Category Archives: KITAB

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 72 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 04

Halaqah 72 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 04

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم

Karena sesungguhnya membunuh mereka ini ada pahala bagi orang² yang membunuh mereka di hari Kiamat.

Jadi orang² yang memerangi orang² khawarij dengan cara yang benar dibimbing oleh pemerintah seperti yang dilakukan oleh Ali bin Abu Thalib & juga pasukannya ketika mereka membunuh orang² khawarij maka mereka mendapatkan pahala kenapa demikian, karena orang² khawarij ini mendatangkan mudhorat yang sangat besar bagi kaum muslimin. Mereka meninggalkan penyembah² kuburan tapi mereka perangi orang² Islām ini melakukan dosa besar dibunuh & ingin mengacaukan keadaan negara & negara yang kacau tidak mungkin bisa berdakwah disitu dengan baik, tidak mungkin mereka bisa mengembangkan lagi & berjihad mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama Islām akibat kekacauan yang ada didalam negeri, oleh karenanya di zaman Ali bin Abi Tholib tidak seperti di zaman Umar banyak negeri² yang sebelumnya negeri kufur masuk kedalam agama Islām.

Tetapi di zaman Ali meskipun 5-4 tahun tapi sangat sedikit sekali disana tambahan negeri yang masuk ke dalam agama Islām karena beliau sibuk mengurusi orang² khawarij, oleh karenanya bahaya mereka ini besar dengan sebab orang² khawarij ini banyak maslahat dunia & juga maslahat agama ini menjadi terabaikan menjadi tersingkirkan/hilang, karena pemerintah sibuk dengan orang² khawarij berperang dst didalam negara & jika situasi negara kacau bagaimana mereka bisa memutar kegiatan² masyarakat didalam kehidupan sehari-hari, tidak mungkin disana ada pasar yang berjalan baik, tidak ada orang yang berani membuka warungnya tidak ada anak² yang berani melakukan perjalanan sekolah, tidak ada Dai yang berani untuk ceramah, tidak ada orang yang berani datang ke Masjid untuk shalat, akhirnya semuanya baik urusan dunia maupun urusan agama menjadi kacau terhambat gara² orang² khawarij ini.

Ini menunjukan tentang pahala orang yang membunuh orang² khawarij dengan cara yang syar’i.

Ini adalah haditsnya Ali bin Abi Tholib yang diriwayatkan oleh Bukhori & juga Muslim.

Kemudian beliau menyebutkan disini

لئن في تهم لأقتلنهم قتل عاد

Disini adalah haditsnya Abu Said al Khudri.

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Haditsnya Abu Said al Khudri. Ini juga diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim, Allāhualam disini adalah penggabungan antara 2 hadits yaitu haditsnya Ali bin Abi Tholib Abu Said Al Khudri.

Didalam hadits Abu Said Al Khudri

لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Seandainya aku bertemu dengan mereka niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana terbunuhnya kaum Ad, bagaimana terbunuhnya kaum Ad terbunuh secara keseluruhan artinya Nabi ﷺ berniat seandainya bertemu mereka akan beliau habisi semuanya tidak akan disisakan oleh beliau sebagaimana kaum Ad mereka terbunuh semuanya tidak disisakan oleh Allāh.

Ini menunjukan tentang ancaman Nabi ﷺ terhadap orang² khawarij sampai beliau berniat untuk membunuh mereka secara keseluruhan tidak ada yang disisakan oleh beliau, apakah ucapan ini pernah beliau ucapkan kepada orang yang melakukan dosa besar? (tidak pernah)

…لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Apakah beliau pernah ucapkan ini kepada pelaku dosa besar (Tidak pernah) berarti menunjukan dahsyatnya & besarnya dosa Bidah yaitu Dosa bidah khawarij khususnya sampai Nabi ﷺ mengancam mereka dengan ancaman seperti ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 71 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 03

Halaqah 71 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-71 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

فأينما لقيتموهم فاقتلوهم

Kemudian Nabi ﷺ telah mensifati orang² khawarij ini disifati oleh beliau pemuda & kebanyakan orang² khawarij kita lihat rata² pemuda (20, 18, 25 tahun) adapun yang sudah tua jarang,

شفهاء الأحلام،

Dan orang² yang sangat dangkal akal mereka,

Kurang ilmu, kurang akal, akhirnya terkena subhat mudah sekali mereka terkena subhat, meskipun demikian lihat bagaimana Nabi ﷺ mengancam orang² tersebut,

فأينما لقيتموهم فاقتلوهم

Dimana saja kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka.

Dimana saja kalian bertemu dengan mereka kalian bunuh mereka dan maksud beliau – فاقتلوهم – hendaklah kalian bunuh mereka , disini adalah imam kaum muslimin bersama kaum muslimin yang lainnya, hendaklah kalian bunuh mereka maksudnya wahai imamnya kaum muslimin/pemimpinnya kaum muslimin dengan pasukannya oleh karenanya Ali bin Abi Tholib melaksanakan hadits Nabi ﷺ ini, karena keluar kaum khawarij ini dizaman beliau, kaum Khawarij ini mengkafirkan Ali bin Abi Tholib, mengkafirkan Muawiyyah dengan alasan bahwasanya Ali bin Abi Thalib & Muawiyyah tidak berhukum dengan hukum Allāh, berhukum dengan hukum manusia karena mereka mewakilkan didalam musyawarah orang lain, ini mewakilkan A & yang lain mewakilkan B, orang2 khawarij menganggap ini adalah bagian dari berhukum dengan selain hukum Allāh kemudian mereka membacakan ayat,

۞ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

[QS Al Maidah 44]

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allāh maka dia adalah orang² yang kafir.

Sehingga tidak ragu mereka mengkafirkan Ali & juga mengkafirkan Muawiyyah bin Abi Sufyan & setiap orang yang setuju dengan musyawarah tadi maka dia keluar dari agama Islām itu menurut orang² khawarij.

Maka kalian wahai imam kaum muslimin/pemerintah kaum muslimin kalau mendapatkan unsur golongan ini ditengah² kalian maka bunuhlah mereka, ini perintah Nabi kepada pemerintah kaum muslimin & juga kaum muslimin.

Ini menunjukkan bahwasanya peperangan tadi bukan secara sendiri² bukan secara individu tetapi yang melakukan Ini adalah pemerintah & juga penguasa & orang² mereka perintahkan.

Seandainya didekat rumah² kita ada orang khawarij maka tidak boleh Kita membunuhnya secara pribadi dengan alasan dia adalah orang khawarij & Nabi mengatakan dimanapun kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka (Tidak), ini maksudnya adalah yang melakukan pemerintah & juga penguasa karena kalau tidak demikian akan terjadi kekacauan, mungkin saja orang membunuh dengan alasan orang khawarij (ingin memberontak kepada penguasa) padahal yang terjadi urusan pribadi kemudian dikatakan Ini adalah urusan karena dia adalah khawarij.

Oleh karenanya yang berhak membunuh adalah pemerintah & penguasa atau kita diperintahkan oleh penguasa dalam peperangan & diperintahkan memerangi mereka/membunuh mereka maka tidak mengapa hal yang demikian.

Shahidnya disini Nabi ﷺ sampai menyuruh kita untuk membunuh orang2 khawarij adakah ini pada orang yang melakukan riba? Jika kamu bertemu orang yang melakukan riba bunuh? (Tidak ada haditsnya), kalau engkau bertemu dengan orang yang berdusta bunuh dia? (Tidak). Tapi disini ketika beliau berbicara tentang orang² khawarij sampai beliau menyuruh kita untuk membunuh mereka yaitu bersama pemerintah & juga penguasa kaum muslimin, maka ini menunjukan bahaya bidah, bahaya bidah khawarij khususnya disini sampai Nabi ﷺ menyuruh kita untuk membunuh mereka padahal dalam maksiat biasa & dosa² besar yang biasa tidak sampai kepada kita diperintah untuk membunuh mereka, menunjukan bahwasanya bidah ini lebih dahsyat daripada dosa² besar karena Nabi ﷺ sampai menyuruh kita untuk membunuh orang² khawarij.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampaibertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 70 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 02

Halaqah 70 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-70 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu meskipun beliau diperangi & dikafirkan oleh orang² Khawarij maka tidak menjadikan pengkafiran mereka ini kemudian membalas dengan pengkafiran juga & ini adalah inshafnya Ahli Sunnah jamaah maka orang yang mengkafirkan mereka tapi mereka tidak dengan mudah mengkafirkan orang lain, sangat berhati² sama dengan masalah Tasfir, tasfi, tabdi’ ini adalah masalah hukum syar’i bukan masalah balas membalas, kalau dia mengkafirkan kita berarti kita mengkafirkan dia Tidak, ini kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allāh atas hukum yang telah kita terapkan.

Ucapan beliau tadi,

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية

Apa maksudnya kalau itu bukan pengkafiran, maksudnya adalah menjauh dari tuntunan Islām. Tuntunan Islām tidak boleh kita mengkafirkan pelaku dosa besar.

Tuntunan Islām tidak boleh seseorang memberontak kepada pemerintah & juga penguasanya, tapi apa yang dijelaskan orang² Khawarij mereka justru mengkafirkan pelaku dosa besar mereka justru memberontak kepada pemerintah yang sah, sehingga berarti mereka menjauhi tuntunan islām itu sendiri, bahkan sangat jauh dari tuntunan Islām,

كما يمرق السهم من الرمية

Sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya

Kalau ini adalah sasaran (seekor rusa misalnya) kemudian dia dipanah oleh seseorang kemudian keluar dari arah yang berbeda masuk dari perut bagian kiri keluar perut bagian kanan itu adalah permisalan bagi orang yang meninggalkan ajaran Islām. Bagaimana anak panah yang masuk dari perut bagian kiri & bisa keluar dari bagian kanan karena saking cepatnya / kerasnya dia adalah anak pajah yang tajam dilepaskan oleh yang memiliki dengan tepat kemudian bisa cepat sehingga dia bisa keluar dari perut bagian kanan ini menunjukan tentang cepatnya dia meninggalkan buruannya atau sasaran tadi.

Oleh karenanya sifat orang² Khawarij cepat nya mereka meninggalkan ajaran Islām aqidah yang mereka miliki memberontak kepada pemerintah yang sah kemudian mereka juga mengkafirkan pelaku dosa besar,

Dengan dua bidah ini mereka menjauh dari agama Islām menjauh dari ajaran Islām dengan kecepatan yang sangat cepat sebagaimana cepatnya anak panah tadi yang saking cepatnya dia bisa menembus perut sasaran, berbeda dengan anak panah yang pelan² maka dia menancap saja atau seandainya dia tembus ke bagian kanan tetapi dia diperut tersebut tidak sampai keluar dari perutnya, namun yang perlu kita sampaikan ada ulama yang sampai mengkafirkan mereka ini menunjukan tentang bahayanya bidah orang² Khawarij & orang² Khawarij adalah orang² yang terkumpul didalemnya ushul/pokok² mereka,

pokok-pook itu adalah:
❶ Mengkafirkan pelaku Dosa Besar.
❷ Memberontak kepada penguasa yang sah.

Ini diantara ciri orang² khawarij, kalau sampai terkumpul didalam dirinya dua ini maka dikhawatirkan dia termasuk seorang Khawarij.

~Kalau hanya sekedar mengkafirkan , apakah bisa dinamakan dia seorang Khawarij, ada orang yang mengkafirkan kita (misalnya) apakah dengan demikian dia adalah seorang Khawarij? Belum tentu karena mungkin dia mengkafirkan kita dari sisi yang lain bukan mengkafirkan kita dengan sebab kita melakukan dosa besar, mengkafirkan karena tidak membaiat Imamnya (misalnya) apakah kemudian kita katakan dia khawarij? Tidak, karena sebagian menyangka setiap orang yang mengkafirkan berarti dia khawarij, kalau Faedahnya demikian semua aliran adalah Khawarij karena rata² mereka adalah mengkafirkan orang yang bersebrangan dengan dirinya, Qodariah mengkafirkan Jabriah, Jabriah mengkafirkan Qodariah, Murjiah mengkafirkan Khawarij, Khawarij mengkafirkan Murjiah rata² demikian sehingga tidak bisa kita katakan bahwa setiap orang yang mengkafirkan berarti dia khawarij kemudian menamakan jamaah tadi jamaah khawarij (hati²) jangan sembarangan kita mengungkapkan atau mengatakan ini bahwasannya orang² khawarij.

Kemudian kita lihat sebab dia mengkafirkan .

~Kemudian yang kedua dia memberontak kepada penguasa, kalau hanya sekedar dia mengkafirkan saja tetapi tidak memberontak kepada penguasa maka ini tidak bisa dinamakan juga sebagai orang yang khawarij. Harus terkumpul didalamnya 2 makna ini, jika dia mengkafirkan pelaku dosa besar & dia tidak memberontak kepada penguasa maka tidak bisa kita namakan sebagai orang khawarij, tetapi kalau ditambah dia mengkafirkan penguasanya ketika dia melihat penguasa kita tahu bahwasanya terkadang orang yang memiliki jabatan mudah sekali dia melakukan dosa besar sehingga ketika orang khawarij melihat pemerintah & juga penguasa melakukan dosa besar akhirnya sesuai dengan kaidah dia mengkafirkan pemerintah tadi. Kalau dia kafir maka diperbolehkan untuk memberontak kepada beliau.

Ini hubungan antara pengkafiran terhadap pelaku dosa besar dengan memberontak kepada penguasa, kenapa mereka memberontak kepada penguasa, menganggap penguasanya dosa besar, jika penguasa melakukan dosa besar (berzina, Riba dst) maka dia telah keluar dari agama Islām kalau keluar dari agama Islām maka harus diganti dengan orang Islām & harus memberontak kepadanya ini adalah pemikiran orang² Khawarij.

Kalau tidak demikian maka jangan jangan mudah mengatakan itu adalah orang khawarij.

Dia memberontak kepada penguasa tapi niat memberontaknya bukan karena mengkafirkan penguasa tadi dia memberontak karena ingin mendapatkan uangnya, kalau ditanya apakah raja yang sebelumnya itu sebelumnya muslim – muslim, tapi dia memberontak untuk mendapatkan jabatan-kekuasaan dst apakah dia dinamakan Khawarij, Tidak dinamakan sebagai khawarij, tapi dia melakukan dosa karena memberontak kepada penguasa yang sah.

Oleh karenanya tidak dikatakan setiap yang memberontak kemudian dikatakan khawarij, apa sebab dia memberontak adalah meyakinkan penguasa nya melakukan dosa besar & orang yang melakukan dosa besar berarti dia telah keluar dari agama Islām barulah ini merupakan ciri² orang Khawarij.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8- Halaqah 69 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib

Halaqah 69 | Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-69 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Belia mendatangkan sabda Nabi ﷺ

وفي الصحيح

Didalam sebuah hadits yang shahih & dia adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari & juga Muslim

أنه ﷺ قال في الخوارج:

Nabi ﷺ mengatakan tentang orang² khawarij.

Beliau sedang mensifati orang² khawarij didalam sebuah hadits yang shahih, apa yang beliau sampaikan didalam hadits tersebut

“أينما لقيتموهم فاقتلوهم

Dimana saja kalian bertemu dengan orang² Khawarij tadi maka hendaklah kalian bunuh mereka, hadits Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu

يأتي في آخِر الزمان قوم حُدثاء الأسنان، سُفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية،

Akan datang di akhir zaman sebuah kaum yang mereka masih muda tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang,

Ada yang mengatakan

Bahwa ucapan sebaik² manusia disini adalah ucapan Rasulullāh ﷺ & ada yang mengatakan al Quran karena disebutkan didalam sejarah bahwasanya orang² khawarij mereka ini adalah orang² yang sangat kencang ibadahnya malam mereka shalat malam & siang mereka membaca al Quran

يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرَّميَّة،

Ternyata Nabi ﷺ menyebutkan kabar yang sangat mencengangkan/mengagetkan ternyata orang² tadi adalah

– يمرقون من الإسلام –

mereka akan Yamruq (keluar menjauh) dari agama Islām, mereka akan keluar menjauh dari agama Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran,

sebagaimana melesatnya anak panah dari sasarannya, yang dimaksud dengan ramiyat adalah sasaran

يمرقون من الإسلام

Maksudnya adalah menjauh dari ajaran agama Islām, jadi bukan maksudnya adalah kemudian dia kafir keluar dari agama Islām & memang sebagian ulama ada yang berdalil dengan hadits ini, bahwasanya orang² khawarij ini keluar dari agama Islām berdalil dengan beberapa hadits diantaranya adalah ucapan Nabi ﷺ

يمرقون من الإسلام

Mereka keluar dari Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya & Allāhualam meskipun ini adalah pendapat sebagian ulama namun pendapat yang lebih shahih bahwasanya mereka ini tidak keluar dari agama Islām, jadi orang² Khawarij mereka adalah muslimun tidak keluar dari agama Islām, oleh karena itu Ali bin Abi Thalib & beliau yang meriwayatkan hadits ini ketika beliau ditanya, apakah mereka adalah orang² yang kafir,

Ini Ali bin Abi Thalib beliau yang meriwayatkan hadits ini & beliau yang memerangi orang² Khawarij sendiri & bersama orang² beliau & beliau meriwayatkan hadits tentang – لقيتموهم فاقتلوهم –

Kemudian yang ketiga beliau dikafirkan oleh orang² khawarij meskipun di kafirkan bahkan di halalkan darahnya bahkan terakhir beliau dibunuh orang² Khawarij tapi beliau mengatakan – من الكفر فروا –

Kekufuran mereka ini lari disebutkan didalam Musanaf Abdul Razaq & juga didalam Musanaf Ibnu Saibah

Ketika Ali bin abi thalib memerangi dan membunuh orang-orang Haruriyah
haruriyyah adalah nama lain dari Khawarij, dinamakan dengan Harutiyyah karena mereka kumpul disebuah daerah namanya Haruri,

Ketika beliau membunuh orang² Haruriyyah dalam peperangan Nahrawan peperangan yang besar terbunuh disana orang² khawarij dalam jumlah yang banyak, beliau ditanya siapakah orang orang ini wahai amirul mukminin, apakah mereka adalah orang² yang Kafir?

قال؛ من الكفر فروا

Mereka ini adalah orang yang sedang lari dari kekafiran.

Artinya mereka bukan orang yang kafir tapi justru mereka adalah orang yang takut dengan kekafiran sehingga mereka lari kencang meninggalkan kekafiran tadi tapi kebablasan sampai mereka menganggap sesuatu yang tidak mengkafirkan dianggap itu adalah mengkafirkan yaitu orang yang melakukan dosa besar berarti dia Keluar dari agama Islām, itu ucapan orang² khawarij.

Jadi mereka secara niat ingin keluar & ingin berjauh dari kekufuran. Jadi Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu dengan jawaban ini

من الكفر فروا

Ingin memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya beliau tidak menghukumi orang² Khawarij tersebut sebagai orang yang kafir, beliau membunuh/memerangi mereka tapi bukan karena mereka kafir karena menjalankan sabda Nabi ﷺ (yang disebutkan hadits tadi)

Kemudian ada yang mengatakan apakah mereka adalah orang Munafik, kalau bukan orang yang kafir, apakah mereka adalah orang² Munafiq?

Ali Mengatakan sesungguhnya orang² munafiq tidak mengingat Allāh kecuali sedikit.
Sedangkan mereka ini (orang² Khawarij) yang dibunuh/diperangi mereka ini banyak mengingat Allāh, tasbih, tahlil, tasmid membaca al Quran dst. Berarti dinamakan Munafiq juga bukan dinamakan kafir juga bukan, berarti mereka muslimun / mereka adalah orang² Islām

Lalu kenapa mereka demikian?
Mereka ini adalah sebuah kaum yang tertimpa fitnah subhat yang menjadikan mereka buta/tuli.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Oleh karena setelahnya disebutkan orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu.

Berarti dosa yang harus mereka tanggung jawabkan dipertanggung jawabkan oleh mubtadi tadi adalah dosa bidah yang dengannya dia menyesatkan manusia tanpa ilmu,

أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).

Dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri sudah berat apalagi kalau harus ditambah lagi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh lain yang dia dakwahkan /ajak/sesatkan, maka ini menunjukan tentang bahaya bidah & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & ini berbeda keadaannya dengan ahlul maksiat, ahlul bidah ketika dia menyangka itu adalah taqarub kepada Allāh. Ahlu bidah meniatkan bahwasanya dia sedang beribadah kepada Allāh, menganggap ini adalah sebuah kebaikan karena ini adalah bentuk beribadah kepada Allāh, sebuah kebaikan, maka dia tidak ragu² lagi untuk mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi, akhirnya dia sesatkan & juga menyesatkan orang lain akhirnya dia melakukan dosa bidah & menjadikan orang lain melakukan dosa bidah tadi, itu orang yang melakukan bidah karena menyangka itu adalah ibadah akhirnya dia dakwahkan kepada orang lain.

Berbeda dengan maksiat atau dosa besar maka masing² dari pelaku dosa besar tadi merasa & menyadari bahwasanya itu adalah dosa besar, malu untuk melakukannya apalagi mengajak orang lain untuk melakukannya.

Misal dia berzina kemudian setelah melakukan dosa zina menyesal (ko bisa terjadi/kenapa ini terjadi dst) malu kalau itu sampai dilihat orang lain, bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan perzinahan tadi, dia sendiri malu, kerja misalnya disebuah tempat yang ribawi dia tau bahwsanya dia Salah, tempat dia bekerja ini bermasalah bertentangan dengan syariat, ketika ditanya mungkin orang kerja dimana dia tidak mau menyebutkan malu , tau bahwasanya ini sebuah kesalahan bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut dst.

Orang² yang melakukan dosa² besar tadi melakukan kemaksiatan² tadi rata² mereka tau bahwasanya itu adalah dosa besar, mereka meskipun tidak bisa mengendalikan dirinya tapi mereka tidak ingin orang lain juga terkena seperti mereka, sembunyi dari anaknya, sembunyi dari tetangganya, sembunyi dari orang lain tidak ingin orang lain apa yang dia perbuat, karena dia tau ini adalah sebuah kemaksiatan/ini adalah sebuah kesalahan.

Berbeda dengan orang yang melakukan kebidahan tadi maka dia mengajak orang lain bahkan terang²an menyangka ini adalah ibadah ketika dia mengajak orang lain berarti memasukkan mereka didalam ibadah .

Kenapa beliau mendatangkan ayat ini dalam bab ini, babnya tentang bahwasannya bidah itu lebih dahsyat daripada kemaksiatan karena orang yang melakukan bidah kebanyakan dia karena menganggap itu adalah taqarub ibadah oleh karenanya dia tidak segan² untuk mengajak orang lain melakukan bidah tadi & ketika dia mengajak kemudian diterima dakwahnya maka semakin besar dosanya.

Adapun orang yang melakukan kemaksiatan maka tidak demikian keadaannya dia dalam keadaan malu, malu diketahui orang lain bagaimana ia mengajak orang lain untuk melakukan kemaksiatan tersebut sehingga dia menanggung dosa kabirah tadi, dosa² besar tadi.

Tentunya ini menunjukan bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang berbahaya lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena pelaku bidah dia mendakwahkan & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & itu semakin menambah dosanya berbeda dengan kemaksiatan maka dia mencukupkan diri dengan dirinya & mengetahui bahwasanya dirinya bersalah/keliru tidak sampai mendakwahkan kepada orang lain, sehingga tidak salah apabila syaikh rahimahullah disini mendatangkan ayat ini untuk menunjukan kepada kita tentang bahwa bidah ini lebih besar dosanya daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-67 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan juga firman Allāh didalam Surat An Nahl bahwasanya Allāh mengatakan

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُو

Diantara yang menunjukan bahwasanya Bidah ini lebih besar daripada dosa² besar adalah apa yang ditunjukan oleh ayat yang mulia ini, dimana Allāh Subhanahu wa Taalā mengatakan

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Supaya mereka membawa dosa² mereka secara sempurna dihari kiamat

Jadi dosa² yang mereka lakukan akan mereka pertanggung jawabkan di hari Kiamat, apakah hanya sebatas disitu saja ternyata ada dosa yang lain dia pikul, bukannya dosanya saja yang akan dia pikul

۞ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ

[QS Az-Zalzalah 8]

Tapi disana ada tambahan yang lain yang juga dia pikul yaitu

وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan diantara dosa² orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu

وَمِنْ أَوْزَارِ

Dan diantara

Artinya tidak semua dosa orang yang telah mengikuti dia dalam kesesatan tadi kemudian ditumpahkan dosanya kepada mubtadi tadi,

Contoh
Seorang Mubtadi kemudian dia mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi (misal 3 orang), orang pertama dia ikut melakukan bidah tadi, yang kedua & ketiga juga demikian disamping dia melakukan bidah tadi (yang diajak oleh mubtadi tadi) dia juga melakukan dosa Zina(misalnya) yang lain Riba, mencuri, berarti yang pertama melakukan dosa bidah tadi & zina, yang kedua bidah & mencuri, yang ketiga bidah & Riba. Ketika mubtadi ini dia mendakwahi kemudian yang pertama itu dakwahnya /mengamalkan bidahnya, yang kedua & ketiga mengamalkan bidahnya, dosa yang ditanggung Mubtadi tadi dosanya & dosa orang yang mengikuti, apakah maksudnya keseluruhan dosa atau hanya dosa bidahnya saja? (Dosa bidahnya saja), adapun dosa zina ditanggung oleh dirinya sendiri, dia melakukan bidah (orang yang pertama tadi) dia akan merasakan dosanya jika Allāh menghendaki.

Mubtadi tadi selain dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri dia juga akan terkena & akan menanggung dosa bidah yang telah dilakukan oleh yang pertama, kedua & ketiga, adapun dosa Zina, Riba & mencuri dia tidak ikut merasakan akibatnya .

Jadi dosa mubtadi tadi yang pertama adalah dosa bidah yang dia lakukan sendiri, kemudian yang kedua adalah dosa bidah orang yang mengikutinya, jika dia merasakan/ atau dia akan menangggung dosa bidahnya & dosa orang yang mengikutinya apakah orang yang mengikutinya di azab dengan sebab bidahnya? Sama dia juga di azab, orang yang pertama, kedua & ketiga dia juga di azab dengan sebab sebuah bidah tadi & mubtadi yang pertama (yang mengajak) dia lebih berat lagi lebih besar lagi lebih berlipat karena dia akan menanggung bidahnya sendiri(dosa bidahnya) & juga dosa bidah orang yang mengikutinya, jadi disini menjadi 2 dosanya, dosa mubtadi tadi kemudian orang yang diajak dia juga melakukan bidah tadi maka dosanya mubtadi dua kali lipat, jika 3 orang yang dia ajak berarti lebih besar lagi, apalagi sampai puluhan atau ratusan orang maka mubtadi tadi dia akan mempertanggung jawabkan disanyai sendiri & juga oleh Allāh akan ditambahi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh orang² yang dia dakwahi karena sebab dia mereka menjadi melakukan bidah dan pelaku bidah tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidahnya sendiri.

Jadi jangan dipahami bahwasanya dosa tadi akan ditanggung sepenuhnya oleh mubtadinya tidak, orang yang mengikuti dakwah mubtadi tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosanya, disamping itu mubtadinya juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidah yang diamalkan oleh pengikutnya.

Oleh karenanya disini disebutkan menggunkan min yang artinya menunjukan sebagian, beda dengan jika misalnya bunyi ayatnya

و أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Kalau ayatnya – و أَوْزَارِ – di athofkan kepada – أَوْزَارِ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 66 | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144

Halaqah 66 | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻ

۞ وقوله:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ

_Maka siapakah yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu_

[QS Al-An’am 144]

Masuk didalam – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا – adalah orang yang melakukan bidah,

kenapa bisa dimasukkan orang yang melakukan bidah ini dengan berdusta atas nama Allāh, orang yang melakukan bidah seakan² dia mengatakan ini adalah dari Allāh, dia melakukan amalan² yang bidah ketika dia mengamalkan & mendakwahkan (apalagi) seakan² dia mengatakan bahwasanya ini dari Allāh padahal bukan dari Allāh berarti dia berdusta, mengatakan & disyariatkan padahal itu tidak disyariatkan, (contoh) maulid Nabi perayaan ini dianggap adalah disyariatkan padahal itu tidak disyariatkan.

Ketika dia mengatakan Maulud Nabi ini disyariatkan berarti dia berdusta atas nama Allāh oleh karena itu dia masuk didalam berdusta atas nama Allāh karena seakan² dia mengatakan Allāh mensyariatkan hal ini padahal Allāh tidak pernah mensyariatkannya, oleh karenanya beliau mendatangkan firman Allāh

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Darimana kita mengetahui dengan ayat ini bahwsanya berdusta atas nama Allāh tadi lebih besar dosanya daripada dosa besar, bahwasanya – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ – ini adalah lebih besar daripada dosa besar, masuk didalam افْتَرَى عَلَى اللَّهِ adalah perbuatan bidah, disini kuncinya adalah pada kalimat

فَمَنْ أَظْلَمُ

Siapakah yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh, tahu bahwasanya ini adalah jalan Allāh jalan yang lurus kemudian dia berdusta atas nama Allāh yang benar adalah jalan tsb, ingin menyesatkan manusia jalan Allāh.

Maka siapakah yang lebih dholim dari pada orang yang – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ – dan Masuk didalamnya adalah bidah

karena dia adalah berdusta atas nama Allāh, menunjukan bahwasanya apa yang disampaikan mualig didalam judul bab tadi adalah benar adanya bahwasanya bidah adalah lebih besar daripada dosa² besar karena dia adalah termasuk kedholiman dia adalah berdusta atas nama Allāh

Dan Allāh mengatakan – فَمَنْ أَظْلَمُ – siapa yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau disini membawakan beberapa dalil, yang menunjukan tentang apa yang beliau tetapkan/simpulkan bahwasanya bidah itu lebih dahsyat daripada dosa² besar.

Kalau yang dimaksud al Kabair disini adalah kabair makna yang khusus, kalau disebutkan bidah

البدعة أشد من الكبائر

Isyarat bahwasanya yang dimaksud al kabair adalah yang berada dibawah bidah yaitu kabair dengan makna khusus.

Mustaqim kah ( Bisa kah) Seandainya kabair disini kita bawa kepada makna umum?

_tidak bisa_

Bagaimana bidah lebih dahsyat daripada dosa² besar termasuk diantaranya adalah syirik, dalam hadits disebutkan bahwasanya syirik adalah

أعظم ذنبٍ إلا الله

dosa yang paling besar disisi Allah adalah kesyirikan.

Disini kita tau bahwa makna kabair disini adalah makna yang khusus (bukan makna yang umum).

Beliau mendatangkan dalil dari beberapa al Quran & juga beberapa dalil dari sunnah Nabi ﷺ, adapun dalil dari al Quran maka yang pertama beliau bawakan adalah firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

[QS An Nisa 48]

_Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik_

Ayat ini ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau beliau ingin tunjukan dengan ayat ini bahwasanya Bidah itu lebih besar daripada Al Kabair, ini perlu taamul yang demikian karena ayat disini berbicara tentang syirik padahal didalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bidah dengan dosa² besar, didalam judul babnya tidak disebutkan tentang syirik, jika disebutkan didalam babnya (disebutkan ttg syirik)

أن الشرك أشد من الكبائر

Tepat kita mendatangkan firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

Itu jika babnya

باب ما جاء أن الشرك أشد من الكبائر

Itu jika kalimatnya syirik karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya, adapun dosa² besar yang lain masih

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

Yang disebutkan ayat ini adalah syirik kemudian yang kedua adalah yang ada dibawah syirik, Bidah & juga Kabair, itulah yang ada dibawah syirik. Berarti yang beliau sebutkan disini adalah syirik & apa yang ada dibawah syirik.

Lalu kenapa beliau disini mendatangkan ayat ini, padahal disini perbandingannya antara syirik dengan apa yang ada bawah syirik & apa yang ada dibawah syirik masuk didalamnya bidah & juga kabair, kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada didalamnya ini jelas, kalau disini beliau mendatangkan ayat ini dengan bab

ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

Bidah itu lebih dahsyat daripada dosa besar.

Maka sebagian syuro menjelaskan bahwasanya bidah kalau tadi kita lihat disini urutannya syirik, bidah dengan kabair maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa² besar.

Apa diantara kesamaannya?

Disebutkan bahwasanya diantara kesamaanya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah, seseorang melakukan sesuatu didepan patung Yesus misalnya ketika dia melakukan kesyirikan niat nya adalah ibadah & makna ini ada juga didalam bidah kalau orang yang melakukan bidah niatnya ingin beribadah.

Adapun Kabair ketika dia melakukan dosa besar tadi (orang yang melakukan kabair) niatnya bukan ibadah, dia memahami & mengetahui bahwasanya itu adalah dosa, dia melacur, minum²an keras tidak ada niat ibadah dia tau kalau itu dosa, berbeda dengan bidah maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah & ini makna juga ada didalam orang yang melakukan kesyirikan sehingga dari sisi ini bidah lebih dekat & memiliki persamaan dari kesyirikan dari sisi lain orang yang melakukan bidah seakan² dia telah menjadikan dirinya sebagai musyariq, menjadikan dirinya yang mensyariatkan dia menentukan ini disunnahkan, ini diwajibkan, ini disyariatkan itu adalah orang yang mubtadi atau orang yang melakukan bidah & orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Tauhid masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah yaitu mengEsakan Allāh didalam masalah hukum syar’i, sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin didalam beliau membantah sebagian jamaah yang mereka menambah didalam bagian Tauhid dengan Tauhid al Hakimiyyah.

Beliau mengatakan bahwasanya tidak perlu menambah dengan Tauhid al Hakimiyyah karena al Hakimiyyah disini Hukum disini ada 2 bisa artinya Hukum Syar’i atau hukum kauni, kalau dia Hukum Kauni maka ini masuk didalam Tauhid Rububiyyah, hukum Kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup & meninggal, digerakkannya Matahari dst, maka ini adalah hukum kauni, kita Esakan Allāh didalam hukum kauni berarti ini masuk didalam Rububiyyah, tapi kalau masuk didalam hukum yang Syar’i maka ini masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah.

Orang yang melakukan Bidah berarti dia bertentangan dengan Tauhid al Uluhiyyah sehingga dia digabungkan disamakan dengan kesyirikan lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabair, sehingga beliau mendatangkan ayat ini

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Bidah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabair, karena masing-masing dari syirik maupun bidah itu adalah ingin bertaqarub kepada Allāh , ingin beribadah kepada Allāh.

Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya Bidah itu lebih Asyad daripada Kabair, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa² yang besar karena sama² pelakunya melakukan bidah maupun kesyirikan & niatnya adalah bertaqarub kepada Allāh ajja wa jalla, itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini ingin menunjukan kepada kita bahwasanya bidah ini lebih dekat kesyirikan daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 WAJIBNYA MASUK KE DALAM ISLAM SECARA TOTAL DAN MENINGGALKAN SELAINNYA- Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

أشد من الكبائر

Dia lebih dahsyat/ besar dosanya daripada dosa² besar.

Al Kabair jama’ dari kadziroh, yang dimaksud adalah dosa² yang besar, terkadang maknanya adalah makna yang umum masuk masuk seluruhnya seluruh dosa² yang besar baik dosa² yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islām maupun dosa² yang sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang makna kabair adalah sesuatu yang umum seluruh dosa besar baik yang tidak mengeluarkan maupun mengeluarkan dari agama Islām.

Dari sisi ini berarti syirik termasuk Kabair, ini kabair secara makna yang umum, bid’ah termasuk dosa besar Rasulullah ﷺ bersabda

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْكَبَائِرَ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ

Nabi ﷺ ditanya tentang dosa besar, kemudian beliau menyebutkan

فَقَالَ ‏”‏ الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

_syirik kepada Allāh, membunuh jiwa & juga durhaka kepada kedua orangtua

Al Kabair disini makna yang umum, buktinya disebutkan disini – الشِّرْكُ بِاللَّهِ – berarti disini disebutkan didalam hadits ini adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya kesyirikan.

Ada makna Kabair yang lebih khusus yaitu dosa² besar dibawah kesyirikan & juga bidah, seluruh dosa besar dibawah bidah & kesyirikan ini dinamakan dengan al Kabair. Urutannya yang tertinggi adalah syirik kemudian yg kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah kabair, yang paling besar dosanya adalah syirik kemudian urutan yang kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah Kabair. Kabair didoni adalah makna khusus yaitu seluruh dosa besar dibawah syirik & dibawah bidah itu dinamakan dengan kabair.

Oleh karena itu jangan ada yang mengatakan syirik itu dosa besar, yang kita pakai ini adalah kabair makna yang khusus yaitu dosa² besar dibawah syirik & juga bidah, adapun yang ada dalam hadits tadi maka itu adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya syirik & juga bidah.

Pengertian kabair adalah seluruh dosa yang diancam yang pertama dengan laknat atau diancam dengan Neraka, disebutkan ancaman neraka secara khusus atau hukuman didunia contoh laknat misalnya meratap ada ancaman laknat disana, atau menyerupai lawan jenis seorang wanita yang berdandan seperti laki² atau sebaliknya, ancaman dengan Neraka seperti Isbal, hukuman didunia seperti mencuri dipotong kemudian membunuh tanpa hak, berzina baik yang mukhson ataupun uang bukan kedua²nya mendapatkan hukuman didunia.

Bagaimana para ulama bisa mengarang al Kabair seperti adzahabi adalah dengan Qoidah ini tathabu, istiqro ayat & juga hadits yang isinya adalah tentang ancaman dari sebuah dosa, jika itu disebutkan disana laknat atau hukuman dengan Neraka, hukuman didunia maka ini termasuk dosa besar, manakah yang lebih besar dosanya bidah atau al Kabair inilah yang ingin beliau sebutkan disini.

Akibat seseorang tidak pasrah didalam masalah tata cara beribadah & dia kelakuan didalam agama maka dia terjerumus kedalam sebuah dosa yang besar bahkan dia lebih besar daripada dosa² besar, kita tau bahwasanya dosa² besar didalamnya ada membunuh ternyata orang yang melakukan bidah lebih besar dosanya daripada orang yang berzina & kita tau bagaimana hukuman zina & bagaimana besar dosanya sampai orang yang mukhson Kalau dia berzina maka dia dihalalkan darahnya di rajam sampai dia meninggal dunia adapun orang yang belum pernah menikah yang syari maka dia dicambuk kemudian dia di asingkan selama 1 tahun.

Kalau berzinanya 2 kali mana yang lebih besar dosa bidahnya atau zinahnya? Tetap bidah. Kalau berzinanya 3 kali tetap bidah lebih besar, seandainya dia berzina 10 kali maka tetap besar dosa bidah ini menunjukan tentang bahayanya melakukan bidah bahayanya tidak kaafah didalam Islām, tidak pasrah didalam masalah tata cara ibadah sampai dosa tersebut lebih besar daripada dosa kabair membunuh kalau kabair itu sudah menghancurkan seseorang mengurangi keimanannya & bisa menghancurkan kehidupan seseorang lalu bagaimana dengan bidah yang dia dosa nya lebih besar daripada dosa² besar tadi.

Tentunya ini adalah menunjukan tentang betapa bahayanya bidah betapa bahayanya orang yang tidak pasrah didalam masalah tata cara Ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 08: Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total Dan Meninggalkan Selainnya – Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Yang dimaksud dengan bid’ah sebagaimana diterangkan oleh al Imam Asy Syatibi rahimahullah didalam beliau (al Itishob), beliau menyebutkan bahwasanya yang dimaksud dengan bidah adalah:

عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Yang dimaksud dengan Bidah adalah sebuah jalan / cara didalam agama,

Ucapan beliau _didalam agama_ keluar darinya jalan didalam urusan dunia. Masalah Dunia, Listrik microphon, internet dll, ini bukan pembahasan kita.

طريقة في الدين

Sebuah jalan didalam agama/ibadah – مخترعة – dan dia Adalah sesuatu yang baru tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang Murni, tidak ada dalilnya didalam al Quran, tidak ada dalilnya didalani as Sunnah – تضاهي الشرعية – dan dia menyerupai sesuatu masyruk sesuatu yang disyariatkan sehingga orang yang jahil karena dia menyerupai syariatkan menyangka bahwasanya itu adalah bagian dari agama.

Contoh, di dalam agama kita ada disyariatkan seseorang untuk memperbanyak dzikir kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah yang secara dhohir seakan² dia adalah sesuatu yang disyariatkan, kita baca لا إله إلا الله misalnya 1000 kali.

Hampir mirip dengan syariat, dari lafadznya kemudian disana juga disebutkan ketentuan jumlahnya, karena terkadang didalam hadits Nabi ﷺ menyebutkan jumlah, membaca tasbih 33X Tahmid 33X , takbir 33X (setelah shalat) disebutkan disana jumlah, ada sebagian orang mendatangkan lafadznya kemudian mendatangkan jumlahnya tapi dia ganti bilangan, diganti waktunya, kalau tadi setelah shalat dia tambah dengan membaca-لا إله إلا الله

1000X setelah pertengahan malam, orang jahil mendengar seperti itu dia menyangka ini bagian dari syariat karena mirip lafadznya, kemudian disitu disebutkan tentang jumlahnya.

تضاهي الشرعية

Dia serupa / mirip dengan syariat tetapi tidak memiliki dalil yang shahih didalam agama ini.

يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Dimaksudkan menempuh jalan ini yaitu menempuh Toriqoh / cara ini tujuannya adalah untuk – المبالغة – berlebih²an didalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih & ingin ghuluw didalam beribadah kepada Allāh.

Jadi tujuan dibuatnya jalan yang baru ini adalah ingin tambah didalam beribadah kepada Allāh.

Itu adalah pengertian bidah secara syariat adapun secara bahasa jelaa bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang baru, segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bidah, maka Listrik bidah menurut bahasa, internet bidah menurut bahasa, adapun secara syariat maka hanya berkaitan dengan agama berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh subhanahua wa Taalā, itu adalah pengertian bidah secara syariat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost