Ibadah harus berdasarkan hadits shahih bukan berdasar orang banyak melakukan (celotehan 4)

 Ibadah harus berdasarkan hadits shahih bukan berdasar orang banyak melakukan 

“Sok tahu ah, orang lain juga ngerjain, hanya Allah Yang Tahu…tauuu”

Ini Celotehan lainnya yang agak emosional.

Sebelumnya, kita kaji terlebih dahulu beberapa kaidah yang telah disepakati oleh para ulama:

1. Masalah ibadah, adalah hak Allah dan Rasul-Nya Saw.

2. Pokok dasar dalam pelaksanaan syari’at Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang sah, menurut pemahaman para Shahabat ra.

3. Hadits-hadits dha’if  tidak boleh dipakai untuk masalah ibadah atau untuk fadhaa-ilul a’maal, dan ini merupakan pendapat yang terkuat dari para ulama.

4. Pendapat para ulama dan Imam Madzhab hanyalah sekedar penguat dari nash-nash yang sudah sah, dan bukannya menjadi pokok.

5. Banyaknya manusia yang melakukan suatu amalan bukanlah sebagai ukuran kebenaran, maksudnya: Jangan menjadikan banyaknya orang sebagai standar kebenaran, karena ukuran kebenaran adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang sah.

Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“Artinya : Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (Al-An’aam: 116)

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar-Ruum: 30)

Jangan mengikuti kebenaran dengan banyaknya orang, itulah pesan Allah kepada kita.

Dan pesan para ulama Ahlus Sunnah, mereka mengutarakan :

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya”. (Tafsir Ibnu Katsir 7/278-279)

Begitulah perkataan para ulama jika bertemu amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.

Jelaskan!? Ibadah harus berdasarkan hadits hadits shahih bukan berdasarkan orang orang kebanyakan atau perkataan seseorang.

Ingat…

Al aslu fil ibaadaati al khatri illa binassin, artinya : Hukum asal dalam semua ibadah adalah haram kecuali ada dalil yg mensyariatkannya.

Barakallahu fiikum !

Copas dari KTQS – Bandung

Leave a Reply