Category Archives: Kajian

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 15

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 15 | Penjelasan Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Adz-Dzariyat Ayat 58

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masih kita pada penyebutan ayat-ayat Al-Qur’aniyyah yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Setelah kita membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allāh ﷻ Al-’Ilm dan nama Allāh ﷻ Al-‘Alim maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan setelahnya nama Allāh ﷻ yang lain dan juga sifat. Allāh ﷻ menyebutkan di dalam surat Adz-Dzariyāt nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Syaikhul Islam mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Memberikan Rezeki, yang memiliki kekuatan yang sangat kokoh.

Disebutkan di dalam ayat ini empat nama Allāh ﷻ, pertama adalah lafdzul jalalah Allāh ﷻ, kemudian Ar-Razzaq, kemudian Dzul Quwwah dan yang keempat adalah Al-Matīn, dan masing-masing dari nama ini mengandung sifat. Adapun lafdzul jalalah maka sifatnya adalah Al-Uluhiyah, Ar-Rozzaq sifatnya adalah Rozq, Dzul Quwwah sifatnya adalah Al-Quwwah, Al-Matīn sifatnya adalah Al-Matanah.

إِنَّ اللَّهَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ.

Nama Allāh ﷻ yang paling agung dan ini pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat para ulama dan ini adalah nama yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Nama yang lain dinisbahkan kepada Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman, diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rohim. Dan tidak sebaliknya diantara nama Ar-Rahman adalah Allāh ﷻ, yang benar diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman.

Dan sifat yang terkandung di dalamnya adalah sifat Al-Uluhiyah, sifat ketuhanan dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah karena Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, sifat-sifat Uluhiyah yang dengannya dia berhak untuk disembah. Dan tidak boleh seorang makhluk memiliki nama ini, karena nama ini mengandung sifat yang tidak berhak menyandang dan memiliki sifat tersebut kecuali Allāh ﷻ, seandainya disana ada makhluk yang disifati dengan sifat uluhiyah oleh makhluk yang lain maka ini adalah kezdoliman, ini adalah kebathilan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ
[Al-Hajj:6]

Yang demikian karena Allāh ﷻ Dia-lah yang benar.

Dia-lah yang memang memiliki sifat-sifat uluhiyah.

وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَٰطِلُ
[Al-Hajj:62]

Dan sesungguhnya apa yang disembah selain Allāh ﷻ itu adalah bathil.

Disifati dengan ketuhanan tapi dia tidak memiliki sifat ketuhanan, yang namanya ilāh adalah yang menciptakan, sementara mereka tidak menciptakan. Al ilāhul haqq, Dia-lah yang mengatur sementara mereka bukan mengatur tapi diatur, maka mereka adalah sesembahan-sesembahan yang bathil.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah, danهُوَ di sini dinamakan dengan dhamir mufashal (dhamir yang digunakan untuk memisahkan) dan diantara faedahnya adalah untuk menunjukkan ikhtishash yaitu menunjukkan kekhususan. Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang Ar-Razzaq, dan hanya Allāh ﷻ saja yaitu khusus bagi Allāh ﷻ. Ar-Rozzaq nama Allāh ﷻ mengandung sifat Rozq dengan memfathah ر, dan ini adalah sifat atau mashdar, adapun Rizq dengan menkasrah ر maka ini artinya adalah rezeki. Lain antara Rozq dengan tadi Rizq, sifat yang terkandung dalam Ar-Rozzaq adalah Rozq bukan Rizq karena Rizq ini makhluk, rezeki yang Allāh ﷻ berikan kepada makhluk-Nya maka ini adalah makhluk. Adapun Rozq maka ini adalah sifat Allāh ﷻ, dan sifat Allāh ﷻ bukan makhluk.

Rozzaq wazannya adalah فعّال, dan ini adalah termasuk sighah mubalaghah untuk menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki. Kalau kita berbicara tentang bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki, dilihat dari berapa banyak yang diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, manusia saja kalau kita hitung berapa miliar jumlah mereka, ini yang masih hidup atau sedang hidup sekarang, yang sudah meninggal dunia dan yang akan meninggal dunia dan yang akan datang, semuanya Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka. Dari semenjak mereka dihidupkan oleh Allāh ﷻ sampai mereka meninggal dunia, belum makhluk Allāh ﷻ yang lain.

Semut yang jumlahnya tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ dalam sarang-sarang mereka, ikan-ikan yang tidak ada habisnya, Allāh ﷻ hidupkan di dalam air dalam laut, Allāh ﷻ juga berikan rezeki kepada mereka dari dulu sampai sekarang, seluruh makhluk Allāh ﷻ berikan rezeki kepada mereka. Allāh ﷻ ciptakan mereka dan Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka dari semenjak mereka awal hidup sampai mereka meninggal dunia.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
[Hūd:6]

Tidak ada sesuatu yang melata (merangkak) di permukaan bumi ini kecuali atas Allāh ﷻ rezeki mereka.

Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq. Kita sebagai seorang manusia ada diantara kita yang sebagai kepala rumah tangga berapa yang bisa kita berikan, kita hanya bisa memberikan kepada orang yang ada di rumah kita, memberikan nafkah untuk diri kita sendiri kepada anak dan juga istri kita itu saja, tapi Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya baik yang kita lihat maupun yang tidak kita lihat. Termasuk di antaranya jin diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ dan menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq.

Demikian pula dilihat bahwasanya Allāh ﷻ adalah sangat memberikan rezeki yaitu Allāh ﷻ berulang-ulang memberikan rezeki. Apakah Allāh ﷻ hanya yang memberikan rezeki kepada kita pagi ini saja? Masing-masing kita diberikan sarapan oleh Allāh ﷻ, ada yang makan lontong ada yang makan nasi uduk, ada yang makan nasi goreng misalnya, nanti siang juga diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, sore juga demikian, Subhanallāh, maka Allāh ﷻ memberikan rezeki dari waktu ke waktu yang lain, bukan hanya sekali Allāh ﷻ memberikan rezeki dan itu untuk seluruh makhluk, bukan hanya kita, untuk seluruh makhluk diberikan oleh Allāh ﷻ rezeki setelah itu diberikan rezeki lagi dan seterusnya sampai habis jatahnya. Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, Dia-lah yang memberikan rezeki.

Dan makhluk yang Allāh ﷻ berikan rezeki bukan hanya makhluk yang terlihat jelas di mata manusia, tapi di sana ada makhluk-makhluk Allāh ﷻ yang tinggal di dalam tanah, ada yang di dasar lautan yang paling dalam, tapi rezeki Allāh ﷻ sampaikan kepada mereka masing-masing dengan cara yang Allāh ﷻ ketahui. Apa yang sudah Allāh ﷻ tulis sebelumnya, Allāh ﷻ akan takdirkan rezeki tersebut sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis, akan datang kepadanya rezeki sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis. Dia-lah yang menyampaikan rezeki kepada makhluk makhluk-Nya dimanapun dia berada, di tempat yang paling sulit di jamah oleh manusia Allāh ﷻ sampaikan rezeki kepada mereka.

Ada di sana seekor makhluk di antara makhluk-makhluk Allāh ﷻ, ada yang menceritakan bagaimana Allāh ﷻ menyampaikan rezeki kepada hewan tersebut. Allāh ﷻ berikan kemampuan kepadanya untuk bisa berdiri seperti tongkat, persis seperti tongkat bisa tenang dan tidak bergerak. Kemudian akan hinggap pada dirinya seekor makhluk yang lain, ketika dia hinggap disitulah dia akan memakan makhluk tadi. Dia tidak memiliki mungkin peralatan atau tangan atau kaki seperti yang kita miliki tapi Allāh ﷻ jadikan dia memiliki kemampuan seperti itu sehingga Allāh ﷻ datangkan makhluk yang lain kemudian dia memakannya.

Kalau kita memperhatikan bagaimana bermacam-macam hewan mereka mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ, ada yang ketika berjalan warnanya berubah seperti warna dasarnya misalnya sehingga tidak terlihat ketika datang hewan dia tidak menyadari bahwasanya dia disitu. Bermacam-macam cara Allāh ﷻ menyampaikan rezeki ini kepada mereka, maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, bahkan Allāh ﷻ telah menulis rezeki-rezeki tadi sebelum Allāh ﷻ menciptakan makhluk-makhluk yang diberikan rezeki. Mereka telah ditulis rezekinya jauh sebelum mereka lahir, lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi-Nya

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ telah menulis takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi.

Rezeki ana rezeki antum rezeki yang lain sudah Allāh ﷻ tulis. Seorang muslim ketika mengetahui bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rozzaq apakah masih tersisa di dalam hatinya kekhawatiran keresahan terhadap rezeki masa depannya. Nanti khawatir ana miskin atau ana nggak punya apa-apa dan seterusnya, resah dengan masalah rezeki di masa depan, ana nanti jadi apa dan seterusnya, ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari seseorang yang lemah iman.

Adapun seorang yang beriman maka dia meyakini bahwasanya Allāh ﷻ akan memberikan rezeki, selama kita ini masih hidup Allāh ﷻ akan memberikan rezeki. Yang menanggung orang yang bersama kita bukan kita tapi Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan

{وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [العنكبوت: 60]

Dan betapa banyak hewan atau sesuatu yang melata (makhluk hidup), engkau tidak menanggung rezeki mereka. Kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri, memikirkan keluarga kita siapa yang memberikan rezeki kepada tetangga kita, siapa yang memberikan rezeki kepada makhluk hidup yang tidak terhingga ini, Allāh ﷻ, dan kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri dan orang yang bersama kita.

الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka dan juga kalian. Jangan merasa kita yang memberikan jasa kepada istri kita, memberikan jasa kepada orang tua kita, memberikan jasa kepada keluarga kita, tidak, Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka. Seandainya mereka mendapatkan rezeki dari kita maka hanya sekedar wasilah saja, kita ini hanya perantara, dari mana kita dapatkan rezeki tadi, dari Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan kecerdasan kepada kita, memberikan pekerjaan kepada kita kemudian kita mendapatkan rezeki kemudian kita berikan kepada orang yang menjadi tanggungan kita, Allāh ﷻ yang memberikan, bukan kita. Firman Allāh ﷻ

وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا
[An-Nisa’:5]

Dan berikanlah rezeki kepada mereka. Maksudnya adalah jadilah kalian sebagai perantara, rezeki Allāh ﷻ berikan kepada mereka

وَلَا تُؤۡتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمۡوَٰلَكُمُ ٱلَّتِي جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمۡ قِيَٰمٗا وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا

Dan berikanlah rezeki kepada mereka dalam harta kalian.

Maksudnya adalah kalian sebagai perantara yang menyampaikan rezeki yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kalian untuk diberikan dan diinfaqkan kepada mereka, kita hanya perantara saja. Instansi dan lembaga tempat kita bekerja juga hanya perantara, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki. Kalau ingin memuji pujilah Allāh ﷻ, termasuk kekuatan Iman ketika yang kita puji dalam masalah rezeki adalah Allāh ﷻ bukan makhluk.

Mengucapkan terima kasih, jazakallahu khayran, syukron, itu yang memang diperintahkan dalam syariat kita, tapi memuji hanya kepada Allāh ﷻ berdoa dan mengucapkan syukron itulah yang memang seharusnya kita lakukan sebagai seorang hamba Allāh ﷻ.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.

Tapi pujian, menyandarkan nikmat, maka hanya kepada Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

ذُو الْقُوَّةِ

Dia-lah Allāh ﷻ Yang Dzul Quwwah, yaitu yang memiliki kekuatan. Dzul Quwwah ini termasuk nama Allāh ﷻ dan Dia termasuk nama Allāh ﷻ yang mudhafah yang berupa mudhaf – mudhaf ilaih. Karena nama Allāh ﷻ kalau dilihat dari tarkibnya (susunannya) apakah itu kata yang berdiri sendiri atau dia adalah mudhaf – mudhaf ilaih terbagi menjadi dua. Ada nama Allāh ﷻ yang Mufrodah, dia satu kata saja bukan mudhaf – mudhaf ilaih, ini contohnya banyak, Ar-Rohman, Ar-Rahim, Al-‘Alim, Al-Hakim, Al-Khabir, As-Sami’, Al-Bashir.

Tapi disana ada asma’ al-mudhofah, nama-nama Allāh ﷻ yang di idhofahkan, di sana ada mudhof disana ada mudhof ilahi.

Contohnya adalah Dzul Quwwah disini, dan ذُو maknanya adalah shahib, shahibul quwwah, yang memiliki kekuatan. Contoh yang lain Malikul Mulk, Maliki Yaumiddin, maka ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah, atau Robbul ‘Alamin, Robbul ‘Arsy, berarti ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah yang di idhofahkan.

Dzul Quwwah,sifat Allāh ﷻ yang terkandung didalamnya adalah Al-Quwwah. Ada sebagian mengatakan apa bedanya dengan Qowi, dan Al- Qowi termasuk nama Allāh ﷻ, namun disana ada makna yang tersembunyi dalam penggunaan ذُو yang artinya adalah yang memiliki. Sebagian mengatakan bahwasanya maksudnya adalah kekuatan yang tidak akan berkurang, Dzul Quwwah yaitu senantiasa memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak akan berkurang, maka Allāh ﷻ Dia-lah yang sangat kuat, tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ. Lihat bagaimana Allāh ﷻ menciptakan langit dan Allāh ﷻ menahan langit sebesar itu sehingga tidak jatuh, Dia-lah Allāh ﷻ yang menahan benda-benda angkasa sehingga masing-masing berjalan di jalannya tidak bertabrakan satu dengan yang lain, Allāh ﷻ Dia-lah Dzat Yang Maha Kuat.

Dan diantara faedah yang bisa kita ambil dari nama Allāh Dzul Quwwah, seorang muslim atau seorang yang beriman tidak putus asa dengan apa yang menimpanya, Allāh ﷻ Robb yang dia sembah adalah Dzul Quwwah yang memiliki kekuatan yang luar biasa, Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya. Sehingga ketika dia mendengar kekuatan yang dimiliki oleh musuh-musuh Allāh ﷻ, yang mereka memiliki kekuatan demikian, kekuatan demikian, ketika dia mengingat Allāh ﷻ maka kekuatan-kekuatan musuh Allāh ﷻ adalah tidak ada bandingannya dengan kekuatan Allāh ﷻ. Ada orang-orang yang lebih kuat dari mereka dan mereka hancur karena mereka menentang Allāh ﷻ. Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Kuat tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ.

Didalam ayat Al-Qur’an Allāh ﷻ ketika menceritakan ‘Ād

فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ

Adapun ‘Ād maka maka mereka sombong di bumi dengan tanpa hak

وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Dan mereka mengatakan siapa yang lebih kuat daripada kami.

Allāh ﷻ ciptakan mereka menjadi kaum yang memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan yang lain, tapi mereka lupa kepada Allāh ﷻ dan sombong dengan kekuatan tadi, sampai mereka berkata مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, bahwa siapa yang lebih kuat daripada kami, lupa bahwasanya Allāh ﷻ yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً
[Fushshilat:15]

Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Allāh ﷻ yang telah menciptakan mereka itu lebih kuat daripada mereka.

Yang menciptakan mereka, yang memberikan kekuatan kepada mereka lebih berhak memiliki sifat kekuatan daripada mereka, ini menjadi dalil bahwasanya di antara cara untuk mengenal sifat Allāh ﷻ adalah dengan akal dengan qiyas aula. Kalau makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ memiliki sifat kesempurnaan, dan kekuatan adalah termasuk sifat kesempurnaan bagi makhluk, makhluk yang lebih kuat maka itu lebih sempurna, maka seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin bagi Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut.

Seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin Allāh ﷻ bersifat dengannya maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut. Ini termasuk menetapkan sifat Allāh ﷻ dengan akal, jadi di sana ada sifat Allāh ﷻ yang ada di dalam dalil Al-Qur’an dan juga hadist dan juga bisa dia di waktu yang sama dengan akal juga bisa kita mengakui bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat tersebut. Berarti terkumpul didalamnya dalil naqli dan dalil aqli.

Kalau seorang makhluk dia memiliki sifat kesempurnaan tadi maka yang menciptakan itu lebih berhak, yang memberikan itu lebih berhak memiliki sifat tadi daripada makhluk tadi. Kalau makhluk tadi memiliki sifat kekuatan maka Allāh ﷻ lebih kuat dan Dia-lah yang memiliki sifat kuat tersebut dan sifat kuat yang dimiliki oleh Allāh ﷻ tentunya berbeda dengan sifat kuat yang dimiliki oleh makhluk, Allāh ﷻ memiliki sifat kuat dan makhluk juga memiliki sifat kuat. Allāh ﷻ mengatakan

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً
[Ar-Rūm:54]

Allāh ﷻ Dia-lah menciptakan kalian dari kelemahan kemudian menjadikan setelah kelemahan tersebut kekuatan.

Allāh ﷻ berikan kepada kita kekuatan. Dan di dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam salah seorang dari putri Syu’aib berkata

إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
[Al-Qashash:26]

Wahai bapakku sewalah dia (Musa), sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau sewa adalah orang yang kuat dan juga terpercaya.
Berarti makhluk juga memiliki sifat kuat, apakah ketika kita menetapkan sifat kuat bagi Allāh ﷻ dalam Firman-Nya Dzul Quwwah berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Jawabannya tidak. Kita memiliki kekuatan tapi sangat terbatas, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang paling kuat di dunia, apa yang bisa diangkat, tapi kekuatan Allāh ﷻ adalah kekuatan yang sangat sempurna. Allāh ﷻ kuat dan Allāh ﷻ tidak pernah lelah, Allāh ﷻ mengatakan wa mā massanal bil lughub, dan kami tidak ditimpa oleh lelah atau capek, ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki kekuatan yang sangat sempurna dan luar biasa.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Al-Matīn ada yang menafsirkan maknanya adalah asy-syadid yaitu yang sangat kokoh yang sangat kuat, syiddatul quwwah. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah Al-Matanah yang artinya adalah syiddatul quwwah, kekuatan yang sangat kokoh. Berarti di sini Allāh ﷻ menetapkan di dalam ayat ini disebutkan ada empat nama Allāh ﷻ dan masing-masing diantara nama tadi mengandung sifat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS At-Tahrim Ayat 2 dan 3, Saba Ayat 2, dan Al-Anam 59

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ

Dan juga nama Allāh ﷻ

وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui lagi Maha Al-Hakim. Syahidnya disini adalah وَهُوَ الْعَلِيمُ dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui. Nama Allāh Al-‘Alim kita tetapkan dan mengandung sifat Al-‘Ilmu, Al-Hakim, Dia-lah yang Maha Al-Hakim bisa diartikan Maha Bijaksana bisa diartikan Maha Menghukum dan bisa juga diartikan Maha Kokoh, kokoh dalam menciptakan dalam mensyariatkan.

Kenapa kita katakan di sini bisa diartikan macam-macam, karena Al-Hakim ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung minimal tiga sifat,

pertama adalah mengandung sifat Al-Hikmah (bijaksana), Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana,

kemudian yang kedua mengandung sifat Al-Hukum, Dia-lah yang menghukumi,

kemudian yang ketiga sifatnya adalah sifat Al-Ihkam yang artinya adalah itsqan yaitu kokoh dan teliti, sempurna, kuat.

Berarti ada tiga sifat yaitu Al Hikmah, Al Hukum, dengan Al-Ihkam.

Hikmah yaitu Allāh ﷻ Maha Bijaksana, maksud bijaksana adalah meletakkan sesuatu pas pada tempatnya, tidak ada yang meleset, tidak ada yang kurang. Allāh ﷻ itu hikmah dan Maha Bijaksana baik dalam syariat-Nya maupun dalam penciptaan.

Dalam syariat-Nya, yaitu di dalam Al-Qur’an atau di dalam Sunnah, syariat yang ada dalam agama Islam ini penuh dengan hikmah. Kalau Allāh ﷻ mensyariatkan sesuatu yakin pasti di sana ada hikmahnya, Allāh ﷻ Maha Bijaksana. Kenapa shalat lima kali, kenapa salat dzuhur setelah tergelincirnya matahari, kenapa maghrib setelah terbenamnya matahari, yakin di situ ada hikmanya. Kenapa kita disyariatkan untuk puasa Syawal, kenapa ada syariat puasa tiga hari setiap bulan, kenapa disana rawatib, kita yakin bahwasanya di dalam setiap apa yang disyariatkan oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada hikmanya, kebaikan kembali untuk diri kita sendiri baik di dalam apa yang Allāh ﷻ perintahkan maupun apa yang Allāh ﷻ larang. Allāh ﷻ melarang untuk berzina Allāh ﷻ melarang untuk melihat sesuatu yang diharamkan maka pasti di sana ada hikmahnya.

Dan ditahun-tahun terakhir ini banyak penelitian misalnya tentang akibat seseorang melihat sesuatu yang diharamkan, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat padahal itu adalah perkara yang diharamkan. Bagaimana itu pengaruhnya terhadap otak seseorang, disana ada hormon tertentu yang akan keluar ketika seseorang melihat perkara yang diharamkan, tetapi ketika itu berlebih-lebihan akhirnya akan banjir hormon tersebut yang akhirnya akan mempengaruhi daya pikir seseorang, menjadi orang yang bodoh, menjadi orang yang tidak bisa berpikir, susah untuk menghafal dan lain-lain.

Berarti secara syariat dilarang oleh Allāh ﷻ dan secara ilmiah dan ini menunjukkan hikmah Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya dalam syariat yang lain ini juga demikian. Kenapa seorang wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, pasti disana ada hikmahnya, ada yang mengatakan bahwasanya kulit wanita ini berbeda dengan kulit laki-laki, dia mudah terkena mudhorot ketika terkena matahari secara langsung berbeda dengan kulit laki-laki misalnya, jadi di sana ada maslahat tersendiri bagi kita.
Seorang muslim meskipun dia tidak tahu tentang hikmah tadi maka dia beriman, melaksanakan apa yang Allāh ﷻ perintahkan dan meninggalkan apa yang Allāh ﷻ larang dengan hati yang tenang dan yakin itu adalah untuk kebaikan ana sendiri. Orang yang menjalani syariat ini maka dia akan hidup dengan nyaman, hidup dengan sehat.

Hikmah di dalam syariat dan juga hikmah di dalam penciptaan. Ketika Allāh ﷻ menciptakan maka itu semuanya dengan penuh perhitungan, berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ menciptakan kita sebagai manusia sudah dengan ilmu dan dengan perhitungan yang sangat matang yang sangat bijaksana, Dia-lah yang menciptakan kita fī aḥsani taqwīm, dengan bentuk yang sangat indah, tangan yang proporsional, kakinya juga demikian, posisinya juga luar biasa, di taruh posisi tangan di sini supaya kita lebih leluasa untuk melakukan berbagai pekerjaan kita, diberikan kita dua tangan bukan satu tangan, diberikan tangan ini jari-jemari yang dengannya kita bisa memegang banyak hal, diberikan kita gigi dan gigi nya bermacam-macam ada yang fungsinya untuk mengunyah ada yang fungsinya untuk mencabik, disana ada lidah yang digunakan untuk menggerakkan makanan ke kanan dan juga kekiri, di sana ada zat yang bisa mematikan kuman, disana ada yang melembutkan, disana ada yang menyerap, disana ada yang mengedarkan, Subhanallāh, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Bijaksana.

Siapa yang menciptakan yang demikian selain Allāh ﷻ, Dia-lah Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan. Siang dan juga malam di bolak balik oleh Allāh ﷻ, hikmah yang sangat dalam, penciptaan langit, penciptaan bumi, bagi orang yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ ini maka dia akan mendapatkan bagaimana Allāh ﷻ Dia-lah yang Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana baik di dalam syariatnya maupun dalam penciptaannya.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menghukumi baik hukum syar’I, Allāh ﷻ menurunkan hukum-hukum-Nya didalam syariat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Hakim yang menurunkan hukum syar’i maupun hukum yang kauni, Allāh ﷻ yang menciptakan.

Demikian pula Al-Ihkam, diantara sifat yang terkandung dalam Al-Hakim adalah Al-Ihkam yaitu kokoh, kokoh dalam syariat maupun kokoh dalam penciptaan maka Allāh ﷻ Dia-lah Al Hakim Yang Maha Bijaksana Yang Maha Menurunkan Hukum, Dia-lah Yang Mutkin dalam hukum-Nya.

Ayat yang selanjutnya adalah firman Allāh ﷻ

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Al-Khobir, syahidnya di sini adalah Al-‘Alim, Allāh ﷻ menetapkan dalam ayat ini nama Allāh Al-‘Alim ini adalah syahidnya, ditambah lagi dengan Al-Khabir.

Ayat yang sebelumnya Al-‘Alim Al-Hakim, hubungan antara hikmah dengan ilmu yang namanya hikmah ini berdasarkan ilmu, seseorang bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya kalau dia memiliki ilmu, adapun orang yang jahil maka dia ngawur dalam meletakkan sesuatu. Kalau kita memang ingin bijaksana, menjadi orang yang bijaksana maka hendaklah kita menuntut ilmu agama, menuntut ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita akan menjadi orang yang bijaksana adapun orang yang tidak memiliki ilmu maka bagaimana dia akan menjadi orang yang bijaksana.

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Hubungan antara Al-’Alim dengan Al-Khabir, Al-Khabir mengandung sifat khibrah artinya pengalaman dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan khibrah dalam bahasa Arab adalah ilmu yang sempurna dan ilmu yang mendalam, yang teliti, itu dinamakan dengan khibrah, khibrah ini adalah kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu tadi. Berarti di sini ada makna yang za’id (tambahan), bukan hanya sekedar ilmu tapi kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu.

Makanya antara tahu dengan berpengalaman ini lebih dalam berpengalaman. Dia pengalaman artinya sudah bertahun-tahun dan sudah mengetahui luar dalamnya, ini pengalaman. Allāh ﷻ Dia-lah Al-Alimul Khobir, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan dua ayat ini untuk menguatkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-’Alim dan diantara sifat Allāh ﷻ adalah Al-‘Ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ dalam Surat Saba’

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Allāh ﷻ Dia-lah Al-’Alim dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia-lah Al-Khabir Yang Maha Mengetahui perkara dalam sampai yang sedetail-detailnya, Dia-lah Al-Bathin yang mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya, maka di sana ada ayat yang memperinci ilmu Allāh ﷻ diantaranya adalah surah Saba ini, untuk menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ

Allāh ﷻ mengetahui setiap apa yang masuk ke dalam bumi, yaliju artinya adalah yadkhulu, Allāh ﷻ mengetahui setiap yang masuk kedalam bumi. Disana ada benda-benda, makhluk-makhluk yang masuk ke dalam bumi, semut misalnya, cacing misalnya di atas kemudian dia masuk ke sarangnya, atau air yang turun dari atas masuk ke dalam bumi juga atau orang yang meninggal dunia dikuburkan ke dalam bumi, seluruh perkara atau seluruh benda seluruh makhluk yang masuk ke dalam bumi Allāh ﷻ يَعْلَم, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang masuk ke dalam bumi kecuali Allāh ﷻ tahu apa yang masuk dalam bumi tadi. مَا disini menunjukkan umumnya, apa saja, tidak mungkin masuk ke dalam bumi sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ

وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Dan Allāh ﷻ mengetahui apa yang keluar dari bumi. Air keluar dari bumi, barang tambang misalnya keluar dari bumi, minyak bumi, emas misalnya, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, apa yang keluar dari bumi itu di bawah Ilmu Allāh ﷻ. Tumbuhnya tunas misalnya keluar dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, keluarnya setetes air atau sedikit air dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, itu dibawah ilmu Allāh ﷻ, keluarnya minyak bumi itu adalah dengan ilmu Allāh ﷻ, keluarnya lahar misalnya dari gunung berapi maka itu Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ, yang masuk ke dalam bumi yang keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء

Dan apa yang turun dari langit, kalau tadi Allāh ﷻ bicara tentang bumi sekarang bicara tentang langit, makhluk Allāh ﷻ yang sangat besar. Yang turun darinya Allāh ﷻ mengetahui, seperti malaikat Jibril yang datang dari atas menyampaikan wahyu pada seorang nabi atau malaikat-malaikat sebagaimana yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Qadr. Atau yang datang dari atas, مِنَ السَّمَاء di sini juga bisa diartikan dari atas, seperti misalnya hujan, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun berapa kubik dan di mana dia akan turun dan kapan turunnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا

Dan apa yang naik ke atas, baik itu malaikat-malaikat yang Allāh ﷻ tugaskan, karena setiap hari ada malaikat-malaikat yang bergantian naik turun, dan di sana ada amalan-amalan yang naik ke atas disampaikan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun dari atas maupun yang naik ke atas tidak ada yang samar bagi Allāh ﷻ. Tidak mungkin ada yang naik dan tidak mungkin ada yang turun dan itu tidak diketahui oleh Allāh ﷻ, semuanya dengan ilmu Allāh ﷻ, ini menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu, ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ.

Didalam ayat yang lain yaitu surat Al-An’am, Allāh ﷻ mengatakan

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Dan di sisi-Nya ada kunci-kunci ilmu ghoib, ada yang mengartikan kunci-kunci di sini adalah khozā’in yaitu perbendaharaan ilmu ghoib itu di sisi Allāh ﷻ.

لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Disebutkan dalam sebuah hadits tentang makna مَفَاتِحُ الْغَيْبِ, Nabi ﷺ mengatakan

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ

Kunci-kunci ilmu ghoib itu ada lima, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Haditsnya Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.

لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلاَّ اللَّهُ

Tidak ada yang mengetahui apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allāh ﷻ, yaitu yang mengetahui dia kelak akan menjadi seorang laki-laki atau wanita dan seterusnya, tidak ada yang mengetahui yang demikian kecuali Allāh ﷻ, ini sebelum Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat, setelah Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat dia laki-laki atau perempuan maka ini tidak lagi menjadi ilmu ghoib karena sudah diberitahukan oleh Allāh ﷻ kepada malaikat sehingga bisa diketahui laki-laki atau wanita setelah berapa bulan, yaitu kalau sudah diketahui berarti ini bukan lagi ilmu ghoib tapi sebelumnya tidak ada yang bisa mengetahui.

وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلاَّ اللَّهُ

Dan tidak mengetahui apa yang terjadi besok kecuali Allāh ﷻ.

Dukun tidak tahu, tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kecuali Allāh ﷻ, bahkan dusta setiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib, para peramal para dukun yang dengan berbagai cara mereka menipu manusia.

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللَّهُ

Tidak mengetahui kapan akan datang hujan seorangpun kecuali Allāh ﷻ. Dengan ilmu yang yakin di atas keyakinan besok akan terjadi hujan, yang mengetahui hanya Allāh ﷻ saja, kalau kita hanya memperkirakan, disana ada mendung itu kita hanya memperkirakan saja adapun ilmu yang pasti yang mengetahui Allāh ﷻ.

وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللَّهُ

Sebuah jiwa tidak mengetahui kapan dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ, dimana dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللَّهُ

Dan tidak mengetahui kapan terjadinya As-Sa’ah (tiupan sangkakala yang pertama) kecuali Allāh ﷻ.
Ini adalah مَفَاتِحُ الْغَيْبِ lima perkara yang merupakan kunci ilmu ghoib, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui apa yang ada di darat maupun yang ada di lautan. Yang ada di darat seluruhnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tentang diri kita, tentang makhluk yang lain, pohon, hewan dan apa yang ada di dalam daratan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan apa yang ada di lautan dengan berbagai jenis ikannya dan benda-benda yang ada di dalamnya, kapal-kapal yang karam dan seluruh makhluk hidup dan makhluk yang mati di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

Dia-lah Allāh ﷻ yang mengetahui segala sesuatu apa yang terjadi di lautan, mungkin di sana ada peninggalan-peninggalan Firaun yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tenggelamnya dia di dalam laut, dan kapal-kapal yang besar yang mereka tenggelam dan tidak diketahui kabarnya, Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang terjadi di dalam sana, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di darat maupun di laut.

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا

Dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh ﷻ mengetahui, Subhanallāh, jatuhnya daun misalnya di malam hari dan kalau kita hitung berapa jumlah daun yang ada dibumi, satu persatu jatuhnya dia Allāh ﷻ Maha Mengetahui, kapan jatuhnya, karena sebab apa karena angin atau karena digoyang oleh orang, di mana dia jatuhnya, bagaimana dia jatuhnya itu tidak lepas dari ilmu Allāh ﷻ. Kalau yang demikian saja Allāh ﷻ mengetahui lalu bagaimana dengan yang perkara-perkara yang lain.

وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ

Dan tidak pula biji-bijian yang ada dalam kegelapan-kegelapan bumi. Karena cahaya tidak sampai ke dalam sana tapi biji-bijian yang ada di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan kita tidak melihat ternyata mungkin di bawah rumah kita ada biji ini, ternyata di sana ada biji ini, di bawah bumi itu banyak biji-bijian, mungkin terbawa air, mungkin di bawah burung atau dilempar oleh seseorang, bentuknya kecil tapi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, ketika turun hujan tertimpa air kemudian Allāh ﷻ menghendaki dia untuk tumbuh.

وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِين

Dan tidak ada sesuatu yang basah ataupun yang kering kecuali itu semuanya ada dalam kitab yang jelas, yaitu dalam lauh al-mahfudz. Bagaimana seseorang ragu bahwasanya Allāh ﷻ memiliki ilmu yang Maha Sempurna. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَى وَلا تَضَعُ إِلاَّ بِعِلْمِه

Dan tidaklah seorang wanita mengandung dan tidak melahirkan kecuali dengan ilmu Allāh ﷻ. Mengandung sebabnya apa, berapa lama dia mengandung, apa yang terjadi dalam perutnya dan ketika melahirkan juga demikian kapan dia akan lahir, Allāh ﷻ yang menentukan Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui, dimana dia akan melahirkan Allāh ﷻ yang juga mengetahui tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ. Kemudian ayat yang terakhir

وَقَوْلُهُ: لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Supaya kalian mengetahui bahwa Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Ini Allāh ﷻ sebutkan setelah Allāh ﷻ menyebutkan tentang penciptaan Allāh ﷻ terhadap tujuh langit dan juga bumi, Allāh ﷻ mengatakan

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ
[At-Talaq:12]

Allāh ﷻ Dia-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi yang semisalnya, ada yang mengatakan bumi juga tujuh,

يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ

Perintah Allāh ﷻ turun antara langit dan bumi, yaitu Allāh ﷻ mewahyukan kepada seorang nabi seorang rasul

لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Supaya kalian mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yaitu Allāh ﷻ menciptakan diantara faedahnya supaya kita paham, supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.

Jadi tidak ada keputusasaan pada diri seorang muslim tidak ada putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ Dia-lah yang untuk mampu melakukan segala sesuatu, Dia-lah yang bisa menghilangkan dari kita bala’ dalam sekejap dalam sedetik atau kurang dari sedetik Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya, senantiasa ada dalam diri seorang muslim harapan, keluar dari berbagai problem baik problem pekerjaan atau rumah tangga, Allāh ﷻ mampu untuk menolong dia dan melakukan apa yang kita minta dari Allāh ﷻ.

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kalau kita memperhatikan ciptaan Allāh ﷻ langit maupun bumi dan bagaimana itqannya (detailnya) Allāh ﷻ menciptakan ciptaan tersebut, di sini kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ ilmunya adalah sangat-sangat luas dan sangat detail, berarti ayat ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat ilmu, yaitu dalam Firman-Nya

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan bahwasanya ilmu Allāh ﷻ ini meliputi segala sesuatu.

Disana ada aliran atau orang yang menyimpang dalam masalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ayat-ayat ini membantah itu semua, seperti misalnya orang-orang qadariyah yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya, ini adalah keyakinan yang menyimpang dan jelas ini bertentangan dengan firman-firman Allāh ﷻ yang sudah disebutkan oleh Syaikhul Islam sebagiannya dalam kitab ini. Dia mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui kecuali setelah terjadinya, padahal Allāh ﷻ mengatakan

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan dalam ayat kursiy

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang sudah berlalu dan apa yang akan terjadi, maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ, tidak seperti yang di yakini oleh sebagian firoq dhollah (aliran yang sesat), ini semua karena mereka tidak kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits dengan pemahaman para salaf, dan mereka kembali kepada akal-akal mereka sendiri sehingga terjatuh lah mereka ke dalam kesesatan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 13

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 13 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Setelah mendatangkan ayat yang berkaitan dengan nama Allāh Al-Hayyu yang mengandung sifat Al-Haya maka beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Disini ada 7 ayat, 1) Surat Al-Hadid, 2) At-Tahrim وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم, kemudian 3) At-Tahrim lagi, kemudian 4) Surah Saba’, kemudian 5) surah Al-Anam, kemudian 6) surat Fatir, kemudian 7)surat At-Talaq. Ini ada 7 ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Beliau kumpulkan jadi satu supaya mudah bagi kita, dan itu yang akan beliau lakukan setelahnya, mengumpulkan beberapa ayat yang menunjukkan tentang satu sifat, kemudian mengumpulkan beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang satu sifat, ada yang mutajanis (sejenis) beliau kumpulkan, tentunya untuk memudahkan kita dalam menghafal. Dan di sini beliau mendatangkan ayat dan juga mendatangkan hadits, isyarat bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah, kita menerima jadi dari Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah (Allāh ﷻ) Al-Awwal. Yang dimaksud dengan Al-Awwal adalah yang tidak ada sesuatu yang mendahului Allāh ﷻ.

وَالآخِرُ

Yang dimaksud dengan Akhir, tidak ada suatu setelah Allāh ﷻ artinya Dia yang terakhir. Dia-lah yang tidak akan meninggal, Dia-lah yang tidak akan musnah, Dia-lah yang akan ada selamanya.

وَالظَّاهِرُ

Yang dimaksud dengan Dzohir adalah Yang Maha Tinggi, yang tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allāh

وَالْبَاطِنُ

Adalah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara sedalam-dalamnya, sebatin-batinnya. Dan ini ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sebuah hadits dan tentunya ini adalah tafsir yang paling baik, karena ketika seseorang menafsirkan Al-Qur’an yang paling baik adalah

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi ﷺ.

Kalau sudah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ, kita pegang erat-erat apa yang Beliau ﷺ sampaikan.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dimana hadits ini menceritakan tentang adab diantara adab-adab ketika seseorang akan tidur. Disebutkan Abu Sholih memerintahkan murid-muridnya kalau salah seorang di antara mereka ingin tidur maka hendaklah mereka berbaring di atas badan bagian kanan kemudian dia mengatakan

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

Ya Allāh ﷻ Engkau adalah yang awwal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu.

Allāh ﷻ Dia-lah yang tidak didahului dengan ketidak adaan, Allāh ﷻ dari dulu ada.

وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ

Dan Engkau adalah akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Artinya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia-lah yang akan ada selamanya, dan ini adalah sifat Dzatiyah bagi Allāh ﷻ. Al-Awwal di dalamnya ada sifat Al-Awwaliyyah, Al-Akhir di dalamnya ada sifat Al-Akhiriyah, berarti di sini kita menetapkan dua nama bagi Allāh ﷻ, Al-Awwal Al-Akhir, Al-Awwal mengandung sifat Awwaliyah, Al-Akhir mengandung sifat Al-Akhiriyah

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ

Dan Engkau adalah Adz-Dzohir. Adz-Dzohir artinya adalah Tinggi atau Yang Maha Tinggi, kalimat dzuhur artinya adalah tinggi sebagaimana dalam surat Al-Kahfi Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang ya’juj dan juga ma’juj

فَمَا ٱسْطَٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ

Mereka, yaitu ya’juj dan juga ma’juj tidak mampu untuk يَظْهَرُوهُ, yaitu naik ke atas tembok raksasa atau dinding raksasa yang dibuat oleh Dzulqarnain, karena sangat tingginya tembok tadi mereka tidak bisa menaiki, naik ke sana adalah sesuatu yang sulit bagi mereka licin dan dia adalah tinggi, mereka tidak mampu untuk menaiki tembok raksasa tadi.

وَمَا ٱسْتَطَٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا

Dan mereka tidak mampu untuk melubangi, karena dia adalah terbuat dari logam yang sangat kuat mereka tidak mampu melubangi, jadi naik ke atas tidak bisa melubangi yang di bawah juga tidak bisa. Disini syahid bahwasanya makna dzuhur adalah tinggi. Adz-Dzohir artinya adalah Yang Maha tinggi.

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ

Tidak ada sesuatu di atas Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Tinggi. Berarti disini kita menetapkan sifat tinggi bagi Allāh ﷻ. Kemudian

وَأَنْتَ الْبَاطِنُ

Dan Engkau adalah Al-Bathin, Engkau adalah Yang Maha Bathin. Bathin adalah dalam, وَأَنْتَ الْبَاطِنُ maksudnya Engkau adalah yang paling dalam

فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ

Maka tidak ada yang lebih dalam dari-Mu. Maksudnya adalah Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu sampai yang paling dalam, yang dzhohirnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, batinnya (dalam-dalamnya) juga Allāh ﷻ Maha Mengetahui.
Berarti di sini di antara nama Allāh ﷻ adalah Adz-Dzhohir, sifatnya adalah Adz-Dzhuhur, diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Bathin dan sifatnya adalah Allahu A’lam bathiniyah, yang Dzhohir juga bisa juga sifat Dzhohiriyah atau sifat di sini sifat bathiniya. Kita terapkan bagi Allāh ﷻ karena setiap nama ini mengandung sifat.

Berarti Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Tinggi, meskipun Allāh ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ, tapi ternyata Allāh ﷻ yang paling mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya. Allāh ﷻ Maha tinggi di atas dan kita berada di sini di bawah tapi yang lebih mengetahui tentang perincian apa yang ada disekitar kita sedalam-dalamnya adalah Allāh ﷻ. Jadi tidak ada di sana pertentangan antara ketinggian Allāh ﷻ dengan Maha Tahunya Allāh ﷻ, Dia-lah Adz-Dzhohir, Dia-lah Al-Bathin, Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang mengetahui batin-batin seluruh perkara sampai sedalam-dalamnya. Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir, Dia-lah yang awal yang tidak didahului dengan sesuatu dan tidak akan binasa, Dia-lah Yang Maha Hidup.

اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ

Ya Allāh ﷻ tunaikanlah, bayarkanlah utang kami

وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Dan cukupkanlah kami dari kefaqiran, artinya cukupkanlah kami dan jauhkan kami dari kefaqiran.

Ini termasuk dzikir yang disyariatkan sebelum kita tidur, di situ ada pujian kepada Allāh ﷻ, ada bertawasul kepada Allāh ﷻ, bertawasul dengan rububiyah Allāh ﷻ kemudian juga bertawasul dengan nama-nama Allāh ﷻ, kemudian di situ ada permintaan kepada Allāh ﷻ supaya di hilangkan atau ditunaikan hutangnya dan dicukupi dari kefaqiran. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ.

Maka ini adalah tafsir yang paling baik karena ditafsirkan langsung oleh nabi kita Muhammad

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Dan Dia-lah yang dengan segala sesuatu Maha Mengetahui, dan disini syahid وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu mencakup apa saja, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, yang sekarang, di masa yang akan datang, semuanya masuk dalam بِكُلِّ شَيْء segala sesuatu. Segala sesuatu baik yang ada dibumi maupun apa yang ada dilangit, segala sesuatu baik yang berkaitan dengan dzat makhluk-Nya maupun perbuatan-perbuatan mereka.

بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu. Dari sini kita mengetahui tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ. Apakah makhluk memiliki ilmu? Na’am ilmu juga merupakan sifat makhluk. Allāh ﷻ menyebutkan dalam Al-Qur’an menyifati sebagian nabi-Nya bi ghulamin ‘alim (seorang anak yang mengetahui), makhluk juga memiliki sifat Ilm.

Apakah ketika kita menetapkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Nyatanya tidak. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna seperti tadi kesempurnaannya, segala sesuatu diketahui Allāh ﷻ yang telah berlalu maupun yang akan datang. Kalau ilmu kita ilmu yang sangat terbatas.

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

[Al-Isra’:85]

Tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit. Silakan Antum membaca buku sebanyak-banyaknya, belajar sebanyak-banyaknya, berapa sih yang kita dapatkan dari ilmu. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sangat luas. Berarti ketika seseorang menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ, bukan berarti dia menyamakan dengan makhluk, ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna, tidak didahului dengan kebodohan seperti kita dan tidak diakhiri dengan lupa atau hilang ingatan, itu ilmu Allāh ﷻ tidak didahului oleh kebodohan, beda dengan ilmu kita.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا

[An-Nahl:78]

Allāh ﷻ mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu. Setelah itu kita besar kemudian kita belajar dan banyak perkara yang kita ketahui, ketika kita sudah tua ada diantara kita yang sudah mulai berubah, sebelumnya dia tahu dan hafal nama anak-anaknya, sekarang ditanya ini siapa dia tidak tahu. Kemarin dia mahir dalam matematika sekarang dia satu tambah satu saja tidak bisa, itulah ilmu manusia.

Allāh ﷻ Dia-lah yang بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم Dia-lah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Kalau demikian maka kita meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu dan Allāh ﷻ memuliakan orang-orang yang berilmu, maka kita meminta sebagian dari ilmu Allāh ﷻ, meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengajarkan kita.

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ berdoa kepada Allāh ﷻ untuk Abdullah ibn Abbas

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allāh ﷻ jadikan dia paham tentang agamanya dan ajarkan kepada dia ilmu tafsir. Karena Allāh ﷻ Dia-lah yang yufaqqih dan Dia-lah yang yu’allim.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan maka Allāh ﷻ akan menjadikan dia paham tentang agamanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ

[An-Nisa’:113]

Dan Allāh ﷻ mengajarkan kepadamu apa yang engkau tidak tahu. Dan Allāh ﷻ mengatakan

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

[Al-’Alaq:5]

Dia-lah yang mengajarkan manusia sesuatu yang dia tidak tahu sebelumnya.

Mintalah kepada Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, mintalah kepada Allāh ﷻ ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada para ulama kita. Sehingga sebagian salaf dahulu atau sebagian ulama seperti Ibnu Hajar, ketika dia mengetahui bagaimana luasnya ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada Al-Imam Adz-Dzahabi beliau berdoa kepada Allāh ﷻ minta supaya diberikan ilmunya Al-Imam Adz-Dzahabi karena dia tahu bahwasanya yang memberikan ilmu kepada Adz-Dzahabi adalah Allāh ﷻ.

Maka ini adalah pemahaman bagi kita, ketika kita melihat, takjub, masya Allāh syekh fulan syekh fulan memiliki ilmu luar biasa, kembali kita kepada Allāh ﷻ, ya Allāh ﷻ ajarkan kepadaku ilmu agama sebagaimana engkau berikan kepada misalnya Syaikhul Islam kepada Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar. Sebagian kita mungkin tidak sampai ke situ dia memikirkan, dia mengatakan masyaAllāh ﷻ syekh fulan demikian dan demikian tidak sampai kepada merendahkan diri kepada Allāh ﷻ untuk mendapatkan ilmu agama ini.

Maka ini adalah ayat yang pertama, menunjukkan kepada kita tentang, pertama penetapan nama Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin dan juga nama Allāh ﷻ Al-’Alim. Kemudian kandungan sifatnya di sini Al-Awaliyah, Al-Akhiriyah, Adz-Dzhohiriya, Al-Bathiniya dan sifat Al-’Ilmu.

Sebagian mengatakan هُوَ الأَوَّل disini adalah mubtada’ dan juga khobar, khobarnya disini ma’rifah, mubtada’nya juga ma’rifah, jelas, maka kalau sama-sama ma’rifah seperti ini menunjukkan kekhususan, artinya nama Allāh Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin ini khusus bagi Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam Ayat Qursiy

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita masuk pada ayat Al-Kursiy, kemudian beliau mengatakan

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي أَعْظَمِ آيَةٍ فِي كِتِابِهِ

Dan apa yang Allāh ﷻ sifatkan dengan-Nya نَفْسَهُ (diri-Nya sendiri) di dalam ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah ayat kursiy, أَعْظَمِ آيَة berdasarkan sebuah hadits, yaitu haditsnya Ubay bin Ka’ab dimana Nabi ﷺ pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Tahukah kamu يَا أَبَا الْمُنْذِر (ini adalah kunyah dari Ubay bin Ka’ab), ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu adalah ayat yang paling besar, yang paling agung

قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Beliau mengatakan Allāh ﷻ dan Rasul-Nya lebih tahu

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Wahai Abal Mundzir tahukah kamu ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu paling besar. Ditanya dua kali oleh Nabi ﷺ, Beliau ﷺ ingin mengajak dia untuk berpikir menurut Abal Mundzir (ubay bin ka’ab) apa ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an

قَالَ قُلْتُ

Maka ubay bin ka’ab membaca firman Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Baqarah 255

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ

Membaca ayat kursiy

قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى

Maka ubay bin ka’ab menceritakan bahwasanya Nabi ﷺ memukul dadanya (menepuk dadanya) kemudian mengatakan

وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Beliau ﷺ mengatakan demi Allāh ﷻ semoga ilmu ini menjadi mudah bagimu wahai ubay bin ka’ab. Artinya di sini Beliau ﷺ memuji ubay bin ka’ab bahwasanya jawaban dia ini benar, ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy, ini menunjukkan ilmunya ubay bin ka’ab, dari sekian ribu ayat yang ada dalam Al-Qur’an dan dalam waktu yang tidak lama ketika ditanya oleh Nabi ﷺ beliau langsung bisa menjawab. Dan ini menunjukkan bagaimana para sahabat dahulu ketika mereka membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, bukan hanya sekedar membaca dan menghafal tapi mereka juga menghayati, sehingga taufik dari Allāh ﷻ saat itu ubay bin ka’ab langsung menyebutkan di hadapan Nabi ﷺ ayat kursiy, makanya Nabi ﷺ mengatakan

لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِر

Ini adalah pujian, kemudian yang kedua ini adalah doa, semoga ilmu ini dimudahkan untukmu wahai Abal Mundzir, doa juga untuk ubay bin ka’ab semoga mudah menerima ilmu, bertambah ilmunya. Ini menjadi dalil bahwasanya ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy dan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ayat kursiy menjadi ayat yang paling agung karena kandungan isinya, kandungan isinya adalah penyebutan beberapa nama dan juga sifat Allāh ﷻ

حَيْثُ يَقُولُ

ketika Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

اللَّه ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung sifat Al-Uluhiyah Dia-lah Allāh ﷻ yang memiliki sifat Uluhiyah, sifat Uluhiyah adalah sifat untuk disembah, hanya Dia saja yang memiliki sifat ini. Tidak ada selain Allāh ﷻ yang memiliki sifat uluhiyah dan kalau di sana ada yang disembah selain Allāh ﷻ disifati dengan sifat Uluhiyah maka ini adalah sesembahan dan pensifatan yang bathil

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم

Allāh ﷻ di sini menafikan dari diri-Nya atau menafikan adanya sesembahan selain Dia

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ

Tidak ada sesembahan selain Dia, ini tidak ada nama dan juga sifatnya, setelah itu Allāh ﷻ mengatakan

الْحَيُّ الْقَيُّوم

الْحَي adalah nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Hidup,

الْقَيُّوم nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Berdiri Sendiri, kandungan sifat yang ada di dalam الْحَي sifat Al-Hayya (sifat hidup) adapun الْقَيُّوم maka sifat Al-Qayyumiyyah yaitu sifat berdiri sendiri. الْحَيُّ sebagian ulama menjelaskan الْحَيُّ الْقَيُّوم, ketika kita menetapkan nama Allāh الْحَيُّ maka berarti kita menetapkan sifat-sifat kehidupan yang lain, yaitu sifat As-Sama’ Al-Bashar (sifat mendengar, sifat melihat) kemudian sifat Al-’Ilm (sifat ilmu), sifat Qudroh, sifat Iradah. Ketika seseorang menetapkan kesempurnaan hidup bagi Allāh ﷻ dalam nama-Nya الْحَيُّ dan yang namanya hidup yang sempurna ya ada As-Sama’, Al-Bashar, Al-’Ilm, Al- Qudroh, Al-Iradah sehingga para ulama menjelaskan bahwasanya di dalam nama الْحَيُّ ini mengandung seluruh sifat-sifat yang lazimah bagi Allāh ﷻ, yang senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ.

Adapun di dalam nama Allāh الْقَيُّوم Yang Berdiri Sendiri, dan Dia menegakkan yang lain, yang lain tidak akan tegak kecuali apabila ditegakkan oleh Allāh ﷻ, maka para ulama menjelaskan ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah yaitu yang berkaitan dengan yang lain, Dia-lah yang mencipta, Dia-lah yang memberikan rezeki, Dia-lah yang mengatur, ini semuanya masuk di dalam الْقَيُّوم Dia-lah Yang Berdiri Sendiri dan Dia-lah yang menegakkan yang lain dengan menciptakan, memberikan rezeki dan seterusnya.

Berarti الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiyah bagi Allāh ﷻ adapun الْقَيُّوم maka ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah (yang berkaitan dengan yang lain) sehingga sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasanya nama Allāh ﷻ yang paling besar adalah الْحَيُّ الْقَيُّوم, ini satu pendapat, karena الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiya الْقَيُّوم mengandung sifat yang muta’addiyah, berarti semuanya terkandung dalam الْحَيُّ الْقَيُّوم.

Makanya dari sini saja kita mengetahui kehebatan dari ayat kursiy ini, mengandung الْحَيُّ الْقَيُّوم yang di dalamnya ada penetapan sifat-sifat yang dzatiyah bagi Allāh ﷻ yang muta’addiyah bagi Allāh ﷻ

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk dan tidak ditimpa tidur. Sudah kita sebutkan bahwasanya ketika Allāh ﷻ menafikan berarti kita menetapkan kesempurnaan yang sebaliknya dari sifat yang dinafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya ngantuk yaitu pembukaan dari tidur maka kita katakan Allāh ﷻ

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَة

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk ini, kita nafikan apa yang Allāh ﷻ nafikan

وَلاَ نَوْم

dan Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur, kita nafikan dari Allāh ﷻ sifat tidur, tidak cukup disitu karena ini adalah sifat yang dinafikan maka kita sertai dengan penetapan kesempurnaan kebalikan dari sifat ini, yaitu kita tetapkan kesempurnaan sifat hidup bagi Allāh ﷻ, karena kalau hanya sekedar nafyi saja itu bukan pujian tapi ketika nafyi (dinafikan) dan ditetapkan kesempurnaannya barulah ini pujian, dan didalam diri Allāh ﷻ demikian pula, atau di dalam nama dan juga sifat Allāh ﷻ demikian. Jadi ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat, kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi. Berarti disini ada dua sifat yang dinafikan oleh Allāh

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْض

Bagi Allāh ﷻ apa yang ada di langit maupun apa yang ada di bumi. Lam di sini menunjukkan kepemilikan, bagi Allāh ﷻ, milik Allāh ﷻ apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi seluruhnya. Berarti ini menunjukkan tentang kesempurnaan sifat milik bagi Allāh ﷻ, sifat kepemilikan bagi Allāh ﷻ, ini adalah sempurna, seluruhnya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, apa yang ada di atas maupun apa yang ada di bawah semuanya adalah milik Allāh ﷻ, baik makhluk yang hidup maupun makhluk yang mati. Ini menunjukkan tentang kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ

Kemudian juga

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِه

Tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin-Nya, ini menunjukkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan kepemilikan Allāh ﷻ. Ketika Allāh ﷻ menyebutkan bahwasanya seluruh apa yang ada di langit dan apa yang di bumi adalah milik Allāh ﷻ, termasuk diantaranya adalah syafa’at itu adalah milik Allāh ﷻ

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا

[Az-Zumar:43]

Katakanlah milik Allāh ﷻ semuanya syafa’at. Syafa’at semuanya adalah milik Allāh ﷻ sehingga tidak ada yang memberikan syafa’at disisi Allāh ﷻ kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ. Ini menguatkan tentang sempurnanya kekuasaan Allāh ﷻ sampai dalam masalah syafa’at baik Nabi maupun malaikat ataupun orang yang Shaleh tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin Allāh ﷻ, berarti ini menguatkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah.

Sifat yang lain

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Ini menunjukkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sempurna. Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang di belakang mereka. Ada yang mengartikan أَيْدِيهِمْ di sini adalah apa yang sudah berlalu/terjadi, وَمَا خَلْفَهُم (di belakang mereka) yang akan terjadi, karena yang sudah terjadi berarti dia di depan, yang akan terjadi maka itu yang di belakang. Ini sebagian ulama ada yang menafsirkan demikian, بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah yang sudah berlalu yang di belakang mereka adalah yang akan terjadi.

Dan ada yang mengartikan sebaliknya بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah didepan mereka berarti yang akan terjadi yaitu yang di depan kita, وَمَا خَلْفَهُم yang di belakang mereka berarti yang sudah terjadi. Ini tidak ada pertentangan, Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui seluruhnya, yang sudah terjadi maupun apa yang akan terjadi, tafsir yang seperti ini tidak memudhoroti dan tidak ada pertentangan baik antara tafsir yang pertama dengan tafsir yang kedua ini menunjukkan tentang sempurnanya ilmu Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Dan mereka, yaitu makhluk-makhluk, tidak bisa meliputi sedikitpun dari ilmu Allāh ﷻ, yaitu tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui, إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti kita tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki. Menunjukkan tentang lemahnya manusia, dan menunjukkan bahwasanya ilmu yang kita dapatkan itu adalah dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ menghendaki kita tahu sehingga kita menjadi orang yang tahu. Dan ini faedah bagi seorang thalabul ‘ilm, dia tidak mungkin menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang tahu kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki, sehingga harusnya dia banyak berdoa kepada Allāh ﷻ mengatakan Allahumma ‘allimniy, Rabbi zidniy ‘ilman, ya Allāh ﷻ tambahkan kepada-ku ilmu. Dia tidak akan menjadi seorang yang ‘alim kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya, Allāh ﷻ akan menjadikan dia faqih (paham) tentang agamanya. Siapa yang menjadikan kita faqih? Allāh ﷻ.

Jadi jangan sampai seorang thalabul ‘ilm lalai tidak berdoa kepada Allāh ﷻ, sibuk dengan dars, sibuk dengan belajar dan seterusnya tapi dia tidak pernah berdoa kepada Allāh ﷻ, tidak pernah meminta kepada Allāh ﷻ ilmu, atau ditambah ilmunya, dimudahkan untuk memahami pelajarannya.

Apa yang terkandung dalam firman Allāh ﷻ

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Di sini ada penetapan sifat ‘Ilm yaitu مِّنْ عِلْمِه berarti Allāh ﷻ memiliki ilmu, kemudian di sini ada penetapan sifat Masyi’ah di ambil dari firman Allāh إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah (kehendak)

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

Kursiy Allāh ﷻ ini seluas langit dan juga bumi, atau meliputi langit dan juga bumi. Seluas ini bukan berarti kursiy Allāh ﷻ sama dengan langit dan bumi, tidak, maksudnya وَسِعَ disini adalah meliputi semua, berarti kursiy lebih besar daripada langit dan juga bumi.

Disebutkan didalam sebuah hadits bahwasanya kalau dibandingkan langit yang tujuh dengan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ perbandingannya adalah seperti tujuh gelang atau tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir, yang menunjukkan betapa kecilnya tujuh cincin tadi, hampir tidak terlihat ketika dilemparkan di padang pasir, itu adalah perbandingan antara tujuh langit dan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ. Kalau kursiy Allāh ﷻ saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan yang menciptakan.

Dan kursiy (dinamakan dengan ayat kursiy dari kata ini) ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ, sebagaimana ini dikutip dari Abdullah ibn Abbas bahwasanya kursiy ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Adapun yang menafsirkan bahwasanya kursiy ini sama dengan Arsy ini sebuah kekeliruan, bahkan di sana ada hadits yang jelas menunjukkan perbandingan antara arsy dengan kursiy menunjukkan bahwasanya arsy dengan kursiy ini sesuatu yang berbeda, arsy lebih besar daripada kursiy Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ, betapa besarnya kursiy Allāh ﷻ menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ karena yang menciptakan kebesaran Dia lebih berhak bersifat dengan kebesaran tadi, yang menciptakan kebesaran yaitu bisa menciptakan kursiy sebesar itu maka dia lebih berhak memiliki sifat kebesaran. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Besar dan juga menunjukkan tentang qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ) dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Berkuasa melakukan segala sesuatu.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

Dan tidak memberatkan Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya. Beliau mengatakan setelahnya tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga keduanya, yaitu menjaga langit dan juga menjaga bumi, meskipun itu adalah makhluk yang besar tapi bukan sesuatu yang berat bagi Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya sehingga bumi terjaga dan langit juga terjaga, tidak menimpa bumi, tidak jatuh sampai dikehendaki oleh Allāh ﷻ. Berarti yang dinafikan disini adalah sifat masyakka, yaitu sifat berat, ini dinafikan dari diri Allāh ﷻ dan sesuai dengan kaidah kalau Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sifat berat dalam menjaga berarti kita menetapkan kesempurnaan qudratullah, kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan menetapkan kesempurnaan kekuatan Allāh ﷻ.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Dia-lah yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar. Berarti di sini kita menetapkan nama Allāh ﷻ yang Maha Tinggi, tinggi dalam Dzat-Nya, tinggi dalam kedudukan-Nya, tinggi dalam kekuasaan. Dan sifat yang terkandung dalam nama Al-’Aliy adalah sifat Al-’Ulu (ketinggian). الْعَظِيمُ Yang Maha besar, sifat yang terkandung di dalamnya adalah ‘Adzoma (kebesaran), maka Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang Maha Besar, tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ dan tidak ada yang lebih besar daripada Allāh ﷻ. Tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga langit maupun bumi

Bisa kita simpulkan dari Ayat kursiy ini, disebutkan oleh Allāh ﷻ beberapa nama dan juga beberapa sifat, yang kita urutkan dari depan nama yang terkandung dalam ayat ini;

Lafdzul Jalalah, Al-Hayyu, Al-Qayyum, Al-’Ali, Al-’Adzim. Sifat yang terkandung dalam ayat ini; Al-Uluhiyah, Al-Haya, Al-Qayyum. Sifat manfiyyah yaitu sifat sina (sifat ngantuk) dengan sifat tidur. Kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ, memiliki sifat idzn (mengizinkan), sifat masyi’ah, sifat ilmu. Jadi semua sifat dzatiyah ada dalam Al-Hayyu dan sifat yang muta’addiyah ini ada dalam nama Allāh ﷻ Al-Qoyyum.

Kemudian beliau mengatakan setelahnya, sehingga barang siapa yang membaca ayat ini dalam satu malam maka senantiasa dia akan dijaga,

لن يزال عليه من اللَّه حافظ

Ada malaikat yang menjaga dia, malaikat yang diutus Allāh ﷻ, dijaga dari seluruh kejelekan dan orang yang Allāh ﷻ jaga maka siapa yang bisa mengganggu orang tersebut

ولا يقربه شيطان

Dan syaiton tidak akan mendekatinya sampai dia memasuki waktu pagi. Haditsnya Abu Hurairah yang di situ beliau menceritakan bagaimana beliau didatangi oleh syaitan yang menjelma sebagai seorang manusia dan saat itu Abu Huroiroh dalam keadaan ditugasi oleh Nabi ﷺ untuk menjaga harta zakat dan kisahnya ma’ruf disini, bahwasanya dia ingin mencuri di antara harta zakat tadi kemudian di tangkap oleh Abu Hurairah kemudian dia mengatakan bahwasanya saya adalah orang yang memiliki anggota keluarga yang banyak dan saya adalah orang yang membutuhkan, kasihanilah saya dan seterusnya akhirnya di lepas oleh Abu Huroirah.

Kemudian di pagi harinya beliau menceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan ketahuilah bahwasanya dia akan datang, dia akan datang kembali, benar apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ dia datang kembali pada malam berikutnya mau mencuri dan ditangkap kembali oleh Abu Hurairah. Kemudian mengucapkan ucapan yang sama, kemudian dilepaskan lagi oleh Abu Hurairah, kemudian pagi harinya dikabarkan kembali oleh Abu Hurairah kepada Rasulullah ﷺ dan Beliau ﷺ mengatakan dia akan kembali lagi. Dan benarlah ucapan Nabi ﷺ, dia kembali lagi dan setelah itu dia berkata kepada Abu Hurairah ketika ditangkap kemudian dia berjanji untuk mengajarkan kepada Abu Hurairah sebuah kalimat yang bermanfaat untuk beliau dia mengatakan yaitu syaiton ini mengatakan,

دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا

Supaya dia dilepas oleh Abu Huroirah, lepaskan aku, aku akan mengajarkan kepada mu beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepada mu dengan kalimat tadi.

قُلْتُ مَا هُوَ

Kemudian Abu Huroirah mengatakan apa kalimat-kalimat tersebut, kemudian syaiton tadi mengatakan

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ

Kalau kamu akan tidur maka hendaklah engkau membaca ayat kursiy

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ

Sampai akhir ayat

فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

Sesungguhnya engkau senantiasa akan dijaga oleh seorang hafidz (penjaga) dari Allāh ﷻ, yaitu malaikat, akan dijaga oleh Allāh ﷻ dari berbagai marabahaya, Allāh ﷻ mengirimkan hafidz malaikat yang menjaga orang tersebut, dan syaiton tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi.

Ini adalah ucapan dari syaiton menasehatkan kepada Abu Hurairah untuk membaca ayat kursiy ketika akan tidur, maka akupun (kata Abu Huroiroh) melepaskan dia dan di waktu pagi beliau ceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan

مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ

Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا

Wahai Rasulullah dia mengatakan bahwasanya dia akan mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tadi maka akupun melepaskannya.

قَالَ « مَا هِىَ

Nabi ﷺ mengatakan apakah kalimat-kalimat tadi

قُلْتُ قَالَ لِى

Maka Abu Huroiroh mengatakan, dia mengatakan kepadaku

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ

Kalau engkau akan tidur maka bacalah ayat kursiy dari awal sampai akhir ayat, kemudian dia mengatakan kepadaku akan senantiasa ada penjaga dari Allāh ﷻ dan setan tidak akan mendatangimu atau mendekatimu sehingga datang waktu pagi, maka Nabi ﷺ mengatakan

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ

Ketahuilah bahwasanya dia sungguh telah jujur dalam masalah ini, berarti disini takrir dari Nabi ﷺ, apa yang diucapkan oleh syaiton tadi benar kalau kamu membaca ayat kursiy sebelum tidur di waktu malam maka Allāh ﷻ akan menjagamu sampai waktu pagi,

وَهُوَ كَذُوب

Dan dia asalnya adalah makhluk yang banyak bohongnya, cuma kali ini dia jujur. Maka kita mengambil ucapan tadi karena sudah ditakrir oleh Nabi ﷺ

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan

تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ

Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga malam yang lalu wahai Abu Huroiroh

قَالَ لاَ

Abu Huroiroh mengatakan tidak

قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ

Beliau ﷺ mengatakan itu adalah syaiton.

Ini adalah dalil yang menunjukkan tentang apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam tadi dan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari didalam shahihnya. Dengan demikian kita sudah menyelesaikan penjelasan dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwasanya masuk di dalam kaidah ini apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surat al-ikhlas dan juga ayat kursiy di mana keduanya memiliki keistimewaan, ayat kursiy adalah ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an dan surah Al-Ikhlas dia adalah surat yang sebanding dengan sepertiga dari Al-Qur’an.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana Seharusnya Membela Nabi?

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله


Bagaimana Seharusnya Membela Nabi?

Setiap muslim -apalagi ulama- pasti geram dan marah terhadap penghinaan kepada Nabi Muhammad yang harus kita cintai lebih dari orang tua, istri, anak bahkan diri kita sendiri.

Siapapun yang mencela Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam maka dia kafir dan pedang terhunus pantas untuknya, sebagaimana dijelaskan secara bagus oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Ash Sharimul Maslul ala Syatimi Rasul (Pedang Terhunus Tuk Penghina Rasul).

Namun perlu digarisbawahi bahwa penegakan hukum tersebut adalah wilayah pemimpin bukan individu orang. Para ulama menegaskan: “Tidak boleh menegakkan hukum had kecuali bagi imam atau perwakilannya”. (Syarh Shahih Muslim, An Nawawi, 11/193-194).

Sebab, jika penerapan hukum diserahkan kepada individu orang maka yang terjadi adalah kekacauan dan kerusakan yang lebih besar.

Syaikh Abdur Rahman bin Yahya Al-Mu’allimi mengatakan: “Sebesar apapun kita mencintai kebenaran. Namun kita jangan membela kebenaran kecuali dengan cara yang benar”. (Majmu Muallafat wa Atsar Asy Syaikh, 4/6).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/12689-bagaimana-seharusnya-membela-nabi.html

Penulis: Ust. Abu Ubaidah As Sidawi

Silakan di-share…

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Disini beliau akan membawakan dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya nama-nama yang Nafiya dan mutsbitah serta sifat yang manfiyah dan sifat yang mutsbatah, semuanya adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Beliau mengatakan

وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ

Dan masuk didalam jumlah ini, yaitu didalam kalimat yang berisi tentang kaidah Ahlussunnah yang isinya bahwasanya Allāh ﷻ menggabungkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an asalnya ketika mengitsbat kebanyakan didalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ memperinci sifat-sifatnya, nama-namanya. Adapun penafian maka kebanyakan Allāh ﷻ menafikan secara global bukan secara terperinci. Secara terperinci ketika menetapkan makanya banyak di sebutkan nama-nama Allāh ﷻ sifat-sifat Allāh ﷻ dan hampir setiap halaman dari mushaf yaitu disebutkan nama dan juga sifat, tapi ketika menafikan maka kebanyakan adalah secara global.
Terkadang Allāh ﷻ memperinci dalam menafikan, misalnya menafikan dari dirinya kedzoliman, menafikan dari dirinya sinah dan juga naum (ngantuk dan juga tidur), menafikan dari dirinya rasa lelah

وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

[Qaf:38]

Kami tidak ditimpa oleh rasa lelah.

Dan menafikan dari diri-Nya ansiyan (lupa), menafikan dari diri-Nya dholal,

لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى

Allāh ﷻ tidak bodoh dan juga tidak lupa.

Ini berarti ada perincian dalam menafikan tapi itu sedikit, sehingga ahlussunnah mengatakan bahwasanya qoidahnya adalah al-itsbatul mufashshal wa nafyul majmul, ini qoidah Ahlussunnah yaitu menetapkan secara terperinci dan menafikan secara global, maksudnya adalah kebanyakan.

Kenapa di sini perlu kita sampaikan, karena disana ada kelompok yang menyelisihi ahlussunnah dimana mereka di dalam masalah menafikan mereka memperinci adapun ketika menetapkan maka mereka menetapkan secara global. Menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ itu ada, tapi ketika menafikan maka mereka menafikan secara terperinci, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian dan seterusnya, ini menyelisihi jalan atau cara Al-Qur’an di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Kembali ke ucapan beliau وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ. Masuk didalam jumlah ini yaitu kaidah bahwa Allāh ﷻ mengumpulkan antara itsbat dan juga nafiyan. Beliau memulai dengan surat al-ikhlas dan ayat kursi karena di dalam surat al-ikhlas dan juga di dalam ayat kursi yang telah datang keutamaannya didalam hadith, ternyata di situ Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات, ini adalah kenapa beliau memilih surat Al-Ikhlas dan juga ayat kursi dan keduanya sebagian besar kaum muslimin insyaAllāh menghafal. Beliau mendatangkan sesuatu yang mudah dan dihafal oleh sebagian besar kaum muslimin untuk menguatkan apa yang beliau sampaikan sebelumnya, bahwasanya Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Beliau mulai dengan Al-Ikhlas kemudian Ayat kursi kemudian setelah itu akan menyebutkan ayat-ayat yang lain.

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي سورة الإخلاص

Apa yang Allāh ﷻ sifatkan dan dengannya, yaitu apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surah Al-Ikhlas, berupa sifat-sifat yang dia sifati dirinya dengan sifat-sifat tadi

الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Dimana surah Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Dan ini berdasarkan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dimana Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan ada seorang laki-laki yang mendengar laki-laki yang lain membaca قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ dan mengulang-ngulangnya. Ketika datang waktu pagi maka laki-laki ini datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan ini kepada Rasulullah ﷺ,

وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا

sepertinya laki-laki ini menganggap ini adalah sesuatu yang sedikit, kenapa membaca Al-Ikhlas tidak membaca ayat-ayat yang lain, surat-surat yang lain kan ada surat-suratnya yang lain yang lebih panjang, kenapa yang dia ulang-ulang adalah surat Al-Ikhlas

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ

Maka Rasulullah ﷺ mengatakan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, sebanding pahalanya. Jadi orang yang membaca surat Al-Ikhlas dari awal sampai akhir maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an, dari sisi pahalanya dia mendapatkan pahala orang yang membaca sepertiga dari Al Quran, 10 juz. Kalau kita menghitung berapa huruf yang ada dalam 10 juz maka ini adalah jumlah pahala yang besar, satu huruf di dalam Al-Qur’an apabila kita membacanya kita mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan oleh Allāh ﷻ menjadi 10 kebaikan

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dari setiap huruf yang dia baca, dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an yaitu 10 juz maka dia mendapatkan pahala yang besar. Ini menunjukkan tentang keagungan surat Al-Ikhlas, dan beliau menyebutkan tentang Hadits ini dan bahwasanya surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, berarti di sana ada rahasia yaitu kenapa nabi dan mengapa orang yang membaca Al-Ikhlas ini mendapatkan pahala yang demikian besar, Allāhu A’lam adalah karena kandungannya yang luar biasa kandungan yang ada dalam surat Al-Ikhlas.

Sebagian Ulama menjelaskan Al-Qur’an ini ada tiga bagian, ada ayat-ayat yang berisi tentang ahkam (hukum-hukum) yang di dalamnya ada perintah dan juga larangan, seperti misalnya hukum shalat, zakat, kemudian puasa misalnya atau haji, tata cara pembagian waris misalnya, dan didalamnya ada larangan-larangan berzina, larangan membunuh tanpa hak, larangan riba, ini bagian yang pertama.

Bagian yang kedua adalah qashash (kisah-kisah), ada kisah-kisah para nabi, ada kisah umat terdahulu, orang-orang yang shaleh, maka ini bagian yang kedua. Kemudian yang ketiga adalah tentang Tauhid. Dan Al-Ikhlas ini mengandung Tauhid, berarti dia mengandung sepertiga dari isi Al-Qur’an karena isinya adalah Tauhid dari awal sampai akhir sehingga dinamakan dengan surat Al-Ikhlas yaitu ikhlas hanya untuk Allāh ﷻ.

Kita lihat bagaimana isi dari Al-Ikhlas dan bagaimana dia menunjukkan النَّفْيِ وَالإِثْبَات.

حَيثُ يَقُولُ

Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah Dia-lah Allāh ﷻ yang ahad. Katakan wahai Muhammad Dia adalah Allāh ﷻ yang Maha Esa. Lafdzul jalalah, ini adalah nama Allāh ﷻ, berarti nama yang ditetapkan di dalam surah ini yang pertama adalah lafdzul jalalah yaitu Allāh ﷻ, yang mengandung sifat Al-Uluhiyah. Berarti disini Allāh ﷻ menetapkan namanya yaitu Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat uluhiyah, ini nama dan juga sifat yang pertama.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan أَحَدٌ, ahadun artinya adalah yang Maha Esa yaitu yang Maha Tunggal dalam fi’il-fi’ilnya dan juga sifat-sifatnya dan juga zatnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa didalam Dzat-Nya dan Dia-lah yang Maha Esa didalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Didalam fi’ilnya juga demikian tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ didalam fi’ilnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad, berarti kita menetapkan diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad dan sifat yang terkandung dalam Al-Ahad adalah Al-Ahadiyah (keesaan). Ini kaidah yang harus kita ketahui bahwasanya setiap nama itu mengandung sifat minimal satu sifat, terkadang bisa mengandung dua sifat atau tiga sifat. Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

berarti nama yang kedua yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat ini adalah nama Al-Ahad. Apa sifat yang terkandung didalamnya, sifat Al-Ahadiyah. Jadi nama Allāh ﷻ itu adalah nama-nama yang mustaq bukan nama-nama yang jami’, nama yang jami’ ini tidak diambil dari sebuah kata, tapi nama-nama Allāh ﷻ ini diambil dari kata yang lain, ada maknanya, bukan sebuah kata yang tidak ada maknanya.

Dan kata Ahad ini tidak digunakan dalam keadaan Itsbat kecuali untuk Allāh ﷻ saja, seperti dalam ayat ini اللَّهُ أَحَد, inikan positif tidak ada kata tidak atau bukan, sehingga dalam keadaan itsbat ini tidak digunakan kecuali hanya untuk Allāh ﷻ. Tidak boleh kita mengatakan fulan ahad, untuk makhluk tidak boleh, karena Ahad ini hanya untuk Allāh ﷻ dalam keadaan Itsbat, dalam keadaan positif, tapi kalau kalimatnya adalah kalimat yang negatif maka bisa digunakan kalimat ahad untuk selain Allāh ﷻ. Seperti misalnya seseorang mengatakan lam ya’ti ahadun (belum datang seorang pun), berarti di sini negatif karena ada kalimat lam (tidak/belum) datang seorang pun, tapi dalam keadaan yang kalimatnya adalah kalimat yang positif maka tidak dipakai kecuali dalam hak Allāh ﷻ.

Berarti ayat yang pertama didalamnya ada penetapan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah dan sifat Allāh ﷻ Al-Uluhiyah, kemudian menetapkan nama Allāh ﷻ Al-Ahad dan sifat Allāh ﷻ Al- Ahadiyah. Allāhu A’lam disini adalah termasuk nama yang nāfiyah seperti As-Salam, Al-Quddus, kemudian Shubbuh, karena ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد

berarti disini ada menafikan al-matsil, yaitu menafikan sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Dia adalah Ahad, Dia adalah yang Esa dalam Dzat-Nya, dalam sifat-Nya, dalam af’al-Nya, dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ الصَّمَد

Allāh ﷻ, kembali di sini di sebutkan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat Al-Uluhiyah, Ash-Shomad ini adalah penetapan nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Di sana ada beberapa makna yang disebutkan oleh para ulama tentang makna Ash-Shomad, ada yang mengatakan bahwasanya Ash-Shomad di sini adalah Dzat yang menjadi tempat tumpuan yang lain di dalam hajat-hajat mereka, dan Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, yaitu makhluk-makhluk-Nya mereka di dalam menunaikan hajat-hajat mereka kembalinya kepada Allāh ﷻ. Kenapa kembalinya kepada Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Dalam keadaan sakit mereka kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan penyembuhan, dalam keadaan mereka fakir kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Kaya, dalam keadaan mereka menuntut ilmu kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki ilmu yang sangat luas, yang memberikan ilmu, ketika mereka butuh ampunan kembali kepada Allāh ﷻ karena Dia-lah yang bisa mengampuni. Seluruh makhluk kembali kepada Allāh ﷻ untuk bisa menunaikan hajat-hajat mereka. Berarti disini kita memahami bahwasanya ketika kita menetapkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad berarti ada kandungan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ.

Di sana ada tafsir dari Abdullah bin Abbas Radiallāhu Ta’ala Anhu, turjumanul Qur’an ketika beliau menafsirkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad ini. Abdullah Bin Abbas mengatakan

السيد الذي قد كمل في شؤدده

Apa yang dimaksud dengan Ash-Shomad, kata beliau Dia adalah As-Sayyid, Dia-lah yang terkemuka yang paling depan, Dia adalah Tuan yang telah sempurna di dalam شؤدده (pertuanannya) artinya adalah dia adalah Tuan yang paling sempurna

والشريف الذي قد كمل في شرفه

Dan Dia adalah yang paling mulia yang sempurna kemuliaannya

والعظيم الذي قد كمل في عظمته

Dan yang Maha Besar yang sempurna di dalam kebesarannya

والحليم الذي قد كمل في حلمه

Dan Dia adalah Dzat yang Halim (Pemurah) yang telah sempurna didalam حلمه

والغني الذي قد کمل في غناه

Dan Dia adalah yang Maha Kaya yang telah sempurna kekayaannya dan seterusnya.

Ash-Shomad di sini ketika kita menetapkan Ash-Shomad bagi Allāh ﷻ dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Dzat yang kembali kepada-Nya makhluk didalam menunaikan hajat- hajat mereka, kita telah menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ didalam Ash-Shomad. Berarti disini ada Itsbat, kita menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ, seluruh sifat-sifat yang jelek, yang buruk, dinafikan dari Allāh ﷻ dan seluruh sifat yang sempurna kita tetapkan untuk Allāh ﷻ, Maka Ash-Shomad ini adalah Al-Asma Al-Mutsbitah.

Sampai disini kita memahami bahwasanya surat Al-Ikhlas ini mengandung nafi dan juga Itsbat, ada nama yang mutsbitah ada nama yang nāfiyah.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Allāh ﷻ tidak melahirkan, yaitu Allāh ﷻ tidak memiliki anak, bantahan kepada orang-orang musyrikin dan juga ahlul kitab yang mereka menishbahkan anak kepada Allāh ﷻ, orang yahud mengatakan uzair ibnullah, orang nasaroh mengatakan al-masih ibnullah, orang-orang musyrikin mengatakan mala’ikah banatullah, Allāh ﷻ adalah Dzat yang tidak melahirkan dan ini adalah perincian dari yang sebelumnya.

Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang semisal dengan Allāh ﷻ, karena ketika melahirkan berarti yang namanya anak itu semisal dengan asalnya. Maka ini adalah diantara penjelasan dari, yang pertama adalah Allāh ﷻ itu adalah Ahad dan bisa juga dia adalah penjelasan dari Allāhush Shomad juga karena Allāhush Shomad, Allāh ﷻ Dia-lah yang makhluk kembali kepadanya dalam berbagai urusan dan juga hajat mereka. Allāh ﷻ tidak butuh dengan makhluk tapi makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ, makhluk yang memiliki hajat kepada Allāh ﷻ.

Kemudian

لَمْ يَلِدْ

Allāh ﷻ tidak melahirkan karena ketika seandainya Allāh ﷻ melahirkan berarti Allāh ﷻ butuh kepada anak tersebut, padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ bukan Allāh ﷻ yang butuh kepada makhluk. Ketika seorang ayah dan seorang ibu ingin memiliki anak, dia merasa butuh dengan anak yang akan akan mewarisi dia yang akan membantu dia dan seterusnya. Allāh ﷻ Dia tidak melahirkan, Dia tidak butuh, Dia-lah yang Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan anak.

Demikian pula firman Allāh ﷻ

وَلَمْ يُولَد

Dan Allāh ﷻ Dia tidak dilahirkan, ini juga menjelaskan Allāhu Ahad Allāhush Shomad. Allāh ﷻ tidak dilahirkan, Dia bukan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya karena kalau di sana ada orang tua bagi Allāh ﷻ maka berarti ada yang serupa dengan Allāh ﷻ padahal Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, dan kalau Allāh ﷻ memiliki orang tua berarti dia butuh kepada yang lain padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad. Diperinci oleh Allāh ﷻ di sini dan asalnya yang namanya nafyi dalam Al-Qur’an adalah penafian yang global bukan penafian yang terperinci, tapi di sini diperinci oleh Allāh ﷻ untuk membantah sebagian munharifin, orang-orang yang menyimpang yang mereka meyakini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak.

Berarti ini nafyi, ini adalah sifat yang manfiyyah. Allāh ﷻ tidak memiliki anak, Allāh ﷻ tidak beranak dan Allāh ﷻ tidak dilahirkan. Berarti di sini ada sifat yang manfiyyah, dan ini juga kaidah yang harus kita pahami bahwa ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat maka konsekuensinya kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat yang di nafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak atau Allāh ﷻ melahirkan dan Allāh ﷻ juga menafikan dari diri-Nya bahwasanya Allāh ﷻ memiliki orang tua.

Berarti di sini yang perlu kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari keduanya, yaitu kita tetapkan kesempurnaan ke Esaan Allāh ﷻ, menetapkan Ahadiyah Allāh ﷻ. Ini kaidah yang harus kita pahami kalau Allāh ﷻ menafikan sebuah sifat dari diri-Nya kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang kebalikan dari sifat yang dinafikan tadi. Ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak dan juga orang tua berarti kita tetapkan kesempurnaan keesaan Allāh ﷻ, berarti di sini ada sifat manfiyah didalam surat Al-Ikhlas ini.

Demikian pula ini

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Sifat kesempurnaan yang bisa kita tetapkan di sini adalah sifat ghina yaitu bahwasanya Allāh ﷻ tidak butuh dengan yang lain. Tadi kita sebutkan, yang melahirkan dan dilahirkan itu berarti butuh dia kepada yang lain, ketika dinafikan berarti kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi, selain kesempurnaan sifat ke-Esaan, yaitu kesempurnaan ke-Esaan Allāh ﷻ, juga menunjukkan kesempurnaan tidak butuhnya Allāh ﷻ dengan yang lain, kesempurnaan kekayaan Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang menjadi kufuwan lahu yaitu bagi Allāh ﷻ. Kunfuan artinya adalah musāwiyah, yang sama serupa dengan Allāh ﷻ, tidak ada. Berarti Allāh ﷻ di sini menafikan adanya sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Kalau ayat sebelumnya dinafikan anak dan anak adalah cabang, kemudian Allāh ﷻ menafikan orang tua dan orang tua adalah asalnya, baik cabang/anak maupun asalnya/orang tua dinafikan oleh Allāh ﷻ, demikian pula yang sebanding ini juga dinafikan oleh Allāh ﷻ.

Maka di sini ada nafyul kufu, disini Allāh ﷻ menafikan al-kufu yaitu yang serupa dengan Allāh ﷻ maka konsekuensinya kita tetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Sempurna dalam ke-Esaan-Nya dan Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ baik didalam sifat-Nya, dalam Dzat-Nya, dalam apa yang Dia lakukan.

Berarti jelas di dalam surat Al-Ikhlas ini Allāh ﷻ menyebutkan an-nafyu dan juga itsbat, ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan dia mengandung sifat, ada nama yang nafia karena di dalamnya ada kandungan makna menafikan dari Allāh ﷻ sesuatu yang semisal dengan Allāh ﷻ, baik nama baik sifat maupun dzat-Nya.

Jadi kalau kita ulang lagi di dalam surat Al-Ikhlas ini nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ, Lafdzul Jalalah, kemudian nama Al-Ahad, kemudian Ash-Shomad, tiga nama.

Kemudian di sini ada sifat yang Allāh ﷻ tetapkan (mutsbatah), Lafdzul Jalalah mengandung sifat-sifat Uluhiyah, kemudian Al-Ahad, sifat Al-Ahadiyah ini terkandung dalam nama Allāh ﷻ Ahad, ada lagi dalam Ash-Shomad sifat Ash-Shomadiyyah yaitu sifat bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hajat-hajat mereka ini namanya sifat Ash-Shomadiyyah, sifat Al-Ahadiyah yaitu sifat ke-Esaan. لَمْ يَلِدْ itu sifat manfiyah tersendiri, لَمْ يُولَد itu sifat manfiyah tersendiri.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Berarti Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak, menafikan dari diri-Nya orang tua dan menafikan dari diri-Nya sesuatu yang setara atau sesuatu yang sama dengan Allāh ﷻ. Itulah nama dan juga sifat yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 09

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 09 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 04

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

ثُمَّ رُسُلُه صَادِقُونَ مُصَدَّقُون

Kemudian para Rasul-Nya, mereka adalah صَادِقُون, mereka juga adalah orang-orang yang jujur, mereka adalah utusan-utusan Allāh ﷻ yang صَادِق. Di antara sekian banyak manusia, tidak ada yang lebih ashdaq daripada para Rasulullah. مُصَدَّقُون, dan mereka adalah orang-orang yang dibenarkan ucapannya.

بِخِلاَفِ الَّذِينَ يَقُولُونَ عَلَيْهِ مَا لاَ يَعْلَمُونَ

Berbeda dengan orang-orang yang berbicara atas nama Allāh ﷻ tanpa ilmu. Jadi mereka ini para Rasul adalah orang yang shodiq, tidak ada orang yang lebih jujur daripada mereka dan mereka adalah orang yang berbicara dengan ilmu.

Berarti terkumpul didalam kabar mereka mereka, bahwasanya mereka adalah orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang Allāh ﷻ. Tidak ada yang lebih mengetahui tentang diri Allāh ﷻ daripada para rasul-Nya, demikian pula Allāh ﷻ telah memberikan kepada mereka kefasihan didalam berbicara.

وَلِهَذَا قَالَ: سُبْحَانَ

Oleh karena itu Allāh ﷻ mengatakan, yaitu memuji para rasul

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Rabbmu, رَبِّ الْعِزَّةِ Rabb dari kemuliaan, Al-’Izzah ini adalah sifat Allāh ﷻ dan disini ada idhafah (penyandaran) Al-’Izzah kepada Allāh ﷻ, Al-’Izzah disini adalah sifat Allāh ﷻ diantara sifat-sifat-Nya. عَمَّا يَصِفُون, dari apa yang disifatkan oleh mereka, yaitu orang-orang yang mensifatkan Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang tidak baik, maha suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka sifatkan.

وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِين

Dan keselamatan bagi orang-orang yang diutus, yaitu para Rasul

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allāh ﷻ Rabb semesta alam.

Kenapa beliau mendatangkan ayat ini, beliau jelaskan disini

فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِفُونَ لِلرُّسُل

Maka Allāh ﷻ mensucikan diri-Nya dari sifat-sifat yang disematkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul yang mensifati Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang tidak baik. Orang-orang yahudi misalnya mensifati Allāh capek dan bahwasanya Allāh bakhil, bahwasanya Allāh faqir, Maha suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka katakan

وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِينَ

Kemudian Allāh ﷻ mengucapkan salam untuk para Rasul, salam artinya adalah keselamatan. Kenapa Allāh ﷻ mengatakan keselamatan atas para rasul

لِسَلاَمَةِ مَا قَالُوهُ مِنَ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ

Karena selamatnya ucapan para rasul dari kekurangan. Kenapa kita membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ, karena kalau Beliau ﷺ berbicara tentang sifat Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya itu adalah ucapan yang salim, yaitu adalah ucapan yang selamat, ucapan yang tidak ada kekurangan dan tidak ada kebohongan di dalamnya, itu adalah ucapan yang fasih yang paling sempurna kejelasannya dan kefasihan, itu adalah ucapan yang berdasarkan ilmu sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membenarkan sifat Allāh ﷻ yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. Berarti disini kita mengetahui kenapa kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits dalam masalah menetapkan sifat-sifat Allāh ﷻ.

Kemudian beliau mengatakan

وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَدْ جَمَعَ فِيما وَصَفَ وَسَمَّى بِهِ نَفْسَهُ بينَ النَّفْيِ وَالإِثْبَاتِ

Dan Allāh ﷻ telah mengumpulkan didalam apa yang Allāh ﷻ sifatkan dan apa yang Allāh ﷻ namakan dengannya diri-Nya antara menafikan dan juga menetapkan.

Beliau menyebutkan disini kaidah, termasuk diantara kaidah dalam memahami nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Bahwasanya Allāh ﷻ jama’, Allāh ﷻ itu mengumpulkan didalam masalah apa yang Allāh ﷻ namakan dan sifatkan dirinya itu antara dua ini, antara nafyi dan juga itsbat. Nafyi artinya adalah menafikan dan itsbat artinya adalah menetapkan, dalam dua perkara ini, yaitu dalam masalah washaf dan samma.

Washaf artinya adalah mensifati dirinya, samma artinya menamakan dirinya, berarti di sana ada nama dan di sana ada sifat. Kita punya nama misalnya Muhammad, Abdullah,Ismail, dan Ibrohim dan juga punya sifat misalnya pendiam, rajin dan seterusnya maka ini adalah sifat, berarti disana ada nama ada sifat.

Allāh ﷻ (ini adalah kaidah) didalam Al-Qur’an didalam As-Sunnah ketika Allāh ﷻ menamakan diri-Nya, memberi sifat diri-Nya maka terkadang ada nama-nama yang menafikan, ada sifat-sifat yang manfiya (dinafikan) dan ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan ada sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ. Contoh sekarang masalah sifat misalnya, sifat ada dua, yang manfiya (sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ) dan yang mutsbata (sifat yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ) ini harus kita pahami. Contoh misalnya Allāh ﷻ mengatakan

لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ

Allāh ﷻ tidak ditimpa sinah, yaitu ngantuk Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk, وَلَا نَوۡم dan Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur. Ini dinamakan dengan sifat manfiyah (sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ) yaitu sifat ngantuk dan juga tidur, ini dinamakan dengan sifat manfiyah. Contoh misalnya yang lain Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya kedzoliman

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

[Fussilat:46]

Dan tidaklah Robb mu mendzolimi hamba-hamba-Nya. Berarti yang Allāh ﷻ nafikan disini kedzoliman, dan masih banyak lagi insya Allāh nanti akan sampai dalil-dalil tentang sifat-sifat manfiyah.

Sifat yang mutsbatah banyak, istiwa, tangan bagi Allāh ﷻ, mata bagi Allāh ﷻ, sifat nuzul bagi Allāh ﷻ, maka ini adalah sifat-sifat yang ditetapkan bukan sifat-sifat yang dinafikan. insya Allāh nanti akan sampai faedahnya bahwasanya setiap sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ maka kita harus menetapkan kesempurnaan lawan dari sifat tadi. Contoh misalnya Allāh ﷻ tidak di timpa ngantuk dan tidak ditimpa tidur, kita nafikan sifat mengantuk dan tidur dari Allāh ﷻ kemudian kita harus tetap kan kebalikan dari sifat tadi dengan kesempurnaan, Al-Hayah (hidup). Berarti kita harus tetap kan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki kehidupan yang sempurna, yaitu nanti akan sampai insya Allāh akan di sebutkan oleh Syaikhul Islam tentang sifat-sifat yang manfiyah.

Itu masalah sifat, sekarang masalah nama. Ada nama-nama yang nafiyah ada nama-nama yang mutsbatah, sebagaimana sifat ada yang manfiyah dan yang mutsbatah, nama juga begitu. Ada nama-nama yang nafiyah (nama-nama yang menafikan) yaitu nama-nama Allāh ﷻ yang maknanya adalah menafikan kekurangan dari Allāh ﷻ, contoh misalnya adalah As-Salam. As-Salam adalah diantara maknanya bahwasanya Allāh ﷻ itu selamat dari seluruh kekurangan, berarti disini menafikan segala kekurangan dari Allāh ﷻ. Contoh yang lain Al-Quddus, Quddus artinya adalah bersih, bersih dari seluruh kekurangan, contoh yang lain adalah Ash-Shubbuh juga sama artinya adalah bersih dan tersucikan dari seluruh kekurangan. Berati As-Salam, Al-Quddus, Ash-Shubbuh ini semua adalah nama-nama yang nafiyah.

Adapun nama-nama yang mustbatah maka ini banyak, Ar-Rahman Allāh, Ar-Rahim, At-Tawbah, Al-Ghofur, Al-Alim, Al-Hakim, maka ini adalah nama-nama yang mutsbatah yang ditetapkan bagi Allāh ﷻ. Dikandung di dalam nama-nama tadi satu sifat atau lebih Ar-Rahman yang mengandung sifat Ar-Rahmah, Al-’Alim mengandung sifat Al-’Ilm dan seterusnya.

Berarti ini maksud dari ucapan beliau

جَمَعَ فِيما وَصَفَ وَسَمَّى بِهِ نَفْسَهُ بينَ النَّفْيِ وَالإِثْبَات

Yang perlu kita pahami didalam masalah sifat Allāh ﷻ, sifat yang Allāh ﷻ tetapkan itu lebih banyak daripada sifat yang Allāh ﷻ nafikan. Jadi dalam Al-Qur’an dan juga Hadits itu yang paling banyak adalah itsbat, yaitu yang ditafsir adalah itsbat, banyak ditafsir (diperinci) oleh Allāh ﷻ, tapi dalam masalah nafyi ini Allāh ﷻ banyaknya adalah mengglobalkan. Jadi kebanyakan kalau menafikan ini global saja, contoh misalnya Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, ini global, pokoknya tidak ada yang serupa dengan Allāh

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Ini juga global, tapi ketika itsbat, ketika menentukan sifat, menyebutkan sifat Allāh ﷻ perinci. Allāh Maha Memberikan taubat, Allāh ﷻ Maha Mengampuni, Allāh ﷻ Maha Memaafkan, Allāh ﷻ Maha Penyayang dan seterusnya. Kebanyakan di dalam dalil itsbatnya (penetapannya) itu jauh lebih banyak.

Terkadang Allāh ﷻ memperinci penafian tadi karena satu sebab, seperti misalnya Allāh ﷻ tidak mendzholimi, Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur dan tidak ditimpa ngantuk, Allāh ﷻ tidak punya anak, ini adalah penafian-penafian dan ini sedikit jumlahnya didalam Al-Qur’an dan itu ada sebabnya diantaranya adalah untuk membantah orang yang memiliki pemahaman yang salah. Seperti orang yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak maka Allāh ﷻ bantah.

Jadi asalnya adalah penafian-penafian yang ada dalam Al-Qur’an adalah penafian secara mujmal (global), adapun perincian di dalam masalah penafian ini ada tapi sedikit.

فَلاَ عُدُولَ لأَهْلِ السُّنَّةٌ وَالْجَمَاعَةِ عَمَّا جَاءَ بِهِ الْمُرْسَلُونَ؛ فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ، صِرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ والصَالِحِين

Kalau demikian

فَلاَ عُدُولَ لأَهْلِ السُّنَّةٌ

Kalau demikian keadaan para Rasul maka tidak ada penyimpangan bagi Ahlussunnah, artinya tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan dan untuk menyimpang dari apa yang dibawa oleh para rasul.

Kalau kita sudah mengetahui tentang Allāh ﷻ, pujian Allāh ﷻ terhadap para rasul, bahwasanya apa yang mereka lakukan ini adalah benar dan apa yang mereka lakukan adalah selamat, maka bagaimana Ahlussunnah Wal jamaah mereka menyimpang dan meninggalkan apa yang dibawa oleh para Rasul. Mereka akan terus Istiqomah di atas jalannya Rasulullah ﷺ meskipun mencela mereka orang yang mencela, meskipun menuduh mereka orang yang menuduh, karena yang penting adalah mereka benar disisi Allāh ﷻ

فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ

Karena sesungguhnya apa yang dibawa oleh para Rasul itu adalah jalan yang lurus, itulah yang merupakan jalan yang lurus yang senantiasa kita berdoa kepada Allāh ﷻ di dalam sholat kita

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Inilah jalan yang lurus yaitu jalannya para rasul, termasuk diantaranya adalah jalan mereka di dalam memahami nama dan juga sifat. Ingin jalan yang lurus maka yakinilah apa yang diyakini oleh para rasul, berakidahlah sebagaimana akidahnya para rasul, dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ

فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ

Inilah jalan yang lurus ketika kita mengatakan

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalan orang-orang yang engkau berikan nikmat yaa Allāh ﷻ, siapa orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat mereka adalah sebagaimana Allāh ﷻ sebutkan dalam

Qur’an surah An-Nisa’: 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ

Dan barangsiapa yang taat kepada Allāh ﷻ dan Rasul-Nya maka mereka bersama orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, berarti para nabi jelas mereka mereka berada di atas jalan yang lurus, para Rasul jelas mereka berada di atas jalan yang lurus.

Ini menafsirkan apa yang ada didalam A-Fatihah, didalam Al-Fatihah kita mengatakan jalan orang yang engkau beri nikmat ya Allāh ﷻ, siapa orang yang engkau beri nikmat disebutkan dalam ayat ini, pertama para nabi,

وَٱلصِّدِّيقِينَ

dan orang-orang yang sangat kejujurannya, orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan iman yang luar biasa,

وَٱلشُّهَدَآء

dan juga orang-orang yang beriman yang mereka syuhada, meninggal fisabilillah,

وَٱلصَّٰلِحِينَۚ

dan juga orang-orang yang sholeh.

Inilah orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat, nikmat hidayah, nikmat hidup diatas jalan yang lurus

صِرَٰط ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِين

Yaitu jalan orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, para shiddikin, para syuhada, dan orang-orang yang shaleh.

Ini adalah kaidah secara umum yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah sebelum beliau secara terperinci menyebutkan dalil-dalil dari sifat-sifat Allāh ﷻ secara terperinci. Semoga Allāh ﷻ memberikan kepada kita semuanya kemudahan didalam memahami agama Allāh ﷻ dan memberikan hidayah kepada kita semuanya dan menjadikan kita istiqomah di atas jalan ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 08

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 08 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

فَلاَ يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ

Maka mereka (ahlussunnah wal jama’ah, Al firqotun nājiyah, Ath-Thā’ifah Al-Manshūrah) لاَ يَنْفُونَ tidak menafikan عَنْهُ dari Allāh ﷻ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَه apa yang Allāh ﷻ sifati dengannya untuk diri-Nya. Ahlussunnah tidak berani dan takut untuk menafikan apa yang Allāh ﷻ tetapkan, mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman, benar-benar pasrah kepada Allāh ﷻ.

Ucapan

فَلاَ يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ

berarti disini menguatkan ucapan beliau sebelumnya yaitu وَلاَ تَعْطِيل ini Allāhu A’lam adalah penjelasan lebih luas dari makna وَلاَ

تَعْطِيل
وَلاَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ

Dan mereka tidak merubah ucapan dari tempat-tempat, ini adalah penjelasan dari makna dari ucapan beliau sebelumnya مِنْ غَيْرِ تَحْرِيف mereka tidak mentahrif, menguatkan apa yang diucapkan oleh beliau sebelumnya dan ini diambil dari ayat

يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ

Dan sifat mentahrif ini adalah termasuk sifat orang-orang yahudi, mereka merubah lafadz merubah ucapan ketika mereka disuruh untuk mengatakan hittho’ mereka mengatakan hintho’, menambah nun. Mereka termasuk orang-orang yang يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ

وَلاَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللهِ وآيَاتِهِ

Dan mereka tidak meng’ilhad, ilhad artinya adalah memiringkan, alhada – yulhidu artinya adalah amala – yumilu yaitu memiringkan, dan liang lahad dinamakan liang lahad karena dia adalah miring yaitu miring kearah kiblat, sebelumnya digali ke bawah kemudian setelah sampai dasarnya maka lobangnya dimiringkan kearah kiblat sehingga dinamakan dengan lahad.

Mereka tidak melakukan ilhad di dalam nama Allāh ﷻ dan juga ayat-ayat-Nya, karena ilhad terkadang didalam nama Allāh ﷻ sebagaimana firman Allāh ﷻ

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ

[Al-A’raf: 180]

Dan tinggalkanlah orang-orang yang melakukan ilhad, di dalam nama nama-Nya.

Ahlus sunnah tidak melakukan ilhad, tidak memiringkan didalam masalah nama-nama Allāh ﷻ, maksudnya tidak menyimpang, menyimpang itu artinya miring, mereka tidak menyimpang di dalam masalah nama -nama Allāh ﷻ tapi lurus di atas shirathal mustaqim, tidak menyimpang baik dalam nama Allāh ﷻ maupun dalam perkara yang lain.

Termasuk diantara penyimpangan dalam masalah nama Allāh ﷻ adalah yang telah berlalu, mentahrif atau menta’til ini termasuk penyimpangan di dalam nama Allāh ﷻ, atau mentasybih ini juga termasuk penyimpangan di dalam nama Allāh ﷻ atau memberi nama Allāh ﷻ dengan nama makhluk atau memberi nama kepada makhluk dengan nama Allāh ﷻ seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin ketika mereka menamakan sesembahan mereka dengan al-lata, al-uzza, al-manah. Al-manah diambil dari kata al-mannan, al-uzza diambil dari kata al-aziz, al-lata diambil dari kata Allāh, ini berarti menamakan sesembahan mereka dengan nama Allāh ﷻ, ini termasuk penyimpangan didalam nama Allāh ﷻ.

Atau menamakan Allāh ﷻ dengan sesuatu yang bukan nama-Nya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani menamakan Allāh ﷻ dengan abb (bapak) maka ini berarti menamakan Allāh ﷻ dengan yang bukan nama-Nya, ini termasuk ilhad.

Maka ahlussunnah wal jamaah mereka

لاَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللهِ

dengan berbagai bentuk ilhad didalam masalah nama Allāh ﷻ sebagaimana tadi kita sebutkan.

وآيَاتِه

Dan mereka juga tidak melakukan Ilhad di dalam ayat-ayat Allāh ﷻ. Terkadang penyimpangan bukan hanya dalam nama Allāh ﷻ tapi juga dalam ayat-ayatnya, Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ

[Fussilat Ayat 40]

Orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) di dalam ayat-ayat kami, mereka tidak sama dengan kita. Allāh ﷻ Maha mengetahui tentang apa yang mereka lakukan.

Jadi ketika beliau mengatakan

يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللهِ وآيَاتِهِ

Karena beliau tahu bahwasanya didalam Al-Quran Allāh ﷻ menyebutkan ilhad ada dua jenis, ada ilhad di dalam masalah nama Allāh ﷻ, ada ilhad di dalam masalah ayat-ayat Allāh ﷻ

وَلاَ يُكَيِّفُونَ

Dan mereka tidak mentakyif, ini berarti menguatkan ucapan beliau وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيف telah beliau menyebutkan kaidah bagaimana yang dilakukan ahlussunnah.

لاَ يُكَيِّفُونَ

Mereka tidak menentukan kaifiyah

وَلاَ يُمَثِّلُونَ صِفَاتِهِ بِصِفَاتِ خَلْقِه

Dan mereka Ahlussunnah tidak menyamakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk-Nya, berarti tidak melakukan tamtsil. Jadi ucapan beliau

فَلاَ يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، وَلاَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ، وَلاَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللهِ وآيَاتِهِ، وَلاَ يُكَيِّفُونَ وَلاَ يُمَثِّلُونَ صِفَاتِهِ بِصِفَاتِ خَلْقِه

ini seperti penjelasan atau penguat dari kaidah yang beliau sebutkan sebelumnya

الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتِابِهِ الْعَزِيزِ، وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ؛ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ

لأَنَّهُ سُبْحَانَهُ: لاَ سَمِيَّ لَهُ، وَلاَ كُفْءَ لَهُ، وَلاَ نِدَّ لهُ. ولاَ يُقَاسُ بِخَلْقِهِ سُبْحَانَهَ وَتَعَالَى

Setelah itu beliau menyebutkan mengapa ahlus sunnah wal jama’ah mereka tidak mentakyif dan juga tidak menta’til, kenapa mereka tidak menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk, disini jawabannya dan ini yang harus menjadi perhatian bagi orang yang menuduh ahlussunnah sebagai musyabbiha mujassima. Kita mengetahui tentang firman-firman Allāh ﷻ, ayat-ayat Allāh ﷻ yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ tidak sama dengan makhluk

لأَنَّهُ سُبْحَانَهُ: لاَ سَمِيَّ لَهُ

Karena Allāh ﷻ tidak ada yang serupa dengan-Nya, لاَ سَمِيَّ لَهُ tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ mengatakan

هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا

[Maryam:65]

Apakah engkau mengetahui bagi Allāh ﷻ samiyya, sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ, sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Ini adalah pertanyaan yang isinya adalah pengingkaran, apakah engkau tahu sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ, yang meskipun dia mungkin seorang makhluk memiliki nama seperti nama Allāh ﷻ tapi hakikatnya berbeda. Ada di antara makhluk yang bernama Malik misalnya tapi apakah sama dia dengan Al-Malik, Allāh ﷻ yang memiliki segala sesuatu, yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang dibumi, tidak ada yang sebanding dengan Allāh ﷻ.

وَلاَ كُفْءَ لَه

Dan tidak ada yang sebanding dengan Allāh ﷻ, yang sama dengan Allāh ﷻ, di ambil dari firman Allāh ﷻ

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Tidak ada sesuatu yang musawwin yang serupa dengan Allāh ﷻ

وَلاَ نِدَّ لهُ

Dan tidak ada yang sebanding dengan Allāh ﷻ diambil dari firman Allāh ﷻ

فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Ini semua menunjukkan bahwasanya tidak ada yang serupa, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang sama dengan Allāh ﷻ, diambil kata-kata ini dari Al-Qur’an

ولاَ يُقَاسُ بِخَلْقِهِ سُبْحَانَهَ وَتَعَالَى

dan tidak boleh mengkiaskan Allāh ﷻ dengan makhluknya, diambil dari firman Allāh ﷻ

فَلَا تَضْرِبُوا۟ لِلَّهِ ٱلْأَمْثَالَ

Jangan kalian membuat perumpamaan-perumpamaan, permisalan-permisalan bagi Allāh ﷻ, karena kias yang seperti ini berarti disana ada menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk. Ahlussunnah wal jama’ah tidak yumatsilun, mereka tidak menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk, karena tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ berdasarkan ayat-ayat yang banyak.

Kemudian beliau mengatakan

فَإنَّهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَيْرِهِ، وَأَصْدَقُ قِيلاً، وَأَحْسَنُ حَدِيثًا مِنْ خَلْقِهِ

Kemudian beliau menyebutkan kenapa kita harus berdasarkan dalil dalam menetapkan nama dan juga sifat Allāh ﷻ, kenapa harus kembali kepada Al-Qur’an, kenapa harus kembali kepada hadits, beliau sebutkan disini sebabnya. Kenapa kita kembali kesana dan kalau Allāh ﷻ sudah mengabarkan harus kita benarkan dan kalau Rasulullāh ﷺ sudah mengabarkan maka harus kita benarkan ini jawabannya. Ini adalah sebab kenapa nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyyah.

Pertama

فَإنَّهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَيْرِهِ، وَأَصْدَقُ قِيلاً، وَأَحْسَنُ حَدِيثًا مِنْ خَلْقِهِ

Karena sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang lebih tahu tentang diri-Nya dan yang lain. Siapa yang lebih tahu tentang diri Allāh ﷻ, apakah ada yang lebih tahu tentang diri Allāh ﷻ daripada Allāh ﷻ, jawabanya tidak.

قُلۡ ءَأَنتُمۡ أَعۡلَمُ أَمِ ٱللَّهُۗ

[Al Baqarah:140]

Katakanlah apakah kalian lebih tahu atau Allāh ﷻ yang lebih tahu. Allāh ﷻ Dia-lah yang lebih tahu tentang diri-Nya sendiri dan juga perkara-perkara yang lain, tidak ada yang lebih mengetahui dari pada Allāh ﷻ

وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

[Al Baqarah:282]

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu.

Ketika dia mengabarkan tentang diri-Nya, bahwasanya Dia memiliki sifat demikian, bagaimana seseorang ragu dengan kabar yang Allāh ﷻ kabarkan, padahal Dia-lah yang mengetahui tentang sifat-sifat diri-Nya daripada yang lain, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua

وَأَصْدَقُ قِيلاً

Dan Allāh ﷻ adalah yang paling benar ucapan-Nya, yang paling jujur ucapan-Nya, yang sesuai dengan kenyataan. Allāh ﷻ mengatakan

وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلٗا

[An-Nisa’:122]

وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا

[An-Nisa’:87]

Dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ tidak berdusta dan untuk apa Allāh ﷻ berdusta.

Dusta ini muncul dari orang yang takut, anak misalnya dia takut kepada orang tuanya, dusta. Adapun Allāh ﷻ tidak ada yang Allāh ﷻ takuti. Ketika Allāh ﷻ mengabarkan demikian maka itu adalah kebenaran yang nyata yang harus kita imani, yang harus kita percayai, yang harus kita yakini, apakah kita meyakini bahwasanya Allāh ﷻ bohong dalam ucapannya, na’udzubillah. Kita harus benarkan, kita imani dan kita benarkan apa yang Allāh ﷻ ucapkan, amiruha kama ja’ats, lakukan ini dan jalankan itu sebagaimana datangnya, jangan kita dustakan, jangan kita ke mana-manakan.

Kemudian yang ketiga

وَأَحْسَنُ حَدِيثًا مِنْ خَلْقِه

Dan lebih baik ucapan-Nya, yaitu lebih fasih ucapan-Nya. Allāh ﷻ menggunakan kata-kata di dalam Al-Qur’an dengan kata-kata yang paling fasih, yang paling jelas, sehingga tidak perlu di takwil atau dicari mungkin tafsir bathilnya, itu adalah َأَحْسَنُ حَدِيث, Allāh ﷻ mengatakan

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا

Allāh ﷻ menurunkan kitab yang paling baik, yang paling fasih, yang paling jelas, tidak ada yang lebih fasih daripada ucapan Allāh ﷻ. Dan Nabi ﷺ mengatakan

فَإن أحسن الْحَدِيثِ كتاب الله

Sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah kitabullah, dan didalam sebagian lafadz beliau mengatakan

فَإن أصدق الْحَدِيثِ كتاب الله وخير الهدي

Yang paling benar ucapannya adalah Al-Qur’an, berarti dalam kitabullah (Al-Qur’an) terkumpul kabar yang berasal dari Allāh ﷻ, Dia-lah yang A’lam (yang paling mengetahui), Dia-lah yang paling asdaq (yang paling benar ucapannya) dan Dia-lah yang paling baik, yang paling fasih ucapan-Nya. Dan kalau dalam sebuah kabar terkumpul tiga perkara ini tidak ada alasan sedikitpun bagi orang yang mendengarnya untuk mengingkari/mendustakan.

Contoh misalnya dalam kehidupan sehari-hari kalau kita mengenal seseorang, dia orangnya adalah pintar secara keilmuan kita mengakui tapi dia tidak jujur. Ada orang pintar tapi dia tidak jujur, mengabarkan sesuatu kepada kita apakah kita berhak untuk tidak membenarkan apa yang dia ucapkan, ya berhak, kenapa, karena dia dikenal sebagai orang yang pembohong meskipun dia pintar. Kalau misalnya ada orang yang pintar, dia jujur, tapi dia dikenal kadang salah salah dalam mengabarkan sesuatu, tidak jelas ketika dia berbicara, terbalik-balik ucapannya, apakah ketika dia mengabarkan kepada kita dengan sebuah kabar kita berhak untuk tidak percaya, jawabannya berhak, kita tidak meragukan tentang kepandaian dia, kita tidak meragukan tentang kejujurannya tapi dikawatirkan ini dia salah dalam berbicara.

Tapi ketika terkumpul dalam sebuah kabar, berasal dari orang yang mengabarkan adalah orang yang berilmu, dan orang yang mengabarkan adalah orang yang jujur, dan dia adalah orang yang jelas dalam pembicaraan maka di sini tidak ada udzur bagi kita untuk tidak menerima kabar tadi. Lalu bagaimana kalau ini yang mengabarkan adalah Allahu rabbul ‘alamin, bagaimana kita mendustakan sifat yang Allāh ﷻ kabarkan didalam Al-Qur’an. Ini adalah alasan kenapa kita harus kembali kepada kitabullah dalam menentukan sifat Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 07

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 07 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللهَ

Bahkan mereka beriman bahwasanya Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Mereka beriman dan percaya bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang لَيْسَ كَمِثْلِهِ. Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam

Qur’an surat Asy-Syūrā ayat yang ke-11.

Meskipun ini adalah ayat yang ringkas namun ternyata di dalamnya mengandung kaidah yang besar yang di atasnya ahlussunnah wal jamaah berjalan di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Kaidah yang tadi disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah yang terkandung di dalam firman Allāh ﷻ ini

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ sesuatu apapun.

شَيْءٌ ini adalah nakirah, tidak ada al-nya disini, لَيْسَ disini adalah nafyun (pengingkaran, penafian), nakirah dan dia adalah nafyi maka dia adalah umum, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allāh ﷻ.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Seseorang berusaha membayangkan, mencari apapun dan sampai kapanpun tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti di sini tidak boleh seseorang mentakyif dan mentamtsil, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Kemudian

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Disini ada isbat, menetapkan yaitu menetapkan nama Allāh ﷻ As-Samī’ Al-Bashīr yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kenapa Allāh ﷻ di sini mendatangkan dua nama As-Samī’ Al-Bashīr, Allāhu A’lam, ada sebagian yang mengatakan karena sebagian besar makhluk mereka memiliki sifat ini, jadi makhluk hidup mereka mendengar dan juga mereka melihat.

Allāh ﷻ memiliki sifat As-Sama’ wa Al-Bashar, memiliki sifat pendengaran dan juga penglihatan dan kalimat sebelumnya tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti ketika seseorang menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar (memiliki pendengaran) dan dia Maha Melihat (memiliki penglihatan) bukan berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ sedikitpun. Berarti menetapkan nama dan juga sifat bagi Allāh ﷻ tidak mengharuskan seseorang menyamakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk. Sehingga seperti yang dikatakan oleh sebagian, menuduh Ahlu Sunnah Wal jamaah sebagai musyabbihah yaitu orang yang menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau ada yang menuduh ahlu sunnah sebagai mujassimah karena ketika ahlu sunnah menetapkan tangan bagi Allāh ﷻ menetapkan dua mata bagi Allāh ﷻ kemudian ketika mereka melihat jism (jasad) manusia kemudian mereka akhirnya menuduh ahlul sunnah sebagai mujassimah, Allāh ﷻ memiliki jasad sebagaimana manusia atau jism sebagaimana manusia, ini salah paham. Tidak ada di sana talāzum bahwasanya orang yang menentukan sebuah sifat bagi Allāh ﷻ kemudian berarti dia menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak.

Kita berjalan diatas firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kita semuanya meyakini Allāh ﷻ Maha Mendengar tapi pendengaran Allāh ﷻ tidak sama dengan pendengaran makhluk, pendengaran Allāh ﷻ adalah pendengaran yang sempurna berbeda dengan pendengaran kita yang lemah dan banyak perkara yang tidak bisa kita dengar padahal itu dekat dengan kita, apalagi suara-suara yang jauh. Dan Allāh ﷻ Maha Melihat dan Maha Sempurna Penglihatan-Nya, adapun kita maka kita memiliki penglihatan tapi penglihatan kita adalah penglihatan yang penuh dengan kekurangan. Jadi dari mana kita dinamakan sebagai musyabbihah mujassimah padahal kita tidak pernah menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk.

Sebagian memberikan permisalan, contoh misalnya seseorang yang datang kepada kita kemudian membawa hewan yang aneh yang mungkin kita baru pertama kali atau belum pernah melihatnya. Tapi dia karungi hewan tadi dan mengatakan saya membawa sebuah hewan, dia punya tangan punya kaki punya mata tapi kamu belum pernah melihatnya dan ketika dia berbicara dia punya tangan punya kaki kemudian kita membenarkan. Teman ini dia bukan orang yang suka guyon atau orang yang suka bohong, kita yakini kita benarkan apa yang dia ucapkan.

Ketika kita mengatakan oh ya dia punya tangan dia punya kaki dia punya mata, apakah ketika kita membenarkan demikian berarti kita mengatakan bahwa hewan yang ada dalam karung ini tangannya sama dengan tangan kita, kakinya sama dengan kaki kita, ini diucapkan orang yang paham dan orang yang berakal. Ketika dia mengatakan iya saya benarkan karena dia memahami makna tangan makna kaki, dia paham, tapi ketika dia membenarkan bukan berarti dia menyamakan antara tangan hewan yang ada dalam karung ini dengan tangan manusia, tidak, itu menunjukkan tentang pemahaman dia.

Jadi Allāh ﷻ menggunakan kata-kata istawa, al-yad, ini dengan bahasa Arab yang jelas yang bisa dipahami oleh orang yang mempelajari bahasa arab, yang maknanya jelas sehingga kita memahami istawa, al-yad, al-‘ain mata ini dengan bahasa yang turun dengannya Al-Qur’an, bahasa yang digunakan oleh Rasulullāh ﷺ. Tapi ini permisalan untuk memudahkan, sekali lagi ketika Ahlus Sunnah menetapkan bukan berarti mereka mentasybih. Kalau demikian sangat mudah sekali kita memahami nama dan juga sifat Allāh ﷻ, tidak ada sesuatu yang masalah, tidak ada sesuatu yang berat untuk kita tetapkan.

Bahkan di dalam dalil yang para ulama berselisih pendapat apakah ini berbicara tentang sifat Allāh ﷻ atau bukan, ketika kita memahami faedah ini mudah, seandainya ini adalah sifat Allāh ﷻ ya kita tetapkan sebagai mana datangnya sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, sehingga para sahabat, para salaf, para tabi’in, para tabi’-tabi’in inilah aqidah mereka. Tidak ada takalluf dan tidak ada isykal bagi mereka, para sahabat radhiallāhu ta’ala ‘anhum menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan dan juga rasul-Nya tetapkan di dalam Al-Qur’an dan juga hadits, tidak ada diantara mereka yang mengatakan bagaimana, kenapa bisa demikian, mereka dididik oleh Rasulullāh ﷺ dengan didikan yang benar dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Al imam Malik Rahimahullah, guru dari imam Syafi’i, imam penduduk kota Madinah di zamannya pernah didatangi oleh seseorang atau ada orang yang bertanya di majelis beliau dan dia mengatakan

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

[ طه:5]

Membaca firman Allāh ﷻ bahwasanya Ar Rahman yaitu Allāh ﷻ beristiwa di atas arsy. Dia mengatakan kaifastawa? Bagaimana Allāh ﷻ beristiwa. Al imam Malik Rahimahullah ketika mendengar pertanyaan ini dan ini pertanyaan yang tidak pernah diucapkan oleh para sahabat kepada Nabi Muhammad ﷺ, tidak pernah ditanyakan oleh tabi’in kepada para sahabat Nabi ﷺ, berubah wajah beliau, marah dengan pertanyaan seperti ini.

Kemudian beliau mengucapkan sebuah ucapan yang ini merupakan kaidah yang besar dalam masalah nama dan sifat Allāh ﷻ, beliau mengatakan “al-istiwa’u ma’lum”, Al-Istiwa adalah sesuatu yang maklum, yaitu yang di ketahui maknanya, dia bukan bahasa asing yang kita yaitu orang-orang Arab tidak mengetahui maknanya, tidak, itu adalah kalimat yang maklum di dalam bahasa Arab, maknanya adalah ‘ala wartafa’a, washa’ada wastaqarr, meninggi, menetap, al-istiwa’u ma’lum.

وَالْكَيْفُ مَجْهُوْل

Dan bagaimana tata caranya, yaitu bagaimana Allāh ﷻ beristiwa majhul, tidak diketahui. Allāh ﷻ tidak pernah memberitahukan kepada kita tentang bagaimananya, tidak diketahui, tidak ada satu ayat pun didalam Al-Qur’an atau satu hadits yang berisi tentang bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, majhul, tapi dia memiliki kaifiyah, yang mengetahui kaifiyahnya adalah Allāh ﷻ. Kita tidak mengetahui kaifiyah tapi Allāh ﷻ mengetahui kaifiyah, karena segala sesuatu pasti ada kaifiyahnya, yang kita ingkari disini bukan kaifiyahnya atau bahwasanya Allāh ﷻ tidak ada kaifiyahnya, yang kita ingkari adalah ilmu kita, kita tidak mengetahui tentang kaifiyah dan bagaimana istiwa Allāh ﷻ.

وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ

Berimanبِهِ , yaitu dengan istiwa Allāh ﷻ adalah sesuatu yang wajib. Kenapa wajib karena Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’an ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ, kemudian Allāh ﷻ mengatakan ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ dalam 6 ayat dalam Al-Qur’an dengan lafadz yang sama. Berarti beriman bahwasanya Allāh ﷻ berisitwa itu wajib, Allāh ﷻ mengabarkan bahkan bukan hanya satu ayat tapi tujuh ayat dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ mengabarkan bahwasanya Diri-Nya beristiwa menunjukkan ta’qid, menunjukkan penguatan. Bagaimana seseorang yang beriman dia mengingkari, beriman dengan istiwa Allāh ﷻ adalah wajib

وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Dan bertanya tentang istiwa Allāh ﷻ, yaitu bertanya tentang bagaimananya, sebagaimana diucapkan oleh laki-laki tadi bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang bid’ah, kenapa dinamakan bid’ah, tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ dan tidak pernah ditanyakan para sahabat kepada Nabi ﷺ padahal para sahabat adalah orang yang paling semangat untuk mengetahui perkara yang bermanfaat bagi mereka di dalam agama mereka, mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ahillah, bertanya tentang masalah hail, mereka bertanya tentang syahrul harām, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang lain, tapi tidak ada satupun pertanyaan mereka berupa seperti pertanyaan laki-laki ini, yaitu mengatakan bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, bagaimana tangan Allāh ﷻ karena mereka mengetahui firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, itu saja yang mereka pegang kaidahnya. Sehingga Al-imam Malik mengatakan

وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Ini adalah imam diantara imam imam Ahlus Sunnah, guru dari imam Syafi’i dan imam Syafi’i di atas manhaj beliau yaitu manhaj ahlussunnah wal jama’ah dan inilah manhaj al-imamu Ahmad bin hanbal dan seluruh imam imam ahlus Sunnah wal jamaah.
Dan apa yang diucapkan oleh Imam Malik ini bisa digunakan untuk memahami sifat-sifat Allāh ﷻ yang lain, misalnya tangan Allāh ﷻ, kita katakan al-yad ma’lūmah, tangan itu dalam bahasa Arab suatu yang maklum maknanya, wal kaifu majhul dan bagaimana tangan Allāh ﷻ majhul (tidak diketahui), wal imanu biha wājib, beriman dengan tangan Allāh ﷻ adalah wajib, wassu’alu ‘anhu bid’ah, dan bertanya tentang bagaimana tangan Allāh ﷻ adalah sesuatu yang bid’ah. Gunakan kaidah ini dalam seluruh nama dan seluruh sifat-sifat Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 06

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 06 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

Dan termasuk iman kepada Allāh ﷻ, merupakan rukun iman yang pertama dan disini beliau akan berbicara tentang beriman dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ, mengapa beliau tidak berbicara tentang masalah rububiyah Allāh ﷻ dan juga uluhiyah Allāh ﷻ. Wallāhu a’lam mungkin beliau ingin mengkonsentrasikan tentang masalah nama dan juga sifat ini karena sebagaimana yang sudah kita sampaikan bahwa asal dari Al aqidah Al wasithiyah ini adalah permintaan dari seorang qadhi yang berasal dari Wāsith yang dia mengabarkan tentang keadaan daerahnya, dan mungkin di antara yang disebutkan oleh qadhi tersebut adalah penyimpangan manusia di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau ingin mengkonsentrasikan dan memperbanyak tentang masalah beriman kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ, Allāhu a’lam.

Maka beliau mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah

الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتِابِهِ الْعَزِيزِ، وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

Beriman dengan apa-apa yang Allāh ﷻ sifati diri-Nya di dalam kitab-Nya, وَصَفَ disini ini fa’ilnya adalah dhamir mustatir taqdiru huwa kembali kepada Allāh ﷻ.

Termasuk beriman kepada Allāh ﷻ kita beriman, kita meyakini, kita percaya, kita menetapkan dan juga mempercayai apa yang Allāh ﷻ sifati diri-Nya di dalam kitab-Nya, yaitu dengan percaya dengan sifat-sifat Allāh ﷻ yang telah Allāh ﷻ kabarkan sifat-sifat-Nya tersebut didalam kitab ini maka ini termasuk beriman kepada Allāh ﷻ, dan insya Allāh namanya orang yang beriman, beriman kepada rukun Iman.

Kalau masing-masing kita memang mengakui dan mempercayai, beriman kepada Allāh ﷻ maka ketahuilah termasuk di antara iman kepada Allāh ﷻ adalah beriman dengan sifat Allāh ﷻ yang telah Allāh ﷻ kabarkan kepada kita di dalam kitab-Nya.
Kita imani, kita yakini bahwasanya itu adalah sifat Allāh ﷻ. Misalnya di dalam kitab Allāh ﷻ, di dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengabarkan tentang bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat tinggi

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ

[Al Mulk:16]

Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas.

Diantara sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengatakan

بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ

[Al Ma’idah:64]

Akan tetapi kedua tangan Allāh ﷻ terbentang.

Diantara sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allāh ﷻ memiliki pendengaran, Allāh ﷻ memiliki penglihatan dan dalil-dalil yang lain dan sebentar lagi InsyaAllāh akan kita pelajari bersama sebagian dari ayat-ayat didalam Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sifat Allāh ﷻ.

Allāh ﷻ telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang berisi tentang sifat-sifat Allāh ﷻ. Tidaklah kita membuka satu halaman di dalam mushaf kecuali akan kita dapatkan di situ sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengabarkan kepada kita sebagian sifat-sifat-Nya di dalam Al-Qur’an. Termasuk di antara iman kita kepada Allāh ﷻ dan keyakinan kita kepercayaan kita kepada Allāh ﷻ adalah kita menetapkan dan kita mengimani, membenarkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan di dalam kitab-Nya berupa sifat-sifat-Nya.

Apakah hanya di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ menyebutkan sifat-Nya, tidak. Ada di antara sifat-sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan melalui lisan rasul-Nya kalau kita cari dalam Al-Qur’an tidak ada tapi disebutkan oleh Rasulullāh ﷺ dan dia juga adalah termasuk Wahyu

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ

[ الـنحـم:3 An Najm]

Dia yaitu Muhammad ﷺ tidak berbicara dari hawa nafsunya

إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ

[ الـنحـم:4 An Najm ]

Tidaklah itu kecuali Wahyu yang diwahyukan kepada Beliau ﷺ.

Itu adalah wahyu, sebagaimana Al-Qur’an adalah wahyu maka ucapan dan sunnah Nabi ﷺ juga merupakan wahyu yang harus kita yakini

وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

Dan beriman dengan apa yang رَسُولُهُ, utusan-Nya nabi Muhammad ﷺ telah mensifati Allāh ﷻ dengan sifat tersebut.

Allāh ﷻ memilih nabi kita Muhammad ﷺ untuk menjadi rasul, menjadi utusan, utusan Allāh ﷻ untuk kita, menjadi perantara antara Dia dengan kita. Diantara yang Beliau ﷺ bawa adalah tentang sifat-sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengabarkan kepada Beliau ﷺ diantara sifat Allāh ﷻ adalah demikian dan demikian dikabarkan kepada kita, maka termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah kita mensifati Allāh ﷻ dengan sifat yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ.

Ini termasuk iman kita kepada Allāh ﷻ yang harus dilakukan oleh seorang yang beriman dan ini menunjukkan kepada kita isyarat dari mu’allif bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah yaitu kita menerima jadi dan bahwasanya tidak boleh kita menetapkan sifat Allāh ﷻ kecuali berdasarkan dalil. Dari mana dalil tersebut kita dapatkan, dari kitabihi atau dari sunnah Rasulullāh ﷺ, tidak boleh kita mengada-ngada membuat sifat diantara sifat-sifat Allāh ﷻ atau mengada-ngada nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Kembali kepada dalil, apa yang memang datang di dalam dalilnya kita tetapkan yang tidak ada dalilnya maka tidak boleh kita tetapkan.

Kemudian di antara yang bisa kita ambil faedahnya dari ucapan beliau

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ: الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ

dan seterusnya, di sana ada yang dinamakan dengan isbat yaitu menetapkan, jadi termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah kita menetapkan, yaitu menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan untuk diri-Nya dan menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullāh ﷺ untuk Allāh ﷻ. Maka nama dan juga sifat yang Allāh ﷻ tetapkan dan juga Rasulullāh ﷺ tetapkan kita sebagai orang yang beriman harus menetapkan, tidak ada pilihan yang lain, kata para salaf hendaklah kalian jalankan sebagaimana datangnya. Allāh ﷻ mengatakan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ

[ النساء An Nisa :136]

Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya

Kita disuruh untuk beriman, disuruh untuk percaya, meyakini Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya, di antaranya adalah termasuk masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Kemudian setelah itu beliau memberikan kaidah yang lain, pertama kita tetapkan kemudian beliau menambah kaidah yang lain dan ini adalah kaidah yang penting yang harus kita pahami sebelum kita masuk pada perincian penyebutan sifat-sifat Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an maupun di dalam hadits.

Yang akan beliau sebutkan di sini adalah kaidah-kaidah yang penting yang di atasnya Ahlul sunnah wal jamaah yang insya Allāh dengan kita memegang kaidah ini apapun yang sampai kepada kita tentang sifat Allāh ﷻ tidak akan masalah bagi kita, bukan sesuatu yang musykilah, bukan sesuatu yang problem bagi kita selama kita memegang kaidah.

Dan kaidah yang beliau sebutkan di sini adalah kaidah para salaf kaidah yang berjalan di atasnya para sahabah, para tabi’in, para tabi’-tabi’in, inilah aqidah ahlussunnah wal jamaah dari zaman dahulu dan sampai dekatnya hari kiamat, mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, bukan menolak, Allāh ﷻ menetapkan kemudian ada di antara manusia yang menafikan. Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah, ada sebagian orang menolak Allāh ﷻ tidak memiliki sifat Rahmah karena sifat kasih sayang ini seperti makhluk. Allāh ﷻ menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki dua tangan, ada sebagian orang mengatakan tidak, Allāh ﷻ tidak memiliki dua tangan. Ini berarti bukan menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan tapi dia menolak, menafikan apa yang Allāh ﷻ tetapkan, tentunya ini bertentangan dengan ikrar kita terhadap Allāh ﷻ dan iman kita kepada Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Kemudian beliau mengatakan

مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ

Ahlul sunnah wal jamaah mereka menetapkan apa yang Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya tetapkan sebagaimana datangnya namun مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ, tanpa mereka melakukan taḥrīf.

Dan taḥrīf secara bahasa artinya adalah taghyīr, merubah dan perubahan di sini bisa merubah dengan cara menambah huruf atau mengurangi huruf atau bisa juga dengan merubah harokat, berarti perubahan di sini bisa berupa perubahan yang berkaitan dengan lafadz dari sifat tersebut.

Maka ini termasuk taḥrīf, contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sebagian mereka ketika membaca firman Allāh ﷻ

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا

[An-Nisa’:164]

Kemudian merubahnya, merubah harokat lafdzul jalālah menjadi fatha, kemudian membacanya وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا, dirubah harokat. Harokat yang asalnya adalah وَكَلَّمَ ٱللَّهُ berarti Allāh ﷻ (lafdzul jalālah) di sini sebagai fa’il, Allāh ﷻ yang kallam (berbicara) kepada Musa sesuai dengan keagungan-Nya, dengan pembicaraan yang sesuai dengan keagungan-Nya tidak sama dengan bicaranya makhluk, demikian ahlus sunnah menetapkan. Namun al-muḥarrif (orang yang ingin merubah, mentaḥrīf) dia rubah harokatnya dan mengatakan dan membacanya

وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا

Dan Musa berbicara kepada Allāh ﷻ, dibalik, bukan Allāh ﷻ yang berbicara kepada Musa tapi Musa yang berbicara kepada Allāh ﷻ, maka ini termasuk taḥrīf lafdzi, perubahan yang berkaitan dengan lafadz, ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian. Nabi Musa ‘alaihissalam adalah kalimullāh, ini adalah keistimewaan yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau karena Allāh ﷻ berbicara dengan beliau, tidak semua nabi Allāh ﷻ berbicara langsung kepada mereka, Allāh ﷻ mengatakan

تِلۡكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۘ مِّنۡهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُۖ

[Al Baqarah:253]

Ada diantara mereka yang Allāh ﷻ berbicara kepadanya, termasuk diantaranya adalah Nabi Musa.

Kalau dibaca وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا Musa berbicara kepada Allāh ﷻ, maka hamba-hamba Allāh ﷻ mereka semuanya pernah berbicara kepada Allāh ﷻ, ketika mereka mengatakan ya Allāh ﷻ ya Rabb berbicara kepada siapa, mereka tidak lain kecuali mereka berbicara kepada Allāh ﷻ. Kalau hamba yang berbicara kepada Allāh ﷻ maka hamba-hamba Allāh ﷻ mereka berbicara kepada Allāh ﷻ di dalam dzikirnya didalam doanya.

Maka ini dinamakan dengan taḥrīf lafdzi, dan di sana ada taḥrīf merubah dari sisi makna seperti misalnya orang yang memaknai istawa yang asalnya adalah ‘ala wartafa’a, washa’ada wastaqarr, meninggi, kemudian merubah namanya menjadi istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya adalah menguasai. Maka ini merubah makna yang benar yang sesuai dengan bahasa Arab, kemudian dirubah dengan istawla dan al-mutaakhirūn mereka menamakan tahrifun ma’nawi ini dengan takwil, dan hakikatnya adalah tahrifun ma’nawiun, ini adalah merubah dari sisi maknanya cuma mereka datangkan istilah-istilah yang baru sesuai dengan keinginan mereka untuk mengelabui manusia, seakan-akan dengan kalimat tersebut mereka adalah orang yang akalnya matang, orang yang pandai, orang yang lebih paham tentang Al-Qur’an, ini adalah takwilnya, maka ini dinamakan dengan tahrifun maknawiyun.

Ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian, ahlul sunnah wal jamaah memaknai sifat-sifat Allāh ﷻ dengan makna yang benar, yang sesuai dengan bahasa Arab, sesuai dengan apa yang dipahami oleh para salaf, bukan memaknai istawa dengan istawla dan akan datang pembahasan khusus tentang sifat Allāh ﷻ istawa.

Kemudian

وَلاَ تَعْطِيلٍ

Dan mereka tidak menta’thīl, ta’thīl dalam bahasa Arab artinya adalah mengosongkan atau mengingkari. Allāh ﷻ mengatakan wabi’ri muaththola, dan sumur yang kosong yang ditinggalkan orang tidak dipakai, itu dinamakan dengan bi’r muaththola

وَلاَ تَعْطِيلٍ

Mereka ahlussunnah wal jama’ah menetapkan tanpa mereka menta’thīl, yang dimaksud menta’thīl dengan sifat Allāh ﷻ diantaranya adalah mengingkari, mengingkari sifat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan istawa dia mengatakan Allāh ﷻ tidak istawa tapi istawla, berarti di sini dia mengingkari, mengingkari terlebih dahulu baru setelah itu dia mentaḥrīf, jadi dua-duanya sekaligus.

Karena ketika dia mengatakan tidak istawa berarti dia mengosongkan, mengingkari sifat Allāh ﷻ, ketika dia mengatakan tapi adalah istawla berarti di sini dia mentaḥrīf maknanya. Berarti setiap muḥarrif adalah muaththi, setiap orang yang mentaḥrīf berarti dia muaththi, tidaklah dia mentaḥrīf kecuali dia menta’til terlebih dahulu. Dia mengatakan tidak istawa ini ta’til, setelah itu dia mengatakan tapi istawla di sini mentaḥrīf.

Apakah setiap yang muaththil dia muḥarrif, belum tentu. Ada sebagian yang dia muaththil, dia mengingkari dan dia tidak mendatangkan makna yang baru, hanya mengatakan Allāh ﷻ tidak beristiwa, di situ saja tanpa dia mendatangkan makna yang baru, maka ini berarti muaththil saja. Berarti kullu muḥarrifin muaththil, wa laysa kullu muaththilin muḥarrif.

Jadi terkadang seseorang menta’til sifatnya dan terkadang seorang menta’til lafadznya dan juga terkadang menta’til maknanya. Maka Ahlussunnah Wal jamaah tidak melakukan ta’til, mereka beriman kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ yang sudah Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya tetapkan. Bagaimana mereka berani untuk menafikan apa yang Allāh ﷻ tetapkan, mereka adalah orang-orang yang biasa, tunduk terhadap kabar-kabar Allāh ﷻ, apa yang Allāh ﷻ kabarkan kepada mereka, mereka benarkan.

Yu’minūna bil ghaib, mereka adalah orang-orang yang beriman dengan perkara yang ghoib, dan nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah perkara yang ghoib مِنْ

غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ.

Dan muaththila disini mereka bertingkat-tingkat, ada diantara mereka yang mengingkari nama Allāh ﷻ dan juga sifat-Nya seperti jahmiyah, ada diantara mereka yang menetapkan nama dan juga mengingkari sifat, dan ada diantara mereka yang menetapkan nama, menetapkan sebagian sifat dan mengingkari sebagian sifat, ini juga termasuk muaththila. Mereka bertingkat-tingkat semuanya masuk di dalam muaththila yaitu orang-orang yang menta’til.

Kemudian beliau mengatakan

وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ

Dan mereka menetapkan sifat Allāh ﷻ tanpa takyīf, dari kata kayyafa – yukayyifu – takyīfan, artinya adalah ja’ala lillahi kaifiyyah, menentukan bagi Allāh ﷻ atau membuat bagi Allāh ﷻ kaifiyyah yaitu cara, menentukan bagaimananya, menentukan kaifiyahnya inilah makna kayyaf. Dan bukan yang dimaksud dengan takyīf disini adalah bertanya bagaimana, tidak. Bertanya tentang bagaimana Allāh ﷻ, betul ini adalah pertanyaan yang tidak benar, bertanya tentang bagaimananya ini adalah tidak benar dan ini adalah bid’ah dalam agama tapi itu tidak dinamakan dengan takyīf.

Takyīf artinya adalah menentukan kaifiyyah, kayyafa – yukayyifu – takyīfan artinya adalah ja’ala lahu kaifiyyah. Seandainya ada pertanyaan apa yang dimaksud dengan takyīf jangan dijawab bertanya tentang bagaimana, bukan bertanya, tapi takyīf adalah menentukan kaifiyyah.

Ahlussunnah Wal jama’ah tidak menentukan kaifiyyah, tidak menentukan Allāh ﷻ itu tangannya seperti ini, Allāh ﷻ istiwanya seperti ini, Ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian.

Mereka mengatakan Allāh ﷻ beristiwa tapi sama sekali mereka tidak menentukan bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, nanti akan disebutkan kenapa mereka tidak melakukan yang demikian. Jadi tidak ada kelaziman menetapkan Allāh ﷻ beristiwa atau Allāh ﷻ memiliki sifat, kemudian pasti kita ini menentukan kaifiyyah, tidak, bukan merupakan kelaziman bahwa Isbat mengharuskan kita untuk menentukan kaifiyyah.

Kita meyakini adanya malaikat dan bahwasanya dia memiliki sayap dan kita memahami makna sayap tapi menentukan bagaimana sayapnya malaikat kita tidak bisa, kita tidak pernah melihat malaikat. Kita mengitsbat bahwasanya di dalam surga ada buah-buahan

وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ

[Al Baqarah:25]

Mereka diberikan buah-buahan yang serupa, yaitu serupa dengan apa yang mereka lihat di dunia dari sisi wujudnya mungkin atau warnanya, tapi hakekatnya, rasanya berbeda. Kita dikabarkan tentang hurun ‘in (wanita-wanita yang cantik dalam surga), kita dikabarkan tentang qasr (istana) di dalam surga itu semua kita pahami dan kita tetapkan namun kita tidak bisa menentukan bagaimana hakikat karena kita tidak diberitahukan oleh Allāh ﷻ tentang bagaimana hakikatnya, cuma dikabarkan kepada kita tentang adanya kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Demikian pula Ahlussunnah mereka menetapkan sifat Allāh ﷻ tapi mereka tidak men takyīf (tidak menentukan bagaimananya)

وَلاَ تَمْثِيلٍ

Dan mereka tidak mentamtsīl, yang dimaksud dengan tamtsīl adalah menjadikan bagi Allāh ﷻ matsil (sesuatu yang sebanding atau serupa) atau mumatsil (sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ). Contohnya misalnya mengatakan bahwa istiwa Allāh ﷻ seperti istiwanya raja fulan, tangan Allāh ﷻ seperti tangannya fulan berarti di sini mendatangkan mumatsil, mendatangkan sesuatu yang dibandingkan. Kalau takyīf tadi apakah harus mendatangkan sesuatu yang dibandingkan, tidak harus, seandainya dia mengatakan tangan Allāh ﷻ itu demikian dan demikian, ini berarti menentukan kaifiyyahnya, tidak harus dia mendatangkan mumatsil (sesuatu yang dibandingkan) dengan tangan Allāh ﷻ

Maka disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya setiap mumatsil mukayyif, kullu mumatsilin mukayyif, setiap orang yang mumatsil maka dia telah menentukan kaifiyyah, wa laysa kullu mukayyifin mumatsilan, dan tidak semua orang yang mukayyif kemudian dia dinamakan mumatsilan, karena orang yang mentakyīf (menentukan kaifiyyah) belum tentu dia mendatangkan sesuatu yang dibandingkan diantara makhluk.

Demikian ahlu sunnah wal jama’ah, ini adalah kaidah yang harus kita pahami, menetapkan tanpa kita merubah lafadznya, tanpa kita merubah maknanya, tanpa kita menta’wil. Menetapkan tanpa kita menta’til, tanpa kita mengingkari maknanya atau mengingkari sebagian sifat-Nya, menetapkan sebagian yang lain. Kita mengitsbat tanpa kita menentukan kaifiyyahnya, tanpa kita menentukan sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Ini kaidah yang kalau kita pahami, membantah banyak syubhat yang didatangkan oleh orang-orang yang menyimpang di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته