Category Archives: KITAB

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 04

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 04 | Muqoddimah #04 Basmallah, Hamdallah, Syahadat, dan Sholawat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mengatakan di awal kitabnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Membuka kitab beliau dengan basmalah, sebagaimana yang sudah berlalu, berulang-ulang, bahwasanya demikian adalah mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an karena Allāh ﷻ menjadikan ayat yang pertama di dalam Al-Qur’an adalah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dengan kesepakatan para ulama bahwasanya ayat yang pertama dalam basmalah. Dan Nabi ﷺ, ketika Beliau ﷺ menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada sebagian raja yang ada di zaman Beliau ﷺ, Beliau ﷺ memulai suratnya dengan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Dan apa yang dilakukan oleh mu’allif di sini yaitu menulis kitab pada hakekatnya dia adalah surat yang ingin disampaikan kepada para pembaca yang isinya adalah dakwah, dakwah kepada aqidah yang benar, aqidah ahlussunnah waljama’ah.

Dan hikmah dimulainya menulis kitab dengan basmalah yang pertama adalah bertabarruk dengan memulai kitab ini dengan menyebut nama Allāh ﷻ karena nama Allāh ﷻ adalah nama yang berbarokah, sehingga memulai kitab dengan menyebut nama Allāh ﷻ diharapkan kitabnya adalah menjadi kitab yang berbarokah. Kemudian yang kedua adalah meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menulis kitab, sehingga dimudahkan oleh Allāh ﷻ untuk menyelesaikan kitab ini, selesai dan menjadi kitab yang berbarokah dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

Kemudian beliau mengatakan

الحمد لله

Dan Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an memulai setelah basmalah kemudian yang kedua adalah

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

yaitu pujian kepada diri-Nya, maka disini Mu’allif juga demikian, beliau rahimahullāh juga berusaha untuk meniru apa yang Allāh ﷻ lakukan di dalam Al-Qur’an setelah menyebutkan basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ dengan mengatakan

الحمد لله الَّذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ

Segala puji bagi Allāh ﷻ yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan juga agama yang benar.

Allāh ﷻ dipuji, sebabnya diantaranya adalah karena dia yang memiliki nama-nama yang Husna dan sifat-sifat yang mulia sehingga Allāh ﷻ dipuji, karena nama-nama Allāh ﷻ mengandung makna yang indah, makna yang paling baik dan setiap nama mengandung sifat, dan sifat-sifat Allāh ﷻ adalah sifat-sifat yang paling baik sehingga Allāh ﷻ dipuji karena dia yang memiliki nama dan juga sifat yang sempurna. Demikian pula Allāh ﷻ dipuji diantaranya adalah karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan seluruh kenikmatan kepada kita semuanya, Allāh ﷻ selalu dipuji karena Dia-lah yang memberikan kenikmatan semuanya kepada kita. Allāh ﷻ mengatakan

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

An-Nahl ayat 53

Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian maka itu adalah dari Allāh

Di antara kenikmatan tersebut, dan ini adalah kenikmatan yang paling besar adalah diutusnya Rasulullāh ﷺ, maka ini adalah kenikmatan yang besar yang kalau dibandingkan dengan kenikmatan makan, minum, kenikmatan dunia yang dirasakan oleh seseorang, maka nikmat diutusnya Rasulullāh ﷺ adalah kenikmatan yang lebih besar. Karena ketika Beliau ﷺ diutus oleh Allāh ﷻ kita mengenal Al-Haqq (kebenaran), kita mengenal Tauhid yang untuknya kita diciptakan oleh Allāh ﷻ dan ini adalah syarat untuk masuk ke dalam surganya Allāh ﷻ, dengannya kita mengetahui tentang hakikat dunia dan kita terlepas dari keresahan dunia, kesedihan dengan sebab dunia, dan kebaikan-kebaikan yang lain yang didapatkan oleh seseorang dengan sebab diutusnya Rasulullāh ﷺ

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا

[Ali Imran:164]

Sungguh Allāh ﷻ telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman dengan mengutusmu kepada mereka seorang rasul dari diri mereka sendiri.

Membacakan kepada mereka ayat-ayat Allāh ﷻ maka ini adalah nikmat yang besar dan Alhamdulillah Allāh ﷻ menjadikan kita termasuk umat Beliau ﷺ, meskipun kita adalah umat yang terakhir tidak ada umat setelah kita namun Allāh ﷻ memberikan banyak keutamaan kepada kaum muslimin. Mereka menjadi orang yang pertama dihisab dan mereka yang pertama kali masuk ke dalam surga

الحمد لله الَّذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ

Segala puji bagi Allāh ﷻ yang telah mengutus rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad

بِالْهُدَى

dengan petunjuk, dengan ilmu yang dengannya Allāh ﷻ mengeluarkan kita dari kegelapan (kejahilan) menuju alam ilmu yang terang benderang, banyak perkara yang tidak kita ketahui sebelumnya kemudian sekarang kita mengetahui tentang hakekatnya, tidak mungkin kita mengetahuinya kecuali dengan perantara Wahyu. Kita memiliki akal, kita memiliki pikiran cuma itu sangat terbatas, banyak di sana perkara-perkara yang tidak mungkin kita ketahui kecuali dengan jalan Wahyu yang dibawa oleh Rasulullāh ﷺ

وَدِينِ الْحَقِّ

Dan juga dengan agama yang haqq.

Ada yang mengatakan bahwasanya Dīnul Haqq di sini maknanya adalah Al-‘Amal, Al-Huda ditafsirkan dengan Al-Ilmu dan Dīnul Haqq disini ditafsirkan dengan Al-‘Amal, yaitu amalan. Artinya Nabi ﷺ diutus oleh Allāh ﷻ bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan, memberikan ilmu kepada kita tapi juga memerintahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Inilah agama yang dibawa oleh Nabi ﷺ, kenapa kita belajar seperti ini tujuannya adalah untuk mengamalkan, bukan hanya sekedar untuk dicatat dan dihafalkan, amal.

Maka seseorang tholibul ilm hendaklah dia bertanya kepada dirinya sendiri, sudah sampai mana amalan dia terhadap ilmu yang selama ini dia dapatkan, kita belajar seperti ini adalah untuk mengamalkan dan jangan kita menunggu sampai selesai kitab tapi apa yang kita dengarkan hari ini ya kita amalkan, ada niat dalam hati kita untuk mengamalkan apa yang kita dengarkan, itu niat kita.
Ana menuntut ilmu ingin mengamalkan apa yang Ana pelajari. Kalau seorang seorang tholibul ilm (penuntut ilmu) niatnya demikian maka dia akan diberikan Taufik dalam ilmunya, dimudahkan oleh Allāh ﷻ untuk menerima ilmu yang selanjutnya, karena mengamalkan ilmu adalah bentuk bersyukur, karena ilmu adalah nikmat, ketika kita amalkan berarti kita bersyukur dengan nikmat ilmu tadi dan kalau kita bersyukur ditambah oleh Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

[Ibrahim : 7]

Kalau kalian bersyukur Aku akan tambah

Mengamalkan ilmunya adalah bentuk syukur kita atas nikmat ilmu tadi, betapa banyak orang yang tidak sampai kepadanya ilmu ini atau tidak mendapatkan ilmu ini, padahal mereka adalah orang yang cerdas mungkin orang yang kaya tapi mereka tidak mendapatkan ilmu tadi. Allāh ﷻ memilih kita, memilih hati kita, memilih telinga kita untuk mendengarkan ilmu yang mulia ini, maka syukurilah dengan cara mengamalkan apa yang kita dapatkan berupa ilmu ini meskipun sedikit, sehingga sebagian salaf mengatakan “man ‘amila bimā ‘alima ‘allamahullāhu mā lakun ya’lam”, barang siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allāh ﷻ akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang sebelumnya dia tidak tahu, ditambah ilmunya terus.

Makanya tidak heran kalau para salaf, para ulama, ilmu mereka luas, apa yang mereka dengar menetap di dalam hati mereka karena mereka berusaha untuk mengamalkan apa yang mereka dapatkan. Dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullāh, beliau adalah seorang muhaddits, seorang faqih, beliau menyebutkan bahwasanya saya membaca sebuah hadits yang isinya bahwasanya Nabi ﷺ mengundang seorang tukang bekam kemudian memberikan kepadanya uang, maka beliau untuk mengamalkan hadits ini mengundang seorang tukang bekam kemudian memberikan kepada orang tersebut uang sejumlah uang yang diberikan oleh Nabi ﷺ, sampai demikian para ulama kita mengamalkan ilmunya.

Maka lihat diri kita apakah kita sudah termasuk orang yang demikian atau mendekati yang demikian. Betapa banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan fadhailul ‘amal, tentang keutamaan shalat berjama’ah, tentang bersegera di dalam shalat berjama’ah, tentang keutamaan shalat malam, tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang berlalu di telinga kita dan kita biarkan begitu saja, seakan-akan ilmu itu hanya sekedar untuk pengetahuan bukan untuk diamalkan.

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

Supaya Allāh ﷻ menampakan agama Allāh ﷻ ini diatas seluruh agama.

Allāh ﷻ menjanjikan akan menampakan agama ini meskipun orang-orang kafir benci dengan nampaknya agama Allāh ﷻ di atas agama yang lain dan Allāh ﷻ tidak akan menyelisihi janji-Nya. Lihat bagaimana Allāh ﷻ menolong Rasul-Nya dan juga menolong para sahabat dari yang awalnya hanya satu orang yaitu Nabi Muhammad ﷺ kemudian Beliau ﷺ berdakwah dengan sabarnya sehingga satu persatu mulai dari orang yang ada disekitarnya, kerabatnya, yang satu kabilah dengan Beliau ﷺ mereka masuk ke dalam agama Islam, diusir dan justru semakin menyebar agama Islam, orang Anshor mereka masuk ke dalam agama Islam dan orang-orang yang ada di sekitar Mekah dan juga Madinah mereka masuk ke dalam agama Islam. Allāh ﷻ menampakan agama ini di atas seluruh agama.

وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا

Dan cukuplah Allāh ﷻ sebagai saksi.

Jadi Allāh ﷻ Dia-lah yang menjadi saksi bahwa Nabi-Nya ini, yaitu Muhammad ﷺ adalah seorang Rasul dan bahwasanya Dia-lah yang akan menolong Nabi-Nya dan ucapan ini yaitu

الَّذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا

Surat al-Fath-28.

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi

Disini bagaimana beliau rahimahullāh dalam masalah lafadz beliau berusaha untuk taqayyud, mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an, karena itu lebih selamat, ini di ambil dari Firman Allāh ﷻ.

Kemudian setelahnya, setelah mengucapkan pujian kepada Allāh ﷻ maka beliau mengucapkan dua kalimat syahadat dan ini yang biasa dilakukan oleh para penulis kitab, para ulama yang menulis kitab biasanya disebutkan basmalah kemudian hamdalah kemudian dua kalimat syahadat dan shalawat dan salam untuk Nabi ﷺ. Beliau mengatakan

وأَشْهَدُ أَن لاَّ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ

Dan aku bersaksi, dan kalimat syahadah (bersaksi) ini memiliki beberapa makna dan terkumpul dalam kalimat asyhadu ini beberapa makna tersebut. Maknanya adalah diantaranya a’lamu (saya tahu), kemudian di antara maknanya adalah ukhbir (saya mengabarkan) kepada orang, kemudian diantara maknanya adalah aḥlif (saya bersumpah), ini semuanya ada di dalam makna asyhadu

وأَشْهَدُ أَن لاَّ إلَهَ إِلاَّ اللهُ

Dan aku bersaksi, yaitu saya tahu makna لاَّ إلَهَ إِلاَّ اللهُ dan juga konsekuensinya, dan saya kabarkan ini kepada orang lain dan saya bersumpah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh ﷻ. Berarti di sini ada sumpah, janji dari seseorang untuk tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ semata. Kemudian

وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ

Waḥdah ini adalah penguat dari kalimat sebelumnya yaitu إِلاَّ اللهُ, hanya Allāh ﷻ saja dikuatkan dengan kalimat wahdahu, hanya Allāh ﷻ saja. Kemudian juga لا شَرِيكَ لَهُ tidak ada sekutu baginya ini adalah penguat dari kalimat لاَّ إلَهَ yaitu nafī, di dalam kalimat لاَّ إلَهَ إِلاَّ اللهُ ini ada itsbat dan juga nafī (ada penetapan dan juga penafian), penetapan pada إِلاَّ اللهُ dikuatkan dengan وَحْدَهُ hanya Allāh ﷻ saja, dan penafian pada kalimat لاَّ إلَهَ dikuatkan dengan لا شَرِيكَ لَهُ

إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا

إِقْرَارًا بِهِ ini menguatkan kalimat أَشْهَدُ karena makna إِقْرَار menetapkan, dan ini juga terkandung didalam kalimat asyhadu, إِقْرَارًا بِهِ ini menguatkan kalimat asyhadu,وَتَوْحِيدًا ini menguatkan kalimat لاَّ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ

Kemudian beliau menyebutkan syahadat yang kedua dan mengatakan

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad ﷺ adalah hamba Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya

Ini adalah syahadat yang kedua dan ini adalah satu kesatuan dengan syahadat yang pertama, orang yang mengikrarkan syahadat yang pertama melazimkan dia untuk mengikrarkan syahadat yang kedua demikian pula sebaliknya, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain dan barangsiapa yang mengingkari satu diantara dua syahadat ini dia telah keluar dari agama Islam, dia adalah satu kesatuan dan keduanya adalah rukun Islam yang pertama, dua kalimat syahadat.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

Aku bersaksi bahwasanya Muhammad ﷺ adalah hamba Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya

Maka beliau menyebutkan عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ini juga mengambil dari hadits Nabi ﷺ, dan dalam sebuah hadits

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Dan juga dalam hadits yang lain

إِنَّمَا أَنَا عَبْد فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Dan yang dimaksud dengan persaksian bahwasanya Muhammad ﷺ adalah hamba Allāh ﷻ artinya beliau adalah hamba yang menyembah kepada Allāh ﷻ, menyembah bukan di sembah, sehingga disini ada isyarat larangan kita untuk ghuluw terhadap Rasulullāh ﷺ dan diantara bentuk ghuluw adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada Beliau ﷺ baik doa misalnya atau meminta syafaat kepada Beliau ﷺ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ

Kita bersaksi bahwasanya Muhammad ﷺ adalah hamba artinya bukan Tuhan dan bukan sesembahan, dia adalah seorang hamba Allāh ﷻ sebagaimana kita وَرَسُولُهُ dan Beliau ﷺ adalah seorang rasul yang diutus yang harus kita muliakan, yang harus kita imani. Berarti di sini ada bantahan terhadap orang yang ghuluw terhadap Rasul dan juga orang yang menyepelekan Rasulullāh ﷺ, orang yang ghuluw terhadap Rasul ﷺ sampai menyifati Rasulullāh ﷺ dengan sifat-sifat uluhiyah maka ini terbantahkan dengan وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ. Adapun orang yang menyepelekan Rasulullāh ﷺ maka ini terbantahkan dengan وَرَسُولُهُ (dan Beliau ﷺ adalah seorang rasul), karena kalau kita yakin Beliau ﷺ adalah seorang rasul kewajiban kita adalah menghormati Beliau ﷺ.

Kemudian setelahnya disebutkan nama Nabi Muhammad ﷺ, setelah nya beliau mengucapkan shalawat dan salam untuk Beliau ﷺ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ

Semoga shalawat Allāh ﷻ atas Beliau ﷺ, yang dimaksud dengan shalawat adalah

ثناء الله عليه عِنْدَ الملأ الاعلى

Pujian Allāh ﷻ kepada Beliau ﷺ di depan para malaikat. Al-Mala’ artinya adalah kumpulan, Al-A’la adalah yang paling tinggi. Di sini ada juga perkumpulan, ada perkumpulan thulab, ada perkumpulan petani, dan seterusnya, perkumpulan yang paling tinggi adalah perkumpulan para malaikat, menunjukkan tentang banyaknya mereka dan mereka berada di atas. Allāh ﷻ memuji Nabi ﷺ yaitu memuji Beliau ﷺ di hadapan para malaikat-Nya, inilah makna shalawat Allāh ﷻ untuk Nabi Muhammad ﷺ, sehingga ketika kita mengatakan صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ maka maksudnya adalah semoga Allāh ﷻ memuji Beliau ﷺ di depan para malaikat.

Berarti kita mendoakan dan balasannya kalau kita mengucapkan shalawat untuk Nabi ﷺ, Allāh ﷻ akan bershalawat atas kita sepuluh kali artinya menyebut nama kita di hadapan para malaikatnya sepuluh kali atau memuji kita dihadapan para malaikatnya sepuluh kali. Siapa diantara kita yang tidak ingin dipuji Allāh ﷻ di hadapan para malaikatnya, maka kalau kita ingin dipuji oleh Allāh ﷻ dan banyak dipuji Allāh ﷻ dihadapan para malaikat adalah kita banyak mengucapkan shalawat untuk Nabi ﷺ, tentunya dengan sholawat-sholawat yang disyariatkan dan sholawat yang paling baik adalah shalawat ibrahimiyah yang disebutkan disitu nama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan boleh membaca sholawat-sholawat yang lain dengan syarat tidak ada didalamnya ghuluw terhadap Rasulullāh ﷺ.

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ

Dan juga para keluarganya yaitu ahlul bait, mereka memiliki kedudukan didalam agama Islam sehingga Nabi ﷺ pernah mengatakan

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللهَ أَهْلِ بَيْتِيْ

Aku ingatkah kalian kepada Allāh ﷻ (takutlah kalian kepada Allāh ﷻ) tentang keluargaku, artinya Beliau ﷺ berpesan, karena Beliau ﷺ akan segera meninggal dunia dan meninggalkan keluarga maka Beliau ﷺ memberikan pesan kepada kita untuk hormat terhadap keluarga Beliau ﷺ, termasuk di antara cara penghormatannya adalah dengan kita mendoakan untuk keluarga Beliau ﷺ.

Dan yang dimaksud dengan ahlut bait adalah setiap muslim dan juga muslimah yang mereka merupakan keturunan dari Abdul Muthalib termasuk diantaranya adalah anak-anaknya Abu Tholib yang mereka masuk ke dalam agama Islam seperti Ali, Ja’far kemudian Aqīl, mereka adalah anak-anak Abu Tholib dan mereka masuk ke dalam agama Islam. Mereka dan juga keturunan mereka, muslim dan juga muslimah, adalah ahlul bait termasuk diantaranya adalah anak-anaknya Abbas, keluarganya Abbas, kemudian Hasan dan Husein karena mereka adalah anak dari Ali bin Abi Thalib dan mereka ahlul bait diharamkan untuk memakan dari zakat yang wajib adapun shadaqoh maka Wallāhu A’lam masih diperbolehkan, yang dilarang adalah zakat yang wajib maka tidak boleh mereka memakan dari harta zakat yang wajib.

Demikian ahlul sunnah wal jama’ah mereka memiliki kecintaan terhadap keluarga Nabi ﷺ. Syaikhul Islam ibnu Taimiyah adalah orang yang sangat mencintai para keluarga Nabi ﷺ dan ini bantahan kepada orang-orang rafidhah yang mereka menuduh ahlussunnah wal jama’ah bahwasanya mereka adalah nawāsib, orang yang menegakkan permusuhan kepada keluarga Nabi ﷺ, tidak cinta kepada keluarga Nabi ﷺ, tidak. Antum mendengarkan sendiri bagaimana para masyaikh, para ulama ahlussunnah, para asatidzah senantiasa mereka mengulang-ulang kalimat صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ mendoakan untuk keluarga Nabi ﷺ.

Adapun mereka misalnya dalam ketika disebutkan Nabi ﷺ mengatakan shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan keluarga Nabi ﷺ bukan menunjukkan bahwasanya mereka benci dengan keluarga Nabi ﷺ, mereka juga mendoakan kebaikan untuk keluarga Nabi ﷺ tapi bukan merupakan kewajiban ketika di sebutkan nama Nabi ﷺ kemudian harus disebutkan juga keluarga Nabi ﷺ. Sehingga orang yang tidak menyebutkan keluarga Nabi ﷺ dianggap adalah ciri-ciri orang yang nawasib orang-orang yang memusuhi keluarga Nabi ﷺ, bukan demikian. Boleh silahkan seandainya kita mengatakan shallallāhu ‘alaihi wa ‘ala ālihi wa sallam, tidak masalah, jangan sampai dikatakan itu adalah sebuah kewajiban atau bahkan dikatakan itu adalah syiar diantara syiar-syiar agama.

وَسَلَّمَ تسليمًا مَزِيدًا

Dan semoga salam dengan keselamatan yang bertambah untuk Nabi kita Muhammad ﷺ, dan yang dimaksud dengan salam adalah keselamatan yaitu selamat dari berbagai kejelekan baik di dunia maupun di akhirat, dan bukan berarti bahwasanya Nabi ﷺ tidak selamat tapi makna dari meminta kepada Allāh ﷻ semoga Allāh ﷻ memberikan keselamatan kepada Beliau ﷺ adalah tambahan, tambahan keselamatan atau ditetapkan di atas keselamatan artinya diselamatkan oleh Allāh ﷻ dan terus dijaga oleh Allāh ﷻ di dunia maupun di akhirat.

Jadi bukan berarti bahwasanya Nabi ﷺ tidak selamat sehingga harus didoakan oleh umatnya, tidak, kita meminta kepada Allāh ﷻ semoga Allāh ﷻ terus menjaga Beliau ﷺ terus memberikan keselamatan kepada Beliau ﷺ dan penyebutan shalawat dan salam, yaitu dua perkara ini, mengikuti apa yang disebutkan oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ mengatakan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

(QS. Al-Ahzab:56)

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian bersholawat untuknya, yaitu untuk Nabi Muhammad ﷺ, dan hendaklah kalian mengucapkan salam untuk Beliau ﷺ dengan sebenar-benar salam.

Jadi Allāh ﷻ memerintahkan dengan 2 perkara dari sini beliau mendatangkan dua-duanya, bersholawat dengan mengatakan صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ dan beliau juga mengucapkan salam dengan mengatakan وَسَلَّمَ تسليمًا مَزِيدًا

Disini beliau menggunakan sajak, awalnya beliau mengatakan

وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا

kemudian mengatakan

إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا

kemudian

وَسَلَّمَ تسليمًا مَزِيدًا.

Boleh seseorang menggunakan sajak dan ini keindahan di dalam berbahasa, cuma tidak boleh seseorang takalluf, membebani diri diluar kemampuannya. Kalau memang itu datang begitu saja dan dengan mudah dia mendatangkan sajak tidak masalah, dan sampai sekarang para masyaikh ketika mereka berkhotbah dan ini adalah keindahan di dalam bahasa Arab mereka juga sering menggunakan sajak ini.

Boleh-boleh saja yang penting jangan takalluf bahkan terkadang sampai takallufnya sehingga maknanya menjadi rusak hanya karena ingin sajak tadi, kalau demikian maka tidak diperbolehkan. Terkadang dalam doa pun dia takalluf, kalau memang doa tadi ada dari Nabi ﷺ maka tidak masalah seperti misalnya

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.”

(HR. Muslim:2722, an-Nasa’i VIII/260).

Ini ada sajak tidak masalah, tapi kalau kita pas membuat doa sendiri dan kemudian kita takalluf sehingga keluar dari makna yang sebenarnya dan menjauhkan kita dari kekhusyukan maka dihindari yang demikian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 03

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 03 | Muqoddimah #03 Penjelasan Umum Tentang Kitab Aqidah Wasithiyyah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kitab Aqidah Wasithiyyah memiliki kedudukan yang tinggi di antara kitab-kitab yang lain, dia memiliki beberapa kelebihan dan juga keistimewaan.

Diantara yang menjadi keutamaan kitab aqidah Wasithiyyah,

Yang Pertama

Bahwasanya aqidah yang disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab ini adalah aqidah yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi ﷺ dan juga ijma’ para salaf, ijma’ imam-imam para salaf.

Diantara keutamaan kitab ini juga beliau sangat teliti didalam masalah penggunaan lafadz, jadi sebisa mungkin lafadz yang digunakan adalah lafadz yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits atau yang diucapkan oleh para salaf.

Beliau berusaha untuk menjaga lafadz dan juga makna, beliau mengatakan, aku berusaha, berusaha di dalam menulis aqidah ini, yaitu Aqidah Wasithiyyah, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah baik lafadz maupun maknanya. Didalam ucapan beliau, beliau mengatakan, dan setiap lafadz yang aku sebutkan di dalam kitab ini maka aku berusaha untuk menulis ayat atau hadits atau ijma para salaf, artinya lafadz yang beliau sebutkan di dalam kitab ini berusaha semaksimal mungkin adalah lafadz-lafadz yang syar’i tidak keluar dari lafadz-lafadz yang syar’i.

Ini menunjukkan tentang ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dan kehati-hatian beliau dalam menulis kitab ini, karena ini akan dibaca oleh banyak orang sehingga beliau berusaha untuk benar-benar baik lafadz maupun maknanya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan juga hadits, tidak mendatangkan makna atau lafadz yang baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ahlul kalam mereka mendatangkan lafadz-lafadz yang baru, istilah-istilah yang baru yang tidak disebutkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya dan mereka menginginkan untuk mentalbis yaitu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebatilan, mempermainkan manusia dengan lafadz-lafadz tadi.

Kemudian juga diantara kelebihan kitab ini selain dia adalah berdasarkan Al-Quran dan Hadits, dan nanti akan kita lihat bagaimana beliau rahimahullāh ketika berbicara tentang masalah nama dan juga sifat hanya menyebutkan ayat, tentang masalah Allāh ﷻ berbicara disebutkan oleh beliau ayat-ayat bahwasanya Allāh ﷻ berbicara, ketika beliau menyebutkan bahwasanya Allāh ﷻ beristiwa beliau sebutkan ayat tentang istiwa, demikian pula menyebutkan tentang hadits Nabi ﷺ. Ini adalah cara syaikhul Islam di dalam menulis kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah.

Dan kedua

adalah apa yang beliau tulis dalam Aqidah Wasithiyyah ini adalah hasil dan juga buah dari tatabbu dan juga istikra’, hasil penelitian beliau dan hasil membaca beliau terhadap ucapan-ucapan para salaf baik didalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ atau tentang hari akhir atau tentang iman dengan takdir atau tentang sikap kita terhadap para sahabat dan permasalahan-permasalahan akhirnya yang lain.

Beliau mengatakan, tidaklah aku menulis dalam kitab ini kecuali aqidah para Salafus Sholih semuanya. Orang semisal beliau banyak membaca kitab-kitab para ulama yang isinya adalah nukilan-nukilan dari para ulama salaf tentang masalah aqidah, beliau baca dan beliau simpulkan dan kemudian beliau tuangkan di dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah ini. Diantara keutamaan kitab ini bahwasanya beliau rahimahullāh berusaha dengan seluruh tenaga yang beliau miliki untuk mentaḥrir, untuk benar-benar teliti dalam menyebutkan masalah aqidah ini, beliau memberikan khulashoh, memberikan ringkasan.

Diantara ketelitian beliau, beliau mengatakan, diantara kehati-hatian beliau, dan ini menunjukkan tentang tawadhu beliau, aku telah memberikan kesempatan kepada setiap orang yang menyelisihi aku dalam perkara-perkara ini, tiga tahun beliau memberikan kesempatan. Artinya beliau membuka pintu siapa yang ingin menunjukkan kesalahan dari kitab ini, selama tiga tahun beliau menunggu dan beliau mengatakan kalau memang ada yang menyelisihi, artinya ini bukan keyakinan para salaf, maka beliau siap untuk kembali artinya siap untuk menghilangkan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah para salaf tadi kemudian kembali kepada jalan yang benar.

Ini menunjukkan tentang tawadhu beliau dan bagaimana kehati-hatian beliau, beliau tidak ingin tersebar kitab tadi dalam keadaan salah, beliau bahkan menawarkan kepada para ulama khususnya bahkan yang menjadi orang-orang yang berseberangan dengan beliau, kalau muridnya saja atau orang yang sepaham dengan beliau mungkin biasa-biasa saja suruh meneliti mereka sudah percaya begitu saja, tapi kalau musuh, ini maka ketika mereka meneliti kitab musuhnya maka dia berusaha tapi ternyata selama 3 tahun diberikan kesempatan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak ada diantara mereka yang memberikan bantahan atau bisa menunjukkan mana aqidah beliau yang tidak sesuai dengan aqidah pada salaf.

Ini menunjukkan tentang tentunya keyakinan beliau, tentang ilmu beliau yang dalam dan tawadhu beliau, beliau mengatakan yang demikian bukan karena sombong atau menentang atau hanya sekedar ingin berdebat, tidak, beliau ingin kebenaran, kalau memang ada yang tidak sesuai dengan pemahaman para salaf untuk apa kita mempertahankan sebuah kebathilan, maka beliau siap untuk ruju’, dan ketika ditunggu sedemikian lamanya tiga tahun, bukan satu bulan dua bulan, ternyata tidak ada. Ini menunjukkan bahwasanya kitab ini memiliki kelebihan, sudah dibaca oleh musuh-musuh beliau dan dibaca oleh orang yang sependapat dengan beliau dan ternyata para ulama menerima kitab ini dengan qabulan hasanah, yaitu menerima dengan baik.

Kemudian diantara keutamaannya yg lain,

kitab ini adalah kitab yang ringkas, subhanallāh, menyebutkan dalil, menyebutkan ringkasan aqidah ahlussunnah wal jama’ah, meskipun dia ringkas ternyata isi dari kitab Al-Aqidah Wasithiya ini sebagian besar permasalahan-permasalahan aqidah yang merupakan ushul, pondasi aqidah ahlussunnah wal jamaah, disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab ini. Jadi dia adalah kitab aqidah yang ringkas dan dia lengkap meskipun tidak semua tapi sebagian besar permasalahan aqidah yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bid’ah disebutkan oleh beliau rahimahullāh, tentunya ini adalah sebuah kelebihan, kita cari kitab-kitab yang seperti ini.

Kemudian juga ditambah oleh beliau di akhir kitabnya

tentang pentingnya seorang ahlussunnah, dan ini adalah ciri ahlussunnah wal jama’ah firqatun najiyah, bahwasanya mereka ya’muruna bil ma’ruf, mereka menyuruh kepada yang baik, melarang dari yang mungkar, mereka ini berakhlak yang baik. Beliau sebutkan tentang masalah akhlak karena tidak cukup seseorang menjadi ahlussunnah wal jama’ah hanya memperhatikan masalah aqidah, bahkan kalau aqidah yang dia pelajari ini benar dan dia adalah orang yang mengamalkan aqidah tadi, ini akan memunculkan, akan mewariskan rasa takut kepada Allāh ﷻ yang akan terlihat pada baiknya akhlak dia kepada orang lain.

Inilah beberapa keutamaan kitab Al Aqidah Al Wasithiya sehingga tidak heran kalau

Adz-Dzahabi rahimahullāh

ketika beliau berkomentar tentang kitab Al Aqidah Al Wasithiya beliau mengatakan, telah sepakat baik musuh maupun kawan maupun lawan bahwasanya ini adalah aqidah salafi yang jayyid yaitu aqidah para salaf yang bagus.

Dan Ibnu Rajab Rahimahullāh

beliau mengatakan (ini juga muridnya syaikhul Islam), telah sepakat semuanya bahwasanya aqidah wasithiyyah ini adalah aqidah yang sunniyyah yang salafiyyah, yang sesuai dengan sunnah dan adalah aqidah para salaf kita.

Para ulama dan juga para penuntut ilmu agama mereka memperhatikan kitab ini, memiliki perhatian yang besar terhadap kitab Al aqidah Al Wasithiyyah ini baik dengan menghafalnya ataupun mengajarkannya atau mempelajarinya sehingga banyak diantara ulama yang mensyarah yaitu menjelaskan tentang kitab ini, yang akan kita sebutkan bahwasanya disana ada sebagian ulama yang ringkas didalam mensyarahnya, ada yang diantara mereka yang panjang didalam syarahnya berbeda-beda. Ada diantara mereka yang mensyarah kitab Al aqidah Wasithiyyah dengan ucapan syaikhul Islam juga, mu’alifnya yaitu di dalam kitab-kitab yang lain.

Saya sebutkan disini beberapa syarah yang mungkin bisa kita ambil faedahnya yang telah ditulis oleh para ulama kita diantaranya adalah

Syarah Al aqidah Wasithiyyah yang ditulis oleh Haras, beliau adalah Muhammad Khalil Haras,

kelebihannya adalah syarah beliau ringkas dan jelas, tidak bertele-tele namun ketika kita melihat, beliau meringkas dan bagus tapi ketika di akhir-akhir sangat ringkas sehingga sebagian dari ucapan syaikhul Islam ini bahkan di lewati artinya mungkin beliau memandang itu adalah perkara yang sangat jelas sehingga tidak perlu di syarah secara panjang lebar. Wallāhu ta’ala a’lam.

Kemudian di antara Syarah aqidah Wasithiyyah adalah Tanbihat Al Lathifah fī mā ihtawat ‘alaihi al wasithiyah minal mabahit al manīfah, ini ditulis oleh Syaikh As sa’di.

kemudian juga Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin beliau juga punya syarah Al Aqidah Wasithiya.

Dan kita mengetahui bagaimana kedudukan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, bagaimana penjelasan beliau yang sangat mudah dipahami, tidak menggunakan kata-kata yang sulit, dan banyak faedah-faedah yang bisa kita ambil selain dari pembahasan utama yang disebutkan oleh mu’allif. Disana ada yang menjadikan soal dan jawab, pertanyaan dan juga jawaban tentang hal yang berkaitan dengan Al aqidah Al Wasithiyyah.

Syaikh shalih Al Fauzan juga memiliki syarah terhadap aqidah Wasithiyyah,

kemudian di sana ada Ar-Raudah An-Nadiyah yang ditulis oleh Zaid bin Abdil Aziz bin Fayyadh dan dia adalah syarah yang luas.

Kesimpulannya disini banyak yang telah mensyarah kitab Al aqidah Al Wasithiyyah ini, ada yang sedang ada yang ringkas ada yang panjang lebar, maka seorang thalabul ‘ilm mengambil faedah dari apa yang dijelaskan oleh para ulama dan saya mendorong bagi yang memiliki kemampuan untuk bisa menghafal, antum yang hafal Quran itu lebih mudah InsyaAllāh, kan syaikhul Islam banyak menyebutkan ayat, maka ini kesempatan bagi antum di waktu yang pas sebisa mungkin antum menghafal apa yang disebutkan oleh beliau, dan kalau kita punya keinginan ada waktu luang dan kalau bisa di sana ada tempat orang yang kita setorkan hafalan kita mungkin dengan teman-teman maka ini lebih baik, jangan kita sia-siakan waktu yang sangat panjang dan sangat luas ini dalam perkara yang sia-sia, untuk murojaah untuk menghafal untuk berbagai perkara yang bermanfaat insya Allāh.

Untuk perkara-perkara yang disebutkan dalam kitab ini,

disebutkan oleh syaikhul Islam didalam aqidah wasithiya di antara yang beliau sebutkan

Pertama adalah tentang masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ,

Kemudian beliau menyebutkan aqidah ahlussunnah wal jamaah tentang masalah Iman,

Kemudian beliau menyebutkan tentang masalah nama yang muslim, kafir, iman, Islam wal ahkam dan hukum-hukum mereka ini semua berkaitan dengan aqidah ahlussunnah yang membedakan antara mereka dengan ahlul bid’ah,

Beliau juga menyebutkan tentang masalah takdir,

Beliau juga menyebutkan tentang masalah hari akhir dan beberapa perinciannya seperti misalnya hisab kemudian syafaat kemudian timbangan, surga dan juga neraka beliau sebutkan. Masalah nama dan juga sifat tadi berkaitan dengan beriman kepada Allāh ﷻ, kemudian beliau juga menyebutkan iman dengan takdir iman dengan hari akhir.

Beliau juga menyebutkan tentang masalah karomāh

karena disana ada ahlul bid’ah yang berbeda dengan ahlul sunnah didalam masalah karomah, ada yang berlebihan, ada yang menyia-nyiakan, ada yang mengingkari, ada yang meyakini sesuatu yang bukan karomah, diyakini itu sebagai sesuatu karomah, tidak bisa membedakan antara karomat dengan apa yang dinamakan dengan sihir.

Kemudian juga beliau menyebutkan tentang sikap ahlul sunnah terhadap pemerintah, ini juga ada ahlul bid’ah yang menyimpang didalam masalah ini,

Kemudian juga sikap ahlussunnah terhadap para sahabah, sikap ahlussunnah di dalam masalah mashadil talaqqi, yaitu darimana mereka mengambil ilmu ini, mengambil agama ini.

Bahkan beliau juga menyebutkan tentang bagaimana akhlak ahlussunnah, bagaimana suluq mereka dan bagaimana mereka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan sikap ahlus sunah dalam berjihad dalam menegakkan syiar-syiar Allāh ﷻ.

Kemudian beliau mengakhiri kitabnya dengan menyebutkan berbagai tingkatan ahlussunnah wal jamaah, bahwasanya ternyata mereka ini bukan hanya satu golongan, mereka ada yang ada yang fuqahah ada yang muhadditsun dan mereka semuanya ahlul sunnah, ada yang ahlu tafsir ada yang bermacam-macam jadi mereka semuanya adalah ahlul sunnah yang mengumpulkan mereka adalah keinginan untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Kemudian tentang masalah sebab ditulisnya kitab ini.

Bahwasanya kitab ini sebabnya adalah sebagian qadhi yang ada di daerah yang dinamakan dengan Wāsith (sebuah daerah di Irak saat itu). Ada seorang qadhi yang beliau ini diceritakan syaikhul Islam datang kepadanya kemudian menceritakan tentang kebodohan yang ada di negara beliau, karena beliau sebagai seorang qadhi melihat bagaimana kerusakan manusia di daerah beliau, banyaknya kebodohan, banyaknya kedzholiman, banyak perkara-perkara agama yang ditinggalkan oleh manusia, maka qadhi ini dengan tawadhonya meminta kepada syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tolong dituliskan sebuah kitab tentang masalah aqidah.

Apa yang menjadi jawaban beliau, beliau mengatakan banyak ulama yang sudah menulis tentang kitab-kitab aqidah, kenapa harus saya. Ini menunjukkan tentang tawadhu’nya syaikhul Islam. Maka qadhi ini pun dia meminta dengan sangat mengulang-ulang permintaan, dan ini menunjukkan seseorang kalau memang memandang itu ada banyak kebaikan ya kita sungguh-sungguh ketika meminta kepada orang lain, artinya di sini meminta kepada gurunya karena dia tahu kedudukan syaikhul Islam dan bagaimana tulisan beliau maka beliau berusaha bukan hanya meminta sekali, ketika tahu itu ditolak kemudian dia mundur ke belakang, tidak, dia punya hirs.

Kemudian qadhi ini yang berasal dari Wāsith mengatakan aku tidak senang kecuali sebuah aqidah yang kamu tulis, meskipun mungkin sama apa yang disebutkan oleh syaikhul Islam dengan yang disebutkan oleh ulama ahlussunnah wal jamaah karena beliau juga mengambil dari ulama ahlus sunnah sebelum beliau, tapi dia ingin tulisan syaikhul Islam. Ini mungkin bisa diambil faedah terkadang tidak ada salahnya seorang ustadz dia mengarang tentang sebuah kitab yang mungkin sama dengan yang dikarang oleh ustadz yang lain atau da’i yang lain, jangan kita mengatakan itu kan ustadz beliau sudah menulis.

Kenapa demikian, karena yang ada di bawah kita mereka ini banyak, ada diantara mereka yang Allāh ﷻ jadikan lebih senang untuk mendengarkan ceramah ustadz fulan karena menurut dia lebih bisa menangkap misalnya, tapi yang lain ternyata pendapatnya berbeda. Dia lebih bisa menangkap kalau yang menyampaikan adalah ustadz fulan. Jadi yang sini memiliki perhatian terhadap kitab-kitab si fulan, yang lainnya memiliki perhatian terhadap kitab-kitab ustadz yang lain sehingga tidak ada salahnya masing-masing menulis kitab. Dan demikian yang dilakukan oleh para salaf, ini menulis tentang aqidah ahlussunnah, ini aqidah ashabul hadits dan sampai sekarang kitab-kitab tersebut dipelajari dan saling melengkapi satu dengan yang lain.

Disini syaikhul Islam akhirnya beliau menulis kitab ini dan beliau tulis ini waktunya setelah shalat ashar, kitab aqidah Wasithiyyah ini dari awal sampai akhir ini beliau tulis setelah shalat ashar dan ini menunjukkan tentang bagaimana berkahnya ilmu beliau dan bagaimana ilmu itu sudah melekat pada diri beliau sehingga ketika diminta untuk menulis aqidah ahlussunnah langsung beliau tulis dalam waktu yang sangat singkat dan ternyata kitab tadi adalah kitab yang mutqan, sangat teliti dan disebutkan dalil-dalilnya dan dengan istidlal yang kuat dan diteliti oleh kawan maupun lawan dan mereka tidak menemukan disana sesuatu yang bertentangan dengan manhaj salaf, ini semua menunjukkan tentang keutamaan beliau.

Dan ini adalah sejarah dari ditulisnya kitab ini dan sampai sekarang kitab ini terus dipelajari oleh para thulabul ‘ilm dan mereka mengambil faedah dari kitab yang berharga ini dan antum bisa lebih mengetahui tentang kedudukan kitab ini kalau antum mempelajari kitab aqidah yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 02

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 02 | Muqoddimah #02 Pujian Para Ulama, Ujian, dan Wafatnya Penulis Kitab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Adapun pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, maka ini telah banyak pujian kepada beliau baik dari orang yang merupakan teman-teman beliau atau murid-murid beliau bahkan juga termasuk pujian dari musuh-musuh beliau, maka ini sesuatu yang luar biasa tentunya seseorang dipuji oleh musuhnya sendiri, mereka melihat tentang bagaimana sidq (kejujuran) Syaikhul Islam dalam menyampaikan hujjah, bukan orang yang curang dalam bermunadzaroh dan mereka mengetahui tentang akhlak beliau, tidak menjadikan permusuhan yang terjadi antara beliau dengan ulama yang lain kemudian beliau menjadi orang yang dzholim ini diakui oleh para ulama.

Saya sebutkan di sini di antara ucapan para ulama tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Sayyidinnas ulama yang mengarang kitāb ‘Uyunul Atsar beliau mengatakan

Aku mendapatkan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) ini adalah orang yang mendapatkan bagian yang banyak dari ilmu. Ketika beliau memperhatikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka beliau hampir-hampir menguasai hadits-hadits dan juga atsar-atsar para salaf dengan hafalan beliau, hampir-hampir beliau itu menguasai hadits-hadits Nabi ﷺ dan juga atsar – atsar para salaf bukan hanya dengan maknanya saja

Kalau beliau berbicara di dalam masalah tafsir maka beliau adalah orang yang membawa benderanya, membawa benderanya maksudnya adalah orang yang jago di dalam masalah ilmu tafsir, kalau bicara tentang ayat, bicara tentang surat, berbicara tentang tafsir Al-Quran seakan-akan tidak ada yang lebih halim tentang tafsir dan perkara-perkara yang detail dan faidah-faidah yang bisa diambil dari sebuah ayat dari beliau rahimahullāh, maka beliau adalah orang yang membawa bendera

Kalau beliau berfatwa tentang masalah fiqih maka beliau sampai kepada tujuan, sampai kepada puncaknya, artinya ketika berbicara tentang hukum, bicara tentang fiqih ternyata beliau juga orang yang luas ilmunya tentang masalah madzahib al-arba’a juga madzhab yang lain dan apa dalil mereka, apa alasan mereka dan mana yang rojih, kenapa yang rojih adalah demikian, ternyata beliau adalah seorang yang faqih

Dan kalau sedang bermudzakarah tentang masalah hadits maka ternyata beliau adalah orang yang punya ilmunya dan belia punya riwayatnya

Atau ketika beliau memberikan ceramah, memberikan pengetahuan tentang masalah aliran-aliran, tentang agama-agama, tidak dilihat orang yang lebih luas pengetahuannya tentang aliran dan juga agama tadi daripada beliau rahimahullāh. Jadi kalau berbicara tentang aliran, tahu siapa yang mendirikan, apa isinya, apa syubhat mereka, apa alasan mereka sehingga sebagian atau banyak diantara aliran-aliran tadi ataupun pembesar-pembesar aliran tadi yang mengakui bahwasanya Syaikhul Islam itu lebih tahu tentang alirannya dari pada mereka sendiri dan ini menunjukkan tentang luasnya ilmu beliau, dan beliau tahu bagaimana kok bisa sampai mereka kepada kesesatan-kesesatan tadi

Dan tidak ada yang lebih tinggi daripada beliau dalam masalah pemahaman tentang aliran-aliran tadi

Beliau muncul didalam setiap ilmu, di atas orang-orang yang sebaya dengan beliau, artinya nampak dan terlihat ilmunya daripada yang lain, maka orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang semisal dengan beliau, dan mata beliau, yaitu Syaikhul Islam, tidak melihat orang yang semisal dengan dirinya sendiri. Ibarat seperti ini menunjukkan tentang pujian dan menunjukkan tentang bagaimana kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau rahimahullāh.

Adz-Dzahabi rahimahullāh, murid beliau,

mengatakan beliau Syaikhul Islam yaitu guru Adz-Dzahabi, beliau mengatakan bahwasanya orang yang semisal sepertiku ini tidak pantas untuk mensifati beliau, artinya beliau lebih tinggi daripada sifat yang aku berikan kepada beliau, seandainya, kurang lebih demikian makna ucapan Adz-Dzahabi, seandainya saya mensifatkan sesuatu tentang Syaikhul Islam ketahuilah bahwasanya kenyataannya lebih daripada itu

Maka seandainya aku ini disuruh untuk bersumpah antara rukun dengan maqam, maksudnya adalah rukun Hajar Aswad dengan maqam Ibrahim, seandainya aku disuruh untuk bersumpah niscaya aku akan bersumpah aku tidak melihat orang yang semisal dengan beliau, dan tentunya sumpah atas nama Allāh ﷻ ini adalah sumpah yang harus jujur, seandainya aku disuruh untuk bersumpah dengan nama Allāh ﷻ antara rukun Hajar Aswad dengan makam Ibrahim niscaya aku akan mengatakan aku tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Adz-Dzahabi, shahibus siyr, memiliki kitab Siyar A’lamin Nubala’ yang dikenal tentang keahliannya dalam masalah hadits dalam masalah tarikh dalam masalah geografi dan ilmu-ilmu yang lain mengatakan ucapan ini, saya tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam dan demi Allāh ﷻ beliau tidak pernah melihat orang yang semisal dengan beliau di dalam masalah ilmu. Maka ini juga termasuk keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Kemudian saya sebutkan disini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki beliau adalah bapak dari Tajuddin shabibut thabaqat al-syafi’iyah al-kubra, beliau mengatakan

Telah besar keutamaan beliau dan juga luasnya ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dalam ilmu syar’i maupun dari bukti-bukti yang berkaitan dengan akal, jadi beliau dalam berdalil selain berdalil dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Quran dan as-sunnah dengan dalil-dalil yang kuat dan istidlal yang kuat maka beliau juga banyak menyampaikan dalil dari akal

Dan bagaimana cerdasnya beliau dan kesungguhan beliau, dan bagaimana sampainya beliau di dalam setiap perkara-perkara tadi sampai pada derajat yang tidak bisa disifatkan. Ini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki.

As-Subki Muhammad bin Abdul Barr asy-Syafi’I

yang meninggal pada tahun 777 Hijriyah, beliau mengatakan tidak membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsu,

ini semuanya menunjukkan tentang bagaimana pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ini menunjukkan tentang keutamaan beliau.

Saya nukilkan juga di sini ucapan dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari.

Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam dan mengatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang paling kuat di dalam memerangi ahlul bid’ah dari kalangan orang-orang Rafidhah dan orang-orang Hululiyah dan Ittihadiyah (yaitu orang-orang yang mengaku Allāh ﷻ bersatu dengan makhluk-Nya atau Allāh ﷻ di mana-mana), dan karangan-karangan beliau didalam masalah ini adalah banyak syahirah dan dikenal dan fatwa-fatwa beliau tentang aliran-aliran tadi tidak bisa dibatasi, karena saking banyaknya yaitu dengan ilmu kita, kita tidak bisa menentukan batasnya karena keterbatasan ilmu yang kita miliki.

Didalam ucapan beliau yang lain Ibnu Hajar mengatakan seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan kecuali keutamaan yang satu yaitu dia memiliki seorang murid yang bernama Ibnu Qayyim, yang memiliki karangan-karangan yang banyak yang telah mengambil manfaat dari karangan beliau orang yang setuju dengan beliau maupun orang yang memusuhi beliau, niscaya ini menunjukkan tentang keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Kemudian setelahnya beliau rahimahullāh, ini adalah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah kepada apa yang didakwakan oleh para Nabi dan juga para rasul banyak menerima ujian dan juga cobaan,

banyak musuh musuh beliau yang ada di zaman beliau yang berdusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka adalah orang-orang Sufi, orang-orang ahlul kalam, ahlul bid’ah dan ini bukan hanya di zaman beliau saja bahkan sampai hari ini.

Ini menunjukkan tentang bagaimana ujian yang beliau terima dan sebagian berdusta atas nama beliau, seperti misalnya

*Dusta yang diucapkan oleh sebagian bahwasanya dia melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menjelaskan tentang turunnya Allāh ﷻ ke langit dunia kemudian dia menceritakan, dan ini adalah dusta, mengatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah saat itu berada di atas mimbarnya kemudian dia turun dari atas mimbarnya pelan-pelan, yaitu satu tingkat kemudian tingkat berikutnya dan seterusnya kemudian mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu turun seperti turunku ini, maka ini adalah dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yang menceritakan tadi dia mengatakan bahwasanya dia melihat itu pada tahun 726 Hijriyah, artinya dua tahun sebelum beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia.

Dan kalau diteliti yang menunjukkan tentang kedustaannya, ternyata saat itu karena saat itu yang menceritakan ini dia melihatnya di bulan Ramadan tahun 726 Hijriyah, dan kalau kita melihat sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari murid-murid beliau bahwasanya beliau pada tahun 726 Hijriyah di bulan Sya’ban ini beliau sudah dipenjara, tidak bebas lagi dalam berdakwah dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah ucapan yang dusta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih (orang yang menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk) dan insyaAllāh nanti akan kita melihat sendiri bagaimana beliau rahimahullāh berlepas diri dari tasybih, dari takyif, dari tamsil.

Beliau rahimahullāh diuji oleh Allāh ﷻ dengan berbagai ujian

Dan diantara orang-orang yang banyak memusuhi beliau saat itu adalah qurra yaitu para qadhi dan juga para fuqoha karena mereka merasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka di dalam fatwa mereka dan juga dapat pendapat-pendapat mereka,

Karena beliau bukan orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu tetapi beliau ta’asubnya adalah kepada dalil. Demikian pula di antara musuh-musuh beliau adalah orang-orang Sufiyyah dan juga ahlul kalam sehingga dengan sebab ini beliau beberapa kali di penjara di antaranya adalah pada tahun 705 Hijriyah kemudian pernah beliau juga dikeluarkan kemudian masuk dan dikeluarkan lagi kemudian masuk kembali dan sebabnya adalah bermacam-macam terkadang sebabnya adalah dari tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah pernah beliau di penjara karena tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah atau terkadang mereka adalah dari para qurro tadi dari para qodhi tadi yang merasa bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka dalam masalah fatwa dan juga pendapat-pendapat.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau meninggal dunia pada malam Senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 Hijriyah dan yang menghadiri jenazah beliau saat itu adalah cukup banyak dan ini adalah seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Katakan kepada ahlul bid’ah bahwasanya yang akan menentukan antara kami dan juga kalian adalah ketika disaksikannya jenazah-jenazah itu, maksud beliau adalah diantara hal yang menunjukkan bahwa seseorang diatas haq adalah ketika manusia memiliki qobul, memiliki rasa cinta Allāh ﷻ menanamkan rasa cinta tadi kepada para hamba-Nya, ketika Allāh ﷻ mencintai seorang hamba maka Allāh ﷻ akan menjadikan di dalam hati para hamba-Nya yang lain ini rasa cinta terhadap hamba tadi, sehingga ketika dia meninggal dunia banyak orang yang berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya, mendoakan beliau.

Berbeda dengan ahlu bid’ah yang mereka adalah orang yang melakukan perkara-perkara yang menyimpang yang menjadikan murka Allāh ﷻ dan terkadang mereka melakukan itu diantaranya adalah untuk mencari pujian manusia atau pengikut yang banyak tapi justru yang mereka dapatkan adalah kebencian dari manusia, meskipun secara dhohir mungkin mereka mengikuti di belakang ahlul bid’ah tapi didalam hatinya tidak ada kecintaan sebagaimana mereka mencintai ulama ahlussunnah, sehingga ketika meninggal dunia para ahlul bid’ah tadi yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya dia punya banyak pengikut tapi ketika meninggal dunia ternyata tidak menghadiri jenasahnya kecuali sangat sedikit, karena manusia benci dan ditancapkan didalam hati mereka oleh Allāh ﷻ perasaan tidak senang dengan ahlul bid’ah tadi.

Maka itu adalah sejarah singkat, biografi singkat tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 01

 

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 01 | Muqoddimah #01 Biografi Nama, Gelar, Nasab, Guru, Murid, dan Madzhab Penulis Kitab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.

Nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani.

Kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.

Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakobnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.

Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.

Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.

Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.

Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.

Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.

Diantara guru-guru beliau (disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi),

bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah

*Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah.

*Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada

*Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.

Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.

Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.

Kemudian Madzhab Beliau, Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah ini adalah seorang Hanbali, beliau tumbuh sebagai seorang Hanbali yaitu bermadzhab dengan madzhabnya imam Ahmad bin Hanbal, tapi apa yang dimaksud dengan Hanbali disini, apakah yang dimaksud beliau adalah orang yang fanatik sehingga tidak mengambil pendapat kecuali dari madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, jawabannya tidak, dinamakan dengan Hanbali karena beliau mengawali menuntut ilmu fiqihnya dengan mazhab Hanbali dan inilah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka menambahkan atau menisbahkan diri mereka kepada Syafi’i, Hanafi, Maliki, bukan berarti mereka ta’asub dan fanatik terhadap madzhab tersebut. Awal mereka menuntut ilmu adalah dengan mempelajari kitab-kitab Hanbali atau Syafi’i atau yang lain, cuma setelahnya ketika mereka sudah sampai pada marhalah tertentu, sampai pada tingkatan tertentu di situ mereka tidak melihat lagi ini madzhab fulan atau madzhab fulan tapi mereka melihat dalil, kalau pendapat tersebut itulah yang sesuai dengan dalil itulah yang mereka ambil.

Berkata adz-Dzahabi rahimahullāh “wa lahul āna ‘iddatussinīn lā yu’ti bimadzhabin mu’ayyan bal bima qāmaddalīlu alaihi ‘indah”, ini menceritakan tentang gurunya dan beliau yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah sekarang, ini Imam adz-Dzahabi berbicara tentang apa yang ada di masanya sudah beberapa tahun terakhir ini beliau tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tapi dengan pendapat yang sesuai dengan dalil menurut beliau, jadi bukan berfatwa berdasarkan madzhab Hanbali atau madzhab Syafi’i tapi berfatwa menjawab sesuai dengan apa yang menurut beliau lebih dekat dengan dalil. Sungguh beliau telah menolong sunnah secara murni dan menolong tharīqah salafīyyah yaitu menyebarkan manhaj salaf dan berhujah untuk menolong sunnah ini dan menolong manhaj salaf ini dengan berbagai bukti, berbagai muqaddimah, dengan berbagai perkara yang bukti-bukti tersebut atau alasan-alasan tersebut mungkin sebelum beliau belum ada yang menyebutkan atau menampakkan.

Ini menunjukkan tentang bagaimana manhaj Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, jadi memang beliau bertumbuh dan berkembang dan mungkin di sekitar beliau, lingkungan beliau rata-rata adalah bermazhab Hanbali cuma beliau bukan seorang yang ta’asub atau fanatik terhadap madzhab beliau, ta’asub dengan dalil. Adapun aqidah maka jelas aqidah beliau adalah aqidah para salafush sholeh dan ini kita lihat dari karangan-karangan beliau termasuk diantaranya adalah kitab yang insyaAllāh akan kita pelajari bersama yaitu Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, di situ kita akan melihat bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang Asma’ dan juga Sifat Allāh ﷻ, bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang sahaba dan InsyaAllāh nanti akan kita sebutkan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya yaitu tentang muqaddimah yang berkaitan dengan kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.

Karangan-karangan beliau, disebutkan oleh Adz-Dzahabi bahwasanya beliau pernah mencoba untuk mengumpulkan karangan-karangan gurunya Syaikhul Islām Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh, kemudian beliau menyebutkan mendapatkan seribu mushonnaf yaitu seribu karangan, tulisan dan ternyata setelah beliau mengumpulkan tulisan-tulisan Syaikhul Islām beliau setelah itu melihat karangan-karangan yang lain, menunjukkan begitu banyaknya tulisan-tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, beliau rahimahullāh termasuk orang yang banyak dibukakan oleh Allāh ﷻ pintu-pintu, pintu menulis, beliau orang yang kuat didalam menulis, pintu berdakwah, berjihad dengan tangannya dengan lisannya maka ini adalah Fadlullāh, keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki dan tidak semua dari kita dibukakan oleh Allāh ﷻ untuk banyak menulis.

Cuma yang perlu kita ingat kan disini menulis ini adalah perkara yang penting karena kalau kita menulis dan memiliki kitab, memiliki buku maka itu akan insyaAllāh lebih lama meskipun kita sudah meninggal dunia, namanya buku masih bisa di baca dan dibacakan dipelajari oleh orang lain. Adapun seseorang hanya berbicara saja apalagi tidak ada di sana rekaman maka ketika dia meninggal dunia hilang begitu saja, maka penting seseorang di sini menulis. Dan yang perlu diketahui di sini hendaklah seseorang menulis apa yang memang dibutuhkan oleh manusia artinya bukan hanya sekedar menulis dan punya buku tapi dia menulis sesuatu yang memang dibutuhkan.

Dan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak di dalam tulisan-tulisan termasuk di antaranya adalah aqidah wasithiyah ini, kenapa beliau menulis karena ada sebabnya dan nanti akan kita sebutkan sejarah bagaimana beliau menulis kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, permintaan dari seseorang yang dia tidak mau kecuali tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimmiyah padahal di sana banyak kitab-kitab aqidah sebelum masa Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Cuma orang yang tanya tadi tidak mau kecuali yang ditulis oleh Syaikhul Islam, akhirnya beliau pun mengabulkan permintaan tersebut.

Dan tulisan-tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikenal dengan bagusnya dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh syaikhul Islam adalah ungkapan-ungkapan yang baik dan susunannya juga sangat rapi kemudian juga dikenal beliau ini dengan taksimatnya yaitu dalam pembagian-pembagian ini luar biasa sehingga banyak para ulama para thulabul ‘ilm yang mereka bisa mengambil faedah dan banyak mengambil faedah dari pembagian pembagiannya. Dengan adanya pembagian sebuah masalah ternyata dia terbagi menjadi beberapa bagian, seseorang lebih jelas dan lebih praktis lebih paham sehingga dia tidak menyamakan sesuatu yang beda dan tidak membedakan sesuatu yang sama.

Dan ada yang mengatakan bahwasanya beliau bisa berbahasa Abriah, bahasa abriah ini adalah bahasa orang-orang Yahud dan juga bisa bahasa Latiniyyah ini dipahami dari sebagian ungkapan beliau yang di mana beliau menyatakan bahwasanya bahasa Abria ini dekat dengan bahasa Arab, ini sebagian memahami bahwasanya beliau berarti paham tentang lughah tentang bahasa Abriah.


Tentang sifat beliau syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari sisi akhlak beliau adalah seorang ulama yang pemurah, karīm, dan itu semua kemurahan tadi bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh beliau tapi sepertinya adalah sesuatu yang memang bawaan dari sejak kecil dan beliau adalah seorang pemberani bukan seorang pengecut, dan beliau adalah seorang yang zuhud di dalam dunia, tidak tergantung hatinya dengan sedikit pun dari dunia bahkan disebutkan bahwasanya beliau banyak meninggalkan perkara yang mubah, banyak meninggalkan perkara yang sebenarnya boleh karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan, dan tentunya ini semua menunjukkan tentang buah dari ilmu yaitu zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat dan bagaimana beliau meninggalkan perkara yang mubah karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.

Beliau Rahimahullāh semasa hidupnya berjihad dijalan Allāh ﷻ baik dengan lisannya, yaitu dengan berdakwah dengan lisannya dan juga dengan tulisannya, banyak menulis bagaimana jumlah tulisan-tulisan beliau dan beliau memerangi tentara Tartar dan mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan bahkan dalam peperangan-peperangan beliau senantiasa berada di shaf yang awwal. Ini menunjukkan bagaimana beliau sebagai seorang ulama bukan hanya sekedar bisa menulis, bisa memberikan pengarahan kepada manusia, tetapi beliau menjadi orang yang menjadi contoh bagi yang lain di dalam jihad fī sabīlillāh dan mendorong manusia untuk jihad memerangi orang-orang kuffar dan jihad yang dimaksud disini tentunya adalah jihad yang syar’i bukan jihad yang dipahami oleh sebagian orang-orang yang tersesat dari jalan Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 100 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud Bag 02 (Selesai)

Halaqah 100 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud Bag 02 (Selesai)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-100 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud

حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الحِلَقِ

Sampai beliau Abdullah bin Mas’ud mendatangi satu halaqah diantara halaqah-halaqah tadi, karena mungkin halaqahnya banyak, besar mesjidnya, kalau berbicara dengan semuanya mungkin tidak akan sampai, akhirnya didatangi satu halaqah saja

فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟

Apa ini yang sedang aku lihat kalian melakukannya, beliau ingin tahu apa yang menjadi sebab mereka melakukan perkara ini, tidak langsung menghukumi

قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ!

Mereka mengatakan wahai Abu Abdurrahman

حصًا

Ini adalah kerikil-kerikil, karena mereka bawa kerikil dalam masjid. Mereka mengatakan ini adalah kerikil kerikil yang kami menghitung dengannya

نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ

kami menghitung dengannya takbir tahlil dan juga tasbih, itu saja tidak ada yang lain

قَالَ

maka beliau mengatakan, barulah di sini beliau lebih yakin dengan apa yang dikatakan oleh Abu Musa Al Asy’ari, benar seperti yang diucapkan oleh Abu Musa, mereka menghitung takbir tahlil dan tasbih dengan kerikil kerikil tadi

قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ! فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ

maka hendaklah kalian menghitung kejelekan-kejelekan kalian saja, maka aku menjamin bahwasanya tidak akan hilang dari kebaikan kebaikan kalian sedikitpun. Apa yang tadi diucapkan kepada Abu Musa Al Asy’ari, beliau mengatakan kenapa engkau tidak mengucapkan, beliau langsung praktekkan, kalau memang tadi tidak sempat diucapkan oleh Abu Musa Al Asy’ari sekarang beliau praktekkan sendiri, beliau mengatakan kepada mereka

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ

Beliau yang mendorong dan beliau juga yang mengamalkan apa yang didakwahkan, hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, muhasabahlah kalian, dan jangan kalian menghitung kebaikan-kebaikan seperti ini, menghitung tahlil menghitung takbir menghitung tasbih karena aku menjamin bahwasanya kebaikan-kebaikan tersebut tidak akan sia-sia di sisi Allāh ﷻ, Allāh ﷻ akan menghitungnya, kalian tidak menghitung Allāh ﷻ yang menghitung, Allāh yang menghitungnya Allāh ﷻ yang mengumpulkannya dan mereka sudah melupakan yang demikian

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Ini beliau berbicara tentang perkara-perkara yang di luar syariat, adapun yang disyariatkan seperti 33 kali setelah shalat, takbir kemudian tasbih tahmid maka ini kita hitung karena memang disyariatkan adapun ini maka ini bukan perkara yang disyariatkan, seseorang menghitung-hitung takbirnya tasbihnya tahlilnya, zaman sekarang ada seperti alat untuk katanya tasbih digital menghitung berapa kali, ana takutnya masuk dalam perkara ini, lebih baik kita menghitung memuhasabah kesalahan kita daripada menghitung Hasanah tersebut dan yakinlah bahwasanya Hasanah tersebut tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ

Kemudian beliau memberikan nasehat, karena beliau tahu ini adalah perbuatan bid’ah

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Celaka kalian wahai umatnya Muhammad

مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ

Sungguh cepat kehancuran kalian, kemudian beliau menyebutkan bagaimana cepatnya

هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ

mereka para sahabatnya Muhammad ﷺ di antara kalian mutawāfirūn mereka masih banyak sekali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al Asy’ari dan juga para sahabat yang lain, mutawāfirūn ada di sekitar kalian yang kalian tahu bahwasanya mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ, harusnya tergerak hati kalian untuk bertanya kepada mereka karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Nabi ﷺ

وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ

dan ini pakaian-pakaian beliau belum rusak, pakaian Nabi Muhammad ﷺ belum rusak menunjukkan waktu yang sangat sebentar antara kematian Nabi ﷺ dengan kejadian saat itu, para sahabat belum pada meninggal mutawāfirūn masih banyak, berarti jarak antara kejadian tadi dengan meninggalnya Nabi ﷺ adalah jarak yang sebentar

وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ

dan bejana bejana beliau, gelas beliau atau yang digunakan untuk masak belum pecah, masih pada utuh, ini menunjukkan tentang masih pendeknya jarak antara kematian Nabi ﷺ dengan kejadian saat itu, kok sudah terjadi bid’ah, ini sangat keterlaluan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

Kemudian beliau memberikan nasehat kepada mereka, dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

Ini adalah dakwah beliau ingin mengingatkan mereka, dan lihat bagaimana pemahaman Abdullah bin Mas’ud dan bagaimana beliau membuat kata-kata yang tidak akan bisa mereka menjawabnya, seandainya mereka berusaha menjawabnya pasti di sana ada jawaban yang lain dari Abdullah bin Mas’ud yang intinya bahwasanya mereka salah, dan yang seperti ini adalah hibah dari Allāh ﷻ, membuat sebuah pertanyaan dan konsekuensi dari dua pertanyaan ini baik jawaban yang pertama maupun jawaban yang kedua menunjukkan tentang kesalahan dia

إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kalian ini berada di sebuah cara sebuah millah yang lebih benar, lebih mendapatkan petunjuk daripada millahnya Muhammad, itu pilihan yang pertama, karena yang kalian lakukan ini belum pernah kami lihat, yaitu kami para sahabat belum pernah melihat ini dilakukan oleh Nabi ﷺ, sekarang kami mengikuti Beliau ﷺ. Apakah kalian ini di atas cara yang lebih baik daripada caranya Muhammad ﷺ, itu yang pertama, atau yang kedua

مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

atau kalian ini sedang membuka pintu kesesatan, disuruh memilih antara dua ini, atau sedang membuka pintu kesesatan, karena Nabi ﷺ apa yang belia bawa ini adalah petunjuk bagi manusia, kalau mereka menjawab jawaban yang pertama tidak mungkin, kalau sampai mereka mengatakan iya petunjuk kami lebih baik daripada petunjuknya Muhammad ﷺ maka tidak mungkin itu diucapkan oleh mereka. Berarti tidak tersisa kecuali pilihan yang kedua dan ini tidak mungkin mereka mengucapkan juga, akhirnya mereka tidak bisa mengucapkan kecuali mengatakan, kan niat kami baik

قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! مَا أَرَدْنَا إِلَّا الخَيْرَ

Akhirnya mengatakan demi Allāh ﷻ wahai Abu Abdurrahman niat kami baik, tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan saja, itu saja yang kita inginkan, kita hanya ingin menunjukkan cinta kami kepada Nabi ﷺ, kami ingin memperbanyak dzikir kepada Allāh ﷻ, kan niat kami baik, tidak mungkin mereka menjawab salah satu diantara pilihan tadi, apa yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud dengan pemahaman beliau

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Dan berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, dia tidak mendapatkan kebaikan, kita masing-masing punya keinginan tapi tidak semua keinginan baik yang kita inginkan kita dapatkan. Ada orang ingin mendapatkan jabatan tertentu, dia ingin, punya keinginan tapi belum tentu dia kesampaian, ada orang ingin menjadi ulama tapi belum tentu dia kesampaian, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi dia tidak mendapatkan kebaikan tersebut, ini kalimat yang mereka pun juga memahami, iya betul tidak semua orang yang menginginkan sesuatu kemudian dia mendapatkan sesuatu tersebut, berarti kaidah ini ingin beliau sampaikan kepada mereka, kalian menginginkan kebaikan tapi kalian tidak mendapatkan kebaikan tersebut, kalian ingin mendapatkan pahala tapi kalian tidak mendapatkan pahala tersebut, karena cara yang kalian lakukan tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Ini adalah kata-kata yang sangat halus dari Abdullah bin Mas’ud, dengan kata-kata ini orang yang berakal maka dia akan memahami, dan ini menunjukkan bahwasanya niat yang baik itu tidak cukup, sebagaimana telah berlalu

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Ada a’malnya, tidak cukup dengan hanya memiliki niat yang baik saja, Allāh ﷻ melihat niat yang baik dan juga dzhahirnya

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا: أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ

Di saat itu beliau ingat apa yang pernah diceritakan oleh Nabi ﷺ, Beliau ﷺ pernah cerita kepada kami bahwasanya ada sebuah kaum, yaitu kelak akan datang sebuah kaum yang mereka membaca Al-Quran dan tidak sampai bacaan Quran tadi ke tenggorokan mereka, sudah kita sebutkan hadit- haditsnya.

Abdullah bin Masud dan para sahabat Nabi ﷺ secara umum, kalau Nabi ﷺ mengabarkan sesuatu yakin bahwasanya itu akan terjadi, mereka ingat-ingat terus, pas kejadian ini mereka langsung ingat apa yang mereka dengar dari Nabi ﷺ, jangan-jangan ini, jangan-jangan yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ itu adalah ini, orang yang membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, yaitu tidak dipahami dengan hatinya tapi mereka hanya memperbanyak tilawahnya secara lisannya saja

، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي

Demi Allāh ﷻ aku tidak tahu, karena beliau tidak bisa meyakinkan yang demikian, mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, yaitu sebagian besar yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ tadi, membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka, itu adalah dari kalian. Ini adalah firasat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau juga tidak menjazm, beliau tidak memastikan, beliau mengatakan lā adri aku tidak tahu mungkin sebagian besar dari mereka adalah dari kalian, karena beliau melihat, ini ada Abdullah bin Mas’ud, ada Abu Musa Al Asy’ari dan ada para sahabat yang lain kok berani-beraninya melakukan bid’ah, melakukan amalan yang tidak pernah di lakukan oleh Nabi ﷺ

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkan mereka, beliau hanya sebagai seorang ulama kewajiban beliau hanya sekedar menyampaikan adapun menta’zir, menghukum maka ini adalah haknya Abu Musa Al Asy’ari, kalau memang beliau mau menta’zir.

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ

Akhirnya beliau meninggalkan mereka

فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ

Berkata ‘Amr ibn Salamah, ini adalah yang mengikuti kejadian tadi, muridnya dari Abdullah bin Mas’ud

رَأَيْت عَامَّةَ أُولَئِكَ الحِلَقِ

Aku melihat seluruhnya orang-orang yang menghadiri majelis tadi, yang menghadiri halaqah-halaqah tadi menunjukkan ‘Amr ibn Salamah beliu juga mungkin orang kufah, sehingga beliau juga mengenal orang-orang tadi, mungkin ada diantara mereka yang tetangganya atau yang pernah membeli di sana dan seterusnya, beliau melihat siapa-siapa yang datang saat itu, beliau menceritakan aku melihat semua mereka ini ternyata mereka ini

يُطَاعِنُونَا

ternyata mereka memerangi kami dengan senjata mereka, melukai kami berusaha untuk membunuh kami

يَوْمَ النَّهْرَوَانِ

di hari nahrawan, ini adalah peperangan besar antara Ali bin Abi Thalib dengan orang-orang khawarij, itu dinamakan dengan nahrawan

مَعَ الخَوَارِج

ternyata mereka memerangi kami bersama orang-orang khawarij, adapun ‘Amr ibn Salamah maka beliau bersama Ali bin Abi Tholib dan juga tentaranya memerangi orang-orang khawarij tadi.

Dari sini diambil pelajaran, ternyata bid’ah yang kecil awalnya hanya sekedar bid’ah amaliah, lama-kelamaan, apa lagi di situ keadaan seperti yang tadi kita sebutkan belum lama, para sahabat masih banyak dan mereka tidak mau bertanya menunjukkan tentang khubutsnya mereka, buruknya hati mereka, betapa parahnya penyakit yang ada di dalam hati mereka, tidak ada penghormatan terhadap para sahabat, akhirnya terus mereka melakukan bid’ah amaliah tadi sampai akhirnya membawa mereka kepada bid’ah I’tiqadiah, bersama orang-orang khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Tholib.

Awalnya meremehkan sahabat, akhirnya mengkafirkan seorang sahabat dan mengkafirkan orang-orang yang bersama Ali bin Abi Tholib, sehingga mereka bersama orang-orang khawarij, dan ini menunjukkan dari bid’ah yang kecil tadi akhirnya menghalalkan darah orang lain. Dan demikian syaithan, diajak untuk melakukan bid’ah lama-kelamaan di berikan wahyu diberikan was-was, bahwasanya orang yang tidak melakukan seperti yang anda melakukan berarti dia keluar dari agama Islam, kalau dia keluar dari agama Islam maka halal darahnya.

Dan demikian ahlul bid’ah awalnya adalah dari bid’ah yang kecil kemudian merembet dan berkembang menjadi bid’ah yang yang besar. Ini tentunya tahdzir dari bid’ah itu sendiri, jangan kita meremehkan, ah kan cuma mengikuti tahlilan saja tidak masalah, kan cuma menghadiri maulid Nabi ﷺ saja, tidak bisa kita meremehkan yang demikian, dari bid’ah yang kecil itulah dikawatirkan nanti akan berkembang menjadi bid’ah yang besar.

Disini beliau mengatakan Wallāhu a’lam bishshawab shallallahu ala muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam tasliman katsiran ilā yaumiddīn, dan Allāh-lah yang lebih mengetahui tentang kebenaran dan semoga shalawat atas Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya dan para sahabatnya dan juga keselamatan dengan keselamatan yang banyak sampai hari kiamat.

Dengan demikian kita menyelesaikan kitab yang sangat bermanfaat ini yaitu Fadhlul Islam, semoga Allāh ﷻ memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan membalas Mu’allif Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dengan balasan yang lebih baik. Wallāhu ta’ala a’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

Halaqah 99 | Pembahasan Dalil Terakhir Atsar Ibnu Mas’ud

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Atsar yang terakhir yang disebutkan oleh beliau didalam bab ini, dan ini adalah atsar yang terakhir dalam kitab ini yaitu atsar dari Abdullah bin Mas’ud

وَقَالَ الدَّارِمِيُّ

Berkata ad-Darimiy yaitu didalam sunannya

أَخْبَرَنَا الحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ، أَنبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ

Berkata ad-Darimiy, telah mengabarkan kepada kami Al-Hakam ibnul mubarok, telah mengabarkan kepada kami ‘Amr ibn Yahya, beliau mengatakan aku mendengar bapakku menceritakan dari bapaknya, berarti kakek dari ‘Amr ibn Yahya. Ini adalah lafadz yang disebutkan oleh ad-Darimiy.

Kemudian beliau mengatakan

قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ

Beliau menceritakan kami sedang duduk

عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kami sedang duduk di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud, berati bukan hanya sendiri saat itu, dia dan juga para thullabul ‘ilm yang lain duduk bersama di depan pintunya Abdullah bin Mas’ud

قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ

yaitu sebelum datangnya waktu shalat subuh, sebelum shalat subuh mereka sudah menunggu di depan rumahnya Abdullah bin Mas’ud ingin mengambil faedah dari perjalanan beliau dari rumahnya menuju ke masjid

فَإِذَا خَرَجَ؛ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى المَسْجِدِ

Apabila beliau keluar maka kami biasanya berjalan bersama beliu menuju ke masjid, tentunya dengan dhawabit yang disebutkan Syaikh Sholeh al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala, jangan sampai kita mentaḥrij beliau sehingga justru malah menyusahkan beliu dalam berjalan, seharusnya bisa berjalan lancar dengan cepat justru karena saling berdesak-desakan malah justru bukan menghormati beliau tapi menghinakan ‘alim tersebut, sendalnya copot misalnya, sampai jatuh, kesandung-sandung, ini bukan ihtirām tapi justru ihana kepada ‘alim tersebut

فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

kemudian ketika kami dalam keadaan seperti itu datanglah Abu Musa Al Asy’ari, dan Abu Musa Al Asy’ari saat itu adalah sebagai Hakim, beliau sebagai Amir dan Abdullah bin Mas’ud sebagai ‘ālimnya, muftinya, dua-duanya adalah dua sahabat Nabi ﷺ, di kufah maka Abu Musa sebagai amirnya dan Abdullah bin Mas’ud di sini sebagai Muftinya.

Datang amir ini, gubernurnya datang sebelum subuh ke rumah Abdullah bin Mas’ud kemudian dia bertanya

فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟

Apakah Abu ‘Abdurrahmān sudah keluar kepada kalian, berarti Abu Musa Al Asy’ari tahu kebiasaan murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud di waktu tersebut, yaitu menunggu keluarnya Abdullah bin Mas’ud dan ini menunjukkan bahwasanya Amir tadi juga bangun sebelum subuh, ini zaman yang penuh dengan kebaikan saat itu, baik hukkamnya mahkumnya semuanya di atas ketakwaan kepada Allāh ﷻ

قُلْنَا: لَا

kami mengatakan belum keluar

فَجَلَسَ مَعَنَا

maka Abu Musa Al Asy’ari ikut duduk bersama kami, bukan terus misalnya gedor pintu karena beliau adalah gubernur kemudian semaunya saja membangunkan orang atau menyuruh orang lain keluar, tidak. Tawadhu’nya beliau, beliau juga ikut menunggu bersama murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud

فَجَلَسَ مَعَنَا

beliau pun duduk bersama kami menunjukkan keutamaan Abu Musa Al Asy’ari

فَلَمَّا خَرَجَ؛ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا

maka ketika beliau keluar akhirnya kami menyambut beliau semuanya, قُمْنَا إِلَيْهِ maksudnya berdiri kepada beliau, berarti berjalan menuju beliau, ini tidak masalah, yang dilarang kalau sampai alqiyāmu lahu, berdiri karena beliau.

Misalnya ada orang berjalan, dianggap dia adalah orang yang terhormat, sebelumnya kita duduk kemudian kita berdiri lahu ini tidak boleh, tapi kalau alqiyamu ilaihi, bangun ilaihi maksudnya menyambut beliau tidak masalah, kita sedang duduk di rumah kalau ada tamu kita berdiri menyambut beliau di pintu tidak masalah.

Mereka akhirnya berdiri ilaihi, yaitu bangun menuju kepada Abdullah bin Mas’ud

فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى

maka berkata kepadanya Abu Musa

يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! إِنِّي رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ

Wahai Abu Abdurrahman, kunyah dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid, berarti sebelumnya Abu Musa Al Asy’ari seorang gubernur di waktu tersebut berada di dalam masjid, aku melihat di sana ada sebuah perkara yang aku ingkari, maksudnya adalah tidak pernah aku melihatnya baik bersama Rasulullāh ﷺ, bersama kalian wahai para sahabat, أَنْكَرْتُهُ aku tidak pernah melihat yang demikian

وَلَمْ أَرَ – وَالحَمْدُ لِلَّهِ – إِلَّا خَيْرًا

dan Alhamdulillah aku tidak melihat kecuali kebaikan, Abu Musa Al Asy’ari tidak ada melihat di sana orang yang main musik atau orang yang minum-minuman keras di waktu sebelum subuh tadi tapi mereka di dalam mesdjid dalam keadaan beribadah, ini menunjukkan bagaimana kesungguhan diwaktu seperti itu mungkin jam 2, jam 1, mereka dalam keadaan berkumpul di mesjid melakukan ibadah tadi

قَالَ: فَمَا هُوَ؟

Abdullah bin Mas’ud mengatakan فَمَا هُوَ apa yang engkau lihat tadi

فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ

Abu Musa mengatakan kalau engkau masih hidup niscaya engkau akan melihat yang demikian, ini menunjukkan bagaimana ketergantungan para sahabat Nabi ﷺ sampai perjalanan dari rumah menuju mesjid tidak yakin kalau itu mereka masih bisa hidup sampai sana, sehingga mengatakan إِنْ عِشْتَ kalau engkau masih hidup engkau akan melihatnya. Bagaimana mereka terus memikirkan al-maut sehingga tidak yakin bahwa dia akan masih dalam keadaan hidup meskipun hanya jaraknya dekat antara rumah dengan masjid.

قَالَ: رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Maksud ucapan beliau ini إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ maksudnya engkau akan melihat sendiri bagaimana hakikatnya, hakikat dari apa yang aku lihat tadi, kemudian beliau menceritakan gambaran, inilah yang aku lihat tadi

رَأَيْتُ فِي المَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا

Aku melihat di dalam mesjid sebuah kaum yang mereka membuat halaqah-halaqah, lingkaran-lingkaran جُلُوسًا mereka membuat lingkaran dalam keadaan mereka duduk, bukan dalam keadaan berdiri tapi dalam keadaan duduk dan melingkar dan itu ada beberapa halaqah

يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ

mereka dalam keadaan menunggu shalat (subuh)

فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُل

di dalam setiap halaqah tadi ada seseorang laki-laki, dianggap dia adalah sebagai pemimpinya

وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا

dan di dalam tangan-tangan mereka ada kerikil-kerikil

فَيَقُولُ

kemudian laki-laki yang ada di dalam setiap halaqah tadi yang di jadikan pemimpin dia mengatakan

كَبِّرُوا مِائَةً

Hendaklah kalian bertakbir 100 kali

فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً

akhirnya yang lain yang ada di halaqah tadi mengucapkan takbir 100 kali sesuai dengan aba-aba yang diucapkan oleh laki-laki tadi dan mereka menghitungnya dengan kerikil-kerikil tadi, Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar Allāhu Akbar dan seterusnya masing-masing sudah punya hitungan sendiri-sendiri

فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan هَلِّلُوا مِائَةً hendaklah kalian bertahlil 100 kali

فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً

kemudian mereka mengucapkan lāilāhaillallāh 100 kali

وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً

kemudian dia mengatakan hendaklah kalian bertasbih 100 kali

فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً

kemudian mereka bertasbih 100 kali

قَالَ: «فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Ketika mendengar kisah ini maka Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa, karena beliau yang melihat dan beliau sebagai Amir kūfah

فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟

Apa yang engkau ucapkan kepada mereka, sebagai seorang Amir sebagai seorang pemimpin

قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ

Aku tidak mengucapkan bagi mereka sesuatu apapun karena menunggu pendapatmu, ini menunjukkan kehati-hatian Abu Musa Al Asy’ari, karena beliau melihat di situ tahlil takbir tasbih, mereka bukan main musik di masjid bukan minum minuman keras tapi mereka melakukan ibadah maka beliau menunggu pendapat dari Abdullah bin Mas’ud.

Yang menjadi sesuatu yang sangat disayangkan di sini, lihat bagaimana meremehkannya mereka terhadap sahabat Nabi ﷺ, di situ ada Abu Musa Al Asy’ari, orang yang pernah bertemu dengan Rasulullāh ﷺ, ada di masjid tersebut dan mereka berani untuk membuat bid’ah di dalam agama, kenapa mereka tidak bertanya kepada Abu Musa apakah demikian dulu Nabi ﷺ, apakah demikian dulu para sahabat Nabi ﷺ, ini menunjukkan di dalam hati mereka ada marādh (penyakit), menganggap remeh para sahabat Nabi ﷺ, nanti akan sampai bagaimana akibat dari bid’ah yang kecil ini

قَالَ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ

Apakah engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kejelekan-kejelekan mereka, daripada mereka melakukan amalan-amalan tadi menghitung tasbih 100 kali takbir 100 kali tahlil 100 kali kenapa tidak ditunjukkan kepada sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, yaitu muhasabah diri mereka, menghitung kejelekan-kejelekan mereka, menghitung dosa-dosa

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

Dan engkau menjamin bagi mereka bahwasanya tidak akan hilang kebaikan mereka sekecil apapun. Seandainya antum tidak menghitung shalat fardu yang selama ini antum lakukan dari semenjak baligh sampai sekarang, antum lupa berapa kali antum shalat fardhu, seandainya antum lupa berapa kali antum mengucapkan lailahaillallāh sejak pertama kali antum mengucapkan sampai sekarang, hilang tidak pahalanya, tidak.

Kalau kita tidak menghitung kebaikan-kebaikan tersebut jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ tidak akan dihilangkan oleh Allāh ﷻ, makanya di sini disebutkan

وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ

seandainya kita tidak menghitung 100, 1000 atau berapa kali kita melakukan amal shaleh tersebut jangan khawatir, Allāh ﷻ tidak akan menghilangkan, tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh tersebut. Ini lebih bermanfaat, jadi yang lebih bermanfaat seseorang adalah memuhasabah, menghitung kejelekan-kejelekan yang sudah dia lakukan, berapa kali ana melakukan dosa ini sehingga dengan dia mengingat dosanya dan semakin banyak dia mengingat dosanya semakin dia merasa takut, semakin dia memperbanyak istighfar, ini yang bermanfaat bagi seseorang, bukan dengan menghitung kebaikan-kebaikan tadi.

Ini menunjukkan fiqh dari Abdullah bin Mas’ud, yang lebih bermanfaat bagi mereka yaitu memuhasabah diri menghitung dosa-dosanya, adapun kebaikan-kebaikan tadi maka jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ

ثُمَّ مَضَى

akhirnya beliau berjalan menuju ke masjid

وَمَضَيْنَا مَعَهُ

Dan kamipun berjalan bersama beliau, ingin tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan oleh ālim kūfah kepada orang-orang tadi, ini diantara faedah melazimi seorang ālim, dia tahu apa yang terjadi, coba seandainya dia tidur di rumahnya tidak tahu apa yang terjadi, dan dia bisa mengambil faedah apa yang terjadi pada Abu Musa Al Asy’ari, tawadhu’nya beliau dan apa ucapan atau percakapan antara Abu Musa Al Asy’ari dengan Abdullah bin Mas’ud dan apa yang terjadi sebelum subuh, ini menunjukkan berkahnya waktu tersebut sehingga bisa disampaikan kisah ini kepada kita, seandainya Amr bin Salamah dan juga yang lain ini mereka dalam keadaan terlelap dengan selimutnya maka mungkin kisah ini tidak akan sampai kepada kita, tapi mereka adalah kaum yang memang Allāh ﷻ berikan kepada mereka keutamaan yang besar dan keutamaan yang banyak.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 98 | Pembahasan Dalil Kedua Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman

Halaqah 98 | Pembahasan Dalil Kedua Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-98 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَعَنْ حُذَيفَةَ، قَالَ: «كُلُّ عِبَادَةٍ

Dan dari Hudzaifah semoga Allāh ﷻ meridhai beliau, beliau mengatakan setiap ibadah

لَا يَتَعَبَّدَهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا

setiap ibadah yang tidak pernah melakukan ibadah tadi para sahabat Rasulullāh ﷺ,

فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا

maka janganlah kalian beribadah dengan ibadah tersebut, bercerminlah kepada para sahabat radhiallāhu anhu, jangan kita hanya mengandalkan dalil-dalil yang umum yang bisa dibawa ke sini, ke sana, tapi kita harus kembali kepada apakah ibadah ini pernah dilakukan oleh para sahabat. Kalau memang pernah mereka lakukan, ihmadullāh, berarti boleh kita melakukan ibadah tadi karena inilah yang dipahami oleh para sahabat Nabi ﷺ, kalau tidak فَلَا تَتَعَبَّدُوهَا kalau tidak maka jangan kalian sekali-kali melakukan ibadah tadi.

Maulud Nabi ﷺ misalnya, mungkin sebagian orang mendatangkan banyak dalil

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِ

Atau dalil-dalil umum yang lain yang ingin menjelaskan kepada kita tentang pentingnya mencintai Nabi ﷺ. Langsung kita kembali kepada zaman para sahabat radhiallāhu ta’ala anhum, dan kita semuanya sepakat tidak ada yang lebih mencintai Nabi ﷺ dari pada para sahabat, cinta mereka sangat mendalam ditunjukkan oleh bagaimana pengorbanan mereka dan kisah-kisah mereka yang sangat menyentuh dan mengharukan dalam memperjuangkan dan membela Nabi ﷺ.

Ternyata tidak ada diantara mereka yang merayakan kelahiran Rasulullāh ﷺ, maka setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat jangan kita beribadah dengan ibadah tersebut

فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخَرِ مَقَالًا

karena sesungguhnya yang pertama, maksudnya adalah para sahabat Nabi ﷺ, mereka tidak meninggalkan untuk yang terakhir, yaitu untuk orang-orang yang datang setelahnya, مَقَالًا yaitu kesempatan untuk membuat ibadah yang baru, kurang lebih demikian.
Kalau memang itu disyariatkan, yakin sudah dilakukan oleh para sahabat. Mereka ini orang-orang pilihan, dipilih oleh Allāh ﷻ untuk menimba agama ini, menyampaikan kepada orang-orang yang datang setelah mereka dan dipilih oleh Allāh ﷻ untuk mengamalkan apa yang datang dari Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang yang getol di dalam beramal, meskipun mereka mungkin memiliki ilmu yang sedikit tapi mereka mengamalkan yang sedikit tadi.

Semakin banyak ilmunya semakin mereka beramal, dan apa yang disebutkan oleh Abu Abdurrahman as-Sulami

حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزها حتى يَتعلمُوا مَا فِيهَا مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَال فَتعَلمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جميعا

Telah mengabarkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kami Al-Qur’an diantara para sahabat Nabi ﷺ, seperti Utsman, Ubay, Abdullah ibn Mas’ud, mereka mengabarkan kepada kami bagaimana cara mereka dahulu menuntut ilmu. Dahulu mereka apabila mempelajari 10 ayat dari Nabi ﷺ, 10 ayat saja, maka mereka tidak melewati 10 ayat tadi sampai mereka mempelajari maknanya dan juga mengamalkan isinya, mereka tanya kalau memang ini mereka tidak tahu maknanya, sampai mereka benar-benar paham kemudian mereka amalkan, kalau sudah baru berpindah meminta kembali sepuluh ayat yang lain.

Itulah kaum tersebut yaitu para sahabat Nabi ﷺ, sehingga kalau demikian jangan kita mengira mereka meninggalkan kepada kita kesempatan untuk membuat bid’ah yang yang baru, semua sudah mereka terangkan semua sudah mereka amalkan. Tinggal kita bercermin saja, kalau diamalkan oleh para sahabat Nabi ﷺ, amalkan, tidak masalah, kalau tidak pernah diamalkan oleh mereka maka jangan kita beribadah dengan amalan tersebut.

Maka tentunya ini adalah tahdzir dari bid’ah, ucapan Hudzaifah ini adalah tahdzir dari membuat bid’ah di dalam agama

فَاتَّقُوْا اللَّهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءَ!

Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ wahai orang-orang yang qurrā’, dan yang dimaksud dengan qurrā’ di sini bukan istilah qurrā’ yang ada di zaman kita. Qurrā’ di zaman para sahabat radhiallāhu ta’ala anhum mereka adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan Al-Quran dan mengamalkan isinya, itulah qurrā’ dan mereka adalah ulama, ulama yang ‘āmilīn. Adapun qurrā’ di zaman sekarang maka ini adalah istilah bagi orang yang suaranya bagus atau mereka memiliki qiro’at, maka dikatakan dia sebagai seorang qari’ atau seorang qurrā’.

وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

Dan hendaklah kalian mengambil jalan orang-orang sebelum kalian, maksudnya adalah para sahabat Rasulullāh ﷺ, jangan kalian mengambil jalan yang lain

خُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

ambillah jalan orang-orang sebelum kalian. Ini nasihat beliau khusus kepada para qurrā’ dan maksudnya disini bukan berarti yang harus untuk mengikuti jalan para sahabat adalah qurrā’ saja.

Kenapa di sini beliau berbicara kepada qurrā’, karena mereka dicontoh oleh manusia. Kalau mereka Istiqomah di atas ilmu, di atas amal maka mereka akan melesat jauh ke depan karena mereka berilmu dan beramal dan orang yang berilmu dimudahkan oleh Allāh ﷻ jalan-jalan kebaikan

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

akan dimudahkan jalan menuju surga

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

kalau kalian Istiqomah maka kalian akan mendahului mereka dan melesat dengan jarak yang sangat jauh, tapi kalau sampai kalian tersesat menyimpang dari jalan yang lurus maka sungguh kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh.

Makanya beliau memberikan nasehat ini kepada qurrā’ bukan berarti ini khusus bagi mereka tapi kedudukan mereka yang dicontoh dan diteladani oleh manusia, kalau sampai mereka menyimpang ini di belakang mereka banyak orang yang meniru mereka akhirnya mereka ikut menyimpang

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً؛ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ إلى يوم القيامة، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Beliau mengatakan disini

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Diriwayatkan atsar ini oleh Abu Dawud, tapi kalau kita kembali ke kitab Sunan Abi Dawud kita tidak menemukan yang demikian. Allāhu a’lam dan kita sudah berusaha untuk mencari, tidak kita dapatkan, apakah itu adalah sahwun dari muallif dan juga yang lain atau memang di sana ada nuskhah sunnan Abi Dawud yang di situ ada penyebutan atsar ini, tapi maknanya shahih (benar) tidak bertentangan dengan pondasi di dalam agama kita.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13-Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

Halaqah 97 | Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 02

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-97 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian setelah itu Beliau ﷺ mengatakan

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

maka sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang ilmu yang ghaib, menunjukkan tentang tanda kenabian Beliau ﷺ, akan terjadi perselisihan, tafarruq, perpecahan umat, dan perpecahan di sini bukan perpecahan yang qalīlan tapi disifati oleh Beliau ﷺ dengan ikhtilāfan katsīran, banyak sekali perselisihan yang membingungkan manusia, semakin banyak perselisihan semakin membuat mereka bingung.

Yang ini mengajak, yang itu menyuruh, yang ini mengiming-imingi, di kelompok ini ada si fulan dan mereka adalah orang-orang yang dikenal dan dia tahu, dalam keadaan dia bingung, tidak tahu mana yang harus dipilih dan apa yang harus dilakukan, tapi Nabi ﷺ memberikan petunjuk, bagaimanapun banyak perselisihan tadi tenang, karena Beliau ﷺ memberikan petunjuknya dan itu adalah jalan keselamatan yang kita yakini dengan seyakin-yakinnya.

Beliau ﷺ mengatakan

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku, ini adalah jalan keluar, kalau terjadi perselisihan yang banyak maka tidak usah kita ke mana-mana jalan keluarnya adalah dengan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ, dan sunnah Beliau ﷺ maksudnya adalah agama Beliau ﷺ yaitu berpegang teguh dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Maka inilah jalan keluar, bukan jalan keluarnya seperti dilakukan oleh sebagian mengatakan bahwasanya semua jalan-jalan tadi adalah benar, silakan antum mau mengambil yang ini atau yang itu semuanya adalah benar, atau jalan keluarnya kita saling memberikan udzur satu dengan yang lain di dalam apa yang kita perselisihkan, tidak usah mengatakan bahwasanya itu adalah aliran sesat, tidak usah mengingatkan manusia bahwasanya ini adalah aliran yang tidak benar, sudahlah kita saling memberikan unsur satu dengan yang lain, dengan demikian kita akan bersatu. Ini seakan-akan adalah solusi banyak orang yang tertipu dengan kalimat persaudaraan, tertipu dengan kalimat persamaan, dan itu ternyata bukan bukan solusi.

Kalau demikian caranya, termasuk diantaranya adalah presidensial kita antara muwahhidin dengan musyrikin, antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah, dibiarkan dan didiamkan, maka ini yang pertama kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan tentunya ini adalah menyelisihi apa yang diperintahkan di dalam Al-Quran maupun di dalam as-sunnah. Kalau kita diam membiarkan kesyirikan, membiarkan kebid’ahan maka berarti kita meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allāh ﷻ dan Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Dan dengan amar ma’ruf nahi mungkar kita menjadi umat yang terbaik,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

dan dengannya kita selamat

إِلَّا قَلِيلٗا مِّمَّنۡ أَنجَيۡنَا مِنۡهُمۡۗ

dan dengannya seseorang mendapatkan al-falah di dunia maupun di akhirat

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

[Aali Imrān: 104]

Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Dan ini adalah sifat orang-orang yang beriman sebagaimana dalam Al-Quran

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

[ At Taubah التوبة:71]

Ketika didiamkan kebid’ahan tadi, kesyirikan tadi berarti dia memadamkan syiar amar ma’ruf nahi mungkar, dan ini adalah sebab turunnya laknat Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ
بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ

[Al-Maidah 78-79]

Mereka dahulu tidak saling melarang dari kemungkaran.

Bukan itu cara penyelesaiannya dan bukan itu cara menyatukan umat. Caranya adalah dengan yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ di sini, kalau memang terjadi perselisihan ayo kita

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Tidak usah berselisih, kita semuanya kembali kepada sunnah Rasulullāh ﷺ, berpegang dengan Islam yang murni yang dibawa oleh Beliau ﷺ. Inilah cara untuk mengatasi perselisihan tadi, kita kembali kepada jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi ﷺ. Yang melenceng ke kanan kembali ke tengah, yang melenceng ke kiri kembali ke tengah, dengan demikian kita akan berkumpul dan bersatu di tengah, di jalan Nabi ﷺ kemudian kita jalan bareng, itulah cara bersatu yang benar.

Ada pun membiarkan mereka diatas subul (jalannya) masing-masing maka ini membiarkan mereka di atas kesesatan, mendiamkan kemungkaran yang ada pada diri mereka. Ini bukan penyelesaian, bahkan dengan sebab ini mereka akan mendapatkan kehinaan, musuh akan menganggap remeh mereka.

Disebutkan dalam hadits, apabila kalian sudah saling berjual beli dengan ‘inah, salah satu jenis jual beli riba, dan kalian mulai memegang ekor-ekor sapi, maksudnya adalah sibuk dengan dunia kalian, dan kalian meninggalkan jihad fīsabilillāh, termasuk diantara jihad adalah jihad bil ‘ilm (dengan cara dakwah), maka ini adalah sebab Allāh ﷻ akan menjadikan, menguasakan kepada kalian dzullan, yaitu kehinaan, karena tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar.

Maka kita akan diliputi oleh kehinaan, kerendahan, dan Allāh ﷻ tidak akan mengangkat kerendahan dan kehinaan tadi sampai kalian kembali kepada agama kalian, kembali setelah sebelumnya kalian menjauh dari jalan yang lurus yang ditempuh oleh Nabi ﷺ, kembali kepada jalan yang lurus, kembali kepada Islam yang murni, itulah cara bersatu

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku

وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ

sunnah para khulafā’ yang mereka disifati, yang pertama rāsyidīn maksudnya adalah orang yang berilmu lurus dengan sebab ilmu yang mereka miliki, kemudian al-mahdiyyīn mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Ilmu yang mereka miliki mengantarkan mereka untuk mengamalkan, oleh karena itu khulafā’ ar rāsyidīn al-mahdiyyīn terkumpul di dalam diri mereka ilmu dan juga amalan dan ini adalah sesuatu yang jarang. Jarang seorang pemimpin dia sekaligus sebagai seorang yang ‘alim dan sekaligus dia adalah seorang yang ‘āmil ini adalah perkara yang jarang, biasanya seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, tidak memiliki ilmu atau memiliki ilmu sedikit, mengamalkan juga seadanya, sibuk dengan urusan dunianya.

Tapi kalau seorang pemimpin sampai terkumpul di dalamnya ilmu yang luar biasa dan juga mereka adalah orang yang sangat mengamalkan ilmunya maka inilah orang-orang yang pilihan, dan demikian sifat para khulafā’ur rāsyidīn al-mahdiyyīn, mereka adalah Abu bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali. Kalau kita kembali kepada sirah mereka kita, dapatkan tentang ilmu mereka yang dalam di dalam masalah agama dan amal juga demikian.

Maka kita disuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka, sunnah mereka adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnah Rasulullāh ﷺ. Itulah jalan hidup para khulafā’ur rāsyidīn, jalan hidup mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ. Jangan dipahami bahwasanya mereka punya sunnah sendiri selain dari sunnah Nabi ﷺ, bahkan sunnah mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullāh ﷺ.

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan sama aku lihat lah

تَمَسَّكُوا بِهَا

Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya, تَمَسَّك yaitu dengan tangan kalian

وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

dan gigitlah sunnahku tadi dengan gigi geraham kalian. تَمَسَّكُوا kita disuruh untuk memegang, tidak melepaskannya, ditambah lagi lebih menguatkan bukan hanya sekedar dipegang tapi juga digigit dan digigitnya bukan dengan sembarang giginya tapi dengan gigi geraham.

Maka ini adalah penguatan setelah penguatan, disuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ dan ini adalah bisa kita pahami dari perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah, peringatan dari melakukan bid’ah. Kita harus pegang, kita harus gigit jangan sampai kita berpaling kemudian kita lepaskan dan lebih kita memilih melakukan bid’ah di dalam agama, kita harus kuat didalam memegang sunnah ini.

Kemudian yang kedua

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, dan kalimat wa iyyākum maknanya adalah tahdzir, hati-hati, menunjukkan bahwasanya perkara yang setelahnya adalah perkara yang jelek yang bisa membahayakan kita, sehingga Nabi ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati kalian, waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, yaitu perkara yang baru, tidak ada di dalam sunnah Nabi ﷺ itu namanya مُحْدَثَات

Disana ada agama Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, disana ada perkara yang baru yang datang setelah agama Islam tadi, dinamakan dengan مُحْدَثَات الأُمُور. Beliau ﷺ mengatakan wa iyyākum, hati-hati, ini adalah segi yang kedua menunjukkan tentang tahdzir dari bid’ah, peringatan dari bid’ah itu sendiri.

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Karena sesungguhnya setiap sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, tidak dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah, segala sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ dan juga para sahabatnya khususnya para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

dan setiap bid’ah maka itu adalah sesat dan di dalam riwayat yang lain wa kulla dholālatin finnār dan setiap yang sesat itu tempat kembalinya di neraka, tentunya ini adalah juga tahdzir dari bid’ah.

Segi yang ketiga karena Nabi ﷺ mensifati bid’ah ini adalah sebuah kesesatan, berarti dari tiga sisi, minimal pertama dari sabda Beliau ﷺ

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

kemudian yang kedua adalah dari ucapan Beliau ﷺ

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

kemudian dari ucapan Beliau ﷺ

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

semuanya adalah ta’kid diatas ta’kid, penguatan dan penguatan selanjutnya tentang peringatan dari bid’ah, dan mungkin saja bisa dimasukkan di dalam kalimat

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

hendaklah kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ, masuk di dalamnya adalah menjauhi bid’ah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dan di sana ada imam-imam yang lain juga yang meriwayatkan hadits ini, dan termasuk diantaranya adalah Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan (Rahimahullahu Ta’ala)

بَابُ التَّحْذِيرِ مِنَ البِدَعِ

Bab tahdzir, peringatan, dari bid’ah-bid’ah.

Kembali beliau disini membuat sebuah bab yang mengingatkan kita tentang bahayanya bid’ah dan bahwasanya Nabi ﷺ dahulu beliau memperingatkan umat dari bid’ah, demikian pula para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, manhaj mereka sama, memperingatkan manusia dari bid’ah.

Dan pada bab-bab yang sebelumnya beliau rahimahullah telah membuat bab yang isinya juga peringatan dari bid’ah, menyebutkan tentang bahaya bid’ah, bahwasanya bid’ah lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar, maka ini adalah termasuk diantara peringatan, peringatan dengan menyebutkan bahaya dari dosa bid’ah tadi sehingga dia lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.
Demikian pula beliau membuat bab bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi pintu taubat dari shahibul bid’ah dan ini telah berlalu ketika beliau menyebutkan tentang bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi taubat bagi orang yang melakukan bid’ah, tentunya ini di dalamnya ada peringatan dari perbuatan bid’ah itu sendiri.

Maka di akhir kitab ini beliau ingin menguatkan kembali, yang sudah kita sampaikan di awal bahwasanya di dalam kitab ini syaikh ingin memprioritaskan, mengkonsentrasikan tentang masalah syahadat anna muhammadan rasulullāh dan bahwasanya konsekuensinya adalah seseorang berpegang teguh dengan sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Berbicara tentang Islam diawal, ingin sampai kepada keyakinan bahwasanya diantara Islam adalah menyerahkan diri didalam masalah tata cara ibadah sehingga diakhir kitab ini beliau ingin membawakan sebagian dalil yang isinya adalah peringatan dari bid’ah, dan beliau di sini sebutkan sedikit saja karena ini hanyalah sebagai penguat sedangkan dalil-dalil yang sebelumnya itu sudah banyak disebutkan oleh beliau tentang bahaya bid’ah itu sendiri.

Beliau mengatakan

عَنِ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ

Dari ‘Irbād ibn Sāriyah radhiallahu anhu

قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً

‘Irbād ibn Sāriyah mengatakan telah memberikan مَوْعِظَة kepada kami, telah memberikan nasihat kepada kami Rasulullāh ﷺ dengan sebuah nasehat yang sangat dalam, yang langsung mengena hati para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, dan Allāh ﷻ dialah yang menyuruh Nabi-Nya ﷺ untuk memberikan مَوْعِظَة, dan hendaklah engkau Muhammad memberikan مَوْعِظَة kepada mereka, dan disifati مَوْعِظَة Rasulullāh ﷺ saat itu adalah مَوْعِظَة yang بَلِيغَة yaitu مَوْعِظَة yang sangat dalam dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati manusia dan tentunya diiringi dengan keikhlasan kepada Allāh ﷻ karena ini adalah perintah dari Allāh ﷻ, Dia-lah yang memerintahkan beliau untuk memberikan مَوْعِظَة kepada orang-orang yang beriman.

وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ

Dengan sebab مَوْعِظَة yang dalam tadi akhirnya مَوْعِظَة yang ikhlas dengan kata-kata yang penuh dengan makna sampai kepada hati mereka sehingga menggetarkan hati mereka

وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُونُ

Disamping itu مَوْعِظَة yang dalam tadi juga memberikan pengaruh terhadap mata mereka sehingga bercucuranlah air mata para sahabat radhiallahu a’ala nhum yang mendengar مَوْعِظَة dari Nabi ﷺ saat itu. Ini menunjukkan tentang bagaimana مَوْعِظَة yang dalam yang diberikan oleh Nabi ﷺ saat itu kepada para sahabat radhiallahu anhu

قلنا يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka mengatakan wahai Rasulullāh ﷺ

كَأَنَّها مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ

Sepertinya ini adalah nasehat, arahan, مَوْعِظَة, peringatan dari orang yang akan berpisah, مُوَدِّع artinya adalah orang yang akan berpisah, orang yang akan meninggalkan kita. Orang yang akan meninggalkan maka dia akan berpesan dengan pesan yang menurut dia adalah pesan yang paling penting, mereka mencerna dari ucapan-ucapan Nabi ﷺ di sini bahwasanya beliau akan segera meninggalkan mereka, akan meninggal, akan meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum.

Inilah yang mereka pahami dari مَوْعِظَة nya Nabi ﷺ, karena Beliau ﷺ mereka merasakannya adalah orang yang akan berpisah dan berpisahnya adalah selama-lamanya, dan mereka mengenal bagaimana Nabi ﷺ memberikan selama ini cahaya, memberikan petunjuk, memberikan pengarahan, tentunya para sahabat radhiyallahu ta’ala anhum merasa takut dan khawatir ditinggal oleh Nabi ﷺ, hanya saja itu harus terjadi, sunnatullāh azza wa jall

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ

[ الـرحـمـن:26] Ar Rahman 26


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

[ آل عمران:185] Ali Imran `185

dan itu disadari oleh para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, bagaimanapun kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ pasti di sana ada waktu di mana mereka akan berpisah.

Maka mereka pun, dan ini adalah fiqihnya para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, pemahaman mereka Nabi ﷺ bagaimanapun kecintaan kita Beliau ﷺ akan pergi dan yang mereka butuhkan disini adalah petunjuk dan wasiat Beliau ﷺ.

Ketika Beliau ﷺ meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum apa sebenarnya wasiat dan pesan beliau untuk para sahabat radhiallahu ta’ala anhum saat itu. Inilah yang sangat mereka butuhkan, karena selama ini tentunya mereka para sahabat radhiallahu ta’ala anhum mendapatkan manfaat yang banyak, keluar dari kegelapan jahiliyah kemudian masuk ke dalam alam yang terang benderang, merasakan hidup yang sangat nikmat di dalam Islam maka mereka pun meminta kepada Nabi ﷺ untuk memberikan wasiat, yang wasiat itu akan mereka pegang sampai mereka meninggal dunia.

Mereka pun mengatakan fa’aushīnā, maka berikanlah wasiat kepada kami dan yang dimaksud dengan wasiat adalah pesan yang dikuatkan, itulah yang dimaksud dengan wasiat, bukan pesan biasa tapi dialah pesan yang dikuatkan, fa’aushīnā maka berikanlah wasiat kepada kami. Tentunya Nabi ﷺ yang disifati oleh Allāh ﷻ

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(QS. At Taubah: 128)

yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya.

Maka Beliau ﷺ memberikan wasiat kepada mereka dan tentunya wasiat disini bukan wasiat sembarang wasiat, ini adalah wasiat dari Nabi ﷺ maka itu adalah sebuah keistimewaan, kemudian yang kedua disampaikan oleh Nabi ﷺ di hari-hari yang mendekati kematian Beliau ﷺ dan tentunya orang yang demikian memberikan nasehat yang paling penting. Antum misalnya ingin meninggalkan orang yang antum kenal atau keluarga antum dan antum memberikan wasiat kepada mereka tentunya isi wasiat tadi adalah wasiat-wasiat yang menurut antum itu adalah hal yang paling penting, antum tidak akan berwasiat kepada mereka dalam perkara-perkara yang remeh apa yang menurut antum itu adalah penting itulah yang antum sampaikan.

Maka Nabi ﷺ memberikan wasiat, kemudian Beliau ﷺ mengatakan

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian dengan taqwa kepada Allāh ﷻ, sebelum wasiat-wasiat yang lain maka Beliau ﷺ berwasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ dan ini adalah wasiat Allāh ﷻ untuk orang-orang yang terdahulu dan untuk kita. Allāh ﷻ mengatakan

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

(QS. An-Nissā: 131)

Dan sungguh Kami telah wasiatkan kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian supaya kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ.

Oleh karena itu Nabi ﷺ mendahulukan wasiat taqwa ini sebelum yang lain

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, dan takwa kepada Allāh ﷻ ini adalah kalimat yang jāmi’, kalimat yang menyeluruh, orang yang memberikan wasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ berarti dia telah memberikan wasiat untuk melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan berbagai larangan, sebagai ganti dia menyebutkan satu persatu. Hendaklah engkau sholat, hendaklah engkau zakat, hendaklah engkau shalat tahajud, hendaklah engkau shodaqoh dan seterusnya, janganlah engkau riba, janganlah engkau minum minuman keras, janganlah engkau lalai dari dzikrullāh, semua itu bisa digantikan dengan kalimat taqwa, karena taqwallāh artinya adalah menjadikan antara diri kita dengan Allāh ﷻ (dengan azab Allāh ﷻ) wiqāyah, yaitu penjagaan.
Demikian disampaikan oleh sebagian ulama, yang dimaksud dengan taqwa kepada Allāh ﷻ engkau menjadikan antara dirimu dengan azab Allāh ﷻ penghalang, berupa menjalankan perintah dan menjauhi larangan, kalau kita tidak menjalankan perintah berarti tidak ada penghalangnya nanti, kalau kita tidak menjauhi larangan maka nanti tidak ada penghalang sehingga seseorang akhirnya diazab, tapi dengan dia menjalankan perintah menjauhi larangan Allāh ﷻ maka ini adalah sebab dia terhindar dari azab Allāh ﷻ.

Oleh karena itu sebagian yang lain yaitu Talq bin Habib, beliau mengatakan

أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله

Engkau melaksanakan amalan itu, menjalankan perintah, diatas cahaya dari Allāh ﷻ, jadi bukan hanya sekedar mengamalkan tapi harus mengamalkan diatas cahaya, yang dimaksud cahaya dari Allāh ﷻ adalah ilmu dari Allāh ﷻ yang ada di dalam Al-Quran dan juga didalam Hadits, itu adalah cahaya petunjuk dari Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya menjalankan perintah harus berdasarkan dalil. Kemudian

ترجو ثواب الله

Engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, harus ada mengharap pahala berarti di sini ada dua syarat diterimanya amal, pertama adalah ittiba’ yang ada di dalam على نور من الله di atas cahaya dari Allāh ﷻ, maka ini adalah isyarat kepada ittiba’ adapun keikhlasan maka diisyaratkan di dalam ucapan beliau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, jadi sejak dahulu sudah di isyaratkan tentang dua syarat diterimanya amal.

Kemudian

وأن تترك معصية الله

Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allāh ﷻ

على نور من الله

Diatas cahaya dari Allāh ﷻ

تخافو عذاب الله

Engkau takut dari azab Allāh ﷻ. Ini juga sama di dalam meninggalkan larangan juga harus berdasarkan dalil, jangan sampai seseorang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allāh ﷻ. Kemudian juga harus ikhlas meninggalkan larangan tadi bukan karena ingin mendapatkan dunia tapi tujuannya adalah karena dia takut dengan azab Allāh ﷻ, ini juga ikhlas didalam menjauhi larangan, karena ada sebagian menjauhi larangan mungkin karena kepentingan dunia saja. Ana kalau berzina takut nanti kena penyakit ini berarti bukan karena Allāh ﷻ tapi karena dunia, suatu dunia yang dia inginkan bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ, ana kalau minum minuman keras takut gula ana tambah naik, maka ini bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ tapi karena urusan dunia saja .

Kapan dinamakan taqwa kalau takutnya adalah karena Allāh ﷻ, oleh karena itu kalimat تَقْوَى اللَّه di sini adalah jami’, dia adalah wasiat dengan seluruh kebaikan, menyuruh kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan wasiat meninggalkan seluruh larangan, maka wasiat yang paling baik yang paling menyeluruh adalah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ telah mewasiatkan dengan taqwa ini nabi-Nya, ittaqillah kata Allāh ﷻ kepada nabi-Nya ﷺ dan menyuruh orang-orang beriman untuk bertaqwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa…”

(QS. Ali-Imran[3]: 102)

Dan menyuruh manusia secara keseluruhan untuk bertaqwa

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ

[An-Nisa’ : 1]

dan kalau kita diminta orang lain untuk memberikan wasiat jadikanlah wasiat yang pertama adalah wasiat untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, sebab banyak manusia yang mereka tidak memahami tentang taqwa ini padahal sering disampaikan oleh khatib.

Inilah yang dipilih oleh Nabi ﷺ di dalam wasiat ini, kemudian yang kedua wasiat Beliau ﷺ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Dan mendengar dan taat

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Mendengar dan taat maksudnya adalah kepada penguasa, apabila antum menemukan isma’ wa aṭhi – tasma’u wa tuṭhi’ maka maksudnya adalah mendengar dan taat kepada penguasa

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

meskipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak dan ini menguatkan apa yang kita sebutkan baru saja bahwasanya maksud mendengar dan taat disini adalah kepada penguasa karena disebutkan setelahnya meskipun yang memerintahkan kalian, yang menguasai kalian adalah seorang budak.

Coba antum ta’ammul, ketika Nabi ﷺ diminta untuk memberikan wasiat, dan sudah kita katakan tentunya Beliau ﷺ akan memberikan wasiat yang paling penting menurut Beliau ﷺ, ternyata Beliau ﷺ memulai dengan taqwallah dan yang kedua ternyata Beliau ﷺ memberikan wasiat supaya kita mendengar dan taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang ahammiyah dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa ini di dalam agama Islam.

Oleh karena itu para ulama yang menulis tentang masalah aqidah tidak lupa mereka senantiasa menyebutkan perkara ini dalam kitab-kitab aqidah mereka, silahkan antum membuka

aqidah thahawiyah,

al-aqidah al-wasithiyah, l

um’atul i’tiqad,

syarah ushul i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah,

syarhus sunnah al-barbahari, dan seterusnya

antum akan dapatkan pembahasan ini yaitu tentang mendengar dan taat kepada penguasa, karena dia adalah pondasi diantara pondasi-pondasi aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang membedakan antara mereka dengan aliran aliran yang sesat dan Nabi ﷺ tidak heran kalau Beliau ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua.

Umar bin Khattab radhiallāhu anhu ketika beliau menyebutkan tentang Islam dan juga tentang pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa beliau mengatakan lā islāma illā bi jama’ah, tidak ada Islam kecuali dengan ijtima, kecuali kita berkumpul, karena sebagian besar syariat demikian, tidak bisa kalau kita tegakkan kecuali dengan adanya ta’awun, kerjasama di antara kita, adanya ijtima’ kalimah

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ

Dan tidak ada ijtima’, tidak mungkin ada perkumpulan kecuali kalau di sana ada kekuasaan, di mana-mana namanya perkumpulan kalau ingin perkumpulan tadi langgeng maka harus ada orang yang diangkat menjadi pemimpin. Sebuah rumah kalau tidak ada pemimpinnya kemudian masing-masing menganggap dirinya berkuasa, masing-masing berjalan sendiri, tidak mau diatur oleh orang lain maka akan kacau rumah tadi, sebuah sekolah kalau di sana tidak ada kepala sekolah dan masing-masing merasa berkuasa merasa berhak untuk memerintah membuat peraturan maka juga akan kacau

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

Tidak ada kekuasaan kecuali harus ada yang mendengarkan dan mentaati, kalau misalnya ada pemimpin tapi rakyatnya tidak mau mendengar dan taat maka tidak ada faedahnya dan tidak ada manfaatnya adanya kekuasaan, karena maksud adanya pemimpin adalah untuk di taati dan juga didengarkan, kalau misalnya tidak ada yang mau mentaati beliau, tidak ada yang mau mendengarkan beliau apa gunanya diangkat pemimpin tersebut lihat awalnya tadi beliau mengatakan

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ

Disebutkan Islam dan diakhir beliau mengatakan

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

As-sam’u waththā’ah ujungnya dan ujung yang disana adalah Islam. Menunjukkan tentang bagaimana hubungan yang erat antara mendengar dan taat nya kita kepada pemimpin dengan tegaknya Islam, sangat erat hubungannya. Seandainya kita mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa melihat kesungguhan kita di dalam mendengar dan taat akhirnya negara menjadi tenang jadi tenteram, orang mau melakukan kegiatan ekonomi, berbisnis, bekerja, belajar berkunjung, berdakwah, perkara dunia, ataupun dia melakukan perkara-perkara yang berkaitan dengan agamanya, menuntut ilmu agama, berdakwah, bermulazamah, menulis, kalau negara dalam keadaan tenang maka semuanya itu insya Allāh biidznillāh akan lancar dan mudah untuk dilakukan.

Akan tegak shalat berjamaah, akan lancar kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren, yang ada di sekolah, yang ada di sekolah tinggi, dengan mudah antum kapan-kapan sewaktu-waktu untuk melakukan umrah, melakukan haji, berdakwah di mesjid-mesjid, kapan itu terjadi, ketika rakyat mengetahui tentang kewajibannya mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa mereka mengetahui tentang kewajiban mereka menegakkan Islam, menegakkan keadilan.

Namun sebaliknya ketika rakyat tidak melakukan kewajibannya, tidak mendengar dan taat, bahkan menarik kembali baiatnya kepada penguasa, memberontak, mengangkat senjata kepada penguasa nya akhirnya penguasa pun tidak tinggal diam, berusaha untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan yang terjadi sehingga terkadang orang yang tidak ikut-ikutan pun juga terkena korbannya, yang ini dicurigai, yang itu dianggap sedang membuat rencana dan seterusnya akhirnya terjadi fitnah yang besar, kekacauan.

Dan di tengah kekacauan tadi ada sebagian orang yang mungkin tidak bertanggung jawab berusaha untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, menjarah, memperkosa, mengambil sesuatu yang bukan haknya, karena itu mereka lakukan ketika terjadi kekacauan, sudah tidak ada tentara misalnya, sekolah ini ditinggalkan oleh murid-muridnya, oleh gurunya, dan seterusnya yang ada adalah barang-barang berharga diambil oleh orang, karena mereka lari dalam keadaan ketakutan, antum bisa bayangkan apa yang terjadi ketika terjadi kekacauan tadi.

Maka jangan berharap ketika dalam keadaan kacau tadi, jangan berharap antum bisa ke mesjid dalam keadaan tenang, jangan berharap kita bisa bisnis membuka warung, membuka toko dalam keadaan kita tenang, sampai yang online pun kalau dalam keadaan kacau internet tidak jalan, pihak pengiriman juga tidak jalan, mungkin dari pihak pesawat terbang juga tidak beroperasi dan seterusnya, semua kegiatan baik yang berkaitan dengan ekonomi maupun dunia maupun agama bisa terhambat dengan sebab kekacauan ini.

Oleh karena itu tidak heran apabila Nabi ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua setelah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan taat, dan wasiat mendengar dan taat pada asalnya masuk di dalam wasiat bertaqwa. Tadi kita sebutkan bahwasanya taqwa ini kalimat yang jami’ah mencakup didalamnya seluruh kebaikan, termasuk diantaranya mendengar dan taat kepada penguasa ini masuk di dalam wasiat bertaqwa kepada Allāh ﷻ. Ketika Beliau ﷺ menyendirikan dan dikeluarkan secara tersendiri dan dikhususkan penyebutannya menunjukkan tentang pentingnya wasiat tadi.

Kita misalnya mengatakan kepada anak kita ketika kita mau pergi, tolong adik-adiknya dijaga, dijaga si fulan, padahal si fulan tadi masuk di dalam kalimat adik-adiknya tapi dia ulangi lagi untuk menegaskan supaya memiliki perhatian yang lebih kepada si fulan, karena dia sakit atau dia lumpuh dan seterusnya maka Nabi ﷺ mengulang kembali dan menjadikan wasiat tersendiri menunjukkan tentang kedudukan dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa di dalam agama kita, ditambah lagi Beliau ﷺ kuatkan

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak, ini menunjukkan tentang penguatan lagi, meskipun, meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak. Orang Arab sebagaimana kita tahu bahasanya yang namanya budak ini memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada orang-orang yang merdeka, mereka yang disuruh, mereka yang diperintahkan, mereka yang dijual, mereka yang dibeli, mereka yang dibentak, itu adalah keadaan seorang budak. Tentunya apabila budak yang sebenarnya keadaannya adalah diperintahkan suatu saat dia menjadi yang memerintahkan kita, ini adalah perkara yang berat bukan perkara yang ringan, dia menyuruh kita, biasanya kita yang menyuruh kok dia yang menyuruh, seandainya itu terjadi padahal itu adalah perkara yang berat maka nasehat Beliau ﷺ dan wasiat Beliau ﷺ adalah

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Kalian tetap diwajibkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun berat hati kita, mungkin benci hati kita tapi harus mendengar dan taat sesuai dengan wasiat Nabi ﷺ, maka kita ingat bahwasanya ini adalah wasiat Nabi ﷺ kalau memang kita cinta kepada Beliau ﷺ maka laksanakanlah wasiat Beliau ﷺ, kita harus dahulukan ucapan dan wasiat Beliau ﷺ di atas hawa nafsu kita, di atas ucapan seluruh manusia

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semua manusia, meskipun si fulan tidak mendengar dan taat kepada penguasa, si fulan memberontak kepada penguasa, kita jangan dahulukan ucapan mereka dan perilaku mereka di atas wasiat Nabi ﷺ. Untuk kepentingan kita sendiri, mendengar dan taatnya kita kepada penguasa bukan untuk memberikan kenikmatan kepada penguasa, bukan, maksudnya adalah untuk maslahat kita sendiri, kita yang akan menuai hasil dari mendengar dan taat kita kepada penguasa.

Terkadang di hari-hari biasa mungkin kaidah-kaidah seperti ini mudah untuk di sampaikan tapi belum tentu ketika terjadi fitnah yang disitu akan kelihatan siapa yang shādiq diantara kita dan siapa yang kādzib. Banyak orang di dalam hari-hari biasa dia bisa menyebutkan kaidah-kaidah seperti ini namun menjadi hilang separuh dari akalnya atau bahkan seluruh akalnya ketika dia sendiri yang terdzholimi, ketika dia sendiri yang mungkin melihat orang tuanya melihat keluarganya terdzholimi, kemudian panas hatinya dan dendam kemudian lupa dengan dalil-dalil yang mengharuskan dia untuk mendengar dan taat kepada penguasa, al-muwaffaq man wafaqahullāh, orang yang diberikan taufik adalah orang yang diberikan taufik oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-95 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah makna hadits ini, yaitu makna hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi diatas, Syaikh al-Albani menyebutkan hadits ini didalam silsilah hadits ash-shahihah.

Disini disebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah berarti ashabus sunan kecuali an-Nasa’i meriwayatkan hadits ini, dan dihukumi oleh Syaikh al-Albani bahwasanya hadits ini adalah hadits yang dhoif, maksudnya lafadz yang diawal tadi, adapun fakrah ayyamusshobr maka ini adalah hadits yang tsābitah

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

maka ini adalah hadits yang shahih. Adapun ayat tadi maka pemahamannya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, ini jangan diartikan ego atau yang lain bahkan kita katakan termasuk perhatian kita terhadap diri sendiri adalah ketika kita memperhatikan orang lain, karena nanti akan ditanya oleh Allāh ﷻ

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Dan orang yang meninggalkan kemungkaran, tidak saling melarang dari kemungkaran sebagaimana firman Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

[ Al Maidah المائدة:78-79]

Kemudian didalam surah Al-A’raf 164 kenapa mereka mengingkari kemungkaran mereka mengatakan مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ. Ketika ada sebagian kelompok, kenapa kalian memberikan nasihat kepada orang yang Allāh ﷻ sudah akan menghancurkan mereka, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ mereka hancur, akan hancur, kenapa kalian memberikan nasihat kepada mereka

قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ

[ Al A’raf الأعراف:164 ]

Kami ingin meminta uzur kepada Allāh ﷻ, karena kami nanti akan di tanya, yang penting kami beramar ma’ruf nahi mungkar, masalah mereka mendapatkan hidayah atau tidak mendapatkan hidayah itu Allāh ﷻ yang menentukan, kami hanya melaksanakan yang diperintahkan.

Ketika kita beramar ma’ruf nahi mungkar berarti kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri, illa qolīlan min man anjaina min hum, siapa yang diselamatkan, orang yang sedikit tadi yang mereka yanhauna anil fasādi fil ardh, mereka melarang dari kerusakan, kita tidak ingin hancur bersama mereka,

لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

[Al Anfal:25]

Tidak menimpa fitnah tersebut kepada orang-orang yang dzalim saja tapi juga mengenai yang lain, jadi orang yang beramal ma’ruf nahi mungkar berarti dia telah memperhatikan dirinya sendiri, ketika Allāh ﷻ mengatakan

عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

hendaklah kalian perhatian dengan diri kalian, maksudnya adalah disuruh kita beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kita disuruh untuk tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kalimat عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ perintah bagi kita untuk apa beramar ma’ruf nahi mungkar

لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat, yaitu setelah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar ada orang yang sesat itu tidak akan memudhororti kalian, Allāh ﷻ yang menentukan hidayah, selama kalian beramar ma’ruf nahi mungkar dan berpegang dengan agama kalian, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat setelah itu, itu maksud ayat ini.

Jadi hadits ini lafadz yang awalnya dhaif tapi lafadz yang setelahnya adalah lafadz yang yang shahih. Lafadz yang shahih disebutkan dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah hadits ash-shahihah dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

إن من ورائكم أيام الصبر للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليـه أجر خمسين منكم قالوا: يا نبي الله أو منهم؟ قال: بل منكم

Ini dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَلَفْظُهُ: «إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ أَيَّامًا الصَّابِرُ فِيهَا المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ؛ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari haditsnya Abdullah bin Umar, haditsnya Abdullah bin Umar وَلَفْظُهُ dan lafadznya adalah

إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ

setelah kalian ada hari-hari di mana orang yang bersabar di dalamnya, orang yang bertamassuk

بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

berpegangan dengan seperti dengan apa yang kalian wahai para sahabat di atasnya hari ini, seperti yang kalian amalkan hari ini, seperti yang kalian pahami hari ini, di hari-hari itu dia berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang hari ini

لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Maka dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang diantara kalian.

Kenapa di sini di sebutkan riwayat ini, karena di sini ada lafadz

المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

Jadi lafadz, meskipun lafadz yang dhoif tadi ‘alā dīnihi, di atas agamanya maksudnya adalah agama Islam yang dipahami oleh para sahabat, mereka adalah salafiyyun, orang-orang yang berpegang teguh dengan apa yang dipahami oleh para sahabat, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ.

Dan mungkin ini rahasia kenapa disebutkan lima puluh orang sahabat diantaranya adalah karena mereka berpegang teguh dengan sunnahnya para sahabat Nabi ﷺ, mereka berusaha untuk mengikuti para sahabat di tengah-tengah rusaknya manusia maka mereka pun mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ

ثُمَّ قَالَ

kemudian berkata, yaitu Ibnu Wadhdhah

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: أَنْبَأَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَسْلَمَ البَصْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ أَخِي الحَسَنِ يَرْفَعُهُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibn Sa’id, telah mengabarkan kepada kami Asad, beliau mengatakan telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin uyainah dari Aslam Al Bashri dari Sa’id Akhil Hasan, saudara dari Hasan Al bashri, yarfa’uhu, mengangkatnya kepada Rasulullah ﷺ, berarti di sini haditsnya adalah hadits yang mursal, dan hadits yang mursal termasuk hadits yang dhoif

قَالَ: «إِنَّكُمُ اليَوْمَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ، تَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ، وَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ، وَتُجَاهِدُونَ فِي اللَّهِ، وَلَمْ تَظْهَرْ فِيكُمُ السَّكْرَتَانِ: سَكْرَةُ الجَهْلِ، وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ، وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ، فَالمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ» قِيلَ: مِنْهُمْ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِنْكُمْ

Sesungguhnya kalian wahai para sahabat hari ini berada di atas sesuatu yang jelas dari Robb kalian, tidak ada bid’ah, ada Nabi ﷺ, kalian beramar ma’ruf, melarang dari yang mungkar dan kalian berjihad fī sabīlillah dan belum muncul di tengah-tengah kalian dua mabuk, السَّكْرَتَان maksudnya adalah mabuk,

mabuk yang pertama adalah

سَكْرَةُ الجَهْلِ

sehingga dengan kebodohannya seseorang tidak menyadari

وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ

dan orang yang sedang mabuk dengan dunia, mabuk dengan kebodohan dan yang kedua adalah mabuk dengan dunianya.
Seseorang membiarkan dirinya dalam kebodohan, tidak mau belajar dan sebagian orang mabuk dengan dunianya, sibuk dengan dunianya, kemudian kalian akan dipindah dari yang demikian

وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ

kalian akan berpindah keadaan kalian dari keadaan sekarang ini, maka orang-orang yang berpegang teguh dihari tersebut

بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang

قِيلَ: مِنْهُمْ؟

Apakah dari mereka ya Rasulullah ﷺ, Beliau ﷺ mengatakan bahkan dari kalian.

Di sini ada lafadz بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ berarti ini menjelaskan lagi bahwasanya keadaan orang-orang yang sabar saat itu mereka berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum

وَلَهُ بِإِسْنَادٍ: عَنِ المَعَافِرِيِّ

Dan beliau Ibnu Wadhdhah dengan isnadnya dari al-Ma’āfirī (juga tabi’in), قَالَ dia mengatakan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, berarti ini mursal juga dan ini adalah termasuk yang dhoif

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، الَّذِينَ يُمْسِكُونَ بِكِتَابِ اللَّهِ حِينَ يُتْرَكُ، وَيَعمَلُونَ بِالسُّنَّةِ حِينَ تُطْفَأُ

Tūbā bagi orang-orang yang asing, siapa orang- orang yang asing, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Quran ketika al-Quran ditinggalkan oleh manusia dan mereka mengamalkan sunnah Nabi ﷺ ketika di padamkan, artinya banyak orang yang tidak mengamalkan sunnah Nabi ﷺ dan dia terus mengamalkan sunnah tersebut.

Ini adalah hadits yang Mursal juga dan ini adalah hadits yang dhaif dan cukuplah apa yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih sebelumnya menunjukkan tentang wajibnya kita untuk bersabar diatas sunnah Rasulullah ﷺ, meskipun kita asing di tengah-tengah manusia.

Dan ini bukan berarti seseorang tidak bermuamalah dengan manusia, jadi asingnya mereka bukan karena mereka tidak bergaul dan tidak bermuamalah dengan manusia, tetap mereka bergaul seperti biasa dengan manusia, dengan masyarakat, cuma mereka mutamayyiz, mereka memiliki keistimewaan tidak ikut-ikutan dengan perkara-perkara yang tidak disyariatkan di dalam agamanya, ini kelebihan mereka.

Muamalah mereka terus jalan, membeli, berjualan, tersenyum, bertetangga, tapi ketika sudah berkaitan dengan perkara yang menyelisihi agama maka mereka dengan tegas ia tidak melaksanakan perkara tersebut karena memegang Al-Quran dan juga Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته