Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama

 

Assalamu’alaikum Sahabat CintaQuran.

 

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang wanita  yang cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Dialah Ummu Sulaim yang bersuamikan Maalik bin Dinar. Setelah menjanda, Ummu Sulaim dilamar Abu Thalhah, seorang hartawan non muslim di masanya. Namun dengan tegas, Ummu Sulaim menolaknya.  “Tidak pantas orang yang sepertimu akan ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku seorang Muslimah yang tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu.” Ummu Sulaim, tidak terpesona oleh mahar yang ditawarkan Abu Thalhah berupa harta yang tak terhingga. Tak ada kebahagiaan yang diinginkan Ummu Sulaim dari pernikahan keduanya selain dua kalimat syahadat dari lisan Abu Thalhah. Wanita mulia dengan mahar super istimewa.

“Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka (muslimah). ” (QS. al-Mumtahanah :  10)

Cinta pada sesama manusia memang punya kekuatan tak terhingga. Namun jangan sampai menghalalkan segala cara lalu menerobos aturan agama. Dalam Islam, cinta pada manusia adalah bagian dari cinta pada Allah dan Rasul-nya. Sehingga ekspresi cinta dalam Islam menjadi halal dan berkah dalam bingkai pernikahan. Demi menjaga bangungan keluarga sakinah, Islam mengatur pernikahan lintas agama. Ummu Sulaim menunjukkan pada kita bahwa Islam mengharamkan muslimah menikah dengan orang kafir baik musyikin maupun ahli kitab kecuali mereka bersyahadat seperti Abu Thalhah. Sementara seorang Muslim dilarang menikahi wanita musyrik dan boleh dengan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani).   Patut dicatat, hukum mubah itu bukan berarti harus dikerjakan. Sebab, dalam memilih istri, Rasulullah saw, telah mendorong pria Muslim untuk lebih memperhatikan aspek agamanya. Karena istri adalah Ibu yang akan menjadi madrasah dari anak-anak kelak. Cinta lintas agama harus sesuai hukum syara.

 

ummu-sulaim-doadankajianislami