Category Archives: Ust Yulian Purnama

Semua Imam Madzhab Yang Empat Bermanhaj Salaf

Semua Imam Madzhab Yang Empat Bermanhaj Salaf

Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah mengatakan:

أئمة المذاهب الأربعة الإمام أبو حنيفة ومالك والشافعي وأحمد كلهم على مذهب أهل السنة والجماعة في الجملة، ولا إشكال في ذلك عند عامة المسلمين

Para imam madzhab yang empat, yaitu imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Asy Syafi’i, dan imam Ahmad, semuanya di atas madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah secara umum. Tidak ada keraguan dalam hal ini di antara kaum Muslimin.

وإنما من أتى بعدهم من المنتسبين لهذه المذاهب حصل عند بعضهم خروج عن مذهب السلف في العقيدة، ومع مرور الزمن أصبح الانتساب لهذه المذاهب انتساب فقهي فقط

Namun orang-orang setelah mereka yang menisbatkan diri kepada madzhab mereka, terjadi pada sebagian mereka penyimpangan dari madzhab salaf. Namun sejalan dengan bergulirnya waktu, ternyata penisbatan kepada madzhab mereka ini hanya sebatas penisbatan dalam bidang fikih.

أما في جانب العقيدة فكثير من المتأخرين الذي انطووا تحت هذه المذاهب خالفوا أئمة مذاهبهم في جانب الاعتقاد، وأصبحت عقائدهم منحرفة عن مذهب أهل السنة والجماعة ولا شك أن هؤلاء لا يمثلون أئمة المذهب

Adapun dalam aspek akidah, banyak kalangan muta’akhirin yang menisbatkan diri pada madzhab-madzhab tersebut ternyata menyelisihi akidah imam madzhab mereka sendiri. Sehingga akidah yang mereka yakini adalah akidah yang menyimpang dari madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan tidak diragukan lagi bahwa dalam hal ini mereka tidak meneladani para imam madzhab mereka.

Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/33544

@fawaid_kangaswad

Menjawab Celotehan Anak Durhaka

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Menjawab Celotehan Anak durhaka

Pernah ada yang menyampaikan pertanyaan tentang celotehan sebagian anak durhaka, yang mereka tidak mau taat dan merasa tidak harus berbakti kepada orang tuanya dengan alasan: “Toh aku ngga pernah minta dilahirkan dan dirawat oleh mereka (orang tuanya)”.

Kita jawab:

Pertama, engga gitu konsepnya brader…! Engga ada bayi yang lahir dimintain izin dulu, “Dek, boleh ngga saya lahirin kamu?”. Kalau bayinya OK baru dilahirkan. Ini jelas ngawurnya. Hubungan orang tua dan anak bukan seperti akad kerjasama yang harus deal dulu, baru setelah itu ada timbal balik. Jadi, opini seperti ini ngga mungkin jadi argumen orang yang berakal.

Kedua, Justru di situ letak kemuliaan orang tua anda dan besarnya jasa orang tua anda. Tanpa diminta oleh sang anak, mereka mempertaruhkan nyawa melahirkan anda, merawat anda, membersihkan air kencing anda, menceboki anda, memastikan anda tercukupi makan dan minumnya, membanting tulang memenuhi kebutuhan anda, memberikan pendidikan, keamanan, kasih sayang sampai anda menjadi manusia sekarang.

Jika mereka tidak berbesar hati lakukan itu, tentu anda sekarang mungkin hanya seonggok bangkai janin yang terkubur di dalam tanah atau anak tidak jelas yang ditemukan di tong sampah ketika bayi.

Ketiga, ini sejatinya bentuk protes kepada Allah, “koq saya dilahirkan dari rahim A sih, kenapa tidak dari rahim si B?”. Ini sama juga dengan yang mengatakan, “kenapa koq saya dilahirkan sebagai perempuan, kenapa tidak laki-laki?”, “kenapa koq saya berkulit hitam, kenapa tidak berkulit putih?”, dan semisalnya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, justru manusia yang akan ditanya (oleh Allah) kelak” (QS. Al Anbiya: 23).

Brader, jangan kau tambah durhakamu kepada orang tua dengan kedurhakaan kepada Allah ta’ala!

Keempat, jasa orang tua kepada anaknya itu terlalu besar, sehingga tidak mungkin bisa terbalaskan. Sehingga sudah semestinya seorang anak berbakti dan taat kepada orang tuanya. Andai seumur hidup seorang anak berbakti kepada orang tuanya, itu pun belum impas membalas jasa orang tua.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَجْزِي ولَدٌ والِدًا، إلَّا أنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya. Kecuali jika anak tersebut mendapati orang tuanya menjadi hamba sahaya, lalu ia merdekakan” (HR. Muslim no. 1510).

Ibnu Hubairah rahimahullah menjelaskan :

أن جزاء الولد للوالد بقدر استحقاقه غير متصور… وإنما صور النبي – صلى الله عليه وسلم – صورة نادرة الوقوع

“Balas jasa seorang anak kepada orang tuanya sampai impas adalah perkara yang tidak tergambar dalam benak … Adapun apa yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah kasus yang sangat jarang terjadi” (Al Ifshah ‘an Ma’anis Sihhah, 8/112).

Kelima, andaikan poin 1 sampai 4 anda abaikan, tapi poin kelima ini tidak boleh diabaikan. Berbakti kepada orang tua itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Dari Abud Darda’ radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وأطِعْ والدَيْكَ ، وإنْ أمراكَ أنْ تخرجَ مِن دُنياكَ

“Taatilah kedua orang tuamu, walaupun mereka memerintahkanmu untuk keluar dari (kenikmatan) duniamu” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad [14]).

Silakan anda menganggap orang tua anda tidak berjasa sama sekali kepada anda, namun tetap saja perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbakti dan taat kepada orang tua, wajib untuk ditaati.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

@fawaid_kangaswad

Memasukkan Orang ke Grup Whatsapp / Medsos Tanpa Izin

Memasukkan orang ke grup whatsapp/Medsos tanpa izin

Memasukan orang ke dalam grup whatsapp atau semisalnya tanpa izin adalah perbuatan yang kurang beradab. Karena bisa jadi orang yang dimasukkan itu tidak ridha dan merasa terganggu.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَن سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِن لِسانِهِ ويَدِهِ

“Seorang Muslim yang sejati adalah yang kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisannya dan tangannya”

(HR. Bukhari no.6484, Muslim no. 41).

Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

(HR. Ibnu Majah no. 3934, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 549).

Maka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain merasa terganggu. Termasuk di dalamnya, memasukkan orang ke grup tanpa izin. Ini adalah akhlak yang buruk. Kecuali ada prasangka kuat bahwa ia akan ridha jika dimasukkan tanpa izin.

Demikian juga tidak boleh melakukan hal seperti ini walaupun alasannya untuk dakwah. Ingatlah kaidah:

الغاية لا تبرر الوسيلة

“Tujuan baik tidak menghalalkan segala cara”.

Ingat juga hadist Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam:

إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإحْسَانَ علَى كُلِّ شيءٍ

“Sesungguhnya Allah ta’ala mewajibkan ihsan (cara yang baik) dalam segala sesuatu”

(HR. Muslim no. 1955, dari sahabat Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu).

Maka andaikan ingin memasukkan orang ke grup, hendaknya dengan cara yang baik.

Selain itu, jika ingin mendakwahkan orang lain dan menyebarkan ilmu, jangan lupa adab! Jangan sampai niat ingin berdakwah namun tidak punya adab.

Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”

(Adabul Imla’ wal Istimla’ [hal. 2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [hal. 10]).

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

*

Join channel telegram @fawaid_kangaswad

HADITS-HADITS TENTANG BAHAYA HUTANG

HADITS-HADITS TENTANG BAHAYA HUTANG

Banyak sekali hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang bahaya berhutang. Semua hadis tersebut memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak bermudah-mudah dalam berhutang, kecuali darurat. Dan bersemangat untuk melunasi hutang sesegera mungkin. Berikut ini beberapa hadis yang menjelaskan tentang bahaya berhutang.

Hadis 1:

Jangan meneror dirimu sendiri, padahal sebelumnya sudah aman!
Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تُخِيفوا أنفُسَكم بعْدَ أَمْنِها. قالوا: وما ذاكَ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الدَّيْنُ

“‘Jangan kalian meneror diri kalian sendiri, padahal sebelumnya kalian dalam keadaan aman.’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Itulah hutang!’ (HR. Ahmad [4/146], At Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir [1/59], disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah [2420]).

Ash Shan’ani Rahimahullah menjelaskan, “Karena hutang itu menjadi teror bagi sang penghutang di siang hari. Dan menjadi kegelisahan baginya di malam hari. Maka seorang hamba jika dia mampu untuk tidak berhutang, maka janganlah dia meneror dirinya sendiri. Hadis ini juga berisi larangan bermudah-mudahan untuk berhutang dan menjelaskan kerusakan dari mudah berhutang, yaitu dalam bentuk rasa takut. Karena Allah jadikan ada hak bagi pemilik harta (untuk menagih hartanya)” (At Tanwir Syarhu Al Jami’ Ash Shaghir, 11: 92).

Hadits 2:

Hutang yang belum dilunasi akan dibayar di akhirat dengan pahala dan dosa
Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

من مات وعليه دَينٌ ، فليس ثم دينارٌ ولا درهمٌ ، ولكنها الحسناتُ والسيئاتُ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih punya hutang, maka kelak (di hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham untuk melunasinya. Namun yang ada hanyalah kebaikan atau keburukan (untuk melunasinya)” (HR. Ibnu Majah no. 2414, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 437).

As Sindi Rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya, akan diambil kebaikan-kebaikannya, dan akan diberikan kepada si pemberi hutang sebagai ganti dari hutang yang belum terbayar” (Hasyiah As Sindi ‘ala Sunan Ibnu Majah, 2: 77).

Hadis 3:

Ruh seseorang terkatung-katung karena hutangnya
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نفس المؤمن مُعَلّقة بدَيْنِه حتى يُقْضى عنه

“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi” (HR. At Tirmidzi no. 1079, ia berkata, “(Hadits) hasan”, disahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Al Mula Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan, “Sebagian ulama mengatakan, ‘Ruhnya tertahan untuk menempati tempat yang mulia.’ Al Iraqi mengatakan, ‘Maksudnya, ia (di alam barzakh) dalam kondisi terkatung-katung. Tidak dianggap sebagai orang yang selamat dan tidak dianggap sebagai orang yang binasa sampai dilihat apakah masih ada hutang yang belum lunas atau belum?’” (Mirqatul Mafatih, 5: 1948).

Selengkapnya: https://muslim.or.id/68043-hadits-hadits-tentang-bahaya-hutang.html

@fawaid_kangaswad