CELOTEHAN (3)

KTQS # 783

CELOTEHAN (3)

“Lho Apanya yang salah? ini juga kan bagus? ini kan ibadah juga?”
Celotehan orang apabila dinasehati berdasarkan hadits shahih.

Agar kita tak tersesat dgn ibadah yg bukan berasal dari Rasulullah Saw, seperti celotehan diatas. Kita harus tahu apa itu hadits.

Hadis adalah perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) dan sifat nabi saw.
Dilihat dari segi diterima dan tidaknya maka terbagi dua :
1. Shohih
2. Dho’if

Hadis shohih adalah yg sehat sanad (jalan/susunan rowi) dan matannya (redaksi) tanpa ada kekurangan atau cacat sedikitpun,

Syarat-syaratnya:
1. Disampaikan oleh Rowi yg adil -(A’dl);
2. Sanadnya harus bersambung (tidak terputus)- (Muthasil sanad);
3. Sempurna hapalannya (tdk pelupa) -(Tam Dhobt);
4. Terhindar dari cela/cacat/penyakit- (Ghoir Mu’alal)
5. Tidak bertentangan dg hadis lain yg lebih kuat -(Syadz)

Adapun hadis dhoif kebalikannya,
Dhoif artinya lemah/tidak kuat/rapuh.
Secara garis besar penyebab kedhoifan hadis dilihat dari 2 faktor:
1. Tercelanya pribadi seorang rowi (periwayat);
2. Terputusnya Sanad (jalan menuju matan/susunan rowi2).

Dan Hadits shahih tidak bertentangan dg Al-Quran.

Perhatikan para Imam hadits,
-Imam Abu Dawud berkata,”Saya telah mendengar 500,000 hadits, saya seleksi menjadi 4,800 hadits”.
-Imam Muslim adlh adik Imam Bukhari, “saya menulis kitab mngandung 12,000 hadits setelah menyeleksi dr 300,000 hadits”
-Imam Bukhari brkata,”sy menulis 600,000 hadits kemudian saya seleksi menjadi 7.275 hadits”
-Imam Ahmad bin Hambal ra tlh menghapal 1,000,000 hadits.

Bayangkan begitu banyaknya hadits yg beredar namun hanya sedikit yg shahih.
Lalu bagaimana dgn kita? Dengan mudahnya kita membuat-buat ibadah tanpa dasar hadits shahih tapi menggunakan akal kosong dan hawa nafsyu: ini bagus, ini baik, dst. Na’udzubillah.

 

Barakallahu fiikum !
Copas dari KTQS

Leave a Reply