Category Archives: none

SILSILAH ‘ILMIYYAH PEMBAHASAN KITĀB AL-‘AQĪDAH AL-WĀSITHIYYAH | HALAQAH 19

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Halaqah 19 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 02: QS At-Taubah 7 Dan Al-Baqarah 222

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan ayat yang ke tiga

فَمَا اسْتَقَامُواْ لَكُمْ فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Selama mereka Istiqomah untuk kalian, artinya mereka lurus tidak membatalkan perjanjian mereka, ini berkaitan dengan seorang muslim atau kaum muslimin memiliki perjanjian perdamaian dengan orang-orang kafir, selama mereka istiqomah yaitu menjaga perjanjian mereka

فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ

Maka hendaklah kalian istiqomah untuk mereka, yaitu jangan membatalkan, seorang muslim harus memegang janjinya, janji berdamai selama 5 tahun tidak boleh saling menyerang, kita sebagai seorang muslim diharuskan untuk menjaga, memegang janji ini. Bukan sifat seorang muslim menghianati janji, menghianati perjanjian, itu bukan sifat seorang muslim, tapi seorang muslim dia takut kepada Allāh ﷻ dan mengetahui bahwasanya perjanjian ini akan ditanya dihadapan Allāh ﷻ

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ

[Surah Al-Isra’:34]

Hendaklah kalian menyempurnakan janji kalian.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Artinya seseorang menjaga perjanjian tersebut, ini adalah bagian dari ketaqwaan karena orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ, orang yang takut kepada Allāh ﷻ dia khawatir kalau dia membatalkan perjanjiannya maka akan menjadi permasalahan tersendiri bagi dia di hari kiamat

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤

Hendaklah kalian menyempurnakan janji, sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya.

Orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ dan hari akhir, yang benar-benar dia yakin dengan hari akhir dan ingin keselamatan dirinya dihari akhir, janji dia kepada siapapun termasuk diantaranya adalah kepada orang-orang kuffar akan dia pegang.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Termasuk di antara sifat orang yang bertaqwa adalah mereka memegang janjinya, istiqomah dalam janjinya, selama orang-orang musyrikin tadi memegang janjinya, tapi kalau mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy dan sekutu mereka ketika mereka terlebih dahulu yang mengkhianati perjanjian Hudaibiyah, maka dalam keadaan demikian boleh kita untuk menyerang karena mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji, sehingga Nabi ﷺ ketika mengetahui dan sampai kabar kepada Beliau ﷺ bahwa orang-orang Quraisy dan juga sekutunya mereka membatalkan perjanjian Hudaibiyah, Beliau ﷺ segera mengumpulkan kaum muslimin yang ada di Madinah dan sekitarnya untuk pergi ke Mekah, membuka kota Mekah.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Berarti di antara sifat atau di antara golongan yang dicintai oleh Allāh ﷻ adalah orang-orang yang bertaqwa. Ketika kita mendengar ayat seperti ini harusnya kita ini semangat, bagaimana Ana bisa menjadi orang yang bertaqwa, Ana ingin dicintai oleh Allāh ﷻ, maka seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan taqwa, taqwa sebagaimana disebutkan oleh Talq bin Habib

أن تعمل بطاعة الله علي نور من الله ترجو ثواب الله. و أن تترك معصية الله علي نور من الله تخاف عذاب الله

Engkau melakukan ketaatan kepada Allāh ﷻ, beramal sholeh, diatas cahaya, yaitu sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ bukan berdasarkan kejahilan tapi berdasarkan cahaya, berdasarkan ilmu, ada dalilnya bukan hanya sekedar hawa nafsu, bukan hanya sekedar ikut-ikutan, bukan hanya sekedar mengikuti adat istiadat dan kebiasaan,

علي نور من الله

berada di atas cahaya, yaitu di atas ilmu, itu namanya taqwa. Adapun amal shaleh dikatakan itu amal shaleh tapi tidak berdalil, apakah itu masuk dalam taqwa, tidak, taqwa yaitu kalau amal shalehnya berdasarkan dalil.

ترجو ثواب الله

Dan engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, bukan mengharap pahala dari manusia, kalau riya sum’ah tidak dinamakan dengan taqwa, kemudian engkau meninggalkan kemaksiatan

علي نور من الله

berdasarkan dalil, bukan berdasarkan ikut-ikutan tapi berdasarkan dalil

تخاف عذاب الله

engkau takut terhadap azab Allāh ﷻ, bukan karena takut kalau dia terkena penyakit sehingga dia tidak mau berzina, ini bukan karena Allāh ﷻ, bukan karena takut terhadap Allāh ﷻ tapi takut terhadap penyakit tertentu, taqwa kepada Allāh ﷻ kalau Antum meninggalkan kemaksiatan karena Allāh ﷻ, yaitu karena takut kepada Allāh ﷻ.

Berarti bertaqwa kembali kepada ikhlas dan kembali kepada mengikuti sunnah Nabi ﷺ, ingin dicintai oleh Allāh ﷻ jadilah orang yang bertaqwa, yang beramal shaleh meninggalkan kemaksiatan berdasarkan ilmu. Berarti kalau ingin bertaqwa harus menuntut ilmu, menjadi seorang yang mau menghadiri majelis ilmu karena di situ dia mendapat ilmu, membaca, mendengarkan, menulis, menjadi seorang penuntut ilmu supaya kita bisa menjadi orang yang benar-benar bertaqwa sehingga kita menjadi orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ.

Ihsan juga demikian, orang bisa mencapai derajat Ihsan bisa menyesuaikan dan bisa mengikuti sunnah Nabi ﷺ harus menuntut ilmu, maka menuntut ilmu ini adalah pintu dan kunci seluruh kebaikan, ingin menjadi orang yang bertaqwa, ingin menjadi orang yang muhsin, ingin menjadi orang yang adil juga berdasarkan ilmu karena adil itu kalau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Kemudian setelahnya beliau mengatakan atau mendatangkan firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya.

Disini Allāh ﷻ menyebutkan golongan yang lain yang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ yaitu golongan yang pertama adalah At-Tawwābīn, At-Tawwāb artinya adalah orang yang sering memperbanyak, bukan hanya sekali dalam setahun bahkan ada yang sekali dalam lima tahun, yang Allāh ﷻ cintai mereka adalah orang yang sering melakukan taubat kepada Allāh ﷻ karena dia merasa dirinya penuh dengan dosa dan seandainya dia beramal sholeh pun amal shalehnya penuh dengan kekurangan.

Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian, yang terus-menerus dia melakukan taubat kepada Allāh ﷻ, memperbanyak melakukan taubat kepada Allāh ﷻ. Dan taubat yang dimaksud disini tentunya adalah taubat yang nasuh, taubat yang kholis, taubat yang murni, taubat yang memenuhi syarat bukan hanya sekedar taubat yang sekedar ucapan, tapi Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang sering bertaubat dengan taubat yang nasuh, taubat yang terpenuhi tiga syarat. Pertama dia menyesal, menyesal dalam hatinya, pedih hatinya ketika dia mengingat kembali dosa tadi.

Kemudian yang kedua dia tinggalkan, kalau memang dosa tadi masih menempel pada dirinya dia lepaskan, kalau dosa tadi berupa meninggalkan kewajiban maka segera dia melakukan kewajiban kalau dosa tadi berupa melakukan perkara yang diharamkan maka segera dia singkirkan perkara-perkara yang berkaitan dengan dosa tadi, kalau dia melakukan atau bekerja di tempat yang diharamkan maka dia tinggalkan pekerjaan itu, kalau dia melakukan perjudian maka dia tidak berjudi dan tidak mendatangi lagi tempat-tempat perjudian.

Kemudian syarat yang ketiga dia memiliki tekad dan juga azam, ya Allāh ﷻ saya tidak akan melakukannya di masa yang akan datang, menyesal sekali dengan apa yang terjadi, sekarang dia bertekad kuat membuka lembaran baru, tidak akan melakukan dosa ini di masa yang akan datang. Inilah yang dimaksud dengan taubat nasuha, kalau ini terus dilakukan oleh seseorang, bukan hanya sekali dalam dua tahun dalam empat tahun tapi terus dia lakukan, sering dia lakukan maka Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian sifatnya.

Kalau dosa tadi berkaitan dengan hak orang lain maka ditambah dengan syarat yang keempat yaitu harus mengembalikan hak tadi, kalau itu berupa harta maka harus dikembalikan hartanya dengan cara apapun baik dia mengetahui atau dia tidak mengetahui, yaitu orang yang punya harta tadi seandainya harta yang kita ambil dari nya tadi sampai kepadanya tanpa tahu siapa yang mengiriminya tidak masalah, kita kirim misalnya lewat pos atau lewat rekening dia atau melalui orang lain dengan merahasiakan identitas misalnya, tidak masalah.

Atau kalau misalnya itu berkaitan dengan kehormatan, pernah terjadi masalah misalnya antara kita dengan dia dan kita sampai mencaci dia, menghina dia maka kita minta maaf, tapi kalau perkara yang tidak dia ketahui misalnya kita pernah membicarakan kejelekan dia dan dia tidak tahu kalau kita membicarakan kejelekannya maka cukup dengan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut sampai kita merasa sudah memberikan yang lebih baik kepadanya atau mengganti apa yang sudah kita lakukan. Ini adalah taubat yang nasuh kalau memang di sana berkaitan dengan hak orang lain, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang sering melakukan taubat yang nasuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
[Surat At-Tahrim Ayat 8]

Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian dengan taubat yang nasuh, bukan taubat yang biasa tapi taubat yang nasuh, taubat yang lurus, taubat yang murni, yang suci, inilah yang dikatakan oleh Allāh ﷻ

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Semoga Robb kalian menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian

وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ

Dan memasukkan kalian ke dalam surga-Nya

تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Inilah taubat yang nasuh yang atasnya Allāh ﷻ memberikan pahala dengan dihapuskan dosa, dimasukkan ke dalam surga. Nabi ﷺ adalah termasuk orang yang tawwābīn, termasuk orang yang banyak bertaubat kepada Allāh ﷻ, berapa kali Beliau ﷺ bertaubat dalam sehari, seandainya kita setiap hari bertaubat satu kali, hari ini bertaubat, besok bertaubat dengan taubat yang nasuh, subhanallāh maka Insya Allāh kita termasuk orang-orang yang tawwābīn.

Seandainya setiap hari kita bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh, kita akan melihat keadaan kita lebih baik dari pada sebelumnya. Nabi ﷺ bertaubat setiap hari tujuh puluh kali, apakah Antum bayangkan bahwasanya beliau bertaubat tujuh puluh kali dengan taubat yang tidak nasuh atau taubat sambel atau taubat yang sekedar ucapan, tentunya tidak. Beliau ﷺ mengatakan

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allāh ﷻ sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allāh ﷻ dan bertaubat kepadanya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.

Bukan hanya tujuh puluh kali tapi lebih dari tujuh puluh kali beristighfar bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Itu Nabi ﷺ yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang demikian beliau bertaubat, bukan sekali dua kali tapi lebih dari tujuh puluh kali, maka seorang muslim tentunya tergugah hatinya untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ dan tidak mengakhir-akhirkan bertaubat dari dosa, segera itu hukumnya adalah wajib, karena asal dari perintah itu adalah untuk segera kita lakukan. Allāh ﷻ mengatakan

تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[Surah An-Nur:31]

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ semuanya, semuanya baik yang laki-laki maupun wanita, baik orang arabnya maupun selain arabnya, baik seorang ulamanya maupun thalibul ilm maupun orang awamnya, تُوبُوا إِلَى اللَّهِ taubatlah kalian kepada Allāh ﷻ, kembali kepada Allāh ﷻ جَمِيعًا semuanya wahai orang-orang yang beriman لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ semoga kalian termasuk orang-orang yang beruntung.

Jangan kita mengikuti was-was dari syaitan yang senantiasa nanti taubatnya nanti, nanti, nanti sampai datang kematian, kalau sudah datang kematian Allāh ﷻ tidak akan menerima taubat seseorang

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allāh ﷻ menerima taubat seorang hamba selama belum يُغَرْغِرْ, belum ada suara ghargharah, suara nyawa mau keluar, kalau sudah ada suara nyawa mau keluar maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ. Dan tidak ada antara kita yang mengetahui kapan kematian, sehingga bersegeralah untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ kita semuanya. Kita koreksi diri kita, kita muhasabah dan jangan ragu-ragu, Allāh ﷻ menjanjikan al-falah, Allāh ﷻ menjanjikan keberuntungan, orang yang taubat tidak akan rugi, jangan seorang mengikuti was-was dari syaithan, nanti kalau kamu taubat kamu tidak bisa begini, tidak bisa begitu, Allāh ﷻ akan berikan kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan kemaksiatan dengan kita bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Yang sudah merasakan ini banyak, orang-orang sholeh, para Nabi ﷺ, orang-orang yang shiddiqin mereka sudah merasakan nikmatnya hidup di dalam taubat kepada Allāh ﷻ, di samping kita juga akan mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

Allāh ﷻ mencintai hamba-hamba yang seperti ini, mencintai seorang hamba yang senang dia bertaubat kepada Allāh ﷻ.
Dan mungkin saja orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha melakukan dosa, karena bukan berarti orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha kemudian dia menjadi seorang malaikat, tidak, dia tetap sebagai seorang insan, sebagai seorang manusia, sebagai seorang anak Adam yang dikatakan oleh Nabi ﷺ

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ

Setiap anak Adam itu sering bersalah. Meskipun kita sudah bertaubat mungkin saja terjadi kesalahan lagi dan mungkin saja melakukan kesalahan yang sama tapi siapa orang yang paling baik diantara orang-orang yang sering bersalah?

وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Sebaik-baik orang yang sering bersalah adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Kalau memang kita mengakui Ana sering bersalah, ana insan, ana seorang manusia maka jadilah orang yang terbaik di antara mereka, orang yang terbaik di antara mereka adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ, inilah orang yang paling baik diantara mereka dan inilah orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ, tentunya semakin banyak kita bertaubat semakin dicintai oleh Allāh ﷻ.

وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Dan Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bersuci.

Ada dua makna disini, bersuci dalam artian membersihkan jiwanya, berarti disini bersuci yang ma’nawi, membersihkan jiwanya dari dosa, ini hubungannya dengan At-Tawwābīn tadi, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya, dia tidak ingin kotor, risih dia dengan kotoran dosa yang ada dalam dirinya maka dia segera bertaubat kepada Allāh ﷻ, setiap kali kotor lagi dia bersihkan lagi dengan taubat kepada Allāh ﷻ dia ingin menjadi orang yang bersih, senantiasa menjadi orang yang bersih dari dosa, tidak betah dengan dosa yang terlalu lama menumpuk di dalam dirinya, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang demikian orang yang ingin bersih.

Jadi jangan seseorang hanya pandai bersih dalam dzhohirnya saja, mandi rajin, pakai pakaian yang rapi, pakai berbagai alat yang menjadikan dia lebih bersih, lebih cerah dan seterusnya tapi dia terus melakukan dosa, kotor dan sangat kotor dirinya dengan dosa dan juga maksiat meskipun secra dzhohir dia memiliki badan yang bersih.

Makna yang kedua adalah bersih secara dzhohir, maksudnya adalah orang yang senang bersuci, ingin setiap keadaan dia dalam keadaan dia suci dengan wudhu, kalau dia junub maka segera dia mengangkat hadats besarnya, kalau dia hadats kecil dia berwudhu kembali, dia ingin dirinya dalam keadaan berwudhu terus, dalam keadaan suci terus. Maka ini masuk dalam pengertian ayat ini, Allāh ﷻ mencintai seseorang yang demikian, ini menjadi dalil tentang keutamaan bersuci atau dalam keadaan suci secara mutlak yaitu seseorang yang senantiasa dalam keadaan suci, ketika dia batal dia wudhu kembali, maka ini termasuk amal shaleh, dengannya seseorang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

I’TIKĀF BAGIAN 01 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 15 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H | 21 Januari 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb I’tikāf
🔊 Kajian 107 | I’tikāf Bagian 01
⬇ Download audio: bit.ly/MatanAbuSyuja-K107
➖➖➖➖➖➖➖

I’TIKĀF, BAGIAN 01 DARI 03

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulilāh, kita kembali mempelajari perkara-perkara di dalam urusan agama, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberkahi kita semua.

Alhamdulilāh, kita masuk pada bab tentang I’tikāf (اعتكاف).

Secara Bahasa

الحبس ولزوم الإقامة علي الشيء

(I’tikāf (اعتكاف) secara bahasa maksudnya) menahan diri, dia berdiam pada satu tempat.

Secara Syari’at

 حبس النفس في المسجد بنية العبادة

Yaitu berdiam diri di masjid dalam rangka untuk beribadah.

⇒ Jadi yang dimaksud dengan i’tikaf secara syar’i adalah seorang dia berdiam di masjid dengan niat untuk ibadah.

Berkata penulis rahimahullāh:

((والاعتكاف سنة مستحبة وله شرطان))

((Bahwasanya i’tikāf adalah sunnah mustahabah.))

⇒ Hukumnya adalah sunnah yang disukai oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalīlnya adalah hadīts Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّام فَلمَّا كَانَ العَامُ الذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوماً

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beri’tikāf setiap bulan Ramadhān sepuluh hari, dan pada tahun dimana beliau meninggal dunia beliau beri’tikāf selama dua puluh hari.”

(Hadīts riwayat Bukhāri)

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam senantiasa mendawamkan (kontinue) di dalam ibadah i’tikāf ini.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mengqadha tatkala beliau tidak bisa i’tikāf di bulan Ramadhān, beliau qadha dengan i’tikāf di bulan Syawwāl.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau i’tikāf di sepuluh hari terakhir di bulan Syawwāl, sebagai qadha dari bulan Ramadhān, hadīts itu diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Namun yang paling afdhal adalah di bulan Ramadhān, terutama di akhir bulan Ramadhān sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

كان النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قال كان يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam senantiasa beri’tikāf di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān, sampai Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewafatkan beliau.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan petunjuk bahwa i’tikāf pun boleh dilakukan tidak harus sepuluh hari, i’tikāf bisa dilakukan satu hari.

Sebagaimana tatkala ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

“Saya bernadzar waktu saya masih jāhilīyyah untuk beri’tikāf satu hari di masjid harām.”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Tunaikanlah nadzarmu (i’tikāf lah satu malam).”

⇒ Ini menunjukkan bahwanya boleh seseorang beri’tikāf walaupun satu malam.

Berapa masa minimal seseorang dikatakan i’tikāf?

√ Pendapat jumhur di antaranya Abū Hanifah dan juga Imām Syāfi’i:

“Tidak ada batas minimalnya, selama seorang berniat untuk i’tikāf, walau hanya satu jam, dua jam maka dia sudah terhitung i’tikāf.”

√ Pendapat yang lain ada yang mengatakan:

“Minimal satu hari satu malam, berdasarkan hadīts dari ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu. Bahwasanya disebutkan di situ satu malam dan disetujui oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak ada dalīl bahwasanya i’tikāf kurang dari satu malam.”

Yang jelas apabila seorang mampu untuk melaksanakan i’tikāf terutama di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhān dalam rangka berniat untuk ibadah maka hendaknya dia dawwamkan (rutinkan), karena ini adalah salah satu sunnah yang senantiasa dikerjakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Penulis rahimahullāh berkata:

((وله شرطان: النية والبث في المسجد))

((Dan i’tikāf ada dua syarat, yaitu: ⑴ Niat ⑵ Berdiam diri di masjid))

Niat

Adapun niat sebagaimana hadīts yang umum:

إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan di dalam hatinya.”

Oleh karena itu tatkala seseorang ingin masuk ke dalam masjid dan dia berniat i’tikāf maka dia mendapatkan pahala i’tikāf. Akan tetapi tatkala dia masuk ke dalam masjid tidak meniatkan dalam hatinya untuk i’tikāf walaupun dia berdiam diri di dalam masjid selama sepuluh hari, maka dia tidak terhitung sebagai i’tikāf.

Oleh karena itu perlu diniatkan di dalam hati bahwasanya, “Saya masuk masjid berniat untuk i’tikāf mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Berdiam di dalam masjid

Karena tidak disyari’atkan i’tikāf selain di masjid, berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Dan jangan kamu berhubungan (campuri mereka) sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

⇒ Di sini menunjukkan bahwasanya sifat i’tikāf dia adalah berada di masjid.

Dalīl kedua adalah bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam i’tikāf di masjid begitu juga para istri-istri beliau, mereka beri’tikāf juga di masjid.

Seandainya diperbolehkan i’tikāf di rumah atau di tempat lain niscaya istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak i’tikāf di masjid, karena i’tikāf di masjid ada masyaqah (kesulitan) sedangkan di rumah akan lebih nyaman daripada berada di masjid.

Dan masjid yang diperbolehkan adalah seluruh masjid, sebagaimana pendapat jumhur, bukan hanya tiga masjid saja (masjid Harām, masjid Nabawi dan masjid ‘Aqsa), tidak terbatas tiga masjid ini.

Selama disebut sebagai masjid maka diperbolehkan untuk i’tikāf di dalamnya berdasarkan keumuman firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

“Sedang kamu dalam keadaan i’tikāf di dalam masjid.”

(QS Al Baqarah: 187)

Demikian yang bisa disampaikan, in syā Allāh akan kita lanjutkan pada pelajaran berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal


Kitab Syamāil Muhammadiyah-Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam – Hadis 27

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 19 Rajab 1440 H / 26 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 27 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-27
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYISIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta’āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-27) kita akan masuk pada hadīts nomor 33.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ هُوَ الرَّقَاشِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ دَهْنَ رَأْسِهِ وَتَسْرِيحَ لِحْيَتِهِ، وَيُكْثِرُ الْقِنَاعَ حَتَّى كَأَنَّ ثَوْبَهُ، ثَوْبُ زَيَّاتٍ.

Shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

“Adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sering meminyaki rambut Beliau. Begitu juga Beliau banyak menyisir jenggotnya dan Beliau juga sering memakai kain pelindung saat meminyaki rambut. Karena seringnya Beliau meminyaki rambut, baju Beliau seperti baju pen jual minyak.”

Hadīts ini merupakan hadīts yang dhaif begitu juga kata Syaikh Albāniy rahimahullāh dan Syaikh Abdur Razzaq Al Badr, karena dalam hadīts tersebut ada berita yang mungkar tidak mungkin ada pada diri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di dalam hadīts disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam karena seringnya memakai minyak rambut sampai baju Beliau seperti baju yang dipakai oleh oleh penjual minyak.

Tentu ini merupakan hal yang tidak layak bagi Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Bagaimana tidak, ada shahābat yang datang kepada Beliau dalam keadaan bajunya kotor, kemudian Beliau menegur shahābat tersebut dengan cukup tegas sebagaimana dalam hadīts Abū Dāwūd nomor 4062 yang di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

 أ ما كانَ يجدُ هذا ما يغسِلُ بهِ ثوبَهُ؟

“Apakah orang ini tidak menemukan benda yang bisa mencuci bajunya?”

Sehingga bisa disimpulkan ini merupakan hadīts yang dhaif sebagaimana kata para ulamā.

Kemudian hadīts ke-34, Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنِ الأَشْعَثِ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ، وَفِي تَرَجُّلِهِ إِذَا تَرَجَّلَ، وَفِي انْتِعَالِهِ إِذَا انْتَعَلَ

Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci dan saat menyisir atau merawat rambut, begitu juga saat beliau memakai sandal.”

Sahabat BiAS rahīmakumullāh,

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh yang diriwayatkan juga oleh Imām Bukhāri dalam hadīts nomor 168, dengan tambahan lafazh:

وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Dan Beliau senang mendahulukan yang kanan dalam setiap urusan Beliau.”

Imām Muslim pun meriwayatkan dengan tambahan lafazh yang sama dengan nomor hadīts 268, sehingga hadīts ini merupakan hadīts yang bisa dijadikan dalīl.

Pelajar dari hadīts ini adalah :

⑴ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka mendahulukan yang kanan saat bersuci baik itu wudhū’, mandi ataupun tayammum.

Ketika Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) membasuh, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Misalkan Beliau berwudhū’, maka Beliau membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri, kaki kanan sebelum kaki kiri.

Begitu juga ketika Beliau menyisir rambut, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Begitu juga ketika Beliau memakai sandal, Beliau memasukan kaki kanan terlebih dahulu sebelum kaki kiri.

Alasan kenapa hadīts ini dimasukan dalam bab menyisir rambut adalah:

√ Karena dalam hadīts tersebut bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan saat Beliau menyisir rambut.

Dan sunnah ini masuk dalam berbagai hal yang baik termasuk memberi, menerima, makan, memakai baju, memakai celana, dan lain sebagainya.

Adapun untuk hal-hal yang kotor Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menggunakan yang kiri.

Misalnya: Saat beristinjā, istijmār dan yang lainnya.

Imām An Nawawi rahimahullāh berkata:

قاعدة الشرع المستمرة استحباب البداءة باليمين، في كل ما كان من باب التكريم والتزين وما كان بضدها استحب فيه التياسر

“Kaidah syar’iat yang telah baku, sunnahnya memulai dari kanan dalam setiap hal yang di situ ada kemuliaan dan berhias. Adapun lawannya disunnahkan menggunakan yang kiri terlebih dahulu.”

Inilah agama Islām, ada banyak adab indah yang terkadang tidak ditemukan di dalam agama lain, bahkan dalam hadīts ini untuk menggunakan atau mendahulukan anggota badan yang kananpun ada hadīts nya. Itulah agama Islām.

Pertemuan kali ini cukup sampai disini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/


ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA

ISTIGHFAR-NYA NABI IBROHIM YANG ISTIMEWA…

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa.

 

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنبن

“ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININ” [QS. Ibrohim: 41]

(Ya Rabb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin).

 

PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

 

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.
.
.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى .
.
.
Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/11487

Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Ke Dalam Neraka (bagian 1)

BimbinganIslam.com
Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 60 | Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Ke Dalam Neraka (bagian 1)
Download Audio: https://goo.gl/3vnWSn

 

CONTOH DOSA PENYEBAB JATUHNYA SESEORANG KE DALAM NERAKA (BAGIAN 1)
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang

“Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Ke Dalam Neraka Bagian Pertama”


Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.

Di antara dosa tersebut adalah:
Dosa bid’ah.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata,

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”
(Hadits Shahih Riwayat Nasā’i)

Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islam.

Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al Qurān dan Al Hadits dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islam, menjadi berbagai aliran yang banyak.

Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada islam yang murni yang dipahami oleh para sahabat Radhiyallāhu ‘anhum.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, ‘Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?’ Beliau menjawab, ‘Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku’.”
(Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi).

Ucapan beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam “ummatī” yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.

Dan ucapan beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.

Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.

 

♦ Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:
➙Tidak kembali kepada pemahaman para sahabat di dalam memahami Al Qurān dan Al Hadits.
➙Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhid
➙Mendahulukan akal di atas dalil.
➙Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama.
➙Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran,
di antara cirinya:
√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.
√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadits di dalam berdalil.
√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkafirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.

 

Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia,
meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka.

Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al Hadits.

Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara se-Islam.
Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.

Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulama. Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya.

Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
‘Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HALAQAH 60

BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR (BAGIAN 2)

BimbinganIslam.com
Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 54 | Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 2)
Download Audio: https://goo.gl/ZECqpe

BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR (BAGIAN 2)
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

 

Halaqah yang ke-54 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar (Bagian 2)”.

Di antara kejadian di Padang Mashyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Malaikat dan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.
Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā ayat 40-42 bahwasanya di Padang Mahsyar, Allāh akan bertanya kepada para Malaikat yang disembah oleh sebagian manusia sebagai penghinaan kepada orang-orang musyrikin yang dahulu menyembah mereka: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?”.
Para malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami bukan mereka. Akan tetapi sebenarnya mereka dahulu telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin tersebut.”
⇒ Maksudnya bahwasanya orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allāh baik orang yang shalih, benda mati dan yang lain-lain maka pada hakekatnya mereka menyembah jin karena yang menyuruh mereka untuk menyekutukan Allāh adalah jin.

Apabila mereka menaati berarti mereka telah menyembah jin tersebut.
Para malaikat pun tidak berkuasa untuk memberikan manfaat dan tidak pula mudharat kepada orang-orang yang telah menyembah mereka.

Para penyembah malaikat itu pun akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam Surat Al Māidah ayat 116-117 ,

Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, sebagai penghinaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap orang-orang Nashrani, yang menjadikan beliau dan ibu beliau sebagai Tuhan.
“Wahai ‘Īsā putra Maryam, apakah engkau dahulu pernah mengatakan kepada manusia:
‘Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allāh?’
‘Īsā menjawab:
“Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya.
Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya.
Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghāib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, yaitu:
‘Sembahlah Allāh Rabbku dan Rabb kalian.’
Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku hidup bersama mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan atau angkat aku, Engkau lah yang mengawasi mereka.
Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

 
Demikianlah keadaan para malaikat dan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.
✓Mereka adalah makhluk yang taat beribadah kepada Allāh.
✓Senang apabila manusia menyembah hanya kepada Allāh.
✓Dan mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah diri mereka.

 

Demikian pula orang-orang yang shalih dan wali-wali Allāh, manusialah yang terlalu berlebih-lebihan terhadap mereka;
• Membuat patung mereka.
• Memajang gambar mereka.
• Membangun dan menghias kuburan mereka.
• Meyakini bahwasanya mereka mengetahui yang ghāib.
• Berdo’a kepada mereka.
• Bepergian jauh untuk berziarah ke makam mereka.
• Beri’tikaf di kuburan mereka.
• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.
• Membangun masjid di atas kuburan mereka atau memasukkan kuburan mereka di dalam masjid.
• Bertawassul dengan do’a mereka setelah mereka meninggal dunia atau menganggap orang-orang shalih tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allāh.
Ini semua termasuk berlebihan.

—— >>>> Jangan sampai keadaan seseorang seperti keadaan:
⑴ Kaum Nabi Nūh ‘alayhissalām yang berlebihan terhadap 5 orang shalih yang disebutkan dalam Quran surat Nūh ayat yang ke-23.
Atau keadaan,
⑵ Sebagian orang yang mengaku mencintai ‘Ali bin Abī Thālib, Fāthimah, Hasan, Husain dan sebagian keturunan Beliau radhiyallāhu ‘anhum kemudian berlebih-lebihan terhadap mereka.

—————————————————————————————

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
‘Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

 

BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR (BAGIAN 2)

HAJI (Bagian 20) Tentang Miqat Haji

? BimbinganIslam.com
Selasa, 18 Dzulhijjah 1437 H / 20 September 2016 M
? Ustadz Firanda Andirja, MA
? Materi Tematik | HAJI (Bagian 20)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Haji-20
———————————–
 بسم اللّه الرحمن الرحيم
Ikhwāniy Fīllah,
Kita kembali masuk kepermasalahan miqat.
Sebagian fatwa ulamā ditanah air kita menyatakan bahwasanya miqat di Jeddah adalah sah karena berdalīl dengan perkataan para ulamā bahwasanya miqat itu ijmā’ ulamā.
Mereka berdalīl:
“Apabila sudah marhatain (2 marhalah) yaitu sekitar 80 km dari jarak Mekkah maka miqatnya sah.”
⇒ Marhalah itu istilah fiqih yang artinya jarak safar.
Perlu kita ingatkan, bahwasanya perkataan para ulamā tatkala mengatakan, “Miqat sah dengan jarak 2 marhalah,” adalah bagi orang yang tidak melewati miqat sama sekali.
Dalam hal ini (bila kita lihat di peta) orang yang datang dari arah laut lalu masuk kearah Jeddah, dia tidak melewati miqat dan tempat yang sejajar dengan miqat.
Maka untuk yang itu di bolehkan, sesuai fatwa dari Syaikh bin Baz rahimahullāhu Ta’āla.
Adapun bila dia melewati miqat yang lain, maka sepakat ulamā tidak boleh berihram kecuali melewati miqat atau tempat yang sejajar dengan miqat.
Orang-orang Indonesia kebanyakan masuk (pesawatnya) melewati  Yalamlam atau Qarn Al Manazil, maka seharusnya dia (para jama’ah haji/umrah) mengambil miqat sejajar dengan Yalamlam atau Qarn Al Manazil karena diperkirakan jaraknya sekitar 90 Km dari kota Mekkah.
Kesalahan kedua, ketika sebagian ulamā yang menyatakan bolehnya miqat di Jeddah, mereka menyatakan bahwa yang dimaksud sejajar itu adalah menarik garis lurus antara satu titik miqat kemiqat lainnya (seperti yang tertera dipeta ada garis lurus yang ditarik dari Dzulhulaifah menuju Al Juhfah, kemudian Dzulhulaifah menuju Dzātu ‘Irq, dari Dzātu ‘Irq menuju Qarn al Manazil, dari Qarn al Manazil menuju Yalamlam).
Pendapat seperti ini keliru karena makna sejajar bukan demikian.
Coba kita perhatikan Dzātu ‘Irq!
Dzātu ‘Irq adalah miqat yang dipasang oleh ‘Umar bin Khathab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bagi penduduk Iraq,  karena penduduk Iraq tidak ingin melewati Qarn Al Manazil, maka ‘Umar membuat miqat untuk mereka yang sejajar dengan Qarn Al Manazil.
Seandainya cara mengetahui maksud sejajar dengan miqat adalah dengan cara menarik garis lurus dari satu titik miqat ke titik miqat yang lainnya, maka tatkala kita tarik garis lurus dari Dzulhulaifah menuju Qarn Al Manazil makan kita tahu bahwa Dzātu ‘Irq jaraknya lebih.
Tapi ternyata bukan demikian caranya.
Coba kita bayangkan, jika kita tarik garis lurus dari Dzulhulaifah ke Qarn Al Manazil maka jaraknya tentu lebih dekat ke Mekkah daripada Dzātu ‘Irq.
Tapi ternyata cara ‘Umar menentukan miqat bukan dengan menarik garis lurus dari satu titik ke titik yang lainnya melainkan dengan sejajar.
⇒ Sejajar maksudnya, jarak dari Mekkah ke Qarn Al Manazil berapa km? Maka demikianlah (sejauh itulah) jarak Dzātu ‘Irq ke Mekkah.
Misalnya, bila ada seseorang melewati (masuk) ke kota Mekkah dari Yalamlam tetapi dia tidak melewati Yalamlam secara pasti, dia melewati sebelah kanannya kira-kira 100 Km.
Maka, tentunya titik yang sejajar itu jaraknya harus sama dengan Mekkah (maksudnya) sama dengan jarak Yalamlam menuju Mekkah. Itu namanya sejajar dengan Yalamlam (sekitar 90 km).
⇒ Inilah yang dinamakan sejajar dalam kamus-kamus bahasa Arab.
Sebagian orang yang menarik garis lurus dari satu titik ke titik yang lainnya yang akhirnya menjadikan Jeddah di luar miqat.
Misalnya seorang menarik garis lurus dari Al Juhfah menuju Yalamlam  maka Jeddah akan berada di luar miqat dan ini adalah kesalahan karena bukan begitu cara mengartikan sejajar untuk menentukan miqat.
Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Perkara berikutnya berkaitan dengan miqat.
Kita tahu bahwasanya Jeddah bukanlah miqat bagi jama’ah haji Indonesia.
Jama’ah haji Indonesia biasanya melalui udara maka hendaknya para jama’ah haji tersebut tatkala miqat (miqat di atas udara) hendaknya berhati-hati, jangan sampai terlewat zona miqatnya.
Untuk mengetahui zona miqat biasanya ada pengumuman dari petugas di pesawat. Petugas tersebut akan memberi tahu (misalnya) setengah jam lagi kita akan melewati zona miqat, atau bila sudah mendekat akan dikatakan lagi 15 menit lagi kita akan melewati zona miqat dan sebagainya.
Maka hendaknya para jama’ah sudah bersiap (berihram) lima menit atau sepuluh  menit sebelum melewati miqat, karena pesawat bergerak sangat cepat.
Dan kita tahu jarak miqat sangat terbatas. Setengah detik saja dia terlambat maka dia sudah akan melewati daerah miqat.
Oleh karenanya dia boleh berihram sebelum lewat miqat meskipun jaraknya 5 atau 10 menit tidak masalah.
Hukum asal berihram sebelum miqat adalah makruh.
Harusnya seseorang bermiqat, berihram, ditempat miqatnya (tepat dititiknya).
Seperti penduduk Madīnah kalau bermiqat, berihram, hendaknya di Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), bukan di masjid Nabawi atau hotel.
Karena hotel atau masjid Nabawi letaknya sebelum miqat. Sehingga bila dia berihram dari hotel atau Madīnah maka hukumnya makruh.
Tetapi kalau kita lihat kondisi di pesawat (pesawat berjalan begitu cepat) sebagaimana kita ketahui bahwa miqat di pesawat tidak lah persis di atas Yalamlam tetapi yang sejajar dengan Yalamlam dan ini diketahui oleh pilot pesawat (mereka sudah tahu jarak-jaraknya).
Orang yang berihram boleh berihram sebelum bermiqat meskipun jarak 10 atau 30 menit tidak jadi masalah, hukum asalnya makruh namun kita tahu dalam kaedah ushul fiqih makruh tatkala dibutuhkan dalam kondisi hajjah maka makruh tadi hukumnya menjadi hilang.
Maka tidak mengapa seorang karena hati-hati dia berihram sebelum miqat daripada terlambat tatkala melewati zona masuk miqat.
Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawab.
haji-bagian-20