Category Archives: Ust Syarif Matnadjih

Bedah Al Quran 23 : Haji dan Umroh

HAJI DAN UMROH – 1

[1] Kewajiban hajji hanya untuk yang mampu pergi ke Baitulloh
(Qs.Al Imran/3 :97)

ﻓِﻴﻪِ ءَاﻳَٰﺖٌۢ ﺑَﻴِّﻨَٰﺖٌ ﻣَّﻘَﺎﻡُ ﺇِﺑْﺮَٰﻫِﻴﻢَ ۖ ﻭَﻣَﻦ ﺩَﺧَﻠَﻪُۥ ﻛَﺎﻥَ ءَاﻣِﻨًﺎ ۗ ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ٱﻟﻨَّﺎﺱِ ﺣِﺞُّ ٱﻟْﺒَﻴْﺖِ ﻣَﻦِ ٱﺳْﺘَﻂَﺎﻉَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺳَﺒِﻴﻼً ۚ ﻭَﻣَﻦ ﻛَﻔَﺮَ ﻓَﺈِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻨِﻰٌّ ﻋَﻦِ ٱﻟْﻌَٰﻠَﻤِﻴﻦَ

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) makam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang SANGGUP mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
[2] Hajji dan umroh dilaksanakan semata mata karena Allah
(Qs. Al Baqarah/2:196)

ﻭَﺃَﺗِﻤُّﻮا۟ ٱﻟْﺤَﺞَّ ﻭَٱﻟْﻌُﻤْﺮَﺓَ ﻟِﻠَّﻪِ ۚ ﻓَﺈِﻥْ ﺃُﺣْﺼِﺮْﺗُﻢْ ﻓَﻤَﺎ ٱﺳْﺘَﻴْﺴَﺮَ ﻣِﻦَ ٱﻟْﻬَﺪْﻯِ ۖ ﻭَﻻَ ﺗَﺤْﻠِﻘُﻮا۟ ﺭُءُﻭﺳَﻜُﻢْ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳَﺒْﻠُﻎَ ٱﻟْﻬَﺪْﻯُ ﻣَﺤِﻠَّﻪُۥ ۚ ﻓَﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨﻜُﻢ ﻣَّﺮِﻳﻀًﺎ ﺃَﻭْ ﺑِﻪِۦٓ ﺃَﺫًﻯ ﻣِّﻦ ﺭَّﺃْﺳِﻪِۦ ﻓَﻔِﺪْﻳَﺔٌ ﻣِّﻦ ﺻِﻴَﺎﻡٍ ﺃَﻭْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻧُﺴُﻚٍ ۚ ﻓَﺈِﺫَآ ﺃَﻣِﻨﺘُﻢْ ﻓَﻤَﻦ ﺗَﻤَﺘَّﻊَ ﺑِﭑﻟْﻌُﻤْﺮَﺓِ ﺇِﻟَﻰ ٱﻟْﺤَﺞِّ ﻓَﻤَﺎ ٱﺳْﺘَﻴْﺴَﺮَ ﻣِﻦَ ٱﻟْﻬَﺪْﻯِ ۚ ﻓَﻤَﻦ ﻟَّﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻓَﺼِﻴَﺎﻡُ ﺛَﻠَٰﺜَﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻓِﻰ ٱﻟْﺤَﺞِّ ﻭَﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﺇِﺫَا ﺭَﺟَﻌْﺘُﻢْ ۗ ﺗِﻠْﻚَ ﻋَﺸَﺮَﺓٌ ﻛَﺎﻣِﻠَﺔٌ ۗ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦ ﻟَّﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺃَﻫْﻠُﻪُۥ ﺣَﺎﺿِﺮِﻯ ٱﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ٱﻟْﺤَﺮَاﻡِ ۚ ﻭَٱﺗَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَٱﻋْﻠَﻤُﻮٓا۟ ﺃَﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ٱﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
[3] Ada kewajiban thawaf bagi yang melaksanakan hajji dan umroh
(Qs.Al Hajj/22:29)

ﺛُﻢَّ ﻟْﻴَﻘْﻀُﻮا۟ ﺗَﻔَﺜَﻬُﻢْ ﻭَﻟْﻴُﻮﻓُﻮا۟ ﻧُﺬُﻭﺭَﻫُﻢْ ﻭَﻟْﻴَﻂَّﻮَّﻓُﻮا۟ ﺑِﭑﻟْﺒَﻴْﺖِ ٱﻟْﻌَﺘِﻴﻖِ

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
[4] Ada kewajiban sa’i antara Shofa dan Marwah, baik untuk hajji atau umroh (Qs.Al Baqarah/2:158)

ﺇِﻥَّ ٱﻟﺼَّﻔَﺎ ﻭَٱﻟْﻤَﺮْﻭَﺓَ ﻣِﻦ ﺷَﻌَﺎٓﺋِﺮِ ٱﻟﻠَّﻪِ ۖ ﻓَﻤَﻦْ ﺣَﺞَّ ٱﻟْﺒَﻴْﺖَ ﺃَﻭِ ٱﻋْﺘَﻤَﺮَ ﻓَﻼَ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻥ ﻳَﻂَّﻮَّﻑَ ﺑِﻬِﻤَﺎ ۚ ﻭَﻣَﻦ ﺗَﻂَﻮَّﻉَ ﺧَﻴْﺮًا ﻓَﺈِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺎﻛِﺮٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
[5] Niat hajji dapat dilaksanakan pada bulan bulan hajji, yaitu Syawwal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah (Qs.Al Baqarah/2:197)

ٱﻟْﺤَﺞُّ ﺃَﺷْﻬُﺮٌ ﻣَّﻌْﻠُﻮﻣَٰﺖٌ ۚ ﻓَﻤَﻦ ﻓَﺮَﺽَ ﻓِﻴﻬِﻦَّ ٱﻟْﺤَﺞَّ ﻓَﻼَ ﺭَﻓَﺚَ ﻭَﻻَ ﻓُﺴُﻮﻕَ ﻭَﻻَ ﺟِﺪَاﻝَ ﻓِﻰ ٱﻟْﺤَﺞِّ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻳَﻌْﻠَﻤْﻪُ ٱﻟﻠَّﻪُ ۗ ﻭَﺗَﺰَﻭَّﺩُﻭا۟ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ٱﻟﺰَّاﺩِ ٱﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ۚ ﻭَٱﺗَّﻘُﻮﻥِ ﻳَٰٓﺄُﻭ۟ﻟِﻰ ٱﻷَْﻟْﺒَٰﺐِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu
akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈»̶·̵̭̌✽@>–✽·̵̭̌«̶┈┈
Kiriman Pak Ust Muhammad Nur Muttaqien-Bandung



Tujuh Lelaki Yang Menangis

” Tujuh Lelaki Yang Menangis..”

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا۟ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا۟ مَا يُنفِقُونَ
” Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah : 92)
Dari segaris dengan sudut Yamani renungan ini ditulis, berkenaan dengan 7 lelaki Anshor yang menangis bercucuran air mata, mereka kembali kerumah dengan tertunduk dan terus menangisi nasib mereka, tetapi bukan karena dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.
Tangisan itu karena mereka tak bisa ikut berperang dari lantaran kemiskinan dan tak memiliki kendaraan buat berperang, tatkala menghadap kepada Nabi saw, ternyata beliau juga tak memiliki kendaraan buat mengikutsertakan mereka, mereka menangis sejadi-jadinya, mereka dilanda kesedihan yang dalam, mereka ingin ‘bersedekah’ jiwa demi menggapai ridho Allah tapi tak mendapatkan jalannya.
Tujuh lelaki Anshor ini teramat istimewa, hingga perihal mereka diceritakan Allah dalam firmanNya, saat orang2 takut menyertai Nabi saw berjuang dijalan Allah, mereka justru menangis karena tak bisa menemani Nabi saw dalam perjuangannya di medan perang.
Begitulah mereka yang ‘percaya’ dengan janji Allah hingga ke dalam hati, tidak ada keraguan sedikitpun buat mendedikasikan hidupnya demi perjuangan agama Allah, mereka yaqin sepenuh hati, bahwa Allah tak pernah ingkar janji.
Tangisan mereka bukan demi urusan dunia, tangisan mereka disebabkan ingin berjuang dijalan Allah tetapi dibatasi dengan keadaan, tengoklah diri kita saat ini, sungguh banyak yang bisa dilakukan buat agamaNya, sungguh boleh jadi teramat banyak peluang untuk meraih syurgaNya, tetapi mengapa tak segera berani buat mengeksekusinya ?.
7 lelaki Anshor yang diceritakan pada ayat diatas semoga menjadi teladan, betapa tampak jelas makna sebuah keimanan kepada Allah dan RosulNya.
Dari segaris lurus sudut Yamani, berharap tulisan ini menggugah hati agar lebih berani, karena manakala Allah memberikan keridhoanNya dalam hidup ini, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Tangisan 7 lelaki Anshor diabadikan dalam lembar sejarah Islam, lalu mana tangisan kita demi memperjuangkan ‘kalimat2’ Allah?.
Wallahu A’lam Bisshowab.
Ahad, 21 Des 2014
* Menanti Iqomah Shubuh di Pelataran Ka’bah.
Copas dari Ust Syarif Matnadjih

“Tipu Daya Dalam Setiap Negeri”

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Pada setiap negeri, Kami jadikan pembesar-pembesar jahat yang  melakukan tipu daya dalam negeri itu. Namun tanpa menyadarinya,  mereka hanya menipu diri sendiri.”
(QS. Al- An’am : 123, terjemahan dari Al Quranul Karim -AL muasir terjemah kontemporer susunan Dr  H Aam Amiruddin)

 

Pesta demokrasi sudah usai, pencoblosan dan penghitungan juga sudah dilakukan dimasing-masing TPS, hasilnya hitung cepatnya saja yang beragam, boleh jadi karena banyak ‘menyimpan’ kepentingan.

Begitulah dunia, selalu mengundang permusuhan bila tidak kuat dibekali agama, ayat diatas rasanya tepat buat menggambarkan yang sedang terjadi di bumi pertiwi, semoga kita bisa saling menahan diri, persaudaraan tetap lebih utama.

Manusia boleh diperdaya, tetapi Dia mengetahui segalanya, dan kebenaran selalu dimenangkan oleh Allah.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, bahwa dunia memang sangat ‘menggoda’, tetap bersaudara dan jangan sampai terpecah belah.

Berdo’a saja, buat kebaikan bangsa ini, pasti orang baik yang akan dipilih oleh Allah buat negeri ini, dan ketentuanNya tidak bisa dikalahkan dengan berbagai tipu daya.

Romadhon penuh berkah, berkah buat seluruh orang yang bertaqwa

 

Ust Syarif Matnadjih

Setiap Kita Adalah Pemimpin

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالَعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :

“Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya,

seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka,

seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)

Hadits ini sangat populer dan boleh jadi sudah banyak dari kita yang menghafalnya, hadits diatas mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. ( QS. Al-Hijr : 92-93)

Pada ayat ini Allah bersumpah, dan dalam kaedah ilmu al-Quran dijelaskan, setiap  kali Dia mengawali ayat-ayat al-Quran dengan huruf qosam (huruf yang menunjukan sumpah) maka sesungguhnya Allah ingin memberikan ‘stressing’ lebih kepada makna yang terkandung pada ayat tersebut.
Lihat saja betapa mereka yang ‘tersandung’ sebuah kasus dan akan dimintai keterangan hanya sebagai SAKSI, maka sudah sangat ketakutan dan dibalut kekhawatiran yang begitu hebat, apalagi bila kemudian menjadi TERSANGKA, mereka menjadi tidak nafsu dalam segalanya, karena fikirannya dipenuhi dengan bayangan-bayangan kesengsaraan dan tak sedikit mereka terserang depresi hingga jatuh sakit, padahal masih di dunia dan hanya ancaman kurungan penjara yang hanya beberapa tahun saja, dan itupun masih mendapatkan perlakuan baik dan diberi makan.

Ancaman Allah dalam al-Quran buat mereka yang ‘gagal’ dalam mengemban amanah dariNya, baik sebagai imam (pemimpin pemerintahan), suami, istri, majikan dan bahkan sebagai pembantu, melebihi sejuta kali ngerinya dan sengsaranya daripada ancaman hukuman yang berlaku di Indonesia. Mereka akan ‘dipenjara’ dalam kurungan api yang berkobar, mereka akan di siksa, mereka akan diberi makan dari batang pohon yang berduri, setiap kali memakannya maka duri-duri tersebut akan tertancap dimulut dan lidahnya, mereka akan diminumkan dari air campuran darah dan nanah yang panas dan akan membakar kerongkongan, dan yang paling mengerikan bahwa mereka akan selamanya dalam siksaan.
Ancaman ini adalah nyata dan benar2 akan terjadi pada waktunya nanti, bahkan berkali-kali Allah ingatkan ancaman tersebut didalam firman2Nya.

Maka mereka yang benar-benar sayang pada dirinya akan terus berusaha menunaikan amanah apapun yang didapatkannya dari Allah, inilah yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz ketika rela dalam gelap gulita karena tak ingin menyalakan pelita dengan minyak negara untuk urusan pribadi yang padahal kala itu beliau sebagai ‘presiden’nya. Beliau takut tak mampu mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah jalla jalaaluh.

Setiap kita pemimpin, maka waktunya akan tiba, suka atau tidak suka, kita akan duduk dibangku ‘pesakitan’ di hari akhirat dan semua yang pernah dilakukan di dunia ini akan ditanyakan secara detail, tak ada sedikitpun yang terlewat,  ada ancaman dan ada janji indah yang telah disiapkan, dan semua keputusan ada dalam ‘genggaman’Nya.

Wallahu a’lam Bisshowaab.

kiriman Ustadz Syarif Matnadjih

Perumpamaan Orang Yang Membaca Al Qur’an

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبَانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَىْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ

Dari Anas, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca  Al Qur’an seperti buah utrujah, rasanya enak dan baunya wangi, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, rasanya enak namun tidak berbau, dan perumpaman orang durhaka yang membaca Al Qur’an seperti buah raihana, baunya wangi namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang durhaka yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah hanzhalah, rasanya pahit dan tidak berbau dan perumpamaan Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau minimal dapat baunya, dan perumpamaan seseorang yang duduk dengan orang yang jelek (akhlaknya) bagaikan berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak. (HR. Sunan Abu Daud : 3831).

Hadits ini lumayan panjang, semoga menjadi pilihan yang bisa kita ambil dalam menentukan perjalanan hidup kita di dunia yang sementara ini, hadits diatas merupakan perumpamaan yang Nabi pilihkan perihal keadaan ummatnya, dan kita semua berada didalamnya, semoga setelah membaca kajian ini menambahkan ‘volume’ cinta terhadap al-Quran yang suci dan mulia.

المر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).”

Ayat pembuka surat ar-ra’d ini memberikan informasi kepada kita bahwa memang kenyataan yang tak terbantahkan tentang keberadaan orang2 yang tidak beriman kepada al-quran, atau mereka mengaku hanya pada pengucapan saja dan tidak kepada perbuatan, membaca ayat dan hadits hari ini pada tulisan sederhana ini semoga akan mengingatkan kita kembali untuk menyediakan waktu ‘berinteraksi’ dengan al-quran sebagai bukti pengejawantahan keimanan yang kita punya kepada Pencipta semesta raya.

“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya”, terjemah hadits ini termaktub dalam kitab shohih muslim, Nabi saw memberikan informasi diantara ‘hadiah’ yang akan didapatkan oleh mereka yang ‘rajin’ membacanya pada saat di dunia, maka rasanya kita juga perlu bijak untuk ‘mengasihani’ diri sendiri, bukan hanya buat kebahagian dunia dan kesenangannya yang sementara, tapi juga perlu mempersiapkan kebahagiaan yang abadi nanti, dan formula yang ditawarkan oleh Allah dan RosulNya tidak terlalu berat bahkan cenderung teramat ringan, yaitu siapkan waktu khusus untuk ‘menyelami’ keindahan firman-firmanNya.

Berkali saya ingin mengingatkan diri saya dan kita semua, bahwa sungguh hidup di dunia hanya sebentar saja, semua yang tampak saat ini hanyalah kebahagiaan sementara, Allah ‘kirim’ kita ke dunia ini dari lantaran Allah ingin melihat siapa saja yang ‘cerdas’ dalam menyikapi kehidupan fana ini lalu kemudia ‘bergegas’ melakukan banyak kebaikan sesuai dengan kemampuan yang ia punya, merekalah yang layak menjadi penghuni Syurga yang sudah dijanjikan olehNya.

يُرِيدُونَ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنْهَا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيم
“Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.”

Ayat ke-37 surat ke-5 ini menjadi cerita keadaan orang2 yang pada saat di dunia tak pernah memikirkan kehidupan setelahnya, mereka ‘terhempas’ dalam siksaan yang abadi, barulah ada sesal dan niat buat berlaku baik pada saat semua sudah menjadi tiada guna.
Setiap saat kita ‘bertarung’ dengan tipu daya syeitan yang selalu ‘menggiring’ kejalan kesesatan, mereka terus tak bosan ‘membuai’ manusia untuk berambisi urusan dunia saja dan mereka berusaha membuat manusia lupa akan urusan sesudah di dunia ini, maka jadilah pemenang dalam pertarungan tersebut dan diantara caranya adalah dengan senang ‘berkawan’ dengan orang2 baik yang selalu mengingatkan untuk berbuat kebaikan.

Terlalu banyak ‘karunia’Nya yang telah diberikan kepada kita semua, dan bila kita masih bisa membaca tulisan ini, juga itu semua karena karunia dariNya, Dia Allah masih memberikan ‘kesempatan’ kepada kita semua untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik dihadapanNya.

Manfaatkan waktu yang tersisa, karena ajal bisa datang kapan saja, dan saat itulah segala niat baik sudah tak lagi ada manfaatnya.

 

kiriman Ustadz Syarif Matnadjih

Kebaikan Kepada Orang Yang Sudah Meninggal


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَخْبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ أَنَسٍ الْمَكِّىِّ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ

Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah kebaikan orang-orang yang meninggal di antara kalian dan tahanlah dari menjelek-jelekkannya.” (HR. Abu Daud : 4902)

Setiap yang sudah mati maka akan terputus semua kesempatan buat menambahkan amal kebaikan kecuali tiga hal saja : sedekah yang pahalanya terus mengalir, ilmu yang manfaat yang dengan ilmu itu banyak orang mendapatkan pengetahuan dan melakukan kebaikan, dan putra-putri yang sholih yang mendo’akan kepadanya.

Ustman bin Affan setiap kali mendatangi ‘area pekuburan’ selalu saja menangis hebat, bahkan  airmata tangisannya hingga membasahi dadanya, lain hal dengan Umar bin Abdul ‘Aziz, dari lantaran mengingat perihal kubur dan orang yang didalamnya menyebabkan kedua matanya ‘terjaga’ semalaman suntuk dan usai sholat shubuh pingsan tak sadarkan diri.

Dua cerita diatas ini semata disebabkan tentang orang2 yang sangat memikirkan nasibnya kelak didalam kubur, bahkan pada hadits lain Nabi saw mengingatkan bagi para pendosa besar kubur mereka akan memiliki 8 pintu yang keluar dari masing2 pintu tersebut kalajengking dan ular dan terus terjadi hingga hari kiamat. (*Semoga Allah selamatkan kita dan semua anak keturunan kita).

“MIN WAROOIHIM JAHANNAMU WA YUSQOO MIN MAAIN SHODIID, YATAJARRO’UHUU WALAA YAKAADU YUSIIGUHU WA YA’TIIHI al-MAUTU MIN KULLI MAKAANIN WAMAA HUWA BIMAYYIT, WAMIN WAROOIHI ‘ADZAABUN GHOLIIZH”

(dari belakangnya (stelahnya) ada neraka jahannam, dia akan diberi minum dari air nanah, diteguknya dan hampir dia tak bisa menelannya, dan datanglah (siksa) kematian kepadanya dari setiap arah, tetapi dia tidak juga mati dan setelah itu masih ada adzab yang berat), ayat 16-17 surat Ibrahim ini menjadi fase lanjutan siksaan mereka yang ‘sengaja’ melupakan kehidupan setelah kehidupan di dunia, alam kubur dan alam akhirat adalah sesuatu yang PASTI akan terjadi kepada siapa saja yang bernyawa.

Hadits diatas sebagai bentuk ‘kepedulian’ Nabi saw kepada para penghuni kubur, beliau melarang untuk menceritakan keburukan orang2 yang telah meninggal dunia karena boleh jadi hal tersebut akan semakin menambahkan ‘siksa’ kubur bagi mayit yang diceritakan. Beliau menganjurkan kepada yang hidup untuk selalu menyebutkan kebaikan orang2 yang mati karena boleh jadi itu akan meringankan siksa atau bahkan menambahkan kenikmatan bagi orang yang telah meninggal dunia.

Ya Nabii Salaam ‘Alaika…. Lelaki penuh welas asih, kasih sayang dan perhatiannya bukan hanya mereka yang masih hidup dan bertemu dengannya, tetapi juga kepada mereka yang telah mati dan bahkan tidak pernah bertemu dengannya.

Bila terhadap yang sudah mati masih diajarkan berbuat baik dan dilarang menceritakan keburukannya, tentunya terlebih berlaku kepada saudara2 kita yang masih hidup.

“WAQUULUU LINNASI HUSNA” ( dan berkatalah kepada manusia dengan santun)

Wallahu A’lam Bisshowaab.

Kiriman Ust Syarif Matnadjih

Rumah Di Surga

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِى هِنْدٍ حَدَّثَنِى النُّعْمَانُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِى سُفْيَانَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتْ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

Dari Ummi Habibah ia berkata, telah bersabda Nabi saw: “Barang siapa sholat sunnat tathowwu’ (kerelaan hati) 12 Rokaat dalam sehari, dibangunkan baginya dengan sebab sholat tersebut sebuah rumah didalam Syurga”.  (HR. Abu Daud : 1252)

Mempunyai rumah baru, mewah dan dilengkapi dengan fasilitas lengkap merupakan harapan bagi sebagian besar orang, karena memilikinya menunjukan salah satu ‘keberhasilan’ dalam kehidupan di dunia ini, tak sedikit orang yang ‘memaksakan’ buat merealisasikannya meski harus menempuh jalan kredit atau cara lainnya.

Tentu ini merupakan sebuah keinginan yang masih dalam kategori manusiawi, siapapun orangnya akan merasa bahagia bila memiliki rumah mewah apalagi bila letaknya ditempat-tempat yang strategis dan ‘bergengsi’, bahkan tidak sedikit yang berusaha memilikinya lebih dari satu, dengan alasan investasi atau alasan lainnya.

Allah memang sudah  men’design’ manusia untuk cenderung dengan hal tersebut dalam sebuah redaksi ayat :

“ZUYYINA LINNAASI HUBUU as-SYAHAWAATI MIN an-NISAAI WA al-BANIINA WA al-QONAATHIIRI al-MUQONTHOROTI MIN al-DZAHABI WA al-FIDDHOTI….”

(Dijadikan terasa indah bagi manusia  dengan kecintaan kepada wanita2, anak2, harta benda yang berlimpah dalam bentuk emas dan perak…..)

Kata al-QONAATHIIRI al-MUQONTHOROTI MIN al-DZAHABI WA al-FIDDHOTI pada ayat 14 Surat ke-3 ini ditafsirkan juga sebagai semua bentuk kemewahan yang ada didunia ini, maka tak heran banyak orang yang  berusaha mendapatkannya meskipun harus ‘menghalalkan’ berbagai cara.

Hadits diatas juga menjanjikan rumah mewah, ditempat yang nyaman, tempat yang menjanjikan kebahagiaan, tak perlu ‘merogoh’ banyak lembar rupiah untuk memilikinya, siapa yang memilikinya berarti orang tersebut telah mendapatkan ‘kemenangan’ sejati. Rumah ini di ‘arsiteki’ langsung oleh yang menciptakan para arsitek diseluruh pelosok bumi ini.

Allah Jalla Jalaaluh  telah mempersiapkan satu rumah mewah buat hambaNya yang setiap harinya melaksanakan sholat sunnah sebanyak 12 rokaat, mungkin hanya ‘menyita’ waktu 30 menit buat mewujudkannya, tetapi tetap hanya sedikit yang mau melakukannya. Entah karena janji di hadits ini terasa ‘kurang menarik’ atau bahkan ‘tidak percaya’ dengan janjiNya?,

Dia tak akan ingkar janji, Dia menjanjikan sesuatu yang pasti terjadi.

Hanya 12 Roka’at untuk ‘mewujudkan’ rumah mewah didalam syurga, tak ada keringat yang keluar dari pori kulit kita, tak ada lelah dan tak perlu mengeluarkan satu lembarpun rupiah, maka rasanya ini adalah ‘kesempatan’ yang sayang buat dilewatkan bila benar berharap bahagia selamanya.

Setiap ungkapan cinta mesti ‘menuntut’ pembuktian, agar sang kekasih tak ‘meragukan’ yang sedang kita rasa, dan Allah adalah ‘kekasih’ sejati, namaNya’ bukan sekedar nikmat kala diucapkan, tetapi juga akan ‘resapkan’ damai didalam hati.

12 Rokaat sesungguhnya terlalu singkat dan bilangan yang sedikit bagi mereka yang benar ‘dimabuk’ rindu perjumpaan denganNya.

Wallahu A’lam Bisshowaab.

 ————————————————————————–

Kiriman Ustadz Syarif Matnadjih

 

Zakat Fithri

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ أَوْ رَجُلٍ أَوْ امْرَأَةٍ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw telah mewajibkan Zakat Fithri di bulan ramadlan atas setiap jiwa dari kaum muslimin, baik orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki atau pun perempuan, anak kecil maupun dewasa, yaitu berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. (HR. Muslim : 1639)

Romadhon hanya tinggal beberapa hari lagi menemani kita, kesedihan mestinya akan terjadi kepada setiap muslim yang ‘pandai’ memaknai setiap karunia dariNya, kepergian Romadhon bahkan ‘ditangisi’ langit dan bahkan membuat para malaikat turut ‘berbela sungkawa’ kepada seluruh manusia beriring berakhirnya Romadhon.

Ketentuan Allah tetap harus terjadi, kesedihan tak boleh berlarut terlalu lama, karena pengharapan untuk ‘dipertemukan’ pada Romadhon mendatang telah menjadi redaksi khusus dalam setiap do’a kita, dan Dia Maha Mengabulkan setiap do’a hambaNya.

Ditengah kekhusyu’an I’tikaf yang dilakukan, hadits ini mengingatkan untuk melakukan ‘tugas’ lainnya sebagai ‘penyempurna’ ibadah puasa, yaitu membayar zakat fitrah, yang merupakan kewajiban bagi setiap hamba tanpa terkecuali.

Ibadah yang satu ini ‘benar-benar’ Allah ingin membentuk karakter ‘memberi’ kepada setiap hambaNya, sehingga keadaan apapun saat ini yang terjadi pada seseorang tetap mengharuskannya mengeluarkan zakat fitrah dengan berupa makanan pokok.

Memberi adalah sebuah kemuliaan, memberi tak akan pernah mengurangi, memberi adalah bentuk kepedulian dan memberi adalah pelajaran langsung dari Pemilik semesta raya.

“ALLADZIINA AAMANUU WA HAAJARU WA JAAHADUU FI SABIILILLAHI BI AMWAALIHIM WA ANFUSIHIM, A’ZHOMU DAROJATAN ‘INDA ALLAHI, WA ULAAIKA HUM al- FAAIZUUN”

(Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjuang dijalan Allah dengan Jiwa dan harta mereka, merekalah yang mendapatkan derajat yang agung disisi Allah dan mereka adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan)

Ayat di atas menjadi syarat lain selain beriman secara verbal, yaitu dengan menunjukan perbuatan yang lebih nyata dalam kehidupan di dunia, berupa ‘keberanian’ berjuang di jalanNya dengan jiwa dan harta yang dimiliki. Zakat fitrah adalah pelajaran paling dasar yang boleh jadi Allah wajibkan kepada kita semua agar kita  belajar berjuang demi agama Allah dengan harta  dan membentuk kemauan berbagi.

Wallahu A’lam Bisshowaab.
(dari Ust Syarif Matnadjih)

 

TUNTUNAN ZAKAT FITHRI

PENGERTIAN AL-FITHRI :

Al-Fithri artinya berbuka atau tdk shaum setelah sebelumnya mengerjakan shaum. Jd yg benar adalah Zakat Al-Fithri/Zakat Fithri bukan Zakat Fitrah. Adapun Fitrah artinya bawaan sejak lahir atau ciptaan.

MENURUT SYARIAT

Zakat Fithri ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu muslim yang berkemampuan atau dibayarkan atas tanggungannya oleh yang mampu.

BESARAN ZAKAT FITHRI

Dari Ibnu Umar ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithri dari bulan Ramadan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (HR. Bukhari)

Satu sha’ atau setara dgn 3 liter atau 2.5 kg makanan pokok. Kalau dikonversikan dengan uang berkisar Rp.20 rb (Ini pendapat Al-Hasan Al-Bashriy, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, Ats-Tsauriy, Abu Haniifah, dan yang lainnya; berpandangan boleh mengeluarkan zakat fitri dengan uang).

PENITIPAN ZAKAT FITHRI

Dari Nafi, Ibnu Umar, mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitri sehari atau dua hari sebelum ‘idul fitri. (Muwatha Malik II:334 no. 556)

Bisa juga dititipkan jauh-jauh hari sebelumnya.

PENYALURAN ZAKAT FITHRI

Dari Ibnu Umar berkata ; Rasulullah memerintahkan agar ditunaikan SEBELUM  manusia keluar untuk salat ‘id. (HR. Bukhari III:583)

Maksudnya adalah sebelum org keluar utk shalat ‘Idul Fithri dan setelah shalat shubuh. (Fathul Bari III:439)

HATI-HATI WAKTU PEMBAGIANNYA !

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah bersabda : Barangsiapa yang mengeluarkannya SEBELUM SHALAT, berarti ZAKAT yang diterima dan barangsiapa yang mengeluarkannya SESUDAH SHALAT IED, berarti shadaqah seperti SHADAQAH BIASA (bukan zakat fithri). (HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)

Jadi tanyakan dahulu kepada Panitia Penerima Zakat kapan dibagikannya, karena sayang sekali Zakat Fitri sebagai Penyempurna Shaum Ramadhan tidak kita dapatkan.

—————————————————————————————–

copas dari KTQS -Bandung

gambar dari google

Wanita Haid dan Orang Yang Sedang Junub, Tidak Boleh Masuk Mesjid

 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا الأَفْلَتُ بْنُ خَلِيفَةَ قَالَ حَدَّثَتْنِى جَسْرَةُ بِنْتُ دِجَاجَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رضى الله عنها تَقُولُ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَوُجُوهُ بُيُوتِ أَصْحَابِهِ شَارِعَةٌ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ وَجِّهُوا هَذِهِ الْبُيُوتَ عَنِ الْمَسْجِدِ. ثُمَّ دَخَلَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَلَمْ يَصْنَعِ الْقَوْمُ شَيْئًا رَجَاءَ أَنْ تَنْزِلَ فِيهِمْ رُخْصَةٌ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ بَعْدُ فَقَالَ وَجِّهُوا هَذِهِ الْبُيُوتَ عَنِ الْمَسْجِدِ فَإِنِّى لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ

Aisyah ra berkata; Rasulullah Saw datang, sementara pintu-pintu rumah sahabat beliau terbuka dan berhubungan dengan masjid. Maka beliau bersabda: “Pindahkanlah pintu-pintu rumah kalian untuk tidak menghadap ke masjid!” Lalu Nabi Saw masuk ke masjid, dan para sahabat belum melakukan apa-apa dengan harapan ada wahyu turun yang memberi keringanan kepada mereka. Maka beliau keluar menemui mereka seraya bersabda: “Pindahkanlah pintu-pintu rumah kalian untuk tidak menghadap dan berhubungan dengan masjid, karena saya tidak menghalalkan masuk Masjid untuk orang yang sedang haidh dan juga orang yang sedang junub”. (HR. Abu Daud : 232)

Hadits ini menghukumkan sama antara wanita yang sedang dalam keadaan haidh dan seseorang yang sedang dalam keadaan junub, keduanya tidak dihalalkan masuk masjid, hal ini tidak lain sebagai ‘pemberitahuan’ dari Nabi saw bahwa masjid adalah tempat yang suci dan bahkan disebut sebagai ‘baitullah’ (rumah Allah) dipermukaan bumi ini.

Bila ada pendapat yang ‘membolehkan’ wanita haidh masuk kedalam masjid dengan alasan bahwa ‘darah’ mereka tidak mengotori masjid karena sudah ada pembalut yang menjaganya, maka hadits ini cukup jelas bisa difahami ketika disamakan dengan seseorang yang sedang junub maka alasan utama pelarangannya lebih karena kondisi diri wanita yang saat itu sedang haidh dan bukan semata darah yang dikeluarkannya, seperti halnya seseorang yang sedang junub, maka mensucikannya harus dengan ‘mandi besar’.

“YAA BANII AADAMA KHUDZUU ZIINATAKUM ‘INDA KULLI MASJIDIN” (wahai anak cucu adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap memasuki masjid), ayat ke-31 surat ke-7 ini merupakan ‘tuntunan’ dari Allah buat semua ummat manusia setiap kali hendak memasuki masjid, ini menunjukan kemulian tempat tersebut dan harus diperlakukan secara khusus, bahkan bukan hanya dalam keadaan suci bila ingin mendatangi masjid, tetapi juga harus memakai pakaian yang bagus yang dimiliki, maka bagi wanita yang sedang Haidh dan dalam keadaan junub tidak ‘diperkenankan’ untuk masuk kedalamnya.

Dalam shohih muslim, Ummu ‘Athiyyah bercerita : “Nabi saw  memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar para gadis dan wanita-wanita yang dipingit pada dua hari raya, dan beliau memerintahkan para wanita yang sedang haidl menjauh dari mushalla (tempat shalat) kaum muslimin”, hadits ini semoga semakin memperkuat keyakinan bahwa bagi wanita yang sedang haidh agar menahan dirinya untuk tidak memasuki masjid dengan alasan apapun, dan demi menghormati tempat yang dimuliakan Allah.

Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan beberapa jamaah peserta pengajian hadits, dan kepada Allah kita berserah diri.

Wallahu A’lam Bisshowaab.

Dari Ustadz Syarif Matnadjih

Istiqomah Dalam Melakukan Keta’atan Pada Allah


حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قِرَاءَةً قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ ابْنِ الْحَكَمِ بْنِ ثَوْبَانَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ بِمِثْلِ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, sebelumnya ia rajin Qiyamullail (shalat malam), namun ia kemudian hari meninggalkannya.” (HR. Muslim : 1965)

“INNA al-LADZIINA QOOLUU ROBBUNA ALLAHU TSUMMASTAQOOMUU TATANAZZALU ‘ALAIHIMU al-MALAAIKATU ALLA TAKHOOFUU WALAA TAHZANUU WA ABSYIRUU BI al-JANNATI al-LATII KUNTUM TUU’ADUUN” (sesungguhnya orang2 yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka berpegang teguh, maka malaikat akan turun kepada mereka (berkata) : ‘janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah kalian dengan Syurga yang kalian dijanjikan).

Ayat ini sungguh menjadi sebuah motivasi yang kuat buat kita semua, Allah memberikan ‘perlakuan’ khusus kepada setiap hambaNya yang ‘istiqomah’ dengan ucapannya yang berkata bahwa Allah sebagai Tuhannya.

Ayat ini seakan juga memberikan pemahaman, bahwa banyak orang yang mengaku menjadi hambaNya, tetapi hanya sebatas ucapan saja, dengan bahasa al-Qur’an : “YAQUULUUNA BIAFWAAHIHIM MA LAISA FI QULUUBIHIM” (mereka berkata dengan mulut mereka apa2 yang tidak ada dihati mereka), terbukti dengan ‘berani’ melanggar norma2 agama, atau bahkan menjadi ‘pendosa’ dihadapanNya. Mereka inilah yang hanya mengaku mempunyai Tuhan tetapi tidak berpegang teguh terhadap yang telah diucapkannya.

Hadits awal pekan ini, merupakan pesan khusus Nabi saw kepada sahabatnya yang juga ditujukan kepada setiap ummatnya, untuk istiqomah dalam melakukan keta’atan, dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, seorang muslim sejatinya akan tetap menjadi orang2 yang selalu dalam kebaikan ucap dan sikap dihadapanNya.

Siapa orang yang tidak bisa ‘istiqomah’ dalam menetapi sifat dan perbuatan baiknya, maka berarti orang tersebut tidak meng’upgrade’ kedudukan dan kedekatannya kepada Allah, sehingga terjadilah ‘kesedihan2’ dan ‘ketakutan2’ dalam urusan kehidupan dunia ini, malaikat tidak lagi ‘diutus’ olehNya buat menemani hambaNya yang tidak istiqomah dalam ketaatan kepadaNya.

Satu bulan Romadhon mungkin ‘volume’ ibadah meningkat dahsyat, rajin bangun malam dan membaca. Al-Quran, ‘berani’ bersedekah dan suka menolong orang, tentunya ini sesuatu yang patut di syukuri, karena telah terjadi perubahan hebat dalam penghambaan, tetapi akan menjadi lebih indah tentunya bila semangat ibadah dan berbuat kebaikan di bulan Romadhon tetap ‘terawat’ pada bulan2 selanjutnya.

Inilah yang nabi saw pesankan pada hadits diatas, agar menjadi orang yang terus dalam keta’atan kepadaNya, agar selalu dalam penjagaanNya, agar tiada getar takut dalam urusan yang dihadapi, agar tak ada airmata duka dalam keseharian kita.

“INNA WA’DA ALLAHI HAQQUN” (sesungguhnya Janji Allah adalah benar), maka ‘singsingkan’ selimut kemalasan, dan bergeraklah menuju kebahagiaan tak berkesudahan, hanya satu pilihannya dan sungguh tidak sulit buat melakukannya, yaitu berkata Bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kemudian berpegang teguh kepadaNya, maka nikmati ‘belai kasih’Nya.

Wallahu A’lam Bisshowaab

Copas Dari Ust Syarif Matnadjih

foto: New Collection