Category Archives: Kajian

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 17 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 02)

Halaqah 17 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 02)

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kita beribadah kepada Allāh ﷻ bukan hanya sekedar ibadah, tapi kita ingin supaya ibadah kita diterima oleh Allāh ﷻ, telah disampaikan bahwasanya Ibadah yang akan bermanfaat bagi seseorang di hari Kiamat yang akan diberikan pahala oleh Allâh itu adalah ibadah yang maqbul, ibadah yang memang diterima/dianggap oleh Allāh ﷻ itulah yang diberikan pahala.

Itulah yang akan berpengaruh di dalam kehidupan di dunia ini karena terkadang pahala dari amal sholeh kalau memang amal sholeh itu diterima, Allāh ﷻ berikan pahalanya sebagian di dunia, atau pahala yang didapatkan oleh seseorang di alam kuburnya, ganjaran yang dia dapatkan ketika dibangkitkan, dikumpulkan, dihisab, melewati jembatan Ash Siroth dan seterusnya itu adalah kalau amalan kita diterima Allāh ﷻ, tidak semua amalan yang diamalkan oleh seseorang kemudian dia mendapatkan tsamaroh/buahnya, yang akan didapatkan buahnya apabila amalan tersebut -مقبلا عند الله …

۞ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ

[QS An Nahl 97]

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amal sholeh baik laki-laki maupun wanita dan dia dalam keadaan beriman maka akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang toyyibah.

Ini jika amalan sholehnya diterima oleh Allāh ﷻ, diterima baru dia mendapatkan ganjaran – حَيَاةً طَيِّبَةً – di dalam kehidupan di dunia ini

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan sungguh Kami akan membalas dia dengan ganjaran mereka dengan amalan yang paling baik yang mereka kerjakan.

Kapan ini ? Apabila diterima amalannya.

Tujuan kita beramal adalah bagaimana supaya amalan kita ini diterima, oleh karena itu para salaf mereka berdoa kepada Allāh ﷻ untuk supaya diterima amalannya, semangat & berusaha bagaimana amalannya benar² diterima oleh Allāh ﷻ, diantara usaha mereka adalah tentunya belajar.

Karena diterimanya amalan ini ada syarat, harus sesuai dengan Sunnah kalau tidak maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ maka mereka belajar bagaimana ibadahnya sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Disamping itu juga mereka mempelajari bagaimana supaya ikhlas belajar Tauhid, belajar Aqidah ditambah mereka berdoa meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amal sholeh.

Sebagian salaf 6 bulan pertama setelah bulan Ramadhan mereka gunakan memperbanyak meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amal sholehnya selama bulan Ramadhan, mereka menunjukan kepada Allāh ﷻ bahwasanya mereka butuh amalannya ini diterima sehingga mereka (yulihun) merengek² bagaimana amalannya diterima oleh Allāh ﷻ karena inilah yang akan bermanfaat bagi mereka & akan mereka petik buahnya di dunia maupun di Akhirat.

Nabi ﷺ setiap hari diantara dzikir yang dibaca shalat Shubuh

اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

Beliau membaca & meminta kepada Allāh ﷻ amalan yang diterima, bukan hanya sekedar amalan saja, tapi ingin amalan yang diterima.

Nabi Ibrahim alaihi salam & juga Ismail ketika diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membangun dan menaikkan Kabah

۞ وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ

[QS Al Baqorah 127]

Itu doa yang pertama sebelum doa

۞ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[QS Al Baqoroh128]

Dan mengatakan

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ

[QS Al Barqoroh 129]

Doa yang pertama adalah

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Kenapa demikian, karena mereka yaitu al Anbiya wa sholihun mengetahui tentang keutamaan amalan yang diterima oleh Allāh ﷻ, itulah keinginan kita bukan hanya sekedar mujarrot al amal kemudian kita lupakan dan kita cuek apakah diterima atau tidak.

Sebagian salaf saking inginnya dia dan rindunya dia dengan diterimanya amalan dia mengatakan:
seandainya aku mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ menerima 2 rakaat dariku niscaya aku adalah orang yang menjadi paling gembira/bahagia didunia

Karena di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

۞ … قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

QS Al Maidah 27]

Karena Allāh ﷻ itu hanya menerima dari orang yang bertaqwa.

Kalau diterima meskipun dua rakaat menunjukan bahwasanya dia termasuk orang yang bertaqwa & orang yang bertaqwa merekalah yang berhak, merekalah yang disediakan syurga wa’idat lil muttaqin (surga disediakan bagi orang² yang bertaqwa).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām- Halaqah 16 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Aali Imran 85 (Bagian 01)

Halaqah 16 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Aali Imran 85 (Bagian 01)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Masuk pada Bab yang kedua yaitu

 باب وجوب الإسلام

Berkata Mushanif

– باب وجوب الإسلام – Bab tentang Wajibnya Islam.

Yang dimaksud Islām disini adalah seperti di bab pertama yaitu Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, yang mencakup di dalamnya

الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة

Keharusan untuk mengesakan Allāh ﷻ di dalam Ibadah & keharusan untuk tunduk kepada Allāh ﷻ di dalam dzhohir kita.

Apa hukumnya – وجوب – hukumnya adalah wajib untuk memeluk mengikuti dan menjadikan agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ sebagai jalan hidup kita. Wajib untuk menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ baik dzhohir kita maupun bathin kita.

Disini beliau mendatangkan – باب وجوب الإسلام – setelah – باب فضل الإسلام – karena mungkin ada diantara pembaca ketika dia membaca bab yang pertama – باب فضل الإسلام – Bab tentang keutamaan Islām seakan² kalau disebutkan keutamaan maka dia adalah perkara yang sunnah dia adalah perkara yang utama tetapi tidak merupakan kewajiban.

Ketika disebutkam tentang – فضل – keutamaan mungkin ada yang memahami seakan² memang Islām memiliki keutamaan kita akui bahwa dia adalah sesuatu yang utama/istimewa tapi dipahami bahwasanya memeluk agama Islām bukan sebuah kewajiban.

Oleh karena itu beliau ingin mengingatkan bahwasanya ternyata Islām yang disebutkan keutamaannya di dalam bab yang pertama dia adalah sesuatu yang Istimewa/utama dan dia adalah sebuah kewajiban bukan sesuatu yang mustahab/dianjurkan.

Apakah mungkin sesuatu yang memiliki keutamaan kemudian hukumnya wajib ? IYA, shalat 5 waktu hukumnya wajib dan dia memiliki keutamaan, puasa dibulan Ramadhan hukumnya wajib & dia memiliki keutamaan, jadi yang memiliki keutamaan bukan hanya sesuatu yang sunnah saja, perkara yang sunnah memiliki keutamaan sesuatu yang wajib juga memiliki keutamaan.

Islām dengan makna yang kita sebutkan Islām yang merupakan agama Nabi ﷺ yang di dalamnya ada pasrah menyerahkan diri secara bathin dan dzhohir, secara bathin dia bertauhid ikhlas & secara dzhohir manut dan nurut di dalam syariat mengikuti syariatnya Rasulullah ﷺ. Maka ini adalah hukumnya wajib, artinya wajib kalau sampai seseorang tidak mengikuti Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka dia berdosa itulah makna Wajib. Bukan hanya dia meninggalkan keutamaan di dalam Islām tapi juga berdosa.

Untuk menunjukan tentang wajibnya Islām ini , beliau membawakan beberapa dalil, 3 diantaranya adalah dari Al-Quran kemudian 3 berupa sunnah kemudian beliau menyebutkan 2 atsar dari para salaf. Kita lihat sebagaimana di dalam bab pertama tidak ada ucapan disini dari beliau yang beliau nukil adalah ucapan firman Allāh ﷻ atau sabda Nabi ﷺ atau dia adalah ucapan para salaf atau ucapan para ulama. Jangan mengatakan mudah sekali untuk menukil (menukil juga perlu keterampilan)

Beliau mengatakan

Dalil yang pertama adalah firman Allāh ﷻ

۞ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

[آل عمران: 85].

Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islām sebagai agama, (يَبْتَغِ – menginginkan, mencari; mencari agama selain agama Islām setelah datangnya Nabi ﷺ yang membawa agama Islām) kemudian ada diantara manusia yang berusaha untuk mencari agama selain yang dibawa beliau ﷺ baik itu agama wasaniah (agama yang mengajarkan kesyirikan) atau bahkan agama Islām yang dibawa oleh Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ, seandainya sekarang masih ada agama yang dibawa oleh Nabi Sulaiman, syariat yang dibawa oleh Nabi Daud, kemudian ada manusia yang lebih memilih agama Islām yang dibawa oleh Nabi Daud – Sulaiman – Musa, فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْه maka tidak akan diterima darinya فَلَنْ Tidak akan, sampai kapan pun tidak akan diterima.

Kalau sudah datang Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka barangsiapa yang mencari agama selain agama beliau ﷺ menjadikan itu sebagai jalan hidupnya maka tidak akan diterima darinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 15 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 02

Halaqah 15 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي الدردا رضي الله عنه قال

Dan dari Abu Darda semoga Allāh ﷻ meridhoinya, beliau berkata

كيف يعيبون سهر الحمقى وصومهم؟

Bagaimama mereka tertipu dengan begadangnya orang² yang – الحمقى – (lawan dari الأكياس) orang yang tidak cerdas/bodoh, mereka justru yang asalnya amalan tersebut adalah ibadah yang harusnya mereka dapat pahala justru menjadi Azab atau bahkan justru menjadi sebab mereka masuk kedalam neraka, bagaimana itu?
Ketika misalnya mereka salah di dalam niat. Berpuasa tetapi tidak ada niat untuk mendapatkan pahala, karena orang lain mereka berpuasa dibulan Ramadhan maka dia juga ikut berpuasa.

Tidak ada ikhtisaban, pahala puasa itu bagi orang yang ikhtisaban

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا

Kalau tidak ada – احْتِسَابًا -hanya sekedar adat istiadat / kebiasaan karena mereka semua puasa maka dia tidak akan mendapatkan pahala puasa yaitu

غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Ini bagi orang puasa – احْتِسَابًا – .

Demikian pula orang yang sahar, mereka begadang (untuk shalat malam diantaranya) kalau tidak ada – احْتِسَابًا – tidak akan mendapatkan pahala & Nabi ﷺ mengatakan

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا

Orang yang shalat malam karena ihtisab, kalau tidak ihtisab tidak mendapat pahala yang dicantumkan di dalam hadits tadi bahkan ada diantara mereka yang justru menjadi sebab dia mendapatkan maksiat dan juga dosa, kapan?
Ketika dia melakukan amalan tadi tidak diatas Islām/tidak diatas Sunnah tapi melakukannya dengan kebida’ahan maka ini justru mendapatkan dosa, shalat selama 1 malam tetapi dengan cara yang bid’ah, selama satu malam dia begadang dalam rangka niatnya beribadah tapi karena dilakukan tidak diatas Islām sehingga justru menjadi sebab dia berdosa dan ini menjadi sebab dia masuk kedalam neraka.

Ini adalah perilaku – الحمقى – (perilaku orang² yang bodoh) orang² yang tidak cerdas, kenapa?
Pertama mungkin salah dalam bathinnya (shaum atau melakukan shalat malam tetapi salah dalam bathinnya berarti tidak sesuai dengan Islām)
Kedua atau salah di dalam dhohirnya tidak sesuai Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ
Ketiga atau salah kedua²nya baik dhohirnya maupun bathinnya.

Maka ini adalah prilaku الحمقى bagaimana mereka tertipu dengan begadangnya orang² yang – الحمقى – tadi & puasa mereka tidak akan tertipu mereka.

Ini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, kalau memang dia berpegang dengan Islām sesuatu yang asalnya mubah bisa menjadi pahala, jika niatnya benar.

ولمثقال ذرة من بر مع تقوى ويقين، أعظم وأفضل وأرجح عند الله من عبادة المغترين

Dan satu Dzarroh (semut) yang dikenal oleh orang arab, mereka mengatakan semut kecil itu dengan Dzarroh (jangan di artikan biji sawi atau semisalnya) Dzarroh disini menunjukan tentang kecilnya, seberat semut (yang diukur disini beratnya) kalau itu amalan diiringi dengan – بر وتقوى ويقين – maka itu lebih besar pahalanya & lebih afdhol disisi Allāh ﷻ & lebih berat disisi Allāh ﷻ dari pada Ibadahnya orang² yang mughtarin, البر وتقوى masuk di dalamnya adalah makna Islām, البر apabila dia digabungkan dengan taqwa maka makna البر adalah menjalankan perintah & taqwa adalah menjauhi larangan.

Maksudnya adalah menjalankan perintah sesuai dengan Islām dan menjauhi larangan sesuai dengan Islām, sebagian mengartikan taqwa

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله

Diatas cahaya dari Allāh ﷻ maksudnya adalah sesuai dengan Islām sesuai yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Disertai dengan keyakinan – ويقين –. Kalau dilakukan meskipun amalan tersebut hanya sebesar/seberat semut tapi diiringi dengan Bir & Taqwa (maksudnya disini adalah Islām itu sendiri) jadi المغترين disini bisa dia maghrur dengan disebabkan salah niatnya meskipun amalannya sesuai dengan sunnah, ada orang yang maghrur ada yang mukhtar (tertipu) niatnya benar ingin mengharapkan pahala dari Allāh ﷻ tetapi dia melakukan itu tidak sesuai dengan sunnah. Maka dua²nya adalah mughtar tidak diterima amalannya.

Adapun orang yang melakukan amalan yang sedikit tapi sesuai dengan Islām (dzhohir maupun bathin) maka dia mendapatkan pahala. Dan ucapan ini (ucapan Abu Darda) diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya di dalam kitab beliau al Yaqin dan juga Abu Nu’aim di dalam Hilyatul auliya dan kitab² yang lain. Allāhu ta’ala a’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah PembahasanHalaqah 14 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 01

Halaqah 14 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال

Dan dari Abu Darda semoga Allāh ﷻ meridhoinya, beliau mengatakan

يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم

يا حبذا ini adalah ucapan sebuah pujian, pujian terhadap tidurnya orang² yang cerdas & ifthornya orang² yang cerdas ,

siapa yang dimaksud disini ?

– الأكياس –

seperti yang disebutkan dalam hadits

الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ،

Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya & orang yang beramal untuk setelah kematiannya

Mereka adalah ulul albab (orang² yang berakal) maksudnya orang² yang cerdas & dia mengetahui bagaimana menjadikan sebuah amalan yang sebenarnya dia adalah perkara yang mubah tapi bisa menjadi sebuah ibadah, ini adalah orang yang cerdas.

Disini ada sebagian manusia bisa menjadikan sesuatu yang sebenarnya mubah tapi bisa bernilai ibadah. يا حبذا beliau memuji bagaimana orang² tersebut tidur mereka dan ifthornya mereka, ifthornya mereka berarti mereka dalam keadaan tidak puasa.

Tapi ternyata ketika mereka tidur bernilai ibadah, ketika mereka ifthor juga bernilai ibadah, mengapa bisa demikian? ketika mereka tidur mereka punya niat benar, niatnya karena ingin besok kuat segar kembali sehingga bisa shalat malam kemudian shalat shubuh kemudian dilanjutkan dars & halaqoh Quran, niatnya ingin menguatkan dirinya untuk beribadah berarti ini adalah niat yang benar, niat yang sesuai dengan Islām.

Kemudian juga bisa bernilai ibadah ketika dia akan tidur melakukan adab² mau tidur seperti berwudhu terlebih dahulu, meruqyah dirinya terlebih dahulu berdizikir Subhanallāh 33X, Alhamdulillah 33X, Allāhuakbar 34X, kemudian dia tidur diatas bagian sebelah kanannya mendapat pahala, tidurnya selama 4-5 jam

Allāh ﷻ memberikan nilai pahala bagi dia & dia mendapatkan pahala dengan sebab niatnya tadi, yang satunya sama tidurnya sama 5 jam tapi dia tidak ada niat dengan tidurnya tadi untuk menguatkan dirinya dalam beribadah. Berlalu 5 jam, yang pertama mendapat pahala adapun yang kedua dia tidak mendapatkan pahala. Sama² waktunya sama tapi orang cerdas menjadikan waktu yang sama tadi bernilai dengan ibadah, karena dia tahu hidupnya hanya sebentar berapa jam yang dia gunakan melakukan ibadah Shalat, dzikir jika dihitung selama satu hari, tentunya dia tidak ingin waktu yang berlalu tadi tanpa bernilai ibadah, maka dia cerdas bagaimana bisa bernilai ibadah maka diniatkan.

Sebagian salaf mengatakan

إني أحتسب على الله في نومتي كما أحتسب في قومتي

Aku berharap kepada Allāh ﷻ pahala di dalam tidurku sebagaimana aku berharap kepada Allāh ﷻ pahala di dalam bangunku

Ini orang yang cerdas, bisa dikiaskan dengan yang lain, dia bekerja niatnya adalah niat yang benar (mencukupi dirinya dan mencukupi juga keluarganya) dia ingin shodaqoh boleh dan dia akan mendapatkan pahala, bukan sia² dia keluar dari rumahnya karena dia dalam keadaan beribadah ini adalah orang-orang yang cerdas.

Demikian pula di dalam ifthornya kalau orang yang cerdas maka dia bisa mendapatkan pahala. Sebagian orang dia ifthor & ternyata ifthornya ada niat, ingin lebih kuat untuk membaca al-Quran , tadris, ta’lim misalnya. Sebagaimana yang dilakukan Abdullāh bin Mas’ud dia mendapatkan dirinya jika dalam keadaan berpuasa dia lemah sehingga beliau memperbanyak membaca al-Quran daripada memperbanyak puasa, ketika beliau ifthor dengan sebab supaya lebih kuat di dalam membaca al-Quran dan beliau mendapatkan dirinya lemah ketika dalam keadaan puasa maka dia mendapatkan pahala dengan sebab niat tadi & dia niat seandainya saya kuat seperti fulan niscaya saya akan berpuasa.

Ketika dia niat dengan sungguh² tentunya seandainya saya kuat seperti si fulan (artinya bisa menjamak) antara quran dengan puasa & tentunya ini adalah aljama’ baina alkhoirain (menjama antara dua kebaikan), seandainya saya kuat saya akan berpuasa, ketika dia niat seperti itu mendapat pahala.

Dia dalam keadaan ifthor tapi mendapatkan pahala puasa dengan sebab niat maka dia mendapatkan pahala ifthor, pahala Quran dia dapat & pahala puasa dapat dengan sebab niat, tentunya ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang² yang الأكياس tadi (orang² yang cerdas) bukan orang² yang cerdas dalam matematika dan seterusnya. Orang yang cerdas di dalam agama dia bisa memanfaatkan waktu dengan baik, memperhatikan hatinya.

Ini bedanya antara kita dengan para Ulama dan juga para salaf dahulu, jika mereka perkara² yang mubah disisi Allāh ﷻ apa yang mereka lakukan karena ada niat di dalam hati mereka menjadi perkara yang merupakan ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 13 | Bab 01 Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 02)

Halaqah 13 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 02)

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

Dari Ubay Ibn Ka’ab
Beliau mengatakan

.. وليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن فاقشعر جلده من مخافة الله إلا كان كمثل شجرة يبس ورقها ، إلاتخاتت عنه ذنوبه كما تحات عن هذه الشجرة ورقها … ” .

Dan tidaklah seseorang berada diatas Sabilin dan sunnah (yaitu berada diatas Islām) kemudian dia mengingat Allāh ﷻ, kemudian dia mengingat ar-Rohman kemudian merinding kulitnya karena sebab takut kepada Allāh ﷻ_ melakukan amalan yang disunnahkan sesuai dengan contoh Nabi ﷺ baik ikhlasnya maupun dzhohirnya kemudian dia mendapatkan kulitnya merinding karena takut kepada Allāh ﷻ _kecuali pahalanya itu seperti sebuah pohon yang dia kering daun²nya kecuali akan berguguran darinya dosa²nya seperti bergugurannya daun² dari pohon yang tersebut_

Orang yang berada diatas Islām melakukan amal shaleh dengan ikhlas kemudian dia merinding kulitnya dengan sebab takut kepada Allāh ﷻ maka berguguran darinya dosa²nya sebagaimana berguguran daun² yang kering dari pohon, jika kita menggerakan pohon yang sudah kering daun² tadi ketika digerakan maka dia akan berjatuhan.

Ini adalah diantara keutamaan mengikuti Islām yang dibawa Nabi ﷺ adalah diampuni dosanya, ini kalau merindingnya tadi didasari oleh Islām bukan karena didasarkan oleh bidah, makanya beliau berpesan dari awal – عليكم بالسبيل و السنة – hendaklah kalian berpegang dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Jika berpegang dengan Islām kita menangis, merinding maka nanti disana ada keutamaannya tapi kalau tidak berdasarkan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ meskipun kita menangis, merinding tidak akan mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ.

Diantara syahidnya adalah firman Allāh ﷻ

۞ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

[QS Al Imron 31]

Maka hendaklah kalian mengikuti diriku فَاتَّبِعُونِي (Nabi ﷺ ) di dalam agama beliau mengikuti Islām, memeluk agama Islām, yang dibawa oleh beliau ﷺ baik secara dzhohir & bathin maka

yang pertama يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ Allāh ﷻ akan mencintai kalian kemudian

yang kedua وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ Allāh ﷻ akan mengampuni dosa kalian.

Berarti ittiba’urrosul / mengikuti Rasulullah ﷺ , mengikuti sunnah beliau mengikuti Islām secara dzhohir & bathin ini adalah menjadi sebab seseorang diampuni dosanya, ini kelebihan orang yang mengikuti sunnah, kalau memang kita merasa diri kita banyak dosa maka seharusnya kita semangat untuk masuk kedalam kedalam sunnah (ikut sunnah Nabi ﷺ).

Karena dengan kita mengikuti sunnah beliau berarti kita mengikuti Islām yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ dzhohir dan bathin dan ini adalah sebab diampuninya dosa.

Dan di dalam sebuah Hadits Nabi ﷺ

الإسلام يجب ما قبله

_Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya_

Kalau kita mengikuti yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka ini menjadi sebab diampuninya dosa kita.

Ini menerangkan tentang apa yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab tadi bahwasanya orang yang mengikuti Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ mengikuti asabilu wa sunnah maka ini menjadi sebab diampuninya dosa kita.

Sudah disebutkan disini dua keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ diantaranya

1. Selamat dari Neraka
2. Diampuni dosanya

وإن إقتصادا في سنة، خير من إجتهاد في خلاف سبيل اللهو سنته

_Dan sungguh- إقتصادا – ini adalah biasa² di dalam sunnah_ amalan yang sederhana tetapi berada diatas sunnah (Islām) baik dzhohir (sesuai dengan Nabi ﷺ) & bathin (ikhlas)nya. Amalan biasa saja _maka itu lebih baik – إجتهاد – bersungguh² tetapi ternyata amalan tersebut dia menyelisihi Islam_, tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ berarti dia menyelisihi Islam yang dibawa Nabi ﷺ.

Maka orang yang biasa² saja amalannya (sedikit) tapi diatas sunnah itu lebih baik karena kalau dia diatas Islām/sunnah meskipun sedikit dia diterima oleh Allāh ﷻ & yang diterima itulah yang menjadi hasanah bagi kita dihari kiamat.

Yang akan memberatkan kita dihari kiamat adalah amalan yang maqbul/diterima tidak setiap diamalkan seseorang kemudian bisa menjadi pemberat timbangan, yang menjadi pemberat timbangan yang maqbul (diterima oleh Allāh ﷻ), oleh sebab itu berdoalah meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amalannya doa diiringi dengan usaha bagaimana supaya dia ikhlas bagaimana sesuai dengan sunnah sehingga bisa hasanah pemberat timbangan amalannya dihari kiamat.

Adapun hanya sekedar banyak ijtihad tetapi kalau tidak sesuai dengan sabilin wa sunnah tidak sesuai dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ.

Berarti disini menunjukan tentang keutamaan Islām yang lain yaitu bahwasanya Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah sebab diterimanya amalan. Menyelisihi itu sebab ditolaknya amal kita. Bahwasanya orang yang berpegang teguh Islām secara dzhohir dan bathin maka ini sebab diterimanya amalan dia, jadi minimal ini menunjukan tentang 3 keutamaan, diantaranya

1. Akan menjadi sebab terhindar dari Neraka

2. Menjadi sebab diampuninya Dosa

3. Menjadi sebab diterimanya amal shaleh

Dan Allāh ﷻ mengatakan

۞ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَل

barangsiapa yang mencari agama selain agama Islām maka tidak akan diterima darinya

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan tidak ada diatasnya – أَمْرُنَا – (disini amrudin) tidak ada di dalam agama kami yang menunjukan tentang amalan tadi maka amalan tersebut tertolak
Karena tidak berdasarkan agama yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Maka ini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 12 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 01)

Halaqah 12 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 01)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي بن كعب رضي الله عنه قال

Dari Ubay bin Kaab radhiallāhu anhu beliau mengatakan

عليكم بالسبيل و السنة

_hendaklah kalian berpegang dengan – السبيل و السنة_

Yang dimaksud dengan – السبيل – disini adalah Al Islām. As Sabil artinya jalan sabilullah adalah Al Islām, maksudnya adalah jalan yang menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ yang apabila kita menempuhnya kita akan sampai kepada Allāh ﷻ maka itu adalah al Islam.

Oleh karena itu para salaf mereka ketika menafsirkan firman Allāh ﷻ

۞ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ
[QS Al-Fatihah 6]

_tunjukilah kami jalan yang lurus_
Ada diantara mereka yang mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan jalan yang lurus ini adalah al Islam.

Beliau mengatakan

عليكم بالسبيل و السنة

Karena Islām ini adalah jalan kita menuju Allāh ﷻ. Jalan yang menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ dinamakan sabilullah, dinamakan dengan asShirot, terkadang di dalam alQuran disebutkan at Thoriq, terkadang disebutkam dengan as Sabil dan maknanya sama yaitu jalan

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
۞..يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
[QS Al Ahqof30]

Menggunakan kalimat Thoriq, terkadang menggunakan kalimat shirot & terkadang menggunakan kalimat Sabil jalan Allāh ﷻ.

Jalan Allāh ﷻ maksudnya adalah jalan yang akan menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ. Apa jalan tersebut? Jalan tersebut adalah Islām ini, berarti beliau

عليكم بالسبيل و السنة

Maksudnya adalah hendaklah kalian berpegang teguh dengan Islām , yaitu Islām yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Ini adalah jalan kalian.

Islām yang dibawa Rasulullah ﷺ baik yang berkaitan dengan amalan² yang dzhohir maupun bathin. Maka hendaklah kalian berpegang dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ

و السنة

Yang dimaksud dengan sunnah, sama dengan maknanya yaitu Islām, karena asSunnah secara bahasa adalah Thoriqoh dan Thoriqoturrasul jalannya Rasulullah ﷺ cara hidupnya Rasulullah ﷺ adalah al Islām.

Sunnah adalah Thoriqoh & thoriqoturrasul ﷺ adalah al Islām. Sehingga tidak heran apabila al Imam Al Barbahari di dalam syarhu sunnah beliau mengatakan

الإسلام هو السنة والسنة هي الإسلام

Kata beliau

اعلموا أن الإسلام هو السنة، والسنة هي الإسلام

_Ketahuilah bahwasanya Islām itulah sunnah & sunnah adalah Islām_

Jadi Islām yang beliau bawa itulah as Sunnah & sunnah beliau adalah Islām sehingga ketika beliau mengatakan

عليكم بالسبيل و السنة،

Maksudnya adalah hendaklah kalian berpegang teguh dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya

فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ عَلَى السَّبِيلِ وَالسُّنَّة

Karena tidak ada seorang hamba yang dia berada diatas سَّبِيلِ وَالسُّنَّة.
Seorang hamba Allāh ﷻ menyembah kepada Allāh ﷻ diatas Islām. Berarti diatas syariatnya Nabi ﷺ yang dzhohir & bathin. Diatas Islām diatas agamanya Rasulullah ﷺ baik dzhohirnya maupun bathinnya, dzhohirnya sesuai dengan cara beliau bathinnya ikhlas karena Allāh ﷻ.

Tidak ada seorang hamba yaitu menyembah kepada Allāh ﷻ diatas Islām, maksudnya adalah diatas agama Islām secara dzhohir maupun bathin.

ِ ذَكَرَ اللَّهَ

Kemudian dia mengingat Allāh ﷻ

فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ مِنْ خَشْيَةِ الله

Kemudian menangis kedua matanya karena takut kepada Allāh ﷻ.
Menangisnya adalah ketika dia mengingat Allāh ﷻ, dia mengingat kekuasaan, kenikmatan Allāh ﷻ yang diberikan yang begitu besar perhatian Allāh ﷻ yang begitu besar kepada dirinya, ketika dia melihat orang² yang ada disekitarnya & dia melihat bagaimana Allāh ﷻ memberikan anugrah dan karunia yang begitu besar kepadanya maka dia sangat bersyukur kepada Allāh ﷻ.

Dipilih dia dari sekian banyak manusia sehingga dia menangis, atau misalnya dia menangis mengingat tentang kekurangan² dia, padahal nikmat kepadanya dari Allāh ﷻ ini banyak sekali, atau menangis karena dia mengingat azab Allāh ﷻ dan seterusnya. Itu semuanya ( tangisan itu semuanya ) berdasarkan aqidah yang benar dan berdasarkan cara yang dibenarkan, bukan menangis karena bidah karena terkadang orang yang melakukan bidah pun bisa menangis (kisah beliau hafidzahullah saat smp) di Masjid ada kegiatan bersama² mengatakan Lāilāhaillallāh… dan kita merasakan saat itu seakan² khusyu ada rasa gemetar/merinding ada perasaan ingin menangis pertama kali beli tasbih, pertama kali menggunakan tasbih itu khusyu bisa konsentrasi (kendati masih kecil) siapa yang menjadikan kita seperti itu? Yang menjadikan kita menangis padahal itu bukan diatas sunnah itu adalah syaithan, menjadikan kita dibisik²an dengan cara seperti ini engkau lebih khusyu di dalam beribadah & itu yang dirasakan orang² Sufi, bagaimana mereka berkumpul mengatakan Lāilāhaillallāh.. semakin lama semakin cepat illallāh.. kemudan Allāh.. kalau kita tanya mereka, mereka mengatakan disitu ada perasaan nikmat merasa lebih khusyu dan seterusnya.

Ini terjadi karena sebab kebid’ahan & yang menjadikan itu semua adalah syaithon. Maka yang demikian tidak diberikan oleh Allāh ﷻ pahala, berbeda dengan orang yang menangis tadi & menangisnya diatas sunnah (menangis karena membaca al Quran, shalat malam yang sesuai dengan sunnah) maka pahala nya jika dia menangis kedua matanya karena takut kepada Allāh ﷻ

فتَمَسُّهُمَا النَّارُ

Hamba tersebut tidak akan disentuh oleh api neraka, sebagaimana dalam hadits

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Hadits shahih diriwayatkan Ath Tirmidzi

Berarti ucapan Ubay bin Ka’ab tadi ada dasarnya di dalam hadits, tentunya beliau mengucap ucapan seperti itu bukan berarti berasal dari ijtihad beliau hal ini berdasarkan dalil (perkara yang ghoib).

Yang dimaksud dengan keutamaan ini maksudnya apabila mata tadi menangis berdasarkan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Jadi sebab menangisnya adalah sebab yang benar bukan karena bidah tapi karena melakukan perkara yang sunnah, jika dia menangisnya tadi berada diatas Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ (Islām disini adalah Islām yang dzhohir & bathin) sesuai dengan Islām yang dibawa Nabi ﷺ dan bathinnya (ikhlasnya) juga seperti yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Kemudian menangis kedua matanya maka ini adalah dua mata yang tidak akan disentuh oleh Neraka.

Ini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 11 | Bab 01 – Pembahasan Dalil Keenam Hadits Yang Mu’allaq Bag 02

Halaqah 11 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Keenam Hadits Yang Mu’allaq Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

النبي ﷺ :أحب الدين الى الله: الحنيفية السمحة

Agama yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ adalah agama yang al Hanifiyyah

Yang dimaksud dengan Al Hanifiyyah yang Hanif, makna Hanif adalah – المقبل على شيء –menghadap sesuatu.

Yang dimaksud Hanif disini adalah menghadap kepada Allāh ﷻ saja yaitu dengan mentauhidkan Allāh ﷻ di dalam ibadah.

Sehingga agama yang menisbatkan dirinya al Hanif dinamakan dengan al Hanifiyyah ajaran yang menisbatkan dirinya kepada al Hanif yaitu – إقبال على الله – menghadapkan dirinya hanya kepada Allāh ﷻ saja dinamakan dengan al Hanifiyyah. Sudah berlalu pembahasan tentang al Hanifiyyah ketika kita membahas Utsulu Tsalasah, ini adalah agamanya Nabi Ibrahim yang kita diperintahkan untuk mengikuti millahnya beliau

۞ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

[QS An Nahl 123]

Kemudian Kami wahyukan kepadamu supaya kamu mengikuti millahnya Ibrahim Hanifan (dia adalah yang Hanif) yang hanya menghadap kepada Allāh ﷻ dengan tauhid & tidaklah beliau termasuk orang² yang Musyrikin

Ini adalah agama yang paling di cintai oleh Allāh ﷻ yaitu agama yang di dalamnya hanya menjadikan Allāh ﷻ sebagai satu²nya sesembahan.

Kemudian yang kedua sifatnya adalah – السمحة – SAMHAH, mudah, mudah di dalam syariatnya.

Al Hanifiyyah ini adalah di dalam aqidahnya sedangkan samhah ini di dalam syariatnya dan disini beliau ﷺ sedang berbicara tentang Islām yang dibawa oleh beliau ﷺ. Menunjukan keutamaan Islām yang dibawa oleh beliau ﷺ bahwasanya agama Islām yang dibawa Rasulullāh ﷺ ini adalah agama yang paling dicintai olleh Allāh ﷻ.

Agama Islāmnya Nabi Musa, agama Islāmnya Nabi ‘Isa, agama Islāmnya Nabi² yang lain itu adalah dicintai oleh Allāh ﷻ tapi yang paling dicintai adalah agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Jangan diartikan disini bahwasanya agama Yahudi, Nashrani juga dicintai Allāh ﷻ, bukan itu yang dimaksud. Semua Nabi beragama Islām tapi yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ adalah agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Berarti keutamaan Islām yang ada di dalam hadits ini bahwasanya Islām yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling dicintai Allāh ﷻterkumpul di dalamnya yang pertama al HanifiyyahSemua agama Islām yang dibawa olen Nabi² sebelumnya juga sama al Hanifiyyah, ini adalah millahnya Ibrahim semuanya beragama al Hanifiyyah,

namun As Samhah ini adalah yang menjadi kelebihan agama Ini.

إن هذا الدين يسر

sesungguhnya agama ini adalah mudah

Berbeda dengan syariat yang ada di dalam Islām sebelum Nabi ﷺ sebelumnya demikian.

۞ ..وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ…

[QS Al A’raf 157]

Ketika mensifati tentang Nabi ﷺ ternyata diantara sifat beliau, beliau akan menggugurkan dari mereka إِصْرَهُمْ (yaitu syariat² yang berat bagi mereka) dan juga – وَالْأَغْلَالَ – belenggu² yang ada pada mereka.

Disini disebutkan di dalam tafsir al Muyassar Nabi ﷺ menghilangkan dari mereka syariat² yang berat yang dulu dibebankan kepada umat² sebelum kita, syariat Nabi mereka agamanya Islām (Hanifiyyah) juga, tapi bukan syariat yang Samhah, syariatnya berat, diantaranya kalau misalnya pakaian ini kena najis maka pakaian tadi/kain tadi harus dipotong, jika dalam agama dicuci saja sudah cukup Samhah.

Demikian pula di dalam syariat sebelumnya syariat mereka yang namanya Ghonimah, jika mereka berperang dengan orang² kafir (mereka dapat emas, perak, pakaian) maka itu tidak boleh dipakai oleh mereka tetapi harus dibakar, jadi mereka melihat harta dibakar, jika sampai diambil haram bagi mereka termasuk ghuluw di dalam syariat mereka tetapi di dalam agama Islām Ghonaim tersebut dikumpulkan dibagikan sesuai dengan syariat & itu sesuatu yang halal bagi kita.

Demikian pula di dalam syariat sebelumnya yang namanya Qishosh itu harus, orang yang membunuh baik dia membunuh dengan sengaja atau dengan tidak sengaja maka dia harus di Qishoh berbeda dengan syariat yang ada di dalam agama kita kalau membunuh dengan sengaja iya, tetapi kalau orang yang membunuhnya tanpa sengaja misalnya dia bermaksud untuk melempar anjing, tetapi ternyata pas orang lewat terkena kepalanya kemudian dia meninggal dunia (tidak sengaja) di dalam Islām itu tidak terkena Qishos tetapi disana ada Dhiat tidak sampai kepada Qishos. Kalau Qishos ini yang مُّتَعَمِّدًا

۞ وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا…

[QS An Nisa 93]

Orang yang membunuh orang Islām (seorang yang beriman) dengan sengaja.

Ini adalah perbedaan antara syariat kita dengan syariat sebelumnya.

Yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ adalah yang menggabungkan antara – الحنيفية – dengan – السمحة -. Inilah agama yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ dan ini menunjukan tentang keutamaan agama Islām dibandingkan dengan Islām² yang dibawa oleh Nabi² sebelumnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 10 | Bab 01 – Pembahasan Hadits Mu’allaq

Halaqah 10 | Bab 01 – Pembahasan Hadits Mu’allaq 
Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke- dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Disini beliau mengatakan

وفيه

Kalau memang – وفيه  – sebelumnya adalah kembali kepada al Bukhari maka maksud beliau kembali kepada shahih al Bukhari, meskipun nisbah/penyandaran yang sebelumnya al Bukhari ini.

Sebagaimana sudah kita sebutkan ini tidak tepat karena yang benar dikeluarkan oleh al Imam Muslim, tapi maksud beliau disini – وفيه  – maksudnya adalah di dalam Shahih Bukhari karena beliau menganggap sebelumnya ini diriwayatkan oleh al Imam Bukhari.

تعليقا

Dan Hadits ini hadit mu’allaq (di dalam shahih bukhori tapi dia hadits yang mu’allaq) yaitu hadits yang di hilangkan sanadnya oleh Musanif baik sanadnya tersebut diawal saja atau sampai pada akhir sanad, maka ini dinamakan Hadits yang Mu’allaq.

Misalnya Imam Asy Syafii meriwayatkan dari Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’ meriwayatkan dari Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.

Jika Asy Syafi’i beliau menghilangkan Malik kemudian mengatakan – قا انفع – maka ini Mu’allaq. Atau misalnya Nafi juga dihilangkan oleh beliau, beliau mengatakan قال إبن عمر ini juga dinamakan Mu’allaq atau bahkan seandainya beliau menghilangkan Ibnu Umar & mengatakan قال رسول الله ﷺ maka ini juga dinamakan Mu’allaq.

Hadits-hadits yang Mu’allaq di dalam shahih Bukhari banyak mungkin lebih dari 1300 (sangat banyak sekali) & para ulama telah mempelajari Hadits² yang di dalam Shahih Bukhari & mereka mengambil kesimpulan bahwasanya Hadits² yang Mu’allaq dalam shahih Bukhari ini bermacam², secara umum tebagi menjadi 2.

Hadits² Mu’allaq tadi yang disebutkan al Imam Bukhari dengan Jazm (memastikan) bagaimana cara memastikan dengan mengucapkan – قال – kalau beliau mengatakan – قال – maka berarti beliau sudah menjamin untuk kita sanad/rawi² yang beliau hilangkan tadi sudah beliau jamin tidak masalah, meskipun beliau mengucapkan – قال رسول الله ﷺ – dimana rawi²nya, jika beliau mengatakan – قال – berarti sudah beliau jamin, tapi jika beliau mengatakan – qila – atau mengatakan – ruwiya -diriwayatkan / dikatakan maka ini dinamakan Shigotun Tamrigh berarti disini ada Tamrigh isyarat tentang penyakit (harus diteliti kembali) tekadang shahih terkadang tidak shahih,

Jenis seperti ini (hadits² yang Mu’allaq) kalau kita mau mentakhrij Hadits maka harus ditambah dengan kalimat Ta’liqon jangan antum bilang hadits ini dikeluarkan oleh al Imam Bukhari padahal dia adalah hadits yang Mu’allaq , jika dia adalah Hadits yang Mu’allaq di dalam shahih Bukhari maka harus ditambah dengan Ta’liqon, di dalam shahih Bukhari Ta’liqon rumusnya berbeda,

jika Shahih Bukhari maka rumusnya خ,

jika shahih Bukhori dan dia mu’allaq maka rumusnya خت berarti dia adalah di dalam shahih Bukhari dan dia Mu’allaq,

jika shahih Bukhori saja tanpa di Tal’iq maka خ , ini berbeda.

Yang tashohul kitab ba’da kitabilla maksudnya yang ada di dalam shahih Bukhori yaitu di dalam ushul nya. Dia adalah ahaditusun ushul (hadits² yang merupakan Ushul nya) itu yang dimaksud.

Oleh sebab itu disini Syaikh mengatakan – وفيه تعليقا – di dalam shahih Bukhori dan dia adalah hadits yang Mu’allaq. Beliau mengatakan disini –

باب دين يسرا

Kemudian beliau mengatakan

وقول النبي ﷺ : أحب الدين الى الله : الحنيفية السمحة

Disini beliau mengatakan – وقول النبي ﷺ – tidak menyebutkan rawi-rawi antara al Imam Bukhari sampai Nabi ﷺ, antara al Imam Bukhari dan nabi banyak rawi-rawi paling sedikit 3 , disini beliau langsung mengatakan – وقول النبي ﷺ .

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 09 | Bab 01 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu

Halaqah 09 | Bab 01 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke- dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau mengatakan

وفيه أيضا،

Dan di dalamnya juga jika kita melihat – وفيه – dan di dalamnya, ucapan ini seakan² dia juga berada di dalam shahih al Bukhari karena hadits yang sebelumnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari, kalau yang dimaksudkan – وفيه – disini adalah dan di dalam shahih Bukhari juga maka Allāhua’lam ini adalah mungkin lupa atau salah di dalam menempatkan, karena kalau kita melihat ternyata diriwayatkan oleh al Imam Muslim, ini jika yang dimaksud adalah Shahih Bukhari tapi jika yang dimaksud oleh beliau adalah maksudnya di dalam hadits yang shahih maka benar, tapi jika kita melihat akhirnya akhrojahul Bukhari menunjukan bahwasanya beliau memasukkan disini adalah shahih Bukhori. Allāhua’lam bahwasanya hadits ini yang benar diriwayatkan oleh Imam Muslim, bukan diriwayatkan oleh al Imam Bukhari.

عن أبي هُرَيرَة رَضِيَ اللهُ عنه، عنِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّه قال: ((أضلَّ اللهُ عنِ الجُمُعة مَن كان قَبْلَنا،

Dari Abu Hurairah radiallāhu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabada Allāh ﷻ telah menyesatkan orang² sebelum kita dari hari Jumat
Maksudnya adalah menjadikan mereka tidak menjadikan hari Jumat ini sebagai hari besar/utama bagi mereka, Allāh ﷻ menjadikan orang² sebelum kita itu tidak menjadikan hari Jumat sebagai hari besar mereka.

Itu maksud dari – أضلَّ اللهُ – Allāh ﷻ ingin memberikan hari Jumat ini kepada orang² yang paling Allāh ﷻ cintai yaitu kaum Muslimin, Allāh ﷻ sesatkan orang² sebelum kita untuk mendapatkan hari Jum’at ini sebagai hari Raya.

فكانَ لليهودِ يومُ السَّبت،

maka orang-orang Yahudi mereka memiliki hari Sabtu
Menjadikan hari sabtu menjadi hari raya mingguan bagi mereka

وكان للنَّصارى يومُ الأحد،

dan orang-orang Nashoro mereka memiliki hari Ahad
Menjadikan hari Ahad ini sebagai hari besar mingguan bagi mereka, disitulah mereka berkumpul beribadah dan sampai sekarang demikian. Orang² Nashrani menjadikan hari Ahad ini sebagai raya mingguan bagi mereka demikian pula orang² Yahudi mereka adalah – ashabu sabt – menjadikan hari Sabtu ini sebagai raya mingguan bagi mereka, mengganggap bahwasanya hari tersebut adalah hari yang baik, mereka menganggap hari tersebut Allāh ﷻ beristirahat menciptakan langit dan Bumi, karena Allāh ﷻ menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari dari Ahad sampai jumat dihari Sabtunya mereka meyakini bahwasanya Allāh ﷻ istaro maka disitulah mereka beribadah kepada Allāh ﷻ, mereka menganggap bahwasanya hari itu adalah hari yang paling utama menurut mereka.

Adapun orang² Nashrani menjadikan hari Ahad sebagai hari yang utama bagi mereka karena dianggap itu adalah hari yang pertama, jadi menurut mereka yang pertama itulah yang paling utama, hari pertama dalam satu pekan adalah hari Ahad, makanya dinamakan al Ahad karena dia yang pertama, yaumul Isnain hari yang kedua , yaumul tsalasa hari yang ketiga, yaumul arbi’a hari yang keempat, yaumul khomis dari kata al khomis yaitu hari kamis hari kelima.

Maka itulah keadaan orang Yahudi & Nashrani menganggap itu adalah hari yang mulia menurut mereka

فجاءَ اللهُ بنا فهَدَانا ليومِ الجُمُعة،

Kemudian Allāh ﷻ mendatangkan kita(mendatangkan orang²) Islām, diutus Nabi Muhammad ﷺ dan masuklah kedalam Islām orang yang masuk kedalam agama Islām) kemudian Allāh ﷻ menunjukan kita kepada hari Jumat ini

Ditunjukan kita bahwasanya hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, dalam sebuah Hadith Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، …

Sesungguhnya termasuk hari-hari kalian yang paling afdhol adalah hari Jum’at

Dan beliau juga mengatakan

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الأَيَّامِ ، وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ

Sesungguhnya Hari Jumat ini adalah pemukanya hari² yang dikedepankan yang diutamakan diantara hari² dan dia adalah hari² yang paling besar disisi Allāh ﷻ

Ini yang mengabarkan Rasulullah ﷺ, siapa yang mengabarkan kepada Rasul? Allāh, – عِنْدَ اللَّهِ – disisi Allāh ﷻ hari yang paling besar yang diutamakan adalah hari Jum’at.

Allāh ﷻ beritahukan ini kepada kita umat Islām dan diantara kejadian² besar dihari tersebut bahwasanya di hari tersebut Allāh ﷻ ciptakan Adam dan dihari tersebut Allāh ﷻ turunkan Adam kebumi, dan di hari tersebut mewafatkan Adam & di dalamnya (yaitu di Hari Jumat) ada satu waktu barangsiapa yang meminta kepada Allāh ﷻ di waktu tersebut maka Allāh ﷻ mengabulkan kepadanya & dihari tersebut juga akan terjadi Assa’ah.

Menunjukan tentang kejadian² besar yang terjadi dihari tersebut & Allāh ﷻ menjadikan hari Jum’at sebagai sayyidul ayyam yaitu hari yang paling mulia/utama.

فجَعَل الجُمُعة والسَّبتَ والأَحَد، وكذلك هم تبعٌ لنا يومَ القيامَةِ،

Dan demikianlah mereka ini (orang² Yahudi & orang² Nashrani) mereka akan dibelakang kita, kita diberikan & ditunjukan oleh Allāh ﷻ kepada hari yang paling mulia sementara orang² Yahudi & orang² Nashrani mereka tidak diberikan yang demikian menunjukan tentang keutamaan umat Islām dibanding orang² Yahudi & Nashrani, berarti menunjukan bahwasanya umat Islām mereka adalah lebih utama daripada orang² Yahudi & Nashrani, lebih utama daripada umat² sebelum kita lebih utama daripada pengikutnya Nabi Musa & lebih utama daripada pengikutnya Nabi Isa alaihisalam.

Maka demikianpula mereka di Hari Kiamat juga berada dibelakang kita maksudnya adalah mengikui kita maksudnya adalah dibawah kita.

نحنُ الآخِرونَ من أهلِ الدُّنيا،

Kita ini adalah orang² yang akhir diantara penduduk dunia karena Nabi kita adalah Nabi yang terakhir tidak ada Nabi setelah beliau ﷺ maka kita adalah umat yang paling terakhir karena Nabi kita Nabi yang terakhir tidak ada lagi Nabi setelah Beliau sehingga tidak ada lagi umat setelah kita

والأَوَّلونَ يومَ القِيامَةِ،

Dan kita adalah orang yang paling awal dihari kiamat

Orang yang paling awal maksudnya adalah orang yang paling awal masuk kedalam surga di hari Kiamat, bisa juga & tidak ada pertentangan di dalamnya bukan hanya – الأَوَّلونَ يومَ القِيام – di dalam masuk kedalam Surga, tapi kita adalah orang yang pertama di hisab diantara makhluk, sebagaimana di dalam riwayat

والأَوَّلونَ يومَ القِيام المقضيُّ لهم قبلَ الخلائقِ

Jadi kita yang terakhir diantara penduduk dunia tapi kita yang pertama kali di Hisab.

Di dalam hadits yang lain

نحن الآخرون الْأولون يوم القيامة، ونحن أوّل من يدخل الجنة

Kita adalah orang² yang terakhir (maksudnya di dunia)

الْأولون يوم القيامة

Kita yang pertama² dihari Kiamat

ونحن أوّل من يدخل الجنة

dan kita adalah orang yang pertama kali masuk kedalam Surga

Berarti – الْأولون – tadi bisa maknanya yang pertama yang di hisab & maknanya yang pertama kali masuk kedalam surga & tidak ada pertentangan diantara keduanya, Allāh ﷻ utamakan kita dengan berbagai keutamaan.

Maka ini menunjukan tentang Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ , mereka bisa demikian disebabkan karena memeluk agama Islām. Jadi Islām yang dibawa Nabi ﷺ maka mereka mendapatkan keutamaan tersebut.

Keutamaan orang² Islām yang disebutkan dalam hadits ini disebabkan oleh keutamaan Islām yang mereka peluk & ini menunjukan tentang keutamaan Islām.

Oleh karena itu didatangkan oleh beliau hadith ini di dalam bab ini, karena dia menunjukan tentang keutamaan Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhul Islam-Halaqah 08 | Bab 01 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallāhu ‘anhum

 

Kitab Fadhul Islam-Halaqah 08 | Bab 01 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallāhu ‘anhum

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وفي الصحيح

Di dalam ash Shahih, terkadang seorang Mushonif mengatakan – وفي الصحيح – maksudnya di dalam shahih Bukhori atau di dalam Shahih Muslim atau di dalam Shahih Bukhori & Muslim atau kadang di dalam hadits yang Shahih, jadi bisa – الصحيح – disini nama kitab yaitu Shahih Bukhori, shahih Muslim atau maksudnya adalah sifat dari hadits.

Jika misalnya ternyata hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim maka kedua makna ini bisa dipakai, jika diriwayat Bukhori saja singkatan al Bukhori خ itu artinya al Bukhori, atau dikeluarkan oleh Imam Muslim saja, maka dua makna ini bisa pada kalimat Ash Shohih, tapi jika ternyata hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud berarti makna – الصحيح – disini Hadits shohih, maka kita harus melihat dahulu siapa yang mengeluarkan hadits ini & Hadits ini dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhori.

عن ابن عمر رضي الله عنهما، أن رسول الله ﷺ قال: 《مثلكم ومثل أهل الكتابين

Perumpamaan kalian_ -كم- disini maksudnya adalah orang² Islām, Islam dengan makna yang khusus & perumpamaan akhir ahli dua Kitab
Yang dimaksud dengan 2 kitab disini ada at Taurat & Injil, ahlu Kitab maksudnya adalah ahlu Taurat maka mereka adalah al Yahudi adapun ahlul Injil maka mereka adalah an Nashoro , di dalam al Quran Allāh ﷻ mengatakan

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ ٱلْإِنجِيلِ

Ahlul Injil maksudnya adalah an Nashoro

كمثل رجل استأجر أجراء

Disini Nabi ﷺ ingin menyebutkan tentang keutamaan Islām & keutamaan orang yang memeluk agama Islām seperti seseorang yang menyewa, أجر menyewa orang² sewaan_ أجراء adalah jamak أجر. Menyewa beberapa orang untuk melakukan sebuah pekerjaan

فقال من يعمل لي من غدوة إلى نصف النهار على قيراط

Kemudian laki² ini mengatakan _siapa diantara kalian_ diantara para Ujaro’ (orang² yang disewa tadi) _mau bekerja untukku sebuah pekerjaan dari pagi sampai pertengahan siang_ – على قيراط – _dan dibayar dengan 1 Qirath_
1 Qiroth = 1/12 dirham

فعملتاليهود

Maka orang² Yahudi pun bekerja
Maksudnya adalah ada diantara Ujaro’ tadi yang siap bekerja dari pagi sampai siang. Maka ini adalah perumpamaan orang² Yahudi. Dan mereka siap untuk bekerja dari pagi sampai siang dibayar dengan 1 Qiroth.

ثم قال من يعمل لي من نصف النهار إلى صلاة العصر على قيراط

Kemudian laki² ini mengatakan _siapa diantara kalian yang mau bekerja untukku dari pertengahan siang sampai waktu Ashar diberikan 1 Qiroth juga_

فعملت النصارى ثم قال من يعمل لي من العصر إلى أن تغيب الشمس على قيراطين

Maka beramal-lah orang² Nashoro. Siapa diantara kalian yang mau bekerja dari Ashar sampai tenggelamnya matahari & dia mendapatkan 2 Qiroth

فأنتم هم

Maka kalian (itu adalah mereka ini yaitu Muslimun)

فغضبت اليهود والنصارى

Maka Orang Yahudi & Nashoro marah

فقالوا ما لنا أكثر عملا وأقل عطاء

Mereka mengatakan _Kenapa kami lebih banyak pekerjaannya & lebih sedikit bayarannya_

Orang Yahudi dari pagi sampai siang (sekitar 6 jam) ternyata dapat 1 Qiroth. Orang nashoro dari Siang sampai Ashar sekitar 3 jam dapat 1 Qiroth saja, sementara orang Islām dari Ashar sampai maghrib & mendapatkan 2 Qiroth.
Maka merekapun marah, ini sekedar permisalan.

قال هل نقصتكم من حقكم

Apakah aku mengurangi dari pahala kalian sedikitpun.

Ketika ada perjanjian untuk bekerja dari pagi sampai siang untuk mendapatkan 1 Qiroth sudah diberikan gajinya, dapat mereka sesuai dengan perjanjian. Yang kedua juga sudah diberikan sesuai dengan perjanjian, jika sudah sesuai dengan perjanjian berarti apakah ini dholim?

Mereka berhak marah tidak ridho ketika tidak sesuai dengan perjanjian, perjanjian dari awal pagi sampai siang 1 Qiroth, sudah terjadi dari siang sampai Ashar 1 Qiroth sudah terjadi diberikan 1 Qiroth, boleh marah jika memang diluar perjanjian berarti yang menyewa tadi menyelisihi perjanjiannya, maka ini dinamakan dengan kedzholiman & mereka boleh untuk protes. Tapi jika tidak diselisihi janjinya dan diberikan kepada hak nya maka mereka tidak berhak untuk protes.

هَلْ نَقَصْتُكُمْ مِن أجركم شيأ

Apakah aku telah mengurangi gaji untuk kalian sedikitpun?

قالوا لا

Mereka mengatakan Tidak

قال فذلك فضلي أوتيه من أشاء》

Yang demikian adalah keutamaanku aku berikan kepada siapa yang aku kehendaki.

Orang yang menyawa tadi, dia memberikan sesuai dengan kehendaknya hak dia untuk memberikan si fulan lebih dari yang lain & yang lain tidak bisa dia memaksa atau protes, hak dia untuk memberikan siapa yang dikehendaki kalau memang itu adalah hak bagi orang tersebut & tidak dinamakan ini sebuah kedzholiman.

Maka ini adalah matsal/permisalan yang disebutkan oleh Nabi ﷺ, Beliau ingin menunjukan tentang keutamaan orang Islām dibandingkan orang Yahudi & Nasharani, dimana orang Islām ini amalan mereka sedikit lebih ringan dari pada orang² Yahudi & Nashrani.

Agama kita sebagaimana kita tahu adalah agama yang samhan dan agama ini adalah agama yang Yusr (mudah) berbeda dengan agama atau ajaran yang ada di dalam agama yahudi maupun Nahsrani, Alhamdulillah.

Namun demikian kemudahan yang ada di dalamnya tapi Allāh ﷻmemberikan kepada mereka pahala yang besar, Shalat misalnya bukan 50 waktu tapi hanya 5 waktu saja & diberikan oleh Allāh ﷻ pahala 50 shalat.

۞ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا …
[QS Al An’am 160]

Barangsiapa yang datang dengan sebuah kebaikan maka dia akan mendapatkan 10 lipat dari kebaikan tersebut…

Ini adalah permisalan yang disebutkan di dalam hadits ini menunjukan tentang keutamaan orang² Islām dibandingkan dengan orang² yahudi & orang² nahsrani, dan keutamaan ini tentunya karena agama yang mereka peluk, darimana orang² Islām tadi mendapatkan keutamaan tersebut?
Keutamaan tersebut disebabkan oleh Dien/agama yang mereka peluk yang mereka yakini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Barangsiapa yang memeluk agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka dia akan mendapatkan keutamaan sebagaimana disebutkan permisalannya di dalam hadits tersebut, berarti ini menunjukan tentang keutamaan islām dari sisi ini.

Bahwasanya orang yang berpegang teguh dengan Islām maka dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda jauh lebih banyak daripada yang didapatkan umat² sebelumnya, tentunya ini adalah sebuah keutamaan, ini adalah segi pendalilan dari hadits ini menunjukan tentang keutamaan Islām yg dibawa oleh Nabi ﷺ dilihat dari pahala didapatkan oleh kaum muslimin dimana mereka beramal dengan amalan yang sedikit namun mereka mendapatkan pahala yang berlipat ganda jauh lebih besar daripada yang didapatkan oleh orang² Yahudi & juga orang² Nashrani.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته