Dilarang Membuat Ibadah Tanpa Tuntunan (celotehan 1)

“Mau ibadah kok dilarang sih, piye to..?”

Begitu kira-kira orang menyampaiKan celotehannya.

Sebenarnya orang yang mengemukakan semacam ini tidak paham akan kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil.

Berbeda dengan perkara duniawi (seperti HP, internet, mic, speaker, pesawat, dll), maka hukum asalnya itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan.

Jadi, kedua kaedah ini tidak boleh dicampuradukkan. Sehingga bagi yang membuat suatu amalan tanpa tuntunan, bisa kita tanyakan, “Mana dalil yang memerintahkan?”.

Kaedahnya adalah :

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil). Dengan kaedah ini tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah. Bisa saja ibadah yang direka-reka itu murni baru atau sudah ada tetapi dibuatlah tata cara yang baru yang tidak dituntunkan dalam Islam, atau bisa jadi ibadah tersebut dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu. Ini semua tidak ada tuntunannya dan diharamkan”. (Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 90).

Kita baru bisa melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

Membuat cara-cara baru dalam beribadah itu artinya kita mempunyai ketaatan selain kepada Allah, membuat agama baru. Na’udzubillah.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”. (QS. Al Ahzab: 21).

Barakallahu fiikum !

Copas dari KTQS Bandung

Leave a Reply