian ketiga manusia akan membencinya. Dan ini banyak kejadian yang demikian, justru orang-orang yang dia meninggalkan ridho Allāh ﷻ untuk mendapatkan ridho manusia akhirnya dia justru malah dibenci oleh manusia itu sendiri.

Maka Beliau ﷺ mengatakan

مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ

dia seperti orang yang memegang bara api, kalau dia pegang terus maka dia akan pedih, maka dia akan rasakan panasnya dan kalau dia lepaskan maka dia akan melepaskan agamanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 92 | Pembahasan Dalil Ketiga dan Keempat

Halaqah 92 | Pembahasan Dalil Ketiga dan Keempat

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه ل

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-92 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullah

وَرَوَاهُ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَفِيهِ: وَمَنِ الغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «النُّـزَّاعُ مِنَ القَبَائِل

Kemudian disini beliau mendatangkan riwayat Imām Ahmad dari hadits Abdullah ibn Mas’ud

Ini adalah riwayatnya Abdullah Bin Mas’ud

عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ

Para sahabat رَضِيَ اللَّهُ عَنْهم adalah orang-orang yang semangat dengan kebaikan, apalagi di sini dikabarkan oleh Nabi ﷺ tentang tūbā, surga bagi orang-orang yang asing, maka sucinya hati mereka dan semangatnya mereka untuk masuk ke dalam surga dan terhindar dari neraka menjadikan mereka bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

Mereka mengatakan

وَمَنْ الْغُرَبَاءُ

siapakah orang-orang yang asing tersebut, sebagaimana ketika Nabi ﷺ mengabarkan tentang perpecahan umat dan beliau mengatakan كُلُّهُمْ فِي النَّارِ semuanya masuk ke dalam neraka إِلَّا وَاحِدَةً kecuali satu golongan, langsung para sahabat mengatakan وَمَنْ هِيَ siapakah mereka ya Rasulullah ﷺ. Ini permasalahannya sudah surga dan juga neraka, kalau hadits iftiraqul ummah ancaman neraka bagi orang-orang yang memecahkan dirinya dari jamaahnya Rasulullah ﷺ, adapun di sini keutamaan bagi orang-orang yang asing, yang terus berpegang teguh dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, maka mereka bertanya

وَمَنْ الْغُرَبَاءُ

Siapakah orang-orang yang asing tadi ya Rasulullah

قَالَ: «النُّـزَّاعُ مِنَ القَبَائِل

mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai qabilah, نُّـزَّاعُ maksudnya adalah yang diambil مِنَ القَبَائِل dari berbagai kabilah, syarat bahwasanya orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam di zaman yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ di sini mereka bukan berasal dari kabilah tertentu saja tapi mereka berbagai suku, orang-orang Islam dari berbagai daerah. Apa yang menyatukan mereka, Islam, menunjukkan bahwasanya guroba’ tidak dibatasi dengan suku tertentu atau keturunan tertentu, dari kalangan ahlul bait saja atau hanya orang Indonesia saja atau hanya orang Arab saja, tidak.

Tapi mereka berasal dari berbagai negeri, dari berbagai kabilah, dan demikian ahlul sunnah sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ di sini dan kita lihat secara kenyataan bahwasanya ahlus sunnah wal jama’ah mereka bermacam-macam dari berbagai qobilah, dan yang menyatukan mereka adalah Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ. النُّـزَّاعُ مِنَ القَبَائِل ini menunjukkan tentang sifat diantara sifat-sifat orang-orang yang dianggap asing tadi. Berarti keasingan mereka bukan karena berasal dari kabilah tertentu tapi asingnya adalah dengan sebab Islam yang mereka pegang Islam, Islam yang mereka amalkan itulah sebab keasingan mereka.

Dan hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud dan dihukumi sebagai isnad yang sahih.

وَفِي رِوَايَةٍ

Di dalam sebuah riwayat Beliau ﷺ menyebutkan sifat juga, sifat orang-orang yang asing tadi

الغُرَبَاءُ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Riwayat ini adalah dari Abdurrahman Ibnu Sannah

أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا ثُمَّ يَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Inilah haditsnya Sahl ibn Sa’ad as-Saidiy atau dari hadits beberapa sahabat Abu Darda, Abu Umamah, Anas Bin Malik, Watsilah ibn Atsqa juga disebutkan tentang lafadz ini.

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Didalam sebuah riwayat disebutkan

الغُرَبَاءُ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Tapi فِي رِوَايَةٍ disini bukan dari Abdullah ibn Mas’ud, ada dari Abu Darda dan ada dari Abdurrahman Ibnu Sannah dan seterusnya.

Disebutkan tentang sifat diantara sifat-sifat orang-orang yang asing tadi, kalau sebelumnya adalah mereka ini berasal dari berbagai qobilah maka disebutkan di dalam riwayat ini bahwasanya mereka adalah

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Mereka ini adalah orang-orang yang يَصْلُحُونَ orang-orang yang baik, orang-orang yang sholeh. Kenapa mereka menjadi orang yang sholeh, karena mereka berpegang dengan Islam, karena Islam orang yang berpegang teguh dengannya maka dia akan baik, maka dia akan sholeh. Al-ghuraba’ mereka adalah orang-orang yang sholeh yaitu berpegang teguh dengan Islam yang murni yang dengannya mereka menjadi orang yang sholeh

إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Ketika manusia sudah rusak, yaitu kebanyakan manusia mereka rusak, bukan karena rusak secara dunia tapi rusak secara agama, banyak diantara mereka yang sudah rusak sementara orang-orang yang ghuroba’ ini mereka dalam keadaan berpegang teguh dengan agamanya.

Dan tidak mungkin dia bisa menjadi orang yang يَصْلُحُونَ menjadi orang yang berpegang teguh dengan agama, kecuali pertama dia menuntut ilmu, kemudian yang kedua dia mengamalkan ilmu tersebut barulah dia menjadi orang-orang yang يَصْلُحُونَ karena kalau ingin berpegang teguh dengan Islam harus belajar dari situlah maka dia bisa mengamalkan.

Kemudian beliau mengatakan

وَرَوَاهُ أَحْمَدُ: مِنْ طَرِيقِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، وَفِيهِ: «فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Ini haditsnya Sa’ad bin Abi Waqqash disebutkan oleh mu’allif

عَنِ ابْنٍ لِسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ

Dari anak Sa’ad bin Abi Waqqash

قَالَ سَمِعْتُ أَبِي

Dia mengatakan aku mendengar bapakku, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash

يَقُولُ

Beliau mengatakan

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ إِنَّ الْإِيمَانَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلْغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Maka tūbā pada hari tersebut bagi orang-orang yang ghuroba’ ketika manusia dalam keadaan rusak. Ta’liq dari Syuaib Al-Arnauth isna yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dari Saad bin Abi Waqqash ini adalah isnad yang jayyid dan jahalahnya anak dari Sa’ad tadi karena disebutkan

عَنِ ابْنٍ لِسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ

Dari seorang anak Sa’ad bin Abi Waqqash, siapakah anak tersebut? Tidak disebutkan

Disini disebutkan عَنِ ابْنٍ dari seorang anak dari Saad bin Abi Waqqash. Para ulama menyebutkan bahwasanaya seluruh anak-anak dari Sa’ad bin Abi Waqqash yang meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash semuanya tsiqah, mereka adalah para tabi’in yang tsiqah. Jadi ketika disebutkan anaknya tidak akan memudhoroti apakah yang meriwayatkan adalah anak yang itu atau yang ini semuanya sama karena semuanya tsiqah.

Kemudian disebutkan di dalam sebuah riwayat, yaitu di dalam riwayatnya Ibnu Mandah penyebutan nama anak tadi dia adalah ‘Amir Bin Sa’ad dan beliau adalah termasuk rowi-rowi yang dikeluarkan oleh al-Imām al-Bukhari dan juga Muslim di dalam shahihain.

Apa faedah dari penyebutan ziyadah ini

فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلْغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Apa faidahnya? Kalau yang tadi فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ sudah kita sebutkan tafsir dari sebagian ulama makna tūbā, jannah atau syajarah fil jannah, kapan itu, yaumul qiyamah, itu tūbā yang ada di hari kiamat. Ternyata didalam riwayat ini mereka juga mendapatkan pahala yang didahulukan di dunia

فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ

mereka juga mendapatkan tūbā di hari tersebut, ini dorongan bagi kita bahwasanya kita juga akan mendapatkan pahala tūbā ini di hari tersebut ketika kita dianggap asing oleh manusia. Sehingga ada yang menafsirkan tūbā ini karena dia berasal dari أطيب, sesuatu yang paling baik, bahwasanya kehidupan orang-orang ghuroba’ tadi adalah kehidupan yang thayyibah, kehidupan yang paling baik, jadi bukan hanya mereka mendapatkan kebaikan dan sesuatu yang sangat baik di akhirat tapi juga dijadikan bahwasanya mereka akan mendapatkan tūbā di hari-hari mereka dianggap asing tadi.

Orang mungkin melihat susah kayanya menjadi seorang sunni, menjadi seorang salafi, kok hidup kayaknya jadi ribet, itu pandangan mereka. Menganggap kita ini menyusahkan diri kita sendiri, pergi harus pakai mahrom, memakai pakaian harus demikian, harus duduk belajar, kayaknya tidak ada kesenangan hidup, itu pandangan mereka.

Padahal Allāh ﷻ justru memberikan di dalam kehidupan kita kehidupan yang thoyyibah, kehidupan yang baik, bahkan dia adalah tūbā, kehidupan yang paling baik karena kita berpegang teguh dengan syariat Islam yang didalamnya ada maslahat bagi manusia, diturunkan oleh Allāh ﷻ yang Maha Mengetahui, yang Maha Bijaksana. Orang yang berpegang teguh dengan Islam yang murni tadi maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Jadi kalau kita benar-benar kāffah di dalam Islam kita, maka kita akan mendapatkan apa yang dijanjikan, akan mendapatkan tūbā baik di dunia maupun di akhirat, adapun kalau kita masih termasuk golongan orang yang masih separuh-separuh, Islamnya tidak kaffah, masih melakukan bid’ah, masih melakukan syirik yang asghor misalnya, maka jangan harap dia mendapatkan apa yang dijanjikan di sini.

Orang yang mendapatkan tūbā maka mereka adalah orang-orang yang benar-benar ghuroba’, ghuroba’nya adalah dengan sebab mereka mengamalkan Islam itu sendiri, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ

An-Nahl: 97

Sungguh kami akan menghidupkan mereka dengan kehidupan yang baik, dengan sebab mereka mengikuti Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Kemudian beliau mengatakan

وَلِلْتِرْمِذِيِّ: مِنْ حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: «طُوبَى لِلْغُرَبَاء الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي

Ini yang dimaksud oleh beliau

حَدَّثَنِي كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفِ بْنِ زَيْدِ بْنِ مِلْحَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّينَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْحِجَازِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا وَلَيَعْقِلَنَّ الدِّينُ مِنْ الْحِجَازِ مَعْقِلَ الْأُرْوِيَّةِ مِنْ رَأْسِ الْجَبَلِ إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا
أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

Ini lafadznya

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

Dikeluarkan juga oleh ath-Thabrani, juga oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Aulia dan Syaikh al-Albani beliau menghukumi hadits ini dengan dhaifun jiddan, meskipun At-Tirmidzi beliau mengatakan hasan sahih.

Kenapa belum mendatangkan lafadz ini, apa yang beda dengan sebelumnya. Bahwasanya rusaknya bukan karena dunia, hancurnya dunia, ekonomi yang rusak dan seterusnya tapi karena sebab Islam yang mereka tinggalkan sehingga mereka rusak.

Sisi yang lain, jadi orang-orang yang ghuroba’ tadi mereka bukan berarti berdiam diri, sholeh untuk dirinya sendiri, tidak, mereka juga memikirkan orang lain dan ini menambah keanehan juga, dia bukan hanya sekedar shaleh terhadap dirinya sendiri tapi di tengah-tengah manusia yang rusak tadi dia sempat mengajak berusaha untuk memperbaiki orang lain, mendakwahi mereka, ini sesuatu yang aneh.

Sekedar dia berpegang teguh dengan Islam, shalat berjamaah, melakukan adab-adab islam, itu sudah keanehan ditambah lagi dia mengajak orang lain untuk baik, memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia, مِنْ سُنَّتِي mereka merusak sunnah Nabi ﷺ menggantinya dengan bid’ah, ini merusak.

Sementara mereka yaitu orang-orang yang ghuroba’ tadi mereka sibuk untuk يُصْلِحُونَ, apa yang dirusak oleh manusia, dicemari sunnah Nabi ﷺ, mereka jelaskan dengan ilmu, ini bukan termasuk sunnah Nabi ﷺ, disingkirkan, ini adalah bid’ah, ini yang sunnah yang murni ini, kerjakan dan amalkan yang murni saja, jauhkan yang bid’ah ini, berarti ini adalah

يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ

Ini menunjukkan tentang sifat yang lain dari ghuroba’ tadi bahwasanya mereka bukan hanya orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, mementingkan dirinya sendiri tapi mereka juga berdakwah, berusaha untuk memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia.

Dan ini yang menjadi kelebihan salafiyyun, ahlussunnah wal jama’ah, ketika mereka mendapatkan hidayah maka mereka berusaha untuk menyampaikan hidayah ini kepada orang lain termasuk di antaranya adalah orang-orang yang paling dekat dengan dirinya, dia sampaikan dakwah ini kepada orang tuanya, kepada istrinya, kepada anaknya, kepada teman-temannya dahulu, kepada teman kantornya, kepada teman-temannya sekampung, berusaha untuk menyampaikan dakwah ini kepada mereka, maka inilah keadaan orang-orang yang asing di hari-hari tersebut.

Jadi inilah kenapa Syaikh rahimahullah membawakan riwayat-riwayat ini, karena masing-masing dari riwayat-riwayat tadi ada faedahnya yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 91 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama dan Kedua

Halaqah 91 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama dan Kedua

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لل

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-91 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Bab yang selanjutnya dan ini adalah bab sebelum akhir

بَابُ مَا جَاءَ فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

Bab apa-apa yang datang, maksudnya adalah dalil-dalil yang datang, yang berisi tentang akan terjadinya غُرْبَة الإِسْلاَم keasingan agama Islam وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ dan dalil-dalil tentang keutamaan orang-orang yang asing yaitu orang yang asing karena dia berpegang teguh dengan Islam.

Beliau mengatakan

بَابُ مَا جَاءَ فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

Bab tentang apa-apa yang datang berupa keasingan Islam, maksudnya adalah dalil-dalil yang datang tentang keasingan agama Islam, yaitu akan datangnya waktu di mana Islam akan dalam keadaan asing

وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

Dan keutamaan orang-orang yang asing yaitu al-ghurabā’u bil islām, orang-orang yang asing dengan sebab Islam tersebut, dengan sebab mereka berpegang teguh dengan Islam, itu adalah taqdir kalamnya

فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاء بالإِسْلاَمِ

Yaitu orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam sehingga mereka menjadi orang yang asing dengan sebab mereka berpegang teguh dengan Islam tadi.

Beliau membawakan beberapa dalil dan apakah hubungan antara bab ini dengan bab-bab sebelumnya, hubungannya adalah keasingan orang-orang yang asing tadi sebabnya adalah karena mereka berpegang teguh dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ di tengah-tengah manusia yang mereka mulai bercampur amalan mereka antara Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ dengan bid’ah-bid’ah sehingga disebutkanlah bab ini untuk mendorong kita supaya terus Istiqomah di atas Islam yang murni.

Ini kaitan antara bab ini dengan bab sebelumnya karena bab sebelumnya disebutkan tentang dalil-dalil yang isinya adalah Istiqomah, terus Istiqomah di atas Islam yang murni dan jauh dari bid’ah maka di dalam bab ini akan disebutkan tentang keutamaan orang-orang yang asing dengan sebab mereka berpegang teguh dengan Islam yang murni. Karena Istiqomah di tengah orang-orang yang tidak Istiqomah di atas Islam yang murni, di tengah orang-orang yang banyak mengikuti hawa nafsunya dengan berbagai tingkatan mereka maka ini adalah sebuah keasingan tersendiri, tapi jangan khawatir di dalam keasingan itu ada keutamaan yang akan Allāh ﷻ semata berikan kepada orang-orang yang asing dengan sebab islam ini.

Ini adalah hubungan antara bab ini dengan bab sebelumnya, di dalam bab ini akan disebutkan tentang keutamaan orang-orang yang istiqomah yang mereka menjadi orang yang asing di tengah-tengah orang-orang yang tidak Istiqomah di atas agama Islam.

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى

Dan firman Allāh ﷻ

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ القُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ فِي الأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ

[هود: 116]

Allāh ﷻ mengatakan didalam surah Hud, seandainya bukan karena adanya orang-orang yang tersisa, yang telah berlalu sebelum kalian, yang mereka dahulu melarang dari kerusakan, yaitu melarang dari kemaksiatan, kecuali sedikit dari orang-orang yang kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang zhalim mengikuti apa-apa yang mereka diberikan keluasan di dalamnya dan dahulu mereka adalah orang-orang yang mujrimin.
Disebutkan di dalam tafsir Al-Muyassar maksud dari ayat tadi adalah

فهلاَّ وُجد من القرون الماضية بقايا من أهل الخير والصلاح، ينهون أهل الكفر عن كفرهم، وعن الفساد في الأرض، لم يوجد من أولئك الأقوام إلا قليل ممن آمن

Maksud dari firman Allāh ﷻ disini adalah apakah tidak ada dari orang-orang yang sebelum kalian yang telah hidup pada abad-abad yang lalu, apakah tidak ada sebagian orang, yaitu sebagian orang baik, yang mereka melarang dari kerusakan di bumi, yang melarang orang yang melakukan kekufuran dari kekufurannya, kemudian Allāh ﷻ mengatakan

إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ

Kecuali sedikit saja, maksudnya adalah tidak ada di antara mereka dari kaum-kaum yang telah berlalu tadi kecuali sedikit saja di antara mereka yang kami telah selamatkan mereka

Kecuali sedikit saja artinya ada di antara umat-umat terdahulu yang mereka يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ, mereka melarang dari kerusakan, melarang orang yang kufur dari kekufurannya, melarang orang yang berbuat maksiat dari kemaksiatannya, itu ada tapi mereka adalah قَلِيلًا mereka adalah sedikit sekali مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ dan merekalah orang-orang yang Allāh ﷻ selamatkan.

Syahidnya disini adalah

إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ

jadi maknanya ada tapi mereka sedikit. Dari umat-umat yang terdahulu, orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, yang mereka sholeh di dalam diri mereka dan mereka juga mushlih berusaha untuk memperbaiki orang lain itu ada tapi قَلِيلًا dan ini syahidnya.
Ternyata di umat-umat terdahulu juga orang-orang yang sholeh dan orang-orang yang berusaha untuk menyolehkan orang lain, melarang mereka dari kemungkaran, dari kesyirikan dan kebid’ahan itu ada tapi mereka adalah قَلِيل. Fadhlul ghurabā’ yang disebutkan dalam ayat ini disebutkan oleh Allāh ﷻ

مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ

Dari orang-orang yang telah kami selamatkan diantara mereka, artinya orang-orang yang selamat saat itu adalah orang-orang yang ghurobā’, orang-orang yang قَلِيل tadi, ini adalah ḥats dan juga dorongan bagi kita semuanya untuk berpegang teguh dengan Islam di tengah-tengah manusia yang mulai mereka tidak komitmen, tidak konsekuen dengan Islam itu sendiri, supaya kita diselamatkan oleh Allāh ﷻ sebagaimana ghurobā’ yang ada di zaman dahulu, di tengah orang-orang yang sudah berlalu umat-umat yang telah berlalu di sana ada قَلِيلًا ada sedikit hamba-hamba Allāh ﷻ yang mereka beramar ma’ruf nahi mungkar yang mereka Istiqomah di atas Islam akhirnya mereka diselamatkan oleh Allāh ,ﷻ ini syahidnya.

Jadi disebutkan di sini tentang keasingan Islam dan juga disebutkan tentang keutamaan orang-orang yang asing. Di sini ada dua poin, poin yang pertama dalil tentang akan asingnya Islam dan yang kedua adalah keutamaan orang-orang yang asing. Kalau didalam ayat yang pertama ini maka maksudnya adalah Islam yang telah berlalu, Islam yang dibawa oleh para nabi, para rasul sebelum Nabi ﷺ, maka orang-orang yang melakukannya mereka juga ghurobā’ dan keutamaanya adalah diselamatkan oleh Allāh ﷻ yaitu diselamatkan dari adzab, kalau kita ingin selamat dari adzab maka jadilah ghurobā’ tadi yaitu orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam di tengah-tengah orang-orang yang mereka tidak berpegang teguh dengan Islam.

Kemudian setelahnya

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا

Dan dari Abu Hurairah semoga Allāh ﷻ meridhoi beliau diangkat sampai Nabi ﷺ

بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا

Islam ini mulai dalam keadaan asing, diutus Nabi ﷺ dalam keadaan beliau sendiri di tengah-tengah kaum yang mereka setelah bertahun-tahun atau ratusan tahun berada di dalam alam jahiliyah, rata-rata mereka menyekutukan Allāh ,ﷻ dan rusak akhlaknya, rusak ibadahnya kemudian datang Nabi ﷺ dengan membawa Islam yang isinya sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran jahiliyah, diantaranya dan yang paling utama adalah Islam mengajak untuk mengesakan Allāh ﷻ sementara orang-orang jahiliyah dan ajaran jahiliyah isinya adalah menyekutukan Allāh ﷻ dengan yang lain sehingga mereka mengatakan

أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ

[ الصّافّات:36]

Apakah kami meninggalkan tuhan-tuhan kami karena seorang tukang syair yang gila. Jelas bahwasanya ketika Islam datang itu dalam keadaan gharīban, dalam keadaan dia aneh, dalam keadaan asing, apakah kami meninggalkan tuhan-tuhan kami karena hanya seorang tukang syair.

Kemudian juga di antara ajaran Islam akan datangnya hari akhir padahal mereka beranggapan bahwasanya orang kalau sudah meninggal dunia, sudah, tidak ada di sana kehidupan yang lain.

إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا

[ الأنعام:29]

Tidaklah dia kecuali kehidupan kita ini saja, tidak ada kehidupan yang lain, dan ketika Beliau ﷺ datang diutus maka di antara dakwah beliau adalah mengajak mereka untuk beriman dengan hari akhir dan ini adalah sesuatu yang aneh.
Kemudian beliau berdakwah dengan gigihnya dan dengan kesabarannya dan tentunya itu semua adalah dengan taufik dari Allāh ﷻ, satu persatu diantara orang-orang tersebut, diantara orang-orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh ﷻ, mereka masuk ke dalam agama Islam.

Satu mengenal tentang tauhid kemudian dia dakwahkan kepada keluarganya, yang satunya dakwahkan kepada orang-orang yang berada di bawahnya, budak-budaknya, atau orang yang punya kenalan saudagar yang lain, pedagang yang lain dia dakwahkan sehingga satu persatu diantara mereka mengenal agama Islam sampai akhirnya Allāh ﷻ memberikan taufik bertemu dengan orang-orang Madinah yang mereka berhaji dan ternyata mereka juga menerima Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Tersebarlah Islam di kota Madinah, kemudian Nabi ﷺ berhijrah, kemudian terjadilah perjanjian Hudaibiyah, kemudian terjadilah dibukanya kota Mekkah dan akhirnya negeri Mekkah yang sebelumnya adalah negeri yang kufur menjadi negeri Islam. Ketika mereka masuk Islam maka orang orang arab badui banyak diantara mereka yang berbondong-bondong mengirim utusan menyatakan bahwasanya Qobilah mereka masuk ke dalam agama Islam.

Sehingga tersebarlah agama islam dari utara ke selatan, dari timur ke barat, bukan sesuatu yang asing lagi, tersebar, masyhur bahkan yang asing adalah orang-orang yang tidak Islam. Semuanya rata-rata adalah muslimin, yang tidak islam ini sangat sedikit dan mereka terisolir dan mereka terpojokan, kalah dengan dzuhurnya Islam.

Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

Dan Islam itu kelak akan menjadi kembali asing. وَسَيَعُودُ dulu asing dan sekarang tidak asing maka ketahuilah bahwasanya Islam akan kembali asing sebagaimana ketika dia mulai. Tauhid sebelumnya asing kemudian sesuatu yang masyhur maka akan datang waktunya dimana orang akan menganggap asing ajaran tauhid bahkan di antara umat Islam sendiri.

Orang yang berdakwah kepada tauhid ini adalah sangat jarang demikian pula orang yang berpegang teguh dengan Islam yang murni yang jauh dari kebid’ahan yang sebelumnya inilah suatu yang masyhur di zaman dahulu maka suatu hari, dan mungkin ini termasuk diantara zamannya, akan datang waktu di mana orang akan menganggap asing sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Akan kembali asing Islam sebagaimana datangnya, sedikit sekali orang yang berpegang teguh dengan Islam, berpegang teguh dengan tauhid maka orang yang berpegang teguh dengan tauhid digelari dan dijuluki dengan berbagai gelar, orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ, menghidupkan sunnah Nabi ﷺ, di cap dengan berbagai cap, dikatakan dia adalah radikal atau dikatakan dia tidak sosial atau dia adalah orang yang tidak bermasyarakat, orang yang kaku dan yang mengucapkan adalah orang-orang Islam sendiri.

Dan ucapan Beliau ﷺ

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا

Menunjukkan tentang akan adanya keasingan Islam, sehingga di dalam bab tadi

بَابُ مَا جَاءَ فِي غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ

bab apa-apa yang datang, maksudnya adalah dalil-dalil yang datang tentang akan terjadinya غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا

Ini menunjukkan tentang akan adanya غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ akan datangnya keanehan dan keasingan Islam

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Maka thūbā bagi orang-orang yang asing, yang asing dengan sebab dia berpegang teguh dengan Islam tadi. Dan di sini disebutkan tentang keutamaan al-ghurobā’ sehingga di dalam hadits ini disebutkan tentang akan datangnya keasingan di dalam Islam dan disebutkan tentang keutamaan orang-orang yang asing

غُرْبَةِ الإِسْلاَمِ وَفَضْلِ الغُرَبَاءِ

inilah judul bab ini. Dan didalam hadits ini disebutkan dua sekaligus akan datangnya keanehan dan keasingan islam dan disebutkan tentang keutamaan orang-orang yang asing.

Dan makna طُوبَى ini adalah muannats dari أطيب, wazannya adalah أفعل, muannatsnya طُوبَى wazannya فعلى, أفعل – أطيب – طُوبَى, أفعل – فعلى

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

berarti dia adalah isim tafdhil, طُوبَى berarti dia adalah yang أطيب, yang paling baik.

Ada yang menafsirkan thūbā di sini adalah surga karena dialah yang paling أطيب, dan ada yang mengatakan ini adalah nama pohon yang ada di surga dan seandainya dia maknanya adalah surga maksudnya adalah dia masuk ke dalam surga, dan kalau maknanya adalah pohon yang ada di surga maka tidaklah mendapatkan pohon tersebut kecuali orang yang masuk ke dalam surga.
Maka tentunya ini adalah ḥats, dorongan yang sangat besar dari Nabi ﷺ, janji dari beliau bahwasanya orang-orang yang asing tadi dengan sebab berpegang teguh dengan Islam, janji dari beliau bahwasanya Allāh ﷻ akan memberikan kepadanya surga dan tentunya ini adalah janji yang sangat besar dan surga ini adalah kenikmatan yang besar di dalamnya ada

مَ لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرِ

belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia

Di dalamnya ada seluruh kenikmatan dinamakan dengan dārunna’im, negeri yang isinya seluruhnya adalah kenikmatan dari awal, dari seluruh penjuru, semuanya adalah kenikmatan, tidak ada di dalamnya kesusahan sedikitpun, di dalamnya ada kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, karena terkadang kenikmatan dilihat oleh mata.

Dan didunia ini banyak kenikmatan yang sudah dilihat oleh mata manusia, kalau bukan dengan mata kita mungkin dilihat oleh mata orang lain yang ada diseluruh penjuru dunia ini. Ketahuilah bahwasanya nikmat yang ada di surga itu belum pernah dilihat oleh mata, seluruh mata yang melihat dari sejak zaman dulu sampai sekarang, dan masing-masing mereka melihat kenikmatan, maka yang ada di sana jauh lebih besar tidak pernah dilihat oleh mata

وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ

Dan tidak pernah didengar oleh telinga.

Di sana ada kenikmatan, kita tidak pernah melihatnya tapi kita hanya sekedar mendengar saja diceritakan oleh si Fulan di daerah sana ada pemandangan yang indah demikian dan demikian, belum pernah kita lihat tapi kita hanya sekedar mendengar dan kita membayangkan betapa indahnya daerah tersebut.

Ketahuilah bahwasanya di sana ada kenikmatan yang jauh lebih besar belum pernah kita dengarkan dengan telinga kita

وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر

Dan tidak pula pernah terbetik di dalam hati manusia.

Ada disana kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinganya, tapi mungkin seseorang membayangkan bahwa seandainya demikian dan demikian, seandainya di sini ada ini, seandainya di rumah ini ada fasilitas ini, dan seterusnya. Terbersit dalam hatinya demikian cuma belum pernah dia lihat, belum pernah dia dengar, dan menunjukkan tentang besarnya kenikmatan yang ada di dalam surga.

Maka Nabi ﷺ mendorong bersabar, bersabarlah menjadi orang-orang yang asing, jangan kita ikut melarut bersama orang-orang yang mereka menyimpang dari Al-Islam. Pahit memang, panas memang berpegang di atas Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ, namun ketahuilah bahwasanya akhirnya adalah thūbā, akhirnya adalah surga. Sebentar kepahitan tersebut dan keasingan tersebut, kesusahan tersebut dan dibalas oleh Allāh ﷻ dengan pahala yang jauh lebih besar yaitu masuk ke dalam negeri kenikmatan selama-lamanya.

Tentunya ini adalah dorongan bagi kita semua untuk terus Istiqomah di atas Islam ini dan jangan kita mundur ke belakang dan mengikuti was-was dari setan, dari kalangan Jin maupun dari kalangan manusia.

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imām Muslim.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته